Buku, Resensi

Populisme Kiri: Menggugat Hegemoni, Meradikalkan Demokrasi

Oleh Muhammad Teguh Saputro

Frasa suci dalam catatan sejarah yang sudah tidak asing lagi kita dengarkan mengatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah tentang perebutan kekuasaan. Makna besar kekuasaan dalam frasa tersebut tidak semata tentang tahta kepemimpinan, susunan kabinet, atau kursi parlemen, melainkan lebih dari itu, pertarungan ide, gagasan, media, bahkan massa yang terkoneksi menjadi suatu tatanan sistem – ekonomi dan politik – yang bersifat mendominasi dalam segala lini kehidupan.

Perebutan wacana ide besar tatanan kehidupan – sistem, tidak lagi menjadi topik baru dalam altar peradaban manusia. Terhitung sejak lahirnya Revolusi Prancis di abad ke 18 sampai mencairnya Perang Dingin di senjakala abad ke 20 –tarik-menarik dominasi di percaturan politik global tidak pernah berhenti. Sejarah panjang yang populer dikenal dengan perebutan wacana antara Faksi Kanan dan Faksi Kiri perlahan berhenti ketika banyak negara secara bergilir mencapai titik konsensus yang dianggapnya sebuah konklusi dari konflik panjang ini. Konsensus yang dengan sepakat diberi nama demokrasi.

Titik Nadir Demokrasi

Chantal Mouffe, seorang teoritikus politik asal Belgia yang menyandang gelar profesor teori politik di University of Westminster, UK, menguraikan narasi dengan arah arus yang sangat baru dan berbeda. Lewat bukunya yang berjudul Populisme Kiri, Mouffe membeberkan bahwa konsensus demokrasi yang dulu dicita-citakan sebagai titik netral dengan menjunjung nilai kesetaraan dan kedaulatan, hari ini berada di titik nadir dengan semakin dominan dan kuatnya faksi Kanan – populis, yang terus mengglorifikasi politik identitas, sentimen rasial, keagamaan, kesukuan, xenofobik. Sebuah titik yang tidak pernah terbayangkan, titik konsensus yang dianggap netral dan setara hari ini berada di tangan-tangan populis yang mengimani pandangan yang bertolak belakang dari cita-cita.

Mouffe lewat bukunya Populisme Kiri juga membeberkan tentang ruang demokrasi yang terkungkung dalam genggaman kaum populis saat ini bukan tanpa alasan. Mouffe lewat catatan dan analisa yang ditulisnya setidaknya mengatakan, titik nadir demokrasi di tangan kaum populis hari ini lahir dari jurang kesenjangan yang dilahirkan ruang demokrasi itu sendiri. Menurutnya, tatanan sistem konsensus demokrasi pasca perang dingin yang mengaburkan batas kanan-kiri melahirkan suatu pondasi sistem yang rentan akan krisis. Liberalisme yang semakin berkembang setelah mendapat tempat di sisi demokrasi pasca-konsensus, sejak awal mempunyai bagian yang saling bersinggungan dan bersifat kontradiktif.

Demokrasi yang berdiri dengan tiang agung kesetaraan dan kedaulatan, bertolak belakang dengan liberalisme yang menjunjung kebebasan individualisme. Perkawinan dua sistem yang mempunyai kontradiksi tersebut seakan tampil menjadi wacanan sistem baru yang bersifat mengakomodir. Dengan dibantu kinerja-kinerja hegemonik oleh berbagai formula hegemoni — seperti birokrasi, media, dan wacana globalisasi – sistem konsensus ini berkembang dengan sangat pesat namun menyimpan kerentanan yang sangat besar di baliknya.

Konsensus yang kemudian hari dikenal dengan istilah demokrasi liberal,berkembang dengan semangat mengalenisasi wacana rakyat– terganti dengan wacana kebebasan individu – mencapai titik nadirnya pada pecahnya krisis ekonomi internasional, seperti di tahun 2008 yang menimpa dan membuat dampak yang fatal bagi negara-negara besar demokrasi.

Ketimpangan dan kesenjangan yang dilahirkan demokrasi liberal semakin jelas pasca-krisis. Imbasnya, momen populis–momen merebut kembali kedaulatan dan wacana rakyat yang ada di banyak negara dan bersifat resistance–lahir dan diikuti meletusnya gerakan besar alternatif melawan hegemoni liberalisme.

Momen populis ini semakin tumbuh. Dengan metodologi redefinisi yang jelas antara makna dan siapa-kita serta makna dan siapa-mereka, (baca: rakyat v.s elit), kaum populis memanfaatkan momen ini dengan dalih memulihkan demokrasi. Alih-alih memulihkan ke cita-cita awal – kedaulatan dan kesetaraan – demokrasi semakin mencapai titik nadirnya dengan politik identitas, intoleransi, dan sentimen rasial di bawah tempurung populis-kanan.

Merebut dan Meradikalkan Demokrasi

Keprihatinan mengenai kondisi demokrasi saat ini yang – kebanyakan – berada di bawah kendali kaum populis – yang semakin menjauhkan tatanan dari kesetaraan – membuat beberapa filsuf dan akademisi politik berdebat dalam merumuskan strategi untuk merebut kembali demokrasi. Di posisi inilah Mouffe tampil dengan gagasan yang tertuang di bukunya; Populisme Kiri. Menurutnya, kondisi hari ini tidak semata gagalnya konsensus demokrasi liberal membendung krisis yang berakibat kesenjangan yang begitu besar, tetapi lebih dari terdapat fenomena realitas lain, yakni matinya gerakan revolusioner (baca:kiri), dan keberhasilan kaum populis memanfaatkan momen – kesempatan yang dihasilkan krisis.

Gerakan revolusioner sibuk menenggelamkan diri dengan perdebatan internal mengenai jalan mana yang harus ditempuh untuk merebut demokrasi. Banyaknya faksi yang terdapat dalam arus ini masih sibuk berdebat mengenai metodologi revolusi yang akan digulirkan. Beberapa memilih revolusi total, beberapa lain menyimpang dan memilih memasuki pusaran sistem dan berusaha merovolusi dari dalam. Imbasnya, ketiadaan keselarasan visi tersebut semakin melemahkan arus gerakan dan mengaburkan tujuan awal.

Sedangkan di sisi lain, faksi tandingan yang dikenal dengan istilah populis berhasil memanfaatkan krisis yang dilahirkan demokrasi liberal. Jurang kesenjangan berhasil dimanfaatkan kaum populis untuk meredefinisi musuh bersama. Wacana rakyat yang selama ini perlahan hilang dari gelanggang demokrasi, direbut dan dimunculkan kembali sebagai kendaraan untuk merebut demokrasi dan mengantarkan pada kemenangan – kekuasaan.

Mouffe, sebagai salah seorang yang prihatin terhadap kondisi yang dilahirkan kaum populis ini mencoba merumuskan dan menawarkan strategi baru untuk kaum revolusioner yang kehilangan arah. Bagi Mouffe, strategi populis yang berhasil tersebut dapat kita adopsi, meski tentu dengan berbagai catatan yang membedakan.

Mouffe menjelaskan, keberhasilan kaum populis sangat dipengaruhi momen populis yang dilahirkan oleh krisis. Momen populis yang dimanfaatkan gerakan untuk meredefinisi realitas guna membentuk wacana publik tersebut harus dimanfaatkan sebagai momen mengonsolidasi perlawanan. Jika kaum populis mendefiniskan dengan garis demokrasi yang jelas antara rakyat dan elit, yang dimanfaatkan untuk meraup suara, kaum kiri haruslah mampu melakukan hal yang sama. Membedakan diri dan menciptakan musuh bersama di wacana publik, serta merangkul berbagai elemen untuk mewujudkan kontra-hegemoni secara bersama.

Mouffe menyadari kemapanan sebuah sistem – termasuk demokrasi liberal – sangat ditopang oleh keberhasilan sebuah formula yang bersifat menghegemoni. Meminjam teori yang pernah diajarkan Antonio Gramsci, Mouffe menjelaskan melawan hegemoni tidak lain dengan menciptakan formula baru yang bersifat kontra-hegemoni.

Mouffe lewat bukunya Populisme Kiri ini mengajak pembaca untuk merefleksi strategi yang pernah dilakukan kaum populis – dan berhasil, untuk diadopsi dan dimodifikasi dalam gerakan yang lebih revolusioner guna keluar dari hegemoni liberalisme dan menyelamatkan pilar demokrasi yang diinjak-injak kaum populis sejauh ini.

Mouffe yang percaya bahwa demokrasi dan negara adalah ruang netral untuk saling menciptakan ide-ide yang membentuk formula hegemoni, secara sederhana dia mengajak pembaca untuk menggugat hegemoni yang selama ini melahirkan krisis – liberalisme, dengan menciptakan formula kontra-hegemoni untuk turut mewarnai ruang demokrasi, serta menciptakan perubahan yang radikal dalam sistem demokrasi untuk cita-cita mulia yang pernah dimimpikan bersama. Bahwa demokrasi adalah sebuah konsensus untuk menegakkan kesetaraan dan kedaulatan di tangan rakyat – bukan elit, oligarki, dll. Pentingnya kemenangan kiri untuk menyelamatkan demokrasi harus disertai pentingnya membentuk wacana publik lewat momen populis, menciptakan formula kontra-hegemoni sebagai alternatif, serta meradikalkan sistem demokrasi untuk menciptakan berbagai perubahan-perubahan besar yang dimimpikan rakyat.


Muhammad Teguh Saputro, mahasiswa aktif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pegiat literasi dan diskusi di Komunitas Lorong.

Buku, Resensi

Punk dan Kisah Lainnya

Oleh Nu’man Nafis Ridho

Ketika kita bergeliat dalam obrolan musik. Para pelaku musik seperti personil band, para pengulas musik, dan manajer tak mungkin dihilangkan dari percakapan. Begitu pula yang coba disuguhkan dari buku History of Punk: Budaya Tanding yang Tak Pernah Padam (2020). Atolah R. Yafi sebagai penulis menghadirkan perbincangan mengenai band-band punk, bagaimana mereka terbentuk dan hidup, para pengulas musik yang mempopulerkan terma punk, juga orang-orang di balik panggung seperti manajer band.

Saat membicarakan band-band punk, pikiran kita akan langsung tertuju pada Sex Pistols, Ramones, The Clash, The Stooges, New York Dolls, juga MC5. Band-band yang menandai semangat awal musik punk. Namun, Atolah mencoba menghadirkan nama-nama lain. Death, Pure Hell, Television, Buzzcock, Warsaw, Blondie ialah segelintir nama lain yang sedikit banyak juga membentuk subkultur punk di awal kelahirannya.

Atolah membagi bukunya menjadi empat bab: Detroit, New York, London, dan Manchester. Empat kota yang menjadi titik awal kemunculan punk di dua negara: Amerika Serikat dan Inggris. Skena punk diringkas Atolah ke dalam empat kota tersebut. Ia coba memisahkan bagaimana punk muncul di keempat kota tanpa menghilangkan keterkaitannya dalam tumbuh bersama.

Para Pengulas dan Orang di Balik Panggung

Ekosistem musik tak mungkin hanya diisi para penyanyi dan personil band lainnya. Kita pernah membaca di buku Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya (2018) yang ditulis Idhar Rhesmadi. Ia menuliskan mengenai aktor-aktor yang memenuhi ruang ekosistem selain musisi. Para pengulas lagu, album, dan band mengisi ruang dengan tulisan yang dicetak menjadi majalah. Beberapa majalah seperti Musika, Diskorina, Hai, Ripple, MTV Trax, Rolling Stone Indonesia, juga Aktuil sempat mengisi ekosistem musik Indonesia melalui ulasan mereka. Dany Sabri jadi salah satu pengulas penting dalam perkembangan musik di majalah Aktuil. Di buku, Idhar menuturkan, “selama tiga belas tahun Aktuil menulis beragam peristiwa dan perkembangan musik, serta berupaya membentuk opini masyarakat pecinta musik Tanah Air.”

Para pengulas tak hanya membeberkan mengenai musik bagus dan jelek menurut versinya. Mereka juga turut serta dalam perkembangan kultur music yang terbentuk. Meski tak langsung terjun dalam pembuatan karya. Tetapi mereka justru yang menghidupkan musik melalui ulasan-ulasannya di majalah. Seperti Aktuil yang terus hidup selama tiga belas tahun untuk mengulas musik.

Begitu juga yang diterangkan Atolah di buku History of  Punk. Lester Bangs dan Dave Marsh tertuturkan sebagai penulis awal yang mengusung terma punk dalam ulasannya di majalah seperti Rolling Stone dan Crema. Mereka memunculkan terma punk melalui ulasan di majalah. Punk tidak hadir karena para musisi mengakui diri mereka sebagai punk. Namun itu dilekatkan kepada mereka oleh para pengulas musik di majalah.

Misalnya seperti Lester Bangs yang dituturkan Atolah di halaman 28, begini, “ia membeli album MC5 dan membuat ulasan secepat mungkin.” Ulasan yang dibuat Bangs justru melekatkan terma punk pada MC5. Terma punk tidak muncul dari ungkapan para personil MC5. Justru dari para pengulas seperti Lester Bangs, Dave Marsh di Amerika Serikat. Atau Denis Sabri di Indonesia.

Bahkan Death, band yang digadang-gadang sebagai musisi awal yang memainkan musik punk di Detroit tidak pernah menyatakan bahwa diri mereka sebagai punk. Malah mengungkapkannya sebagai rock n roll. Begini kata vokalis sekaligus basisnya Bobby Hackney, “kami tak tahu apa-apa tentang punk, bro. Kami hanya menyebutnya hard-driving Detroit rock n roll. Itulah yang kami mainkan. Mungkin memang sedikit lebih cepat, lebih agresif, karena semua orang berkata bahwa kita harus memainkan musik lainnya seperti soul ataupun funk.”

Kita juga mendapati di buku bahwa selain para pengulas lagu, album atau band. Para manajer seperti Malcom McLaren amat begitu penting dalam pertumbuhan subkultur punk. Ia menjadi orang yang menyatukan para personil Sex Pistols dan memulai skena punk di London. Atau John Sinclair yang membentuk ruh dalam band MC5 di Detroit. Juga ada Rob Gretton yang memanajeri Joy Division dan New Order di Manchester.

Orang-orang di balik panggung inilah yang juga membentuk subkultur punk. Mereka tak hanya duduk dan singgah di kapal bernama punk, namun ingin diingat sebagai yang paling berjasa dalam perjalanan punk di lautan musik. Merekalah justru yang juga punya andil, namun dipinggirkan dari ingatan. Memang nama-nama itu hanya tercatat sedikit oleh Atolah di bukunya. Ia lebih banyak memfokuskan perihal band-band yang membentuk skena punk di empat kota tersebut.

Namun, fokus itu tidak membawa Atolah untuk menyajikan biografi singkat dan peristiwa musisi yang hidup lebih baik secara spasial dan financial setelah sukses. Kita juga dapat mengetahui bahwa sejarah musik punk ternyata tidak hanya perkara kejayaan para musisi yang nama bandnya bias terus tercetak di kaos-kaos sampai saat ini. Atau musiknya terus didengarkan secara digital. Kisah-kisah band seperti Death, Pure Hell, Buzzcock, dan Television juga ingin hadir dan teringat. Buku History of Punk ini menjadi media yang bias tetap mengisahkan bahwa punk tak melulu soal band seperti Ramones, The Clash, MC5, The Stooges, dan New York Dolls. Atau perihal rockstar yang keranjingan heroin dan narkotika lainnya ketika menjadi mapan.

Kisah-kisah yang terpinggirkan dan ganjil juga terus terkisahkan melalui buku ini. Walau agak sayang, kisah-kisah itu tercetak dengan beberapa kekeliruan secara bahasa. Kesalahan ketik yang akan membuat pembaca sedikit bingung dalam menjelajahi sejarah singkat punk di buku.


Nu’man Nafis Ridho, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta dan sesekali menulis.