Cerpen

Menghafal Wajah

Cerpen Fahrul Rozi 

Ini bermula ketika hujan turun dari pagi sampai petang hari Jumat. Satu warga melapor melihat sosok misterius dengan mata besar berwarna hijau dan mulut selebar kuali menculik anak gadisnya. Warga yang lain melaporkan melihat dewi bersayap hitam dengan rambut pendek—serupa Milda, anak Pak Diman—telah membawa pergi anak gadisnya dan tidak pernah kembali. Yang lain lagi melaporkan melihat lelaki dengan ekor belang berjalan dengan istrinya di malam hari dan ia tidak pernah pulang ke rumah. Semua laporan itu aku tulis di kolom kasus orang hilang. Tidak diragukan lagi. Aku menulis semua laporan tidak masuk akal itu di atas kertas folio.

Saat pulang ke rumah aku berkata pada diriku sendiri bahwa semua laporan yang aku terima hari ini adalah rekayasa biasa. Mereka hanya iseng datang ke kantor polisi untuk membuat laporan palsu. Tapi itu menyelamatkanku dari kebosanan. Jika mereka tidak datang, sudah pasti aku bakal membusuk di kantor polisi.

Aku berhenti di sebuah kedai dekat stasiun. Memesan kopi. Duduk di bawah langit gelap, aku mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Ketika pelayan menaruh cangkir, aku teringat bahwa besok libur. Aku punya banyak waktu malam ini. Besok aku bisa berkunjung ke rumah adikku atau menghabiskan waktu di luar. Menaiki kereta, transit kemudian berhenti di stasiun selanjutnya. Setelah itu berjalan kaki di trotoar. Membeli roti dan duduk di teras toko. Aku tidak sabar menantikan besok.

Selesai menghabiskan kopi aku keluar kedai. Menyusuri jalan pulang. Malam sudah larut, angkutan umum tidak beroperasi jadi aku berjalan kaki di sepanjang jalan gelap. Di gang sekelompok pemuda membentuk lingkaran. Menyembah sebotol alkohol. Berkelakak.

Rumahku gelap, segelap malam ini. Aku membuka pintu dan menghidupkan satu persatu lampu. Melepaskan semua pakaian, memasukkannya ke dalam bak lantas merebahkan diri di atas ranjang. Aku langsung tertidur. Nyenyak sekali. Aku tidak pernah tidur senyenyak ini dalam hidupku. Aku bermimpi mendengar jeritan perempuan. Ia seperti meminta tolong. Dalam mimpiku, suara itu tiba-tiba lenyap dan berganti suara biola. Aku mendengarkannya dengan saksama. Di mimpiku yang gelap dan hanya gesekan biola yang terdengar, aku bangkit seperti vampir.

Tubuhku tergerak secara naluriah. Berjalan layaknya boneka. Mungkin ini mimpi tapi aku mendengar dengan jelas gesekan biola itu. Aku tidak tahu. Lagi pula membedakan dunia realitas dengan dunia lain merupakan hal yang sulit.

Aku berjalan keluar dari kegelapan. Perempuan dengan kulit kuning sawo tidur di atas bangku. Perempuan itu tidur sangat pulas. Aku tidak tega membangunkannya. Ia tidak terlihat seperti gelandangan yang tinggal di pinggir rel kereta atau gang kecil berbau tengik. Ia memakai gaun hijau dengan rambut hitam sepinggul. Sepatu bot hitam. Mungkin ia jelmaan Nyi Roro Kidul atau semacamnya. Dengan berat hati aku menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ia menggeliat. Matanya terbuka perlahan. Ia berkata sesuatu tapi aku tidak menangkap maksudnya. Setelah ia sadar, aku pergi meninggalkannya. Mimpi yang aneh.

***

Matahari menyembul dari ventilasi kamar. Aroma tanah yang diguyur hujan meruak dari kisi-kisi jendela. Aku bangkit, pergi berjemur di luar rumah. Sebelum menikmati hari libur, aku membersihkan rumah. Pukul 10.21, aku membatalkan niatku karena tiba-tiba hujan mengguyur deras. Memikirkan liburan yang gagal, aku bingung mau melakukan apa. Selama satu jam lebih aku hanya duduk di teras, menyaksikan hujan turun.

Aku kembali ke kamar dan tidur. Hari sudah malam ketika aku bangun. Di luar masih hujan. Pintu rumah diketuk. Pelan. Aku diam. Siapa yang berkunjung di tengah hujan deras begini? Ketukan pintu terulang setelah jeda sejenak. Tetap pelan. Dengan malas aku bangkit dan membukakan pintu. Seorang perempuan, yang sepertinya aku kenal berdiri di depan rumah.

“Akhirnya aku menemukanmu,” lirihnya. Ia melepas jas hujan, menepuk-nepuk pakaiannya. “Aku sudah mencarimu sejak terakhir kita bertemu. Apa aku boleh masuk?”

Dengan ragu-ragu aku memintanya masuk. Ia melihat sekeliling rumah. “Rumah yang bersih,” Aku lupa kapan bertemu dengan perempuan ini. Mungkin sudah bertahun-tahun. Aku mencoba mengingat wajah teman SD, SMP, dan SMA, tapi yang muncul wajah orang hilang.

Perempuan itu duduk di kursi, menciptakan hening. Aku pergi dari keheningan, membuat teh. Usai menyajikan teh aku berdiri tidak jauh darinya. Seperti pengawal putri kerajaan, aku menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya. Hening kembali. Ia menyeruput teh.

“Mengapa kamu tahu rumahku… dan Siapa namamu?” sayangnya pertanyaan-pertanyaan itu tenggelam di tengah hujan lebat, dan namanya tidak aku ketahui. Ia berdiri lantas menarik tanganku keluar.

“Kita mau ke mana?” tanyaku di antara deru hujan.

 “Ke tempat teman-teman kita,” katanya dengan suara keras.

Kami berlari di bawah langit hitam. Tangan kami bergandengan seperti kekasih yang melarikan diri dari nasib. Jalanan gelap dan hujan mengguyur tanpa henti. Cahaya berpendar di depan kami. Cahaya yang hangat. Lamat-lamat hujan berhenti. Seorang lelaki berdiri di bawah tiang lampu, berbalut cahaya kuning dia memberi hormat.

“Selamat datang di Big House. Teman-teman sudah menunggu kalian di dalam.”

 “Ayo, masuk,” bisik perempuan itu. Kami masuk ke halaman rumah yang luas. Rumah besar berdiri dengan gagah. Bukan. Itu istana. Dua lelaki berpakaian serba hitam berdiri di depan pintu. Mereka membukakan pintu setelah memberi hormat. Aku diam. Yang ada di depanku sekarang bukan mimpi. Ini benar-benar nyata.

Laki-laki dan perempuan berdansa di bawah sinar lampu. Sementara perempuan bergaun merah duduk mantap di depan piano. Jari lentiknya menari di atas tuts, memainkan Ballade milik Chopin. Seorang perempuan bergaun hitam datang menghampiriku. Ia menarik tanganku ke tengah ruang dansa. Kami berdansa. Sepasang kekasih tersenyum ke arahku. Menjelang permainan pianis berakhir langkah kami melambat dan berhenti. Semua bertepuk tangan. Semua tersenyum bahagia. Perempuan yang membawaku bertanya.

“Apakah kamu menikmatinya?”

Aku mengangguk mantap. “Terima kasih telah mengajakku kemari. Terima kasih banyak,”

“Jika berkenan, tinggalah di sini bersama kami,”

 “Terima kasih, tapi aku ada kerjaan besok. Maaf.”

***

“Bangun Jun.” Seorang berteriak di telingaku. Aku mengenal suara ini. Dia Bagas, atasanku. “Kamu sudah makan siang?”

Aku melihat Bagas berdiri di sampingku. Foto orang hilang berserakan di atas meja kerjaku. Awalnya aku tidak tertarik, tetapi setelah diperhatikan aku pernah bertemu dengan mereka. Sebentar. Beri aku waktu untuk berpikir. Semalam aku tidur, seorang perempuan datang ke rumah lalu ia mengajakku pergi. Kami berlari di tengah hujan, seorang lelaki menyambut di bawah tiang lampu. Seorang perempuan lain mengajakku berdansa, dan setelah itu aku tidak ingat. Aku mengambil secarik foto, melihatnya dengan saksama. Mengambil yang lain. Memeriksanya kembali. Ini sungguh mengejutkan.

“Jun, kamu baik-baik saja? Jangan memaksakan diri, oke.”

Di luar masih hujan. Suara Bagas lenyap. Aku bangkit menepuk bahu Bagas sembari berkata, “aku menemukan mereka. Aku berhasil menemukan mereka, Pak. Mereka tidak jauh dari sini.”

Bagas membelalak serupa sapi. Dia balik menepuk bahuku dan berkata. “Sebaiknya kamu pulang lebih awal lalu istirahat. Aku akan meminta Andi mengurus kasus ini.”**

 Sewon, 18-10-2022


Fahrul Rozi, lahir pada 10 Agustus. Penulis lepas dan buruh tata letak buku. Saat ini tinggal di Jogja. Bisa dihubungi di Instagram @Ojiy__ atau melalui email: [email protected]

Cerpen

Cara Berdoa

Cerpen Fahrul Rozi

Aku terbangun dari tidur panjang dan mendapatkan diriku ada di atas batu besar. Aku melihat di sekitarku ada banyak pohon yang melindungi batu ini. Karena penasaran aku segera turun, dan, batu ini amat besar melebihi perkiraanku. Saking besar dan tingginya aku tidak merasakan sakit ketika mendarat. Ini sangat aneh. Mungkin karena sudah lama disakiti tubuhku menjadi kebal terhadap sesuatu. Aku berjalan sebentar di sekitar batu besar dan pohon-pohon rimbun. Sebuah rumah kayu berdiri di antara pohon-pohon. Aku mencoba mengingat sesuatu, perihal rumah, mengapa aku di atas batu besar, dan di mana ini. Ingatan itu datang serupa bom, kepalaku seolah meledak dan tidak ada yang tersisa kecuali kepingan ingatan. Aku tersadar bahwa aku terlempar jauh dari tempa asalku. Jin cilik sepertiku gampang sekali ditendang. Aku pikir saat itu—mungkin 50 tahun lalu—aku akan mati ketika dipukul habis-habisan oleh mereka. Tapi aku masih hidup. Aku tidak tahu apa yang direncanakan Tuhan padaku, aku juga tidak peduli dengan hidup ini.

Sebelum ditendang mereka aku pernah berteman dengan manusia bernama Iran, gadis yang baik dan selalu menerimaku apa adanya. Aku ingat sekali dengan kata-katanya, “kamu itu jin yang lucu,” bukannya aku menyangkalnya tetapi ucapan Iran membuatku tidak ingin pergi meninggalkannya.

“Jika suatu hari kamu tersesat dan tidak tahu jalan pulang, ketahuilah bahwa di atas sana ada Tuhan yang selalu melihatmu. Mintalah pada-Nya petunjuk jalan, niscaya Tuhan akan menunjukkan jalan padamu.”

Aku tahu kali ini aku sedang tersesat dan tidak menemukan jalan pulang, tapi aku bukan manusia yang selalu berdoa. Aku jin kecil yang tidak tahu cara berkomunikasi dengan Tuhan, bahkan berdoa saja tidak tahu. Memang aku pernah melihat manusia mengangkat tangan beramai-ramai setelah salat, tetapi apakah itu disebut doa?

Aku harus mencari cara agar tahu caranya berdoa. Bagaimanapun aku harus keluar dari hutan ini. Walau pun aku suka dengan batu besar ini, tapi aku tidak bisa terus-terusan tinggal di sini.

Sebelum aku beranjak pergi, aku mendengar kasak-kusuk dari balik semak-semak. Suara tapak kaki manusia, aku hafal betul. Aku duduk di atas batu, dan keluarlah perempuan setengah telanjang membawa daging ayam yang baru saja dipanggang. Ia letakkan ayam dan segentong air di depan batu, lalu ia mendekap telapak tangan dan menaruhnya di depan dada. Aku tidak pernah melihat manusia berlaku seperti ini. Aku tetap duduk dan memperhatikannya. Tidak lama seorang laki-laki—yang juga setengah telanjang—datang dan menaruh dupa di samping makanan. Aku semakin asik melihat mereka. Mata mereka terpejam dan mulutnya merapal entah apa, mungkin doa, mungkin juga mantra. Aku semakin tertarik dan tetap duduk sampai mereka pergi. Sebelum pergi mereka sempat cekcok karena hal sepele.

Aku mengingat apa yang pernah kulihat sebelumnya, seperti melihat manusia memakai pakaian rapi dan pergi ke masjid. Mereka berlutut, bersujud, dan macam-macam lagi. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, tetapi nyatanya mereka tidak bisa diganggu. Sebab waktu aku menghampiri mereka dan menggoda salah manusia di barisan depan, mereka tetap melakukan gerakan itu sampai selesai. Mungkin itu bisa dibilang “berdoa”, seperti dua manusia barusan.

“Kenapa aku bisa melihatmu? Karena Tuhan membuka indera keenamku. Aku sudah biasa melihat makhluk sejenismu, tetapi dari sekian jin, cuman kamu jin yang lucu. Hahah.”

Humor Iran sangat kering. Aku memaksakan tawa agar ia tidak tersinggung. Aku sering mendengar humor Iran. Tidak ada satu pun humornya yang membuatku ngakak, tapi ia sangat suka ketawa. Ia selalu ceria dan tidak pernah memikirkan masalah yang sedang ia hadapi.

Satu hari di musim panas aku menemuinya. Ia sedang mengangkat kedua tangan dan membaca beberapa lafal doa, mungkin. Setelah selesai ia menoleh ke belakang. Ia tahu saja kehadiranku. Aku segera mendekatinya dan bertanya apa yang tadi ia lakukan, walau sudah sering melihat ia melakukan itu, tapi aku enggan bertanya. Ia kemudian menaruh tangannya di atas kepalaku dan berkata di dekat telinga.

“Berdoa,”

“Apa itu berdoa? Apakah itu mendapatkan makanan?”

“Bukan, teman. Berdoa seperti kita sedang mengobrol. Tapi kau perlu tahu bahwa berdoa bukan sembarang mengobrol. Berdoa wujud kita mengobrol pada Tuhan. Kau bisa berdoa dengan caramu.”

Sayangnya, aku tidak pernah diajarkan berdoa oleh orang tuaku di dunia jin. Aku bahkan tidak pernah mendengar mereka berdoa. Aku tidak tahu apakah aku boleh berdoa pada Tuhan atau mungkin sudah lambat untukku berdoa.

Apapun alasannya aku harus menemukan cara berdoa untukku. Segera mungkin aku pergi dari batu besar dan mencari manusia, jin, dan makhluk Tuhan yang lain.

Tidak jauh dari rumah kayu aku menemukan pohon meranti yang amat besar nan tinggi. Aku duduk di atas akar yang menonjol dari tanah. Selama beberapa detik angin bertiup dari arah selatan, menyebabkan bunyi gesekan ranting dan bunyi hewan kecil yang tinggal di pohon besar ini. Aku merasakan getaran pelan di akar yang kududuki. Mungkin ini adalah cara pohon meranti berdoa. Tidak salah lagi. Aku bisa merasakan getaran yang berbeda setiap satu menit, angin yang bertiup, bunyi hewan, ini seperti ratusan doa dari banyak makhluk yang hidup di hutan ini lalu bersatu di pohon meranti. Aku bisa merasakan hal itu, karena aku dapat melihat energi doa terpancar dari batang pohon meranti makin panjang dan membubung tinggi ke langit. Tiba-tiba langit tersibak seolah menyambut energi doa tersebut agar masuk. Aku memperhatikan awan seolah berhenti  dan burung yang terbang terdiam di langit.

Aku sadar telah menemukan sesuatu yang harus kubawa pulang. Pulang ke batu besar. Aku meninggalkan pohon meranti besar. Sebentar lagi aku akan berdoa pada Tuhan.

Di atas batu besar aku duduk menyilangkan kaki lalu mengikuti apa yang dilakukan Iran kemudian berdoa: Wahai Yang Maha Dengar aku berdoa untuk pertama kalinya, aku berdoa karena aku baru mengetahui cara berdoa, aku berdoa karena meminta petunjuk jalan pulang. Wahai Yang Maha Dengar, aku berdosa, sudah sepantasnya aku dihukum, jika hukumanmu adalah pengasinganku di sini, maka aku terima. Tapi aku pun tahu Kau adalah dzat yang Maha Pengampun, maka izinkanlah aku bertemu kembali dengan Iran. Ia manusia yang sangat baik dan selalu menyembunyikan masalah dariku. Aku ingin bersamanya…

Sebelum menyelesaikan doa aku membayangkan Iran di kamarnya. Tapi aku lupa dengan wajah Iran. Lalu aku melanjutkan doa. Langit gelap, tapi doaku terus berlanjut sampai pagi, sampai malam lagi. Aku tidak tahu sudah berapa hari aku berdoa. Kemudian sadar, aku tidak tahu cara mengakhiri doa.**

Jakasampurna, 06-04-2020


Fahrul Rozi, lahir di Bekasi. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Tukang cuci piring di PPM Hasyim Asya’ari.