Katalog

Cerpen

Berakhirnya Kuasa Tuan Tanah

Cerpen Ken Hanggara

Tuan Markoni memberiku segenggam tanah untuk kubawa pulang. Orang-orang di teras rumah mewah itu menatapku gembira. Aku tak bisa berkata apa-apa. Bukan karena tak mampu melawan, melainkan terlalu banyak lelaki bertubuh kekar berdiri mengawal tuan tanah keparat itu. Akhirnya, aku mundur. Pulang, meski jelas semua tahu entah ke mana aku bisa pulang. Satu-satunya yang terlintas di benakku adalah rumah Sapono.

Rumah itu terletak di tepi desa, dekat sebuah hutan dan jurang yang semenjak dulu dikabarkan sebagai titik terkutuk; iblis dan sekutunya kerap bercengkerama di jurang itu. Tidak sedikit orang mencari harta dan kuasa di bagian tergelapnya. Entah sejak zaman apa jurang dan hutan itu dianggap keramat dan entah berapa banyak orang yang sudah membuktikan. Orang-orang desa sendiri tak tahu. Mereka hanya berkata, “Sapono yang tahu tentang itu.”

Aku sendiri mengenal Sapono sejak masih kecil. Setahuku, dari dulu hingga kini dia tampak seperti itu-itu saja. Tahun demi tahun menggiringku ke kedewasaan. Wajah Sapono tetap sama seperti saat aku pertama kali melihatnya.

Tidak ada orang yang dekat dengan Sapono. Orang kerap bercerita yang aneh-aneh tentangnya, meski tidak ada bukti. Seperti tentang keluarga yang dia miliki, yang hilang tidak tentu rimbanya di hutan tersebut karena sebuah ritual sesat, namun tidak pernah ada usaha dari Sapono untuk mencari mereka. Versi lain mengatakan, dia menjadikan anak istrinya tumbal agar bisa hidup abadi. Tuduhan ini agak lebih mendekati masuk akal. Pasalnya, seperti yang sudah kubilang, wajah Sapono seakan terkurung oleh waktu; tak berubah bahkan mungkin hingga kiamat tiba nanti.

Jika kini seseorang memotretku dan Sapono yang sedang duduk berdua, barangkali siapa pun yang melihat hasil potretnya akan menganggap kami seumuran. Tentu saja dia jauh lebih tua dariku. Aku sendiri tak pernah tahu bagaimana wajah istrinya dan juga tak pernah memiliki kenangan apa pun tentang seorang Sapono yang berkeluarga. Bagiku dan teman-teman sepantaranku, sedari dulu Sapono sudah terkenal sebagai lelaki tidak waras yang penyendiri.

Dulu, aku dan teman-teman suka menjadikan Sapono bahan ledekan, sebab mengira dia gila. Tapi, kami tak melakukannya di depan yang bersangkutan. Kami akan bersikap sopan dan tenang saat Sapono sang pendiam melintas, lalu menjadikannya bahan-bahan cerita humor yang kami buat sendiri begitu dia sudah sampai di jarak yang kiranya tidak bakal bisa mendengar ledekan kami. Jujur saja kisah-kisah kami tentang Sapono sangat keterlaluan, sehingga ketika usia kami sudah cukup disebut remaja, aku merasa sangat berdosa padanya, dan berhenti melakukan itu, meski sebagian teman masih saja gemar meledek Sapono di belakang.

Sayangnya, perjalanan hidup yang tak mulus membuatku jarang lagi bisa bersama teman-teman. Waktu itu orangtuaku tak bisa berbuat apa-apa selain berutang ke seorang tuan tanah sekaligus lintah darat, Tuan Markoni, untuk menumpas penyakit aneh yang menggerogoti Ibu. Itu terjadi dua puluh tahun lalu. Ibu tidak sembuh. Dokter jelas tak bisa mencoba usaha lain karena tidak ada lagi yang bisa dipinjam dengan catatan utang dan bunga yang terlalu menumpuk. Ayahku, meninggal dalam lelah dan putus asa.

Suatu ketika, saat tiap anak lelaki berlomba-lomba mencari perempuan, aku malah bekerja susah payah dari pagi hingga larut malam di pabrik pengolahan limbah milik Tuan Markoni. Gajiku sebagian besar dipotong guna mencicil utang pembiayaan ibuku dulu, sedangkan sedikit sisanya kupakai untuk makan seadanya. Dalam situasi semacam itulah, kedekatanku dengan Sapono mulai terjadi.

Awalnya, aku menangis sendiri di tepi hutan dengan pikiran-pikiran akan mengajak iblis bersekutu demi memberiku kekayaan. Bagaimana tidak? Aku sudah buntu akal. Di tahun ke tujuh belas semenjak aku mengabdi pada tuan tanah itu, utang-utang kami tak juga dianggap lunas, padahal menurut hitunganku, utang kami sudah lunas sejak lima tahun lalu. Bunga yang terlalu gila dan tak masuk akal, yang terus berkembang dengan sesuka perut sang tuan tanah, menjadikanku tidak henti diperdaya, entah sampai kapan. Demi melihat teman-temanku telah menata hidup mereka, sedang aku sendiri entah tak ada yang tahu akan berakhir seperti apa, ingin rasanya aku bersekutu dengan iblis dan lepas dari jerat lintah darat itu.

Aku belum benar-benar memasuki bagian tergelap jurang dan hutan ketika Sapono tiba-tiba menyapa dan mengajakku pulang ke rumahnya. Entah bagaimana dia mengerti perutku lapar. Dia menyuruhku makan sampai tidak mampu lagi menelan makanan. Dia bahkan memberiku uang untuk bekal sepekan ke depan.

Aku tidak tahu cara membalas kebaikan orang, karena sepanjang hidupku tidak ada orang yang benar-benar berbuat baik padaku, kecuali Sapono. Maka, sering kali, di saat lelah dan tak ada pekerjaan di pabrik, aku pergi ke rumahnya. Sekadar menemani lelaki itu memandangi pepohonan liar dari belakang rumahnya. Kadang, kami duduk di depan televisi butut yang tak bisa lagi dinyalakan dan berbicara sepatah dua patah kata tentang hal-hal di luar sana; tentang perkotaan, tentang manusia modern, tentang politik, tentang apa pun. Tapi, tak pernah membahas diri kami sendiri. Karena itulah, meski mulai dekat dengan Sapono, aku belum juga tahu kebenaran tentang dia. Aku pun juga tak kepikiran untuk bertanya padanya.

Suatu saat, Sapono bertanya, “Kamu percaya yang orang bilang tentangku?”

Aku tak bisa menjawab, namun dia memberikan sedikit gambaran bahwa yang tiap orang sampaikan di luar sana tak sepenuhnya benar. Sapono tak memberikan penjelasan secara mendetail, tapi aku pernah melihat boneka berdebu di sudut ruang tengahnya. Di dapur aku juga pernah melihat celana dalam wanita dewasa yang sudah sangat kumal, yang dialih-fungsikan menjadi kain pel. Dengan pemandangan macam itu, kuasumsikan jika dulu Sapono benar pernah berkeluarga dan memang betul keluarganya kini tak lagi hidup bersamanya; entah apa yang terjadi, aku tak pernah ingin bertanya.

Suatu kali yang lain, Sapono bertanya, “Kamu ingin menjadi kaya?”

Tentu kujawab, “Ya, agar dominasi Markoni berhenti sesegera mungkin!”

Kukatakan padanya kalau selama ini Tuan Markoni memang sengaja memperdaya diriku (dan beberapa orang malang lainnya, kukira) agar bisa memberinya pundi-pundi uang selagi dia terus memeras uang dari siapa pun yang berutang padanya. Bahkan ada pula rumor yang mengatakan, selain memiliki pabrik biasa, dia juga mengatur judi-judi tertentu di tempat paling strategis di kota, sehingga bisa dibilang dialah orang terkaya di desa sekaligus paling berkuasa, meski tidak memiliki jabatan apa pun. Kepala desa pun kabarnya tunduk pada telunjuk Tuan Markoni.

Demi mendengar celotehku, Sapono cuma tersenyum dan, untuk pertama kalinya, dia mulai menyinggung tentang jurang dan hutan itu. Aku mendengar seluruh detail di obrolan kami kali ini. Aku menyimpan seluruh bagiannya, bahkan yang paling sepele. Sepulang dari obrolan yang kurasa sangat mendebarkan itu, aku terpikir untuk melawan. Tidakkah tujuh belas tahun cukup membuat seorang pemuda merasa muak?

“Kutunggu di sini,” ucap Sapono sebelum aku pergi saat itu.

Aku kembali lima hari kemudian. Sapono menatap hampa begitu segenggam tanah pemberian Tuan Markoni kucampakkan ke halaman rumahnya. Itulah hasil perjuangan untuk seluruh hartaku yang tersisa di dunia ini. Rumah beserta isinya, disita oleh tuan tanah itu lantaran ucapanku yang mulai menolak untuk mencicil utang yang seharusnya sudah lama kulunasi. Aku mengomel panjang lebar, tetapi Sapono tidak berkata apa-apa selain hanya tampak seakan sedang menunggu sesuatu.

Selepas omelanku kelar, Sapono bersuara, “Bagaimana?”

Aku mengangguk. Kali ini benar-benar tanpa keraguan. Aku bahkan yakin meski di sisiku tak ada Sapono, aku pasti bisa menelusuri sudut-sudut hutan dan jurang, untuk mencari bagian tergelap yang kabarnya hanya bisa ditemukan oleh mereka yang sedang beruntung. Penanda bagian tergelap itu, konon, adalah sebuah prasasti berupa batu nisan yang menancap tepat di dekat pohon kersen.

Sapono, dengan tubuhnya yang tampak kurus, begitu mudah menerabas tumbuhan liar dan semak belukar yang menghalangi, sementara aku kesulitan di beberapa bagian hingga suatu ketika aku tertinggal cukup jauh darinya. Pada satu titik, lelaki itu berhenti di depan sebatang pohon. Aku tahu di situlah bagian tergelap yang telah lama menjadi dongeng dan legenda di desa kami.

“Tidak ada yang dapat mencapai titik ini, kecuali aku. Dulu hingga beberapa menit yang lalu, hanya aku. Sekarang kita berdua di sini. Apa yang kamu minta?”

Aku tak bisa berkata-kata. Aku membayangkan banyak hal. Aku tak bisa mencoba memikirkan uang. Aku juga tak boleh memikirkan wanita secantik bidadari yang sedari lama kudamba. Aku hanya diperkenankan memikirkan wujud binatang liar. Sementara aku membayangkan kematian terburuk macam mana yang pantas bagi seorang rentenir, aku tahu pada saat itu pula Sapono tampak menatapku penuh dengan hasrat yang seakan lama dia tahan. Setelah wujud binatang itu kuputuskan, yakni seekor buaya, Sapono tak lagi bisa menahan hasratnya dan berkata, “Ini saatnya kuwariskan ilmuku. Menikahlah suatu hari nanti dan jangan berhenti hanya padamu.”

Kami pun memeluk batu prasasti itu. Mantra-mantra mengapung pada udara jurang yang pekat dan gelap. Tubuhku terasa dingin dan kaku, tapi kemudian segalanya terasa sangat aneh. Aku merasa tubuhku bebas dari seluruh penyakit. Aku merasa tersucikan, tapi Sapono mendadak terlihat sangat renta.

“Pergilah, Nak, pergilah,” demikianlah ucap lelaki tua itu. “Bereskan tuan tanah itu dulu sebelum membantuku pulang.”

Aku berlari sederas yang kubisa. Aku berlari dan berlari dan mendapati sisik demi sisik bertumbuhan pada permukaan kulitku. Aku tersandung dan jatuh, tapi dapat terus berlari dengan dua tangan dan dua kaki, tapi kemudian tanganku tak lagi terlihat seperti tangan. Seluruh bajuku robek dan kini aku melesat liar ke rumah musuhku dalam wujud lainku. ***

Gempol, 27 Mei 2019


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Cerpen

Kisah Tentang Seorang Pemuda Bodoh

Cerpen Adi Zamzam

Coba dengarlah sejenak kisahku ini. Sebuah kisah yang mungkin bisa kalian ambil pelajaran darinya. Kisah yang menceritakan tentang seorang pemuda yang merasa dirinya manusia sempurna. Tampan, cerdas, lahir sebagai keturunan saudagar kaya raya pula. Pemuda yang memelihara pikiran, jika seorang sempurna haruslah berjodoh dengan yang sempurna pula.

Maka, ketika kedua orangtuanya memilihkan jodoh untuk pendamping hidupnya, ia selalu saja menolak.

“Aku ingin jodoh yang sepadan, Ayah,” ujarnya.

“Sepadan bagaimana maksudmu?”

“Si Maya, yang Ayah tawarkan kepadaku itu, kedua matanya terlalu besar untuk ukuran wajahnya yang lonjong. Si Nadia, apa Ayah tak melihat bahwa gigi-giginya mengerikan sekali? Juga si Mega yang Ayah bilang keibu-ibuan itu. Apa Ayah ingin aku menikahi gajah?”

“Lantas yang kau inginkan itu yang seperti apa, Nak? Mana ada orang yang sepadan? Dalam hal jodoh, yang kita butuhkan adalah menyesuaikan diri dengan pasangan,” ganti sang ibu yang mengujar tanya.

“Apa Ibu tak melihatku? Aku ini anakmu, bertahun-tahun aku tinggal bersama kalian. Apakah ada yang terlihat cacat di matamu, Ibu? Yang tiada cela janganlah kau sandingkan dengan yang ada cela, Ibu. Itu jelas tak seimbang.”

Berubah sedihlah wajah sang ibu. Tanpa diduga, perempuan itu pun mengulurkan tangan kanannya demi memperlihatkan jari-jemarinya. Pemuda itu terkejut. Ia baru ingat bahwa jari telunjuk itu telah kehilangan satu ruasnya.

“Musibah itu terjadi sewaktu Ibu membantu kakekmu memanen padi. Jari Ibu terjepit saat berniat membetulkan poros perontok padi. Ibu masih sangat muda saat itu. Sepuluh tahun kemudian barulah Ibu menikah dengan ayahmu. Kami bahagia,” tutur sang ibu dengan lembut.

“Pokoknya aku ingin yang sebanding. Titik!” Pemuda itu meninggalkan kedua orangtuanya dengan marah. Sepertinya percuma saja memberikan pengertian kepada mereka.

***

Dan pemuda itu pun masih terus mencari dan mencari. Setiap ia main ke rumah teman-temannya, hampir selalu ia menanyakan hal yang serupa.

“Apa kau punya saudara atau kenalan seorang gadis yang tiada cela? Kalau punya, kenalkanlah kepadaku. Tentu aku akan sangat senang untuk memintanya sebagai pendamping hidupku.”

Namun jawaban yang ia dapat selalu saja mengecewakan hati. Justru mereka malah memamerkan kekurangan masing-masing.

“Suamiku hidungnya pesek, kepalanya juga sedikit benjol, tapi kami bahagia.”

“Ah, kau lihat sendirilah itu. Istriku cerewet sekali, kayak tukang jual obat kuat di pasar. Jika kami adu mulut, bisa kupastikan telingamu akan tuli. Tapi aku cinta dia. Hingga detik ini kami baik-baik saja. Dan kami bahagia.”

“Dari dulu suamiku suka kentut kalau di ranjang. Tapi aku kagum dengan keperkasaannya. Kami bahagia.”

Demikianlah jawaban dari beberapa temannya yang sudah berumah tangga. Namun pemuda itu tetap kukuh dengan pendiriannya.

“Aku yakin akan bisa menemukan yang sempurna, yang sebanding denganku. Aku tidak mau kecewa gara-gara mendapati cela di kemudian hari,” kilahnya, jika ditanya perihal dirinya yang amat pemilih.

Dan, bulan demi bulan pemuda itu terus mencari. Gadis demi gadis ia kenali, ia dekati, dan ia memang sadar, gadis sempurna seperti yang diinginkannya memang sukar dicari. Pikirnya, bukankah memang begitu? Bukankah barang bagus itu memang jumlahnya sedikit? Kekhawatiran orangtuanya selalu ia redam saja, meski dalam hatinya terselempit pula sedikit was-was.

Sampai suatu ketika ia mendapat sebuah kabar dari salah seorang pamannya yang baru saja pulang dari mencari barang dagangan.

“Ada tiga gadis kembar yang sangat sempurna. Aku yakin pasti kamu akan terpikat dengan salah satunya. Jika kamu mau, akan kuhubungkan dirimu dengan bapaknya. Kebetulan dia adalah penyuplai beras daganganku.”

“Lebih sempurna dari gadis-gadis kampung kita, Paman?”

Sang paman mengacungkan jempol sebagai jawaban. Ia bahkan berani menjamin di hadapan kedua orangtua si pemuda bahwa kecemasan mereka akan segera berakhir.

Dan benar saja. Ketika pemuda itu turut serta pamannya saat kunjungan berikutnya, ia langsung yakin bahwa di antara ketiga gadis cantik itu akan ada yang jadi istrinya.

Kedua orangtuanya gembira alang kepalang. Mereka bahkan langsung mendatangi ayah gadis-gadis itu guna meminta izin langsung agar anak lelakinya diperbolehkan mengenal satu per satu.

“Aku akan menikahi yang paling sempurna di antara mereka,” ujar pemuda itu di hadapan ayah ibu, serta pamannya.

“Kamu harus cepat, sebab aku dengar kabar katanya sudah banyak pemuda yang mendekati mereka,” tutur sang paman.

***

Hari pertama perkenalan, pemuda tampan itu memulainya dengan gadis yang paling tua.

“Hanya selisih tigapuluh menit?”

“Iya. Kalau dengan adikku yang nomor dua umurku hanya selisih lima belas menitan. Itulah kenapa kemudaan kami hampir tak terlihat perbedaannya,” tutur si gadis tertua.

“Saat ulang tahun kalian pasti selalu patungan untuk merayakannya.”

Gadis itu tertawa mendengar gurauan itu. Tawa manis yang terdengar merdu sekali. Membuat hati si pemuda tampan ingin lebih dekat dan semakin dekat.

Namun suasana cepat berubah ketika mata si pemuda tampan menemukan pemandangan itu. Ya Tuhan, jari tengah kaki kanan gadis itu ternyata cacat! Bentuknya lebih kecil dibanding jari kelingking kakinya sendiri. Dan itu sudah cukup membuat si pemuda tampan merasa mual.

Ketika si pemuda tampan kemudian meminta izin untuk mengenal gadis nomor dua, tahulah orang-orang bahwa gadis yang tertua pastilah punya cacat.

“Coba perhatikanlah jari tengah kaki kanannya yang luput dari pandanganmu, Paman. Jika aku menikah dengannya, pasti salah satu anakku akan ada yang jarinya begitu. Aku tidak mau,” jawabnya ketika ia ditanya sang paman.

Dengan gadis kedua pun sama. Sembari mengajaknya jalan ke beberapa tempat yang menyenangkan, si pemuda tampan diam-diam meneliti dengan saksama dari ujung rambut sampai ujung kaki. Juga dengan gadis yang ketiga.

Hingga akhirnya si pemuda tampan itu pun menjatuhkan pilihannya.

“Aku ingin menikah dengan gadis ketiga,” ujarnya, yang langsung bersambut pekik gembira kedua orangtuanya.

“Yang nomor dua kalau tidur mengorok keras sekali, Paman,” ujarnya ketika pamannya bertanya. “Waktu itu aku mengajaknya nonton konser di pantai. Dia kelelahan. Aku menyewa penginapan kecil. Paginya dia telat bangun. Dari luar kamarnya aku mendengar dengkuran yang keras sekali. Bayangkanlah, gadis secantik dia, tapi dengkurannya seperti raksasa. Mengerikan.”

“Yang nomor tigalah gadis sempurna yang aku cari, Paman. Tak kulihat sedikit pun cacat padanya.”

Pesta pernikahan digelar dengan sangat meriahnya. Ayah si gadis pun tak mau kalah dengan kemewahan pesta yang diadakan calon besannya. Dan sebenarnya, justru lelaki itulah yang paling berbahagia.

Singkat cerita, kebahagiaan itu semakin memuncak tatkala istri si lelaki tampan hendak melahirkan bayi pertama. Ia membayangkan, betapa lengkap sudah kebahagiaan yang dimiliki. Ketampanannya, kecantikan sang istri, harta yang lebih dari cukup, serta sebentar lagi akan ditambah dengan buah hati yang pastinya akan menuruni kesempurnaan ayah ibunya. Cinta yang ada akan semakin tumbuh dan semakin tumbuh.

Tapi ternyata tak demikian. Ketika melihat bayi perempuan yang baru dilahirkan sang istri, lelaki itu justru meradang. Cintanya seketika layu gugur ke tanah.

“Bagaimana bisa anak kami berkulit hitam, Ayah?” tanya lelaki tampan itu kepadaku. Ya, akulah ayah dari ketiga gadis kembar nan rupawan.

“Kulit hitam bukanlah cacat, Nak,” jawabku menenangkan.

“Tapi bagaimana bisa? Aku dan istriku tidak berkulit hitam!” cecarnya.

Hingga akhirnya terpaksalah kuceritakan semuanya. Ibu ketiga gadisku telah meninggal saat melahirkan mereka. Susah payah sendirian aku membesarkannya. Dari ketiganya, si bungsulah yang dulu paling sukar diatur. Dan dia memang pernah berhubungan dengan seorang pemuda berkulit hitam. Mereka kupaksa putus hubungan karena aku tak suka kelakuan pemuda pemabuk.***

Kalinyamatan – Jepara, 2013-2018.


Adi Zamzam, lahir di Jepara. Tulisannya dimuat di berbagai media. Tahun 2002, beberapa cerpen dan puisi dipublikasikan di Bahana Sastra-nya RRI Pro II Semarang. Tahun 2004, juara harapan Lomba Menulis Cerpen Islami Majalah UMMI. Tahun 2005, juara harapan Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI ke- VII) majalah ANNIDA. Tahun 2008, juara tiga Lomba Menulis Cerita Pendek Islami ( LMCPI ke-VIII) majalah ANNIDA. Tahun 2009 dan 2010, dua buah cerpen menjadi  karya favorit dalam LMCR memperebutkan LIP ICE Selsun Golden Award. Tahun 2010, nominasi lomba cerpen Krakatau Award 2010. Tahun 2012, juara tiga Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI ke XI) Majalah ANNIDA. Unggulan Lomba Cerber Majalah Femina 2014/2015. Juara 1 Lomba Cerpen Kategori C (Umum, Guru, Dosen, Pengarang) Green Pen Award 3 Perum Perhutani 2016. Masuk nominasi lomba cerpen Krakatau Award 2018.

Puisi

Puisi Faris Al Faisal

Daun Gitar

Sehelai daun gitar

Bergetar disapu jemari

Serak-serak lagu berceceran

Di pekaranganmu

Mengenalkan nada

Dawai-dawai cinta

Indramayu, 2018 


Apel Merah

Saat duduk di bawah pohon

Sebutir apel merah jatuh

Aku menjadi Isaac Newton

Menemukan keajaiban

Indramayu, 2018


Gugur

Gugurlah bayang-bayang

Sebuah jaring matahari robek

Mendengus hangus

Tak ada kehangatan

Bahkan hanya untuk bertegur sapa

Indramayu, 2018


Semusim Melingkar

Di matamu semusim melingkar

Ular-ular betina bermata liar

Menyimpan racun cinta mematikan

Indramayu, 2018


Derik Jangkrik

Sunyi di dadamu

Berderik jangkrik

Dalam selimut rumput

Indramayu, 2018


Si Jelita Panggung

Seteguk malam di atas panggung

Boneka teramat cantik

Milik pinggul si jelita

Seperti urat nadi

Bergetar menghidupkan

Tangan-tangan bergoyang

Indramayu, 2018


Senandika

Pada puisi, cerita pendek,

Rimbun akar senandika

Membelukar

Melilit dada

Batang pohon pikir

Matang berbuah

Indramayu, 2018


Biji Janji

Menanam biji janji di bibir

Tumbuh pohon tembakau

Dibakar pada batang rokok

Asap tempias tak berbekas

Indramayu, 2018


Todak

Mawar gerigi

Ikan-ikan todak

Berlompatan. Berlari

Memotong ombak

Membuat sajak

Indramayu, 2018


Rengkah Mawar

Pecah mahkota

Auman luka

Batas cinta yang kutanam

Pagar memakan

Rengkah mawar

Indramayu, 2018


Faris Al Faisal lahir dan tinggal Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Forum Masyarakat Sastra Indramayu (FORMASI). Menulis fiksi dan non fiksi. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018), dan Antologi Puisi Dari Lubuk Cimanuk Ke Muara Kerinduan Ke Laut Impian Rumah Pustaka (2018). Sedangkan karya non fiksinya yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).

Puisi

Puisi Norrahman Alif

Aku Tak Ingin Kelak Istriku Diberi Makan Puisi

Tampaknya aku harus bangkit dari kemurungan kata

sebab hidup tak bisa hanya berdiri di atas pundak puisi

aku harus berjalan–mencari hidup yang lebih hakiki

dari hakikat bahasa.

Karena aku adalah lelaki yang kelak tak akan sendiri

dan kodrat hidup memang tidak untuk bersepi-sepi

esok pasti akan berpasang-pasang hati.

Maka kuselingkuhi puisi sebagai istri simpanan hati

sementara kini aku tiba saatnya mencari

puisi yang lebih nyata dari buah imajinasi.

Biarkan penyair mencaci –aku bukan pemuisi sejati:

hidup-mati mengeloni puisi–ke barat ke timur hanya

berduka-luka memakani hidup dengan sepiring kata hati.

Tidak, aku tidak ingin kelak istriku diberi makan puisi

di saat hidup tiap hari menghadirkan kekurang-kekurang

yang tak dapat dicukupkan hanya dengan selembar puisi.

Karena puisi bukan uang yang merenggut segala

kamewahan dunia. Karena puisi bukan ladang

perkerjaan yang menghasilkan emas dan permata

karena puisi bukan kebun uang yang menghasilkan

kekayaan.

Namun puisi hanyalah gedung-gedung kenangan:

museum bagi tubuh-tubuh kesedihan bercerita

kelak tentang penyair yang belajar mengekalkan

hidupnya dalam kata.

2019


Berkali-kali Aku Dipermalukan

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Aku ingin tahu kini

seperti apakah wujud perasaan?

Apakah ia seperti durian: kulitnya

bertaburan jarum kejahatan–namun

hatinya banyak mulut merindukan.

Namun kukira perasaan bukan buah

untuk dimakan, mungkin ia semacam

makhluk halus: gentayangan datang

dan pergi meletakkan rasa cemas dan

takut dalam hati.

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Jujurlah Tuhan

apakah engkau perasaan itu?

Sehingga berjuta-juta manusia

memberhalakan perasaan dalam

kuil-kuil hatinya. Sementara aku

menjadi korban kejahatannya.

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Saat ini  aku ingin

tahu seperti apakah sifat perasaan?

Ataukah seperti ludah lidah para

politisi: bermanis-manis perasaan

di depan kerumunan orang, demi

melancarkan mandat mimpi-mimpinya

menguasai dunia.

Tidak, perasaan tak sejahat itu, mungkin

ia sebaik rindang pohon kasih-sayang ibu

menaungiku dari hujan godaan kehidupan.

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Berapakah harga

perasaan penyair di tangan seorang

perempuan?

2019


Aku Ingin Tidur dari Bayang-Bayang Kenyataan

Aku ingin tidur dari bayang-bayang kenyataan

bila selalu kesepian merawat usia–kesedihan

memakan hari-hari tak tersisa.

Namun apakah hidup ini?

apakah dengan mengumpulkan harta

hidup mewah berbaju emas dan permata

sudahkah dikatakan hidup.

Bukankah kitab penciptaan sudah bersabda:

hidup datang dari kekosongan dan pulang pula

pada celah kekosongan.

Kecuali, hanya hati akan

berisi keranjang buah pahala, jikapun aku punya

pohon kebaikan di sini.

Sungguh aku ingin tahu rahasia kenyataan?

atau mungkin aku sekadar bayang-bayang

yang ingin hidup menjadi makna kenyataan.

Namun apakah kenyataan itu sendiri?

jika makna kenyataan adalah kehidupan

barangkali kenyataan itu: makan enak,

hidup mewah dan mati istimewa.

Lalu untuk apa kenyataan diciptakan?

jika tidak digunakan sebaik-baiknya

untuk memperbaiki tingkah-laku duka

kehidupan.

2019


Lima Adegan Mawar layuku

/1/

Mawar yang kutanam dalam hatiku

ternyata telah kehilangan harumnya

dan keagungan tubuhnya telah memudar

tercuri oleh kenakalan masa lalunya sendiri

sungguh kini aku seperti menanam biji busuk

di ladang asmara.

Ke mana lagi harus kucari bunga mawar yang lain

dengan keharumnya yang masih perawan. Namun

bunga yang kumiliki ini telah bersumpah mati

siap menjadi pewangi rumah-rumah hariku–

kamar-kamar  hatiku.

Namun setelah kubaca-baca lagi buku kesadaranku

sangatlah bimbang menjadi lelaki sepertiku

hanya menjadi pemakan roti dari sisa-sisa kunyahan orang lain

namun jika perasaan sudah berkata dan cinta

makin sakit jiwa, tahimu pun akan menjadi

mawar di tanganku atau tubuhmu kekal perawan

dalam puisi-puisiku.

Bahkan ludahmu akan menjadi gula di pangkal lidahku,

sebelum  kutelan dan menjadi racun resah yang menyebarkan

virus-virus penyesalan sejauh usia berjalan ke batas paling nyeri.

/2/

Siang ini di tengah ladang-ladang waktu yang gerah

kau taburkan manis biji-biji janji: berharap tumbuh pohon kenyataan

esok hari. Aku pun hanya mengangguk dan kurang mengerti

sebab setelah kuperiksa jantung masa lalu dan kata-katamu

terlalu banyak ular yang melingkar dan mematuk janji-janjimu sendiri

menjadi sekadar ilusi.

Namun aku tak perlu tahu seberapa tinggi tiang hatimu

menjunjung pengharapanku menembus kabut kenyataan

dan mengibarkan bendera kasihmu padaku di mana-mana.

Karena kamu hanyalah bunga mawar yang kehilangan

kesegarannya di tiap-tiap pagi seorang lelaki.

/3/

Malam ini kau berlagak gila dan membuatku sakit jiwa

kita bercakap-cakap tentang rahasia keagungan yang

dimilik tubuh manusia. Sambil kau bertanya-tanya  mengenai

kebutuhan mendasar dari seonggok daging yang mulai

menegang dalam sarung kesepianku–sampai-sampai kita

melupakan kecantikan malam dan mengabaikan buah-buah

detik yang jatuh dari dahan menit di pohon waktu yang

hampir tumbang ke sisi jalan Subuh ini.

Pada akhirnya bunga mawar yang kehilangan keindahannya

sebelum menciptakan malam pertama di masa depan cinta bersama

berkata: “sayang, aku sudah tak tahan ingin meninabobokkan

anak-anak libidoku yang mulai sekarat menerjang meradang ini

sebelum aku gila dan jatuh pada kenikmatan yang salah kaprah.”

/4/

Pagi ini kau buka mata pagiku dengan api pertengkaran

yang tak kungjum padam ini. Kau nyalakan lagi api-api

masa lalu dalam kata, janji-janji yang berdebu dan kenangan-kenangan

yang kan menjauh. Seiring kita saling membunuh diri sendiri

demi sebuah kebenaran dan kerendahhatian perasaan.

/5/

Mungkin inilah puisi penghabisanku untuk mengekalkakan

separuh hikayat masa lalu dan masa depanmu.

2019


Malam-Malam Jahanam

Kutepikan diriku pada kata

Menyemai kembali luka sunyi

Di ladang-ladang cerita

Sebagai pesta pora hatiku

Yang dikucar-kacirkan

Perasaan nestapa.

Selalu di tepian malam gelisah

Kuseberangi waktu-waktu lara

Sampai kutemukan diksi sepi

Menari-nari dalam puisi.

Sudah lebih puluhan kali kukayuh

Jiwaku dengan wajah murung

Di tengah-tengah kampung

Yang sering di kutuk rasa sepi ini.

“Ke manakah orang-orang?”

Kesepianku berucap sesering

Mungkin ketika malam melampaui

Batas keramaian. Sungguh sunyi

Adalah bayi yang terluka, perih

Merintih dipangkuan ibu waktu.

Apakah karena orang-orang pagi

Menamakanku sebagai mata malam

Sehingga aku asing dan tenggelam

Di kebutaan mata orang-orang siang.

Maka dengan tekat sebulat biji mata

Kucari-cari kesenanganku dalam kata

Karena hanya dengan kata utangku

pada resah, sepi dan kegelapan terlunaskan.

2019


Kurayakan Kepergianmu dalam Puisi

Dan kau cukup tahu; bahwa usiaku terpotong-potong kehampaan

Menjadi bagian-bagian kenangan busuk dalam sakit mengenangmu

Sementara jiwaku makin runyam menerjemah tangis hatiku

Karena tak jelas mengapa padamu air mataku terus melaju.

Di kampung aku sudah kehilangan keteduhan angin dan pohon-pohon

Padahal kampung adalah sawah untuk menanam pikiran yang ruwet

Atau hatiku yang sulit menahan sakit kepergianmu

Walau sudah tak jelas bening wajahmu dalam cermin ingatanku.

Namun kau tak perlu tahu kondisi perih tahun-tahunku yang malang

Dan menjalang selama ini. Karena kau bukan lagi bagian dari tulang rusukku

Kau cuma sekadar objek dari air mataku yang terus melaju

Dari hati ke puisi dari puisi ke abadi.

2019


Berseberangan Keinginan

Jangan tanyakan padaku, lebih luas mana rinduku

Padamu atau harapmu padaku kembali ke kota kata

Sesungguhnya kerinduan kita sama-sama luas, kawan

Namun masih ada batas-batas keinginan yang mesti

Kita seberangi dalam jarak berjauhan ini.

Mungkin kau mencintai kebisingan kota

Yang dicipta oleh bibir-bibir manis para penyair

Namun aku lebih mencintai kesunyian kampung

Untuk meruang-raungkan kesedihan dalam puisi.

Perbedaan itulah yang membuat kita saling berseberangan ruang

Namun jangan cemas dan ragu, kerinduan kita harus takzim

Pada serajut keinginan lain yang tumbuh dari rasa nyaman.

Karena perpisahan itu fana –yang abadi hanya perjamuan jiwa.

2019


Ceracaun Ketidakwarasan 1

Saat ini aku duduk tapi melayang

ingin berdiri tubuh bergelombang.

Aku mungkin kemalingan kesadaran

aku kehilangan rasa hatiku

aku kehilangan anak akalku.

Siapa aku kekasih

aku anak siapa.

Bila masih aku hidup

tapi mengapa aku merasa mati

wajah semesta mengabur dalam tatapanku

mata-mataku kelabu menatap mata-matamu

mungkin aku kini adalah bayangan kegelisahan

yang tengah berjalan mencarimu

dalam hutan-hutan kerinduan

dalam semak-semak kehilangan

dalam goa-goa kegilaan.

Aku mungkin terlalu banyak menegak air mata

sehingga aku mabuk melangkah: dari sepi

ke nyeri lalu berhenti pada batas paling puisi.

Bahkan dalam resah jagaku saat ini:

aku berjalan namun jiwaku berdiam

aku bergerak namun ruhku mematung

aku tertawa sendiri namun ada yang

menangis dalam mataku.

Siapakah yang menangis dalam hatiku

siapakah yang merasa hina dalam jiwaku

tidak lain adalah engkau kekasih,

engkau kasihku. 

2019


Ceracauan Ketidakwarasan 2

Kekasih, kini aku akan berjalan sendiri

berjalan mencari kesenyapan inti sari hidup ini

setalah itu aku ingin berbicara pada maut

perihal hidup dan mati kapan menjemput.

Jika rindu padaku kekasih, carilah aku

di sepanjang jalan Malioboro. Lalu carilah

wajahku di antara wajah seniman, penyair

gembel, pengemis dan orang gila. Di

tengah-tengah penderitaan merekalah

aku bahagia mengawani kesedihanku.

Maka temuilah aku orang-orang yang mungkin

masih merindukan tawaku, kemurunganku dan kematianku.

mungkin ingin kirim salam rindu pada tuhan,

atau pada kerabat kalian yang lebih dulu menjadi nama

kenangan di batu nisannya. 

2019


Ceracau Ketidakwarasan 3

Sungguh aku lupa waktu

lupa diriku

siapa aku

sekarang dimanakah aku.

Masihkah aku hidup

atau perlukah masih

hidup butuh padaku.

Sepuluh jam hatiku

kesetanan rasa sedih kekasih.

Namun kau hanya sesegukan

dalam mimpi-mimpi tiap malam

di saat lari dari hujan ceracaun

ketidakwarasanku.

Sungguh kau tahu, kekasih

berjam-jam aku menjadi telepon genggam

demi suara serakku dapat menghubungi

hidupmu –namun kau malah tolak mentah-mentah

sebelum suaraku sampai dan menumpahkan seribu

air kemaafan di telingamu.

Sungguh betapa cemasku

sia-sia –cintaku

mati rasa –rinduku

sakit jiwa.

Barangki kini aku telah kehampaan mengingat

asal-usul hidupku:

dari bahan apakah hidup tercipta?

Bila dari api

mengapa aku tak mampu membakar

daun-daun kecemburuanku padamu.

Bila dari air

mengapa aku tak mampu menyucikan

kain hatimu dari debu-debu curiga padaku.

Bila dari udara

mengapa aku tak mampu melumat asap-asap

pikiranku tentang dustamu yang manis lalu.

Bila dari tanah

mengapa hatiku tak subur menumbuhkan

pohon-pohon kesabaran–rumput-rumput

keikhlasan mencintaimu tanpa musim pertekaian.

Bila rumah-rumah pikiranku

terus-terusan kedatangan tamu-tamu rindu

dari seribu kota kenangan tentang cintamu yang sekeras batu.

2019


Norrahman Alif, lahir di Jurang Ara, Sumenep. Menulis puisi dan cerpen di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ). Beberapa karya saya bisa dinikmati di: Media Indonesia, Tempo, Republika, Kedaulatan Rakyat,  Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, Minggu Pagi, Radar Surabaya, Merapi, Magelang Ekspres, Bangka Pos, Radar Cirbon, Koran Madura, Majalah Simalaba, Analisa, Rakyat Sultra, Banjarmasin Post, Padang Ekspres, Lampung Post, Fajar Makkasar dll.

Cerpen

Nenek dan Perihal Perih Tentang Ulat-ulat di Sepotong Telur Dadar

Cerpen Fina Lanahdiana

Nenek merawat kenangan serupa memelihara ulat-ulat yang disimpan dalam sebuah stoples tertutup dengan tak seorang pun menginginkan untuk membukanya. Demi apa pun, aku hendak berkisah tentang kesetiaannya pada benang-benang kenangan yang serupa sarang laba-laba yang lahir dengan panjang dan kekuatan yang tidak bisa diperkirakan. Kelak tidak ada yang hendak meneliti benang-benang halus itu dengan alasan tidak penting.

Masa tua barangkali kutukan yang abadi memelihara rasa sakit. Nenek sering bersedih dan menyesali atas kesepiannya sendiri. Kadang meskipun aku memilih rela meluangkan telinga untuknya, ia tetap tampak sebagai sebatang pohon yang begitu kosong. Seolah-olah kuat, namun di dalamnya, kau tahu, ada rongga besar melingkupi seluruh isi tubuhnya, menyisakan kulit kayu yang hanya lapisan rapuh yang jika sedikit saja kulit itu tergores, seluruh tubuhnya akan tumbang jadi kayu yang hanya bisa berguna bagi tungku dapur penangkal rasa lapar.

Ia kerap hanya duduk dengan pikiran yang entah menjadi pelancong bagi tempat-tempat di dalam kepalanya. Aku meyakininya, bahkan ketika ia tengah menjajakan gethuk, klepon, serabi, dan ampyang  di depan halaman rumah kami yang masih berlantai tanah. Jajanan itu diletakkan di masing-masing tampah yang berbeda di sebuah meja panjang yang telah berusia tak jauh darinya. Meja itu tetap kukuh meskipun waktu telah melahapnya bagai rayap-rayap pada musim penghujan.

            “Nek?”

Suaraku hanya pelan saja, tetapi nenek tetap terkejut. Aku merasa tidak enak dengan gelagatnya, bagai aku telah menyakiti hati perempuan tua itu. Lantas kuraih lengannya, kurengkuh ia dengan dekapan yang semoga nyaman. “Maafkan aku, Nek. Bukan maksudku untuk membuatmu kaget.”

Ia akan tersenyum lantas berkata tidak apa-apa. “Nenek memikirkan apa?” Pertanyaan itu selalu berakhir dengan jawaban tidak apa-apa.

Tetapi pada akhirnya aku tahu, nenek selalu dan tetap memikirkan suaminya. Meskipun ia tidak pernah bercerita secara terang-terangan, aku tidak bodoh betul memahami bahwa ia merindukan kakek. Nenek kerap menceritakan kebaikan-kebaikan kakek yang masih tersimpan di dalam laci kepalanya.

            “Kakekmu lelaki yang romantis. Ia kerap memberi kejutan-kejutan yang tidak terduga. Kadang-kadang ketika aku merasa lelah, ia tahu harus berbuat apa. Kami sering pergi keluar sekadar makan di warung bakso atau mi ayam. Setelahnya aku lupa dengan rasa lelah yang sangat payah.”

Tentu saja aku akan memuji kakek. Tidak mudah menjadi lelaki seperti itu.

            “Kau tahu, perempuan akan sangat senang jika diperhatikan oleh orang yang dicintainya. Ia akan merasa ringan, beban-bebannya akan hilang, meskipun seringkali perempuan tahu bahwa lelakinya tengah membual. Ia tidak akan peduli.”

Cerita nenek membuatku berpikir bahwa aku juga mesti memperlakukan perempuan dengan cara seperti itu. Menjadi lelaki yang penuh kejutan.

            “Perempuan tidak terlalu suka, jika lelaki tidak punya pilihan.”

            “Maksud Nenek?”

            “Bawalah perempuanmu ke sebuah warung makan jika ia tampak lelah dan lapar, tapi jangan kau tanya banyak hal mengenai apa yang ingin dia makan. Pastikan kau tahu apa makanan kesukaannya. Itu akan membuatnya senang. Merasa dihargai.”

            “Bukankah bertanya itu baik?”

            “Memang iya, bertanya itu baik, tapi jika kau mengulang sesuatu yang sudah pasti, itu justru akan menyakiti hatinya. Misalnya, kau tahu perempuanmu menyukai ayam bakar, tapi kau selalu bertanya, ia ingin makan apa.”

            “Bagaimana jika ia merasa bosan?”

            “Tanpa kau mesti bersusah payah menebak, perempuan akan bercerita jika ia bosan dengan apa-apa yang sudah dibiasakan. Jika tidak ada keluhan, maka mestinya kau tahu apa yang mesti kau lakukan.”

            “Apakah nenek pernah mengalaminya?”

            “Tidak. Tapi teman kami pernah mengalaminya. Ia begitu muak dengan suaminya, sebab setiap kali hendak makan saat sedang bepergian, selalu bertanya, “Apakah kau lapar? Padahal sesungguhnya lelaki itu yang merasa lapar. Ia tidak berani berterus terang. Sementara itu, seharusnya lelaki selalu berada di depan, tidak apa-apa mesti menunggu perempuan bergerak lebih dulu.”

Aku hanya mengangguk, tidak banyak berkomentar. Cerita akan berakhir ketika beberapa pembeli datang. Jajanan pasar itu tidak bertahan lama, siang sedikit saja, sudah mesti habis. Jika tidak, yang bersantan seperti serabi dan klepon akan mudah basi. Dagangan nenek memang sederhana, tapi tetap saja diserbu peminat. Apalagi di zaman yang serba digital seperti sekarang. Apa-apa yang tradisional dinilai berharga dan patut untuk dirawat sebaik-baiknya.

            “Kadang-kadang orang sekarang itu aneh, merasa peduli dengan sesuatu setelah sebelumnya terancam.”

            “Terancam yang seperti apa?”

            “Misalnya saja, hewan langka. Mereka tidak akan dianggap penting sebelum terancam punah. Sebuah keterlambatan yang gegabah.”

Tidak salah, memang demikian adanya. Tidak jauh dengan yang sudah-sudah, negeriku tercinta ini juga kerap melakukannya. Pulau-pulau kami yang semestinya dirawat, dibiarkan begitu saja seolah sampah tidak berguna. Begitu ada negara lain yang mengklaim kepemilikan pulau-pulau jauh itu, pemerintah merasa kelabakan dan seolah tertindas sebagai korban. Orang-orang mendadak jadi nasionalis dengan banyak gerakan yang kupikir tidak berdampak banyak. Hal-hal seperti itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali saja, tetapi berkali-kali. Menjijikkan. Seolah keledai yang terus-menerus tergelincir—lebih tepat dikatakan sengaja menjatuhkan diri—ke lubang yang sama.

Aku senang menjadi pendengar bagi cerita nenek, tentang apa pun. Apa pun. Cerita-ceritanya bukan dongeng kosong belaka, selalu ada sesuatu yang bisa diambil bagiannya.

Perihal kesetiaan merawat kenangan, aku mencatatnya baik-baik di tubuh ulat-ulat kecil, belatung yang bergerak lincah di sebuah mangkuk berisi telur dadar.

***

Berhari-hari sudah nenek larut dalam perasaan yang hampa. Kupikir ia sedang mengulang segala jenis perputaran adegan di dalam kepalanya. Selalu seperti itu, seolah ia tidak ingin satu bagian pun terlewat dan berserakan seolah remah roti tercecer di lantai untuk selanjutnya dimangsa semut-semut.

Ia memutuskan tidak membuka gelaran jajanan seperti hari-hari biasa. Kepergian kakek yang tiba-tiba membuatnya merasa terpukul. Tak ada seorang pun yang menyangka bahwa suaminya akan pergi dengan cara yang tidak terduga. Ia tidak sakit, tidak juga mengalami kecelakaan. Hanya sedang tidur dan barangkali setiap orang tidur selalu berdoa agar bangun di pagi harinya.

Waktu itu aku masihlah seorang bocah yang hanya bisa menangis jika menginginkan sesuatu. Nenek mencoba menenangkanku dengan memberikan apa saja yang dimilikinya. Uang untuk membeli jajan atau mainan, juga mengambilkan nasi sebab ia mengira aku lapar. Aku tidak tahu, aku hanya ingin menangis saja waktu itu.

Dan barangkali kau juga akan sama sepertiku, menangis lebih keras sebab merasa takut dengan apa yang telah nenek berikan. Ia berjalan ke dapur dengan lengan melingkar di tubuhku, menjadikan aku bagai seekor kera yang tengah berada dalam gendongan induknya.

Tangan nenek selalu hangat. Bayi-bayi atau bocah yang sedang menangis tak tahu sebab, akan berhenti jika telah disentuh oleh tangan nenek. Aku sangat menyukai bagian ini. Nenek solah-olah pahlawan yang patut diberi hadiah atau penghargaan yang istimewa.         Perempuan itu masih sangat bersedih, aku tahu dari raut wajahnya. Namun aku yang masih bocah tentu tidak tahu apa-apa cara menghibur agar nenek merasa bahagia.

Ia berjalan ke dapur, menjulurkan tangan ke sebuah salang gantung yang terbuat dari anyaman bambu warna hitam legam sebab sering terpapar asap tungku. Di atas sana, ia meraih sebuah mangkuk yang seingatku berisi telur dadar.

Barangkali matanya telah rabun atau berkabut, ia tidak terlalu jeli memandang apa yang ada di dalam mangkuk. Sepotong telur dadar disendoknya ke piring yang telah berisi nasi. Telur itu telah dihuni mahluk-mahluk kecil, putih, dan lunak. Singgat. Aku merasa jijik dan hanya menangis.

Ibuku datang dengan keheranan yang penuh. Ia tidak tahu apa yang aku tangisi. Sampai pada akhirnya ia meraih tubuhku dari gendongan nenek, mengambil piring berisi nasi, dan berakhir dengan teriakan yang panjang. Ibu terkejut sama halnya denganku. Binatang kecil jinak namun menjijikkan itu telah menyebar di lantai rumah yang masih tanah yang dipenuhi têlo[1]. Ibu mengelus rambutku berulangkali dengan umpatan yang tertahan, “Demi apa pun, nenekmu terlalu mencintai kenangan perihal kakekmu, hingga ia melupakan telah berapa hari ia mengurung diri dalam kesedihan, hingga singgat-singgat itu telah menjadi penghuni bagi sepotong telur dadar sebagai makhluk-makhluk lapar yang menggiriskan.”

Terdengar suara prang sebab piring tempatku makan yang terbuat dari seng itu terlempar begitu saja, sementara kulihat nenek sedang sibuk—atau menyibukkan diri—melakukan pekerjaan rumah sehari-hari dengan mata yang kosong, seolah di sana tidak ada lagi ruh bagi kedua bola matanya.

Dan sejak saat itu, barangkali sebagian diri nenek ikut bersama kakek sehingga hidupnya tak lagi utuh, tak lagi seluruh. Hanya serupa sepotong yang tersisa dengan segenap keinginan menjalankan sisa usia. Masa tua barangkali memang kutukan yang abadi memelihara rasa sakit. Dan akan seterusnya seperti itu.***

[1] Têlo: Retakan tanah (Jawa)


Fina Lanahdiana, penulis cerpen yang lahir dan tinggal di Kendal.

Cerpen

Cinta Dalam Bus Antar Provinsi

Cerpen Jeli Manalu

Peristiwa itu sudah dua puluh satu hari yang lalu. Di sebuah tebing, seunit bus besar tiba-tiba mematahkan pepohonan di sana. Bangau putih mengepak-ngepakkan sayap, ikan hasil tangkapannya menyemplung ke dasar. Hewan kecil seperti semut, ulat, belalang, nyamuk, lalat hutan ikut kaget. Sebutir air mata pecah, luruh ke pori-pori tanah yang di sananya akar anak rumput menunggu tumbuh.

Sehari sebelum kejadian itu ia berjumpa denganmu di terminal. Wajahnya sayu, baru pulang dari suatu tempat yang kau sendiri tidak bisa menduganya, tapi kau tiba-tiba saja merasa harus peduli terhadapnya.

“Aku sangat mudah mabuk. Bisakah kau memberiku bangku paling depan dan kalau bisa dekat jendela?” kau mendengarnya berdebat dengan penjual tiket meski intinya ia sedang memohon.

“Sudah ada di bangku itu. Yang tersisa hanya nomor ….” penjual tiket kau lihat mencari-cari di catatannya.

“Bagaimana dengan tiga?”

Penjual tiket masih memeriksa catatan untuk memastikan namun wanita calon penumpang memotong lagi, “Lima? Delapan?”

“Tinggal nomor dua puluh dan selanjutnya.”

“Sudah kubilang aku mudah mabuk.”

Kau yang melihat muram wajahnya dari dalam dirimu timbul semacam dorongan untuk melindungi dan bahkan merasa perlu menyayanginya saat itu juga. Sembari memikirkan entah apa ia melihat ke arahmu sebentar, dan saat itulah kau seakan tak percaya kalau ternyata ada saja mata orang dewasa semirip mata kanak-kanak. Jernih. Masih bisa diwarnai. Masih bisa dilukiskan sesuatu ke dalamnya, dan kau coba mengingat-ingat bagaimana caranya melukis dengan baik tanpa harus merusak banyak kanvas terlebih dahulu.

“Beli saja salah satu dari tiket yang masih ada,” ujarmu dari tempat yang tak diduga-duga olehnya sehingga ia merasa aneh kepadamu. “Ini,” katamu lagi. Kau sodorkan tiket dengan angka empat milikmu ke arahnya.

“Maksudnya?”

“Tiketmu berikan padaku. Tiketku kuberi padamu.”

“Terus?”

“Ya, supaya kau jadi perginya.”

“Terus?”

“Mak-sud-ku? Maksudku supaya kita sama-sama perginya.”

Kau perlahan-lahan menjelaskan padanya. Ia kemudian setuju. Setelah itu ia dan kau sudah berada dalam Bus Antar Provinsi.

Tiga jam pertama ada penumpang turun di persimpangan, seseorang yang duduk di sebelahnya yakni di bangku nomor tiga lalu tanpa permisi ke pengemudi kau segera saja pindah ke sana. Ia mendengar ceritamu sepanjang perjalanan seakan kau seorang pendongeng atau barangkali kehadiranmu serupa rintik hujan yang menyejukkan. Ia sendiri enggan membicarakan lebih dalam tentang dirinya. Ia hanya menjawab ketika kau bertanya, semisal apa ia sudah makan atau apa ia merasa pusing agar kau membantunya membelikan minyak angin di kedai pinggir jalan.

Suatu kali kau melihat ia memijit-mijit kening dan mematah-matahkan leher. Kau mohon izin mengubah posisi kursinya agar ia menyandarkan bahu, supaya ia bisa meluruskan kaki dan kau—entah kenapa lagi-lagi merasa ia merupakan bagian dari yang perlu kau lindungi. Sesuatu dalam dirimu berkata: meski ia mungkin kekasih dari seseorang yang mencintainya dengan hebat, dirimu justru teman terbaik untuk berbagi cerita. Kau punya bahu yang kuat. Kau punya punggung yang kokoh. Kau bisa menampung seberat apa pun beban kisah itu nantinya.

“Aku punya dua orang anak,” katamu, memecah keheningan.

Ia menjadi serius seakan lupa pada apa yang berkecamuk di dadanya. Ia ingin bertanya ke manakah anak-anak itu sekarang, atau istrimu sedang di mana: apa kau bertengkar dengannya, apa istrimu masih hidup, namun ia sungkan mengutarakannya—ia baru kenal denganmu dua hari lalu. Menurutnya tidak baik menanyakan hal-hal bersifat pribadi kecuali seseorang itu sendirilah yang dengan suka rela menyampaikannya.

“Boleh aku tahu namamu?” kau bertanya.

“Ta ….”

“Ta?”

“Tarida.”

“Aku sendiri Mangara. Panggil saja Ara.”

Lalu mendadak saja kau merasakan tanda-tanda kalau ia ingin muntah. Ia memegangi mulut menahan sesuatu yang sudah terlalu mendesak. Jemarinya mencari-cari, kau bertanya dan ia mengisyaratkan butuh kantung plastik. Bagi yang bukan pemabuk sepertimu tentu muntah dalam perjalanan merupakan hal paling menyiksa. Seharusnya perjalanan itu menyenangkan mata, hati, pikiran.

Kau membukakan botol air mineral. Ia berkumur, membuangnya ke kantong plastik dan kau sempat mencium aroma seperti belerang namun cepat-cepat mengabaikannya. “Oleskan minyak angin ke perut dan keningmu,” ujarmu, terlebih dahulu mengawalinya dengan kata ‘maaf’ agar kau tak mendapati dirimu terkesan sebagai laki-laki yang telah membuat seorang kenalan baru menjadi risih. Menit-menit berikutnya di saat ia sudah tertidur kau membaguskan syal ungu yang gulungannya melonggar meski kau tetap saja berdebar takut dikira berbuat macam-macam.

Menit berikutnya lagi separuh kepalanya bertumpu di bahumu, kau jadi terbayang pada wanita yang sangat kau cintai. Wanita bernama Dinar yang telah memberimu dua orang putra dan tiba-tiba kau teringat saat mengganti popok bayimu di usia dua bulan. Peleburan tertinggi dari seorang laki-laki terhadap wanita yang kemudian disebut satu menurutmu melakukan hal biasanya dihindari para suami yakni mengurusi yang bau-bau pada diri anak-anaknya—kau bahkan pernah mengisap lubang hidung mereka ketika mampat. Dan hal paling kau suka ialah menciumi kepala bayimu, meletakkan begitu lama bibirmu di atas ubun-ubunnya yang belum ditumbuhi rambut hingga kau rasakan denyutan-denyutan lembut lalu membisikkan sebaris doa kepada denyutan itu: aku mencintaimu. Mencintaimu sejak pertama dan selamanya. Seketika itu pula kesedihan menusuk-nusukmu, sebab sewaktu membayangkannya mereka itu sudah tak ada. Maka kepada seseorang yang baru sehari kau mengenalnya begitu dekat kebaikanmu pun tumpah. Kau tarik selimut. Kau selimuti ia yang lelap di bahumu.

Bus Antar Provinsi bermanuver sangat liar. Wanita itu menarik lengannya darimu. Ia kaget mendengar bunyi deruman keras. Sebelumnya ia ingat sudah pernah suara yang begitu terjadi: tadi, ketika Bus Antar Provinsi mogok dan ada yang diperbaiki di bagian mesinnya padahal bus itu bukan kelas ekonomi—ia bus ber-AC—tak masuk akal kurang sehat begitu. Remnya putus, teriak sopirnya. Mendadak ada yang melompat dan kalian sempat melihat sepasang lutut habis dijilat aspal diiringi histeris penumpang meneriakkan Tuhannya masing-masing.

Bus Antar Provinsi baru saja diservis. Diganti catnya. Dibongkar mesinnya. Diperbaiki lampu, klakson, diganti olinya dan lain-lain. Intinya bus itu habis pulang dari perawatan. Ia kembali cantik setelah setahun beristirahat total. Tentang mengapa ia beristirahat sampai setahun tidak ada yang tahu pasti kecuali orang-orang tertentu.

“Ada apa?” tanya wanita itu dengan napas berdesak-desakkan di dada. Ia kelihatan sangat panik serta ketakutan tampak di sorot matanya.

“Kita akan baik-baik saja,” jawabmu, menenangkan hatinya sementara kau tak mampu menjinakkan kecemasan yang luar biasa membadai di jantungmu, pikiranmu, perasaanmu. Bayangan-bayangan ngeri dari tiga tahun lalu saat kau kehilangan tiga orang terkasihmu yakni istri dan dua putramu kembali menyetani dan membuat kekhawatiranmu menggunung-gunung. Saat resah gelisahmu kian membesar refleks saja kau memeluk dirinya yang menggigil.

“Aku takut, Ara. Aku takut,” pekik wanita itu, menyebut namamu untuk pertama kali dan kau merasakan debur dadamu dua kali lipat kekuatannya. Debur antara ketakutan dan perasaan yang tak kau ketahui kenapa tapi saat itu kau teringat saat jatuh cinta kepada istrimu. Kau mengambil tangannya ia rela. Kau mendekapnya ia diam. Namun setelah sekian lama kesepian kenapa jatuh cinta lagi itu harus terjadi di saat-saat genting seperti ini?—kau merasa ini tak adil, sungguh tak adil. Kau protes akan waktu yang bikin kadar cintamu mendadak berlipat ganda, oleh karenanya kau menjadi semakin takut pada kehilangan. Kau mulai menyesal mengapa punya hati yang mudah mencintai. Jatuh cinta, kau tahu artinya, yaitu merelakan hatimu agar selalu siap merasakan sakit.

Bunyi yang lebih keras datang lagi. Letusan besar naik ke atas. Ban landas. Kau dan ia menyadari kalian semakin turun dan kalian tak berani melihat ke mana arah itu menuju. Pengemudi memutar habis ke kiri, terbanting ke batu. Bus Antar Provinsi terombang-ambing di tebing curam di mana pepohonan berpatahan karenanya. Lalu di depan sana yang kemudian menjadi di bawah kaki kalian terpampang hamparan danau berwarna hijau. Sepasang ikan mujahir yang tadi berenang pelan-pelan kini kucar-kacir setelah salah satu dari mereka sempat menabrakkan mulut ke leher ikan sebelahnya.

Ara, ini hitungan kedua puluh satu setelah hari itu. Sudah selama itu kau koma. Di sekujur tubuhmu ada kabel dan Tarida ingin sekali membantumu mengakhiri penderitaan. Dari sisi bahu kananmu ia bersedih. Kau tak kunjung merasakannya. **

                                                                                                Riau, April 2017


Jeli Manalu Lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya Kisah Sedih Sepasang Sepatu (Basabasi, 2018)

Esai

Dari yang Lalu dan Sekarang yang Berjalan

Oleh Yohanes Bara

“Rumah tanpa buku bagaikan ruangan tanpa jendela,” kata Horece Mann, reformis pendidikan Amerika Serikat. Ruangan tanpa jendela itu pengap, gelap, dan sesak. Demikian juga pikiran tanpa buku, isinya hanya kekosongan, kegelapan, dan kesesakan. Artinya, kekosongan, kegelapan, dan kesesakan itu bukan terletak pada tempat tertutup, tetapi pikiran yang tertutup karena tak pernah bersentuhan dengan buku. Mortimer J. Adler dalam Cara Membaca Buku dan Memahaminya (1986) menilai membaca adalah kegiatan melakukan penemuan, mengantar dari tak paham menjadi lebih paham. Atau, membaca untuk mendapatkan informasi. Membaca untuk memahami membuat seseorang bisa menjelaskan mengenai sesuatu, sedangkan membaca untuk mendapat informasi berujung pada penghapal yang hanya bisa menceritakan ulang tanpa pemahaman.

Membaca juga sebuah peristiwa mendapat sekaligus kehilangan. Dengan membaca, seseorang mendapatkan wahana baru dalam pikirannya. Dengan membaca, seseorang kehilangan waktu untuk melakukan kesenangan lain, sebab membaca merupakan aktivitas tunggal yang tak dapat disambi hal lain. Kekosongan, kegelapan, dan kesesakan itu bisa menimpa orang atau negeri. Negeri tanpa buku ibarat negeri tanpa jendela, negeri tanpa pemahaman dan penemuan. Keadaan yang pernah dialami Indonesia sebelum buku dititipkan lewat kapal-kapal dagang kolonial atau barang bawaan misionaris.

Sejarah buku bermula dari ekspansi ekonomi kolonialisme Belanda melalui Verenigde Nederlandsche Geoctroyeerde Oost-Indische Compagnie (VOC) terhadap produksi rempah-rempah Hindia Belanda pada tahun 1596. Saat itu, VOC merasa perlu memanfaatkan pers untuk mencetak hukum yang termuat dalam maklumat resmi pemerintah. Para misionaris Gereja juga punya peran memperkenalkan percetakan di Hindia Belanda karena berkepentingan memenuhi percetakan kitab-kitab keagamaan dan traktat. Bahkan mereka sudah memiliki mesin cetak dari Belanda pada 1624 meskipun baru memproduksi sebuah Tijtboek, sejenis almanak pada 1659 oleh Kornelis Pijl.

Percetakan awal ini tercatat lebih banyak menerbitkan dokumen-dokumen VOC hingga pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff tahun 1744 terbitlah surat kabar pertama di Hindia Belanda bernama Bataviase Nouvelles yang dikelola oleh saudagar muda yang diperbantukan di kantor VOC, Jan Erdman Jordens (Ahmat Adam, Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan, 1995).

Surat kabar pertama ini hanya berukuran kertas folio yang berisi dua kolom di masing-masing halamannya. Bataviase Nouvelles berisi maklumat pemerintah dan iklan lelang yang diedarkan pada kalangan pegawai VOC saja dan sebagian kecil orang Eropa. Kerena dikhawatirkan isi surat kabar ini akan mengganggu monopoli Kompeni Belanda, akhirnya berhenti terbit pada 20 Juni 1746. Setelah gagal mendirikan percetakan pertama pada 1624, para misionaris kembali memiliki mesin cetak pada 1743 yang diletakkan di Seminarium Theogicum di Batavia. Percetakan ini mencetak Perjanjian Baru dan buku doa dalam terjemahan bahasa Melayu, hingga pada 1755 mereka dipaksa bergabung dengan Percetakan Benteng milik pemerintah.

Setelah VOC bubar pada 1799, usaha percetakan misionaris kian bertambah, salah satunya mesin cetak pertama di Kepulauan Maluku yang tiba tahun 1813 dan baru beroperasi pada 1819 dengan mencetak brosur keagamaan, buku sekolah dasar yang dikelola Gereja, dan surat kabar dengan bahasa anak negeri, Bintang Oetama (1858). Sejarah percetakan dan perbukuan di Nusantara pun berkembang beriringan dengan perkembangan misionaris dan sekolah-sekolah Belanda.

Sejarah panjang berbukuan tak menjamin literasi Indonesia maju dan berkembang di abad XXI. Indonesia masih memiliki masalah-masalah besar terkait literasi. Oleh sebab itu, pemerintah buru-buru membuat program Gerakan Literasi Nasional (GLN) tahun 2016. GLN setidaknya diterjemahkan dalam 6 bidang pokok: literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, serta literasi budaya dan kewargaan. Kemudian diwujudkan lokakarya-lokakarya terkait sosialisasi kebijakan teknis bagi peserta di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lalu menjadi program di sekolah-sekolah.

Dalam pelaksanaannya, ternyata GLN tak hanya menjadi domain Kemendikbud. Pertamina, bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2019, mengadakan kompetisi mural di Balikpapan dengan menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR), dengan mengangkat 6 bidang pokok yang sama dengan GLN. Di tingkat daerah, Jawa Barat, Malang, Papua Barat, Lampung, Balikpapan, Kalimantan Barat, dan Solo sudah membuat program-program dalam rangka peningkatan literasi. Mulai dari lomba-lomba, pembentukan duta baca, perpustakaan keliling hingga pengadaan buku sudah diupayakan pemerintah daerah masing-masing.

Namun, apakah membaca dalam program GLN sebatas kegiatan membaca untuk mendapatkan informasi atau membaca sebagai sebuah proses penemuan pemahaman baru? Tentu masih perlu kajian mendalam untuk menjawabnya. Jika merujuk pada kajian dari World Economy Forum 2017, kualitas jenis bacaan akan sangat menentukan kemajuan suatu bangsa. Sehingga program kampanye literasi tidak hanya berkaitan pada penganggaran tetapi juga memperhatikan konten literasi.

Untuk mendukung upaya GLN, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengucurkan Rp 10 triliun setahun untuk pengadaan buku. Pemerintah Solo beberapa tahun lalu juga menyemangati gerakan literasi dengan mendirikan Monumen Patung Soekarno Membaca di Taman Plaza Manahan. Sesuai namanya, patung perunggu senilai Rp 1,5 miliar itu berbentuk Soekarno sedang membaca buku atau lebih tepatnya sedang memangku buku karena tatapan mata Sang Proklamator ini tidak pada buku.

Dengan besaran anggaran yang tinggi dalam setiap program dan proyeknya, sulit dibantah bahwa nalar birokrasi adalah nalar anggaran. Bahkan terkadang menggunakan nalar politis yang sarat kepentingan. Misalnya, mengapa Soekarno disimbolkan sebagai seorang pembaca? Padahal Mohammad Hatta dikenal lebih pembaca dari Soekarno. Semasa kuliah di Handels-Hogeschool Belanda, dalam sebuah masa liburnya di Hamburg, Hatta memborong 19 judul buku sekali beli (Mohammad Hatta, Untuk Negeriku, 2011). Saat Hatta dipenjara di Glodok tahun 1934, ia pun membawa buku-bukunya. Bahkan, dalam masa pembuanganya di Boven Digul (Papua), Hatta membawa 4 peti berisi buku.

Hatta selalu identik dengan buku, membaca dan menulis, yang artinya memuliakan literasi. Gambaran suasana dan percakapan penulisan teks proklamasi ini kiranya dapat membawa kita ke rumah perwira tinggi Angkatan Laut Jepang di Indonesia, Laksamana Tadashi Maeda pada dini hari 17 Agustus 1945, “Setelah duduk sebentar menceritakan hal-hal yang diperdebatkan Nishimura, Soekarno dan aku mengundurkan diri ke sebuah ruang tamu kecil bersama-sama dengan Subardjo, Soekarni, dan Sayuti Melik. Kami duduk sekitar meja dengan maksud untuk membuat sebuah teks ringkas tentang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tidak seorang di antara kami yang membawa dalam sakunya teks proklamasi yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945, yang sekarang disebut Piagam Jakarta.”

Dalam peristiwa tersebut, Soekarno berkata, “Aku persilakan Bung Hatta menyusun teks ringkas itu sebab bahasanya kuanggap yang terbaik. Sesudah itu kita persoalkan bersama-sama. Setelah kita memperoleh persetujuan, kita bawa ke muka sidang lengkap yang sudah hadir di ruang tengah.” Hatta menjawab, “Apabila aku mesti memikirkannya, lebih baik Bung menuliskan, aku mendiktekannya.” Soekarno yang mengakui bahwa kebahasaan Hatta adalah yang terbaik.

Peristiwa sejarah itulah yang sebenarnya mengingatkan kita pada episode-episode literasi, yang selalu mengaitkan agama, politik, dan peradaban. Akhirnya, pada masa sekarang kita diharuskan memikirkan kemajuan literasi. Pemerintah telah berbuat meskipun sulit maksimal. Dukungan dari berbagai instansi atau komunitas terus saja dibuktikan yang menginginkan masa sekarang tetaplah berliterasi supaya tidak malu pada masa lalu yang sudah menampilkan sejarah rumit dan panjang.

Yohanes Bara Bekerja di Majalah UTUSAN dan Majalah BASIS.

Puisi

Puisi Irma Agryanti

Aku Ingin Meninggalkan Diriku

aku ingin meninggalkan diriku. masa lampau membuatku mengingat yang hendak kulupakan. tapi di balik jendela tak ada orang lain selain diriku dan buku puisi yang berulang kali dibaca. pikiranku tak pernah lengkap, selalu ada yang tak bisa kupahami seperti cara untuk mencintaimu atau upaya menolaknya.
setiap hari cuaca begitu susah untuk ditebak, membuat perasaan tinggal lebih lama seolah tak pernah ada saat yang tepat untuk pergi.
barangkali aku terlampau lama menjadi seseorang yang merasa bersalah atau menanggung kesalahanmu, sebab seperti pertengakaran kerap tak memberi kemenangan, agar masing-masing selalu terkenang.
tapi aku dikalahkan bayanganmu. menerimamu sebagai apa saja yang terasa dekat denganku, meski sesungguhnya tak ada yang benar-benar bisa menanggung, kesepian yang sering menetap. 

2018


Seseorang Dalam Diriku

ada saat-saat dimana aku meragukan seseorang di dalam diriku. seseorang yang menyalakan lilin tapi memadamkannya berkali-kali, seseorang yang ingin dilengkapi tapi seringkali menjauh. keriuhan seperti kesedihan yang minta dihibur. juga perasaan, selalu datang bergantian, rentan dan mudah lepas, sedang pikiranku seperti kota besar, penuh oleh prasangka, perihal-perihal dunia yang nonsen. aku tidak menulis sajak meski aku menulis sajak. kekosongan adalah satu-satunya yang bisa dituliskan, semisal tunawisma yang menatap langit dan bicara untuk diabaikan. barangkali aku tak menyadari, setiap kali pintu dibuka adalah sebuah kemungkinan lain, semacam upaya menolak untuk menemukan agar tak merasa kehilangan. orang-orang sudah lama menjadi hari-hari sedang aku tak tahu siapa yang sesungguhnya tak nyata, seseorang di dalam diriku atau di luar diriku.

2018


Aku Ingin Berhenti Bunuh Diri

aku ingin berhenti bunuh diri

pikiran-pikiran tak tidur

adalah mayat di luar peti mati

dalam pejam kedinginan

angin melintas-lintas

tak saling bertemu dalam udara

adakah pemakaman di tiap simpang waktu

bagi lubang dada yang tak selesai digali?

aku ingin berhenti bunuh diri

sebab seperti mata lampu jalan

aku sudah kau padamkan, berkali-kali

2019


Setelah Kehilangan

mungkin ada suatu hari baik

setelah kehilangan

aku lupakan

lagu yang mematahkan

musik-musik sedih

seorang perempuan selalu mengaku

baik-baik saja untuk tak mengalah

tapi hati seperti sekumpulan abu

beterbangan bila disentuh

angin dingin yang menyakitkan

mengingatkan pada sudut kecil

tempat negasi dihidangkan

dan sesudahnya

hanya samar

hanya latar

kau tak lagi di sini

tak perlu ada 

2017


Merayakan Kesendirian

pagi hari; dingin memutih

tak ada angka di kalender

tak ada ingatan dalam kepala

aku bayangkan kesedihan-kesedihan

apa yang seharusnya adalah apa yang tak pernah ada

seperti kalimat selamat jalan yang mesti dilepaskan

agar seluruh ketakutan pergi

dan puisi kembali dituliskan

2019


Perak

adalah laut bergulung-gulung

adalah gugus bintang

adalah warna rambut bulan

adalah padang-padang adulam

adalah daun-daun palma yang ditebar

adalah perempuan di balik cadar

ia tamar yang mati dibakar

setelah yehuda menyingkapnya

2019


Upaya Memahami Dirinya Sendiri

ketika hari selesai, ia akan berbaring, melihat bintang jatuh dari jendela kamar dengan tangan yang tak menggapai, juga cahaya lain, memantulkan warna yang tak jelas batasnya dan dadanya terasa berangin.

ia gamang pada sesuatu yang tak tertebak, semisal, bahkan dalam hati langit yang lapang, ada sesuatu yang sukar ditemukan.

ia ingin bebas dari mengingkari bahwa kesedihan tak pernah selesai dikenang, meski, prasangka hanya sebagian komposisi melepas kenyataan, mengapa dirinya lebih suka tersedu.

2019


Aufklarung

seseorang datang

setelah lama bermukim

dari kematian musim

seseorang datang

membebaskan diri

dari seluruh kutukan 

perempuan yang menderita

menjalani hukuman

oleh cinta

bagian kelam dari kenangan

betapa panjang usia derita

waktu serupa nyalak anjing

suara lonceng di puncak menara

samar terdengar

2016


Delusi

seseorang menjadi tak waras

setelah meneguk anggur

ia menyeka, matanya seperti basah

tapi film biru lebih menyedihkan

dari surat-surat yang dikirim

mereka mudah terbakar

sedang cerita, samar dengan kebohongan

sseorang menjadi tak waras

selepas menelan pil tidur

ia menyeka, matanya penuh delusi

2019


Membayangkan Dina Oktaviani

aku ingin menjadi dina

sekalipun bukan

ia yang jatuh di tiap kelokan

bicara pada angin

dan setia mengasihi dirinya

sebab padanya

lampu-lampu langit menyala

juga sebuah jalan yang

menjauhi rasa sakit

tapi ia adalah duka

musik-musik pujian

yang luput dari doa 

senantiasa mendapati dirinya

sendiri menjaga cinta

dari sekadar kata

aku ingin menjadi dina 

sekalipun hanya

puisi

2019


Irma Agryanti, lahir di Mataram, Lombok. Puisinya tersiar di berbagai media lokal dan nasional.  Buku puisi terbarunya Anjing Gunung (Basabasi, 2018). Bergiat di Komunitas Akarpohon.

Buku, Resensi

Menemukan Kembali ‘Homo Ludens’

Oleh Joko Pinurbo

Kumpulan sajak ini mengingatkan kita akan pentingnya jati diri manusia sebagai homo ludens, makhluk yang suka bermain. Ia terbit di momen yang tepat, yaitu ketika kehidupan sosial kita kian didominasi oleh perangai homo faber, makhluk yang suka bekerja, dan homo politicus, makhluk yang suka berurusan dengan politik dan kekuasaan.

Kesuntukan manusia sebagai homo faber membuat manusia terperangkap dalam belenggu deadline demi mengejar kepentingan ekonomi dan materi. Dalam kecenderungannya yang ekstrem, homo faber berkembangmenjadi manusia yang gila kerja atau manusia yang mabuk kerja. Kesuntukan dan kegilaan bekerja yang berlebihan menjadikan manusia hidup dalam tekanan mental yang besar karena setiap saat ia ditanya dan ditagih oleh angka. Hidup adalah memburu, bukan menikmati. Hidup diliputi oleh ketergesaan.

Di sisi lain, nafsu dan perilaku manusia sebagai homo politicus telah menjerumuskan manusia ke dalam kancah pertarungan dan persaingan sengit yang kadang sangat barbar dengan hoaks, kebencian, dan politik identitas sebagai peralatannya. Dalam wataknya yang negatif, bagi homo politicus, hidup adalah berebut, bukan berbagi; memangsa, bukan memberi; memukul, bukan merangkul; memangsa, bukan mencinta. Hasilnya ialah lunturnya cinta kasih sosial, melemahnya semangat persahabatan dan persaudaraan.

Memudarnya jati diri manusia sebagai homo ludens di satu sisi dan kian dominannya nafsu manusa sebagai homo faber dan homo politicus di sisi lain, ditandai dengan menghilangnya mutiara-mutiara jiwa yang berharga: kesabaran, sikap rileks, selera humor, dan kegembiraan.Manusia-manusia yang dijajah oleh kekuasaan rezim homo faber dan homo politicus adalah manusia-manusia yang mengalami gangguan kesehatan mental: tegang, gampang sedih, dan murah marah. Menjadi homo ludens, dengan demikian, merupakan penyeimbang bagi dominasi homo faber dan homo politicus, dan itulah yang secara metaforis mau diwartakan oleh sajak-sajak Yuditeha.

Melalui kumpulan sajak ini kita dapat berjumpa kembali dengan aneka dolanan atau permainan tradisional yang pernah mengiringi pertumbuhan sekian banyak anak sebagai homo ludens. Yuditeha bukan hanya mendata dan mendeskripsikan kembali berbagai bentuk dolanan; ia juga menempatkan makna aneka dolanan tersebut sebagai bagian dari pendidikan karakter. Dengan demikian, sajak-sajaknya mau menunjukkan dan nilai-nilai falsafi—di samping niilai-nilai estetis—dalam dolanan.

Permainan atau dolanan memang bukan simulasi dan duplikasi dari kehidupan nyata. Ia merupakan dunia yang direka atau diciptakan dengan kekuatan dan keliaran imajinasi. Ia tidak dikendalikan oleh nilai-nilai pragmatis. Namun, justru karena sifatnya sebagai dunia rekaan, ia memiliki nilai penting sebagai sarana pembebasan. Pembebasan dari kehidupan rutin yang diwarnai oleh perhitungan untung-rugi. Dolanan merupakan bentuk rekreasi dan relaksasi yang mengingatkan kita bahwa keindahan, kebahagiaan, kelucuan dan kekonyolan bisa dinikmati dan dirayakan bersama. Dolanan merupakan sarana untuk menjaga keseimbangan mental.

Meskipun merupakan dunia rekaan, dolanan—secara langsung atau tidak langsung—mengandung nilai-nilai ideal, nilai-nilai falsafi, atau nilai-nilai edukatif yang relevan bagi pengembangan karakter manusia. Menyelami sajak-sajak Yuditeha, kita bisa menemukan setidak-tidaknya lima butir keutamaan dolanan: (1) kegembiraan, (2) kebersamaan; hubungan antarpribadi, (3) kesabaran, ketenangan (4) empati, (5) kearifan: jujur, adil, ksatria (bisa menerima kekalahan dan kemenangan secara wajar).

Sajak berikut ini kiranya merupakan contoh bagus tentang bagaimana sebuah dolanan bisa merefleksikan nilai-nilai ideal dalam kehidupan manusia.

BAN-BANAN

Menggelindinglah di atas papan kayu

yang dijaga dengan ketenangan,

dan hanya jiwa yang jauh dari dengki

yang mampu melakukan perhitungan.

Tak bisa kau hidup sendiri

di tengah belantara masalah.

Hanya kompromi yang bisa menyelamatkan

manusia dari dunia rapuh,

hingga kelak akan diakui sebagai prajurit

yang pantas untuk melakukan

tugas sebagai ketua pandu yang terampil

dan paling disegani.

Sesungguhnya puisi pun merupakan dolanandolanan bahasa—yang menyuburkan dan menyegarkan kembali imajinasi; yang membebaskan kata-kata dari penjara kerutinan yang memiskinkan dan mematikan; yang ingin menghidupkan kembali kewarasan. Puisi adalah sebentuk rekreasi dan relaksasi bahasa yang anehnya sering dilakukan dengan cara yang tidak “waras”. Puisi adalah makhluk kesayangan homo ludens.

Selamat menunaikan ibadah puisi.

Yogyakarta, 20 Mei 2019


Joko Pinurbo, penulis puisi

Cerpen

Sepotong Masa Lalu di Depan Pintu

Cerpen Latif  N. Janah

Akulah saksi perjalananmu. Merebut hatimu sejak keluargamu sendiri tak menerima kau kembali. Akulah pemilik hatimu sekarang ini. Meski begitu, kau selalu berharap agar aku menghilang. Melebur bersama kenangan. Tetapi, nyatanya, aku semakin  hidup dan berjaya megah di kehidupanmu. Jika keluargamu menyebutku noda, kau justru lebih halus menamaiku penyesalan. Akulah yang lantas mengiringi hidupmu sejak Sania mencampakkanmu.

Kau membisu. Tanganmu masih menggegam terali besi jendela. Bibirmu bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun. Terhitung sejak kedatangannya setengah jam yang lalu, yang kau lakukan hanyalah menatap ke luar jendela. Seolah-olah dengan begitu, kau bisa menemukan sedikit pereda kegugupanmu.

Ia datang bersama Maria, gadis kecilmu yang umurnya kini hampir lima belas. Kau sama sekali tak bernafsu melihat keduanya. Meskipun jauh di kedalaman hatimu, kau mengakui sebagai ayah Maria.Tetapi apa yang diajarkan keluargamu, memaksa untuk mengakui bahwa itu adalah aib. Sesuatu yang amat tak patut bahkan untuk dibicarakan sekalipun. Walau pada akhirnya, Maria-lah yang meluluhkan pendirianmu.

“Baiklah, jika kedatanganku tak kau terima. Kau boleh saja melupakanku, tapi tidak Maria.” Ada kepasrahan bergetar dalam suaranya.

Mendengar itu, wajahmu semakin berkerut. Bibirmu mengerucut, hendak mengatakan sesuatu. Tetapi ia, Sania, wanita yang dulu begitu kau cintai secepatnya pergi. Digandengnya Maria dengan tergesa.

***

Terkadang, dalam pikiranmu, kau anggap dirimu telah mati. Hanya agar kau merasa terhibur. Sementara luka di dadamu masih menganga. Buah dari penolakan yang dilakukan oleh orang tua Sania. Kau merasa seperti sampah. Dicampakkan begitu saja.

“Kau boleh pergi sekarang!” Begitu yang diucapkan orang tuanya ketika itu.

Kalimat itulah yang terpahat membentuk goresan di dalam hatimu. Dan kediaman Sania saat itu, terasa seperti air garam yang mengalirinya. Kau merasa perih tak terkira. Kau merasahanya menjadi alat yang digunakan untuk membuat pengakuan di atas kertas, bahwa Maria memiliki ayah yang sah.

Kepada siapa kau pulang. Itulah perkara yang merongrong pikiranmu. Jangankan menerimamu kembali, keluargamu tentu akan menertawakanmu. Jika saja kau tahu begini akhirnya, kau tak akan sudi menikahi Sania. Rasa cintamu padanya bukan sebuah tiket untuk mendapat penghinaan dari keluarganya.

Suatu hari, entah bagaimana kau sampai pada sebuah jembatan besar. Badanmu entah sudah berapa minggu tak tersentuh air. Daki dan rambutmu yang kumal adalah identitas yang kau sandang saat itu.

Saat matahari sejajar dengan kepalamu, sebuah mobil tiba-tiba mendekat padamu. Hal yang tak kau sadari saat itu adalah bahwa hanya kau sendiri yang berada di sana. Sementara orang-orang yang mirip denganmu sudah berlarian entah ke mana. Itulah yang kemudian merubah nasibmu.

*** 

Kini kau berada dalam sebuah rumah baru. Itulah yang kau dengar dari seorang perempuan yang memberimu sarapan, pagi itu. Kau merasa matahari terasa begitu hangat menyapa kulitmu. Begitulah yang kau lalui bertahun-tahun. Terkadang, kau merasa bahwa inilah yang akan kau lalui sepanjang hidupmu sehingga lambat laun kau melupakan sakit hatimu. Meski kau tak bisa menolak kenyataan bahwa kadang kau merasa iri jika melihat teman-temanmu didatangi orang-orang yang kemudian membawa mereka pulang.

Sampai pada suatu waktu saat seorang yang biasa memberimu sarapan mengatakan bahwa ada dua orang perempuan yang ingin menemuimu. Saat itulah untuk pertama kalinya, api di dalam hatimu seperti dipantik kembali.

“Mereka ingin sekali bertemu dengan Bapak,” ucap perempuan itu. Sementara wajahmu hanya menunjukkan kekosongan. Tak menolak, juga tak mengiyakan.

“Baiklah kalau Bapak tak mau,” ucapnya kemudian pergi. Saat itulah kau mendengar suara perempuan yang sama sekali tak asing di telingamu.

***

Petang itu, kau dikejutkan dengan kedatangan Maria, putrimu satu-satunya yang secara tiba-tiba berdiri canggung di hadapanmu. Kemudian kau tahu, bahwa ia memaksa untuk bertemu denganmu dengan alasan yang tak bisa ditolak. Wajah sekaligus mulutmu tak berekspresi apa pun. Kau diam untuk menutupi keterkejutanmu.

“Ibu ingin bertemu Ayah.” Dengan sedikit terbata, Maria berkata. Kau tak bersuara.

Dalam bayanganmu hanya ada kau dan Sania. Sania, bagaimana pun juga, pernah kau cintai dan mencintaimu. Meski sempat lupa, kau tak pernah bisa menghapus kenyataan bahwa ia jugalah yang telah membuangmu, hingga kau terdampar di sini, di pusat rehabilitasi.

“Ibu sangat membutuhkan Ayah,” kata Maria sungguh-sungguh. Kau tak mendengar sedikit pun kecanggungan saat ia menyebutmu ayah. Meski begitu, kalimat itu terdengar begitu klise di telingamu. Kau tetap diam, hanya untuk memperlihatkan keteguhan sikapmu.

“Baiklah jika Ayah tak mau. Tetapi perlu Ayah tahu bahwa Ibu tak pernah sedikit pun mengajariku untuk membenci apalagi melupakan Ayah.”

Itulah kalimat Maria yang tertanam di indera pendengaranmu. Sampai pagi datang, kau tak mampu memejamkan matamu. Hanya Maria dan secarik kertas bertuliskan sebuah alamat yang ia tinggalkan yang memenuhi pikiranmu.

***

Pagi itu terasa amat asing bagimu. Kau berdiri termangu di depan sebuah pintu. Kau hendak mengetuk pintu sebelum akhirnya pintu itu dibuka oleh seseorang dari dalam yang melihat siluetmu dari balik jendela.

Kau pupuk keberanianmu untuk masuk. Setelahnya, kau disambut dengan air mata Maria. Entah sedih atau bahagia. Yang kau lihat kemudian adalah Sania yang terbaring di ranjang. Tergolek tak berdaya. Tubuhnya terlilit selang-selang kecil entah berapa banyaknya. Kau memalingkan wajahmu beberapa saat, sebelum akhirnya  matamu kembali bertatapan dengan matanya.

“Berapa kali pun aku meminta maaf, aku tahu tak akan berguna,” kata Sania pelan.

“Meski begitu, itulah yang ingin kukatakan di hadapanmu juga Maria. Kau tak harus memaafkanku, tetapi jika kau berkenan, tinggalah di sini sebagai penebus kesalahanku juga keluargaku dulu.”

Itulah kalimat terakhir yang kau dengar dari Sania. Tangis Maria pecah dalam pelukanmu. Dan saat itu kau sadar, kau tak pernah dilupakan.***

***

Menjelang Sore, Januari 2017-April 2019


Latif Nur Janah Lahir di Sragen.Gemar menulis cerpen.