Cerpen

Delapan

Cerpen Septi Rusdiyana

Sora membolak-balik dua lembar bacon dan dua sosis ayam berukuran besar. Satu telur mata sapi setengah matang sudah lebih dulu mengisi piring. Sora suka telur mata sapi. Sebenarnya ia selalu ingin membuat dua. Tapi dua telur mata sapi jika disejajarkan akan membentuk angka delapan. Sora benci angka delapan. Dari dulu. Sejak kecil. Sejak malam saat ia melihat jam dinding panti asuhan menunjuk angka delapan. Di kamar sempit berisi delapan anak lain, pada delapan belas Agustus dua belas tahun lalu, saat usia Sora hampir delapan tahun. Betapa mudah Tuhan mengatur semesta beserta isinya hingga saling berkaitan. Sebuah kebetulan yang menakjubkan, bukan?

Sayangnya, bagi Sora, delapan bukan sekadar angka, melainkan kode. Kode yang tak terpecahkan. Bukan, bukan. Bukan tak terpecahkan, tapi memang tak mau dipecahkan. Di satu sisi Sora ingin menyerah. Lalu di sisi hatinya yang lain, Sora merasa familier dengan keadaan itu. Seperti teman lama tiba-tiba hadir membawa cerita yang tak selesai. Sora lelah. Ia sempat ingin malaikat maut menjemputnya. Tapi saat Sora mimpi seseorang mencekiknya hingga ia hampir kehabisan napas, ia justru bersyukur saat delapan detik berikutnya ia berhasil terbangun. Sejak itu, Sora tidak mau mencampuri hak prerogatif Tuhan perihal hidupnya.

Kembali pada Sora yang sedang membuat sarapan. Di rumah kontrakan Sora tidak ada kalender. Tapi ia tahu hari ini Jumat, tanggal delapan belas. Sora beruntung perusahaan tempatnya kerja mau berkompromi dengannya—mendapat hak libur pada tanggal yang mengandung angka delapan. Tentu saja ada konsekuensi—jika tidak jatuh di tanggal merah, maka Sora wajib masuk kerja di hari Minggu. Hal itu bukan masalah bagi Sora. Setiap tanggal delapan, delapan belas dan dua puluh delapan, Sora hanya akan di rumah saja. Tidak menonton televisi, apalagi bermain gadget. Sora menggambar, atau melukis, atau sekadar membaca buku dengan halaman-halaman yang tidak lagi utuh. Entah apa yang bisa Sora nikmati dari cerita yang banyak memiliki bagian hilang itu.

Sarapannya telah siap. Sora mengambil segelas jus jeruk dari kulkas. Meja makannya menghadap jendela. Dari tempat Sora duduk, ia bisa melihat barisan driver ojek online di depan ruko yang masih tutup, juga anjing kampung liar warna cokelat yang sering banyak orang panggil Odol, entah atas dasar alasan apa. Sora menikmati semua pemandangan itu. Ia bisa sangat lama menghabiskan sarapannya.

Sora suka warna merah. Meski begitu, ia tidak pernah menghitung jumlah mobil atau sepeda motor warna merah yang melintas di depannya. Tentu saja karena Sora tak suka angka delapan. Menurutnya, hitungan haruslah urut. Tak boleh meleset, apalagi melompat tak berurutan. Karena itu pula, menghitung adalah tabu baginya.

Sora menyantap sarapan sembari  menatap kosong ke arah jalanan. Sesekali mungkin tersenyum. Seperti kali itu, ada seorang anak kecil tertawa tanpa henti saat dipanggul ayahnya. Di sebelahnya, seorang wanita gemuk kesulitan mengambil uang receh yang mungkin tidak sengaja terjatuh. Pemandangan itu membuat Sora ingat dengan ayah dan ibunya. Kalau saja waktu boleh diputar, ia ingin kembali ke masa itu. Masa di mana Sora memaksa kedua orang tuanya untuk mengantar latihan silat di hari yang hujan.

Tiba-tiba suara klakson panjang melengking sesaat sebelum terdengar benturan. Kecelakaan tak terhindarkan. Dua orang terkapar di jalan. Orang-orang mulai berkerumun. Jantung Sora berpacu kencang. Ia tidak bernafsu menghabiskan sarapannya. Sora lari ke kamar. Meraih guling dan memeluknya. Erat sekali. Sama eratnya saat dulu Sora juga berada di pinggir jalan, memeluk tubuh ayahnya yang sudah kaku berlumur darah. Ibunya terpental agak jauh. Tidak ada darah, tapi ibunya meringkuk tak bergerak.

Sora ingat, saat itu kakinya mati rasa. Seseorang meraih dan menggendongnya menuju rumah penduduk. Banyak perempuan-perempuan iba. Mereka bilang Sora bocah malang. Saat itu Sora tahu jika kedua orangtuanya tidak sedang baik-baik saja. Saat Sora turut masuk di ambulans menuju rumah sakit, ia menyaksikan saat petugas medis berusaha menangkap detak jantung yang mencolot dari tubuh ayah ibunya. Perempuan-perempuan di rumah penduduk yang mengerubungi Sora sebelumnya sepertinya salah memahami. Sora tidak menangis. Bahkan saat pemakaman kedua orangtuanya. Bahkan saat tantenya membawanya ke panti asuhan. Bahkan saat teman satu kamar di panti mengatai Sora gadis buruk rupa—bekas luka akibat kecelakaan meninggalkan luka parut di pipinya.

Di bagian itu Sora ingin menarik mundur waktu. Sora harap ia mati bersama ayah ibunya saja. Kematian bukan hal buruk, meski juga bukan menjadi sebuah pilihan. Kalau saja Sora mati saat kecelakaan itu, ia tak perlu menjadi yatim piatu yang dibawa tantenya ke panti asuhan, lalu menyebabkan kepala teman sekamarnya bocor akibat Sora pukul dengan tumbler miliknya. Ketua panti marah, dan menyeretnya ke gudang bawah tanah untuk menerima hukuman. Hukuman yang menurut Sora lebih biadab dari penjara. Di dalam ruangan sempit dan pengap, Sora dipaksa melayani hasrat menyimpang sang ketua panti. Sora mungkin ketakutan, tapi lagi-lagi, ia tak menangis.

Sora kini tertidur. Mungkin ingatan-ingatan itu membuatnya lelah. Dalam lelap, ia bermimpi. Seorang lelaki bermata biru menghampiri Sora saat ia sedang melukis. Ada sepotong keju di tangan kiri, lalu sebilah pisau di sebelah tangannya yang lain.

“Siapa yang akan menghabisi siapa itu tidak penting. Tapi kamu akan menyesal karena kematianmu datang bukan di masa depan,” kata lelaki bermata biru itu.

Sora terkejut. Dipandangnya punggung lelaki bermata biru yang berjalan menjauh. Dadanya sakit. Peluh mulai membasahi tengkuk. Sora terisak saat melihat air pantai di lukisannya mengeluarkan darah. Sora bangun dari tidur dengan terbatuk-batuk. Ponselnya berdering. Sora bangkit dari tempat tidurnya. Menuju kulkas dan meneguk air dingin. Hari sudah gelap. Sora mengambil ponsel di atas meja. Noe. Panggilan dari teman kantornya. Sora kembali pusing. Tubuhnya lemas. Sehari sebelumnya Sora mengetahui satu kenyataan—saat ia sedang mengambil dokumen pegawai di ruang HRD—tanpa sengaja Sora melihat data Noe, lelaki yang sedang mendekatinya itu, rupanya lahir di tanggal dua puluh delapan.

Sora menatap layar ponsel yang terus saja berdering. Ia ingat lelaki bermata biru di mimpinya. Sora kini mengerti apa maksud kalimat yang diucapkan lelaki itu. Sora melihat jam di ponselnya. Pukul delapan lewat delapan belas malam. Mendadak matanya penuh siluet angka delapan. Merembet di kepalanya. Di pikirannya. Bahkan, kini hampir semua ruang di rumah kontrakannya penuh dengan angka delapan. Angka-angka itu tertawa. Mereka juga menangis. Sora sesekali tertawa, lalu menangis. Begitu seterusnya. Berulang-ulang, hingga dini hari.

Sora mengingat dalam tawa, lalu melupa dalam tangis. Ia benci angka delapan. Tapi mendadak ia ingin sekali menghitung domba yang lewat di atas kepalanya. Sora benar-benar menghitung. Tepat di angka tujuh, Sora tertidur. Dan  paginya, Sora kembali berangkat kerja tanpa menyisakan luka. Mungkin karena lupa, atau sebenarnya hanya pura-pura lupa.***

___________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.