Puisi

Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

Di Pagi Hari

di pagi hari, orang-orang sedang tidur tanpa mimpi.

tubuhku dingin tanpa baju, penyesalanku dingin dan sesap pada bisu.

kugenggam pasir mimpi. tidurku tergeletak pada jaga.

neraka bercerita pada dongengnya yang menyala, surga makin biru saja.

sekepak ingatan tiba-tiba sangkar. dipenjaranya alusi perempuan,

yang mengetuk meja lapuk dengan buku-buku jari yang penuh luka.

negerinya terbuat dari pembunuhan. yang ia takutkan bukan lagi Tuhan,

tapi tuan yang menghidupkan segala kebengisan akhir zaman.

aku duduk di tepi pagi, terjun ke dingin tanpa batas,

kekacauan di dadaku tangkup dan kebas.

oh embun-embun yang melarat dari butiran doa. haruskah aku sujud

bersama keladi yang angkuh, subuhku adalah kening busuk yang jatuh.

Kubang Raya, 20 November 2020


Bimbilimbica dan Buku Harian Zlata

  • Alusi Peperangan Bosnia 1992-1995

ingin kugandakan hati biar sepi mampu kubagi seperti roti dan kelaparan

pengungsi dini hari, di bawah sebungkus senyuman disinari samar bulan,

sembari membayangkan betapa belatung di kuburan sangat mencintai kesunyian

yang masih segar, bergumul tubuh pucat dan segenap anggapan rasa sakit,

di masa-masa penantian siksa bagi agama yang menyakininya.

ketika keputusasaan menghantui gelap hari-hariku, kubayangkan kau gigil

di negeri jauh, Bimbilimbica. Zlata Filipovic tak menyentuhmu, sebab airmata

terlalu memusingkan kepalanya: tentang rasa lapar yang menggejala,

tentang kesepian bagai kolera

bila serigala muncul sebagai pertanda kabul segala pestaporia kehilangan,

kawanan burung-burung bangkai menukik bagai puncak kasmaran, harus bagaimana

kau datang meniadakan lara, Bimbilimbica?

lidah Cecep Syamsul Hari yang khatam mengumpul puisi, tumpul dalam otakku,

Zlata Filipovic kembali menangis di tipis nuraniku, aku hendak berbincang,

mungkin mengaku memeluk Tuhan atau sekadar bertempur dengan setan yang sesat

di badan.

Bimbilimbica, katakan pada lampu merkuri lumutan dan setia berdiri nun jauh di sana, adakah cahaya bakal menyapa esok hari bagi kedukaan maha di jantungku; degup-degupku, harap-harapku.

alusi peperangan itu mengepungku, suara jerit menggedor-gedor kewarasanku, Asfaltina, Pidzameta, Zefika, Hikmeta, Sevala, segala hanya menggantungkan keragu-raguanku

tentang bahaya hidup yang tak mungkin kucungkup sejak sepanjang malam berharap

aku mati di puncak menara.

Bimbimbica, seluas apakah neraka itu? masih jauhkan ia dariku? Bimbilimbica

sanggupkah kau memeluk saat tubuhmu terbakar dan sebentar lagi abu?

Pekanbaru, 2015 – 2021


Kaleng; Yang Diam-Diam Membuat Rahasiamu Karatan

: Alda Muhsi

aku ibaratkan kau ada di hilir sungai,

hilir segala yang ditampung keluasan muara,

maka kuhanyutkan berkaleng-kaleng bekas susu,

sehari hanya satu.

di dalamnya kuselipkan kertas rahasia,

kertas yang hanya mampu kaubaca ketika kaubawa ke kertap cahaya,

sebab aku menulisnya dengan bantuan getah lemon.

mungkin hanya serbuk cinta karatan,

sebab serbuk cintaku tak lagi diminati kumbang,

atau decit perih harapan yang koros hati.

pernahkah kau memakai parfum termurah

ala anak sekolah dari ekonomi rendahan?

aku menyemprot parfum itu dengan beberapa percik,

saat kau membuka gulungannya akan terkuar siar wangi

sebab di dekat surat itu telah kudiangkan 5 putih segar melati.

aku tak mengharapkan apa-apa,

tak juga kebahagiaan yang meliputi jiwamu yang sukma,

hanya upaya mengirim sedikit cinta dan lebih banyak cita-cita,

yang barangkali lebih masif dari kegilaan Rimbaud-Varlaine.

jika sudah kauterima 5.000.000 kaleng susu bekas,

mohon balas kirimanku dengan cinta sungguhan,

kirimkan via pos kaleng yang paling kumal dari keseluruhan.

tapi itu takkan pernah terjadi, tak akan pernah.

sebab 5.000.000 hari bukanlah pilihan kita untuk tetap hidup.

untuk 5.000 kaleng susu bekas, atau untuk 5 kaleng susu bekas,

kirimkan saja semisal tipudaya cinta,

mungkin racun yang dapat membakar kaleng-kaleng berikutnya,

kaleng-kaleng yang tidak akan sampai kecuali kabar kematian pengirimnya

yang diam-diam membuat rahasiamu karatan.

Tiga Meong 2015 – 2022


Pantai Alam Indah

bangkai kenangan masih mengapung di laut otakku,

          saat kausasarkan selasar cumbu di pantai kelabu.

          saat itu gelap, menggeriap, tanganmu semakin mendekap,

                                                                     mulutmu membekap,

   kedinginan angin laut seperti mengerucut surut.

sekarang kau di mana? haruskan aku bertanya kepada seluruh karang

              dan biotanya? mengapa kau hamparkan gelombang lengang

                                                        sehampir ini?

tak adakah lagi kedalaman cinta? tak adakah lagi pasir-pasir di bibir?

      hingga aku harus berenang serupa ikan-ikan kesedihan

                                  yang mengapung nadir.

Kubang Raya, 2015 – 2022


600 Mil / 965 Km

: Shangguan Xi Mu

965 km,

inilah jarak kasih sayang terjauh

yang pernah tersentuh biak kembang airmataku,

cinta tak memusingkan rasa lelah karena asa belum akan leleh.

Xi Mu, keterasingan hanyalah kelaziman semu,

hatimu abadi mengendarai debu-debu

hingga mengepul ke jantung juntrung nenekmu.

ada 1.330 hari ambang plastik menuju pintu uang,

kau tepis usiamu yang sepuluh kikis oleh sedih.

mengembaralah riyawat piatu ketika ibu pergi

dan kau masih belum laik mengacukan sepatu,

pula lima kehilangan tanpa linangan ketika ayah meregang lengang.

setelahnya kau hanya rajin ke klenteng untuk sembahyang.

orang-orang membangun kemanusiaan, bermula dari keruntuhan batu

dan buta oleh kenyataan. saat seribu tangan memanjang,

menyambung tangan perawat di ruang operasi,

kelumpuhan nenekmu ternyata menyimpan komplikasi dekat hati.

berjalanlah, Tuhan akan memungut jejakmu dengan semangat

dan rasa iba yang ibu

Pekanbaru, 2015 – 2022


Filitinisme
: Oscar Wilde

(Hendry)
sebab dirimu adalah pertempuran batin yang tak dapat tumpas

oleh kanvas, seseorang memanggil da vinci tapi da vinci melukis

melankoli caci maki, seorang yang lain memanggil picasso tapi

picasso melukis abstrak kehancuran mimbar pidato, lalu apa pun

yang mampu dibayangkan pikiran, biarkan sesuatu yang tak

terjangkau menyeberang, mungkin ke tanjung arang

(Dorian)
lingkaran masa depan mencipta seorang di masa depan,

seorang itu  dikabarkan sendirian, berdua dengan kutukan,

bertiga dengan kuburan, kuburan itu adalah lambang rumah

ruhnya yang tak

bertaman dan berteman
————-

kupu kupu murahan, mengibas ekornya yang beracun,

mengenai ujung kelamin lelaki di masa depan: ah,

ternyata di masa depan baju bukan bagian kemaluan

Miral Dj 2014 – 2022


Kindergarten

Black

ia mencintai bulan, mengecup matahari, mengejar bintang,

ia terjatuh di malam hujan, terperangkap mata anak kecil tanpa teman.

Blue

warna bantal ibu, mimpi para perilaku-perilaku lugu,

menggambar tidur, mencoret mimpi,

cita-cita ibu di langit-langit lidah si anak bisu

White

dongeng menjadi surga kapas, lomba terbang ke langit-langit,

beberapa tersangkut kipas angin, gelantungan di sarang laba-laba,

keluar jendela dapur. tapi rengek anak-anak berwajah pupur,

siang malam tak bisa tidur, bikin amarah ibu jadi bubur

Yellow

sepasang mata sapi di atas piring, buku gambar di samping piring,

anak-anak yang menjadikan sepasang pensil jadi sumpit licin,

ayah yang menyuap hening, ibu berbedak kuning,

kakak yang belajar kencing, suara mooo dari dalam toilet

Red

apa golongan darah amuba, anak-anak yang mewarnai pantat kuda,

zebra bermata merah saga, plankton sewarna hemoglobin,

ular pucat berekor merah, kebun binatang dari mulut ibu,

kandang sapi di sepi ayah, tetangga yang pergi mendonor darah

aku pernah anak-anak, tanpa taman kanak-kanak,

tanpa pensil warna-warni, tanpa lolipop, berteman peri-peri,

dari kepala takdir yang migrain.

Kubang Raya, 13 Desember 2021


Tokoh Tokoh dalam Apselog

semula Phusta mendua, rambutnya dibagi tiga,

wajahnya dirias empat, senyumnya lipat lima,

tengah malam di jantung srigala,

ia mulai membenamkan rencana

Myhta berlari ke dalam kelam kurcaci,

dengan membuka langkah terkunci,

disematkannya mata kaki ke mati hati,

di luar masakan dapur.

Korkhena tetap buta dengan wajah merah bata,

lidahnya lima pilin suara

yang lincah bagai teluh, ular dari rahim bunga

yang memasang sayap kupu-kupu

Abusia, seseorang memanggang sembab celana

di celan senggang senggama, kepala berdarah

bercak kasta, seperti jarak cinta dan aritmatika.

Pekanbaru, 2015 – 2022


Muhammad Asqalani eNeSTe, kelahiran Paringgonan, 25 Mei. Adalah Pemenang II Duta Baca Riau 2018. Menulis dan membaca puisi sejak 2006. Puisi-puisinya dimuat di pelbagai media cetak dan online. Bukunya yang berjudul doksologi memenangkan lomba buku fiksi tahun 2019. Ia tengah menyusun buku kumpulan puisinya yang kesebelas dan keduabelas He Jia Ping An dan Ikan-ikan Pikiran Mati. Mengajar kelas puisi online di KPO WR Academy dan Asqa Imagination School (AIS). Aktif di Community Pena Terbang (COMPETER). Instagram:  @muhammadasqalanie. Youtube: Dunia Asqa.

Puisi

Haiku Beby Halki

I

melukis punggung

empat penjuru angin

tepi Mahakam

II

melingkar sinar

matahari berpendar

cantik memancar

III

kebaya putih

angin dalam kemarau

peluh bercucur

IV

daun berayun

berbisik angin malam

pulangkan cinta

V

tertutup embun

pagi menusuk tulang

dipeluk dingin

VI

tergerai rambut

menantang biru laut

anak gadisku

VII

terucap mantra

langit terdiam kelu

memuja Kresna

VIII

hujan menderu

malam mengejar waktu

tubuh membiru

IX

penyair gundah

tongkat menyeret langkah

angin mendesah

X

terkatup bibir

awan tersapu angin

hilanglah kata

XI

langit berpijar

suka duka menanti

tahun berganti

XII

api menyala

pinta semesta raya

damai doaku


Beby Halki, dokter yang menyukai musik keras.

Puisi

Puisi Fatah Anshori

Moynihan, 1912

Pemangkas daging itu bekerja di antara cemas nyawa yang terkupas, was-was. Ahli bedah menggunting ruang lain di Berlin dalam lekuk-lekuk bahasa di keningmu. Orang-orang di jalan menggambar jurang dalam dirinya masing-masing seperti kelamin-kelamin yang berceceran di dinding kota dan beranda media. Ketakutan menganyam ulang sarangnya di kepala dan diri yang resah. Ah… hati seekor singa harus menyaru dalam lelaku, tangan seorang wanita, yang kau pelihara dalam tiap-tiap diam: mekar dalam sepuluh sangkar yang mengurung rupa wajah kota. Potret murung suatu gedung: mall, bioskop, taman kota, stadiun bola terangkum dalam larik-larik kata di beranda harian seorang remaja. Sebuah keluarga mati dalam ruang isolasi, ruhnya menguap di antara pengap baju hazmat. Kau masih bekerja memangkas ulang daging-daging di kening ingatan yang tumbuh tak keruan, menutupi pandangan: hanya gambar-gambar buram kehilangan. Masa depan hanya dongengan yang tertinggal di buritan sebuah kapal yang telah karam.

Lamongan, 2021


Phenobarbital

Awalnya nyeri, yang kerap kau jumpai dalam hubungan gelap di setiap derap kaki-kaki yang basah akan gelisah. Ada suara tembakan yang coba diredam dalam pesan-pesan yang tenggelam di rahim zaman. Notif penting dan tak penting berlalu seperti kerlip traffic light. Di perempatan jalan mereka mengusung upacara perayaan masing-masing tubuh, budaya yang merangkak seperti kura-kura digital dalam jaring laba-laba. Lalu orang-orang menguap seperti mulut ikan koi yang melahap tai di empang-empang seberang mereka menanam kakus-kakus sederhana. Dan orang-orang mencicil nyeri tiap pagi. Tapi laki-laki itu masih berlari dalam angan-angannya sendiri, ketika pagi merobek lagi mimpi-mimpi mudanya menggantinya dengan kenyataan yang tak enak dipandang. Realitas menggunting-gunting ideologi di sepanjang kepala hingga lambung mahasiswa-mahasiswi jadi kolam-kolam ikan lele, kandang-kandang itik, sawah-sawah yang minta diolah. Menjadi rupiah dan barang-barang mewah. Tapi di matanya segalanya akan pecah belah seperti hidup Haji Dullah, rumahnya mewah, tanahnya, istrinya, hartanya, sapinya, melimpah, tapi akhirnya pecah belah. Lalu di tanggal merah segalanya jadi merah. Haji Dullah berlumuran darah dan segalanya berserakan di tanah. Tapi segala yang pecah belah tak ia bawa ke tanah. Dan segalanya hanya jadi kisah yang kerap diasah oleh lidah-lidah keluh kesah. Tapi hidupmu adalah rasa nyeri di hati yang gagal disiasati atau diobati. Dan kau juga tak mungkin bunuh diri di hadapan sunyi tangis bayi dan istri yang dilumat api.

Lamongan, 2021


Catgut 900 M

Pada seluruh luka kita akan mengeja, berapa pendek dan panjang kesakitan yang musti dihubungkan, dibungkam, disembuhkan. Sebelum siksa di tubuh manusia menganga, kita hanya pipa-pipa mukosa di perut domba, setiap hari kita pamah rerumput yang jatuh dari lubang hitam dinding-dinding kelam. Tak ada jerit sakit, pendek atau panjang hanya nyanyian gudang penampung sebelum kran terakhir mengintip muara akhir. Dunia luar tanpa mercusuar, atau kita yang terbiasa menyala dalam legam. Percakapan-percakapan bungkam. Bahasa terabaikan dalam gerak peristaltik, dinding-dinding merah muda, berlendir, mahir mengeja rasa dalam asam basa. Mengaduk keduanya di lapang nihil. Tak ada kebencian makhluk lain, hanya benih-benih rerumput yang kita ramut dan pilah sesuai desah. Bising usus terdengar halus di sela-sela kita yang rakus: dinding yang tak pernah aus atau haus. Dan kita tak juga terputus, bekerja dan bekerja, meski nyawa tuan hilang sementara, kita budak sepanjang masa, sebelum luka manusia membutuhkan kita.

Lamongan, 2021


Hikayat Oximetry

:jenazah-jenazah dari rumah

Garis putus-putus warna biru yang lugu

mengapit buku jarimu yang layu

keriput di wajahmu seperti memetakan

masa lalu bersama angka-angka yang

mencuat di layar kaca sebagai neraca

kadar nyawa di dalam tubuh yang

kian rapuh:

-99%: kau berlari dalam kilometer

           -kilometer mimpi yang enggan

           menepi [dunia ini abadi] dan

           kau enggan menepi

           pada pucuk-pucuk sepi, tak ada

           aroma kenanga dalam raga.

-95%: kau saksikan jerit orang-orang

           terhimpit, tercekik, dalam

           ribuan derap kesusahan, yang

           samar-samar serupa memar

           tamparan perempuan yang

           pernah kau tinggalkan sebab

           perigi tak lagi suci

-90%: mulai ada yang terbakar dan

           tenggelam di dada, angan-

           angan berumah tangga, sambil

           menanam bunga-bunga gugur

           dalam grafik-grafik yang

           jatuh menukik ke dalam ambang

           kelam kecemasan yang terbit

           dari wajah-wajah iba di depan

           kepala: orang-orang tercinta

           bisa apa? ruang-ruang isolasi

           telah terkunci dan terisi.

-85%: kemudian hanya bayang-bayang

           awan di pertigaan mengambang

           di antara perjumpaan dan

           perpisahan. lolongan panjang

           menggantung nyaring di

           orofaring seperti jerit anak kucing

           yang menelan kail pemancing.

           hidup ini kian nyaring kian kering

           dering telepon dalam igauan

           tenggelam dan terabaikan, tak ada

           pertolongan pertama, kedua,

           atau ketiga, hanya ada sesak

           yang kian merusak di rusuk.

-70%: entah apa yang kian menipis,

           seiring hari-hari yang terkupas di

           ambang pelipis seperti ada puas

           yang teriris. tentu saja bukan jeruk

           nipis yang kau peras dalam gelas

           untuk meredakan batuk atau kutuk

           yang mengeras. tapi yang nihil

           seperti meremas nyawamu

           agar tandas dan lunas. segalanya

           terkuras dalam deras cemas

           apa-apa yang amblas.

-65%: lalu yang kau kenakan dan

           banggakan menjelma bayang-bayang

           samar di retina. pluit kereta atau

           derap langkah ribuan kuda

           menggenangi bangsal isolasi.

           tapi kau tak mengerti paru-paru

           yang tenggelam bersama jalan

           pulang. suatu malam di pekuburan

           dengan nyanyian berlumur tangisan.

           lembab, hijau, sembab dan

           berkeringat melekat hingga belikat.

-50%: kau berhadap-hadapan dengan

           jalan lain penuh dirimu dan gigil

           yang membiru di balik baju. sianosis

           merangkak dari jari ke jari. dyspnea

           mengambang dalam batang-batang

           igauan yang mengental bersama

           darah. …

-35%: aroma peziarah merekah

           dalam desah …

-0%  : dan gelisah

           luruh jatuh

           ke tanah …

Lamongan, 2021


Diathermy

Pada gelombang yang tembus pandang

Kau karang peta nyeri dalam tiap-tiap

Diri melewati lekuk lembah

Bukit daging dan segala

Daki yang menyelip di hati

Asam urat yang kerap buat hidup

Terhambat, membuat kakimu seperti

Terikat hutang negara

Dan terjerat pasal-pasal

Yang dibuat asal tanpa akal

Cahaya mengental tertimbun lemak

Di lipatan perut yang jarang

Diurut, minyak tawon atau

Balsem Lang dengan

Koin seribuan

Di antara orang-orang yang hilang

Kau selipkan igauan malam-malam

Dengan suara tembakan

Tapi kau mengerti

Mereka tak pernah mati

Hanya tidak bisa berdiri dalam gelombang

Tembus pandang tak ada

Yang musti dimaklumi

Dalam diri-diri ini kecuali

Nyeri yang tak terobati

Lamongan, 2021


Ether

Senyawa kimia yang kau

Racik di nganga luka

Membuat kita terjaga

Dalam jeda

Nyeri yang tak teraba

Tak terbaca meski dengan

Neraca surga yang

Pernah menaksir dosa-

Dosa umat manusia.

Luka ke mana-mana

Menjalar sepanjang arteri

dan vena, tapi tak ada

Kata siksa menari-

Nari serupa

Biduan orkes kampungan,

Yang disawer seribuan.

Tapi di sejengkal daging

yang belum kering, mereka

Mencari amsal jerit

Ketika malam melumat

Seluruh tubuh yang pernah

Berlabuh pada riuh

Kota yang sementara,

Selebihnya duka

Tapi tak terasa

Apa-apa.

Lamongan, 2021


Chloroform

Sebelum segalanya diangkat

harus ada yang rehat

dalam aus atau apkir

hidup yang kian

ke pinggir mencicip

lagi wangi orang-orang mati.

Kenanga, angsoka,

pandan, dan mawar

-mawar yang gugur

di gundukan.

Ambang luar dan dalam

pada retina, melayang ke

hitungan tanggal-tanggal

merah di balik kerah baju hanya

ada kau yang malu-malu

dalam tidur panjang kerap ada

yang hilang dalam dada mimpi

sesunyi hari sebelum

pagi mengetuk amsal sesal,

lubang-lubang yang

bercabang

memakan

igauan.

Lembar-lembar asing

di kening karyawan, tagihan

harian, cicilan bulanan, pajak

tahunan, negara menjahit

luka di punggung warganya

dengan bara yang menyala

seperti lampu jalan

di tengah malam.

Sebelum segalanya diangkat

harus ada yang rehat

dalam kelam yang

benderang di ujung jalan

hanya persimpangan dan

potongan-potongan

tangan yang pernah hilang

di ambang lengang.

Lamongan, 2021


Cranioplasty

Penjahit daging terasing dalam sketsa tubuh

Tanpa jendela, pintu dan langit-langit yang

Menghadap tilas di balik batu,

Aroma kaldu manusia, belulang-

Belulang dari penggalian ulang

Makam-makam yang mengambang

Sejajar igauan biduan kondang

Yang ditiduri ratusan mata

Meruah di hadapan lusa.

Tiap hari kepala-kepala plastik berisik penuh

Kerlip sisik tembakan-tembakan di perbatasan

Palang pintu yang dipasang

Melintang di ambang mimpi.

Orang-orang meludahi sepi,

Dalam diri sendiri, tapi apa

Yang musti dicari ketika

Hari-hari hanya dentuman

Innalilahi, Yang kian kemari?

Lamongan, 2021


Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Bukunya yang telah terbit Hujan yang Hendak Menyalakan Api (2018), Melalui Mimpi, Ia Mencari Cinta yang Niscaya (Frase Pinggir, 2021). Cerpen dan puisinya telah dimuat beberapa media online, Majalah Suluk (DK Jatim),danpernahterpilih sebagai Penulis Cerpen Unggulan Litera.co (2018). Bergiat di Guneman Sastra, Songgolangit Creative Space dan KOSTELA.Dapat disapa di Instagram: @fatahanshori dan Facebook: Fatah Anshori.

Puisi

Puisi Adnan Guntur

AKU MENJELMA KABUT DI SEPANJANG WAKTU

di sepanjang waktu, aku menjelma kabut yang menyarang dan hinggap di tubuh taringmu yang lancip, mencari mimpi atau pohon tumbang menyesali dirinya sendiri tumbuh

kumasuki tubuhmu, seanak adam dan hawa ditelurkan dengan suara yang payau, kadang angin tumbuh, lalu hujan, dan badai membentuk lelangit yang tak bisa dijangkau

“akankah kita kenali dari mana asal kakiku yang menapaki tanah dan tetumbuhan yang setiap hari runtuh”

“ataukah kita kenali, sebuah bahasa dan penciptaan kerap kali gagal melahirkan makna yang seutuhnya?”

lalu sepasang cakar dan moncong tanah muncul menjadi nyawamu, yang menumbuh-hancurkan segalanya asalkan mau

Ciamis, 2022


BAYANGAN TUHAN TERWUJUD DARI MATAKU

di ketinggian ini, hanya bau napas dan bayangan tuhan terwujud dari mataku, kuhancurkan kesedihan dari angin yang memotong batu menjadi burung

nama-nama terukir, melahirkan sajak dan kitab dari orang-orang yang telanjang

“deritilah nyawaku di sepanjang waktu hingga akhir yang disebut tahun”

di cekung gerbang bintang, sepasang lontar dan sekelumit bahasa, menghunuskan peratapan yang berloncatan ke dalam nyala api biru, menaungi tubuhku lalu menjadi abu

Ciamis, 2022


AKU TERKUBUR DI KEDALAMAN BERSAMA PUISI YANG TERKUNCI

kautemukan hujan dan musim berwarna cahaya, kapal-kapal menghentikan langkahnya, aku terkubur di kedalaman bersama puisi yang terkunci di balik peti

“mengertilah emas dan perak, membawa kecelakaan yang tidak pernah ada hentinya, sedang mimpimu harus ditimang dan disirami”

lalu sederet tokok, beberapa musim kemudian, mendendangkan lagu yang pernah kau kenali sebagai tubuhku, sebongkah batu, kunci terlipat, dan gugusan daun kering melayang tenggelam lalu terlipat seperti buku yang dibaca setelah anak cucumu menumpas para negeri penjajah dengan tubuhmu terbaring di atas awan

Ciamis, 2022


NYANYIAN BURUNG-BURUNG

angin menyelinap dari derap redup lumpur rindu, kesunyian dan keharibaan menampilkan dirinya dengan kedua kakinya yang terpotong, kau susuri tubuhku, di mana seanak ayat bernyanyi dengan lolong anjing menguar ke arah jendela

ada setitik gelap sajadah menggumpal mawar hitam, langit-langit, melukiskan berabad-abad yang bisu, menampiki telingamu di punggungku

“di sini, aku menunggu jawabanmu terbang melampaui sorga dari dasar neraka yang sabar!”

lalu namaku dilupakan oleh burung-burung yang terbang dan melempari bumi dengan meteor dan batu-batu merah melalui selangkangan langit biru

Ciamis, 2022


HATIKU KABUT

hatiku kabut yang menelan permukaan bulan, asap membeku di antara cahaya lampu, kau menebak ke mana lagi arah hujan dan lembah dari daun yang terombang-ambingkan senyumku yang sayu

kau kuasai lempeng gunung di antara celah-celah jendela rumah, pintu kaki dan kursi menata dirinya sendiri di balik sini, rumah kaca dan lemari menemani tubuhku dari kemalangan

“entah dari doa yang menyelinap kubasuh zikirmu di antara lelagu penghancur nyenyak, kutaburi tubuhmu dengan mimpi yang balaga”

namun bersigera langkah-langkah para penghuni sorga dari sebalik kuburan yang tertimpa pepohonan dan angin topan kakimu yang kuasa

Ciamis, 2022


PERJANJIAN MATAHARI

bau anyir dan daun salam, mengucur di tengah meja ke jendela ke pohon mangga, mengupasi tubuhmu dari lenganku yang uzur dari sepisau runcing lembab hujan subuh hari

kau menangis tika hujan jatuh menempeli tubuhmu dari ceruk tembok dan dahan yang patah, akar-akar dan bulan darah, mengucap lukamu di sebatas rupaku

“kau mungkin kan mengenali hujan dan bau tanah, tapi tidak dengan diriku!”

sepasang tangan menampa hujan dari matamu yang berjatuhan, mengikuti bayangan hanya dari depan, namun, matahari patah dengan bulan yang menusuk mataku

Ciamis, 2022


Adnan Guntur, kelahiran Pandeglang tahun 1999. Menyelesaikan studinya di Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga. Aktif berkegiatan di Teater Gapus Surabaya, Bengkel Muda Surabaya, Wara-Wara Project, dan Sanggar Arek. Karyanya tergabung dalam beberapa antologi bersama, media online, dan media cetak. Kumpulan Puisi tunggalnya Tubuh Mati Menyantap Dirinya Sendiri, Skriptorium-Pagan Press, 2022

Puisi

Puisi Adnan Jadi Al Islam

Aliran Ostinato

Tujuh hari

ikan-ikan sungai

dalam tubuh hari putus asa; mereka melongo ke langit

menantikan sesuatu jatuh dari sana.

Tiada yang memasuki mulut mereka

selain kekosongan

Detak melemah

waktu konstan;

menunggu dalam geming,

dalam hening,

meragu takdir azali

Seorang pemancing menyangka

kesabaran telah cukup membayar

ketenangan palsu

yang justru menghanyutkannya

dalam aliran ostinato

Akankah rahasia menyambar umpanmu kali ini

atau amarah lebih dulu memutus taut:

kemungkinan getas, yang menisbahkan

muasal keberadaanmu

/Oktober 2021


Rih

Kuungkapkan dengan diamku

dengan dinginku

ungkapan yang tersembunyi

di balik kata-kata,

Bahwa yang (tak) kuembuskan

di bawah teduh trembesi

malam itu, bukan lagi hangat:

potret peristiwa

bukan pula sejuk:

kisah rahasia.

Ia sekadar suara rendah

gema lembah hijau jiwamu

yang telah sekian masa

tak kau warnai

/Oktober 2021


Setelah Kepergian Hujan

Sebelum kepergian hujan

cawan-cawan penuh makna,

pohon-pohon bebas luka,

anai-anai riuh mengudara

sungai-sungai tenang memuara

Setelah kepergian hujan, kata awan:

“Dunia terbakar curiga.”

ambisi bergemuruh dalam tubuh manusia

sepanjang (meragukan) umur,

pengetahuan teralihkan

ilusi menjarah segala.

Usaha paksa menangkup kekosongan

hanyalah pintu menyambut kekosongan lain.

“Ke mana hujan pergi?” angin penasaran

Awan membisu:

bergeming lama—sebab satu hari setara seribu tahun

—dan angin pun kalut,

bersikukuh memburu selama itu

sampai suatu masa

awan luluh, lalu berkata:

“Sebenarnya ia telah menyelam ke dalam lautan.”

“Kenapa?” angin makin nanar

“Sebab di sana ia menemukan

arti keberadaan.”

Memang apa arti keberadaannya?

“Tak ada.”

angin gundah dengan jawaban awan

ia angkat kaki: berkesiur ke semua tempat,

sembari bertasbih dan mencuri-curi dengar

melintasi zaman, mengawasi peristiwa-peristiwa

entah sampai kapan

“Padahal kau pun tahu,” katamu, “satu-satunya tempat yang tak bisa hujan susupi

hanyalah tubuh lautan.”

/Oktober 2021


Satu Waktu

: Albert Einstein

Satu waktu,

di antara ruang purba

pernah kita tinggali berdua

Satu waktu

sebelum harapan

menjelma penyakit

sementara sungai dendam

masih jabang gunung es

di kutub-kutub qalbu

Satu waktu

di mana kuntum bunga

dan tangkai kekar pohon

urung rekah

alih-alih saling rengkuh di hari tua

Satu waktu lain,

ritus paradoks urip-

urup tipu daya,

dinding nafsu julang

mencakar mimpi-mimpi langit

Satu waktu lain

di mana pengetahuan;

rumus perihalmu muspra,

relativitas gelap melingkup

ingatan belantara

hangus

O, satu waktu lain,

dilatasimelipatgandakan

pintu-pintu kemungkinan.

Di manakah ruang

kita kembali

satu?

/November 2021


Pulau Atas Awan

Padahal dunia dalam diriku

ruah tanda tanya ketika

tuduhan-tuduhan meledak

di beranda langit

Kau bilang:

“Titik-titik jelaga kerap menjadi saksi

bagaimana setiap kisah,

dan kehidupan berakhir.”

Bukankah dalam kalimat lepas

kita pernah coba menerjemahkan jalan,

menampik logika dan retorika

demi bisa sampai seberang:

berenang ke surga terdekat

Tetapi di ufuk, di pulau yang kambang itu

kita alpa, kita tak punya suara

bahkan pada bahasa sehari-hari

kita hanya menemukan jejak luka

dan bekas yang dibiarkan

Lalu kebenaran menitahkan

pulau itu bersenandung:

“Huruf-huruf menyusun kehidupan

dalam doa, bagaimana sempat

manusia melumat khidmat mereka?”

/November, 2021


Mantol Plastik

: Bruno Mars

Mungkin tubuhku lebih rapuh

dari mantol plastik:

seharga sepiring nasi sayur, tempe goreng,

dan es teh manis Kartasura

Dengan itu kau mendesakku laju:

merobek tirai hujan;

menangkap basah dua merpati

yang kebingungan bagaimana mengakali air bah

Tapi aku berterima kasih

pada pencipta mantol plastik

Ciptaannya menyatukan

kita dalam satu tumpangan

Bulan tak perlu

sok-sokan mendengar lagi

segala keluh malam ini

Pria galau di kusen jendela

telah bahagia

di balik mantol plastiknya

/November 2021


Perekam Sepi

: N

Adakah yang lebih sepi

dari asing?

seorang pandir mungkir

tanah subur lugu dikorbankan.

Dari buaian kamar

sampai liang lahat

penyesalan menggumpal

di langit: bergemuruh,

matahari undlap-undlup,

 “Pengkhianat!”

rembulan kecewa pada dirinya,

pada cahaya,

pada lelaki

Adakah yang lebih sepi

dari asing?

tanpa sempat kucing mengeong manja

segumpal tanah hangus

dunia pura-pura legam.

Penyesalan menggauli depresi

melahirkan sebotol anggur putih

(sebab tak ada yang seberani darah) pun

tak ada dosa saat kardiograf ngambek

seorang polisi lantas berkhotbah,

“inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

/Desember, 2021


Kabut

: embung Manajar

Ketika sendok berdenting; sepi berdentang

cerek mengeluh pada api

enggan melepas air pergi;

terbang bersama angin.

Separuh tanah hidup

di atas kehilangan

separuh lagi mati

di bawah keangkuhan,

mencari cara meminta maaf

pada langit

agar pohonan kembali tumbuh

agar hati kembali teduh,

dan lelaki sangsi

di meja payung itu

dapat mengaduk;

menyesap puisi lagi

/Desember 2021


Fariga

: untuk M

Sebetulnya angin memusuhi

kebingungannya sendiri

Memang, ke mana lagi sepi

dan waktu akan menarik-ulur hari

Selain mendesirkan nyeri

pada hati hutan yang sangsi

sejak mencintai api

Menghelalah atau dengar saja Rumi

dalam sebatang puisi:

Telingamu tak mampu mendengar irama

yang membuatnya menari

/Januari, 2022


Matras Berkabut

:I

Kali ini bukan angin

melainkan suara-suara

mengombang-ambingkan imanmu

Tapi kau cukup menumbuhkan edelweis

di bibirmu dan bertahan di sana

getaran gaib sabana itu mengenalmu dengan baik

Tak perlu ragu, tombol reset menunggu

di balik tenda hatimu

dan aku selalu menjaga malammu:

yang dingin

Juga mengawasimu menekan tombol itu.

Atau kita bisa coba menerjemahkan bintang

seperti dulu,

sementara sunyi berusaha menyeduh hakikat pagi

Kau boleh bertanya pada waktu sebanyak apa pun—

aku tak hendak mengeluh—

ke arah mana hidup yang fana

atau arah pulang yang baka

/Januari, 2022


Adnan Jadi Al-Islam, lahir di Klaten, 21 Oktober. Lelaki galau, pengagum kata-kata, penikmat ojek penyet dan sambel welut. Sering insomnia lantaran kebanyakan kopi dan kenangan. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan daring. Masih mukim di Klaten. Sapa aja, siapa tahu jodoh: Instagram @ad_nanj

Puisi

Puisi Tegar Pratama

Atas Nama Ibu

andai permukaan matamu adalah samudra,

izinkan aku sebagai satu-satunya perahu

yang karam di sana.

andai lembut mulutmu adalah jalan lain

kata-kata menuju langit, izinkan aku sebagai salah

satu kata yang luput kau baca untuk

menemanimu menanti maut tiba.

andai hitam rambutmu adalah jembatan

pengantar ke sebuah tempat yang kau rindukan,

izinkan aku sebagai seluruh rontok putih rambutmu

menjadi perahu yang akan mengantarmu

jika kau jatuh sewaktu-waktu.  

Sukoharjo, 2022


Waktu Ibu

andai kita berlayar ke sebuah tempat yang kau impikan dan maut membenamkan kita dari kehidupan ini,

aku ingin menjadi henti detak arlojimu yang detiknya dirampas karam. aku ingin menebus waktumu, andai saat itu waktu dapat terhenti, yang terenggut tersebab merawatku. walau sedetik pun, andai bisa, akan kuserahkan seluruh detakku kepadamu, agar kau bisa menanti waktu kepulanganmu, barang sedetik pun.

Sukoharjo, 2022


Ibu Guru

siapakah yang mengajarimu menjahit? sehingga lubang-lubang pada diri ini sanggup tertambal tanpa sakit.

siapakah yang mengajarimu berhitung? sehingga ganjil dalam pikiran ini mampu tergenapkan tanpa bingung.

siapakah yang mengajarimu sandiwara? sehingga tangkap di mata ini dapat mengerti lewat tubuhmu tanpa bicara.

siapakah yang mengajarimu tertawa? sehingga dengar

di dalam liang telinga ini enggan lupa tanpa tapi.

Sukoharjo, 2022.


Cinta Ibu  

ibu, bila cinta adalah aksara yang luput kueja, maka engkau akan tiada bosan mengajariku membacanya. atau bila cinta berwujud sungai, maka engkau akan tiada lelah melatihku berenang atau menyusun kayu untuk menjadikannya perahu. namun sayang, ibu, ternyata cinta ialah pecah tangisku pertama kali di dunia dan engkau tersenyum bahagia.

Sukoharjo, 2022


Tubuh Ibu

kelak aku takut menghadapi hari-hari tanpa

masakanmu, bukan karena kurangnya bumbu

atau terlewat masak. melainkan pada sesuatu

yang kau masukkan sebelum tersaji di meja

makan. sesuatu yang membuat aku selalu

kelaparan. aku takut kelak tak dapat lagi

mendengar suara berisikmu bukan karena

tak ada alat-alat untuk kau gunakan

atau masalah kecil yang akan kau bicarakan.

tetapi pada sesuatu yang kau lakukan, sesuatu

yang membuat aku merasa tenang. kelak aku takut

menatap terbit matahari tanpa hangat

secangkir teh buatanmu. bukan karena tak ada

cangkir atau teh atau gula. bukan, bukan itu.

Sukoharjo, 2022


Hari Ibu

suatu hari aku pernah bermimpi

memiliki segala yang tak kupunya

dan aku lega ketika kau tak ada

di sana. aku bermain dengan masa

kecilku pada mimpi itu.

di sana kami bermain-main bersama pagi,

siang, sore, dan malam dengan berlari,

semua saling mengejar. sesekali kami berhenti

untuk mengaso dari kejaran matahari.

kami bertukar cerita tentang apa-apa yang telah

kau berikan. masa kecilku itu bercerita

tentang nama pemberianmu yang akan dibawanya

selama-lamanya. aku tertegun,

sebab hanya bisa kuhadiahkan

kepadamu kecemasan-kecemasan

pada hari depan.

Sukoharjo, 2022


Surat Ibu

kini aku mengerti, mengapa kau selalu berpesan agar aku tak pulang larut malam. sebab malam adalah pelukmu dan kau ingin aku terlelap dalam dekapmu. kini aku pun tahu,

mengapa kau tiada bosan mengingatkanku untuk lekas lebur bersama malam dengan memejamkan mata. sebab terjaga adalah doa-doamu dan kau berharap aku selamat melewati gelap berbekal nyala kata-katamu. dan kini aku semakin percaya, mengapa kau tiada henti menasihatiku agar bangun lebih awal, lebih dari yang seharusnya. sebab

cahaya adalah senyummu dan kau mau aku menyaksikan cantik selain langit ungu.

Sukoharjo, 2022


Tegar Pratama, lahir di Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar, Jawa Tengah. Dapat disapa di Instagram @tegarpratamabp

Puisi

Puisi Khanafi

Mimipi di Kamar Sempit

kalau pagi hari memesan mimpimu seperti meletakkan kau

di sebuah ranjang yang asing, biarkan orang-orang tiba

sebagai pelayat atau sebagai pendusta yang pura-pura berduka

padahal sebelumnya tak pernah mengenalmu, atau waktu belah

kena gugur daun-daun mangga yang semalam habis dihajar cuaca

lalu datanglah kembali jalan-jalan asing yang pernah kau lalui itu,

membawa langkah rekaman dari gelisah yang sebelumnya pergi

menyusuri daerah-daerah tanpa wajah, tak pernah kau temukan

senyum juga ucapan yang tulus ramah, sepertinya itu akan jadi tepi

sebuah ruang berhenti ketika kau mimpi di kamar sempit yang

belum kau lunasi dan masih menunggu seperti lambaian tangan

2022


Penghuni Kota

kota kami dikawal oleh kecemasan, jalan-jalan kadang

merebahkan kenangan di hatimu, yang kembali memutar ingatan,

menyusunnya menjadi kesepian. kamu telah susah payah

belajar menulisnya, menyusuri kembali saat-saat suram

di tiap hari yang gelap, ketika doa tak lagi terbang bersama burung

ketika mimpi hanya mengarak rasa murung keliling kota

dan langit rupanya menunggu sambil mengucap kalimat beku

gedung-gedung pun menunggu gerak yang membelah waktu

inikah lagi daerah paling asing dalam hidup, tanah yang tak dimiliki,

ruang yang disewa, jalan memanjang membuat kami terlempar jauh

mungkin esok pagi kami telah kehilangan tubuh, sementara

mimpi ketakutan untuk kembali menjalani rutinitas tanpa henti

2022


Perantau

dengan bus yang asing kami dibawa ke kota asing, rumah-rumah

ditinggalkan musim. kami melangkah ke hari baru yang menumbuhi

kepala sepanjang jalan dengan harapan dan ketakutan, hingga pada

lampu-lampu jalan yang hampa kami terhisap sebagai bayang-bayang,

kami akan mencari tempat tinggal, jika tak ada kami akan berkelebat

seperti hantu di gang-gang, di jalan sepanjang tak ada rumah-rumah

dan kami ditumbuhi lagi oleh begitu luas dan lengangnya ketakpedulian

waktu bersama embusan angin seperti bahaya yang bisa membuat lupa

apakah kami telah memilih meninggalkan desa untuk menjadi terlunta?

2022


Hujan yang Baik

tak seperti pagi-pagi biasanya, hujan turun dengan ramah

setelah kumandang subuh surut pada pelantang bangun itu

jam-jam seperti meninggalkan jarumnya di mimpi untuk

melanjutkan tidur, suara membentur di atap begitu merdu,

seperti sayatan yang berkelebat saat pertama kali kauingat

pada sepi yang suka berdiri sendiri di tanggul ladang padi

ketika hujan yang sama mengajakmu bermain dengannya

kau tak perlu banyak bicara sekarang, berbaringlah sejenak

istirahatkan kakimu yang begitu ramah menyapa jalan-jalan

yang bernama-nama asing itu, mereka akan mengingatmu

bahwa di hari itu, pukul pagi yang sedikit ngilu, kau absen,

karena hujan yang baik ingin meninggalkan sesuatu dari

masalalu untuk kau pungut esok sebelum bertemu si maut

2022


Taman Awal Tahun

orang datang dan orang pergi, bunga-bunga mekar

pohon tumbuh sendiri, burung buat sarang di cabang

dengan ranting daun kering dan warnanya yang bunuh diri

kemarin sepasang kekasih berjanji ketemu di bangku situ

tapi di hari itu waktu begitu padat, nomor berjejal tumpat

halaman hanya cukup untuk empat capung dan seekor sepi

langit menjadi seperti bentangan pada bajumu, orang berlalu

seorang petugas kebersihan menambah personil baru, di sini

masih berkeliaran ribuan bekas napas yang bertukar-tukar di

bawah lampu, setelah pukul malam dan sehabis pagi masih

terkumpul sebagai guguran daun, beberapa potong sampah dan

selongsong kembang api yang terbakar mulutnya, juga sunyi

2022


Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya berupa puisi dan cerpen tersiar di beberapa media massa baik daring maupun cetak, serta terikut dalam berbagai buku antologi bersama. Penulis berkhidmat di Forum Penulis Solitude (FPS). Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas dan penjual buku lawas. Buku kumpulan puisi pertamanya bertajuk Akar Hening Di Kota Kering (SIP Publishing: 2021). Sekarang bolak-balik Purwokerto-Yogyakarta sembari merampungkan novelnya dan sebuah buku kumpulan cerpen. Penulis bisa dihubungi melalui email : [email protected].

Puisi

Puisi Ruly R

di terminal ini

di terminal ini tak ada yang berbeda, kecuali kau yang salah naik bus dan dipaksa turun oleh waktu.

suara pengamen masih cempereng, membawa kenang-kenang, tak habis pikir akan salah keputusan tanpa tahu apa-apa.

apakah butuh kesalahan dalam hidup? setidaknya untukmu, agar segalanya mula-mula bisa diserapahi, lalu dikenang karena bus selanjutnya telah datang, hendak membawa ke arah pulang.


di taman sukowati

di taman sukowati, penjaga angkringan terkantuk, barangkali menunggu pelanggan lagi, atau menunggu kepulangan pelanggan yang telah di sana, tiga pemuda,  juga mereka yang berselingkuh.

Lampu merah berganti begitu pelan ke lain warna, tak pernah mencatat apapun, pada mereka yang berhenti atau lanjut, karena sebentar lagi waktu digigilkan subuh.

Ada yang harus pulang, namun tak semua mengerti waktu menuju pulang, hanya ada yang menunggu, agar besok berulang, dan mereka-mereka entah kembali atau tidak.


tenggat

bapak menggandeng tangan bocahnya, keluar dari surau, dan matahari menikam gelisah hari jumat,

lelaki muda hanya melihat dari angkringan seberang jalan, rokok diapitan jemari, obrolan membumbung tentang tenggat mengejar setoran, kudu lunas sebelum liburan dan lebaran yang tak mungkin mereka pulang, tawar seperti tahun lalu yang gugur di bawah aturan.

hidung tak akan menghidu rempah opor ayam ibu, tak ada cecapan rasa nastar di sela bualan kerja dan tukar kabar saudara. empat lebaran (dan liburan) pernah sama, meski hanya nyaris, dan jauh meninggalkan tebak di benak.

kali itu jumat tertular gelisah matahari, keputusan serupa daun gugur digilas roda waktu.


bagaimana jakarta?

Ibu,

apa benar tuhan ada di jakarta, tempat

di mana penuh harap, gegas, dan gemilang segala?

—tanyanya pada satu waktu, terlampau lirih, lama.

turunlah di Senen, di antara sebungkus pop mie, gemuruh kereta, bising klakson,

jubel manusia, temu kawan lama, nasi uduk depan stasiun, dan secangkir kopi gelas aqua,

di sana Jakarta.

tak ada yang dapat kau raba, Nak.

dia menyangsikan, sebagaimana hari-hari yang telah lampau,

jakarta diseret pada penghakiman. lepas-tangkap. kembali.


sebelum bapak pergi

pernah,

aku diajak ke toko sepatu bola yang kini jadi analta jaya,

“pilihlah saja, asal jangan terlalu mahal.”

hanya ada anggukan, di mana segala ingin kadang tak pernah terkabulkan

toko itu tak lagi ada, meski letaknya aku ingat—taman pancasila ke selatan, lalu 100 meter ke timur dalam lajur jalan satu arah menuju barat untuk pulang. ingatan dan kenangan mengerjap, menjadi bayang berkejaran karena pada kenyataan, detak waktu selalu pelan menjelang kepergian, meromantisirnya dalam firasat tentang darah yang keluar dari hidung.

dan, sekali lagi, sebelum pagi matang benar, tetes air infus selalu tak lebih deras dibanding airmata.


Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Bukunya terbarunya Gelanggang Maaf (Penerbit Bukuinti, 2021). Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo dan mengelola Rusamenjana Book Store & Club bersama teman. Surat-menyurat: [email protected]

Puisi

Puisi A. Warits Rovi

Suara Hujan, Suara Kenangan

hujan menyempurnakan waktu pikniknya

menjelang zuhur—memagari banyak rencana

hingga tertunda atau malah berkeping dalam dada

kaki-kakinya yang bening tak berkuku

memintas setapak jalan ke lubuk kenangan

;di dalamnya, ada kau mengajakku melupakan hujan

sejak saat itu aku sadar

bahwa sesungguhnya di bumi ini tak pernah ada hujan

selain sesuatu yang mericik dari kenangan

Bungduwak, 2021


Hujan Awal Tahun

setiap yang diingkari adalah mendung

rahimnya menganga di jendela

melahirkan hujan dan segala yang berwajah pelangi

melengkung di gagang pintu

gigil tak perlu disembunyikan

dalam retak karatan tulang

sebab ada kalanya sesuatu tak perlu telanjang

untuk bisa dipandang

punggung jendela yang basah

menghampar bayangan tahun yang pergi

dengan sejumlah puisi dan skema rintih

di angka satu yang merah ini

hujan mengawali langkah sebagai tindakan

menyusun tembok masa depan

dari yang cair dan mengalir

supaya kau pandai membuat selokan

di antara jarum jam yang terus berkejaran.

Rumah IbelFilza, Januari 2022


Hikayat Gagang Celurit

aku hanya kayu biasa

raut yang berpuluh malam disembunyikan

dalam kebat kain kafan

di dekat kuburan

moyangku masih hidup di utara bukit Raas

batang yang berkalang lengan angin

dalam kepungan harum kembang jagung

mengurai silsilah sejak moyang khuldi

sampai berdahan, beranting, dan menjatuhkan bijinya

di dekat seorang petapa

aku tumpul tak berkilat, cuma sisa kurai sahaja

yang melengkung garis

mirip peta hidup yang samar berlapis

pada akhirnya berkarib besi tajam ini

sebagai gagang yang tak punya hak untuk interupsi

selain hanya mengikuti—ke mana si tuan menggerakkan hati.

Gapura, 2021


Mata Sakera

ia memandang laut dari balik kusen jendela kecil

yang bertahun diliputi bayangan ribuan perahu

mencermati sapuan ombak ke tepi pantai

seperti mengantar bau tubuh ayahnya yang tengah melaut

“laut kekasih langit, ayah yang mencintai laut

akan dicintai oleh langit—hingga membuka pintu-pintunya

dan menumpahkan hujan rezeki dalam rupa ikan-ikan

yang menyerahkan hidupnya kepada sauh,” gumamnya

seraya pelan mengedipkan mata

ke arah batas laut yang menyentuh langit

; tempat rahasia biografi ayahnya tersimpan

—masih bernyawa atau sudah tiada.

Sumenep, 2021


Jam

di tubuhku ada rumus rahasia

:dari angka ke angka

jarum lancip itu

terus mendekatkan nyawamu

dengan impian.

Gapura, 2021


Montase Hari yang Cerlang

                        Helmina Rovi

gelak cakap dua buah hati kita

adalah gradasi warna dalam sebuah lukisan

tumpuan garis liku, pendar arsiran, dan titik cipratan

pada jisim gambar gunung, pematang, dan lautan

teguh berumah pigura kecil di dinding dada kita

bergantung pada pakumu dan pakuku

berhadap-hadapan dengan waktu, mengelak dari sapuan debu

kita lihat lukisan itu dari puisi ini

dari jendela hati yang belah tirainya tak dijangkau sepi.

Gapura Timur, Januari 2022


Sejarah Kaki yang Bengkak

                                    Eppa’

kemungkinan adalah keniscayaan cabang jalan

menanjak, menurun, dan berliku

sedang kakimu sejak sebelum subuh sudah di situ

mencari kemungkinan lain dari bunga yang nyaris kering

tertampung di telapak tanganmu, paras cerlang cuma bayang

legam di kelopaknya, di antara mimpimu

yang menginginkan buah, seraya merahasiakan getah

di balik dada yang pecah

sampai kini, sepasang kaki agungmu itu

menampakkan grafiti petilasan beragam tahun

dalam rupa garis pecahan yang liris berdaki

membuatku harus pandai memaknai

;jalan yang kaulalui adalah mukim beragam duri

dan di hari tuamu yang sekadar bersandar kursi biru

sepasang kaki agungmu terlihat bengkak dan memutih

wujud hari lalu yang dijambak nyeri dan letih

di jalan beribu cabang yang kaulalui

sedang bunga yang nyaris kering itu

telah hilang dalam kepungan waktu.

Rumah Eppa’-Emma’, Januari 2022


Kalender Baru

tak ada yang lain dari diriku

kecuali warna dan jasad kertas

kembali berpangku ke satu paku

di sebelah pintu rumahmu

kukirim angka-angka pada harimu

sebagai bahasa paling rahasia

perihal waktu yang tak takut batu

dan kau menjumlah umurmu

dengan hitungan jemari ringkih

menegaskan rencana di hari nanti

dan melupakan mati.

Gapura, Januari 2022


Rintih Rumah Tua

masa laluku tersisa di lipatan kain usang dekat pintu, bekas sobekan sampir seorang perempuan yang kehabisan cara untuk menghapus air matanya pada Sabtu yang dingin, saat ia mengenali wajahnya di cermin, tak lebih sekadar bunga absurd yang nyaris kering.

sehabis menangis, ia meninggalkanku pergi, pintuku tanpa ia tutup, dibiarkannya menganga pada waktu yang lebat dan berkelebat. jam dinding yang mati tak mampu lagi berbicara soal itu, kecuali hanya seekor kupu-kupu yang sesekali tandang menyampaikan kabar, bahwa hidup memang angin sahaja yang sulit dibaca arah silirnya.

lalu sekawanan rayap mulai mencampuri hidupku dengan sarang berliuk dari bawah kursi dan perlahan menegaskan wujud yang pasti pergi, aku tak bisa mengucapkan kata-kata, selain menumpahkan air mata rahasia, sembari membayangkan perempuan itu datang kembali, membawa melati atau puisi, lalu mematut wajahnya kembali di cermin, seraya membuat kesimpulan betapa hidup bukan sekadar gelengan atau anggukan.

Rumah FilzaIbel, 2022


Warits Rovi, lahir di Sumenep. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di pelbagai media. Buku Cerpennya yang telah terbit Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki (Basabasi, 2020). Sedangkan buku puisinya yang berjudul Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela memenangkan lomba buku puisi Pekan Literasi Bank Indonesia Purwokerto 2020. Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura.

Puisi

Puisi Rizka Umami

Kepada Perempuan yang Menyeling

Nasib bicara perihal seni menyeling

Token listrik lebih nyaring dari alarm pagi

Membawa sumpah serapah

Langkah gontai dan sembap mata

            yang tak punya jatah lelap

Siapa sangka waktu bisa porak poranda

Ditubruk kerja mekanik tanpa gugat

Menopang gaya hidup pas-pasan

Sebelum diburu tenggat demi tenggat

            dan teror untuk segera merampungkan

            laporan-laporan ‘tai kucing’

            di penghujung tahun-tahun kematian

tapi seorang perempuan menyeling

scroll timeline menatap layar

merebah diri tanpa melakoni apa-apa

ia kembali kekanak, seperti mula

sekembalinya pada setengah sadar

ia kehilangan tenggat

begitu saja waktu menilapkannya di pembaringan yang sama

sudut kursi panjang sampai bosan dengan pantatnya

Nasib perempuan menyeling kehabisan waktu

Menikmati lakon kemalasan

Lepas pesat pada sibuk menyenangi selingan

            menyeling sampai gagang pintu, remuk.

Tulungagung, Agustus 2021


Sebuah Potret Dini Hari

Di warung-warung dini hari

Ampas-ampas kopi mengendapi dasar gelas dan cangkir

Sengaja ditinggalkan di bak cucian

Menjamur

Di pasar orang-orang berjejal menunggu tengkulak mengambil pesanan, mengaso

Mengais beberapa sisa sayur di bawah truk dan pick up

            Atau berdebat soal harga minyak yang mencekik sejadi-jadinya

Tapi di dapur umum

Sergapan kantuk lebih nyaring membumbung bersama deretan kalut, capai dan pupus

Menyisa dua pertiga potong tenaga buat mengisi lambung bocah-bocah yang ikut ngungsi bapak biyungnya

Buat para sepuh yang gagal juang

            Atau pencuri-pencuri yang sadar punya nasib buruk

Di dapur-dapur umum dini hari

Seorang perempuan tinggal menggendong bayinya

Memberi suap demi suap yang papa

Satu biskuit dan air hangat sedikit gula

Di dapur umum

Potret kematian-kematian kabur

Hanya siluet kegamangan

            Melanjutkan hidup, tanpa apa?

Tulungagung, Desember 2021


Tak Ada yang Lebih Kecut dari Hujan di Pipimu

Kau sambat lagi!

Menangis di siang itu

            Di bawah beringin yang baru menjulur akar gantungnya

Sedikit melindungi kulit merah dibalut krim-krim anti matahari

Katamu

Cinta tak lebih dari pasir hisap

Menelanmu lamat-lamat

Menenggelamkan harap-harapmu yang abu-abu

            Perihal hidup langgeng tanpa luka

Bukankah cinta manunggal bersama duri-duri mawar dan lembah-lembah curam?

Kau tak peduli

Lelaki sengaja menutupi air mata mimik muka dengan asap kretek

Sesenggukan di bawah pohon beringin muda

Sebab kalut dimangsa kisah cinta yang kecut cilu

            Tapi tak ada yang lebih kecut dari hujan di pipimu.

Tulungagung, 2021


Perihal Jeda

Siapa yang kenal jeda karena butir dan ongas sebab martir? Ketika tak kutemui puisi di matamu, jeda-jeda raib dan kacau.

Aku jadi segala gerak cepat membabi buta

Iringan tawon kehilangan sarang

            Kehilangan penghidupan

Aku jadi segala bising dan desing

Menolak rehat meski dada remuk ditatah butir-butir air mata bocah kolong

            Yang dingin dan dalam

Aku jadi segala keping-keping yang tercerai

Diserakkan angin yang berembus tanpa jeda

            Seperti kau, menikam dengan martirmu.

Marsda Adisucipto, November 2021


Sajak Kancing Paus

Di tubuhmu aku menemukan sajak kancing Paus

Sebentar-sebentar

Mari ulur waktu sampai level mendengarmu naik sedikit

            : Sajak Kancing Paus

            Gemerincing kancing-kancing baju impor

            Penuh di kerancang belanjamu

Nyaring seperti nyalimu tak surut

Memborong menawar mencari diskon-diskon

Berburu sampai larut di sosial media

Tak ada yang boleh sisa di keranjang maya-nyata

Almari-almari menahan kerakusan

Tak kuat sampai mendecit minta jatah udara segar bebas debu

            Rapikan, pilah, buang saja kancing-kancing lama ke selokan depan

Tapi dari sajak kancing Paus kau mengendus

Memergoki kenakalanmu

            Di selokan ke selokan menuju sungai-sungai ke laut

            Pantainya kau singgahi dengan baju-baju baru

Kancing-kancing lapang berjalan mengalir menyeberang tertampar ombak mencari muara menggauli takdir

Membersamai tubuh sang Paus

            yang tenggelam menyesali kedurhakaannya.

Dlodo, 2021


Melayat Mata Air

Di sudut-sudut yang Agung

Kita tak menemui apa-apa

            Selain sumber yang hening

Kering dan riak-riak tumbang

Ceruk-ceruk seperti tebing-tebing megek

Dirayapi lumut-lumut cokelat

            Yang ditebang

            Yang kehilangan

            Yang tersisa

                        Napas-napas tak lagi panjang

Kota telah membeli sumber hidup

            Membeli napas

            Melayat mata air dengan air mata.

Tulungagung, 2021


Di Kursi Tunggu

            Buat perempuan yang dikutuk sendiri

Kursi-kursi tunggu sepi

Hanya juntaian jadwal kereta

Yang mabuk menunggu manusia

Di ruang tunggu asing

Aku bukan lekas menjadi saudara

Hanya tujuan lebih jelas

Menghabisi masa muda menunduk pada layar

Di ruang tunggu

Dan deretan jam keberangkatan

tumbuh ingatan-ingatan yang diulang-ulang

            tentang perjumpaan dan upaya-upaya koyak

            tentang keberanian buat sendiri.

Tulungagung, 16 Desember 2021


Nama yang Pulang

Diingat,

Juga pada sebuah tengah malam

Dingin dan lembap

Seperti tertahan tumpahan hasrat hari lalu

Ada yang merambahi mengejar

Silih ganti pada ruas-ruas jari kaki

Menggetarkan pada yang hanyut

Mencintai

Sebab tak lama bersesumbar kabar datang senyap menegang

Bukan lagi soal berahi

Sampai namamu menyelanya

Mengakhiri tanya

Kenapa kau yang datang

            Dengan tubuh tanpa nyawa?

Tulungagung, September Hitam 2021


Hasil Bumi?

Di batas manusia mengutas rusuh atas ketubuhan

Membumbui laku dengan hasil bumi

            Yang diperebutkan

Di tanggal-tanggal yang sama

Hasil-hasil panen disakralkan

Orang-orang membahagiakan diri

            Melarung saji

Tapi di sana, Le

Bongkahan emas dan marmer dan pasir yang didulang

            Tak habis-tabis

Hanya cukup buat membahagiakan

Aktor kawakan!

Januari, 2022


-dan Sumber Ece

Di Nguri sebuah kabar berkesiur

Meminang telinga dan kerabatnya merasai

            Jumpa pada dataran lebih tinggi

-dan Sumber Ece

Yang kau temui memuat koin-koin bercecer di sepanjang aliran

sampai muara pada hari cerah

dan matahari bersahabat dengan wajahmu yang pura-pura

Di Nguri pada kedalamanmu yang lain

Sebuah desa tetap menjadi desa

            yang luput dari bising dan ongas tambang

-dan Sumber Ece

            Lebih jernih dari pantulan matamu

            di cermin itu.

Sumber Ece, Januari 2022


Rizka Hidayatul Umami, mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Sedang menekuni sastra dan isu perempuan. Bisa disapa via Instagram @morfo_biru, Facebook Tacin, atau Twitter @morfo_biru