Cerpen

Perawan Rumah Suci

Cerpen Romi Afriadi

“Kalau kau nanti jadi biarawati, pasti kita akan jarang bertemu.”

Eben Mare masih mengunyah lepat yang dilahapnya dengan nikmat. Itu sudah bungkus keempat yang ia tandaskan. Eben Mare memang merasa terpukau dengan tampilan lepat yang dibungkus daun pisang dan menemukan isi yang manis dari parutan kelapa di dalamnya. Ia menikmati semenjak dulu pertama kali mencicipinya. Tapi itu tak mampu mengusir sendu di matanya.

“Bukannya kamu juga mau jadi polisi, wajar saja kita akan jarang bertemu.”

Estin, gadis di sebelahnya menjawab. Bedanya, gadis itu mengucapkannya dengan intonasi biasa. Tak ada penekanan berlebihan, layaknya Eben Mare barusan. Sebab, semenjak lama ia sudah menanti dengan sepenuh hati kesempatan menjadi biarawati di Rumah Suci. Mengabdi di gereja, menjadi pelayan Tuhan dengan meninggalkan semua kehidupan duniawi.

“Apakah kau akan balik lagi ke sini setelah jadi biarawati?”

Estin menggeleng, bukan karena ia menjawab tidak, tapi tepatnya entahlah.

Ingatan Eben Mare malah berpulang pada tahun-tahun nan lampau. Saat mereka sama-sama baru tiba di kota ini, dan tempat ini baru hitungan sebelah jari mereka datangi. Estin pernah bilang, bahwa kota ini tak memberinya kesan yang baik. Hanya ada tanah gersang yang penuh minyak, air jernih yang susah didapat, hawa panas yang menyengat, laut yang tak menyimpan banyak ikan. Kalau pun ada yang ada pantas ia banggakan, adalah pelabuhan internasionalnya yang dihinggapi banyak kapal, yang senantiasa pula memuntahkan dan menelan ratusan orang dari segala penjuru. Agaknya waktu tak jua mampu mengubah penilaian Estin.

“Kalau aku sepertinya akan tetap kembali ke sini, setidaknya sekali setahun saat perayaan Natal,” ujar Eben Mare tanpa didahului pertanyaan apa pun, suaranya masih sendu.

Estin paham, orang tua Eben Mare sejak tahun lalu memang memilih menjadi warga tetap kota ini. Saat jabatan ayahnya semakin penting di kantor syahbandar, mereka sepakat untuk meletakkan kota ini sebagai bagian dari masa depan. Berbeda dengan Estin yang tinggal di kota ini dengan pamannya. Sejak kedua orangtuanya meninggal secara tragis lewat insiden berdarah di negeri ini nyaris dua dekade lalu. Rumah dan toko mereka dibakar oleh orang-orang dengan wajah mendendam. Belakangan, Estin tahu, wanita yang sebangsa dengannya juga diperkosa ketika itu. Momen itu membuat kehidupan Estin berpindah-pindah dengan keluarga pamannya.

“Apa kau tak ingin mengunjungi tempat ini lagi?”

Estin tahu kesedihan Eben Mare. Sejenak ia menatap wajah Eben Mare yang masih mengunyah lepat, tapi kali ini dengan kunyahan yang payah.

“Kamu udah mau jadi polisi kok masih cengeng.”

“Aku tahu kamu tidak punya banyak alasan untuk kembali ke kota ini,” balas Eben Mare mengabaikan pendapat Estin.

“Tenang saja. Jika memungkinkan, aku akan tetap kembali ke sini. Menjenguk paman dan bibi, mengunjungi sepetak tanah kosong ini, lalu sekalian menemuimu.”

Kali ini Eben Mare menatap dengan mata berbinar, lebih-lebih saat didapatinya Estin tersenyum. Senyum yang pertama kali ia lihat di minggu-minggu pertama ia datang ke kota ini. Ketika itu, Eben Mare nyaris tak punya teman, ia kerap dikucilkan, dianggap tak layak bergabung dengan teman sebayanya karena statusnya yang bukan anak asli sini. Sementara Estin menjadi manusia linglung karena tak ada satu pun dunia yang sanggup menghiburnya. Bagaimana pun, Estin masih sukar menerima kenyataan, ia telah jauh meninggalkan teman-teman sepermainannya di Tapanuli.

“Sore saat dulu pertama kali kau menemukan aku di sini, kau persis tersenyum seperti sekarang.”

Estin jadi tertawa kecil mendengarnya, ia membenarkan letak anak rambutnya yang dikibas angin. Estin mengingat sore itu, hari paling berkesan baginya sejak menjejak kaki di kota ini karena menemukan kawan seperjuangan. Pada sebuah tanah kosong yang ditumbuhi ilalang, persis di sebelahnya ada lapangan sepakbola.

“Kenapa kamu tak ikut main,” tegur Estin. Dulu.

Eben Mare menoleh sebentar, tapi tak langsung menyahut.

“Biasanya anak lelaki yang tak ikut main bola itu anak yang cengeng,” lanjut Estin.

“Katanya aku ini anak baru, belum bisa ikutan main,” jawab Eben Mare dengan mata nyalang. “Awas saja! Aku akan buat perhitungan dengan mereka semua.”

Itulah saat Eben Mare melihat Estin remaja tersenyum. Senyum yang mengubah dunia Eben Mare sesudahnya.

***

Malam itu Eben Mare memutuskan untuk tidak pergi ke gereja mengikuti misa malam Natal, ia justru memilih berkunjung ke sepetak tanah kosong itu. Ilalang-ilalang sedang meninggi, rumput di lapangan bola juga ikut memanjang. Dari situ, Eben Mare bisa mendengar nyanyian-nyanyian kudus bersenandung memuji Tuhan di gereja. Berpadu pula dengan suara azan yang baru saja usai memanggil-manggil jamaah melaksanakan Isya.

Ini tahun kelima semenjak mereka sama-sama meninggalkan kota ini. Estin pergi dan mengabdi pada salah satu Paroki Keuskupan di Bandung. Sementara Eben Mare merintis karier menjadi polisi.

Rencana Eben Mare untuk sekadar merayakan Natal bersama Estin tak kunjung terealisasi sejak itu. Setiap tahun, ada saja hambatan yang memaksa mereka harus berjauhan. Eben Mare sebisa mungkin memang meminta cuti libur pada perayaan Natal, dan memilih balik ke kota ini. Cuma sekali ia tak pulang, karena pada tahun itu ia jadi saksi dalam persidangan seorang pejabat yang tertangkap oleh KPK. Sialnya, pada tahun itulah Estin memilih kembali, berselang beberapa hari setelah pamannya meninggal.

“Barangkali kau telah lupa tempat itu.”

Eben Mare pernah mengirim pesan pendek pada Estin di handphone-nya. Sebulan kemudian, barulah jawaban muncul.

“Aku bukannya tidak mengingat, tapi kesibukan di gereja benar-benar memangkas hubunganku dengan dunia lain.”

Kadang Eben Mare sering bingung, untuk apa ia masih menanti kedatangan Estin yang nyaris mustahil. Ia paham, menjadi biarawati berarti mencabut semua urusan lain selain yang berkenaan dengan Tuhan. Itulah mengapa Eben Mare kadang benci dengan pilihan Estin. Pada kenyataannya, kondisi itu mengharuskan impian-impian yang dulu dicanangkannya serasa hambar. Eben Mare kadang berpikir, Tuhan merampas Estin darinya.

“Kau tahu, menjadi biarawati merupakan keinginanku sejak lama,” akui Estin dalam salah satu pesannya.

Eben Mare masih tak mengerti dan tak ingin memahami keputusan itu. Baginya, menjadi biarawati berarti mengisi hari-hari dengan kehampaan sekaligus kesunyian. Betapa hidup akan sangat monoton. Sejak kecil, ia memang merasa bukanlah manusia yang taat. Jarang berkunjung ke rumah Tuhan, meski orangtuanya selalu mewanti-wanti tiap Minggu pagi.

Jika sampai Estin memutuskan mengucapkan janji kaul untuk menjadi suster abadi, otomatis ia tak akan menikah seumur hidup. Entah mengapa, Eben Mare merasa hidupnya serasa sial kalau sampai itu terjadi.

“Proses menjadi biarawati abadi itu sungguh panjang.” Tetiba Eben Mare jadi ingat salah satu perkataan Estin. “Pertama harus masuk masa Aspiran dan Postulan, semacam masa persiapan, lamanya masing-masing setahun. Setelahnya baru masuk masa Noviciat, katanya pada saat itu para suster akan dibekali bagaimana hidup dengan doa dan bermeditasi.” Panjang lebar Estin menerangkan. Tak satu pun dipahami Eben Mare. “Nah! Setelah itu barulah para biarawati mengucapkan kaul perdana dan dianggap sebagai anggota resmi biara.”

Eben Mare tidak akan terkejut jika Estin akan mengejar keinginannya menjadi suster abadi. Apalagi sekian hari, Eben Mare merasa Estin kian berjarak dengannya. SMS-nya lebih sering diabaikan. Termasuk pesannya terakhir sebelum pulang kemarin. Niatnya untuk mengajak pulang Estin bersama tak pernah mendapat jawab, meski Eben Mare terus menunggu hingga ruang tunggu bandara.

***

Sehari setelah perayaan Natal usai, Eben Mare memutuskan untuk kembali ke kantor, lebih cepat dari jatah cuti yang didapatnya. Tapi saat melangkah keluar rumah, Eben Mare dihadang saudara sepupu Estin sambil mengulurkan amplop.

“Kak Estin mengirim surat untuk Bang Eben.”

Eben Mare menerima surat itu, membacanya lekas.

Semoga kebaikan selalu menaungi kita.

Aku tidak tahu berapa lama lagi sanggup berada di biara ini. Sepertinya memang bukan di sini tempat terbaik untukku melanjutkan hidup. Maaf Eben, aku tidak pernah jujur padamu. Aku tahu semenjak dulu kau tak pernah suka dengan ide aku menjadi biarawati. Ternyata kau benar, meskipun barangkali, apa yang aku alami di biara sama sekali tak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya. Biara tak ubahnya tempat bersemayamnya seorang pastor bermuka dua. Di saat tertentu ia menjadi imam para jemaat, tapi di lain kesempatan ia menjelma serigala yang merenggut kehormatan para suster.

Ya, aku sekarang bukan lagi orang yang suci, Eben. Bertahun-tahun aku disuruh bungkam, sembari terus melayani nafsu bejat seorang pastor. Gerak-gerikku selalu dimatai, bahkan aku dilarang berkomunikasi dengan siapa pun di dunia luar.

Jika surat ini sampai kepadamu, itu tandanya petugas keamanan di gereja ini berhasil menyelundupkan dan mengirimnya dengan baik. Barangkali ia merasa iba denganku, dan aku bersyukur setidaknya masih ada orang baik di sini..  

Aku merasa berada di neraka saat ini.

Ada yang basah di mata Eben Mare. Ia meremas surat itu sebelum melemparkan ke bandar depan rumah. Terngiang lagi percakapannya pada Estin.

“Kalau menjadi biarawati, berarti selamanya kau akan jadi perawan?”

Estin hanya menanggapi dengan senyuman kala itu. Tapi sekarang air mata Eben Mare justru makin deras menetes, tersebab kesedihan sekaligus kemarahan. Sebab sekarang Estin bukan lagi perawan, dan itu justru tanggal di rumah suci. ***


Romi Afriadi, dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau, pada tanggal 26 November. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Beberapa cerpen dan tulisannya pernah tayang di media online dan cetak. Saat ini, penulis tinggal di kampung kelahirannya sambil mengajar di MTs Rahmatul Hidayah, dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengajari anak-anak bermain sepakbola di SSB Putra Tanjung.

Cerpen

Yin dan Yang

Cerpen Romi Afriadi

“Dari sekian banyak pelacur yang aku tiduri, kamu jelas spesial bagiku.”

“Jangan bilang kau jatuh cinta padaku, seorang pelacur tak berhak untuk menaruh hati pada lelaki, apalagi pelanggannya.”

“Bukan, tapi aku menemukan ketenangan kala memandang matamu.”

“Omong kosong macam apa itu. Lekas lucuti pakaianmu, lalu tunaikan hasratmu. Aku tak punya banyak waktu untuk mendengarkan gombalanmu.”

Percakapan itu terjadi pada saat pertemuan ketiga kita. Malam itu kau tak hendak menjamahku, bahkan saat aku sudah membuka kancing baju.

“Kali ini aku hanya ingin menemuimu untuk bercerita bukan bercinta,” ujarmu.

“Kau kira aku ini psikiater?” Aku berseru galak, kesal bukan main pada sikapmu.

Namun pada akhirnya memang tak terjadi apa-apa di antara kita malam itu. Kau berubah dari seorang lelaki penjelajah vagina sebagaimana di malam pertama kita berkenalan menjadi lelaki sendu. Hilang semua seringai nakal dan wajah memerah penuh kenikmatan saat pertemuan kedua kau begitu bergairah di ranjang.

“Bodo amat dengan ceritamu, aku bekerja di sini bukan untuk mendengar itu.” Aku masih protes.

“Aku akan membayarmu sesuai tarifmu kencan dengan lelaki lain, bukankah yang terpenting bagimu adalah uang.”

Malam itu, kau menjadi seorang pencerita. Sedangkan aku meski mendengarkan, meski awalnya tidak suka.

***

Hujan masih deras turun dari langit, dari balik bilik wisma remang yang bersiap menanti tamu asing dari tempat-tempat jauh, aku bisa menatap di luar, sepanjang gang basah di mana-mana. Di seberang jalan, sebuah warung milik lelaki tua sedang melayani dua pemuda yang sepertinya membeli rokok. Di sampingnya ada warung menjajakan makanan. Tak banyak perubahan di sana, kecuali tidak adanya belasan pelacur yang hilir mudik menghiasi jalanan, menggoda dan mengajak lelaki mana pun untuk singgah.

“Mia, lebih baik kita turun ke bawah mencari mangsa.”

Sherly mengerling kepadaku. Aku melirik jam, tertera angka 22:37, masih terlampau dini untuk ukuran dunia hiburan. Tapi aku tetap membuntuti Sherly yang melenggang mendahuluiku.

Di bawah, alunan musik sudah mulai mengentak, belum ramai betul. Aku memilih duduk di sofa, mencoba menggoda seorang pria berkemeja panjang yang lewat. Dengan harap cemas, aku menunggu pelanggan di situ. Berapakah pria hidung belang yang akan aku ladeni malam ini? Aku hanya berharap Tuhan berbaik hati dengan mengirimkan banyak lelaki berduit yang tidak pelit. Dan semoga Tuhan tak bosan mendengar permintaan seorang hina sepertiku. Terlepas apakah semua doaku akan ditolak, aku tetap tak punya jalan selain mengirimkan doa kepada-Nya. Sebab, dalam kamus kehidupanku tak ada yang pasti, mungkin akan ada puluhan laki-laki, atau hanya hitungan sebelah jari yang menghampiri.

Barangkali yang datang seorang pemuda tampan, seorang eksekutif muda yang sedang mencari kesenangan tersebab istrinya yang sibuk. Pejabat yang sedang terlibat jual beli jabatan, pria paruh baya yang penisnya akan layu dalam dua kali genjotan. Tapi peduli setan, bagiku yang terpenting cuma uang. Toh, semua lelaki yang tiba sama-sama mencari selangkangan.

“Brengsek!” desahku kesal. Sambil kembali mengisap rokok, aku mengedarkan pandang ke berbagai penjuru.

Jam sebelas malam telah lewat seperempat menit, tapi belum ada satu pun pelanggan yang berhasil aku gaet. Apakah malam ini aku sial? Padahal biasanya aku sudah menuntaskan hasrat tiga pria, paling buruk, setidaknya dapat satu pelanggan.

Kondisi ini tentu tidak aku ingini, targetku untuk mengumpulkan uang banyak akan tersendat. Padahal aku sudah merencanakan membawa banyak oleh-oleh saat kepulangan pada bulan Ramadan kelak. Sebab, ketika bulan agung itu sudah datang, tempat ini sudah pasti ditutup pemerintah. Aku tak punya pilihan selain pulang kampung.

“Boleh saya temenin, Mbak.”

Dalam suasana itulah kau muncul memberi pengharapan. Aku menatapmu yang sedang cengengesan. Diawali tatapan kaget, karena wajahmu masih sangat anak-anak bagiku. Tapi di kamar, kau menunjukkan keahlian yang seharusnya belum dimiliki lelaki seusiamu. Kau buas, memangsa setiap jengkal tubuhku dengan dengus napas yang memburu.

Dua hari berikutnya, kau kembali datang. Bahkan mem-bookingku lebih lama. Malam itu aku senang sekali, sebab tak harus mengangkang untuk banyak lelaki namun mendapatkan uang yang cukup. Lewat kamu, pertama kali aku merasakan sensasi kenikmatan yang berbeda. Apakah aku menyukaimu? Aku buru-buru menghapus itu dari daftar kemungkinan. Kau anak orang terhormat, aku seorang yang nista. Mungkin karena itulah kau memanggilku dengan sebutan Yin, lalu kau menyebut dirimu Yang. Aku melambangkan kegelapan, sedangkan kau kecerahan. Meski bagimu, Yin dan Yang memiliki arti yang berbeda.

***

“Mulai saat ini aku akan memanggilmu Yin, sebaliknya sebut saja aku Yang.”

“Aku tak paham maksudmu.”

“Yin dan Yang itu pertanda keserasian hubungan seksual antara lelaki dan perempuan, keduanya saling melengkapi. Setiap ada Yin pasti ada Yang, begitu pun sebaliknya,” katamu.

Belakangan aku tahu dari sebuah artikel, bahwa itu mitos Cina tentang seksualitas yang muncul pada abad IV sebelum Masehi.

Sejak kunjungan ketiga itu, pertemuan kita selalu diawali dengan bercerita sebelum bercinta. Tentang ayahmu yang merupakan pejabat tinggi negeri ini, tapi tak pernah kau sukai. Bahkan beberapa kali kau berterus terang ingin membunuhnya.

“Dia hanya memberiku banyak uang, bukan kasih sayang.”

Maka, setiap pertemuan aku terus menyiapkan diri terlebih dahulu mendengar curahanmu yang membuatku sakit kepala, sebelum kau mengakhiri dengan kembali merampok selangkanganku.

Aku melihat banyak keanehan dalam dirimu. Setiap berhubungan, kau selalu ingin berada di posisi atas, dan aku selalu di bawah. “Yang harus berada di atas, karena dia laki-laki,” ucapmu. Mana peduli seorang pelacur dengan aturan semacam itu. Di hari lain, kau juga menjuluki alat kelaminku dengan nama Teratai Emas. Aku kembali mencari tahu, itu ternyata juga sebutan dalam teks Cina klasik.

Seiring keanehan itu, kelihaianmu di atas ranjang kian menjadi. Kau menunjukkan kepadaku berbagai posisi bercinta yang tak pernah aku bayangkan kendati aku bersanggama dengan puluhan lelaki hampir tiap malam. Dan kau selalu memberi nama yang tak lazim terkait gaya bercinta kita.

Tapi setelah percumbuan kita yang membara entah pada pertemuan ke berapa. Kau tak lagi berkunjung, jejakmu menghilang, walau aku menunggumu sampai malam terakhir sebelum tempat ini tutup di bulan Ramadan. Lalu aku sadar mulai merindukanmu.

***

Sepanjang Ramadan aku terus memikirkanmu. Aku menjalani kehidupan normal layaknya manusia biasa di bulan suci itu. Siang hari aku puasa, malamnya aku tarawih lalu menyambung dengan tadarus. Tidak ada orang di kampung ini yang mengetahui pekerjaanku, makanya aku bersikap seperti pada umumnya. Berharap Ramadan bisa sedikit membasuh kesalahanku yang menggunung. Sebelum pada waktu-waktu mendatang, aku kembali bergelimang dosa.

Namun aku menyadari, ingatan tentangmu selalu mengusik batok kepalaku, meski aku selalu berusaha mengusir tanpa jeda. Berbagai prasangka juga berkembang biak dalam pikiranku.

“Aku tak akan senang, jika ayahku tidak celaka di tanganku.” Terngiang lagi ceritamu.

“Jangan begitu, bagaimana pun ia tetap ayahmu.”

“Kau tidak tahu betapa bejatnya ayahku. Dia punya istri simpanan di mana-mana, dia jelas melukai ibu. Kadang, jika pulang, dia membawa perempuan-perempuan muda itu dan memasukkannya ke kamar.”

“Bukan ayahmu saja pejabat yang seperti itu, mereka punya uang banyak, punya kekuasaan, segalanya,” jawabku.

Apakah kau sekarang berhasil membunuh ayahmu? Lalu polisi meringkusmu dan mendekapmu dalam penjara? Aku sekarang malah berharap Hari Raya Idul Fitri cepat tiba, dan aku akan menunggumu lagi di tempat biasa kita bertemu.

Tujuh hari pasca lebaran, masa itu datang juga. Pagi sekali aku sudah berkemas, memasukkan pakaian dengan tergesa. Aku senang sekaligus gamang. Gerimis malah turun satu-satu saat aku mulai melangkah menuju jalan kampung sembari menunggu sepupu yang akan mengantarkanku ke terminal kecamatan. Tapi langkahku terhenti saat sebuah mobil sedan menerobos jalanan dan berhenti persis di depan rumah. Aku terkejut, lebih-lebih orang yang datang itu adalah kamu.

“Aku sekarang bukan lagi anak ayahku. Aku sudah memutuskan hubungan apa pun dengannya. Mulai sekarang, apa kau ingin hidup denganku, Yin? Tinggalkan pekerjaan itu, kita bisa mulai semuanya dari bawah.”

Bibirku terkatup, tak tahu harus bercakap apa.

“Mia…, Apakah ada tamu?” Dari dalam rumah, suara ibu menggema.***


Romi Afriadi, dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau, pada tanggal 26 November 1991. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Beberapa cerpen dan tulisannya pernah dimuat di media online dan cetak. Beberapa lainnya juga terpilih dalam Antologi, di antaranya: Antologi cerpen #di rumah aja Apajake, Antologi cerpen Rumah Kayu Pustaka, Antologi cerpen genreSosio-Religi Unsa Press, dan Antologi cerpen Mbludus.com. Saat ini, penulis tinggal di kampung kelahirannya sambil mengajar di MTs Rahmatul Hidayah, dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengajari anak-anak bermain sepakbola di SSB Putra Tanjung. Bisa dihubungi lewat email: [email protected], akun Facebook Romie Afriadhy.