
Di sebuah sudut jalan, kita sering berpapasan dengan orang yang tampaknya biasa saja. Pakaiannya tak mencolok, langkahnya teratur, dan sorot matanya seperti kosong, serupa lukisan yang belum selesai diwarna. Mereka mungkin bekerja sebagai pedagang asongan yang menjajakan rokok, atau pengemudi ojek daring yang menunggu pesanan di bawah terik matahari. Mereka bukan pahlawan super, juga bukan tokoh utama dalam drama yang kita tonton. Mereka hanya orang-orang yang, entah bagaimana, berhasil menelan penderitaan dengan senyum tipis.
Hidup mereka lekat dengan serangkaian badai yang tak berkesudahan. Suatu hari, mereka bangun dengan kabar rumah kontrakan harus dikosongkan. Esok harinya, anak mereka jatuh sakit, biaya rumah sakit melambung, sementara tabungan sudah lama kering. Saat mereka berusaha bangkit, motor satu-satunya mogok. Setiap kali mereka mengira sudah mencapai dasar, ada saja yang menendang lebih dalam. Namun, keajaibannya, mereka tidak mengeluh. Mereka tidak menumpahkan amarah di media sosial, tidak mengadu pada siapa pun, bahkan pada diri sendiri. Mereka hanya menjalani, seolah semua itu bagian dari kurikulum wajib yang harus diselesaikan.
Ironi yang paling menyakitkan adalah bagaimana masyarakat memandang mereka. Kita sering melihat keuletan itu sebagai inspirasi. “Lihat, dia begitu kuat! Masalahnya bertubi-tubi, tapi tetap tegar!” Kita mengagumi mereka, memotret mereka, lalu mengunggahnya dengan tagar #motivasi atau #inspirasipagi. Kita seakan lupa bahwa apa yang kita anggap ketegaran mungkin bentuk mati rasa, sebuah mekanisme pertahanan yang tercipta dari luka yang sudah terlalu banyak. Bukan mereka kuat, hanya sudah terlalu lelah untuk berteriak. Mungkin mereka tidak lagi menangis, karena air mata sudah habis terkuras.
Di balik senyumnya yang tidak menuntut, ada lelucon tragis. “Kenapa kamu tidak mengeluh?” tanya kita, dengan nada kagum yang tulus. “Untuk apa?” jawab mereka, sambil tertawa kecil. “Mengeluh tidak akan membuat harga sembako turun, juga tidak akan membuat anak saya sembuh.” Jawaban itu, sederhana namun menohok, bentuk sindiran paling jenaka sekaligus pedih. Kita, yang sering mengeluhkan hal sepele, seperti lambatnya koneksi internet atau kopi kurang panas, tiba-tiba merasa malu. Mereka mengajari kita, tanpa disadari, tentang proporsi penderitaan yang sesungguhnya.
Fenomena ini cermin tajam bagi kehidupan modern. Kita hidup di era di mana setiap orang punya panggung untuk mengeluh. Media sosial adalah etalase kesedihan, tempat di mana kita memamerkan luka-luka, berharap mendapat empati dan validasi. Kita menganggap penderitaan kita begitu unik, begitu spesial, sehingga harus diabadikan dalam bentuk utas atau status. Sementara, di dunia nyata, banyak orang menggendong beban jauh lebih berat tanpa pernah mengunggahnya. Mereka adalah bayangan bergerak di antara kita, membisikkan kebenaran yang tidak kita inginkan: bahwa kadang, yang paling menderita adalah mereka yang paling diam.
Kisah tentang orang-orang yang terlunta-lunta tanpa keluh juga banyak dalam karya sastra, salah satunya dapat kita temukan di novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Di sana ada tokoh Srintil. Penderitaan hidupnya datang bertubi-tubi. Dari kecil ia sudah kehilangan orangtua. Lalu harus menerima nasib sebagai ronggeng, yang dianggap rendah dan menjadi objek eksploitasi. Masalah belum berhenti sudah terseret dalam huru-hara politik yang membuatnya mendekam di penjara dan kehilangan segalanya.
Namun, Srintil tidak pernah digambarkan sebagai sosok yang meratapi nasib dengan tangisan atau keluhan panjang. Ia tidak mencari simpati. Penderitaannya seolah sudah menjadi takdir yang harus ia terima. Ia terus berjuang, mencoba mencari jati dirinya yang hilang di tengah kehancuran. Tohari tidak membuat cerita ini jadi melodrama yang menguras air mata. Ia justru menyajikan kisah Srintil dengan gaya dingin dan realistis, seakan ingin menunjukkan bahwa penderitaan sebesar apa pun bisa menjadi bagian dari kehidupan yang biasa. Ini sindiran tajam tentang bagaimana penderitaan bisa membuat orang menjadi mati rasa atau, lebih tepatnya, menjadikan ketabahan sebagai satu-satunya pilihan.
Maka, apa esensi menulis di zaman yang serba digital ini? Mungkin, bukan lagi tentang mencipta cerita yang sensasional, melainkan tentang merekam cerita nyata, yang sering terlewatkan. Menulis bukan hanya kata-kata yang indah, tetapi tentang keberanian untuk melihat, mendengar, dan menghormati keheningan di balik penderitaan. Kita harus menulis tentang mereka yang tidak bisa menulis kisah mereka sendiri, tentang para penderita yang tidak ingin menjadi pahlawan.
Ada senyum kecil berselimut haru, ketika kita menyadari bahwa orang-orang yang paling kita kagumi mungkin orang yang paling hancur, kita akan tersentak. Kita mengira mereka kuat, padahal hanya pandai menyembunyikan kerapuhan. Kita mengira mereka bahagia, padahal hanya sudah terbiasa sedih. Senyum mereka bukan tanda kebahagiaan, melainkan tanda bahwa mereka telah menerima nasib buruk sebagai teman seperjalanan.
Mungkin sesekali kita perlu menyimak dari samping, bukan untuk melihat siapa paling sering mengeluh, melainkan untuk melihat siapa paling sering tersenyum di tengah badai. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami. Mungkin, kita akan menemukan bahwa di balik wajah yang datar, ada ribuan cerita yang tidak pernah terucap, air mata yang tidak pernah tertumpah. Dan mungkin, keindahan sejati dari hidup terletak pada kemampuan kita untuk menanggung beban tanpa harus membebani orang lain.
Penderitaan, pada akhirnya tidak selalu butuh suara, kadang hanya butuh keheningan. Dan mereka yang memilih diam, yang terus berjalan meski lututnya sudah lemas, adalah monumen hidup yang harus kita hargai. Mereka mengajarkan kita bahwa satu-satunya cara bertahan dengan menjadikan jejak luka tanpa keluh. Dan kita, sebagai manusia yang masih bisa memilih, harus belajar untuk membaca jejak-jejak itu.***
___________________
Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.
