
Hai, lelaki yang terkurung di kamar kusam. Lelaki yang terlarang gendut setelah bertahun-tahun hidup bersama udara kotor di Kleco. Tubuhmu sedang dihancurkan oleh asap dan debu. Kamar yang bergetar.
Hidupmu mustahil sunyi saat jalan besar mengarah ke Solo dan Kartasura itu hancur atau dihapus dari peta. Oh, dirimu memilih terus bertahan dengan segala khawatir dan kecewa.
Yang datang kepadaku adalah Gha, bukan dirimu. Di GOR Badminton (Blulukan), Jumat, 17 Oktober 2025, Gha datang membawa bukumu. Saat itu aku sedang mengetik di bawah lampun kuning. Aku biarkan Gha menikmati malam yang ramai oleh teriakan jamaah bulutangkis. Tulisan belum selesai tapi aku bolak-balik membuat beragam minuman untuk jamaah di lapangan.
Puluhan menit berlalu, aku berhasil membuka buku yang dibungkus plastik dan diplester. Buku yang dimanja plastik, yang ikut berdosa bila menghancurkan Bumi. Malam itu aku sengaja mendengarkan album jazz (Persia). Tubuhku yang lelah ingin pergi jauh oleh pendengaran. Maka, pilihanku adalah jazz rasa Persia. Beberapa hari sebelumnya, aku sengaja menikmati jazz (Spanyol), jazz (Italia), dan jazz (Arab).
Hai, Joko yang bukan Widodo, buku kecilmu berada di tanganku meski yang menyerahkan bukan tanganmu. Aku membayangkan tanganmu malu padaku. Malam itu tanganmu mungkin sedang mengetik esai atau memegang buku-buku yang bikin sesak kamar di Kleco. Dirimu memang intelektual yang tangguh, yang tidak membiarkan tangan hanya untuk rokok atau ponsel. Buktinya, ada buku kecil berjudul Alam Semesta dan Kebudayaan Berpengetahuan yang diterbitkan Press Mesin, 2025.
Buku enteng, bobotnya tidak sampai 1 kg. Aku mula-mula hanya memegang dan melihat beberapa halaman. Aku taruh bukumu di meja agar ikut mendengarkan jazz (Persia). Tanganku harus segera menyapu dan mengepel lapangan agar jamaah yang baru datang bergembira main bulutangkis. Tanganku yang kotor akhirnya berhasil membaca bukumu. Mataku memerlukan sorotan senter ponsel untuk memastikan kata-kata yang terbaca tidak salah.
Wah, buku yang menghibur! Namun, aku agak bingung: buku itu datang bareng seplastik beras. Dirimu takut aku kelaparan? Jadi, beras membuatku percaya besok bisa makan. Malam itu aku makan buku, belum makan nasi yang berasal dari pemberianmu. Nah, makan bukumu sedikit membuatku tertawa.
Joko Priyno, nama yang biasa tercetak di majalah Tempo dan Kompas, membuat buku yang bertema berat tapi daftar pustakanya ecek-ecek.

Seharusnya, buku itu dirimu hadiahkan kepada Prabowo Subianto yang bertambah umur. Jumat itu milik Presiden RI yang membuat seribu perintah untuk Indonesia yang linglung. Usulan lain adalah mengirimkan buku kepada Fadli Zon, yang sembrono membuat peringatan Hari Kebudayaan. Jadi, aku membaca bukumu bertepatan ulang tahun Prabowo Subianto dan perwujudan kebijakan Fadli Zon. Hari yang parah agar aku mengakui bukumu bermutu ketimbang buku-buku bertema sains terbitan KPG.
Halaman-halaman awal berisi kutipan dari buku cerita anak. Kurang ajar! Dirimu yang mengamati sains mulai percaya bahwa sastra anak adalah referensi penting, bukan cuma buku-buku berbahasa Inggris yang terbit di Amerika Serikat atau Eropa. Masalah planet, makhluk, dan Bumi yang ada dalam cerita gubahan Zubir Mukti dirimu tafsirkan dengan luwes agar pembaca memasalahkan manusia. Makhluk yang kadang berkuasa. Pada situasi lain, manusia itu bodoh dan bedebah. Aku senang dirimu mau berpihak cerita anak saat membabar sains dan kebudayaan. Buku itu dirimu beli 5 ribu rupiah di Gladag, Solo? Buku murahan tapi derajatnya tinggi gara-gara pemikiranmu.
Duh, Jok, aku terkecing-kencing membaca kalimatmu: “Kita terjerembab pada formalitas tanpa substansi dalam memaknai demokrasi.” Kalimat yang konyol. Istilah-istilah yang menyiksa pikiran. Aku menutup bukumu, berlari ke toilet. Aku ingin mengencingi kalimatmu!
Seharian, aku berada di GOR Badminton (Blulukan), kebanyakan minum. Konon, hawa di Indonesia sedang ganas-ganasnya. Aku minum banyak berakibat sering dolan ke toilet. Eh, kalimatmu menambahi masalah sehingga aku terpaksa ke toilet.
Bagaimana kalimat itu bisa dibuat di Kleco? Apakah saat mengetik ada truk bobrok yang lewat jalan yang lebih tinggi dari kamarmu? Dirimu memang sudah saatnya paham dan mahir menggunakan istilah-istilah menyeramkan dalam esai. Aku saja yang terlambat mengetahui dan ikhlas menerimanya.
Wahai, Joko Priyono yang pinter dan berkumis, aku suka dengan usahamu mengingatkan pembaca tentang peran Joko Widodo, yang seolah-olah berpihak sains. Dugaanku dirimu membuat kalimat setelah berhasil menghabiskan 6 batang rokok: “Ia beberapa kali menghadirkan diri pada masyarakat, tak terkecuali ke kalangan anak-anak dengan stimulus hadiah sepeda bagi yang mampu menyebutkan sepuluh nama ikan.” Bagimu itu tema yang penting banget dipikirkan demi kemuliaan Indonesia, bukan kesaktian Joko Widodo.
Yang sakti adalah dirimu! Di kamarmu, ada buku yang berjudul Memelihara Ikan (1984) garapan Meta Candra Satia, yang dirimu gunakan membahasa ikan, manusia, sains, kekuasaan, dan alam semesta. Dirimu tidak salah pilih buku atau salah baca buku. Jutaan orang Indonesia memang harus disadarkan agar paham ilmu ikan, bukan cuma makan pelbagai ikan di warung atau restoran. Oh, bukumu itu tidak bisa digoreng untuk dimakan bareng nasi!

Bukumu sementara ditutup lagi. Aku harus menunaikan kerja yang membuat keringat membasahi tubuh dan kaos. Bau tubuhku sudah kecut dan menyengat. Seharian tidak mandi! Malam itu aku masih meladeni jamaah-jamaah badminton yang berdatangan.
Sialnya, di lapangan sisi utara, aku melihat kaum muda yang berlagak intelektual sedang bermain bulutangkis selama dua jam sambil teriak-teriak dan ketawa-ketiwi. Di pinggir lapangan, aku melihat lelaki yang membaca bukumu. Aku berharap ia mencret setelah khatam bukumu. Ia akan tersiksa gaya bahasamu dan rentetan pemikiranmu yang mirip gerakan kodok. Beruntunglah, ia membaca sejenak saja. Di tangannya, tersisa rokok.
Ada lagi lelaki yang duduk di pinggiran membaca novel Isabel Allende. Lelaki bersepatu dan berkacamata yang ingin bisa menulis kritik sastra. Malam itu ia bersemangat memegang raket. Selingannya memegang buku dan gorengan. Dua lelaki yang salah tempat untuk membaca buku. Mereka itu temanmu yang belum sakti tapi aku percaya seratus tahun lagi mereka bakal menjadi intelektual tangguh di Indonesia bila masih ada.
Malam bertambah malam. Aku mengantuk tapi kerja belum selesai. Duduk di luar sambil memejamkan mata, aku mendengarkan lagu-lagu asmara. Telingaku kedatangan lagu-lagu: Satu-Satunya Cinta (Mahadewi), Simfoni Hitam (Sherina), Jadi Aku Sebentar Saja (Judika), Janji di Atas Ingkar (Audy), Penipu Hati (Tata Janeta), Aku Lelakimu (Virzha), Mendua (Astrid), dan lain-lain.
Deretan lagu bukan seleramu, Jok. Bila mau dengarkan saja lagu-lagunya Koil, Pas, atau Burgerkil. Eh, dirimu semestinta mendengar lagu yang berjudul “Jengah”. Bukumu yang aku baca apik tapi kurang ada lagu-lagunya. Pastinya telingamu tidak sedang kopok, yang abai lagu-lagu.
Jok, aku masih mengantuk meski dihajar beberapa lagu. Akhirnya, aku membuka bukumu kembali. Aku bisa sedikit tertawa mengetahui dirimu menggunakan buku berjudul Buah-Buahan yang Lezat dan Menyegarkan (1976). Kecewa! Dirimu tidak mengaitkannya dengan menu untuk makan bergizi gratis yang diselenggarakan rezim Prabowo-Gibran. Dirimu hanya membahas kota, desa, pangan, dan sains. Oh, tulisanmu memang sudah agak lama tapi terbit setelah gegeran makan bergizi gratis.
Malam yang capek. Jok, yang membuat capek bukan bukumu. Aku justru gembira mengetahui keberanianmu membuat tulisan panjang yang disahkan sebagai buku. Aku merasa tidak sia-sia membaca bukumu yang sampulnya bergambar ikan berkepala manusia. Lucu! Bukumu bakal bercampur ribuan buku di rumahku yang makin berantakan.
Duh, aku berdoa kelak bukumu tidak mendapat tetesan hujan atau dihancurkan tikus. Bukumu harus aku bungkus dengan selusin plastik agar selamat dari debu atau rayap. [] Kabut
