Terjemahan

Sidang Pembunuhan (3. Terakhir)

Charles Dickens

Aku belum sempat menatap miniatur itu, yang masih terkurung di dalam loket perak, ketika sosok itu beringsut di antara kami. Ia membelah ruang dan daging manusia, mengambil tempat di antara aku dan juri di sebelahku. Ia meneruskan benda itu, dan dari tangan ke tangan miniatur itu berpindah, berputar melewati dua belas orang kami, lalu entah bagaimana kembali lagi ke tanganku.

Dan anehnya, tak seorang pun dari mereka menyadarinya. Mereka memandang ke depan dengan wajah letih dan mata beku, seolah tidak ada hantu yang barusan menyentuh mereka.

Di meja makan, dan hampir setiap kali kami terkurung bersama di bawah penjagaan Tuan Harker, kami, dua belas orang juri, selalu saja membicarakan jalannya persidangan hari itu. Sejak hari pertama, percakapan kami berputar-putar di sekitar bukti, saksi, dan dugaan, seperti roda gerobak tua di jalan berlumpur.

Namun pada hari kelima, ketika pihak penuntut menutup kasusnya dan segala perkara terbuka jelas di hadapan kami, suasana pembicaraan menjadi lebih berat, lebih serius, dan lebih panas.

Di antara kami ada seorang anggota dewan gereja, makhluk paling dungu yang pernah dibiarkan berkeliaran di muka bumi. Ia menentang bukti yang paling jelas dengan keberatan yang paling tolol. Ia didukung pula oleh dua parasit paroki yang lembek dan berminyak wajahnya, seperti roti yang tengik. Ketiganya berasal dari sebuah distrik yang begitu akrab dengan Demam dan Kematian, hingga semestinya merekalah yang diadili atas lima ratus pembunuhan yang tak kasatmata.

Malam itu, menjelang tengah malam, ketika beberapa dari kami sudah menyiapkan diri untuk tidur dan ketiga orang itu berdebat seperti tiga lonceng rusak yang bersahut-sahutan, aku melihatnya lagi. Ya, lelaki yang dibunuh itu berdiri di belakang mereka, diam dan kelam, memanggilku dengan isyarat jarinya yang dingin.

Aku berdiri, mendekat, pura-pura ikut dalam perdebatan mereka, dan seketika itu juga sosok itu menghilang, seperti asap yang disapu oleh napas Tuhan.

Sejak saat itulah muncul serangkaian penampakan baru, yang hanya terjadi di ruangan panjang tempat kami dikurung itu. Setiap kali sekelompok juri menundukkan kepala, berbisik-bisik menyusun penilaian, kepala si terbunuh muncul di antara mereka.

Setiap kali mereka bersepakat bahwa si terdakwa bersalah, ia—sang arwah—menatapku dalam-dalam, dan dengan gerak tangannya yang berat, memanggilku lagi, seperti seseorang yang memohon agar kebenaran tak dikubur bersama tubuhnya.

Perlu diingat, hingga munculnya miniatur pada hari kelima persidangan itu, aku tak pernah melihat sosok itu di ruang sidang. Tapi ketika sidang beralih ke pihak pembela, tiga perubahan terjadi. Dua di antaranya akan segera kuceritakan.

Pertama, sosok itu kini selalu hadir di pengadilan. Ia tak lagi muncul sesekali seperti kabut yang datang dan pergi; ia menetap di ruang itu, mendengarkan, menatap, menyelidik, seolah turut menimbang perkara di dalam pikirannya yang tak lagi dimiliki dunia.

Kedua, ia tak lagi menoleh padaku seperti sebelumnya, tapi mengarah sepenuhnya pada orang yang berbicara. Ketika seorang pengacara pembela berdiri dan menyatakan bahwa si terbunuh mungkin telah menggorok lehernya sendiri, sosok itu muncul di sampingnya. Lehernya terbelah lurus, menganga seperti celah pada bumi setelah gempa.

Dengan tangan kanan, lalu kiri, ia menyayat udara berulang-ulang di lehernya sendiri, memberi isyarat getir yang berarti bahwa tidak mungkin manusia hidup menggores dirinya sedalam ini. Darah tak lagi menetes dari luka itu, tapi udara di sekitarnya terasa seolah berbau besi dan takut.

Lalu ketika seorang saksi perempuan berdiri—seorang yang menyatakan bahwa terdakwa adalah “manusia paling lembut dan penuh kasih di dunia”—sosok itu melangkah ke depannya.

Ia berdiri tepat di bawah cahaya gas yang berkedip redup, menatap wajah perempuan itu dalam-dalam, dan dengan tangan panjangnya yang pucat seperti malam di bawah bulan, menuding wajah si terdakwa. Seolah ingin berkata tanpa suara, “Lihatlah baik-baik. Wajah kebaikan itu telah menenggelamkanku dalam darah.”

Perubahan ketiga inilah—yang paling dalam, paling menggetarkan di antara semuanya. Aku tidak hendak menafsirkan, apalagi menenun teori dari kabut. Aku hanya akan menyampaikan sebagaimana adanya, dan biarlah misterinya berdiri sendiri, seperti batu nisan tanpa nama di tengah kabut London.

Meski sosok itu tak pernah tampak bagi orang-orang yang disapanya, kehadirannya selalu meninggalkan getar, sebuah kegelisahan samar yang menyeret bayangan ke wajah siapa pun yang disentuhnya. Seolah ada hukum alam yang menghalangi dirinya menampakkan diri secara penuh, namun tak sanggup mencegahnya menyelimuti jiwa manusia dengan kehadiran yang sunyi dan gelap.

Ketika pengacara pembela mengajukan gagasan bahwa korban mungkin bunuh diri, Sosok itu berdiri di sampingnya. Lehernya masih terbuka, mengiris udara seperti gergaji yang kesakitan. Pengacara itu tiba-tiba terhenti. Ucapannya patah. Tangan gemetarnya mengusap peluh di dahi, dan wajahnya memucat seperti kertas pengadilan yang belum ditulisi kesaksian.

Begitu pula dengan saksi perempuan—ia yang menyebut si terdakwa sebagai lelaki paling suci. Ketika Sosok itu menatapnya dan mengarahkan jarinya ke wajah si terdakwa, mata perempuan itu mengikuti isyarat itu dengan ragu dan ngeri yang tak bisa disembunyikan.

Ada dua kejadian lain yang menegaskan semua itu. Pada hari kedelapan persidangan, setelah jeda makan siang, aku dan sebelas juri lainnya kembali ke ruang sidang lebih awal. Aku berdiri, memandang ke sekeliling, dan sempat mengira Sosok itu tidak hadir hari itu—sampai mataku terangkat ke arah galeri. Di sana ia berdiri, membungkuk di atas bahu seorang perempuan sederhana, seolah ingin memastikan apakah para hakim sudah kembali ke kursinya atau belum.

Perempuan itu menjerit keras, lalu pingsan, digotong keluar seperti boneka kain yang kehilangan jiwanya.

Dan ketika akhirnya Hakim Tua—yang bijak dan sabar itu—mulai membacakan simpulan persidangan, Sosok itu muncul dari pintu khusus para hakim. Ia mendekati meja tinggi itu, menunduk, menatap penuh dahaga pada catatan-catatan yang tengah dibalik satu per satu.

Wajah sang hakim berubah. Tangannya berhenti menulis. Getaran dingin—yang sudah kukenal dengan ngeri—menyusuri tubuhnya. Ia tergagap, suaranya parau seperti keluar dari kabut: “Maafkan saya, Tuan-tuan… udara di sini terasa menyesakkan.”

Setelah meneguk segelas air, warna pipinya kembali. Tapi aku tahu, bukan udara yang mencekiknya, melainkan tatapan kematian yang berdiri di belakang bahunya.

Selama enam dari sepuluh hari yang seolah tak berujung itu, segala sesuatu membeku dalam kebiasaan yang menjemukan. Para hakim yang sama duduk di bangku tinggi mereka; si pembunuh yang sama berdiri di kandang terdakwa; para pengacara yang sama mengatur berkas dan memelintir kalimat; suara tanya dan jawab yang sama bergema di langit-langit ruang sidang, mengulang diri seperti gema yang kehilangan arah.

Tiap hari pena hakim mencakar kertas dengan suara serupa gerit tulang; para juru sidang datang dan pergi dengan langkah yang sama; lampu-lampu dinyalakan di jam yang sama saat sinar matahari menyerah pada kabut yang menempel di jendela-jendela besar; hujan menetes dengan ritme yang sama; kunci berputar dalam lubang yang sama; pintu berat itu terbuka dan tertutup dengan keluhan besi yang sama.

Semua itu—keseragaman yang beku dan menekan—membuatku merasa seakan telah menjadi Ketua Juri sejak zaman Babilonia berdiri di tepi Piccadilly. Waktu terasa lumpuh; setiap napas hanyalah pengulangan dari napas kemarin.

Namun di tengah kebosanan yang menjemukan itu, sosok si terbunuh tak pernah memudar. Ia tetap sejelas cahaya lilin di ruang penuh kabut, sama nyatanya dengan siapa pun di hadapanku. Ia tidak pernah menghilang, tidak pernah menjadi bayang samar di pinggir kesadaranku.

Dan ada satu hal yang selalu kucatat dengan gentar: tak sekalipun aku melihat sosok itu menatap ke arah si pembunuh. Berkali-kali aku bertanya dalam hati, “Mengapa tidak? Mengapa matanya tak menusuk wajah orang yang telah mengakhiri hidupnya?”
Namun ia tak pernah melakukannya.

Seolah dalam diamnya, tersimpan rahasia yang bahkan maut sendiri tak sanggup mengucapkannya. Ia pun tak pernah lagi menatapku—sejak miniatur itu dihadirkan—hingga saat-saat terakhir dari pengadilan panjang dan melelahkan itu tiba.

Kami, dua belas orang juri yang nyaris kehilangan rasa waktu, diperintahkan untuk berunding pada pukul sembilan lewat tiga menit malam. Namun si penjaga gereja yang dungu itu—beserta dua parasit parokinya—membuat kami tersiksa seperti roh-roh yang tersesat di lingkaran api. Dua kali kami harus kembali ke ruang sidang, memohon agar catatan hakim dibacakan ulang.

Sembilan di antara kami tak sedikit pun meragukan makna catatan-catatan itu—bahkan kurasa tak seorang pun di pengadilan meragukannya—namun tiga orang tolol itu, yang hanya mengenal keonaran, terus bersikeras menentang karena mereka tak tahu apa lagi yang harus mereka lakukan.

Akhirnya kami menang. Pada pukul dua belas lewat sepuluh malam, kami kembali memasuki ruang sidang. Dan di sanalah ia—si terbunuh itu—berdiri tepat di seberang kotak juri, memandang lurus ke arah kami. Ketika aku duduk, mata itu menancap padaku dengan kesungguhan yang menggetarkan, seolah menakar segala yang telah terjadi.

Ia tampak puas—atau mungkin lega—lalu dengan gerakan perlahan ia mengangkat sebuah tirai kelabu besar yang menggantung di lengannya. Dengan lirih dan khidmat, ia menyelubungi dirinya dari kepala hingga kaki.

Dan ketika aku menyerahkan putusan kami—“Bersalah.” Tirai itu runtuh. Ia lenyap tanpa jejak. Ruang tempatnya berdiri menjadi hampa.

Hakim, dengan suara resmi yang menua di udara malam, bertanya kepada terdakwa apakah ia ingin mengatakan sesuatu sebelum hukuman mati dijatuhkan. Lelaki itu bergumam tak jelas—kata-katanya terputus, separuh tergelincir dari akal sehatnya.

Keesokan harinya, surat kabar besar menulis bahwa ia mengeluh karena merasa tidak diadili secara adil; katanya, ketua juri telah memusuhinya sejak awal.

Namun apa yang sesungguhnya diucapkannya malam itu—kata-kata yang menembus tulang dan membuatku menggigil—adalah ini:

“Yang Mulia, aku tahu aku sudah ditakdirkan mati, sejak ketua juri itu melangkah masuk ke kotak tempatnya duduk. Yang Mulia, aku tahu ia tak akan pernah melepaskanku, karena sebelum aku ditangkap, entah bagaimana, ia telah datang ke sisi ranjangku di tengah malam, membangunkanku, dan menjeratkan tali ke leherku.”

____________________

Judul asli: The Trial for Murder

Penulis: Charles John Huffam Dickens (7 Februari 1812 – 9 Juni 1870). Penulis roman ternama dari Inggris.Penulis yang terkenal dan terbaik pada era Victorian. Selain itu ia juga seseorang yang aktif melakukan perkerjaan sosial.

_____________________

Penerjemah: Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Terjemahan

Sidang Pembunuhan (Bagian 2)

Charles Dickens

Kepada diriku sendiri, aku memastikan satu hal: wajah itu belum pernah kulihat sebelumnya, selain di jalan Piccadilly, di antara pusaran daun musim gugur. Ketika aku membandingkan ekspresinya malam itu, ketika ia memanggilku dari pintu, dengan tatapan yang dulu dilemparkannya ke jendelaku, aku sadar satu hal. Pada pertemuan pertama, ia mencoba menanamkan dirinya di ingatanku. Pada pertemuan kedua, ia datang hanya untuk memastikan bahwa aku tak mungkin melupakannya lagi.

Malam itu aku berbaring, tak nyaman. Namun anehnya, di dalam kegelisahan itu, tumbuh keyakinan samar bahwa sosok itu takkan kembali. Mungkin karena ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya: tempat tinggal di dalam ingatan manusia.

Menjelang fajar, aku akhirnya terlelap dalam tidur berat. Cahaya pagi menetes lewat tirai ketika aku dibangunkan oleh suara langkah pelan. John Derrick berdiri di tepi ranjang, wajahnya masih pucat, tangannya menggenggam selembar kertas koran. Di atasnya, aku tahu, dunia baru saja menuliskan bab berikut dari mimpi burukku.

Ternyata kertas di tangan Derrick itulah sumber keributan kecil di depan pintu, antara dirinya dan pengantarnya. Kertas itu bukan sembarang surat. Itu adalah panggilan resmi agar aku hadir sebagai anggota juri pada sidang berikutnya di Central Criminal Court, Old Bailey.

Selama hidupku, aku belum pernah dipanggil untuk tugas semacam itu. Derrick, yang mengenal tiap kebiasaanku seperti mengenal lipatan wajahku sendiri, tahu benar hal itu. Ia percaya, entah dengan alasan masuk akal atau tidak, bahwa para juri biasanya diambil dari lapisan masyarakat dengan kualifikasi yang lebih rendah dariku. Karena itu, ketika petugas datang menyerahkan surat, Derrick menolaknya mentah-mentah, yakin bahwa panggilan itu pasti salah alamat.

Namun petugas itu tenang saja, nyaris dingin. “Hadir atau tidak, bukan urusanku,” katanya. “Surat ini sudah di tanganmu; risiko selebihnya milikmu sendiri.”

Ia pun pergi, meninggalkan keheningan yang terasa seperti gema dari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kewajiban hukum.

Sehari-dua hari aku bimbang. Antara patuh atau mengabaikan. Tak ada dorongan misterius, tak ada tarikan gaib yang menuntunku ke satu arah. Aku sepenuhnya sadar dan waras ketika memutuskan. Dan akhirnya, setelah berpikir panjang, aku memilih untuk pergi.

Mungkin karena ingin menuruti kebosanan hidupku yang membatu. Mungkin karena di dasar jiwaku ada sesuatu—sesuatu yang belum bernama—yang sudah menunggu di ruang sidang itu. Sesuatu yang ingin menatapku balik dari kursi terdakwa dan berkata tanpa suara:
“Kau sudah kupilih sejak pertama kali aku menoleh di Piccadilly.”

Pagi yang ditentukan itu datang dalam keadaan mentah dan menggigil, sebuah pagi bulan November yang seolah tak selesai dilahirkan. Kabut tebal berwarna coklat menggantung di atas Piccadilly, menyelimuti dunia seperti paru-paru yang kehabisan udara. Semakin jauh ke arah timur, melewati Temple Bar, kabut itu menebal menjadi hitam, berat, dan menekan dada seperti tangan dingin yang tak mau lepas.

Gedung pengadilan tampak menyala oleh gas yang berdesis di pipa-pipa logamnya. Lorong-lorong dan tangganya berpendar seperti napas api di dalam tenggorokan batu. Bahkan ruang sidang sendiri, tempat segala nasib dijatuhkan, bercahaya dengan cara yang tak wajar, seperti teater neraka yang berlatih sunyi.

Aku tak tahu sebelumnya—demi Tuhan, aku sungguh tak tahu—bahwa hari itu adalah hari sidang pembunuh itu. Aku bahkan tak pasti ruang mana dari dua ruang sidang yang sedang berjalan akan menjadi tempat tugasku. Para petugas membimbingku dengan susah payah melewati kerumunan hingga aku duduk di tempat yang diperuntukkan bagi para juri yang menunggu giliran.

Kabut merayap masuk melalui celah-celah jendela besar, berpadu dengan uap napas manusia yang menumpuk. Aku melihat gumpalan hitam menggantung di luar jendela, seperti tirai yang menolak disingkap. Dari luar terdengar suara roda kereta yang teredam jerami, dan dari kejauhan terdengar dengung orang banyak yang kadang teriris oleh siulan tajam atau teriakan yang terlalu bersemangat.

Kemudian dua orang hakim masuk. Gemuruh suara tiba-tiba padam, seperti lilin yang disiram. Setelah beberapa aba-aba yang kaku, terdengar perintah: “Hadirkan si pembunuh di bar.”

Ia muncul, dan saat mataku jatuh padanya, seolah seluruh kabut menyingkir hanya untuk memperjelas wajah itu. Darahku berhenti mengalir. Di sana, berdiri di bawah cahaya gas yang kekuningan, adalah lelaki pertama dari dua sosok yang dulu kulihat berjalan di Piccadilly. Yang menoleh ke belakang. Yang diikuti oleh wajah sewarna lilin.

Seandainya namaku dipanggil pada saat itu juga, aku ragu aku masih sanggup menjawab dengan suara yang terdengar. Jantungku berdentam seperti hendak menerobos tulang rusuk. Namun kebetulan namaku baru disebut keenam, atau mungkin kedelapan, dalam daftar. Dalam waktu sesingkat itu, aku berhasil memulihkan sedikit keberanian dan menjawab, “Hadir!”

Perhatikanlah baik-baik apa yang terjadi kemudian. Ketika aku melangkah masuk ke kotak juri, si terdakwa, yang sedari tadi tampak tenang dan matanya mengamati ruang sidang dengan dingin yang nyaris sopan, tiba-tiba terguncang hebat. Ia menegang, wajahnya memucat, lalu memberi isyarat gelisah kepada pengacaranya.

Keinginannya untuk menolak kehadiranku di juri begitu jelas hingga ruang sidang sempat terdiam. Sang pengacara mencondongkan tubuh, meletakkan tangan di pinggiran dock, dan berbisik dengan kliennya. Ia sempat menggeleng, pelan namun tegas. Belakangan aku tahu dari pengacara itu sendiri bahwa kata-kata pertama yang bergetar dari bibir si pembunuh adalah: “Apa pun risikonya, tantang orang itu!”

Namun ketika ditanya alasannya, ia tak memberi satu pun jawaban. Ia mengaku bahkan tak tahu siapa aku, tak pernah mendengar namaku sebelum petugas memanggilnya, sebelum aku berdiri di hadapannya. Sang pengacara tak mengindahkannya, dan aku tetap di sana, di kursi yang akan menjadi saksi antara hidup dan mati.

Sekarang biarlah aku katakan: aku tak berniat menghidupkan lagi kenangan busuk tentang si pembunuh itu. Cerita tentang sidangnya panjang, penuh detail yang menghitamkan ingatan. Tak semuanya perlu kalian tahu. Yang ingin kusampaikan hanyalah sepuluh hari dan sepuluh malam itu, waktu ketika kami, para juri, dikurung bersama, dan sesuatu yang jauh lebih ganjil dari kejahatan manusia mulai menyusup di antara kami.

Karena bukan pada si pembunuh letak misteri ini, melainkan pada apa yang terjadi padaku. Dan yang kumohon dari kalian bukan simpati untuk seorang terdakwa, melainkan perhatian untuk bayangan yang, sejak hari itu, tak pernah benar-benar meninggalkan ruang di dalam kepalaku.

Aku terpilih menjadi ketua juri. Pada pagi kedua persidangan, setelah dua jam mendengarkan saksi-saksi yang berbicara seperti gema yang jauh dan berdebu, aku mendengar lonceng-lonceng gereja berdentang dari kejauhan. Suara itu mengiris udara lembap seperti pengingat waktu yang sudah mati.

Tanpa sengaja, mataku menyapu barisan rekan-rekan juri di sekelilingku. Di sanalah keganjilan itu bermula. Aku mendapati kesulitan yang tak bisa kujelaskan untuk menghitung kami semua. Sekali kuhitung, tiga belas. Kuulangi, tetap tiga belas.

Kupejamkan mata, kubuka lagi, kutelusuri wajah demi wajah dengan hati-hati, dan tetap saja, ada satu kepala terlalu banyak. Aku menyentuh bahu rekan di sebelahku dan berbisik pelan, “Boleh tolong hitung kita semua?”

Ia menatapku dengan alis berkerut, seolah tak mengerti mengapa aku menanyakan hal yang sepele. Tapi kemudian ia berpaling dan menghitung satu per satu. Lalu, tiba-tiba ia berhenti. Ekspresinya berubah. “Kenapa… kita tiga be—” katanya, lalu mendadak menelan ucapannya dan menatap ke meja di hadapan.

“Tidak mungkin. Tidak. Kita dua belas.”

Namun aku tahu, dari getar kecil di suaranya, dari tatapan kosong yang tak berani menatapku lagi, bahwa ia juga sempat melihatnya. Bahwa untuk sekejap yang mengerikan itu, kami berdua telah menghitung tiga belas juri.

Menurut hitunganku hari itu, kami selalu benar dalam rincian, tetapi selalu berlebih satu dalam keseluruhan. Tak ada wujud apa pun, tak ada bayangan, tak ada sosok yang bisa menjelaskan kejanggalan itu. Namun di dalam diriku, perlahan tumbuh bayangan samar akan sosok yang pasti akan datang.

Para juri ditempatkan di London Tavern. Kami tidur bersama di satu ruangan besar, masing-masing di atas meja panjang yang disulap menjadi tempat tidur darurat. Kami selalu berada di bawah pengawasan seorang petugas yang disumpah untuk menjaga kami agar tidak berhubungan dengan dunia luar.

Aku tidak melihat alasan untuk menyembunyikan nama petugas itu. Ia seorang yang cerdas, sopan, dan menyenangkan, dan begitu kudengar, dihormati banyak orang di kota. Wajahnya enak dipandang, matanya jernih dan tajam, cambangnya hitam dan tebal seperti garis pena yang percaya diri. Suaranya dalam dan berat seperti gonggongan lembut di lorong batu.

Namanya Tuan Harker.

Malam itu, ketika kami bersiap menempati dua belas ranjang sejajar, ranjang Tuan Harker ditarik menutup pintu, seolah ia, tubuh manusia itu sendiri, adalah gembok yang hidup.

Pada malam kedua, aku tidak ingin segera berbaring. Melihat Tuan Harker duduk di tepi ranjangnya, aku berjalan menghampirinya dan menawarkan sekepal tembakau dari kotakku. Ketika tangannya menyentuh tanganku, sebuah getaran aneh melintas di tubuhnya, seolah hawa dingin dari kubur menyelinap melalui pori-porinya.

Ia bertanya pelan, suaranya mengandung keheranan, “Siapa itu?”

Mengikuti arah pandang matanya, aku menatap ke seberang ruangan, dan di sana berdiri sosok yang telah lama kutunggu, sosok kedua dari dua lelaki yang dulu melintas di Piccadilly.

Aku berdiri, melangkah beberapa tapak, lalu berhenti. Menoleh ke arah Harker. Tapi ia justru tertawa ringan, seolah tidak melihat apa pun, dan berkata ramah, “Untuk sesaat aku kira kita punya juri ketiga belas—tanpa ranjang. Tapi rupanya cuma cahaya bulan.”

Aku tidak mengatakan apa pun padanya, hanya mengajaknya berjalan pelan ke ujung ruangan. Kami berdiri di sana, mengintai gerak sosok itu. Ia berjalan perlahan di antara ranjang-ranjang yang berbaris seperti peti mati menunggu giliran.

Di setiap ranjang, di sebelas ranjang saudaraku sesama juri, ia berhenti. Berdiri di sisi kanan tiap kepala, membungkuk sedikit, menatap wajah mereka yang terlelap dengan tatapan murung, seolah mengenang dosa-dosa mereka sendiri. Setelah itu, ia menyeberangi kaki ranjang dan melanjutkan langkahnya ke ranjang berikutnya.

Ia tidak menoleh padaku. Tidak pula pada ranjangku, yang paling dekat dengan Harker. Dan akhirnya, ia lenyap ke arah cahaya bulan yang menetes masuk dari jendela tinggi, seakan menapaki tangga tak terlihat menuju udara, menuju tempat di mana roh-roh tidak lagi butuh pijakan.

Keesokan paginya, saat kami duduk di meja sarapan, di antara aroma teh yang hangat dan bunyi sendok yang menyentuh piring, terungkap sesuatu yang ganjil. Semua orang di ruangan itu mengaku bermimpi tentang lelaki yang telah dibunuh semalam, kecuali aku dan Tuan Harker.

Dan saat itulah, sebuah keyakinan menyusup ke dalam kepalaku—sunyi, tapi mutlak—bahwa sosok kedua yang dulu kulihat berjalan di Piccadilly adalah jiwa dari lelaki yang dibunuh itu sendiri. Seakan ia sendiri telah membisikkan pengakuan itu ke telingaku dari celah antara hidup dan mati.

Namun cara kebenaran itu datang padaku—Tuhan tahu—tak pernah kusangka.

Hari kelima sidang. Kasus penuntutan hampir usai. Suara hakim, jaksa, dan penasihat hukum berkelindan di udara pengap. Lalu dibawalah sebuah benda kecil—miniatur wajah sang korban. Miniatur itu sebelumnya hilang dari kamar tidurnya, lalu ditemukan terkubur di tempat di mana si pembunuh pernah terlihat menggali.

Miniatur itu diperlihatkan kepada saksi, lalu diserahkan ke bangku hakim, dan dari sana diteruskan kepada kami, para juri. Seorang petugas berseragam hitam membawa benda mungil itu melintasi ruang pengadilan menuju tempatku duduk.

Dan tiba-tiba—ia muncul lagi. Dari tengah kerumunan, sosok itu menerjang ke depan: lelaki berwajah lilin, yang dulu memanggilku lewat pintu kamar, yang berdiri di sisi ranjang-ranjang malam itu. Ia merebut miniatur dari tangan petugas, menyerahkannya langsung kepadaku, dan dengan suara serak, seperti dari kedalaman sumur, ia berbisik, “Aku masih muda waktu itu… wajahku belum dikeringkan dari darah.” BERSAMBUNG

____________________

Judul asli: The Trial for Murder

____________________

Penulis: Charles John Huffam Dickens (7 Februari 1812 – 9 Juni 1870). Penulis roman ternama dari Inggris.Penulis yang terkenal dan terbaik pada era Victorian. Selain itu ia juga seseorang yang aktif melakukan perkerjaan sosial.

____________________

Penerjemah: Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Terjemahan

Sidang Pembunuhan (Bagian 1)

Charles Dickens

Aku selalu merasa bahwa di dalam diri manusia, bahkan yang paling cerdas dan terpelajar sekalipun tersembunyi ketakutan purba. Ketakutan itu muncul ketika mereka harus menyingkap pengalaman batinnya sendiri, terutama pengalaman yang ganjil dan melampaui logika. Hampir semua orang gentar membayangkan pengakuannya terapung di samudra batin pendengar tanpa pantulan. Mereka takut kisah itu dicurigai, atau lebih menyakitkan lagi, bila ditertawakan.

Seorang pengelana yang jujur, yang pernah menyaksikan makhluk luar biasa menyerupai naga laut, mungkin tidak segan menceritakan temuannya. Namun, jika pengelana itu pernah diganggu firasat aneh, desakan batin yang tak masuk akal, kilasan penglihatan, atau mimpi yang menorehkan cahaya asing di kepalanya, ia akan ragu. Ia mungkin bahkan tercekat sebelum berani mengakuinya.

Aku percaya bahwa dari keengganan semacam itu, lahir kabut yang menyelimuti pengalaman-pengalaman batin. Kita jarang menuturkan pengalaman batin sebagaimana kita menuturkan pengalaman jasmani. Tidak heran jika pengetahuan kita tentang kerajaan jiwa menjadi terpecah dan cacat. Seperti peta yang dilukis dengan tangan gemetar: ada laut di sana, namun kita hanya mengetahui namanya, tanpa memahami arusnya.

Apa yang hendak kuceritakan ini bukanlah pernyataan teori. Bukan pula sanggahan atau pembelaan atas teori mana pun. Aku hanya ingin menuturkan sesuatu sebagaimana adanya, tanpa menegakkan menara kebenaran di atasnya.

Aku tahu kisah tentang Si Penjual Buku dari Berlin. Aku juga telah mempelajari peristiwa yang menimpa istri mendiang Ahli Astronomi Kerajaan sebagaimana ditulis Sir David Brewster. Bahkan, aku pernah mengikuti dengan teliti sebuah perkara yang jauh lebih aneh: sebuah ilusi spektral yang menimpa seorang perempuan dalam lingkar pertemanan pribadiku.

Perlu kutegaskan, perempuan itu sama sekali bukan kerabatku. Ia tidak dekat denganku, bahkan tidak ada hubungan darah sama sekali. Jika ada yang mengira demikian, sangkaan itu bisa saja mengaburkan bagian dari kisahku sendiri. Hanya sebagian kecil, tentu saja, dan itu pun akan menjadi penjelasan yang sepenuhnya keliru. Tidak ada pewarisan sifat aneh di tubuhku. Tidak ada penyakit jiwa yang menyelinap dari leluhur. Sebelum peristiwa itu, aku belum pernah mengalami apa pun yang serupa. Sesudahnya pun, tak pernah lagi.

Entah sudah berapa tahun lalu, di Inggris pernah terjadi satu pembunuhan yang menggemparkan negeri. Tak perlu kusebut kapan tepatnya, karena di dunia ini nama-nama para pembunuh selalu muncul seperti gelembung busuk dari dasar rawa. Satu mengapung, satu tenggelam, dan dunia selalu menyebut mereka dengan gairah yang tak pantas. Kalau bisa, aku ingin mengubur kenangan tentang makhluk bejat itu sedalam jasadnya yang kini ditanam di Penjara Newgate.

Jangan berharap aku memberi isyarat sekecil apa pun tentang siapa dirinya. Biarlah ia tetap tanpa nama, karena yang ingin kukisahkan bukanlah si pembunuh. Yang ingin kuceritakan adalah apa yang tertinggal setelah pembunuhan itu mengendap di ruang batin seseorang.

Ketika pembunuhan itu pertama kali terungkap, tak ada kecurigaan. Lebih tepatnya, tak pernah ada bisikan pun di ruang publik yang menunjuk pada lelaki yang kemudian diadili sebagai pelakunya. Surat kabar kala itu tak menyebut namanya. Mereka tidak melukis wajahnya, bahkan tidak menyinggungnya sekilas pun. Maka sudah semestinya diingat: tak mungkin ada deskripsi tentang dirinya di benak siapa pun ketika peristiwa itu baru terbongkar.

Pagi itu, saat sarapan, aku membuka lembar koran yang memuat laporan tentang penemuan mengerikan itu. Beritanya menggigit, seperti tangan dingin yang menelusup ke dada pembacanya. Kubaca sekali, dua kali, lalu tiga kali—entah karena penasaran, atau karena sesuatu yang tak kukenal mulai menuntun mataku.

Di sana tertulis bahwa pembunuhan itu ditemukan di sebuah kamar tidur. Ketika koran itu kulipat, seolah ada sesuatu menyambar dari dalam kata-kata. Sebuah kilat, atau arus, atau semburan—aku tak tahu nama yang tepat baginya, sebab bahasa terasa terlalu miskin untuk menyebut apa yang kuhadapi. Dalam sekejap itu, aku melihat kamar tidur itu melintas di ruangku sendiri. Bukan sekadar terbayang, tapi benar-benar melintas, seperti lukisan yang dipaksa mengalir di atas sungai yang bergerak.

Bayangan itu hanya sekejap, nyaris tak mungkin diukur oleh waktu. Tapi kejernihannya mutlak. Aku melihat ranjangnya, jendelanya, lantai yang memantulkan cahaya abu-abu. Yang paling jelas, mungkin karena aku mengharapkan kelegaan darinya, adalah ketiadaan mayat di atas ranjang itu. Yang ganjil justru: dalam ketiadaan itu, seolah sesuatu baru saja dimulai.

Bukan di tempat romantis aku mengalami keganjilan itu, melainkan di kamarku di Piccadilly, dekat tikungan St. James’s Street. Tempat biasa, dunia nyata, tanpa kabut misteri. Tapi di sanalah sesuatu yang asing menubuh di benakku. Aku duduk di kursi malas ketika getaran itu datang, getaran halus yang membuat kursi bergeser sendiri, seolah lantai ikut menggigil. (Meski harus kuakui, kursi itu memang bertumpu pada roda kecil yang mudah meluncur.)

Kepalaku berdenyut. Aku bangkit dan melangkah ke jendela. Ada dua jendela di kamar itu, dan kamar itu terletak di lantai dua. Aku ingin menyegarkan pandangan dengan melihat kehidupan yang bergerak di jalan Piccadilly. Pagi itu, musim gugur tengah bersinar paling terang. Udara menggigit namun cerah. Angin dari taman berhembus deras dan menurunkan hujan daun yang kemudian berputar dalam pusaran angin, seperti menara rapuh dari emas kering.

Ketika pusaran itu runtuh, mataku menangkap dua sosok lelaki di seberang jalan. Mereka berjalan dari barat ke timur. Satu di depan, satu di belakang. Lelaki yang di depan beberapa kali menoleh dengan gelisah ke arah bahunya, sementara lelaki di belakang mengikutinya dari jarak tiga puluh langkah. Tangan kanannya terangkat tinggi, menuding atau mengancam—aku tak tahu.

Ada sesuatu yang menggetarkan dalam pemandangan itu: sikap ancam yang begitu mantap di tengah jalan umum yang ramai. Lebih aneh lagi, tak seorang pun memperhatikannya. Orang-orang berlalu di antara mereka dengan mulus, seolah dua sosok itu tidak benar-benar ada. Tak ada yang menyingkir, menyentuh, atau sekadar menoleh.

Ketika mereka melintas tepat di bawah jendelaku, keduanya mendongak serempak dan menatapku. Tatapan mereka tajam, dan wajah-wajah itu terukir jelas di ingatanku, seolah dilukis dengan tangan dingin malaikat maut. Aku tahu, andai bertemu mereka di dunia mana pun, aku akan mengenali keduanya. Meski kalau kupikir-pikir, tak ada yang sungguh istimewa pada wajah itu. Kecuali, lelaki di depan tampak suram seperti awan badai yang menahan hujan. Sedangkan lelaki di belakang memiliki wajah sewarna lilin kotor—pucat, lembap, dan tak berjiwa.

Aku seorang lajang. Seluruh isi rumahku hanya dua orang: pelayanku dan istrinya, pasangan yang setia menjaga ritme sunyi hari-hariku. Aku bekerja di sebuah cabang bank. Jabatan resmiku adalah kepala sebuah departemen. Gelarnya terdengar ringan, nyaris terhormat, tapi beban di baliknya, percayalah, lebih berat dari yang dibayangkan orang-orang yang tak pernah menimbang hidup dengan angka dan tanda tangan.

Musim gugur tahun itu menahanku di kota. Padahal tubuhku merindukan perubahan, bukan karena aku sakit, tapi karena aku tidak benar-benar sehat. Ada kelelahan yang tak bisa diukur dengan suhu tubuh, semacam jemu yang menempel di urat nadi. Perasaan bahwa hidupku adalah garis datar yang terlalu panjang, tanpa kejutan, tanpa luka baru.

Kau boleh menyebutnya kejenuhan, atau seperti yang pernah dibilang dokterku—seorang tabib ternama yang gemar menulis laporan panjang tentang kesehatan manusia yang kehilangan makna—“dispepsia ringan.” Begitulah istilahnya: sopan, nyaris tak berbahaya. Aku masih menyimpan surat jawabannya, tertulis dengan tangan rapi, dingin, dan terlalu masuk akal. Di situ ia menegaskan bahwa keadaan kesehatanku saat itu “tak cukup buruk untuk diberi nama lain.”

Tapi aku tahu, yang terasa sakit bukan perutku, melainkan hidupku sendiri, yang mulai kehilangan rasa.

Ketika kisah tentang pembunuhan itu perlahan-lahan tersingkap, menyusup ke setiap koran dan percakapan di kedai-kedai kopi, aku justru berusaha menjauh darinya. Dunia seakan haus darah, dan aku menutup telingaku agar tak ikut mabuk dalam riuhnya. Aku menolak tahu lebih dari yang perlu. Namun kabar-kabar pokok tetap tak bisa dihindari: sang tersangka telah resmi dituduh melakukan pembunuhan dengan sengaja, dan ia telah dikirim ke Penjara Newgate untuk menunggu persidangan.

Aku juga tahu bahwa sidangnya ditunda satu kali oleh Pengadilan Kriminal Pusat. Alasannya tampak masuk akal: prasangka publik yang terlalu pekat dan waktu pembelaan yang belum siap. Aku mungkin tahu, atau mungkin tidak, kapan sidang yang tertunda itu akhirnya akan digelar. Ingatanku samar, seperti kalender yang direndam air dan kehilangan tinta tanggal-tanggalnya.

Kamar dudukku, kamar tidurku, dan ruang ganti pakaianku berada di lantai yang sama. Ruang terakhir itu hanya bisa dicapai lewat kamar tidur. Ada satu pintu lain di sana, dulu menghubungkan ruang ganti itu dengan tangga, tetapi sejak beberapa tahun sebelumnya pintu itu telah dimatikan. Pintu itu ditutup papan, dipakukan, lalu ditutup kanvas. Sebagian perlengkapan bak mandiku bahkan dipasang melintang di sana, seolah sengaja menutup jalan bagi apa pun yang ingin masuk atau keluar.

Semuanya tampak biasa saja—rapi, teratur, masuk akal. Tapi kini, ketika aku mengingatnya, aku merasa seolah papan, paku, dan kanvas itu bukan sekadar penyekat ruang. Mereka seperti penyegel nasib, penutup yang disiapkan untuk sesuatu yang kelak akan berusaha masuk dari sisi lain, dari dunia yang tak punya tangga, tapi punya jalan sendiri menuju kamar manusia.

Malam itu larut. Aku berdiri di kamar tidur dan memberi beberapa petunjuk kepada pelayanku sebelum ia pergi beristirahat. Wajahku menghadap ke satu-satunya pintu yang menghubungkan kamar itu dengan ruang ganti, pintu yang tertutup rapat. Punggung pelayanku membelakanginya.

Aku masih berbicara ketika pintu itu perlahan terbuka. Engselnya tak berderit, tapi udara di ruangan tiba-tiba seperti menahan napas. Di celah pintu yang terbuka itu, seorang lelaki menatapku. Tatapannya begitu menyengat, menembus kulit dan waktu. Lalu ia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar aku mendekat. Isyarat itu sunyi, tapi keras, seperti panggilan di dalam kepala.

Aku mengenalnya. Itu wajah yang sama—lelaki kedua yang dulu kulihat di Piccadilly, yang mukanya sewarna lilin kotor.

Begitu ia memberi isyarat, ia mundur. Pintu menutup kembali, lembut namun pasti, seolah tak pernah terbuka sama sekali. Tanpa berpikir panjang, aku menyeberangi kamar dan membuka pintu ruang ganti, lilin menyala di tanganku. Aku tidak merasa takut, dan tidak pula berharap menemukan sosok itu di dalam. Dan benar, di sana kosong, hanya udara dingin dan bau sabun dari bak mandi yang lama tak dipakai.

Aku berbalik dan sadar bahwa pelayanku masih terpaku, matanya membesar. Aku berusaha menertawakan situasi itu, mencoba menjinakkan ketakutan dengan kata-kata:
“Derrick, kau akan mengira aku gila kalau kubilang barusan aku merasa melihat—”

Belum sempat kusempurnakan kalimat itu, tanganku menyentuh dadanya. Tubuhnya gemetar hebat, seperti tersengat listrik yang tak berasal dari dunia ini. Ia menatapku dengan wajah pias, dan suaranya keluar terbata, diseret dari kedalaman yang dingin:
“Oh, Tuhan… iya, Tuan! Aku juga melihatnya—seorang mayat yang memanggil Tuan!”

Aku tak percaya bahwa John Derrick, pelayanku yang setia lebih dari dua puluh tahun, benar-benar melihat sosok itu sebelum aku menyentuhnya. Perubahannya begitu mendadak, begitu mengerikan. Seolah sesuatu telah berpindah dariku kepadanya lewat sentuhan itu. Aku yakin, dengan cara yang tak bisa dijelaskan oleh ilmu mana pun, bayangan itu menular ke dalam dirinya melalui diriku sendiri—seperti api yang menyambar tanpa cahaya.

Aku menyuruh Derrick mengambil sedikit brendi. Kuminum segelas, lalu kuberikan pula satu teguk untuknya. Kami duduk lama tanpa kata. Udara kamar terasa lebih berat dari sebelumnya. Malam itu, aku tak menceritakan sedikit pun tentang apa yang terjadi sebelumnya—tak tentang Piccadilly, tak tentang tatapan mata sewarna lilin itu. Aku hanya diam, mencoba menata logika dari sesuatu yang tak masuk akal. BERSAMBUNG

___________________

Judul asli: The Trial for Murder

___________________

Penulis: Charles John Huffam Dickens (7 Februari 1812 – 9 Juni 1870). Penulis roman ternama dari Inggris.Penulis yang terkenal dan terbaik pada era Victorian. Selain itu ia juga seseorang yang aktif melakukan perkerjaan sosial.

____________________

Penerjemah: Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.