Charles Dickens

Aku belum sempat menatap miniatur itu, yang masih terkurung di dalam loket perak, ketika sosok itu beringsut di antara kami. Ia membelah ruang dan daging manusia, mengambil tempat di antara aku dan juri di sebelahku. Ia meneruskan benda itu, dan dari tangan ke tangan miniatur itu berpindah, berputar melewati dua belas orang kami, lalu entah bagaimana kembali lagi ke tanganku.
Dan anehnya, tak seorang pun dari mereka menyadarinya. Mereka memandang ke depan dengan wajah letih dan mata beku, seolah tidak ada hantu yang barusan menyentuh mereka.
Di meja makan, dan hampir setiap kali kami terkurung bersama di bawah penjagaan Tuan Harker, kami, dua belas orang juri, selalu saja membicarakan jalannya persidangan hari itu. Sejak hari pertama, percakapan kami berputar-putar di sekitar bukti, saksi, dan dugaan, seperti roda gerobak tua di jalan berlumpur.
Namun pada hari kelima, ketika pihak penuntut menutup kasusnya dan segala perkara terbuka jelas di hadapan kami, suasana pembicaraan menjadi lebih berat, lebih serius, dan lebih panas.
Di antara kami ada seorang anggota dewan gereja, makhluk paling dungu yang pernah dibiarkan berkeliaran di muka bumi. Ia menentang bukti yang paling jelas dengan keberatan yang paling tolol. Ia didukung pula oleh dua parasit paroki yang lembek dan berminyak wajahnya, seperti roti yang tengik. Ketiganya berasal dari sebuah distrik yang begitu akrab dengan Demam dan Kematian, hingga semestinya merekalah yang diadili atas lima ratus pembunuhan yang tak kasatmata.
Malam itu, menjelang tengah malam, ketika beberapa dari kami sudah menyiapkan diri untuk tidur dan ketiga orang itu berdebat seperti tiga lonceng rusak yang bersahut-sahutan, aku melihatnya lagi. Ya, lelaki yang dibunuh itu berdiri di belakang mereka, diam dan kelam, memanggilku dengan isyarat jarinya yang dingin.
Aku berdiri, mendekat, pura-pura ikut dalam perdebatan mereka, dan seketika itu juga sosok itu menghilang, seperti asap yang disapu oleh napas Tuhan.
Sejak saat itulah muncul serangkaian penampakan baru, yang hanya terjadi di ruangan panjang tempat kami dikurung itu. Setiap kali sekelompok juri menundukkan kepala, berbisik-bisik menyusun penilaian, kepala si terbunuh muncul di antara mereka.
Setiap kali mereka bersepakat bahwa si terdakwa bersalah, ia—sang arwah—menatapku dalam-dalam, dan dengan gerak tangannya yang berat, memanggilku lagi, seperti seseorang yang memohon agar kebenaran tak dikubur bersama tubuhnya.
Perlu diingat, hingga munculnya miniatur pada hari kelima persidangan itu, aku tak pernah melihat sosok itu di ruang sidang. Tapi ketika sidang beralih ke pihak pembela, tiga perubahan terjadi. Dua di antaranya akan segera kuceritakan.
Pertama, sosok itu kini selalu hadir di pengadilan. Ia tak lagi muncul sesekali seperti kabut yang datang dan pergi; ia menetap di ruang itu, mendengarkan, menatap, menyelidik, seolah turut menimbang perkara di dalam pikirannya yang tak lagi dimiliki dunia.
Kedua, ia tak lagi menoleh padaku seperti sebelumnya, tapi mengarah sepenuhnya pada orang yang berbicara. Ketika seorang pengacara pembela berdiri dan menyatakan bahwa si terbunuh mungkin telah menggorok lehernya sendiri, sosok itu muncul di sampingnya. Lehernya terbelah lurus, menganga seperti celah pada bumi setelah gempa.
Dengan tangan kanan, lalu kiri, ia menyayat udara berulang-ulang di lehernya sendiri, memberi isyarat getir yang berarti bahwa tidak mungkin manusia hidup menggores dirinya sedalam ini. Darah tak lagi menetes dari luka itu, tapi udara di sekitarnya terasa seolah berbau besi dan takut.
Lalu ketika seorang saksi perempuan berdiri—seorang yang menyatakan bahwa terdakwa adalah “manusia paling lembut dan penuh kasih di dunia”—sosok itu melangkah ke depannya.
Ia berdiri tepat di bawah cahaya gas yang berkedip redup, menatap wajah perempuan itu dalam-dalam, dan dengan tangan panjangnya yang pucat seperti malam di bawah bulan, menuding wajah si terdakwa. Seolah ingin berkata tanpa suara, “Lihatlah baik-baik. Wajah kebaikan itu telah menenggelamkanku dalam darah.”
Perubahan ketiga inilah—yang paling dalam, paling menggetarkan di antara semuanya. Aku tidak hendak menafsirkan, apalagi menenun teori dari kabut. Aku hanya akan menyampaikan sebagaimana adanya, dan biarlah misterinya berdiri sendiri, seperti batu nisan tanpa nama di tengah kabut London.
Meski sosok itu tak pernah tampak bagi orang-orang yang disapanya, kehadirannya selalu meninggalkan getar, sebuah kegelisahan samar yang menyeret bayangan ke wajah siapa pun yang disentuhnya. Seolah ada hukum alam yang menghalangi dirinya menampakkan diri secara penuh, namun tak sanggup mencegahnya menyelimuti jiwa manusia dengan kehadiran yang sunyi dan gelap.
Ketika pengacara pembela mengajukan gagasan bahwa korban mungkin bunuh diri, Sosok itu berdiri di sampingnya. Lehernya masih terbuka, mengiris udara seperti gergaji yang kesakitan. Pengacara itu tiba-tiba terhenti. Ucapannya patah. Tangan gemetarnya mengusap peluh di dahi, dan wajahnya memucat seperti kertas pengadilan yang belum ditulisi kesaksian.
Begitu pula dengan saksi perempuan—ia yang menyebut si terdakwa sebagai lelaki paling suci. Ketika Sosok itu menatapnya dan mengarahkan jarinya ke wajah si terdakwa, mata perempuan itu mengikuti isyarat itu dengan ragu dan ngeri yang tak bisa disembunyikan.
Ada dua kejadian lain yang menegaskan semua itu. Pada hari kedelapan persidangan, setelah jeda makan siang, aku dan sebelas juri lainnya kembali ke ruang sidang lebih awal. Aku berdiri, memandang ke sekeliling, dan sempat mengira Sosok itu tidak hadir hari itu—sampai mataku terangkat ke arah galeri. Di sana ia berdiri, membungkuk di atas bahu seorang perempuan sederhana, seolah ingin memastikan apakah para hakim sudah kembali ke kursinya atau belum.
Perempuan itu menjerit keras, lalu pingsan, digotong keluar seperti boneka kain yang kehilangan jiwanya.
Dan ketika akhirnya Hakim Tua—yang bijak dan sabar itu—mulai membacakan simpulan persidangan, Sosok itu muncul dari pintu khusus para hakim. Ia mendekati meja tinggi itu, menunduk, menatap penuh dahaga pada catatan-catatan yang tengah dibalik satu per satu.
Wajah sang hakim berubah. Tangannya berhenti menulis. Getaran dingin—yang sudah kukenal dengan ngeri—menyusuri tubuhnya. Ia tergagap, suaranya parau seperti keluar dari kabut: “Maafkan saya, Tuan-tuan… udara di sini terasa menyesakkan.”
Setelah meneguk segelas air, warna pipinya kembali. Tapi aku tahu, bukan udara yang mencekiknya, melainkan tatapan kematian yang berdiri di belakang bahunya.
Selama enam dari sepuluh hari yang seolah tak berujung itu, segala sesuatu membeku dalam kebiasaan yang menjemukan. Para hakim yang sama duduk di bangku tinggi mereka; si pembunuh yang sama berdiri di kandang terdakwa; para pengacara yang sama mengatur berkas dan memelintir kalimat; suara tanya dan jawab yang sama bergema di langit-langit ruang sidang, mengulang diri seperti gema yang kehilangan arah.
Tiap hari pena hakim mencakar kertas dengan suara serupa gerit tulang; para juru sidang datang dan pergi dengan langkah yang sama; lampu-lampu dinyalakan di jam yang sama saat sinar matahari menyerah pada kabut yang menempel di jendela-jendela besar; hujan menetes dengan ritme yang sama; kunci berputar dalam lubang yang sama; pintu berat itu terbuka dan tertutup dengan keluhan besi yang sama.
Semua itu—keseragaman yang beku dan menekan—membuatku merasa seakan telah menjadi Ketua Juri sejak zaman Babilonia berdiri di tepi Piccadilly. Waktu terasa lumpuh; setiap napas hanyalah pengulangan dari napas kemarin.
Namun di tengah kebosanan yang menjemukan itu, sosok si terbunuh tak pernah memudar. Ia tetap sejelas cahaya lilin di ruang penuh kabut, sama nyatanya dengan siapa pun di hadapanku. Ia tidak pernah menghilang, tidak pernah menjadi bayang samar di pinggir kesadaranku.
Dan ada satu hal yang selalu kucatat dengan gentar: tak sekalipun aku melihat sosok itu menatap ke arah si pembunuh. Berkali-kali aku bertanya dalam hati, “Mengapa tidak? Mengapa matanya tak menusuk wajah orang yang telah mengakhiri hidupnya?”
Namun ia tak pernah melakukannya.
Seolah dalam diamnya, tersimpan rahasia yang bahkan maut sendiri tak sanggup mengucapkannya. Ia pun tak pernah lagi menatapku—sejak miniatur itu dihadirkan—hingga saat-saat terakhir dari pengadilan panjang dan melelahkan itu tiba.
Kami, dua belas orang juri yang nyaris kehilangan rasa waktu, diperintahkan untuk berunding pada pukul sembilan lewat tiga menit malam. Namun si penjaga gereja yang dungu itu—beserta dua parasit parokinya—membuat kami tersiksa seperti roh-roh yang tersesat di lingkaran api. Dua kali kami harus kembali ke ruang sidang, memohon agar catatan hakim dibacakan ulang.
Sembilan di antara kami tak sedikit pun meragukan makna catatan-catatan itu—bahkan kurasa tak seorang pun di pengadilan meragukannya—namun tiga orang tolol itu, yang hanya mengenal keonaran, terus bersikeras menentang karena mereka tak tahu apa lagi yang harus mereka lakukan.
Akhirnya kami menang. Pada pukul dua belas lewat sepuluh malam, kami kembali memasuki ruang sidang. Dan di sanalah ia—si terbunuh itu—berdiri tepat di seberang kotak juri, memandang lurus ke arah kami. Ketika aku duduk, mata itu menancap padaku dengan kesungguhan yang menggetarkan, seolah menakar segala yang telah terjadi.
Ia tampak puas—atau mungkin lega—lalu dengan gerakan perlahan ia mengangkat sebuah tirai kelabu besar yang menggantung di lengannya. Dengan lirih dan khidmat, ia menyelubungi dirinya dari kepala hingga kaki.
Dan ketika aku menyerahkan putusan kami—“Bersalah.” Tirai itu runtuh. Ia lenyap tanpa jejak. Ruang tempatnya berdiri menjadi hampa.
Hakim, dengan suara resmi yang menua di udara malam, bertanya kepada terdakwa apakah ia ingin mengatakan sesuatu sebelum hukuman mati dijatuhkan. Lelaki itu bergumam tak jelas—kata-katanya terputus, separuh tergelincir dari akal sehatnya.
Keesokan harinya, surat kabar besar menulis bahwa ia mengeluh karena merasa tidak diadili secara adil; katanya, ketua juri telah memusuhinya sejak awal.
Namun apa yang sesungguhnya diucapkannya malam itu—kata-kata yang menembus tulang dan membuatku menggigil—adalah ini:
“Yang Mulia, aku tahu aku sudah ditakdirkan mati, sejak ketua juri itu melangkah masuk ke kotak tempatnya duduk. Yang Mulia, aku tahu ia tak akan pernah melepaskanku, karena sebelum aku ditangkap, entah bagaimana, ia telah datang ke sisi ranjangku di tengah malam, membangunkanku, dan menjeratkan tali ke leherku.”
____________________
Judul asli: The Trial for Murder

Penulis: Charles John Huffam Dickens (7 Februari 1812 – 9 Juni 1870). Penulis roman ternama dari Inggris.Penulis yang terkenal dan terbaik pada era Victorian. Selain itu ia juga seseorang yang aktif melakukan perkerjaan sosial.
_____________________

Penerjemah: Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.



