cinta dan peluit
cintaku ditiuptiup peluit panjang
yang melengking
menggurui buntut kendaraan
terus, terus, op, balas kiri balas kanan, ya.
munculnya pun ketika aku hendak hengkang.
mengantar doa
dalam perjalanan yang menakutkan
kubuka sebuah kitab dan mulai membaca,
perintahnya aku disuruh terus berdoa
maka kututup kitab itu dan mulai berdoa
terusmenerus.
semakin lamanya aku berdoa,
semakin aku merasa tenang
bahkan tak terasa lagi apaapa,
segala ketakutan luntur dalam
kepalan tangan dan segala komatkamit
yang aku panjatkan dalam mata terpejam.
saat kubuka mata perjalanan sudah berakhir,
tidak terasa saja
kini aku sudah ada di surga.
bus gunung batu memuat rindu
nama bus itu gunung batu.
tujuannya mengantar penumpang ke arah yang tak tentu
sopirnya seorang ibuibu,
melajunya seperti peluru—cepat sekali
menembus hati yang penuh dengan pilu.
para penumpang tersedu-sedu
juga sekalikali terasa ngilu di setiap tikungan.
satu saja harapan para penumpang
yang naik bus gunung batu,
agar rindu yang dibawa
untuk menuju suatu tempat
selamat sampai tujuan
dan tidak lekas menjadi hantu.
dengan iringan doa dan nyanyian merdu
terpujilah seluruh rindu
yang melaju bersama bus gunung batu.
untuk perempuan
yang sudah membeku di pulau rindu
aku naik bus gunung batu
melewati jalan berliku
menuju pulau rindu.
menghabiskan waktu untuk
melatih diriku sendiri
untuk belajar mengungkapkan sebuah rasa
agar kelak, aku tak malu-malu
menyatakan rindu yang selama ini meninju-ninju
sunyi setiap malamku, pada perempuan
yang sudah membeku di pulau rindu itu.
sopir bus itu
dan cuaca tidak dapat didugaduga
hujan badai jatuh di setiap tikungan.
rindu mulai terancam,
akankah benar sampai, akankah benar tidak.
para penumpang sibuk sendiri
menunduk, mengingat tak menghiraukan
laju bus gunung batu yang mulai oleng menghalau badai.
petir meletusletus, jantung hampir putus
penumpang berseru saat bus ingin jungkir balik
akibat tikungan yang melengkung, yang ditambah hujan badai,
yang ditempuh pula dengan kecepatan penuh.
nyawa di ambang ngilu
sopir bus meyakinkan;
aku juga sedang membawa rindu.
jadi, jangan kau rasa ngilu milikmu lebih haru
sekali rindu tetap rindu,
meski badainya mengutukmu
rindu wajib bertamu!
pengamen itu
aku purapura tidur
saat pengamen itu memetik gitar
dan menarik suaranya dengan lantang
satu dua tiga lagu ia nyanyikan
orang-orang mulai risih
dan melemparnya dengan kulit kacang
satu lagu terakhir, katanya
mulai orang menutup telinga,
ada yang membuang muka
membuang badan, menghempas pantat,
memakai headset, dan purapura tidur sepertiku
seolah pengamen yang bernyanyi seperti radio
butut yang tak didengar.
aku hampir larut
sempat sejenak tak sadarkan diri.
aku tersentak.
aku mengintip,
pengamen itu sudah tidak ada
orang-orang juga sudah tidak ada
sopir bus tidak ada
tidak ada seorang pun di sini.
kesempatan. kubuka satu per satu
barangbarang yang tertinggal,
tas hitam, tas merah, tas kuning,
yang ditinggal pemiliknya
tapi semua tak ada isinya.
kubuka tasku sendiri, kampret!
kosong juga tak ada isinya, kampret! pengamen itu.
penjual tahu
dua ribu saja, teriak penjual tahu itu.
kulihat dengan pasti
isi dompet tinggal empat ribu.
penjual tahu tibatiba di sebelahku,
itu cukup untuk dua bungkus, mau?
kututup dompet dan membuang muka darinya.
ia duduk di sebelahku;
beli satu juga tidak masalah,
aku geram.
bagaimana, katanya pula sambil
disodorkan sebungkus tahu.
rahangku jadi keras
kepalan tangan sudah siap menghampas pukulan
lidahku tak goyang ingin mengutuknya,
berat sekali saat melihat matanya yang berbinar.
andai saja dia tahu
bahwa dulu aku juga menjual tahu,
matanya yang berbinar ini
adalah mataku yang dulu menjual tahu.
seklias aku melihat tubuhnya adalah tubuhku yang dulu.
sampeyan tahu, dulu aku juga dagang tahu, kataku.
lepas uang empat ribu
lepas juga laparku.
penjual tahu berterima kasih,
karena membeli tahunya
dia jadi tahu sekarang, bahwa aku
masih merindukan tahu.
tak ada bus yang berangkat
penumpang yang menunggu di halte lumpuh,
jalan bersih
bising kendaraan menghilang.
tukang tahu kesiangan
pengamen tak lagi bisa makan.
gitarnya kesepian. lambungnya kesakitan
tak lagi dimandikan tuak.
calo tiket bunuh diri.
spbu meledak
terminal jadi kuburan bus.
sopir mati di warung kopi
melihat uang bulanan tak cukup penuhi
perut anak istri.
telolet dimusnahkan
neneknenek berdansa di jalan raya
kakekkakek berjemur di aspal panas
hari itu
tak ada bus yang berangkat.
kenapa kita bertemu
malam jumat kita bertemu.
itupun tak disengaja.
kaustop bus yang menuju jogja
dan kustop bus menuju solo.
di klaten bus kita bertemu.
ban kanan bus yang kautumpangi meledak.
ban kiri bus yang kutumpangi meledak.
kita bertatap muka selagi sopir dan kernet itu
mengganti ban baru.
kautersenyum padaku, dan aku pun tersenyum padamu.
kuberanikan mendekati kamu. dan kamu beranikan pula
mendekati aku.
kausebut namamu, trisno, kusebut pula namaku, meli.
selesai sopir dan kernet mengganti ban baru.
kita samasama sepakat untuk tetap tinggal di sini.
kaubegitu lucu, begitupun aku.
rela meninggalkan tujuan untuk bertahan padamu
yang baru saja kenal.
malam itu kaupesan sebuah hotel.
menginaplah kita berdua sampai hari menjadi esok.
sampai esok menjadi lusa. sampai lusa menjadi pekan.
sampai pula kita dinikahkan.
saat ijab kabul, kau tersedak
dan merasa sangat malu.
kenapa, tanyaku.
maaf, katamu. aku tak bisa melanjutkan ini
aku tidak mencintaimu.
keputusanmu membuat aku gila.
di depan penghulu dan para saksi
kauberani mengungkapkan hal itu.
kau berlari keluar. kukejar kau seperti
film india.
aku tahu kau menyimpan air mata.
tapi kau sembunyikan dengan berbagai cara.
kauterus berlari menghindari aku.
hingga berhenti di klaten.
tempat dulu kita bertemu.
aku ingin mengulang semuanya dari sini, katamu.
aku ingin mengulang semuanya dari sini, katamu.
aku ingin mengulang semuanya dari sini, katamu lagi.
aku tidak mengerti kenapa kauberubah seperti ini.
dan aku tidak mengerti, kenapa tiba-tiba perutmu meledak.
persis ketika ban sebelah kiri bus yang kutumpangi dulu meledak.
satu bulan setelah kaumati
sopir dan kernet datang ke rumahku
maafkan kami. semua ini pesanan, kata mereka.
ban kiri dan kanan bus yang meledak adalah pesanan, lanjutnya.
aku tidak paham karena sudah jadi gila.
meski sopir dan kernet menjelaskan,
trisno ingin menyetubuhimu. tapi cinta tumbuh
di sana, ia lupa tujuan awal. ia jatuh cinta padamu.
kau ajak dia menikah. maafkan.
aku tidak paham. benarbenar tidak paham.
mataku dan hatimu
bunga melati tumbuh di mataku
ia akan mati jika tak memandangmu.
maka silih berganti musim
pelangipelangi tercipta dan kaukurung
dalam hatimu.
indahnya melatiku yang terjebak saat
memandang pelangimu.
siapa yang tahu
sebuah perahu lepas dari matamu.
cepat berlayar dan bawa aku pergi.
kaukemudikan perahu membelah ombakombak
biar terombangambing di tengah laut
tak ada lagi peduli menyoal itu.
cintaku terlanjur kautipu
benciku terlanjur kaubunuh.
tak ada lagi jalan menuju rumah
selain membelah lautan.
akan sampai di rumah kita, atau tuhan
siapa
yang tahu.

Beri Hanna lahir di Bangko, Jambi. Belajar di Kamar Kata Karanganyar. Saat ini tinggal di Surakarta. Berteater bersama Kelompokseseme & Tiliksarira. Karya teaternya antara lain: menulis & berperan – “Angur di Tangan Bapak Tercinta” (Forest Art Camp, Magelang), menulis & menyutradarai – “Pramesthi” (Arutala Fisikom UKSW, Hotel Laras Asri Salatiga), bermain teater by riset dengan judul “Dear Diary” (Festival Multatuli, Lebak Banten) Tiliksarira, “Puzzle Game” (Indonesia Corruption Watch, Jakarta.) Tiliksarira. Bermain monolog “Jangan Pergi Judi dan Pulang Dini Hari, Kalau Hasilnya Kalah Lagi!” (Tegal) Kelompokseseme, dan judul-judul lainnya. E-mail : [email protected]. Instagram : @berihanna_
