Katalog

Ragam

Menangkap Refleksi Energi dari Jakarta

Pameran Seni Rupa Rob Pearce

Apa yang kita pikirkan ketika membayangkan sebuah kota bernama Jakarta? Tentu saja, banyak di antara kita akan menggambarkan sebuah kota dengan kepadatan manusia yang berlebihan, kemacetan, polusi udara, dan segala keruwetan hidup di dalamnya. Mengawali bulan Mei ini, Galeri Kertas Studio Hanafi menghadirkan pameran tunggal karya Rob Pearce “It’s All About Story: Past, Present, Future”.

Pameran yang digelar sepanjang 1 – 30 Mei 2019 ini merupakan pameran pembuka untuk rentetan program selanjutnya di tahun 2019. Rob merupakan seniman asal Inggris yang telah berdomisili di Jakarta sejak 1990-an. Ia merasa memiliki keterikatan tersendiri sejak ia pertama kali datang ke Jakarta pada tahun 1970-an. Pada awal kedatangannya, Rob menggeluti bidang fotografi dokumenter sebelum pada akhirnya, ia memilih berkarya melalui jalur seni rupa murni. Ia mengatakan, pameran ini sebagai perayaan. Sebuah perayaan dari energi Jakarta yang ia dapatkan selama tinggal di salah satu kota besar di Indonesia ini.

“Hampir semua inspirasi dan praktik seni dari karya ini berhutang pada jalanan Jakarta. Elemen-elemen yang menginspirasi diperoleh selama beberapa tahun dengan menjelahi jalan-jalan, dan jembatan, suara gaduh, tempat- tempat bising yang dipenuhi oleh debu dan asap knalpot” kata Rob Pearce.

Pada pamerannya ini, Rob Pearce memajang 15 karyanya. Di antaranya ada, Dia Masih Berdansa Denganku, Fragmen Kebenaran, Tanah Melayu: Di Dunia Facebook dan Instagram, Lingkaran Padi, Kesayangan Paco, dan sederet karya lainnya.

Foto-Foto: Dok. Galeri Kertas Studio Hanafi

Pameran It’s All About Story: Past, Present, Future dibuka pada Rabu, 1 Mei 2019 oleh John McGlynn, pendiri Yayasan Lontar. Menurut John, karya Robert Pearce yang ditampilkan kali ini adalah karya-karya fotografis sederhana yang dia kerjakan selama beberapa dekade sebelum menjadi karya-karya artistik yang luar biasa kompleks dan sangat bergairah. “Setiap elemen sesungguhnya adalah “sebuah cerita”, seperti layaknya sebuah dongeng, ia dibuat untuk dipelajari, dipahami dan memperkaya mental pembacanya,” kata Jhon McGlynn.

Pada pameran ini, Rob Pearce menggunakan material yang berasal dari buku-buku yang sudah dibacanya. Selayaknya memasang kanvas pada spanram, lembar demi lembar halaman buku itu dicopot dan ditempelkan sampai pada ketebalan tertentu pada spanram. “Kertas-kertas buku tersebut ditempeli dengan variasi atau pengolahan sederhana atas kertas warna yang biasa dipakai dalam ritual sembahyang warga Tionghoa. Dengan demikian, pameran ini menjadi penanda penting bahwa usaha untuk menemukan modus penciptaan karya kertas lainnya masih terus akan terus dilakukan Galeri Kertas,” kata Curator in House Galeri Kertas Studio Hanafi, Heru Joni Putra.

Ia mengatakan, pameran Rob Pearce ini merupakan salah satu wujud dari program-program Galeri Kertas Studio Hanafi. “Dari pameran ini sampai ke pameran penutup di penghujung tahun nanti, kita akan terus mencari kait dan simpul antar berbagai karya kertas agar salah satu wilayah penciptaan yang tidak terlalu populer dalam seni rupa kita ini tidak berujung pada keterputusan. Sebab, pada tahun 2019 ini, Galeri Kertas Studio Hanafi mengusung tema “Let’s Fill This Town With Artist,” ujar Heru.

Acara pembukaan gelaran seni itu sendiri juga turut diramaikan oleh pertunjukan musik dari Oppie Andaresta bersama Windy Setiadi, Chiko, dan Arman Chaniago. Mereka menyanyikan puisi Joko Pinurbo yang berjudul “Baju Bulan”. Pada sesi itu, acara bertambah meriah dengan kehadiran Iwan Fals yang turut menyanyikan dua puisi yang disodorkan oleh Oppie. Selain pameran, Rob bersama Galeri Kertas Studio Hanafi juga melangsungkan empat agenda lainnya, di antaranya: Diskusi Presentasi Perupa Muda bersama Rob Pearce, Diskusi Publik Pameran Rob Pearce bersama dengan Douglas Ramage, Heru Joni Putra, Ika Kusumawardhani, dan perupa Hanafi. Kemudian masih dilanjutkan dengan agenda sharing kolaborasi para pemusik dari Depok yang memiliki genre musik yang berbeda yaitu Lawe Samagaha, Elegi dan Dipo. Mereka akan berkolaborasi untuk menciptakan karya baru.  Pada sesi terakhir pameran tersebut, akan diadakan Workshop Kertas Perupa Muda bersama Rob Pearce. [] Wahyu Indro Sasongko

Cerpen

Di Atas Daun Jati, Ia Bersaksi

Cerpen Sasti Gotama

Gadis mungil itu tidur dengan tenang. Ia tergeletak di atas tumpukan daun jati kering berwarna  kuning kecokelatan. Bayang-bayang pokok jati yang menjulang terbiaskan pada tubuh yang telentang diam. Kontras dengan kulit si gadis yang  sepucat bulan. Jika bukan karena jemari Tara yang terlatih mampu merasakan denyut nadi  di lekuk leher gadis itu, mungkin para warga desa yang ikut dalam pencarian akan mengira nyawanya telah hilang.

“Nadinya lemah, tapi ia baik-baik saja,” gumam Tara, sedikit tak yakin.

Dengung lebah segera terdengar, berasal dari mulut-mulut penduduk desa yang saling berbincang,  tentang praduga-praduga, tentang kemungkinan-kemungkinan, tentang prasangka-prasangka. Seorang lelaki tua maju dan membalutkan sarung hitam yang tadi dikenakannya pada tubuh gadis mungil itu, membuatnya tampak seperti kepompong hitam. Seorang pemuda desa berbadan tegap mengangkat tubuh pucat itu dalam sekali helaan. Langkah-langkah tergesa segera terdengar dari kaki-kaki yang memijak ranting-ranting kering. Semua bergegas. Semua tergesa.

Malam masih muda dan bulan pucat bersembunyi di balik awan,  tapi Tara berfirasat malam akan terasa panjang. 

Mata gadis itu terbuka, memandang kosong ke langit-langit kamar ruang periksa. Sedetik kemudian ia mengerang. Separuh kesedihan, separuh kengerian. Suara itu menelusup ke dalam lorong telinga, menggetarkan gendangnya, dan merangsang rumah siput melepas sinyal-sinyal ke sel-sel kelabu Tara hingga ia terbangun dengan gelagapan. Hampir saja kursinya terjatuh. 

Seperti dugaannya, tadi malam memang terasa panjang. Semalaman ia membersihkan luka-luka gores di sekujur tubuh gadis mungil itu, memberinya oksigen, dan mengalirkan larutan glukosa ke dalam pembuluh darahnya yang kolaps. Gadis itu seperti baru saja diserang kera gila, atau manusia gila berotak kera. Tara tak tahu, mana yang lebih mengerikan.

Mulut mungil itu mengucap sesuatu. Tak terlalu jelas. Hampir serupa gumaman. Tara tak terlalu paham bahasanya. Ia baru seminggu menjejakkan kaki di pedalaman pulau Lombok ini demi  sebuah pengabdian.

“Bu Bidan, ia bilang apa?” tanyanya pada perempuan setengah baya yang baru saja masuk ke ruang periksa.

Bidan  itu  mendekatkan telinganya ke mulut mungil itu, lalu mengangguk-angguk perlahan. Sejenak kemudian, wajahnya berubah seolah-olah ia bertemu hantu paling seram.

Perempuan berbaju putih itu mendekat ke arah Tara yang  kebingungan. “Dok,” ucapnya bergetar, “sepertinya kita perlu memanggil polisi.”

Dari balik jendela berbingkai putih, Tara melihat tiga orang petugas berbaju cokelat mendekat. Dua diantaranya wanita. Puluhan penduduk yang tampak penasaran, membentuk setengah lingkaran di halaman puskesmas. Dengung manusia serupa suara lebah terdengar lebih tajam.

Salah seorang wanita berambut sebahu itu meminta Tara menunggu sejenak di depan ruang periksa. Ia memilih menunggu di belakang bangunan tua itu yang menghadap ke hamparan kuning sabana di kaki gunung Rinjani. Ia mendongak, memandang mendung gelap menggantung. Padahal belum musim penghujan, keluhnya. Seolah-olah alam bersekutu mengutuk peristiwa yang terjadi semalam. Sesuatu yang terlalu kejam untuk terjadi pada seorang gadis mungil berumur belasan.

Salamah namanya. Jika bukan karena peristiwa semalam, Tara tak akan memperhatikan gadis itu. Ia sama sekali tak mencolok, terlalu biasa untuk anak berusia sebelas tahun. Wajahnya bisa dibilang tak cantik dengan kulit cokelat pucat sewarna pokok jati. Rambut ikalnya berwarna hitam sedikit kemerahan dengan panjang sebatas bahu. Ia seperti gadis kampung Sasak pada umumnya. Yang membedakannya adalah tragedi yang terjadi padanya. 

Saat ia belum lagi usai menjalani masa balita, ayahnya meninggal ketika menjadi porter di gunung Rinjani. Senja itu badai, dan ia terpeleset di tebing Senaru. Ibunya menyusul pergi selamanya sebulan setelahnya, mungkin karena kepedihan yang tak bisa ditahannya. Salamah harus tinggal dengan keluarga paman jauhnya yang dipanggilnya tuaq[1]. Semua informasi ini tak tertulis di rekam medis, tapi  meluncur dengan lancar dari mulut Bu Bidan yang mengenal gadis itu semenjak ia kecil.

Tara tersentak ketika seseorang memanggil namanya. Bidan itu sudah berada di sampingnya dengan wajah setengah prihatin setengah marah. “Diminta visum, Dok. Surat permintaannya akan disusulkan nanti sore,” ucap perempuan itu sebelum berbalik badan. Baru tiga langkah, bidan itu berhenti  dan berbalik badan. “Oya, dokter tak akan percaya apa yang akan saya ceritakan nanti.”

Gadis itu terbaring di atas tempat tidur sederhana berangka kayu jati. Alas kasur yang berwarna hijau muda, senada dengan baju hijau daun khusus pasien yang dikenakannya. Wajahnya tak sepucat tadi malam. Ada rona merah muda di pipi tirusnya. Matanya memandang jauh keluar menembus kaca jendela. 

“Salamah,  saya periksa sedikit di bagian, ehm.” Tara tak bisa meneruskan kata-katanya. Biasanya ia tak pernah merasa serba salah seperti ini, terutama saat melakukan tindakan di daerah kewanitaan pasiennya. Namun, kasus ini membuat ia merasa tak nyaman. Ia memberi isyarat pada bidan yang mendampinginya untuk menjelaskan dengan bahasa daerah setempat. Perempuan setengah baya itu mengangguk, lalu berbisik lembut di telinga gadis itu. Gadis itu bereaksi. Ia mengangguk ragu, lalu memejamkan mata. Erat-erat. Terlalu erat. 

Tara berjuang memasukkan tangannya ke dalam sarung tangan lateks yang berukuran satu nomor di bawah dari yang biasa ia pakai. Namun, pikirannya bukan terpusat ke sarung tangan itu, melainkan  pada kejadian senja temaram, ketika seorang anak harus menghadapi takdir kejam.

Sepuluh menit yang lalu, bidan itu menceritakan apa yang ia dengar saat mendampingi Salamah. Katanya, dari mulut mungil Salamah yang bergetar, meluncurlah cerita tentang seorang pemuda dari keluarga terpandang dan berpendidikan yang sedang pulang dari perantauan, memaksakan hasratnya pada seorang gadis berumur belasan. Tara membayangkan teriakan gadis itu yang teredam bekapan tangan, juga tubuh mungilnya yang memberontak di tengah hutan yang temaram. Mengerikan. Terlalu kejam.

“Saya mulai periksa, ya,” ucap Tara selembut mungkin. “Lampu, Bu Bidan.” Lalu, cahaya yang kuat terarahkan tepat ke satu titik. Titik yang membuat Tara terperangah.

Sentuhan itu. Salamah merasakan sentuhan tangan berlapis karet pada bagian pangkal pahanya. Sentuhan yang membuatnya terseret ke suatu malam ketika ia masih berusia sembilan tahun.

Malam itu, ada yang membuka kelambunya. Perlahan, hampir tak terdengar, kalah dengan suara desau angin di luar dinding papan. Lalu, ia merasakan sentuhan. Perlahan, lembut, dari mata kaki kanan, lalu merayap semakin ke atas. Embusan napas yang ia dengar begitu memburu, berkejaran dengan detak jantungnya sendiri. 

“Salamah rindu Amaq[2], Inak[3]?” Suaranya berat, seperti derau badai di lereng Rinjani. Lalu ia dengar dengkusan, serupa dengusan anjing hitam yang berkeliaran di sekitar hutan. Dengkusan yang semakin lama semakin cepat, seiring rasa menyengat di sebuah titik di bagian bawah tubuhnya.

Salamah diam. Ia tak ingin diam, tapi terpaksa diam, ketika telapak yang lembab berkeringat membekap mulutnya. Ia harus diam. Saat itu, juga keesokannya, juga hari-hari selanjutnya.

Malam-malam itu selalu terulang, lalu tiba-tiba terhenti setelah pemuda yang  biasa membantu di ladang tuaq, pulang kampung. Malam-malamnya kembali hening. Namun, ia merasa ada yang hilang. Sesuatu yang tak bisa terpuaskan hanya dengan sentuhan jarinya.

Lalu pemuda itu datang. Putra tetua desa yang pulang dari perantauan. Lelaki itu tampak bersinar di bawah mentari Lombok kala ia membacakan buku-buku yang ia bawa dari kota. Buku tentang roket ataupun jenis-jenis bunga-bungaan. Puluhan anak Sasak yang mengelilinginya, mendengarkan setiap ceritanya. Termasuk Salamah. Suara lelaki itu begitu lembut. Terdengar lamat-lamat di setiap hening malam Salamah. Seperti bisikan, seperti gendam. 

“Bu Bidan,” desis Tara, “coba lihat.” Perempuan itu membungkuk dan menajamkan pandangan pada titik yang ditunjuk Tara. Tampak beberapa robekan di sana. Sesuatu yang seharusnya tak terjadi pada anak seusia Salamah.

 “Ajari aku tentang daun-daun jati yang meranggas di musim kemarau.” Lelaki itu menyanggupi permintaan Salamah, menemani ke hutan jati. 

Sore itu, Salamah sudah berhias secantik mungkin. Rambutnya yang hitam ia jepit ke belakang. Ia pilih pakaian terbaiknya, putih seperti warna bulan. Blus itu selalu berhasil menonjolkan lekuk tubuhnya yang mulai matang. Tak pernah gagal.

Seharusnya semua berjalan lancar sesuai yang ia bayangkan. Seharusnya tiap lelaki akan seperti kucing yang disodori ikan. Seharusnya. 

Namun,  lelaki itu tak menanggapinya. Ia hanya  tertawa dan malah menasihatinya. Ia akan menyesal, pikir gadis itu, geram.  Lelaki itu akan mendapat hukum adat untuk sesuatu yang ia tolak. Untuk sebuah kebohongan yang gadis itu ungkapkan pada pihak kepolisian sejam yang lalu. Seharusnya lelaki itu tak menolak. Seharusnya, jangan. 

Salamah memejamkan mata. Ia menikmati sentuhan yang begitu ia rindukan dari tangan bersarung lateks. Seperti hujan yang turun menyiram tanah kering sabana Sembalun setelah kemarau panjang. Ia menginginkan hujan ini selalu ada. Juga sentuhan itu.

Ia membuka mata dan menatap lurus pada iris cokelat gelap berbingkai kaca mata yang menatapnya. Salamah tersenyum, sekejap. Ia, rindu.

Tara memandang sorot mata sendu itu. Sekilas, mata itu berkilat, binal. Lalu redup kembali. Tara terkesiap. Ia bingung, bagaimana menuliskan laporan visumnya. Memang ada robekan pada selaput dara. Namun bukan luka baru. Tak ada luka baru. Hanya ada bekas koyakan lama. Sepertinya sangat lama.***


[1]Tuaq: paman

[2]Amaq: ayah

[3]Inak: ibu

Sasti Gotama Seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan Cerita Penafsir Mimpi, Antologi Journey to Infinity, Antologi Jejak Perempuan, Antologi Perempuan di Sisi Waktu, Antologi Kampung Humor dan Antologi Rahasia Cinta Bunda.

Puisi

Puisi Anjrah Lelono Broto

Patah Hati

Jangan lagi ada janji padanya

Kumpulan berlimpah air menyegara

Laut tak butuh lagi ikrar

Lukanya telah menulis mengakar ke dasar

Bilamana masih ada janji

Di saku, di laci, di almari

Dia bersungguh patah hati.

Suara laut beranjak sayup. Mengertilah

kesabaran juga berbatas galah

seperti jatuh cinta pada ombak yang pecah

laut juga bisa patah hati. Bila lelah telah

menjadi muara sekian janji

(Surabaya, 2019)

Mengulang Pertemuan

entah telah berapa windu berlalu

engkau menulis tentang kealpaan

untuk menasbihkan dada juga bahu

selayaknya tiang pancang sandaran

sebentuk napas bernadi biru,

berawan merah jambu, bernapas lugu,

juga beraroma tembakau

jatuh kemudian

“sedemikian menjulang

kerinduan akan duka?”

pertanyaan di hulu hujan

itu kubawa lari langgang ke ladang

terbiar sampai perdu setinggi pinggang

putaran jarum jam lalu menjura

dada juga bahu lalu pun berseikat

menjadi sandaran melukaimu

dan perulangan pertemuan di masa dulu

terasa serupa simponi beralas cadas bebatu

(Mojokerto, 2019)

Senantiasa Sudi

Hingga sampai sebuah peristiwa, untuk kali ke sekian

keyakinan pada teduhnya pandang mata itu dihadapkan

ujian satu, ujian dua, ujian tiga, terus sampai ujian

tak lagi berangka. Jika kemudian ada sesal bertaburan,

kecewa berhamburan, Sayang, itu aku, bukan!

Kau mungkin pernah menziarahi prasasti

dengan timbunan baju zirah dan namaku terpatri?

Tak dapat kupungkiri, tapak-tapak kaki

ini terasa berat beribu kati

sarat luka yang kita garit sendiri,

dari pagi sampai pagi ke seratus ribu pagi lagi.

Tapi. Simpan jantungmu di almari

ketenangan. Bukan aku yang menduakan, apalagi

menjadi pelakon kisah-kisah pengkhianatan (diri).

Teduh matamu masih seindah lengkung pelangi

kemarin, sekarang, juga nanti.

(Mojokerto, 2019)

Wajah-Wajah Penantian

wajah segelas anggur adalah penantian

hangat namun membubung-lupakan

penantian lalu serupa wajah kepompong kupu-kupu

diam selalu serta pekat harapan tanpa ragu

terkadang penantian menjelma wajah pukat harimau

tertebar dan segala ikan diterkam mau

penantian pun mampu menjadi wajah cermin

buram, retak, bahkan pecah saat nir ingin

di muara usia, wajah penantian adalah penantian

tak ada gelombang; mematung di baris antrian

(Mojokerto, 2019)

Kereta Kenyataan

Nampaknya kereta akan segera tiba

kaki dan matanya disimpan jauh di lubuk

tak terjangkau gapai tangan-tangan kita,

“Kalau engkau enggan, aku bisa mohonkan

padanya, agar gerbong itu tak menelan

lalu cerita kita dilanjut-bacakan

sampai banyak yang berseru kehilangan,”

kataku padamu, sementara auman

kereta itu menyerbu telinga penuh perasaan.

“Di ngarai yang akan kutuju,

akan terajut cerita sebiru ini, tak perlu

risau kau tikamkan bersanding kelu,” jawabmu.

Kereta pun telah membujur lalu menamparku

dengan peringatan; “Siapkah aku

menerima? Kenyataan bukanlah harapan itu.”

(Malang, 2018)

Kitab Luka

Tapi,

bagaimana jika aku kencing berdiri

dan jakun kemudian tumbuh di tepi?

Pencarianku tentang akar

kemudian sampai pada halaman

kitab batang, dahan, daun,

bunga, buah, dan benih.

Di kitab terakhir,

kupukul perutku kencang-kencang.

Di sana,

tak ada rahim yang menggelinjang.

Serapah lalu menjadi kelaziman

yang mengalir, membuncah, dan

muncrat ke segala arah.

Kukutuk siapa saja,

kukutuk apa saja,

bahkan sesuatu yang bertahta

di lapisan luka kulit (entah) ke berapa.

(Surabaya, 2019)

Serupa Menimba Air Mata dari Tempayan

biar saja hujan menghapus kemarau

membasahkan tanah merah

membasahkan batang rebah

air mata tak melukiskan

sekian warna

air mata serupa

lonceng yang berdentang

sekali

lalu sunyi

pegang lengan ini

tak ada yang memilih menjadi berarti

dan atau tanpa nama sama sekali

tapi menjadi muara harapan

adalah pilihan

meski tak berbeda dengan

menimba air mata dari tempayan

di dapur rumah sendiri

(Mojokerto, 2019)

Diterkam Gamang

Lembaran demi lembaran daun ini bersulamkan benang berdebu,

bertuliskan catatan panjang tentang bulan juga kupu-kupu.

Lembarannya telah usang dan sudut-sudutnya hilang disudahi waktu.

Bersama perca-perca harap dilepas rindu

dan kekecewaan bersandar di dermaga kalbu,

selangkah maju memikat di gamang membukit-membatu.

Apakah semuanya akan seperti isi lembar demi lembaran daun itu?

Pertanyaan berkalung melati itu membuat semuanya menghela

nafas tanpa sesumbar dan bintang jatuh di atas para-para,

pecah, berai, sunyi. Aku segera saja menyalakan tungku tua,

kuseduh secangkir teh. Lalu, aku ingin menjemput impian yang tersisa,

tinggal selembar pula.

Diterkam gamang, aku mengukir prasasti pengakuan. Sebab di jalan,

aku berpapasan dengan perempuan muda yang

membawa kisah lain. Tentang kupu-kupu bersayap pedang

yang memakan lembaran-lembaran daun catatan. Dan aku segan menghadang,

karena aku terlalu lelah dan ingin segera tidur setelah sepanjang

usia ini diterkam gamang.

(Mojokerto, 2019)

Laki-Laki di Mata Perempuan Ketika Musim Bunga

telah usai sebuah musim bunga

batang pohon lipat dedaun bersahaja

setangkup kuncup pun tiada bersiul

tak ada sesal, tak ada sesal, air mata memanggul

     telah kucium beragam bunga

     dan sesajen mengutuk kaki yang kubenamkan di tanah *)

menambatkan perahu hati

adalah pilihan, sejak anak-anak pertama Adam-Hawa

namun ada yang menguliti tubuh ini

meski ruh masih di kandung badani

kerna perahu tertambat di tiang pancang sudraloka

alangkah kejam laki-laki di ufuk pandang perempuan

kami bebas melengkungkan janur

sementara mereka mengaduh

saat pecah perawan dan atau melahirkan

(Surabaya, 2018)

*) bait kedua puisi “Patiwangi” karya Oka Rusmini, Horison – XXXV/4/2002

Anjrah Lelono Broto tinggal di Trowulan-Mojokerto. Menulis esai, cerpen, puisi dan geguritan. Bebeberapa karya pribadi dan bersamanya adalah Syukuran (naskah monolog, 1998), Blossom In The Wind (saduran naskah teater, 1999), Lilih (antologi geguritan, 2004), Negeri Di Angan (antologi esay, 2008), Esem Ligan Randha Jombang (antologi geguritan, 2010), Orasi Jenderal Markus (naskah monolog, 2011), Pasewakan (antologi geguritan, 2012), Tasbih Hijau Bumi (antologi puisi, 2014), dan Emak, Sayak, Lan Hem Kothak-Kothak (antologi cerpen berbahasa Jawa, 2015). “Nampan Pencakan (Himpunan Puisi, 2017). Karya naskah teaternya “Nyonya Cayo” meraih nominasi dalam Sayembara Naskah Lakon DKJT 2018. Dapat disapa di e-mail:[email protected], FB: anjrahlelonobroto, IG: anjrahlelonobroto

Buku, Resensi

Pengarang Dodit: Alusi dan Obsesi, Biografis dan Spekulatif

Resensi oleh: Galeh Pramudianto

Ketika berbicara pelancong waktu dalam tatanan fiksi, ketika itu pula perulangan telah kali dilakukan. Begitu pula ketika kita berbicara kumpulan cerita pendek. Banyak pola dan konsep yang jatuh pada perulangan. Beberapa di antaranya mengambil karya-karya yang telah terbit duluan di media cetak, kemudian dianggit kembali dalam suatu buku. Tentu tidak ada yang salah dengan itu. Setidaknya bagi saya sendiri ketika membaca sebuah karya, ada hal yang kiranya bisa didapat, misal: (1) gagasan apa yang dituangkan atau tidak ada gagasan sama sekali untuk dituangkan (keduanya sama baiknya), (2) warna atau premis apa yang diangkat atau setiap cerita tidak memiliki warna yang sama (yang pertama memudahkan pembaca untuk mengklasifikasikan tema tertentu), (3) bagaimana teknik dan gaya dimainkan (narasi besar atau tema remeh temeh sekalipun akan menarik bila memperhitungkan ini).

Ketika seseorang secara sadar memutuskan untuk menulis, maka ia telah tahu masalah dan bobot kehadiran apa yang akan diangkat. Pengarang Dodit, kumpulan cerpen perdana milik Doni Ahmadi berjalan pada lintasan yang tepat. Ia tahu buku ini berjalan di lintasan mana, masalahnya apa dan bobot kehadiran yang bagaimana. Membaca Pengarang Dodit memaksa saya mengingat perjalanan setiap orang untuk menjadi kerani atau juru tulis atau penulis.

Perjalanan seorang yang biasa bercerita dengan lisannya akan jauh berbeda dengan perjalanan seorang yang biasa bercerita dengan ragam bahasa tulis. Seorang penulis kiranya bisa mengalami berbagai hal: kesepian, gangguan internal maupun eksternal, dan kompleksitas pikiran. Menulis selalu tidak mudah, bagi yang percaya menulis itu gampang maka daya jelajah dan tujuan menulisnya tidak seluas obsesinya. Berbicara obsesi maka berbicara hakikat hidup itu sendiri. Tentang perasaan-perasaan yang merasuki pikiran dan pertanyaan yang berkelindan. Hal itulah yang diamini Doni Ahmadi pada halaman awal buku ini. Ia menganggit pernyataan Budi Darma soal obsesi pengarang.

Berbicara obsesi, saya coba menerka obsesi Doni lewat teks-teks di Pengarang Dodit ini.

Cerita-cerita di dalam Pengarang Dodit tidak semuanya berlandaskan struktur dramatik Aristotelian: pembukaan, pengenalan, klimaks, antiklimaks, leraian, dan penutup yang menjadi template penulisan cerpen umumnya. Doni hendak menyuarakan bahwa cerita tidak semata tentang isi atau apa hal yang disampaikan, tetapi juga tentang bagaimana cara menyampaikannya.

Saya kira di rimba kesusastraan Indonesia yang tidak terlalu luas ini, setiap penulis hendak menyuarakan keresahan-kepentingannya. Ada yang menulis tentang kampung halamannya dengan semangat pariwisata, ada yang menulis tentang adat istiadat yang lekat dengan kehidupannya, ada yang menulis tentang negeri-negeri yang jauh dengan semangat turisme warga dunia ketiga, ada yang menulis tentang dirinya sendiri dengan semangat megalomania, ada yang menulis tentang nabi-nabi baru di setiap komunitas kebudayaan, ada yang menulis cinta dengan lika-liku perbudakannya, ada yang menulis angkasa luar dengan semangat pseudosains, ada yang menulis tentang isu-isu politik yang seksi, dan ada yang menulis tentang penulis itu sendiri dengan segala riwayatnya.

Fiksi Biografis dan Spekulatif

Doni saya pikir berada di pilihan terakhir dengan ragam upayanya. Ia secara terbuka memainkan makna tekstual dengan makna referensial. Ada keterkaitan antara semesta fiksi di dalamnya dengan realitas kesusastraan Indonesia itu sendiri. Saya membacanya sebagai gelagat untuk mempertanyakan, atau mengolok-olok (parodi) para gerombolan penulis dan hubungannya dengan sejarah serta kritik sastra. Doni dengan terbuka menjahit pengaruh yang ada pada karya-karya penulis Indonesia maupun dunia. Coba simak cerita yang panjang Dari Obituari Pengarang Dodit sampai Malam Celaka. Cerita itu adalahsebentuk alusi dengan obsesi yang imajinatif. Bahwa orang yang dekat dan bermanfaat dengan penulis bukanlah yang hanya memiliki nama besar, namun lebih kepada biografi-kisah di sebuah antara. Cerita berawal dari seorang penulis (Mustofa Sentot) yang mendapatkan banyak ilmu dan inspirasi dari penulis lainnya (Dodit).

Mustofa merasa kehilangan dan amat terpukul ketika penulis yang menginspirasinya dalam menulis, meninggal dunia. Konflik terjadi ketika seorang penulis lain (T.B. Simatupang) meninggal di hari yang sama. Cerita bergulir dengan ragam teknik dan gaya: pewaktuan retrospeksi dan cerita berbingkai. Kalau kita tidak membaca secara cermat dan hati-hati maka kita akan mudah tergelincir. Karena selain teknik dan gaya yang dimainkan, Doni juga memainkan tokoh-tokoh cerita di dalamnya dengan alusi. Dengan peristiwa-peristiwa yang lekat dengan rimba kesusastraan kita.

Ia adalah sastrawan avant-garde yang masyhur dan selalu menjadi pusat pembicaraan khalayak sastra. Hal itu ia dapatkan berkat sumbangsih beberapa karya besar yang beliau kerjakan, di antaranya adalah Merahnya Biru (2000) yang menyabet penghargaan nasional Bujur Sangkar Award. Lalu Jia-Ilah (2005) yang meraih penghargaan karya sastra terbaik Asia Tenggara. King Kooong (2011) yang menyabet dua penghargaan sekaligus (karya terbaik versi majalah Tempe dan pemenang Teen Booker Prize). Lalu Kerang (2017) yang meraih penghargaan sastra dari Pusat Bahasa serta masuk dalam 5 besar Teen Booker Prize. Lalu ada lagi kumpulan cerita pendek Tegak Ngaceng Dengan Langit (2015) dan Kumpulan puisi Malam Jubaidah (2013) yang masing-masing meraih sukses dengan terjualnya kedua buku tersebut sampai lima puluh ribu eksemplar. (hlm. 77)

Bagaimana? Saya kira itu familier bila kita mempertimbangkan dan mengais ingatan kita saat membacanya: Iwan Simatupang. Atau merasa hal yang imajiner sepenuhnya lahir dari gelas osong? Saya kira tidak. Coba intip siapa itu Johan Kartawijaya dan permainan alusinya. Ia berkorelasi dengan lagu Surabaya Johnny karangan Bertolt Brecht dan bagian dari drama musikal berjudul Happy End. Merasa terganggu ketika diberi tahu? Saya kira cerita yang baik bila diberi beberan (spoiler), tetap akan sesuai jalurnya dan kenikmatan akan membaca tidak akan berkurang. Kemudian ia menempelkan hal-hal yang ia suka untuk dielaborasi menjadi parodi yang bisa mengganggu atau justru memikat (tergantung horizon pembacaan).

M. Sentot Wijayanto (1987) merupakan penulis novel dan cerita pendek. Karya-karyanya yang telah terbit, novel: Sembilan Kunangkunang di Perempatan (2009), Catatan Panjang Pembunuh Arturo Belaño (2010), Raden Janggut di Rumah Jaga Lima (2011) dan Petualangan Olenka dan Alit di Trafalmadore (2018). Cerpen: Upaya Jonru Menjadi Anjing yang Masuk Surga (2012), Tujuh Tahun dalam Kendali Partai Setan (2014) dan Cerita Buruk yang Membuatmu Ingin Bunuh Diri (2015). Serta satu kumpulan esai: Mendengar Novel dan Membaca Audiobook (2017). (hlm. 105)

Kisah semacam fiksi biografis-parodi ini bukanlah hal yang baru di kolong langit dan di atas tanah. Bila sekadar menyebut: kisah-kisah seribu satu malam telah banyak diambil bentuknya untuk kepentingan cerita lainnya.  Borges dengan A Universal History of Infamy, Bolano dengan penulis sayap kanan di Amerika Latin lewat Nazi Literature in the Americas, dan Bartleby & Co. milik Vila-Matas. Genealogi semacam ini menunjukan betapa pentingnya horizon pembacaan akan sejarah sastra maupun otokritik itu sendiri.

Bentuk fiksi biografis lainnya terdapat di Cerita Dodit dan Rahasia Penulis Joni, Sebastian Bejo yang Fenomenal dan Soal Nasib. Di Cerita Dodit, Doni memilih jalur yang saya katakan sebelumnya: menulis tentang kepengrajinan (craftmanship) penulis itu sendiri. Bahwa penulis pada dasarnya memiliki peluang untuk menuangkan gagasannya dalam kesempatan apa pun. Mitos writer’s block saya pikir tidak ada. Ia hanya bentuk kemalasan homo sapiens yang identik dengan bentuk lainnya: homo ludens dan fabulans. Pada dasarnya setiap manusia bisa bercerita dan memanfaatkan setiap peluang yang ada setelahnya:

Oh iya, hal gila yang saya maksud itu adalah mengambil karya-karya dari pemenang Nobel Sastra masa depan untuk saya plagiasi. Tapi akhirnya saya memutuskan hanya mengambil tiga novel saja dari seorang pengarang bernama Billy Pilgrim, tepatnya pemenang Nobel sastra di tahun 2089. Untungnya format buku digital ini dapat saya ubah ke format lama agar dapat dibuka lewat komputer saya, memang teknologi masa depan itu betulan canggih! (hlm. 20)

Membuat tokoh fiktif dalam semesta fiktif bukanlah hal baru dan membuatnya hidup serta berguna dalam kerangka cerita itulah tugas penulis. Doni dalam hal ini tidak melanggar Chekhov’s Gun: apa yang ada di cerita semuanya berfungsi. Seperti di cerita Sebastian Bejo yang Fenomenal. Membaca kisah ini seperti hendak menonton Memento karya Nolan bersaudara. Bahwa ingatan yang buruk adalah titik pijak sebuah cerita bisa banyak berkelok. Dalam hal itu kita bisa memahami bahwa sebaik apapun dalam menulis, kalau akhirnya bermasalah dengan ingatan, maka nasibnya tak baik-baik amat. Seperti cerita Soal Nasib itu sendiri: ia mengisahkan pesepakbola, kalau boleh saya menebak maka itu adalah alusi dari David Beckham.

Setelah bermain di ranah fiksi biografis, Doni pun kembali bermain dengan persoalan waktu dan hal-hal spekulatif lainnya. Pada kisah Tentang Ucup Karbol yang Kelak Diperdebatkan, misal.Cerpen dibuka dengan maklumat kematian tokoh utama, yang dituturkan oleh sobat karibnya. Setelahnya kisah bergerak lewat dimensi pewaktuan retrospeksi. Secara kronologis cerita berjalan lewat pengakuan tokoh aku bersama Ucup Karbol menjalani hari-hari yang biasa saja atau sama sekali tidak biasa-biasa saja. Atau elaborasi keduanya. 23 Mei 2020, menjadi mula dari konflik. Cerita bergerak setelah Ibunda Ucup Karbol mengalami peristiwa yang kurang mengenakan. Setelahnya bisa diterka sendiri. 

Hal terpenting dari kisah fiksi ilmiah sebenarnya adalah tentang perabotan atau piranti apa yang digunakan. Karena medium cerita adalah meyakinkan banyak pihak dan persepsinya harus sama dengan batok kepala lainnya. Di kisah ini, bagaimana menemukannya dan fungsinya untuk apa? Lewat medium surat, akhirnya itu terjawab. Jelas tidak dipaparkan secara detil. Karena ruang untuk itu barangkali bisa dieksplorasi di novel atau lakon dan bentuk lainnya yang lewah dan memungkinkan.

Sebentuk alusi lainnya termaktub pada penamaan tempat yang familier: Rumah sakit Kepala Gadung, Kecamatan Bodong Gede dan Bodong Kecil. Elemen itu terbangun dengan terjaga dan tidak mubazir.  Entah kenapa saya membayangkan suatu saat nanti Ucup Karbol bisa berkolaborasi dengan Marty McFly, untuk menciptakan mesin waktu yang lebih spesifik dan berbentuk, misalnya, DeLorean DMC-12 di trilogi Back to The Future.

Persoalan waktu, gempa waktu, dan dejavu selalu bermain di pewaktuan yang tidak linear. Alih-alih manut pada biografi tubuh yang menghamba pada waktu, Doni menentangnya dan bermain-main di wilayah itu. Anto Lakban dan Beberapa Peristiwa di Sekitar Teh Hangatadalah manifestasi dari Hukum Murphy: ketika Anda merasa sial, maka kesialan itu keniscayaan. Bagi saya setiap orang punya mesin waktu versi mereka sendiri: ada yang bermimpi, ada yang mendengarkan lagu lama, ada yang membaca ulang lembar tertentu dalam jurnal, dan ada yang merasakan ketika membaca spektakel dan adegan-adegan di dalam cerita ini. Konsep manusia soal waktu dan masa depan memang menarik untuk diikuti.

Doni dalam kumpulan ini seperti memiliki agenda tertentu, misal dalam kisah distopia Sebelum Adam dan Eva Memulai Peradaban. Teori penciptaan ia kemas dengan subtil lewat rangkaian peristiwa. Peristiwa-peristiwa di dalamnya tak hendak mengatakan “akulah yang paling benar dan jawaban atas segala keresahan di muka Bumi.” Apa yang kita anggap baik, belum tentu dengan lainnya. Kebenaran tunggal tidak berlaku di zaman tsunami data seperti ini. Meski begitu, cerita-cerita di kumpulan ini tidak hanya bermain di wilayah alusi dan spekulatif. Ia bisa berupa realisme magis di Tentang Ki Mantep, Dodit dan Telur Bebek, bernuansa detektif-thriller di Misteri Jim dan Pembunuhannya, dan bernada liris-sentimentil di Bagaimana Lelaki Pemalu menjadi Filsuf dan Mati dan Trilogi Luca.

Selain cerpen-cerpen di atas, ada juga bentuk cerita mini (flash fiction), seperti Tanda Pagar, Seorang dari Masa Lalu di Sebuah Bus Kota, Takdir Buruk, dan Wawancara. Untuk bagian ini seperti ada kesan “dimasukan agar menambah bobot kehadiran”, terlepas dari itu, Pengarang Dodit mampu mengejawantahkan cerita yang tak melulu pada pakem Aristotelian. Saya pikir sepertinya itu perlu.

Bintaro, April 2019

Galeh Pramudianto, lahir di Tangerang Selatan, Banten, 20 Juni 1993. Bekerja sebagai tenaga pendidik dan salah satu pendiri media Penakota.id. Buku puisi keduanya berjudul Asteroid dari Namamu (basabasi, 2019).

Ragam

Melihat Peta Baru Perupa Indonesia

Pameran Seni Rupa “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme”

Galeri Nasional Indonesia kembali menggelar Pameran Seni Rupa Nusantara 2019. Acara tersebut sudah dimulai pada 23 April hingga 12 Mei 2019. Gelaran ini bersifat terbuka dan memberikan kesempatan bagi para perupa di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi, menunjukkan potensi dan kreativitas, serta eksistensinya dalam ajang seni rupa bertaraf nasional, baik bagi para perupa muda maupun para perupa handal yang telah lama berkecimpung di dunia seni rupa dalam lingkup nasional maupun internasional. Karena itu, pameran ini sekaligus menjadi media pemetaan perkembangan mutakhir seni rupa di tanah air.

Foto-foto: Dok. Galeri Nasional Indonesia

Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto mengatakan, Pameran Seni Rupa Nusantara 2019 berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Kali ini, pameran ini tidak hanya menitikberatkan pada keterwakilan suatu wilayah, namun lebih menekankan pada keterampilan (skill) para perupa Indonesia yang diwakili dari hasil karyanya yang tentu sesuai dengan tema pameran yaitu “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme”.

“Pameran ini dimaksudkan sebagai sebuah pergulatan luar biasa sesuatu tanda dari berbagai proses kombinasi, dan dari pergulatan itu memungkinkan lahirnya tanda baru. Kelahiran tanda baru akan terus berulang-ulang mengikuti hukum alam sepanjang masa. Persoalan apakah yang baru akan sama dengan yang lama atau lain sama sekali adalah kehendak yang harus kita terima sebagai sebuah proses dialektika,” kata Pustanto.

Menurut Pustanto, modernisme dalam seni seharusnya menghasilkan spirit “shock of the new”, di mana menyuguhkan ‘kebaruan’ adalah ukuran utama dalam perkembangan seni. “ Pada pameran ini, kita ingin melihat kembali kaitan gagasan penciptaan karya masa kini dengan gagasan, ide, pemikiran tradisional yang sesungguhnya terus berkembang. Tradisionalisme di Indonesia berjalan dengan sama lajunya dengan perkembangan modernisme sebagai negara-bangsa poskolonial, walau keduanya berbeda konsep, namun pada praktik sosial kulturalnya bercampur baur membentuk rangkaian gagasan dan praktik yang tak terhingga,” ujar Pustanto.

Pada pameran yang dikuratori oleh Asikin Hasan, Sudjud Dartanto, Suwarno Wisetrotomo, Bayu Genia Krishbie, dan Teguh Margono ini, menampilkan 55 karya dari 55 seniman yang diperoleh melalui mekanisme seleksi yang sangat ketat. 36 di antaranya merupakan hasil seleksi 886 karya dari 677 seniman yang dijaring melalui aplikasi terbuka, sedangkan 19 seniman dan karyanya merupakan undangan secara khusus berdasarkan pertimbangan kuratorial. Keseluruhan karya-karya yang ditampilkan menunjukkan eksplorasi media yang kaya, di antaranya lukisan, patung, grafis, batik, dan instalasi.

Dari proses panjang itu, deretan karya-karya dari perupa seperti Nasirun, Ade Pasker, Sasha Yuliana, Prabu Perdana, Tri Wahono, Ayu Laksmi, Heri Dono, dan nama-nama perupa lainnya bisa dilihat di sana. Salah satunya, karya Hono Sun yang bertajuk “Merti Desa” yang menggambakran tentang upacara adat Jawa saat memberikan sesaji kepada danyang atau leluhur desa setempat. Sesaji berasal dari kewajiban setiap keluarga untuk menyumbangkan makanan. Merti Desa dilakukan oleh masyarakat desa untuk membersihkan desa dari roh-roh jahat yang mengganggu, maka sesaji diberikan kepada danyang, karena danyang dipercaya sebagai penjaga sebuah desa.

Ada juga  karya Ajeng Martia Saputri, dengan “Happiness for Sale #2” yang mengingatkan bahwa menjual kebahagiaan adalah sesuatu yang kita lakukan setiap hari, seringkali tanpa disadari. Kebanyakan manusia bertahan hidup dengan cara menukar waktunya dengan uang, yang kemudian uang itu akan ditukar dengan materi yang dianggap bias mendatangkan rasa bahagia dan kepuasan batin.

Konsep lokalitas lainnya juga bisa kita tangkap seperti pada karya I Made Djirna yang menampilkan warna lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui karya “Warna-Warna NTT”. Warna lokal tersebut terinspirasi dari kain tenun tradisional NTT. Wilayah NTT bagian barat dominan dengan warna cokelat, bagian tengah didominasi warna hitam, sedangkan bagian timur merupakan perpaduan cokelat dan hitam dan I Wayan Sujana dengan karyanya “Di Atas Tulang Belulang Agraris” juga menampilkan tradisi melalui kletekan: alat tradisional terbuat dari bambu yang berfungsi sebagai pengusir burung. Pada lukisan digambarkan ribuan kletekan berebutan menyangga sang calon presiden periode 2019-2024 sebagai analogi posisi masyarakat dan pemimpinnya. Lukisan ini diperkuat dengan instalasi kletekan.

Selain pameran, perhelatan ini juga dilengkapi dengan Program Publik berupa Diskusi Seni Rupa “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme” dan Kunjungan ke Museum MACAN, pada 24 April 2019 lalu. Diskusi Seni Rupa dirancang untuk menajamkan wacana yang diusung melalui presentasi karya-karya di ruang pamer, dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidang seni rupa. Sedangkan Kunjungan memberikan kesempatan kepada para perupa peserta pameran untuk mendapatkan pengalaman visual artistik sekaligus memperkaya informasi dan sudut pandang yang bertujuan untuk mendapatkan inspirasi berkarya.

Pustanto berharap, Pameran Seni Rupa Nusantara “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme” ini mampu memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya informasi atau pengetahuan terkait seni rupa, mengingat pameran ini juga diselenggarakan bertepatan untuk menyambut Hari Pendidikan Nasional. Selain itu, pembukaan pameran pada 23 April bertepatan dengan tanggal wafatnya Raden Saleh yang saat ini sedang dalam usulan rancangan sebagai tanggal peringatan Hari Seni Rupa Nasional Kami berharap publik dapat mengenal lebih dekat tokoh-tokoh beserta karya para perupa Indonesia yang tak kalah dengan para perupa luar negeri, baik dari segi kedalaman konsep maupun artistik visualnya. Selain itu, pameran ini diharapkan menjadi sarana wisata edukasi kultural yang mampu menarik perhatian publik dalam negeri maupun mancanegara. Juga yang tak kalah penting, diharapkan pameran ini mampu mengisi titik-titik penting perkembangan seni rupa Indonesia sekaligus mendorong perkembangan tersebut demi kemajuan seni rupa Indonesia,” pungkas Pustanto. [] Wahyu Indro Sasongko

Film, Resensi

Unicorn Store: Menjadi Dewasa adalah Ujian

Resensi Film oleh Nanda Insadani

Berapa banyak orang dewasa yang ingin kembali ke masa kanak-kanak mereka lantaran sebuah anggapan bahwa masa kanak-kanak adalah yang terbaik dibanding masa apa pun dalam hidup? Soal berapa, tidak ada yang tahu, tapi kalau soal banyak, ya tentu banyak.

Poster Film Unicorn Store

Sebabnya, tentu saja adalah ihwal pikiran; cara berpikir orang dewasa jauh tidak mengasyikkan ketimbang cara berpikir anak-anak. Anak-anak tidak pernah berpikir bahwa di dunia ini ada yang tidak mungkin, sedangkan orang dewasa sebaliknya. Berpikir bahwa segalanya mungkin, semuanya masuk akal adalah menyenangkan. Itu membuat masa kanak-kanak kita dipenuhi dengan mimpi-mimpi yang penuh warna.

Sejak kecil, kita banyak melihat hal-hal asing yang begitu menghibur dan membahagiakan hati dari tayangan televisi atau buku-buku bergambar yang pernah kita miliki. Ambil saja sebagai contoh, seekor kuda bertanduk dengan surai keemasan yang bisa terbang—yang kita sebut Unicorn. Kemudian, lantaran bisa menunggangi kuda terbang terlihat mengasyikkan, kita pun sempat beranda-andai ingin memilikinya. Tentu saja orang dewasa akan menertawakan impian itu. Mereka berpikir kuda bertanduk yang bisa terbang adalah fiktif, sehingga mereka akan melarang anak-anak mereka untuk tidak mengimpikannya. Lantas, siapa yang salah? Apakah anak-anak yang mengimpikan itu atau orang dewasa yang menciptakan karakter tersebut?

Brie Larson yang merupakan sosok manusia dewasa (ia lahir pada tahun 1989) mencoba menggali masa lalunya; berupaya melihat jauh ke hati masa kecilnya: apa yang ia impikan saat itu? Yang kemudian lahirlah film Unicorn Store sebagai jawaban atas pertanyaan “Bagaimana cara kita menyikapi pendewasaan diri alih-alih melupakan impian masa kecil kita?”

Debut Penyutradaraan yang “Cerah”

Sewaktu berperan sebagai Molly di 21 Jump Street (2012), barangkali Brie Larson tak akan menyangka bahwa tiga tahun ke depan ia akan diganjar gelar Aktris Terbaik oleh Academy Award—sebuah pencapaian gemilangnya dalam dunia seni peran setelah bermain penuh emosi di film Room (2015). Menggenggam Piala Oscar tidak membuat Brie lega. Ia mencoba peruntungan dengan menjadi sutradara sekaligus pemeran utama di film Unicorn Store.

Unicorn Store sebenarnya sudah dirilis pada September 2017 dan ditayangkan di Festival Film Internasional Toronto, tapi Netflix mengambil alih pendistribusian film ini pada awal April kemarin. Maka, kita dapat menyimpulkan bahwa Brie Larson menyutradarai film ini sebelum peran dahsyatnya di salah satu film Marvel Cinematic Universe, yakni Captain Marvel yang dirilis awa Maret lalu.

Sebuah aksi “multifungsi”—yakni menjadi sutradara sekaligus aktor utama pada satu film, bukanlah hal yang baru. Sebut saja yang paling tersohor: Charlie Chaplin, Clint Eastwood, dan di Indonesia kita mempunyai Ernest Prakasa dan Raditya Dika. Dan Brie Larson berharap, ia juga dapat menjadi sutradara yang diperhitungkan hasil kerjanya.

Benar saja, dengan Brie duduk di bangku pengarah, Unicorn Store tampil begitu cerah dan berusaha mencerahkan pula. Identik dengan warna-warni, Brie Larson tampak berupaya semaksimal mungkin menggarap naskah buatan Samantha McIntyre tersebut. Ia juga tak luput terhadap detail-detail yang sangat sepele, seperti pernak-pernik dan segala benda yang berkaitan dengan Unicorn, si kuda bertanduk.

Banyak yang Tidak Menyukai Film Ini

Di IMDB, Unicorn Store hanya mendapatkan nilai 5,5 dan Rotten Tomatoes juga tak bisa memberi lebih selain angka 60 persen. Penulis sempat beranggapan bahwa semua penilaian buruk itu terjadi akibat “Judge a book by the cover”. Kita semua pernah mendengar masalah Brie Larson soal argumennya yang terkesan rasis dan feminis. Ternyata penulis salah, bukan itu yang membuat nilai jelek pada film, tetapi film itu sendiri.

Meski pengarahan dari Brie Larson lumayan baik, tapi pada akhirnya naskah ceritalah yang menentukan. Di beberapa bagian, Unicorn Store terasa menjemukan dan tidak jelas: entah itu soal ambisi si tokoh utama atau batasan antara dunia surealis dengan dunia nyata.

Masih dalam lingkup ketidakjelasan, Unicorn Store seperti tak tahu harus meraih penonton yang mana: anak-anak atau dewasa? Untuk tontonan anak-anak, Unicorn Store begitu sukar dimengerti. Banyak metafora di sana, dialog-dialognya yang penuh lawakan absurd juga bukan konsumsi anak-anak. Untuk tontonan dewasa, Unicorn Store tidak menjadi lebih pantas setelah kita lihat banyak serbuk perak dan gambar kuda poni bertebaran.

Perihal peran dan hubungan antar tokoh, Unicorn Store juga tidak bisa diandalkan. Brie Larson, yang berperan sebagai perempuan gagal sarjana dan egois, seolah bermain tunggal. Film seakan-akan adalah panggung milik Brie semata. Adanya Samuel L. Jackson—yang merupakan rekan Brie di dua film lainnya, Kong: Skull Island (2017) dan Captain Marvel (2018), tidak berhasil tampil menonjol dan justru malah terkesan kikuk dan aneh.

Mamoudou Athie, yang menjadi love interest-nya Brie Larson di film ini juga terasa kurang “menggigit”. Ia tampak malu-maludalam berakting sepanjang film.

Pesan untuk Dunia

Terlepas dari segala kelemahannya, Unicorn Store sebenarnya memiliki banyak pesan, hanya saja tidak disampaikan secara eksplisit. Terkait tumbuh dewasa, Unicorn Store hendak menyampaikan bahwa menjadi dewasa tidaklah mudah; menjadi dewasa adalah ujian. Di situ kita akan diuji, apakah kita akan merelakan impian imajinatif kita sewaktu kanak-kanak atau tetap hidup dengan hal itu sampai masa tua.

Pada pembukaan film saja—sewaktu Kit melukis abstrak di dinding sebagai potret dirinya, kita sudah disuguhkan sebuah nilai kehidupan yang mendalam: tak semua orang dapat menerima diri kita seutuhnya. Kit juga memberi pelajaran pada kita bahwa apabila kita berlaku egois; memaksa dunia untuk mengerti kita, maka yang terjadi adalah pengucilan dan kesulitan dalam beradaptasi. Alih-alih membesarkan kepala terhadap dunia, membesarkan hati adalah pilihan yang tepat, sehingga satu hal yang perlu kita sadari di dunia ini: hal paling dewasa yang bisa kita lakukan adalah gagal terhadap sesuatu yang paling kita pedulikan.

Nanda Insadani, yang bukan siapa-siapa ini lahir di Medan, pada awal orde Reformasi. Gemar membaca dan berpikir. Kumpulan cerpennya, Ketakutan Seorang Penulis Miskin (2019). Dapat dijumpai di Facebook dengan nama asli.

Puisi

Puisi Rizka Nur Laily Muallifa

Memasak Ibu

perempuan kecil memasak
untuk menghadirkan aroma tubuh ibunya

(Sala, 2019)

Apakah Cinta Itu

di jauh, gadis kecil bertanya
pada ibu di rumah
apakah cinta itu, bu?
cinta itu, nak
saat kamu tidak berhasrat mengubah apapun
dari orang lain
pernah kamu jatuh cinta?
kupikir belum
bahkan kepada ibu?
ya, bahkan kepada ibu

(Sala, 2019)

Halaman Belakang

kesedihan adalah mengalami pertemuan
beku
kamu tak percaya diri menemuiku di keramaian
aku tak percaya diri mencintaimu

apakah kita perlu sering-sering bertamu
di halaman pungkasan majalah mingguan
sekadar untuk bertemu
di ruang depan pikiran

(Sala, 2019)

Setengah Hari

siang baru setengah dan miring ke kanan
sebab hujan tak bercabang
bertamu di himpitan pintu kamar
di dalamnya, mataku
hilang di tiap gigitan jambu

orang-orang kecut memandang
nyala neon
seperti ilustrasi komet jatuh
di pelajaran IPA sekolah dasar
mengumpati sabtu yang gagal tidur

(Sala, 2019)

Aku Tidak Suka Bekerja

aku tidak suka bekerja.
kecuali minggu,
hari-hari jadi sibuk dan menyebalkan
aku jadi tak punya cukup waktu
memandang buku-buku

sebetulnya kamu juga, tidak
suka bekerja
tapi bekerja sudah jadi
kehidupan itu sendiri

kenapa begitu?
karena bapak sudah jarang memberi uang saku
kamu anak laki-laki, dan harus
mandiri

(Sala, 2019)

Puisi di Jalan

di jalan
aku sering jadi puisi

sekian kilometer puisi tak tercampak
ingatan
duduknya tenang
menyusun diksi sesuai warna baju

lampu tiba-tiba memerah
wajah puisi jadi ramah
diantarnya senyum koma ke tiap-tiap arah

di puluhan jalan berlubang
puisi membenamkan diri
mengamati
batu-batu kecil bergaun malam

setelah tanjakan
puisi hilang di belokan
ia, tak pernah sampai rumah

(Sala, 2019)

Lelaki Bermata Jauh

waktu dan keriuk kerupuk hijau pernah kita simpan
baik-baik di toples bekas biskuit lebaran
tiap susunan kita tata dengan pertimbangan setiti

dua ratus tiga puluh bulan kemudian
di hari rekah, kita kalah
dan sepakat tak ada lagi tiket terselip di jendela kereta yang muram
kita pilih gembok tanpa kunci untuk stasiun kota yang tenggelam

(Sala, 2019)

Rizka Nur Laily Muallifa.Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya. Aktif di KomunitasDiskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, Bentara Muda Solo

Cerpen

Perempuan Tiga Puluh Tahunan dan Lubang Hitam yang Menganga di Dinding Kamarnya

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Sungguh, ia ragu-ragu mengayunkan langkah ke lubang hitam yang menganga di dinding kamarnya. Selain karena lubang hitam itu bergerak-gerak bak api yang menyala-nyala, lubang hitam itu juga terlihat bagai moncong sebuah lorong yang amat panjang dan menakutkan. Bahkan, peluh seni yang terus tumbuh di dahinya sebesar biji-biji jagung, berjatuhan satu demi satu. Membasahi permukaan permadani klasik karya pengrajin Persia abad ke-18 yang sangat ia sukai. Namun, permukaan permadani klasik yang lembut pemberian suaminya itu, belum cukup memberikannya ketenangan untuk melawan rasa takut yang sedari tadi membingkai pikirannya. Ia lunglai. Terjatuh. Dan tak sadarkan diri.

Dalam ketidaksadaran dirinya, perempuan tiga puluh tahunan itu siuman. Ia mendapati lubang hitam yang menganga di dinding kamarnya kian besar. Cukup untuk memasukkan seekor gajah ke dalamnya. Ia pun melihat, lubang hitam itu benar-benar moncong sebuah lorong yang amat panjang dan menakutkan. Gelap dan pengap. Serta, aroma lembap yang begitu kentara.

Ia menangis. Ada kesedihan yang maha yang menyelusup ke dalam batinnya dan melukai. Darah mengucur deras. Anyir darah yang menggenangi batinnya menyeruak menyentuh sel-sel saraf yang membuatnya mual sejadi-jadinya. Ia tak kuasa menahan. Perempuan tiga puluh tahunan itu akhirnya muntah. “Tolong jangan paksa saya masuk ke dalam sana,” racaunya. Ia coba menahan sekuat tenaga. Tapi, lagi-lagi, anyir darah yang menggenangi batinnya itu kembali menyeruak dan menyentuh sel-sel saraf yang membuatnya semakin mual. Perempuan tiga puluh tahunan itu akhirnya muntah untuk kedua kalinya. “Tolong, jangan, saya mohon….”

Dalam ketidaksadaran dirinya, perempuan tiga puluh tahunan yang tadi sempat siuman dalam ketidaksadaran dirinya itu kembali pingsan. Dan, dalam pingsannya itu ia bermimpi–sama seperti mimpi yang kerap menghantuinya sejak dulu. Di mimpinya, ia melihat dirinya berjalan menyusuri lorong gelap yang ada di lubang hitam itu. Berjalan dan terus berjalan. Ia mengendap-endap. Membuntuti dirinya sendiri yang terpaut belasan langkah di depannya. Ia merasa lelah, tapi tak mampu untuk berhenti. Terus dan terus menyusuri lorong gelap hingga secercah cahaya kemerah-merahan terlihat dari ujung sana. Ia pun cepat-cepat memacu langkah. Buru-buru ingin mengetahui cahaya apa yang ada di ujung sana. Hingga tanpa ia sadari, dirinya tidak lagi berada di depannya–bahkan tidak lagi ada di sana.

Cahaya kemerah-merahan itu ternyata senja. Ya, senja. Senja yang menyelimuti tanah landai yang cukup luas yang ditumbuhi alang-alang yang sedang berbunga. Dan, dari sela-sela alang-alang yang sedang berbunga tersebut, perempuan tiga puluh tahunan melihat aliran sungai yang agak berkelok dan panjang. Aliran sungai itu mengarah ke dalam hutan. Berada persis di hadapannya. Akan tetapi, bukan lebatnya hutan dan panjangnya aliran sungai itu yang menarik perhatiannya saat ini, melainkan sesosok gadis kecil. Gadis kecil yang bermain-main di pinggiran sungai sambil mengejar seekor kupu-kupu. Setiap kali kupu-kupu itu hinggap di pucuk bunga-bunga liar yang tumbuh di tepian sungai, gadis kecil itu mengintai lalu menyergapnya. Dan, apabila kupu-kupu itu berhasil lolos, kemudian terbang terlalu tinggi atau jauh ke tengah sungai, maka gadis kecil itu akan menari-nari seolah-olah tidak memedulikan kupu-kupu itu lagi. Sampai kupu-kupu itu terkecoh lalu kembali hinggap dan gadis kecil itu akan menyergapnya lagi.

Selangkah demi selangkah perempuan tiga puluh tahunan itu mendekat. Ia melihat gadis kecil yang mengenakan gaun panjang–berwarna putih–tanpa lengan itu sedang menari-nari di hadapannya. Rambut gadis kecil itu hitam legam agak bergelombang dan panjangnya sedikit melewati bahu. Sesekali angin menerpa rambutnya, juga rambut perempuan tiga puluh tahunan itu. “Anak manis, siapa nama kamu?” perempuan tiga puluh tahunan menyapa dengan sangat hati-hati, ia tidak ingin mengagetkan gadis kecil itu.

Alih-alih menjawab, gadis kecil malah menempelkan jari telunjuknya ke bibir. Ia lantas menunjuk kupu-kupu yang masih terbang ke sana-kemari. Perempuan tiga puluh tahunan paham maksud dari gadis kecil tersebut. Ia lalu diam. Menunggu dan terus mengamati gadis kecil itu hingga senja berangsur pekat. Dan, rembulan muncul perlahan-lahan.

“Boleh saya ikut bersama kamu, anak manis?”

Gadis kecil mengangguk, kemudian berjalan menyusuri pinggiran sungai menuju hutan. Perempuan tiga puluh tahunan bergegas menyusulnya.

“Anak manis, tunggu!”

Bagi perempuan tiga puluh tahunan, gadis kecil itu terlampau gesit. Ia kesulitan mengikuti langkah gadis kecil itu ketika melewati bebatuan licin yang besarnya tiga kali dari buah nangka paling besar yang pernah ia lihat semasa kecil dulu. Perempuan tiga puluh tahunan berhenti sejenak. Ia mengatur napas.

“Anak manis, tunggu! Jangan tinggalkan saya!”

Perempuan tiga puluh tahunan langsung mengejar tatkala bebatuan licin yang sejak tadi jadi rintangannya sudah tidak ada lagi. Ia berlari sekencang-kencangnya–saat melihat gadis kecil itu lamat-lamat tenggelam ke dalam hutan.

“Kamu di mana?”

Dengan napas tersengal-sengal, ia nekat masuk dan mencari-cari gadis kecil itu di dalam sana. Ia menatap pohon-pohon besar yang akar-akarnya berjuraian menghunjam tanah. Perempuan tiga puluh tahunan itu bergidik. Ia merasa akar-akar pohon yang berjuraian itu seolah-olah hendak menggerayangi tubuh dan merobek-robek perutnya. Matanya berkunang-kunang. Dan, hampir saja perempuan tiga puluh tahunan itu pingsan, seandainya saja gadis kecil itu tidak segera menghampiri dan menjawil tangannya.

“Anak manis, tolong, jangan jauh-jauh, saya takut.”

Gadis kecil tersenyum. Ia kembali melangkah sembari menggamit tangan perempuan tiga puluh tahunan itu. Perempuan tiga puluh tahunan cuma bisa pasrah.

“Di mana kita sekarang?”

Perempuan tiga puluh tahunan mengamati pohon-pohon besar yang kini terlihat jauh lebih tinggi dan besar daripada pohon-pohon yang ia lihat tadi. Dan, akar-akar gantung pohon-pohon besar itu tampak lebih kokoh daripada akar-akar tadi yang sempat membuatnya ngeri. Ia pun melihat, di bawahnya, daun-daun yang berguguran yang telah berwarna kuning kecokelatan itu terhampar dengan sangat tebal. Daun-daun layu itu juga terasa begitu lembap.

“Kita mau ke mana?”

Gadis kecil mengarahkan telunjuknya ke sebongkah batu yang ada di dekat tebing–batu dan tebing hutan itu berjarak tinggal beberapa langkah lagi.

“Di mana rumah kamu?” perempuan tiga puluh tahunan celingukan; ia tak melihat sebuah rumah–atau apa pun yang bisa dijadikan sebagai tempat tinggal–di sekitar situ.

Dengan ringan gadis kecil itu tersenyum.

“Di mana orangtua kamu? Saya tak melihat siapa pun di sini selain kamu,” perempuan tiga puluh tahunan langsung duduk menyandar pada batu yang tadi mereka tuju. Ia kelelahan. “Papa kamu di mana?”

Gadis kecil menggeleng. Ia tampak murung.

“Kamu tidak punya papa?”

Gadis kecil bergeming.

“Maafkan saya sudah menanyakan hal itu.”

Suasana tiba-tiba menjadi kaku. Perempuan tiga puluh tahunan menyesal telah membuat gadis kecil itu bersedih. Meskipun dalam hatinya, ia iri pada gadis kecil tersebut. Ia senantiasa iri pada tiap-tiap anak yang tidak mempunyai papa. “Beruntunglah manusia yang tidak mempunyai papa. Beruntunglah Isa putra Maryam. Beruntunglah kamu, anak manis,” gumam perempuan tiga puluh tahunan itu seraya melempar pandang ke arah langit. Memandangi bintang-bintang yang terlihat–yang tidak terhalangi oleh kerindangan pohon-pohon besar itu. Sejenak kemudian, perempuan tiga puluh tahunan memejamkan mata, “Seandainya saya seperti kamu.”

“Bagaimana dengan mama kamu? Kamu pasti punya mama, kan?” perempuan tiga puluh tahunan kembali menoleh. “Di mana dia sekarang?”

Gadis kecil tidak menjawab.

“Oh, anak manis, tolong jangan katakan kepada saya, kalau kamu tidak seberuntung itu. Setidaknya, dulu, saya pernah mempunyai seorang mama yang sangat baik,” perempuan tiga puluh tahunan menghela napas cukup panjang, “walau TBC akhirnya membuat dia mati.”

“Ta-nah.”

“Apa?” tentu saja perempuan tiga puluh tahunan itu mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh gadis kecil tersebut. Akan tetapi, mengapa gadis kecil itu berkata demikian; tanah?

“Ibuku adalah ta-nah.”

Perempuan tiga puluh tahunan terperanjat mendengar perkataan gadis kecil tersebut. Ia tatap gadis kecil itu dengan saksama. Gadis kecil lalu mendekat. Mengangsurkan tangannya pada perempuan tiga puluh tahunan. Mengajak perempuan tiga puluh tahunan itu melihat sisi sebaliknya dari batu yang ia jadikan sandaran. Dan, di situ, di sela-sela antara batu dan tebing hutan itu, perempuan tiga puluh tahunan mendapati gundukan daun yang tidak terlalu tinggi. Gadis kecil lantas menunjuk gundukan itu.

Dengan sigap perempuan tiga puluh tahunan menyibak daun-daun layu yang terasa basah dan menutupi ceruk di sela-sela batu dan tebing hutan itu. Betapa terkejutnya ia, kala mendapati kerangka bayi yang tersembunyi di balik serasah pada sebuah ceruk di lantai hutan. Bahkan, tengkorak bayi yang ia temukan itu tidak lebih besar dari kepalan tangannya. Dan, kerangka bayi yang masih terlihat utuh itu juga tampak seperti kerangka bayi yang baru saja dilahirkan.

Ia mengerang. Sesuatu berdetak dalam perutnya. Makin lama makin terasa. Dan semakin kencang. Detak itu seolah berkejar-kejaran dengan detak jantungnya sendiri. Sesuatu yang ada di perutnya itu kini berontak. Menendang-nendang. Memukul-mukulnya dari dalam. Perempuan tiga puluh tahunan mendekap perutnya yang membesar. Ia berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakitnya. Dan tiba-tiba saja, bak menerima hantaman keras, perempuan tiga puluh tahunan itu terpekik, “… akhh!” Ia terpelanting jauh. Seketika segalanya jadi menghitam.

“Hahaha.”

“Hahaha.”

“Mari bersulang.”

“Mari kita rayakan.”

Suara ramai orang yang bercakap-cakap itu membuatnya terbangun. Samar-samar, serupa bayangan, dilihatnya dua orang yang tengah asyik bercakap-cakap itu mengangkat gelas dengan penuh sukacita. Ia masih terbujur lemah di atas permadani klasik karya pengrajin Persia abad ke-18 yang sangat ia sukai itu. Dan, mereka, dua orang laki-laki tua yang bercakap-cakap sambil tertawa-tawa itu kian menjengkelkan. Perempuan tiga puluh tahunan mengerjap-ngerjapkan mata. Berharap dua laki-laki tua yang saling berbesan itu lenyap dari penglihatannya. Perempuan tiga puluh tahunan kemudian menangis. Ia teringat seorang lelaki yang dulu pernah ia jadikan kekasih dalam khayalannya. Laki-laki yang kerap memberikannya bahu tiap-tiap ia merasakan sedih. Laki-laki yang seringkali mengusap-usapkan hidungnya ke pipi, leher, juga payudara dan selangkangannya. Laki-laki yang tidak pernah lupa mengecupkan bibirnya dengan penuh penghayatan. Dan, laki-laki itu, sayangnya mati dengan cara yang entah bagaimana. Perempuan tiga puluh tahunan tidak pernah tahu. Ia tak pernah paham. Namun, dalam lamunannya, ia meyakini, bahwasanya laki-laki itu mati dimangsa kawanan serigala lapar. Sebagaimana yang pernah diceritakan mamanya dahulu: cuma serigala laparlah yang tega menghabisi nyawa orang baik-baik. Dan serigala lapar itu tentu tidak akan melakukannya sendirian.

Dua laki-laki tua saling berbesan itu kini raib dari penglihatannya. Ia melihat lubang hitam yang menganga di dinding kamarnya masih bergerak-gerak bak api yang menyala-nyala. Dan, di depan lubang hitam yang menyala-nyala itu pula, ia menyaksikan dirinya tengah mengendap-endap membuntuti gadis kecil yang berjalan menyusuri lorong gelap dan menakutkan itu. Ia tak kuasa menahan. Perempuan tiga puluh tahunan itu menangis sejadi-jadinya.***

Abdullah Salim DalimuntheTinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.

Cerpen

Setelah Menulis Puisi Tentang Kematian Sosok M

Cerpen Wawan Kurniawan

Dia menulis sebuah nama di dalam puisinya, berinisial M. Bila kau membacanya, tentu saja itu akan membuatnya semakin mengerti, bahwa puisi itu ditulis tidak sembarangan. Ada banyak alasan mengapa dia menulis puisi untuk M, salah satunya karena sosok berinisial M itu datang menemuinya melalui mimpi. Di atas pesawat menuju Belanda, melalui racun arsenik— seseorang berhasil merenggut nyawanya. Malam kemarin, dia kembali memimpikan sosok M.

“Kau tak perlu menulis puisi tentang kematianku!” pinta sosok M dalam mimpinya.

“Mengapa?” Dia terdiam sejenak lalu kembali angkat bicara, “Saya sudah mengetahui kisahmu dari ayah saya, dia kenal siapa yang membunuhmu tapi dia telah terbunuh oleh orang bejat itu.”

“Sudahlah, jika kau masih ingin menikmati duniamu, berhentilah menulis puisi tentang kematianku.”

“Saya tak takut dengan mereka, saya bahkan ingin membalas dendam ayah saya.”

“Tunggu dulu…” belum sempat sosok M menjelaskan sesuatu, dia terbangun dengan tubuh penuh keringat.

Di dinding kamarnya, sebuah sketsa wajah sosok M terbingkai dan terpajang di samping rak buku. Dia melihat wajah sosok M dan bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa?”

Dia tak heran melihat sosok M datang dalam mimpinya. Ini bukan kali pertama, sudah tiga bulan lamanya. Sebuah media nasional memuat puisi-puisinya dan beberapa orang menayangkan potongan puisinya di instagram. Tiap kali dia melihat puisi-puisinya, ada keberanian yang membuatnya ingin terus menulis. Dia ingin mengenang sosok M dalam puisinya. Tapi di saat yang bersamaan, dia ragu jika benar-benar menulis untuk mengenang sosok M.

Seminggu setelah mimpi terakhirnya bertemu sosok M terjadi, sebuah puisi dia tulis sepanjang tujuh halaman tanpa rima dan irama, seperti yang sering dia lakukan dalam beberapa puisi sebelumnya. Hanya ada sebuah metafora yang sulit dipahami. Bertahun-tahun setelah puisi itu ditulis, kabarnya menghilang. Tak seorang pun mengetahui keberadaan penyair kita ini. Sosok M hilang belasan tahun lalu dan kematiannya masih dikenang orang-orang yang mencari kebenaran. Penyair kita hilang dalam puisi dan di dalam mimpi, dia datang menemui seorang pelajar yang hendak ke Belanda agar tak meneguk minuman di pesawat dan dia akan selamat. Tapi seperti itulah mimpi.***

Wawan Kurniawan menulis puisi, cerpen, esai, novel dan menerjemahkan. Menerbitkan buku puisi pertamanya yang berjudul, Persinggahan Perangai Sepi (2013), Sajak Penghuni Surga (2017). Serta diundang sebagai penulis Indonesia Timur di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2015. Salah satu novel karyanya yang berjudul Seratus Tahun Kebisuan menjadi Novel Pilihan Unnes International Novel Writing Contest 2017. Twitter: @wnkurn