Cerpen

Elegi Sebatang Pohon

Cerpen Ardi Wina Saputra

Sialan! Lelaki tambun itu dengan lancangnya mengencingiku. Belum sirna bau kencing dari para pemabuk yang menempel di kaki-kakiku sejak semalam, eh sekarang ditambah lagi dengan bau kencing dari lelaki tambun berkepala plontos itu. Beginilah nasib menjadi pohon cemara tua, kekar dan rimbun saja tak cukup untuk disegani. Beberapa bagian tubuhku bopeng oleh luka. Sebulan ini, ada semacam kertas yang menempel di tubuhku. Aku tak mampu membacanya karena posisi kertas itu sehadap denganku. Biarlah, yang pasti aku tetap kokoh pada pendirianku menunggu SusterAgatha, perawat cantik dari Klinik St. Melania. Kesetiaan cintaku padanya telah mengakar menembus tanah. Menjalar dan terus menjalar ke bawah. Menembus kerikil, menembus pasir, menembus humus, dan menembus remah-remah peti matiku sendiri.

***

Sebelum menjadi pohon cemara, aku memanglah seorang lelaki yang gagah perkasa. Tubuhku tinggi dan kekar, hidungku mancung, daguku lancip, dan rambutku pirang seperti rambut papi dan mami di Roterdam sana. Kedatanganku di kota Madiun ini tak lepas dari prestasiku sebagai lulusan terbaik akademi militer di Belanda. Aku ditugaskan pemerintah untuk mengamankan objek vital mereka di Hindia. Salah satunya adalah  kota Madiun yang sedang berkembang pesat. Kota ini memiliki pabrik gula Pf. Pagoetan yang hasilnya mampu diekspor ke Burma dan Srilanka. Belum lagi kebun teh di Jamus dan kebun kopi di Dungus yang hasilnya sudah mulai dilirik pedagang dari Gujarat. Ada juga perusahaan kereta milik pemerintah, Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij[1] yang digunakan untuk membangun kereta api di seantero tanah Jawa. Politik etis juga membuat kota ini semakin penting. Ursulin, Lazaris dan beberapa ordo lainnya sudah memulai membangun sekolah untuk orang Jawa, Tiong Hoa, dan Belanda. Mulai dari Holands Chinese School[2], SD Eropa, Sekolah Pribumi Belanda, TK Eropa, TK Jawa, Sekolah Melania, Kursus Mengetik dan Stenografi, Kursus Jerman, Kursus Perancis, Kursus Musik, dan Panti Asuhan. Belum lagi pembangunan gereja di Wilstraat[3] Madiun dan tempat peribadatan lainya. Jumlah orang Belanda di kota ini semakin lama semakin meningkat. Itulah sebabnya aku ditugaskan untuk memberikan pengamanan ekstra.

Dulu, berbagai pertempuran dan pemberontakan baik dari dalam maupun luar kota sudah kuatasi. Bahkan tak jarang aku menumpas oknum tentara Belanda yang kedapatan bersekongkol dengan sempalan tentara Residen untuk menguasai pabrik gula. Desing peluru hingga suara mortir telah fasih menjamah telingaku. Tak jarang beberapa tembakan bersarang pada lengan dan pahaku. Semua itu membuatku semangat dan meningkatkan adrenalinku untuk menumpas segala bentuk pemberontakan. Namun ada satu peluru yang tak mampu kusembuhkan hingga kini. Peluru cinta dari bidadari pada lelaki yang telah lama merindukan belaian wanita.

Aku ingat betul, peluru itu mulai bersarang menembus tulang rusukku ketika Klinik St. Melania dibuka di Madiun pada Jumat 6 Februari 1931. Saat itu tepat setengah enam sore, Residen, Asisten Residen, Walikota, dan para donatur datang ke pembukaan Klinik St. Melania.Aku dan pasukanku diberi kepercayaan untuk menjaga prosesi pembukaanya. Ny. Wagemans, presidente[4] dari distrik Madiun selaku perwakilan dari Klinik St. Melania mempersilakan Ny Residen yaitu Ny. Van den Bosch untuk membuka pintu pertama dan mempersilakan para tamu serta donatur untuk masuk.

“Lihatlah salah satu wanita yang sejak tadi mendampingi Ny. Wagemas itu! Suster Agatha namanya!” ujar Robert, kawan yang saat itu berdinas denganku.

Mataku menurut saja pada arah telunjuk Robert. Telunjuknya yang berbulu mengarah pada wanita berseragam perawat, bukan biarawati. Kulitnya tidak cokelat juga tidak terlalu putih, tapi kuning langsat. Hidungnya mancung, tubuhnya tinggi semampai, wajahanya oval, dan bibirnya mungil. Bibir itulah yang ternyata mampu mengeluarkan sebutir peluru lalu melesat dan bersarang di dadaku ketika mulai diletupkan dalam bentuk senyuman.

“Agatha, Kemari!” panggil Robert.

Ia tidak menjawab, hanya melempar senyum yang mampu memporak-porandakan pilar-pilar cinta dalam lubuk hatiku. Ia lalu melanjutkan tugasnya kembali. Memeriksa beberapa pasien dan sesekali menjawab pertanyaan tamu.

“Kau mengenalnya?” tanyaku pada Robert.

“Dia sama sepertiku Pak, ayahnya Belanda dan Ibunya dari Jawa. Sebelum bekerja di sini, dia menjadi salah satu guru di Hollands Chinese School, sekolah anakku. Dia juga teman baik istriku,” jawab Robert lalu menyeret tanganku.

Sebagai rekan setim, tentu ini tidak sopan. Tapi apa daya, ada magnet yang amat besar membawaku ke arahnya. Saat itu, aku mencoba memberanikan diri berkenalan. Kuulurkan tangan dan dia menjabat tanganku. Ada arus yang begitu besar dari telapak tangan kanannya yang mampu merasuki sekujur tubuhku.

“Aku harus profesional Tuan Robert, kedatanganku ke sini adalah melayani pasienku dan aku tak akan berlama-lama dengan orang lain selain pasienku,” ujarnya pada Robert.

Memang dia lahir di Jawa, tapi kelogisan dan kelugasanya menunjukkan dia memang benar ada darah Belanda mengalir dalam tubuhnya. Sebelum ayah dan ibuku meninggal, mereka pernah berpesan padaku agar aku menikah dengan wanita berdarah Belanda. Kini usiaku bertengger mendekati penghujung kepala tiga, tapi istri pun aku tak punya. Aku terlalu sibuk dengan karier kemiliteranku. Inikah akhir dari pencarianku? Pertanyaan-pertanyaan itu mulai bergelayutan dalam kepalaku.

Pertemuan dengan Agatha terjadi begitu singkat. Aku ingin menemuinya lagi. Sesampainya di markas, aku bingung mencari cara agar aku bisa menemuinya. Tak ada cara lain selain menjadi pasien. Aku sadar bahwa pedang dan peluru tak dapat melukaiku, maka aku mencari cara lain. Kuminum obat-obatan yang entah apa namanya agar tubuhku demam. Satu, dua, tiga jam aku menunggu, aku tak merasakan apapun. Otakku bekerja keras mencari cara agar aku dapat sakit. Berbagai hal bodoh kulakukan agar aku dapat sakit tapi tak juga berhasil. Hingga sampailah pikiranku pada hal paling bodoh. Aku ingat, tak jauh dari sini ada semak belukar. Kuambil motorku dan kujelajah semak-semak itu sendirian di tengah malam yang masih gerimis.

“Dapat!” teriakku ketika menemukan beberapa lubang ular di semak-semak itu. Tanpa ragu, kumasukkan tangan kiriku ke dalamnya.

“Arghhhh!”

Sakit memang, seperti ada jarum yang menancap sangat tajam di tanganku. Satu, dua, dan tiga kali barulah kucabut tanganku dari lobang itu. Kulihat ada tiga pasang luka tusuk mirip bekas suntikan yang ukuranya berbeda menembus tanganku.

“Berhasil!” ujarku mantap. Kunyalakan kembali motorku dan aku bergegas menembus hujan menuju markasku.

“Aku digigit ular! Aku digigiit ular!” Sesampainya di markas, aku sengaja meronta-ronta di samping ruang tempat tidur prajurit, mencari perhatian sekaligus pertolongan. Beberapa prajurit terbangun, lalu datang mengerumuniku. Ada juga yang bergegas keluar mencari pertolongan pertama. Tubuhku mengigil dengan amat dahsyat, gigiku gemertakan, bahkan aku sempat muntah. Pengelihatanku mulai kabur.

“Bawa aku ke klinik St. Melania!” pesanku pada salah satu prajurit yang kepalanya paling dekat denganku. Setelah berucap demikian, mataku semakin kabur dan semua menjadi gelap.

***

Saat itu aku tak sadarkan diri cukup lama. Aku merasa tertidur sangat pulas sekali, hingga suatu ketika kubuka mata dan aku sudah berbaring di bawah salib yang menempel di dinding ruangan Klinik St. Melania. Ada Robert dan seorang prajurit di sampingnya. Samar-samar aku masih ingat wajah prajurit itu adalah wajah prajurit yang kuberi pesan agar bersedia membawaku ke Klinik St. Melania. Aku tersenyum pada prajurit itu, lalu pada Robert. Sayangnya, Robert malah menatap mataku dengan tatapan sinis.

“Di mana dia?” ujarku pada Robert yang aku yakin sudah sangat tahu maksudku.

“Hampir seharian penuh kau sudah tak sadarkan diri. Siang tadi, Suster Agatha berangkat bersama salah satu pemimpin Pabrik Gula di Madiun, Tuan Abelard namanya. Mereka berlayar menuju Amsterdam menggunakan kapal J.J. Johan de Witt yang diberangkatkan dari Surabaya siang ini,” jelasnya.

“Ada keperluan apa lelaki itu membawa Suster Agatha pergi?” tanyaku.

“Tuan Abelard mengajak Suster Agatha untuk menandatangani beberapa perjanjian donasi dari perusahaan di Amsterdam.”

“Lalu kapan Agatha kembali?” tanyaku penasaran.

“Mereka akan kembali paling cepat Natal tahun depan. Itu pun kalau tidak ada halangan,” ujar Robert lagi.

Mendengar Suster Agatha dibawa pergi laki-laki lain, semangat hidupku menurun drastis. Aku tahu benar sifat licik Tuan Abelard dalam memikat wanita, karena aku pernah bekerjasama denganya dalam misi pengamanan aset pabrik gula di Madiun sehingga kami menjadi akrab dan sering berkomunikasi. Andai Natal tahun depan Suster Agatha benar-benar kembali, aku yakin dia sudah tak sesuci dulu lagi dan pantang bagiku yang perwira tinggi ini untuk mendapatkan sisa dari laki-laki lain. Aku berjanji pada diriku sendiri, kelak jika aku sembuh maka aku akan membeli peti mati terbaik, mengeduk tanah di belakang klinik ini dan mengakhiri hidupku dengan membaringkan diri, menembakkan peluru dari ujung revolver kesayanganku.

***

Tak butuh waktu lama bagiku untuk menepati janji yang telah kubuat sendiri. Begitu sembuh, kubeli peti mati berbahan kayu berukir perjamuan terakhir Kristus. Lalu malamnya, kugali makamku sendiri tepat di belakang Klinik Melania. Dua petugas yang berjaga di klinik itu kuminta untuk membantuku mengangkat peti dan memasukkanya ke lubang galianku. Mereka tahu benar reputasi dan pangkatku di kota ini, sehingga tak berani bertanya dan hanya menunduk sambil mengerjakan setiap perintahku. Setelah itu, mereka kusuruh kembali ke pos jaga. Aku terjun masuk ke peti mati lalu berbaring, dan kuletakkan ujung revolver di samping pelipisku. Pada hitungan ketiga kutekan pelatuknya dan semua menjadi terang seterang cahaya yang menarikku dengan sangat cepat untuk keluar dari jasadku. Kini sukmaku benar-benar terbebas tapi pergerakanku terbatas. Aku tak bisa pergi terlalu jauh dari jasadku, karena apabila hal itu terjadi maka sukmaku perlahan akan sirna. Mau tidak mau aku harus berdiam di sini menatap jasadku, melihat dua petugas jaga yang tergopoh-gopoh memanggil warga dan polisi untuk menutup petiku, melihat keributan malam itu, melihat upacara militer sederhana di atas pemakamanku, dan melihat para pelayat yang datang silih berganti. Namun, wajah Agatha tak muncul dari puluhan pelayat di kota itu.

Lambat laun, kulihat sendiri kulit, daging, dan seluruh organ tubuh beserta seluruh tulang belulangku hancur lebur bercampur dengan tanah tempatku dipendam. Peti matiku juga telah rapuh, rengat, keropos, dan tergerus menjadi remah-remah bercampur dengan tanah tempatku dipendam. Namun kerinduanku pada Agatha tak bisa sirna begitu saja. Kerinduan ini harus tetap kujaga. Tanah pemakamanku sangat gembur oleh hujan dan subur karena jasadku yang terurai di dalamnya. Pelayatku bermacam-macam profesinya, termasuk petani dan tukang kebun. Beberapa dari mereka tampaknya tak sengaja menjatuhkan benih ketika melayat. Oleh sebab itu kuputuskan untuk menyatukan jasadku pada salah satu benih yang telah tercampur aduk dalam tanah kuburku. Lalu benih itu mengeluarkan akar, merambat ke bawah menembus humus, menembus tanah, menembus kerikil, dan merambat ke atas menjadi tunas menyembul di atas permukaan tanah. Semakin lama semakin meninggi, tumbuh daun satu demi satu hingga rimbun dan barulah kusadari bahwa wujudku sekarang adalah pohon cemara. Aku masih berharap kalau Agatha sampai di Madiun, dia tak perlu bingung mencari pohon Natal karena dia bisa memelukku sewaktu-waktu. Tubuh baruku juga semakin kokoh, tahan angin, tahan petir, tapi tak tahan menimang rindu.

Dari bentuk baruku ini aku menunggu kedatangan Agatha sambil menjaga Klinik St. Melania yang semakin lama semakin sepi, semakin kosong, ditinggalkan pengelolanya, dibiarkan, lapuk, roboh, dan hancur tergerus zaman. Ribuan tamparan sinar matahari dan ratusan tangis purnama telah kulewati sendiri. Jutaan manusia silih berganti melintasiku, puluhan ribu jenis debu kendaraan telah kuhirup.

Hingga suatu ketika dari arah utara, ada sekelompok komplotan turun dari mobil, mukanya garang tubuhnya gempal juga legam, jumlahnya lima. Mereka turun di dekatku berdiri, bergerombol tapi tak mau mendekat karena bau kencing yang masih menyengat.

Salah satu dari mereka berperawakan rapi, berjas dan berdasi, mengarahkan telunjuknya ke arahku dan berkata pada orang-orang berbadan gempal yang mengitarinya, “Sesuai dengan isi poster yang telah tertempel di pohon cemara itu, maka besok saya minta kalian semua untuk membersihkan wilayah ini sekaligus menebang pohon itu! Kita akan bangun proyek besar di tempat ini!”


Ardi Wina Saputra,Anggota Komunitas Pelangi Sastra Malang.


[1] Perusahaan jawatan kereta api Belanda

[2] Sekolah untuk Belanda dan China

[3] Jalan raya

[4] Pimpinan

Buku, Resensi

Punk dan Kisah Lainnya

Oleh Nu’man Nafis Ridho

Ketika kita bergeliat dalam obrolan musik. Para pelaku musik seperti personil band, para pengulas musik, dan manajer tak mungkin dihilangkan dari percakapan. Begitu pula yang coba disuguhkan dari buku History of Punk: Budaya Tanding yang Tak Pernah Padam (2020). Atolah R. Yafi sebagai penulis menghadirkan perbincangan mengenai band-band punk, bagaimana mereka terbentuk dan hidup, para pengulas musik yang mempopulerkan terma punk, juga orang-orang di balik panggung seperti manajer band.

Saat membicarakan band-band punk, pikiran kita akan langsung tertuju pada Sex Pistols, Ramones, The Clash, The Stooges, New York Dolls, juga MC5. Band-band yang menandai semangat awal musik punk. Namun, Atolah mencoba menghadirkan nama-nama lain. Death, Pure Hell, Television, Buzzcock, Warsaw, Blondie ialah segelintir nama lain yang sedikit banyak juga membentuk subkultur punk di awal kelahirannya.

Atolah membagi bukunya menjadi empat bab: Detroit, New York, London, dan Manchester. Empat kota yang menjadi titik awal kemunculan punk di dua negara: Amerika Serikat dan Inggris. Skena punk diringkas Atolah ke dalam empat kota tersebut. Ia coba memisahkan bagaimana punk muncul di keempat kota tanpa menghilangkan keterkaitannya dalam tumbuh bersama.

Para Pengulas dan Orang di Balik Panggung

Ekosistem musik tak mungkin hanya diisi para penyanyi dan personil band lainnya. Kita pernah membaca di buku Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya (2018) yang ditulis Idhar Rhesmadi. Ia menuliskan mengenai aktor-aktor yang memenuhi ruang ekosistem selain musisi. Para pengulas lagu, album, dan band mengisi ruang dengan tulisan yang dicetak menjadi majalah. Beberapa majalah seperti Musika, Diskorina, Hai, Ripple, MTV Trax, Rolling Stone Indonesia, juga Aktuil sempat mengisi ekosistem musik Indonesia melalui ulasan mereka. Dany Sabri jadi salah satu pengulas penting dalam perkembangan musik di majalah Aktuil. Di buku, Idhar menuturkan, “selama tiga belas tahun Aktuil menulis beragam peristiwa dan perkembangan musik, serta berupaya membentuk opini masyarakat pecinta musik Tanah Air.”

Para pengulas tak hanya membeberkan mengenai musik bagus dan jelek menurut versinya. Mereka juga turut serta dalam perkembangan kultur music yang terbentuk. Meski tak langsung terjun dalam pembuatan karya. Tetapi mereka justru yang menghidupkan musik melalui ulasan-ulasannya di majalah. Seperti Aktuil yang terus hidup selama tiga belas tahun untuk mengulas musik.

Begitu juga yang diterangkan Atolah di buku History of  Punk. Lester Bangs dan Dave Marsh tertuturkan sebagai penulis awal yang mengusung terma punk dalam ulasannya di majalah seperti Rolling Stone dan Crema. Mereka memunculkan terma punk melalui ulasan di majalah. Punk tidak hadir karena para musisi mengakui diri mereka sebagai punk. Namun itu dilekatkan kepada mereka oleh para pengulas musik di majalah.

Misalnya seperti Lester Bangs yang dituturkan Atolah di halaman 28, begini, “ia membeli album MC5 dan membuat ulasan secepat mungkin.” Ulasan yang dibuat Bangs justru melekatkan terma punk pada MC5. Terma punk tidak muncul dari ungkapan para personil MC5. Justru dari para pengulas seperti Lester Bangs, Dave Marsh di Amerika Serikat. Atau Denis Sabri di Indonesia.

Bahkan Death, band yang digadang-gadang sebagai musisi awal yang memainkan musik punk di Detroit tidak pernah menyatakan bahwa diri mereka sebagai punk. Malah mengungkapkannya sebagai rock n roll. Begini kata vokalis sekaligus basisnya Bobby Hackney, “kami tak tahu apa-apa tentang punk, bro. Kami hanya menyebutnya hard-driving Detroit rock n roll. Itulah yang kami mainkan. Mungkin memang sedikit lebih cepat, lebih agresif, karena semua orang berkata bahwa kita harus memainkan musik lainnya seperti soul ataupun funk.”

Kita juga mendapati di buku bahwa selain para pengulas lagu, album atau band. Para manajer seperti Malcom McLaren amat begitu penting dalam pertumbuhan subkultur punk. Ia menjadi orang yang menyatukan para personil Sex Pistols dan memulai skena punk di London. Atau John Sinclair yang membentuk ruh dalam band MC5 di Detroit. Juga ada Rob Gretton yang memanajeri Joy Division dan New Order di Manchester.

Orang-orang di balik panggung inilah yang juga membentuk subkultur punk. Mereka tak hanya duduk dan singgah di kapal bernama punk, namun ingin diingat sebagai yang paling berjasa dalam perjalanan punk di lautan musik. Merekalah justru yang juga punya andil, namun dipinggirkan dari ingatan. Memang nama-nama itu hanya tercatat sedikit oleh Atolah di bukunya. Ia lebih banyak memfokuskan perihal band-band yang membentuk skena punk di empat kota tersebut.

Namun, fokus itu tidak membawa Atolah untuk menyajikan biografi singkat dan peristiwa musisi yang hidup lebih baik secara spasial dan financial setelah sukses. Kita juga dapat mengetahui bahwa sejarah musik punk ternyata tidak hanya perkara kejayaan para musisi yang nama bandnya bias terus tercetak di kaos-kaos sampai saat ini. Atau musiknya terus didengarkan secara digital. Kisah-kisah band seperti Death, Pure Hell, Buzzcock, dan Television juga ingin hadir dan teringat. Buku History of Punk ini menjadi media yang bias tetap mengisahkan bahwa punk tak melulu soal band seperti Ramones, The Clash, MC5, The Stooges, dan New York Dolls. Atau perihal rockstar yang keranjingan heroin dan narkotika lainnya ketika menjadi mapan.

Kisah-kisah yang terpinggirkan dan ganjil juga terus terkisahkan melalui buku ini. Walau agak sayang, kisah-kisah itu tercetak dengan beberapa kekeliruan secara bahasa. Kesalahan ketik yang akan membuat pembaca sedikit bingung dalam menjelajahi sejarah singkat punk di buku.


Nu’man Nafis Ridho, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta dan sesekali menulis.

Puisi

Puisi Daruz Armedian

di luar ketiadaan

di luar ketiadaan, sesuatu yang tak teraba

oleh mata terbuka, menciptakanmu,

menciptakan ruang dan waktu,

nama dan bahasa,

rindu dan cinta,

semesta.

di luar ketiadaan, semesta menjadi

kekosongan. rindu dan cinta lebur,

nama dan bahasa hancur,

ruang dan waktu remuk,

dirimu tak terbentuk.

di luar ketiadaan, tampak

hanya ‘ada’, yang akan

menutupi ‘ketiadaan’ itu sendiri.


kemungkinan

mungkin, di bawah pohon itu,

kita pernah bercengkerama.

soal filsafat dan agama,

soal ada dan tak ada,

soal moral dan dogma,

soal muasal bahasa-bahasa,

soal adam dan hawa,

soal penciptaan dunia,

dan sebagainya.

tapi mungkin tak seperti itu.

kita tak pernah di sana,

tak bercengkerama soal apa pun.

yang ada hanya angin

menggugurkan daun-daun.


distopia

aku terjaga dan tak menemukan diriku

yang sesungguhnya.

berjalan dengan kaki yang tak menginjak

sebagaimana mestinya.

memandang dengan mata yang buta.

ruang sepertinya hanya terbuat dari kegelapan.

duh, tuhan yang menguasai alam,

kenapa mesti ada kebangkitan?

tak ada musik

mengalun di sini,

apalagi cericit burung pagi hari,

apalagi nyanyianmu

(yang di telingaku

kuanggap sebagai kebahagiaan tertentu).

duh, tuhan yang menciptakan bunyi,

kenapa mesti ada sunyi?

sesekali kurasa ada yang memanggil.

pelan-pelan tapi bergema.

mungkin dirimu

tapi tak kutahu itu di mana.

arah jalan semakin lama

semakin bercabang

dan setiap cabang

hanya berisi kekosongan

tuhan, sejak kapan kita berjauhan?


setelah kata-kata tak ada lagi

setelah kata-kata tak ada lagi,

dengan apa kita bicara,

menulis puisi,

dan mengarang cerita?

kepada apa kita musti membaca,

memahami,

dan menduga tanda-tanda?

bagaimana cara berbagi,

berjanji,

dan menjawab tanda tanya?

setelah kata-kata tak ada lagi,

mungkin hanya hening,

dan kita menjadi batu,

bisu,

mungkin hanya dingin

yang lain.


lekas peluk aku

lekas, lekas peluk aku dan tenangkan

keriuhan di kepalaku. makin hari,

bumi makin lupa cara menerima

manusia. kota makin membara,

dan hujan jatuh lebih sering dalam

bentuk melankolia. duh, manisku,

aku mencintaimu di tengah-tengah

kepadatan penduduk, di sekitar

kerumunan buruh harian, anak

jalanan, gerombolan tunawisma,

dan sebagainya. aku mencintaimu

pada zaman di mana aparat

tak pernah bersahabat, pada waktu

di mana pemerintah lupa menaruh

nuraninya. lekas peluk aku dan

tenangkan keriuhan di kepalaku.

sebab negara tak pernah memeluk

penduduknya. tak menjamin

ketenangan rakyatnya.


hatiku gelombang

hatiku gelombang:

bergemuruh

dalam pencarian.

dan kau pantai:

menunggu

dalam keheningan.

untuk dapat bertemu,

keakuanku perlu selesai.

perlu lebur menjadi buih.

hancur menjadi kekasih.


cara terbaik membuka mata

setelah kehilanganmu

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah waktu pelan-pelan jadi gerbong kereta,

membawamu ke arah yang tak ada aku di sana.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah bertahun-tahun sebelumnya, aku terjaga

dalam keadaan jatuh cinta.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah aku paham kau melambaikan tangan,

yang bukan untuk sapaan.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu.

cara yang sama sekali belum pernah kupelajari,

sebelum kau memilih pergi.


percintaan kuli bangunan

o astaga, di ruang ini kita cuma berdua.

selain itu; kalender tahun lalu,

gitar tua, jendela yang tak terlalu

beres engselnya, dan jam dinding

yang kelihatan lain. kamu mau

kutandai lehermu? atau telinga?

atau… tutup pintunya. dalam

percintaan kita, jangan ada

yang boleh masuk, apalagi aturan

negara. di luar, biar berkecamuk,

biar kota sibuk merawat polusi

dan polisi (dua hal yang amat

mengganggu ini). biarin aja.

keringat kita, pelan dan amat pelan,

menyusun bahasa, yang tidak

dipahami oleh para pembenci;

oknum partai, pemegang kekuasaan,

ustaz palsu, pendakwah gadungan,

aparat taik, kontraktor taik, bos taik.

o gendaanku yang paling yoi,

jangan tidur malam ini. kita

main sampai pagi. sampai pagi.


aku akan memelukmu

aku akan memelukmu dalam

bentuk bayangan tidak utuh,

asing dan jauh. lalu cerita

soal hidup dalam kesia-siaan

dan kematian dari orang yang

terlupakan. aku akan menyiram

pohonan yang subur di tubuhmu

dengan air mata kedukaanku:

selain kebahagiaan, kesedihan

juga butuh dibagikan.


aku ingin menyudahi kesedihanku

aku ingin menyudahi kesedihanku

sebagai manusia

yang kerap gagal memaknai

jalur-jalur hidupnya.

menjadi batu, misalnya,

atau cemara atau keheningan beranda.

diam dan mengamati

bagaimana cara manusia

meluaskan kebodohannya sendiri.


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan puisi se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya pernah tayang di media cetak dan online. Buku kumpulan puisinya, agaknya mau terbit tahun ini.

Cerpen

Cinta Seorang Pelukis

Cerpen A. Warits Rovi

Wajah Lin adalah inspirasi cinta yang melebihi keindahan lanskap sebuah pantai, yang menggugah hatiku untuk melukis sesuatu yang indah. Dan harus kuakui, sebulan terakhir aku tak perlu datang ke pantai atau datang ke tempat wisata untuk melahirkan lukisan yang indah. Cukup melihat wajah Lin, maka lukisanku akan indah. Bahkan aku merasa, seandainya satu minggu tak bertemu Lin, mungkin—atau bisa dipastikan—bakat melukisku akan pudar. Setelah cinta berkuasa, segalanya seperti harus menghamba.

***

Lin kerap menunjukkan gambar sketsa yang sebenarnya jelek, tapi dengan dorongan hati yang entah kenapa, aku mengacungkan jempol atas gambar itu. Lin tersenyum. Sementara teman-temannya berdehem, sembari bisik-bisik, lalu bersama-sama menertawakanku. Aku membentaknya dengan suara lantang dan sebuah amuk telapak tangan mendarat keras di datar meja. “Duarrr.” Aku berjalan sambil berkacak pinggang dari satu bangku ke bangku lain, kutatap tajam mata anak didikku yang hanya bisa menunduk dan gemetar. Tiba-tiba kelas menjadi sepi. Aku marah-marah sekitar dua menit. Kulihat semua siswa menunduk tegang, hanya jemari mereka yang bergerak-gerak iseng, ada yang memencet pelan cat air, ada yang menggores-goreskan pensil, ada yang melipat-lipat ujung kertas. Jafri, siswa paling potensial yang duduk di pojok ruangan hanya memutar-mutar pensil.

“Baiklah, sekarang kita akhiri saja materi pada kesempatan kali ini. Dan kalian akan kukasih tugas. Buatlah lukisan absurd bertema cinta, utamakan dominasi warna hijau di lukisan kalian, dengan spasial tak lebih dari ukuran folio, boleh menggunakan pensil, cat atau crayon. Setelah berdoa, kalian boleh keluar,” ujarku bersamaan ketika kuhempas pantat di atas kursi, anak-anak membaca doa. Kurapikan buku-buku yang berisi materi yang sedianya ingin kuajarkan kepada mereka. Tapi laju waktu selama 20 menit sangat memisau perasaanku ketika aku ditertawakan mereka. Aku masih dengan wajah memerah dan dada serasa hendak meledak dengan emosi yang membuncah. Anak-anak pulang satu per satu dengan wajah yang seperti diselimuti mendung. Entah kenapa sebulan terakhir aku sering sentimen dan selalu bersikap kasar di depan anak-anak, tak selayaknya perupa yang mestinya menggunakan kelembutan hati untuk mencipta. Padahal selama enam tahun aku mengajar les melukis hanya saat ini aku seperti ini, seperti sebuah lukisan yang diciprat warna hitam oleh pelukisnya dan diabai terjemur di bawah terik matahari; kasar dan semrawut.

Ruang kelas semakin senyap, menyisihkan desir angin lirih dari arah pintu. Dalam ruangan hanya tinggal Lin dan Jafri, masih sibuk memasukkan alat-alat lukisnya ke dalam tas. Sore masih membias cahaya putih tak begitu kuning, membentuk segaris sorot memanjang di datar tembok, itu artinya senja masih lama. Anak-anak pasti sadar bahwa mereka keluar terlalu dini.

“Saya pamit pulang, Pak,” suara Lin dan Jafri hampir bersamaan membelah senyap. Sontak aku mengangguk dan entah dari mana tiba-tiba aku merasa ada sesungging senyum di bibirku. Wajah Lin yang dibalut jilbab ungu sempurna menaklukkan luapan emosi yang memuai dalam dada. Aku hanya bisa mengangguk, sebagai patung yang diam atas kehendak pemahatnya, betapa Lin adalah pemahat ulung bagi hatiku yang beku.

“Aku mencintai Lin, Bu. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikannya, karena Lin terlalu menghormatiku sebagai seorang guru. Tentu kewibawaanku akan ternoda bila harus menyatakan cinta kepadanya. Walau aku sadar mau tidak mau cinta itu harus diungkapkan dengan jalan yang baik. Dan yang paling kukhawatirkan, aku tidak sanggup menahan rasa sakit hati misalnya Lin menolak cintaku. Aku bingung, Bu,” ungkapku suatu pagi di depan lukisan almarhum ibu. Tanganku meraba-raba lukisan wajah ibu, dan air mataku menetes jatuh.

***

Aroma cat dan pensil kuhidu dari kertas dan belacu yang menumpuk di atas meja. Anak-anak baru saja menyetor tugas lukisan bertema “cinta”. Beragam bentuk dan kombinasi warna tertuang di datar kertas, seperti embun pecah di daun singkong. Aku mengoreksinya satu per satu.

Rata-rata material utama dari lukisan anak-anak adalah gambar hati tertembus anak panah. Itu pertanda imaji anak-anak tentang cinta masih statis, mengacu pada simbol cinta masa lampau. Jujur hanya Jafri yang punya kecerdasan visual-spasial dan imaji yang inovatif. Lukisan cinta yang ia setor berupa gambar sebuah gembor yang menyiram bunga, dengan sapuan cat abu-abu menyerupai tetes-tetes air yang jatuh dari lubang kecil di ujung leher gembor yang melengkung. Aku tertarik dengan lukisan itu. Tapi aku tidak bisa untuk mengacungkan jempol kepada Jafri. Karena jika itu kulakukan, Lin pasti jadi orang yang terkalahkan.

Sejenak kutatap wajah anak-anak. Mereka berwajah dingin, menunggu karya-karyanya dinilai dan diulas. Ruangan lebih senyap dari sebelumnya. Angin sore memainkan gantungan anak kunci.

“Lukisan kalian yang ada di depanku ini, semuanya salah. Minggu kemarin aku menyuruh kalian membuat lukisan bertema cinta. Tapi kenapa malah seperti ini?” ungkapan pertamaku membuat anak-anak saling pandang, dan tidak ada yang berani nyeletuk. Jafri menoleh ke arah Lin. Lin menoleh ke arah Jafri.

“Aku ingin pertemuan yang akan datang, kalian bisa melukis cinta dengan tepat.”

“Mohon maaf, Pak! Apa dari semua lukisan itu tidak ada yang bagus?” tanya salah seorang siswa dengan tatap mata sedikit awas, karena mungkin ia takut salah. Aku hanya bisa tersenyum. Aku memilah lukisan itu dengan selusup ibu jari memisah lembar demi lembar.

“Kalau bicara soal bagus, lukisan ini yang bagus. Tapi masih kurang mengena ke tema,” kataku seraya menunjukkan selembar kertas, hasil lukisan Lin. Lukisan setengah absurd berupa gambar hati tertusuk peniti dengan dominasi warna jingga.

Anak-anak terpaku menatap lukisan yang kupegang. Dan aku berbohong untuk kesekian kalinya. Sebenarnya hatiku sadar, jika lukisan Lin tak begitu bagus. Aku sadar bahwa apa yang baru saja kulakukan hanyalah suara cinta.

“Jadi, lukisan itu yang paling bagus ya, Pak?”

“Iya. Ini yang paling bagus.”

Lin tersipu mendengar ucapanku yang menobatkan lukisan miliknya paling bagus. Sementara anak-anak sebatas saling pandang, tak lagi berani bisik-bisik dan mengoceh. Aku malu kepada diri sendiri. Cinta telah menuntutku jadi begini.

Sore itu pikiranku tak keruan oleh godaan wajah Lin. Akhirnya materi harus segera kusudahi. Aku menyuruh anak-anak untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, lagi-lagi untuk membuat lukisan cinta.

***

Di sela waktu, ketika anak-anak mengawali pelajaran dengan berdoa. Tak kubuang kesempatan untuk merogoh isi tas, mengeluarkan sebuah lukisan dan menggelarnya di atas meja. Aku tak pernah bosan mengamati lukisan wajah Lin di selembar kain belacu buatanku itu. Aku tersenyum dan hatiku bahagia, anak-anak selesai berdoa, lekas kulipat dan kumasukkan kembali lukisan itu ke dalam tas. Biar ia menjadi rahasiaku sendiri yang mampu berbicara kepada perasaan tanpa sepengetahuan siapa-siapa.

Anak-anak menyetor tugas lukisnya ke hadapanku. Kembali kuamati 20 lukisan aneka rupa dengan kuar harum cat menusuk hidung. Aku menggeleng-geleng, seraya kulepas jimpitan lembar-lembar yang telah kukoreksi. Anak-anak memandang dengan sedikit cemas.

“Semua lukisan yang kalian setor, sama seperti yang minggu lalu. Tak satu pun yang pantas untuk disebut lukisan cinta,” kata-kataku membuat anak-anak terdiam, sebagian saling pandang dan sebagian yang lain menjaga tatap matanya yang tajam tertuju kepadaku.

“Dan lukisan yang paling bagus, tetap karya Lin.”

“Huuuuuu!” suara anak-anak serentak, membuat lecut pecut ke telingaku, sontak aku naik darah. Dan telapak tanganku memukul meja. Duarr!!

“Sekarang kalian pulang! Cepat!” Amarahku memuncak, jantungku seperti mendidih. Anak-anak keluar menenteng tas. Sekali lagi aku merasa bahwa cinta telah membuatku semakin jadi patung yang tak kuasa atas tubuhnya sendiri, beruntung aku punya prinsip, tak apa menjadi patung, asal hati bahagia.

Setelah semua siswa keluar, tiba-tiba Lin berdiri di hadapanku, ia menunduk, menampakkan wajah yang minta dikasihani.

“Lin!’

“Iya, Pak.”

“Mengapa kamu berdiri di sini?”

“Saya ingi tahu. Lukisan cinta itu sebenarnya seperti apa, Pak?”

Aku terdiam. Dan dadaku berkecamuk, tapi hatiku bahagia bisa berhadap-hadapan setengah meter dengan orang yang diam-diam kucintai. Dengan pertanyaan itu, Lin seperti membuka sebuah jalan bagiku untuk masuk ke hatinya. Aku tak ingin membuang kesempatan.

“Lukisan cinta seperti ini, Lin,” jawabku seraya menyodorkan lukisan wajah Lin yang kubuat di kain belacu. Lin menerima lukisan itu dengan tangan gemetar. Aku tersenyum bahagia. Magma cinta yang berabad bergelegak, kini telah meledak.

“Terima kasih, bapak telah memberitahu lukisan cinta yang sebenarnya kepada saya. Saya akan memberikan lukisan cinta ini kepada Jafri. Karena saya sudah lama mencintai Jafri, Pak,” ucap Lin sembari mencium kain belacu itu tiga kali.***

Rumah FilzaIbel, 2021


A. Warits Rovi, lahir di Sumenep, Madura. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media nasional dan lokal. Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl. Raya Batang-Batang PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472. Bisa disapa melalui email: [email protected]

Buku, Resensi

Negara, Peliknya Administrasi dan Hidup Orang-orang Biasa

Oleh Poppy Trisnayanti Puspitasari

La Muli tidak dibuka dengan adegan mengerikan. Lembar-lembar selanjutnya pun, tidak dihiasi orang yang mati bunuh diri, adegan seks tersurat hingga pembantaian. Bagi pembaca yang terbiasa mengonsumsi sastra serius dengan cerita menghentak dan berdarah-darah, La Muli barangkali mengejutkan. Namun bagi pembaca yang sebelumnya pernah membaca karya lain dari Nunuk Y. Kusmiana, ketiadaan hal-hal ekstrim tadi tentu tidak bikin terkejut.

Lengking Burung Kasuari (LBK), menjadi karya perdana Nunuk yang menjadi naskah unggulan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016 lalu. Nyaris serupa dengan La Muli, LBK menceritakan kehidupan sehari-hari pendatang di tanah Irian Jaya. Jika LBK menceritakan kehidupan keluarga tentara kelas menengah yang pendatang dari Jawa, La Muli sebaliknya. La Muli justru menceritakan kehidupan kelas bawah keluarga nelayan pendatang dari Buton.

Pergulatan keluarga dalam LBK dan La Muli pun nyaris serupa, harus ada upaya bertahan hidup, mengakali penghasilan dan penyesuaian diri dengan budaya-budaya di tanah rantau. Meski tentu saja, persoalan air hingga sanitasi tidak dialami sama sekali oleh kelas menengah dalam LBK, beda betul dengan kelas bawah dalam La Muli yang salah satu permasalahan utamanya adalah hal satu ini.

LBK di awal hingga akhir novel menyajikan sudut pandang putri tertua keluarga tentara yang berusia tujuh tahun. Sedang La Muli sebagai naskah unggulan Sayembara Novel Basabasi 2019, menyajikan sudut pandang orang ketiga dalam sebagian besar jalan ceritanya. Gaya berbahasa dalam La Muli pun tidak berbunga-bunga. Pergantian waktu, latar dan para tokoh yang berhadapan selalu ditandai satu paragraf penjelas tanpa diksi-diksi sukar.

Pantainya landai. Pasirnya hitam. Air lautnya kotor. Mungkin pengaruh dari pasir yang hitam itu. Kampung itu belum benar-benar bangun, kecuali sekelompok kecil nelayan yang baru pulang melaut. (hal 117)

Sinar mentari siang memancar ganas. Seolah ingin menghanguskan apa saja. Di dalam gereja hantaman sinar mentari siang teredam sedikit oleh langit-langit. Angin mengalir masuk dari jendela-jendela yang terbuka. Mengusir pengap yang terperam di dalam ruangan. (hal 124)

Tapi bagaimana La Muli yang tanpa kalimat berbunga dan hampir minim adegan ekstrim menjadi menarik buat terus dibaca? Semua ternyata bertumpu pada lokalitas yang bukan tempelan. Dialog dibuat berbahasa Indonesia kental logat Papua. Meski demikian, Nunuk tidak memaksakan kosakata lokal yang harus dijejalkan catatan kaki agar pembaca mengerti. Lokalitas Papua yang disajikan pun jauh dari koteka, upacara bakar batu dan hal-hal yang biasa dicap primitif dan disajikan di media massa. La Muli justru menunjukkan pergerakan masyarakat urban di tahun 1980an yang ternyata juga terjadi di Papua.

Salah satu poros permasalahan dalam novel ini adalah persoalan administrasi. Dapat dikatakan, peliknya administrasi menjadi sosok antagonis alias penghalang bagi para tokoh utama. La Muli si pendatang mesti dihadapkan dengan kekagetannya soal pembentukan er-te alias Rukun Tetangga. Rutinitasnya sebagai nelayan pun kerap berubah, ketika mesti berkenaan dengan persoalan warga yang katanya wajib jadi tanggungan ketua er-te. La Muli dan sesama pendatang lainnya di tahun tersebut ternyata buta soal perapihan administrasi dan pembentukan perangkat kampung. Hal tersebut ditunjukkan dalam dialog halaman 11 sebagai berikut:

“Apa persisnya tugas ketua er-te?” celetuk salah satu peserta rapat.

“Salah satunya berhubungan dengan administrasi. Mencatat nama-nama penduduk. Membuat rekomendasi kalau penduduk ingin mendapatkan surat rujukan untuk membuat ka-te-pe, atau membuat surat pengantar untuk mengurus surat kelakuan baik. Contoh surat rekomendasinya seperti ini.” kata Obet sambil mengambil selembar blanko isian.    

Tidak jauh berbeda dengan La Muli, suku Kayo Batu mesti juga menyesuaikan diri dengan perapihan administrasi. Persoalan tanah adat dan peralihan pemerintahan dari Belanda hingga akhirnya Indonesia, menjadi hal yang suku asli Jayapura ini mesti perjuangkan. Perjuangan soal tanah adat tersebut ditunjukkan dalam dialog halaman 157.

“Bagaimana kalau saya pelajari lebih teliti berkas-berkasnya?” tambah gubernur. “Lebih-lebih setelah pengambilalihan kekuasaan dari pemerintah kerajaan Belanda ke pemerintah Republik Indonesia, yang tersisa hanya masa lalu yang sudah selesai. Singkat kata, peristiwa ini terjadi di masa lalu dengan pemerintahan yang bebeda. Saat ini bapak-bapak berhadapan dengan perwakilan pemerintah Republik Indonesia. Akan saya pelajari dan memberikan jawaban tertulis. Begitu lebih baik?”

Tidak ada perang si jahat melawan si baik dalam novel ini. Baik La Muli dan orang-orang suku Kayo Batu hanya menjalani kehidupan sehari-hari dengan usaha apapun yang mereka bisa. Mereka tidak memahami atau terlalu peduli dengan pergolakan politik, peralihan kekuasaan dan sejenisnya. Yang mereka lakukan hanya memerjuangkan hak dan makan dari keringat sendiri. Mula-mula kehidupan pendatang dan suku asli Jayapura ini pun cenderung tanpa gejolak, jika saja perapihan administrasi tidak tiba-tiba hadir kemudian memaksa mereka mengikutinya.

Nunuk telah memotret lokalitas yang betul-betul tidak bisa ditempelkan jika latar belakangnya selain Jayapura. Ada persoalan sejarah hingga peralihan kekuasaan yang goncangannya membuat novel setebal 196 halaman ini bergerak dinamis. Para tokoh yang berprofesi sebagai polisi dan tentara tidak lepas juga dalam jalan cerita. Mereka ini yang diceritakan menjaga perdamaian di tanah Irian Jaya meski ternyata, kebijakan yang dibuat turut pula membikin rumit kehidupan masyarakat kelas bawah karena tidak disesuaikan adat setempat. Tokoh berseragam lain, ada pula yang digambarkan menempuh kebijakan demi mempermudah urusan negara di tempat dirinya bekerja, sekalipun menyadari telah menyalahi hak orang lain.

Kesenjangan antara kebijakan, perapihan administrasi dan juga diterapkannya dua hal tadi tanpa mengindahkan adat setempat yang ternyata menyumbang depresi dalam diri para tokoh La Muli. Semuanya terasa serba tiba-tiba. Dari kehidupan mereka yang dulunya datar dan sekadar memenuhi kebutuhan perut, namun tiba-tiba mesti berlarian memenuhi aturan-aturan baru dari orang-orang berseragam yang digambarkan sangat pula para tokoh ini hormati. Masih orang-orang berseragam ini pula yang ternyata hampir semuanya berasal dari luar Jayapura. Hal demikian yang barangkali juga menyumbang kebijakan-kebijakan yang ditelurkan dan paksa diterapkan pada akhirnya tanpa melihat adat sekitar.

Para penulis yang berambisi mengemukakan tema-tema lokalitas, agaknya mesti betul-betul menguliti La Muli agar apa yang diusung bukan lagi hanya tempelan, apalagi sekadar drama percintaan urban yang paksa diberi latar pantai dan profesi nelayan. Sebuah cerita yang di mana saja latarnya diganti sekalipun, bukan menjadi masalah. Demikian barangkali akan serupa La Muli, yang memang bukan sekadar novel dengan tempelan latar pantai, profesi nelayan dan kosakata berbau daerah yang padanan katanya sukar dicari dalam Bahasa Indonesia.

Halaman terakhir novel ini pun tidak betul-betul menunjukkan kesedihan atau kebahagiaan yang terang. Para tokoh ditunjukkan mesti terus melanjutkan hidup yang tidak tahu bagaimana ujungnya. Mereka yang kemudian tidak sengaja memilih, hidup dipermudah negara atau kemanusiaan antar orang-orang biasa. Kemudian Nunuk dalam La Muli barangkali pula ingin menyampaikan, sastra serius yang apik tidak mesti dibuka dan ditutup dengan kejadian-kejadian tragis.


Poppy Trisnayanti Puspitasari, belajar menulis di Pelangi Sastra Malang. Dapat ditemui di blognya http://semangkaaaaa.blogspot.com

Puisi

Puisi Setia Naka Andrian

Pada Sebuah Peta

peta ini

yang kau susun

dari sumber air mata

dalam belantara surga

di hati apimu

peta ini

yang kau ciptakan

dari tarikan napas batu

di hari minggu

yang kerap miring

selepas orang-orang lari

ke dinding taman kota

dan atap lima waktu

peta ini

yang mengajarimu

bagaimana melihat matahari jatuh

serupa nenek-nenek mencari

arah lari cucunya

yang membentang

ke dalam dan luar angkasa

peta ini

yang kau hidupkan

setiap kali mata angin menjauh

dan meninggalkan rahasia baru

peta ini

yang menjadi tersangka

pengirim resep masakan

menguning di meja makan

lalu kau bersama segelas cuka

menatapku

yang diam-diam ditimbun

dalam nada dering di dadamu

peta ini

yang menumbuhkanmu

menjadi sebuah tatanan hidup baru

di akhir pekan

yang menghitam itu

menandai kapan semua

akan segera pulang

kapan semua akan dihitung

dari seberapa jauh

dan pendeknya garis tujuan

Kendal, Januari 2021


Di Atas Batu

Di atas batu

Ada namamu

Di bawah batu

Ada garis melupakanmu

Aku sedang belajar

Menghitung pertumbuhan

daki

di dadamu

Dari suaramu

di atas batu

Sesungguhnya

aku tahu

Bagaimana hari itu,

Menjadi seperti sangat kecil

sekali

Entah, aku menganggap

tiada lagi cara terbaik

untuk dapat memahamimu

Bagaimana suatu saat nanti

Hari-hari menjadi batu

Menjadi segala rupa

yang tak pernah kita hitung

sebagai waktu

Kendal, Januari 2021


Ruang Tunggu

Di ruang tunggu

Kusaksikan kau duduk

Bersama sebutir peluru

Orang-orang naik tangga

Anak-anak kecil membeli

sebuah kaleng berisi harga

sebuah nyawa

Di ruang tunggu

Kau masih duduk

Sedangkan dari kejauhan

Sepasang kekasih saling lempar

cium tak keruan

Aku tak tahu,

Bagaimana kau tinggal

dengan sebutir peluru itu

Yang baru saja dikenang

Dalam sebuah upacara terakhir

menjelang kepulangan

Yang entah harus berangkat

ke mana

Meski pada saat itu

Aku tahu,

Kau meratapi segala

yang tumbuh dari matamu

Betapa yang menetes

Adalah peluru itu

Yang sesungguhnya

Akan menjadi siapa

Tak ada yang tahu

Kendal, Januari 2021


Berat Badan

Aku tak tahu

Kapan berat badan

berumur panjang

sepertimu

Aku tak tahu

Kapan kau tumbuh

dari cangkul

dan ular-ular berbisa

namun tak bernafsu

Aku tak tahu

Bagaimana kau

menciptakan kebaikan

dari sepasang mata

di punggungmu

yang di situ, ada aku

sendirian

Mengunci

Dalam berat badanmu

Kendal, Januari 2021


Layar Komputer

Sebuah layar komputer

terbuka lebar

Puisi-puisi berserakan

Memandangi dinding

halaman koran minggu

Aku mendapatimu

diam-diam

di antara jaringan internet

putus

dan suara pukulan huruf

bersahutan

dengan detak jam dinding

di sebelah kamar

Aku bilang, duduklah

sebentar

Istirahatlah dengan tenang

Tapi kau bilang,

itu candaan picisan

Tak pernah diikuti

oleh siapa pun

yang kerap memburu

perjalanan

Apalagi, bagi mereka

yang mengungsi saat hujan

tumbuh dalam kerongkongan

yang lapar

Aku yakin, kau masih

punya banyak pikiran

Bagaimana hutan menjadi bunyi

keterlambatan

Yang melambaikan alarm

Setiap kali tuhan datang

Mengguyur jari-jari tanganmu

dengan senyum lebar

Sebuah layar komputer

terbuka lebar

Kau duduk bergandengan

dengan kata-kata

yang sebentar lewat

sebentar menunggu dijatuhkan

Dan aku, kian tak tahu

Harus ke mana lagi mengejarmu

Sedangkan kau

sepertinya sudah asyik

Menjadi layar kehidupan;

juga kematian

yang tak pernah

dihuni banyak orang

Kendal, Januari 2021


Sebuah Pabrik

Sebuah pabrik

dan permasalahan baru

Korek api

dan ke mana perginya ibumu

Kandang ayam

dan pasokan gizi

bagi balita yang tinggal

seorang diri

Sebuah pabrik

dan antrian panjang

Menempati urutan kesekian

di pengadilan

Palu diketuk pelan

selepas burung-burung masuk

di ruang sidang

Sebuah pabrik

Narasi buntu dan seribu payung

mengadili kehadiranmu

Cuaca buruk dan makan malam

yang timbul-tenggelam

selepas mertuamu mengganti warna

gincu

Sebuah pabrik

Ditanam dalam arloji plastik

di punggung seorang ibu

Dijuallah pertanyaan,

kapan jadwal terbaik

untuk minum susu

dan menggoda tetangga baru

Sebuah pabrik

Dalam kolam ikan

Kapan menjadi koloni baru

Yang dipaksa masuk

di abad paling lampau

yang katanya sudah kian

ditinggalkan itu

Sebuah pabrik

Mencari tahu

Kapan dirimu

dan aku

Menjadi serupa mesin

Yang lebih merdeka

dari sebuah pintu

Biar dibanting-banting

dan digedor itu

Namun tetap saja,

ia menutupi

segala kesalahan

dan kegagalan

Darimu

dan dari aku

Kendal, Januari 2021


Beternak

Beternaklah di kakimu

Yang jauh-jauh hari dikirim

dari semesta kirimu

Beternaklah menjauh dariku

Agar suatu saat

Ada kabar yang menyusup

Lewat telingaku yang buntu

Beternaklah mendekati

mautku

Jika memang hari depan

akan tumbuh

Bersama sekian ucap

yang dipilih seorang diri itu

Beternaklah mencapai puncakku

Di sebuah napas

Dalam nafsuku yang masih itu-itu

Kendal, Januari 2021


Dua Kali Sehari

Sehari, dua kali sehari

Mamamu pulang

Menjemputmu dari kejauhan

Sehari, dua kali sehari

Papamu bilang jangan sampai

telat makan

Sehari, dua kali sehari

Cuaca berhenti di tikungan

tubuhmu

Yang saat itu masih lugu

dan berwarna ungu

Sehari, dua kali sehari

Kau memandangi nenekmu

Ia makin kuat

menjadi lampu-lampu

Sehari, dua kali sehari

Aku memanggilmu

Sebab bagaimana lagi,

kamarmu hitam

Berisi alpukat busuk

dan gambar-gambar rindu

yang kuyu

Sehari, dua kali sehari

Pacarmu naik tangga

Menuju kamarmu

Sehari, dua kali sehari

Ia menginap di situ,

pada sebuah rumah

Yang sama sekali

Tak pernah mempertemukanku

Dengan dirimu

Sehari, dua kali sehari

Hanya pacarmu saja,

yang sampai masuk

Sangat dalam

;dalam sekali

Lalu di sana, ia menggantung diri

Katanya,

hanya karena demi aku.

Kendal, Januari 2021


Tarik Napas Panjang

Tarik napaslah panjang-panjang

Baru dua hari selepas itu

Pagar tertutup,

Setiap kali sore mengunci

pintumu

Rapat-rapat dalam tidurmu

Tarik napaslah panjang-panjang

Sebab ke mana lagi,

angin akan berterus-terang

membawamu

Jika memang sungguh,

pergi bukan lagi menjadi jauh

Yang meninggalkanmu

Tarik napaslah panjang-panjang

Di sana sedang didirikan

rumahmu

Sebuah perjumpaan

yang sering mampir

dalam setiap hujan

yang turun

di atas bantalmu itu

Tarik napaslah panjang-panjang

Dengan caramu yang paling sepi

Kemudian tataplah aku,

Jika memang ini waktu

yang tepat untuk pulang

Pergi sendiri,

tanpa meninggalkanmu

Kendal, Januari 2021


Seekor Kucing

Seekor kucing

Menatapmu dari depan

pintu sebuah kamar

Suaranya melengking

Menjadi sebuah nada panggilan

Berbunyilah sebentar

Meski tak sedikit

yang perlu ditawarkan

Kucing itu masih menatapmu

Ia sendirian berdiri

Di antara kaki orang-orang

Yang sedang berebut berlarian

Meninggalkan doa perjamuan

Kipas angin masih berputar

di sudut ruang paling kanan

Kau memanggilku

Dengan suaramu yang riang

tanpa nada getar

Dan di ponselmu

Aku menyanyikan sebuah lagu

Kemudian seekor kucing itu

Mencakar mulutku

Dan kau memanggilku berkali-kali

Aku pura-pura tak tahu

Yang ternyata kian dalam

Kau menghancurkan suaraku

;apalagi perasaanku

Kendal, Januari 2021


Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kendal. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisi terbarunya Mendaki Dingin (Pelataran Sastra Kaliwungu, 2020). Buku puisinya Kota yang Mukim di Kamar-Kamar (Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019) memperoleh Nomine Antologi Puisi Terbaik Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Bisa disapa di [email protected]

Cerpen

Suatu Hari yang Tiada Disangka-Sangka

Cerpen Arafat Nur

Sudah tiga tahun lebih Laila menunggu, tetapi belum ada kabar tentang Khaidir, suaminya. Meskipun tidak terlalu yakin, dia masih berharap suaminya kembali. Cuma itu sisa hidupnya sesudah putranya juga pergi.

Hari-harinya begitu sepi tanpa suaminya dan semakin hampa setelah anak lelakinya yang digerogoti penyakit aneh meninggal dunia setahun lalu. Laila tidak tahu apa jadinya ketika suaminya nanti kembali begitu tahu anaknya telah tiada.

Kekalutan terus menyelimuti perempuan yang sudah lima tahun berumah tangga itu. Kerutan halus di bawah matanya menunjukkan betapa buram kehidupannya. Cuma sepenggal harapan yang menyulut gairahnya dalam menjalani hari-hari sepi di kampung yang terpencil itu.

Ketika senja hari, dia selalu duduk di beranda seraya melemparkan pandangan ke jalan menikung menuju ke jalan utama kampung. Di sana hatinya berdebar-debar, berharap-harap cemas kalau-kalau yang datang itu adalah Khaidir. Suaminya sering muncul di sana ketika senja dengan cangkul di pundaknya.

Benar saja. Ada lelaki yang sedang menuju ke situ. Jantung Laila berdegup kencang antara harap dan ragu. Perasaan itu memang menyiksanya, sekaligus menyenangkan. Menyenangkan karena dia masih bisa berharap suaminya itu pulang.

“Laila, kenapa termenung?!”

Ternyata lelaki itu bukan Khaidir. Perempuan itu tersipu karena ketahuan melamun lagi.

“Oh, Bang Alan rupanya. Dari mana?”

“Baru pulang melaut. Ini kubawakan sedikit ikan untukmu, tapi tak segar lagi.”

“Kapan Bang Alan mulai melaut?” Laila agak terkejut.

“Baru seminggu ini.”

“Abang tak lagi membajak sawah?”

“Payah. Wereng begitu merajalela. Lagi pula sudah terlalu lama hujan tidak turun-turun. Sawah-sawah di lembah sudah kekeringan. Bagaimana padi bisa tumbuh di tanah kerontang yang pecah-pecah?”

Perempuan itu tertegun. Itu pula alasan Khaidir menyingkir dari dusun itu untuk mencari penghidupan lain. Namun, suaminya bukan pergi melaut, melainkan bekerja di Pelabuhan Kota Banda. Jaraknya begitu jauh bagi perempuan semacam Laila. Lagi pula dia belum pernah pergi ke luar kampung selain ke kota kecamatan.

“Ini ikannya,” Alan mengacungkan bungkusan plastik hitam.

“Apa di Kuala, Bang Alan ada dengar-dengar kabar tentang Bang Khaidir?”

“Belum sih. Abang sudah tanya-tanya sama beberapa nelayan, tapi tidak ada yang tahu,” sahutnya.

Wajah perempuan itu berubah muram. 

“Kamu jangan bersedih begitu. Kalau ada umur, pasti Bang Khaidir pulang.”

Laila berusaha tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih. Lelaki yang masih membujang itu pamit. Sepi kembali menghimpit dada perempuan itu.

Sebenarnya, harapan-harapan Laila tidak beralasan. Dunia pun tahu kalau ombak besar tiga tahun lalu itu sudah menenggelamkan sebagian besar Kota Banda dan sejumlah tepi pantai. Dua puluh lima ribu lebih orang meninggal, dan belasan ribu lainnya hilang tanpa jasad dan tanda digulung ombak.

Oh, Laila tak menginginkan ombak itu menelan suaminya. Barangkali saja ketika ombak itu menghantam daratan, Khaidir tidak lagi di sana. Hari itu Minggu, bisa saja suaminya pergi ke tempat lain karena libur kerja. Dia yakin itu meskipun sampai sekarang dia tidak menerima kabar apa-apa.

Tentunya jika Laila tidak memiliki harapan lagi, dia sudah menerima lamaran tuan tanah, Ampon Lah, yang istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Atau Bang Gani berkepala empat yang masih terus membujang. Lagipula tiga tahun baginya belum terlalu lama untuk menunggu suaminya pulang.

“Tapi berapa lama lagi kamu harus menunggu?” tanya Cek Midah, bibinya, yang cemas dengan keadaan Laila.

“Aku tak tahu, Cek. Tapi kalau sudah terima kabar tentang Bang Khaidir, baru nanti bisa aku putuskan….”

***

Rumah yang terletak di pinggang bukit menawarkan hamparan pemandangan indah. Kadang-kadang Laila bisa merasakan bau laut yang dibawa angin menjelang petang. Sedangkan malam, cuma angin gunung yang mengusupkan dinginnya kesunyian. Suara serangga menyelinap sampai ke dalam tidurnya. Tengah malam Laila terbangun, ditemui dirinya terbenam dalam kesepian.

Empat tahun sudah berlalu hidup yang dijalani sendiri. Orang-orang mendesak agar dia segera menikah lagi. Selagi masih muda, masih ada lelaki yang suka. Lagipula tidak mungkin dia terus-terusan sendirian tanpa suami dan anak lagi. Bagaimana hari tuanya nanti? Hidupnya semakin sepi, tanpa seorang pun yang menemaninya.

“Diam-diam Bang Alan juga menyukaimu,” kata Cek Midah.

“Yang betul?” Laila terhenyak.

Alan lelaki sederhana, baik, dan pekerja keras. Dia mau bekerja apa saja demi bertahan hidup. Selama ini dia pula yang menghidupi kedua orang tuanya. Ketika mudah rezeki, Alan tidak sungkan-sungkan membantu Laila. Tidak ada lagi yang memberikan nafkah kepada perempuan itu sejak suaminya pergi. Satu-satunya sumber penghidupannya adalah sepetak kebun kelapa di belakang rumah yang buahnya sudah jarang. Akar-akarnya kekurangan air selama kemarau ini.

Laila teringat Alan, tetangga paling akrab dan paling peduli. Dia yakin, perhatian lelaki itu padanya tulus tanpa pamrih. Semata-mata bantuan yang diberikan Alan itu atas rasa kemanusiaan. Alan pula yang sering menghibur gundah hatinya yang tak berkesudahan.

“Betul,” jawab Cek Midah.

“Dari mana Cek Midah tahu?”

“Dia sendiri yang bilang.”

“Apa katanya?”

“Katanya dia belum ingin kawin, kalau suamimu belum pulang.”

“Apa hubungannya?”

“Ya, kamu pikir sendiri.”

Kening Laila berkerut.

“Dia juga bilang, dia akan kawin kalau kamu sudah kawin lagi.”

Alan memang mempunyai kesamaan dengan Khaidir. Selain rajin, dia juga gigih. Lagipula Alan memiliki rupa tidak jelek, meskipun tidak terlalu tanpan. Sebagaimana wajah lelaki Aceh kebanyakan, begitulah Alan. Dia memiliki rahang kuat sebagaimana jamaknya petani atau nelayan. Kulitnya agak legam, memang, karena sering terbakar matahari.

“Kamu tahu?” tanya Cek Midah. “Itu artinya dia menaruh hati padamu.”

“Hmmm….” pipi Laila merona.

“Jika kamu bersedia, orangtuanya akan datang melamar. Kita bikin saja acara yang sederhana….”

***

Lengkungan ujung janur kuning melambai-lambai di pintu pagar rumah itu. Dua tenda terpasang, menaungi orang-orang yang sibuk menyiapkan dan menyantap hidangan. Tercium aroma masakan kari ayam. Terdengar sentuhan sendok, gelas, dan piring kaca, sesekali orang tertawa.

Mereka tidak menyadari kehadiran seorang lelaki berkaus hitam. Dia menerobos kerumunan orang-orang yang sedang sibuk satu sama lain atau dengan diri mereka sendiri. Di depan pintu rumah, lelaki itu memandang Laila dan Alan sedang bersanding di pelaminan. Keduanya terlihat bahagia tanpa sadar kehadirannya.

“Aku pulang….” ucap lelaki itu.

Seketika ruangan hening. Sangat hening.

Laila berusaha meyakinkan penglihatannya. Tidak lama kemudian dia terpekik menghambur ke tubuh lelaki itu. Sedangkan Alan terpana, tubuhnya terlonjak berdiri. Tubuh pengantin pria itu seperti beku.

“Bang Khaidir!” pengantin perempuan itu bersimpuh di kakinya.

Sesaat saja ruangan pelaminan yang sempit itu sesak oleh orang-orang yang berada di luar. Tidak hanya tamu, para pekerja pun memasakkan tubuhnya melesak dalam kerumunan. Pintu rumah itu seakan ingin terkuak lebih lebar lagi.

Tak ada yang tahu kalau lelaki itu masih hidup dan terdampar oleh gelombang raya di sebuah pulau terpencil selama hampir empat tahun lamanya.***

Aceh, 2016-Ponorogo, 2020


Arafat Nur, dosen Bahasa dan Sastra di STKIP PGRI Ponorogo. Novel Lampuki (Gramedia) meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2011 dan memenangkan sayembara DKJ 2010. Buku kumpulan cerpen terbarunya Serdadu dari Neraka (Diva Pres, 2019).

Puisi

Puisi Sengat Ibrahim

CINTA

YANG KUKENAL

cinta(ku)

sama seperti cinta yang kau kenal.

tidak ada bedanya. tidak berubah juga tidak kekal.

membebaskan.

penuh kesialan-kesialan takterduga.

kedengkian. setiap detik selalu curiga.

setia yang bajingan.

pengkhianat paling cakep. muslihat

kejahatan dari yang paling masuk akal & takmasuk akal.

marabahaya

di luar ancaman. harapan tiada batas.

kesedihan paling remeh sekaligus paling serius.

senyum

yang terbuat dari bibir anak kecil.

puncak kebahagiaan. sarang kesedihan.

kelelahan

yang menolak keringat. kesenangan

yang tidak berhubungan dengan permainan.

ramai

yang sunyi. sepi yang cerewet.

panas yang mudah menempel di kulit sekaligus

merasuk

ke dalam daging. dingin

yang tidak bisa masuk ke dalam kulkas.

sinar

yang belum dilihat oleh mata.

gelap yang selamanya menjadi rahasia.

penyatuan

surga dan neraka.

tuhan paling akrab bagi seluruh manusia.

2020


PADASUATUKETIKA

SEBELUM MENJADI CINTA

pada suatu ketika

sebelum menjadi cinta. hidupku

sempat sempit. mataku kegelapan mahaluas.

hatiku

rasa cemas mahadahsyat.

pikiranku masa depan yang terbakar. 

tangan & lenganku

tempat terlarang bagi pelukan.

kakiku adalah tujuan tanpa perjalanan.

mulutku

sampah yang tidak perlu

dipakai atau dibuang untuk menjadi sampah.

pada suatu ketika

sebelum menjadi cinta. aku

adalah ketiadaan yang tidak perlu dihancurkan.

2020


TERHADAP CINTA

AKU HANYA BISA MENGANGGUK

                                  terhadap cinta aku hanya bisa mengangguk

atau takada batu dalam kepala atau hanya bisa

                               berdoa atau rasa cerewet yang tidak mau jadi

suara atau penglihatan yang berisi kebahagiaan

                                   bunga-bunga atau kebetulan yang berhasil

menjadi pengetahuan; penghapus bagi kesulitan

                                manusia atau kesalahan yang takpernah bisa

membelakangi perbuatan atau kebaikan yang

                             berulang-ulang terjadi tanpa menunggu kapan

waktunya dibutuhkan atau mendengar suara

                               yang seluruh bunyinya membuat jiwa menari

bersama tuhan atau serakah yang membuat

                                hasrat merasa cukup sebelum cakap berbuat

salah atau pemurah yang membuat miskin

                                    dan kaya takberbeda di mata so(sial) atau

penghasut yang membuat sakit dan sehat hidup

                                rukun dalam satu rumah atau pemarah yang

berhasil membersihkan negara dari kejahatan.

                                             2020


GOBLOK

DENGANKATALAIN CINTA

jika bukan  karena  cinta  punggungku  tidak  akan

mugkin

                                                                     mampu

menyangga  beban  hidup  yang  masuk  ke  dalam

                            kepala selama delapanjam penuh

                                              (duduk) menulis puisi.

jika bukan karena cinta  tuhan  tidak  akan  mampu

menciptakan   kebahagiaanku   yang  tidak  terbuat

dari apa-apa.

                                                   seperti manusia lain

aku tidak bisa menciptakan kebahagiaanku sendiri.

ibuku bilang:

‘mencintai adalah memberi kebutuhan kita (sendiri)

menjadi kebutuhan orang lain.’

dan   aku  hanya  bisa  memahami  kalimat  tersebut

                                      jika menjadi kalimat berikut:

‘mencintai

adalah   menghadapi   kehilangan-kehilangan  yang

mungkin dan itu direncanakan.’

2020


ANDAI

CINTA BISA KUPESAN

andai cinta bisa kupesan. aku akan memesan cinta yang tidak perlu

                                            mengeluarkan airmata dan kesedihan

                                                dan kebahagian  dan  kemarahan 

                                                   dan penantian dan kenangan

                                                         dan kecemburuan dan

                                                                 kehilangan.

andai cinta bisa kupesan. aku akan memesan cinta yang terbuat

                                              dari aku aku aku aku aku aku aku

                                                 aku aku aku aku aku aku aku

                                                     aku aku aku aku aku aku.

                                                         ya, cinta yang tidak

                                                             ada siapa-siapa

                                                                selain aku.

                                                                    2020


KEPADA KESABARAN

AKU DIBESARKAN IBU

begitu cepat aku dipaksa melihat kematian.

dan tuhan adalah segala sesuatu yang kuyakini sebagai kejahatan.

dulu aku (sering) belajar berbuat jahat terhadap tuhan

& ibukulah yang terluka.

aku gemar membeli pengetahuan

& berharap tidak memiliki hidup seperti ibu.

kehidupan yang dimiliki ibu terlalu jauh dari pengetahuan

& terlalu dekat dengan keyakinan

& aku makhluk asing yang berjalan untuk keduanya.

ibuku terlalu takut kepada neraka

& terlalu percaya terhadap surga

& tuhan tidak bisa beliau lihat tanpa kehadiran keduanya.

jika aku tahu  siapa yang pertamakali dulu mengenalkan

surga & neraka kepada ibu, aku akan bunuh.

setelah kutanya mengenai itu kepada ibu,

ternyata yang mengenalkan surga & neraka kepada ibu adalah ayah

& tuhan sudah (sejakakuberumurenamtahun) lama membunuh ayah.

“jika aku memiliki kesempatan menciptakan sebuah kehidupan,

aku akan buat tuhan menjadi ibuku

& ayah menjadi aku

& kau adalah rindu yang mengatur warna penglihatan.”

2021


PERSOALAN-PERSOALAN

DI NEGARA PALING KECIL DI DUNIA

hidupku sama seperti hidupmu duapuluhempatjam hitungannya,

pergantian malam & siang, matahari & bulan, tidur & terjaga,

bekerja & berlibur, beragama & berbudaya, bernegara & berkeluarga.

napas memberi hidup sama pancaindra yang membedakannya

makna memberi warna sama penglihatan yang membedakannya.

kehendak memberi kesempatan sama cinta yang membedakannya.

kata ibuku ‘negara paling jelas keberadaannya adalah keluarga.’

dan aku percaya sebelum kalimat tersebut keluar dari mulutnya.

‘lihatlah, di luar keluarga semua orang begitu mudah mengatakan

cinta tetapi perasaan mereka begitu takut mengenakan kesetiaan.’

‘bagaimana caranya menemukan kesetiaan?’ tanyaku.

‘ciptakanlah keberuntungan dari kelemahanmu.’ jawabnya.

2021


KEBODOHAN

YANG HARUS KAUKENAL

aku tahu sedari awal kau memerlukan kesetiaan(ku) tapi kau

takpernah tahu bahwa ‘setiap kesetiaan selalu datang terlambat.’

kesetiaan adalaah bayang-bayang dibalik kenyataan.

kenyataan adalah benda yang  tidak bisa lepas dari bayang-bayang.

jika kuulang, kesetiaan adalah harapanku memiliki hidup

yang dipenuhi bayang-bayang dari kenyataanmu.

kesepian kerapkali berbuat jahat kepadamu juga kepadaku

nyaris setiap waktu orang-orang meletakkan harapan di sana

membuatmu memiliki banyak kesibukan yang tidak berhubungan

denganku. aku mengghilang ke dalam kesepianmu

dan takbisa dilihat. hidup berjalan diluardugaan.

kesialan-kesialan silih berganti menertawaiku.

kau terburu-buru membuat pilihan. aku tergesa-gesa menjadi

kenangan.  aku berada di antara kedatangan dan kehilanganmu:

‘satu-satunya tempat yang tidak mungkin mampu

tuhan ciptakan kecuali mendapat restu dariku.’

2021


RAMALAN-RAMALAN

SEBELUM TIDUR MALAM

aku tahu

masa depanku

hanya akan dipenuhi

berbagai macam

kesibukan-kesibukan

dan kesibukan-kesibukan

yang selalu kunanti-nanti

adalah mencari nafkah untukmu.

aku tahu

masa depanku

hanya akan dipenuhi

berbagai macam

kehilangan-kehilangan

dan kehilangan-kehilangan

yang selalu kunanti-nanti

adalah kehilangan diri(ku)sendiri.

aku tahu

masa depanku

hanya akan dipenuhi

berbagai macam

kamu dan kamu dan  kamu

dan kamu yang selalu kunanti-nanti

adalah yang berhasil mencuri detak jantungku.

2021


BAGIAN

LAIN DARI PUISI

bagian lain dari puisi adalah cinta,

adalah agama, adalah engkau

yang menyatukanku dengan keyakinan.

bagian lain dari puisi adalah tuhan,

adalah hal-hal menakutkan

yang mengutukku menjadi kesetiaan.

bagian lain dari puisi adalah rumah

adalah pintu, adalah jalan

yang membawaku pada pekerjaan.

bagian lain dari puisi adalah pikiran,

adalah perasaan, adalah jantung

yang memberiku hidup untukmu.

2021


setia yang bajingan.
pengkhianat paling cakep. muslihat
kejahatan dari yang paling masuk akal & takmasuk akal.

Sengat Ibrahim, pemilik buku Bertuhan pada Bahasa, (Basabasi, 2018) & Asmaragama, (LiterIsi, 2018). Lahir dan menetap di Sumenep 22 Mei 1997. Bisa disapa melalui akun Twitter: @dialogbolong. Karya-karyanya pernah dimuat di media cetak dan daring.

Cerpen

Yin dan Yang

Cerpen Romi Afriadi

“Dari sekian banyak pelacur yang aku tiduri, kamu jelas spesial bagiku.”

“Jangan bilang kau jatuh cinta padaku, seorang pelacur tak berhak untuk menaruh hati pada lelaki, apalagi pelanggannya.”

“Bukan, tapi aku menemukan ketenangan kala memandang matamu.”

“Omong kosong macam apa itu. Lekas lucuti pakaianmu, lalu tunaikan hasratmu. Aku tak punya banyak waktu untuk mendengarkan gombalanmu.”

Percakapan itu terjadi pada saat pertemuan ketiga kita. Malam itu kau tak hendak menjamahku, bahkan saat aku sudah membuka kancing baju.

“Kali ini aku hanya ingin menemuimu untuk bercerita bukan bercinta,” ujarmu.

“Kau kira aku ini psikiater?” Aku berseru galak, kesal bukan main pada sikapmu.

Namun pada akhirnya memang tak terjadi apa-apa di antara kita malam itu. Kau berubah dari seorang lelaki penjelajah vagina sebagaimana di malam pertama kita berkenalan menjadi lelaki sendu. Hilang semua seringai nakal dan wajah memerah penuh kenikmatan saat pertemuan kedua kau begitu bergairah di ranjang.

“Bodo amat dengan ceritamu, aku bekerja di sini bukan untuk mendengar itu.” Aku masih protes.

“Aku akan membayarmu sesuai tarifmu kencan dengan lelaki lain, bukankah yang terpenting bagimu adalah uang.”

Malam itu, kau menjadi seorang pencerita. Sedangkan aku meski mendengarkan, meski awalnya tidak suka.

***

Hujan masih deras turun dari langit, dari balik bilik wisma remang yang bersiap menanti tamu asing dari tempat-tempat jauh, aku bisa menatap di luar, sepanjang gang basah di mana-mana. Di seberang jalan, sebuah warung milik lelaki tua sedang melayani dua pemuda yang sepertinya membeli rokok. Di sampingnya ada warung menjajakan makanan. Tak banyak perubahan di sana, kecuali tidak adanya belasan pelacur yang hilir mudik menghiasi jalanan, menggoda dan mengajak lelaki mana pun untuk singgah.

“Mia, lebih baik kita turun ke bawah mencari mangsa.”

Sherly mengerling kepadaku. Aku melirik jam, tertera angka 22:37, masih terlampau dini untuk ukuran dunia hiburan. Tapi aku tetap membuntuti Sherly yang melenggang mendahuluiku.

Di bawah, alunan musik sudah mulai mengentak, belum ramai betul. Aku memilih duduk di sofa, mencoba menggoda seorang pria berkemeja panjang yang lewat. Dengan harap cemas, aku menunggu pelanggan di situ. Berapakah pria hidung belang yang akan aku ladeni malam ini? Aku hanya berharap Tuhan berbaik hati dengan mengirimkan banyak lelaki berduit yang tidak pelit. Dan semoga Tuhan tak bosan mendengar permintaan seorang hina sepertiku. Terlepas apakah semua doaku akan ditolak, aku tetap tak punya jalan selain mengirimkan doa kepada-Nya. Sebab, dalam kamus kehidupanku tak ada yang pasti, mungkin akan ada puluhan laki-laki, atau hanya hitungan sebelah jari yang menghampiri.

Barangkali yang datang seorang pemuda tampan, seorang eksekutif muda yang sedang mencari kesenangan tersebab istrinya yang sibuk. Pejabat yang sedang terlibat jual beli jabatan, pria paruh baya yang penisnya akan layu dalam dua kali genjotan. Tapi peduli setan, bagiku yang terpenting cuma uang. Toh, semua lelaki yang tiba sama-sama mencari selangkangan.

“Brengsek!” desahku kesal. Sambil kembali mengisap rokok, aku mengedarkan pandang ke berbagai penjuru.

Jam sebelas malam telah lewat seperempat menit, tapi belum ada satu pun pelanggan yang berhasil aku gaet. Apakah malam ini aku sial? Padahal biasanya aku sudah menuntaskan hasrat tiga pria, paling buruk, setidaknya dapat satu pelanggan.

Kondisi ini tentu tidak aku ingini, targetku untuk mengumpulkan uang banyak akan tersendat. Padahal aku sudah merencanakan membawa banyak oleh-oleh saat kepulangan pada bulan Ramadan kelak. Sebab, ketika bulan agung itu sudah datang, tempat ini sudah pasti ditutup pemerintah. Aku tak punya pilihan selain pulang kampung.

“Boleh saya temenin, Mbak.”

Dalam suasana itulah kau muncul memberi pengharapan. Aku menatapmu yang sedang cengengesan. Diawali tatapan kaget, karena wajahmu masih sangat anak-anak bagiku. Tapi di kamar, kau menunjukkan keahlian yang seharusnya belum dimiliki lelaki seusiamu. Kau buas, memangsa setiap jengkal tubuhku dengan dengus napas yang memburu.

Dua hari berikutnya, kau kembali datang. Bahkan mem-bookingku lebih lama. Malam itu aku senang sekali, sebab tak harus mengangkang untuk banyak lelaki namun mendapatkan uang yang cukup. Lewat kamu, pertama kali aku merasakan sensasi kenikmatan yang berbeda. Apakah aku menyukaimu? Aku buru-buru menghapus itu dari daftar kemungkinan. Kau anak orang terhormat, aku seorang yang nista. Mungkin karena itulah kau memanggilku dengan sebutan Yin, lalu kau menyebut dirimu Yang. Aku melambangkan kegelapan, sedangkan kau kecerahan. Meski bagimu, Yin dan Yang memiliki arti yang berbeda.

***

“Mulai saat ini aku akan memanggilmu Yin, sebaliknya sebut saja aku Yang.”

“Aku tak paham maksudmu.”

“Yin dan Yang itu pertanda keserasian hubungan seksual antara lelaki dan perempuan, keduanya saling melengkapi. Setiap ada Yin pasti ada Yang, begitu pun sebaliknya,” katamu.

Belakangan aku tahu dari sebuah artikel, bahwa itu mitos Cina tentang seksualitas yang muncul pada abad IV sebelum Masehi.

Sejak kunjungan ketiga itu, pertemuan kita selalu diawali dengan bercerita sebelum bercinta. Tentang ayahmu yang merupakan pejabat tinggi negeri ini, tapi tak pernah kau sukai. Bahkan beberapa kali kau berterus terang ingin membunuhnya.

“Dia hanya memberiku banyak uang, bukan kasih sayang.”

Maka, setiap pertemuan aku terus menyiapkan diri terlebih dahulu mendengar curahanmu yang membuatku sakit kepala, sebelum kau mengakhiri dengan kembali merampok selangkanganku.

Aku melihat banyak keanehan dalam dirimu. Setiap berhubungan, kau selalu ingin berada di posisi atas, dan aku selalu di bawah. “Yang harus berada di atas, karena dia laki-laki,” ucapmu. Mana peduli seorang pelacur dengan aturan semacam itu. Di hari lain, kau juga menjuluki alat kelaminku dengan nama Teratai Emas. Aku kembali mencari tahu, itu ternyata juga sebutan dalam teks Cina klasik.

Seiring keanehan itu, kelihaianmu di atas ranjang kian menjadi. Kau menunjukkan kepadaku berbagai posisi bercinta yang tak pernah aku bayangkan kendati aku bersanggama dengan puluhan lelaki hampir tiap malam. Dan kau selalu memberi nama yang tak lazim terkait gaya bercinta kita.

Tapi setelah percumbuan kita yang membara entah pada pertemuan ke berapa. Kau tak lagi berkunjung, jejakmu menghilang, walau aku menunggumu sampai malam terakhir sebelum tempat ini tutup di bulan Ramadan. Lalu aku sadar mulai merindukanmu.

***

Sepanjang Ramadan aku terus memikirkanmu. Aku menjalani kehidupan normal layaknya manusia biasa di bulan suci itu. Siang hari aku puasa, malamnya aku tarawih lalu menyambung dengan tadarus. Tidak ada orang di kampung ini yang mengetahui pekerjaanku, makanya aku bersikap seperti pada umumnya. Berharap Ramadan bisa sedikit membasuh kesalahanku yang menggunung. Sebelum pada waktu-waktu mendatang, aku kembali bergelimang dosa.

Namun aku menyadari, ingatan tentangmu selalu mengusik batok kepalaku, meski aku selalu berusaha mengusir tanpa jeda. Berbagai prasangka juga berkembang biak dalam pikiranku.

“Aku tak akan senang, jika ayahku tidak celaka di tanganku.” Terngiang lagi ceritamu.

“Jangan begitu, bagaimana pun ia tetap ayahmu.”

“Kau tidak tahu betapa bejatnya ayahku. Dia punya istri simpanan di mana-mana, dia jelas melukai ibu. Kadang, jika pulang, dia membawa perempuan-perempuan muda itu dan memasukkannya ke kamar.”

“Bukan ayahmu saja pejabat yang seperti itu, mereka punya uang banyak, punya kekuasaan, segalanya,” jawabku.

Apakah kau sekarang berhasil membunuh ayahmu? Lalu polisi meringkusmu dan mendekapmu dalam penjara? Aku sekarang malah berharap Hari Raya Idul Fitri cepat tiba, dan aku akan menunggumu lagi di tempat biasa kita bertemu.

Tujuh hari pasca lebaran, masa itu datang juga. Pagi sekali aku sudah berkemas, memasukkan pakaian dengan tergesa. Aku senang sekaligus gamang. Gerimis malah turun satu-satu saat aku mulai melangkah menuju jalan kampung sembari menunggu sepupu yang akan mengantarkanku ke terminal kecamatan. Tapi langkahku terhenti saat sebuah mobil sedan menerobos jalanan dan berhenti persis di depan rumah. Aku terkejut, lebih-lebih orang yang datang itu adalah kamu.

“Aku sekarang bukan lagi anak ayahku. Aku sudah memutuskan hubungan apa pun dengannya. Mulai sekarang, apa kau ingin hidup denganku, Yin? Tinggalkan pekerjaan itu, kita bisa mulai semuanya dari bawah.”

Bibirku terkatup, tak tahu harus bercakap apa.

“Mia…, Apakah ada tamu?” Dari dalam rumah, suara ibu menggema.***


Romi Afriadi, dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau, pada tanggal 26 November 1991. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Beberapa cerpen dan tulisannya pernah dimuat di media online dan cetak. Beberapa lainnya juga terpilih dalam Antologi, di antaranya: Antologi cerpen #di rumah aja Apajake, Antologi cerpen Rumah Kayu Pustaka, Antologi cerpen genreSosio-Religi Unsa Press, dan Antologi cerpen Mbludus.com. Saat ini, penulis tinggal di kampung kelahirannya sambil mengajar di MTs Rahmatul Hidayah, dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengajari anak-anak bermain sepakbola di SSB Putra Tanjung. Bisa dihubungi lewat email: [email protected], akun Facebook Romie Afriadhy.

Cerpen

Kabar dari Jauh

Cerpen Jeli Manalu

Kujual tiga puluh ekor ayam, empat puluh ekor bebek, dan dua ekor anjing kesayangan. Uang hasil penjualannya kubelikan dua ekor anak lembu. Jadi, apakah sudah ada calon kakakku itu, Abang?

Hari-hari berlalu setelahnya. Musim juga berganti. Pepohonan menggugurkan daun, tumbuh lagi dan gugur lagi. Saat Natal tiba, Salomo pulang dari perantauan dan Anggoni yang tinggal di kampung menyambutnya dengan hati gembira. Tetapi malam itu satu peristiwa menegangkan terjadi. Salomo anak paling tua. Empat bulan lagi usianya genap tiga puluh enam tahun. Dua saudari mereka telah lebih dahulu berumahtangga, dan masing-masing sudah memiliki keturunan. Anggoni sendiri anak bungsu, tengah menjalin hubungan dengan seorang perempuan, dan orangtua sang perempuan acap kali menyuruh anak gadisnya menanyakan Anggoni kapan akan mempersunting putri mereka.

“Menikahlah, Abang,” satu kalimat yang terlontar pelan namun memantul seperti bola keras di kepala Salomo—itu perkataan dari adik kesayangannya, Anggoni, yang kemudian menyebabkan sebuah ledakan di rongga dada Salomo.

Malam itu, di tengah rapat keluarga serta bola-bola lampu yang dipasang pada pohon cemara tampak indah bercahaya, Salomo tertunduk memandangi pusaran kopi hitam di bagian atas cangkir. Ia berpikir apakah ke dalam gelas kopinya ia perlu menambahkan satu sendok gula lagi, atau sesekali perlu memvariasikannya dengan krimer kental manis—supaya hidup sedikit lebih manis? Ah ya, belum sempat Salomo memutuskan yang mana dari keduanya, Anggoni bicara lagi, “Kupikir sudah waktunya Abang berumahtangga.”

Dengan bibir bergetar Salomo menjawab bila sampai hari itu juga, belum ada perempuan yang mau diajak hidup bersamanya.

“Aku tak percaya. Abang itu ganteng, tidak perokok, tidak peminum, rajin pula ke gereja. Pokoknya, menikahlah Abang.”

Salomo membisu, tidak tahu dengan cara apa lagi dirinya menjelaskan kenyataan itu.

“Soal dana, kubantu pun nanti. Abang jangan khawatir,” Anggoni melanjutkan kata-kata yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya, meski saat itu, ia tidak menjelaskan tentang dana yang dimaksud adalah dua ekor anak lembu yang sudah ia beli dan rawat dua tahun.

Mendengar Anggoni menyinggung soal uang, Salomo kian geram. Ia merasa adiknya itu bukan saja mendesaknya perihal menikah tetapi sudah sampai pada tahap merendahkan dirinya soal mata pencaharian. Lantas, Salomo menyarankan adiknya itu agar berhenti mengusik hatinya dengan lebih baik mengurus kehidupan masing-masing saja. Dan di hadapan segelas kopi yang belum ditambahkan apakah gula atau krimer kental manis serta di sudut rumah bola-bola lampu yang dipasang pada pohon cemara bersinar indah Salomo meninggalkan rapat keluarga. Ia menemui kegelapan malam agar tak seorang pun melihat betapa sakit dirinya, lalu esok harinya ia pergi padahal semua orang seharusnya berkumpul untuk bergembira bersama.

Pada perjalanan sendu yang entah ke mana arahnya kali itu, Salomo terus mengutuki nasib. Ia ingat kisah cintanya yang tak pernah berjalan mulus. Gara-gara ditolak gadis pada masa SMA, ia jadi siswa yang tak bisa diatur. Ia memakan uang SPP dan suka cabut dari kelas. Kata orang yang pernah melihatnya hingga melapor ke guru mengatakan, ia jadi preman di sekitaran toko dan berlagak sebagai juru parkir atau tukang pungut uang kebersihan. Saat mendapat surat panggilan dari sekolah hingga terancam tak bisa mengikuti ujian akhir karena tidak membayar SPP, ibunya panik namun berupaya mencari jalan keluar dengan menjual dua karung buah kopi tanpa sepengetahuan bapak.

Sepanjang merantau dan menjadi orang baik, Salomo sering memikirkan bagaimana kelak ia akan menikah. Ia mulai rajin bertanya tentang besaran sinamot (mahar) untuk anak gadis orang yang profesinya sebagai perawat. Ia pun makin sering menghadiri berbagai undangan adat yang datang padanya. Ragam serta kualitas ulos juga ia pelajari: mana buatan pabrik dan mana hasil tenunan. Ia merasa seandainya kelak menemukan jodoh, dirinya yang sudah merantau lama dan konon di telinga orang bekerja di sebuah perusahaan asing itu kurang pantas saja bila pernikahannya dirayakan terlalu biasa—ia tidak ingin masyarakat sekampung bicara macam-macam ke depannya.

Pernah persiapannya mencapai tujuh puluh persen. Tanpa ada firasat Salomo mendapati hatinya teriris. Mulanya ia menghadiri satu undangan dari kerabat. Di sana, di acara yang dihadirinya itu, ia saksikan kekasihnya bermesraan dengan lelaki lain. Kekasihnya merangkul erat tangan lelaki lain itu. Dilihatnya lelaki lain itu masih kalah ganteng ketimbang dirinya. Apa kurangku, apa salahku?—ia bertanya pada hati yang lebam.Kata-kata makian sempat terlontar dari bibirnya.Hampir saja ia melayang untuk membanting tubuh lelaki lain itu namun apa daya, si perempuan, toh tak menjadikannya sebagai pusat tujuan.

Saat begitu galau, ia rajin menulis status di facebook. Banyak akun menaruh simpati akan keadaannya, termasuk adiknya, Anggoni mengirim emoji mata yang menangis. Di sisi lain, waktu itu, Salomo tidak tahu kalau Anggoni sebetulnya sudah tak sabar menunggu Salomo supaya menikah secepatnya, agar abangnya itu jangan pula ia langkahi sebagaimana dilakukan dua saudari mereka—Anggoni cemas seandainya itu ia lakukan maka dalam bayangannya Salomo bisa-bisa bernasib sial, yakni tidak mendapatkan jodoh sampai ubanan, dan Anggoni, tak ingin itu terjadi. Ia ingin Salomo bahagia selamanya. Akan tetapi Salomo tidak mengerti hutan hati Anggoni, adik kesayangannya itu. Ia tidak tahu bila Anggoni sudah merasa terdesak agar segera mengakhiri masa lajang. Ia tidak tahu Anggoni berada dalam kegelisahan yang apabila terlalu lama menunda untuk melamar, gadis pujaannya dikhawatirkan malah diembat orang—ada satu teman Anggoni ditinggal menikah sang pacar karena merasa digantung meski alasan temannya itu jelas, yakni menyelesaikan studi di luar negeri yang bersisa tak lebih dari sepuluh bulan.

Sejak rapat keluarga ketika pulang merayakan Natal di kampung yang membuat keduanya sama-sama terluka itu, setahun lamanya Salomo dan Anggoni saling menghindar. Tidak menelepon dan tidak saling berkirim pesan. Suatu hari sewaktu Salomo mengaktifkan lagi aplikasi messenger-nya, ada pesan yang mengakibatkan perasaannya sulit untuk didefinisikan. Pesan itu sudah dua tahun dikirim, pesan ketika dirinya masih akur-akurnya dengan Anggoni, pesan ketika ia belum putus cinta dengan perempuan yang berprofesi sebagai perawat, pesan yang tidak tahu bagaimana itu bisa lolos dari perhatian Salomo.

Kujual tiga puluh ekor ayam, empat puluh ekor bebek, dan dua ekor anjing kesayanganku untuk membeli dua ekor anak lembu, supaya ketika mereka besar nanti, bisa kita pergunakan untuk lauk daging pada masing-masing pesta pernikahan kita. Jadi, apakah sudah ada calon kakakku itu, Abang?

Salomo menyesal. Bibirnya bergetar menyadari kebaikan hati sang adik yang ternyata telah menyiapkan banyak untuk pernikahan mereka kelak. Ia menyesali pertengkaran yang tak menghasilkan apapun itu. Seandainya waktu itu ia tidak langsung tersinggung. Seandainya ia membiarkan adiknya mengutarakan maksud terlebih dahulu, sehingga ia paham akan orangtua kekasih dari adiknya sudah mendesak Anggoni supaya menikahi putri mereka. Salomo kini bersedih. Dalam pikirkannya sekarang hanyalah memperbaiki hubungan dengan sang adik, lebih tepatnya ia merestui Anggoni agar menikah lebih dahulu.

“Halo. Bapak?”

“Ya, aku.”

“Bagaimana kabar Anggoni?”

“Kau tidak tahu kabar?”

“Kabar? Kabar apa?”

“Sudah berapa lama kau tidak mau bicara dengannya?”

Salomo diam, menebak apa yang sedang terjadi.

“Kalian berkelahi lagi, kan?”

“Sudah lama ia tidak meneleponku.”

“Kalau ia tak meneleponmu, kaulah yang meneleponnya.”

Salomo tersentak dengan ponsel yang masih menempel di telinga, belum pernah ia dengar suara bapak ketus begitu. Biasanya bapak senang bercanda. Kali ini bapak terkesan menyerang seakan Salomo sudah melakukan kesalahan yang amat fatal.

Salomo lalu membuka facebook dan mencari nama Anggoni yang sudah sempat ia unfollow itu. Ia gulir ke bawah, ketemu foto adiknya. Posisinya duduk. Kedua tangan beserta dahi bertumpu di lutut. Pose dalam foto itu diambil dari samping. Dibuat gambar lembu sebagai bingkainya. Di bagian tengahnya terdapat tulisan. Salomo men-zoom-in supaya bisa membacanya.

Suatu pagi, aku begitu bahagia karena Tuhan masih memberiku kesempatan menolong orang yang lagi kesusahan. Ada yang menggedor-gedor pintu mencari lembu untuk dimasak di sebuah pesta sebab ia tahu aku memiliki apa yang mereka butuhkan. Dua orang yang datang pagi itu tampak begitu memelas. Wajahnya tak tega untuk kutolak. Mereka menawariku dengan harga satu setengah kali lipat atas dua ekor lembuku. Kata mereka, hewan yang mereka persiapkan mendadak pingsan lalu mati dalam perjalanan. Aku pun memenuhi permintaan mereka, mengira seandainya hal serupa menimpaku menjelang pesta pernikahanku kelak—bila itu terjadi, seseorang mungkin sudi membantu karena aku sudah terlebih dahulu melakukanya. Sehari kemudian, setelah daging lembu itu dimasak lalu diantarkan kepadaku sebagai ucapan terima kasih dan aku memakannya begitu lahap karena masakan itu sangat enak, aku baru tahu kalau yang menikah itu ternyata calon istriku.***

Riau, 2017-2020


Jeli Manalu, lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Ia saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya Kisah Sedih Sepasang Sepatu tahun 2018.