Katalog

Puisi

Puisi Norrahman Alif

Aku Tak Ingin Kelak Istriku Diberi Makan Puisi

Tampaknya aku harus bangkit dari kemurungan kata

sebab hidup tak bisa hanya berdiri di atas pundak puisi

aku harus berjalan–mencari hidup yang lebih hakiki

dari hakikat bahasa.

Karena aku adalah lelaki yang kelak tak akan sendiri

dan kodrat hidup memang tidak untuk bersepi-sepi

esok pasti akan berpasang-pasang hati.

Maka kuselingkuhi puisi sebagai istri simpanan hati

sementara kini aku tiba saatnya mencari

puisi yang lebih nyata dari buah imajinasi.

Biarkan penyair mencaci –aku bukan pemuisi sejati:

hidup-mati mengeloni puisi–ke barat ke timur hanya

berduka-luka memakani hidup dengan sepiring kata hati.

Tidak, aku tidak ingin kelak istriku diberi makan puisi

di saat hidup tiap hari menghadirkan kekurang-kekurang

yang tak dapat dicukupkan hanya dengan selembar puisi.

Karena puisi bukan uang yang merenggut segala

kamewahan dunia. Karena puisi bukan ladang

perkerjaan yang menghasilkan emas dan permata

karena puisi bukan kebun uang yang menghasilkan

kekayaan.

Namun puisi hanyalah gedung-gedung kenangan:

museum bagi tubuh-tubuh kesedihan bercerita

kelak tentang penyair yang belajar mengekalkan

hidupnya dalam kata.

2019


Berkali-kali Aku Dipermalukan

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Aku ingin tahu kini

seperti apakah wujud perasaan?

Apakah ia seperti durian: kulitnya

bertaburan jarum kejahatan–namun

hatinya banyak mulut merindukan.

Namun kukira perasaan bukan buah

untuk dimakan, mungkin ia semacam

makhluk halus: gentayangan datang

dan pergi meletakkan rasa cemas dan

takut dalam hati.

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Jujurlah Tuhan

apakah engkau perasaan itu?

Sehingga berjuta-juta manusia

memberhalakan perasaan dalam

kuil-kuil hatinya. Sementara aku

menjadi korban kejahatannya.

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Saat ini  aku ingin

tahu seperti apakah sifat perasaan?

Ataukah seperti ludah lidah para

politisi: bermanis-manis perasaan

di depan kerumunan orang, demi

melancarkan mandat mimpi-mimpinya

menguasai dunia.

Tidak, perasaan tak sejahat itu, mungkin

ia sebaik rindang pohon kasih-sayang ibu

menaungiku dari hujan godaan kehidupan.

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Berapakah harga

perasaan penyair di tangan seorang

perempuan?

2019


Aku Ingin Tidur dari Bayang-Bayang Kenyataan

Aku ingin tidur dari bayang-bayang kenyataan

bila selalu kesepian merawat usia–kesedihan

memakan hari-hari tak tersisa.

Namun apakah hidup ini?

apakah dengan mengumpulkan harta

hidup mewah berbaju emas dan permata

sudahkah dikatakan hidup.

Bukankah kitab penciptaan sudah bersabda:

hidup datang dari kekosongan dan pulang pula

pada celah kekosongan.

Kecuali, hanya hati akan

berisi keranjang buah pahala, jikapun aku punya

pohon kebaikan di sini.

Sungguh aku ingin tahu rahasia kenyataan?

atau mungkin aku sekadar bayang-bayang

yang ingin hidup menjadi makna kenyataan.

Namun apakah kenyataan itu sendiri?

jika makna kenyataan adalah kehidupan

barangkali kenyataan itu: makan enak,

hidup mewah dan mati istimewa.

Lalu untuk apa kenyataan diciptakan?

jika tidak digunakan sebaik-baiknya

untuk memperbaiki tingkah-laku duka

kehidupan.

2019


Lima Adegan Mawar layuku

/1/

Mawar yang kutanam dalam hatiku

ternyata telah kehilangan harumnya

dan keagungan tubuhnya telah memudar

tercuri oleh kenakalan masa lalunya sendiri

sungguh kini aku seperti menanam biji busuk

di ladang asmara.

Ke mana lagi harus kucari bunga mawar yang lain

dengan keharumnya yang masih perawan. Namun

bunga yang kumiliki ini telah bersumpah mati

siap menjadi pewangi rumah-rumah hariku–

kamar-kamar  hatiku.

Namun setelah kubaca-baca lagi buku kesadaranku

sangatlah bimbang menjadi lelaki sepertiku

hanya menjadi pemakan roti dari sisa-sisa kunyahan orang lain

namun jika perasaan sudah berkata dan cinta

makin sakit jiwa, tahimu pun akan menjadi

mawar di tanganku atau tubuhmu kekal perawan

dalam puisi-puisiku.

Bahkan ludahmu akan menjadi gula di pangkal lidahku,

sebelum  kutelan dan menjadi racun resah yang menyebarkan

virus-virus penyesalan sejauh usia berjalan ke batas paling nyeri.

/2/

Siang ini di tengah ladang-ladang waktu yang gerah

kau taburkan manis biji-biji janji: berharap tumbuh pohon kenyataan

esok hari. Aku pun hanya mengangguk dan kurang mengerti

sebab setelah kuperiksa jantung masa lalu dan kata-katamu

terlalu banyak ular yang melingkar dan mematuk janji-janjimu sendiri

menjadi sekadar ilusi.

Namun aku tak perlu tahu seberapa tinggi tiang hatimu

menjunjung pengharapanku menembus kabut kenyataan

dan mengibarkan bendera kasihmu padaku di mana-mana.

Karena kamu hanyalah bunga mawar yang kehilangan

kesegarannya di tiap-tiap pagi seorang lelaki.

/3/

Malam ini kau berlagak gila dan membuatku sakit jiwa

kita bercakap-cakap tentang rahasia keagungan yang

dimilik tubuh manusia. Sambil kau bertanya-tanya  mengenai

kebutuhan mendasar dari seonggok daging yang mulai

menegang dalam sarung kesepianku–sampai-sampai kita

melupakan kecantikan malam dan mengabaikan buah-buah

detik yang jatuh dari dahan menit di pohon waktu yang

hampir tumbang ke sisi jalan Subuh ini.

Pada akhirnya bunga mawar yang kehilangan keindahannya

sebelum menciptakan malam pertama di masa depan cinta bersama

berkata: “sayang, aku sudah tak tahan ingin meninabobokkan

anak-anak libidoku yang mulai sekarat menerjang meradang ini

sebelum aku gila dan jatuh pada kenikmatan yang salah kaprah.”

/4/

Pagi ini kau buka mata pagiku dengan api pertengkaran

yang tak kungjum padam ini. Kau nyalakan lagi api-api

masa lalu dalam kata, janji-janji yang berdebu dan kenangan-kenangan

yang kan menjauh. Seiring kita saling membunuh diri sendiri

demi sebuah kebenaran dan kerendahhatian perasaan.

/5/

Mungkin inilah puisi penghabisanku untuk mengekalkakan

separuh hikayat masa lalu dan masa depanmu.

2019


Malam-Malam Jahanam

Kutepikan diriku pada kata

Menyemai kembali luka sunyi

Di ladang-ladang cerita

Sebagai pesta pora hatiku

Yang dikucar-kacirkan

Perasaan nestapa.

Selalu di tepian malam gelisah

Kuseberangi waktu-waktu lara

Sampai kutemukan diksi sepi

Menari-nari dalam puisi.

Sudah lebih puluhan kali kukayuh

Jiwaku dengan wajah murung

Di tengah-tengah kampung

Yang sering di kutuk rasa sepi ini.

“Ke manakah orang-orang?”

Kesepianku berucap sesering

Mungkin ketika malam melampaui

Batas keramaian. Sungguh sunyi

Adalah bayi yang terluka, perih

Merintih dipangkuan ibu waktu.

Apakah karena orang-orang pagi

Menamakanku sebagai mata malam

Sehingga aku asing dan tenggelam

Di kebutaan mata orang-orang siang.

Maka dengan tekat sebulat biji mata

Kucari-cari kesenanganku dalam kata

Karena hanya dengan kata utangku

pada resah, sepi dan kegelapan terlunaskan.

2019


Kurayakan Kepergianmu dalam Puisi

Dan kau cukup tahu; bahwa usiaku terpotong-potong kehampaan

Menjadi bagian-bagian kenangan busuk dalam sakit mengenangmu

Sementara jiwaku makin runyam menerjemah tangis hatiku

Karena tak jelas mengapa padamu air mataku terus melaju.

Di kampung aku sudah kehilangan keteduhan angin dan pohon-pohon

Padahal kampung adalah sawah untuk menanam pikiran yang ruwet

Atau hatiku yang sulit menahan sakit kepergianmu

Walau sudah tak jelas bening wajahmu dalam cermin ingatanku.

Namun kau tak perlu tahu kondisi perih tahun-tahunku yang malang

Dan menjalang selama ini. Karena kau bukan lagi bagian dari tulang rusukku

Kau cuma sekadar objek dari air mataku yang terus melaju

Dari hati ke puisi dari puisi ke abadi.

2019


Berseberangan Keinginan

Jangan tanyakan padaku, lebih luas mana rinduku

Padamu atau harapmu padaku kembali ke kota kata

Sesungguhnya kerinduan kita sama-sama luas, kawan

Namun masih ada batas-batas keinginan yang mesti

Kita seberangi dalam jarak berjauhan ini.

Mungkin kau mencintai kebisingan kota

Yang dicipta oleh bibir-bibir manis para penyair

Namun aku lebih mencintai kesunyian kampung

Untuk meruang-raungkan kesedihan dalam puisi.

Perbedaan itulah yang membuat kita saling berseberangan ruang

Namun jangan cemas dan ragu, kerinduan kita harus takzim

Pada serajut keinginan lain yang tumbuh dari rasa nyaman.

Karena perpisahan itu fana –yang abadi hanya perjamuan jiwa.

2019


Ceracaun Ketidakwarasan 1

Saat ini aku duduk tapi melayang

ingin berdiri tubuh bergelombang.

Aku mungkin kemalingan kesadaran

aku kehilangan rasa hatiku

aku kehilangan anak akalku.

Siapa aku kekasih

aku anak siapa.

Bila masih aku hidup

tapi mengapa aku merasa mati

wajah semesta mengabur dalam tatapanku

mata-mataku kelabu menatap mata-matamu

mungkin aku kini adalah bayangan kegelisahan

yang tengah berjalan mencarimu

dalam hutan-hutan kerinduan

dalam semak-semak kehilangan

dalam goa-goa kegilaan.

Aku mungkin terlalu banyak menegak air mata

sehingga aku mabuk melangkah: dari sepi

ke nyeri lalu berhenti pada batas paling puisi.

Bahkan dalam resah jagaku saat ini:

aku berjalan namun jiwaku berdiam

aku bergerak namun ruhku mematung

aku tertawa sendiri namun ada yang

menangis dalam mataku.

Siapakah yang menangis dalam hatiku

siapakah yang merasa hina dalam jiwaku

tidak lain adalah engkau kekasih,

engkau kasihku. 

2019


Ceracauan Ketidakwarasan 2

Kekasih, kini aku akan berjalan sendiri

berjalan mencari kesenyapan inti sari hidup ini

setalah itu aku ingin berbicara pada maut

perihal hidup dan mati kapan menjemput.

Jika rindu padaku kekasih, carilah aku

di sepanjang jalan Malioboro. Lalu carilah

wajahku di antara wajah seniman, penyair

gembel, pengemis dan orang gila. Di

tengah-tengah penderitaan merekalah

aku bahagia mengawani kesedihanku.

Maka temuilah aku orang-orang yang mungkin

masih merindukan tawaku, kemurunganku dan kematianku.

mungkin ingin kirim salam rindu pada tuhan,

atau pada kerabat kalian yang lebih dulu menjadi nama

kenangan di batu nisannya. 

2019


Ceracau Ketidakwarasan 3

Sungguh aku lupa waktu

lupa diriku

siapa aku

sekarang dimanakah aku.

Masihkah aku hidup

atau perlukah masih

hidup butuh padaku.

Sepuluh jam hatiku

kesetanan rasa sedih kekasih.

Namun kau hanya sesegukan

dalam mimpi-mimpi tiap malam

di saat lari dari hujan ceracaun

ketidakwarasanku.

Sungguh kau tahu, kekasih

berjam-jam aku menjadi telepon genggam

demi suara serakku dapat menghubungi

hidupmu –namun kau malah tolak mentah-mentah

sebelum suaraku sampai dan menumpahkan seribu

air kemaafan di telingamu.

Sungguh betapa cemasku

sia-sia –cintaku

mati rasa –rinduku

sakit jiwa.

Barangki kini aku telah kehampaan mengingat

asal-usul hidupku:

dari bahan apakah hidup tercipta?

Bila dari api

mengapa aku tak mampu membakar

daun-daun kecemburuanku padamu.

Bila dari air

mengapa aku tak mampu menyucikan

kain hatimu dari debu-debu curiga padaku.

Bila dari udara

mengapa aku tak mampu melumat asap-asap

pikiranku tentang dustamu yang manis lalu.

Bila dari tanah

mengapa hatiku tak subur menumbuhkan

pohon-pohon kesabaran–rumput-rumput

keikhlasan mencintaimu tanpa musim pertekaian.

Bila rumah-rumah pikiranku

terus-terusan kedatangan tamu-tamu rindu

dari seribu kota kenangan tentang cintamu yang sekeras batu.

2019


Norrahman Alif, lahir di Jurang Ara, Sumenep. Menulis puisi dan cerpen di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ). Beberapa karya saya bisa dinikmati di: Media Indonesia, Tempo, Republika, Kedaulatan Rakyat,  Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, Minggu Pagi, Radar Surabaya, Merapi, Magelang Ekspres, Bangka Pos, Radar Cirbon, Koran Madura, Majalah Simalaba, Analisa, Rakyat Sultra, Banjarmasin Post, Padang Ekspres, Lampung Post, Fajar Makkasar dll.

Cerpen

Nenek dan Perihal Perih Tentang Ulat-ulat di Sepotong Telur Dadar

Cerpen Fina Lanahdiana

Nenek merawat kenangan serupa memelihara ulat-ulat yang disimpan dalam sebuah stoples tertutup dengan tak seorang pun menginginkan untuk membukanya. Demi apa pun, aku hendak berkisah tentang kesetiaannya pada benang-benang kenangan yang serupa sarang laba-laba yang lahir dengan panjang dan kekuatan yang tidak bisa diperkirakan. Kelak tidak ada yang hendak meneliti benang-benang halus itu dengan alasan tidak penting.

Masa tua barangkali kutukan yang abadi memelihara rasa sakit. Nenek sering bersedih dan menyesali atas kesepiannya sendiri. Kadang meskipun aku memilih rela meluangkan telinga untuknya, ia tetap tampak sebagai sebatang pohon yang begitu kosong. Seolah-olah kuat, namun di dalamnya, kau tahu, ada rongga besar melingkupi seluruh isi tubuhnya, menyisakan kulit kayu yang hanya lapisan rapuh yang jika sedikit saja kulit itu tergores, seluruh tubuhnya akan tumbang jadi kayu yang hanya bisa berguna bagi tungku dapur penangkal rasa lapar.

Ia kerap hanya duduk dengan pikiran yang entah menjadi pelancong bagi tempat-tempat di dalam kepalanya. Aku meyakininya, bahkan ketika ia tengah menjajakan gethuk, klepon, serabi, dan ampyang  di depan halaman rumah kami yang masih berlantai tanah. Jajanan itu diletakkan di masing-masing tampah yang berbeda di sebuah meja panjang yang telah berusia tak jauh darinya. Meja itu tetap kukuh meskipun waktu telah melahapnya bagai rayap-rayap pada musim penghujan.

            “Nek?”

Suaraku hanya pelan saja, tetapi nenek tetap terkejut. Aku merasa tidak enak dengan gelagatnya, bagai aku telah menyakiti hati perempuan tua itu. Lantas kuraih lengannya, kurengkuh ia dengan dekapan yang semoga nyaman. “Maafkan aku, Nek. Bukan maksudku untuk membuatmu kaget.”

Ia akan tersenyum lantas berkata tidak apa-apa. “Nenek memikirkan apa?” Pertanyaan itu selalu berakhir dengan jawaban tidak apa-apa.

Tetapi pada akhirnya aku tahu, nenek selalu dan tetap memikirkan suaminya. Meskipun ia tidak pernah bercerita secara terang-terangan, aku tidak bodoh betul memahami bahwa ia merindukan kakek. Nenek kerap menceritakan kebaikan-kebaikan kakek yang masih tersimpan di dalam laci kepalanya.

            “Kakekmu lelaki yang romantis. Ia kerap memberi kejutan-kejutan yang tidak terduga. Kadang-kadang ketika aku merasa lelah, ia tahu harus berbuat apa. Kami sering pergi keluar sekadar makan di warung bakso atau mi ayam. Setelahnya aku lupa dengan rasa lelah yang sangat payah.”

Tentu saja aku akan memuji kakek. Tidak mudah menjadi lelaki seperti itu.

            “Kau tahu, perempuan akan sangat senang jika diperhatikan oleh orang yang dicintainya. Ia akan merasa ringan, beban-bebannya akan hilang, meskipun seringkali perempuan tahu bahwa lelakinya tengah membual. Ia tidak akan peduli.”

Cerita nenek membuatku berpikir bahwa aku juga mesti memperlakukan perempuan dengan cara seperti itu. Menjadi lelaki yang penuh kejutan.

            “Perempuan tidak terlalu suka, jika lelaki tidak punya pilihan.”

            “Maksud Nenek?”

            “Bawalah perempuanmu ke sebuah warung makan jika ia tampak lelah dan lapar, tapi jangan kau tanya banyak hal mengenai apa yang ingin dia makan. Pastikan kau tahu apa makanan kesukaannya. Itu akan membuatnya senang. Merasa dihargai.”

            “Bukankah bertanya itu baik?”

            “Memang iya, bertanya itu baik, tapi jika kau mengulang sesuatu yang sudah pasti, itu justru akan menyakiti hatinya. Misalnya, kau tahu perempuanmu menyukai ayam bakar, tapi kau selalu bertanya, ia ingin makan apa.”

            “Bagaimana jika ia merasa bosan?”

            “Tanpa kau mesti bersusah payah menebak, perempuan akan bercerita jika ia bosan dengan apa-apa yang sudah dibiasakan. Jika tidak ada keluhan, maka mestinya kau tahu apa yang mesti kau lakukan.”

            “Apakah nenek pernah mengalaminya?”

            “Tidak. Tapi teman kami pernah mengalaminya. Ia begitu muak dengan suaminya, sebab setiap kali hendak makan saat sedang bepergian, selalu bertanya, “Apakah kau lapar? Padahal sesungguhnya lelaki itu yang merasa lapar. Ia tidak berani berterus terang. Sementara itu, seharusnya lelaki selalu berada di depan, tidak apa-apa mesti menunggu perempuan bergerak lebih dulu.”

Aku hanya mengangguk, tidak banyak berkomentar. Cerita akan berakhir ketika beberapa pembeli datang. Jajanan pasar itu tidak bertahan lama, siang sedikit saja, sudah mesti habis. Jika tidak, yang bersantan seperti serabi dan klepon akan mudah basi. Dagangan nenek memang sederhana, tapi tetap saja diserbu peminat. Apalagi di zaman yang serba digital seperti sekarang. Apa-apa yang tradisional dinilai berharga dan patut untuk dirawat sebaik-baiknya.

            “Kadang-kadang orang sekarang itu aneh, merasa peduli dengan sesuatu setelah sebelumnya terancam.”

            “Terancam yang seperti apa?”

            “Misalnya saja, hewan langka. Mereka tidak akan dianggap penting sebelum terancam punah. Sebuah keterlambatan yang gegabah.”

Tidak salah, memang demikian adanya. Tidak jauh dengan yang sudah-sudah, negeriku tercinta ini juga kerap melakukannya. Pulau-pulau kami yang semestinya dirawat, dibiarkan begitu saja seolah sampah tidak berguna. Begitu ada negara lain yang mengklaim kepemilikan pulau-pulau jauh itu, pemerintah merasa kelabakan dan seolah tertindas sebagai korban. Orang-orang mendadak jadi nasionalis dengan banyak gerakan yang kupikir tidak berdampak banyak. Hal-hal seperti itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali saja, tetapi berkali-kali. Menjijikkan. Seolah keledai yang terus-menerus tergelincir—lebih tepat dikatakan sengaja menjatuhkan diri—ke lubang yang sama.

Aku senang menjadi pendengar bagi cerita nenek, tentang apa pun. Apa pun. Cerita-ceritanya bukan dongeng kosong belaka, selalu ada sesuatu yang bisa diambil bagiannya.

Perihal kesetiaan merawat kenangan, aku mencatatnya baik-baik di tubuh ulat-ulat kecil, belatung yang bergerak lincah di sebuah mangkuk berisi telur dadar.

***

Berhari-hari sudah nenek larut dalam perasaan yang hampa. Kupikir ia sedang mengulang segala jenis perputaran adegan di dalam kepalanya. Selalu seperti itu, seolah ia tidak ingin satu bagian pun terlewat dan berserakan seolah remah roti tercecer di lantai untuk selanjutnya dimangsa semut-semut.

Ia memutuskan tidak membuka gelaran jajanan seperti hari-hari biasa. Kepergian kakek yang tiba-tiba membuatnya merasa terpukul. Tak ada seorang pun yang menyangka bahwa suaminya akan pergi dengan cara yang tidak terduga. Ia tidak sakit, tidak juga mengalami kecelakaan. Hanya sedang tidur dan barangkali setiap orang tidur selalu berdoa agar bangun di pagi harinya.

Waktu itu aku masihlah seorang bocah yang hanya bisa menangis jika menginginkan sesuatu. Nenek mencoba menenangkanku dengan memberikan apa saja yang dimilikinya. Uang untuk membeli jajan atau mainan, juga mengambilkan nasi sebab ia mengira aku lapar. Aku tidak tahu, aku hanya ingin menangis saja waktu itu.

Dan barangkali kau juga akan sama sepertiku, menangis lebih keras sebab merasa takut dengan apa yang telah nenek berikan. Ia berjalan ke dapur dengan lengan melingkar di tubuhku, menjadikan aku bagai seekor kera yang tengah berada dalam gendongan induknya.

Tangan nenek selalu hangat. Bayi-bayi atau bocah yang sedang menangis tak tahu sebab, akan berhenti jika telah disentuh oleh tangan nenek. Aku sangat menyukai bagian ini. Nenek solah-olah pahlawan yang patut diberi hadiah atau penghargaan yang istimewa.         Perempuan itu masih sangat bersedih, aku tahu dari raut wajahnya. Namun aku yang masih bocah tentu tidak tahu apa-apa cara menghibur agar nenek merasa bahagia.

Ia berjalan ke dapur, menjulurkan tangan ke sebuah salang gantung yang terbuat dari anyaman bambu warna hitam legam sebab sering terpapar asap tungku. Di atas sana, ia meraih sebuah mangkuk yang seingatku berisi telur dadar.

Barangkali matanya telah rabun atau berkabut, ia tidak terlalu jeli memandang apa yang ada di dalam mangkuk. Sepotong telur dadar disendoknya ke piring yang telah berisi nasi. Telur itu telah dihuni mahluk-mahluk kecil, putih, dan lunak. Singgat. Aku merasa jijik dan hanya menangis.

Ibuku datang dengan keheranan yang penuh. Ia tidak tahu apa yang aku tangisi. Sampai pada akhirnya ia meraih tubuhku dari gendongan nenek, mengambil piring berisi nasi, dan berakhir dengan teriakan yang panjang. Ibu terkejut sama halnya denganku. Binatang kecil jinak namun menjijikkan itu telah menyebar di lantai rumah yang masih tanah yang dipenuhi têlo[1]. Ibu mengelus rambutku berulangkali dengan umpatan yang tertahan, “Demi apa pun, nenekmu terlalu mencintai kenangan perihal kakekmu, hingga ia melupakan telah berapa hari ia mengurung diri dalam kesedihan, hingga singgat-singgat itu telah menjadi penghuni bagi sepotong telur dadar sebagai makhluk-makhluk lapar yang menggiriskan.”

Terdengar suara prang sebab piring tempatku makan yang terbuat dari seng itu terlempar begitu saja, sementara kulihat nenek sedang sibuk—atau menyibukkan diri—melakukan pekerjaan rumah sehari-hari dengan mata yang kosong, seolah di sana tidak ada lagi ruh bagi kedua bola matanya.

Dan sejak saat itu, barangkali sebagian diri nenek ikut bersama kakek sehingga hidupnya tak lagi utuh, tak lagi seluruh. Hanya serupa sepotong yang tersisa dengan segenap keinginan menjalankan sisa usia. Masa tua barangkali memang kutukan yang abadi memelihara rasa sakit. Dan akan seterusnya seperti itu.***

[1] Têlo: Retakan tanah (Jawa)


Fina Lanahdiana, penulis cerpen yang lahir dan tinggal di Kendal.

Cerpen

Cinta Dalam Bus Antar Provinsi

Cerpen Jeli Manalu

Peristiwa itu sudah dua puluh satu hari yang lalu. Di sebuah tebing, seunit bus besar tiba-tiba mematahkan pepohonan di sana. Bangau putih mengepak-ngepakkan sayap, ikan hasil tangkapannya menyemplung ke dasar. Hewan kecil seperti semut, ulat, belalang, nyamuk, lalat hutan ikut kaget. Sebutir air mata pecah, luruh ke pori-pori tanah yang di sananya akar anak rumput menunggu tumbuh.

Sehari sebelum kejadian itu ia berjumpa denganmu di terminal. Wajahnya sayu, baru pulang dari suatu tempat yang kau sendiri tidak bisa menduganya, tapi kau tiba-tiba saja merasa harus peduli terhadapnya.

“Aku sangat mudah mabuk. Bisakah kau memberiku bangku paling depan dan kalau bisa dekat jendela?” kau mendengarnya berdebat dengan penjual tiket meski intinya ia sedang memohon.

“Sudah ada di bangku itu. Yang tersisa hanya nomor ….” penjual tiket kau lihat mencari-cari di catatannya.

“Bagaimana dengan tiga?”

Penjual tiket masih memeriksa catatan untuk memastikan namun wanita calon penumpang memotong lagi, “Lima? Delapan?”

“Tinggal nomor dua puluh dan selanjutnya.”

“Sudah kubilang aku mudah mabuk.”

Kau yang melihat muram wajahnya dari dalam dirimu timbul semacam dorongan untuk melindungi dan bahkan merasa perlu menyayanginya saat itu juga. Sembari memikirkan entah apa ia melihat ke arahmu sebentar, dan saat itulah kau seakan tak percaya kalau ternyata ada saja mata orang dewasa semirip mata kanak-kanak. Jernih. Masih bisa diwarnai. Masih bisa dilukiskan sesuatu ke dalamnya, dan kau coba mengingat-ingat bagaimana caranya melukis dengan baik tanpa harus merusak banyak kanvas terlebih dahulu.

“Beli saja salah satu dari tiket yang masih ada,” ujarmu dari tempat yang tak diduga-duga olehnya sehingga ia merasa aneh kepadamu. “Ini,” katamu lagi. Kau sodorkan tiket dengan angka empat milikmu ke arahnya.

“Maksudnya?”

“Tiketmu berikan padaku. Tiketku kuberi padamu.”

“Terus?”

“Ya, supaya kau jadi perginya.”

“Terus?”

“Mak-sud-ku? Maksudku supaya kita sama-sama perginya.”

Kau perlahan-lahan menjelaskan padanya. Ia kemudian setuju. Setelah itu ia dan kau sudah berada dalam Bus Antar Provinsi.

Tiga jam pertama ada penumpang turun di persimpangan, seseorang yang duduk di sebelahnya yakni di bangku nomor tiga lalu tanpa permisi ke pengemudi kau segera saja pindah ke sana. Ia mendengar ceritamu sepanjang perjalanan seakan kau seorang pendongeng atau barangkali kehadiranmu serupa rintik hujan yang menyejukkan. Ia sendiri enggan membicarakan lebih dalam tentang dirinya. Ia hanya menjawab ketika kau bertanya, semisal apa ia sudah makan atau apa ia merasa pusing agar kau membantunya membelikan minyak angin di kedai pinggir jalan.

Suatu kali kau melihat ia memijit-mijit kening dan mematah-matahkan leher. Kau mohon izin mengubah posisi kursinya agar ia menyandarkan bahu, supaya ia bisa meluruskan kaki dan kau—entah kenapa lagi-lagi merasa ia merupakan bagian dari yang perlu kau lindungi. Sesuatu dalam dirimu berkata: meski ia mungkin kekasih dari seseorang yang mencintainya dengan hebat, dirimu justru teman terbaik untuk berbagi cerita. Kau punya bahu yang kuat. Kau punya punggung yang kokoh. Kau bisa menampung seberat apa pun beban kisah itu nantinya.

“Aku punya dua orang anak,” katamu, memecah keheningan.

Ia menjadi serius seakan lupa pada apa yang berkecamuk di dadanya. Ia ingin bertanya ke manakah anak-anak itu sekarang, atau istrimu sedang di mana: apa kau bertengkar dengannya, apa istrimu masih hidup, namun ia sungkan mengutarakannya—ia baru kenal denganmu dua hari lalu. Menurutnya tidak baik menanyakan hal-hal bersifat pribadi kecuali seseorang itu sendirilah yang dengan suka rela menyampaikannya.

“Boleh aku tahu namamu?” kau bertanya.

“Ta ….”

“Ta?”

“Tarida.”

“Aku sendiri Mangara. Panggil saja Ara.”

Lalu mendadak saja kau merasakan tanda-tanda kalau ia ingin muntah. Ia memegangi mulut menahan sesuatu yang sudah terlalu mendesak. Jemarinya mencari-cari, kau bertanya dan ia mengisyaratkan butuh kantung plastik. Bagi yang bukan pemabuk sepertimu tentu muntah dalam perjalanan merupakan hal paling menyiksa. Seharusnya perjalanan itu menyenangkan mata, hati, pikiran.

Kau membukakan botol air mineral. Ia berkumur, membuangnya ke kantong plastik dan kau sempat mencium aroma seperti belerang namun cepat-cepat mengabaikannya. “Oleskan minyak angin ke perut dan keningmu,” ujarmu, terlebih dahulu mengawalinya dengan kata ‘maaf’ agar kau tak mendapati dirimu terkesan sebagai laki-laki yang telah membuat seorang kenalan baru menjadi risih. Menit-menit berikutnya di saat ia sudah tertidur kau membaguskan syal ungu yang gulungannya melonggar meski kau tetap saja berdebar takut dikira berbuat macam-macam.

Menit berikutnya lagi separuh kepalanya bertumpu di bahumu, kau jadi terbayang pada wanita yang sangat kau cintai. Wanita bernama Dinar yang telah memberimu dua orang putra dan tiba-tiba kau teringat saat mengganti popok bayimu di usia dua bulan. Peleburan tertinggi dari seorang laki-laki terhadap wanita yang kemudian disebut satu menurutmu melakukan hal biasanya dihindari para suami yakni mengurusi yang bau-bau pada diri anak-anaknya—kau bahkan pernah mengisap lubang hidung mereka ketika mampat. Dan hal paling kau suka ialah menciumi kepala bayimu, meletakkan begitu lama bibirmu di atas ubun-ubunnya yang belum ditumbuhi rambut hingga kau rasakan denyutan-denyutan lembut lalu membisikkan sebaris doa kepada denyutan itu: aku mencintaimu. Mencintaimu sejak pertama dan selamanya. Seketika itu pula kesedihan menusuk-nusukmu, sebab sewaktu membayangkannya mereka itu sudah tak ada. Maka kepada seseorang yang baru sehari kau mengenalnya begitu dekat kebaikanmu pun tumpah. Kau tarik selimut. Kau selimuti ia yang lelap di bahumu.

Bus Antar Provinsi bermanuver sangat liar. Wanita itu menarik lengannya darimu. Ia kaget mendengar bunyi deruman keras. Sebelumnya ia ingat sudah pernah suara yang begitu terjadi: tadi, ketika Bus Antar Provinsi mogok dan ada yang diperbaiki di bagian mesinnya padahal bus itu bukan kelas ekonomi—ia bus ber-AC—tak masuk akal kurang sehat begitu. Remnya putus, teriak sopirnya. Mendadak ada yang melompat dan kalian sempat melihat sepasang lutut habis dijilat aspal diiringi histeris penumpang meneriakkan Tuhannya masing-masing.

Bus Antar Provinsi baru saja diservis. Diganti catnya. Dibongkar mesinnya. Diperbaiki lampu, klakson, diganti olinya dan lain-lain. Intinya bus itu habis pulang dari perawatan. Ia kembali cantik setelah setahun beristirahat total. Tentang mengapa ia beristirahat sampai setahun tidak ada yang tahu pasti kecuali orang-orang tertentu.

“Ada apa?” tanya wanita itu dengan napas berdesak-desakkan di dada. Ia kelihatan sangat panik serta ketakutan tampak di sorot matanya.

“Kita akan baik-baik saja,” jawabmu, menenangkan hatinya sementara kau tak mampu menjinakkan kecemasan yang luar biasa membadai di jantungmu, pikiranmu, perasaanmu. Bayangan-bayangan ngeri dari tiga tahun lalu saat kau kehilangan tiga orang terkasihmu yakni istri dan dua putramu kembali menyetani dan membuat kekhawatiranmu menggunung-gunung. Saat resah gelisahmu kian membesar refleks saja kau memeluk dirinya yang menggigil.

“Aku takut, Ara. Aku takut,” pekik wanita itu, menyebut namamu untuk pertama kali dan kau merasakan debur dadamu dua kali lipat kekuatannya. Debur antara ketakutan dan perasaan yang tak kau ketahui kenapa tapi saat itu kau teringat saat jatuh cinta kepada istrimu. Kau mengambil tangannya ia rela. Kau mendekapnya ia diam. Namun setelah sekian lama kesepian kenapa jatuh cinta lagi itu harus terjadi di saat-saat genting seperti ini?—kau merasa ini tak adil, sungguh tak adil. Kau protes akan waktu yang bikin kadar cintamu mendadak berlipat ganda, oleh karenanya kau menjadi semakin takut pada kehilangan. Kau mulai menyesal mengapa punya hati yang mudah mencintai. Jatuh cinta, kau tahu artinya, yaitu merelakan hatimu agar selalu siap merasakan sakit.

Bunyi yang lebih keras datang lagi. Letusan besar naik ke atas. Ban landas. Kau dan ia menyadari kalian semakin turun dan kalian tak berani melihat ke mana arah itu menuju. Pengemudi memutar habis ke kiri, terbanting ke batu. Bus Antar Provinsi terombang-ambing di tebing curam di mana pepohonan berpatahan karenanya. Lalu di depan sana yang kemudian menjadi di bawah kaki kalian terpampang hamparan danau berwarna hijau. Sepasang ikan mujahir yang tadi berenang pelan-pelan kini kucar-kacir setelah salah satu dari mereka sempat menabrakkan mulut ke leher ikan sebelahnya.

Ara, ini hitungan kedua puluh satu setelah hari itu. Sudah selama itu kau koma. Di sekujur tubuhmu ada kabel dan Tarida ingin sekali membantumu mengakhiri penderitaan. Dari sisi bahu kananmu ia bersedih. Kau tak kunjung merasakannya. **

                                                                                                Riau, April 2017


Jeli Manalu Lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya Kisah Sedih Sepasang Sepatu (Basabasi, 2018)

Esai

Dari yang Lalu dan Sekarang yang Berjalan

Oleh Yohanes Bara

“Rumah tanpa buku bagaikan ruangan tanpa jendela,” kata Horece Mann, reformis pendidikan Amerika Serikat. Ruangan tanpa jendela itu pengap, gelap, dan sesak. Demikian juga pikiran tanpa buku, isinya hanya kekosongan, kegelapan, dan kesesakan. Artinya, kekosongan, kegelapan, dan kesesakan itu bukan terletak pada tempat tertutup, tetapi pikiran yang tertutup karena tak pernah bersentuhan dengan buku. Mortimer J. Adler dalam Cara Membaca Buku dan Memahaminya (1986) menilai membaca adalah kegiatan melakukan penemuan, mengantar dari tak paham menjadi lebih paham. Atau, membaca untuk mendapatkan informasi. Membaca untuk memahami membuat seseorang bisa menjelaskan mengenai sesuatu, sedangkan membaca untuk mendapat informasi berujung pada penghapal yang hanya bisa menceritakan ulang tanpa pemahaman.

Membaca juga sebuah peristiwa mendapat sekaligus kehilangan. Dengan membaca, seseorang mendapatkan wahana baru dalam pikirannya. Dengan membaca, seseorang kehilangan waktu untuk melakukan kesenangan lain, sebab membaca merupakan aktivitas tunggal yang tak dapat disambi hal lain. Kekosongan, kegelapan, dan kesesakan itu bisa menimpa orang atau negeri. Negeri tanpa buku ibarat negeri tanpa jendela, negeri tanpa pemahaman dan penemuan. Keadaan yang pernah dialami Indonesia sebelum buku dititipkan lewat kapal-kapal dagang kolonial atau barang bawaan misionaris.

Sejarah buku bermula dari ekspansi ekonomi kolonialisme Belanda melalui Verenigde Nederlandsche Geoctroyeerde Oost-Indische Compagnie (VOC) terhadap produksi rempah-rempah Hindia Belanda pada tahun 1596. Saat itu, VOC merasa perlu memanfaatkan pers untuk mencetak hukum yang termuat dalam maklumat resmi pemerintah. Para misionaris Gereja juga punya peran memperkenalkan percetakan di Hindia Belanda karena berkepentingan memenuhi percetakan kitab-kitab keagamaan dan traktat. Bahkan mereka sudah memiliki mesin cetak dari Belanda pada 1624 meskipun baru memproduksi sebuah Tijtboek, sejenis almanak pada 1659 oleh Kornelis Pijl.

Percetakan awal ini tercatat lebih banyak menerbitkan dokumen-dokumen VOC hingga pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff tahun 1744 terbitlah surat kabar pertama di Hindia Belanda bernama Bataviase Nouvelles yang dikelola oleh saudagar muda yang diperbantukan di kantor VOC, Jan Erdman Jordens (Ahmat Adam, Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan, 1995).

Surat kabar pertama ini hanya berukuran kertas folio yang berisi dua kolom di masing-masing halamannya. Bataviase Nouvelles berisi maklumat pemerintah dan iklan lelang yang diedarkan pada kalangan pegawai VOC saja dan sebagian kecil orang Eropa. Kerena dikhawatirkan isi surat kabar ini akan mengganggu monopoli Kompeni Belanda, akhirnya berhenti terbit pada 20 Juni 1746. Setelah gagal mendirikan percetakan pertama pada 1624, para misionaris kembali memiliki mesin cetak pada 1743 yang diletakkan di Seminarium Theogicum di Batavia. Percetakan ini mencetak Perjanjian Baru dan buku doa dalam terjemahan bahasa Melayu, hingga pada 1755 mereka dipaksa bergabung dengan Percetakan Benteng milik pemerintah.

Setelah VOC bubar pada 1799, usaha percetakan misionaris kian bertambah, salah satunya mesin cetak pertama di Kepulauan Maluku yang tiba tahun 1813 dan baru beroperasi pada 1819 dengan mencetak brosur keagamaan, buku sekolah dasar yang dikelola Gereja, dan surat kabar dengan bahasa anak negeri, Bintang Oetama (1858). Sejarah percetakan dan perbukuan di Nusantara pun berkembang beriringan dengan perkembangan misionaris dan sekolah-sekolah Belanda.

Sejarah panjang berbukuan tak menjamin literasi Indonesia maju dan berkembang di abad XXI. Indonesia masih memiliki masalah-masalah besar terkait literasi. Oleh sebab itu, pemerintah buru-buru membuat program Gerakan Literasi Nasional (GLN) tahun 2016. GLN setidaknya diterjemahkan dalam 6 bidang pokok: literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, serta literasi budaya dan kewargaan. Kemudian diwujudkan lokakarya-lokakarya terkait sosialisasi kebijakan teknis bagi peserta di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lalu menjadi program di sekolah-sekolah.

Dalam pelaksanaannya, ternyata GLN tak hanya menjadi domain Kemendikbud. Pertamina, bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2019, mengadakan kompetisi mural di Balikpapan dengan menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR), dengan mengangkat 6 bidang pokok yang sama dengan GLN. Di tingkat daerah, Jawa Barat, Malang, Papua Barat, Lampung, Balikpapan, Kalimantan Barat, dan Solo sudah membuat program-program dalam rangka peningkatan literasi. Mulai dari lomba-lomba, pembentukan duta baca, perpustakaan keliling hingga pengadaan buku sudah diupayakan pemerintah daerah masing-masing.

Namun, apakah membaca dalam program GLN sebatas kegiatan membaca untuk mendapatkan informasi atau membaca sebagai sebuah proses penemuan pemahaman baru? Tentu masih perlu kajian mendalam untuk menjawabnya. Jika merujuk pada kajian dari World Economy Forum 2017, kualitas jenis bacaan akan sangat menentukan kemajuan suatu bangsa. Sehingga program kampanye literasi tidak hanya berkaitan pada penganggaran tetapi juga memperhatikan konten literasi.

Untuk mendukung upaya GLN, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengucurkan Rp 10 triliun setahun untuk pengadaan buku. Pemerintah Solo beberapa tahun lalu juga menyemangati gerakan literasi dengan mendirikan Monumen Patung Soekarno Membaca di Taman Plaza Manahan. Sesuai namanya, patung perunggu senilai Rp 1,5 miliar itu berbentuk Soekarno sedang membaca buku atau lebih tepatnya sedang memangku buku karena tatapan mata Sang Proklamator ini tidak pada buku.

Dengan besaran anggaran yang tinggi dalam setiap program dan proyeknya, sulit dibantah bahwa nalar birokrasi adalah nalar anggaran. Bahkan terkadang menggunakan nalar politis yang sarat kepentingan. Misalnya, mengapa Soekarno disimbolkan sebagai seorang pembaca? Padahal Mohammad Hatta dikenal lebih pembaca dari Soekarno. Semasa kuliah di Handels-Hogeschool Belanda, dalam sebuah masa liburnya di Hamburg, Hatta memborong 19 judul buku sekali beli (Mohammad Hatta, Untuk Negeriku, 2011). Saat Hatta dipenjara di Glodok tahun 1934, ia pun membawa buku-bukunya. Bahkan, dalam masa pembuanganya di Boven Digul (Papua), Hatta membawa 4 peti berisi buku.

Hatta selalu identik dengan buku, membaca dan menulis, yang artinya memuliakan literasi. Gambaran suasana dan percakapan penulisan teks proklamasi ini kiranya dapat membawa kita ke rumah perwira tinggi Angkatan Laut Jepang di Indonesia, Laksamana Tadashi Maeda pada dini hari 17 Agustus 1945, “Setelah duduk sebentar menceritakan hal-hal yang diperdebatkan Nishimura, Soekarno dan aku mengundurkan diri ke sebuah ruang tamu kecil bersama-sama dengan Subardjo, Soekarni, dan Sayuti Melik. Kami duduk sekitar meja dengan maksud untuk membuat sebuah teks ringkas tentang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tidak seorang di antara kami yang membawa dalam sakunya teks proklamasi yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945, yang sekarang disebut Piagam Jakarta.”

Dalam peristiwa tersebut, Soekarno berkata, “Aku persilakan Bung Hatta menyusun teks ringkas itu sebab bahasanya kuanggap yang terbaik. Sesudah itu kita persoalkan bersama-sama. Setelah kita memperoleh persetujuan, kita bawa ke muka sidang lengkap yang sudah hadir di ruang tengah.” Hatta menjawab, “Apabila aku mesti memikirkannya, lebih baik Bung menuliskan, aku mendiktekannya.” Soekarno yang mengakui bahwa kebahasaan Hatta adalah yang terbaik.

Peristiwa sejarah itulah yang sebenarnya mengingatkan kita pada episode-episode literasi, yang selalu mengaitkan agama, politik, dan peradaban. Akhirnya, pada masa sekarang kita diharuskan memikirkan kemajuan literasi. Pemerintah telah berbuat meskipun sulit maksimal. Dukungan dari berbagai instansi atau komunitas terus saja dibuktikan yang menginginkan masa sekarang tetaplah berliterasi supaya tidak malu pada masa lalu yang sudah menampilkan sejarah rumit dan panjang.

Yohanes Bara Bekerja di Majalah UTUSAN dan Majalah BASIS.

Puisi

Puisi Irma Agryanti

Aku Ingin Meninggalkan Diriku

aku ingin meninggalkan diriku. masa lampau membuatku mengingat yang hendak kulupakan. tapi di balik jendela tak ada orang lain selain diriku dan buku puisi yang berulang kali dibaca. pikiranku tak pernah lengkap, selalu ada yang tak bisa kupahami seperti cara untuk mencintaimu atau upaya menolaknya.
setiap hari cuaca begitu susah untuk ditebak, membuat perasaan tinggal lebih lama seolah tak pernah ada saat yang tepat untuk pergi.
barangkali aku terlampau lama menjadi seseorang yang merasa bersalah atau menanggung kesalahanmu, sebab seperti pertengakaran kerap tak memberi kemenangan, agar masing-masing selalu terkenang.
tapi aku dikalahkan bayanganmu. menerimamu sebagai apa saja yang terasa dekat denganku, meski sesungguhnya tak ada yang benar-benar bisa menanggung, kesepian yang sering menetap. 

2018


Seseorang Dalam Diriku

ada saat-saat dimana aku meragukan seseorang di dalam diriku. seseorang yang menyalakan lilin tapi memadamkannya berkali-kali, seseorang yang ingin dilengkapi tapi seringkali menjauh. keriuhan seperti kesedihan yang minta dihibur. juga perasaan, selalu datang bergantian, rentan dan mudah lepas, sedang pikiranku seperti kota besar, penuh oleh prasangka, perihal-perihal dunia yang nonsen. aku tidak menulis sajak meski aku menulis sajak. kekosongan adalah satu-satunya yang bisa dituliskan, semisal tunawisma yang menatap langit dan bicara untuk diabaikan. barangkali aku tak menyadari, setiap kali pintu dibuka adalah sebuah kemungkinan lain, semacam upaya menolak untuk menemukan agar tak merasa kehilangan. orang-orang sudah lama menjadi hari-hari sedang aku tak tahu siapa yang sesungguhnya tak nyata, seseorang di dalam diriku atau di luar diriku.

2018


Aku Ingin Berhenti Bunuh Diri

aku ingin berhenti bunuh diri

pikiran-pikiran tak tidur

adalah mayat di luar peti mati

dalam pejam kedinginan

angin melintas-lintas

tak saling bertemu dalam udara

adakah pemakaman di tiap simpang waktu

bagi lubang dada yang tak selesai digali?

aku ingin berhenti bunuh diri

sebab seperti mata lampu jalan

aku sudah kau padamkan, berkali-kali

2019


Setelah Kehilangan

mungkin ada suatu hari baik

setelah kehilangan

aku lupakan

lagu yang mematahkan

musik-musik sedih

seorang perempuan selalu mengaku

baik-baik saja untuk tak mengalah

tapi hati seperti sekumpulan abu

beterbangan bila disentuh

angin dingin yang menyakitkan

mengingatkan pada sudut kecil

tempat negasi dihidangkan

dan sesudahnya

hanya samar

hanya latar

kau tak lagi di sini

tak perlu ada 

2017


Merayakan Kesendirian

pagi hari; dingin memutih

tak ada angka di kalender

tak ada ingatan dalam kepala

aku bayangkan kesedihan-kesedihan

apa yang seharusnya adalah apa yang tak pernah ada

seperti kalimat selamat jalan yang mesti dilepaskan

agar seluruh ketakutan pergi

dan puisi kembali dituliskan

2019


Perak

adalah laut bergulung-gulung

adalah gugus bintang

adalah warna rambut bulan

adalah padang-padang adulam

adalah daun-daun palma yang ditebar

adalah perempuan di balik cadar

ia tamar yang mati dibakar

setelah yehuda menyingkapnya

2019


Upaya Memahami Dirinya Sendiri

ketika hari selesai, ia akan berbaring, melihat bintang jatuh dari jendela kamar dengan tangan yang tak menggapai, juga cahaya lain, memantulkan warna yang tak jelas batasnya dan dadanya terasa berangin.

ia gamang pada sesuatu yang tak tertebak, semisal, bahkan dalam hati langit yang lapang, ada sesuatu yang sukar ditemukan.

ia ingin bebas dari mengingkari bahwa kesedihan tak pernah selesai dikenang, meski, prasangka hanya sebagian komposisi melepas kenyataan, mengapa dirinya lebih suka tersedu.

2019


Aufklarung

seseorang datang

setelah lama bermukim

dari kematian musim

seseorang datang

membebaskan diri

dari seluruh kutukan 

perempuan yang menderita

menjalani hukuman

oleh cinta

bagian kelam dari kenangan

betapa panjang usia derita

waktu serupa nyalak anjing

suara lonceng di puncak menara

samar terdengar

2016


Delusi

seseorang menjadi tak waras

setelah meneguk anggur

ia menyeka, matanya seperti basah

tapi film biru lebih menyedihkan

dari surat-surat yang dikirim

mereka mudah terbakar

sedang cerita, samar dengan kebohongan

sseorang menjadi tak waras

selepas menelan pil tidur

ia menyeka, matanya penuh delusi

2019


Membayangkan Dina Oktaviani

aku ingin menjadi dina

sekalipun bukan

ia yang jatuh di tiap kelokan

bicara pada angin

dan setia mengasihi dirinya

sebab padanya

lampu-lampu langit menyala

juga sebuah jalan yang

menjauhi rasa sakit

tapi ia adalah duka

musik-musik pujian

yang luput dari doa 

senantiasa mendapati dirinya

sendiri menjaga cinta

dari sekadar kata

aku ingin menjadi dina 

sekalipun hanya

puisi

2019


Irma Agryanti, lahir di Mataram, Lombok. Puisinya tersiar di berbagai media lokal dan nasional.  Buku puisi terbarunya Anjing Gunung (Basabasi, 2018). Bergiat di Komunitas Akarpohon.

Buku, Resensi

Menemukan Kembali ‘Homo Ludens’

Oleh Joko Pinurbo

Kumpulan sajak ini mengingatkan kita akan pentingnya jati diri manusia sebagai homo ludens, makhluk yang suka bermain. Ia terbit di momen yang tepat, yaitu ketika kehidupan sosial kita kian didominasi oleh perangai homo faber, makhluk yang suka bekerja, dan homo politicus, makhluk yang suka berurusan dengan politik dan kekuasaan.

Kesuntukan manusia sebagai homo faber membuat manusia terperangkap dalam belenggu deadline demi mengejar kepentingan ekonomi dan materi. Dalam kecenderungannya yang ekstrem, homo faber berkembangmenjadi manusia yang gila kerja atau manusia yang mabuk kerja. Kesuntukan dan kegilaan bekerja yang berlebihan menjadikan manusia hidup dalam tekanan mental yang besar karena setiap saat ia ditanya dan ditagih oleh angka. Hidup adalah memburu, bukan menikmati. Hidup diliputi oleh ketergesaan.

Di sisi lain, nafsu dan perilaku manusia sebagai homo politicus telah menjerumuskan manusia ke dalam kancah pertarungan dan persaingan sengit yang kadang sangat barbar dengan hoaks, kebencian, dan politik identitas sebagai peralatannya. Dalam wataknya yang negatif, bagi homo politicus, hidup adalah berebut, bukan berbagi; memangsa, bukan memberi; memukul, bukan merangkul; memangsa, bukan mencinta. Hasilnya ialah lunturnya cinta kasih sosial, melemahnya semangat persahabatan dan persaudaraan.

Memudarnya jati diri manusia sebagai homo ludens di satu sisi dan kian dominannya nafsu manusa sebagai homo faber dan homo politicus di sisi lain, ditandai dengan menghilangnya mutiara-mutiara jiwa yang berharga: kesabaran, sikap rileks, selera humor, dan kegembiraan.Manusia-manusia yang dijajah oleh kekuasaan rezim homo faber dan homo politicus adalah manusia-manusia yang mengalami gangguan kesehatan mental: tegang, gampang sedih, dan murah marah. Menjadi homo ludens, dengan demikian, merupakan penyeimbang bagi dominasi homo faber dan homo politicus, dan itulah yang secara metaforis mau diwartakan oleh sajak-sajak Yuditeha.

Melalui kumpulan sajak ini kita dapat berjumpa kembali dengan aneka dolanan atau permainan tradisional yang pernah mengiringi pertumbuhan sekian banyak anak sebagai homo ludens. Yuditeha bukan hanya mendata dan mendeskripsikan kembali berbagai bentuk dolanan; ia juga menempatkan makna aneka dolanan tersebut sebagai bagian dari pendidikan karakter. Dengan demikian, sajak-sajaknya mau menunjukkan dan nilai-nilai falsafi—di samping niilai-nilai estetis—dalam dolanan.

Permainan atau dolanan memang bukan simulasi dan duplikasi dari kehidupan nyata. Ia merupakan dunia yang direka atau diciptakan dengan kekuatan dan keliaran imajinasi. Ia tidak dikendalikan oleh nilai-nilai pragmatis. Namun, justru karena sifatnya sebagai dunia rekaan, ia memiliki nilai penting sebagai sarana pembebasan. Pembebasan dari kehidupan rutin yang diwarnai oleh perhitungan untung-rugi. Dolanan merupakan bentuk rekreasi dan relaksasi yang mengingatkan kita bahwa keindahan, kebahagiaan, kelucuan dan kekonyolan bisa dinikmati dan dirayakan bersama. Dolanan merupakan sarana untuk menjaga keseimbangan mental.

Meskipun merupakan dunia rekaan, dolanan—secara langsung atau tidak langsung—mengandung nilai-nilai ideal, nilai-nilai falsafi, atau nilai-nilai edukatif yang relevan bagi pengembangan karakter manusia. Menyelami sajak-sajak Yuditeha, kita bisa menemukan setidak-tidaknya lima butir keutamaan dolanan: (1) kegembiraan, (2) kebersamaan; hubungan antarpribadi, (3) kesabaran, ketenangan (4) empati, (5) kearifan: jujur, adil, ksatria (bisa menerima kekalahan dan kemenangan secara wajar).

Sajak berikut ini kiranya merupakan contoh bagus tentang bagaimana sebuah dolanan bisa merefleksikan nilai-nilai ideal dalam kehidupan manusia.

BAN-BANAN

Menggelindinglah di atas papan kayu

yang dijaga dengan ketenangan,

dan hanya jiwa yang jauh dari dengki

yang mampu melakukan perhitungan.

Tak bisa kau hidup sendiri

di tengah belantara masalah.

Hanya kompromi yang bisa menyelamatkan

manusia dari dunia rapuh,

hingga kelak akan diakui sebagai prajurit

yang pantas untuk melakukan

tugas sebagai ketua pandu yang terampil

dan paling disegani.

Sesungguhnya puisi pun merupakan dolanandolanan bahasa—yang menyuburkan dan menyegarkan kembali imajinasi; yang membebaskan kata-kata dari penjara kerutinan yang memiskinkan dan mematikan; yang ingin menghidupkan kembali kewarasan. Puisi adalah sebentuk rekreasi dan relaksasi bahasa yang anehnya sering dilakukan dengan cara yang tidak “waras”. Puisi adalah makhluk kesayangan homo ludens.

Selamat menunaikan ibadah puisi.

Yogyakarta, 20 Mei 2019


Joko Pinurbo, penulis puisi

Cerpen

Sepotong Masa Lalu di Depan Pintu

Cerpen Latif  N. Janah

Akulah saksi perjalananmu. Merebut hatimu sejak keluargamu sendiri tak menerima kau kembali. Akulah pemilik hatimu sekarang ini. Meski begitu, kau selalu berharap agar aku menghilang. Melebur bersama kenangan. Tetapi, nyatanya, aku semakin  hidup dan berjaya megah di kehidupanmu. Jika keluargamu menyebutku noda, kau justru lebih halus menamaiku penyesalan. Akulah yang lantas mengiringi hidupmu sejak Sania mencampakkanmu.

Kau membisu. Tanganmu masih menggegam terali besi jendela. Bibirmu bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun. Terhitung sejak kedatangannya setengah jam yang lalu, yang kau lakukan hanyalah menatap ke luar jendela. Seolah-olah dengan begitu, kau bisa menemukan sedikit pereda kegugupanmu.

Ia datang bersama Maria, gadis kecilmu yang umurnya kini hampir lima belas. Kau sama sekali tak bernafsu melihat keduanya. Meskipun jauh di kedalaman hatimu, kau mengakui sebagai ayah Maria.Tetapi apa yang diajarkan keluargamu, memaksa untuk mengakui bahwa itu adalah aib. Sesuatu yang amat tak patut bahkan untuk dibicarakan sekalipun. Walau pada akhirnya, Maria-lah yang meluluhkan pendirianmu.

“Baiklah, jika kedatanganku tak kau terima. Kau boleh saja melupakanku, tapi tidak Maria.” Ada kepasrahan bergetar dalam suaranya.

Mendengar itu, wajahmu semakin berkerut. Bibirmu mengerucut, hendak mengatakan sesuatu. Tetapi ia, Sania, wanita yang dulu begitu kau cintai secepatnya pergi. Digandengnya Maria dengan tergesa.

***

Terkadang, dalam pikiranmu, kau anggap dirimu telah mati. Hanya agar kau merasa terhibur. Sementara luka di dadamu masih menganga. Buah dari penolakan yang dilakukan oleh orang tua Sania. Kau merasa seperti sampah. Dicampakkan begitu saja.

“Kau boleh pergi sekarang!” Begitu yang diucapkan orang tuanya ketika itu.

Kalimat itulah yang terpahat membentuk goresan di dalam hatimu. Dan kediaman Sania saat itu, terasa seperti air garam yang mengalirinya. Kau merasa perih tak terkira. Kau merasahanya menjadi alat yang digunakan untuk membuat pengakuan di atas kertas, bahwa Maria memiliki ayah yang sah.

Kepada siapa kau pulang. Itulah perkara yang merongrong pikiranmu. Jangankan menerimamu kembali, keluargamu tentu akan menertawakanmu. Jika saja kau tahu begini akhirnya, kau tak akan sudi menikahi Sania. Rasa cintamu padanya bukan sebuah tiket untuk mendapat penghinaan dari keluarganya.

Suatu hari, entah bagaimana kau sampai pada sebuah jembatan besar. Badanmu entah sudah berapa minggu tak tersentuh air. Daki dan rambutmu yang kumal adalah identitas yang kau sandang saat itu.

Saat matahari sejajar dengan kepalamu, sebuah mobil tiba-tiba mendekat padamu. Hal yang tak kau sadari saat itu adalah bahwa hanya kau sendiri yang berada di sana. Sementara orang-orang yang mirip denganmu sudah berlarian entah ke mana. Itulah yang kemudian merubah nasibmu.

*** 

Kini kau berada dalam sebuah rumah baru. Itulah yang kau dengar dari seorang perempuan yang memberimu sarapan, pagi itu. Kau merasa matahari terasa begitu hangat menyapa kulitmu. Begitulah yang kau lalui bertahun-tahun. Terkadang, kau merasa bahwa inilah yang akan kau lalui sepanjang hidupmu sehingga lambat laun kau melupakan sakit hatimu. Meski kau tak bisa menolak kenyataan bahwa kadang kau merasa iri jika melihat teman-temanmu didatangi orang-orang yang kemudian membawa mereka pulang.

Sampai pada suatu waktu saat seorang yang biasa memberimu sarapan mengatakan bahwa ada dua orang perempuan yang ingin menemuimu. Saat itulah untuk pertama kalinya, api di dalam hatimu seperti dipantik kembali.

“Mereka ingin sekali bertemu dengan Bapak,” ucap perempuan itu. Sementara wajahmu hanya menunjukkan kekosongan. Tak menolak, juga tak mengiyakan.

“Baiklah kalau Bapak tak mau,” ucapnya kemudian pergi. Saat itulah kau mendengar suara perempuan yang sama sekali tak asing di telingamu.

***

Petang itu, kau dikejutkan dengan kedatangan Maria, putrimu satu-satunya yang secara tiba-tiba berdiri canggung di hadapanmu. Kemudian kau tahu, bahwa ia memaksa untuk bertemu denganmu dengan alasan yang tak bisa ditolak. Wajah sekaligus mulutmu tak berekspresi apa pun. Kau diam untuk menutupi keterkejutanmu.

“Ibu ingin bertemu Ayah.” Dengan sedikit terbata, Maria berkata. Kau tak bersuara.

Dalam bayanganmu hanya ada kau dan Sania. Sania, bagaimana pun juga, pernah kau cintai dan mencintaimu. Meski sempat lupa, kau tak pernah bisa menghapus kenyataan bahwa ia jugalah yang telah membuangmu, hingga kau terdampar di sini, di pusat rehabilitasi.

“Ibu sangat membutuhkan Ayah,” kata Maria sungguh-sungguh. Kau tak mendengar sedikit pun kecanggungan saat ia menyebutmu ayah. Meski begitu, kalimat itu terdengar begitu klise di telingamu. Kau tetap diam, hanya untuk memperlihatkan keteguhan sikapmu.

“Baiklah jika Ayah tak mau. Tetapi perlu Ayah tahu bahwa Ibu tak pernah sedikit pun mengajariku untuk membenci apalagi melupakan Ayah.”

Itulah kalimat Maria yang tertanam di indera pendengaranmu. Sampai pagi datang, kau tak mampu memejamkan matamu. Hanya Maria dan secarik kertas bertuliskan sebuah alamat yang ia tinggalkan yang memenuhi pikiranmu.

***

Pagi itu terasa amat asing bagimu. Kau berdiri termangu di depan sebuah pintu. Kau hendak mengetuk pintu sebelum akhirnya pintu itu dibuka oleh seseorang dari dalam yang melihat siluetmu dari balik jendela.

Kau pupuk keberanianmu untuk masuk. Setelahnya, kau disambut dengan air mata Maria. Entah sedih atau bahagia. Yang kau lihat kemudian adalah Sania yang terbaring di ranjang. Tergolek tak berdaya. Tubuhnya terlilit selang-selang kecil entah berapa banyaknya. Kau memalingkan wajahmu beberapa saat, sebelum akhirnya  matamu kembali bertatapan dengan matanya.

“Berapa kali pun aku meminta maaf, aku tahu tak akan berguna,” kata Sania pelan.

“Meski begitu, itulah yang ingin kukatakan di hadapanmu juga Maria. Kau tak harus memaafkanku, tetapi jika kau berkenan, tinggalah di sini sebagai penebus kesalahanku juga keluargaku dulu.”

Itulah kalimat terakhir yang kau dengar dari Sania. Tangis Maria pecah dalam pelukanmu. Dan saat itu kau sadar, kau tak pernah dilupakan.***

***

Menjelang Sore, Januari 2017-April 2019


Latif Nur Janah Lahir di Sragen.Gemar menulis cerpen.

Puisi

Puisi Eko Setyawan

Memulangkan Pelukan

1.

pagi masih hangat.

meskipun pelukan sudah beranjak pergi.

2.

tak kutemui dirimu—

di sela-sela udara

yang memukul-mukul kenangan di kepalaku.

apa tak ada yang lebih berbahagia selain

kesedihan yang mengurung diri?

3.

“begitulah nasib bekerja, ia lebih keras kepala

dibanding cinta yang ditanam.”

4.

segala hal, tak pernah di mulai

jika tak ada akhir.

hari ini adalah kemarin yang lahir

dari tangisan di rerumputan yang menjelma embun.

            : di sembab matamu.

lesaplah kesedihan itu.

merupa cahaya yang memancar.

dari balik gunung yang jauh.

5.

selalu tak dapat kusapu binar matamu.

bergegas pergi dan mengemas diri.

kubekali kau tenunan langit pagi.

agar sewaktu-waktu—

kau dapat menyelimuti diri

dan kau dapatkan lagi pelukan

yang sengaja kau tinggalkan.

(2019)


Merapikan Ingatan

tak ada yang bisa kukecup selain rona pipimu.

ia merah muda.

seperti kedua tangan selepas bertepuk tangan.

seperti menjadi sejumput awan,

sekecil apa pun, ia tak akan tahu—

ke mana angin akan mengajaknya pergi.

begitulah cinta bekerja.

ia seperti doa.

dirapal khusyuk bagi ia yang meminta.

keinginan adalah doa yang terus menerus ditebar.

kita hanya bertugas menerima.

“tapi adakah yang sudi merapalkan duka?”

“tapi— adalah kata yang tak menolong.”

pulanglah tanpa alasan.

tanpa benar-benar berpikir bahwa—

di dunia ini, di kepalamu,

bersarang ingatan tentang perpisahan yang menyakitkan.

(2019)


Cinta yang Berlebihan adalah Bencana

1.

kujadikan diriku pedestrian dan tak

kudapati apa-apa selain perjalanan yang jauh.

kuikuti langkah kaki.

pergi dan tak tahu arah kembali.

2.

kukira cinta yang menuntunku.

namun setelah kubaca ulang karcisku.

ternyata hanya kesedihan semata.

3.

aku keras kepala.

kugiring kesepian pada kegelapan.

tak ada apa-apa.

tak kutemukan tempat baru.

segalanya berbekas dan tetap sama.

4.

kurapikan ulang langkah kaki.

kuingat benar bahwa− kau atau mungkin yang lain−

pernah berbahagia dengan cara yang sederhana.

5.

“bukankah cinta yang berlebihan adalah bencana?” katamu.

6.

kutarik langkahku. kupulangkan pada jalan

entah menuju ke mana.

(2019)


Mengemas Kesedihan

kutekan tombol silang pada remot.

hidup berhenti barang sesaat sembari menunggu

kereta yang mengantar rindu kembali ke dada.

matahari bermukim di atas kepala.

mekar dan memberi cinta di bawahnya.

“apa yang telah kembali?”

cinta yang pergi menjauh.

kereta yang lupa mengerami peron.

cinta yang lahir dalam deru kereta.

mungkin pula matahari  masih ada di atas kepala.

tak ada yang boleh bersedih di antara kita.

(2019)


Kau ialah Puisi

             : perempuan penjaga ruang CR

kuhirup bau buku-buku—

terselip semerbak namamu.

ruapnya ialah taman bunga.

ia menyebar di tubuhku.

menjadi pelukan yang tak henti-hentinya diberikan.

matamu, seutas puisi yang belum usai.

bercahaya dan enggan padam.

menunggu hingga titi mangsa disematkan.

senyummu cahaya.

menembus sela-sela jendela.

menjelma siluet yang hangat.

niscaya.

seluruhmu.

aku.

(2019)


Memadamkan Kenangan

gugurlah ia melawan cemburu.

dalam dada yang biru sempurna.

seumpama mati.

hidup adalah bertahan.

di tengah segala putus asa.

cinta seperti awan yang ranggas.

tak ada yang disentuhnya.

selain langit yang padam.

turunlah hujan dan turunlah pula malaikat.

seraya berbisik—

“usaikanlah kenangan, ranggaslah kesedihan.”

(2019)


Ruang Maaf

tak ada yang bisa dijawab setelah persinggungan

antara baik dan buruk.

tangan kanan tak lain kabar yang semu.

serupa sebuah sentuhan dan pukulan kecil di bibir.

tebakan buruk dianjurkan untuk diubah menjadi kapal

di buritan, air menyepi dan menggantung pada lengan kiri

menjelma pundak bagi si murung.

terbuat dari apakah jawaban?

seperti kalung tanpa liontin, malam

tanpa suara jangkrik, jalanan

tanpa pengendara, aku tanpa kau.

untuk kembali mengikatnya

entah seuntai tali atau makian— perlu ditautkan

pada sebuah huruf yang saling bersisian

hingga kita dibuatnya jatuh cinta.

sebab tak ada pertanyaan yang berganti

pahala dan dosa tak ubahnya sepasang kesalahan

yang tak hentinya direngkuh oleh maaf.

dan ketika segalanya usai.

usia mengabur dan bimbang memandang.

masih adakah ruang maaf di kepalamu?

(2018)


Perihal Masa

Aku magrib, kau subuh.

Kita senasib, tapi tak utuh.

(2019)


Eko Setyawan, Lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar.Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017). Karya-karyanya tersiar di media lokal dan nasional.

Buku, Resensi

Suara Lain untuk Mengingat 1998

Resensi oleh Setyaningsih

Bagi Intan Andaru, 1998 adalah pengingatan pada Tragedi Banyuwangi. Penulis yang pernah terlibat Residensi Penulis ASEAN-Jepang dan ASEAN Literary Festival 2017 ini seperti ingin menegasi pengingatan publik atas Tragedi Mei 1998 atau peristiwa akbar-nasional Reformasi. Tragedi lokal yang pernah mengguncang publik nasional, disuarakan untuk mengingatkan pada pengalaman dan trauma kolektif sebagai seorang Banyuwangi lewat novel Perempuan Bersampur Merah (2019). Tragedi Banyuwangi 1998 pernah membantai dukun-dukun pengobatan yang dituduh menyebar penyakit kiriman atau santet. Ketakutan tentang teror ninja yang bergerak cepat, membunuh, dan bisa menghilang beredar. Entah lebih dipicu intrik sosial, kecemburuan personal, huru-hara politik, sampai puritanisme agama yang menghendaki perdukunan ditiadakan, tragedi lagi-lagi meminta pengorbanan dari orang-orang tidak bersalah yang mungkin telah dilupakan untuk mendapat suatu keadilan.

Intan memilih cerita dinaratori aku yang bocah dan perempuan bernama Sari. Dibandingkan dinaratori seorang dewasa, narator bocah lebih memungkinkan penciptaan-penciptaan suasana dan ujaran yang naif, lugu, dan rasa pasrah tapi ingin melawan. Saat bapak Sari dibantai, dia hanyalah bocah tanpa daya yang jelas secara terselubung menampakkan ketidakmengertian atas tragedi. Lewat pernyataan-pernyataan kecil yang berkelebat dalam benak bocah, gugatan-gugatan atas ketimpangan status sosial masyarakat, penghukuman sosial, kemiskinan berusaha dibangun oleh penulis.

Kita cerap, “…aku sungguh masih dapat merasakan kejadian malam itu: Ingatanku tentang segerombolan orang yang mengepung rumah. Suara berisik yang mendebarkan. Kegaduhan yang membuat kami gemetaran. Juga mereka yang melukai Bapak: orang-orang yang tak kukenal dan sebagian tetangga yang mengikuti mereka dari belakang. Dalam gelap itu, aku mampu memandang dan merekam siapa saja orang yang menatap iba hingga membantu keluarga kami, juga siapa saja yang menatap penuh benci pada Bapak” (hal. 70). Seorang bocah mudah mengingat. Sejak sekolah dasar, Sari menggunakan pengingatan untuk mencari nama-nama orang yang konon mati karena disantet. Jika masyarakat tidak bisa dibuat memercayai, Sari yang akan terus percaya bahwa bapak bukan orang jahat seperti yang dituduhkan.

Ikon Pembangun

Selayaknya novel yang ingin terlibat mengabarkan tragedi dan intrik manusia, percintaan adalah suatu kewajiban meski klise. Semakin dewasa, peran Sari tidak lagi sebagai bocah yang mencari peradilan atas nama bapak. Peran itu sepenuhnya beralih dan dipercayakan Intan Andaru kepada Rama, lelaki terkasih Sari. Sejak kecil, Rama muncul dalam strata pendidikan lebih tinggi bertaut dengan imajinasi kemakmuran dan pekerjaan di masa depan. Rama ditokohkan untuk meninggalkan kampung yang miskin, tidak berpendidikan, dan masih berkisar di klenik.

Lulus SMA, Rama menjadi mahasiswa, elite terpelajar yang digadang menjadi ikon pembangun (nasional) terutama sejak masa 70-an dan menguat sejak Reformasi bergulir. Kita tentu bisa menduga, Rama bukan hanya kuliah untuk kuliah. Dia menjadi aktivis, tekun di organisasi, ikut demontrasi, dan berurusan dengan polisi. Bahkan kepada Sari yang jelas miskin dan tidak memiliki modal ekonomi atau sosial, Rama berkata, “Gimana ya. Kan cuma empat tahun. Ini demi masa depanmu. Jadi sarjana itu penting ndak hanya untuk cari kerja, tapi juga untuk mendidik anak nanti” (hal. 161). Rama menghendaki kesetaraan pendidikan bagi perempuan, tapi tetap dengan cara yang partriarkis. Sebagai penulis perempuan, Intan Andaru tidak bisa melepaskan diri dari isu-isu sosial berkait dengan perempuan.

Tentu dari segala urusan akademis dan aktivis dilakukan oleh Rama, Intan Andaru menggunakan jalinan asmara untuk mendekatkan tragedi Banyuwangi yang komunal sebagai urusan personal antara Sari dan Rama. Sari mendengar kenyataan bahwa, “Rama bergabung sama aktivis HAM dan sering demo di jalan-jalan. Dia menemui banyak orang untuk neliti kasus pembantaian dukun-termasuk kasus bapakmu yang ndak pernah bisa kita pecahkan itu. Dia juga yang sudah sibuk-sibuk mengusulkan agar kasus bapakmu itu dibuka lagi sampai ada pertemuan-pertemuan yang kamu datangi kemarin. Dia bahkan rela skripsinya terbengkalai” (hal. 194). Intan Andaru terlampau heroik memahasiswakan Rama sebagai bentuk perlawanan Rama pada superioritas dan status sosial bapaknya, tapi sekaligus pihak penghasut agar warga menghukum bapak Sari yang jelata dan tertuduh nyantet.

Intan Andaru memang tidak secara tersurat membawa kembali kasus lokal ke publik nasional. Terlepas dari bahasa yang kurang luwes dan enak, barangkali karena pengalihan data riset atas tragedi Banyuwangi 1998 ke narasi novel, Intan Andaru berkeras memberi suara pada lokalitas. Tragedi harus dibawa kembali ke ranah nasional agar selesai atau setidaknya mengurangi trauma kolektif pada masa lalu. 1998 tidak selalu memusat di Jakarta pada suatu Mei yang kelam, tapi juga di Banyuwangi yang mencekam.

Setyaningsih, Esais. Pembaca Buku. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : [email protected]

Ragam

Kala Seniman Bicara Krisis Lingkungan

Pameran Seni Rupa “Fish Out of Water”

Plastik hadir di muka bumi ini diawali oleh Alexander Parkes yang pertama kali memperkenalkannya pada sebuah eksibisi internasional di London, Inggris pada tahun 1862. Plastik temuan Parkes disebut Parkesine ini dibuat dari bahan organik dari selulosa. Namun, setelah beberapa dekade yang singkat sejak manusia menggunakan plastik, ia menjadi salah satu momok dalam  persoalan lingkungan. Selain sebagai limbah yang merusak daratan dan mengotori lautan, sampah plastik juga termakan dan meracuni hewan-hewan laut.

Poster Pameran Seni Rupa: Fish Out of Water

Menurut Ocean Conservacy Report 2015, setiap tahunnya, ada delapan juta ton sampah plastik yang mengambang di laut. Kira-kira, per menit, ada satu truk sampah plastik yang dibuang ke sana. Dampaknya? Lihatlah bagaimana kondisi hutan bakau Vietnam yang dipenuhi dengan kantung plastik, seekor paus di Thailand mati akibat menelan sampah plastik, dan limbah menyelimuti pantai-pantai Indonesia. Perlahan tapi pasti, persoalan plastik menjadi potret suram mengenai krisis yang mencengkeram Asia.

Lebih dari setengah jumlah tersebut berasal dari negara-negara seperti Tiongkok, Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Indonesia menyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia. Pada saat itu, berat sampah plastik yang disumbang mencapai 187,2 juta ton. Meski angka ini di bawah China dengan volume sampah mencapai 262,9 juta ton. Kemudian disusul oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka tentu persoalan plastik ini tidak bisa terus menerus dibiarkan menghantui peradaban.

Di tengah kekhawatiran itu, Art Xchange Gallery meresponnya dengan menggelar pameran seni rupa bertajuk “Fish Out of Water” yang digelar pada 16 Mei – 13 Juni 2019 di Townhouse Cordoba No.77, Pantai Indah Kapuk. Pameran yang menggabungkan berbagai media yang berbeda dari seni lukis, patung, desain produk hingga desain mode, yang kesemuanya dibuat dengan menggunakan bahan plastik atau memiliki tema terkait tentang masalah plastik.

Foto-Foto: Dok. Art Xchange Gallery

Ada 14 perupa yang ikut serta, di antaranya ada nama Camelia Mitasari Hasibuan, Ignasius Dicky Takndare, Ang Che Che, Budi Asih, Burhanudin Reihan Afnan, Dedi Imawan, Deny Nugraha, Hendro Hadinata, I Made Santika Putra, Denny Rasyid Priyatna, Ahmad Subandiyo, Walid Syarthowi Basmalah, Pardiyanto Semper, dan S. Soneo Santoso.

Tentu saja, sesuai tema perhelatan seni itu nanti, Anda akan dapat melihat bagaimana para perupa merespon sebuah masalah lingkungan melalui karya-karyanya. Sebut saja Ignasius Dicky Takndare, perupa yang memilih kulit kayu sebagai media dan ciri khas karya seni dari Papua itu memamerkan salah satu karyanya yang berjudul “The Long Walks Contemplations”. Menurut Dicky, karya tersebut lahir dari kegelisahannya mengenai persoalan-persoalan lingkungan dan kemanusiaan pada tanah kelahirannya.

“Karya itu berbicara tentang siklus kehidupan. Meskipun ciri khas Papua sangat kuat, tetapi itu berbicara tentang kehidupan semua manusia. Siklus kehidupan dan pertarungannya akan dapat kita lihat serupa gerak dari jarum jam. Dalam karya itu, akan kita temui fase keharmonisan manusia dan alam, fase manusia mulai serakah, fase ketika manusia dengan benda tidak bisa dibedakan lagi, hingga pada akhirnya akan kembali pada fase permulaan zaman,” ungkap Dicky.

Sedangkan bagi Camelia Mitasari Hasibuan, tema tentang alam, lingkungan, ekosistem, dan sampah bukan hal asing lagi bagi perupa perempuan ini. Pada pameran itu nanti, Camelia akan menampilkan dua karyanya. Pada  lukisan “Which One is My Food?” dan  “Harapan yang Tersisa”, ia menjelaskan begitu banyak sampah di lautan saat ini. Hingga lautan yang semula jernih, sekarang menjadi lautan tak ubahnya tempat pembuangan sampah.

Baginya, ini sangat memengaruhi kehidupan ekosistem di lautan. Salah satunya burung pelikan. Burung pelikan adalah salah satu jenis burung yang hidupnya sangat bergantung dengan laut. Burung pelikan biasa mencari ikan-ikan di laut sebagai makanannya. Namun, karena masalah sampah seringkali burung pelikan sulit untuk membedakan antara ikan dan sampah.

“Begitu banyak tempat di bumi ini dipenuhi dengan sampah-sampah hasil dari perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab, bahkan hingga ke hutan. Habitat bagi binatang-binatang dan beragam tumbuhan serta tempat mencari makan hingga tempat berkembang biak saat ini tidak hanya menghadapi ancaman pembalakan liar, tetapi juga mulai dipenuhi dengan sampah. Jadi akibat sampah ini, tidak dihadapi oleh manusia, tapi juga hewan dan tumbuhan. Hewan dan tumbuh-tumbuhan dalam hutan tidak memiliki pilihan lain kecuali beradaptasi dengan situasi ini,” ujar Camelia.

Direktur Art Xchange Gallery, Benny Oentoro mengatakan, pemilihan judul “Fish Out of Water” seperti sebuah ungkapan. Polusi yang disebabkan oleh plastik, merusak dan mencemari lingkungan kita dapat disamakan dengan ikan yang tidak dapat bernapas jika berada di luar habitatnya. “Seperti ikan, manusia juga akan mati lemas dan tercekik ketika udara yang kita hirup terus menerus terpapar oleh berbagai jenis polusi, termasuk lingkungan kita yang tercemar oleh limbah plastik,” kata Benny.

Melalui pameran ini, Benny berharap, seorang seniman dan karyanya  dapat berperan dan menjadi bagian dari inisiatif global dalam memerangi limbah dan polusi. Karena bagaimanapun, persoalan ini adalah bagian dari dunia tempat kita hidup, dan itu adalah tugas manusia, termasuk seniman untuk melindunginya.

“Kami berusaha menciptakan kesadaran tentang polusi limbah plastik yang telah menjadi ancaman global. Kita harus mulai memainkan peran kita sebelum terlambat. Sebisa mungkin membantu selamatkan planet kita. Dan sebagian dari hasil penjualan karya seni yang kita pamerkan, akan kami sumbangkan untuk komunitas di TPA Bantar Gerbang,” ujar Benny. [] Wahyu Indro Sasongko