Katalog

Puisi

Puisi Jihan Suweleh

Fibromyalgia

Seperti mati

aku tertidur

dalam ngilu

sekujur tubuh

lelah mencekik

tulang begitu sakit

bertahun-tahun

aku budak tangis

apa yang kuingat

pudar perlahan

kecemasan, ketakutan

kepalaku menahan

luka dalam obat

kesembuhan

bukan antidepresan

kepercayaan

bukan penenang

sementara

persis tidurku

yang berhari-hari

tak berdaya

meski terlihat sehat

katakan bahwa aku akan sembuh

aku akan sembuh

tanpa pertanyaan:

benarkah kausakit?

leherku, pundakku

punggung, dada

kaki, tangan

melingkar kesakitan

aku tak sanggup bangun

dari tempat tidur

terlelap dalam hidup

yang mematikanku

setiap saat aku bertanya

mengapa aku terlalu payah

mengapa aku selalu lelah

meski tak berbuat apa-apa

aku ingin membeli energi

untuk tulangku

yang melulu ngilu

menyembilu


Trauma

Kenangan masa kecil

gelap dipejam

terbingkai pada mata

hadiah Papa Mama

membentuk benda tajam

di dalam kamar.


Waktu

Di magrib yang dingin

Kita sepotong bibir ranting

Di subuh yang sejuk

Kita sepasang kaki berteluk

Jarak menggigit bayangmu

Gemeletuk nyaring di kupingku

Tiada yang mampu menjarah waktu

Kau telah meniggalkanku, dan berlalu

Kenangan kutelan

Sendirian

Rindu mengudus

Dalam kardus

Sampai jumpa di lain hari

Ketika kau belum menjadi orang lain


Panggung Tangis di Mata Ibu

Aku melihat matamu, Ibu

menggerakkan kesedihan

menjadi seni pertunjukan

Setiap menyentuh panggung

aku melihat tangismu

pada tirai, pada lampu yang berderet

dan akan menyinariku

mendapat tepukan dari tangan

yang bukan dirimu

Tata rias yang teroles di wajahku

menyatu dengan kulit

sebagai duka yang kaulempar

tanpa lebih dulu kautatap

dan kostum-kostum yang kukenakan

adalah pertanyaan atas kesedihanmu

yang tak pernah sanggup kaujawab:

betulkah mimpiku adalah lukamu?

Aku rindu bersandar di dadamu

mendengar sunyi yang berdarah

hening yang memeluk kehampaan

tanpa air susu yang keluar

sebagai tali antara kita

Adakah yang tidak kuketahui

dari masa lalumu, Ibu

selain payudaramu

tak sanggup mengeluarkan

apapun kecuali kesedihan

Adakah yang tidak kuketahui

dari masa laluku

sehingga yang kuingat hanya

Ibu mengurungku dalam diam

dan memukulku ketika aku lari

ke luar rumah

Di panggung berkilap-kilap

aku patung dalam matamu

wajah-wajah gembira di depan sana

adalah tangismu yang menolak

kepergianku

tetapi, Ibu, tidak ada jalan yang buruk

di atas panggung

meski panggung yang kita lewati

berbeda.


Pada Sebuah Televisi

Aku ingin meninggal di dalam FTV

menjadi air mata penonton setia

yang bersembunyi

pada nasib buruk sendiri.

Mereka melihatku sebagai perempuan

simpanan suami orang

merebut hak anak-anak tak berdosa

korban kegagalan rumah tangga.

Satu kali saja aku menjadi pemenang

meski menyakiti istri orang

anak orang, dan harga diri orang

yang rela melakukan apapun untukku

dan meninggalkan siapapun demi aku.

Kelak ketika aku kecelakaan

karena sibuk teriak-teriak

demi memperlambat durasi

kesedihan pada ujung takdir,

aku pasti bertobat dan meraung-raung

minta maaf pada Tuhan

sekalian tak menyangka, ya ampun

perempuan yang menyakitiku

adalah penolong hidupku.

Dan aku meninggal setelah memohon

agar mereka kembali bersatu

biar penonton tidak terlalu membenciku

lalu mendapat petuah hidup

dari kisah orang-orang baik.

Aku ingin meninggal di dalam FTV

menjadi teman bagi kesepian ibu-ibu

dan hiburan untuk orang

yang gemar tertawa

lewat judul-judul panjang

tak masuk akal.


Meminta Pertolongan

                    Mengenangmu.
                    Tolong aku.

Sajak-sajak yang kita tulis
Berhamburan dalam tangis
Rindu terjatuh pada patuh
Menjalar sebagai luka lebar
Di matamu yang jauh dari mataku
Senduku yang sendu pada sendumu
Sepanjang tahun lalu

Tengah malam kita menjadi terang di layar ponsel
Dan gelap di dada sendiri
Menutupi semua yang kita pahami
Dengan pertanyaan seputar duka sandiwara

Pagi hari kita menjadi kotoran kambing
Yang menolak mengerak
Membantah disebut sampah

Siang hari kita menjelma harta
Yang tidak membuat kaya
Siapa-siapa

Sore yang merah
Bergantian di bibir kita
Dan kau basahi dengan hujan dari mulutmu
Sobek seluruh aku

Tolong.

Mengenangmu adalah darah
Yang tak henti keluar di kepala

Mengenangmu adalah sedih
Yang selalu ada dalam puisi
Tanpa bisa kupahami


Kepada Tubuh yang Runtuh

Kautahu, tidak ada yang ingin menjadi gila
seperti kita yang tidak meminta lahir dari rahim siapa-siapa.

Napas membusuk
lebih busuk dari bangkai tikus
yang kaupandang sepanjang hari
menunggu pulang tiba

Di selatan Jakarta, orang-orang bekerja
menatapmu sebagai manusia
tanpa otak, tanpa dada, tanpa wajah
berdatangan meminta telinga untuk cerita sedih mereka

Pertanyaan datang pergi
semacam kontes di televisi
yang kausimak tiap hari
sebagai hiburan selain sinetron perselingkuhan

Rasa iba kaututup
demi membungkam kesedihanmu sendiri
luka duka kaubiar turun
dalam dirimu menuju doa yang entah didengar kapan

Terik melingkar di tubuh kita
setiap malam di atas ranjang
basah menahan nyeri
yang takut diketahui

Siapa punya luka lebih besar
di antara kita
siapa punya darah lebih kotor
di antara kita
bagimu menjadi gila adalah kesalahan
dan ketololan dan keegoisan dan kesia-siaan dalam hidup

Tetapi, tidak ada yang ingin menjadi gila
tidak ada yang ingin tersesat dalam dirinya sendiri
dan kaulupa, kita sudah mengalaminya
bahkan berdoa, “Tuhan, pulangkan kami,

tanpa rantai besi di tubuh ini.”


Bilur

Kau terbungkus plastik
tubuh biru, lebam, kaku
di tanah basah
kunci menyembul
menjadi barang bukti
terkubur

Pernah kita bersatu
suka dalam luka
tanpa minta sudah

Akhirnya jasadmu
lepas juga
disambut angin
yang menggiring bau anyir

Masih terekam nyerimu
bunyi jerit di ruang itu
menjadi nyanyian di bibir kita
takut menuju takluk
pada malam deras keringat

Di mana kemanusiaan, kaubilang
Di mana letak otakmu, perempuan murahan, kata mereka

Cambuk menari
di punggung dan pahamu

Kini giliranku
menyusul kebebasanmu.


Tidur

musik-musik sendu

menyentuh

kasur yang lembut

dan kosong

bersih

dari tangis

menguar luka tanpa darah

jatuh sebagai batu

jatuh sebagai lagu

dengan lirik kehilangan

Ibu


Wajah yang Terbakar di Stasiun Manggarai

Aku lupa bertanya padamu

bagaimana cara terbaik

menyelamatkan cinta

dari sakit hati

Di peron dua aku menunggu

bertahun-tahun, berganti baju

wajah yang tetap suram

rambut yang tetap kelam

mengibas masa lalu dari tanganmu

dari napasmu

dari tangismu

dalam sunyiku

Entah apa yang membuat diriku

menyebutmu masa lalu

sementara kita tak pernah berpisah

sekaligus tak pernah bersama

darahmu

dalam

darahku

Aku melihat restoran berjejer

seperti kelaparanmu

yang belum mampu kausampaikan

kecuali dalam rengek dan ba-bi-bu

hujan pernah menyapu kita

tetapi menghangatkan dalam peluk

yang kita eratkan

kemarau pernah mendinginkan kita

bersama bising kereta dan bau keringat

para penumpang ketika kauhilang

dan aku menjerit mencarimu

meski aku tahu kau adalah aku

Anakku, suatu saat entah di mana

kita akan kembali bersama

naik kereta menuju rumah

aku menenteng banyak kardus

tetapi takkan pernah kubiarkan

tubuhmu terjatuh, tersenggol tubuh

orang lain ketika kereta rel listrik berhenti

dan penumpang seperti binatang buas

yang membakar wajahku dengan api

kebencian tanpa sanggup kutahan


Jihan Suweleh, lahir di Gorontalo, 14 Desember 1994.

Cerpen

Cinta Terlarang

Cerpen Anggoro Kasih

Aku membuka jendela kamar hotel, membiarkan angin yang dibawa oleh pekat malam masuk membelai tubuhku. Kulihat bulan bulat sempurna berwarna perak seperti mata serigala, bertengger mesra di langit malam tanpa bergerak seperti terperangkap dalam bingkai jendela. Kupandangi bulan itu beberapa saat. Sebagai pengganti rasa gelisahku menunggu pujaan hatiku yang tak juga kunjung tiba.

Kini aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Kunyalakan televisi sekadar mengusir sepi. Aku sudah menutup jendela dan membiarkan bulan perak berada di luar sana sendirian. Sudah pukul sebelas malam. Tak ada lagi kabar darinya selain pesan yang dia kirimkan sekitar satu jam yang lalu “Sabar ya, aku pasti datang menemuimu.”

Aku cemas memikirkannya. Ingin sekali aku mengirim pesan atau menelepon untuk mengobati rasa cemasku. Namun selalu urung. Pikiranku berkecamuk, mungkin dia sedang mencari alasan kepada istrinya agar bisa pergi. Mungkin juga dia sedang meninabobokan anaknya. Maklum, anak keduanya masih berusia balita. Atau mungkinhal buruk terjadi; istrinya memergoki obrolan mesraku dengannya dichatt roomWhatsApp. Untuk yang terakhir ini, aku selalu mengingatkan dia agar menghapus obrolan kami begitu menemu ujung percakapan. Tapi aku tahu dia sering teledor dan pelupa. Semoga saja ini hanya prasangka burukku. Semoga saat ini dia sedang sibuk menyetir, membelah jalanan macet yang memang selalu padat di malam minggu seperti sekarang untuk menuju ke sini.

Aku mengganti saluran televisi berkali-kali. Berharap menemukan acara yang tepat untuk mengusir rasa gelisahku, namun gagal. Akhirnya aku beranjak dari tempat tidur, berjalan mondar-mandir seperti induk ayam kehilangan telur. Sementara ponselku masih saja diam tak bersuara. Aku benar-benar benci situasi seperti itu. Kenapa untuk melepas rindu saja begitu merepotkan? “Arrghh.” Aku menggerutu pelan.

Kamar hotel ini berukuran delapan kali delapan, dilengkapi fasilitas lengkap layaknya hotel bintang lima. Mungkin sudah tiga kali aku memesan hotel ini untuk melepas rindu dengannya. Namun bukan di hotel ini saja kami biasa bercinta. Kami sering pindah-pindah hotel untuk menghindari terbongkarnya perselingkuhan kami. Sebagai direktur perusahaan yang cukup punya nama, aku bisa saja sewaktu-waktu bertemu dengan client atau kenalan. Seperti dua minggu lalu saat aku berjalan dengan kekasihku menuju kamar yang telah kupesan, aku bertemu dengan rekan bisnisku.

“Sedang apa Anda di sini?” pertanyaan itu keluar usai kami bertegur sapa dan berjabat tangan.

“Biasa, urusan bisnis,” jawabku enteng. Lalu aku mengenalkan kekasihku. Tak ada sedikit pun kecurigaan yang muncul dari raut wajah rekanku. Dia memang belum tahu banyak mengenai diriku, terlebih tentang hubunganku dengan kekasihku. Tentang hal itu, tentu saja aku bersyukur.

Semenjak kejadian itu, aku dan Dudut, begitu biasa aku memanggil kekasihku, memutuskan untuk tidak berjalan bersamaan saat masuk dan keluar hotel. Dudut menangbukanlah nama aslinya, melainkan panggilan sayangku padanya. Kupanggil demikian karena dia gendut. Namun aku tak pernah mempermasalahkan itu hinggamenyuruhnya untuk diet. Bagiku gendut itu lucu, dan yang terpenting, sangat hangat untuk kupeluk. Sampailah waktunya banyak orang yang mencurigai hubungan kami, dan karenanya kami sering mendengar desas-desus yang beredar tentang kisah asmara kami. Karena aku dan Dudut sudah sama-sama berkeluarga, maka semenjak itu, kami memutuskan untuk bermain lebih hati-hati.

Seperti sungai yang berhulu, kisah ini juga berawal. Aku mengenal Dudut dari temanku bernama Widy. Saat itu semua berjalan wajar dan biasa. Saat itu aku sedang merasakan sakit hati hingga menenggelamkanku pada lautan derita yang kelam. Kekasihku sebelumnya saat itu bilang kalau hubungan kami harus berakhir. Seperti seorang pejalan yang terjerembab ke dalam lubang hitam secara tiba-tiba. Aku kaget dan tidak bisa terima. Ketidakterimaan itu terasa menyakitkan, terlebih karena datangnya tiba-tiba hingga aku sulit menerimanya. Sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku hal itu akan terjadi. Widy adalah orang pertama yang menenangkanku. Memberiku semangat untuk perlahan bangkit dari lubang hitamku. Saat itu aku seperti manusia tanpa harapan. Manusia yang selalu mencoba memungkiri kenyataan hingga hanya menyisakan kepedihan.

Ombak akan terus bergulung dan kisahku juga terus berjalan. Selain Widy, juga ada Dudut yang sering menemaniku selama dalam masa remuk, dia ada  membawa air dan udara sejuk. Aku merasa bersyukur karena memiliki mereka, terlebih Dudut, karena itu aku dan Dudut menjadi dekat, bahkan hubungan kami menjadi mesra.

“Kamu jangan terlalu dekat dengan Riben. Lebih baik kau menjauh dia,” ucap Widy padaku. Riben adalah nama asli Dudut. Saat aku mencari tahu alasan kenapa aku harus menjauhi Riben, Widy menjawab kalau Riben telah jatuh hati padaku dan hal itu katanya bisa membuatku tidak jadi lepas dari dunia kelam yang saat itu dia nilai mulai kulepaskan.

***

“Kamu sudah lama? Maaf aku baru selesai mandi. Habisnya kamu gak ada kabar,” ucapku usai membuka pintu.

Tanpa banyak kata, Dudut masuk dan memelukku erat, dia mendekapku seperti seorang tuan yang takut burung merpatinya lepas. Sementara tangannya sibuk memeluk dan membelaiku, dia gunakan kaki kanannya untuk menutup pintu.

“Aku rindu,” ucapnya manja di samping telingaku. Handuk yang kugunakan juga sudah terlepas. Bibirnya kini menyapu daun telinga dan leherku. Dia seolah tak mau melewatkan setiap incinya. Sementara tangannya sibuk membelai dan meremas dadaku. Tangan itu perlahan turun, menepuk pelan bokongku. Kurasakan bibirnya semakin liar bermain. Lidah kami beradu. Dia memang pandai memancing dan membuat nafsuku bangun dan berapi.

Hanya ada suara televisi dan nafas yang beradu. Tidak lagi terasa dingin udara AC meski kami sudah sama-sama telanjang. Justru tubuhku terasa panas saat tangan Dudut dengan gemas mamainkan kemaluanku. Aku dibuatnya malayang.

“Lakukan cepat, aku sudah tak tahan lagi,” ucapku yang lebih terdengar seperti desahan yang mengemis.

Perlahan, kemudian cepat dan semakin cepat si jagoannya menusukku. Menghentak-hentak, membuatku menjerit pelan beradu dengan suara decitan tempat tidur. Tubuhnya rebah di sisiku setelah senjatanya memuntahkan hasratnya.

“Aku sayang kamu,” ucapnya usai mengecup keningku. Kami tidur berhadapan. Tanganku membelai wajahnya. Ingin sekali kubawa wajah itu kemana pun aku pergi.

Pekat semakin mengikat malam gelap. Aku berdiri menghadap ke luar jendela, memandangi bulan bulat perak masih berada di tempat yang sama seperti enggan pergi. Rasanya aku juga ingin seperti bulan itu. Berada di sini bersama Dudut lebih lama lagi. Namun itu jelas tidak mungkin. Hidup memang sering menyebalkan. Usai merapikan kemejanya, Dudut memelukku dari belakang. Aku tahu dia juga ingin berada di dekatku lebih lama. Tapi kami tahu sama tahu, kami harus segera pulang, karena istri kami sama-sama telah meninggalkan banyak riwayat panggilan di ponsel kami masing-masing.

***


Anggoro Kasih, lahir dan menetap di Karanganyar, Jawa Tengah. Pernah menuntut ilmu di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia UNS. Sekarang aktif di Komunitas Sastra Kamar Kata.

Buku, Resensi

Antologi Kenangan dalam Bangun Pagi (semoga) Bahagia

oleh Indah Darmastuti

“Tugas seorang pemimpin adalah:

 membuat rakyatnya bangun pagi bahagia”

Kalimat pembuka itu diletakkan di halaman awal, di bawah foto tiga laki-laki dalam buku lakon bersampul paduan hitam dan krem. Sepertinya Eswe, si Penulis lakon ingin meyakinkan pada siapa pun bahwa kebahagiaan itu penting dan hak setiap umat sehingga ia mencantumkannya sebagai salah satu tugas seorang pemimpin (ideal).

Tetapi dalam 9 naskah plus 1 prolog dengan tokoh tiga pemuda: Bas, Bob, dan Frank itu lebih banyak mengobrolkan tentang kesedihan juga kenangan-kenangan pahit, bahkan luka yang diproduksi dalam keluarga yang semestinya menjadi salah satu sumber utama kebahagiaan sebelum para tokoh itu masuk pada kancah masyarakat dan bagian dari sebuah bangsa yang bergolak pada 1997-1998 semasa mereka remaja. Mereka seumuran dan berkawan dekat.

Buruknya Hubungan Keluarga

Tiga tokoh itu punya akar kepahitan yang ditanam oleh orangtua yang buruk menurut ukuran pada umumnya. Tokoh Bas bermasalah dengan ibunya. Entah ada persoalan apa sehingga  ibu mengutuk anaknya sedemikian rupa. “Pergi dari rumah ini! jadilah gelandangan […]” dan “Matilah seperti bangkai tikus, tak ada yang akan menangisimu […]” (hal. 35 dan 36).

Pun pada tokoh Frank yang bertengkar dengan ayahnya. “Frank, kamu bukan anakku, kamu anak kelelawar malam yang tersesat menghamili ibumu.” Pada puncak pertengkaran itu, tiba-tiba ayah Frank bertanya “Apa cita-citamu, Nak?” / “Seniman teater,” dan seperti ayah yang buruk, ia langsung menghakimi anaknya dengan mengatakan bahwa masa depan Frank buram seperti kertas dan ayahnya bilang: “Lebih baik kamu mati sekarang, Frank.” (hal 38-39).

Bob tak jauh beda. Ia mendapat pesan dari neneknya sesaat sebelum meninggal: “Jadilah jahat sebelum orang lain mengajarimu kejahatan, sebab kejahatan yang orisinil datang dari hati nuranimu. Kejahatanmu akan lebih berkwalitas dari seorang kriminal atau koruptor. Sekalipun persoalan keluarga semacam itu ada, aku membayangkan betapa berat untuk meraih kebahagiaan itu, apalagi kalau itu menjadi salah satu tugas seorang yang memimpin.

Saya mencurigai, ada apa dengan Eswe sehingga memilih menghadirkan orang tua (ibu, ayah, nenek) yang buruk menurut pandangan umum. Saya katakan begitu, karena siapa tahu itu baik menurut beberapa kalangan karena satu dan lain hal.

Penyebutan tokoh-tokoh terkenal

Memang tak selalu naskah lakon ada kandungan alur cerita, plot, konflik dan tematik khusus yang mengarah pada sebuah titik seperti novel. Seperti dalam buku lakon ini, kita bisa menyimak obrolan tiga bersahabat tentang apa saja sebelum akhirnya mereka dibawa ke persoalan yang akan diangkat oleh Eswe: Reformasi. Tetapi perihal peristiwa 1998 itu hanya satu bagian saja, selebihnya tetap mengangkat obrolan-obrolan anak muda pada zamannya. 

Salah satu tema obrolan tiga tokoh itu selain tentang cita-cita, mereka mengungkap tokoh-tokoh yang mereka kagumi. Bas yang disumpahi ibunya itu mempunyai tokoh idola: Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Christina Marta Tiahahu, R.A. Kartini, Laksamana Malahayati, Bunda Theresa, Panglima Polim dan Nabi Muhammad SAW. Kecuali Kanjeng Nabi Muhamaad dan Panglima Polim, tokoh yang dikagumi Bas semuanya Pe..rem..pu..an. Benarkah tak ada konflik psikologi tokoh Bas pada makhluk perempuan dan sosok ibu? Di sini tak ada penjelasan tentang mengapa ia yang mempunyai hubungan buruk dengan ibu, sangat mengagumi tokoh-tokoh perempuan. Atau barangkali Bas merindukan sosok ibu yang baik dan penuh kasih sehingga ia mengambil tokoh idola perempuan?

Frank—si anak kelelawar itu mengagumi Sukarno, Hatta, Syahrir dan Helen Keller. Sekali lagi, selain Helen Keller, tokoh yang dikagumi Frank adalah la..ki..la..ki.. tak ada trauma atau gejolak psikologi pada tokoh Frank. Entah mengapa tokoh Frank itu mengagumi Helen Keller yang difabel netra-rungu-wicara. Barangkali karena Helen Keller juga pengamat politik. Tetapi di sini tetap tak ada penjelasan, mengapa tokoh Frank yang mempunyai hubungan buruk dengan ayahnya itu justru mengagumi sosok laki-laki atau Frank merindukan sosok ayah yang mendukung dan mengayominya sehingga ia mengidolakan tokoh laki-laki.    

Lalu, Bob yang mendapat pesan dari nenek ajar menjadi penjahat berkualitas itu mengagumi Suharto dan Tan malaka dengan alasan: Tan pemikir komunis, sedang Suharto berhasil mengkomuniskan banyak orang. Satir yang pas. Di sini tampak sekali salah satu kekuatan Eswe untuk melontarkan kritik pada sebuah peristiwa dengan cara berada di antara dua kutub yang berlawanan.

Lagu Daerah

Dituliskan dalam teks, peristiwa berkumpulnya tokoh Bas, Bob dan Frank adalah 1997-1998 ketika Penataran P4 menjadi agenda wajib diikuti oleh setiap remaja garapan “pabrik” orde baru untuk setiap warga negara yang mengaku nasionalis dan berpancasila. Yang salah satu mata pelajarannya adalah mengenal lagu-lagu daerah: O Ina Ni Keke, Gambang Suling, Soleram, Apuse.

Mereka tak menyanyikan lagu pop atau dangdut yang mungkin bisa dipakai untuk menandai lagu-lagu apa saja yang hit pada masa itu. Tetapi ada tambahan daftar lagi mereka di luar lagu daerah, yaitu: Darah Juang karya John Tobing, lagu tema perjuangan menumbangkan tiran kala itu

Peristiwa serius yang terjadi di negeri ini disampaikan dengan jenaka, dan tak lupa Eswe menyatir apa yang terjadi setelah reformasi: setelah berjuang menggulingkan tiran kakak-kakak mahasiswa yang kala itu melakukan protes akan menangguk keuntungan dengan mendapat bagian kursi-kursi senayan.

Cerita lain yang disentil oleh Eswe adalah tokoh Bob (pengagum Suharto garis keras) Frank dan Bas yang mendukung reformasi tetapi tetap mementingkan persahabatan. Belum ada Facebook memang, tetapi sangat mungkin mereka tidak saling blokir karena di sini mereka bertiga tetap bersatu jualan ikat kepala bertuliskan reformasi. Eswe menangkap ada peristiwa nyempil di sini, bukan menampilkan tokoh sok hero yang berorasi bak politisi karbitan.

Buku naskah panggung ini, mencoba hadir memenuhi takdirnya bahwa pementasan, betapa pun  serius dan berat tema yang diangkat, upaya untuk menghibur dan kelayakan ditonton tetap harus dipikirkan matang. 

Naskah ini ditutup dengan obrolan mereka bertiga tentang evaluasi hidup mereka. Mengevaluasi cita-cita yang selama ini sempat mereka genggam sebagai remaja produk orde baru plus keluarga hancur.

Bob yang semula bercita-cita mati muda, berubah ingin menjadi penjagal sapi. Frank yang semula ingin menjadi seniman teater, beralih keinginan menjadi peternak ikan dan membuka usaha odong-odong. Yang paling pilu adalah Bas, karena kuncinya ada di sini, ketika Frank bertanya “Apa cita-citamu, Bas?”

“Aku hanya ingin bangun tidur bahagia, Frank.” [hal 98]

Pada akhirnya kebahagiaan itu harus dicari sendiri, dikaisnya dari sisa-sisa umur dan paparan persahabatan atau apa pun yang akan terjadi dalam hidupnya. Siapa pun berhak bahagia, termasuk ia yang pernah dikutuk ibunya.  []


Indah Darmastuti, tinggal di Solo. Anggota komunitas Sastra Pawon-Solo. Pendiri Difalitera situs sastra suara untuk difabel netra. yang bisa diakses dan diunduh secara gratis di http://www.difalitera.org atau bisa diakses di spotify.

Puisi

Puisi Seruni Unie

Move On

1.

Dengan atau tanpamu

duniaku

masih lembut kenyal

2.

Tak apa aku sendiri

sebab dadaku

ranum diksi

3.

Pergilah jauh

hasrat tak lagi luluh

di hadapanmu

Solo, 2016/2018


Kamar Penyair

Sepi  tak wangi

hanya bayangan diri

sibuk onani

Solo, 2019


Sebuah Puisi (Tak) Horny 

1/

Kau buat aku horny

pada sapamu

yang rendah hati

2/

Gairahku sontak menggelinjang

saat tuturmu

sopan

3/

Kapan bertemu

ingin kuhibahkan

seluruh  kecupku

Solo, 2018


Jumpa

Kueja tekun

adamu

sebelum matahari pikun

Solo, 2018/2019


Epilog Rumah Lama

1.

Di Kamar

cat dinding mengelupas

mirip cinta yang kandas

2.

Di Ruang Tamu

senyum bapak membiru

pamit padaku

3.

Di Dapur

cinta ibu melebur

dalam sambal dan sayur

4. 

Di Halaman

setangkai mawar

mengucap selamat tinggal

Solo, 2016/2018


08569***

Kau tinggalkan

Nada tulalit

Sebagai isyarat pamit

Solo, 2019


Fragmen Secangkir Kopi

1/

Akulah ampas

dalam kopimu

yang ditinggal tak ikhlas

2/

Seperti selir

menunggu kecup bibir

tak henti zikir

3/

Maka reguklah

sesukamu

sebelum dingin waktuku

Solo, 2019


Bro

Di waktu cingkrang

Aku pernah kasmaran

Padamu, adam

Solo, 2019   


Seruni Unie, penikmat puisi asal Solo.

Cerpen

Jika Ada Cara Termanis untuk Mati

Cerpen Marcelina Chintia Devi

Jika ada cara termanis untuk mati, aku pasti akan memilihnya. Hanya saja, mengatur kematian nyatanya adalah sebuah kepahitan. Semua baju-bajumu kulipat rapi di lemari, barangkali kau akan pulang sebentar, untuk mengambil sisa-sisa barangmu. Secangkir kopi dan sepiring roti bakar, mungkin sudah berjamur, aku masih menunggumu untuk menghabiskan sisanya. Maaf jika ada beberapa barangmu tak kau lihat tampak di kamarmu atau rumah kita ini, sebagian kubuang, tak lama setelah kau memutuskan pergi dari rumah ini.

Awalnya kukira semua sempurna. Kau yang saat itu masih mahasiswa semester awal, begitu aktif di berbagai kegiatan kampus, hingga bertemulah kita di lapangan basket itu. Kau tidak memiliki sanak saudara di kota ini, dan toh aku sendirian di rumahku sepeninggal orangtuaku. Kutawarkan satu kamar di rumahku, dengan biaya yang tak semahal kosan yang lain. Aku tahu kau tak cukup mampu untuk membayar kos, maka tanpa pikir panjang kau mengiyakannya.

Lantas banyak waktu kita habiskan bersama. Di antara anak-anak kos yang lain kau yang paling menarik perhatianku, menurutku. Kau tak banyak bicara, tak seperti yang lain selalu meriuh sampai tengah malam. Bahkan mereka baru pulang tengah malam, sambil menggandeng perempuan masuk ke kamar. Erangan-erangan menjelang pagi selalu saja kudengar. Tanpa merasa bersalah mereka yang masih berbalutkan selimut melingkar di badannya yang telanjang duduk di ruang tamuku sembari merokok. Aku tidak suka dengan sisa-sisa abu yang berjatuhan di mana-mana. Kau selalu membantuku bersih-bersih keesokan harinya.

Kau yang paling sering mengantarku pergi, mungkin karena kau hampir setiap hari di rumah. Seringkali aku menyapu halaman atau menyiram tanaman-tanamanku diiringi biolamu yang terdengar sendu dari luar kamarmu. Kau bantu aku mencuci mobil, memperbaiki semua barang yang rusak, dan kau sangat menghormati aku. Ketika anak kos yang lain tidak betah dan beranjak pergi dari sini, hanya kau yang akhirnya tetap tinggal. Seringkali kau menceritakan sanak saudaramu jauh di sana, dan aku tahu, kau adalah anak kesayangan bapakmu.

Empat tahun berlalu, kukira semua baik-baik saja, sampai suatu waktu kau hampir tak pernah pulang selama sebulan. Akukhawatir, kesepian, rinduku memuncak. Kau bilang sedang urus skripsimu, mungkin butuh waktu untuk menyelesaikannya. Aku pikir itu hal yang biasa, tapi kemudian ada hal yang berbeda kutemukan di kamarmu. Dengan kunci serep kubuka kamarmu, dan tentu saja yang sudah sering kulakukan, membelai-belai bantalmu, atau memeluk gulingmu sampai tertidur. Saat aku menciumi baju-bajumu, aku mencium aroma yang lain. Kamarmu yang biasanya selalu rapi, kali ini berantakan dan tak beraturan. Ingin rasanya aku merapikannya, dan mencucikan semua bajumu, tapi nanti kau akan tahu, aku sering masuk kamarmu.

Suatu malam, ketika aku setengah terbangun, kudengar langkah kakimu, tetapi tidak sendiri. Tampak lirih suara perempuan berbisik, jantungku terasa berhenti, kutahan untuk tidak menangis, dan kugenggam erat guling di kamarku.Sesak napasku setiap kali mendengar erangan itu, semakin malam semakin keras. Kudengar deru napasmu menikmati perempuan itu, membuatku semakin tegang mengerang, namun di sisi lain, hancur pula hatiku. Teringat setiap kali tanpa kau sadari, aku mengintipmu dari lubang jendela yang jarang kau tutup tirainya, kau tidur hampir telanjang, aku bisa melihatmu sepuasnya kala itu, atau ketika terdengar nyanyianmu ketika mandi, membuatku tak sungkan menikmatinya sembari mengintip dari kamar mandi sebelah. Aku hancur, dan aku menyadari, tak lama lagi kau akan pergi.

Pagi itu, dengan mata sembab, aku mencoba keluar kamar, dan mendapatimu duduk di ruang tamu, bersama seorang perempuan yang tersenyum di pelukanmu. Perempuan macam apa itu, tidak pulang dan malah menginap di kamar kosan laki-laki, mengerang sepanjang malam, dan merebut semuanya dariku dalam sekejap. Dikenalkannya dia sebagai pacarmu. Aku mencoba tersenyum, meskipun aku tahu, semakin aku melihatmu bahagia, semakin tajam pisau menancap di jantungku.

Sebulan kemudian kau pamit padaku, kau bilang skripsimu sudah selesai, dan kau sudah serumah dengan perempuan jalang itu, mungkin dalam waktu dekat kalian akan menikah. Kau peluk aku untuk pertama dan terakhir kalinya, aku mencoba untuk melakukan pelukan formalitas menyambut hangatnya badanmu, meskipun ingin rasanya aku memelukmu lebih lama dan erat.

Kucetak dan kukumpulkan semua foto-fotomu yang diam-diam kuabadikan, setiap malam aku memandanginya, sambil sesekali kulepaskan semua penat dan nafsuku semalaman. Beberapa lembar bajumu yang mungkin kau rasa hilang sebelum kaucuci, kujadikan teman tidurku setiap hari. Kali ini semua sudah kucuci, dan kubereskan, kuletakkan di meja kamar ini dengan rapi. Foto-foto itu untuk kamu, barangkali istrimu mau menyimpannya.

Sudah lama aku memendam perasaan ini, seperti halnya aku memendam jati diriku sebenarnya. Kucoba untuk menghindar dari diriku sendiri. Perempuan-perempuan yang nyatanya setiap hari selalu dating di rumahku, yang membuatmu dan teman-teman kosmu dulu menganggapku hebat dengan seringnya membawa mereka pulang bergantian, toh mereka semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang coba kucari jawabannya. Meskipun aku tahu jawabannya, dan jawabanku adalah kamu.

Tidak mudah bagiku untuk memahami diriku sendiri, bahkan meskipun aku semakin lama semakin meyadari siapa aku ini. Jika pendapat masyarakat tidak berbeda dengan cambukan keras bapakku ketika melihatku memakai rok kakakku, untuk apa aku mengakuinya, dan itu berat. Menahan keinginanku untuk memelukmu setiap kali kau tertidur dengan pintu terbuka, atau melihatmu keluar kamar mandi seenaknya dengan berbalut handuk kecil di kemaluanmu, lantas aku harus segera berlari ke kamar untuk melepaskan semua, kamar yang tak pernah dibuka oleh siapapun, bahkan perempuan- perempuan jalang itu.

Aku sudah selesai, dan tidak mau tersiksa seperti ini, jika manusia sepertiku ini tidak bisa menjadi apa adanya, kenapa aku diciptakan? Lantas aku hanya akan membawa luka yang tertoreh sepanjang waktu,dan cintaku padamu hanyalah angan tak bermakna.

Maka, jika kau merasakan pahit yang sama, minumlah kopi itu bersamaku.

***

Selesai kubaca surat itu, ada perasaan ngeri sekaligus kasihan yang kurasakan. Sembari mencari-cari apalagi yang bisa kujadikan barang bukti, sementara menunggu tim yang lain datang untuk mengevakuasi mayat itu. Miris rasanya, melihat lelaki setampan itu, hanya terduduk kaku di kursi samping tempat tidur, dengan tubuh telanjang dan mulut berbusa.Nampaksemua barang-barang di rumah itu sudah tertata rapi, seolah dipersiapkan untuk menyambut kunjungan kami, atau entah siapa yang dia harapkan datang.

Tak berapa lama beberapa lelaki datang, tetap dengan tenang namun tampak haru, mencoba melihat kondisi kamar tersebut. Kuberikan surat itu kepada mereka. Sejenak mereka membacanya, berubahlah raut muka mereka dengan tajam, dan seorang yang paling muda di sana, yang tinggi besar dan berwajah pemalu, tanpa berpikir panjang langsung lari keluar rumah dengan pandangan nanar dan jijik.

***


Marcelina Chintia DeviLulusan S1 Arsitektur UNS dan S2 Magister Perencanaan Arsitektur Pariwisata (MPar) UGM. Berporses bersama beberapa teman membentuk studio arsitektur bernama oarchstudio, dan bekerja paruh waktu di Yayasan Rumah Karya Kreatif Indonesia sebagai pendamping dalam perencanaan kawasan Desa Wisata Plumbon, Tawangmangu, Karanganyar.

Buku, Resensi

Dekat & Nyaring: Upaya Mengutuk Penulis yang Keasyikan Bercerita dan Dakwah yang Salah Tempat

Oleh Doni Ahmadi

Sastra Indonesia dalam beberapa waktu ke belakang mulai ramai dengan karya-karya berbentuk novelete atau novela, sedikit contoh, Omong-kosong yang Menyenangkan karya Robby Julianda, Arapaima karya Ruhaeni Intan, Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa karya Faisal Oddang, hingga yang terbaru, Dekat & Nyaring karya Sabda Armandio (selanjutnya akan saya tulis Dio). Dan saya akan mengulas yang disebutkan terakhir.

Secara sadar atau tidak, penulis cenderung keasyikan bermain-main, ngoceh ngalor ngidul, maupun pamer keterbacaan, pengetahuan serta pengalaman yang tidak perlu-perlu amat diceritakan dalam bentuk novel. Hal itu tentu tak bisa dilakukan dalam bentuk novela, tentu saja. Novela—dengan keterbatasan—hanya menyisakan sedikit ruang bagi penulis untuk melakukan itu. Namun jika penulis telah memutuskan untuk novela dan tetap melakukan itu, konsekuensinya hanya dua: menjadi novela yang mubazir atau cerita pendek yang kebetulan dipanjang-panjangkan.

Dekat & Nyaring tidak termasuk dua hal di atas, Dio tidak asyik-masyuk membiarkan tokoh-tokohnya lompat terlalu jauh dan menceritakan hal lain selain apa yang ia ingin kisahkan: Gang Patos, sejarah singkatnya (dalam bentuk alegori maupun secara langsung), hingga kisah-kisah ajaib para penghuninya.

Dekat & Nyaring cukup padat menggambarkan kehidupan orang-orang yang bermukim di Gang Patos: Edi, Nisbi, Anak Baik, Wak Eli, Aziz, Idris, Kina. Bekas penghuni gang Patos: Sam. Serta satu orang lain dari tempat antah berantah yang turut bersinggungan dengan penghuni Gang Patos: Dea Anugrah. Setiap tokoh, hidup dengan karakter yang utuh, tidak lari atau mengalami transformasi seperti banyak tokoh-tokoh di novel—terlebih pewaktuan dalam novela ini juga tidak terlalu jauh, hanya sehari dan sesekali putar balik mengisahkan masa lalu dangan porsi yang tidak terlalu banyak.

Dalam novela ini, misalnya tokoh Edi. Tokoh ini konsisten dengan paham ‘selalu ada jalan lain’ di sepanjang cerita: mencari jalan lain meski seringkali tidak sesuai.

“Kenyataan itu tak membuat Edi putus asa, ia meyakini kalimat kesukannya setiap kali menghadapi masalah ’selalu ada jalan lain.’ Seperti misalnya, mencincang sanca dan menjualnya sebagai kobra.” (hlm. 8)

“Edi menganggukkan kepala. ‘itu masalah mudah. Kita curi saja listrik dari lampu jalan di depan. Kau tak perlu lagi memusingkan tagihan listrik […].” (hlm. 46)

Tak hanya tokoh Edi, tokoh Nisbi juga berperan konsisten. Sebagai janda satu anak, ia ditampilkan begitu cerdik menutupi dosa masa lalunya dengan terus memproduksi dongeng bagi anaknya—tokoh Anak Baik. Tokoh Aziz, seorang anak yang dengan kecerdasan mental yang tertinggal sepuluh tahun, juga digambarkan apa adanya sepanjang cerita: begitu lugu dan polos, hingga didera kemalangan di akhir kisah karena sifatnya. Lalu tokoh Anak Baik, yang tampil sebagaimana anak-anak dengan pengetahuan terbatas yang membuatnya mengeluarkan banyak pertanyaan konyol karena rasa ingin tahu yang tak terbendung. Tokoh Kina, yang konsisten mencacat segala hal di gang Patos untuk keperluan karya fiksi yang menurutnya otentik. Dan banyak lagi.

Selain tokoh-tokoh tersebut, yang menarik lagi adalah bagaimana cara Dio menghidupkan sosok Pak Koksi tanpa pernah memunculkan batang hidungnya sepanjang cerita. Tokoh ini hidup dan cukup menarik perhatian lewat dongeng-dongeng hasil ciptaan Nisbi. Ketidakmunculannya tokoh Pak Koksi ini juga usaha Dio memberi teror kepada seluruh penghuni gang Patos, sekaligus kepada pembacanya. Seperti yang disebutkan dalam wawancaranya[1]—yang mengatakan bahwa dalam novela terbarunya ini ia ingin menghadirkan sense of horror tanpa hantu—Dio pun membuka kisah horor melalui cerita pak Koksi ini.

“[…] Orang Patos membangun desa yang amat bagus—tentu tanpa tulang naga, dan di seberangnya Orang Koksi mulai membangun desa yang sama sekali berbeda.[…] Pak Koksi mendatangi Samwau. Ia datang menawarkan ide lamanya, yaitu menyatukan dua desa agar memiliki tanah yang lebih luas dan sumber daya alam yang saling melengkapi. […] Suatu sore, seorang tak dikenal masuk wilayah Orang Patos, orang itu bersin-bersin sampai pingsan. Orang Patos menolong, sebagai gantinya beberapa hari kemudian Orang Patos ikut bersin-bersin. […] Pak Koksi juga membuka peluang emas bagi Orang Patos. Ia akan memberi satu rumah dan mantel bagi Orang Patos yang bersedia tinggal di wilayah yang sudah disediakan Orang Koksi. […] beberapa orang Patos yangbersin-bersin mengambil kesempatan itu.”

“[…]Orang-orang Patos hilang satu per satu,” jawab Wak Eli, “Saat mengetahui kabar itu, Samwau segera berdiskusi dengan Pak Koksi. Pak koksi meminta dukun-dukunnya untuk mencari tahu penyebab hilangnya orang-orang itu.” (hlm. 40-42)

Dalam kisah yang diketahui seluruh penghuni gang Patos ini, Dio berusaha menceritakan sejarah singkat gang Patos dengan cara lain yang lebih cerdik. Alih-alih mengisahkannya dengan gamblang, Dio membuat alegori untuk Orang Koksi sebagai penghuni kompleks Permata Permai Residence yangdibangun berseberangan dengan Orang Patos atau gang Patos. Sejarah singkat ini pun juga muncul dalam porsi yang pas dan diceritakan bergantian oleh tokoh-tokohnya (Nisbi, Edi, Wak Eli, Kina) kepada tokoh Anak Baik—yang bukan tanpa kebetulan[2]—untuk memahami sejarah singkat penghuni gang Patos sebelum ditinggal oleh penghuninya.

Tidak cukup dengan alegori tersebut, produksi ketakutan dalam Dekat & Nyaring pun dimunculkan lagi lewat interaksi antar tokohnya. Teror ini ditegaskan lewat sosok Sam—yang merupakan bekas penghuni gang Patos dan kebetulan berprofesi sebagai Polisi. Berikut.

“Aku mengerti perasaanmu. Aku tumbuh dan besar di sini, tapi sadarlah. Masa kejayaan itu sudah lewat, Nis. Lagi pula mereka tidak meminta kalian pergi secara cuma-cuma,” kata Sam, “Kau bisa pakai uangnya untuk buka warung atau apalah buat anakmu.”

“Kuingatkan,” kata Sam, mendekatkan wajahnya ke Nisbi, “Dua puluh tahun lalu dua ratus kepala keluarga tinggal di gang sempit ini. Dua ratus. Ramai dan damai. Seperti kehidupan yang layak, kan? Aku pikir juga begitu, tapi dulu aku masih terlalu muda dan naif. Mereka yang punya otak lekas pindah saat ditawari kesempatanyang lebih baik. Dan sekarang cuma kalian yang bertahan.” (hlm. 28)

Will Wright dalam Undestanding Genres: The Horror Films menyebut “adegan kekerasan fisik sering menjadi warna utama, misalnya pembunuhan, teror, mutilasi, dan darah.” sebagai salah satu ciri-ciri genre horor. Dalam kisah ini pun, Dio memperlihatkan peristiwa pembunuhan dan darah yang akan pembaca jumpai di babak-babak akhir. Dan dari 8 ciri lain[3] dalam penjabaran Wright, ciri ini sajalah yang dimanfaatkan Dio untuk memasukan sensasi horor dalam kisahnya. Selain itu, Dio juga mengamini pendapat Edgar Allan Poe, J.L Borgel, dan Peter Penzolt dalam ciri-ciri cerita horor dengan menghadirkan salah satu tokoh stereotip yang kerap hadir dalam kisah horor (dukun, tokoh agama, polisi), yang dalam kisah ini, muncul sosok Sam yang merupakan seorang Polisi.

Selain itu, Dio juga membuat judul buku ini terkesan misterius bagi pembaca[4]. Sepanjang pembacaan, pembaca akan beberapa kali melihat frasa dekat dan nyaring—tujuh kali tepatnya—sebagai penanda kisah semakin dekat menuju puncaknya.

Melihat ini, kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa Dekat & Nyaring adalah novela yang bercerita tentang kaum yang bertahan dan yang terempas dengan balutan teror sebagai bumbu penyedap. Namun itu adalah kesimpulan yang terlalu terburu-buru, novela ini tidak hanya bercerita soal itu saja. Dio juga sedikit memberi pandangannya terhadap sastra (khususnya untuk para penulis) lewat tokoh Kina—sosok seorang penulis misterius yang merelakan dirinya menikahi Idris dan bermukim di gang Patos karena ingin menuliskan karya sastra yang otentik—dan Dea Anugrah—satu-satunya karakter yang hanya berhubungan dengan Kina dan bukan gang Patos.

Lewat tokoh Kina dan Dea Anugrah, Dio sedikit menyinggung masalah susastra yang selalu menjadi mitos: menggugah masyarakat dengan menyuarakan yang tidak tersuarakan. Dio sadar betul, bahwa dengan menciptakan karya fiksi, ia tidak dapat mengubah apapun, dan itulah yang ingin ia katakan dari sekian banyak gagasan dalam novela tipis berjudul Dekat & Nyaring ini. Hal itu bisa kita lihat dalam dialog antara Kina dan Dea, berikut.

“Kenapa sih, kau merasa perlu mewakili mereka? Itu sama saja dengan kau meremehkan kemampuan mereka. Mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa perlu kau wakili.”

“Orang perlu melihat masalah sebenarnya,” kata Kina.

“Kalau begitu tulis saja jurnal antropologi, esai, atau liputan mendalam. Jangan menulis novel, nggak akan mengubah apa pun. Kenapa kau nggak fokus memperbaiki tulisanmu sendiri, atau melakukan hal lain yang lebih bermanfaat seperti beternak lele, misalnya, ketimbang meromantisir kemiskinan orang lain?” (hlm. 93-94)

Dio memilliki keyakinan bahwa karya sastra tidaklah bisa mengubah apapun, dan ketimbang penulis sibuk berdakwah dalam karyanya—yang kemungkinan pesannya tidak sampai atau hanya menjadi kutipan motivasi di media sosial—maka hal yang lebih baik dilakukan adalah memperbaiki tulisannya. Dio sadar betul, seberat apapun gagasan yang ditawarkan dalam prosa fiksi, akan sia-sia saja jika dikisahkan dengan cara yang amburadul.

Melalui novela Dekat & Nyaring, Dio seolah memberi pukulan yang lumayan telak bagi penulis yang keasikan berdakwah dalam tulisannya dan tidak memerhatikan bentuk maupun gaya bercerita.Hal ini bukan berarti cerita yang memuat gagasan berat selalu buruk, bukan itu. Masalahnya adalah apakah tujuan penulis menulis cerita? Jika ia ingin menyuarakan yang tidak tersuarakan, maka pilihan yang bijak adalah menulis esai, opini, ataupun kajian yang bersifat non-fiksi.

Dalam hal ini, Dio sependapat dengan Edgar Allan Poe—dalam esainya berjudul “The Poetic Principle”[5]—yang menolak gagasan bahwa karya sastra sebaiknya memberikan penerangan moral dan karenanya Poe mengusung ide bahwa karya seni harus ditulis demi karya sastra itu sendiri.

Melalui Dekat & Nyaring, Dio seperti menjewer penulis yang keasyikan menceritakan hal tidak perlu dan para pendakwah yang salah tempat dengan frasa dekat dan nyaring, Dio juga berhasil memberi alternatif untuk para pencerita setelahnya memberi batas dan penanda agar cerita tak lari terlalu jauh. Melalui tokoh-tokohnya, ia juga berhasil menghadirkan ketakutan tanpa hantu dan bagaimana manusia dengan segudang imajinasinya bisa bertahan di situasi yang tidak memungkinan.

Dan jika ada satu hal yang buruk dalam novela Dekat & Nyaring, maka yang patut disalahkan adalah kembali laginya sosok Dea Anugrah di akhir kisah. Hal yang membuat para pembacanya bertanya, “Di luar gang Patos, apa hanya ada Dea Anugrah saja?”—selain tentu saja beberapa kesalahan penyebutan nama tokoh, yang cukup krusial, di tengah-tengah cerita.

Jakarta, Mei 2019.


[1] Dalam laman https://jurnalruang.com/read/1538062132-sabda-armandio-gak-perlu-bertele-tele#

[2]Untuk mengisahkan dongeng Pak Koksi, Dio pun menciptakan tokoh Anak Baik yang polos dengan segudang rasa ingin tahu dan sedikit keras kepala.Kisah tidak datang tiba-tiba tanpa motif (sebagaimana banyak prosa buruk yang sekonyong-konyong berkisah tanpa memerhatikan kausalitas).

[3] (1) Tokoh utama biasanya adalah korban yang mengalami teror atau tokoh pembawa bencana. (2) Tokoh Antagonis atau tokoh pembawa kejahatan biasanya terasing atau tersingkir secara sosial atau bukan bagian dari dunia nyata. (3) Dekor ruang relatif monoton. Misalnya sebuah rumah, kota terpencil, rumah sakit. Dekor waktu didominasi malam hari atau suasana gelap. (4) Tokoh agama sering dilibatkan untuk menyelesaikan masalah. (5) Hal-hal supranatural atau tahayul dipakai untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa yang tidak dapat dijelaskan secara rasional. (6) Tokoh anak biasanya memiliki kekuatan berkat kemurnian jiwa mereka. (7)Adegan kekerasan fisiksering menjadi warna utamanya, misalnya pembunuhan, teror, mutilasi, dan darah. (8) Teknologi sering menjadi salah satu pemicu masalah. Kearifan lokal dan kedekatan manusia dengan alam justru yang menjadi pemenangnya.

[4]Dalam pembacaan lebih lanjut, motif dari penggunaan frasa berulang ini bisa menjadi siasat yang sekaligus berperan sebagai benang merah, yang menjaga agar cerita tak lari terlalu jauh, dan penanda babak-babak penting dan krusial dalam cerita.

[5] Dalam A History of Literary Criticism: from Plato to Present. M.A.R Habib (Blackwell Publishing: Oxford, 2005) hlm. 464.


Doni Ahmadi , lahir dan tinggal di Jakarta. Menulis cerpen dan esai. Tulisannya tersebar di media cetak dan daring. Bukunya, Pengarang Dodit (Basabasi. 2019)

Puisi

Puisi Olen Saddha

Puisi Anak-Anak

Di mata anak kita

Suguhkan lukisan hijau alam yang jauh dari kering gersang

Memupuk beranda rumah

Agar subur dan jauh dari hama perkara

Di bibir anak kita

Tanamkan kalimat-kalimat tegas yang jujur tanpa tipu daya

Tuturnya adalah rindang

Peneduh diri dari terik matahari siang dan lalu lalang orang

Di bahu anak kita

Sandarkan benih terkuat yang mampu mengangkat tumpukan duka

Rangkulannya hangat kokoh

Merengkuh daun-daun yang mulai layu karena angin terlalu kencang

Di kaki anak kita

Pakaikan sepasang pengejut agar langkahnya tak pernah bimbang

Tujuan di depannya

Membisik untuk tetap bergerak sesuai dengan pikiran dan perasaan

(Desember 2017)


Menemukanmu

Aku menemukanmu dalam kotak hitam berisi rindu,

yang berserakan memapah lantunan bait merdu,

yang setiap waktu kudengar dari balik sepoi penafsir sesak paru,

yang langkahnya samar dalam memburu,

yang bisiknya membuang bising hari layu.

(2016)


Sesuatu di Dalammu

Bahumulah yang membuatku damai, seperti dahan yang menjamu burung-burung dengan teduh naungan. Aku tak mampu menemukan alasan untuk berhenti mendengar rimbunnya kalimat penenang.

Telingamulah yang membuatku lahir sebagai manusia, seperti perekam suara yang memuat rekaman ucapan tanpa lebih dan kurang. Menyimpan ucapan-ucapan itu di dalam ruang berupa ingatan. Sesekali kauputar ulang untuk menyeretku saat terlalu jauh keluar dari lintasan kewajaran.

Ketidakhadiran kabarmulah yang membuatku lumpuh, seperti dingin angin malam yang tak lekas berhenti meremukkan tulang-belulang. Aku tak menemukan sebab untuk berhenti berharap menemukanmu di antara detik-detik terang hingga siang memanggang.

(Juni 2017)


Di Ujung Kantuk

Di ujung kantukmu,

aku menyisipkan bungkusan berisi perasaan yang kurajut dari kenangan.

Kau akan memeluknya hingga ke dunia jauh yang selalu menggodamu untuk berlama-lama.

Saat pagi tiba, bungkusan itulah yang akan membisiki telingamu untuk lekas pergi dari situ.

Sebab aku sudah menunggu di balik pintu untuk membawamu menuju hal-hal tak terduga.

(2019)


Benang_Benang Terbang

Sepanjang napas malam,

aku melihat benang-benang pikiran terbang ke atas.

Semakin tinggi, semakin rumit jalinan yang mereka buat.

Hingga dini hari mereka masih pusing memikirkan cara

untuk melerai pergolakan dengan diri sendiri

(2019)


Masa Lalu

Masa lalu adalah genangan lumpur yang selalu menenggelamkan ketika kakiku berpijak di atasnya. Aku tak bisa selamat dari cekikan lengan-lengan kenangan yang menjalari sekujur tubuh.

Masa lalu adalah gempa yang merubuhkan perasaan dan keyakinan ketika pikiran terpaut pada hari berikutnya. Tak ada yang mampu menebak kapan lolongan panjangnya berakhir. Sebab ia akan terus mengejar bagai roh-roh gentayangan, yang lupa jalan kembali menuju tempat peristirahatan.

(2019)


Yang Tak Terlihat

Aku melihat jejak-jejak langkah yang menahan napas, seperti merpati yang tersedak karena tanpa sengaja menghirup kata-kata yang berterbangan di udara

Aku mendengar kerikil-kerikil berbisik dengan mata terpejam, mereka merapal kalimat panjang yang tak kumengerti artinya, tapi tetes hujan tahu ia sedang menahan diri agar tidak marah

Aku merasa di balik kulitku ada sesuatu yang mengalir selain darah, ia bersikukuh tidak mau keluar dari jalan panjang yang membentang di seluruh tubuhku. Ia terus berjalan sambil membawa segenggam benih dan menyebarnya di sepanjang jalan yang ia lalui. Dan saat benih-benih itu tumbuh, aku tidak bisa lepas dari rimbun. (Februari 2019)


Perih yang Lapang

Matanya biru laut yang menggelarkan kursi panjang untuk duduk sebentar

Tak ada kedip yang tiba-tiba

Semua wajar hingga membuatmu lupa berapa lama waktu yang kauhabiskan

Senyumnya hangat selimut tempat kausembunyi dari gigil akibat udara dingin lepas subuh

Tak ada padam yang mengejutkan

Semua bertempo datar dan kau amat tenang dibuatnya

Memang,

Sudah ia siapkan semua matang-matang,

dan sesuatu yang perih itu hanya ia simpan sendirian

(2019)


Melipat Kemungkinan

Sementara kau berjalan-jalan,

aku melipat kemungkinan dan kusimpan di saku kanan.

Nanti sesampainya di rumah akan kukumpulkan bersama lipatan-lipatan lain,

untuk melengkapi kerangka penghubung kita berdua,

yang kususun sendirian.          

 (2019)


Mata dalam Dadamu

Di sela-sela terik matahari pukul dua belas,

aku melihat wajahmu yang merengut sebab aku gagal merapal kata mesra.

Kauputar pandangan untuk membelakangiku,

tapi aku tahu mata dalam dadamu tak akan pernah sanggup melakukan itu.

(2019)


Olen Saddha, tinggal dan berkegiatan di Surakarta. Saat ini tengah bernaung di Komunitas Kamar Kata Karanganyar untuk memperkuat kemampuan menulis, guyon, dan rasan-rasan. Selain menulis ia adalah founder Inisiasi 66, kolektif lintas disiplin. Ia juga vokalis di grup musik Suarasa. Karya-karyanya pernah terbit di Jurnal Perempuan, Buletin Sastra Pawon, beberapa antologi-antologi bersama, dan surat kabar. Buku puisinya berjudul Memandikan Harapan diterbitkan oleh Kekata Publisher tahun 2017. Ia dapat dihubungi melalui akun instagram : @olensaddha, fb : Olen Saddha, Email : [email protected]

Cerpen

Otok-Otok dan Suara Seorang Perempuan dalam Kepala Gustam

Cerpen Erwin Setia

Sepulang dari kantor, Gustam melewati pinggir pasar, ia mendapati seorang anak memegang otok-otok dan seketika masa lalu membayang di kepalanya.

Masa itu belum terlalu jauh. Belum lebih dari lima belas perputaran bumi terhadap matahari. Tapi rasanya sudah tak bisa digenggam. Sudah jauh lepas dan mengingat-ingat tak membuatnya lantas kembali di genggaman.

Pada usia lima sampai tujuh tahun, Gustam suka ikut dengan ibunya pergi ke pasar. Ia turut ke pasar bukan untuk berjumpa dengan penjual daging yang genit kepada ibu-ibu muda atau untuk mendengar suara serak preman pasar yang napasnya berbau tak sedap—belakangan ia tahu itu aroma minuman keras. Ia mau ikut ke pasar, merelakan diri bangun lebih pagi dari biasanya, hanya untuk melihat-lihat aneka mainan. Syukur-syukur jika ibu berbaik hati membelikannya.

Salah satu mainan yang paling terkenang di benak Gustam adalah otok-otok. Sebuah mainan berbentuk kapal yang terbuat dari bambu atau kaleng. Ketika dinyalakan—lazimnya dengan bahan bakar minyak kelapa—mainan itu akan bergerak di atas air dan menimbulkan bunyi otok-otok. Bunyi itulah yang kini memenuhi kepala Gustam.

            “Apa bagusnya mainan itu, Gustam?”

            “Suaranya lucu, Bu. Bentuknya juga keren. Lihat cara benda itu bergerak. Seperti kapal laut di tv.”

            “Itu hanya mainan. Sebentar lagi juga ia akan berhenti bergerak. Lalu kamu bosan dan tak memedulikannya lagi.”

            “Tidak, Bu. Lihat, ia terus bergerak. Bergerak dan berbunyi unik.”

            “Baiklah. Bang, saya beli otok-otoknya satu.”

            “Wah. Terima kasih, Bu. Aku senang. Aku pasti tidak akan bosan bermain dengan otok-otok ini.”

Percakapan itu, dengan gambaran ibu, otok-otok, dan suasana pasar menjadi latar bagi lamunan Gustam pada sore yang gerah itu. Ia tak ingat sudah berapa lama tak melihat kapal mainan itu—sebelum kemudian melihatnya lagi saat ini. Ia juga tak tahu di mana otok-otok pembelian ibunya—otok-otok pertama sekaligus terakhirnya—kini berada. Apakah dulu mainan itu rusak lalu ayah buang bersama rongsokan lain atau hilang di suatu tempat atau masih teronggok di suatu gudang. Ia tak benar-benar tahu. Dulu, setelah otok-otok, beragam mainan lain muncul menggantikan. Mobil mainan, kereta mainan, pistol mainan, dan begitu banyak mainan lainnya. Otok-otok pun terpendam dan terlupakan. Persis dengan hal-hal lain apa pun di dunia ini. Tidak pernah ada yang bertahan terlalu lama. Karena dunia bergerak begitu cepat dan perubahan begitu kejam melindas hal-hal silam.

Gustam tersadar dari lamunannya ketika seorang gadis menegurnya.

            “Hai, kamu sedang mikirin apa?”

Gadis itu adalah rekan kerjanya. Alena. Ia berdiri di depan Gustam dengan kepala dimiring-miringkan seakan sedang meneliti apa yang terjadi pada diri Gustam sehingga ia terdiam begitu lama.

            “Oh, Alena. Tidak. Hanya hal kecil.”

            “Apa itu?” tanya Alena, masih dengan pandangan menyelidik.

            “Otok-otok. Kau tahu otok-otok?”

            “Ah, iya, aku tahu. Tapi aku lebih suka boneka barbie.”

            “Dulu ibuku pernah membelikanku otok-otok. Kemudian tak sengaja tadi aku melihat seorang anak kecil memegang otok-otok. Dan tiba-tiba saja pikiranku terlempar ke masa lampau. Semacam itulah.”

            “Kau suka bernostalgia, ya?”

            “Tidak juga. Hanya saja, ingatan-ingatan semacam itu memang sulit dicegah.”

            “Kau benar.”

Setelah ucapan pendek Alena itu, keduanya tampak seperti sepasang manusia yang dikutuk menjadi patung. Hanya diam dan nyaris tak berkedip. Saat sebuah becak yang membawa buntalan sayur hendak lewat dan sang penarik becak berteriak menghardik dua orang yang mengganggu jalannya itu, barulah Gustam dan Alena tersadar. Keduanya meminta maaf secara spontan dan berpindah ke tempat yang lebih tepat. Lebih tepat untuk ditempati dua orang yang tampaknya punya cukup waktu luang untuk sekadar bercakap-cakap atau mengamati hiruk-pikuk sore hari.

Di atas kursi halte, mereka duduk, dan mulai berbincang.

            “Rumahmu tak jauh dari sini?” buka Alena yang kelihatan tak nyaman jika hanya berdiam-diaman saja.

            “Satu kali naik angkot lagi, sampai.”

            “Aku juga. Jangan-jangan kita tetanggaan?”

            “Aku naik angkot ke arah barat. Kamu?”

            “Aku ke arah timur. Sayang sekali. Kupikir kita bisa lebih lama bersama dan melanjutkan percakapan di dalam angkot.”

            “Kamu suka ngobrol seperti ini dengan semua orang?”

            “Enggaklah. Malah aku ini sebetulnya pendiam. Memangnya kau tak memperhatikanku sewaktu di kantor. Aku tidak banyak omong, tahu.”

Gustam diam sesaat dan berusaha mengingat bagaimana Alena ketika di kantor. Memang, dibanding perempuan-perempuan lain di kantor, ia jarang mendengar suara Alena. Alena tak terlalu mencolok kalau dibandingkan dengan rekan-rekan perempuannya yang cerewet dan berisik seperti mesin diesel.

            “Entah. Aku memergokimu melamun dan tiba-tiba saja tebersit untuk menyapamu dan membangun percakapan-percakapan. Boleh, kan?”

            “Oh iya. Tentu saja,” kata Gustam sedikit tergeragap.

            “Kau mau tahu sesuatu?”

            “Apa?” Gustam mencoba untuk terlihat antusias. Ia tidak ingin membuat siapa pun merasa tak enak hati.

            “Aku suka membaca cerpen. Pagi tadi aku membaca cerpen tentang seorang lelaki yang bertemu dengan perempuan yang seratus persen sempurna. Kau percaya ada perempuan yang seratus persen sempurna?”

Gustam berpikir sejenak. Tidak ada gambaran apa-apa di benaknya menyangkut perempuan selain rona ibunya. Ibunya yang sudah beranjak tua dan sakit-sakitan. Tiba-tiba rasa rindu menyambar dirinya. Mungkin pada akhir pekan ia akan pergi ke rumah ibu, mencium tangannya yang berkerut, dan meminta maaf atas segala kesalahannya.

            “Hei, mengapa kau malah diam?” Alena menepuk bahu bidang Gustam. Gustam terlonjak bagai orang yang baru terjaga dari tidur nyenyak. “Hobimu melamun, ya?”

Gustam menggeleng-gelengkan kepala, mengusap matanya, dan meminta Alena untuk mengulang perkataannya.

            “Kau percaya ada perempuan yang seratus persen sempurna?”

            “Sempurna?”

            “Ya.”

            “Memangnya di dunia ini ada sesuatu yang sempurna?”

Mendengar kalimat itu, Alena tergelak. Ia meminta Gustam untuk melupakannya saja. Ia lalu bertanya apakah Gustam juga suka membaca cerpen. “Kadang,” jawab Gustam. Kemudian Gustam bercerita bahwa baru-baru ini ia membaca sebuah buku kumpulan cerpen. Dalam salah satu cerpen di buku itu, Gustam ingat betul satu penggalan kalimat, yang kira-kira berbunyi begini: Tapi tak pernah ada penderitaan terakhir. Kau tahu itu.

Alena tergelak lagi. “Kau ini aneh, ya. Aku sedang bicara tentang kesempurnaan. Kau bicara tentang penderitaan.”

Gustam tersenyum tipis. Ia agak malu. Ketika tadi Alena bertanya tentang cerpen, yang terlintas di benaknya memang hanya sebuah cerpen—tepatnya sepotong kalimat dalam cerpen—yang berisi tentang penderitaan. Ia tidak mungkin bisa mengendalikan pikirannya. Pikiran-pikiran semacam itu selalu bekerja di luar kendali.

Sebuah angkot berwarna merah tua dengan bagian bemper sebelah kiri sedikit penyok melintas dan berhenti. Alena bangkit. Ia pamit kepada Gustam dengan sebuah senyuman dan lambaian tangan. Ketika angkot yang ditumpangi Alena sudah berjalan kembali dengan meninggalkan kepulan asap kelabu, seorang ibu bersama anaknya duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Alena.

Anak itu menggenggam otok-otok. Ia mengangkat mainan itu dan menggerak-gerakkannya seolah-olah udara adalah air sambil menimbulkan bunyi otok-otok dengan mulutnya. Berulang-ulang. Tok-otok-otok-otok-otok...

Gustam memperhatikan gerakan anak itu dan dengan khidmat mendengarkan tiruan bunyi otok-otok yang dibuatnya. Ia membayangkan anak itu dan ibunya sebagai dirinya dan ibunya di masa lalu. Ia senang membayangkan itu. Dan ia akan lebih senang jika kemungkinan bahwa masa lalu indah semisal itu dapat terulang. Tapi tak pernah ada masa lalu yang terulang. Ia tahu itu. Sama seperti tidak ada hal yang sempurna dan tidak ada penderitaan terakhir.

Sebuah angkot berwarna merah tua kembali melintas dan berhenti. Ibu dan anak yang menggenggam otok-otok itu beranjak menaiki angkot. Suara musik dangdut dari angkot itu keras sekali. Begitu angkot itu kembali berjalan dan sayup-sayup suara perlahan menjauh, Gustam merasa seperti seorang penduduk bumi terakhir yang ditinggal para penduduk lain yang sudah pergi ke mars. Sendiri dan sepi.

Waktu menunjukkan pukul setengah lima. Sudah cukup sore. Tapi angkot yang ditunggunya belum juga tiba. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Setengah jam.

Ia bangkit dan memutuskan berjalan kaki sambil menanti angkot lewat. Anggaplah pada langkah keseratus sembilan puluh sembilan atau kedua ratus, angkot berwarna biru telur asin melintas. Tapi Gustam memilih untuk terus berjalan kaki. Sementara kakinya melangkah, bunyi otok-otok dan suara lembut Alena sedang bercokol di dalam kepala Gustam. Dan ia tak ingin suara-suara itu berakhir.***

Bandung, 1 Mei 2019


Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos,Haluan, Koran Merapi, Padang Ekspres, dan Detik.com. Cerpennya terhimpun dalam Dosa di Hutan Terlarang (2018). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Buku, Resensi

Raden Saleh: Membaca dan Memandang

Oleh Bandung Mawardi

Kurnia Effendi pergi di negeri mantan penjajah. Kepergian tak lama, tak seperti Raden Saleh di masa lalu. Di hitungan puluhan hari, Kurnia Effendi mencari dan mengimajinasikan Raden Saleh di pelbagai tempat. Ia tak cuma mencari di Belanda. Kepergian ke Jerman, Prancis, dan Belgia tetap meniatkan ingin mencari tinggalan dan cerita bertokoh Raden Saleh.

Kedatangan ke Belanda pada abad XXI mustahil masuk di buku berjudul Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 (2008) susunan Harry A Poeze. Kurnia Effendi tak lagi mengalami masa kolonial tapi menginginkan ada panggilan sejarah dan imajinasi kembali ke abad XIX. Di sela mencari Raden Saleh, ia merasakan kehadiran atau melihat imajinatif lakon masa lalu bertokoh: Mohammad Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir. Pembaca tak usah memaksa mencari dan menemukan nama-nama: Ki Hadjar Dewantara, Noto Soeroto, Abdul Rivai, Ahmad Soebarjo, Marco Kartodikromo, Roestam Effendi, dan Soerjo Soeparto. Di kota-kota teringat memiliki universitas, museum, dan perpustakaan mentereng, Kurnia Effendi melewati hari-hari dengan mata-membaca dan mata-memotret.

Kepulangan dari Belanda, terbitlah buku puisi berjudul Mencari Raden Saleh. Judul agak mengecoh. Di buku, puisi mengenai Raden Saleh cuma sedikit tapi mengesahkan kepergian bermisi keaksaraan. “Puisi, mungkin serupa sketsa bagi pelukis, saat ditulis awal,” pengakuan Kurnia Effendi. Puisi demi puisi digubah di hari-hari terus berganti. Ia berlimpahan puisi gampang terkena tuduhan “serampangan” atau pencatatan kesan saja. Sejak mula, Kurnia Effendi menginginkan: “Untuk tak jatuh pada puisi turisme, maka perlu dilengkapi dengan pengetahuan.” Puisi-puisi dikerjakan serius meski di ketergesaan, cepak, dan kesemrawutan.  

Sasaran terpenting selama di Leiden (Belanda) adalah mengunjungi perpustakaan. Sejak ratusan tahun lalu, kepustakaan asal dan bertema Nusantara ada di situ. Di puisi berjudul “Boekenzolder”, Kurnia Effendi mengisahkan: Mengenai buku, tak ada jalan buntu/ Ia selalu memiliki pintu, tempat/ kita masuk dan keluar penuh tatu// Selalu ingin kembali, menambah luka baru// Dan suatu hari kita ciptakan tragedi/ untuk angan-angan yang tak pernah mati. Ia takjub pada buku-buku. Suasana untuk pembaca terasa menegangkan di pemenuhan pamrih melintasi halaman-halaman buku sejarah dan biografi para tokoh masa lalu. Pembaca ingin “tatu”, memiliki bekas luka.  

Ia menemui buku-buku sebagai perindu dan pengagum. Buku demi buku adalah alamat kangen ke masa lalu. Ia keranjingan membaca buku-buku, tak ingin detik berlalu tanpa “tatu” gara-gara buku. Pada 7 Juli 2017, ia menuliskan kesan selama berada di perpustakaan. Ia sedang mencari Raden Saleh dengan peta-buku. Pembaca di kepasrahan dan puncak hasrat: Karam yang paling indah adalah ke dasar palung/ perpustakaan: sunyi dalam timbunan gizi/ Menyibak hutan aksara, mengais remah sejarah. Bait di puisi berjudul “Universiteitsbibliotheek Leiden” mengabarkan keterpanaan tak usai dan pencarian belum sampai. Pada buku-buku, ia terlalu berharap untuk digenapi kunjungan ke museum-museum, melintasi jalan-jalan, dan memandang sekian bangunan.

Kita agak termangu. Ikhtiar mengenali Raden Saleh dan mengerti Indonesia mesti berada di negeri jauh. Panggilan ke buku-buku tua memang bersumber dari sana. Keinginan jadi pembaca harus melintasi daratan dan lautan. Koko Hendri Lubis memberi kesaksian bahwa Kurnia Effendi memilih rakus melahap buku-buku mumpung berada di Leiden (Belanda). Kurnia Effendi emoh sia-sia. Ia terang mengaku dalam puisi berjudul “Mencari Indonesia”. Puisi mirip kalimat-kalimat dalam surat mengandung kangen: Aku menjadi pengembara dengan uang negara/ Aku menuntut ilmu dari tumpukan buku-buku/ Aku tetirah memungut remah-remah sejarah/ Aku tertawan di ruang-ruang perpustakaan// Aku ke Leiden mencari Indonesia!

Ia memang pergi ke Belanda dengan dana Kemendikbud RI dan fasilitas teknis dari Komite Buku Nasional. Pergi jangan merugi. Pulang pun membawa oleh-oleh puisi. Selama di perpustakaan, ia berhasil menemu: Di lubuk arsip lebih satu abad, kuraba kertas/ buatan Eropa, tempat Raden Saleh menggurat aksara. Lega. Ia perlahan menemukan jalan keaksaraan sampai ke Raden Saleh. Pencarian mendapat sorot terang ke masa lalu, membuka rahasia demi rahasia.

Kurnia Effendi belum lelah. Perjalanan berlanjut ke kota-kota sebelah. Ia menuju Coburg, berharap semakin menemukan Raden Saleh. Permainan ingatan dan peka memandang-merasakan itu bekal sampai ke penemuan-penemuan tak utuh. Ragu ingin menghilang. Di puisi berjudul “Menuju Coburg”, Kurnia Effendi mencatat: Jika benar Raden Saleh pernah/ hadir di sana, ingin kudengar/ langkah kakinya. Ia pergi ke Belanda pada 2017. Pencarian belum sempat membekali diri dengan buku berjudul Raden Saleh: Kehidupan dan Karyanya (2018) susunan Werner Kraus. Selama di Coburg, Raden Saleh mengalami hari-hari indah dan membahagiakan. Ia bergaul dengan kaum aristokrat Eropa. Di sana, Raden Saleh memiliki studio kecil untuk melukis potret Ernst II, Alexandrine, dan Putri Leiningen. Werner Kraus mencatat waktu mukim Raden Saleh di Coburg: 26 Maret-6 Desember 1844. Pada masa berbeda, Raden Saleh bergirang mengunjungi dan tinggal di Coburg. Pada 2017,  Kurnia Effendi di Coburg menuntaskan penasaran meski sejenak.

Misi mencari tak henti-henti. Di Istanbul, 31 Agustus 2017, Kurnia Effendi masih terlalu mengingat peristiwa menelusuri jalan mengingatkan pada Raden Saleh. Puisi berjudul “Hoogstraat” kentara memusat ke Raden Saleh. Ada pencantuman keterangan di judul” “Napak Tilas Raden Saleh”. Puisi ditulis di kota jauh dari Indonesia dan Belanda tapi mengesankan ingatan dan pengimajinasian menguat. Kurnia Effendi menulis: Tak dapat kulacak di mana rumahmu/ Namun terasa di tiap jengkal jalan yang kutempuh/ terlekat percikan cat lukismu. Dinding-dinding toko/ itu berebut rapi menghapus aroma tubuhmu/ Tapi kafe demi kafe gagal menyembunyikan panggilanmu/ kepada pelayan, meminta tambahan minuman.

Di hadapan buku puisi, kita tergoda membaca (lagi) buku-buku mengenai Raden Saleh. Pada 1951, terbit buku berjudul Dua Raden Saleh: Dua Nasionalis dalam Abad ke-19 susunan Soekanto. Buku awal bagi pembaca di masa revolusi ingin mengenali Raden Saleh, lelaki tenar tapi memicu polemik di kancah seni dan politik. Pada 2009, kita semakin mengenali dengan penerbitan buku berjudul Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie, dan Nasionalisme berisi esai-esai garapan Harsja W Bachtiar, Peter BR Carey, dan Onghokham. Kini, buku berjudul Mencari Raden Saleh terbaca dengan keentengan tanpa pamrih memberi penjelasan-penjelasan argumentatif mengarah ke biografi, estetika, identitas, dan politik. Buku itu berisi puisi-puisi tanpa janji mengumbar referensi. Begitu.    


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com

Puisi

Puisi Anggi Putri

Sepotong Waktu

metafor dan segala hanya kebisuan tak bermakna

barangkali masih tersisa puisi di saku para pengemis

yang hanya menelan segenggam roti sisa pagi

atau menikmati senja yang hambar di antara langkah kaki

hari sama, waktu sama, puisi juga sama

berbondong-bondong memungut diksi di gorong-gorong,

kolong jembatan, dan carut-marut rasa

kepedihan yang purba

barangkali Tuhan masih menunggu di sisi kanan trotoar

dengan sekantung doa yang akan dikabulkan

lalu puisi diterbangkan;

pengemis hilang

Surabaya, 18 Januari 2019


Selimut Rindu

bulan gigil memeram sepi

sejumput rasa yang masak

pada pangkal hari

jatuh terserak, menyesak

di bawah selimut rindu

penuh pecahan embun yang tambun

masih kulihat kenang rimbun

mematuk waktu nan anggun

rekah siluetmu mendedah

kisah dan airmata kala itu

berkeriut di bilik hati yang alpa

tuliskan namamu pada ragu

subuh bangun, aku lupa kau

jauh di antara pandang

dan resah

debar dada merekam potretmu

yang tersapu gerimis lalu

Surabaya, 30 Desember 2018


Percakapan

sepotong episode yang tak lepas dari tempurung otak

seuntai candu kau tuang pada waktu

seolah belenggu tiada surut dalam kalbu

kau hanya sebatas bunga potong yang dipajang

beberapa hari kering dan terbuang

membajak kehidupan dengan air mata malam

berdenyar; sekejap lalu dan tenggelam

bintang tak lagi kisahkan elegi haru; kian merayu

menggoda setiap indera dalam sekujur tubuh

dan saat itu aku lebur dengan seluruh rasa

puing-puing cinta di pematang masa

Surabaya, 15 Januari 2019


Sunyi

kenangan kita ranggas dari pohon yang bersemi

ketika kita seka puisi dari halaman buku-buku

meleleh seolah kutukan jarum waktu

detak perjumpaan adalah kitab yang harus usai

lagu masa terlalu rancak memadati hidup

dan kehidupan. sepanjang rentang sungai

mengalir menjajaki kisah yang hampir sirna

manik-manik napas kesendirian pun rebah

sebilah rindu menindih sepimu

sandaran tak lagi tancap pukau

bisikan angin malam bertukar tangkap

melenakan jiwa belantara

menusukmu bertubi-tubi; perih

Surabaya, 16 Januari 2019


Mencari Jawaban

/1/

dari pinta paling suci

tapak risalah hati

/2/

dalam bilik tengadahkan puja

selendang nyanyian cinta

/3/

berkecamuk dalam dada

rindu purnama kian mengangkasa

/4/

repih-repih selimut gelora cinta

purnama: purna nama

/5/

setetes semangat merangkum aksara

pasti bisa, semoga

/6/

menyibak selimut dingin

asa di pagi hari

/7/

menyesap getir semerdu nyanyian sendu

belenggu: aku

Surabaya, 26 Desember 2019


Satu

terus berjalan mencari beningnya telaga

meski tenggorokan terus menahan dahaga

saat hujan tertahan diantara mega-mega

aroma candu akan terus berlaga

maka saat gelap makin merayap

dan sunyi kian mendekap

purnama tak akan lenyap

ia mengusir segala ratap

bila rindu mengenyam tiap kerjapan mata

jauh dari tatapan antara kita

sesungguhnya itulah yang disebut smita

cinta buana di alam semesta

Surabaya, 27 Desember 2018


Kisah Klasik

tahun telah gugur satu per satu di dalam tidur

sedang banyak anak-anak malam berkeliaran

merunut kisah tentangmu. hingga aku lupa namamu

yang ditiup angin dan melekat di kelambu

wewangi itu kadang mencekat hidung lalu hinggap

di ruang tamu, dapur, teras, dan dadaku

tercekat. sakit yang meradang hingga ke tulang belulang

tak mengapa jika musim menggulung lalu rebah

di pangkuan rembulan. hingga kau duduk menikmati perjamuan

di sisi utara meja makan dengan secangkir wedhang sechang

dan ragu memikirkan masa depan

aku tercengang;

kau hanya bayang-bayang

1000 hari yang tergenang

Surabaya, 14 Januari 2019


Dua Mata

jangan menatap penuh

agar perihal tak jadi keruh

jangan bertolak pinggang

agar selalu rekat kasih sayang

jangan mengobral isu

agar tak banyak bunga di pemakaman

yang makin layu

dan kelu makin membiru

biar puisi-puisi yang bercerita

memunguti sumpah serapah

yang membatasi diri kita

hingga segala tak hanya dusta

Surabaya, 29 Januari 2019


Anggi Putri, pencinta sajak yang lahir di Jombang, Jawa Timur. Selain menulis fiksi, ia juga seorang blogger, content writer, anggota komite sastra Dewan Kesenian Jombang, dan pencinta jalan-jalan. Karyanya pernah dimuat beberapa media cetak dan online di antaranya Suara Merdeka, Lampung Post, Radar Surabaya, Radar Mojokerto, Tribun Jateng, Malang Pos, Harian Surya, Majalah GADIS, Ruas Online, Kawaca, Radar Banyuwangi, dan lain sebagainya. Pernah menjuarai beberapa lomba puisi, Juara 2 Lomba Puisi IKIP PGRI Bojonegoro, Runner Up UNSA AMBASSADOR 2019, dan lainnya. Buku Puisinya Angin Kembara (2015) dan Laku(na) (2016). Lebih akrab bisa kunjungi www.anggiputri.com. Email: [email protected].