Dua Piring Satu Sendok
/I/
sejenak ketika itu, gadis.
betapa puisi ini sederhana
lantas bersabda:
tiada lagi cita rasa
yang hambar
di meja makan
dalam perjumpaan
antara dua piring
satu sendok
serta kau dan aku
kita mengingat kembali
sedikit menu
yang berasap di atas
piring-piring yang tanpa pisau
dan tanpa penutup,
asapnya mengepul
di atas ubun-ubun
persuaan dan perayaan
siapakah yang berpesta hari itu?
/II/
sejenak ketika itu, gadis.
betapa puisi ini sederhana
lantas bersabda:
sebagai suasana rikuh
kita hanya menyantap
seporsi puisi (hampir basi)
pada dua piring,
kita cincang baris per baris,
betis per betis dengan etis
hanya oleh satu sendok
kau yang pertama
melahapnya,
aku yang ke dua
merasakan betapa
kata-kata tidak
memberi perut kenyang
tetapi gadis,
tetapi ketika terakhir
kalinya aku melahap,
dua piring satu sendok
dengan seporsi puisi
ternyata cukup
sebagai alas
antara perkawinan
ludahmu dan lidahku
yang terhampar ambyar
di meja makan
/III/
sejenak ketika itu, gadis.
betapa puisi ini sederhana
lantas bersabda:
bahwa lusa nanti,
kita ada jadwal
makan malam
dengan menu puisi
biar suntuk semalaman
Cirebon, 2019
Menyusun Menu Sederhana
dalam perjamuan kepada roh
ada perapalan yang tak terbaca,
menguap di kaca-kaca rumah,
menyuap bayangan di lorong suwung
kenduri menyusun riwayatnya,
di sana tersedia menu mantra
yang tak berlauk-pauk. dan
kekosongan menciptakan rongga segar
tanpa isi, juga tak bermakna.
tidak ada lafal tartil,
tidak ada sahutan kata,
yang tersisa
tinggal nama-nama dan mantra.
Cirebon, 2019
Sesuap Puisi
pagi tidak pernah pamit,
ia selalu hadir kembali
sebagai bening sebutir embun
menyegarkan pundak pegal
dari kisah-kisah sesal
serta membisikan
perut yang keroncongan.
di beranda fajar,
aku sebagai nasi
yang dibungkus dengan puisi
dan aku terbuka sebagai
sarapan pagi tanpa
lalap daun kemangi, tanpa gulai,
juga tanpa secangkir teh poci.
hanya sesuap puisi.
Cirebon, 2019
Seteguk Air Tuba
jarak antara
kesepian dan keramaian
adalah dalih air tuba mereguk
dari segala yang suntuk
: kau berdendang dalam pinangan,
aku melarat di dasar kenangan.
Cirebon, 2019
Berdua: Secangkir Rasa Tawar
ada bias berkilauan di atas
secangkir air putih itu,
aku seperti merasuk tenggelam di dasar
kulihat di binar mata juga,
ada sungai Cisanggarung
mengalir bening serta dangkal,
di sana ada bebatuan
tidak bersusun meliuk-liuk
meninggalkan bekas
dari jejak Malin Kundang
pada secangkir air putih itu,
kukecap seperti laut yang tak asin
atau amis menjelma imaji
dengan ikan-ikan bersisik
berenang di pinggir bibir cangkir
kadang diam dengan recehan bahasa
menarik paksa bayang-bayang
supaya tidak ada pendar-pendar di air
sampai senja, hari ini: berdua
secangkir rasa tawar menawar manis
Cirebon, 2019
Menyaksikan Beranda Pagi
Secangkir teh dan aksara yang memudar
Jendela-jendela tamu membias
sejengkal batas
dan asbak kosong tanpa bekas puntung dan tembakau
Tumbuhan kecil di halaman merekah hijau
menyaksikan malaikat pendekar tengah
bernapas dengan sengau
Pintu depan terbuka lebar
: kedatangan tamu sajak
yang renta serta batuknya berdahak
Dari nun jauh di ujung cakrawala yang melangit
Pucuk-pucuk cemara menyampaikan
pesan-pesan euforia
Cirebon, 2019
Cita Rasa
Kau benar, cita rasa
dari setiap secangkir kopi
yang tersaji di meja dengan baik
tidak akan melarutkan aroma
manisnya, atau pahitnya semata.
Aku pernah bertanya,
mengapa bisa begitu?
Sebagai manis, kopi
akan memberimu
setakar rasa pahit.
Sebagai pahit, kopi
akan memberimu
setakar rasa manis,
katamu dengan baik
setelah meneguk kopi
entah setakar manisnya,
entah setakar pahitnya.
Cirebon, 2019
Secangkir Kopi
Kopimu pahit,
aromanya pekat
: Seperti nasib tersekat.
Asapnya mekar,
nuansa panasnya nanar
: Seperti luka memar.
Cangkirnya pedih
airnya mendidih
: Seperti reaksi raksa yang perih.
Cirebon, 2019
Pesawat Kertas
gadis kecil melayangkan
catatan hariannya
dengan pesawat kertas
menuju kilau cahayaNya:
seketika air mata menetes
sebutir demi sebutir.
gadis kecil itu
sama sekali tak memahami
ke mana ia mesti berkisah
perihal sepi yang bersarang
di bola mata hitam pekatnya.
dan harap berbalas
dari kilau cahayaNya:
ia memesan selaksa takdir.
Cirebon, 2019
Amplop Cokelat
lusa nanti, gadis
ada tukang pos
menuju alamat rumahmu
mengirim amplop cokelat
tapi di dalamnya hanya berisi
biodata dan lampiran lamaran
betapa hatimu demikian, bukan?
Cirebon,
2019

Muhamad Saef ad-Din Lahir di Cirebon, 27 November 1997. Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan. Pernah aktif menjadi Jurnalis Pelajar dan Dapur Sastra. Menulis cerpen, puisi, dan esai. Esai-esainya pernah jadi juara di berbagai lomba yang diselenggarakan oleh beberapa universitas. Buku debutannya ialah kumpulan puisi Eros dan Sayap-Sayap Patah (2019).
