Puisi

Puisi Mohamad Latif

Malam penghabisan

Bakarlah kata-kata itu

Di atas tungku

Malam hanya menambah dingin

Jendela hanya mengatupkan suara

Kelak kau akan tahu

Aku yang berdiri menyendiri

Di antara sauh kesedihan

Habis nubuat di tengah jalan

Tak lagi ada yang ingat

Di malam penghabisan ini

Aku dilingkari lolong kalut

Pamekasan 2020


Masakan ibu

Serut daun kelor

Jalan-jalan jauh ke tegalan

Kucari cinta pada ikan tongkol, nasi jagung,

Dan sayur bayam

Pudar daun-daun bawang

Pijar senyum ibu tenggelam

Runyam di relung santan

Pamekasan 2020


Pencarian

Waktu tidak akan mengerti bagaimana perihnya menjadi dewasa

Ia masih saja terus berlari menjadi kanak kecil yang tak tahu apa-apa

Di luar sana orang-orang menciptakan jam dan tanggalnya sendiri

Membuat perhitungan-perhitungan kecil dan besar

Tapi aku, aku masih belum menemukan apa-apa termasuk juga cinta

Ahhh, begitu kesepiankah diriku?

Tahun-tahun adalah alat menerka diri

Waktu membusuk dalam dada

Rekah segala gelisahku ditelan musim

Pamekasan 2020


Di dermaga

Selepas silir angin laut ke kota tubuhku

Bulan hanya potret di air genang

Bangau perak bersesaran dari timur

Berlayar ke langit

Warna pudar sebuah kapal

Bulan dan mataku, jiwa yang basah

Dan sauh laut di batas

Aku hanya jangkar tua dan kemalaman

Januari mengubah takdir jarum kompas

Pada karang, pada siul angin

Dan jala para nelayan

Pamekasan 2020


Punggung kata

:annuriyah al-masuniyah

Kita mencari sesuatu yang hilang

Sebuah diksi yang tak mungkin genap

Dari setiap degup percakapan

Kerling malam juga kerling lampu di sudut kafe

Malam berlalu

Dan tembakau belum selesai juga dilinting

Membiarkan bisik

Terus melamun ke relung meja-meja gelap

Kemudian kau lindap dimamah lelap

;mengeluh

“andai waktu bisa diperlambat

tentu kita bisa merekayasa kembali purwa luka-luka”

tetapi kita hanya bisa melipat punggung kata

terjebak dalam pilihan diksi yang rumit

yang tidak pernah kita tahu akhirnya

Sumenep 2020


Tirta amarta

Ia menyimpan kabar yang tak boleh didengar

Surat-surat hanya menyimpan peluk dan ingin

Sepasang mata melotot

Tak ada air bersih di sini

______Termasuk air mata_______

Sungai menguap jalan-jalan kehabisan napas

Air menjebak mata itu di balkon

Wabah mengapung di jantung hingga batas kota

Kesedihan melompat-lompat dari atap ke atap

Mata itu bersembunyi

_______Di balik botol arak pengangguran_____

Memandu setiap perjalanan panjang dan dekat

Terminal dan pelabuhan terdekat

Yang paling sepi

Awan di atas pecah

Siapkan wadah yang paling besar

Tadah air mata yang tumpah

Biarkan dahaga lepas

Hanyut dalam denyut

Mencari dunianya masing-masing

Pamekasan 2020


Di beranda

Malam nanti

Aku kan menjelma meja di beranda

Duduk dan akan kau dapati

Kopi dengan lebur senyum

Asbak tempat membuang kenang

Dan nampan tempat kau kembalikan seluruh rindu

_____padaku______

Pamekasan 2020


Di moncek timur

Di moncek timur, pohon-pohon tengadah

Seperti hatiku

;tabah

Nyala heningku

Dimamah jarak

Siang malam pucat di dadaku

Melintas pada senyum getir

;ibu

;bapak

Pamekasan 2020


Wangsit

Di sini, di semesta jiwaku

Risau masih terasa melengking

                        Kabar yang berkisah dari malam

                        Memecah celah-celah gerimis

Sebuah tanah di musim hujan

Menjaga ingatannya

                        Pertemuan-pertemuan basah

                        Risau dan ingin meletup-letup di sini

Dari jauh anak-anak meninggalkan lamunannya

Menakar peluh dan takdir

Di tepian ladang ia melihat ibunya

Ranggas di tengah jagung

Pamekasan 2020


Nyonson

Kamis malam menjelang purnama

Perempuan-perempuan tua

Merapal harap dan ingin umat manusia

Dengan sebilah sepat berbakar kemenyan

Gemericik asap pengharapan, menebar mantra dan doa

Aroma sedap menyeruak ke segala tempat

Merasuk dari pintu ke pintu, menyeruak ke luar jendela

Menyusup ke barzakh, mengantar rindu pada leluhur

Cinta subur di sini

Menjadi tali persaudaraan

Hidup tenang dengan kesederhanaan

Pamekasan 2021


Mohamad Latif, lahir di Moncek Timur, Sumenep 28 Desember 1998. Pernah aktif di Taneyan Kesenian Bluto, Forum Belajar Sastra, Sanggar Asap dan sekarang masih bergiat di UKM Teater Fataria IAIN MADURA. Bisa disapa di Facebook: Mohammad Latif, Instagram: latifmohammad086, atau Surel: [email protected].

Cerpen

Caraphernelia

Cerpen Fina Lanahdiana dan Zahratul Wahdati

“Selamat pagi!”

Dave mengucapkan kalimat itu kepada dirinya sendiri. Tangannya menyentuh baju, wajah, serta tas jinjingnya seolah-olah sedang memastikan tidak ada yang kurang atau pun tertinggal. Dia tersenyum kepada seekor kucing berwarna abu-abu gelap bermotif seperti pusaran gelombang berwarna hitam di salah satu sisi tubuhnya. Bagian kiri. Sekilas hampir tak tampak pemandangan itu jika tidak diamati dalam jarak dekat dan selekat-lekatnya. Kucing itu sedang duduk begitu saja di taman kecil halaman rumahnya. Tampak malas meskipun ia berada di dekat kolam dengan hiasan batu-batu di bagian tepi, tempat bagi para ikan koi menyambungkan napas hidupnya. 

“Kau tidak boleh nakal ya, Joni!”

Dia mengatakan kalimat itu seperti sedang menasihati anaknya sendiri. Tentu saja Dave tahu, belum pernah ada kucing yang menolak diberi ikan-ikan.

Sesekali matanya memandangi arloji bundar yang melingkari lengannya, “Masih pukul 05.45.”

Lagi-lagi dia tersenyum begitu puas, seolah-olah baru saja melakukan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, sambil melanjutkan langkah demi langkah kakinya yang tegap dan penuh percaya diri.

Sekitar dua puluh menit selanjutnya, dia sudah sampai di peron. Menunggu kereta yang akan membawanya pergi ke sebuah tempat yang telah membawa lari hati dan pikirannya yang dipenuhi bayang-bayang. Tempat itu seolah seseorang yang mengulurkan tangan ketika Dave sedang jatuh-jatuhnya.

Di peron itu, dia hanya berdiri sendiri, tak ada penumpang lain yang menunggu. Tiba-tiba dia berpikir: Bagaimana jika ternyata kereta yang kau tunggu tidak akan membawamu kembali? Tetapi pikiran itu hanya selintas dan tidak perlu dipikirkan secara serius. Itu hanya ada dalam dongeng, batinnya.

Tetapi ia begitu heran. “Apa yang sedang terjadi dengan kota ini?”

Dia tak pernah benar-benar yakin sebelumnya dengan apa-apa yang berjalan di atas bumi. Segalanya berjalan normal dan tak mesti diperdebatkan. Lalu lalang orang-orang, lalu lintas yang selalu dipenuhi suara klakson di garis-garis lampu merah, anak-anak berseragam bergegas pergi dan pulang sekolah, remaja tanggung yang memainkan gitar dari angkutan umum satu ke angkutan umum lainnya, pedagang asongan, sepasang muda-mudi yang bertengkar di kafe-kafe ternama, dan hal-hal lain yang selama ini luput ia amati dengan serius.  Tiba-tiba saja kota ini teramat sunyi. Sunyi sekali.

Berkali-kali dia memastikan. Apakah ini mimpi? Tapi ini pasti bukan mimpi. Tidak ada satpam, petugas pemeriksa tiket, tidak ada suara yang memberikan informasi, bahkan tidak ada petugas yang mengatur jalannya kereta.

Dave mengamati tiketnya. Tiket berwarna kuning kecokelatan itu menjelaskan dia harus naik gerbong 5 dan duduk di bangku nomor 21 A.

Meskipun sebenarnya terlampau banyak pertanyaan yang melayang-layang di kepala, dia harus tetap bergegas untuk segera sampai ke kantornya, di sebuah gedung surat kabar lokal yang di dalamnya dia bekerja sebagai wartawan. Menjadi wartawan bukanlah cita-cita yang pernah dia harapkan. Tapi selanjutnya semesta begitu saja menariknya seperti dia tersedot begitu saja, sehingga pada akhirnya mau atau pun tidak mau, harus menyukainya. Dan mungkin memang bisa dikatakan dia telah mencintai pekerjaannya karena telah terlampau terbiasa.

Mulutnya menggumamkan 21 A berulang-ulang seperti sedang merapal mantra. Tak lama dia menemukan gerbong yang dicarinya dan dia segera duduk. Meskipun masih sambil memikirkan dugaan-dugaan kenapa kota ini seperti telah mati atau mungkin seluruh penduduknya telah berpindah tempat ke planet lain yang dipercaya sebagai pengganti bumi yang telah berusia sangat tua, rapuh, dan sakit-sakitan.

“Apakah kereta ini akan tetap berjalan bahkan jika tak ada penumpang-penumpang lain yang biasanya begitu berdesakan? Atau yang terjadi justru sebaliknya, bahwa dia harus menunggu dan menunggu dan menunggu, seperti yang terjadi dalam cerita Alan Lightman dalam wujud sebuah mimpi yang dialami Einstein,Di dalam dunia di mana waktu tidak bisa diukir, tak akan dijumpai jam, kalender, atau pun janji pertemuan yang pasti. Satu kegiatan didahului oleh kegiatan lain, bukan berdasar waktu …

Sepersekian detik selanjutnya, segalanya di luar kendali akal sehatnya. “Apakah ini hutan? Ataukah aku salah menumpang kereta?”

Sebagaimana sebuah mimpi yang cenderung acak dan absurd, pohon-pohon seolah tiba-tiba tumbuh dari bawah kereta. Seperti akar-akar yang bergerak cepat. Menempel di lantai, dinding-dinding hingga menyentuh atap kereta. Segalanya menjadi berwarna hijau. Warna yang sejuk. Seperti embun sisa pagi hari sebelum matahari memunculkan dirinya di awang-awang di atas bumi.

Lalu burung-burung bernyanyi, seperti siulan seorang lelaki yang sedang menggoda gadis yang membuatnya ingin tertarik. Jika hal ini terjadi di dalam hutan sungguhan ketika dia sedang mendaki, adalah hal yang menenangkan dan menyenangkan. Tapi, di sebuah kereta? Lantas dia kehilangan kata-kata apa pun yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Kehilangan bahasa yang tepat untuk mengungkapkannya.

Ini rimba. Kereta ini berisi rimba. Suara hewan rimba menyamarkan deru roda kereta yang beradu cium dengan rel. Tapi walaupun terdengar samar, Dave tahu kereta ini sudah mulai bergerak.

Meninggalkan peron. Menjauhkannya dari Joni dan ikan koi yang dipercaya sebagai pembawa keberuntungan, dan semua hal yang biasa dia sapa setiap hari.

Dave mengucek lagi matanya, tapi rimba di kereta itu malah makin lebat. Ditatap tiketnya, tulisan di tiket sudah berubah, entah sejak kapan, tujuannya bukan ke kota tempat kantornya ada. Tetapi sebuah kota yang tidak ada di jalur kereta. Kota itu bernama Mayapada.

Dia melongok ke belakang dan ke depan, ke barisan kursi kosong di depannya, yang tertutupi semua dengan akar dan daun.

Rasa penasarannya tak kunjung habis. Dia memutuskan untuk berjalan sepanjang gerbong. Beberapa kali terdengar bunyi kriuk ranting patah. Ini bukan lagi sesuatu yang bisa dianggapnya sebuah candaan. Ingin rasanya berteriak, lalu menampar pipi kanan dan kirinya, mencubit lengannya berkali-kali hingga lebam. Segalanya tampak terlalu nyata.

 Suara burung-burung semakin nyaring dan dia tetap tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Hutan itu meluas, lapang, seperti bukan di dalam sebuah kereta. Pengamatannya tidak ingin sekali pun berpaling, dan segalanya tetap berjalan melampaui apa-apa yang sanggup ditampungnya. Juga langit-langit yang membentuk jalan-jalan kecil dari bayangan pohon-pohon yang menjulang. Batas itu kian tak ada. Baik dinding atau atap kereta, segalanya kini lenyap.

Dia ingat sesuatu di kantongnya. Sebuah ponsel. Tangannya meraih dengan susah payah sebab tangannya sedikit bergetar. Ia tak ingat harus menghubungi siapa, tetapi kemudian yang pertama kali muncul adalah ingatan tentang atasannya.

Panggilan itu terhubung dan dia demikian penasaran dengan apa yang selanjutnya terjadi. Kira-kira, akan seperti apa reaksi atasannya?

“Halo?”

Terdengar suara dari seberang.

“Aku … Maaf …”

Dave kehilangan kata-kata.

“Kau baik-baik saja?”

“Aku tersesat …”

Dia mendengus kesal dan begitu mengharap pertolongan.

“Tersesat apa? Kau sedang mengajakku bercanda? Setiap hari kau pergi bekerja dan tak pernah ada masalah lalu tiba-tiba kau bilang dirimu tersesat? Konyol sekali, Dave. Jika kau sedang sakit, kau hanya perlu mengatakannya. Tak perlu mengarang cerita fiktif.”

“Tidak. Aku benar-benar tersesat.”

Lalu sambungan suara itu terputus dengan sendirinya.

Dave mengumpat. Mencoba menelepon atasannya kembali tetapi tidak terhubung. Sinyal penuh. Baterai masih empat garis. Pulsa masih tersisa 119 ribu. Mungkin ponsel atasannya mati. Jadi dia mencoba menelepon teman kantornya yang lain. Terhubung. Ahura.

“Halo, aku tersesat. Mungkin aku salah naik kereta. Tolong bilang ke atasan bahwa aku akan sangat terlambat. Dan kau harus tahu, di sini segalanya menjadi tak masuk akal, tidak ada orang sama sekali. Sunyi.”

“Dave, kau tahu kerjaanku banyak. Jangan main-main.”

“Sumpah! Kau dengar suara burung, kan? kereta yang kunaiki isinya rimba raya dan tak seorang pun bisa aku ajak bicara …”

“Gila, kau!”

Lalu sambungan suara itu terputus, kali ini Dave yakin, teman kantornya ini yang menekan gagang telepon warna merah.

Drrrttt … drrrttt … Suara itu membuat Dave terpelanting ke belakang. Suara rem. Kereta berhenti. Saat ia berusaha keras untuk beranjak dari duduknya, pemandangan itu lenyap dari hadapannya, hutan itu dengan pohon-pohon yang menaunginya. Seperti amblas. Pohon-pohon itu bergerak kembali masuk ke tanah.

“Apa lagi ini? Aku hampir saja dibuat gila.”

Dia ingin keluar, tapi pintu kereta tidak terbuka. Di luar tampak stasiun kecil, tempat singgah sementara, ada seorang nenek duduk memandang ke arah kereta.

Mata nenek itu mirip senja, indah namun sebentar lagi tenggelam dan lenyap. Begitu yang dirasakan Dave. Dave mengamati nenek itu, berteriak pun tidak akan dengar, tidak mungkin juga seorang nenek membantunya keluar dari kereta ini. Tiba-tiba ingatannya memilih sebuah perasaan terluka dan memasangnya ke dalam kepalanya. Seperti seorang perempuan yang sedang mengepas baju di depan cermin.

Kereta bergerak kembali. Hutan itu tumbuh kembali dari lantai gerbong, semakin lebat, dan hanya ada ruang kosong tempat bisa dia duduki, tempat duduknya. Beruntung tak satu pun tanaman-tanaman itu mencekik lehernya. Meskipun tanpa dicekik juga dia sudah kesulitan mengatur napas.

Dave mengingat nenek itu. Nenek itu pernah berada di dalam pelukannya, dan 14 hari kemudian, nenek itu berubah jadi senja yang tenggelam.

Hutan di dalam kereta itu makin lebat, lampu-lampu kereta tertutup, hingga gerbong itu gelap.

Dia mendengar namanya dipanggil, “Dave! Dave!”

Suara itu dari luar kereta. Suara neneknya. Dia coba berlari ke arah kaca jendela, memandang ke belakang, pohon-pohon di tepi rel seperti sedang berlari memunggungi kereta yang ditumpanginya. Namun seperti sebelum keretanya berhenti di stasiun kecil, pemandangan yang semula dialaminya kembali terjadi. Dia kurang suka situasi ini, karena itu membuat kepalanya berisik sekali.

Selain neneknya, perlahan tapi pasti, pemandangan itu kian nyata. Zora, Qui, Dante, Globe, Alofe, Koa, itu adalah sebagian teman-temannya dari masa yang jauh. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba mereka harus bertemu dalam situasi yang tidak tepat ini. Kilasan-kilasan peristiwa merambat seperti kaki laba-laba yang tengah membangun rumah jaringnya. Sedangkan dia adalah mangsa yang kelak terjebak di antaranya.

Situasi yang seolah-olah sengaja menjebaknya. Dia terduduk sambil berusaha keras mengatur ritme napasnya. Sekali lagi, dia mengingat ponsel di kantongnya. Kali ini ia benar-benar merasa butuh bantuan.

Jari-jarinya lincah menekan angka. Tapi tak satu pun bisa dia hubungi. Dipandanginya layar kotak yang sensitif terhadap sentuhan itu, segalanya telah lenyap dari sana. Tak ada tanda-tanda ponselnya terhubung dengan jaringan apa pun. Dia ingin sekali menangis sekencang-kencangnya. Tapi menjadi seorang lelaki tak mengizinkannya untuk mudah menangis. Tidak satu pun bisa dia lakukan, kecuali bahwa dia hanya mampu berbicara kepada dirinya sendiri.***

Kendal-Pemalang, Maret 2020


Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal.

Zahratul Wahdati, guru Bahasa Indonesia SMA N 1 Randudongkal.

Cerpen

Balada Rindu

Cerpen Indah Fai

Ya Tuhan, suara lembut ibu merambat anggun memenuhi segala sudut. Ada resonansi merdu ketika suara ibu menimpa perabotan di dalam ruangan ini. Aku mendengar rak buku, lemari pakaian, kasur lantai, meja, kursi, gelas, piring, pigura. Ah, bahkan dinding pun melantunkan suara ibu.

Aku bisa merasakan tatapan hangat  dari bola matanya ketika aku demam tinggi begini. Ibu menghabiskan sepanjang malam duduk di tepi ranjangku dengan mata terjaga. Setiap kali aku terbangun, ibu mencecarku dengan pertanyaan, “Sudah merasa baikan?” Aku mengangguk kemudian  ibu tersenyum dan mengusap punggung tanganku sampai aku jatuh tidur.     

Pada pukul sepuluh malam usai menonton TV, ibu akan bertandang ke kamarku, dan hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek apakah komputer sudah dimatikan. Kemudian ia beralih menuju ranjang dan memungut telepon genggam yang tergeletak dekat bantal dan membawanya ke atas meja belajarku. Ia membenahi selimut yang membungkus tubuhku jika ia rasa kurang pas dalam pandangannya. Selalu ada hal yang kurang pas di mata ibu; entah itu seragam sekolah atau pun kamarku yang katanya mirip sarang tikus.Ibu menegaskan bahwa semua akan nampak baik dengan sedikit saja sentuhan jemarinya.

Terakhir,  ibu menekan sakelar lampu pada dinding di sisi kanan pintu kamarku. Ruangan menjadi gelap ketika ibu beranjak keluar. Lantas aku bangkit dari ‘tidurku’ menuju meja komputer, menekuri lagi permainan sepak bola sampai larut, sampai aku benar-benar mengantuk.

Pernah di malam tahun baru aku pulang pagi. Ketika akan memasuki kamar, aku melihat ibu berdiri di ambang pintu kamarku dengan raut wajah kecewa. “Sekarang  pukul setengah empat pagi. Jangan sampai kau melakukan sesuatu yang akan kau sesali.” Suara ibu bergetar tapi masih lembut. Aku tidak menemukan  amarah di sana.

“Coba lihat rambut  pelangi dan jambulmu. Astaga!” Aku mengabaikannya dan melenggang ke kamar. “Cuma setahun sekali, Bu.” Aku menatap ibu sejenak sebelum menutup pintu kamar. Mata ibu dikelilingi lingkar hitam karena menahan kantuk. “Lebih baik ibu tidur saja.”

Ibu mengetuk pintu kamarku, “Tadi ibu memasak semur ayam kesukaanmu. Mungkin sekarang sudah dingin. Apakah kau sudah makan? Ibu akan menghangatkannya lagi supaya enak.”

Seandainya ibu tahu betapa merasa bersalahnya aku waktu itu. Aku bahkan tidak ingin berpura-pura tidur lagi setiap pukul sepuluh malam.

Suatu waktu, ibu menghampiriku di teras rumah. Aku sedang berkonsentrasi menggambar poster grup band kesukaanku yang akan kubawa pada konsernya di alun-alun kota minggu depan. Ibu mencermati gambarku dengan saksama. Ia berkata : “Bagus. Tapi kau tak akan pergi ke konser itu.” Aku menatap ibu tak percaya. “Mereka ini band pro rakyat, Bu. Lagu mereka suara hati rakyat. Menyanyi untuk rakyat. Kenapa tidak?”

Ibu balas menatapku. Senyumnya semanis tebu. “Tidak. Kau tak akan pergi ke konser itu. Percayalah, di sana hanya ada kerumunan pemuda malas yang merokok, minum-minuman beralkohol, berjoget, berteriak, tawuran, dan banyak lagi. Apa yang akan kau lakukan di sana?

Biar Ibu beritahu, lima belas meter dari rumah kita ada panti asuhan. Kau boleh mengajari mereka melukis dengan cuma-cuma. Tetangga kita, Bi Ami, malam kemarin rumahnya kemalingan. Sisihkan uang sakumu dan uang yang akan kau gunakan untuk membeli tiket konser lalu berikan padanya. Atau bantulah ibu menyapu halaman depan sore nanti. Pro rakyat yang lebih manusiawi, kan?”

Ibu tidak memerlukan sihir agar bisa membaca isi hatiku melaui ekspresi tubuh. Pada suatu siang, sepulang sekolah, aku memasuki pintu utama tanpa mengucap salam. Waktu itu ibu tengah menyiapkan makan siang, sekilas ia melihatku tersuruk-suruk menuju kamar. Aku mengurung diri sepanjang sore dan baru keluar ketika ibu mengetuk pintu kamarku untuk yang kesebelas kali—memintaku makan.

Hanya ada suara piring dan sendok makan yang beradu pada menit-menit pertama; kami hanyut dalam pikiran masing-masing. Ketika nasi di piring kami sisa separuh, ibu menatapku geli sambil menggeleng,  lalu berkata, “Ayahmu berjuang setengah mati untuk bisa menikahi ibu. Ibu selalu menolak setiap ayahmu mengutarakan perasaannya. Tapi, memang dasar ayahmu itu keras kepala. Semakin ditolak, semakin dia penasaran katanya.”

Aku mencerna kalimat ibu sambil terus mengunyah makanan di dalam mulutku. Aku sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. Aku berusaha mengaitkannya dengan apa yang berlaku padaku di sekolah pagi itu. Ketika aku memberi sekotak cokelat kepada Vani—dan ia langsung menolaknya.

Pipi ibu memerah seperti kelopak mawar. Aku mengamati kedua mata ibu berputar dengan senyum yang merekah. Jam makan itu diakhiri dengan sebuah pertanyaan dari ibu:

 “Apakah kau akan memerjuangkan gadis yang kau sukai itu?”

***

Pada pertengahan Agustus, aku mengepak barang-barangku ke dalam koper besar berwarna biru laut pemberian ayah. Ibu memandangiku dari ambang pintu kamar tanpa sepatah kata dan kemudian berjalan pelan menuju ranjang tempatku mengepak barang—ia duduk di sampingku. Aku mendengar ranjangku berderit menampung tubuh ibu. Kemudian ibu berujar lirih, “Kau sungguh ingin kuliah di Malang?” Aku menatap ibu sekilas sambil tesenyum, dan mengangguk mantap.

“Kenapa harus di Malang? Bogor tidak kekurangan Universitas.”

“Adit ingin belajar mandiri, Bu.”

“Di sini juga sama saja.”

“Malang, Bu.”

“Kau tahu berapa jarak Bogor-Malang?”

“Ayolah, Bu. Adit sudah delapan belas tahun.”

“Justru karena kau baru delapan belas tahun, Adit.”.

Aku menarik napas dalam kemudian menghempasnya pelan. Aku mengalihkan pandanganku ke kaca jendela kamar. Ada bulir-bulir embun mengalir zigzag di sana, sisa hujan semalam. Beberapa daun mahoni yang menguning berguguran tersapu semilir angin Agustus di pagi hari. Aku mengalihkan lagi pandanganku kepada ibu. Kepala ibu menghadap lurus ke depan dan matanya beradu pandang dengan dinding, tetapi seakan-akan ia menatap ke kejauhan.

Aku melihat ayah berdiri di ambang pintu kamar seperti yang dilakukan ibu sebelum duduk di sampingku. Entah, sudah berapa lama ayah berdiri di sana. Ayah menyandarkan punggungnya ke gawangan pintu. Ia berkata, “Sudahlah, Bu. Biar Adit belajar mandiri. Sebentar lagi juga liburan Natal, Adit pasti pulang, kan?”

Aku melihat mata ibu berkilau terpapar cahaya yang menerobos dari jendela kamar. Ada semerbak air yang akan tumpah di sana. Ibu berkata, “Siapa yang akan mengingatkanmu untuk mencukur rambut? Memasakkan semur ayam? Astaga, kau akan banyak-banyak makan mi instan di sana. Ya Tuhan, jagalah anak Ibu.” Lalu air di mata ibu tumpah seluruhnya.

***

Beberapa waktu terakhir, setiap pukul sepuluh malam, aku selalu mendengar derap langkah ibu menuju kamar kontrakanku. Ia membuka pintu, mematikan komputer, membenahi selimutku, dan mematikan lampu. Ketika bangun di pagi hari, aku tertegun karena komputer dan lampu masih menyala.

Sekarang, suara langkah itu semakin keras dan dekat. Aku tahu itu ibu. Sebentar lagi ibu akan sampai di depan kamarku dan membuka pintu. Berdiri di sana, lalu berujar, “Kenapa bisa sakit? Kau telat makan?” Sudah lama aku tidak melihat ibu berdiri di ambang pintu dengan suara lembutnya.

Aku menyingkirkan selimut yang membalut tubuhku dan kemudian mengangkat kepalaku ke arah pintu yang setangah terbuka. Aku bangkit dari tidurku, menyandarkan punggungku ke dinding. Aku berkata, “Ibu? Ibukah itu?”

Kemudian pintu terbuka seluruhnya dan aku melihat sosok itu berdiri di sana, kedua alisnya bertaut, “Ibu?”

Dia bukan ibu.

Aku kembali merebahkan punggungku ke kasur lantai. Rizal meletakkan nasi bungkus di atas rak piring mini dekat pintu. “Apa kau ingin aku mengantarmu ke dokter?” Aku menggeleng. “Tidak usah,” kataku pelan.

“Vani bilang akan menjengukmu besok.”

“Aku tahu, boleh minta tolong?”

“Iya?”

“Tolong beritahu Ibuku aku sedang sakit.”

“Kau ingin aku meneleponnya di wartel?”

“Tidak, pakai ponselku saja.”

“Oh, ya? Kenapa bukan kau saja yang meneleponnya?”

“Aku tidak bisa.”

“Apa kau pikir aku sehebat itu?”

Rizal menatapku kesal lantas ia duduk di  lantai di jalan masuk pintu. Ia membuka bungkusan nasi yang ia letakkan di atas rak piring tadi kemudian memindahkannya ke dalam piring. Rizal menyorok piring itu ke samping kanan kasurku. “Makanlah,” ujarnya. Aku melihatnya tanpa selera, kuamati  langit kamar yang cat putihnya mulai menguning dimakan waktu dan pandanganku terhenti pada lampu yang aku lupa mematikannya pagi tadi.

“Ini sudah bulan kedua kau bertingkah seperti orang gila.”

“Maksudmu?”

“Ayolah, Dit. Ibumu sudah meninggal. Kau harus menyikapi realita dengan baik.”

Aku masih memandangi lampu itu. Cahaya putihnya menyakiti mataku. Rizal bangkit dan menekan sakelar lampu di dinding di sisi kanan pintu masuk. Lampu mati dan ruangan menjadi redup. Hanya sedikit cahaya matahari sore yang menyusup dari jendela kamar kontrakan ini.

 Rizal pamit menuju kamarnya. Kemudian, samar-samar aku mendengar seluruh perabot melantunkan suara ibu lagi. Aku juga mengingat hari pertama aku tiba di  sini. Ibu menelponku sebanyak dua puluh sembilan kali, dan aku mengabaikannya.**


Indah Fai, kelahiran Banyuwangi, 15 Juli 1994. Tinggal bersama keluarga kecilnya di Buleleng, Bali Utara. Bisa disapa melaui akun Facebook: Indah Fai dan email: [email protected]

Puisi

Puisi Miftachur Rozak

Jam di Tangan Sudah Mati

jam di tangan sudah mati

masih melingkar di tangan kiri

namun, kata-kata tetap berdetak

mengulur waktu mentashih sajak.

dan terkadang pikiran kelayapan

mencari-cari alasan kebenaran

menyalahkan waktu, tak tahu jalan.

bus kota pun lekas datang

membawa seratus penumpang

namun aku tidak jadi pulang

sebelum sajak yang kau tulis

menjadi penerang jalan.

Jombang, April 2020


Membagi Waktu

diam-diam mataku membagi waktu

pada hujan membunyikan sendu

pada daun-daun  lotus di altar rumah

pada nyala kerlip lilin dan kasturi di atas tanah

berkecipak bulir menerpa kendi liat

sebagai bunga berpijak: lotus merah jambu

tatkala bayangmu sekelebat datang

di pembagian waktu

melewati sela hujan yang ragu-ragu

menari-nari di antara insomnia dan rindu

berliku-liku dalam angan sajak bisu

yang setiap malam datang mengganggu

mataku menuliskan peristiwa itu: sajak masalalu

di balik daun lotus kering dan kelopak warna ungu

sajak-sajak itu tersimpan rapi

pada nyalang album puisi

dan akan kuberikan padamu

ketika engkau sedang rindu

seperti aku yang bertengadah untukmu

Jombang, 2020


Pingsut

gajah marah pada telunjuk

yang menunjuk-nunjuk

ketika semut sibuk menggaruk

pada telinga lebar, hingga terkapar.

namun, semut pun kandas; tertindas

oleh jari telunjuk; saling menunjuk.

dan batu pun mulai geram

pada gunting; hingga berkeping-keping.

namun ia merinding ketika kertas merunding,

apalagi jika tertempel materai iming-iming.

hompipa alaihum gambreng!

mayoritas terkapar

minoritas berlayar.

suuuut jleeng..!

gajah marah

telunjuk menunjuk

dan kelingking melengking.

Jombang, Desember 2020


Kereta Pukul Dua Siang

kereta datang tepat pukul dua siang

saat hujan menahan air matanya berlinang

pada gemawan menghitam

di atas stasiun membawa pesan

ihwal skenario digariskan.

seseorang telah datang

dengan gaun merah marun menjuntai

berkerlip kunang. sepatu tanpa hak

warna biru  genitri cukup terang.

lihatlah, perempuan itu

yang tiap malam datang bersama secawan

harapan rindu. melilit di setiap detak waktu

hidup dalam liku diksi-diksi kelu.

lihatlah, ia sedang berjalan ke arahku

seperti yang telah dikabarkan tuhan

dalam mimpiku

perihal kekasih yang turun

dari gerbong nomor tujuh

ketika hujan datang, air matanya jatuh dan luruh.

Jombang – Jogja, 2019 – 2020


Terkadang  Ingin Menjadi Air

terkadang aku ingin menjadi air

menyucikan segala hadas

yang membatalkan segala rindu.

terkadang aku merindukan air

meredakan segala haus

pada tandus.

terkadang aku membenci air

yang tiba-tiba datang

menghanyutkan segala kenang.

dan terkadang,  aku merenungi air

segala takdir adalah takrir

bagi yang berpikir.

Jombang, Juni 2020


Selaksa Api

lukaku adalah api

menyala pada puisi-puisi.

kadang murka dan membakar

pada sajak-sajak sunyi

pada muskil janji-janji .

kadang menyinari

pada lanskap kalbu

pada gelombang muasal rindu.

lukaku adalah api

nyalang  abadi di bulan Juni.

Jombang, Juni 2020


Meniup Seruling

enam lubang oktaf sudah kau tutup

namun lengking masih saja meletup

masihkah kau terus meniup

menemukanku pada nada

yang tak kau anggap hidup

Jombang,  Agustus 2020


Kelopak Anggrek

ia sudah tak berbunga

semenjak kau patahkan kelopaknya

kemarau membuatnya risau

sementara hujan buatan

hanya ada pada tangisan

maukah engkau menangis

pada bunga yang rindu gerimis

Jombang,  Desember 2020


Halaman-Halaman Pertemuan

pada halaman pertama aku mencium

bau parfummu yang legit vanila

lantas aku sibak pada halaman kedua

aku menemukan bercak lipstikmu

merah buah delima

dan selanjutnya,

dan selanjutnya

hingga aku temukan dirimu

di akhir bait yang beku

pada halaman terakhir sekumpulan puisi

dan seikat narasi, tentang penantian yang kini

menjadi semacam tali, mengikat janji di jemari

Jombang, September 2020


Matahari Mekar Berbunga

  :Kinan

matahari sedang mekar berbunga, kinan

ia bersolek di ujung timur,  langit arunika

pohon-pohon pinus sontak terbangun

dari tidur panjang semalaman

dan mereka mulai berdesis

melantunkan zikir pagi

di setiap daun-daun

dimandikan percik matahari

dan dibelai-belai desir angin

sementara,  engkau masih bersembunyi

di balik kalut jendela kayu mahoni

menghirup semerbak biji-biji puisi

yang ditulis para lelaki

apakah engkau masih takut, kinan

memilih sebiji puisi paling menawan

menggenapi puisimu yang perawan

matahari sedang mekar berbunga,  kinan

seperti engkau yang semakin perawan

Jombang, September 2020


Sarung

sarung yang dipakai ibu

sebenarnya milik bapakku

bukan karena ibu tak bisa membeli baru

namun ada tenun rindu: 

dari harum parfum bapakku

benangnya halus, sutra buih samudra

coraknya berkilau, pualam mutu manikam

hangat dari pelukan malam

sejuk dari embusan siang.

sarung yang dipakai ibu

kini diwariskan padaku

terdapat tiga jahitan baru

dari benang-benang rindu.

Jombang, April 2020


Miftachur Rozak, tinggal dan lahir di Jombang, 03 Februari 1988. Ia alumnus PBSI STKIP PGRI Jombang tahun 2011, kini mengabdi di MTsN 2 Rejoso Jombang sebagai guru Bahasa Indonesia. Selain menggemari vespa dan kopi, ia juga menyibukkan diri menulis cerpen dan puisi. Karya-karyanya tersiar di pelbagai media cetak dan daring. Puisinya Masuk dalam antologi tiga negara, Jazirah 5 FSIGB 2020, dan tergabung dalam buku Sang Acarya. Kumpulan Puisi Guru dan Dosen Komunitas Dari Negeri Poci 2020. Bisa dijumpai di Facebook: Miftachur Rozak atau Instagram: @arrozak_88.

Cerpen

Mati Tanpa Nama

Cerpen Ken Hanggara

Ingin kuakhiri semuanya hari ini. Kota sudah terlalu busuk. Udara tak lagi nyaman kuhirup. Anjing-anjing yang menemaniku sudah kulepas ke tangan para pencinta satwa. Rumahku sudah dimiliki sejumlah gelandangan terbusuk di Kalodora. Tak ada keluarga, tak ada teman atau sahabat. Bahkan beberapa wanita yang sempat menemaniku selama belasan tahun terakhir kini entah di mana. Aku tak yakin mereka masih mengingat sosok lelaki kaya raya kesepian yang memutuskan tak pernah memiliki anak sampai mati ini. Itulah yang membuat mereka kabur satu per satu; mereka berharap menimang anak dari percintaan atau pernikahan kami, sedang aku menolak kehidupan seperti itu.

Hari ini, yang tersisa dariku selain baju yang kukenakan, adalah nyawa. Mungkin satu-satunya yang kupegang, yang bukan milikku, adalah nyawa. Aku yakin Tuhan di atas sana menunggu mengambil apa yang bukan jadi milikku.

Melihat situasi taman pusat Kota Kalodora yang nyaris tak pernah ramai ini, tiba- tiba membuatku ingin menangis. Bukan demi penyesalan, tapi demi keinginan yang tak pernah orang-orang pahami.

Maka, aku menangis. Di sebuah kursi besi panjang, aku menangis selama kira-kira sepuluh menit. Tak seorang pun tahu. Mungkin hanya malaikat dan setan sajalah yang tahu bagaimana aku menangis sebelum mengakhiri semua ini. Mungkin juga tidak ada yang tahu sampai beberapa hari kemudian bahwa aku berada di sini, memutuskan untuk selesai dari hidup ini di sini, hingga jasadku membusuk dan orang-orang baru akan menyadari itu jikapun ada yang melintas di bagian tenggara taman yang paling sering dijauhi karena terlalu senyap. Mungkin butuh waktu sebulan untuk menemukan jasadku, tapi apa pun itu aku tak peduli.

Namun, aku tak cukup yakin sudah berhasil ‘menghilangkan’ diri sejak tadi malam, meski kubuang identitas dan jejak yang membuat seisi kota, bahkan kaum gelandangan yang sehari-hari tak ada kesempatan menonton TV atau membaca berita tentang diriku di koran lokal, tak akan menemukanku.

Aku tak yakin tak ada seorang pun yang bertanya-tanya kenapa seorang lelaki tenar macam diriku berkeliaran di taman kota, di bagian yang paling senyap, seorang diri pula? Apa yang membuat lelaki itu berpakaian apa adanya, malah cenderung mendekati gaya gelandangan? Apa juga yang membuatnya menyerahkan rumah terbaiknya ke sejumlah gelandangan?

Para gelandangan itu mungkin sempat bertanya-tanya siapa aku, tapi aku tak ingin menjawab, dan pada akhirnya mereka bakal tahu juga setelah membongkar setiap sudut dari rumahku, lantas menemukan foto-foto, piagam dan piala, potongan berita tentang kisah suksesku, berbagai skandal, dan lain-lain.

Jejak-jejakku masih tertinggal di rumah, dan karena itu, menunda kematian kurasa akan jauh lebih baik ketimbang orang kota menemukan jasadku dan headline hari yang sial itu berbunyi: Ali Mudakir, pengusaha tersukses di Kalodora, ditemukan mati bunuh diri di bagian tersenyap dari taman kota setelah dengan sengaja meninggalkan seluruh hartanya untuk para gelandangan.

Itu bukan sesuatu yang kudamba. Orang-orang yang dulu pernah menjadi keluarga dan temanku pasti akan sangat terganggu.

Aku berharap sebuah kedamaian untuk akhir yang buruk ini. Aku mau tak seorang pun menyadari diriku saat sudah menjadi jasad nanti. Aku harap sebagian besar tubuhku bisa berguna untuk beberapa mahasiswa di sebuah fakultas kedokteran, di dalam ruang praktik di mana jasad-jasad tanpa identitas diotopsi demi ilmu pengetahuan, sekalipun mungkin sebagian diriku akan membusuk.

Maka, sisa hari itu kuhabiskan dengan berjalan lebih jauh, menuju pinggiran Kota Kalodora, menelusuri bagian-bagian sunyi dan kemungkinan jarang dilalui orang paling tidak hingga beberapa hari ke depan. Waktu itu hari sudah cukup gelap dan aku berjalan tak terlalu jauh dari jalan utama, tapi wajahku tetap terlindungi oleh kegelapan sebab di kawasan tersebut, lampu-lampu jalan banyak yang tidak berfungsi.

Pernah dulu terjadi perampokan di area sini. Seorang pegawai salah satu bioskop terbaik di Kalodora ditemukan berbaring melingkar bagai udang di kotak sampah dan mungkin saja saat ini lokasi tersebut tak terlalu jauh dariku. Aku pasti tak salah tebak. Kawasan ini memang sepi. Rumah-rumah kosong dibiarkan telantar, dan hanya dihuni beberapa orang gila dan orang liar yang tak tepat disebut gelandangan, melainkan lebih cocok menyandang gelar para pengganggu keamanan. Konon mereka datang dari kota sebelah yang sebagian besar hancur total karena kerusuhan beberapa tahun lalu, dan kini kehidupan di kota tersebut jauh lebih buruk ketimbang kesialan yang sehari-hari ditelan oleh orang-orang termiskin di Kalodora. Bisa dibayangkan seliar apa orang-orang itu jika turun, beraksi merampok, atau memalak orang-orang di jalanan. Bisa dibayangkan nyawa para mangsa tak bakal ada artinya demi kebahagiaan memiliki uang dan hidup bersenang-senang seminggu ke depan untuk mereka.

Tiba-tiba aku memikirkan gagasan itu; mati sebagai korban perampokan dari kaum liar ini, lalu jasadku dibuang, hingga ‘hilang’ dari dunia paling tidak sampai tiga atau empat minggu ke depan. Apa mungkin?

Namun, para pembegal pastilah memilih siapa yang layak menjadi korban, dan aku jelas bukan korban yang menggiurkan, sebab yang kubawa hanyalah pakaian lusuh yang tadi pagi masih dikenakan salah satu gelandangan yang kini kubiarkan menguasai tiap sudut rumahku.

Aku harus melakukan sesuatu untuk memancing orang-orang liar itu ke luar sarang. Mungkin kini mereka mengintai dari balik lorong-lorong gelap di antara rumah-rumah yang lama tidak disambangi pemiliknya sebab sebagian besar dari mereka mati dalam kecelakaan di pabrik bir. Para buruh di pabrik itu tewas dalam kebakaran yang dahsyat beberapa tahun lalu dan kini rumah mereka tak ada yang memiliki, kecuali orang-orang gila dan para begal itu.

Mereka mungkin hanya melihatku sebagai orang gila, atau gelandangan biasa yang tersesat, dan tidak cukup menarik untuk digasak. Demi tewas dengan cara seburuk itu, demi mati sebagai mayat tanpa identitas, aku pancing mereka. Dengan keras kukatakan, “Kalian mau uang dan emas? Ayo, keluar dan bunuh saya!”

Tak seorang pun merespons. Tetap sepi dan hanya terdengar bisik-bisik gerutuan di beberapa rumah: orang-orang gila yang terganggu tidurnya. Kembali kuucap tawaran, tapi tak seorang pun muncul.

Mereka baru tergoda setelah kutampakkan wajahku ke bawah sinar lampu jalanan. Mereka tentu tak sepenuhnya tahu siapa aku, tapi wajahku bukan ciri orang-orang yang lama hidup di jalanan. Mereka dengan sabar mendengarkan sejumlah arahan dariku jika nanti sudah menghabisiku dan menyembunyikan mayatku. Kusampaikan mereka bakal menjemput kekayaan di rumah—di alamat yang kutulis untuk mereka. Tentu alamat itu bukan alamat rumahku. Itu tak lebih alamat palsu sebab jika kutunjukkan rumahku, mati yang kualami bukan lagi mati yang rahasia. Bukankah aku mengharapkan berakhir dan tak seorang pun menyadarinya?

“Bagaimana kami yakin kau tidak bohong?” tanya seseorang dari balik kegelapan.

“Apa gunanya saya berbohong, sedang saya benar-benar bosan hidup?”

“Apa buktinya kau memiliki uang dan emas?”

Tanpa berkata-kata, kulempar sesuatu yang lupa kulepaskan sejak pergi dari rumah mewahku: sebuah arloji emas.

Demikianlah, mereka menghabisiku malam itu. Mayatku dibuang ke suatu selokan di pinggir kota, ditemukan dua hari kemudian oleh sopir taksi yang sedang kencing. Tak ada yang perlu dicemaskan tentang alamat palsu itu. Alamat itu tidak lebih dari sebuah tanah kosong di bagian utara kota, tempat dulu, dua puluh tahun lalu, aku bercinta untuk kali pertama dengan kekasihku yang tidak sudi melanjutkan hubungan kami sebab aku tak pernah berharap memiliki anak.

Aku ingat apa yang kekasih itu katakan usai kami bersetubuh malam itu, “Kamu pasti bisa menjadi ayah yang baik. Tak perlu takut memiliki anak.”

Aku hanya menjawab, “Oh, mustahil. Aku tak akan bisa menjadi ayah yang baik.” ***

Gempol, 14 April-15 Desember 2020


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Museum Anomali 2: Dosa di Hutan Terlarang (2018). Segera terbit buku kumpulan cerpen terbarunya: Pengetahuan Baru Umat Manusia.

Puisi

Puisi Kiki Sulistyo

Apakah yang Kau Lihat dari Seekor Lebah?

apakah yang kau lihat dari seekor lebah?

dengung sayap, sayup di kayu atap, sarang

berlapis dari malam dan getah propolis

mencari serbuk sari, nektar bunga, berhektar

daun mahkota di antara duri-duri.

apakah yang kau bayangkan dari seekor lebah?

sebatang puisi dengan putik berisi bintik sepi,

sengat rima merekat dalam irama, bila terperangkap

di jendela kaca, dengarlah upaya, mencapai cahaya,

musik dunia yang mengusik asmaradana.

2020


Burung Firdaus

tiap malam ada siul burung firdaus

dari gugus kaprikornus, seperti dengus,

padi ladang yang meninggi, melepas biji-biji

ke pusat humus, di pusar antariksa 

bila datang pagi, kau akan bernyanyi

meniru bunyi matahari, kaki-kaki akar

resap ke pusat gili, kelahiran berdengung

dalam kantung tanah, saat rampung denah

dan musim tanam dimulai 

burung firdaus turun, hitam seperti ancaman

membawa bangkai bintang, keturunanmu

menamainya iman, api yang nanti

dipakai meledakkan diri, sembari berharap

diri terlontar kembali, ke gili ini, tempat

seekor ular melingkari sebatang puisi

2020


Di Seberang Hotel

di seberang hotel, tunas tomat menempel

pada pagar rumah dinas, keping-keping

kaca masih memantulkan paras orang mati

setelah bunyi sirine dan sisa parade mengubah

kota jadi lembah api

bila nanti dari pucuknya muncul bakal biji

seseorang akan dilahirkan kembali

dengan mata buta dan lisan bagai besi karatan

tak sudi bersaksi bahwa sejarah bergerak

searah ayunan kapak pada tegak tonggak

di lobi hotel rapat akan dimulai, sebentar lagi

lonceng ekonomi berdentang dan seketika

bangunan- bangunan berdiri seperti zombie

harga-harga dan daftar belanja, surga dan pasar

terbuka, tunas tomat menggigil, seakan seorang

eksil, infantil di hadapan mulut bedil

2020


Ranjang Padi

dia sendirian, berbaring di ranjang, antara

nyala lilin dan usia tua, membayangkan kematian

serupa padi yang merunduk hendak menyentuh

bumi; tak ada lagi kelaparan di dunia ini

sebutir beras menghidupkan pucuk malam

sedang lambung anak-anak pengungsi berdengung

di langit merah wabah.

dia pikirkan benua yang jauh, kapal-kapal hantu

sepanjang perairan itu, hendak sampai pantai

para penjaga bagai dinding perbatasan

menampik kedatangan, meniup api di pendiangan

dia sendirian, berbaring di ranjang, bagai berbaring

di kolam mawar, tak ada lagi kelaparan, dia dengar suara

kanak-kanak mengepakkan sayap, membawa benih padi

terbang meninggi, ke ladang bulan, kerlipnya demikian terang

butir-butir beras di hitam marmar

2020  


Kucing Kata

seekor kucing bukan seekor kucing

sebelum dihela dari bahasa

seekor kucing hanya seekor kata

yang mengeong dalam kepala

bulunya bisa berganti-ganti;

hitam serupa malam bila perasaan

sedang muram, merah jambu seperti

rindu, bila parasmu dimerahkan

puisi itu.

sekarang si kucing sedang tertidur

dengkurnya detak jantungmu saat

bermimpi melihat si penyair menyusuri

tebing-tebing bahasa, mencarimu

yang kian basah dan bergetah

di celah-celah kata, o, gerangan

apa membuat gerahammu membuka

hingga terlepas bunyi meong itu

seolah tak sengaja ?

2020


Partitur

        : Em

setiap kali melihat telur, dia tertidur,

seluruh program diundur dan jam-jam

diulang-atur. dia terbujur bagai akan

dikubur, seekor tekukur menghambur

dari dalam sumur, membuat jalur,

seakan hendak mengukur, dibutuhkan

berapa putaran umur, sampai cangkang

itu hancur.

setiap kali tertidur, dilihatnya seekor tekukur

meluncur ke rimbun melur, sulur-sulur

cahaya terjulur dari siulnya yang luhur,

dunia lantas berdebur, nyanyi trubadur,

bunyi mesin tempur, dan keluh buruh

di jam-jam lembur, lebur dalam bunyi

mazmur, membuat limbur, seakan seluruh

partitur, terguyur hujan anggur.

2020     


Fraktal Sentrifugal

                        : bn

betapa tajam duri baiduri ini, melukai daging kata

umpama kebisuan setelah perang, berhenti untuk bertahan

lalu butir darah menitik di batang-batang perdu

angkasa memantulkan merahnya yang gemilang

noktah nebula; kabut bintang dari sisa ledakan dalam kelenjar

nama-nama diembuskan ke permukaan batu 

ular pembujuk melingkar di situ, menyaru bercak bulan

radang cahaya menghidupkan burung-burung hujan

gelombang sentrifugal yang menjauhkan kata dari makna

ucapkan ‘eureka’ ketika semua percobaan telah gagal

nanti di tempat rendah ini, segala sesuatu akan kembali baru

akan kembali kilap, berkilau di dinding-dinding kitab

2020


Kiki Sulistyo, lahir di Kota Ampenan, Lombok.Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020).

Cerpen

Suara Karenina

Cerpen Fataty

Sovia, Musim Gugur

Ia menatap cermin, lama. Melihat wajah yang berembun setelah dibasuh air hangat. Rambut merahnya dibiarkan tergerai tak teratur. Letih. Cekung matanya terlihat makin tegas. Lelah. Beban itu tiba-tiba menumpu di sekujur pundaknya. Ia menghela napas panjang. Mengusap perutnya.

Sebotol aspirin ia ambil dari balik cermin lemari obat yang tergantung tepat di atas wasafel. Ia minum satu butir. Handuk kecil yang ia basahi diperas, lalu dikompresnya kening, leher dan kedua pipinya. Ia kembali menghela napas panjang. Memandang cermin lagi. Memaksa bibirnya membingkai tipis senyum. Gagal. Kedua matanya membulirkan setetes.

Sepasang kaki jangkung itu melangkah sedikit jingkat, seperti menghindari pucuk-pucuk duri. Melangkah menuju peraduan, merebahkan diri, menarik selimut tebal sampai leher. Sebentar lagi musim dingin. Daun-daun pohon birkin mulai memerah dan gugur memenuhi jalanan. Gelisah. Ia belum bisa terpejam meski tempat tidurnya hangat.

“Selamat pagi, Karenina. Kau terlihat pucat. Tidurmu tidak nyenyak rupanya.” Wanita berusia senja menyapa dengan hangat, memakai celemek, menyiapkan kopi, beberapa slice roti panggang dan jeruk berjuring-juring ditata rapi di piring datar. Meja makan berenda itu sudah tertata menghidangkan sarapan. Karenina duduk. Merapatkan piyama, menyeruput kopi, dan menggigit roti. Menerawang keluar jendela dapur. Berkabut dan hening. Perempuan berusia senja itu, memandang dengan raut tanda tanya pada satu-satunya putri dari almarhum kakak perempuannya. Merasa diabaikan.

“Karen, Are you okay?” Menilik wajah keponakannya yang masih saja tidak memalingkan muka ke arahnya. Ia diam tidak menjawab. Ia tetap memandang bagian belakang gadis itu. Belum juga berpaling ke bibinya. Sambil tetap memandang ke arah jendela. “Bibi Anne. Besok aku mau ke Kopenhagen.” Suaranya lirih. Hampir lenyap ditelan hawa berkabut kota Sovia, Bulgaria.

Perempuan berusia senja ini memandang dengan muka penuh tanda tanya ke arah gadis itu yang masih memandang ke luar jendela. “Kau ada tugas lagi di sana? Tak biasanya kantormu mengirim ke tempat yang sama dalam waktu dua bulan,” sahutnya heran.

“Bukan, bibi Anne. Bukan tugas. Aku hanya harus ke sana. Besok aku berangkat.”

Bibi Anne menghela napasnya sebentar. Meletakkan sepinggan pie apel hangat yang baru keluar dari oven.

“Kau seperti ibumu. Teguh dan berkemauan keras. Kau tahu kan di Denmark suhu selalu di bawah lima derajat celcius. Apalagi sebentar lagi salju turun. Oh my dear Lil girl. Be careful. Dia memberi kecupan kecil di kepala gadis itu yang selalu disebutnya Lil Girl (gadis kecil).

Karenina tetap menatap ke luar jendela. Ia memang suka memandang ke luar jendela. Jendela kamar, jendela dapur, jendela rumah pohon di rumah masa kecilnya, jendela apartemen lantai 12, jendela mobil, jendela kereta dan kini jendela pesawat.

Beberapa menit, Karenina, gadis cantik berambut merah itu, garis-garis wajahnya yang tegas khas perempuan Kaukasia telah berada di angkasa. Mata berwarna hijau, bibir tipis ditopang leher yang jenjang, seimbang dengan postur tubuhnya yang semampai. Make up-nya tidak berlebihan. Rambut merah bergelombang bak ombak lautan Baltik. Tidak terlalu ada riak. Lembut. Diikat begitu saja.

Ia memandang ke luar jendela. Tidak ada apa-apa. Hanya desing mesin pesawat yang ujung sayapnya tertutup awan putih. Tak terlihat apa-apa. Karenina, ia tetap memilih memandang ke luar jendela.

Enam bulan yang lalu

Suasana dalam pesawat senyap. Beberapa penumpang tidur, sebagian membaca buku, majalah, brosur pariwisata. Sepasang muda-mudi yang bermesraan, dan ia menekuni layar notebook-nya. Kedua matanya tertuju pada monitor penuh huruf-huruf. Menjadi editor sebuah penerbitan besar yang memiliki cabang di beberapa negara Eropa, membuatnya sering mengunjungi berbagai negara. Kali ini Kopenhagen, Denmark. Negeri ujung hampir menyentuh Antartika ini dikenal sebagai negeri dingin, damai dan hampir nol persen konflik. Beberapa tokoh menyebutnya dengan:  A Piece Of Paradise.

Kelopak matanya terlihat lelah. Ia lepas kacamata lalu meminum seteguk air putih. Memandang sekeliling. Tenang. Semua orang sibuk dengan dirinya sendiri. Tak ada yang aneh. Duduk di sebelahnya perempuan sekitar 50-an tahun, sedari tadi menyapa, mengajaknya berbicara singkat, santun khas orang Inggris. Tidak berisik dan mengganggu.

Tiba-tiba terdengar seorang wanita bicara dengan nada tinggi dalam bahasa Jerman. Memelototi seorang pria yang duduk di sampingnya. Beberapa penumpang lain memandang ke arah mereka. Si wanita berdiri meninggalkan tempat duduknya. Semua orang melihat. Sepertinya mereka adalah suami-istri.

Semua berpusat pada mereka, termasuk Karenina. Ia lepas kacamatanya. Ia tekan tulisan shut down di layar notebook-nya, menutup dan memasukkannya dalam tas. Ia memilih memperhatikan sepasang suami-istri yang bertengkar itu, dalam bahasa Jerman. Puncaknya wanita itu menampar si lelaki, lalu berdiri berjalan cepat menuju toilet pesawat.

Karenina membuka sedikit bibirnya melihat adegan pertengkaran itu. Ia memang tidak fasih berbahasa Jerman tapi ia sedikit memahami pertengkarannya. Karenina memutar 45 derajat ke arah kiri. Pandangannya beradu dengan seorang pria berambut cokelat. Wajahnya penuh jambang di dagu dan pipi. Memegang sebuah kamera berteropong panjang. Mirip milik paparazi pemburu Lady Diana. Seperti fotografer profesional.

Pria itu hanya beberapa meter dari tempat duduknya. Dia tersenyum lebar ke arah Karenina. Memamerkan barisan giginya yang putih. Ia mengangguk. Sekadar membalas dari pandangan mata yang beradu tanpa sengaja. Karenina tersenyum tipis.

Rosenborg Palace

Karenina berjalan menyusuri jalan setapak yang menjulur menuju sebuah bangunan tua nan megah. Sebuah bangunan yang tidak berubah struktur eksteriornya. Besar, berdinding bata berwarna abu-abu. Benar-benar tua. Melihatnya laksana terjebak dalam kisah-kisah kolosal di masa lampau. Sebuah tempat megah pertemuan para Duke.

Rosenborg Palace kini hanya penyedap Image Capture para wisatawan Kastil tua abad pertengahan. Saksi berbagai cerita-cerita masa lalu. Ia juga saksi bisu kisah Karenina. Karenina menaikkan syalnya menutupi seluruh leher jenjangnya. Mendekap kedua tangan bersilang memeluk tubuhnya sendiri. Benar-benar dingin. Ia isap kuat-kuat hawa dingin kota Kopenhagen.

Dibiarkannya oksigen  memenuhi paru-parunya. Dibiarkan pula sebuah kisah singkat itu menyelam di labirin otaknya. Ia menutup kelopak matanya sebentar dan hologram seraut wajah nampak sekilas. Segera ia buka kedua mata itu lalu memandang lepas di lahan luas berumput hijau.

“Engkau seorang penulis?” Suara berat itu melontarkan sependek kalimat tanya. “Ya. Dulunya. Sekarang aku lebih banyak mengedit tulisan orang. Karena pekerjaan. Di kota ini aku ditugaskan menemui seorang penulis cerita untuk anak-anak. Perusahaan saat ini mulai concern menerbitkan tulisan untuk anak-anak.”

Pria itu menopang kamera berteropong panjang membidik bangunan dari berbagai sudut. Sesekali ia membidik Karenina sambil bicara. Karenina menikmati sejenak menjadi obyek kamera berteropong panjang itu.

“Apa yang kamu potret? Alam, manusia, bangunan?”

“Aku memotret apa saja. Tapi untuk pekerjaan fokus pada bangunan. Sebuah bangunan yang tua, modern, sempit, luas, unik, apa pun untuk sebuah program TV.”

“Oh, ya? Aku jarang nonton TV, aku pikir TV membosankan.” Karenina menyibak rambut merahnya. Ia mulai sedikit terkesan.

“National Geography. NatGeo People, tepatnya. Salah satu program bertema Humanity. Aku versi majalahnya, menyediakan foto-foto berbagai bangunan, rumah, pondok, apartemen, termasuk kastil.”

Karenina meninggalkan kompleks wisata Kastil Rosenborg Palace. Memberhentikan taksi dan turun tepat di Downtown Kopenhagen. Menyusuri trotoar. Ia tidak menuju ke mana-mana. Ia mengikuti ke mana kaki berbalut sepatu boot itu melangkah. Hanya mengamini kata hatinya. Hati itu kini dipenuhi sebuah nama yang sempat hadir dalam hidupnya. Merampok hatinya pelan-pelan.

Restoran kecil ala Italia tepat di depan kakinya yang berhenti melangkah itu memiliki sebuah riwayat bersamanya. Di sanalah ia pernah menikmati setepi senja yang syahdu bersama laki-laki yang selalu membawa kamera berteropong panjang. Membicarakan banyak hal. Tertawa bersama.

Tak bisa ia lupakan barisan putih giginya ketika tersenyum. Laksana senyuman seorang ksatria yang gagah dalam cerita-cerita klasik. Memberinya ruang teduh dari bisingnya rutinitas hidup. Di sudut ruangan restoran itu, Karenina tidak melupakan.

“Engkau memiliki mata yang indah, Karen. Kau tidak menyadarinya?” Pandangan laki-laki itu, pujian yang keluar dari bibirnya laksana dewa yang menyematkan sepasang sayap di antara kedua pundaknya. Ia merasa telah dinobatkan sebagai seorang bidadari yang cantik.

Ia menyeruput Cappucino, mengiris kecil dua lapis Wafel yang disiram sirup Mapple. Diam dalam temaram lampu-lampu meja. Wajahnya putih pucat. Riak mukanya menerbitkan kesedihan. Bibirnya menggumankan sebuah nama.

Kembali ia melihat wajahnya yang memantul di cermin yang menggantung di atas wastafel. Membasuhnya dengan air hangat. Mengambil sebutir aspirin dan menelannya sambil memejamkan mata. Melangkahkan kaki-kaki jangkungnya dengan sedikit berjingkat menuju tempat tidur dalam flat yang ia sewa selama tiga hari saja.

Desiran angin malam kota Kopenhagen menyerobot masuk di jendela kamar yang terbuka sedikit. Dingin. Karenina merebahkan diri, dan memeluk bantal, membauinya. Aroma tubuh laki-laki itu masih melekat. Bahkan bibirnya yang lembut dan jambang di dagu itu masih terasa pernah meninggalkan jejaknya di bibir, wajah, leher dan punggungnya.

Karenina menikmati setengah tidurnya dalam kenangan bersama pria itu. Ia tidak lupa betapa ia rela memainkan ritme percintaan dengannya.Ya. Setengah tidur saja. Ia sejenak menghadirkannya kembali. Kisah tempat tidur ini.

Tempat ia melabuhkan seluruh perasaannya. Menggemakan lagi lagu-lagu cinta dalam hangatnya pelukan lengan laki-laki itu, masih ia ingat suara lembut berbisik pelan, membunyikan kalimat yang seketika meruntuhkan stupa-stupa kuil cinta yang baru saja selesai ia susun. “I’m Married.“ Karenina tidak bisa memejamkan mata. Air matanya menggenang. Tangannya memegang perut yang di sana tinggal gumpalan darah yang berdenyut.***


Fataty, bernama asli Fatatik Maulidiyah, S.Ag, M.PdI. Seorang guru PAI di MAN 2 Mojokerto. Tinggal di Kemlagi, Mojokerto.

Puisi

Puisi Budhi Setyawan

Penyepian

begitu dalam pagut gaduh meracuni urat tahun
dan kepak jelajah kian jauh
dilambai ingin yang terus ulurkan samun
jalanan pun penuh lampu
yang sumbunya mengait ke detak masa depan
dengan rumus yang dikeramatkan

lalu merecik 
kilasan tanya di tubir pasai
ke mana alamat semua arus ini
ketika semua peluk dan ciuman ketergesaan
adalah serombongan tafsir yang banal
dan juga gagal dalam menandai
denyut keberadaan 
di bawah tatapan ruang yang seringai
dan terkaman waktu yang serigala

lalu perlahan dan lirih
ada yang memanggil untuk duduk berdiam
di haribaan hening jam 
mengembalikan hasrat kepada rongga
jeda napas sebelum terbit kata
pukau yang tersapih dari risau
bukan tentang siapa siapa
dan tidak untuk apa apa

Bekasi, 2020 


Silam Haru dan Rudapaksa Kota

sepi
bertandanglah
usapkanlah telapak nirmalamu
ke dadaku yang tirus dan koyak ini
oleh riuh amuk berahi kota
yang rajin kirimkan peluk
dan menciumiku tanpa cinta

ingin kulepas kepercayaan pada langit
saat keniscayaan kata begitu rumit
dan teduh dusun di punggung kanak masa lalu
diam diam menertawakanku

ah, ini kegilaan menggumuliku
sampai tumpas lepas belulang kenang
suaraku pun gawal menyentuh kemurnian waktu
tak ada kesedihan 
hanya ada bisik berkaca kaca
diam diam merayap sendiri
ke ruas napas yang begitu piatu

Bekasi, 2020 


Nujum Cium dari Kota

kota kota adalah tarian para perempuan sintal
yang datang dengan dada setengah terbuka
berlari gegas padamu sembari 
mengabarkan ramalan kebahagiaan
dan mengibarkan bendera
bertuliskan sajak sajak masa depan
tercerabut dari kemarin yang temaram

lenguhannya menikam jantung langit 
mencipta awan yang entah kapan
menjelma hujan
dan rayuannya selalu menjadi penunjuk jalan
bagi kuda hijau usai melepas diri dari istal

mereka merawi hasrat kemakmuran
menjadi kitab ciuman 
yang antarkan musim penghambaan
pada pohon larangan dengan dahannya
memijarkan lampu lampu
sebarkan bayang ketergantungan

kau pun menjadi bagian 
dari yang mengimani kejumudan 
dalam kerubut kesibukan kata kata 
yang mengalir dari pelukan kota berparfum nakal
dan membuatmu lupa pada riwayat muasal

Bekasi, 2020 


Kota Besar

kota besar
adalah sosok asing yang melintas
di depan kita saat menunggu
keajaiban nasib
dari kesialan yang rumit

dengannya tak banyak cakap
tentang nama atau alamat
apalagi ihwal tabiat
namun tetap kita kawini juga ia
sudah kepalang tanggung cumbuan
mesti segera dituntaskan
lebih hunjam
dan ratusan ritual pengulangan

maka lahirlah anak anak
bermata cekung
dengan tatapan nyalang dan sangsi
lalu berkata:
ceritakan pada kami apa itu cinta?

Bekasi, 2020 


Diingatkan Agar Melupakan

lupakan ciumanku,
katamu dari balik bait puisi
di halaman sebuah buku 
yang tekun ikhtisarkan waktu

kalimat bermajas telah berlalu
menuju kemarin yang tenang
tetapi kuraba masih ada tubir retak 
dari hampar kemarau di bibirku

saat kubuka halaman berikutnya
kamu kembali berucap
kau amat bandel ya,
betah bersama lembar perihmu

Bekasi, 2020 


Sebagai Teman

sebagai teman 
izinkan aku menemanimu
membaca puisi 
pelan pelan merunut 
dan menyusup ke sebalik diksi 
mencari cuaca yang lebih teduh dari hari ini
meski ia tak jua tertangkap 
biarlah menjadi buhul dalam ingatan pagi

kembali kita akan jelajahi
setapak rumpil di antara tunjam tunjam majas 
yang sulurnya mengejapkan bermacam warna
detak kita mengejar ruang ruang baru
yang berjela rambatan tafsir
seperti berkelok raih 
gulir usapan jauh dan dekat
meski lagi lagi kita tak mendapatkan buruan
hingga bait penghabisan
dan kata terakhir

sebagai teman
izinkan kutulis puisi untukmu
namun jangan kautanya makna
barangkali saja bisa menjelma sehampar taman
yang tak lupa pada matahari
dan tumbuh rimbun perdu kegembiraan
yang dengan riang akan bilang:
betapa kita tak pernah sendiri

Bekasi, 2020 


Bepergian

ada kalanya kita perlu bepergian
ke tempat terjauh di dalam diri
ke bilik-bilik yang selalu terang
meski tanpa lampu dan matahari

di sana kita bisa merekam detak
membaca napas dan mengusap
pori yang menyimpan getar puisi
dan terlalu lama menunggu sendiri

Bekasi, 2020


Detak Detik

tiba tiba jam dinding
di ruang tengah itu berucap
maaf, aku jalan sendiri dulu

ku tak bisa menunggu

kau kelewat peragu
diammu serupa jarum menusukku
sedangkan kau pun tahu
aku tak punya banyak waktu

Bekasi, 2020


Perempuan Bubu

aku hanyalah ikan kecil
yang riang berenang 
di riak kali kecil
berbatu

lalu kutemu bantaran 
landai dengan sebaran kerikil miring 
dan jeram mungil

kuturut arus
terjun di lubuk tenang
dan cuma satu arah
aku masuk ke sempit pintu
dengan rumbai tajam lidi bambu
tak bisa lagi keluar ke hulu

berputar putar aku
dalam perangkap
bubu

: lingkarwaktu, sintal tubuhmu

Bekasi, 2020 


Pagi Mencakar Dadaku

matahari kabarkan beringas kemarau
teras rumah dipanggang
dan seonggok tubuh luruh
bobi, anak kucing dengan tubuh kaku pergi

tak ada lagi mungil kuku kuku
mencakar kandang
memanjat kaki dan punggungku

kemarin kau melemas
tak mau bersantap
seperti teman temanmu

ah, gegasnya kau 
menancapkan haru 
di pagiku

Bekasi, 2020 


Budhi Setyawan, lahir di Purworejo, 9 Agustus 1969. Mengelola Forum Sastra Bekasi (FSB) dan Kelas Puisi Bekasi (KPB), serta ikut bergabung di komunitas Sastra Reboan dan Komunitas Sastra Kemenkeu (KSK). Buku puisi terbarunya Mazhab Sunyi (2019). Bekerja sebagai dosen. Saat ini tinggal di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.

Puisi

Puisi Ali Ibnu Anwar

lubang pot

lubang pot itu menanam hari-hariku. sebatang hari

tumbuh. sebatang kaktus tumbuh. melipat daging

segar yang menyebar dalam tubuh. setiap bangun

pagi, kuhirup udara amis dalam masker. bau berita

yang membongkar mortalitas manusia. kematian

bersembunyi di balik data-data menakutkan. kematian

yang juga menakuti kursi, meja kerja, baju kotor dan

cangkul. sial! siapa yang berhak atas kematian?

hari-hari gagal. waktu tanggal, aneh dan mengerikan.

bank tutup. kantor pajak tutup. puskesmas tutup.

sekolah tutup. ruang-ruang pelayanan mencekam

dalam lubang. lubang penuh duri yang senang

melukai gumpalan daging jadi merinding

lubang pot itu menumbuhkan senin setengah minggu.

senin yang kehilangan arti dalam kamus. bahasa

mengkerut dalam ritme isolasi, pandemi, hati-hati,

masker, kematian, kematian dan kematian. kematian

adalah jumlah kata yang paling banyak dicari,

sekaligus paling dihindari

jam-jam bergoyang, berputar, mengitari sebuah

lubang mencekam di dadaku. lubang yang tak pernah

tahu, kapan ia digali terakhir kali. untuk sebuah pot.

untuk sebiji hari yang menyerahkan kafan

pembungkus badan

jember 2020


cetak biru

segalanya harus dicetak biru. buku-buku, isu-isu,

rambu-rambu mencetak abu-abu. hari penuh hantu,

pincang dalam rencana penuh bencana

demi sebuah virus, segalanya harus diurus melawan

arus. tes rapid bagi sebuah buku yang belum selesai.

setiap kata dan kalimat perlu disemprot alkohol.

karena bahasa sudah menghindari bau rempah dan

tumbukan param

bagaimana cara mencetak biru sebuah kekosongan?

jember 2020


gerak berjarak

hari ini aku bergerak. berjarak. menghimpun apa-apa

yang sedianya berserak

setiap gerak butuh jarak yang cukup. langkah yang

cukup akan memberi jejak yang cukup pula. tapi

gerak perlahan hilang pijak

rumah-rumah tak lagi mampu menampung gerak.

perubahan juga gerak yang lain. gerak yang tak punya

silsilah untuk sebuah post factum. gerak yang

perlahan membuka buku kas, untuk menambal catatan

hutang, bagi kompor yang kehabisan gas

aku harus bergerak dalam pecahan jarak. dalam kerja

acak. bilapun diam, aku ingin orang-orang

mendengarku teriak

jember 2020


wabah melimpah

bersamaan jumlah orang terjangkit wabah melimpah,

orang lainnya membeli masker dari orang lainnya.

orang lainnya menjual masker untuk orang lainnya.

orang lainnya menganjurkan pakai masker bagi orang

lainnya. orang lainnya mendenda orang lainnya yang

tak pakai masker

di samping itu, orang lainnya mencurigai orang

lainnya yang bersin-bersin. orang lainnya menolak

jabat tangan orang lainnya. orang lainnya menetapkan

kematian akibat wabah terhadap orang lainnya. orang

lainnya tak terima keluarganya dikubur secara

protokol cegah wabah oleh orang lainnya

di sisi lain, orang lainnya mencari cara membeli

vaksin untuk menyelamatkan orang lainnya. orang

lainnya menduga ada permainan dilakukan orang

lainnya. orang lainnya diam-diam menunggu simpati

dari orang lainnya. orang lainnya diam-diam mencari

simpati dari orang lainnya

orang lainnya tertawa melihat orang lainnya yang

tertawa melihat orang lainnya

jember 2020


instalasi gawat darurat

sebuah ruangan membeku. di dalamnya ranjang

tertutup kelambu. di atas ranjang tubuh istriku. di

dalam tubuh itu calon anakku yang siap menghadapi

gunting, jarum jahit, dan usia yang belum genap. usia

yang menggunting jalan rahim setengah matang

seorang bidan gemetaran. lampu sorot untuk sebuah

kelahiran melototkan cahaya, pada sepotong tubuh

yang mengerang. ketegangan mengejan. sebuah

lorong mengirimkan seonggok daging merah setengah

matang

untuk sebuah instalasi kelahiran. ruang setengah

gawat. sore setengah darurat. seorang bayi menginap

dalam inkubator. sebuah kotak penghangat, telah

memisahkan kami dalam dingin yang ngilu

jember 2020


perihal asin

tentang kapal yang dulu pernah mengantarku

menyeberangi laut itu, ada saja kisah rahasia. garam

yang ingin menjadi ikan untuk sebuah impian. dulu

sekali ia pernah berpikir, kalau antara surabaya dan

madura terbentang sebuah jembatan, lambat laun laut

jadi barang antik di museum ingatan. ia akan berhenti

memperhatikan sepasang kekasih yang menghirup

angin di atas geladak sana

garam tak pernah mengeluh dan membutuhkan

jembatan, untuk menghubungkan rasa asin dan lemak

di tubuh ikan. ia pun ingin menjadi ikan, untuk

merasakan seberapa pekat rasa asin yang menjalar ke

tubuhnya. tak seorang pun mau mengakuinya, walau

dalam gelap matanya selalu menangkap mesin berbau

minyak yang mengubah rasa asin di tubuhnya

sejak itu, garam tak hanya ingin menjadi ikan. ia juga

ingin menjadi diriku yang selalu bernyanyi dengan

nada sumbang dalam amuk gelombang. ia selalu lebih

tahu, bahwa laut tetaplah guruku, yang mengajariku

menjadi karang, sebelum usiaku menyusut seperti

ombak menjabat pasir di pantai itu

madura 2020


selain laut

selain laut tak ada yang bisa melahirkan gelombang.

tapi cinta lebih mahir membuat gelombang di hati

kita. sajak-sajak bagai kapal yang berhenti berlabuh.

menambatkan berindu-rindu sauh dan sahdu.

kita kembali menjadi sepasang anak muda yang

mengenal cinta berbekal kasih yang menjalar jenaka,

di atas kapal. menebas-nebas dingin udara.

senyummu yang santun menebar ke segala semesta.

dahulu, selain laut tak ada yang bisa mengantar kita,

ke tempat kita bercita-cita menjadi purnama. kecipak

air dan riuh para penjaja begitu akrab bagi kita.

membunyikan lonceng kenangan, hingga kita

terbangun dan membuka mata.

kini, kita seberangi selat madura bukan lagi dengan

kapal dan angin. cukup duduk di atas kursi beroda

yang dipangku jembatan, melepas deru mesin.

segenap cahaya dan kerlip bintang, menanti

menemani mendekat dan pergi. dingin gemetar yang

dulu menimang, diganti pendingin suhu ruangan.

selain laut, adakah yang bisa mencium bau anyir

tanah ini?

madura 2020


tanjung papuma

langit begitu sempurna menyala di atas tanjung

papuma. laut biru memikat takjub jagat raya. bak

sajak, langit dan laut tak pernah tua. selalu berdarah

remaja membagi canda dan manja. aku berdiri di atas

tebing, dibimbing dua ratus anak tangga. mengaduk-

aduk napas yang beringas.

siapa yang paham jarak antara kaki langit dan sudut

biru itu? hutan-hutan, batu karang yang mengurung

laut itu, sebentar saja sudah menjadi gemuruh

sumbang gelombang.

matahari masih menggenang di barat langit. dan

ombak yang perkasa seakan menantang hari dan

melotot pada karang berduri. sementara aku masih

menyimpan ragu, terhadap cucu dan anak-anakku.

karena hutan-hutan itu perlahan melahirkan

kehilangan-kehilangan yang pasti.

jember 2020


Ali Ibnu Anwar, lahir di Jember. Menulis puisi, cerpen dan novel. Penggagas dan bergiat di Komunitas Ranggon Sastra, Jakarta. Kini berdomisili di Jember, sebagai petani, penulis dan editor lepas. Buku puisi terbarunya, Orde Batu (Buku Inti, 2020)

Cerpen

Percakapan Dua Ikan

Cerpen M.Z Billal

Dari rumahku, sekitar 35 kilometer, kita akan berhenti di perempatan. Makan siang di salah satu kedai yang menghadap langsung ke Tugu Patin yang elegan dan kokoh, berdiri pada bundarannya. Tugu itu adalah monumen kebanggaan kota Pematang Reba sebagai kota administratif di Indragiri Hulu. Dari kedai itu pula nantinya, kau bisa melihat dengan jelas sepasang ikan patin itu terlihat berenang riang saling bercengkerama satu sama lain di bawah naungan setangkai seroja merah muda. Membuatmu merasa seperti ikut berenang di dalam Sungai Indragiri yang cukup permai untuk disusuri. Namun belakangan, sayangnya sungai itu kian hari makin dangkal akibat penambangan pasir liar. Hal itu juga mengakibatkan pemukiman di sepanjang tepi sungai menjadi langganan banjir bila musim hujan tiba.

“Wah, kau memilih tempat dengan angle yang bagus untuk memandang tugu itu secara detail,” katamu saat kita baru saja duduk di dalam kedai seraya memesan masakan khas kotaku, yakni asam pedas ikan patin.

“Tentu saja. Sudah kukatakan padamu, aku tidak akan membuatmu kecewa bila mampir ke sini?” Aku tertawa kecil sambil memperhatikan sepasang matamu yang masih asyik memandangi tugu itu. “Apa kau mau berfoto di dekat tugu itu?” tanyaku kemudian.

“Ya ampun, aku senang sekali bila kau mau mengambil gambarku di sana! Itu akan jadi kenangan yang tidak terlupakan.” Kau kegirangan. “Tapi, pasti mengganggu kendaraan yang lewat.”

“Ah, tidak kok.” Aku cepat-cepat membuatmu merasa yakin. “Aku akan mengantarmu ke pinggir bundaran tugu itu, lalu aku mengambil gambarmu dari seberang jalan. Nanti kita atur pose yang bagus. Bagaimana?”

“Baiklah, aku akan menurut kata sang fotografer biar hasilnya bagus. Hehe.” Kau tersenyum ketika pelayan membawa hidangan makan siang yang kita pesan.

Sungguh, sampai detik ini aku masih tidak menyangka kalau kau benar-benar di hadapanku. Kau datang dari kota jauh untuk menemuiku. Padahal kita hanya berkenalan melalui sosial media Instagram. Bahkan bahan percakapan kita di sana pun tidak lebih dari seputar destinasi wisata, buku-buku yang kita sukai, atau sesekali kau menunjukkan artikel-artikel bagus yang kau tulis untuk media tempatmu bekerja, sementara aku memperlihatkan foto-foto hasil bidikanku di beberapa tempat yang pernah kukunjungi.

Aku berharap setidaknya kau akan menyukai salah satu hasil jepretanku yang masih amatiran. Aku bilang begitu karena aku yakin hasil foto buatanmu jauh lebih bagus, mengingat kau seorang jurnalis, sementara aku cuma tukang foto serabutan yang mencintai lanskap alam, bukan seorang fotografer. Pekerjaanku sebenarnya menjaga toko alat tulis dan fotokopi yang kurintis sendiri.

Entah apa yang membuat seorang sepertimu bisa serius menanggapi aku yang tidak terkenal. Bahkan benar-benar berkunjung ke kotaku ini.

Memang, kau punya alasan kuat untuk sampai kemari. Kau bilang ingin mencari inspirasi untuk artikel barumu. Sebab jiwa petualangmu merasa terpanggil meski kau  seorang perempuan. Tetapi, sekali lagi, aku betul-betul masih tidak menyangka itu akan sungguh terjadi. Aku sampai merasa sangat gugup mempersiapkan diri untuk menyambut kedatanganmu tatkala kau tiba-tiba mengirimi aku pesan di Instagram, bahwa kau akan datang ke tempatku. Aku jadi serba salah, takut kau kecewa karena aku tidak sekeren yang kaubayangkan ketika kita saling memuji di ruang chatting.

“Luar biasa! Ini masakan yang sangat lezat!” katamu sambil menyendokkan kuah asam pedas patin ke mulutmu.

“Apa kau betul-betul tidak pernah merasakan masakan ini?” tanyaku.

“Mungkin pernah. Aku tidak begitu ingat,” jawabmu seraya tersenyum. “Tapi yang kucoba sekarang ini benar-benar enak. Aku tidak merasa mual, padahal yang kutahu bau amisnya ikan patin cukup menyengat.”

“Wah, kau mahir juga menilai masakan.” Aku merasa senang bisa memujimu secara spontan. Kau langsung terlihat malu-malu. Kupikir jurnalis sudah kehilangan esensi malu-malu karena terlalu sibuk mengejar berita dan artikel yang dikejar tenggat waktu.Terlebih saat yang diburu berita-berita kriminal atau bencana alam.

“Aku tampak seperti juri Master Chef, ya?” Kau terkekeh. Membuat dadaku tiba-tiba dipenuhi perasaan yang tidak biasa. Ingin kukatakan tapi aku sendiri tidak tahu harus bilang apa. Jadi aku cuma bisa ikut terbawa dalam tawa kecilmu. Maka kutambahkan saja bahan candaan serupa agar suasana semakin santai. “Asal kau tidak salah membedakan gula dan garam tanpa mencobanya, kau sangat cocok jadi juri.”

Lalu kita saling diam. Menikmati menu masakan jelang siang di kedai sembari sesekali melempar pandangan ke arah orang-orang yang masuk dan keluar. Makin siang, warung makan semakin bertambah ramai. Suhu ruangan pun semakin hangat. Karena matahari bersinar cerah sekali hari ini.

“Eh, setelah ini kau mau ajak aku ke mana tadi? Aku lupa,” katamu membuka percakapan lagi.

“Danau Raja. Tempat pemandian para putri Raja Indragiri zaman dulu.”

“Wah, keren! Aku sempat melihat danau itu di internet kemarin. Nanti sekalian kauceritakan ya tentang kota itu. Biar aku tidak repot-repot membuka laman internet. Hehe.”

“Aku kurang tahu banyak,” jawabku sambil membalas senyumanmu yang manis berulang kali. “Tapi aku akan tetap cerita semua yang kuketahui. Aku yakin sekali, sepotong cerita yang kututurkan pasti bisa kautulis sebanyak lima lembar A4.”

Tiba-tiba tawamu meledak. Sampai membuat orang-orang di dekat kita menoleh dan merasa aneh. Aku sungguh tidak menyangka kau benar-benar tertawa karena kalimat yang kukatakan. Padahal aku percaya eksistensimu sebagai jurnalis, bukan untuk bercanda. Namun melihatmu tertawa lebar, aku jadi merasa sangat nyaman. Ya ampun, aku berhasil menaruh sesuatu yang menyenangkan di dalam hatimu. Aku jadi merasa kita mirip patung sepasang ikan patin yang berdiri artistik di pusat kota Pematang Reba ini. Kita saling bercengkerama apa saja yang membuat kita akrab dan saling mengisi satu sama lain. Hanya saja, kupikir kau bukanlah ikan patin betina di perairan Sungai Indragiri ini. Kau adalah seekor ikan dari perairan jauh yang singgah sejenak kemari. Mengunjungi aku, ikan asli penghuni kedalaman Sungai Indragiri.

“Baiklah, selepas salat Zuhur nanti, kita langsung ke Rengat ya. Tapi sebelumnya kau harus memotretku di dekat Tugu Patin itu. Aku betul-betul tidak sabar pamer foto bagus di Instagram-ku. Kalau bisa kita foto bersama.”

Mendengarmu mengajak aku foto bersama. Dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya. Saking senangnya aku ingin cepat-cepat keluar dari kedai dan memotretmu. Bahkan ketika ponselku berdering aku sampai tidak dengar. Padahal itu telepon penting dari seorang teman. Ah, perasaan suka kadang benar-benar membuat orang-orang kehilangan daya fokusnya.

Selesai makan kita langsung keluar. Aku memotretmu dan kita berfoto bersama. Mulai dari pose-pose yang bagus sampai kepada ekspresi yang lucu. Kita memastikan  apa yang kita lalui pada hari ini adalah cerita-cerita yang layak dikenang untuk waktu yang tidak terbatas. Sampai akhirnya kita tiba di tepian Danau Raja yang sejuk dan aku mulai bercerita tentang sejarah kota bertuah ini. Kau tampak betul-betul mendengar seluruh yang kututurkan, hingga tanpa sengaja aku mengucapkan kalimat yang seharusnya tidak boleh kuucapkan. Sepertinya aku telah mengacaukan suasana.

“Aku betul-betul senang sekali bisa bertemu denganmu, bahkan bisa menceritakan tentang kota ini. Aku berharap kau tidak pergi dan kita bisa berbincang lebih banyak lagi.”

Kau diam sejenak. Mengalihkan pandangan kepada gulungan ombak kecil di tengah danau. Menatap perahu mesin membawa beberapa pengunjung berkeliling dan menikmati sensasi mengambang di atas Danau Raja yang indah.

“Aku juga sangat senang bisa bertemu denganmu. Aku tidak salah memilih teman, meski lewat sosial media. Kau sangat ramah. Kota ini pun membuatku betah dan ingin tinggal lebih lama.” Kau mengatakan sesuatu yang membuat perasaanku tenang. “Tapi, sungguh maaf, aku tidak mungkin berada di sini. Kau akan selalu jadi salah satu teman terbaikku. Lain waktu aku akan kembali, atau saat kau mampir ke kotaku, aku akan mengajakmu berkeliling sampai puas.”

Aku mengangguk seraya tersenyum dan merasa lega. Tentu saja aku tidak bisa memaksamu, begitu pun dengan perasaanmu. Itu sikap yang konyol. Kupikir, dengan menyukaimu secara rahasia akan membuat hubungan ini akan baik-baik saja. Bukankah menjadi teman artinya kita bisa bebas menyatakan rasa suka?

“Hei, maukah kau naik perahu itu juga? Ayo!” Ajakmu seraya menarik tanganku.

***

Pagi-pagi sekali, di hari Minggu yang cerah, kau tiba-tiba mengirimi aku pesan melalui Whatsapp. Kau bilang: Kau harus baca ini! Kita keren!

Di bawah pesanmu tertera tautan sebuah laman online. Aku tahu betul itu laman berita resmi tempatmu bekerja. Tanpa pikir panjang segera kuklik tautan itu. Betapa tidak kusangka, foto-foto kebersamaan kita kau lampirkan sebagai foto pendukung artikel yang kautulis. Rasanya dadaku berdebar semakin cepat. Aku terharu, aku senang sekali, aku tidak tahu mau bilang apa. Aku semakin ingin pergi ke kotamu. Terlebih saat kaukutip sepenggal puisi yang kutulis di buku catatan kecilmu pada bagian akhir artikelmu. Hal itu semakin membuatku rindu ingin bertemu.

“Kita adalah sepasang ikan. Pembicaraan kita puitis. Nanti kita saling merindukan. Meski kita berenang di sungai yang berbeda.”**


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termaktub dalam kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Membaca Asap (2019), Antologi Cerpen Pasir Mencetak Jejak dan Biarlah Ombak Menghapusnya (2019). Karyanya tersebar di koran dan media daring. Fiasko (2018, AT Press) adalah novel pertamanya. Bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER), Komunitas Pembatas Buku Jakarta, dan Kelas Puisi Alit.