Katalog

Puisi

Puisi Rizka Nur Laily Muallifa

Jagung Rebus Hangat

sore mengantar tetangga

ke teras rumah

dengan plastik bening

di cantolan sepeda

keceriaan berwarna jeruk

lekas berpindah tangan

bersama preambul paling rendah hati

kebetulan panci untuk merebus berukuran besar

muat untuk mendidihkan lebih banyak keceriaan

Bojonegoro, 2020


Memasak Batu

ibu memasak batu

di atas tungku ceklekan

dengan api sedang

di atas batu

tiga bungkus amin

menguarkan keringat petani garam yang khidmat

amis baju nelayan

berpacu dengan haus pemanjat pohon kelapa

menjelang bedug

laut dan perkebunan semarak di meja makan

kepada mereka,

amin mengumpat aman

Bojonegoro, 2020


Pulang

kita kembali pada hati masing-masing

dengan pengertian yang susah

tapi kesusahan apa yang layak jumawa

menjelma paling kuasa

tidak ada kesusahan yang benar-benar

kata berita di lini masa

kita hanya perlu menepis kabar

panggilan dan persemuan bimbang

semoga tidak ada lagi jalan yang rentan

sehingga kita tidak perlu berebut jembatan

di lintasan sungsang

Bojonegoro, 2020


Kesiangan

pagi terjadwal sejuk

di jalan-jalan kampung

kaki menginjak embun

dengan agak tergesa

di timur atap rumah

bayi matahari sudah merah

bidak-bidak toko mesti lekas dibuka

kaki yang terjadwal mengitari sepetak besar perjalanan

jadi makin tangguh

mengikuti paving jalanan yang bergelombang

Bojonegoro, 2020


Lebaran Wabah

      : dari film Negara, Wabah, dan Krisis Pangan

kelas menengah perkotaan

menonton dokumenter terbaru Watchdoc dengan kegeraman tak sudah-sudah

negara yang berkasih hijau

senantiasa menjamin rumah

bagi hasil pertanian orang lain

tapi melibas kesuburan tanah anak kandungnya

di kulon progo

di kendeng

di batang

di papua

di kalimantan

di mana saja

dalam kebenaran

anak negara yang tak pernah manja

mengandung pangan yang berdaulat

tapi bapak yang telanjur khilaf

tak pernah mampu melihatnya

Bojonegoro, 2020


Ramadan Masih Meriah

mikrofon tidak berhenti

menguarkan biji-biji ayat suci

dari suar musala

suara-suara berkisah lugu

dari pagi sampai siang berwarna merah

lalu beranjak serak dan berat

saat cahaya tenggelam di kiblat

setiap hari

musala-musala yang letaknya selemparan sandal jepit itu

riuh oleh ragam lamaran

baik yang pamrih

atau tidak sama sekali

(Bojonegoro, 2020)


Arief Budiman

hari ini aku membaca tiga kematian di cerpen

ketika istirah rampung,

cerpen kematian ke empat mengetuk kelopak mata

tokohnya bernama wangi

tokoh telanjur mati

meninggalkan banyak tanda seru

di titian kebudayaan, politik, sosial, dan kebangsaan

(Bojonegoro, 2020)


Tua dan Gembira

                : djokolelono

Usia memanggul kegembiraan demi kegembiraan

Ia ingin kesedihan dan tangis singgah sesekali saja

dan jangan sekali-kali berlebihan

Hidup ini humoris

Jangan cemberut apalagi cengeng

Nanti kamu digoda setan penunggu beringin tua di Wlingi

Juga jangan bermain-main di dekat beringin tanpa doa orang tua

Setan van Oyot bias menjelma apa saja

Kepalamu bias tiba-tiba benjol

Atau kau tersekap di kamar tak layak huni

(Solo, 2020)


Di Kereta Hijau

                : impian

kita sibuk pada diri masing-masing

mematut wajah di jendela

mereka sesuatu yang jauh

di balik jendela, aku melihat obat-obat

yang harus kau minum tiap pagi dan petang hari

di dalam obat-obat, aku melihat dirimu bergulat

dengan bayangan diri yang muncul di siang hari

sebelum aku terjaga

kau sudah menyanyikan puji-pujian Mbah Moen

yang dialamatkan pada Fatimah dan Khadijah

kesempatan perempuan menjadi waliyullah

lebih terbuka dan terasa masuk akal

“Tapi mana mungkin Gusti Allah menjadikankamu wali-Nya

Tampangmu tak ada bakat sama sekali untuk jadi wali”

waktu itu tangisku sembunyi di balik daun mata

bukannya menangisi ledekanmu

tapi ingat, hari ini kekasihmu menikah

(Solo, 2020)


Di Samping Peti Mati di Dalam Pesawat AURI

kekhawatiran Gie

tiba-tiba mencemaskanmu

justru saat adikmu yang keras itu

tergolek pasrah dimandikan para perawat jenazah

“apakah hidupnya sia-sia belaka?”

kau mengulang-ulang pertanyaan di dalam hati

di tempat tukang yang membuat peti mati

yang menangis tak henti-henti

jawaban itu kau peroleh

dan siap kau bisikkan pada Gie di dalam pesawat nanti

dari Malang, pesawat sempat istirah di Kota Ngarso Dalem

pilot AURI menciptakan kembang

menggenapi pembuat peti mati

istirah kalian hanya sepersekian jenak

sejak itu, dadamu terasa lebih longgar

pesawat bersiap menuju Jakarta

tanganmu menelusuri peti

berupaya mencari di mana letak persisnya telinga adikmu

(Bojonegoro, 2020)


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, ideide.id, langgar.co, dan beberapa lainnya.

Cerpen

Laci Meja Bu Putri

Cerpen Dian Ariani Supangkat

Kipas angin berputar enggan di atap ruang guru yang lenggang karena bel istirahat belum berbunyi. Bu Putri bergegas ke kamar mandi. Pemandangan ini disaksikan Bu Putri saat hendak ke kamar mandi. Bibir Pak Nur, guru matematika yang berkumis lebat, menempel lekat pada bibir Bu Yanti, pegawai tata usaha. Badan mereka rapat. Sontak tubuh mereka merenggang saat melihat Bu Putri yang tak diharapkan. Diarahkan pandangan Bu Putri ke pintu kamar mandi. Pintu berwarna kuning dengan ganggang senada. Semakin gegas langkah Bu Putri. Meski hanya lima langkah jarak ke pintu kamar mandi tak henti Bu Putri mengutuki diri sendiri. Mengapa tak dia tahan ke kamar mandi sampai jam istirahat tiba. Saat semua guru kembali ke meja masing-masing. Kemungkinan kecil Pak Nur dan Bu Yanti menempel satu sama lain.

“Mengajar kelas berapa Bu?” Suara Bu Yanti saat pintu kamar mandi terbuka.

“Kelas X, Bu Yanti.” Pintu kamar mandi ditutupnya segera.

Bu Putri menyalakan kran air memenuhi bak kamar mandi yang sudah penuh. Sial. Rutuk Bu Putri tak henti.

Peristiwa tadi membuatnya lupa bahwa ada hajat mendesak untuk ditunaikan di kamar mandi. Bu Putri mematikan kran. Sekilas tak terdengar apa pun di balik pintu. Bu Putri mengatur napas sebelum keluar kamar mandi sambil merapal doa semoga mereka sudah lenyap dan ia tak harus bertukar cakap. Lorong keluar kamar mandi kosong. Ia berusaha berjalan biasa saja. Ruang guru masih sepi. Bu Putri bergegas kembali ke kelas. Tenggorokannnya kering. Dia berjalan menghampiri siswa namun pikirannya terpaku pada adegan Pak Nur dan Bu Yanti di lorong menuju kamar mandi.

“Mengapa harus di lorong kamar mandi sekolah?”

Pertanyaan itu berdengung di kepala Bu Putri berhari-hari setelahnya. Sekeras mungkin tak berpapasan dengan Pak Nur dan Bu Yanti di sekolah. Sayangnya sekolah tempat ia mengajar adalah sekolah negeri di jalan utama yang bangunannya pas-pasan. Berbatas jalan provinsi dan diapit rumah-rumah bangunan kolonial yang telah beralih fungsi.

****

Ruang guru sepi. Bu Putri tetap di ruang guru saat bel pulang telah jauh berdentang. Cerita-cerita yang harus dibaca karena pasti tak tersentuh jika dibawa ke rumah. Bagi Bu Putri urusan di sekolah dan urusan di rumah sebaiknya diberi sekat pembeda. Sebagian jendela dan pintu telah ditutup. Sore itu Bu Putri pulang jauh setelah bel jam terakhir karena membacai tugas-tugas siswa.

Hari telah jatuh hampir senja. Di ruang guru hanya ada tiga orang. Bu Putri, pak guru geografi, dan ibu bendahara sekolah. Pak guru geografi dan ibu bendahara sekolah hampir setiap hari pulang paling akhir. Jam terakhir di sekolah pukul tiga belas tiga puluh. Sekolah tempat Bu Putri mengajar belum full day. Senin sampai Sabtu wajib belajar di sekolah. Apa yang mereka lakukan setiap hari sepulang sekolah? Pak guru geografi telah beristri dan Ibu bendahara sekolah pun sudah bersuami. Kabarnya mereka berselingkuh karena pasangan masing-masing berselingkuh duluan. Bu Putri tidak terlalu peduli omongan guru-guru lain soal guru geografi dan bendahara sekolah itu. Namun, beberapa hari harus pulang sampai jauh sore, Bu Putri melihat desas-desus itu bukan sekadar kabar angin. Si guru geografi dan bendahara sekolah berpegangan tangan diam-diam. Tertawa cekikikan. Mereka saling meyuapi. Bu Putri menyaksikan adegan pasangan yang mendekati pensiun itu dari balik tumpukan tugas koreksi.

Mengapa harus di sekolah? Tanya Bu Putri pada diri sendiri berkali-kali.

Semua rekan guru tahu. Istri si guru geografi tahu, suami si bendahara pun tahu. Dinas pendidikan pun tahu.

***

Pagi itu Bu Putri dipanggil kepala sekolah. Saat ia baru meletakkan tas. Di ruang kepala sekolah sudah ada guru BK. Duduklah mereka bertiga dalam diam. Sekolah masih sunyi. Guru-guru lain belum berdatangan.

“Salah satu anak KIR kemarin tertangkap melakukan tindakan asusila, Bu.”’

“Tindakan asusila apa, Pak?”

“Mereka melakukan yang tidak sepantasnya.” Guru BK mulai bersuara

“Apa yang tidak sepantasnya itu, Bu?” desak Bu Putri

“Ini kelalaian kita semua terutama Ibu Putri sebagai pembina KIR. Anak itu sepulang pembinaan tidak langsung pulang malah berduaan dengan kakak kelasnya.”

“Yang terpenting sekarang bagaimana kita menangani kasus ini. Bapak si siswi adalah dokter. Bu BK yang akan mengatur bagaimana caranya supaya ini tidak sampai bocor ke luar. Ke LSM apalagi sampai cetak di koran. Bisa habis kita. Pokoknya biar diatur mereka berdua akan mengundurkan diri dari sekolah ini.’’ Tanpa jeda kepala sekolah menatap Bu Putri.

“Si siswi peraih nilai tertinggi, Pak,” sela guru BK

“Makanya sayang sekali. Namun jika berkaitan dengan akhlak saya harus tegas.”

“Biar guru BK yang menangani semuanya.”

Tak ada ruang bagi Bu Putri memberi pendapatnya. Itu hanya pemberitahuan baginya. Dia tak mampu membina ekstrakulikuler dan siswa-siswa itu akan dikeluarkan.

Bu Putri menatapnya sepanjang mengajar di kelas, si siswi menundukkan kepalanya. Begitu dalam.

“Angkat wajahmu, Nak. Ibu ingin bicara.”

Bu Putri hanya melihatnya seminggu setelah kejadian. Bu Putri tak sempat bilang pada padanya, “Kamu cantik, kamu berhak sepenuhnya atas tubuhmu.”

Bu Putri bahkan tak mampu membelanya saat guru BK dan wali kelasnya menghajar si siswi dengan ujaran-ujaran soal moral, akhlak, dan aurat. Ada kejijikan dalam nada bicara dan tatapan mereka. Si siswi bahkan sudah menanggung beban sedemikian rupa. Mereka harus merelakan kelanjutannya bersekolah di SMA terbaik di kota. Si siswa masuk SMA swasta yang hanya peduli akan jumlah siswa. Perkara mereka pengguna narkoba, pelaku tawuran akut, atau tukang bolos tak menjadi masalah. Belakangan, Bu Putri diam-diam bahagia ada sekolah-sekolah model begini yang menerima semua siswa yang dibuang sekolah-sekolah negeri begitu saja. Si siswi dimasukkan ke pondok pesantren di luar kota.

“Jika tak dikeluarkan, lebih merana lagi mereka. Bagaimana menanggung malu di depan teman dan para guru?”

“Tugas kita membuat mereka menjadi lebih baik. Mengajarkan menghargai tubuh mereka dan tidak memperlakukan mereka sebagai kriminal.”

“Tapi mereka amoral karena telah berbuat asusila.”

“Mereka remaja yang di tengah jalan mencoba bermacam hal.”

“Karena masih remaja sudah begitu bagaimana nantinya? Makanya harus segera dikeluarkan. Biar tidak dicontoh teman-temannya.”

“Atau sebaliknya bisa jadi teman-temannya bisa belajar dari kejadian ini.”

“Belajar mesum? Di sekolah ini akan dikeluarkan jika mesum.”

“Sama seperti si Bapak dan Ibu guru yang mesum, kan? Yang bahkan sudah beristri bersuami.”

“Bu Putri hati-hati jika berbicara.”

“Jika mesum artinya amoral dan asusila, mengapa para guru itu tetap tinggal dan siswa-siswa itu yang pergi? Mengapa kita yang harus risih dan para guru mesum itu tetap tak berubah? Saya lebih percaya murid-murid itu masih bisa berubah lebih menghargai tubuhnya dan berhubungan dengan orang lain.”

Sore itu saat sekolah mulai remang, mereka berada di ruang yang hampir seperti gudang. Sisa peralatan lomba dan acara-acara sekolah yang ditumpuk sembarangan. Ada matras usang. Si siswi telah telanjang dan si siswa siap mengambil video. Mereka telah bertukar gambar diri mereka beberapa kali lewat ponsel. Hari itu mereka bergantian akan mengambil gambar badan masing-masing. Nahas, guru olahraga yang belum pulang memergoki mereka. Si guru melihat si siswi memakai kembali satu per satu seragamnya dengan gelisah. Air matanya tumpah. Si guru belum juga memalingkan muka. Sampai akhirnya ia menyeret mereka ke luar ruangan.

Begitulah cerita yang berembus ke seantero sekolah soal kejadian yang membuat Bu Putri sebagai Pembina KIR bersitegang dengan kepala sekolah dan guru BK.

***

Bu putri melepas kacamatanya yang tebal, meletakkannya di atas meja. Seorang siswa menghampirinya saat pelajaran berakhir.

“Mama titip salam untuk Ibu. Mama dulu murid Bu Putri.”

“Siapa nama mamamu?”

“Nina, Bu.”

“Salam Ibu untuk mamamu.” Bu Putri lantas keluar kelas. Pandangannya tertuju pada kolam ikan di lantai bawah. Betapa mulut-mulut ikan itu menganga. Mereka bergerombol di air mancur yang dibangun dengan payah di tengah kolam. Samar, Bu Putri melihat wajahnya karena air yang jernih tanda air kolam baru diganti. Bu Putri mengingat dengan baik siapa Nina. Siswi yang dihamili pacarnya yang mahasiswa. Si mahasiswa hilang jejaknya ketika diminta kesanggupannya bertanggung jawab. Nina yang dibelanya bahkan sampai ke dinas pendidikan kota. Nina yang kurus dan manis. Nina yang dalam dua bulan akan ujian nasional namun ketahuan hamil. Nina yang tak dapat menahan mualnya saat praktik olahraga. Nina yang meski berurai air mata dengan lugas memohon untuk tetap bersekolah. Memohon untuk bisa ikut ujian tak peduli cemoohan yang akan diterimanya. Kepala sekolah, wali kelas, dan guru BK lebih peduli pada citra sekolah. Nina yang dibela Bu Putri sekuat kemampuannya. Bu Putri mendengar permohonan Nina yang menyayat. Bu Putri mendatangi kepala sekolah demi Nina bertahan sekolah sampai ujian selesai.

“Mengapa kita melepaskan tangan kita saat anak kita tersesat, Pak?”

“Ada hubungan apa Bu Putri dengan Nina ini? Saudara?”

“Nina sama seperti murid saya yang lain, Pak. Nina ingin belajar sampai ujian nasional. Nina tidak ingin menyerah, Pak.”

“Nina tetap akan dikeluarkan, Bu. Kebijakan saya tetap. Masih ada waktu buat Nina mencari sekolah atau mendaftar kejar paket C.”

“Tapi Pak, nama-nama peserta ujian harus didaftarkan jauh-jauh hari. Mustahil bagi Nina untuk ikut ujian tahun ini.”

“Itu bukan persoalan kita, Bu Putri.”

***

Bu Putri tetap mengajar bertahun-tahun setelahnya. Guru yang di meja kerjanya bersih dari segala macam foto. Tak satu pun foto, baik itu foto suami, anak, rekan guru atau foto-foto diri atau siswanya yang berprestasi terpajang. Bu Putri hanya menyimpan sebuah album di laci mejanya. Album berisi foto-foto tiga kali empat siswi-siswi yang terpaksa putus sekolah. Siswi yang dihamili pacarnya, siswi yang diperkosa pamannya, siswi-siswi dengan beragam kisah pilu yang berakhir serupa; dikeluarkan dari sekolah. Foto-foto siswi itu menjadi pengingatnya guru seperti apa ia.


Dian Ariani Supangkat, bisa disapa di twitter @arianidian dan Instagram @diari_diari. Surel: [email protected]

Buku, Resensi

Terkait dan Terikat

Oleh Kamalludin

Lebaran akan kembali menyapa kita, dalam kurun waktu yang relatif singkat. Selain baju baru, lebaran juga identik dengan aneka camilan dan kue. Salah satu sajian khas yang hadir di atas meja ruang tamu adalah biskuit Khong Guan. Biskuit dengan kaleng dominan warna merah ini merupakan biskuit legendaris keluarga Indonesia. Biskuit Khong Guan menjelma menjadi jamuan istimewa saat lebaran. Biskuit Khong Guan mungkin salah satu panganan yang tetap bertahan hingga saat ini. Biskuit ini menemani masa kecil kita. Sejak dulu sampai sekarang tidak banyak yang berubah dari biskuit tersebut, tetap bertahan dengan ciri khasnya.

Bagi seorang penyair, benda-benda yang ada di sekitar bukanlah benda mati tak berguna. Benda-benda tersebut seolah bisa diajak berdialog dengan dirinya. Puisi-puisi Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan seolah terlahir setelah ia melakukan dialog panjang dengan kaleng Ghong Guan.

Keakraban Khong Guan dengan masyarakat Indonesia membuat biskuit Khong Guan kerap dijadikan bingkisan atau oleh-oleh. Simak puisi berjudul Bingkisan Khong Guan berikut ini: Mari kita buka/ apa isi kaleng Khong Guan ini:// biskuit/ peyek/ keripik/ ampiang/ atau rengginang?// simsalabim.// Buka!// isinya ternyata/ ponsel/ kartu ATM/ tiket/ voucer/ obat/ jimat/ dan kepingan-kepingan rindu yang sudah membatu.//

Joko Pinurbo tidak sedang menyajikan biskuit dan teh hangat yang manis kepada kita. Tapi, ia tengah menyuguhkan realitas keadaan masyarakat di sekitarnya. Realitas itu, barangkali kita juga mengalaminya. Kadang-kadang kita beruntung, mendapati biskuit yang enak dan mengenyangkan. Tapi, sering juga dalam hidup ini kita tertipu oleh wadah atau tempat, yang setelah dibuka, ternyata kita hanya mendapati peyek atau rengginang. Kenyataan yang tak sesuai harapan. Lebih dalam lagi, kaleng Ghong Guan itu ternyata berisi ponsel, kartu ATM, tiket, voucer. Benda-benda tersebutlah yang sekarang akrab dengan kita. Joko Pinurbo mungkin hendak berkata bahwa keakraban biskuit Khong Guan telah digeser oleh ponsel dan benda-benda modern lainnya.

Seorang gitaris yang handal akan tampak seperti tidak peduli lagi pada kunci-kunci nada yang dimainkannya. Tapi, lewat pendengaran, ia akan tahu jika ada kunci yang meleset dalam permainan gitarnya. Perasaannya telah menyatu. Demikian pula dengan penyair yang piawai. Ia mampu menyampaikan gagasan yang besar dan rumit sekalipun dengan bahasa yang ringan.

Joko Pinurbo telah memilih puisi sebagai media untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Ia menangkap gelagat masyarakat yang curiga dan penasaran mengapa sosok ayah dalam keluarga Khong Guan tak pernah tampak di meja makan? Lewat puisi Keluarga Khong Guan Jokpin menulis seperti ini: Banyak orang penasaran/ mengapa sosok ayah/ dalam keluarga Khong Guan/ tak pernah tampak di meja makan?// Kata anak laki-lakinya,/ “Ayahku sedang menjadi bahasa Indonesia yang terlunta di antara bahasa asing dan bahasa jalanan.”// Anak perempuannya menyahut,/ “Ayahku sedang menjadi nasionasilme yang bingung dan bimbang.”// Si ibu angkat bicara,/ “Ayahmu sedang menjadi koran cetak yang kian ditinggalkan pembaca dan iklan.”// “Semoga Ayah tetap terbit dari timur, ya, bu,”/ ujar kedua anak yang pintar itu.// “Bodo amat ayahmu mau terbit dari mana,”/ balas si ibu./ “Yang penting bisa pulang dan makan bersama.”// 

Joko Pinurbo yang memiliki gelar kesarjanaan Bahasa dan Sastra Indonesia, tentu memiliki perhatian lebih pada bidang bahasa. Lewat biskuit Khong Guan Jokpin tidak sedang membincangkan biskuit tersebut. Tapi, ia sedang mengetengahkan isu bahasa Indonesia yang semakin terabaikan dan terlunta di antara bahasa asing dan bahasa jalanan. Respon pembaca puisi tersebut sangat didamba. Untuk kemudian sampai pada puncak harapan, khalayak Indonesia bersedia mencintai dan merawat bahasa Indonesia agar tidak lekas punah.

Di puisi lain, Jokpin mengajak pembaca mengingat perhelatan akbar yang digelar pada tahun 2019 silam, negara menyebutnya pesta demokrasi. Pemilu 2019 meninggalkan duka. Duka itu lantaran cukup banyaknya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara atau KPPS yang meninggal dunia. Sebagai penyair, Joko Pinurbo memotret peristiwa itu dalam bentuk puisi yang diberi judul pesta. Di balik demokrasi/ yang boros dan brutal/ ada pesta pembagian doa/ untuk mengenang/ para petugas yang lembur/ dan mati di tempat/ perniagaan suara/ dengan honor tak seberapa.//

Lewat puisinya Joko Pinurbo ingin mengabarkan kondisi demokrasi di Indonesia. Puisi yang ditulis tahun 2019 itu seakan berisi laporan berita dari hasil kerja jurnalistiknya. Jurnalistik yang puitis atau puisi yang jurnalis. Jokpin menganggap demokrasi di Indonesia kelewat boros. Brutal! Karena menelan banyak korban. Kelelahan lembur sampai larut malam. Dengan honor tak seberapa. Meski pemerintah memberikan santunan bagi mereka yang gugur di perniagaan suara, itu belumlah seberapa. Dan mungkin inilah ikhtiar Jokpin untuk mengabadikan nama-nama mereka dalam nisan puisinya. Puisi Pesta yang satire.

Dalam puisi lain berjudul Bonus, imajinasi kita diajak melesat ke ibu kota atau kota-kota besar lainnya yang langganan banjir. Langit/ membagikan/ bonus/ air mata/ kepada/ pelanggan/ banjir/ yang setia.// adalah benar jika sebagian kota-kota metropolitan di Indonesia berlangganan banjir. Tapi, karena terlalu seringnya berlangganan, banjir yang datang mungkin tidak lagi disambut air mata. Entah mata yang telah kehabisan air atau hati yang sudah terlatih imunitasnya, sehingga banjir harus diabadikan dalam sebuah puisi.

Puisi Jokpin tak melulu mengait tema berat. Tema ringan berupa aktivitas keseharian orang-orang pun ia tulis. Rutinitas yang berbalut puitis. Bisa kita simak di puisi berjudul Senin Pagi berikut: Tubuhmu/ yang masih ngantuk/ sudah siap jadi jalanan/ macet dan bising/ jadi ponsel yang bawel/ jadi meja kerja yang rewel/ jadi deadline yang kaku/ jadi makan siang yang kesusu// … //

Semua diksi pada puisi di atas serba terburu-buru dan tergesa-gesa. Demikianlah lukisan sebagian besar dari aktivitas manusia di Senin pagi. Serba tergesa-gesa. 

Buku terbaru garapan penyair Joko Pinurbo ini terbagi menjadi empat bagian. Bagian-bagian itu dinamai kaleng satu sampai kaleng empat, persis seperti menggambarkan isi kaleng Khong Guan yang berlapis-lapis. Secara sepintas, beragam tema dihadirkan dari kaleng satu sampai kaleng empat. Mulai dari hal sepele sampai pada persoalan demokrasi, banjir, nasionalisme, kebahasaan, dunia maya, dan religius.

Buku Perjamuan Khong Guan  memperpanjang karir kepenyairan Joko Pinurbo atas kelihaiannya dalam mencipta puisi lewat benda-benda. Bagi Joko Pinurbo, benda-benda bukanlah makhluk mati yang perlu diabaikan. Tapi, Joko Pinurbo telah memakai kacamata puisi, sehingga benda apapun yang ia lihat memiliki kemungkinan di angkat ke dalam tema puisi.

Secara umum, proses kreatif kepenyairan Joko Pinurbo dapat dikenali melalui tanggapannya terhadap dunia keseharian yang ia tuangkan melalui puisi-puisinya yang terkesan main-main namun sarat filsafat yang mendalam. Dengan kekuatan naratif dan kekhasan humor sajak-sajaknya yang satire, realitas keseharian yang ia tangkap lewat cerapan indrawinya tersebut kemudian hadir sebagai sebuah paparan sosiologis tentang kehidupan manusia-manusia modern di sekitarnya. []

Kamalludin, penikmat sastra. Beberapa puisi dan artikelnya pernah muncul di media. Aktivitasnya selain mengajar juga sebagai juru foto di Bunk@m Photography.

Puisi

Puisi Daviatul Umam

Telur Rebus

Palung malam di ujung

demam, kau gedor lelapku

hanya untuk membuka pintu

selera akan sesuatu yang kau

tahu tidak kusuka. Atas petuah,

penghalau wabah.

Telur di piring dicolong kucing,

berikut kesabaranmu. Suhu sisa

subuh dan semburat matamu

nyaris sama, menyentuh sukma

yang belum kembali seutuhnya.

Pagi menyibak jendela. Amis

telur berserakan di mana-mana.

Di tengah kemurungan semesta,

masih saja ada penular kegilaan.

Inikah wabah yang bakal abadi?

Bogor, 2020.


Aubade

Aku suka embun, kecuali

yang bergelantung pada

bulu matamu.

Seperti aku menyukai puisi,

tapi bukan yang tumbuh

dari keangkuhan.

Aku suka cara jari-jarimu

bekerja. Hanya saja lidahku

belum mampu membayarnya.

Maafkan aku yang dalam hal

mencintai, masih kalah hati-

hati sama puisi sendiri.

Sumenep, 2020.


Kopi Januari

Kopi sudah ampas, Sayang.

Sudah tiba aku di dasar pencarian.

Cawan sedingin almanak usang

yang kau tinggal menuju lembaran

baru. Tanpa kenal lagi

angka-angka rindu.

Halaman demi halaman buku kita

buka. Kata demi kata pun lihai

membuka diri kita.

Angin membagi-bagi sedap

melati. Kita menerimanya sebagai

pengharum ruang dada. Dada

yang menahun berlumut sepi.

Kopi sudah ampas. Tapi tak perlu

menyeduh lagi untuk meraih hangat.

Sumenep, 2020.


Kopi Susu

Terberkatilah aku di hadapanmu.

Menjadi gelas panas yang kau angkat,

lalu bibir kita bersatu melumpuhkan

cuaca dan bahasa.

Dengan lembut kau seruput kopi susu

dari golak batinku. Sampai tandas,

sampai dingin-kaku sekujur tubuh.

Tak apa jika sesudah ini tiba-tiba aku

pecah berkeping-keping. Aku bahagia

telah mengalirimu kehangatan sebagai

amal bajik, sekaligus bisa membawa

bekas kecupmu sebagai bekal terbaik.

Bogor, 2020.


Soto Ayam

Akhirnya kita punya menu

baru, setelah yang berlalu cuma

menyisakan jemu. Kuah hijau masam

perasan jeruk nipis, bertebar irisan

daging ayam dan kubis. Tak ada

kecap dan sambal kacang, ketupat

atau lontong yang kita kenal.

Semua berubah. Ini bukan gigitan

rempah-rempah yang karib di lidah.

Kenikmatan terpenuhi. Tapi perasaan

tak mau mengerti. Ada aroma lain

yang ingin kita rebut. Ada asap lain

yang ingin kita tuntut.

Di tepi situasi yang berantakan,

hangat tungku ibu betapa kita

harap sebagai perlindungan.

Bogor, 2020.


Dapur Perantauan

Tanganmu semakin lentur

menyalakan dapur.

Tiada kuah kelor, sayur asem pun

jadi. Seikat jenis sayuran yang kau

beli dari gerobak subuh itu asing

bagi mata kita, kecuali sepotong

jagung dan pepaya. Tanpa resep,

kau taburkan saja bumbu instan

yang justru mendustai pengecapan.

Sementara tempe gorenganmu

menyuarakan rasa terbaru. Seolah

menutup semua celah dari aneka

lauk kota. Berbalut tepung kemasan,

merayu angkara dan candu. Kendati

ujungnya, kebosanan hinggap juga.

Saat influenza tiba menjerat badan,

giliran wedang jahe kau hidangkan

sebagai perlawanan. Bersama doa

pagi khusyuk kuteguk. Namun hanya

keraguan yang dapat melewati liang

tenggorokan. Jahe kehilangan bisa.

Kau kehilangan cara. Dapur tidak

benar-benar menyala.

Bogor, 2020.


Sepasang Pujangga

Kita tak lagi berkirim puisi.

Tak kan pernah lagi. Karena kita

sudah menjadi kata-kata terindah

sekaligus makna terpenting

bagi diri masing-masing.

Bermadah di atas suka-duka,

membina kenangan sebagaimana

pengabdian Wida dan Toni,

Dian dan Budhi, Benazir dan Fauzi,

Jamal dan Maftuhah, Indrian

dan Mutia, David dan Ibna.

Hidup penuh metafora, istriku.

Beruntunglah jika kita peka selalu.

Belajar pada alam, mengaji

pada keadaan ataupun ketiadaan.

Biarkan jemari waktu

menganggit jadi larik-larik puitis.

Di dalamnya kita berumah

hingga baterai jam kefanaan habis.

Bogor, 2020.


Derai Pertikaian

Selain karena cangkir akan

selalu beradu dengan tutupnya,

rabu yang melahirkan kita

sepertinya memang jadi landasan

kuat mengapa ruang sering kali

melarang kita berdamai.

Kita dipertemukan oleh keisengan

liar otak remaja. Selanjutnya tangan

dunia tak kalah liar iseng-iseng

mengeruk ketenteraman.

Aku sendiri tak paham, amarahku

serupa kumis tipis yang kerap

menyentuh pipimu geli. Hari ini

dicabut, dua hari lagi tumbuh.

Begitupun keegoisanmu. Batu

yang jarang gagal menjatuhkan

sepatnya buah sesal.

Alangkah sukar pemakluman.

Sebegini lemahkah toleransi

dalam dada yang berlumur cinta?

Bogor, 2020.


Supermoon

Semalam aku mendongak

ke atap jagat yang langka.

Menatap kesempurnaan wajah,

berpendar-pendar menyilaukan

penglihatanku padamu.

Ingin kupandang lebih lama,

walau tengkukku akan ngilu.

Hampir lupa kalau pusat cahaya

akan menyesatkan mata semata.

Bogor, 2020.


Daviatul Umam, lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Buku puisinya, Kampung Kekasih (2019).

Cerpen

Cerita tentang Danto

Cerpen Elmina G.

Ketika Danto ditinggalkan secara keji oleh Erina, ia teringat masa kecilnya yang serba terbatas. Ibunya punya segudang larangan dan ayahnya jarang ia lihat. Kedua orang tuanya sangat sibuk. Ibunya, wanita pemarah yang mempunyai sekian batasan dan aturan untuk Danto patuhi. Danto kecil tidak boleh berada di luar rumah melebihi jam lima sore. Ia tidak boleh memanjat pohon seperti teman-teman sebayanya. Ia tidak boleh berenang di sungai karena ibunya khawatir anak itu tenggelam dan dimakan buaya. Dan saat anak-anak seusianya berlari-larian dengan riang gembira, ibunya juga mewanti-wantinya untuk tidak melakukan itu. Seorang anak kecil tak boleh bergerak sembarangan, ia harus berhati-hati, karena banyak hal bisa mencelakakannya sewaktu-waktu. Demikian ibunya berpetuah. Danto tidak punya pilihan lain. Ia harus mematuhinya, meskipun hatinya meledak-ledak hendak memprotes semua kekangan ibunya.

Saat Danto berusia tujuh belas tahun, ibunya meninggal dalam suatu kecelakaan sepulang dari menjenguk nenek yang mengalami stroke. Nenek sudah sakit selama bertahun-tahun dan wanita tua itu masih hidup sampai sekarang. Sedangkan ibunya yang kelihatan seperti wanita paling sehat yang pernah ada justru mati lebih cepat daripada dugaan siapa pun. Prosesi pemakaman ibunya begitu khidmat dan mengharukan. Banyak orang menangis di sekeliling makamnya. Orang-orang menabur bunga dan berdoa dengan muka sembab. Namun, tidak ada kesedihan yang abadi. Kesedihan mereka pelan-pelan menyurut. Danto adalah orang yang paling cepat hilang kesedihannya.

Ayahnya semakin sibuk dan jarang di rumah. Ia mengurusi soal bisnis, kunjungan ke berbagai kota, dan tetek bengek lain yang Danto tak mengerti dan tak mau mengerti. Ia tak merasa perlu untuk mengetahui persoalan ayahnya sebagaimana ayahnya tampak juga tak menghiraukan soal dirinya. Ayahnya hanya mementingkan urusannya sendiri. Ia tidak pernah menganggap Danto sebagai anaknya, sebagai sosok individu yang membutuhkan seorang ayah bukan hanya eksistensi dan uangnya, tapi juga perhatian dan waktunya. Tapi Danto tak lagi menganggap itu hal penting. Ibu sudah tak ada dan ia bisa melakukan apa pun yang ia mau sebebas-bebasnya. Berbeda dengan ibu, ayahnya cenderung tak hirau terhadap apa yang ia lakukan.

“Aku mencintaimu. Apakah kau mencintaiku?”

“Tentu, Danto.”

Percakapan itu adalah pintu bagi Danto memasuki labirin kisah percintaan. Sejak itu ia tahu bahwa tak semua wanita semenyebalkan ibunya. Perempuan pertama yang dikencaninya adalah Saliza. Mereka berjumpa di kafe berbeda setiap pekannya. Mereka saling mengungkapkan kata-kata cinta dan janji-janji manis. Pada waktu itu, segala hal seakan berlangsung selamanya. Mereka berciuman, berpelukan, dan tidur dalam seranjang. Semua itu mereka lakukan dalam kurun waktu tak lebih dari dua bulan. Di bawah kuasa syahwat, segala hal bisa berlangsung cepat. Pikiran dan perasaan tak dipersilakan menunggu lama-lama di suatu ruang kalau syahwat sudah berdiri tegak di sana.

Nyatanya tidak ada yang abadi. Sebahagia apa pun sebuah kisah, ia pasti memiliki akhir. Danto dan Saliza menjalin kisah cinta selama satu tahun kurang sebelas hari, cukup lama untuk ukuran sepasang remaja belasan tahun. Pada malam itu, Sabtu malam yang berawan dan mendung, Danto menampar Saliza. Ia pernah melihat ayahnya menampar ibunya sewaktu ia kecil lantas ia menirunya bertahun-tahun berselang. Itu tamparan pertamanya untuk perempuan. Dan tentu bukan yang terakhir.

Tiga hari sebelum tamparan itu sekaligus sebelum Saliza meninggalkannya tanpa sepotong pun permintaan maaf, Danto melihat gadis itu berduaan dengan lelaki asing. Ia tidak tahu siapa lelaki itu. Yang ia tahu lelaki itu mencium pipi Saliza seakan-akan orang itu adalah dirinya. Ia merasa peristiwa itu, kepasrahan Saliza terhadap lelaki asing berengsek itu, menjelaskan semuanya. Itu patah hati pertamanya. Dan jelas bukan yang terakhir.

Beberapa minggu setelahnya Danto berpacaran dengan Lianti.

“Aku mencintaimu. Apakah kau mencintaiku?”

“Tentu, Danto.”

Isi percakapan yang sama. Sebuah permulaan kisah cinta yang klise. Sialnya, isi kisah cinta Danto bersama Lianti pun tak jauh berbeda dengan kisahnya saat berhubungan dengan Saliza. Bedanya, kali ini bukan Lianti yang berkhianat dan menghancurleburkan semua ungkapan cinta dan janji manis yang pernah ada di antara mereka, tetapi Danto. Danto mengencani perempuan lain saat Lianti tak di hadapannya. Bukan hanya satu perempuan selingkuhan yang ia kencani, tapi lebih dari itu. Ia mengencani Rani, Sania, Delima, dan banyak perempuan lain.

Danto menjelma menjadi seorang petualang. Petualang cinta yang menyedihkan. Di sela-sela itu, ia menebus keterbatasan masa kecilnya dengan melakukan hal-hal yang dulu ibunya larang. Ia memanjat pohon-pohon tinggi, berenang sepuas-puasnya, berada di luar rumah sampai larut malam. Ia tak pernah mendoakan ibunya. Lebih dari itu, ia tak mau mengingat lagi ibunya. Semua ingatan tentang ibunya hanya membuat pikirannya kembali terkenang pada suatu masa ketika hidupnya seperti berada dalam penjara.

Sementara itu, ayahnya tak pernah lagi dilihatnya. Kabar berembus bahwa ayahnya menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan Danto dan ia tinggal di kota lain bersama wanita itu. Mendengar kabar itu, Danto kesal. Ia merasa dicampakkan. Tapi, itu hanya perasaan sesaat. Bukan pertama kalinya ia merasakan hal semacam itu. Kenapa pula ia harus memikirkannya.

Sejak pernikahan ayahnya, Danto tinggal sendirian di rumahnya yang besar, megah, tapi lengang. Tidak betul-betul sendirian. Beberapa pembantu dan penjaga kebun juga tinggal bersamanya di rumah itu. Ia jarang di rumah. Kebesaran dan kemegahan rumah tak membuatnya betah menghuninya. Ia lebih banyak berkeliaran di luar rumah seperti burung-burung malam. Ia mengunjungi bar demi bar, kasino demi kasino, kesedihan demi kesedihan.

Ia sudah lama ditinggalkan Lianti. Tapi apa pedulinya. Ia memiliki banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan yang bisa diajaknya untuk melakukan apa saja, kecuali membangun kisah cinta yang serius. Selama bertahun-tahun, ia senang melakukan hubungan-hubungan singkat bersama bermacam perempuan. Itu membuatnya tak harus terbebani janji setia, impian masa depan, pedihnya ditinggalkan, dan omong kosong lainnya yang lazimnya ada dalam sebuah kisah cinta.

Namun, tidak ada hal yang abadi dan manusia adalah makhluk yang gampang bosan. Suatu malam, saat ia tinggal seorang diri di dalam bar, ia memandangi langit melalui jendela. Ia melihat sepotong rembulan bersinar begitu terang dan puluhan bintang yang terpencar di sekelilingnya. Ia melihat pemandangan itu berjam-jam sampai malam berganti pagi dan rembulan serta gemintang itu lenyap dari pandangannya. Danto lalu pulang dan memutuskan untuk menghentikan petualangannya bersama perempuan-perempuan yang ia dekati tanpa ia cintai.

Ia mengurung diri di kamar berhari-hari. Waktu itu usianya menjelang dua puluh empat. Usia yang ia sadari cukup matang untuk memikirkan apa pun yang ada di dunia secara lebih serius. Namun, di dalam kamar itu ia tidak memikirkan tentang apa pun yang ada di dunia. Ia hanya memikirkan tentang dirinya. Semata dirinya. Tidak ada pikiran soal ibu, ayah, ataupun teman-temannya. Pada hari terakhir permenungannya, ia membuka jendela kamar dan kembali melihat pemandangan serupa yang dilihatnya berhari-hari silam di bar. Sepotong rembulan bersinar begitu terang dan puluhan bintang yang terpencar di sekelilingnya.

Pagi harinya, Danto keluar dari rumah sebagai lelaki yang teratur. Ia berpakaian rapi, tersenyum ramah kepada orang-orang, dan menghargai perempuan. Ia bekerja mengurus salah satu lini bisnis ayahnya. Ia tidak menyukai ayahnya, tapi ia menyukai pekerjaan itu. Semuanya berlangsung biasa belaka sampai suatu hari seorang pegawai datang ke ruangannya untuk menyerahkan sebuah dokumen. Pegawai itu adalah seorang perempuan berambut panjang yang cantik. Tidak memerlukan penjelasan panjang-lebar untuk menggambarkan kecantikan yang murni. Pegawai itu bernama Erina dan Danto jatuh cinta kepadanya.

Bertahun-tahun ia menjalani kisah cinta yang manis bersama Erina. Mereka rutin makan malam bersama, melakukan perjalanan yang menyenangkan ke kota-kota eksotis, membeli barang-barang apa pun yang mereka kehendaki, dan bercinta sepuas hati di hotel-hotel berbintang.

Segalanya baik-baik saja sampai Danto mengulangi sebuah pernyataan—yang sekilas terlihat manis—yang membuat apa yang baik-baik saja menjadi luluh lantak.

“Aku mencintaimu. Apakah kau mencintaiku?”

Danto dan Erina resmi berpacaran beberapa tahun lalu tanpa perlu mengatakan hal semacam itu. Danto mengatakan itu semata-mata karena ia tidak bisa menahannya.

“Tentu, Danto.”

Erina menjawabnya semata-mata karena ia merasa sebuah pertanyaan harus dijawab.

Seminggu kemudian Erina pergi meninggalkannya. Erina keluar dari tempat kerjanya dan menikah dengan seorang lelaki asing dan tinggal di kota yang jauh dari rumah Danto.

“Kenapa kau meninggalkanku?”

Erina memutuskan telepon. Setelah menutup telepon, Danto teringat masa kecilnya yang serba terbatas dan ia teringat kepada ibunya dan ia berdoa ibunya bisa hidup kembali agar ia bisa kembali masuk ke dalam rahim ibunya. (*)

TS, 5 Desember 2019


Elmina G. Lahir tahun 1999 di Berastagi, Sumatera Utara. Suka menulis cerpen. Kini bermukim di Bandung. Kesibukannya saat ini adalah berkuliah dan menonton drama Korea. Bisa dihubungi melalui email: [email protected]

Cerpen

Dunia Kami

Cerpen Danya Banase

/1/

Laki-laki itu selalu sendiri. Tidak pernah menegur tapi selalu ingin ditegur. Beberapa teman yang selalu berada di sekelilingnya bahkan mengatakan ia pribadi yang berbeda. Ia dianggap sombong dan tidak mau bergaul dengan orang lain. Berbeda denganku. Walaupun orang-orang sering berkata bahwa terkadang aku tenggelam dalam duniaku sendiri, proses interaksiku dengan dunia luar baik-baik saja. Setidaknya menurutku. Tapi ia memang berbeda.  

Kami bertemu di perpustakaan dekat SMP tempatku bersekolah dulu. Aku datang 15 menit sebelum pintu perpustakaan terbuka. Orang-orang berkata aku terlalu rajin dan menyuruhku untuk melamar menjadi penjaga perpustakaan saja. Aku tak menggubris perkataan mereka. Mereka terlalu bodoh saat menilai tindakan seseorang sebagai bahan lelucon garing dan membosankan. Tidak semua orang menerima lelucon sebagai cara untuk diterima orang lain. Tidak semudah itu. Aku memilih duduk dekat rak buku-buku terjemahan di lantai dua. Bukan sebab ingin belajar bahasa Prancis ataupun karena diberikan tugas kuliah untuk menelaah Social and Political Philosophy karya John Christman, buku membosankan yang dibahas dosen senior yang sepanjang pelajaran hanya duduk dengan gaya malas dan berbicara seperti berbisik itu. Memilih lorong kedua, diapit susunan buku terjemahan bahasa Jerman dan Rusia, ternyata lebih nyaman. Mungkin karena berada di dekat sudut ruangan pula. Tidak terlalu sempit dan pengap. Penjaga ruangan itu, seorang bapak berusia 50-an dengan gigi seri bagian kanan atas yang ompong senantiasa menerimaku dengan ramah.

Laki-laki itu datang saat pegawai perpustakaan pergi makan siang. Ketika ia melintas, kami hanya berduaan di ruangan itu. Perawakannya tinggi, sekitar 170 cm. Keningnya yang lebar ditutupi potongan rambut berponi yang acak-acakan sehingga tampak tebal di bagian depan dan nyaris menutupi mata kanannya. Menurutku, gaya itu pernah menjadi model favorit sekitar tahun 2016 dan kemungkinan tidak kekinian lagi. Ia mengenakan kaus bergaris biru laut bercampur hitam, celana kusam setengah lutut yang robek-robek di lipatan bagian bawah, dan sepatu kets bertali tanpa kaus kaki.

Gaya berpakaian laki-laki itu cukup familiar di kalangan anak muda kota yang gemar travelling. Kami sempat bertatap muka, walau menurut perhitunganku hanya 7 detik atau kurang. Ia tersenyum, lalu melangkah menuju lorong buku bagian kamus-kamus bahasa asing. Ia kembali lagi. Seperti orang yang malu-malu dan ingin bertanya tentang sesuatu tetapi diurungkan, ia bolak-balik tidak jelas. Setelah empat kali melakukan hal konyol itu, ia mendekatiku dan menanyakan hal yang menurutku amat ganjil, sangat jarang terjadi apalagi kepada seseorang yang tak dikenal sebelumnya.

“Bagaimana pandanganmu ketika orang-orang menuduh dirimu terlalu egois dengan duniamu sendiri? Mereka bilang aku sombong. Harus kuakui beberapa orang di sekelilingku terkadang tidak memahami apa yang sedang terjadi dalam kehidupanku. Usaha mereka pun sia-sia, justru karena mereka terlalu mencampuri urusan orang lain.”

Ia gila. Kumaklumi saja karena memang ada beberapa orang memiliki kepercayaan diri begitu tinggi sampai taraf yang menjengkelkan. Lihat saja, ketika ia bertanya, ia pun berani sekali menatap mataku dengan tajam.

Well, itu pertanyaan mudah. Aku datang ke tempat ini dan sibuk bergeliat dengan pemikiranku sendiri.”

“Seperti saat ini?”

“Tepat. Seperti saat ini.”

Jawaban pendekku diresponsnya dengan melangkah cepat ke lorong sebelumnya dan kembali lagi sembari menenteng buku Orientalism karya Edward Said. Ia memilih duduk di depanku. Tersenyum simpul, gerak bibirnya tampak sekali dipaksakan.

“Seperti buku ini? Kalau kau sudah membacanya.”

Aku memilih diam.

Bisakah ia diam barang sejenak dan menutup mulutnya? Aku sedang berusaha menumpahkan isi otakku untuk menyelesaikan cerpen yang telah kugumuli sejak seminggu lalu. Bahkan ketika ia datang, pikiranku mulai buyar.

“Orang tuaku menyuruhku menelan obat-obatan yang diberikan dokter langganan kami. Aku bahkan diminta untuk menemui seorang psikiater dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti anak bodoh yang tidak tahu apa-apa. Keadaanku baik. Aku takut. Sebenarnya demikian. Teman-teman seangkatanku mengatai aku tuli dan bisu. Kau adalah saksi. Buktinya aku bisa mendengar ucapanmu sekarang. Aku hanya tidak ingin merespons mereka. Membicarakan hal-hal yang tak kumengerti.” Telinga kanannya spontan bergerak ketika ia selesai bicara. Kulihat itu sebagai hal yang wajar pada awal ia bertanya, tapi pandanganku berbalik seratus delapan puluh derajat setelah tiga kalimat berikut yang ia lontarkan. Kupikir hanya 22% orang di planet ini yang masuk kategori istimewa dapat melakukannya.

Hikikomori. Berapa lama kau melakukannya?” Tanpa bertanya lebih jauh aku langsung tahu orang seperti apa laki-laki itu.

“Enam bulan. Teman dunia mayaku yang paling mengerti. Perbincangan kami sangat menyenangkan. Ia terbuka dan sepertinya mirip denganku. Kami berbicara tentang game, buku-buku penulis klasik, hingga warna kesukaan.”

“Aku pernah. Dulu. Menjadi diam bukan berarti abnormal.” Aku suka anak ini. Ia sepertinya bisa mengenali sifat seseorang, makanya ia menjadi orang pertama yang melontarkan pertanyaan.

“Sejak kapan dan mengapa?” tanyanya penasaran.

Aku membolak-balik buku yang tengah kupegang dan mencium aroma buku itu. Kebiasaan. Matanya lurus menatap mataku. Seperti sebelumnya. Sempat kulihat rasa ragu, alih-alih penasaran, karena keningnya berkerut dua lipatan. Gerak telinganya sarat makna, saat bergerak naik tiga kali artinya ia sedang penasaran dengan lawan bicaranya.

Book sniffer,” katanya. “Kau sangat mirip denganku.”

“Yup, bibliognost,” aku tersenyum membalasnya.

“Aku hampir dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Padahal aku normal. Aku mandi tiga kali, kadang lima kali sehari. Makan tepat waktu. Bahkan memiliki seorang teman. Ia mengkhianatiku. Membicarakan kejelekanku di belakang dan menikamku pelan-pelan dengan mulut buasnya. Aku memang autis. Tapi aku normal. Mereka bilang keaktifanku melebihi batas kewajaran manusia. Mengurung diri dengan membaca buku dan terkadang berbicara sendirian. Hingga tanggal 23 November 2017. Aku ingat sekali tanggal bersejarah  itu. Pisau dapur yang sering digunakan Mama untuk memotong sayur kugunakan untuk mengukir tangan kananku. Menurutku itu keren. Agar berbekas dan tidak mudah hilang. Tato. Bukan hanya itu saja. Kulakukan hal yang sama pula pada bagian bawah leherku. Mengukir mockingjay bird,” aku menjelaskan, diakhiri dengan tawa terpaksa. Kulihat barisan giginya seperti pertama kali dilepaskan dari ruang mulutnya yang terkunci setelah sekian lama. Ia tersenyum lebar sekali.

“Kau menarik. Merci pour l’ecoute,” ucapnya mengakhiri percakapan kami.

/2/

Seminggu kemudian, pada waktu yang sama aku kembali lagi ke tempat kami pernah berbincang. Aku menunggunya. Namun, sampai jam perpusatakaan tutup, ia tak kunjung datang. Keesokan harinya aku mencari kamus bahasa Prancis untuk menambah kosakata berbahasaku karena tuntutan bacaan yang tengah kuselami belakangan ini. Aku membaca dan terus membaca sampai penjaga ruang perpustakaan yang menurutku sudah bosan melihat wajahku ini menghampiriku dan mengatakan bahwa ia sangat senang karena melihatku menjadi pengunjung setia ruangannya. Ia kesepian karena banyak pembaca lebih tertarik dengan ruangan lain yang terisi bahan bacaan yang lebih populer pada masa kini, atau karena ruangan ber-AC yang sejuk itu lebih cocok untuk dijadikan tempat bergosip. Si bapak tua bahkan ingin sekali memberikan hadiah buku untukku dan laki-laki itu—ia sengaja tidak menyebutkan nama—yang telah setia menemaninya hari demi hari.

Aku bertanya seberapa sering laki-laki itu datang ke tempat ini. Ternyata ia adalah pengunjung setia sebelum diriku. Tanpa kusadari, tanpa sepengetahuanku, kami bisa saja berada di dalam ruangan yang sama seharian penuh tanpa pernah saling mengenal atau bertegur sapa. Baru hari itu aku tahu, ia bahkan sempat bertanya pada penjaga perpustakaan itu mengapa aku suka sekali membuka kamus bahasa Prancis.

/3/

Kami bertemu lagi di toko buku tunggal di kota kami. Kebanyakan anak muda lebih senang berada di mal-mal besar atau hangout di kafe atau restoran yang mempunyai desain interior dan eksterior yang bagus dijadikan instastory sehingga toko buku itu tampaknya sedang menuju kebangkrutan. Aku membeli buku mengenai dasar-dasar komunikasi politik karena tugas kampus. Aku melihat laki-laki itu. Aku mengenalinya. Telinga kanannya bergerak. Sempat kuhaturkan senyum paling tulus untuk orang yang baru dua kali kutemui itu. Ia memalingkan mukanya seolah kami tidak saling kenal.

“Hai, bibliognost.”

“Halo,” sahutnya singkat.

“Kau mengingatku? Perpustakaan?”

“Ah, aku rasa aku pernah mengenalmu sebelumnya setelah kau menegurku dengan istilah itu.”

Kami bertemu lagi dan tidak saling mengenal. Atau dunia kami memang bergerak saling menjauh—untuk alasan yang tak sepenuhnya kami sadari?***


Danya Banase, suka baca cerpen dan pencinta travelling. Berdomisili di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

Puisi

Puisi Setia Naka Andrian

Sudah Berapa Jam Lalu

Sudah berapa jam lalu,

kau tumbuh di atas punggungku

Kau menikam banyak rindu

Yang ditanam pelan

di antara catatan yang lupa

Ditanam di jalan-jalan

Menuju ketiadaanmu

Sudah berapa jam lalu,

kau telah memilih tak megunjungiku

Kau bilang,

“Sudahlah, jangan cemas

Aku telah tumbang

dalam sekejap waktu

Selepas segalamu tumbuh

di punggungku”

Demikianlah kau,

yang menjadikan kami kikir

Yang membiarkan segenap rakyatmu

terlampau fakir

untuk menentukan segala iman

Masa itu, kau begitu rupa

bergegas berlari

Jika pagi datang

dengan berjingkat begitu tinggi

Jika pagi mendesakmu

agar mengangkat lagi

kedua kaki setinggi-tinggi

Kendal, April 2018


Nama-Nama yang Berlalu

Dalam segala nama mereka

Telah disebutkan nama-namamu

yang berlalu

Doa-doa yang telah lama

tanggal di batu-batu.

Dalam segenap raga mereka

Nama-nama kerap digiring dari segala duka

Setiap pagi menyala, siapa saja melihatmu

Mengapung di sungai-sungai panjang

yang sering memilih berubah pikiran

Untuk menemukan muara yang lengang

Lihatlah, nama-nama baik telah berlalu

Doa-doa dengan napas tinggi

lebih memilih singgah

dan menggantung huruf-huruf vokalnya

Di setiap nada yang mengembang di udara

Saat setiap orang telah bergegas lari

Mendirikan badan lain,

sebelum segalanya tumbang

Menjatuhkan banyak hal di luar segala

yang tak lagi dikehendaki

Dalam segala nama-nama yang berucap

Dan dibiarkan mengembang di udara

Maka bergeletakanlah nama-nama kecilmu

di antara tubuh mereka

Sejauh mata yang telanjang

Sejauh kegagalan tumbang

di sebelah ragamu sendiri

Dan sejak saat itu, segala nama telah berlalu

Tumbang di segala arah

yang urung menunjuk kematian tubuhmu

Kendal, April 2018


Pada Mata yang Tak Lagi Retak

Pada mata yang tak lagi retak,

pada alis yang tak sempat bercabang

Kau telah mengirim kami

Dalam kedatangan yang berulang-ulang

Dan kau diam-diam

telah mengunjungi banyak risau

dalam kegundahan

Pada mata yang tak lagi retak,

Pada segala cahaya yang berlalu-lalang

Meninggalkan diri kita

Di antara segenap hujan

yang gagal menidurkanmu

Pada mata yang tak lagi retak,

Kau kembali kepada kami

Yang tiada pernah tega

Menggerakkan mata sendiri

Kau menatapi kami diam-diam

yang tak kunjung matang

Pada mata yang tak lagi retak,

pada hidung yang mencium sedalam-dalam

Kau berjalan mengunjungi kami

Kau berkata dengan pelan,

“Sudah saatnya kami menenangkan batin

dan ragamu

Yang kerap tanggal di pematang

Yang kerap berlinang

saat terik di dada tak kunjung

melambaikan tangan,”

“Pada mata yang tak lagi retak,

Pada segala yang sedang malas berkemarau

Mereka yang sekian kali menabur hujan

yang tak sempat reda,

memanjakan ketiadaan di setiap gerak luka,”

Pada mata yang tak lagi retak,

Semua memanas, membakar televisi, radio, dan koran

Semua hangus, kecuali bibir-bibir yang berdesakan

menempel di media sosial

Kendal, April 2018


Musim

Musim telah matang

Ia mengejar hujan

yang sering absen datang

Di balik telapak tangannya

yang kapalan,

musim sering menggerutu

menyaksikan banyak hutan panas

yang sering salah jadwal kunjungan

Melupakanmu, melupakan desa

dan kampung halamanmu

Kendal, April 2018


Hari Sudah Pagi

Hari sudah pagi

Sudah saatnya kita bergegas pergi

Sudahlah, tak ada lagi

yang menyegarkan matamu

Semuanya penuh lika-liku,

membakarmu,

Mengumpat segala celamu

Lihatlah di luar,

bala tentara sudah menunggu,

Berbaris pasukan berkuda

Siap mengawal dari segala udara

Dari segala napas

yang kerap mendengkur duluan

Hari sudah pagi,

Kau akan segera diajak pergi

Kepada segala yang memacu jejak

Saat orang-orang masih direkam

Dalam segala cara cepat

Untuk bergegas meruntuhkan

Kendal, April 2018


Bacakan Kepada Kami

Bacakanlah kepada kami

Ribuan angka yang jatuh

di luar kepala

Bacakanlah kepada kami

Jutaan purnama kesembilan

yang tanggal

sebelum menunda akhirnya

Bacakanlah kepada kami

Kepada segala bibir

yang tumbuh di luar suara

Kepada segala umpatan

yang menempel

di dinding-dinding kening

dan dadamu

yang kian hari

kian saling melambaikan tangan

Kendal, April 2018


Bahasa Ingin Lelap Tidur

Bahasa ingin lelap tidur

Ia sudah kangen bertemu ibunya

Dalam tidur,

Dalam mimpi

yang katanya sudah bolong-bolong

Bahasa ingin lelap tidur

Ia sudah lupa rasanya tamasya

Saat mengunjungi ragam warna

dan makna

Yang kian bertebaran, diciptakan

di sembarang dinding kamus-kamusmu

yang terbakar

Bahasa ingin lelap tidur

Ia sudah ingin menjadi sore hari

Ingin bergegas jadi waktu senyap

Yang memilih mengerami

segala kesunyian

Bahasa ingin lelap tidur

Ia merasa sudah cukup tua

untuk mengenang masa muda

yang tanggal berkali-kali di jendela

Bahasa ingin lelap tidur

Ia ingin sowan kepada para leluhurnya

Yang kabarnya, sudah tak lagi tinggal

di jendela-jendala

Kendal, April 2018


Bergegaslah Menyelam

Bergegaslah, Sayang

Bergegaslah menyelam

Dasar laut hampir tutup

Tiketmu tinggal sepenggal angin

Bergegaslah Sayang

Bergegaslah menyelam

Hari sudah hampir lepas,

pantai telah bergerak

meninggalkan segala panas

Lihat, di sana rumahmu

Yang menawarkan segenap keretakan

Bersama doa yang sedang asyik kabur

Ia telah lama menanam diri

Di atas sana, saat kami telah libur panjang

Saat segalanya telah memilih tunai duluan

Kendal, April 2018


Berjalan ke Utara

Kami lah yang berjalan ke utara itu

Kami lah pencari ladang

Yang kerap tak sempat mengaliri diri

Dengan beragam aroma bunga

Atau apa saja,

selain dari napas-napas panjangmu

Kami lah yang bergegas ke utara itu

Kami lah pejinak pematang

Yang kerap tak kunjung habiskan

cara berupa-rupa

Kami tak tahu, kapan akan menemukan

Segala ubi-ubian, jagung, atau apa saja

Yang leluasa menggerakkan tubuh

Kami lah yang bergegas ke utara itu

Yang berjalan dan tak berani

diam-diam menilai segala ketiadaanmu

Kami lah yang bergegas ke utara itu

Yang hanya mencoba menembus

Segala lubang sela-sela jari kaki

untuk menghamburkan segala rupa

Untuk selalu tunduk, dan berlutut

Di bawah nama-nama keajaibanmu

Kendal, April 2018


Berat Duka

Sudah berapa berat duka

yang ditumbuhi peluru

Sudah berapa berat suka

Ditumbuhi malu

Kami enggan bertapa lagi

Lereng gunung tak lagi asyik

Untuk menyembunyikan kekalahanmu

Sudah berapa berat duka

yang segalanya telah luput

Memikul doa kami yang kerap runtuh

Enggan memilah puncak mana

Yang pertama akan ditempuh

Sudah berapa berat duka

Yang tak lagi bisa berbuat apa-apa    

Kami kian hari seakan kian

membunuh masa depan kami sendiri

Kami sudah tak begitu akrab

Dengan duka-dukamu

Maka bergegaslah kami,

Menuju segala ketiadaan itu

Kami berlarian, menembus segala

yang tak pernah kami temukan

Dalam sekelebat nyawa

Yang diam-diam kerap mengunjungi

duka-duka itu

Kendal, April 2018


Setia Naka Andrian. Lahir dan tinggal di Kendal sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisi terbarunya Waktu Indonesia Bagian Bercerita (Penerbit Buku Beruang, 2020).

Buku, Resensi

Menanyakan Identitas: Orang Korea di Jepang

Oleh Setyaningsih

Dituturkan dalam empat generasi merentang selama 80 tahun, novel Pachinko (2019) garapan Min Jin Lee adalah rekonsiliasi panjang nan rumit orang-orang Korea di Jepang. Terutama diwakili oleh generasi kedua, tokoh perempuan bernama Sunja dinikahi dan diselamatkan misionaris Kristen asal Pyongyang, Baek Isak, dari Busan ke Osaka. Saat itu masa-masa kolonialisme Jepang di Korea. Sunja dihamili oleh seorang Korea yang mapan tapi telah beristri dan memiliki tiga anak di Jepang. Sunja menolak menjadi istri simpanan.

Bersama Isak yang siap mengakui anak di perut Sunja sebagai anak sendiri, Sunja memulai kehidupan yang sama sekali berbeda. Di Osaka, Jepang, orang-orang Korea ditempatkan di wilayah terkumuh, sulit memiliki properti strategis, dikondisikan bekerja lebih rendah dari orang Jepang, dicap malas dan kriminal. Diskriminasi di negeri penjajah tidak terelakkan, tapi tanah air yang ditinggalkan pun dalam kondisi krisis. Myung Oak Kim dan San Jaffe (The New Korea, 2013), membabarkan bahwa orang Korea di Jepang terbagi dalam dua kelompok yang sama-sama terdesak, rakyat miskin yang memilih pindah untuk mencari pekerjaan dan yang terpaksa pindah untuk bekerja di tambang dan pabrik demi membantu Jepang pada masa Perang Dunia II.

Situasi politik yang kacau, desakan ekonomi, ketiadaan makanan, membuat orang-orang Korea bermigrasi ke Jepang di masa kolonial dan bertahan sampai generasi keempat atau kelima. Namun, mereka tetap saja dianggap asing atau disebut dengan istilah ambigu-menyakitkan, Zainichi (penduduk asing yang tinggal di Jepang). Hidup yang telah sedemikian berkompromi menjalani naturalisasi yang tidak mudah, tetap menempatkan orang-orang Korea sebagai pihak “lain” dan “luar”.

Min Jin Lee benar-benar memilih tokohnya di Pachinko sebagai representasi kekuatan dari kalangan bawah yang terpinggirkan. Para perempuan meski tidak terpelajar begitu tangguh menderita dan tetap bekerja untuk membesarkan anak-anak. Mereka memberesi urusan domestik berbekal cara hidup tradisional yang kuat dan ulet. Secara psikologis, para perempuan Korea lebih memiliki tameng untuk bertahan menjalani hidup.

Memutus

Noa, anak lelaki pertama Sunja, menjadi generasi yang sadar bahwa modernitas, kebebasan individu, kesetaraan, dan kebebasan tanpa diskriminasi harus diraih dengan intelektualitas. Namun dalam perjalanan akademis yang membuatnya bertemu aneka manusia dengan beragam cara pikir, ia justru semakin mengalami kehampaan identitas. Puncaknya ketika Noa marah kepada kekasih Jepang tak rasisnya, Akiko. Noa marah justru karena sikap Akiko yang terlalu santai dan abai pada identitas “kekoreaan” Noa seolah hal itu sangat eksotis dan menantang. Diceritakan,“… sebab Akiko tidak akan pernah percaya dia tak ada bedanya dengan orangtuanya, bahwa melihat Noa hanya sebagai orang Korea—baik atau buruk—sama saja dengan hanya melihatnya sebagai orang Korea yang buruk. Akiko tidak bisa melihat sisi manusiawi Noa, dan Noa menyadari inilah yang paling diinginkannya: dilihat sebagai manusia” (hal.361-362).

Di babak inilah, semakin memuncak kerapuhan jiwa seorang Noa yang semasa kecil begitu berbakti, berjuang untuk diakui bermartabat, ingin setara dengan Jepang, dan berambisi masuk kuliah untuk membanggakan keluarga serta hidup terhormat. Ditambah terkuak bahwa ayah kandung Noa seorang gengster atau yakuza, kehampaan semakin menjadi-jadi. Noa memutuskan hubungan dengan keluarga, meninggalkan kuliah, bekerja di arena pachinko, dan menikah. Semua ini berhasil dijalani dengan pertaruhan dilematis, menyembunyikan serapat-rapatnya identitasnya sebagai orang Korea. Bunuh diri akhirnya dipilih Noa untuk memutus seputus-putusnya dunia yang selalu meragukan identitasnya.

Mozasu, adik Noa-anak Sunja dan Isak, sebaliknya sejak kecil begitu membenci sekolah dan belajar. Ia lebih berkompromi dengan situasi diskriminatif dengan cara berkelahi atau melawan. Mozasu memilih bekerja di pachinko dengan keteladanan yang gemilang meski lagi-lagi, pekerjaan ini jelas dicap buruk bahkan oleh Noa. Yang dilakukan tetap berupaya hidup dengan keras, “Negara ini tidak akan berubah. Orang Korea seperti aku tidak bisa pergi. Kami mau ke mana? Tapi orang Korea di kampung juga tak berubah. Di Seoul, orang seperti aku dijuluki bajingan Jepang, dan di Jepang, aku hanya orang Korea kotor berapa pun yang kudapat atau sebaik apa pun aku. Lalu kenapa? Semua orang yang kembali ke Utara mati kelaparan atau ketakutan setengah mati” (hal. 440). Mozasu sadar bahwa uang dan kesuksesan tidak bisa mengubah identitas sebagai orang Korea. Pun tidak mampu mengubah cara pandang orang Jepang atas orang Korea.

Noa ataupun Mozasu yang mewakili dilema orang Korea sejak awal abad ke-20, mewakili dilema identitas hari ini. Batas geografis negara memang ada, tapi tidak menampik setiap orang menjadi bagian dari dunia. Sedang kekerasan, stigma, atau prasangka atas nama identitas di mana pun masih begitu lekat terjadi. Hal ini mengingatkan pada penuturan biografis jurnalis cum sastrawan Amin Maalouf (2004) saat disodori pernyataan apakah merasa “lebih Prancis” atau “lebih Lebanon”? Pertanyaan ini tidak sekadar memosisikan di antara dua negara, tapi juga bahasa dan tradisi budaya pembentuk identitasnya. Dalam pertalian fundamental yang bersifat etnis, religius, nasional, rasial ini, akhirnya setiap orang dipaksa menonjolkan identitas tunggal. Ramuan lain misalnya selera makanan, minat berbahasa, cita rasa kesenian tidak dihitung sebagai “pengalaman yang subur dan memperkaya bila si anak muda tersebut merasa bebas untuk menghidupinya sepenuhnya, bisa ia didorong untuk menerima segenap keberagamannya.”

Dan Korea yang merengkuh abad gemilangnya hari ini lewat teknologi dan budaya pop, terutama atas Jepang, belum akan selesai menanyakan identitas lewat Pachinko. Permainan pachinko memang tidak terelakkan dari kesan kotor dan citra sosial yang rendah serta tidak terhormat. Min Jin Lee menggunakannya untuk menandai gejolak-gejolak memaknai identitas. Ada pilihan untuk terus berekonsiliasi atau bersekutu dengan kematian. Bagi Mozasu, hidup memang seperti permainan pachinko, “yang pemainnya bisa mengatur tombol tapi juga mengantisipasi ketidakpastian dari faktor yang tak bisa dikendalikannya […] sesuatu yang tampak sudah pasti tapi tetap menyisakan ruang untuk ketidakteraturan dan harapan.”


Setyaningsih, esais dan penulis Kitab Cerita (2020). Bisa dihubungi lewat surel: [email protected]

Cerpen

Kupu-Kupu di Atas Ranjang

Cerpen Priyo Handoko

Kamu membangunkan aku dengan sentuhan sayapmu saat pagi mulai terasa hangat-hangat kuku. Tak jelas bagaimana kamu bisa masuk ke rumahku. Tubuhku sampai membeku. Aku sama sekali tidak mengenalmu. Kamu memintaku dengan sedikit memaksa agar mau menjahit sayap sebelah kananmu yang robek dan mulai melayu.

Sayap yang sungguh aneh. Sudah sering aku membaca cerita atau melihat gambar peri-peri mungil bersayap yang tinggal di hutan. Cuma seingatku tak ada yang bentuk sayapnya seperti sayapmu. Bentuknya bulat sempurna dengan bulu-bulu biru serupa mahkota bunga di kedua ujungnya. Satu lagi, kamu tidak mungil. Telingamu pun tidak runcing memanjang ke atas. Penampilan fisik kita tak terlalu jauh berbeda. Hanya, aku laki-laki dan kamu perempuan.

Kulihat ada cairan kental yang merembes keluar dari robekan sayapmu. Mungkin itu darah. Warnanya putih. Aku jadi teringat cerita tentang Yudistira. Seorang ksatria Pandawa yang tingkat keikhlasannya tiada tara.[1] Dewa pun menganugerahinya darah berwarna putih. Darah yang tak membawa perih ketika kulit tubuh terluka. Sungguh ingin kubertanya, apa kamu seperti Yudistira? Tapi, aku tak berani menanyakan itu kepadamu.

Kepalamu mulai bergerak sesaat setelah aku selesai menjahit robekan sayapmu dengan benang berwarna hitam. Bibirmu bergetar. Pasti menahan perih yang teramat sangat. “Maaf, aku tak punya obat bius untuk meredam rasa sakitmu. Untungnya, katamu, benang apapun bisa kupakai untuk menjahit lukamu. Kalau saja kamu mau ke rumah sakit.”

Tiba-tiba aku melihat kembali getaran itu. Getaran tubuh yang menyiratkan rasa sakit. Tanpa sadar mataku ikut bergetar. Benar-benar menahan perih yang teramat sangat. Sudah tiga puluh delapan jam, aku sama sekali tidak sempat tidur. Dan, tadi belum genap satu jam aku menikmati ketidaksadaran yang sangat menyenangkan itu.

Suaramu terdengar lirih ketika mengucapkan terima kasih. Suaramu bertambah lembut ketika meminta maaf setelah tahu kehadiranmu mengganggu tidurku. “Tak apa, jawabku, “Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu. Aku sebenarnya sangat ingin mendengar semuanya, tapi ceritanya nanti saja. Kamu aman di sini. Aku mau tidur lagi.”

“Jangan tidur dulu. Temani aku,” katamu, sambil memandangku dengan mata berkaca-kaca. Dongkol karena kepala yang kian menebal dan pusing, spontan aku menjawab dengan nada suara tinggi. “Pokoknya aku mau tidur di kamar sebelah. Aku sudah tidak tahan.”

“Tolong jangan tidur dulu,” kembali bisikmu. Kamu mulai menangis. Emosiku tambah tak keruan. Sebelum aku beranjak, dengan cepat kamu meraih tanganku dan menggenggamnya.

“Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendirian di kamar ini. Silakan rebah di sebelahku atau di mana pun yang kamu mau. Tapi, tolong jangan tidur. Aku mohon, jadilah teman bicaraku. Jaga aku agar tidak terlelap selama darah masih merembes dari celah luka ini. Sebab, itu akan membunuhku.”

Kali ini aku tak kuasa menolak permintaanmu, walau kedua mataku sebenarnya juga sudah tak kuasa untuk terus dipaksa terjaga. Aku bingung, tapi kuhampiri juga kamu. Kemudian duduk di ranjang tepat di sebelahmu. Sesaat aku merenungi nasibmu kini, mungkin juga nasibku beberapa puluh jam yang lalu.

Aku meringis. Ternyata ada persamaannya. Kita sama-sama sempat menjadi takut dengan tidur. Kamu tak boleh tidur selama sayap itu belum sembuh. Entah apa sebabnya. Karena jika tertidur, itu berarti kematianmu. Sementara aku, selama tiga puluh delapan jam yang lalu juga tak boleh tertidur. Ada setumpuk laporan yang harus aku selesaikan, karena sudah masuk deadline. Jika sampai tak selesai, aku akan dipecat dari kantor dan karier yang telah aku rintis selama sepuluh tahun akan hancur. Bagiku itu juga kematian.

Kamu tersenyum mendengar ceritaku. Aku juga sudah mulai merasa agak nyaman dengan kehadiranmu. Entah dari mana mulanya, namun seperti terhipnotis, lapis demi lapis sinopsis kehidupanku mengalir membanjiri udara kamar ini. Sementara kamu, hanya diam mendengarkan dengan penuh perhatian.

Tak lama, aku sampai kepada cerita tentang istriku yang kini sedang menempuh S2 di Belanda. Terakhir dia pulang ke rumah ini sekitar enam bulan lalu, sekalian mengumpulkan data-data penelitian untuk keperluan tesis yang sedang dia kerjakan. Tak lupa aku juga bercerita tentang Soka dan Modya yang sejak kemarin sore bersama neneknya pergi ke Batam untuk mengisi waktu liburan mereka.

Modya berusia sepuluh tahun, sedangkan adiknya Soka enam tahun. Benang yang kupakai menjahit luka itu milik si sulung yang biasa dia pakai untuk bermain layang-layang. Praktis di rumah ini, kini aku sendirian. Mbok Rah, pembantuku, kebetulan sedang pulang kampung. “Lantas luka di sayapmu itu karena kecelakaan?” tanyaku sambil kembali memeriksanya.

“Bukan kecelakaan, tapi serangan.”

“Astaga! Diserang siapa? Pelakunya sudah ditangkap? Mereka tidak mengikuti jejakmu ke rumah ini kan?” tanyaku penuh khawatir. Aku tidak mau sampai terlibat dalam masalah yang tidak aku pahami.

“Justru mereka sama sekali tidak merasa sebagai penjahat. Bagi mereka, apa yang dilakukan adalah perjuangan yang direstui Tuhan.”

“Aku tidak mengerti.”

“Ini memang teramat sulit untuk dimengerti.”

Ceritamu berlanjut. Pagi tadi, kamu sedang menikmati cappuccino di kafe hotel terbesar di utara kota ini. Tak ada firasat buruk sebelumnya. Tiba-tiba terdengar ledakan keras beserta guncangan dahsyat. Asap menumpuk melahirkan cendawan besar. Semua orang jatuh rebah ke tanah. Kaca-kaca gedung pecah. Segalanya menjadi berantakan lalu hening. Dua detik, tiga detik, dan pada detik selanjutnya mulai terdengar riuh jerit dan tangis kesakitan.

“Sekelilingku banyak korban, termasuk aku. Tentu saja, aku harus langsung pergi. Tidak boleh ada orang yang menyadari kehadiranku. Termasuk, kamera fotografer atau televisi. Tapi, karena sayapku robek, aku tidak bisa pergi jauh.”

Aku hanya diam mendengar ceritamu. Mencoba untuk memahaminya. Aku menatapmu. Kamu ternyata sudah menatapku terlebih dahulu. Aku menunduk. Tak kuasa melihat matamu yang mendadak menjelma gerhana matahari. Sesaat kurasa gelap. Mataku tak bisa menangkap cahaya.

Akhirnya, kubiarkan jemari tanganmu menggapai jemari tanganku. Membimbingnya pelan ke pipimu setelah sempat melewati belahan dada dan celah bibirmu yang berembun. Jemariku dan sekujur tubuhku bergetar. Pelan-pelan, kucium keningmu yang putih bersih dan dingin bagai bengkoang.

“Aku ngantuk. Sangat mengantuk,” kataku.

“Aku juga. Cepat cium aku. Buat aku terus terjaga,” sahutmu dengan panik.

Puluhan menit pun meluncur dengan cepat dan tahu-tahu hening. Hanya desah napas kacau yang terdengar sesekali. Di luar langit sudah sangat terang. Aku merasa telah melakukan pengkhianatan besar.

Nada panggil ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku agak kaget dan merasa bersalah setelah tahu itu panggilan dari istriku. Aku ambil ponselku yang kuletakkan di atas meja dan kembali duduk di bibir ranjang.

“Halo, Sayang. Ada apa?”

“Syukurlah, kamu ternyata masih di rumah. Aku benar-benar khawatir.”

Kudengar suara tangisan pelan. Dingin segera merambat cepat ke sekujur tubuhku. Hatiku serasa diiris-iris. Aku cemas sesuatu telah terjadi padanya di sana.

“Memangnya kenapa?”

“Kamu belum lihat berita TV?”

Aku terbatuk beberapa kali sebelum menjawab. Tenggorokanku mendadak serasa diserang kemarau. “Belum, seharian ini aku di rumah. Tidur. Sebenarnya siang ini aku berencana pergi ke kantor untuk menyerahkan laporan yang sudah selesai kukerjakan. Tapi, aku masih terlalu lelah.”

“Kamu harus bersyukur sayang. Ibu dan anak-anak barusan menelepon dari Batam. Kata mereka, ada bom berkekuatan besar barusan meledak di halaman depan gedung kantormu. Mereka lihat di TV. Semuanya berantakan dan banyak jatuh korban. Ini adalah bom kedua yang meledak di kota kita sejak tadi pagi. Yang pertama, di kafe hotel tempat kita menginap menyambut pergantian tahun. Untung kamu tidak ada di sana.”

Aku tertegun mendengar apa yang disampaikan istriku. Dalam sehari ada dua bom yang meledak. Salah satunya, di halaman gedung perkantoranku, tower berlantai 50. Jika tadi aku sudah berangkat ke kantor, mungkin saja aku ikut terdata di daftar nama korban. Tengkukku merinding. Berarti, peri bersayap yang sekarang bersamaku adalah korban dari ledakan bom yang pertama. Aku melirik ke kasur. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin dia sedang ke kamar mandi.

“Ibu dan anak-anak sangat khawatir dan sudah mencoba menghubungimu. Mungkin karena sedang tidur, kamu tidak dapat mendengar nada panggil di ponselmu. Kamu harus segera menelpon mereka setelah ini.”

“Iya, mereka pasti akan segera aku telepon.”

“Aku kangen kamu. Tadi aku bermimpi. Kita berhubungan. Begitu agresif, polos, dan meledak. Rasanya seperti malam pertama kita dulu. Anehnya kita melakukan itu di atas tubuh seekor kupu-kupu raksasa yang terbaring menutupi ranjang.”

Isi dadaku kembali berdetak tak karuan. Benar kata orang, kalau naluri perempuan memang sangat sensitif. Mereka tidak bisa dibohongi. Mereka selalu tahu, tetapi sering berlagak tidak tahu untuk menjaga perasaan kita, para laki-laki. “Kamu jangan aneh-aneh. Bersabarlah. Minggu depan kamu harus pulang ke tanah air. Kamu tidak lupa dengan hari ulang tahun Soka, kan?”

“Aku pasti pulang untuk Soka, Modya, ibu, dan tentunya kamu. Aku sudah kangen dengan harum tubuhmu. Tesisku juga sudah selesai dan sekarang sedang dipelajari lagi oleh dosenku. Tapi, aku tak mau di ranjang kita ada kupu-kupu raksasa.”

Istriku tertawa. Aku juga ikut tertawa. Aku tahu dia cuma bercanda. Aku maklum dia bermimpi. Tapi, aku sama sekali tidak sedang bermimpi. Benarkah? Untungnya, pembicaraan berakhir. Ponsel kututup. Aku segera menoleh ke belakang, tapi kamu tetap tidak ada. Yang kutemukan hanya beberapa helai bulu lembut berwarna biru yang menempel di bantal, guling, selimut, dan sprei lusuh. Pelan kuberbisik, terima kasih atas segalanya buat kamu yang namanya pun tak sempat aku tanyakan. Mudah-mudahan kamu cepat sembuh. Sekarang semuanya harus segera aku bersihkan, karena istriku akan pulang. ***


Priyo Handoko, mantan jurnalis (2006-2018), kini menjadi komisioner KPU Provinsi Kepulauan Riau, kampung halamannya. Karyanya tersebar di pelbagai media.


[1] Dikutip dari buku Jiwo J#ncuk karya Sujiwo Tejo.

Buku, Resensi

Cinta Melulu

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Seperti moral dan agama, cinta juga dapat dikatakan sebagai realitas abstrak. Bukannya tidak mungkin ditelaah dengan metode ilmiah yang memadahi, tapi sebagaimana dua hal yang tersebut di atas, seberapa pun ilmiah metode yang digunakan untuk menyingkap segala perkara soal cinta, ia tetap membutuhkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak mudah diterima logika berpikir manusia modern, tapi sekaligus juga tidak bisa lepas dari diri manusia itu sendiri.

Pola pikir manusia yang mengandalkan akal-rasio selama berabad-abad lamanya, serta peradaban manusia yang diwarnai oleh perilaku praktis-pragmatis, membuat sebagian manusia hanya mau tunduk pada hal-hal yang memiliki nilai guna dan tampak oleh mata (hlm. 3). Manusia modern berlomba-lomba menjadi manusia logis dalam menyikapi segala hal di kehidupan. Pergulatannya dengan logika membuat manusia perlu mengalami perubahan-perubahan sikap memandang-mengkritisi-mendobrak keyakinannya.

Cinta termasuk juga moral dan agama yang sejatinya terbenam di relung keyakinan acap kali menjadi objek yang dikritisi dan didobrak manusia. Manusia modern sangat mudah mematahkan tatanan moral dengan argumen-argumen logisnya. Ia juga berhak dan bahkan cenderung bebas menentukan sendiri pandangannya soal agama. Misalnya seorang theis yang rajin beribadah bisa saja di kemudian hari meninggalkan ibadah-ibadah wajib karena pelbagai alasan. Barangkali karena hal semacam itu tak logis menurut akal-rasionya atau karena alasan lainnya. Termasuk juga cinta, perkara ini kiranya mudah dipandang terbelakang di dunia modern saat ini.

Kendati demikian, seberapa pun manusia mencoba kabur dari hakikat cinta, moral, dan agama, ia tak akan bisa benar-benar berhasil melakukannya. Apakah manusia bisa hidup tanpa memercayai sesuatu, tidak mengikuti nilai tertentu, bebas dari perasaan suka dan tidak suka. Padahal semua itu sejatinya lebih dekat dengan apa yang dianggap terbelakang menurut akal-rasio manusia modern.

Mendefinisikan Cinta

Hari-hari kita tak absen dari seruan kata-kata yang terdengar sangar: humanisme, perubahan iklim, keberagamaan, feminisme, keberagaman, perdamaian, perang dagang, puritanisme, radikalisme, liberalisme, dan masih banyak lagi. Kata-kata itu penanda kehidupan yang sedang berlangsung. Dunia global mengalami masalah-masalah bertaut kemanusiaan misalnya kemelut perang saudara di Suriah, kamp muslim Uighur di Tiongkok yang diduga sebagai kamp pencucian otak, sekian penggusuran yang terjadi di Indonesia, ketidakadilan hukum, sikap represif pemerintah, dan lain-lain sebagainya.

Masalah-masalah pelik itu memang membutuhkan solusi rasional. Ratusan WNI terduga simpatisan ISIS di Suriah menyatakan keinginannya pulang ke Indonesia karena situasi di medan perang makin mencekam, media-media internasional gencar menyoroti kamp muslim Uighur untuk membuka mata publik internasional akan tipu daya Tiongkok, aktivis-akademisi mendampingi masyarakat terdampak penggusuran untuk memperoleh hak-haknya. Hal-hal yang demikian tampak sangat rasional, namun apakah upaya baik manusia untuk membantu manusia lain yang sedang dalam masalah semata-mata digerakkan oleh akal-rasio? Mudah bagi kita dengan menjawabannya tidak.

Manusia yang berani melawan ketidakadilan, bersikap jujur antar sesama, hormat terhadap alam semesta, tidak bisa dikatakan sebatas sebagai manusia yang rasional, tetapi juga penuh cinta. Pendapat ini rasanya perlu meminjam konsep cinta Erich Fromm. Menurutnya, cinta terdiri dari unsur care, responsibility, respect, dan knowledge (hlm, 20). Manusia-manusia yang demikian selain memiliki rasionalitas yang sehat, juga memiliki ketajaman perasaan sehingga mampu menangkap realitas secara jernih dan tepat dalam merefleksikannya.

Gibran melalui bukunya The Prophet mendefinisikan cinta dengan indah sekaligus rasional. Akal pertimbangan dan perasaan hati laksana kemudi dan layar dalam mengarungi bahtera jiwa. Jika satu layar atau kemudi itu patah, kau hanya bisa mengambang, terombang-ambing gelombang. Atau lumpuh tanpa daya, di tengah samudera. Sebab akal yang sendiri mengemudi, laksana tenaga yang menjebak diri. Sedang perasaan yang tidak terkendali, bagai api yang menghanguskan diri (1926, hlm. 59). Rasionalitas dan cinta itu sama-sama penting bagi keberlangsungan hidup kita baik sebagai personal, makhluk sosial, makhluk ciptaan Tuhan, penghuni dan penjaga bumi, warga negara dan dunia, dan peran-peran lainnya.

Karakter Cinta

Dalam buku yang bermuasal dari kekagumannya akan sosok dan karya-karya Kahlil Gibran, Fahruddin Faiz menyebut empat karakter utama cinta: kebebasan, keindahan, ketulusan, dan penyucian. Cinta tidak mungkin dikendalikan. Faiz bahkan menelaah karya-karya Gibran sangat anti terhadap segala hal yang membatasi atau malah mengendalikan cinta, entah itu budaya, aturan atau bahkan ajaran agama. Kita cerap sajak Gibran berikut ini. Saling bercintalah, namun jangan membuat belenggu dari cinta. Biarkan cinta seperti air yang lincah menjelajah di antara pantai dua jiwa.

Pribadi-pribadi yang saling mencintai bebas untuk mengekspresikan diri sebagaimana adanya, tanpa harus dituntut untuk merombak individualitas maupun eksistensi kediriannya. Cinta tidak menganjurkan pribadi-pribadi saling melebur, tetapi lebih kepada saling memahami dan mendukung. Perbedaan dalam menjalani laku cinta merupa kesempatan untuk saling memperkaya diri, saling mengisi, dan saling menghormati. Dari situ akan bisa dibuktikan, apakah seseorang sedang mencintai, memengaruhi, mendominasi, atau menggantungkan diri (hlm. 69-70).

Adalah juga sifat dasar alamiah manusia yang menyukai keindahan. Saat berjalan-jalan di taman, mata kita mudah tersirap oleh bunga-bunga bermekaran, tapi misalnya juga terganggu dengan sampah yang berceceran di taman itu. Di deretan toilet umum, ada kerelaan yang muncul begitu saja untuk menyisir toilet mana yang paling bersih di antara yang lain. Manusia tampak wajar ketika mendambakan segala sesuatu yang baik. Kalau kata Jonn Kets,  a thing of beauty is a joy forever. Keindahan dalam cinta agak berlainan. Betapa juga pahit dan sakit yang dialami seseorang dalam mencinta, cinta tetap meninggalkan keindahan kenangan bagi dirinya.

Di antara empat karakter cinta menurut Faiz, kiranya ketulusan yang agak berat bersinggungan dengan akal-rasio kita. Ketulusan dalam mencinta didefinisikan sebagai wujud cinta yang sempurna, yang memberi tetapi tidak mengharap imbalan sama sekali. Ketulusan dalam cinta dibuktikan dengan keteguhan sikap untuk tidak mundur atau melarikan diri saat dalam cinta yang diterima atau diberikannya ditemui kesulitan, kepahitan, dan lain sejenisnya (hlm, 77).


Rizka Nur Laily Muallifa, Pembaca tak tahan godaan. Menghidupi Kematian (2018) ialah kumpulan puisi yang ditulis bersama tiga kawannya. Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Suara Merdeka, detik.com, alif.id, basabasi.co, dan beberapa lainnya.