Katalog

Puisi

Puisi Sengat Ibrahim

Sabda Hujan

kalau kamu dalam keadaan sendirian

maka siapkan rindu sebelum hujan

biar bisa bermain-main dengan kesepian yang disempurnakan.

kalau kamu sedang berduaan

maka siapkan payung sebelum hujan

biar bisa bermain-main dengan kehangatan yang direncanakan.

Jogjakarta, 2019


Hujan 1

terima kasih hujan engkau masih tahu jalan menuju bumi

terima kasih bumi engkau masih tabah memilih manusia sebagai isi.

Jogjakarta, 2019


Hujan 2

semua hujan yang turun dari langit selalu sama yaitu air

yang mencoba menghapus semua bekas kenangan di luar pikiran.

Jogjakarta, 2019


Hujan 3

dingin dan angin sedang berdiskusi alot dengan rindu

semoga saja mereka mendiskusikan aku dan kamu.

Jogjakarta, 2019


Doa Menolak Tidur Malam

1

semoga dingin yang menyerang tubuhku

terbuat dari keinginanmu untuk memelukku.

2

semoga dingin yang memelukku semakin

memperpanjang kebutuhanku akan kehadiranmu.

3

semoga dingin yang bercampur dengan kenangan

bersamamu akan menjadikan aku—orang sempurna

yang tetap butuh disempurnakan olehmu.

4

semoga dingin yang membungkus kulitku

tidak sampai mengganggu keberadaanmu di dalam diriku.

5

semoga malammu yang penuh dengan diriku atau malamku

yang selalu berisi dirimu tidak menjadikan kita lupa bahwa

malam yang paling sempurna di dunia adalah malam

yang berisi aku dan kamu.

Jogjakarta, 2019


Doa Sebelum Tidur Malam

dalam mimpi, semoga kita tidak pernah berketemu

sebab aku membutuhkan yang lebih nyata dari itu.

Jogjakarta, 2019


Doa Ketika Diserang Rindu

semoga dalam semua rindu yang datang padaku

selalu ada kamu di dalamnya.

Jogjakarta, 2019


Kangen

kangenku

sudah sampai pada puncak

di mana aku harus membiasakan diri

menjadi kehancuran.

maka kubiarkan

kangen yang menentukan sendiri

memilih kangen ke siapa

semoga saja kangenku menjadi kangenmu.

Jogjakarta, 2019


Tutorial Rindu

satu-satunya cara terbaik menikmati rindu, cuma satu:

menjauhlah hidup sebisa mungkin dariku.

Jogjakarta, 2019


Alangkah Malang Nasibku

sudah lebih dari dua jam

aku dikeroyok segerombolan rindu

hingga seluruh tubuhku babak belur.

aku berterik-teriak minta tolong tapi

tak ada satu pun orang yang mau menolongku.

alangkah malang nasibku.

Jogjakarta, 2019


Sengat Ibrahim, Lahir di Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek. Bertuhan pada Bahasa, merupakan buku puisi pertamanya. Sekarang menetap di Jogjakarta sekaligus bekerja sebagai Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub.

Cerpen

Ingatan Pohon Pisang

Cerpen Dewi Sukmawati

Setelah berkali-kali aku membaca catatan harian ibu. Masih saja belum kutemukan catatan di mana aku lahir dan siapa yang memberiku nama. Sungguh itu hal yang sulit. Bagaimana aku bisa mengerjakan tugas rumah dari ibu guru? Pada siapa aku harus bertanya? Aku tak punya ibu, aku pula tak punya ayah. Yang kupunya hanya paman galak bertubuh besar dan kekar. Mana mungkin pamanku bisa kuajak berbicara serius? Dia terlalu sibuk dengan kupu-kupunya. Mulai dari kupu-kupu yang cantik, yang langsing, yang mewah, yang kalem, dan yang centil. Kadang aku bertanya dalam diri. Apa ibuku salah satu dari mereka? Buku yang kata pamanku ini warisan ibuku juga tak membantuku sama sekali.

Buku catatan ibuku hanya sibuk membicarakan ritual pohon pisang. Di mana diceritakan buyut, nenek, dan ibuku selalu menanam pohon pisang di usia 17 tahun. Dan setelah pohon pisang berbuah dan beranak, pohon itu mati. Meninggalkan buah dan anaknya pada tuan besar. Tuan besar memakan manis buah pisang dan memindah anak pohon pisang atau menjualnya ke tuan lain. Sungguh ini membingungkan. Bagiku yang masih duduk di bangku SD. Mungkinkah saat aku besar nanti jadi pohon pisang, atau kupu-kupu juga? Entahlah. Aku hanya punya paman di dunia ini. Mungkin aku akan menurut saja padanya.

***

Beberapa hari sebelum Murlin akan menikah, dia melihat calon suaminya jajan di pasar malam dekat taman suram. Karena peristiwa malam itu pula pernikahannya gagal. Dan Murlin memutuskan untuk menjadi jajan di pasar malam dekat taman suram. Di usianya yang masih 17 tahun, bukan hal mudah melakukan itu. Dia pun tak punya ibu atau ayah. Dia hanya memiliki satu pohon pisang yang dulu ditanamnya. Dia merasa hidupnya seperti pohon pisang. Berbuah tanpa ayah. Beranak tanpa ikatan. Dan bertakdir sampai pada keturunan terakhir.

Setiap pulang dari pasar. Murlin selalu bicara dengan pohon pisangnya sebelum masuk ke rumah dan mencatat peristiwanya dalam buku catatan. Pada waktu kemudian, pohon pisangnya berbuah, persis dengan manis dan larisnya Murlin dipesan. Saat pohon pisang beranak dan mati meninggalkan anaknya. Murlin pun demikian, beranak dan mati meninggalkan anak perempuannya. Anak pohon pisang, anak Murlin dan catatan harian Murlin kini dijaga dan dirawat oleh lelaki berbadan besar dan kekar yang beristri juragan kupu-kupu malam yang tak pernah suka pada pisang.

Mungkin anak pisang itu akan beranak pisang saat dewasa. Anak murlin pula akan menjadi ratu malam. Lalu melahirkan dan meninggalkan anaknya kembali pada tuan berkalung emas, berjas, dan berdasi. Sepeti buku panduan yang telah dicacat oleh ibunya di 17 tahun usianya. Ingatan pohon pisang ini memang sudah menjadi garis. Hanya akar pisang yang tahu, kapan garis itu terputus setelah lama berkembang biak di dalam tanah dunia malam.


Dewi Sukmawati lahir di Cilacap, 21 April 2000. Sekarang sedang menempuh pendidikan di IAIN Purwokerto Fakultas Ekomoni dan Bisnis Islam. Aktif di SKSP IAIN Purwokerto dan KSEI IAIN Purwokerto. Beberapa karyanya dimuat Antologi dan Media Massa.

Cerpen

Sebuah Arloji dan Kenangan di Dalamnya

Cerpen Drei Herba

Baru kali ini seorang laki-laki datang dengan permintaan aneh. Bagi tukang reparasi sepertiku, hanya sedikit peristiwa tak masuk akal pernah menyasar. Ingin kutolak andai sorot mata laki-laki dihadapanku itu tak lebih dulu mencegah. Tetapi bagaimana mungkin mengabulkan permintaan musykilnya, memperbaiki arloji sekaligus kenangan di dalamnya?

“Ini pemberian kekasihku.” Tangannya menyodorkan sebuah arloji bulat berwana biru tua dengan strap rubber hitam menyulur sepanjang enam atau tujuh senti. Bukan arloji branded, juga tak terlihat begitu istimewa. Hanya arloji pasaran seharga di bawah seratus ribuan.

“Tolong perbaikilah.” Tatapannya memohon. “Aku akan membayar berapa pun biayanya.” Mataku yang menatap jam tangan segera beralih memandang ke arahnya. Ucapan terakhirnya itu sama sekali tak simetris dengan penampilannya yang tak mengesankan. “Saya memang tidak punya uang saat ini, tapi saya berjanji akan segera membayarnya,” timpalnya setelah membaca caraku memandang.

Aku menggaruk rambutku yang tak benar-benar gatal. Aku memang tukang reparasi arloji, tapi memperbaiki kenangan di dalamnya? Itu bukan keahlianku. Itu soal masa lalu, dan masa lalu selalu tentang waktu. Sementara arloji hanya alat menakar, membaca bentuk waktu yang abstrak.

Ingin sekali aku mengkhutbahinya, namun ucapanku kembali tertahan oleh sorot matanya. Aku kembali pura-pura memeriksa tiap inci arloji itu. Jarumnya masih terlihat normal, sedikit menatih karenq terdorong oleh langkah jarum paling tipis.

Dengan menahan sebisaku, setidaknya, aku dapat merawat harapannya lebih panjang. Lagi pula, ia tak benar-benar ingin memperbaiki arloji ini, ia hanya ingin bercerita. Tapi sorot mata itu, justru membawaku pada ingatan sepuluh tahun silam; ingatan yang tak sepenuhnya terhapus.

Air mataku dengan sendirinya rebah, menyeka kaca arloji yang terlihat mulai kusam ini. Peristiwa itu membawaku kemari. Aku berpikir apakah bentuk sorot mataku saat itu sama dengan sorot mata laki-laki di hadapanku ini?

Hal itu bermula dari kedatangan kabar yang menabrakku. Tak ada gerimis, malam teramat sunyi untuk mengalamatkan pertengkaran. Tapi, tepatkah peristiwa itu disebut pertengkaran? Bukankah itu hanya kepasrahan, malam saat membuka surat darinya, menerima kabar tentang pertunangan Mayda.

Apakah aku marah? Tidak! Tentu saja! Bagaimana caraku marah? Toh, itu hanya sebuah surat. Tidak langsung terucap dalam sebuah pertemuan.

Aku nyaris lupa obsesiku tentang arloji, melihat bagaimana caranya memutar serta mendengar suara tiktoknya memekik. Sepuluh tahun lamanya, sejak kali pertama mereparasi arloji, lalu kemudian sorot laki-laki ini, menggugah kenangan itu kembali.

Kala itu aku penasaran sekalipun jarum yang terus berjalan tapi akan selalu membawa kembali ke tempat asal. Tapi, jarum yang sama tak dapat mengembalikan kenangan ke tempat ia berawal. Jarum itu saja yang berjalan sirkular, melingkar. Tidak dengan kehidupan yang kujalani, perjalanan linear tanpa ujung pangkal.

Aku terlalu sibuk dengan kenanganku, sampai lupa bahwa laki-laki di depanku ini, masih terus menanti dengan gelisah. Masih terselip harapan dari tanganku yang pura-pura serius memeriksa arlojinya, “Kawan, arlojimu bisa kuperbaiki, tapi sulit rasanya bila sekaligus membenahi kenangan di dalamnya?”

“Tidak bisakah memutar balik arah jarumnya?” nadanya terdengarseparau harapannya yang kini mulai mengikis, “bukankah dengan begitu akan membawaku kembali ke masa lalu?”

Dulu aku juga pernah berkeinginan seperti itu. Aku ingin bilang itu mustahil, tapi sorot matanya kembali menahan bibirku. Aku masih ingin merawat harapannya. Hanya itu yang dimiliki, satu-satunya alasan tetap melanjutkan hidup. Lalu, aku harus mengutara dusta seperti apa lagi?

Kini bibirnya terbata-bata bercerita peristiwa pada sebuah malam. Dingin kemarau telah membawa birahinya. Di ranjang yang tinggal kerinduan, ia luapkan bertubi-tubi ciuman. Bibirnya, ibarat kapal yang kini mendarat ke dermaga bibir kekasihnya. Temaram lampu dan sprei menjadi saksi sepasang tubuh itu saling merengkuh. Bersahutan. Membuncah. Mendesah.

Air matanya patah, tertarik gravitasi, rembas perlahan ke pipinya. Malam itu, perjumpaan terakhir, bahkan dalam sebuah perpisahan yang tak pernah tuntas terucap.

“Kekasihmu mati? Benar bukan? Kecelakaan?” sergahku.

“Tidak! Tapi,” katanya lagi, “toh tak ada bedanya. Aku tetap sama-sama kehilangan.”

“Maksudnya?”

Ia lanjutkan ceritanya, kekasihnya akan pindah kerja, dan keesokan harinya ia mengantar. Sementara, ia masih juga tak lulus-lulus kuliah, dan hanya bisa menghadiahi kekasihnya itu dengan potongan puisi. Tapi potongan kata itu tak lagi bisamenahan. Sebulan berikutnya, kabar tak mengenakkan dan yang tak disangka-sangka itu mengiang.

Setelah menggoret kenangan, dan kemudian kenangan itu mengakar pada dirinya. Kekasihnya justru pergi meninggalkan, lalu bertunangan dengan rekan kerja barunya. Laki-laki yang baru semingguan ia jumpai.

Lalu terdiam ia, suasana menjadi begitu sunyi, menyayat. Aku juga diam.

Seumpama belati, cerita itu kini juga mengiris kenanganku, mencacahnya perlahan, kembali merobek luka itu.

Surat malam itu juga tak pernah kusangka-sangka. Itu kira-kira terjadi sebulanan setelah kekasihku memutuskan pulang ke rumahnya. Sebelumnya, ia jatuh ke dalam pundakku. Air matanya rebah, “Ayahku bilang, kerjaku di sini tak menghasilkan apa-apa. Bukankah keberhasilan tak selamanya harus ditakar dengan materi?”

“Lalu bagaimana? Biaya hidup di kota memang mahal, sulit bila hanya ditambal hanya dengan mengajar”

“Kata ayah dengan aku kembali, mungkin akan jauh lebih menghasilkan.” Ia masih ingat percakapan itu, sebelum sebulan kemudian, menerima surat yang sama. Aih, betapa kini kenangan itu kembali datang menyiksaku.

Aku tatap kembali laki-laki di hadapanku, ia masih tetap menunggu, padahal aku hanya pura-pura memperbaiki arlojinya.

“Apakah kamu yakin dengan cara kembali ke masa lalu akan menyudahi segalanya?” aku coba meyakinkan, namun matanya segera menatapku.Lekat.

Ia tak menjawab. Aku yakin pikirannya kini sekacau pikiranku saat itu, “aku hanya tak ingin memulai apa yang tak bisa aku akhiri”

“Lantas?”

“Aku hanya ingin mengakhiri sebelum memulainya, sebelum ia menjadi peristiwa, sebelum ia menjelma kenangan yang menyika” katanya lagi, “anda bisa memperbaiki arloji saya kan? Saya tidak tahu mengapa itu bisa rusak padahal saya belum pernah memakainya.”

“Bagaimana mungkin anda tak pernah memakai pemberian kekasih anda? Apa anda tak menyukai pemberian itu? Lalu untuk apa membawanya kemari?”

“Ah, tidak.” Elaknya, “Justru dengan cara itu saya menjaganya. Saya tidak ingin kalau nantinya arloji ini akan lecet. Lagi pula, coba bayangkan, apakah arloji ini cocok untuk orang seperti saya ini?” senyumnya menyeringai. Itu senyum pertama yang kudapat dari laki-laki ini.

“Sebetulnya, arloji anda tidak rusak, hanya perlu mengganti dengan batrei” aku mulai lebih terbuka, “hanya saja, sulit rasanya dengan permintaan terakhir anda”

“Bukankah anda sudah bertahun-tahun bergelut dengan arloji? Apakah anda tak benar-benar punya cara? Tolong, jangan sembunyikan keahlian itu dari saya!”

Lagi-lagi, ucapan laki-laki itu kembali mengantar kenanganku. Aku tak pernah menyukai arloji, dan bekerja seperti ini juga bukan cita-citaku. Tapi kekasihku, membuat itu lain, membuatku ingin merawat waktu. Arloji yang pernah ia berikan memang tak pernah kupakai, tapi itu karena aku tak ingin menghitung waktu kebersamaan dengannya.

Namun, setelah menerima surat malam itu, setelah kepergian Mayda justru membuatku ingin mengembalikan waktu yang dulu pernah kurawat. Aku ingin menghapusnya.

Aku terhenyak tiba-tiba, sebuah kesadaran mendesak kepalaku. Aku menatapnya, ia balik menatapku. Kami saling bersitatap. Lekat.

“Bagaimana kamu berpisah dengan kekasihmu?” tanyaku sambil tetap memeriksa arloji yang sedari tadi telah berhasil memotret semua kenanganku.

“Dua hari lalu, kekasihku mengirimi surat” Ia kembali bercerita, “tepat sebulan setelah perpisahan itu, kekasihku memutuskan tunangan dengan rekan barunya. Dapat kumaklumi, aku memang tak kunjung lulus kuliah” sorot mata itu kembali layu, perih.

Aku terperangah, mataku terbelalak. Cerita laki-laki itu terlalu sempurna untuk sebuah kebetulan dengan kisahku.

“Apakah kekasihmu bernama Mayda?” tanyaku.

Ia diam dan tak segera menjawab. Segera kuburu sorot mata itu, aku ingin memastikan, menatapnya lebih tajam lagi. Namun,tak kudapatiapa pun dihadapanku. Hanya cermin. Sebuah cermin memantulkan seogok wajah dengan sorot mata begitumuram. Kemudian, seorang dalam cermin itu menuding ke arahku, “Bisakah memperbaiki arloji sekaligus kenangan di dalamnya?”


Drei Herba T. Tinggal di Jogja. Menulis esai, cerpen dan puisi.

Buku, Resensi

Narasi Futuristik Kepala

Oleh Setyaningsih

Ada suatu anekdot ihwal kepala yang beredar di masa sekolah. Guru selalu mengatakan untuk melepaskan kepala di rumah atau tidak usah membawa kepala ke sekolah setiap kali murid terlihat lungkrah melenakan kepala di meja. Melepaskan kepala di sini benar-benar lebih dekat ke arti harfiah, bukan secara metaforis mewakili tindakan untuk tidak menggunakan isi kepala (otak) atau berpikir. Namun, begitu membaca novel eksperimental Cara Berbahagia Tanpa Kepala (2019) garapan Triskaidekaman, melepas kepala yang sungguh-sungguh memisahkan kepala dari badan memang menjadi peristiwa yang sangat realis.

Kepala adalah penanda eksistensial. Secara birokratis, kepala mengingatkan pada jabatan-jabatan penting, seperti kepala pusat, kepala negara, kepala sekolah, kepala desa, kepala keluarga, dan kepala-kepala lain yang berada di tempat tertinggi untuk membawahi setiap (anggota) badan. Kerja (berpikir) yang dilakukan kepala pun sering lebih dihargai daripada kerja (bertenaga) dari badan. Bisa dikatakan segala ritual komersial sampai spiritual, paling bisa dialami kepala. Triskaidekaman menulis, “Kepala adalah sumber segala mudarat dan ide keparat. Rumah segala kisah Ayah pengecut bertempat, segala uang di mata dan pukas Ibu, dan kitaran orang yang cuma berpura-pura sayang. Sedangkan badan cuma bisa menurut. Kepala paling rajin terpelihara—sebut saja sampo, calir muka, maskara, hingga celak, dan gincu merona. Badan belum tentu. Kepada beda di setiap orang—terima kasih Muka—hingga setiap baru berkenalan, selalu kepala yang dilihat duluan” (hal. 5).

Triskaidekaman tidak secara gamblang menyebutkan penahunan peristiwa meski cerita jelas terjadi di Jakarta sebagai kota percaturan sengit hidup para kepala. Dalam narasi futuristik ini, teknologi tidak lagi hadir untuk membantu, manusia sendiri sudah menjadi tubuh mekanis yang bekerja selayaknya komputer. Anggaplah pembayangan futuristik bukan hal mengagetkan, semacam layanan ketubuhan; pijat, perawatan wajah, sulam alis, atau perbaikan ukuran kelamin, tentu dengan upaya lebih canggih. Tokoh utama lelaki, Sempati, mengikuti program “Bebaskan Kepalamu” yang menjanjikan keringanan beban hidup khas urban. Sempati tidak perlu khawatir mati atau kehilangan kemampuan mengindra dan keraiban segala kenangan. Segala hal sudah dicadangkan sebuah kandar kilas alias flashdisk. Selain itu ada pencadangan fungsi otak di dengkul dan selangkangan, sepertinya inilah cara Triskaidekaman mendestruksi kehormatan kepala.

Tragisme Urban

Sejak awal, Sempati memang sudah merasakan ketidakkesinkronan kepala dan badan. Harapan hidup sejahtera juga pupus; kendaraan, karir, kemapanan finansial, kekasih, dan keutuhan keluarga yang paling mustahil dicapai. Sejak kepala dipisahkan, kepala lebih berotoritas menenggak kebebasan, “Kini, kepala itu bebas memuaskan segala keinginan yang tak pernah direstui badan sewaktu mereka bersama dulu. Kedai tenda. Makan seporsi sate dua belas tusuk. Minum teh manis yang cokelat pekat. Berkeliling taman kota. Menonton tingkah polah manusia. Mencerap pergerakan peradaban menjelang padamnya lampu jalan. Mampir dan mengintip ke dalam rumah binal, mencari sepotong adegan yang banal sampai yang seksual. Semakin menjadilah kebencian kepala Sempati kepada badannya. […] Setelah sekian lama, kini saatnya: kepala Sempati membentuk otonomi sendiri, merdeka dari badan yang memenjarakan” (hal. 55).

Tentu, Triskaidekaman membawa Sempati pada konflik paling gawat: kecurian kepala. Kepala Sempati benar-benar hilang dicuri, padahal kepala harus tetap dimiliki agar tidak mati. Sekali lagi, kepala tetaplah penanda eksistensial manusia, “Kaki dan tangan tak berwajah, takkan pernah menandingi kepala. Beberapa kaki dan beberapa tangan berajah-bertahilalat-bertanda lahir, tetapi begitu bercerai dari tuannya, yang diingat tetaplah wajah dan hanya wajah. Tuan adalah wajah dan wajah adalah tuan.” Dalam perjalanan badan dan kepala saling mencari, terungkap masa lalu traumatis Sempati sebagai anak. Dia harus menghadapi kenyataan dilahirkan dalam keluarga yang berantakan, dihantam masa lalu asmara ibunya yang rumit, pertengkaran orangtua, pengkhianatan, kecacatan dan balas dendam, keterabaian. Kepala yang terlepas justru mengungkap segala yang tidak membahagiakan khas urban.

Di sini hadir Semanggi, bapak tapi bukan bapak biologis yang karena tidak memiliki kedigdayaan ekonomi membesarkan anak, memilih menjadi jam tangan. “Saya akan menjadi sebuah jam tangan. Penunjuk waktu yang mengingatkannya untuk hidup teratur. Pengingat bahwa waktunya terbatas. Pengingat bahwa dia akan tumbuh besar, akan menyakitkan banyak hal” (hal. 194). Waktu adalah hal yang bernas sekaligus menakutkan bagi manusia. Terutama dalam persepsi modern, waktu menentukan capaian hidup sebagai manusia sukses, menantang tapi tidak tertaklukkan.

Narasi futuristik kepala Triskaidekaman tentu harus mengadopsi diksi-diksi teknologi perkomputeran. Sekalipun diksi perkomputeran lumrah hadir dalam bahasa Inggris, Triskaidekaman tetap mengupayakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik untuk mengganti sebagian diksi-diksi teknologi ataupun narasi tutur novel. Pembaca akan sering menemukan diksi-diksi yang barangkali masing sangat asing, tapi sebenarnya telah terdaftar di kamus resmi bahasa Indonesia.

Pemilihan tema yang eksperimental-futuristik dengan pengemasan tragisme lewat strategi bahasa dan pilihan diksi memang menonjol sebagai cara bertutur Triskaidekaman. Cara ini sekaligus mengakali kisah tragisme manusia urban yang bisa kita rasa sangat lumrah berkisar di prosa mutakhir Indonesia. Strategi bertutur Cara Berbahagia Tanpa Kepala berkemungkinan mengemas yang lumrah, demi berhasil menegangkan dan menolak membosankan.


Setyaningsih, Esais. Pembaca Buku. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : [email protected]

Puisi

Puisi Patricia Pawestri

ada hal-hal teraba

pada buah dada yang dibedah

ada ibu di sana

ada ranum alpukat

pada hamparan putih lembut itu

ada kekasih

ada hangat selimut rajut

pada kemesraan kelam itu

ada anak-anak

merumput surga

2019


ranum fajar

jalan lengang sejuk pagi

hamparan hijau padi berbulir

kuntum-kuntum ladang jagung

kolam tenang ikan berenang

bisik gemericik sungai

awan lembut perlahan beriring

2019


anak kecil berlari

ia menuju pepohonan pada jalan menurun

menangkap suara burung dan gemulai angin di antara daun

ia menahan bayang awan pada matanya

kaki kecil lembut membelai rumput

bintik peluh sedikit sembunyi

kulit berkilau sematan embun

2019


ia berkata, indah sekali

di tepi pematang ia berhenti

ia tangkapi kepak sayap bangau kecil

yang naik turun dari dahan mati

kepada kolam bibit padi

2019


uri-uri

sehelai selendang

menari bersama gemulai angin

keris-keris kecil yang manis

sehelai lagi dihentakkan

kembang-kembang air yang terusir

seperti tertawa suaranya

selusin batik menghiasi halaman

tersampir pada tali menggeletar

2019


melepas turun

benang-benang sari mendengar hujan

mendengar geledek hujan

benang-benang sari bunga rumput

tertimpa tetes-tetes hujan

benang-benang sari bunga rumput

tertunduk-tunduk terbawa berat tetes-tetes hujan

benang-benang sari basah sekujur tubuh

2019


mencium fajar

pada jaring waktu pagi hari

aku tak pernah melihat keluar

tapi kubayangkan, ada yang menjalin

segar dan ramai di udara:

hembus udara embun dan kicau burung

dan percik keemasan di tengah suram langit.

2019


mengetuk hati

cinta adalah diskusi hujan

bagi perempuan muda, bagaimana membedakan

keinginan berbagi dari memiliki, dan keduanya berasal dari surga

cinta adalah diskusi kemarau

di mana rasa dahaga tak menemukan secangkir minuman

hingga ia mengerti di dalam dirinya sendiri sumur tertutup sebenarnya penuh

cinta adalah diskusi musim semi

setiap pagi tunas baru menemui cahaya matari

dan dengan tunas cinta lainnya ia berlomba tumbuh semakin tinggi

cinta adalah diskusi musim dingin

di mana setiap yang beku adalah pintu rumah yang perlu diketuk

senyum dan pelukan hangat, meski seribu kali ditolak, tetap jadi anak kunci

2019


kita belum merdeka ketika membaca berita

ini memang bukan 17 agustus

hari di mana kita mengkaji bendera di puncak

kita belum merdeka

selama masih ada pengemis di tangga pusat perbelanjaan

dan anak-anak yang berangkat pagi dengan sepatu menganga

kita belum merdeka

ketika ada buruh pabrik yang disembunyikan di loteng ketika audit tenaga kerja

kita belum merdeka

ketika buku-buku dirampas oleh tentara

kita belum merdeka

ketika pemerkosa diijinkan melengang di kampus

kita juga belum merdeka

ketika jumlah pupuk dan pestisida yang dibeli petani dibandrol naik

dan pedagang sayur memilih membeli barang dari tengkulak daripada petani

kita belum merdeka. ke mana perempuan-perempuan Kendeng itu? aku belum selesai membaca berita, apa mereka masih harus merendam kaki mereka di dalam semen hari ini?

2019


Patricia Pawestri, lahir dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di Nalar Politik. Karya tunggalnya Metafora Goodnick Griffin.

Cerpen

Tentang Nurli, Jitu dan Ulira

Cerpen Jeli Manalu

Sesaat setelah bangun, Ulira mencari pensil dan kertas kosong yang lepas dari pelukannya waktu tidur. Ia lalu berpejam sebagaimana sering diajarkan Nurli: bila kau merindukan seseorang, tutup matamu dan pikirkanlah ia. Maka, hal menelusuk ke pikiran Ulira kali ini: perempuan berambut pendek dengan poni diacak-acak angin muncul dari balik gedung tinggi. Pakai rok kotak-kotak setengah betis—koyak di bagian tengah sampai lewat lutut. Gincunya merah sekali, basah seperti habis makan bihun goreng yang kebanyakan minyak. Pedagang gulali lewat dari samping. Gadis kecil menarik-narik tangan perempuan bersamanya. Itu membuat lidahmu sakit, kata si perempuan. Aku ingin lidahku merah: gadis kecil kemudian senang memegangi awan merah muda diberi tangkai sekaligus takjub pada awan yang ternyata dapat juga dijilat. Namun, walau sudah berkali-kali mencoba memejamkan mata, di kamar berdinding ungu itu Ulira tetap tak tahu seperti apa sorot mata perempuan berambut pendek dalam pikirannya.

Ulira tentu paham akan sorot mata. Mata Nurli bulat melotot saat Ulira memain-mainkan bawang dalam busa deterjen. Mata Nurli tertutup lebih dari separuh saat matahari di langit terlalu silau. Mata Nurli hidup saat Ulira sudah pandai merapikan piring sendiri kemudian menyabun hingga meletakkannya di rak. Mata Nurli cemas saat suatu pagi Ulira batuk pilek dan tak mau sarapan.

Lalu, seperti apa sorot mata perempuan berambut pendek yang datang ke pikiran Ulira agar segera mewujud dalam kertas kosong di depannya? Apakah seperti telur mata sapi setengah matang yang diletakkan kurang hati-hati di atas bihun goreng sehingga bagian kuningnya retak, apa seperti bola lampu warna merah berkedip pelan lalu tak pernah menyala lagi, atau, perempuan itu kemungkinan sebangsa serangga yang terkadang matanya tidak tahu entah di mana jadi tak perlu dibuatkan sepasang mata pada gambar itu?

Ulira tidak menangis meski perasaannya bingung sekali. Anak hebat tak ada menangis, nasihat Nurli selalu. Ulira menurut. Ulira patuh pada setiap perkataan Nurli. Hanya saja, Sabtu malam kemarin, Ulira pergi ke gereja bersama Nurli. Baru sebentar duduk bersama, Ulira meminta izin agar dibolehkan duduk dekat temannya yang bernama Sere di barisan bangku kanan paling belakang.

Setiap ke gereja agar Sere tidak rewel, orangtua Sere selalu membawa sekresek camilan. Coklat, permen, wafer. Orangtua Sere membagi-bagi cemilan satu per orang untuk anak-anak di sekitarnya termasuk pula Ulira sambil bilang makannya jangan berisik, ya? Gadis-gadis kecil itu mengangguk. Tak lama setelahnya, Sere mencakar wajah Ulira. Bekas kuku Sere tampak di tulang hidung Ulira dan sebagian nyaris mengenai matanya. Dari bekas cakar itu darah keluar sedikit, dan saat itulah Ulira membekap mulutnya dengan renda-renda baju. Air matanya berjatuhan cepat sekali. Suaranya tertahan-tahan di kerongkongan karena Nurli bilang anak hebat tak penangis. Tapi air mata Ulira kian deras menyaksikan Sere menyembunyi di ketiak orangtua Sere sambil mengejeknya dengan kata-kata, “Ini mama-ku. Mama-ku. Sana kau sama mama kau.”

Sere mencakar wajah Ulira karena cemburu. Sere tak suka melihat Ulira ikut disayang orangtua Sere. Waktu itu Ulira duduk di paha orangtua Sere, sedangkan Sere disuruh orangtuanya memungut makanan di lantai sesaat terlepas dari mulut. Lalu karena sudah diusir, Ulira pergi meninggalkan Sere.

Mata Ulira belum kering saat kembali duduk di sisi Nurli. Sambil memegang rok hitam Nurli, Ulira bertanya, “Mama itu apa, Nek?”

Melihat orang di sebelah menoleh ke arah mereka, Nurli cepat-cepat mencangklong tas, membawa Ulira ke mulut pintu padahal ibadah belum selesai—orang-orang masih memejamkan mata dan merunutkan segala permohonan, termasuk memikirkan orang yang barangkali sedang sangat mereka rindukan.

“Nek, mama itu apa?” tanya Ulira sekali lagi. Nurli tak menjawab. Nurli memegang kuat-kuat tangan Ulira sambil menuruni anak tangga, berjalan ke halte, memandangi sebentar lukisan perempuan di bagian bak belakang sebuah truk, lalu masuk ke angkot warna biru pudar yang berhenti tepat di depannya.

Esok harinya, foto perempuan berambut pendek memangku bayi berbandana putih yang kerap dipandangi Ulira tak ada lagi di dinding kamar. Ia dimasukkan Nurli ke kresek bekas kemudian dilemparkan. Tukang sampah menemukannya lalu melepas piguranya, sedangkan foto si perempuan yang tampak sensual dipisahkan dari foto si bayi mengunakan gunting, kemudian menempelkannya di dinding kamar sebagai upaya mengatasi kesepian.

Perempuan berambut pendek yang orang-orang memanggilnya Jitu, awalnya jatuh cinta ke lelaki berambut rasta dengan kulit serupa bubuk kopi, lelaki yang hanya muncul tiga bulan sekali dan singgah beberapa hari saja sampai kapal kembali berlayar. “Jangan pernah tertarik dengan lelaki itu,” pesan Nurli suatu hari. “Kau tahu, orang-orang macam mereka cuma mau enaknya saja. Kau mungkin terlena dengan ciumannya. Setelah ‘barang’ kau ia dapat, kau tak akan menemukannya lagi di belahan bumi mana pun.”

Karena tak kunjung bisa dinasihati, melalui paroki (1), Nurli mengirim Jitu ke biara. Jitu hanya enam bulan bertahan. Ia kabur ketika diminta menemani kepala koki berbelanja ke pasar, di mana waktu itu dirinya satu-satunya perempuan yang bisa menyetir sedangkan sopir yang biasa bekerja di sana mengambil cuti. Jitu bahkan membawa mobil hingga berpuluh-puluh kilo meter jauhnya.

Oleh polisi, mobil ditemukan di tepi hutan basah yang sepi—kemungkinan Jitu menumpang bus lewat karena saat ditemukan kunci mobil dalam posisi hidup meski mesin mobil mati akibat kehabisan bahan bakar. Hingga suatu sore yang udaranya begitu pengap, seseorang mengaku melihat Jitu di dermaga. Nurli membantah. Nurli sikukuh menyebut Jitu sudah lama pergi sebagai perempuan baik-baik.

Bila kau tak percaya, ayo kutunjukkan, kata seseorang itu. Nurli terkaget-kaget. Nurli tak percaya melihat Jitu saling tukar rokok dengan lelaki yang bukan berambut rasta serta berkulit bubuk kopi, melainkan kali ini bersama lelaki botak licin. Hidungnya bangir. Matanya cenderung putih. Nurli ingin muntah menyaksikan Jitu menggigit rahang si lelaki. “Ia tidak akan pernah jadi perempuan baik-baik. Buah apa yang jatuhnya jauh dari si pohon?” bisik seseorang itu ke telinga Nurli dengan nada yang sangat tenang, ditambah tatapan menelanjangi tentang siapa diri Nurli di masa lalu.

Nurli merupakan kekasih dari seorang padri bernama: Pet-Peet-Pet-trus? Seseorang itu sangat bernafsu mengatakannya. “Dan kau biarawati suci tak bernoda? Lalu saking cintamu padanya, kau rela menanggung sendiri, keluar dari biara dengan alasan klise padahal di dalam perutmu hidup seekor kecebong, dan Pet-Peet-Pet-rus bebas melenggang, melanjutkan pendidikannya ke Roma atas ilmu agama yang membuatnya gila itu. Hapus air matamu. Hapus karena tak lama lagi mungkin kau akan jadi nenek. Kau akan punya cucu—hihihi,” ejek seseorang itu dengan nada merasa puas, karena sewaktu muda dulu, kecantikan Nurli selalu jadi momok tiap kali ia menyukai lelaki. 

Tak lama setelahnya terjadilah kata-kata itu. Perut Jitu membesar. Jitu hamil entah dari benih siapa, karena saat ditanya Jitu mengaku tidak tahu. Jitu tentu telah tidur dengan banyak lelaki di penginapan-penginapan sekitar dermaga. Sebulan sesudah Jitu melahirkan, Jitu sempat menjadi perempuan baik-baik. Ia bekerja selama satu setengah tahun. Berhenti saat mulai merasa bosan. Orang-orang mengabarkan ia menaiki kapal besar yang berlayar dari negara satu ke negara lainnya. Maka sejak itu, sampai Ulira berusia lima tahun, tak pernah lagi ada kabar tentang perempuan berambut pendek dengan bibir merah basah yang terkesan seperti habis makan bihun goreng di mana saat menumis bawang minyaknya kebanyakan.

Di depan Ulira sebuah gambar kini sudah jadi. Gambar perempuan berambut pendek dengan poni diacak-acak angin. Roknya kotak-kotak setengah betis dan koyak sampai lewat lutut. Gincunya merah sekali. Perempuan itu tak ada mata, karena mungkin sebangsa serangga yang letak matanya entah di mana, atau mungkin memang sungguhan tak ada, sehingga kalau ada bagaimana mungkin ia melupakan Ulira?

Ulira lalu berdiri di tepi jalan sembari memegangi gambar yang dibuatnya itu. Orang-orang berbisik waktu Ulira semringah. Ulira tetap memampangkan gambar perempuan berambut pendek yang tadi dijumpainya dalam pikiran. Saat angin kencang memainkan rambut Ulira dan dari balik gedung pedagang gulali membunyi-bunyikan sepedanya, saat itulah gambar di tangan Ulira lepas. Gambar terbang ke jalanan. Gambar digilas truk lewat yang di bagian bak belakangnya terdapat lukisan perempuan berambut pendek. ***

Riau, Maret 2019

Cat: (1) Paroki: kawasan penggembalaan umat Katolik yang dikepalai oleh pastor


Jeli Manalu, lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Ia saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu.”

Cerpen

Aleana

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Bahkan, Aleana, sosok imajiner yang telah kauhadirkan bertahun-tahun lalu itu pergi. Ia tak lagi sanggup hidup bersamamu. Baginya, meninggalkanmu adalah sebuah keniscayaan, daripada berlarut-larut dalam pertengkaran yang tidak berkesudahan. Terlebih setelah kau memakinya dengan kata-kata paling kasar–bahkan untuk sesosok makhluk imajiner sekalipun. “Dasar lacur! Enyah kau dari sini! Ketahuilah, aku bisa menghadirkan perempuan-perempuan yang jauh lebih baik daripada engkau.” Dan kau sama sekali tidak peduli akan isak tangisnya.

Hujan menderas. Di rumahmu kini, cuma sunyi yang tersisa. Serta dingin yang larut bersama angin yang merangsek masuk melalui celah-celah ventilasi dan menyentuhmu berkali-kali. Engkau menekur. Sesekali menenggelamkan wajah di kedua telapak tanganmu. Dan, petir yang menggelegar dan bersahut-sahutan di luar sana membuatmu cemas. Membayangkan Aleana kuyup menggigil ketakutan entah di mana. Bisa saja ia tengah terlunta-lunta di pinggir jalan, meringkuk di lantai kotor di sebuah rumah kosong yang atapnya bocor, atau mungkin juga, Aleana terperangkap di bekas gudang tua bersama para penjahat kambuhan yang sedang merencanakan kejahatannya matang-matang. Apa pun itu, semuanya adalah mungkin. Aleana belum pernah sekali pun pergi jauh dari sini. Dan pula, ia takut sekali pada gemuruh petir yang saling bersahutan seperti malam ini. Setiap kali petir terdengar, Aleana terhenyak, lalu meneteskan air mata dan mendekapmu erat-erat. Ia kerap merasa petir itu memang ditujukan kepadanya.

Hujan tak kunjung reda. Rasa sesal berhamburan memenuhi rongga dada. Menyesakkan. Sungguh, kau telah berlaku jahat pada Aleana. Apalagi, kala ingatan kali pertama kau berjumpa dengan dirinya muncul dalam benakmu. Di sudut pekarangan belakang rumah, di atas potongan kayu jati berukuran besar yang tergeletak di tepian kolam yang dipenuhi ikan-ikan koi, kau duduk membisu dengan batin nelangsa. Perasaanmu remuk. Setelah sebelumnya kau terpaksa menanda-tangani surat perceraian itu. Istri yang teramat kaucintai itu akhirnya pergi. Ia lebih memilih berada dalam pelukan laki-laki lain ketimbang pelukan hangat yang senantiasa kauberikan untuknya selama menjadi suami. “Tiga tahun yang sia-sia,” kau berkata lirih.

Lama kau menatap ikan-ikan yang berenang ke sana-kemari lalu menyembul dan berkomat-kamit menunggu taburan pakan yang biasa kauberikan. Kau tidak menggubris permohonan ikan-ikan koi itu sama sekali. Di benakmu, kau mengenang impian-impian dahulu, ketika kau melamarnya. “Menualah bersama, kelak kita saksikan anak-anak kita mengasuh cucu-cucu kita di sebuah lereng perbukitan yang luas, hijau, dan landai. Mereka berkejar-kejaran disertai derai tawa kebahagiaan. Dan kau, duduk bersisian bersamaku di hamparan rumput seraya menikmati keindahan senja,” ujarmu selepas petang itu. Namun, tadi, impian itu seketika sirna. Hanya ada sunyi dan gemericik air yang menggelincir jatuh mengenai batu-batu berlumut yang tersusun rapi di sekeliling kolam. Dan suara gemericik itu, membuat perasaanmu semakin tertumbuk-tumbuk.

Kau merutuk. Hingga amarah yang sedari tadi kautahan-tahan, memuncak. Kebencian pada laki-laki yang telah merebut istrimu itu membulat. Dan, rasa kecewa pada bekas istrimu, lamat-lamat menjadi purna. Kau bersumpah; tidak lagi menaruh harap dan mencintai perempuan mana pun selain perempuan yang tengah kaulamunkan sekarang. Kau membayangkan seseorang dengan kecantikan sempurna–anggun, begitu kau menyebutnya. Kecantikan yang jauh melebihi kecantikan yang dipunyai mantan istrimu itu. Dengan dagu yang tirus, bibir yang tipis, lesung pipi yang menitik cantik di kedua pipinya yang ranum, rambut hitam kemilau lurus terurai menggapai pinggulnya yang menawan, dan sepasang mata yang teduh. Perempuan yang sedang kaubayangkan saat ini laksana seorang dewi. Dan ia hanya akan menambatkan cintanya kepada dirimu seorang. Kau akan menghadirkannya. Memanggilnya turun dari atas sana. Dari bintang yang paling benderang. Tiada yang boleh menggoyahkan keinginanmu ini. Kau meyakinkan diri. Bukankah seseorang yang tengah terluka batinnya, permintaannya akan nyaring terdengar oleh para penghuni langit? Dan mereka kelak berbondong-bondong merayu Sang Pencipta agar berkenan mengabulkan permintaan tersebut? Bukankah hal itu sering dipertuturkan oleh para alim yang mengaku dekat dengan Tuhan? “Maka, sekaranglah waktunya,” pintamu sungguh-sungguh, “biarkan dia datang menemuiku.”

Cahaya putih mengerlap dari balik bintang paling benderang. Kemudian cahaya itu turun perlahan bak penerjun yang telah mengembangkan parasutnya. Sesekali angin mendorong-dorong cahaya itu turun lebih cepat. Dan, sesekali pula, cahaya itu seolah-olah hanya berputar-putar saja di tengah cakrawala. Kau berharap. Dan kian berharap agar cahaya itu lekas menghampirimu. Hingga gurat senyum pelan-pelan mulai terlukis di wajahmu. Cahaya itu makin mendekat. Perempuan yang tadi kaulamunkan, ada dalam kerubungan cahaya putih bersih itu, dan dia balas tersenyum. “Aku Aleana, hadir memenuhi panggilanmu,” sapa perempuan itu merdu.

Gelegar petir membuatmu tersadar. Kau mondar-mandir. Berharap Aleana tidak benar-benar pergi. Berharap Aleana cuma sembunyi. Sebentar-sebentar kau mematung di ruang tamu, lalu beralih ke ruang tengah, kemudian menuju dapur dan mengintip dari jendela mengawasi pekarangan belakang rumah, lalu kembali lagi ke ruang tamu. Mengempaskan dirimu; terduduk lesu di atas sofa. Di luar, hujan tetap deras.

“Aleana, maafkan aku,” lagi-lagi kautenggelamkan wajah, “kembalilah,” bisikmu lemah.

Seharusnya caci maki itu memang tak perlu kaulontarkan. Seharusnya kau lebih bisa menahan diri. Akan tetapi, sejak kau mendapati Aleana memandang kagum pada kolega bisnis yang baru saja kaukenal itu, hatimu panas. Kau terbakar cemburu. Bahkan, meski dua bulan telah berlalu, kau tetap sulit melupakan bagaimana Aleana menatap laki-laki yang baru kali pertama berkunjung ke rumahmu itu. Tatapan kagum Aleana mengingatkan kau pada seseorang. Seseorang yang diam-diam menyukai salah seorang atasan di perusahaan tempat ia bekerja. Seseorang yang tega membiarkan perasaanmu hancur berantakan. Seseorang yang pergi meninggalkanmu sepuluh tahun silam. Seseorang yang telah menjejakkan luka di lubuk hati paling dalam. Luka yang akhirnya membuat kau tak lagi bisa berpikiran jernih tatkala mengingat tatapan kagum Aleana pada malam itu. Padahal, betapa pun Aleana memandanginya, bukankah kolega bisnismu itu tak akan pernah mampu menjangkau Aleana? Bukankah Aleana diperuntukkan buatmu seorang?

Hujan mereda. Kegelisahan dalam pikiranmu justru sebaliknya. “Aleana… Aleana…,” kau terus memanggilnya. Hujan benar-benar reda. Dari balik jendela, kau menatap ke arah jalan. Lengang. Tidak ada Aleana di luar sana. Kau harus mencarinya, hati kecilmu berkata. Ya, kau harus segera mencarinya. Lalu kau menuju garasi, menyalakan mesin, menunggu beberapa saat hingga mesin itu menghangat, kemudian melaju menerobos kesunyian malam. Di balik kemudi, di sepanjang perjalanan yang entah, kau berpikir keras di mana kau bisa menemukan Aleana. Dan, terkadang, kau memperlambat laju mobil tatkala melihat seorang perempuan yang sedang menyusuri jalan guna memastikan apakah perempuan itu Aleana atau bukan. Namun, berkali-kali kau mencoba, semua sia-sia. Tidak satu pun dari perempuan-perempuan yang kaulihat tadi adalah Aleana. Kau menepi. Berpikir sekeras-kerasnya; ke mana harus mencari ia?

Rembulan bulat penuh. Cahaya putihnya teduh menyandar di penglihatanmu. “Cukup lama kau tak menikmatiku lagi,” bujuk rayunya semilir terdengar dalam kalbu. “Gerayangilah aku. Aku rindu,” rembulan itu memaksa.

“Aku…, ah, sudah lama sekali rasanya,” suara dalam batinmu menyahut. Ada keinginan yang menggumpal dari lubuk hati untuk mencumbui rembulan itu lagi. Menjilati keindahannya dengan tatapan-tatapan serakah. Melumat habis kesyahduannya sehingga ketika kau memejamkan mata, wajahnya yang berseri-seri itu akan tetap tinggal dan menemani. Sebagaimana dahulu, di atas tebing itu, tebing yang terletak di utara kota tidak jauh dari tempat tinggalmu berada.

Lantas kau teringat, kau pernah bercerita kepada Aleana tentang rembulan dan tebing itu, tentang malam yang terlampau indah, tentang kebahagiaan. Dan, Aleana ingin kau mengajaknya ke sana, namun selalu kauhindari. Sebab, di sana, adalah tempat di mana kau ketika itu menebar impian-impian itu dan menancap harap.

“Setidaknya, untuk satu kali, bawalah aku ke sana.”

Buru-buru kaunyalakan mesin. Melaju menuju tebing itu.

“Aku akan menjemputmu, Aleana.”

Kau melesat. Jalanan basah dan licin tak lagi kaupedulikan. Di benakmu, hanya terpatri satu keinginan: segera membawanya pulang. Dengan yakin kauterabas setiap persimpangan jalan yang sunyi, tikungan panjang, dan tanjakan yang kini semakin sering kautemui. Kau benar-benar tidak peduli. Kau bahkan menambah kecepatan. “Aleana… Aleana…,” sebutmu berkali-kali.

Pada pemberhentian terakhir, kau bergegas turun dari mobil dan berlari. Memacu langkah melewati jalan setapak yang basah dan liat, serta tumbuhan liar yang sebagiannya berduri dan seakan-akan hendak menghalangi laju kakimu yang mulai terasa hangat. Kau terus berlari tergopoh menuju atas tebing. Hingga kau melihat, Aleana benar-benar ada di ujung sana. Berdiri persis di bibir tebing. Ia menunduk. Menekuri kedalaman jurang. Tetapi, Aleana tidak sendiri. Ia bersama seorang lelaki yang tidak engkau kenal. Mereka berpegangan tangan. Dan, mereka sama-sama meneteskan air mata. “Aleana….”

Aleana tidak menjawab. Ia seperti tuli. Begitu pula dengan laki-laki itu, ia tak bereaksi sama sekali. Kau mendekat. “Aleana….”

Mereka tetap diam.

“Aleana…!”

Mereka tetap diam.

Kau menyeru. Meneriakkan namanya berulang kali. Namun, Aleana tetap diam. Begitu pula dengan laki-laki itu, ia bergeming. Lalu kau bersimpuh di dekatnya. Akan tetapi, percuma. Tatkala kedua lututmu menyentuh tanah, Aleana dan laki-laki itu terjun dari bibir tebing. Mereka tetap berpegangan tangan. Sementara rembulan di atas sana seakan tiada peduli, ia kembali memaksa, “Gerayangilah aku lagi. Sungguh, aku teramat sangat merindukanmu.”***


Abdullah Salim Dalimunthe, tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.

Puisi

Puisi Pusvi Defi

Mendua

bila kuluahkan; sempurna bayangmu

yang hendak kulipat dekat

ada lembayung jingga membayu benak

serupa gadis hilang perawan, kocar-kacir mencari sasaran

ratap tersuruk, ambruk

pecah gelombang, menghantam karang

kian kuingat jerit hati tersayat

saat kudulang kembali ingatan itu

di pantai cermin indah nian seri

kau tikam aku dengan genit rayuan

tersulam sejumput ikrar, memadu kasih lewat cumbu birahi

janji-janji hanya omong kosong

tipu bualanmu mencubit!

Sebulan lebih kuurung rerindu ini, menahan konak kian terpenjara

rupa-rupa air mataku berderai gagah

menyaksi lekat lekuk tubuhmu tengah asik bercinta di pelabuhan dermaga 

napas tersedak sembilu membara

;hatiku patah

Pantai Cermin, 2019


Hubungan Jarak  Jauh

:Bagi A.B

Cobalah engkau bayangkan

aku seumpama ikan benih dari hulu

yang dengan tabah tergerus arus para perambah

Sedang kau

Adalah pelayar yang melawan arus gelombang

Namun tetap kita 

menghilir mudik di sepanjang risalah penantian

menakik segala rintang

menanjak  jarak membentang

dengan rindu yang semakin garang

Panam Kota, 2019


Terkenang Mantan Kekasih 

:An

memasuki jalan kecil, melewati tiap-tiap gang sempit

lampu-lampu kendaraan serupa kunang-kunang

yang bertubrukan. seraya aku mengenangmu

bagaimana kabarmu setelah kurun waktu 4 tahun kutinggalkan

masihkah wajahmu yang lugu manis seumpama buah manggis

itu gemar tersenyum tipis?

atau jangan-jangan setumpuk awan mendung tengah menyelimut

selepas kupatahkan kau dari peraduan cinta yang sekecut buah mempolam

kau tahu, akhir-akhir ini aku mudah terserang penyakit lupa

baik itu hari, tanggal, dan apa pun itu

namun bagiku, lengang jalan yang sering kita susuri, 

bagai riak-riak kecil yang terpercik dari pengayuh

membilang kenang yang ingin kembali memulai

Harapan Raya, 2019


Tuli

diladang sunyi,

capung-capung mengepung

lalat bertengker di ujung

dan biji kedelai tengah membenih; semi 

aku melirik, mendongak pandang

orang-orang sibuk berkerumun

bercengkerama entah apa

Pekanbaru, 2019


Air Mata

di ranjang basah, kutiduri keringat mata

tak sempat kuseka, hanya kujilati asinnya

ranum membuahi; perih

Pekanbaru, 2019


Sakau

Aku adalah wanita yang gemar menjambak imaji

mengeram rahim puisi tanpa metafora

memuntahkan birahi frasa yang entah apa

semua kulumat sesuka sakauku mengeja

Pekanbaru, 2019


Bayang

Di sebuah ranjang ada bayang mengangkang!

bertabuh dengan sayap kenang

serupa kunang-kunang berteduh di daun ketapang

Pekanbaru, 2017


Jerebu

aku tertidur dalam kepulan asap jahannam,

menyibak mataku menyerih, perih

Pekanbaru, 2015


Ihwal Rumah Tangga

:Sakinah Bersamamu

Aku membangun sebuah atap di hutan belantara

Sebelum kaudirikan sebuah pondasi

Di dalam tembok-tembok perkasa

Dan untuk sekian kalinya pada senja yang terpasung

Oleh cericit murai yang ceriwis

Kita salingsilang menjenguk kerinduan

sebagai pengembara purba

Rumah adalah Raga

Yang lebih Agung

Dari sebuah hiduk suci

Rumah adalah keheningan

Yang menebar teduh dari ancaman

Rumah adalah kunci

Yang membuka pintu hati

Untuk kita saling mencintai

Pekanbaru, 2015


Ihwal Angan

Aku melayang-layang bagaikan kapas putih

Dihembus angin liar

Dan busur-busur bercahaya lentur

Timbul tenggelam

Dalam puncak pikiran

Pekanbaru, 2019


Pusvi Defi, kelahiran Medan, 23 Juni 1994. Mencintai puisi, dan kamu.

Cerpen

Manna dan Buah Merah

Cerpen Karisma Fahmi Y

Manna, lelaki kurus dan pendiam yang selalu memiliki hasil panen terbaik di kampung kami. Dulunya ia bocah yang sangat menyenangkan dan ceria. Kini,  ia nyaris seperti patung. Hanya sesekali ia terlihat berbicara pada tanaman-tanamannya.

Langit ungu tua membuat sore itu tampak murung. Udara kering. Angin berhembus tak tentu, meniupkan debu-debu. Matahari masih enggan pulang meski langit hitam mulai bergulung datang. Musim kemarau belum undur. Manna menatap halaman depan rumahnya yang dipenuhi kuncup-kuncup bulat kemerahan, kuncup-kuncup ranum buah naga. Beberapa masih merupa kembang dengan kelopak yang gugur di pangkal-pangkal dahan. Mungkin bulan depan buah-buah naga merah yang tumbuh lebat itu bisa dipanen. Ia akan memetik satu per satu buah yang ranum itu dengan gunting besar yang telah ia siapkan.

Manna suka membaca buku dan bertanam. Kepada dua benda itulah seolah ia bisa tenggelam kapan saja. Aku masih ingat suatu ketika di masa kanak-kanak, ia membaca buku di pasar loak, pasar di perbatasan desa. Bapak kadang menyuruhku membeli tembakau ke pasar. Aku mengajak Manna, Didu, dan Baji. Keramaian pasar membuat kami selalu merasa harus mengunjunginya, setidaknya dua minggu sekali. Meski Bapak tidak menyuruh membeli tembakau pun, akhirnya kami akan tetap pergi ke sana. Sesekali kami menonton sirkus monyet dengan ular yang melingkar-lingkar di kepala pawangnya. Melihat penjual obat yang menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan mengoleskan salep atau meminum ramuan yang dijualnya dalam botol-botol kecil dengan akar-akar di dalamnya. Keramaian itulah yang kami cari.

Di pasar kami berpisah, dan berkumpul di tempat pertama, yaitu di mulut pasar, di dekat kusir-kusir bendi. Manna selalu mendatangi pedagang buku. Ia betah berjam-jam di lapak buku loak yang sebagian bukunya telah menguning dan apak. Suatu saat ia membaca buku cerita tentang arwah putri raja yang menjelma ikan setelah memakan buah merah. Arwah putri raja itu menjelma seekor ikan besar yang tinggal di dasar laut. Manna tergila-gila pada buku itu hingga sepanjang jalan pulang ia mengulang-ulang ceritanya. Kami bosan mendengarnya sementara ia terus nyerocos menceritakan kisah itu. Satu-satunya orang yang sabar mendengar ceritanya adalah Bu Guru, seorang pendatang yang juga suka bercerita di depan kelas. Kami selalu menyimak cerita Bu Guru tentang tempat tinggalnya, atau tentang negeri-negeri lain di luar sana.

Siang itu seperti biasa, kami bertemu kembali di mulut pasar. Semua sudah berkumpul, kecuali Manna. Hari semakin siang, dan kami harus tiba di rumah sebelum Asar. Tapi aku merasa Manna di lapak buku. Aku putuskan untuk ke sana. Benar  saja, aku melihatnya. Ia gelisah. Matanya menatap ke arah penjual buku. Dengan cepat ia memasukkan buku ke dalam kausnya yang lusuh dan kebesaran. Pedagang buku tak mengetahuinya. Ia sedang berbincang dengan pemilik warung di sebelah lapaknya. Aku nyaris tak percaya Manna mencuri buku.

Aku menghampirinya. Ia pucat, dan tanganku ikut  gemetaran. Kami berjalan lurus, tak berani menoleh ke belakang. Sepanjang perjalanan, aku dan Manna sama-sama bungkam. Hanya Baji dan Didu yang bercerita tentang peramal yang datang hari itu.

Keesokan harinya, Manna membawa buku berjudul “Menanam Jagung” ke sekolah. Dari mana kau memperoleh buku itu, Manna? tanya Bu Guru. Manna diam menunduk. Di kampung kami yang sangat miskin, membeli buku, sekalipun buku loak adalah hal yang tidak wajar. Kepemilikan buku sangat mencurigakan. Seolah tahu dari mana buku itu diperoleh, Bu Guru tidak memarahinya. Baiklah, hari ini kita menanam jagung bersama-sama.

Bu Guru  menugaskan setiap anak menggali tanah dan menanam biji-biji jagung yang telah disiapkan. Setiap anak mendapat sepuluh bibit jagung. Bergantian kami memupuk dan menyiramnya sebelum dan setelah pelajaran usai secara bergantian, namun hanya pohon jagung milik Manna yang tumbuh sempurna. Jagung-jagungnya tumbuh lebat, nyaris tiga hingga empat pokok jagung di tiap pohonnya. Bu Guru  memuji hasil panennya. Ia ditugasi menanam jagung di kebun sekolah, sebidang tanah yang masih kosong di belakang sekolah. Tak hanya jagung, ia juga menanam cabai, jahe, dan beberapa tanaman lain. Bu Guru  lagi-lagi memujinya. Ia bangga. Sejak saat itu ia tahu, baginya bertanam adalah sebuah suratan.

Sore itu langit semakin gelap sempurna. Manna, lelaki pendiam itu masih menatap halaman depan rumahnya, pada batang-batang buah naga yang kasar dan kersik berduri itu. Ia takjub, tak menyangka tanaman itu tumbuh dengan cepat. Halaman yang dulunya lengang menjadi penuh dan gelap. Tanaman itu memenuhi halamannya dengan kuncup-kuncup merah yang semakin lama semakin membesar. Sebagian dahannya menjalari pagar dan bahkan beberapa tampak mengoler melintas keluar pagar. Ia tak henti-hentinya membelalakkan mata setiap kali menatap duri-duri yang tumbuh di sepanjang dahannya. Tanaman itu tumbuh mendesak ke arah mana saja. Halaman rumahnya seolah menjadi hutan kecil yang tak terawat. Batang-batang bersilangan mengabaikan perasaan ngeri yang melapisi dirinya setiap kali menatap hutan kecil liar di hadapannya.

Ia ingat kisah yang dibaca dari buku yang dicurinya, putri raja berubah menjadi ikan setelah memakan buah merah. Ia hidup abadi dalam lautan sebagai ratu para ikan. Ia ingat hari ketika Bu Guru pergi. Bersama pendatang yang lain Bu Guru pergi ke arah sungai. Dengan terburu Bu Guru memberikan pesan padanya agar ia menanam bibit buah merah di halaman sekolah. Tanamlah tanaman berduri di halaman, agar tak lagi mudah orang-orang merusak tanamanmu. Tanaman berduri itu akan menjagamu. Bu Guru  berlari ke arah sungai dan menceburkan diri ke sungai karena kejaran orang-orang. Arus sungai sangat deras. Beberapa kali penduduk di kampung nyaris mati di batang sungai itu.

Sore semakin gelap. Manna menutup pintu rapat-rapat. Langit hitam sempurna jatuh di halaman. Ia tak pernah melupakan hari itu, hari ketika Bu Guru memintanya mengantarkan jagung pada pedagang buku loak. Bu Guru memintanya memberikan jagung pada pedagang buku sebagai ganti dari buku yang dicurinya. Guru itu mengajarimu mencuri? tanya seseorang yang duduk tak jauh dari lapak buku. Mereka memang benar-benar pencuri ulung! Tak hanya tanah dan kebun yang mereka ambil! Anak-anak kita pun mereka ajari menjadi maling!

Lelaki itulah yang mengejar Bu Guru hingga ke tubir sungai. Lelaki dengan parang terhunus yang menghabisi semua tanaman di halaman sekolah. Beberapa hari setelah hari itu, orang-orang mengejar dan menyerang para pendatang. Lelaki itu pulalah yang merusak seluruh tanaman Manna. Sejak saat itu Manna menjadi pendiam. Ia hanya bicara seperlunya saja, dan terkadang kulihat ia berbicara pada tanaman-tanamannya.

Suatu ketika ia melihat lelaki itu duduk di pinggir sungai, lelaki yang menghunus parang dan merusak tanamannya. Lelaki itu sedang menunggui baju-bajunya yang dijemur di atas semak-semak daun peniti. Manna menghampiri lelaki yang matanya setengah memejam tertidur itu dan mendorongnya ke arah mata air. Lelaki setengah tertidur itu jatuh ke arah sungai. Ia yakin arusnya yang deras membuat lelaki itu tenggelam dalam waktu sekejap. Tak pernah ada orang yang selamat di arus sederas itu. Di hilir, orang-orang menemukan jenazahnya tiga hari kemudian. Orang-orang mengatakan ia jatuh ke mata air saat ia mengejar salah satu pakaian yang tertiup angin.

Angin sore berdesir kering, menjatuhkan kelopak bunga-bunga. Sesekali buah-buah mungil yang masih rawan itu bergerak dimainkan angin. Manna menutup pintu, merebahkan diri di kasur. Ia mengambil buku cerita tentang putri raja yang berubah menjadi ikan di bawah bantal. Aku tahu, Manna mengambil buku itu saat mencurinya, dan menyimpannya di punggung, di balik kausnya yang kebesaran. Ia tidak mengakuinya di depan Bu Guru sebagaimana ia tidak pernah mengakui yang ia lakukan kepada lelaki itu. Sering ia menghibur diri, bahwa Bu Guru telah menjelma seekor ikan dan menjadi guru bagi ikan-ikan di sungai, dan lelaki itu menjadi salah satu muridnya.

Rumah Ladam, Desember 2017


Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku terbarunya Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian (Basabasi, 2017), dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.

Buku, Resensi

Pada Batas Kematian

oleh Rizki Amir

Perkembangan naskah lakon yang diterbitkan menjadi sebuah buku dalam satu tahun dapat dikatakan sangat lemah. Tak banyak penerbit, baik indie maupun mayor, yang mau bergerak di lingkaran yang sepi pembeli. Selain itu, seorang penulis lakon drama juga harus memutar otak bagaimana caranya agar naskah yang ada bisa enak dibaca. Sebab, di dalam teks lakon, tokoh-tokoh yang dihadirkan untuk sebuah pementasan harus mampu hidup dengan tanda yang dapat dihapus dan menggerakkan sebuah hubungan yang dalam antara premis dan lapis.

Tapi tidak. Tidak untuk premis dan lapis yang dibawa buku naskah lakon Di Seberang Sana karya Yusril Ihza. Ia justru hidup dari naskah yang sudah ada: Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang. Yang menjadikannya tampak berbeda adalah pergeseran peran sutradara: bukan lagi sebagai pemegang tunggal pementasan. Ia turut serta sebagai salah satu tokoh dan hadir sepenuhnya untuk menimbulkan kesan lain agar teks tak hanya bergerak ke satu arah.

Lakon di dalamnya berangkat dari celah latar panggung yang gelap: dalam salah satu adegan, tokoh Sang Sutradara berusaha menghentikan tokoh Sang Aktor untuk sekali lagi menggali keaktorannya dan kembali mempertanyakan bagaimana jika ternyata kematian seorang tokoh bukanlah puncak dari pertunjukan, di balik panggung beberapa belas menit menjelang pentas dimulai. Dan sialnya, hal itu justru berkembang menjadi argumen (atau racauan?) yang tidak mudah dipatahkan.

Sang Sutradara menganggap semua itu percuma adanya, sebab dalam naskah dikatakan, cinta harus memahami bahwa dirinya fana dan tunggal. Ada gerak lambat yang coba disampaikan. Ada rasionalitas yang ditunjukkan untuk melahirkan sesuatu. Tapi mungkin itu belum cukup kuat untuk mengaitkan iman dengan laku dan kehendak melalui proses “berpikir”. Salah satu kutipan:

…..

AKTOR

Bulan Bujur Sangkar mengancamku untuk mengimani sesuatu yang tidak aku yakini kebenarannya. Bulan Bujur Sangkar memaksaku untuk mengatakan “Aku membunuh, oleh sebab itu aku ada!”.

SUTRADARA

Apa perlunya kau benar-benar merasakan kematian atau ingin memotong pembuluh darahmu sendiri hanya untuk sebuah pertunjukan?

AKTOR

Orang Tua dan kematian, keduanya bergelayutan di tiang gantungan. Tentang nasib yang ditanggalkan atau sekadar permainan untuk menghibur kegalauan absurditas selama 60 tahun lamanya. Itulah aku, sebagai tokoh utama pada pertunjukan malam ini.

(hal. 8)

Tampaknya melalui dialog antara Aktor dan Sutradara itu mengatakan bahwa naskah Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang, yang akan diperankan, lahir dalam keadaan absurd. Sebab perlawanan di balik tirai normalnya hanya bisa dilakukan aktor secara terbatas: dengan diam atau membangunkan rasa takut. Tapi di dalam teks, Yusril tidak tertarik untuk memilih keduanya. Ia malah meletakkan lakon baru di batas antara yang riil dan yang subtil dari lakon yang sudah ada.

Lakon Di Seberang Sana tidak hanya menawarkan kerangka berpikir tertentu dalam melihat bagaimana jalin-kelindan antara manusia sebagai pelaku yang berkehendak dengan kenyataan kesehariannya, tetapi juga hubungan timbal balik itu bisa seiring dalam upaya mendialogkan antara gagasan teks dengan kenyataan dalam kehidupan.

Sebagai orang yang menghidupi teater, Yusril tidak hanya melakukan strategi “manipulatif” yang artistik, tetapi juga bagaimana pemikiran tentang pencarian makna dari kematian yang memiliki banyak tanda berujung pada kepasrahan diurai sedemikian rupa. Tentu saja, praktik keyakinan semacam itu perlu juga dibaca sebagai teknik permainan berdasarkan metode dan sistem pementasan.

Coba kita cermati batas antara teks itu kembali. Dengan memandang laku dengan keraguan, Sang Aktor sadar akan kehidupan di luar teater yang tragis; ia menganggap Sang Sutradara bukanlah seseorang yang paling tahu tentang peran yang diciptakannya. Bisa kita lihat, Sang Aktor—sang aktor yang bukan lagi dari naskah Iwan Simatupang—telah melihat dari dekat, bahwa panggung adalah kontradiksi. Sementara itu Sang Sutradara kita, dalam keyakinannya yang lurus, ia tak pernah berubah. Tak akan pernah berubah.

Bagian paling ganjil dan menggelikan dalam buku lakon itu adalah dengan menyuguhkan perbincangan kaku, misalnya, dengan mengutip harakiri untuk berserah pada kematian dan disambut dialog lempeng adanya—dan di beberapa titik, pembaca pun jadi terjebak pada keberulangan. Ikatan dialog antar tokoh lebih diperkuat di beberapa tik-tok sebelum naskah usai. Sebagai contoh kata Sang Sutradara: “Pada akhirnya, kau masih belum bisa memaknai kehidupan di atas panggung. Kalau begitu, aku akan mengakhiri pertunjukan ini tanpa tepuk tangan. Selamat malam.” (hal. 20)

Kenapa dialog antar tokoh yang ditulis seakan-akan bersifat problematis? Bisa jadi, melalui buku lakon drama ini, Yusril ingin menjadikan eksistensi sebagai subjek wacana dan secara bersamaan memberikan kesadaran baru tentang bentuk-bentuk kematian. Bagaimana pun juga ada sesuatu yang tidak akan selesai, yang menyebabkan lakonnya tidak utuh: motif yang ditawarkan naskah Bulan Bujur Sangkar sebagai pondasi penciptaan memiliki standar ganda. Meskipun, saya pikir, itu hanya salah satu sebabnya.

Namun, terlepas dari hal itu, para pengkhusyuk sastra-teater, khususnya wilayah Jawa Timur, kini setidaknya telah mengantongi satu nama baru dari kota Surabaya: Yusril Ihza, seorang pemuda yang menulis naskah drama, yang akan menambah variasi bacaan kita di babak baru percaturan dunia sastra-teater.


Rizki Amir lahir di Sidoarjo, 1995. Terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Rahasia Pasar (2017). Terpilih sebagai penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2017. Selain menulis, sebagian waktunya juga digunakan untuk berdagang.