
Yang pernah belajar bahasa dam sastra di universitas berkenalan nama-nama dari masa silam. Ada yang bisa mengingat tiga atau sebelas nama. Yang diajarkan atau tercatat dalam buku perkuliahan adalah nama-nama besar, yang memberi warisan terpenting dalam perkembangan bahasa dan sastra. Namun, tulisan-tulisan mereka membingungkan bagi orang-orang yang belajar dalam kesadaran (beda) negara.
Satu nama yang mungkin mudah teringat: Abdullah bin Abdul Kadir Munsji. Yang belajar masalah bahasa, sastra, atau sejarah mengetahui namanya, belum dijamin pernah memegang bukunya. Yakinlah hanya sedikit orang yang berani khatam tulisan-tulisan Abdullah bin Abdul Kadir Munsji. Sejak masa 1950-an, buku-bukunya diusahakan terbit di Indonesia tapi pembacanya sedikit saat godaan sastra modern memberi pikat-pikat yang berbeda. Situasinya berbeda dengan buku yang terbit di Malaysia atau Singapura.
Pada suatu masa, tulisan-tulisan Abdullah bin Abdul Kadir Munsji disajikan lagi kepada para pembaca di Indonesia, yang dibuat oleh KPG dan EFEO. Nama peneliti yang memungkinkan munculnya lagi tulisan-tulisn itu minta terbaca dengan pelbagai tambahan keterangan: Amin Sweeney. Buku tiga jilid, yang besar dan tebal. Siapa betah membaca dan sanggup khatam?
Amin Sweeney mengatakan mengenai buku-buku Abdullah bin Abdul Kadir Munsji: “… merupakan warisan kepada seantero alam Melayu, bahkan kepada seluruh bangsa Indonesia. Orang Indonesia memilih bahasa Melayu untuk dikembangkan sebagai bahasa nasional karena bahasa itu telah berabad-abad berfungsi bukan hanya sebagai lingua franca, tetapi juga sebagai khasanah dan penyebar ilmu pengetahuan serba jenis. Bahasa Melayu yang dipilih itu bukan suatu tabula rasa atau medium yang netral dan pasif seperti dibayangkan oleh beberapa sarjana Belanda. Bahasa itu membawa sertas segala pandangan hidup, sistem pengolahan ilmu, dan warisan sesuatu budaya.”

Kita memerlukan kutipan itu membekali saat membaca buku tipis. Yang kita baca adalah buku berjudul Melajoe Oemoem, terbitan Boekhandel Visser & Co, Weltevreden, 1930. Perhatikan tahun terbit! Bayangkan buku itu masih dipelajari setelah ada peristiwa bersejarah: 28 Oktober 1928. Tahun itu terjadi persumpahan bahasa, yang dinamakan bahasa Indonesia. Namun, bahasa Melayu masih ada: diajarkan di sekolah dan mendapat pengakusan secara sosial-politik-kultural. Maka, kita menduga belum ada pengajaran bahasa Indonesia atau pembuatan buku pelajaran bahasa Indonesia setelah 1928 dan masa 1930-an. Jadi, pengajaran bahasa Melayu tetap terselenggara di sekolah-sekolah.
Buku itu sebenarnya selesai disusun pada 1926. Artinya, buku ada duluan sebelum Kongres Pemuda II (1928). Buku disusun oleh tim, yang kita tidak dapat mengetahui nama-namanya. Pada 1930, buku cetak ulang kedua, yang memuat keterangan: “Lain dari pada itoe banjak peribahasa dana pepatah jang koerang oemoem, ditinggalkan, tidak dimasoekkan lagi kedalam tjetakan jang kedoea ini. Setengahnja ada jang diganti dengan jang lebih oemoem.” Apa arti “oemoem” yang tercantum dalam kamus-kamus masa 1920-an dan 1930-an?
Buku pelajaran itu memang ramai dengan petikan-petikan dari sastra lama. Para murid yang belajar bahasa Melayu juga mendapat contoh dari buku-buku terbitan Balai Poestaka masa 1920-an. Yang “modern” mungkin mulai diperlukan dalam pengajaran bahasa Melayu, yang belum dinamakan bahasa Indonesia.

Yang dikutip dari novel (saduran) berjudul Si Djohan dan Djamin agak mudah terbaca oleh kita yang hidup dalam abad XXI: “Pada soeatoe hari, ketika matahari hendak masoek keperadoeannja, hawa jang panaspoen bertoekarlah mendjadi agak sedjoek dan angin jang lemah lemboet bertioep sepoi-sepoi dari arah tenggara, pokok kenari jang besar-besar dengan tingginja, pada kiri kanan djalan besar menggerakkan ranting dan daoen-daoennja ditioep angin itoe gemoelai-gemoelai seolah-olah bersoeka hati karena matahari jang memantjarkan tjahajanja jang panas itoe, soedah hendak terbenam kebalik laoet Djawa jang lebar, dan hawa oedara pada waktoe petang hari itoe sedap dan njaman rasanja.” Yang belajar bahasa memang merasa asyik bila bersumber teks-teks sastra. Kita yang membaca petikan itu dibikin senewen. Peristiwa yang biasa terjadi dibahasakan secara panjang dan indah.
Setelah pemuatan bacaan, para murid diminta mengganti kata-kata. Artinya, ada ajakan belajar sinonim. Bacaan yang indah sengaja diajukan agar murid-murid berani memberi jawaban-jawaban. Yang dicantumkan dalam buku: “Kata peradoean itoe perkataan sehari-harikah? Tahoekan engkau lagi kata-kata jang seperti itoe?” Pada masa sekarang. “peradoean” atau “peraduan” masih hidup dalam bahasa Indonesia. Kita kadang tanpa sadar menggunakannya mirip dengan apa yang ada dalam bacaan di buku berjudul Melajoe Oemoem. Selanjutnya, ada pertanyaan: “Perkataan istirahat itoe perkataan apakah itoe? Tahoekah poela engkau beberapa perkataan Arab jang lain jang terpakai dalam bahasa Melajoe?”

Kita sekarang membaca kutipan yang diambil dari Hikajat Abdoellah. Bacaan lama yang memerlukan kecermatan: “Sejogianja bahwa mengabil ibarat kiranja, hai saudarakoe jang berboedi, akan segala perkara jang amat dahsjat jang terseboet itoe. Akan mendjadi soeatoe peringatanlah bagi segala orang jang hendak mentjari orang kepertjajaan dan jang boleh tempat diharap lagi amanat. Maka adalah perkara jang demikian itoe mahal dibeli soekar ditjari pada zaman ini.” Belajar bahasa, belajar “jang sama atau bersamaan” artinja. Bahasa Melajoe pada masa lalu menampilkan kata-kata yang berasal atau dipengaruhi dari bahasa Arab.
Yang kita baca adalah buku yang terbit pada 1930. Bahasa Indonesia sudah ada tapi yang dipelajri murid-murid adalah bahasa Melayu. Artinya, bahasa Indonesia adalah penamaan bagi yang berkesadaran politik dan kebudayaan “baroe”. Kaum muda itu masih menantikan waktu yang lama agar terjadi pengajaran bahasa Indonesia di sekolah.
Situasi masa 1920-an dan 1930-an mungkin mengandung kebingungan dan perselihan bagi yang menyebut bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Pada akhirnya, sebutan bahasa Indonesia makin dipentingkan dan kuat saat masa pendudukan balatentara Jepang: 1942.
____________________
Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.
