Hujan Paling Deras
Kau lupa cangkir itu kosong
Untuk apa kembali meminta
Sedang kopi yang kusuguh hilang
Menjelma langkah detik yang paling hampa.
Kau ingat air itu sulit
Sesulit memintamu berbicara
Hujan kali ini pelit
Tapi air di mataku masih terus mengalir
Tanpa diminta.
Tasikmalaya 2019
Resah
Serupa nama tanpa makna
Serupa seruan tanpa nada
Kita hendak memilih bersama
Namun jeda terlampau lama
Kian hari, kian merontaMeminta arti tak mau pergi
Ingin tinggal tapi takut tak diinginkan
Tasikmalaya 2019
Mendung Singgah
Acap kali mendung singgah
Di langit kamarku, jengah
Membekap bibir tuk bicara
Awan meluap
Tergetar petir ingatan
Tak dapat terbendung
Gelap, mencekam.
Lebat. Meruah dari atap
Beralaskan hati yang rapuh
Tasikmalaya 2019
Paling Dalam
Sedikit katamu, cobalah
Perihal ruang paling dalam
Tidaklah mudah
Bukan satu atau dua kali
Sesering itu, sampai lupa
Sukarnya membuka kembali
Untuk ia yang inginkan menetap.
Tanpa niat singgah.
Tasikmalaya 2019
Tua
Langkahnya masih teguh
Jejaknya tinggalkan bekas mendalam
Dari pagi hingga larut malam
Tanamkan asa melimpah.
Keriputnya tak kenal menyerah
Bungkuknya tak kenal lelah
Jajakan buah seadanyamenawari orang berlalu-lalang.
Wajahnya ceria tak kenal cuaca
Senyummya menyisakan kesan mendalam
Bagi ia yang datang
Membeli atau sekadar tergetar hati.
Tasikmalaya 2019
Sekian
Kau menoleh, untuk apa?
Jika temu saja enggan
Kau berlalu, sudah biasa
Lantas, apa tadi katamu?
Hahaha, aku yang terbaik?
Aku yang terakhir?
Cukup, ucapan basi itu
Muak, janji palsu itu
Sekian.
Tasikmalaya 2019
Si Kecil
Dari Tubuhmu Aku Lahir
Dari pelukmu aku tumbuh
Dari tangguhmu aku kuat
Dari kerja kerasmu aku hebat.
Si kecil dulu kini telah mendewasa
Si kecil dulu kini merasa lelahmu kala itu
Si kecil dulu kini hampir menyerah
Si kecil dulu kini butuh nasihatmu
Dari hidup yang kian keras
Dari dunia yang kian ganas
Tanpa dukungan, tanpa do’a
Sebenarnya aku masih merupa kecilku.
Tasikmalaya 2019
Rumit
Sebanyak apapun aku berpuisi tentangmuSepenuh rasa kutuang kedalamnya
Sekali pun enggan kau baca.
Serumit itu pula aku berhenti
Berhenti dari merindukanmu
Berhenti dari mengenangmu
Berhenti berharap kita kembali
Bersama.
–Tasikmalaya 2019
Arah Takdir
Detakku mengarah padamu
Jauh sebelum wajah kita beradu
Di balik jalan punggungmu
Aku sembunyi dari kemelitanku.
Tanpa dinyana takdir menemu kita
Kembali tanpa banyak kata
Bilik pesan mempersingkat jarak
Sampai di titik paling bahagiaMeramu rasa yang sama.
Tasikmalaya 2019
Usaha Bahagia
Wajah bulat, berkaca mata
Berdampingan. Senyum yang sama
Cekrek …
Potret terakhir tapi tidak cintanya
Harus memang, kakiku melangkah
Bukan maksud menjauh
Lebih dari mengejar hidup
Lebih layak, lebih dapat dipercaya
Nanti, kau bisa kuhidupi
Dengan jerih payahku sendiri.
Melihat kau setiap hari
Tersenyum lega.
Tasikmalaya 2019

Risa Fauziah, lahir di Tasikmalaya 1995
