Patah Hati
Jangan lagi ada janji padanya
Kumpulan berlimpah air menyegara
Laut tak butuh lagi ikrar
Lukanya telah menulis mengakar ke dasar
Bilamana masih ada janji
Di saku, di laci, di almari
Dia bersungguh patah hati.
Suara laut beranjak sayup. Mengertilah
kesabaran juga berbatas galah
seperti jatuh cinta pada ombak yang pecah
laut juga bisa patah hati. Bila lelah telah
menjadi muara sekian janji
(Surabaya, 2019)
Mengulang Pertemuan
entah telah berapa windu berlalu
engkau menulis tentang kealpaan
untuk menasbihkan dada juga bahu
selayaknya tiang pancang sandaran
sebentuk napas bernadi biru,
berawan merah jambu, bernapas lugu,
juga beraroma tembakau
jatuh kemudian
“sedemikian menjulang
kerinduan akan duka?”
pertanyaan di hulu hujan
itu kubawa lari langgang ke ladang
terbiar sampai perdu setinggi pinggang
putaran jarum jam lalu menjura
dada juga bahu lalu pun berseikat
menjadi sandaran melukaimu
dan perulangan pertemuan di masa dulu
terasa serupa simponi beralas cadas bebatu
(Mojokerto, 2019)
Senantiasa Sudi
Hingga sampai sebuah peristiwa, untuk kali ke sekian
keyakinan pada teduhnya pandang mata itu dihadapkan
ujian satu, ujian dua, ujian tiga, terus sampai ujian
tak lagi berangka. Jika kemudian ada sesal bertaburan,
kecewa berhamburan, Sayang, itu aku, bukan!
Kau mungkin pernah menziarahi prasasti
dengan timbunan baju zirah dan namaku terpatri?
Tak dapat kupungkiri, tapak-tapak kaki
ini terasa berat beribu kati
sarat luka yang kita garit sendiri,
dari pagi sampai pagi ke seratus ribu pagi lagi.
Tapi. Simpan jantungmu di almari
ketenangan. Bukan aku yang menduakan, apalagi
menjadi pelakon kisah-kisah pengkhianatan (diri).
Teduh matamu masih seindah lengkung pelangi
kemarin, sekarang, juga nanti.
(Mojokerto, 2019)
Wajah-Wajah Penantian
wajah segelas anggur adalah penantian
hangat namun membubung-lupakan
penantian lalu serupa wajah kepompong kupu-kupu
diam selalu serta pekat harapan tanpa ragu
terkadang penantian menjelma wajah pukat harimau
tertebar dan segala ikan diterkam mau
penantian pun mampu menjadi wajah cermin
buram, retak, bahkan pecah saat nir ingin
di muara usia, wajah penantian adalah penantian
tak ada gelombang; mematung di baris antrian
(Mojokerto, 2019)
Kereta Kenyataan
Nampaknya kereta akan segera tiba
kaki dan matanya disimpan jauh di lubuk
tak terjangkau gapai tangan-tangan kita,
“Kalau engkau enggan, aku bisa mohonkan
padanya, agar gerbong itu tak menelan
lalu cerita kita dilanjut-bacakan
sampai banyak yang berseru kehilangan,”
kataku padamu, sementara auman
kereta itu menyerbu telinga penuh perasaan.
“Di ngarai yang akan kutuju,
akan terajut cerita sebiru ini, tak perlu
risau kau tikamkan bersanding kelu,” jawabmu.
Kereta pun telah membujur lalu menamparku
dengan peringatan; “Siapkah aku
menerima? Kenyataan bukanlah harapan itu.”
(Malang, 2018)
Kitab Luka
Tapi,
bagaimana jika aku kencing berdiri
dan jakun kemudian tumbuh di tepi?
Pencarianku tentang akar
kemudian sampai pada halaman
kitab batang, dahan, daun,
bunga, buah, dan benih.
Di kitab terakhir,
kupukul perutku kencang-kencang.
Di sana,
tak ada rahim yang menggelinjang.
Serapah lalu menjadi kelaziman
yang mengalir, membuncah, dan
muncrat ke segala arah.
Kukutuk siapa saja,
kukutuk apa saja,
bahkan sesuatu yang bertahta
di lapisan luka kulit (entah) ke berapa.
(Surabaya, 2019)
Serupa Menimba Air Mata dari Tempayan
biar saja hujan menghapus kemarau
membasahkan tanah merah
membasahkan batang rebah
air mata tak melukiskan
sekian warna
air mata serupa
lonceng yang berdentang
sekali
lalu sunyi
pegang lengan ini
tak ada yang memilih menjadi berarti
dan atau tanpa nama sama sekali
tapi menjadi muara harapan
adalah pilihan
meski tak berbeda dengan
menimba air mata dari tempayan
di dapur rumah sendiri
(Mojokerto, 2019)
Diterkam Gamang
Lembaran demi lembaran daun ini bersulamkan benang berdebu,
bertuliskan catatan panjang tentang bulan juga kupu-kupu.
Lembarannya telah usang dan sudut-sudutnya hilang disudahi waktu.
Bersama perca-perca harap dilepas rindu
dan kekecewaan bersandar di dermaga kalbu,
selangkah maju memikat di gamang membukit-membatu.
Apakah semuanya akan seperti isi lembar demi lembaran daun itu?
Pertanyaan berkalung melati itu membuat semuanya menghela
nafas tanpa sesumbar dan bintang jatuh di atas para-para,
pecah, berai, sunyi. Aku segera saja menyalakan tungku tua,
kuseduh secangkir teh. Lalu, aku ingin menjemput impian yang tersisa,
tinggal selembar pula.
Diterkam gamang, aku mengukir prasasti pengakuan. Sebab di jalan,
aku berpapasan dengan perempuan muda yang
membawa kisah lain. Tentang kupu-kupu bersayap pedang
yang memakan lembaran-lembaran daun catatan. Dan aku segan menghadang,
karena aku terlalu lelah dan ingin segera tidur setelah sepanjang
usia ini diterkam gamang.
(Mojokerto, 2019)
Laki-Laki di Mata Perempuan Ketika Musim Bunga
telah usai sebuah musim bunga
batang pohon lipat dedaun bersahaja
setangkup kuncup pun tiada bersiul
tak ada sesal, tak ada sesal, air mata memanggul
telah kucium beragam bunga
dan sesajen mengutuk kaki yang kubenamkan di tanah *)
menambatkan perahu hati
adalah pilihan, sejak anak-anak pertama Adam-Hawa
namun ada yang menguliti tubuh ini
meski ruh masih di kandung badani
kerna perahu tertambat di tiang pancang sudraloka
alangkah kejam laki-laki di ufuk pandang perempuan
kami bebas melengkungkan janur
sementara mereka mengaduh
saat pecah perawan dan atau melahirkan
(Surabaya, 2018)
*) bait kedua puisi “Patiwangi” karya Oka Rusmini, Horison – XXXV/4/2002
Anjrah Lelono Broto tinggal di Trowulan-Mojokerto. Menulis esai, cerpen, puisi dan geguritan. Bebeberapa karya pribadi dan bersamanya adalah Syukuran (naskah monolog, 1998), Blossom In The Wind (saduran naskah teater, 1999), Lilih (antologi geguritan, 2004), Negeri Di Angan (antologi esay, 2008), Esem Ligan Randha Jombang (antologi geguritan, 2010), Orasi Jenderal Markus (naskah monolog, 2011), Pasewakan (antologi geguritan, 2012), Tasbih Hijau Bumi (antologi puisi, 2014), dan Emak, Sayak, Lan Hem Kothak-Kothak (antologi cerpen berbahasa Jawa, 2015). “Nampan Pencakan (Himpunan Puisi, 2017). Karya naskah teaternya “Nyonya Cayo” meraih nominasi dalam Sayembara Naskah Lakon DKJT 2018. Dapat disapa di e-mail:[email protected], FB: anjrahlelonobroto, IG: anjrahlelonobroto
