Cerpen

Seujung Kuku, Sehitam Aspal

Cerpen Ruly R

Hamparan warna-warni kue menggoda mata, tersusun rapi aneka jajanan berbungkus daun pisang, harum menyeruak. Radio mengalunkan pengajian, sesekali ditingkahi iklan obat herbal. Subuh belum matang di kawasan Senen, Anwar Saleh bersiap menunggu pembeli, sambil memegang gagang kayu pipih berujung rumbai plastik guna mengusir lalat. Pemandangan pasar subuh seperti biasa, hanya satu yang tampak berbeda, bukan pada jenis dan susunan kue, meja alas, toples uang, atau plastik bungkus kue, melainkan penampilan Roheti.

Eti, biasa penjual lain memanggil perempuan yang kali ini mengenakan kaos putih bertuliskan no comment dengan celana kulot abu-abu batako. Lipen warna merah bata memoles bibir, jedai warna biru muda langit puncak menghimpun rambut hitamnya, dan wangi Harum Sari sachetan menguar bersaing dengan wangi kue talam pandan. Lapak kue Eti bukan hanya mengundang lalat-lalat hijau tentara, namun juga pandangan mata para lelaki, tak terkecuali Anwar Saleh.

“Bang,” sapa Eti pada Anwar Saleh sambil mengangguk pelan di lapak seberang.

Anwar Saleh mengangguk kecil. Lanjut menebah lalat yang mampir di antara rainbow cake dan black forest penuh krem putih.

“Buset. Ntu mah bidadari turun ke bumi, War. Resep dah kalo gua kawin ama Eti kali, ya?” celetuk Haji Zaenal. Anwar Saleh hanya meringis kuda, separuh menaruh hormat pada juragannya dan selebihnya tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan itu.

Haji Zaenal gloyor menuju lapak kue Eti sambil tangannya membenahi peci hitam lusuh. Anwar Saleh rasakan ada yang berkecamuk di dadanya melihat kelakuan genit Haji Zaenal pada Eti, tapi dia tidak tahu persis akan apa yang dirasanya. Lamunan Anwar Saleh buyar ketika seorang langganan mengatakan ingin membeli kue basah.

Anwar Saleh mencuri pandang pada lapak kue Eti di tengah cekat tangannya melayani pelanggan.

“Demen ama yang sono, ya?” tanya pelanggan sembari mengarahkan ujung matanya ke lapak kue seberang.

Anwar Saleh tidak hirau. Hanya diam dan tangannya memasukan pesanan kue basah ke plastik besar warna seragam Juventus.

“Kagak ada bonus nih, War.”

“Iya dah ditambah atu nih.”

“Yaelah langganan cuma ditambah atu doang. Gua laporin juragan lu baru nyaho.”

Senyum tersimpul dari bibir Anwar Saleh.

Satu pelanggan berlalu, datang beberapa pelanggan lain. Silih berganti pembeli, sebagian wajah-wajah yang sudah dikenal Anwar Saleh, selebihnya wajah baru.

Haji Zaenal datang ketika semua pembeli sudah pergi. Air mukanya tampak girang-girang bangga. Lelaki yang sudah kawin sama persis jumlahnya dengan keberangkatannya ke Makkah—dua kali, berpanjang lebar menceritakan tentang Eti.

“Eti titip salam juga buat lu, War. Dia bakal mampir ke sini habis jualan nanti. Kagak sabar gua. Gimana? Gua ajib, kan? Panteslah ama Eti, ya?” tanya Haji Zaenal sambil merapikan baju kokonya yang tidak kusut atau tertempel kotoran sama sekali.

Anwar Saleh mengacungkan jempol saja menanggapi semua.

“Oya, lu sering ketemu Eti juga katanya. Bener?”

Anwar Saleh mengiyakan. Ingatannya terlempar pada hari-hari yang telah gugur di makan angka-angka. Itu adalah pertemuannya dengan Eti yang kerap terjadi kala siang hari, waktu di mana Anwar Saleh menjaga bengkel ban berdinding triplek miliknya lengkap dengan radio penghibur, sementara Eti numpang istirahat karena lelah ngobyek duteng—dangdut tenteng. Anwar Saleh tak tahu menahu alasan Eti memilih istirahat di bengkelnya dan juga tak mau hirau akan alasan itu. Dia tidak memasalahkan pilihan Eti. Kerap Anwar Saleh mengambilkan teh botol untuk Eti ketika penyanyi keliling itu istirahat dan yang diberi hanya membalas dengan ucapan terima kasih dan senyum.

Beriring hari dengan kerapnya Eti mampir di bengkel ban, keakraban semakin terjalin. Anwar Saleh dan Eti mulai kerap banyak mengobrol. Mulanya tentang pekerjaan masing-masing, lantas merambat pada hal-hal pribadi, semisal cita-cita Eti menjadi penyanyi dangdut beken yang tampil di panggung nasional. Anwar Saleh mendukung penuh dan mendoakan baik akan niat Eti, wajahnya saksama menyimak cerita Eti, sementara yang disimak hanya tersenyum tipis malu-malu dan mengatakan senang dengan dukungan Anwar Saleh, karena hanya lelaki itu yang mendukung dan mendoakan naik perkara cita-cita Eti.

Di bengkel ban, Eti juga sering bercerita tentang asmara. Ketika sudah menginjak pada masalah itu, Anwar Saleh lebih banyak menanggapi dengan candaan saja, sementara Eti tampak serius. Sekali waktu Eti bertanya perkara kriteria perempuan pada Anwar Saleh dan yang ditanya tidak tahu harus menjawab persisnya bagaimana.

“Masa kagak ada, Bang?”

Anwar Saleh diam sejenak, lantas menjawab dalam gurauan kalau dia suka perempuan yang seperti Eti. Di antara bising mikrolet dan asap hitam knalpot Kopaja, radio mengalunkan lagu Kuingin milik Rita Sugiarto.

Kalau kau memang sayang kepadaku

Kuingin hanya kau yang kau sayang

Kalau kau memang cinta kepadaku

Kuingin hanya aku yang kau cinta

Eti mendendang. Dia khatam di luar kepala lagu itu dan air mukanya tampak lebih ceria dari sebelum-sebelumnya. Keesokannya, Eti lebih lama untuk istirahat di bengkel ban. Dia tersenyum memandangi Anwar Saleh yang bekerja. Kerap sampai sore Eti di sana hingga akhirnya dia tak nge-duteng lagi pasca istirahat.

Pertanyaan-pertanyaan dari Eti lebih sering terlontar dibanding milik Anwar Saleh ketika mereka berdua saja. Suatu waktu Eti pernah bertanya tentang arti cinta bagi Anwar Saleh, namun lelaki itu hanya diam.

“Kok abang kagak jawab?”

“Bingung, Ti. Apa, ya?”

Suara-suara hanya milik mereka yang di jalan, bukan di bengkel ban.

“Gini kali ya, cinta ibarat kuku,” ucap Anwar Saleh. Eti diam, memandang Anwar Saleh dengan raut bingung.

Anwar Saleh melanjutkan ucapannya, kuku meski sudah dipotong, akan selalu tumbuh, dan begitulah cinta.

“Gitulah, Ti. Kan kalo kuku panjang juga kagak enak, kalo ada tahi kukunya ya kudu dibersihin.”

Sejak itu sikap Eti berubah, lebih sering memoles dan mematutkan diri dibanding sebelum-sebelumnya, entah saat di lapak kue pasar subuh atau di bengkel ban. Dia juga tampak lebih perhatian pada Anwar Saleh, yang tidak sepenuhnya menggubris semua itu. Bagi Anwar Saleh, Eti tetaplah Eti yang dia kenal seperti sebelum-sebelumnya.

Radio di lapak kue mengumandangkan azan, buyar lamunan Anwar Saleh. Haji Zaenal duduk di kursi plastik warna cokelat bermotif anyaman masih mengusir lalat-lalat jail yang mampir di kue dagangannya.

“Kagak kayak biasanya, nih,” seloroh Anwar Saleh.

“Bukan masalah, War. Asal gua bisa lihat romannya Eti ya udah senang.”

Anwar Saleh geleng-geleng. Sekali-dua pembeli datang lantas lapak sepi lagi. Radio mengudara dengan lagu-lagu dangdut pagi yang mengalun sesekali ditingkahi iklan obat dan laporan lalu lintas Jakarta kota kala pagi.

Pertama ku berjumpa denganmu

Seakan berdebarlah hatiku

Pandangan pertama yang kuterima

Terasa sejuk dalam dada

Pancaran dari rasa cinta

Setelah pertemuan pertama..[1]

Jalanan mulai dipadati mikrolet dan kopaja. Orang-orang ramai berlalu lalang di antara kerja dan olahraga pagi. Dari seberang jalan, Eti datang menghampiri lapak kue Anwar Saleh. Haji Zaenal menyambut uluran tangan Eti meski itu ditujukan untuk Anwar Saleh.

“Gua kira tadi cuma basa-basi, Ti,” celetuk Haji Zaenal yang menganggap ucapan Eti mampir ke lapak kuenya hanya gurauan, namun penuh harap dia menunggunya.

“Kagak pak haji.”

“Panggil bang haji aja, jangan pak, kesannya udah bangkot bener gua.”

Eti hanya mengangguk.

Anwar Saleh hanya berdiri mematung, melihat Haji Zaenal dan Eti di dekatnya. Sesekali ada pembeli datang, Anwar Saleh meladeni dengan cepat.

“Gimana, Ti? Kapan hari ntar main ke tempat gua, ya?” ucap Haji Zaenal.

“Iya. Asal sama bang Anwar juga.”

“Kendiri aja kagak apa-apa. Anwar kan sibuk. Ya kan, War?”

“Bener, Ji,” ucap Anwar Saleh.

“Eti kagak berani kalo sendiri.” Eti menunduk usai mengatakan itu.

“Kagak apa-apa, Ti. Eti yang udah abang anggap kayak adik sendiri kagak boleh takut,” ucap Anwar Saleh.

“Abang nganggap Eti cuma kayak adek abang?”

Anwar Saleh mengangguk penuh yakin. Seketika juga Eti pamit, hanya tampak belakang dalam pandangan Anwar Saleh dan Haji Zaenal. Dua lelaki itu tidak tahu ada air mata yang menetes di hitamnya aspal jalanan Senen pagi itu.


Ruly R, bagian dari Kamar Kata dan Rusamenjana. Suka lele bakar atau goreng dan Dji Sam Soe.


[1] Nukilan lirik lagu Setelah Jumpa Pertama dinyanyikan Mus Muliadi dan Ida Laila.

Cerpen

Kemboja Putih

Cerpen Ruly R

Telah direnggut segala yang ada di diriku. Habis sudah segala yang kupunya kecuali nyawa yang melekat, mungkin ini juga tidak berguna lagi. Aku terbuang, jauh dari segala yang kuidamkan dan kucintai. Di tubuhku ini darah hanya mengalir, sebatas itu, karena memang tidak ada hal yang bisa menggantikan harga diri. Aku sudah selesai, semuanya sudah dirampas….

Jo terbatuk. Mata lelaki berambut perak itu menerawang ke luar jendela. Tampak bunga azalea di seberang jalan. Dalam pandangannya, bunga itu seperti bunga kemboja yang seakan anomali di tengah padatnya pemukiman. Bunga yang dilihat Jo membawa pada ingatan masa lalu. Tentang dia yang sebelum menahan beban dan keterasingan.

Jo masih ingat persis. Segalanya mencekam, malam itu seorang teman yang masih indekos di asrama yang sama dengan Jo ditangkap. Sedikit beruntung karena Jo saat itu sedang keluar bersama beberapa kawan lain. Dia tidak sampai dibawa oleh yang konon katanya petugas, meski segala tentang berkas-berkas dan perihal administrasinya raib—disita.

Keesokan hari di sebuah surat kabar memasang headline tentang penangkapan beberapa mahasiswa yang dicap komunis. Jo tahu dan sadar tapi semuanya seakan terlambat. Kuliahnya terkatung, hidupnya juga. Menjadi pelarian—dari Belanda ke Rumania, singgah sebentar di Belgia lalu kembali lagi ke negeri kincir angin itu. Terasing di sana, dan pasrah yang akhirnya itu juga dia gadaikan untuk bekerja di sebuah bengkel, meski kemampuannya tak seberapa, hanya bisa utak-atik sepeda ala kadarnya seperti yang dia lakukan di kampung dulu.  

Jalanan lengang, hanya beberapa pejalan kaki yang tampak di pelupuk mata lelaki tua itu. Di kamar, Jo melambungkan pandangan ke arah birunya langit. Biasanya jalanan padat dan ramai meski bisa dikata tempat tinggal Jo ada di daerah Amsterdam pinggiran. Salah satu sebab jalanan kota ramai selain saat hari kerja adalah karena ada pertandingan sepak bola. Mengingat permainan bola kaki itu dada Jo sesak. Ingatan terus berkelindan, tak bisa dicegah terus saja berdesakan hingga akhirnya meruncing pada kaki-kaki dekil, bola lusuh, tanah becek, serta berbagai kegembiraan yang sekarang semua itu hanya sisa, abadi dalam sebatas bulir-bulir kenangan. Segala tak pernah kembali, batin Jo. Semua pupus, lalu sirna bagai debu jalan yang dihempas angin Amsterdam tanpa terkecuali harapannya. Dia lelaki tua yang tidak lagi percaya akan hal itu. Ditaruhnya harapan di dalam lubuk hati, lalu pintu hati ditutup rapat dan dikunci bagai lemari kayu yang ada di kamarnya dulu. Kamar di mana dia dilahirkan dan dirawat lentik jemari ibunya.

Satu hal dan seakan hanya itu yang ingin dikatakannya, dan sebab itu dia mengguratkan penanya di atas secarik kertas meski untuk saat ini—saat matanya menerawang ke luar kamar, dia seakan mengambil jeda untuk menarikkan tinta-tinta pena. Dia kini melangkah kecil, asbak di meja dekat lampu duduk diambil, tangannya merogoh saku kanan celana. Satu kretek diloloskan. Jo terbatuk, riak kental dan menguning keluar, ditutup dengan telapak tangan. Tapi tetap saja rokok dihisap dalam, diembuskan, asap keluar deras bagai kereta uap Belanda menyemprotkan sisa pembakaran.

Kembali dan selalu pandangan Jo tertuju pada jalan yang ada di bawah kamarnya. Di balik kacamata, dua bola mata itu seakan berisyarat bahwa dia ingin bebas, sebebas terbangnya burung di desanya dulu. Dia ingin hidup yang benar-benar hidup, bukan hidup yang terus menerus berjalan dengan membawa beban masa lalu yang ia sendiri tidak pernah tahu dengan persis kesalahannya.

“Andai,” begitu gumam Jo. Tapi pengandaian menjadi kekeliruan yang besar. Sudah tidak ada baginya kejayaan. Masa lalu yang dia ingat hanya tentang keriangan yang sekarang sungguh kabur dan berjarak jauh. Masa lalu tak ubahnya suara yang keras di pikiran, namun lamat di telinga.

 ….. maaf. Jika memang kata itu pantas dan kiranya aku tidak punya kata yang lain lagi. Bukan aku menduga atau berpikir tentang segala yang buruk, tapi aku berpikir kalau ibu dan bapak sudah mati. Aku memang terlampau brengsek, dan untuk saat ini aku sudah benar-benar kalah. Kuakui, aku memang pecundang, tapi bukan di mata mereka. Aku pecundang karena tidak bisa menjagamu, membanggakan kedua orangtua kita, dan malah menjadi orang asing di negeri asing pula. Semua dalam hidupku mungkin telah keliru. Untuk itu aku minta maaf.

Umurku mungkin sudah tak lama lagi. Bukan aku hendak mendahului keputusan Tuhan, tapi begitu yang kupikirkan. Betapa kematian tidak lagi menakutkan karena beban yang berhimpit di dalam hati dan pikiran ini yang selalu dan terus saja membuatku menggigil setiap malam.

Kembali Jo berhenti menulis. Dalam duduknya dia memandang jendela, tak ubahnya jendela itu jeruji besi yang mengungkungnya selama ini. Rumah susun dengan cat warna cokelat tanah dipandanginya lama dari balik jendela. Matanya nanar menatap itu. Tanpa satu aba-aba, air matanya menetes. Bayangan masa lalu tentang harapannya meninggalkan Indonesia dengan penuh bangga kini seakan koyak. Hanya menjadi luka batin yang dalam.

Ingatan Jo seakan kembali ditarik. Sebuah desa bernama Kepuh gempita bukan main, seluruh warga tampak mengantar Jo yang bernama asli Sumarjo untuk melanjutkan kuliah di negeri yang berpuluh ribu kilometer jauhnya. Jo tak mungkin lupa, setidaknya orangtuanya yang hanya buruh tani bisa membanggakan dirinya, putra sulung mereka. Marwanto dan Hartini kedua adik Jo yang saat itu masing-masing masih terlalu dini untuk tahu tentang arti sebuah perpisahan tidak pernah mengira bahwa hari itu menjadi hari terakhir mereka bertemu kakaknya. Begitu juga dengan Jo yang tidak terbesit sedikit pun kecemasan saat harus meninggalkan tanah kelahirannya. Tanah yang saat ini begitu dirindukannya.

Saat perpisahan itu ibunya juga membawakan sebuah kemboja putih yang memang menjadi kebiasaan ibunya dalam setiap pagi mengumpulkan kemboja. Dulu Jo menganggap ibunya sekadar iseng atau memang tidak ada pekerjaan lain, tapi karena ingatan tentang kemboja itu, Jo kini sangat rindu akan segala yang telah lampau berlalu. Luka pikiran dan batin, geram, mengutuk pada suratan nasibnya sendiri, Jo meneteskan air mata, terus saja menetes. Bulir lembut air mata bagai genangan masa lalu yang tak bisa dihindari.  

Sebuah klakson mobil yang terdengar keras membuyarkan lamunan Jo. Matanya melihat sedan kecil berwarna perak, seperti milik seorang sahabat bernama Theo. Ya karena seorang kawan itu juga Jo merindukan tanah air.

Di sebuah bar tempat biasa klub penggemar musik blues berkumpul, Jo dan Theo bertemu. Lelaki berdarah Belanda-Maluku yang bisa sedikit berbicara bahasa Indonesia namun dengan aksen Belanda kental dan mahir memainkan harmonika itu mulanya mengawali pembicaraan dengan Jo lewat cerita bahwa dia baru saja pulang dari Indonesia, tanah nenek-kakeknya. Lelaki yang berumur tak beda jauh dengan Jo itu juga mengatakan kondisi Indonesia saat ini sudah aman dan kondusif. Pemimpin di sana sudah berganti.  

“Apa kamu tak rindu keluargamu?” tanya Theo usai bercerita panjang lebar tentang politik Indonesia. Cerita yang disampaikan dengan sangat antusias dan semangat.

Jo diam seribu bahasa. Matanya merah, antara kemarahan dan rasa penuh harapan ada di dua bola mata lelaki itu. Theo seakan paham dengan perasaan kawannya. Kebisuan dan keheningan milik mereka jelas kontras dengan suasana bar yang riuh. Jo mengambil gelas yang ada di meja dengan tangan yang bergetar.

“Apa barang sedikit kau tidak bisa berdamai dengan masa lalu, Jo?” tanya Theo setelah beberapa saat diam dan hening milik masing-masing menguasai meja mereka. Kembali Theo menyampaikan pandanganya, “Jika kau memang rindu pada keluargamu sebaiknya kau pulang. Jangan permasalahkan segala yang telah berlalu.”

Jo hanya mengangguk seakan mahfum dengan hal yang sedang diutarakan Theo. Tapi Theo menatap Jo dengan penuh heran, tidak tahu mesti memberi nasihat macam apa untuk kawannya itu, karena bukan sekali ini saja Theo memberi masukkan pada Jo.

“Jelas kau terlalu egois, Jo,” ucap Theo lirih.

Jo masih saja diam. Dia menandaskan minumannya dalam satu kali tegukan. Kemarahan tampak dari air muka lelaki tua yang menjadi pelarian itu.

Theo menatap Jo dengan saksama. Tapi yang ditatap itu justru mengarahkan pandang ke panggung kecil yang ada di bar. Sudah jelas tidak ada hal lain yang memang dipikirkan Jo kecuali perkataan Theo. Kembali Theo menyapa Jo dan kali ini ditambah gerakan kecil ke bahu. Beberapa pengunjung bar tampak memicingkan mata penuh heran ke arah mereka.

“Kau benar. Jelas benar. Aku memang rindu keluargaku tapi jika kau katakan tentang pulang. Lain. Jelas ini lain!” Jo meloloskan sebatang rokok seolah mencari ketenangan tapi dalam raut muka itu masih saja ketegangan yang tampak.

“Kupikir kau paham tentangku. Kau yang kuanggap sahabat ternyata tidak semua kau mengerti. Jelas aku rindu keluarga, rindu kampung halamanku. Tapi sudah habis segala yang kupunya. Aku orang gelap di sini. Pulang dengan apa? Aku harus bagaimana? Aku sendiri tidak tahu. Bukan aku mengungkit tentang harga diri tapi ini semua justru tentang aku yang menahan agar segala masa lalu tidak lagi muncul. Telah kukubur segalanya. Aku hanya berpikir, ada kalanya sebuah dendam tidak perlu lagi kutuntaskan dengan hal apapun. Dalam hal ini, aku memilih tidak melakukan apa-apa lebih berarti terutama bagiku sendiri, karena hal itu yang telah kupilih.” Panjang lebar Jo mengatakan itu usai dia mengembuskan kepulan asap yang tebal dari mulutnya. Sebentar setelah itu Jo pamit, hanya kata pendek yang diucapkannya pada Theo, lantas dia meninggalkan bar.

Saat itu jam belum terlalu larut meski angin yang berembus cukup membuat gigil tubuh Jo. Dalam perjalanan pulang menuju apartemen yang Jo sewa dengan harga cukup murah bayangan datang. Sekat antara masa lalu dan keinginan pulang beradu dalam pikiran Jo, terus berputar dan terus begitu. Hingga dia sampai rumah pikiran tentang kata-kata Theo terus mengejar Jo.

Air mata menetes, kertas surat menyerap air itu. Kembali Jo mengarah pandang ke luar jendela. Ada suara berisik, di kamar sebelah seorang ibu sedang membentak anaknya. Segala yang sentimental dan nostalgik menarik ingatan Jo tentang orangtuanya yang kerap marah. Terutama ibunya sendiri. Bukan Jo serba tahu tapi jika rambutnya saja sudah memutih, dia berpikir orangtuanya pasti sudah meninggal dunia, meski dia tidak tahu bagaimana persisnya. Prediksi dari kelogikaan, pikir Jo.

Kabar kematian memang tidak didapat Jo, dia sadar dan tahu sekalipun kabar itu ingin disampaikan, adiknya pasti tidak tahu persisnya harus bagaimana mengirimkan kabar duka pada Jo. Lagi, bayangan kematian bukan kedukaan karena bagi Jo duka sudah menempel lekat dalam sisa umur hingga sekarang, bahkan untuk ke depannya.

Jo melangkah kecil. Menuju dapur, mengambil sebotol air putih dan meneguknya. Setelah itu dia kembali ke kursinya, kembali mengambil pena dan bersiap menggoreskan tinta-tinta hitam pada kertas.

Kertas yang semula telah dibubuhi tulisan dirobeknya. Kata-kata seperti mati bagai jiwanya dalam segala keterasingan selama ini. Ditulis ulang surat itu dengan kalimat yang hampir sama dengan sebelumnya. Yang kali ini berbeda perihal permintaan maafnya yang ditulis di bagian awal surat.

Entah kenapa menulis surat untuk kali ini seperti siksaan yang secara tidak langsung terus bertalu dalam dada Jo. Gemuruh hatinya jelas tampak ketika mata tuanya kembali menerawang ke arah luar jendela. Terus saja mata Jo ke arah yang sama, seakan dia tidak kehabisan kata-kata tentang hal yang selama ini dia rindukan namun tidak bisa ditulisnya. Hanya pada kaca dia seperti meminta pengertian. Sendiri.

Kamar sunyi, amukan tetangga hilang setelah diakhiri dengan bantingan pintu yang sangat kuat. Sudah biasa bagi Jo, bahkan hampir saban hari dia mendengar pertengkaran ibu dan anak itu. Jo sudah tidak memedulikan karena segala yang terus dia pedulikan seperti sudah tidak membutuhkannya. Dalam duduknya kembali pengandaian itu keluar. Ya seandainya dia tidak mendapat beasiswa studinya ke luar negeri untuk meneruskan sebagai insinyur tentu sekarang dia bisa menikmati masa tuanya di tanah air. Terpandang syukur, jadi buruh tani tak masalah bagi Jo, asal masih tetap di tanah airnya sendiri. Bukan bekerja sebagai seorang montir di sebuah bengkel meski bengkel itu ada di luar negeri. Tapi satu yang jelas dalam hidupnya, dan itulah yang dia inginkan, bukan hidup dalam keterasingan dan pengasingan yang sampai mati harus dia terima.

Seperti telah puas menatap jendela, Jo mengarah pandang pada kertas surat. Beberapa buku yang ada di meja juga tak luput dari pandangannya. Merah mata Jo dibakar marah begitu dia melihat buku itu. Tapi Jo seperti tersadar segala marah tiada menemui guna. Bertahun lalu begitu tentang konflik politik itu pecah sempat dia ingin membakar buku-bukunya, tapi hal itu dia urungkan. Tidak tega Jo membakar buku miliknya. Buku yang padahal bukan dengan uang Jo membelinya, melainkan dengan rasa persahabatan. Ya, seorang sahabat kerap membawakannya buku-buku itu. Yang tersisa dari persahabatan itu tak lain tinggal buku dan kenangan. Tidak ada lagi hal lain, karena setelah konflik itu pecah sahabat Jo tidak pernah lagi terlihat. Rumor berkembang tentang dia yang diculik oleh sekelompok orang.

Kalian mungkin menganggapku sudah mati karena aku tidak pernah pulang bahkan mengirim kabar pun tak pernah. Sampai saat ini bahkan hingga aku menulis surat ini, aku merasa malu atas hidupku. Memang aku tak pernah mendengar kabar dari kalian, tapi aku yakin kalian bernasib lebih baik daripada aku. Tentang Indonesia aku kerap mendengar dari kawan atau membaca di surat kabar. Kondisi di sana setidaknya tidak lebih buruk dari puluhan tahun yang berlalu. Aku tidak tahu persisnya, tapi pada intinya, aku harap semua baik-baik saja.

Sudah kutulis segala dalam hidupku berantakan. Jangan pernah pikirkan kakakmu ini. Memang begitu adanya waktu yang masih saja misteri. Aku tidak hendak membela diri tapi memang aku tidak mau secara terang untuk pulang. Cukup bagiku untuk mendengar kabar tentang Indonesia dari sini, meski kabar itu bukan disampaikan langsung oleh adikku sendiri.

Kubuat pengakuan kalau memang ini sudah menjadi bulat keputusan. Yang aku ingin kalian tahu setidaknya aku rindu kampung halaman meski tak sudi aku pulang. Bukan sekadar tak sudi karena pada kenyataannya aku tidak akan pernah bisa pulang. Semua sudah habis seperti yang sudah kutulis sebelumnya.

Beruntung. Bisa kukatakan demikian karena setidaknya aku masih bisa bernapas hingga sekarang, lain daripada beberapa temanku yang jejaknya sampai sekarang hilang. Ada dua hal yang ingin kukatakan yaitu tentang penyesalan dan harapan, meski aku sendiri tidak lagi sepenuhnya percaya dengan semua itu. Segalanya sudah sepantasnya kukubur, sekarang aku hanya lelaki tua yang kerap menggerutui nasibku di tengah segala yang makin hari makin asing saja bagiku.

Sumarjo kakakmu ini masih sama seperti dulu. Masih sesekali suka bercanda meski lebih banyak marah. Jika kelak kita bertemu karena kamu ke sini aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, bahkan aku bingung harus menaruh mukaku sendiri di mana.

 Ingin aku mengubur atau menyimpan wajahku, bahkan sudah jauh-jauh waktu ingin kulakukan layaknya aku telah melupakan penyesalan dan harapan, seperti aku mengubur dendam masa lalu. Tapi itu semua susah untuk kulakukan bahkan hingga sekarang.

Betapa aku bodoh, tersadar akan segalanya ketika seorang kawan bercerita dan terus memberi nasihat. Mungkin kalian, dua adikku tidak perlu susah payah menganggapku kakak karena aku sudah menabur garam pada luka kalian. Surat ini terasa perih bagiku. Aku memang benar-benar tidak berguna. Dalam segala sesal aku tulis semua ini. Jika harapan masih ada, kelak kalian akan terbang ke negeri kincir angin ini. Kutulis alamatku dalam surat, tanya tentang lelaki tua bernama Jo. Satu harapanku lagi tentang semua, entah aku masih hidup atau sudah mati, bawakan aku setangkai bunga kemboja putih. Hanya itu yang kuinginkan, tak lebih. Jika kelak aku sudah mati taruh itu di pusaraku.

Rindu kalian semua, rindu tanah airku, jelas itu tak bisa kubantahkan. Tapi kerinduan yang paling hakiki menurutku adalah kerinduan yang kali ini buntu, tanpa sebuah pertemuan. Sudah jelas segala kerinduan ini kutahan, biar begini adanya. Jauh dari sini di pengasingan dan aku memang benar-benar asing, kakakmu hanya ingin kemboja putih itu, kemboja yang selalu membawa kerinduanku pada tanah air. Memang selayaknya kerinduan adalah kesucian yang seperti terpancar dari bunga yang kuiingikan itu. Kemboja yang selalu saja membuatku terpanggil akan segala kehidupan keluarga kita dulu, sebelum aku pergi jauh dan tak pernah kembali lagi.   

Salamku,

Sumarjo, kakakmu.


Ruly R, bagian dari Kamar Kata dan Rusamenjana Books Store & Club. Suratmenyurat:[email protected]

Cerpen

Akan Kepulangan

Cerpen Ruly R

Anwar Saleh merebahkan badan di kasur lantai tipis warna hijau lumut yang apaknya tiada tanding. Tangannya sibuk membuka tutup aplikasi percakapan di ponsel murah merk tak jelas yang dibelinya di Glodok. Masih membuka-tutup aplikasi percakapan, tidak ada satu juga pesan yang masuk. Ponsel diletakkan. Mata Anwar Saleh menerawang ke langit-langit petak kontrakan. Tidak ada secuil masa depan atau angan apa pun yang dia pikirkan, hanya masa lalu dan beberapa hal yang baru saja dia lewati, utamanya tentang Eti Ncus.

Usai mengantar si biduan pentas di daerah Depok, pikiran Anwar Saleh tak bisa tenang. Kekhawatiran yang mula-mula seakan hentakan ketipung satu-dua patah-patah, kini semakin menjadi, membentuk keserasian dalam iringan musik dangdut sedih dengan lirik yang menyayat-pilu. Anwar Saleh sadar diri, tugasnya hanya menjemput-antar Eti Ncus yang sebentar lagi tambah tersohor, yang semula main dari panggung ke panggung, beralih dari satu stasiun tv ke stasiun tv lain. Begitu yang dipikirkan Anwar Saleh tentang perempuan yang dia cintai, namun tak pernah tahu. Dia merasa tak pantas diri lagi mencintai terlebih memiliki Eti Ncus. Sudah pupus segala tanda yang dia berikan agar Eti Ncus tahu perasaan lelaki berbadan ceking dan berambut setengah gondrong itu.

Pernah Anwar Saleh bayangkan Eti Ncus menyambut cintanya sepenuh hati. Membangun segala keindahan rumah tangga bahagia, melakukan aktivitas ringan dan obrolan yang menyenangkan bersama Eti Ncus. Tapi angan-angan ditabrak kenyataan, jauh meninggalkan Anwar Saleh seorang diri. Sepi, muram, dan jelas tak mengenakan hati.

Saat segala kecamuk berkelindan dalam benak, Anwar Saleh merindukan rumah. Dia ingin namun tak ingin. Baginya, pulang sama saja mengakui kesalahan yang sepenuhnya tak pernah dia lakukan. Pikiran tentang keinginannya pulang kali ini bersebab dari segala yang dia temui beberapa hari lalu, juga beberapa waktu saat Eti Ncus ada di panggung.

Saat matahari seakan meremukan batok kepala orang-orang yang menjemput rezeki di sekitaran stasiun Pasar Senen, saat itulah Anwar Saleh bertemu tetangga sekaligus kawan lama. Pertama-tama disapa, Anwar Saleh setengah kaget, sementara kawannya mengatakan pangling dan berkali-kali menatap Anwar Saleh coba meyakinkan bahwa yang ditemuinya itu memang kawan lamanya.

“Anwar? Iya kan Anwar? Waduh, War. Lama kita ndak ketemu. Sehat, to?” tanya kawan Anwar Saleh sambil menepuk pelan dan berkali-kali pundak yang ditanya.

Anwar Saleh menanggapi sekenanya. Dia paham hal itu hanya basa-basi di awal pertemuan setelah waktu merentangkan jarak begitu lama. Dia selalu tak nyaman ketika bertemu kawan lama dari kampungnya. Hal itu yang coba dihindarinya meski tanpa maksud tidak memudarkan pertemuan yang tak sengaja.

Anwar Saleh mengajak kawannya duduk di bangku plastik biru milik pedagang minuman dingin. Gerobak besi bercat biru tua pudar milik penjual minuman menyaksi segala yang telah lampau.

“Dua teh botol dulu ya, Mang.”

“Asal jangan lupa bayar dah, War.”

Anwar Saleh menanggapi sahutan mamang warung dengan anggukan dan mengatakan tak perlu khawatir.

“Eh garpit sebatang boleh dah,” ucap Anwar Saleh lantas terkekeh.

“Ngelunjak lu, War.”

“Buru lempar aja!”

Mamang warung dengan wajah tak enaknya melempar rokok yang diminta. Anwar Saleh kembali terkekeh sementara kawannya hanya diam. Obrolan akan pertemuan kembali seakan tangan yang menggali masa lalu yang ada. Dari mulai kenakalan yang mereka lakukan, keadaan di kampung sekarang, tentang teman yang telah menikah dan punya anak, tentang mereka yang telah meninggal, dan hal lain tentang kesuksesan dan kegagalan siapa pun yang masing-masing mereka kenal.

“Lama bener lho, War. Kamu betah di Jakarta?”

Anwar Saleh melempar pandangan pada padatnya kendaraan di depan stasiun Pasar Senen. Beberapa mikrolet membunyikan klakson begitu kencang, motor-motor padat memenuhi jalan, dan mobil merayapi tempat dan jalan yang ada. Cukup lama hingga akhirnya Anwar Saleh mengucapkan jawabannya untuk pertanyaan itu, jawaban yang beriring dengan suara laju kereta di sekitaran stasiun Pasar Senen.

“Aku cuma mau main, War. Ibuku sekarang kan ikut adikku di Jakarta sini,” ucap kawan itu saat ditanya Anwar Saleh akan ada kepentingan apa di Ibu kota.

Mendengar itu Anwar Saleh kembali diam. Pikirannya tertumbuk pada bayangan tentang rumah, tentang ibu, dan bila sudah berbicara tentang perempuan yang melahirkannya, Anwar Saleh juga akan otomatis teringat pada lelaki yang begitu dibencinya, bapaknya.

“Kenapa kamu ndak pernah pulang? Apa ndak kangen ibumu?” tanya kawan itu usai bercerita bagaimana hubungan pertemanannya dengan Anwar Saleh dan seakan memahami segala masalah di masa lalunya. Pertanyaan itu tak dijawab. Kawan itu juga menceritakan kesehatan ibu Anwar Saleh. Yang ditanya dan diajak bicara hanya diam, justru mengalihkan obrolan pada kesibukan kawannya itu sehari-hari. Obrolan itu terus berlanjut, ditingkahi azan asar.

Sore menjelang matang sempurna. Jalanan masih padat lalu-lalang kendaraan. Orang-orang berjalan tergesa untuk berangkat atau pulang. Kawan itu pamit pada Anwar Saleh dan meminta nomor ponselnya. Mereka berjanji akan saling berkabar dan bertemu kembali.

“Kagak manggung lu, War?” tanya mamang minuman dingin saat Anwar Saleh akan membayar minumannya dan beberapa batang rokok yang dia minta tadi lagi dan lagi.

“Perkutut kali manggung.”

“Maksudnya kagak gawe gitu? Daripada lu ngajedok terus di situ.”

Anwar Saleh katakan dua hari lagi akan ada pentas di daerah Depok. Dia jelaskan juga kalau segalanya pasti beres karena dia sudah tahu dan terlampau hafal akan tugasnya.

Suara kaleng milik tukang pijat bergelontang, membuyarkan lamunan Anwar Saleh tentang pertemuan dengan kawan lamanya. Dibukanya kembali aplikasi percakapan di ponsel, tak ada apa-apa dan digeletaknya begitu saja ponsel itu.

Terang pucat bohlam menyaksi benak Anwar Saleh dalam rebahnya. Dia menunggu dengan murung dan cemas kenapa Eti Ncus tidak memberi kabar usai pentas, padahal biasanya pesan ringan akan lempar-tangkap ketika Eti Ncus telah diantarnya ke rumah. Angan Anwar Saleh melayang seakan menembus petak kontrakan, menembus malam yang baginya terlampau panjang. Anwar Saleh masih menyesali dan meratapi kenapa belum juga mengatakan cinta pada Eti Ncus, namun merasa ditolak. Anwar Saleh mahfum kenyataan memang pahit untuknya. Nasib baik tak pernah berpihak padanya.

Di hadapan Eti Ncus lidah Anwar Saleh seakan kelu, tiang-tiang penyangga jembatan layang seakan menimpa kepalanya, sangat berat membebani pikirannya. Anwar Saleh ingat pentas tadi. Dalam benaknya masih tersimpan bagaimana suara Eti Ncus samar menyanyikan lagu Muara Kasih Bunda didengarnya dari belakang panggung saat dia sedang menyiapkan es cekek untuk tukang ketipung.

Bunda

Tak pernah kau berharap budi balasan

Atas apa yang kau lakukan

Untuk diriku yang kau sayang[1]

Bekas kardus yang bakal Anwar Saleh gunakan untuk mengipasi tukang ketipung terlepas dari genggamannya. Perasaan yang aneh dan penuh kegamangan merambat di hati Anwar Saleh. Dia tak ingin gubris semua itu dan melanjutkan apa yang sudah menjadi pekerjaan rutinnya setiap pentas.

Sebuah suara notifikasi masuk ke ponsel Anwar Saleh. Hal yang begitu dinantikannya. Namun sekali lagi nasib tak pernah berpihak padanya, bukan pesan dari Eti Ncus yang datang, melainkan pesan dari kawan lama, yang memberi padanya sebuah alasan akan kepulangan.


Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Bukunya terbarunya Gelanggang Maaf (Penerbit Bukuinti, 2021). Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo dan mengelola Rusamenjana Book Store & Club bersama teman. Surat-menyurat: [email protected]


[1] Nukilan lirik lagu Muara Kasih Bunda yang dipopulerkan Erie Suzan.