Cerpen

Tiang Rumah

Cerpen Erna Surya

Ibu selalu berbicara hal-hal yang acak. Kadang ia menggumam seperti tukang ramal yang baru bangun tidur, kadang suaranya lirih seperti doa orang lapar, kadang ledakannya membuat kami semua menoleh dengan ngeri. Dari mulutnya, suatu kali keluar kalimat yang tak pernah bisa hilang dari telingaku:

“Suatu saat, tiang di rumah ini akan ambruk. Bukan karena kayunya rapuh. Tapi karena pertengkaran kalian.”

Kami semua terdiam waktu itu. Bapak mendengus, kakak perempuanku pura-pura sibuk mengaduk teh, adikku malah cekikikan seolah ibu sedang melucu. Aku sendiri hanya menatap tiang kayu jati di ruang tengah. Tinggi, kokoh, sudah berdiri lebih dari empat puluh tahun. Tiang itu dulu dibeli bapak dari hasil menabung setahun. Konon, kayu jatinya diambil dari hutan yang dikeramatkan. Kata tetua desa, kalau tiang itu roboh, bukan hanya rumah yang hancur, tapi juga keluarga.

Sejak ibu mengucapkan kalimat itu, aku selalu membayangkan tiang tersebut tumbang pelan-pelan, menghantam meja makan, menimpa tubuh salah satu dari kami. Siapa? Aku tidak tahu. Tapi aku percaya, ibu tidak sedang bercanda.

Di keluarga kami, ibu memang seperti radio rusak yang sesekali memutarkan lagu jernih. Kebanyakan kata-katanya membingungkan. Kadang ia mengoceh tentang kucing tetangga yang bisa bicara bahasa Belanda, kadang ia menyuruh kami menyiapkan piring tambahan di meja makan karena katanya “ada tamu tak kasat mata.” Tapi di antara semua keanehan itu, selalu ada satu-dua kalimat yang terasa seperti nubuat.

Contohnya, tiga tahun lalu ia berkata: “Jangan simpan uang di bawah kasur, nanti tikus datang.” Bapak menertawakan. Seminggu kemudian, benar saja, uang tabungan yang disembunyikan di bawah kasur digerogoti tikus sampai sobek tak karuan.

Atau ketika ibu berkata: “Hati-hati sama air sumur, ada yang menunggu di sana.” Besoknya, seorang tetangga ditemukan meninggal setelah tercebur ke sumur.

Kami mulai belajar, di antara ribuan kata acak yang ia keluarkan, selalu ada yang jadi kenyataan. Itu sebabnya kalimat tentang tiang rumah yang akan ambruk membuatku resah.

Keresahan itu makin jadi ketika bapak mulai sakit-sakitan. Jantungnya lemah, tensinya naik-turun. Di rumah, kami sudah mulai membicarakan warisan: sawah yang tinggal secuil, rumah dengan tiang jati itu, dan perhiasan emas ibu yang katanya dulu hadiah dari kakek.

Warisan memang seperti gula untuk semut-semut lapar. Baru disebut saja, semua sudah saling menatap penuh curiga.

Kakakku, Sari, dengan terang-terangan bilang rumah ini harus jadi miliknya karena ia anak sulung. Adikku, Jono, bilang sawah itu haknya karena dia yang mau bertani, sementara aku—yang kebetulan kerja sebagai guru di kota—dituduh sudah punya penghasilan sendiri sehingga tak boleh kebagian apa-apa.

Aku tersenyum getir. Bukankah rumah ini juga tempat aku lahir? Bukankah tiang jati itu juga saksi bagaimana aku belajar merangkak, jatuh, berdiri lagi?

Tapi aku tidak berkata apa-apa.

Ibu hanya duduk di kursi rotan, rambutnya berantakan, sambil bergumam: Tiang itu. tiang itu.”

Malam itu, aku bermimpi buruk. Aku melihat tiang rumah kami benar-benar roboh. Bukan karena rayap, bukan karena angin, tapi karena tangan-tangan kami sendiri yang mendorongnya sambil berteriak soal warisan.

Aku terbangun dengan keringat dingin. Dari ruang tengah, terdengar suara ibu masih bergumam. Suaranya pelan, tapi jelas:

Tiang itu akan memilih, siapa yang harus dikorbankan.”

Pagi berikutnya, bapak jatuh pingsan saat hendak berangkat ke mushola. Rumah jadi riuh. Kami berlari ke sana kemari mencari bantuan. Ambulans datang terlambat, seperti biasa. Di rumah sakit, dokter berkata kondisi bapak kritis. “Jantungnya sudah lemah. Siapkan mental,” katanya dingin.

Berita itu seperti bel berbunyi: saatnya warisan dibicarakan serius.

“Kalau bapak nggak ada, rumah ini jelas jadi hakku,” kata Sari dengan suara bergetar, tapi matanya penuh bara. “Enak saja! Rumah bisa dijual, uangnya dibagi tiga. Aku butuh modal buat buka toko pupuk,” bantah Jono. Aku hanya duduk di ruang tunggu, memijit pelipis. Di antara isak tangis dan doa, aroma rebutan harta tercium lebih pekat dari bau obat-obatan rumah sakit.

Ibu tiba-tiba berteriak. “Tiang itu akan roboh! Kalian dengar? Tiang itu!”

Orang-orang di ruang tunggu menoleh. Sari buru-buru memeluk ibu, seolah ingin menutup mulutnya. Tapi aku tahu, kata-kata itu menggema di kepala kami semua.

Bapak meninggal tiga hari kemudian. Jenazahnya disemayamkan di ruang tengah, tepat di bawah tiang jati itu. Aku memandang tiang itu lama sekali. Seperti ada sesuatu yang berdenyut dari dalam kayunya.

Di sela doa, aku mendengar bisik-bisik Sari dan Jono. Tentang sertifikat rumah, tentang surat tanah, tentang emas ibu.

Ibu duduk di samping jenazah bapak, sesekali tertawa kecil, lalu tiba-tiba menangis. “Tiang itu akan roboh. Satu demi satu akan tertimpa. Tidak ada yang selamat,” katanya lirih.

Orang-orang menyebut ibu sudah tidak waras karena ditinggal bapak. Tapi aku merasa justru ia sedang paling waras di antara kami semua.

Setelah tujuh hari bapak dikuburkan, pertengkaran pecah. Di ruang tengah, di bawah tiang itu, kami bertiga saling berteriak.

Sari menuntut rumah. Jono menuntut sawah. Aku menuntut keadilan. Suara kami saling tindih seperti ayam jantan adu tarung.

Ibu menatap dari kursi rotan. Wajahnya pucat, matanya kosong.

“Kalau kalian rebutan, biar aku saja yang robohkan tiang itu,” katanya tiba-tiba.

Kami menoleh bersamaan. Ibu bangkit, berjalan gontai, lalu memeluk tiang jati itu. Tangannya meraba permukaan kayu seperti meraba tubuh orang yang sangat ia cintai. “Tiang ini sudah mendengar semua rahasia kita. Ia lebih tahu siapa yang berhak atas rumah ini daripada kalian.”

Jono menertawakan. “Bu, tiang itu cuma kayu. Bukan hakim.”
Sari menggeleng. “Sudah, jangan layani omong kosongnya.”

Aku tetap diam. Tapi entah kenapa, kata-kata ibu membuat punggungku merinding.

Hari-hari berikutnya, pertengkaran makin panas. Sari diam-diam mengurus akta tanah. Jono mulai menjual padi hasil panen tanpa sepengetahuan kami. Aku hanya menatap mereka dengan getir, lalu pulang ke kota dengan kepala pening.

Suatu malam, telepon berdering. Sari histeris di seberang. “Ibu jatuh! Dari kursi rotan! Kepalanya berdarah!”

Aku buru-buru pulang. Rumah ramai oleh tetangga. Di ruang tengah, kulihat ibu terbaring di lantai, tepat di bawah tiang jati.

“Dia tadi bicara sendiri, lalu tiba-tiba roboh,” kata salah satu tetangga.

Aku melihat wajah ibu pucat, bibirnya bergerak-gerak. Aku mendekat. Dengan napas tersengal, ia berbisik: Tiang itu sudah memilih. Tinggal menunggu waktu.”

Ibu selamat. Luka di kepalanya dijahit. Tapi sejak itu ia hanya bisa berbaring di kamar. Suaranya makin acak, tapi selalu kembali ke satu hal: tiang yang akan roboh.

Sementara itu, pertengkaran warisan berubah jadi peperangan. Sari menggembok lemari yang berisi emas ibu. Jono mengancam akan melaporkan Sari ke polisi karena memalsukan tanda tangan bapak. Aku, yang tadinya berusaha netral, akhirnya terseret juga. Aku menuduh mereka serakah, mereka menuduhku munafik.

Rumah itu tidak lagi rumah. Ia seperti gelanggang sabung ayam.

Dan di tengah gelanggang itu, tiang jati berdiri tegak, seolah menunggu saatnya tumbang.

Puncaknya terjadi malam itu.

Aku baru saja tiba dari kota ketika kudengar teriakan. Di ruang tengah, Sari dan Jono berkelahi. Mereka saling tarik rambut, saling dorong. Di meja makan, emas ibu berserakan.

“Aku yang berhak!” teriak Sari. “Emas ini hasil sawah, sawah itu hakku!” balas Jono.

Aku mencoba melerai. Tapi tiba-tiba tubuhku ikut terseret. Kami bertiga bergulat, saling dorong, saling teriak.

Dan entah bagaimana, tubuh kami menghantam tiang jati itu.

Suara retak terdengar. Pelan. Seperti tulang yang patah.

Kami semua terdiam. Tiang itu bergoyang.

“Ibu benar,” bisikku.

Tiang itu benar-benar roboh.

Aku tak pernah bisa melupakan suara kayu jati berderak, lalu tumbang menghantam lantai. Debunya mengepul, lampu gantung berayun, dan suara jeritan bercampur jadi satu.

Sari terjepit. Jono terlempar. Aku sendiri tertatih dengan bahu memar.

Tetangga berdatangan. Mereka menolong, mengangkat tiang, menarik tubuh Sari yang pingsan. Jono berteriak histeris. Aku terduduk, menatap reruntuhan.

Dari kamar, suara ibu terdengar jelas untuk pertama kalinya tanpa acak:
Aku sudah bilang. Tiang itu bukan roboh karena rapuh. Tapi karena kalian.”

Sejak malam itu, rumah benar-benar hancur. Bukan hanya karena tiang roboh, tapi karena keluarga kami pecah. Sari menuntut Jono di pengadilan. Jono menuduh aku yang merobohkan tiang. Aku menuduh mereka berdua penyebab semua ini.

Ibu akhirnya meninggal dua bulan kemudian. Di pemakamannya, hanya ada sedikit pelayat. Orang-orang sudah muak dengan pertengkaran kami.

Dan aku, setiap kali menatap tanah kubur ibu, selalu mendengar bisikannya: Tiang itu sudah memilih.

Kini rumah itu tinggal puing. Sawah sudah dijual. Emas entah di mana. Kami bertiga tak pernah lagi bertemu.

Tapi aku masih sering memimpikan tiang jati itu. Berdiri tegak. Menatapku. Menunggu aku mengaku siapa sebenarnya yang paling serakah di antara kami.

Dan aku selalu terbangun dengan perasaan ngeri: mungkin tiang itu belum benar-benar roboh. Mungkin ia hanya pindah ke dalam tubuh kami masing-masing. Menunggu saatnya kembali ambruk, sekali lagi, untuk menelan habis sisa-sisa keluarga.

___________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.