Katalog

Cerpen

Rusdiana, Rusdiana

Cerpen Mashdar Zainal

Lelaki itu menatap gunung-gunung yang menggunduk di kejauhan dan berbisik, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap dedaunan yang melayang-layang terlepas dari tangkainya dan berujar pelan, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap bebatuan yang teronggok di sembarang tempat dan berucap lirih, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap sebuah pohon besar dengan akar berpilin-pilin dan bergumam, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap segala sesuatu yang tak pernah bisa kau duga dan selalu, kau akan mendengarnya, Rusdiana, Rusdiana.

Lelaki itu punya ingatan yang baik tentang seseorang dan sebuah kejadian, maka setiap kali ia menatap sesuatu yang menggeliatkan ingatannya, atau ketika bayangan-bayangan adegan itu melintas di kepalanya, ia akan selalu bergumam: Rusdiana, Rusdiana.

Tak siapapun mengenal Rusdiana. Orang-orang di kampung ini juga tak ada yang mengenal Rusdiana. Bahkan orang tua lelaki itu pun tak tahu, siapa atau apa Rusdiana itu. Rusdiana hanya ada dalam kepala lelaki itu, dan orang-orang menyebutnya telah hilang kewarasan.

Sebenarnya ia tak benar-benar gila. Ia tak suka keluyuran sambil melempari kaca rumah orang dengan kerikil atau semacamnya. Ia tak memakai pakaian compang-camping. Pakaiannya selalu terkancing rapi. Rambutnya tersisir tampan, dan ia selalu berbau wangi. Tapi orang-orang menyebutnya gila hanya karena selalu menyebut, “Rusdiana, Rusdiana.”

Menurut riwayat yang ada, pada suatu hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan—hari pernikahannya, calon istri beserta para pengiringnya tak kunjung datang. Semuanya begitu terlambat, mengundang banyak kecemasan. Hingga seorang laki-laki tak dikenal menelusup dalam keramaian pesta dan berbisik pada seseorang. Hal itu seakan sambung-menyambung seperti permainan rahasia, hingga sampai ke telinganya. Hanya beberapa kalimat, tapi lumayan menyengat, “Bus yang mengangkut mempelai putri beserta rombongannya terperosok ke jurang.”

Ia terpaku, seperti mendengar serangga mendengung. Beberapa penumpang selamat. Beberapa penumpang terluka ringan. Beberapa penumpang mengalami patah tulang, juga beberapa penumpang tidak selamat, termasuk seorang wanita yang telah didandani sangat sempurna, bak seorang putri. Barangkali ia wanita paling cantik dalam bus itu. Dan begitulah, beberapa kalimat itu telah membuat pesta penuh bunga itu berubah menjadi penuh jeritan. Sebuah kiamat bagi lelaki itu.

Setelahnya, lelaki itu berakhir dalam kemurungan, berhari-hari. Sisa-sisa pesta yang tak jadi itu menjelma tangan-tangan berkuku hitam yang mencubiti kulitnya, mencakar-cakar wajahnya. Beberapa hari kemudian, lelaki itu menghilang begitu saja. Ia menghilang dalam kamarnya sendiri, dalam kemurungannya. Keluarganya sudah mencari ke mana-mana, tapi hasilnya tak ke mana-mana. Sebagian orang mengira lelaki itu kabur secara diam-diam untuk bunuh diri di suatu tempat, sementara lainnya berpendapat lelaki itu diculik sesuatu yang tak tampak. Namun semua pendapat-pendapat itu lenyap, begitu lelaki itu muncul pada suatu pagi, di bawah pohon trembesi di ladang belakang rumah, hanya mengenakan celana pendek. Semenjak itulah, setiap kali ia menatap sesuatu yang tak dapat diduga siapapun, ia akan berbisik, Rusdiana, Rusdiana.

Satu hal yang sedikit ganjil, jika ia gila karena calon mempelainya, tentu ia tak akan bergumam, Rusdiana, Rusdiana. Karena calon mempelainya bernama Dewi, nama lengkapnya Dewi Suciwati, bukan Rusdiana. Entahlah, siapa yang bisa menebak isi kepala lelaki itu?

“Siapa Rusdiana?” ibu lelaki itu pernah bertanya demikian.

Dan ia, dengan gerak bibir penuh dan pasti, membalas, “Rusdiana, Rusdiana.”

“Rusdiana siapa?” bapaknya yang kali ini bertanya.

Dan kau bisa menebaknya, yang didapat sang bapak hanyalah jawaban yang sama.

“Barangkali, Rusdiana adalah nama jin perempuan yang menculiknya sewaktu ia menghilang selama beberapa hari itu.” Si ibu menyimpulkan.

“Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya dipikirkan bocah ini, isi kepalanya sudah kacau,” timpal sang bapak, penuh keputusasaan.

Si ibu menangis memandangi bujangnya yang menatap kosong. Sang bapak membatu menatap putra semata wayangnya yang pandai sekali bergumam, “Rusdiana, Rusdiana.”

Beberapa kali mereka mendatangkan orang pintar untuk memeriksa keadaan lelaki itu, tapi orang-orang pintar itu berhenti pintar ketika pada akhirnya, mereka hanya berkata, “Rusdiana, kami tak bisa menyentuhnya sama sekali.” Atau, “Rusdiana, ia bersembunyi di balik kabut.” Atau, “Rusdiana, hanya bocah ini yang tahu siapa Rusdiana.” Atau, perkataan telak yang semacam itu, yang sama sekali tidak membantu.

Pada akhirnya, orang tua lelaki itu menyerah. Ia membiarkan Rusdiana terus hidup dan mengendap dalam kepala anaknya. Mereka cukup bersyukur karena bocah itu masih tampak waras, ia tidak melempari kaca rumah orang, ia masih sudi mandi tiga kali sehari, makan seperti biasa, menyisir rambut, dan berpakaian rapi layaknya orang waras. Hanya ada satu letak ketidakwarasannya, ia tak banyak berkata-kata kecuali, Rusdiana, Rusdiana.

Seandainya orang tua lelaki itu pandai menyisir masa lalu, seharusnya mereka tak perlu mencari orang pintar atau apapun. Cukup menyisir masa lalu. Masa lalu anak lelakinya. Mereka benar-benar lupa. Sewaktu SMA, lelaki itu pernah memiliki seorang kekasih bernama Dian. Gadis itu dinyatakan hilang saat melakukan sebuah pendakian usai merayakan kelulusan. Tak ada yang tahu kalau gadis itu tidak hilang begitu saja. Gadis itu hanya menerbangkan dirinya ke ceruk jurang, lantas tubuhnya yang remuk tersangkut di sebuah batu di antara akar pepohonan yang menjulang di punggung jurang. Sampai detik ini, jasad gadis itu—yang barangkali telah menjadi tulang belulang, belum ditemukan.

Hanya lelaki itu yang tahu. Tapi ia memilih bungkam. Lelaki itu pernah mengingkari sebuah janji untuk mati. Ketika gadis itu menerbangkan dirinya, seharusnya ia menyusul terbang. Demi cinta yang sehidup semati. Tapi tidak, lelaki itu berubah pikiran dan memutuskan secara sepihak bahwa cinta di usia mereka hanya cinta main-main, dan sungguh tak masalah jika orang tua mereka tidak pernah merestui satu sama lain. Masa depan masih sangat panjang, tapi gadis itu terlalu tergegas-gesa. Seolah nyawanya berlipat ganda seperti kartu remi, bisa dilempar ke sana kemari.

Setelah melihat tubuh ringkih itu melayang ke ceruk jurang, disambut cadas dan  bebatuan, lelaki itu gemetar, hanya gemetar, lalu pergi terhuyung-huyung, dan berjanji akan membungkam mulutnya sepanjang yang ia bias, dan gadis itu tak pernah bisa menerima. Maka ia terus membuntuti lelaki itu. Mengawasi gerak-geriknya dari alam ketiadaan. Ia tak akan pernah membiarkan lelaki itu menjadi milik wanita lain, sebab janji mati itu seharusnya ditunaikan bersama. Sebab itu pula, bus mempelai perempuan itu layak masuk jurang, seperti dirinya di masa lampau.

Dan kini, ketika lelaki itu menatap gunung-gunung, ia akan mengingat tempat itu dan berbisik, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika ia menatap sehelai daun yang gugur, ia akan mengingat seonggok tubuh yang terbang melayang di udara, dan ia akan berujar pelan, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika ia menatap tanah keras dan bebatuan, ia akan mengingat cadas dan batu-batu yang meremukkan tubuh ringkih itu, dan ia akan berucap lirih, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika ia menatap akar pepohonan yang berpilin, ia akan mengingat tubuh remuk yang terpaut di antara akar, dan ia akan bergumam, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika tiba-tiba bayangan itu muncul di mana saja dan kapan saja, ia akan terus menyeru nama itu: Rusdiana, Rusdiana. ***

Madiun, 2015-2019


Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Buku terbarunya, “Gelak Tawa di Rumah Duka”, basabasi, 2020. Kini bermukim di Malang.

Cerpen

Seperti Menggunting, Namun Ini Daging

Cerpen Yosef Astono Widhi

 “Tragedi itu terjadi sekitar setahun lalu. Desa ini diteror seorang pembunuh berdarah dingin. Puluhan nyawa hilang dalam waktu kurang dari semalam. Dia melakukannya dengan gesit dan meninggalkan bagian-bagian tubuh korbannya begitu saja. Ada yang ditinggalkan dengan tanpa kepala, ada yang satu daun telinganya hilang, bahkan ada yang hanya diambil buah zakarnya. Anehnya hanya orang dewasa yang jadi korban, menyisakan bocah-bocah yang belum punya pengalaman apa-apa. Mungkin itu cara ia menghancurkan desa ini secara perlahan,” terang Yasmin.

Alif menaksir umurnya sekitar setengah darinya. Wajahnya manis, setidaknya bukan buruk. Tubuhnya terawat. Sebenarnya Yasmin cukup menarik. namun Alif datang untuk Martha.

“Nyonya salah satu korbannya, sehingga kini aku harus hidup sendiri.”

Alif tercenung mendengarnya, dan ia berpikir Yasmin anak Martha.

“Aku ikut nyonya sejak kecil. Kata beliau, aku jadi alat pembayaran orang dari Negeri Timur yang datang dan menggunakan jasanya. Mungkin ia bapakku, aku tidak tahu juga. Tapi kata nyonya, orang itu mengaku menemukanku di sesemakan. Mungkin aku buah dari perempuan yang kerap melenggang di antara lelaki kesepian.”

“Jadi kamu pemilik rumah ini sekarang?”

“Iya. Aku juga yang melanjutkan pekerjaan nyonya.”

“Kamu juga menjajakan tubuhmu?”

“Awalnya tidak berniat karena masih ada uang peninggalan nyonya. Namun banyak orang seperti Anda datang mencari nyonya. Satu dua kali kutolak, namun lama-lama kasian melihat mereka yang sudah rela datang dari jauh, namun hasratnya tertahan karena tidak menemui yang mereka cari.”

Meski sudah pernah berkunjung, rumah ini tampak berbeda bagi Alif. Lebih tertata dan rapi, dengan banyak hiasan interior. Tapi Alif sedikit terganggu dengan interior yang tidak selazimnya ada di sebuah rumah. Kaki menggantung di sudut ruang, potongan telinga dalam stoples berisi air, potongan tempurung kepala. Hal yang paling menyita perhatiannya, jantung ditaruh di atas kain bludru merah dalam kotak kaca bulat, membuat jantung itu seakan berdetak ketika dilihat dari sisi yang lain.

“Banyak orang datang berniat menggunakan jasaku, namun tidak membawa apa-apa selain berahinya. Demi tidak dianggap sundal gampangan, aku menerimanya tetap dengan bayaran, tapi dengan apa saja. Bahkan dengan potongan tubuh manusia pun kuterima.”

“Lalu untuk apa kamu menyimpannya?”

“Hidup sendiri adalah musibah bagi perempuan sepertiku. Dengan menyimpannya, aku seperti memiliki teman karena bisa merasakan kehadiran orang-orang di rumah ini. Mungkin pemilik potongan tubuh itu datang untuk melepas rindu, atau mereka tidak bisa masuk surga karena bagian tubuhnya tidak utuh, entahlah.”

Yasmin mengambil stoples berisi potongan jari manis dengan cincin kawin yang masih terpasang. Ia mengocoknya beberapa saat sampai jari itu berputar-putar. Setelah itu ia menaruhnya di meja, jari itu menggeliat seperti masih hidup.

“Ia bergerak,” seru Alif.

“Mengasyikkan, bukan? Banyak orang bilang jari manis yang dilingkari cincin kawin adalah bagian tubuh paling cepat membusuk. Tapi ini tidak, mungkin karena pemilik jari dan pasangannya kembali bertemu di alam sana hingga mereka bisa melanjutkan perjalanan cintanya. Hahaha entahlah.”

“Kenapa kamu tidak menikah saja?”­­

“Hahhh. Aku memang terlahir kesepian. Aku selalu membayangkan nikmat hidup bersama orangtua, atau pasangan sehidup semati. Namun memikirkan diri sendiri saja rumit, belum lagi jika harus mendengar keluh tentang kehidupan mereka yang berkunjung kemari. Mungkin bagi mereka, melacur satu-satunya surga yang bisa mereka tapaki. Itu pun kadang masih terselip umpatan dan kekesalan di tengah desahan mereka.”

“Gila.”

“Ini memang gila. Ada pemuda yang sering datang kemari. Pada awalnya ia membayar dengan potongan tubuh entah milik siapa. Lama kelamaan ia datang dengan tangan kosong, katanya ia sudah kehabisan persediaan. Lalu ia menawarkan tubuhnya sendiri. Ambillah apa saja asal bukan kejantananku, katanya.”

“Kamu terima?”

“Sudah kukatakan aku bukan sundal gampangan. Namun aku juga masih punya belas kasihan. Maka aku memilih memotong jarinya satu persatu agar ia tidak merasa begitu kehilangan. Namun selayaknya manusia lain, jarinya hanya dua puluh. Setelah semua hilang, ia menukar bagian tubuhnya yang lain seperti lengan, kaki, telinga. Yang tersisa kemudian hanya kepala dan kejantanannya yang menempel pada badan. Setelah itu ia tidak lagi datang.”

Yasmin tiba-tiba membuka kain atasnya, menyisakan kemban berwarna serupa kulit. Ia mengikat rambutnya sebahu dan membuat gerakan eksotis. Seketika Alif bergidik. Ia memang datang untuk menggunakan jasa seorang sundal. Namun yang ia bayangkan adalah Martha, seorang paruh baya dengan mata yang indah, mengobrol dengan secangkir teh menemani Alif di kelelahannya. Bahkan Alif rela menunggu sampai esok hari jika Martha enggan melayaninya malam itu. Atau setidaknya Alif hanya ingin menatap mata indah itu sekali lagi. Namun di hadapannya kini duduk seorang yang tidak kalah menggairahkannya.

“Jadi, Anda bermalam di sini, kan?”

Alif jelas paham, yang Yasmin maksud bermalam bersamanya di atas ranjang. Namun ini benar-benar di luar perkiraan Alif. Seorang gadis muda bertubuh indah terang-terangan mengajaknya tidur.

“Aku ke sini untuk Martha.”

“Bagaimana lagi, nyonya sudah berpulang.”

Hal ini cukup berat bagi Alif. Akal sehat dan nafsunya sedang berperang hebat. Akhirnya ia memilih untuk berkemas dan berencana meninggalkan rumah itu secepatnya.

“Aku kelelahan. Aku cuma mau menatap mata indah Martha. Kalau nggak dapat, lebih baik aku pulang. Selamat tinggal.”

Alif berdiri. Ia hendak melangkahkan kakinya menuju pintu keluar sebelum Yasmin turut berdiri, menarik dagu Alif dan mencumbuinya. Gerakan itu begitu cepat sampai-sampai Alif tidak menyadarinya. Ciuman yang begitu erat itu membuat Alif susah bernapas. Tapi ia mengakui, bibir itu terlembut yang pernah ia cicip. Ciuman itu terlepas setelah Alif mendorong Yasmin sekuat tenaga karena napasnya mulai tersengal.

“Bibir Tuan manis dan hangat. Sempurna. Setidaknya bibir yang Anda hisap barusan tidak kalah menarik ketimbang mata Nyonya Martha, bukankah begitu, Tuan?”

Tidak menunggu jawaban, Yasmin menarik tangan Alif menuju kamarnya. Seperti terhipnotis, Alif menurut saja menuju ruangan gelap dengan harum narwastu.

“Tahan sebentar Tuan, aku akan membuat permainan kita lebih menggairahkan.”

Yasmin menyalakan lilin di tiap sudut kamarnya, menyisakan suasana remang dalam kamar. Yasmin berbalik menatap Alif, ia memegang bahu Alif dan membaringkannya di ranjang. Yasmin mencium Alif singkat. Kemudian tangannya menyusuri badannya sendiri sembari berputar dan seketika kembannya sudah lolos dari badan. Yasmin berkedip sekali sebagai isyarat bahwa Alif boleh bergerak. Tanpa menunggu, Alif langsung meraih tubuh Yasmin dan menariknya ke ranjang. Mereka berguling dua kali sambil mulut saling terpaut. Dalam hitungan detik, mereka sudah sama-sama telanjang.

“Lakukanlah pelan-pelan, Tuan. Kita punya waktu sepanjang Tuan mau.”

Alif segera akan memulai permainan berikutnya. Ia menindih tubuh Yasmin, terdengar lenguhan lirih dari keduanya. Pada saat itu Alif merasa ada yang mengamati pergumulan mereka. Alif memutarkan pandangan. Tidak ada siapa-siapa. Namun ia benar-benar merasa ada orang selain mereka.

“Kita tidak sendiri?”

“Sudah kubilang Tuan, kehadiran mereka itu nyata.”

“Tidak-tidak. Baru saja kurasakan, siapa dia?”

“Tidak ada, Tuan. Sudahlah.”

Yasmin kembali merengkuh tubuh Alif hingga melupakan perasaan waspadanya. Sebelum Alif meraih puncak, ia tak sengaja melirik ke salah satu sudut ruangan. Ada sesuatu yang menyala. Sepasang bola mata yang tersimpan di dalam stoples berisi air. Alif betul-betul ingat mata itu. Ia kini mengerti siapa yang mengamatinya tadi.

“Ma-Martha..”

Jrraasssh. Belum selesai kalimat itu terucap, kepala Alif sudah menggelinding turun dari ranjang. Terlihat di atasnya, Yasmin menyeringai sambil memegang pisau.

“Terima kasih Tuan, tidak kusangka aku bisa menemukan bibir yang pas untuk bapakku.”

***

Di suatu malam menjelang pagi, seorang gadis dengan karung di punggungnya berjalan mengendap di antara rumah-rumah yang berhimpit. Ia bergerak dengan tenang sambil menengok ke setiap rumah. Setelah menentukan pilihan, ia melompat melalui jendela. Di hadapannya sepasang kekasih sedang tidur. Gadis itu mengeluarkan badik kecil yang sejak tadi menggantung di pinggangnya. Ia menunjuk muka perempuan kemudian berganti pada yang laki-laki. Ia melakukan itu beberapa kali seolah sedang memilih. Akhirnya ujung badik itu berhenti di antara wajah keduanya, lalu ia mengayunkannya ke kanan, lalu ke kiri secara cepat. Darah muncrat ke mana-mana. Nyawa mereka melayang. Gadis itu menurunkan tubuh keduanya, dan memperhatikannya lekat. Ia memejamkan mata, membayangkan betapa bahagianya kelak bila bisa bertemu orangtuanya. Lalu ia berpaling ke arah yang perempuan.

“Aku suka telingamu. Cocok dengan gambaran ibuku. Nah, kalau hidungmu, cocok untuk bapak.”

Gadis itu memotong telinga si perempuan dan hidung si laki-laki. Ia membuka karung yang di dalamnya sudah berisi potongan-potongan tubuh. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah gunting taman.

“Tak kusangka ini sangat mudah, seperti menggunting, namun ini daging.”

Ia menggunting tubuh perempuan sampai seluruh organ terpisah. Bagian yang ia suka dimasukkan ke karung dan meninggalkan yang lain menumpuk begitu saja.

“Sebentar lagi aku punya orangtua yang menyayangiku, tidak seperti si tua Martha sialan. Aku bosan diperlakukan selayaknya anjing!.”

Yogyakarta, Oktober 2019


Yosef Astono Widhi, gemar membaca dan berteater. Sedang berusaha menamatkan studinya di Sastra Indonesia UGM. Twitter: @yosefaw, Instagram: @yosefastono, Email: [email protected]

Buku, Resensi

Celeng dan Cairnya Kedirian Manusia

Oleh Muthia Sayekti

Tokoh Sirius Black pernah menasihati keponakan baptisnya, Harry Potter, bahwa dalam setiap diri manusia sejatinya terdapat kebaikan dan keburukan. Keduanya saling bergandengan dan tidak terpisah. Ingin menjadi seperti apa manusia itu sendiri tergantung pada pilihan dari masing-masing manusianya. Nasihat itu muncul dalam sebuah adegan di serial film Harry Potter yang ke-5 berjudul Harry Potter and The Order of The Phoenix (2007). Black menyampaikan petuah tersebut ketika Harry merasa gelisah karena dirinya memiliki ikatan jiwa dengan Voldemort, penyihir jahat kelas kakap yang menjadi tokoh utama antagonis dalam serial film ini. Harry khawatir ia bisa menjadi sama jahatnya dengan Voldemort. Oleh sebab itu, sebagai orangtua, Sirius Black mencoba untuk menenangkan keponakannya bahwa ia sangat bisa menjadi penyihir yang baik meskipun jiwanya terikat dengan Voldemort.

Dari kutipan adegan tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa menjadi baik atau buruk sebagai manusia, merupakan otoritas diri masing-masing individu. Manusia digambarkan sebagai subjek yang otonom untuk bisa memutuskan karakter mana yang ingin ia tonjolkan sebagai manusia.

Berbeda dengan narasi tersebut, tokoh Joker ternyata tak bisa sama otonomnya seperti tokoh Harry Potter. Dalam film Joker (2019) nampak bahwa menjadi jahat tidak murni atas keputusannya sendiri. Pada adegan-adegan tertentu, Joker justru bisa dikatakan sebagai anak lelaki yang berbakti pada ibunya, pekerja keras, dan penyayang. Ia dikisahkan menjadi psikopat sebagai bentuk respon atas ketidakadilan hidup yang bertubi-tubi menimpanya.

Dengan demikian, kita bisa membandingkan bahwa karakter seseorang tidak serta merta muncul atas otoritas diri. Ada faktor di luar tubuh manusia yang turut mengintervensi bagaimana karakter seseorang itu terbentuk.

Gambar1: Cover Buku Menyusu Celeng. Sumber: ebooks.gramedia.com  

Dalam buku Menyusu Celeng (2019) karya Sindhunata, karakter manusia dikisahkan secara metafor serupa hewan celeng. Di sini, Sindhunata mencoba untuk menceritakan kisah pelukis Djokopekik yang dikenal dengan lukisannya berjudul Berburu Celeng. Secara stereotip, celeng sering merujuk pada hewan yang rakus, beringas, dan penuh hasrat akan kuasa. Pun sebagian besar masyarakat masih percaya bahwa celeng merupakan hewan yang sering digunakan dalam praktik pesugihan; babi ngepet. Di sini, Sindhunata ingin membalik persepsi bahwa pesugihan celeng ini justru menjadi penyelamat masyarakat miskin yang tak mampu memperbaiki kondisi hidupnya. Dengan demikian, celeng tidak hanya binatang yang buruk tetapi juga memiliki sifat penolong, sifat kemuliaan.

Dengan gaya seperti sedang bercermin dalam konsep psikoanalisis Jacques Lacan, Sindhunata menceritakan pelukis sedang melakukan proses (mis)rekognisi ketika berbincang dengan wayang celengnya (hlm. 85). Semakin si pelukis menghina dan mengumpat pada wayang celengnya, kata hinaan dan umpatan itu justru membuat si pelukis melakukan proses refleksi diri. Pelukis merasa bahwa dirinya juga tak lebih baik, bahkan sama buruknya dengan sifat-sifat yang dimiliki celeng. Hingga akhirnya ia sampai pada titik perenungan bahwa yang memiliki sifat seperti celeng tidak hanya ia (pelukis) seorang, tetapi sebagian besar manusia zaman ini. Zaman yang mana ia sebut sebagai Zaman Kalabendu.

Titik puncak perenungan si pelukis ditandai pada situasi adegan di mana si pelukis melepaskan segala dendamnya pada si celeng dengan mandi di Tuk Celeng, tempat yang dipercaya sebagai Mata Air Celeng yang bisa memurnikan jiwa, menghapus kesedihan, dan menyembuhkan segala penyakit (hlm. 114). Pelukis merasa lelah ketika lukisannya tentang celeng justru membuat banyak keonaran baru. Ia merasa bahwa lukisan itu dilahirkan dari rasa dendamnya pada penguasa yang dianggapnya seperti celeng, bukan untuk misi kebaikan membasmi sifat-sifat buruk dari celeng itu sendiri. Kekuatan dendam itulah yang dianggapnya melahirkan banyak ketidakbaikan. Toh pada dasarnya ia sendiri sadar bahwa ia juga tak lebih baik dari celeng yang ia dendami.

Siapa yang menyembunyikan celengnya dalam kebaikan-kebaikan dan kepahlawan-pahlawanannya akhirnya akan ketahuan juga, bahwa dirinya adalah celeng, seperti yang kini terjadi pada diri saya (hlm. 139).

Sindhunata di sini terlihat mengajak para pembacanya untuk ikut merenung bahwa diri setiap individu juga memiliki sifat keburukan. Tak satu juga manusia pantas untuk merasa (paling) suci, baik, heroik. Namun dalam buku ini, Sindhunata mencoba untuk meleburkan sekat bahwa karakter seseorang tidak murni dibentuk secara otonom oleh manusia itu sendiri, seperti nasihat Sirius Black. Tidak pula manusia hanya bisa menjadi pecundang terhadap ketidakadilan hidup. Setiap manusia tidak senantiasa kalah dengan keadaan yang tidak baik lalu tidak bisa melawan, seperti yang dialami Joker.

Kisah sang pelukis dalam buku Menyusu Celeng ini dinarasikan seimbang. Bahwa kebaikan dan keburukan dalam diri manusia bisa muncul secara otonom dari dalam diri mereka, sekaligus bentuk reaksi terhadap keadaan yang ada di luar diri mereka. Dalam membentuk kedirian itu sendiri, tidak ada yang bersifat absolut dan mutlak. Karakter manusia selalu cair dan dinamis. Si pelukis sendiri dulunya dikenal sebagai seniman yang menjunjung tinggi nilai-nilai sosialis. Namun ketika lukisannya semakin laris, ia pun tidak menafiki dirinya untuk berlagak seperti para borjuis.

Hanya celeng yang bisa hidup secara “kanan”, sambil terus melirik “ke kiri”. Artinya, siapa yang tidak ingin hidup enak dan menikmati hidup seperti seorang borjuis? Namun supaya kelihatan sexy – istilah zaman sekarang – apalagi sebagai seniman, apa salahnya orang berpandangan kekiri-kirian seperti orang sosialis? (hlm. 152).

Manusia memang akan selalu hidup dalam proses untuk menjadi (process of becoming). Tidak ada yang terus-terusan bisa menjadi pahlawan, pun tidak ada yang bisa senantiasa menjadi pecundang.


Muthia Sayekti, penulis lepas, Alumni Kajian Budaya dan Media UGM. Bisa disapa di Muthia Sayekti (Facebook), @mutiasayekti (Instagram), @MuthiaSayekti (Twitter)

Puisi

Puisi Naning Scheid

Bunga-Bunga Kepalsuan

1/

Senyum. Senyum menggoda

Seribu like – love; komentar

Sunyi. Hambar – ambyar,

dari balik layar

2/

Silikon – dada ranum

Parfum parisien – harum

Tag harga di panggal paha

Surga plastik; gimik

3/

Ketika layar dimatikan,

realita menjadi bayangan

Fantasi lebih sejuk dari udara

– fatamorgana

Brussel, 2020


Raksasa

Untuk sarapan, aku makan

Satu macan Sumatra

Dua orang hutan

Siang, hidangan pokok

Sup penyu tiga mangkok

Empat paha komodo

Lima burung maleo

Untuk cemilan,

Enam keripik cendrawasih

Tujuh ekor corak merak

Untuk makan malam,

Delapan badak bercula

Sembilan anoa

Sepuluh primata

Aku raksasa

Perutku besar, selalu lapar

Bila semua tiada, nanti

Akan ku makan temanku sendiri

Brussel, 2020


Pembaca Buku

Pembaca buku budiman

Mengeja diksi seperti firman

Manggut-manggut mengamini

Menghela napas, sesekali

Pembaca serampangan

Memakan mentah kata serapan

Terdecak pada yang wah-wah

Tak mengerti makna – arah

Pembaca buku rakus

Menguliti bacaan haram

Mencari surga di lubang tikus

Remah ilmu, gula dan garam

Bukan pembaca apa-apa

Makan, tidur, kerja, berdoa

Hidup, bergelut, tua, dan mati

Terkubur dalam kenaifan hakiki

Brussel, 2020


Generasi

Kakek buyutku seorang pejuang

Merebut kemerdekaan dengan berperang

Badannya kecil jiwanya garang

Melawan Belanda mengusir Jepang

Kakekku, tentara nusantara

Menyatukan Aceh hingga Papua

Badannya sedang jiwanya berceruk

Agung dalam remang masa kemaruk

Ayahku, punggawa negeri

Penegak reformasi dan demokrasi

Badannya lebar jiwanya rentan

Jatuh bangun memilah teman dan setan

Aku seorang pemimpi – tech savvy

Atau, pecundang di era desrupsi

Badan datar jiwa hambar, pemakan kuota

Entah kemana kubawa Indonesia?

Brussel, 2020


Pemberontakan Samudera

Poseidon mulai murka

Kau racuni anak-anaknya:

Sungai, Danau, Rawa, Parit,

megap-megap meregang sakit

Parit makan sampah

Rawa minum limbah

Danau tercemar merkuri

Sungai teracuni

Banjir, tsunami, gempa bumi

Kisah klasik anak-anak negeri

Brussel, 2020


Negeri Pelaut

Ini cerita negeri pelaut

Nenek moyangnya bukan penakut

Cucu cicitnya sejati pandir

Merusak alam, tak takut banjir

Analisa demi analisa,

Omong kosong penguasa

Mimpi generasi melambung tinggi

Rumah – pundak basah, tergenangi

Ini cerita negeri pelaut

Negeri besar bukan negeri pengecut

Pandai mengadu benar, adu umpat

Piawai memelintir, lihai melaknat

“Ini keputusan Tuhan!”

– penduduk berhati batu menjelaskan.

Para bijak bungkam dan kecut

Menumpang hidup di negeri pelaut

Brussel, 2020


Patahan Hati

1/

Kenangan tersapu

voilà. Serpihan pilu

2/

Datang pertanda seperti mata-mata

Berkabar tentang cerita baru

– siksaan subtil; cemburu

Harapan mati. Dimana karma?

3/

Adili cintaku –

jangan adili Tuhanku

4/

Parit di bawah lidahnya

Pernah membawa kapalku pecah

– karam dalam percumbuan

Tinggal kenangan

Brussel, 2020


Menuju Negeria

Para kanibal gentayangan

Menebar seribu satu ketakutan

Bangga! Tertawa menjadi jahanam

Bapak-bapak terkencing

Ibu-ibu dipaksa – bersenggama

dengan mesin pencuci otak

Berakhir bunting; beranak martir

Anyir darah, tubuh berserak

: pemandangan alam

Burung hering berpesta, di atas

Nyawa-nyawa terkoyak

– di Nigeria


Selepas Kepergianmu

Gelisah ini susah payah kubiar

Membiasa bak laku kita

Hening ini kuselami dalamnya

Terhirup indah, nantinya

Segera kusiapkan topeng topeng tawa

Kupamerkan kapanpun kubutuhkan

Bukankah khayalan lebih sempurna

Dari kebenaran dan kenyataan

Pada dingin pembungkus kelam

Selaksa pesan akhir suratan

Perjuangan terlalu rumit untuk diurai

Kita pulang pada keseharian

Meski ada yang tersayat seketika

Pedih, bagai luka diberi cuka

Lalu, sembunyi aku bagai pengecut

Tak sanggup bertemu

Sekedar menatap wajahmu

Takut aku,

Mengulang kebodohanku

Kembali jatuh hati padamu.

Brussel, 2020


Mea Culpa

Sejak samar jejakmu di telan ombak

Hanya punggung samudera yang tampak

Berisik dedaun kelapa melambai getir

Berdansa melankoli di peluk angin pesisir

Merpati telah pergi, meninggal janji

Tak paripurna; langit tak lagi berpelangi

Perjalanan sentimentil membekas di pasir

Hitam legam terbakar mentari takdir

Meski pada titik awal, merujuk padaku

Penyebab tunggal sayatan pilu

Tragedi patahan sayap merpati

Penitik prahara menderai dua hati

Aku, mimpi buruk

– bergaun bunga-bunga

berenda pelangi merona

ribuan lamunan mata terbuka

pemintal desir candu berbenang luka

Mea culpa, mea culpa maxima

Brussel, 2020


Naning Scheid, lahir di Semarang, 5 Juni 1980. Penulis dan Pemain Teater. Penyuka kerupuk gendar dan wisata budaya. Pengajar di Fakultas Bahasa Inggris UPGRIS sebelum meninggalkan Indonesia. Aktif dalam kegiatan sosial kemanusiaan di Belgia. Sarjana Pendidikan Universitas PGRI Semarang dan Sarjana Manajemen Sumber Daya Manusia CEFORA Belgia. Berkebangsaan Indonesia. Tinggal di Brussel sejak 2006. Menulis opini, puisi, dan cerpen diScheid.be, Medium.com, Wattpad.com, Kliksolo.com, Basabasi.co, Pos Bali, Buletin Pusat Kependudukan Perempuan dan Perlindungan Anak – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas PGRI Semarang.

Cerpen

Surat Cinta untuk Vin

Cerpen Khumaid Akhyat Sulkhan

Vin yang terkasih,

Aku menulis surat ini setelah mampir ke perpustakaan kota yang dulu menjadi tempat favoritmu setiap kali menghabiskan akhir pekan dengan membaca kisah-kisah cinta dalam novel atau kumpulan cerita pendek. Hujan lebat yang mengguyur sepanjang hari dan hawa dingin yang menusuk sama sekali tak menyurutkan niatku untuk pergi ke sana, meski sekadar untuk menyesapi jejak-jejakmu yang tak kunjung lenyap dari lorong-lorong kenanganku.

Masih jelas dalam ingatanku, kau yang selalu menempati kursi di sebelah rak buku sastra itu setiap hari Sabtu dan Minggu. Kau terlihat begitu khusyuk ketika sudah mulai membaca, seolah sedang melakukan semacam ritual suci. Kadang, aku bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang kau rasakan ketika membaca cerita-cerita fiksi? Apakah itu bisa membuat kesadaranmu pergi sementara dari realitas yang seringkali keparat ini?

Dalam keheningan, selepas mengunjungi perpustakaan dan mengenangmu, aku tiba-tiba jadi ingin mencurahkan segenap perasaanku melalui surat, Vin. Dan mungkin ini adalah surat cinta pertama sekaligus yang terakhir dariku.

Sebentar lagi aku akan menyematkan cincin ke jari manis seorang perempuan yang telah memberiku segala-galanya. Aku mengenalnya ketika nasib yang gelap menikamku dengan cara menyakitkan selepas kau pergi. Ah, andai saja kau tahu, bagaimana aku menderita dan bahkan nyaris mati kalau saja ia tak meniupkan harapan serta daya hidup ke dalam jiwaku, berkali-kali.

Selama beberapa waktu terakhir, aku mencoba memantapkan diri. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku mencintainya dengan segenap kesungguhan yang ada pada jiwa-ragaku. Meski sampai sekarang, setiap kali menatap sepasang matanya, aku justru seperti menatapmu dan setiap membelai wajahnya, aku malah selalu teringat pada wajahmu yang senantiasa merona itu.

Genap dua tahun sudah kau pergi dan rasanya aku masih sering melihatmu berkelebat di mana-mana. Kau membayang di jalan-jalan, di baliho-baliho, di pertokoan, di pohon, di rerumputan, tiang listrik, papan jalan, dan bahkan gang-gang yang kulalui setiap saat. Haruskah aku bersyukur atau mengutuknya? Haruskah aku sekarang berlari menyongsong keberadaanmu yang seolah lenyap di persimpangan waktu?

Rasanya baru kemarin, aku bahagia karena bisa mendeskripsikan rambutmu dengan detail. Warna merah tua yang seperti warna langit ketika cahaya matahari mulai terbenam. Dan wajahmu khas pemain opera sabun di televisi dengan lesung pipit yang muncul tiap kali kau tersenyum bila menemukan hal-hal menyenangkan dalam bacaanmu dan kening yang sesekali mengerut saat menemukan hal-hal menyedihkan. Sementara kedua matamu, tajam dan menakjubkan bagai mata seekor elang. Meski mata itu tak pernah menatapku sekalipun aku sering curi-curi pandang ke arahmu.

Vin yang manis, apakah sekarang kau berbahagia dengan kehidupanmu?Aku harap demikian. Sebab akhir-akhir ini, entah mengapa, aku merasa hidup semakin rumpil dan membosankan. Setiap hari kulihat orang berlomba-lomba menyampaikan kebenaran menurut mereka lewat televisi, media sosial, koran, dan mimbar-mimbar di tempat ibadah. Klaim siapa benar, siapa salah, memekakkan telinga dan memedihkan pandanganku, hingga susah membedakan mana kebenaran sejati dan yang bukan. Telinga dan mataku, seperti tak mampu lagi mengenali siapa musuh dan siapa kawan.

Dalam kekacauan tak berkesudahan ini, aku merindukan sosokmu yang selalu bisa memberi ketenangan, hanya dengan obrolan-obrolan sederhana. Aku ingin suatu saat, kau kembali hadir dalam keadaan utuh sebagaimana di hari-hari ketika aku memandangimu dari kursi di sebelah utara diam-diam. Ajari aku melewati gerbang kata-kata untuk kemudian menjalani kehidupan alternatif dalam novel atau cerita-cerita pendek. Dalam karya sastra, suatu nasib, yang paling buruk dan menyedihkan sekalipun, selalu memiliki nilai keindahannya sendiri. Aku ingat persis kalimatmu itu, yang kau katakan pada suatu sore ketika aku bertanya banyak tentang sastra dengamu.

Dan rasanya sampai hari ini aku tidak bisa berpikir sepertimu, Vin. Bagiku, nasib buruk adalah nasib buruk. Kekacauan adalah kekacauan. Badai adalah badai. Mampukah kau menunjukkan keindahan yang betul-betul bisa kita panen dari ke semuanya itu? Atau pernyataanmu yang dulu meluncur hanya untuk menutupi kerapuhanmu sendiri?

Ah, andai saja waktu itu aku betul-betul memberanikan diri untuk mengenalmu lebih jauh. Setidaknya, dengan demikian, aku tahu di mana bisa mencarimu pada saat-saat kacau seperti sekarang ini. Tidak masalah kalaupun kau memang betul-betul telah kawin dan bahkan beranak-pinak. Aku akan tetap mengunjungimu. Melihat kau yang sehat dan tersenyum, lalu berdiskusi sebentar mengenai sastra serta realitas, itu saja sudah lebih dari cukup.

Aku tidak tahu nama lengkapmu, meski sejujurnya aku sangat ingin mengetahuinya.Vin, panggil aku Vin saja, begitu katamu. Sungguh, aku ingin memiliki kesempatan untuk mengetahui nama panjangmu. Sebab dengan begitu, rasanya aku sudah sejengkal lebih baik dalam menciptakan peluang kedetakan di antara kita. Namun aku kemudian berpikir, haruskah kita dekat? Sementara aku selalu merasa seratus persen utuh tiap kali bertemu dengamu tanpa perlu mengenalmu lebih dekat dan lebih mendalam. Sehingga waktu itu aku lebih memilih sebatas menjadi semacam teman kenalanmu saja sembari diam-diam terus memeram seluruh isi perasaanku.

Kukira, aku akan selamanya bersikap demikian.Namun cinta adalah kekuatan irasional yang sukar dibendung. Aku sempat mengalami semacam paradoks menjelang kepergianmu. Saat itu aku sangat ingin memilikimu, tapi sekaligus ingin membiarkanmu tetap tak terjangkau saja. Kau adalah keindahan dan aku berpikir, ada kalanya suatu keindahan justru menjadi rusak begitu ia dimiliki. Di sisi lain, kadang aku juga merasa bahwa harus ada sosok yang memuja serta menerjemahkan keindahan rupamu. Dan orang itu haruslah aku.

Pada titik itulah, aku lalu memutuskan untuk mencoba mengajakmu jalan. Aku rasa tidak ada salahnya mencoba mendekatimu. Soal apakah nantinya kita akan berakhir sebagai sepasang kekasih yang menjalin percintaan atau sama sekali tidak, itu urusan lain.

Namun keesokan harinya, setelah aku memantapkan keyakinan, kau tak datang ke perpustakaan. Aku masih berpikir kau mungkin sakit atau ada urusan penting barang satu-dua hari. Tapi setelah dua akhir pekan terlewati, kau tak juga muncul dan aku mulai cemas.

Lalu datanglah, Sabtu yang gelap itu…

Hari itu, kau akhirnya datang. Dengan wajah yang semakin merona, dengan kecantikan yang kian memesona. Aku sudah menyiapkan diri dengan pura-pura mencari novel di rak buku-buku sastra. Rencananya, begitu kau duduk di kursi favoritmu itu, aku akan membuka obrolan dengan mengajakmu ke sebuah pameran buku-buku sastra yang kebetulan sedang dihelat di toko buku langgananku.

Engkau perlahan membuka pintu perpustakaan dan menuju ke meja petugas untuk mengembalikan dua buah buku pinjaman. Petugas itu bertanya kenapa kau beberapa waktu terakhir tidak menyambangi perpustakaan. Dan kau tersenyum, sambil menunjukkan sebuah cincin yang telah tersemat di jari manismu. Lalu kudengar ucapan selamat dari si petugas perpustakaan. Kau mengucap terima kasih dan berkata pada si petugas, bahwa hari itu adalah kali terakhir kau menghabiskan waktu di perpustakaan dan kota ini.

Dadaku sesak, napasku tersengal. Ada kesedihan yang berusaha kuperam hari itu. Kesedihan yang mendesak keluar hingga membuat pandanganku mengabur. Masih dalam keadaan serba kacau, kau mendekat. Hendak duduk di kursi favoritmu. Dan sebelum kau duduk, kita sempat bersitatap untuk kesekian kalinya. Saat itu, kau tersenyum ke arahku dan seolah ingin mengajak bicara.

Apakah waktu itu aku membalas senyum pertama sekaligus terakhirmu, Vin? Aku lupa. Tapi jika aku tak sempat membalas lantaran jengkel bercampur sedih, sudilah kiranya engkau memaafkan.

Setelah Sabtu gelap itu, kau tidak pernah lagi mengunjungi perpustakaan di akhir pekan. Aku mungkin masih bisa berdamai dengan diriku apabila kau tetap datang ke perpustakaan—sekalipun harapan untuk menggapaimu pupus sudah. Namun pada kenyataannya, kau memang telah pergi dan sejak hari itu, aku menjadi laki-laki pemurung yang barangkali tidak akan pernah lagi bisa jatuh cinta dengan perasaan yang sama seperti padamu.

Kadang, aku masih suka membayangkan bagaimana seandainya aku tak bersikap naif dan menunda-nunda waktu untuk mendekatimu. Aku tentu tak akan berakhir hanya sebagai teman kenalan di perpustakaan. Setidaknya, kita bisa bertukar nomor telepon atau akun media sosial. Lalu kita akan menjadi akrab seiring berlalunya hari sebagaimana sepasang kekasih dalam film-film Holywood.

Kalau pun aku tetap tidak menjadi sosok yang akan melingkarkan cincin itu ke jari manismu. Setidaknya, aku pernah memiliki kesempatan untuk melakukannya. Begitu saja sudah cukup untukku.

Namun semua itu kini tinggal angan saja. Seseorang yang lebih berani telah datang dan mengajakmu membangun bahtera hidup bersama untuk berlayar mengarungi lautan nasib yang serba tak menentu. Aku cuma bisa berharap, semoga saja ia memang bukan sosok laki-laki bebal yang cuma ingin menguasai setiap jengkal lekuk tubuhmu. 

Vin, yang kucintai…

Sembari mengingat segala tentang engkaulah, surat ini kutulis. Sayang sekali aku tidak tahu kau hidup di mana dan bagaimana kondisimu sekarang. Oleh karena itu, agar sampai kepadamu, surat ini akan kulipat menjadi perahu kertas dan kularung ke sungai. Aku hanya bisa berharap, kelak, kata-kata dalam surat ini akan lebur bersama air dan merasuki ruang kesadaranmu melalui semilir angin dan derai-derai hujan.

Yogyakarta, 2020


Khumaid Akhyat Sulkhan, pemuda kelahiran Batang ini menulis esai dan cerita pendek demi mengatasi perasaan galau. Beberapa tulisannya bisa dibaca di Republika, detik.com, magdalene.co, thecolumnist.id, Mojok.co, dan lain sebagainya. Penulis bisa dihubungi di Twitter @kasulkhan atau Instagram akhyat_sulkhan.

Puisi

Puisi Beri Hanna

cinta dan peluit

cintaku ditiuptiup peluit panjang

yang melengking

menggurui buntut kendaraan

terus, terus, op, balas kiri balas kanan, ya.

munculnya pun ketika aku hendak hengkang.


mengantar doa

dalam perjalanan yang menakutkan

kubuka sebuah kitab dan mulai membaca,

perintahnya aku disuruh terus berdoa

maka kututup kitab itu dan mulai berdoa

terusmenerus.

semakin lamanya aku berdoa,

semakin aku merasa tenang

bahkan tak terasa lagi apaapa,

segala ketakutan luntur dalam

kepalan tangan dan segala komatkamit

yang aku panjatkan dalam mata terpejam.

saat kubuka mata perjalanan sudah berakhir,

tidak terasa saja

kini aku sudah ada di surga.


bus gunung batu memuat rindu

nama bus itu gunung batu.

tujuannya mengantar penumpang ke arah yang tak tentu

sopirnya seorang ibuibu,

melajunya seperti peluru—cepat sekali

menembus hati yang penuh dengan pilu.

para penumpang tersedu-sedu

juga sekalikali terasa ngilu di setiap tikungan.

satu saja harapan para penumpang

yang naik bus gunung batu,

agar rindu yang dibawa

untuk menuju suatu tempat

selamat sampai tujuan

dan tidak lekas menjadi hantu.

dengan iringan doa dan nyanyian merdu

terpujilah seluruh rindu

yang melaju bersama bus gunung batu.


untuk perempuan

yang sudah membeku di pulau rindu

aku naik bus gunung batu

melewati jalan berliku

menuju pulau rindu.

menghabiskan waktu untuk

melatih diriku sendiri

untuk belajar mengungkapkan sebuah rasa

agar kelak, aku tak malu-malu

menyatakan rindu yang selama ini meninju-ninju

sunyi setiap malamku, pada perempuan

yang sudah membeku di pulau rindu itu.


sopir bus itu

dan cuaca tidak dapat didugaduga

hujan badai jatuh di setiap tikungan.

rindu mulai terancam,

akankah benar sampai, akankah benar tidak.

para penumpang sibuk sendiri

menunduk, mengingat tak menghiraukan

laju bus gunung batu yang mulai oleng menghalau badai.

petir meletusletus, jantung hampir putus

penumpang berseru saat bus ingin jungkir balik

akibat tikungan yang melengkung, yang ditambah hujan badai,

yang ditempuh pula dengan kecepatan penuh.

nyawa di ambang ngilu

sopir bus meyakinkan;

aku juga sedang membawa rindu.

jadi, jangan kau rasa ngilu milikmu lebih haru

sekali rindu tetap rindu,

meski badainya mengutukmu

rindu wajib bertamu!


pengamen itu

aku purapura tidur

saat pengamen itu memetik gitar

dan menarik suaranya dengan lantang

satu dua tiga lagu ia nyanyikan

orang-orang mulai risih

dan melemparnya dengan kulit kacang

satu lagu terakhir, katanya

mulai orang menutup telinga,

ada yang membuang muka

membuang badan, menghempas pantat,

memakai headset, dan purapura tidur sepertiku

seolah pengamen yang bernyanyi seperti radio

butut yang tak didengar.

aku hampir larut

sempat sejenak tak sadarkan diri.

aku tersentak.

aku mengintip,

pengamen itu sudah tidak ada

orang-orang juga sudah tidak ada

sopir bus tidak ada

tidak ada seorang pun di sini.

kesempatan. kubuka satu per satu

barangbarang yang tertinggal,

tas hitam, tas merah, tas kuning,

yang ditinggal pemiliknya

tapi semua tak ada isinya.

kubuka tasku sendiri, kampret!

kosong juga tak ada isinya, kampret! pengamen itu.


penjual tahu

dua ribu saja, teriak penjual tahu itu.

kulihat dengan pasti

isi dompet tinggal empat ribu.

penjual tahu tibatiba di sebelahku,

itu cukup untuk dua bungkus, mau?

kututup dompet dan membuang muka darinya.

ia duduk di sebelahku;

beli satu juga tidak masalah,

aku geram.

bagaimana, katanya pula sambil

disodorkan sebungkus tahu.

rahangku jadi keras

kepalan tangan sudah siap menghampas pukulan

lidahku tak goyang ingin mengutuknya,

berat sekali saat melihat matanya yang berbinar.

andai saja dia tahu

bahwa dulu aku juga menjual tahu,

matanya yang berbinar ini

adalah mataku yang dulu menjual tahu.

seklias aku melihat tubuhnya adalah tubuhku yang dulu.

sampeyan tahu, dulu aku juga dagang tahu, kataku.

lepas uang empat ribu

lepas juga laparku.

penjual tahu berterima kasih,

karena membeli tahunya

dia jadi tahu sekarang, bahwa aku

masih merindukan tahu.


tak ada bus yang berangkat

penumpang yang menunggu di halte lumpuh,

jalan bersih

bising kendaraan menghilang.

tukang tahu kesiangan

pengamen tak lagi bisa makan.

gitarnya kesepian. lambungnya kesakitan

tak lagi dimandikan tuak.

calo tiket bunuh diri.

spbu meledak

terminal jadi kuburan bus.

sopir mati di warung kopi

melihat uang bulanan tak cukup penuhi

perut anak istri.

telolet dimusnahkan

neneknenek berdansa di jalan raya

kakekkakek berjemur di aspal panas

hari itu

tak ada bus yang berangkat.


kenapa kita bertemu

malam jumat kita bertemu.

itupun tak disengaja.

kaustop bus yang menuju jogja

dan kustop bus menuju solo.

di klaten bus kita bertemu.

ban kanan bus yang kautumpangi meledak.

ban kiri bus yang kutumpangi meledak.

kita bertatap muka selagi sopir dan kernet itu

mengganti ban baru.

kautersenyum padaku, dan aku pun tersenyum padamu.

kuberanikan mendekati kamu. dan kamu beranikan pula

mendekati aku.

kausebut namamu, trisno, kusebut pula namaku, meli.

selesai sopir dan kernet mengganti ban baru.

kita samasama sepakat untuk tetap tinggal di sini.

kaubegitu lucu, begitupun aku.

rela meninggalkan tujuan untuk bertahan padamu

yang baru saja kenal.

malam itu kaupesan sebuah hotel.

menginaplah kita berdua sampai hari menjadi esok.

sampai esok menjadi lusa. sampai lusa menjadi pekan.

sampai pula kita dinikahkan.

saat ijab kabul, kau tersedak

dan merasa sangat malu.

kenapa, tanyaku.

maaf, katamu. aku tak bisa melanjutkan ini

aku tidak mencintaimu.

keputusanmu membuat aku gila.

di depan penghulu dan para saksi

kauberani mengungkapkan hal itu.

kau berlari keluar. kukejar kau seperti

film india.

aku tahu kau menyimpan air mata.

tapi kau sembunyikan dengan berbagai cara.

kauterus berlari menghindari aku.

hingga berhenti di klaten.

tempat dulu kita bertemu.

aku ingin mengulang semuanya dari sini, katamu.

aku ingin mengulang semuanya dari sini, katamu.

aku ingin mengulang semuanya dari sini, katamu lagi.

aku tidak mengerti kenapa kauberubah seperti ini.

dan aku tidak mengerti, kenapa tiba-tiba perutmu meledak.

persis ketika ban sebelah kiri bus yang kutumpangi dulu meledak.

satu bulan setelah kaumati

sopir dan kernet datang ke rumahku

maafkan kami. semua ini pesanan, kata mereka.

ban kiri dan kanan bus yang meledak adalah pesanan, lanjutnya.

aku tidak paham karena sudah jadi gila.

meski sopir dan kernet menjelaskan,

trisno ingin menyetubuhimu. tapi cinta tumbuh

di sana, ia lupa tujuan awal. ia jatuh cinta padamu.

kau ajak dia menikah. maafkan.

aku tidak paham. benarbenar tidak paham.


mataku dan hatimu

bunga melati tumbuh di mataku

ia akan mati jika tak memandangmu.

maka silih berganti musim

pelangipelangi tercipta dan kaukurung

dalam hatimu.

indahnya melatiku yang terjebak saat

memandang pelangimu.


siapa yang tahu

sebuah perahu lepas dari matamu.

cepat berlayar dan bawa aku pergi.

kaukemudikan perahu membelah ombakombak

biar terombangambing di tengah laut

tak ada lagi peduli menyoal itu.

cintaku terlanjur kautipu

benciku terlanjur kaubunuh.

tak ada lagi jalan menuju rumah

selain membelah lautan.

akan sampai di rumah kita, atau tuhan

siapa yang tahu.


Beri Hanna lahir di Bangko, Jambi. Belajar di Kamar Kata Karanganyar. Saat ini tinggal di Surakarta. Berteater bersama Kelompokseseme & Tiliksarira. Karya teaternya antara lain: menulis & berperan – “Angur di Tangan Bapak Tercinta” (Forest Art Camp, Magelang), menulis & menyutradarai – “Pramesthi” (Arutala Fisikom UKSW, Hotel Laras Asri Salatiga), bermain teater by riset dengan judul “Dear Diary” (Festival Multatuli, Lebak Banten) Tiliksarira, “Puzzle Game” (Indonesia Corruption Watch, Jakarta.) Tiliksarira. Bermain monolog “Jangan Pergi Judi dan Pulang Dini Hari, Kalau Hasilnya Kalah Lagi!” (Tegal) Kelompokseseme, dan judul-judul lainnya. E-mail : [email protected]. Instagram : @berihanna_

Cerpen

Hutan itu Berwarna Kelabu, Sayang

Cerpen Y Agusta Akhir

Vila itu masih vila yang dulu juga. Bahkan setelah tigapuluh tahun berlalu, rasanya tak ada yang berubah: warna cat yang kusam dan tak bergairah, yang dulu kau berkata, kalau kabutlah yang membuatnya seperti itu. Ada begitu banyak vila di sini, tapi entah kenapa, kala itu kau lebih memilih vila itu daripada yang lain, yang kupikir lebih bagus dari vila pilihanmu. ‘Vila yang terasing’. Begitulah kau menyebut, lantaran hanya bangunan itu yang berada di anak bukit sana itu; berbeda dengan vila-vila lain yang berjajar dan berhimpit satu sama lain di kanan dan kiri jalan . Dan kita tak pernah tahu, mengapa ada orang yang sengaja membangun vila di sana. Hari ini, aku datang sengaja mengenang kebersamaan kita di sini. Kau tahu, inilah kali pertama aku kembali datang ke sini, sejak kau menghilang entah kemana, yang sampai detik ini masih jadi misteri.   

Seolah kau baru saja pamit pergi beberapa waktu lalu, dan aku menunggumu di sini, di beranda vila yang menghadap hutan yang merenggutmu dariku itu. Dan tak bisa kusangkal, sepotong peristiwa itu berbondong-bondong menyerbu ingatanku yang sesungguhnya mulai merapuh ini. 

Hutan itu berwarna kelabu, bisikmu pada sebuah pagi yang masih berkabut, tigapuluh tahun lalu. Kala itu aku sedang mencoba mengakrabi dingin yang agaknya tak ingin bersahabat denganku. Kini, kau tahu, dingin kala itu kembali menyiksaku. Meremukkan tulang belulangku. Menyesakkan napasku.

Sungguh, kesunyian ini maha panjang. Jauh lebih menyiksa dari sekadar dingin yang membekukan darahku.

Hutan itu berwarna kelabu. Kalimat pendek di pagi buta, yang bahkan mendung masih menyembunyikan matahari (atau bersembunyi di balik cakrawala?). Semula aku mengira itu akan menjadi kalimat paling romantis untukku. Rupanya aku salah. Atau, akulah yang justru membuatnya jadi salah. Aku menyangkal apa yang kau katakan perihal hutan itu. Hutan yang menghampar di hadapan kita; seperti hanya beberapa jengkal dari beranda vila itu, tempat dimana kita sedang bercakap.

Apalagi, kalau sedang turun hujan. Itu kalimatmu yang berikutnya. Masih dengan suara berbisik; kukira hanya beberapa inci saja jarak bibirmu dengan daun telingaku. Bahkan, aroma parfum yang mulai samar di tubuhmu, masih bisa kubaui sampai saat ini. Ah, wangi yang kautabur sebelum akhirnya kita bercinta habis-habisan malam itu.

“Hujan itulah yang membuatnya bertambah kelabu, Sayang!” ucapmu lagi.    

Beberapa kali aku terbatuk sebelum kusangkal ucapanmu itu. “Aku bahkan tak bisa melihat hutan itu!”

“Ayolah, Sayang. Bukan waktunya bercanda. Atau kau sedang mengolokku? Mataku tak mungkin rabun!”

Kau memelukku dari belakang. Aku bisa merasakan bagian tubuhmu yang aku yakin berukuran sama dan proposional itu menekan punggungku. Tapi itu tak cukup penting untuk dipanjang-panjangkan di sini. Sejak awal, cerita ini tidak dibangun berdasarkan asas kemesuman. Kukira kau setuju itu.

“Kukira, aku ingin pergi ke sana,” bisikmu lagi.

Aku hanya bergeming. Kau mencium tengkukku. Bibirmu yang basah dan dingin, serupa sepotong es batu kristal yang menempel di belakang leherku. Dan mendung tiba-tiba tersibak. Perlahan-lahan cahaya matahari berpendar, menerobos sela-sela antara awan hitam dan putih, jatuh di atap-atap rumah yang tampak suram oleh suasana pagi yang entah kenapa, terasa sedikit muram. Cahaya itu, lalu sampai juga di ujung-ujung daun pepohonan hutan itu.

 “Lihatlah, hutan itu berwarna kelabu!” Kau bersorak, merenggangkan pelukanmu. Mengguncangkan bahuku, seolah memintaku untuk membenarkan apa yang sedang kau saksikan.

Hutan kelabu. Dalam hujan…

Kau bersenandung lirih. Aku masih mengingatnya dan di kemudian hari tahulah aku itu penggalan puisi Sapardi.

Sungguh, aku belum sepenuhnya mengerti; ada apa dengan hutan yang berwarna kelabu itu, sehingga bisa membuatmu bergitu gembira. Tentu saja, hutan itu berwarna kelabu, terutama saat matahari pagi menyiramkan sinarnya ke bumi, ke atas hutan itu. Dan itu sesuatu yang biasa. Warna kelabu itu, entah karena oleh kabut atau hal lainnya, bagiku bukanlah suatu yang istimewa. Tapi aku tak mengatakan itu padamu. Aku tak hendak memupus kegembiraanmu. Seperti biasanya, aku lebih baik diam yang kemudian kau artikan sebagai sikap persetujuan.

“Aku ingin pergi ke sana! Ayolah. Aku bukan perempuan konyol yang menginginkan seekor anak kucing seperti dalam cerita Hemingway, yang sudah kaubaca berulang-ulang itu! Aku hanya ingin pergi ke hutan itu. Kau kira, untuk apa kita berkunjung ke sini, hah?”

“Kita baru sampai tadi malam. Setidaknya kau bisa menundanya besok,” Akhirnya aku membuka suara juga. Datar saja.

Kau bersorak. Memutar tubuhku, lalu menghujaniku dengan ciuman yang bertubi-tubi. Padahal, seandainya kau tahu, aku sungguh berharap hujan datang malam nanti atau esok pagi, sehari penuh. Tapi nyatanya, harapanku tak terkabul.

Sepanjang hari itu, kita bersepakat tak kemana-mana, kecuali hanya untuk makan di warung seberang vila. Atau membeli Koran meski kita sudah membawa beberapa novel yang belum sempat terbaca. Sepanjang hari itu, kau tampak begitu sumringah dan bersemangat. Berulang-ulang kau melihat hutan itu. Kau juga banyak bercerita tentang hutan-hutan di belahan bumi yang pernah kau kunjungi atau pernah kaubaca entah di buku apa.

Kau bercerita tentang Schwarzwald, yang oleh orang Romawi dinamai Black Forest. Kau bercerita tentang Sherwood Forest, hutan tempat bersembunyinya Robin Hood dan Merry Man, katamu. Kau bercerita tentang Aokigahara, di utara dasar Gunung Fuji,Jepang. Hutan yang mengerikan. Hutan yang sangat gelap, dipenuhi gua-gua besar, pohon-pohon raksasa tapi tak memiliki margasatwa dan menjadi tempat bunuh diri. Kau, bercerita tentang Dark Entry Forest, hutan sangat lebat di Connecticut. Hutan yang menjadi sarang hantu-hantu. Kau juga bercerita tentang  Betung Kerihun, Lore Lindu, Arfak, dan hutan-hutan lain yang ada di negeri ini.

Sungguh kau ini, perempuan pencinta hutan. Kadang aku berpikir, kau yang gila atau aku yang gila karena telah mencintai perempuan sepertimu. Mendengar ceritamu saja, nyaliku sudah ciut. Lalu, keindahan macam apa yang bisa kaunikmati dari hutan-hutan yang menakutkan itu?

 “Menulislah cerita tentang hutan, Sayang!”  

  Kau membisikkannya usai kita bercinta untuk ke tiga kalinya di malam itu. Tapi segala minat seperti menguap kecuali tidur dan memimpikanmu. Tapi dalam tidur pun kau enggan hadir. Setidaknya untuk malam itu. Mungkin hutan kelabu itu telah mencurinya dari mimpiku.

Pagi berikutnya aku tak mendapati dirimu di sampingku. Aku tak mendapatimu di beranda vila. Aku juga tak mendapati dirimu di manapun di sekitar vila itu. Maka hutan yang kausebut kelabu itu satu-satunya tempat yang menyembunyikan keberadaanmu. Dan semakin jelas ketika kubaca tulisanmu di sehelai tisu yang kutemukan di atas lantai. Mungkin terjatuh. Mungkin semula kau menaruhnya di atas bantal.

Itu hutan yang sangat indah. Penghuni kamar sebelah memberitahukan padaku. Aku duluan. Kau begitu pulas. Tampaknya kecapaian. Maaf, semalam sebagai ungkapan rasa terimakasihku padamu.

Tapi aku tak menemukan jejakmu di hutan itu. Selain suara-suara asing yang membuatku gemetar, adalah hening yang mencekam. Kuteriakkan namamu, tapi hanya gaung yang menjelaskan ketiadaanmu. Suatu kali kau pernah berkelakar, hutan itu tempat yang begitu misteri. Kalau ingin aman, simpanlah rahasiamu di dalam hutan!

Itukah yang sedang kaulakukan?

Sampai sekarang aku tak kuasa menjawabnya selain hanya menganggapmu hilang. Hutan itu telah menelanmu. Dan kukira aku sedang membuat cerita tentang hutan, sebagaimana yang pernah kaubisikkan bertahun-tahun lalu.

***

Tigapuluh tahun berlalu. Hutan itu terbakar, entah sudah ke berapa kali sejak kau menghilang di sana. Hutan itu akan tumbuh, lalu dibakar atau terbakar. Tumbang atau ditebang lalu tumbuh lagi meski butuh waktu yang panjang untuk kembali seperti sedia kala. Tapi kau?

Tigapuluh tahun berlalu. Aku kembali ke vila ini. Vila yang dulu juga. Aku memandang ke hutan yang baru saja terbakar. Memang berwarna kelabu. Kali ini aku tahu, hutan itu kelabu oleh asap pepohonan yang terbakar.  

Hutan itu berwarna kelabu, Sayang. Aku bisa merasakan bulu-bulu lembut di tengkukku tiba-tiba meremang. Aku mencium wangi tubuhmu. Aku bisa merasakan kembali bagian tubuhmu yang kuyakini berukuran sama, proporsional, yang menekan lembut punggungku. Dan belakang leherku yang dingin seperti ada sebutir es kristal. Aku mendengar suara sendiri bergetar: menyebut namamu.*** 


Y Agusta Akhir, penikmat sastra dan aktif di komunitas sastra alit, Solo. Menulis puisi, cerpen dan novel. Beberapa karyanya berupa puisi dan cerpen pernah dimuat di harian joglosemar(Solo), Solopos (Solo), buletin sastra Pawon (Solo), antologi cerpen Waktu yang Bercerita dan Secabik jejak (Alit, Solo), antologi cerpen Joglo (TBJT Surakarta), dll. Novelnya yang berjudul Requiem Musim Gugur terpilih sebagai salah satu pemenang pada lomba Grasindo Publishers tahun 2013 dan Novel Kita Tak Pernah Tahu Kemanakah Burung-burung Itu Terbang menjadi juara III sayembara novel yang diadakan oleh UNSA Press tahun 2017.

Buku, Resensi

Berkisah (ke) Sejarah

Oleh Bandung Mawardi

Pada 2014, Iksaka Banu dengan buku berjudul Semua untuk Hindia meraih Kusala Khatulistiwa Award. Ia memang memberi prosa apik dan merangsang ke pengisahan dan pewartaan sejarah. Tahun-tahun berlalu, ia tampil lagi dengan buku berjudul Teh dan Pengkhianatan. Buku masih berisi cerita-cerita merangsang ke renungan sejarah. Di kategori prosa, buku itu menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2019. Cerita-cerita pantas terbaca dan teringat. Persembahan “unik” di kesusastraan Indonesia mutakhir.

Kita mulai simak cerita berjudul “Di Atas Kereta Angin”. Kita diperkenalkan dengan tokoh-tokoh berwatak kolot dan moderat menanggapi “kemadjoean” dan persaingan identitas di tanah jajahan. Dua tokoh berseberangan memahami identitas diri sebagai manusia Eropa. Si kolot ingin terus menjadi “toean” dihormati, ditakuti dengan rajin memerintah si bumiputra. Larangan-larangan diberikan di perkara busana dan sepeda. Si moderat mengerti situasi zaman, memperkenankan si bumiputra selaku bujang (pembantu di rumah) menaiki sepeda. “Toean” tetap berpikiran lebih beradab itu memberikan pula hak pada si bujang mengenakan pantalon Eropa saat di atas sepeda mengerjakan tugas-tugas.

Latar cerita di Jogjakarta. Si bumiputra mengendarai sepeda dengan busana rapi menjadi polemik. Dua tokoh Belanda itu tak pernah membuat bandingan bahwa sepeda tak melulu bukti kuasa “toean” berkulit putih ke orang-orang terjajah. Di Solo, awal abad XX bumiputra pun “bersepeda” tapi bermisi berbeda. Di novel berbahasa Jawa gubahan Jasawidagda berjudul Kirti Junjung Drajat (1924), diceritakan sepeda menentukan gairah nasionalisme melalui Boedi Oetomo. Tokoh penggerak di organisasi “modern” itu pemilik toko-bengkel sepeda. Penghasilan besar digunakan untuk hidup dan diberikan ke pembesaran Boedi Oetomo. Sepeda bertokoh kaum bumiputra, berbeda arah dari cerita menguak sejarah buatan Iksaka Banu.

Tokoh bumiputra di cerita Iksaka Banu tetap di posisi rendah. Penjelasan “toean” berlagak mengerti kemajuan dan bersikap etis pada si bujang: “Ia tetap masih mengenakan sarung yang digulung sepinggang… Ia pun memakai ikat kepala. Pendeknya, secara keseluruhan penampilannya masih Jawa seperti warga lainnya. Orang tidak akan keliru mengira ia Eropa.” Sejarah identitas memang mengandung perdebatan dan anggapan-anggapan bertaburan dilema.

Tokoh-tokoh ciptaan Iksaka Banu mengalami gejolak dan kisruh menjalani sekian hal di Nusantara. Pada masa lalu, Nusantara itu rempah-rempah. Cerita berjudul “Kalabaka” mengisahkan perdagangan, moral, tanaman, perang, dan keluarga. Iksaka Banu bukan pemberi sifat-sifat mutlak membedakan nasib kaum Eropa dan bumiputra. Tokoh di cerita itu berkebangsaan Belanda, mati berdalih memberi penghormatan atas hak-hak penghuni Banda. Kematian bersurat untuk membagi derita dan mengingatkan petaka VOC.

Pesan di surat terbaca si putra: “Bila kelak engkau menjadi pengusaha, jangan pernah tergiur bujukan VOC untuk pergi ke Hindia dengan iming-iming menjadi jutawan melalui perdagangan pala atau fuli. Sebab, pada setiap keping sen yang kau simpan, ada darah dan air mata penduduk Banda yang kehilangan asal-usul dan jati diri karena gugur membela tanah air, atau dibawa ke Batavia sebagai budak belian.” Berpihak! Tokoh-tokoh di cerita dan sejarah berhak berpihak meski sadar risiko. Si penulis surat dihukum oleh bangsa sendiri, Eropa mengaku beradab dan membawa pesan Tuhan. Kaum Eropa di Nusantara justru khianat dan pencipta petaka berkepanjangan. Di buku-buku sejarah bertema rempah-rempah, kita semakin mengerti perdagangan dunia membinasakan bumiputra dan membangkrutkan Nusantara sebagai negeri subur.

Cara bercerita di dua cerpen itu terasa “mengejutkan” asal kita mau membandingkan dengan kemahiran dan kepekaan para pengarang Belanda mengisahkan Hindia Belanda masa lalu. Buku berisi cerita-cerita Iksaka Banu itu bakal senewen jika bersanding dengan buku berjudul Bianglala Sastra: Bunga Rampai Sastra Belanda tentang Kehidupan di Indonesia (1979) ditulis kembali oleh Dick Hartoko berdasarkan buku Oost Indische Spiegel susunan Rob Nieuwenhuys. Dulu, kita sering mengacu ke teks-teks sastra gubahan pengarang Belanda atau Indonesia saat ingin mengetahui sejarah Nusantara dan watak manusia-manusia berbeda peran selaku: penjajah dan terjajah. Pada abad XXI, Iksaka Banu menempuh jalan jauh ke waktu silam untuk menggarap cerita-cerita, belum perlu menumpuk warta atau pamer di daftar pustaka puluhan halaman. Cerita memang tak bermaksud menjadi teks sejarah seperti diajarkan di ruang-ruang kuliah. Iksakan Banu menjelaskan: “Bila terlalu banyak memasukkan fakta sejarah, unsur fiksinya bisa hilang, dan cerita akan bergulir dari awal hingga akhir dengan sangat membosankan, seperti buku diktat.”

Dua buku buatan Iksaka Banu berjudul Semua untuk Hindia juga Teh dan Pengkhianat tak sempat terbaca oleh Subagio Sastrowardoyo. Kita menduga buku-buku itu menjadi “bandingan” dan “ledekan” atas segala warisan sastra dari masa lalu bercerita Hindia Belanda. Di buku berjudul Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983), Subagio Sastrowardoyo sudah menderet pikat kesusastraan di situasi sejarah terselenggara di Nusantara. Ketekunan Iksaka Banu menulis “fiksi sejarah kolonial” mungkin terpaut jauh dari album sastra sudah mendapat pembahasan dari Rob Nieuwenhuys dan Subagio Sastrowardoyo. Kini, suguhan cerita-cerita itu diganjar penghargaan tanpa ada jaminan memberi rangsang kesejarahan bagi pembaca tak memperoleh daftar pustaka atau daftar warta dari Iksaka Banu.

Di cerita berjudul “Tegak Dunia”, kita masih mungkin membaca sambil membuka buku-buku garapan Denys Lombard (Nusa Jawa Silang Budaya) dan Nirwan Ahmad Arsuka (Percakapan dengan Semesta). Cerita mengenai globe dan Karaeng Pattingalloang. Bumiputra itu fasih sekian bahasa dan keranjingan sains. Ia memesan globe dari Eropa. Manusia-manusia Eropa kaget dan kagum mendapatkan kabar bahwa Karaeng Pattingalloang rajin membaca buku-buku dan memiliki selera sains mungkin saja mengalahkan kaum Eropa di Nusantara. Si Eropa cukup memberi keterangan atas benda pesanan bumiputra berpikiran maju: “Ini sebuah globe! Tiruan bumi. Lengkap dengan relief benua, pulau, samudra, serta keterangan dalam bahasa Spanyol, Portugis, dan Latin. Sesuai permintaan pemesannya.” Kemenangan serasa terbaca di biografi pemesan untuk mengingatkan kepongahan intelektual kaum Eropa.

Kita khatam cerita-cerita dalam Teh dan Pengkhianat mungkin terangsang berjalan ke sejarah. Buku perlu bersanding dengan setumpuk buku sejarah berbahasa Inggris, Belanda, dan Indonesia agar membaca cerita seperti di tebakan atau keterkejutan. Buku menggemaskan di seruan sejarah kolonial. Begitu.


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019)

Cerpen

Binatang di Kepala Kami

Cerpen Ken Hanggara

Kelaparan membuatnya berkelakuan seperti binatang. Ia tidak malu mencari makan di selokan. Saya kasihan dan saya bawa pulang dia. Saya mandikan dan saya beri baju. Dia diam seribu bahasa saat ditanya soal nama. Saya panggil saja Kinanti.

Kinanti menemani malam-malam yang sepi. Bersama Kinanti, saya kembali paham apa kehangatan. Bersama Kinanti, saya merasa surga ada sejengkal di depan. Dia tidak tahu cara menyembah Tuhan, tetapi tidak bisa diajari mengenal-Nya. Jadi, saya ajari dia tentang surga. Dia suka dengan apa yang saya sebut surga, karena surga di rumah saya ada setiap malam.

Surga saya bukan surga Tuhan. Kinanti tidak paham, tapi tidak ada yang dia dapat pahami lebih dari segala yang fisiknya butuhkan sebagai makhluk hidup. Di sini dia bisa makan apa pun dan tidak perlu bayar atau kerja. Dia cukup ada saja di dekat saya setiap malam.

Teman-teman mencela apa yang saya kerjakan. Masa bodoh. Kinanti toh rela. Dia bahagia mendengar bisikan saya tiap kali kami selesai menyusuri surga di kasur. Kinanti bahagia dan merasa hidup sebagai makhluk paling beruntung.

Kinanti senang melolong-lolong, lalu saya katakan kepadanya bahwa kamu bukan serigala, tetapi manusia. Kinanti tak dapat saya cegah. Ia terus melolong-lolong dan ada juga saatnya mengeong jika butuh sesuatu yang sudah mulai kami sebut surga. Kinanti memang tidak bisa bicara, namun ia mengikik geli setiap kali saya bukakan tirai surga dan di sana tertabur bunga-bunga yang membuat kami tenggelam dalam mimpi paling memabukkan.

Kinanti hanya akan marah jika ia lapar dan mulai mengaduk-aduk isi kulkas dan kadang melempari gelas atau piring hingga dapur pun berantakan. Semua pembantu di sini paham Kinanti butuh semua yang membuat fisiknya bahagia, tetapi mereka tidak perlu tahu terlalu banyak binatang yang mendekam dalam kepala gadis itu.

Saya yakin, di kepala Kinanti ada binatang. Ia, binatang aneh itu, yang mengendali tindak tanduknya, berwujud gaib. Memang begitulah kenyataannya. Di kepala manusia paling waras saja kita bisa menemukan binatang tertentu yang bisa berjumlah lebih dari satu. Binatang-binatang pengendali yang membuat pemilik kepala tidak sanggup hidup tanpa perbuatan jujur. Jujur tidak harus selalu bagus. Jujur itu cara agar tidak menderita karena tuntutan-tuntutan hidup bermasyarakat.

Kejujuran Kinanti, sebagai orang sinting, adalah segalanya bagi saya. Dia serahkan sepenuh jiwa kepada saya segala yang dia miliki. Setiap inci tubuhnya dia relakan untuk saya, bahkan andai mampu, nyawa pun barangkali bakalan dia beri. Semua itu karena saya memberinya makan dan surga.

Teman-teman tahu saya kesepian sejak istri saya meninggal empat tahun lalu, dan sejak itu saya tidak pernah menyentuh wanita. Melihat Kinanti di tepi jalan, berbaju apa adanya, menggoda, membuat sisa-sisa kelelakian di tubuh ini kembali menyala dan lalu menuntut balas. Dan saya membalas dengan indah dalam surga yang saya bangun untuk Kinanti.

“Padahal kamu bisa membayar kupu-kupu untuk menghiburmu. Beberapa kupu- kupu untuk semalam, kukira kamu bisa. Tapi kamu tidak melakukan dan aku bersyukur karena ternyata kamu masih sehat,” kata seorang teman.

Saya katakan kepadanya semua itu terjadi karena saya sendiri tidak tahu. Mungkin binatang di kepala saya ketika itu menganggap bahwa ada saatnya surga saya peroleh lewat tangan perempuan tertentu, jadi binatang itu bunuh diri dan jasadnya hilang jadi debu. Ketika Kinanti datang, saya sambut dan saya jadikan dia ratu surga. Di saat yang sama, binatang lain lahir kembali dalam kepala saya.

Kinanti saya dandani seakan ia perempuan normal. Sekali waktu saya ajak ke pesta, tetapi ia tidak bisa menjadi normal. Ia mempermalukan saya. Sejak kejadian itu, sangkar khusus saya bangun untuknya dan Kinanti menikmati hidupnya yang mengenyangkan dalam sangkar, tanpa mengorek-ngorek selokan.

Kinanti tidak melawan dan binatang di kepalanya mulai jinak. Sesekali dia marah dan melolong-lolong seperti biasa, tetapi karena dia tahu saya orang yang memberinya segala yang dia butuhkan, maka mengeong adalah lebih baik.

“Kamu lebih bagus kalau mengeong, dan mengeonglah setiap hari kepadaku,” kata saya.

Kinanti mengeong setiap hari dan membuat saya bahagia. Sebab, jika ia melolong, itu membuat saya tidak terlalu berhasrat. Saya hanya akan ingat pada kematian istri saya yang dirampok oleh lelaki dengan serigala di kepalanya. Saya memang tidak mengenal lelaki biadab itu, namun saya tahu begitu saja bahwa di kepalanya yang bersemayam adalah seekor serigala.

Istri saya memiliki kucing di kepalanya, sedangkan saya adalah ayam jantan. Tidak ada waktu bermesraan bagi saya, tetapi istri saya cukup romantis dan menganggap suatu tanggal bersejarah teramat sayang untuk dilupakan.

Karena di kepala saya si ayam jantan tidak peduli tanggal, dan hanya peduli pada kepuasan surga, istri menganggap saya tidak menyenangkan dan ia pergi. Di jalan, ia mati dirampok lelaki asing. Sejak itu saya percaya, kadang-kadang kita harus mencari tahu dulu binatang macam apa yang mendekam di dalam kepala pacar kita. Itu supaya tidak terjadi penyesalan seperti yang saya alami.

Saya menggiring agar binatang di kepala Kinanti berubah wujud jadi kucing bukan karena ia bisa menjadi istri saya dan melahirkan banyak anak dan mencatat semua hal yang paling sepele; sama sekali tidak. Saya hanya ingin membuat dia sedikit lebih waras agar tidak melukai saya sewaktu kami bermain-main di surga ini.

Kinanti senang menggigit, seperti serigala, sehingga saya pikir ia bisa saja berbuat hal yang dapat menghilangkan nyawa saya jika dibiarkan begini.

Saya bilang, “Jangan gigit. Nanti aku mati!”

Selalu itu yang saya katakan. Syukurlah, Kinanti paham. Meski gila, ia bisa diajari.

Akhirnya, beginilah kisah ini berlangsung terus menerus selama ribuan tahun dan bukan hanya terkait saya dan Kinanti: bahwa para binatang berpesta pora di kepala para manusia. Semua manusia. Semua manusia yang hidup dan pernah hidup di permukaan bumi yang biru ini. Semua manusia, tak terkecuali.

Dan para manusia tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan dan seberapa besar dosa telah mereka kumpulkan? Mereka tidak dapat membedakan perbuatan mana yang mereka lakukan oleh pengaruh binatang di kepala mereka dengan perbuatan mana yang benar-benar datang karena keinginan diri mereka sendiri. Kadang-kadang saya pun juga begitu, tapi saya tidak peduli. Surga ada di tangan saya dan kami bermain-main di sana setiap hari.***

Gempol, 2019

Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, puisi, esai, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa, 2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru- Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Puisi

Puisi Muhamad Saef ad-Din

Dua Piring Satu Sendok

/I/

sejenak ketika itu, gadis.

betapa puisi ini sederhana

lantas bersabda:

tiada lagi cita rasa

yang hambar

di meja makan

dalam perjumpaan

antara dua piring

satu sendok

serta kau dan aku

kita mengingat kembali

sedikit menu

yang berasap di atas

piring-piring yang tanpa pisau

dan tanpa penutup,

asapnya mengepul

di atas ubun-ubun

persuaan dan perayaan

siapakah yang berpesta hari itu?

/II/

sejenak ketika itu, gadis.

betapa puisi ini sederhana

lantas bersabda:

sebagai suasana rikuh

kita hanya menyantap

seporsi puisi (hampir basi)

pada dua piring,

kita cincang baris per baris,

betis per betis dengan etis

hanya oleh satu sendok

kau yang pertama

melahapnya,

aku yang ke dua

merasakan betapa

kata-kata tidak

memberi perut kenyang

tetapi gadis,

tetapi ketika terakhir

kalinya aku melahap,

dua piring satu sendok

dengan seporsi puisi

ternyata cukup

sebagai alas

antara perkawinan

ludahmu dan lidahku

yang terhampar ambyar

di meja makan

/III/

sejenak ketika itu, gadis.

betapa puisi ini sederhana

lantas bersabda:

bahwa lusa nanti,

kita ada jadwal

makan malam

dengan menu puisi

biar suntuk semalaman

Cirebon, 2019


Menyusun Menu Sederhana

dalam perjamuan kepada roh

ada perapalan yang tak terbaca,

menguap di kaca-kaca rumah,

menyuap bayangan di lorong suwung

kenduri menyusun riwayatnya,

di sana tersedia menu mantra

yang tak berlauk-pauk. dan

kekosongan menciptakan rongga segar

tanpa isi, juga tak bermakna.

tidak ada lafal tartil,

tidak ada sahutan kata,

yang tersisa

tinggal nama-nama dan mantra.

Cirebon, 2019


Sesuap Puisi

pagi tidak pernah pamit,

ia selalu hadir kembali

sebagai bening sebutir embun

menyegarkan pundak pegal

dari kisah-kisah sesal

serta membisikan

perut yang keroncongan.

di beranda fajar,

aku sebagai nasi

yang dibungkus dengan puisi

dan aku terbuka sebagai

sarapan pagi tanpa

lalap daun kemangi, tanpa gulai,

juga tanpa secangkir teh poci.

hanya sesuap puisi.

Cirebon, 2019


Seteguk Air Tuba

jarak antara

kesepian dan keramaian

adalah dalih air tuba mereguk

dari segala yang suntuk

: kau berdendang dalam pinangan,

aku melarat di dasar kenangan.

Cirebon, 2019


Berdua: Secangkir Rasa Tawar

ada bias berkilauan di atas

secangkir air putih itu,

aku seperti merasuk tenggelam di dasar

kulihat di binar mata juga,

ada sungai Cisanggarung

mengalir bening serta dangkal,

di sana ada bebatuan

tidak bersusun meliuk-liuk

meninggalkan bekas

dari jejak Malin Kundang

pada secangkir air putih itu,

kukecap seperti laut yang tak asin

atau amis menjelma imaji

dengan ikan-ikan bersisik

berenang di pinggir bibir cangkir

kadang diam dengan recehan bahasa

menarik paksa bayang-bayang

supaya tidak ada pendar-pendar di air

sampai senja, hari ini: berdua

secangkir rasa tawar menawar manis

Cirebon, 2019


Menyaksikan Beranda Pagi

Secangkir teh dan aksara yang memudar

Jendela-jendela tamu membias

sejengkal batas

dan asbak kosong tanpa bekas puntung dan tembakau

Tumbuhan kecil di halaman merekah hijau

menyaksikan malaikat pendekar tengah

bernapas dengan sengau

Pintu depan terbuka lebar

: kedatangan tamu sajak

yang renta serta batuknya berdahak

Dari nun jauh di ujung cakrawala yang melangit

Pucuk-pucuk cemara menyampaikan

pesan-pesan euforia

Cirebon, 2019


Cita Rasa

Kau benar, cita rasa

dari setiap secangkir kopi

yang tersaji di meja dengan baik

tidak akan melarutkan aroma

manisnya, atau pahitnya semata.

Aku pernah bertanya,

mengapa bisa begitu?

Sebagai manis, kopi

akan memberimu

setakar rasa pahit.

Sebagai pahit, kopi

akan memberimu

setakar rasa manis,

katamu dengan baik

setelah meneguk kopi

entah setakar manisnya,

entah setakar pahitnya.

Cirebon, 2019


Secangkir Kopi

Kopimu pahit,

aromanya pekat

: Seperti nasib tersekat.

Asapnya mekar,

nuansa panasnya nanar

: Seperti luka memar.

Cangkirnya pedih

airnya mendidih

: Seperti reaksi raksa yang perih.

Cirebon, 2019


Pesawat Kertas

gadis kecil melayangkan

catatan hariannya

dengan pesawat kertas

menuju kilau cahayaNya:

seketika air mata menetes

sebutir demi sebutir.

gadis kecil itu

sama sekali tak memahami

ke mana ia mesti berkisah

perihal sepi yang bersarang

di bola mata hitam pekatnya.

dan harap berbalas

dari kilau cahayaNya:

ia memesan selaksa takdir.

Cirebon, 2019


Amplop Cokelat

lusa nanti, gadis

ada tukang pos

menuju alamat rumahmu

mengirim amplop cokelat

tapi di dalamnya hanya berisi

biodata dan lampiran lamaran

betapa hatimu demikian, bukan?

Cirebon, 2019


Muhamad Saef ad-Din Lahir di Cirebon, 27 November 1997. Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan. Pernah aktif menjadi Jurnalis Pelajar dan Dapur Sastra. Menulis cerpen, puisi, dan esai. Esai-esainya pernah jadi juara di berbagai lomba yang diselenggarakan oleh beberapa universitas. Buku debutannya ialah kumpulan puisi Eros dan Sayap-Sayap Patah (2019).