Ragam

Wawancara Imajiner Bersama Wiji Thukul: Kata yang Tak Pernah Istirahat

Tempat: Sebuah warung kopi di pojok langit. Wiji Thukul telah datang lebih dulu, mengenakan kaus oblong bertuliskan “Lawan!” dan sandal jepit. Ia memesan kopi tubruk, tanpa gula. Kami duduk di bangku kayu, dengan asap rokok yang menggantung malas di udara.

Pewawancara: Mas Wiji, pertama-tama, apa kabar? Di sana masih tetap melawan?

Wiji Thukul: Kabarku ya begini-begini saja. Hidup di alam antara setengah jadi poster, setengah jadi hantu. Tapi tidak apa, toh puisiku masih hidup. Lagipula, di negeri ini yang mati kadang justru lebih cerewet daripada yang hidup.

Pewawancara: Sudah banyak penyair baru bermunculan. Apa Mas Wiji masih sempat baca-baca puisi mereka?

Wiji Thukul: Kadang aku nyelinap ke rak-rak toko buku. Jadi bayangan. Kubaca diam-diam. Ada yang bagus, ada yang bikin aku ingin mati dua kali. Banyak yang sibuk bermain metafora, tapi lupa bagaimana rasanya lapar.

Pewawancara: Wah, agak pedas ini, Mas.

Wiji Thukul: Nggak pedas, cuma jujur. Kalau puisimu bisa dijadikan nasi bungkus buat tukang becak yang baru pulang narik, itu puisi yang benar. Tapi kalau puisimu cuma cocok dibacakan di kafe dengan lampu temaram dan suara musik pelan, ya itu mungkin bukan puisi. Itu dekorasi.

Pewawancara: Puisi-puisi sekarang bukan di kertas, Mas. Koran pada tutup.

Wiji Thukul: Ah, kau ini. Aku tahu. Itu hanya pengandaian.

Pewawancara: Tapi bukankah puisi memang punya banyak rupa, Mas? Ada yang eksperimental, ada yang spiritual, ada yang visual.

Wiji Thukul: Iya, aku ngerti. Tapi banyak penyair sekarang terlalu sibuk mengukir bentuk sampai lupa isi. Puisinya indah, tapi kosong. Seperti lemari kaca tanpa piring. Atau lebih parah: seperti seminar tentang kemiskinan di hotel bintang lima.

Pewawancara: Jadi Mas merasa puisi-puisi sekarang terlalu estetis?

Wiji Thukul: Estetis boleh. Tapi jangan sampai jadi topeng untuk menutupi bahwa kamu tidak punya sikap. Aku nggak minta semua penyair jadi aktivis. Tapi kalau puisimu bisa dibaca tanpa bikin orang mikir apa-apa, itu artinya kamu berhasil menulis tanpa mengganggu siapa-siapa. Dan itu bahaya.

Pewawancara: Bahaya?

Wiji Thukul: Iya. Kekuasaan itu senang sekali pada puisi yang tidak menggugat. Puisi yang bisa dijadikan kutipan instagram pejabat. Puisi yang seperti teh manis: nyaman, sopan, dan cepat dilupakan. Padahal puisi seharusnya seperti kopi pahit: bikin melek dan kadang bikin mules.

Pewawancara: Kalau begitu, bagaimana harapan Mas terhadap perkembangan puisi sekarang?

Wiji Thukul: Harapanku sih sederhana. Biar puisi kembali ke rakyat. Kembali ke jalan. Jangan terlalu sering ngumpet di ruang diskusi ber-AC. Aku pengen lihat puisi dicoretkan di tembok, diteriakkan di demo, disisipkan di selebaran pasar. Bukan sekadar dibukukan, diluncurkan, lalu difoto dengan latar bunga plastik.

Pewawancara: Tapi ada juga penyair muda yang berani bicara soal ketimpangan, Mas.

Wiji Thukul: Benar. Dan itu menyenangkan. Tapi mereka kadang tenggelam di antara penyair-penyair yang sibuk merapikan rima seperti tukang cukur. Yang lebih penting dari berani adalah konsisten. Banyak yang berani hari ini, besok jadi buzzer.

Pewawancara: Jadi Mas menganggap puisi itu harus punya keberpihakan?

Wiji Thukul: Harus. Puisi yang netral itu mitos. Seperti wartawan yang katanya objektif padahal disokong iklan. Bahkan diam pun sikap. Kalau kau diam di depan ketidakadilan, berarti kau sudah memilih berpihak. Hanya saja pada pihak yang salah.

Pewawancara: Jadi bagaimana bentuk puisi yang baik menurut Mas?

Wiji Thukul: Puisi yang bikin orang biasa merasa didengar. Bikin buruh pabrik merasa dia tidak sendirian. Puisi yang bikin mahasiswa nggak cuma sibuk bikin skripsi, tapi juga mikir: “Kok harga kosanku makin mahal, ya?”

Pewawancara: Mas Wiji, kalau boleh menanggapi sedikit, sekarang pemerintah seenaknya menentukan pajak. Kadang rakyat kecil diperas, sementara pengusaha besar dapat keringanan. Apa tanggapan Mas?

Wiji Thukul: Pajak itu seharusnya gotong royong. Tapi di negeri ini, gotong royong artinya rakyat yang gotong, pejabat yang borong. Rakyat kecil ditagih pajak macam-macam, sementara konglomerat bisa tidur nyenyak karena dapat insentif investasi. Itu bukan pajak, itu perampokan yang pakai jas.

Pewawancara: Tapi katanya demi pembangunan, Mas.

Wiji Thukul: Ah, kata pembangunan itu sering jadi jimat. Padahal yang dibangun cuma gedung-gedung mewah, sementara jalan ke kampung masih becek. Kalau benar demi pembangunan, kenapa rumah rakyat bocor tiap hujan? Jadi pertanyaannya bukan pajak untuk apa, tapi pajak untuk siapa.

Pewawancara: Baik. Kita geser sedikit. Apa Mas Wiji mengikuti berita tentang korupsi dan nepotisme yang masih merajalela?

Wiji Thukul: Tentu. Itu acara rutin. Seperti sinetron tapi bintangnya selalu sama. Bedanya, kalau sinetron bisa tamat, korupsi kita kayak serial tak berkesudahan. Aku yakin, kalau nanti dinosaurus hidup lagi, berita pertama yang mereka baca adalah: Anak pejabat ditangkap KPK, tapi dilepas karena tidak cukup bukti dan terlalu muda untuk paham hukum.

Pewawancara: Ada satu kasus lucu, Mas. Seorang pejabat bilang tidak bisa menjelaskan asal uangnya karena katanya “dikasih Tuhan”. Tanggapan Mas?

Wiji Thukul: Nah itu! Tuhan sering dijadikan kambing hitam oleh orang yang takut jadi kambing beneran di pengadilan. Kalau Tuhan beneran kasih uang segitu banyak, kenapa bukan ke juru sapu sekolah atau ibu-ibu penjual nasi uduk? Kadang aku yakin Tuhan pun bingung: “Ini siapa yang bilang aku ngasih itu?”

Pewawancara: Jadi menurut Mas, humor bisa jadi cara melawan?

Wiji Thukul: Tentu! Humor itu alat subversif. Ketika kamu menertawakan kekuasaan, kamu sedang mencabut jubah sakralnya. Dulu aku menulis puisi. Sekarang mungkin aku akan bikin stand-up di pasar, temanya: Cara Menjadi Pejabat Tanpa IQ. Bayangkan betapa lucunya kalau rakyat tertawa sambil sadar bahwa mereka sedang dijahili.

Pewawancara: Mas, kalau boleh jujur, banyak orang sekarang mulai apatis. Capek. Merasa percuma marah-marah. Apa Mas punya pesan?

Wiji Thukul: Apatis itu bukan dosa. Itu tanda luka yang dalam. Tapi jangan biarkan luka jadi lumpur. Kita boleh lelah, tapi jangan kehilangan rasa geli terhadap ketidakadilan. Selama kita masih bisa menertawakan kebohongan, berarti kita belum kalah sepenuhnya. Jangan biarkan negara mengatur sampai kapan kamu boleh tertawa.

Pewawancara: Mas, terakhir. Kalau sekarang Mas punya akun media sosial, apa yang bakal Mas unggah pertama?

Wiji Thukul: Mungkin foto sandal jepitku yang bolong. Lalu kutulis: Sandal ini sudah lebih jujur daripada pejabat yang sepatunya selalu mengkilap. Atau video aku baca puisi di WC umum sambil nyemprot pewangi, dengan caption: Inilah tempat paling bersih di negeri yang suka pura-pura wangi.

Pewawancara: Ada pesan khusus untuk penyair muda?

Wiji Thukul: Tentu. Jangan takut bikin puisi yang jelek asal jujur. Daripada bikin puisi indah tapi palsu. Jangan sibuk mengutip Derrida kalau kamu belum pernah ngobrol dengan tukang parkir. Dan yang paling penting: jangan jadi penyair yang takut kehilangan undangan baca puisi. Lebih baik kehilangan panggung daripada kehilangan hati nurani.

Pewawancara: Terakhir, Mas. Kalau Mas bisa turun lagi ke dunia, apa yang akan Mas lakukan pertama kali?

Wiji Thukul: Aku akan ke pasar, beli bakwan, terus duduk di emperan dan baca puisi pakai toa. Biar semua orang denger. Biar mereka tahu: kata-kata belum mati. Dan selagi masih ada ketidakadilan, kata-kata juga belum boleh istirahat.

Pewawancara: Terima kasih, Mas Wiji. Salam untuk langit.

Wiji Thukul: Jangan cuma salam. Lawan juga!

Ragam

BABAD DI ATAS TIKAR DAN SEBOTOL TEH

Lampu-lampu menyala dan tikar-tikar menanti para pembaca yang mengaku memiliki malam di perbatasan Solo. Mereka duduk semaunya, menaruh raga di bawah lampu-lampu putih, yang tidak seutuhnya terang. Yang di atas tikar ingin merayakan buku, yang memerlukan lampu. Buku tak terbaca saat gelap.

Tempat itu berlantai kayu. Namun, orang-orang memilih menggelar tikar. Kepatutan dalam pertemuan. Bangunan yang berkayu dan berbambu seperti lama dalam kesepian. Malam itu sedang menantikan kata-kata yang dihambur-hamburkan oleh moderator, pembicara (pengulas buku), dan pengarang.

Penyapu saat itu ikut duduk bersama kaum buku. Ia sejenak menaruh tubuh di atas tikar, bergeser sebentar untuk duduk di papan-papan kayu yang ditata lumayan rapi. Semula, ia berpikir Minggu, 3 Agustus 2025, bakal rampung dengan sapu dan tongkat pel. Malam itu ia berhasil mendatangi tempat yang cukup jauh. Senja, ia meninggalkan GOR Badminton Blulukan (Colomadu) setelah keringat mengalir dan lelah. Di situ, setiap hari, ia menyapu dan mengepel untuk tiga lapangan yang digunakan para pemain bulutangkis dari pelbagai klub dan kelompok. Pamit dari gedung yang masih ramai dengan jamaah badminton. Permintaan izin untuk bisa dolan dan bertemu (kaum) buku di sebelah timur Solo.

Malam yang meminta angin. Penyapu merasakan angin yang kencang. Angin itu datang dari atas. Tampaklah dua kipas angin yang kusam. Buku pun merindu angin. Di sisi kiri tempat obrolan, penyapu melihat “petromaks” yang tidak menyala. Ia sudah karatan dan kotor. Bertahun-tahun, ia pastinya tidak menyala, hanya tergantung saja. Yang bertugas memberi terang saat malam adalah lampu-lampu, yang saat itu ikut menentukan nasib buku. Penyapu membayangkan masa lalu saat orang-orang berani membaca buku menggunakan lentera atau “petromaks,” belum lampu-lampu berlistrik. Pembaca yang mungkin syahdu.

Lampu dan kipas ingin merestui orang-orang yang lesehan di tikar untuk mengobrolkan novel berjudul Babad Kemuning (2025) gubahan Yuditeha. Novel yang baru saja lahir di jagat sastra Indonesia oleh Penerbit Buku Kompas. Penyapu datang untuk menghormati pengarang, sebelum ingin mengerti buku. Ia belum memiliki dan membacanya. Kedatangan memang untuk menjadi awam, yang tak berbekal khatam novel atau mengikuti arus perkembangan sastra mutakhir. Lama, ia dalam keterpencilan.

Di samping penyapu, pengarang yang makin kehilangan rambut. Ia penikmat kretek yang tulus. Berulang A Sampoerna menyala, menghasilkan abu-abu ditaruh di asbak gadungan berupa irisan gedebok pisang. Pengarang yang berasap, yang mulai menuturkan masa subur sebagai pengarang. Sebelum perayaan Babad Kemuning, ia terbukti rajin membuat cerita pendek yang beredar di pelbagai koran cetak dan situs. Ia pun menggarap esai-esai kecil mengenai bacaan dan kepengarangan.

Penyapu menikmati kata-kata dari lelaki yang sopan, diselingi tawa yang merdu. Percakapan dua lelaki yang lama tidak bertemu. Yang satu adalah tukang sapu. Yang satu adalah pengarang novel. Yang terbukti adalah Yuditeha memastikan sastra Indonesia tidak sekarat. Ia selalu mengabarkan pemuatan cerita pendek, yang membuat orang-orang masih bersantap sastra ketimbang debat sembrono atau marah-marah yang picik di media sosial.

Malam tanpa “petromaks” yang menyala, penyapu mendapat suguhan teh. Ia terlarang mengeluh gara-gara di hadapannya bukan segelas teh panas atau hangat. Yang tersaji adalah sebotol teh yang mencantumkan kata-kata “Teh Pucuk Harum”. Gelas sedang absen. Panas dan hangat cuma khayalan.

Sebelum buku adalah lagu. Panji Sukma menjadi lelaki bergitar. Ia masih membutuhkan mikrofon, yang menjadikan suara menjadi terdengar keras. Mengapa lagu-lagu mengawali buku? Penyapu belum kepikiran dengan model acara-acara sastra yang turut menghadirkan lagu. Kapan-kapan ia ingin membuat catatan kecil agar menemukan keselarasan yang lama terabaikan.

Tiba saatnya orang-orang bicara tanpa duduk di kursi. Moderator dan dua pembicara lesehan, memastikan tikar plastik menjadi saksi bahwa novel masih dambaan di zaman yang keparat.

Septi Rusdiyana, yang menjadi moderator, memberi awalan sebagai pembaca Babad Kemuning, yang mengarah ke perasaan-perasaan para tokoh, terutama yang perempuan. “Yuditeha menceritakan perasaan perempuan dengan lugas dan jernih,” ujar Septi, Penyapu hanya mendengar, tidak mampu membantah atau menyetujui. Ia belum pembaca Babad Kemuning. Ia sengaja hadir sebagai awam, yang kangen obrolan novel dan menonton pengarang yang sedang kondang di seantero Indonesia.

Di tangan Budi Waluya, terlihat kertas berisi catatan. Pada mulanya, kertas itu terlipat. Pada saat jatahnya untuk bicara selaku pengulas, Budi membuka lipatan kertas. Matanya kadang mengarah ke kertas, sebelum menyampaikan kepada orang-orang yang memberikan telinga. Ia tidak membuat makalah, sekadar catatan meski di keseharian dirinya adalah dosen di UNS dan bergelar doktor.

“Pengenalan konflik lambat,” kritik yang diajukan Budi. Ia agak malu-malu untuk membaca beberapa kritik, Namun, keberanian perlahan muncul saat mulai tersenyum. Buktinya, 50-an halaman awal dalam Babad Kemuning menjadikan Budi merasa lambat berjalan di cerita. Ia mungkin capek tapi akhirnya menemukan konflik, yang mengesahkan novel pantas terpuji, selain kritik-kritik.

Penyapu menyimak sambil berperang melawan selusin nyamuk perkasa. Ia membahasakan ulang apa-apa yang diucapkan Budi, lelaki yang mulai beruban dan tampak mengenakan kaos bergambar Semar. Yang dicatat penyapu setelah menyimak: “Novel butuh teka-teki!”. Perkara itulah yang ikut menentukan nasib Babad Kemuning bagi pembaca yang keranjingan novel atau orang yang menjadi pemula menikmati fiksi.

Giliran Yulita Putri mempersembahkan kata-kata. Ia tampil tak berkerudung tapi penyapu melihatnya berkerudung cerita. Yulita terlalu serius mengurusi novel, yang membuatnya lancar memasalahkan hak-hak anak, seksualitas, alam, kolonialisme, dan lain-lain. Ia bicara lantang, hampir tak ada keraguan dalam menyatakan pendapat-pendapat.

Yulita mahir mementingkan sisi perempuan dalam Babad Kemuning. “Novel ini membuat ingatan teh melebar,” katanya. Ia meyakinkan orang-orang yang bersantai di atas tikar bahwa perkebunan teh bukan sekadar latar untuk sinetron atau film picisan. Teh pun tak hanya minuman. Teh lebih dari komoditas. Novel yang dianggapnya memanggil sejarah. Namun, Yulita malah memanggul beban kebingungan atas sejarah.

Konklusi yang agak tergesa dari Yulita: “Babad Kemunging membuat pembaca banyak pertanyaan.” Ia mungkin menempatkan diri sebagai pembaca yang menggunakan seribu mata. Pembacaan yang bakal melelahkan dan berkepanjangan. Di hadapan novel, ia telanjur “bercocok tanam” pertanyaan, yang belum diketahui jadwal panennya.

Yang mendengar pembahasan Yulita Putri menemukan kekhasan. Pada tuturan-tuturan yang emosional, ia mengakhirinya dengan “seperti itu”. Usaha agar pembaca meyakini omongan atau pendapatnya, setidaknya mau memberi perhatian terhadap hal-hal yang sebelumnya disampaikan. Jadi, penyapu maklum saat mendengar belasan “seperti itu” terucap dalam nada tinggi atau rendah.

“Aku tidak mau klarifikasi,” perkataan Yuditeha sebagai bentuk tanggapan atas hal-hal yang sudah disampaikan Budi dan Yulita. Hampir semua yang dikritik oleh dua pengulas diterima Yuditeha. Ia senang berdalil bahwa kritik itu “peringatan-peringatan dari pembaca yang mahal”. Pengarang yang mengaku beruntung mendapat hasil pembacaan yang serius. “Dikritik jangan marah,” pesannya. Pada saat ikut duduk bergabung bareng moderator dan dua pembicara, pengarang itu tidak merokok. Sebungkus rokoknya tertinggal di samping penyapu.

“Kritik membuatku menyadari ketidaksempurnaan,” ungkap Yuditeha. Yang membuat pengarang terharu adalah “ketepatan” pembacaan Yulita atas tokoh perempuan dalam novel. Pengarang yang merasa menemukan pembaca yang intim, menyentuh pengalamannya sebagai pemulis fiksi dan pembuat album biografi perempuan, terutama ibu. Terharu yang disusul pengakuan tidak kentara mengandung sesalan dan kecewa. Ia merasa belum matang dalam penokohan dan luput menghadirkan pembayangan sejarah dalam novel melalui makanan, pakaian, bunga, dan benda-benda.

Pendengar yang khusyuk selama obrolan adalah perempuan yang rambutnya dikepang. Ia menyebut nama Sekar. Berbagi cerita dan sedikit mengajukan pertanyaan. Yang terasakan sebagai pembaca novel adalah “emosi membuncah”. Penyapu memandangi perempuan dengan rambut berkepang, yang seperti menemukan tokoh dalam novel-novel lawas di Indonesia.

Pertanyaan dijawab pengisahan ke sembarang arah oleh Yuditeha. Siasat agar jawaban tidak terlalu gamblang. Yang mengejutkan, Yuditeha menyatakan bahwa novel itu semula berjudul “Daun Emas.” Pada akhirnya, penulisan dirampungkan dan terbit berjudul Babad Kemuning.

Seorang gadis bernama Gadis memberi penampilan lain, pembacaan puisi karya Chairil Anwar, berjudul Kerawang Bekasi.

Pada saat mau berakhir, Panji Sukma duduk lagi di kursi. Tangan tampak bergitar dan mulut di depan mikrofon. Pengarang kondang yang mengoleksi beragam penghargaan, yang malam itu memilih menjadi penyanyi. Ia berada di kursi tapi tidak berpredikat sebagai pembicara meski sempat memberi ocehan-ocehan kritis dan agak lucu.

Malam makin malam. Penyapu berhasil menghabiskan sebotol teh, yang iklannya dulu sering muncul di televisi. Pengalaman pertama menikmati teh yang dinamakan “pucuk harum”. Padahal, yang minum tidak harum alias kecut oleh keringat dan kenestapaan. Ia tidak berpamitan kepada pengarang dan teman-teman, lekas pulang terkencing-kencing. Minum teh mengakibatkan mudah kencing saat malam di jalanan yang berangin kencang dan dingin.

Sampai di rumah, penyapu ingin merawat segala ingatan selama obrolan buku sambil mencuci seember pakaian keluarga yang kotor. Duduk untuk mengucek dan menyikat sambil membayangkan sebagai pembaca Babad Kemuning. Pengarang yang santun itu memberikan Babad Kemuning. Malam untuk mencuci, belum untuk membaca buku yang diulas oleh Budi dan Yulita. Moderator pun teringat sempat memberi kritik susulan: “Yuditeha unggul di cerita pendek ketimbang novel.” Selama mencuci, ingatan omongan-omongan itu bekal bila telah membuat jadwal sebagai pembaca novel.

Sebelum ikut menghadiri obrolan Babad Kemuning, penyapu membaca The Novelist gubahan Dean Koontz di jeda menyapu, mengepel, dan membantu mengurusi kantin di GOR Badminton Blulukan (Colomadu). Tiga hari menikmati novel mengenai penulis novel, editor, dan kritikus sastra yang seru dan menyebalkan. Malam itu penyapu sengaja tak menyampaikan kepada Yuditeha. Ia merasa sedang mencari pembuktian nasib Yuditeha sebagai novelis dan dua pembicara berlagak kritikus sastra.

Obrolan buku selesai. Mencuci pun selesai. Minggu mau berganti Senin. Penyapu itu lega dan lelah memiliki Minggu. Ia mendambakan tidur yang nyenyak tapi sengaja merusak suasana gara-gara memilih satu lagi sebelum memejamkan mata. Ia mendengarkan “Simfoni Hitam” yang dibawakan Egha De Latoya, bukan edisi yang mula-mula dibawakan Sherina M. Penyapu yang kadang memerlukan kata-kata dari lagu cengeng, tidak selalu harus bereferensi puisi, cerita pendek, atau novel. Ia ingat deretan kata yang mengharukan atau cengengisme: Telah aku nyanyikan alunan-alunan senduku. Telah aku bisikkan cerita-cerita gelapku. Telah aku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku. Tapi, mengapa aku takkan bisa sentuh hatimu.” Lagu yang pasti tidak cocok untuk mengiringi saat membaca Babad Kemuning. Akhirnya, malam itu penyapu bermimpi buruk! [] Kabut

Dunia Menulis

Besar Boleh, Kecil pun Boleh, Asal Dasarnya Tulus

Di balik podium sayembara sastra, di antara tumpukan pengumuman anugerah bergengsi yang memuja karya-karya monumental tentang konflik ras, luka sejarah, dan teriakan sosial yang seolah tak ada jeda, diam-diam ada banyak penulis yang memandangi layar kosong dengan gemetar. Bukan karena tak bisa menulis, tapi karena merasa kisahnya terlalu sepele. Terlalu kecil. Terlalu personal. Terlalu tidak meledak. Mereka yang menulis tentang sunyi kamar kontrakan, tentang kecemasan makan siang terakhir menjelang PHK, tentang ibu yang diam-diam menjahit baju bekas agar bisa dibungkus ulang jadi kado ulang tahun anaknya. Lalu muncul pertanyaan getir: “Siapa yang mau peduli?”

Fenomena ini bukan fiksi. Ia nyata, sedekat napas kita saat membaca pengumuman lomba yang menang lagi-lagi tentang tokoh aktivis, konflik SARA, isu lingkungan global, atau sejarah panjang penjajahan yang dituturkan ulang dengan narasi megah. Seolah cerita yang layak diberi medali adalah yang bisa mengguncang bumi. Seolah penderitaan harus berskala nasional agar bisa dianggap memiliki makna. Dan kita yang hanya ingin menulis tentang perempuan tua yang memandangi foto suaminya saban pagi—karena takut lupa wajahnya—mulai merasa kalah sebelum bertanding.

Padahal, bukankah kesunyian itu juga bagian dari dunia? Bukankah manusia lebih sering meringkuk dalam bilik kecil kesedihan pribadi daripada berorasi di tengah massa? Tapi sayangnya, dalam lanskap sastra yang makin dipengaruhi kebutuhan akan gagasan besar, narasi yang subtil, yang lirih, yang nyaris tak terdengar, malah dianggap terlalu jinak. Padahal, bisa jadi justru di situ letak gemuruh paling purba, di bisikan kecil yang tak sempat didengar.

Ironi pun menyembul di sana-sini. Kita membaca cerpen pemenang lomba yang mengisahkan revolusi agraria dengan istilah berlapis seperti makalah seminar, namun entah mengapa tak terasa denyut manusianya. Sementara naskah tentang anak kecil yang diam-diam menyembunyikan sepatu baru agar bisa diberikan ke adiknya justru tak pernah lolos seleksi awal. Mungkin karena tak cukup penting? Atau tak cukup menjual dalam sinopsis?

Bisa jadi, sebagian dewan juri punya selera yang terlalu politis. Atau terlalu ingin mencetak pernyataan daripada membiarkan sastra mengalir sebagai cermin kemanusiaan. Tentu tak semua begitu, dan kita tahu, ada juga karya besar yang benar-benar berhasil menyelami dua-duanya: yang politis sekaligus manusiawi. Tapi kita bicara tentang atmosfer umum yang membuat banyak penulis muda (dan yang tidak muda) mulai menyangsikan validitas ceritanya sendiri. Yang membuat mereka menahan diri menulis tentang cintanya yang gagal, tentang aroma dapur neneknya, atau tentang perasaan aneh saat pulang kampung dan tak dikenali tetangga. Karena merasa: “ah, ini cuma remeh.”

Dan inilah titik bahaya. Ketika penulis mulai menulis dengan niat memenuhi selera, bukan menyuarakan isi hati. Ketika naskah dibuat bukan dari desakan batin, tapi dari perhitungan tema tertentu agar bisa menembus kurasi. Maka sastra bukan lagi jalan pulang menuju diri, tapi sekadar jalan tol ke panggung. Dan di situlah mungkin kita sedang kehilangan satu hal penting: kejujuran.

Lucunya, dalam semua kerinduan terhadap karya yang membela kemanusiaan, kita kadang lupa bahwa kemanusiaan paling mendasar justru terjadi dalam hal-hal kecil. Dalam roti yang dibagi dua, dalam senyum yang dipaksakan saat perpisahan, dalam cara seseorang memeluk dirinya sendiri karena tak ada lagi yang bisa ia peluk. Tapi siapa yang mau membaca itu? Siapa yang akan memberi hadiah untuk cerita tentang ayah yang diam-diam menyetrika seragam sekolah anaknya tengah malam?

Lalu bagaimana menyikapinya?

Barangkali kita hanya perlu menertawakan sedikit kebisingan itu. Tertawa dengan penuh cinta, bukan dengan sinis. Bahwa kadang lomba dan penghargaan memang lebih suka teriakan. Tapi bukan berarti bisikan tak punya tempat. Kita tidak sedang bertanding siapa paling megah, kita sedang mencoba menjadi manusia paling jujur. Dan kalau tulisan kita hanya mampu menyentuh satu pembaca yang akhirnya merasa tak sendirian di dunia ini, itu sudah lebih dari cukup.

Kita pun tak perlu merasa rendah diri. Tidak semua orang ditakdirkan jadi guntur. Ada yang diciptakan sebagai embun pagi yang pelan-pelan membasahi rumput. Dan embun juga penting. Sebab tanpa embun, daun bisa layu sebelum siang datang.

Jangan khawatir jika karya kita belum sebombastis yang mereka cari. Tulis saja terus. Tentang jendela kamar, tentang suara sepatu di gang sempit, tentang cinta yang diam-diam tumbuh di antara jemuran. Sebab dunia butuh semua jenis cerita. Tidak hanya yang bersuara keras, tapi juga yang berbisik dengan lembut, bahkan yang hanya berdiam dengan tatapan.

Dan kadang, di antara tumpukan naskah penuh ledakan isu, justru naskah tentang perempuan tua yang menanam melati di halaman rumah kecilnya itulah yang paling menyentuh nurani juri yang diam-diam lelah dengan dunia.

Tentu, tidak semua kisah personal harus ditulis seperti curhatan. Kita tetap bisa memperlakukan hal kecil dengan kepekaan estetika dan ketajaman emosi. Bahkan ironi pun bisa menyelinap di sana. Misalnya cerita tentang seorang ibu yang rajin mengikuti demo lingkungan, tapi membuang sampah rumah tangga ke selokan belakang. Atau aktivis HAM yang di rumahnya tak pernah menyapa anaknya sendiri. Nah, di sanalah jenaka dan getir bisa bergandengan tangan.

Pada akhirnya, sastra bukan tentang siapa paling keras bicara, tapi siapa yang paling dalam mendengar. Dan jika karya kita ditulis dari ruang yang jujur, dari luka yang tak dibuat-buat, dari rasa yang tak dikemas agar viral, maka ia akan menemukan jalannya sendiri. Entah lewat lomba, entah lewat orang yang tanpa sengaja membacanya sambil menunggu hujan reda.

Jadi, bagi kamu yang sedang ragu karena ceritamu terasa remeh, percayalah, remehmu bisa jadi rembesan cahaya bagi orang lain. Tulis saja. Tetap tulis. Dunia ini tak hanya butuh kisah tentang revolusi dan sejarah, tapi juga tentang seorang anak yang mencium tangan ibunya diam-diam saat ibunya tidur. Kadang, cerita yang besar bukan karena temanya, tapi karena tulusnya. Karenanya, mau pilih besar boleh, pilih kecil pun boleh, asal dasarnya tulus. [] Redaksi

Dunia Buku, Dunia Menulis

Kembali ke Buku, Kembali ke Diri

Ada masa-masa ketika kita tidak sedang berada di tempat ibadah, melainkan ke rak buku yang berdebu. Di sanalah, di antara halaman-halaman yang telah menguning dan penuh lipatan, kita menemukan sesuatu yang lebih sunyi dari doa dan lebih jujur dari nasihat orang bijak. Bukan karena kita tidak percaya Tuhan, tapi karena kadang, sebelum berlutut berdoa, seseorang hanya butuh duduk, membaca kembali sesuatu yang dulu pernah menyentuh hati dan berkata, “Aku ingin jadi orang yang lebih baik.”

Kita sering mengira tobat itu urusan besar. Harus ada air mata, malam panjang, atau suara petir. Padahal kadang cuma butuh satu sore, satu buku, dan satu kalimat yang entah kenapa kali itu terasa lebih menusuk dibanding dulu. Mungkin karena kita sedang rapuh. Atau justru lebih jujur.

Dulu saat membaca Orang-Orang Bloomington, kita mengira kesepian hanya milik para tokoh yang tinggal di kota asing. Tapi kini, setelah berkali-kali merasa terasing bahkan di tengah keramaian, kita tahu bahwa kesendirian itu bukan soal tempat, melainkan perasaan yang pelan-pelan tumbuh dari ketidakberartian hidup. Dan saat membacanya ulang, kita tak cuma melihat tokoh-tokoh ganjil itu, kita melihat diri sendiri yang selama ini tak pernah sempat disapa.

Dulu saat membaca Ronggeng Dukuh Paruk, kita mungkin hanya terpaku pada kisah cinta Srintil. Kini, ketika membacanya ulang, kita sadar bahwa menjadi manusia baik di tengah tekanan, stigma struktural adalah bentuk perjuangan paling sunyi. Tobat bisa muncul bukan dari dosa besar, tapi dari kesadaran bahwa kita pernah diam saat seseorang dilenyapkan karena sistem yang tak memberi ruang bagi kemanusiaan.

Kita, terutama yang paling suka menyembunyikan keresahan  sering merasa rendah diri saat menyadari betapa jauh diri kita dari apa yang dulu kita yakini. Ada semacam pengkhianatan halus yang dirasakan. Dulu yakin tentang kebaikan, kini lebih sering mengutuk hidup. Dulu percaya pada perubahan, sekarang lebih sering menyeletuk, “Ngapain jadi orang baik, toh yang licik yang menang.”

Tapi di balik itu semua, sebenarnya kita hanya ingin kembali. Kembali ke titik jernih yang dulu pernah membuat kita, memilih menulis, membaca, dan berharap. Hanya saja, seperti pulang ke rumah yang sudah lama tak ditinggali, kadang kita takut mendapati diri sendiri sudah terlalu asing.

Ironinya, dunia buku yang katanya menenangkan, kadang justru jadi sumber tekanan. Penulis merasa harus jadi suci, pembaca merasa harus tampak cerdas, padahal niat awalnya hanya ingin merasa lebih utuh. Tidak semua yang membaca  Ronggeng Dukuh Paruk  ingin jadi pribadi yang kuat. Kadang orang hanya ingin tahu bahwa hidupnya yang kacau itu tidak sendirian. Tidak semua yang membaca Saman ingin memberontak. Bisa jadi, mereka hanya ingin tahu bahwa diam juga bisa jadi bentuk perlawanan.

Satirenya, dunia buku kini seperti panggung opera. Semua tampil ingin tampak megah. Orang membaca supaya bisa pamer. Menulis supaya bisa disorot. Padahal sesekali, kita butuh seseorang yang menulis hanya untuk menyelamatkan diri sendiri. Membaca hanya untuk menangisi dosa yang tak bisa diungkapkan dalam status. Kita butuh buku yang tidak jadi barang dagangan, tapi jadi ruang pengakuan.

Ada satu kenangan yang mungkin banyak orang alami. Saat beres-beres kamar, kita menemukan buku lama yang pernah membuat kita yakin sesuatu. Kita buka pelan. Ada coretan di pinggir halaman, tulisan tangan kita sendiri: Ingat ini. Jangan jadi brengsek. Dan di saat itu juga, rasanya ingin menampar wajah sendiri. Karena kita tahu, entah sejak kapan, kita mulai membiarkan kebrengsekan merayap pelan dan jadi kebiasaan harian.

Membaca ulang buku lama bukan saja perihal nostalgia. Ia kadang bentuk paling jujur dari tobat. Karena tak semua orang punya nyali untuk bilang, “Aku salah.” Tapi membuka kembali buku yang pernah mengajari kita jadi manusia yang lebih baik, itu sama artinya dengan menyalakan lilin kecil di lorong gelap hati kita.

Dan lucunya, lilin itu sering kali hanya menyala untuk kita. Tak tampak dari luar. Tidak viral. Tidak disorak. Tidak dikomentari dengan emoji peluk. Tapi itulah cahaya yang paling tulus, yang hanya dinikmati oleh si pemilik gelap.

Kita hidup di zaman ketika orang berlomba tampak saleh, tapi lupa cara menjadi baik. Zaman ketika kata tobat jadi trending saat ada artis tertangkap, tapi tak lagi menggugah ketika seorang biasa duduk diam membaca ulang Catatan Seorang Demonstran dengan mata basah. Kita lupa bahwa kebaikan kadang tidak butuh pengakuan. Ia hanya perlu tekad yang tak henti.

Menjadi benar, di tengah dunia yang riuh, adalah keputusan sunyi. Sama sunyinya dengan membaca ulang buku yang dulu kita anggap remeh. Sama sunyinya dengan menuliskan kalimat: Aku ingin mulai lagi, dari halaman pertama.

Tulisan ini bukan ingin membuat sedih. Justru sebaliknya. Aku ingin kita tersenyum kecil. Ingat betapa dulu kita begitu yakin bisa jadi orang baik. Dan sekarang kita masih bisa. Tidak perlu pengumuman. Cukup satu keputusan: kembali ke buku, kembali ke diri.

Jadi jika malam ini kita merasa letih, bukan hanya tubuh, tapi juga jiwa, cobalah buka buku yang dulu pernah kita peluk setelah putus cinta atau masa-masa terpuruk. Jangan buru-buru cari bab akhir. Mulailah dari halaman yang paling sering kita lipat. Di situ mungkin ada satu kalimat yang tidak kita sadari sedang menunggu kita kembali.

Dan jika besok pagi kita merasa ingin jadi orang baik, jangan buru-buru pasang kutipan motivasi. Duduklah. Diamlah. Bacalah. Karena kadang, suara hati tidak terdengar di tengah kebisingan niat-niat baik. Tapi bisa terdengar jelas di antara bisikan lembar-lembar yang kita balik dengan penuh kesadaran. Tidak perlu mengutuk dengan apa yang telah terjadi, cukup permohonan yang baik.

Di dunia ini, barangkali hanya ada dua jenis orang yang tidak malu mengaku salah: anak kecil yang ketahuan curang, dan orang dewasa yang menemukan kembali dirinya. Dan semua orang tahu, kita tidak bisa kembali menjadi anak kecil. Tapi kita bisa jadi orang dewasa yang tidak malu untuk kembali. [] Redaksi