
1942: nasib Indonesia sangat berubah. Kita percaya saja omongan dan bacaan sejarah, yang menyatakan 1942 adalah tahun getir. Indonesia tak lagi dalam cengkeraman pemerintah kolonial Belanda. Kejutan terjadi dalam hitungan hari. Indonesia berada di arus yang berbeda setelah kedatangan balatentara Nippon. Di buku pelajaran, kita mengetahui masa pendudukan Jepang, dimulai 1942 dan berakhir 1945.
Apa yang kita warisi dari masa kekuasaan Jepang yang pendek? Kita jawab saja: buku. Para pengamat sejarah biasanya menyebut Soeharto itu masuk dalam daftar warisan masa pendudukan Jepang. Ada lagi yang mencatat: upacara, rukun tetangga, berbaris, dan lain-lain. Kita menjawab warisan penting dari masa lalu itu buku. Jawaban yang sombong! Masa kekuasaan yang pendek memang menghasilkan buku-buku, yang tersisa sedikit untuk kita pegang dan pelajari.
Di kalangan peneliti sejarah dan kolektor, buku-buku terbitan masa pendudukan Jepang biasa berharga mahal. Anggapan langka digunakan gara-gara jumlah buku yang masih ada cuma sedikit. Mengapa terjadi penerbitan buku-buku? Konon, Jepang mengharuskan propaganda, yang bisa bergerak dan bertumbuh di kalangan sekolahan.
Buku yang masih bisa berada di tangan kita berjudul Ilmoe Toemboeh-Toemboehan. Buku yang diadakan oleh Kantor Pengadjaran, 1943. Buku digunakan oleh murid-murid di sekolah menengah pertama. Yang belajar di sekolah perlu mengetahui ilmu tumbuh-tumbunan, yang bagi Jepang bisa mendukung pemenuhan kebutuhan pangan atau membuat ilusi kemakmuran di Indonesia.
Siapa yang menyusun buku? Kita tidak menemukan nama-nama yang tercantum di lembaran-lembaran buku. Yang pokok adalah murid-murid masih berkutat dalam sains. Ilmu yang dipelajarinya sangat berguna dalam kepentingan akademik dan kejadian sehari-hari. Buku pelajaran yang tidak asal terbit tapi mendapat pemeriksaan dulu oleh pihak Jepang. Kita menduga buku pelajaran kadang berbahaya, yang menimbulkan perlawanan atau pemberontakan.

Kita membayangkan muri-murid yang belajar ilmu tumbuh-tumbuhan sering kelaparan. Pada masa pendudukan Jepang, pangan itu langka dan sulit. Beras disetorkan kepada tentara Jepang. Rakyat bingung mencari makanan. Imajinasi tentang Indonesia yang subur mendapatkan kebalikan-kebalikan. Murid-murid yang belajar pun menyadari penderitaan yang ditanggung banyak orang akibat perintah-perintah Jepang.
Buku dari masa kelam kita baca berbarengan Indonesia sedang berlagak sadar pangan. Kebijakan pemerintahan mengenai tumbuhan diberlakukan dengan janji-janji besar meski kita mengetahui kegagalan dan kelemahan. Tumbuhan itu tema besar abad XXI, yang menjadikan Indonesia wajib bermartabat bila mengingat warisan dan nasihat nenek moyang.
Kita berusaha menjadi murid masa 1940-an agar merasa takjub melihat isi buku pelajaran. Yang mula-mula dipelajari adalah pisang. Di buku, tercantum keterangan: “Pisang, toemboehan negeri panas ini, masoek bilangan sesoeatoe keloearga jang ketjil tapi penting. Djenisnja banjak dan sifat-sifatnjapoen sangat berlain-lainan. Pisang itoe ditanam orang baik ditanah rendah, ditanah pegoenoengan dan hampir terdapat disegenap pekarangan.”
Pisang memang mudah ditemukan di seantero Indonesia. Pisang mengisahkan rakyat yang membuat beragam olahan. Kita suka makan pisang goreng. Ada yang menggunakan untuk kolak. Orang lawas yang sakit, menggunakan pisang untuk bisa menelan obat. Segala tentang pisang menjadi sumber kebijaksanaan, bukan sekadar pangan.
Pisang mengiringi kebutuhan pangan jutaan orang di Indonesia. Pisang bukan makanan pokok tapi kita biasa menemukan adanya pisang di warung. Di hajatan pernikahan atau ritual, pisang pun dihadirkan. Pisang tidak bisa sirna dalam arus sejarah Indonesia. Namun, kita belum menemukan buku membahas sejarah (politik dan pangan) di Indonesia, yang mengandung bab-bab pisang. Yang mengalami masa Orde Baru mungkin ingat pernah diadakan lomba nasional: memasak beragam makanan berbahan pisang, yang memperebutkan Piala Tien Soeharto.

Kita melanjutkan pelajaran tentang bambu. Yang hidup di desa terkenang pelbagai benda yang dibuat dari bambu. Keluarga yang hidup miskin atau sederhana menghuni rumah yang dibuat dari bambu. Para penikmat suara seruling lekas mengingat bambu. Di babak sejarah, kita dibuat kagum adanya pasukan yang berbambu runcing. Pokoknya, bambu bergelimang cerita di Indonesia.
Di buku yang diterbitkan Kantor Pengadjaran, kita membaca keterangan: “Bamboe itoe amat bergoena kepada anak negeri, didjadikan pagar desa. Lain daripada itoe dipergoenakan oentoek pemboeat roemah, tetapi dapat poela diperboeat djadi pelbagai matjam perhiasan roemah, pakaian, perkakas, sendjata, bahkan perkakas boenji-boenjian. Daripada bamboe jang dibelah-belah diperboeat tikar, topi, kotak, kipas…” Indonesia itu negeri subur untuk pelbagai jenis bambu. Namun, julukan untuk Indonesia bukan “negeri bambu”.
Yang terkenal dari masa lalu adalah “negeri njioer melambai”. Kita biasa menemukannya dalam bacaan lawas atau lagu-lagu “tempo doeloe”. Orang-orang sekarang mungkin tidak mengetahui “njioer”. Padahal, ia biasa melihat atau mengonsumsi “njioer”. Kita membuka halaman-halaman lain dalam buku Ilmoe Toemboeh-Toemboehan.
Di halaman 97, kita membaca penjelasan: “Pohon njioer itoe sebaik-baiknja toemboeh dekat tepi pantai. Di Indonesia kelapa itoe adalah 20 matjam. Ada jang hidjau, ada jang koening atau jang kemerah-merahan boeahnja.” Nama lain dari “njioer” adalah kelapa. Kita sudah belajar banyak mengenai kelapa, yang disampaikan keluarga, guru, pengarang, dan ulama. Indonesia memang pantas belajar ribuan hikmah bersumber kelapa.
Yang kita ketahui, kelapa tidak selesai hanya berurusan kuliner. Hiasan dalam pesta pernikahan di Jawa mengingatkan pohon kelapa (janur). Alat-alat di dapur itu dibuat dari pohon kelapa. Gerakan kepanduan pun memilih simbol kelapa. Yang rajin menyapu pekarangan rumah pasti mengerti faedah pohon kelapa: sapu lidi.
Buku yang mengandung ilmu. Buku yang diipelajari saat Indonesia dijanjikan merdeka. Murid-murid belajar tapi kesusahan mendapatkan makanan. Buku yang mengumpulkan banyak keterangan tumbuhan-tumbuhan di seantero Indonesia. Yang belajar mendapatkan gambar dan foto, menguatkan keinginan paham tumbuhan, bukan kekuasaan.
Warisan dari masa pendudukan Jepang adalah buku. Pada 2025, kita membaca buku yang umurnya lebih tua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita boleh membayangkan murid-murid yang belajar Ilmoe Toemboeh-Toemboehan menjadi pelaku dan saksi sejarah di titik terpenting: 1945. Indonesia yang merdeka membutuhkan pangan.
Buku yang dipelajari di sekolah itu akhirnya berguna untuk Indonesia yang menghijau. Indonesia adalah album tumbuhan. Anehnya, buku yang apik itu tidak mendapat susulan atau bandingan pada masa sekarang. Murid-murid di SD, SMP, dan SMA makin enggan belajar ilmu tumbuhan. Mereka pun jarang menemukan tumbuh-tumbuhan di sekitar rumah atau sekolah.
___________________
Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.
