Katalog

Cerpen

Kisah Paman yang Disembunyikan

Cerpen Era Ari Astanto

Jika engkau ingin seperti Paman, itu wajar. Aku tahu engkau diam-diam membayangkan punya harta yang melimpah. Punya istri cantik dan baik. Apalagi dia memintamu mencari istri lagi setelah beberapa tahun belum juga dapat menumbuhkan keturunanmu di rahimnya. Lebih luar biasa lagi istrimu sendiri yang mencarikan istri kedua untukmu. Sangat langka terjadi, bukan? Jika demikian, engkau boleh merasa bahagia dan merasa menjadi lelaki paling beruntung. Apa yang engkau rasakan itu wajar belaka. Tapi aku tidak yakin kau merasa demikian, jika kau tahu kisah Paman yang dia sembunyikan.

Karir Paman di ibu kota memang gemilang, tapi tidak perihal jodoh. Begitu banyak wanita yang menolaknya. Entah karena apa tidak ada yang tahu persisnya. Padahal, wajah Paman tidak bisa disebut jelek walau juga tidak termasuk rupawan. Dia sering diolok-olok kawan-kawannya sebagai bujang lapuk lantaran usianya sudah berkepala empat.

“Mungkin karena kau hanya mencari wanita yang berparas biasa-biasa saja.” Kata seorang temannya suatu kali.

“Mungkin kau perlu mencari yang sangat cantik sekalian. Siapa tahu jodohmu malah yang cantik.” Kata teman yang lain sambil terkekeh, diikuti semua temannya.

Paman hanya nyengir, lalu ikut tertawa. Dia berpikir tidak perlu menanggapi serius olok-olok semacam itu.

“Lho, siapa tahu kan?” Tegas salah seorang temannya lagi.

“Sebaiknya dicoba. Masak takut. Kan sudah terlatih ditolak.”

Tawa teman-temannya meledak. Lagi-lagi Paman ikut tertawa.

“Aku ada saran. Mungkin Niki, yang karyawan baru itu, bisa kau dekati. Agak tomboi sih, tapi kupikir itu bukan soal.”

“Benar itu. Dia sangat cantik dan lumayan kalem lho, meski tomboi. Andai aku belum punya tiga anak, sudah kudekati dia.”

“Terlalu cantik dan muda buatku,” jawab Paman sambil tertawa. Dia tahu usia Niki belum menyentuh angka dua tujuh.

“Didekati saja dulu.”

“Atau harus kami comblangin?”

“Tidak perlu. Biar aku dekati sendiri.” Kata Paman dengan sok jantan.

“Oke. Kami tunggu kabar apa pun darimu.” Nadanya terkesan meragukan kesungguhan Paman.

Kali ini Paman tidak ingin diremehkan. Dia menunjukkan keberaniannya kepada teman-temannya dengan mendekati Niki, meski tidak berharap akan diterima. Justru dengan begitu dia bisa berbincang dan bercanda dengan sangat santai. Di mata teman-temannya sikap Paman sungguh tidak seperti saat mendekati wanita-wanita sebelumnya. Tapi, mereka bersikap biasa-biasa saja saat memergoki Paman berbincang dengan Niki.

Seiiring waktu, Paman dan Niki tampak semakin akrab dan lekat. Paman bisa merasakan kedekatan itu, meski tidak yakin diterima. Walau begitu, dia tetap mengatakan keinginannya memperistri Niki, saat makan malam bersamanya. Paman yang sudah bersiap mendengar kata-kata penolakan menjadi terkejut saat Niki mengatakan bersedia, meski dengan syarat.

“Apa itu?”

“Aku harus minta pendapat temanku dulu. Apa jawabannya, itulah keputusanku.”

“Boleh. Tapi, kenapa bukan meminta pendapat orang tuamu saja?”

“Tidak. Aku merasa temanku itu lebih memahami siapa aku.”

“Baiklah. Berapa lama aku harus menunggu?”

“Dua atau tiga hari. Bagaimana?”

“Aku akan menunggu dengan tenang. Cepat waktu segitu.”

Niki tersenyum. Sesungging senyum yang teramat manis di mata Paman.

***

“Aku berhasil, Kawan.” Paman berkata dengan wajah berseri kepada kawan-kawannya, saat mereka berkumpul di sebuah kafe.

“Kau yakin?” Nada kawan di samping kirinya seolah tak percaya.

“Tentu saja. Kami akan menikah satu bulan lagi.”

Tak bisa dipungkiri, kawan-kawannya kini memandang tak percaya.

“Aku sungguh-sungguh,” Paman berusaha meyakinkan mereka.

Sesaat kemudian mereka memberi ucapan selamat dan menyalami Paman, seperti baru saja memenangkan kuis berhadiah mobil mewah. Tapi, wajah mereka tak bisa menyembunyikan rasa masih tidak percaya. “Kami tunggu undangan resminya.” Kata salah satu dari mereka. “Tentu. Pasti itu.” Kata Paman dengan wajah tetatp berseri dan nada suara bersemangat.

***

Paman akhirnya berhasil menanggalkan predikat bujang lapuk. Teman-temannya pun ikut berbahagia dengan keberhasilan itu. Mereka memeluk erat Paman di acara pesta pernikahannya. Wajah mereka berhias senyum ceria saat memberikan ucapan selamat kepada Paman. Senyum Paman pun seperti tak pernah terjeda barang sejenak di hari bersejarah itu. Ini memang peristiwa indah yang tak akan mungkin dia lupakan. Aku sudah tidak akan lagi disebut sebagai perjaka tua, pikirnya.

Hari-hari selanjutnya menjadi saat-saat indah bagi Paman.

Kenapa dulu aku ketakutan mendekati wanita cantik, jika jodohku ternyata memang yang cantik? Walau dia tidak bisa memasak, tapi itu bukan masalah bagiku. Yang penting dia sangat menyenangkan saat di kamar. Dan lebih penting lagi, dia penyabar dan pengertian.

Begitulah pikir Paman saat merenungkan dirinya dan Niki.

Sampai suatu hari, Paman mengerutkan dahi, bertanya-tanya dalam hati saat melihat Niki tampak gelisah. “Ada masalah apa, Sayang? Wajahmu tampak gelisah.”

“Aku takut mengatakannya. Takut Mas marah.”

“Asal tidak mengatakan telah menyesal menikah denganku, aku tidak akan marah. Katakan saja.”

“Tentu aku tidak menyesal menjadi istrimu, Mas. Hanya saja aku merasa berhutang budi kepada Cici.”

“Hutang budi soal apa memangnya? Selekasnya kita balas kebaikannya.”

“Mas ingat soal aku harus minta pendapat temanku waktu kamu bilang ingin menikahiku?”

“Iya. Masih. Lalu?”

“Aku ingin membalas pemikirannya itu dengan memberikan sesuatu kepadanya. Apakah Mas setuju?”

Paman berpikir sejenak. “Boleh. Tanpa dia mungkin kita tidak jadi menikah. Kamu ingin memberikan apa kepadanya?”

“Mungkin sepeda motor. Atau Ponsel yang bagus. Atau apalah. Yang penting pantas.”

Paman tertawa mendengar perkataan Niki. “Boleh. Itu gampang. Besok kita belikan sepeda motor.”

“Sungguh?” Niki nyaris tak percaya dengan jawaban Paman.

“He-em,” jawab Paman tegas. Anggukan kepalanya pun terlihat mantap.

Niki tersenyum ceria dan segera memeluk serta mencium Paman berulang kali.

***

Tiga tahun berlalu terhitung sejak acara pesta pernikahan itu. Niki belum juga bisa hamil. Sebagai lelaki yang sudah berumur sangat matang, tentu dia memikirkan tentang keturunan. Dia berpikir, jangan sampai saat lanjut usia dia baru punya bayi. Itu sangat merepotkan. Gelagat kegelisahan itu tertangkap Niki. Berkali-kali dia minta maaf karena hal itu, walaupun kata dokter mereka berdua tidak punya masalah pada kesuburan.

“Kamu tidak salah, Sayang. Mungkin akulah yang sudah terlalu berumur.”

“Tidak, Mas. Umur lelaki tidak menjadi penghalang untuk membuahi. Apalagi punyamu sangat bagus. Aku jadi merasa bersalah padamu, Mas.”

Paman membelai Niki dengan lembut, lalu perlahan menarik kepala Niki bersandar di dadanya. “Kamu tidak salah, Sayang. Mungkin belum waktunya saja.”

“Bagaimana kalau Mas menikah lagi saja? Tapi, aku yang mencarikan.” Niki berkata dengan hati-hati. “Aku rela kamu menikah lagi, Mas.”

Paman terkejut dengan perkataan istrinya. Tepatnya karena tidak percaya. Sudah mengizinkan untuk menikah lagi, dan masih mau mencarikan pula. Nalurinya ingin segera punya keturunan tertarik dengan tawaran istrinya itu. Tapi, dia menahan diri dengan mengatakan “tidak”. Namun, Niki bersikeras akan mencarikan Paman istri lagi. Melihat keteguhan istrinya itu, Paman menyerah. “Baiklah jika kamu benar-benar rela dan mau mencarikan untukku, Sayang.”

Niki tersenyum. Wajahnya kembali cerah. “Terima kasih, Mas. Akan aku ingat-ingat siapa di antara teman-temanku yang belum menikah dan sekiranya cocok untukmu, untuk kita. Dan yang penting mau satu atap denganku.”

“Terima kasih, Sayang. Kamu baik sekali. Beruntungnya aku punya istri sepertimu.”

Beberapa pekan kemudian Niki mengajukan sebuah nama kepada Paman. “Aku sudah mengatakan semua duduk perkaranya kepada Cici, Mas. Dia dengan senang hati mau menikah denganmu.”

“Jika kamu yakin dia akan baik kepadamu, aku setuju saja.”

***

Pada tahun baru sebelum pandemi covid-19 menyerang, Paman pulang beserta kedua istrinya. Memperkenalkan Cici kepada saudara-saudara di kampung. Semua saudaranya tentu terkejut dan takjub mendengar cerita tentang kebaikan Niki. Di antara saudara-sudaranya tentu ada yang iri dengan keberuntungan Paman. Aku tahu irinya mereka itu hanya karena Paman punya dua istri yang rukun. Tapi, apakah mereka merasakan apa yang kurasa? Mereka berdua terlalu rukun bagiku. Itu ganjil menurutku. Ah, mungkin itu hanya karena aku belum pernah melihat ada yang lebih rukun atau setidaknya sama rukunnya seperti Niki dan Cici. Aku segera menepis prasangkaku.

Keganjilan yang kurasakan saat tahun baru sebelum pandemi terjawab setelah pandemi mereda dan Paman bisa pulang lagi ke kampung halaman, tapi sendirian. Paman bercerita kepadaku, dan mengakunya hanya kepadaku. Suatu hari dia merasa tidak enak badan sehingga memutuskan pulang lebih awal dari kantor tempatnya bekerja. Dia mendapati rumah sangat lengang, sementara pintu depan tidak dikunci. Dia langsung masuk tanpa menaruh curiga apa pun, mengira kedua istrinya sedang tidur. Agar tidak mengganggu, dia berusaha melangkah tanpa menimbulkan berisik, menuju kamar Niki. Pintu kamar itu tampak terbuka beberapa inci. Perlahan dia mendorongnya tanpa menimbulkan suara. Matanya seketika terbelalak saat melihat dua wanita bergumul di atas ranjang tanpa penutup tubuh apa pun.

Paman ingin berteriak, tapi yang terjadi justru mulutnya tertutup rapat. Dengan tubuh gemetar dia merogoh ponsel di sakunya. Mengambil video secukupnya. Lantas, perlahan berbalik dan melangkah ke ruang depan. Menjatuhkan diri di atas sofa dengan tubuh masih gemetar menahan kekecewaan yang menjelma amarah.***


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Puisi

Puisi Gandang Kandirido

Epifani

kesunyian datang

meringkus keterasingan

menyergap kebisuan

seiring gelap malam.

tubuh ini ringkih

berjalan makin tertatih

menangkap sosok di retak cermin

sorot matanya kulihat letih.

kekosongan pada akhirnya

menemukan jalan pulangnya sendiri

sekalipun sebatas tafsir ulang

dari sejarah yang sengaja dibenam kedalam

sajak-sajak gagak hitam.

epifani! epifani!

aku ingatkan selalu padamu

untuk jangan mati terlalu dini!

sebab mimpi-mimpi kini lupa

merangkai dirinya sendiri.

(2022)


Sepenggal Ingatan di Hari Lain

Di hari lain terkadang aku

masih ingat akanmu

kadang-kadang tak utuh

kadang-kala cuma

selintas bayangan

yang mengabur dan

samar

seperti adegan ganjil

dalam sebuah film bisu

tak bersuara.

(2023)


Semesta Kepalamu

Setelah hujan barangkali

Segala hal yang keluar dari mulutku

Akan dipenuhi huruf-huruf

dengan sayap Icarus

Sebelum nantinya terbang rendah

Mengitari semesta kepalamu

Dan bermukim di dalam sana

Sepanjang musim berganti.

(2023)


Diam Segala Ucap

bukan pulangmu yang buatku sekarat

tapi sepimulah yang datang

begitu rambat

lalu dari dalam sunyi gelap

diam-diam menyelinap

segala ucap

entah jadi ratap

entah jadi senyap

entah jadi apa-apa yang mungkin

akan mengendap.

(2022)


Pada Sebuah Pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita tak lagi duduk bercerita

Sambil rasakan ombak kecil menerpa

Pukuli kedua telapak kaki

Pada sebuah pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita tak lagi bicara apa-apa

Sekalipun cuma bertukar sapa

Apalagi berbincang tentang suatu masa

Yang lewat dan yang akan tiba

Pada sebuah pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita saling berjalan menjauh

Dan tak mungkin menoleh lagi.

(2022)


Pada Beku Wajahnya Aku Menemukan Tebing

Curam

Terjal

Menganga

Jalan menujunya

Nyaris

Sepi tak habis

Habis.

(2022)


Aku Katakan Kepadamu Seperti Apa Sepi yang Membunuh Itu

Mula-mulanya ia merangkulmu

Seperti kawan lama

Bertandang ke rumah

Bertamu tanpa memberimu

Kabar lebih dulu

Kemudian ia mendekapmu

Seperti seorang kekasih

Dimana dari wajahnya kau yakin

Dialah satunya-satunya orang

Yang akan kau lihat

Setiap pagi

Setiap kau bangun

Dari tempat tidurmu

Lalu entah oleh apa

Seperti bayangan

Ia menyelinap

Mengendap-endap

Pergi ke dalam

Mengambil pisau dan

Menikammu saat lengah

Setelah tersadar

Kau cium gelagat janggal

Dari sebuah kedatangan.

Solo, 2022


Pada Apa-Apa yang Mungkin

Kini kita hanya bisa bersandar pada apa-apa yang mungkin

Hanya bisa bersandar pada apa-apa yang terlihat mustahil

Maka untuk semua waktu yang pernah nyaris itu

Sesekali jenguklah ruangan yang membeku kini

Fragmen fragmen yang tak lagi membicarakan percakapan–percakapan kecil

Percakapan sederhana

Kalaupun harus dipecah, pecahlah

menjadi bagian-bagian kecil

Bahkan jika harus menyelam, selamilah

Sekalipun harus ke jurang paling dasar

Paling dalam

Paling sukar

Dan tak terbahasakan

Oleh kata-kata.

Solo, 2022


Lautan Ini Kembali Tenang

langit menghangat

sore menguning

cahaya keemasan tak lagi

merah membakar pucat

wajah seseorang

Lautan ini kembali tenang

meski deru-debur ombak itu

pernah menggulung tubuhnya

sampai tenggelam

di kegelapan paling dasar.

Lautan ini kembali tenang

Tiada lagi gemuruh badai itu

yang sempat hantam-karamkan

seluruh kehidupan

di kedua matanya yang redup.

(2022)


Gandang Kandirido, lelaki insomnia. Berdomisili di kota kelahiran, Surakarta, Jawa Tengah. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi.

Cerpen

Kisah Tanpa Kata Depan

Cerpen Dewanto Amin Sadono

Siksaan itu datang ketika orang yang menyebalkan ini terus mengumbar suaranya. Delapan jam lebih omongannya menghantam utara, menabrak selatan, menendang barat daya sebelum kemudian berbalik arah dan akhirnya tersesat. Saya gagal mencari cara menutup mulutnya; terpaksa membiarkan telinga ini panas sekali. Bahkan hampir melepuh.

“Turun mana, Mas?” tanya orang ini setelah lima belas menit sebelumnya riuh menceritakan kesaktian keris-keris dagangannya. Namanya Agung, rambutnya gondrong, biasa bolak-balik Solo-Jakarta, dan pedagang barang pusaka. Langganannya para pejabat. Istrinya kurus langsing. Wajahnya biasa-biasa saja.

Saya sebutkan nama sebuah desa yang kini dibelah jalan tol. Kabar yang saya dengar, sungai tempat kami dulu biasa mandi itu telah dikangkangi jalan layang. Pohon asam raksasa itu juga sudah ditebang. Dua puluh tahun sudah tanah kelahiran yang dulunya dipenuhi para begundal itu tidak saya injak. Saya pergi seminggu sebelum bapak meninggal dunia dan tak bisa menghadiri pemakamannya. Sejak itu belum pernah pulang lagi.

Teman-teman seangkatan saya telah pergi satu per satu. Ada yang merantau. Ada pula yang mati mengenaskan. Sebagian peristiwa maut itu saya saksikan sendiri.  Ketika ingin membeli tambahan minuman keras, Agus, Santo, dan Rudi tewas ditabrak bus dan tak bisa merayakan Lebaran esok harinya.

Tubuh mereka berantakan dan berserakan. Darah menggenangi aspal. Motor yang mereka naiki ringsek. Mengganjal roda belakang sebelah kiri bus. Lima bulan kemudian Joko Pendek overdosis. Panggung acara tujuh belasan itu saksi bisu ketika drumer amatir itu ambruk meskipun lagu “Semut Hitam” punya Gong 2000 itu belum mencapai refreinnya. Stik drum itu masih digenggamnya.

“Aku kenal orang-orang situ. Brengsek semua!” ucap Agung tiba-tiba. “Endar sudah mati, kan?”

Saya tersenyum dan tak membantah. Endar teman akrab saya dan memang liar. Hotel itu bersebut gardu ronda dan bau kencing. Setelah seharian pesta minuman keras, Endar tidur ditemani pacarnya. Yang Endar dan pacarnya lakukan malam itu adalah rumor. Namun, peristiwa pagi harinya adalah fakta. Azan Subuh bergema. Pacarnya minta diantar pulang. Berjalan sempoyongan, disusurinya jalan beton itu; sekitar lima ratus meter. Endar pinjam mobil bapaknya, tapi tidak diperbolehkan. Segera saja ditendang-tendangnya pintu garasi itu.

Si kakak perempuan meredakan suasana. Menyuruh Endar memakai mobilnya. Barangkali agar si Endar lebih berhati-hati ketika nanti mengemudi, bukan hanya mobil barunya yang diberikan si kakak yang sedang mudik lebaran itu, tapi juga dua anak perempuannya yang sudah bersiap-siap pergi Salat Id. Dua bocah berumur sepuluh dan delapan tahun itu cantik sekali. Juga wangi. Mereka berpakaian serba putih seperti sepasang bidadari.

Seolah-olah jalan raya Solo-Semarang itu milik moyangnya, Endar menggunakan dua jalur sekaligus. Termasuk yang berlawanan arah. Bus malam penuh penumpang itu pun dihantamnya.  Setelah dua kali jungkir balik, sedan biru metalik itu melompati jalur lambat, menghantam pohon waru, lalu menimpa warung. Endar dan dua keponakannya tewas seketika. Tubuh mereka ringsek. Aneh, tapi nyata, si pacar selamat. Lehernya hanya tergores kaca.

Endar dan dua ponakannya dikuburkan setelah salat Id. Seakan-akan ikut berduka, langit tiba-tiba mendung, lalu hujan turun cukup deras tak lama sesudahnya. Tanah kuburan basah. Pohon-pohon kamboja menggugurkan kembangnya. Tiga jenazah itu dikebumikan bersebelahan. Bergiliran. Jenazah dua bocah perempuan itu sudah ditimbun tanah. Doa-doa telah dipanjatkan. Orang-orang menangis. Bapak-ibunya hampir pingsan.

Berikutnya, giliran Endar. Begitu pocong yang bermandikan darah itu menyentuh tanah, petir menggelegar keras sekali. Tiga kali saja. Setelah itu sepi. Seisi kompleks pemakaman pucat pasi. Semua terdiam seperti kawanan anjing tanah terinjak kaki. Bayangan malaikat penjaga kubur yang lagi mengayun-ayunkan cemeti besi itu membius mereka.

Arwah Endar lalu menghantui saya. Paling tidak seperti itu perasaan saya. Bau semacam bunga melati tercium sangat tajam ketika saya melewati pos ronda tempat kami biasa berkumpul. Bulu kuduk ini langsung berdiri. Saya pun segera berlari secepat-cepatnya. Pulang. Tidak jadi beli rokok.

Bukan hanya itu saja. Saya juga merasa ada yang mengetuk-ngetuk jendela kamar. Memanggil-manggil. Suara yang sangat mirip suara Endar itu menerobos lubang ventilasi, memutari dinding kamar, dan tak mau pergi. Bocah gila berumur seperempat abad ini pun lalu menjadi seperti bayi lagi. Gegas menyusul ibunya. Minta dikeloni.

Saya baru berani keluyuran lagi, juga tidur sendiri, setelah ibu meninggal dunia. Tepat empat puluh hari sejak kematian Endar dan dua keponakannya itu. Saya yakin Endar tidak berani  menghantui karena saya dijaga ibu. Endar selalu mencium tangan ibu ketika mereka bertemu. Walaupun sudah meninggal, harapan saya, Endar tidak lupa kebiasaan baik itu.

Mobil memasuki Brebes. Kecepatannya cukup tinggi. Undangan pernikahan keponakan itu tidak bisa saya tolak. Ketika dulu meninggalkan rumah, kakaklah yang membelikannya karcis kereta. Saya pilih naik travel. Tidak harus tes antigen dan sebagainya. Cukup pakai masker. Namun, kepraktisan itu ternyata ada imbalannya. Termasuk saya, sebenarnya penumpang travel hanya tiga orang. Namun, suara Agung yang gegap gempita itu telah memberi kesan seakan-akan penumpangnya sangat penuh.

Saya sudah hampir tertidur ketika pertanyaan Agung ini tiba-tiba datang mengusik.

“Bagaimana kabar Kerek? Sepertinya dia tak pernah pulang.”

Saya mengerutkan kening, lalu melirik si penanya yang sangat menjengkelkan itu. Masker hitam yang melorot itu segera saya benahi. Nama itu sangat menarik perhatian saya. Kerek adalah bahasa Jawa yang artinya pemungut sisa-sisa hasil panen. Konsonan belakang dibaca seperti kata “korek”.  Saya tak ingat kapan julukan itu lahir. Juga alasannya.

“Aku pernah dipukuli Kerek. Coba saja waktu itu Kerek tidak bersama anak-anak kompleks AURI. Pasti sudah kuhajar. Mukanya kupermak,” kata Agung lagi.

Agung lalu menceritakan jalannya pemukulan itu. Suaranya riuh rendah. Sepertinya tak peduli nantinya bakal mengganggu tidur istrinya. Dia ingin memberi kesan dialah jagoannya. Dipukuli, tetapi baik-baik saja. Wajahnya yang porak poranda itu tidak diceritakannya. Juga ketika dilemparkan, mencium selokan, lalu diinjak-injak.

Sepertinya Agung sangat kenal Kerek. Hafal kejahatan-kejahatan yang dulu dilakukan Kerek. Merampok bensin pom bensin. Memukuli sopir bus yang ugal-ugalan menjalankan busnya. Menghajar wasit yang curang ketika memimpin pertandingan bola, dan masih banyak lagi. Bahkan, Agung tahu sejarah diusirnya Kerek.

“Mungkin saking malunya punya anak yang nakalnya seperti setan,” kata Agung.

Saya tersenyum masam dan ingat betul peristiwa malam itu. Si bapak memanggil Kerek. Berucap tanpa kemarahan. Tak ada intonasi yang meninggi. Wajah si bapak terlihat teduh. Meskipun demikian, matanya tampak basah dan titik-titik air mata menggenangi kedua sudutnya. Kerek, preman kampung yang ketenaran nama premannya melebihi nama aslinya itu pun tak berkutik. Kepalanya menunduk.

“Bapak tidak perlu  malu lagi,” ucapnya lirih. “Besok saya pergi.”

Mobil SUV memasuki Bawen lalu berhenti. Rumah makan itu tak terlalu ramai. Saya tidak lapar. Hanya memesan kopi, lalu duduk menghadap pemain organ tunggal. Menikmati lagu Didi Kempot. Saya tak ingin mencari tahu posisi Agung dan istrinya. Sementara itu, si sopir travel sedang makan bersama sopir-sopir lainnya.

Satu jam kemudian perjalanan dilanjutkan. Jalan tol ramai-lancar. Lampu-lampu mobil mulai dinyalakan. Cahayanya berseliweran. Berebut menembusi pori-pori udara. Tanah kelahiran saya masih lima puluh kilometer lagi. Sabuk pengaman saya pasang. Mencoba tidur. Namun, baru juga mulai memejamkan mata, suara bising nan cempreng ini mengganggu lagi.

“Sebenarnya Kerek itu pengecut. Beraninya main keroyokan. Temanku pernah menantang single. Kerek ngeper. Pilih ngumpet,”  kata Agung.

Saya tersenyum kecut tanpa memberikan tanggapan, lalu menguap. Masker hitam yang kembali melorot itu saya betulkan. Kerek punya banyak tato, kata Agung lagi.  Tak ada yang bagus. Gambar naganya mirip cacing. Jelek sekali. Agung lalu tertawa.

Masih banyak lagi cerita Agung yang bertemakan si Kerek. Namun saya tak ingin menanggapi. Lebih sering menguap. Namun, ketika tiba-tiba Agung menyebut-nyebut nama Erna, kantuk saya seketika hilang.

“Erna jadi pacar Kerek karena kena guna-guna. Semua tahu itu. Kalau mainnya wajar, tak mungkin Erna mau,” kata Agung sangat yakin.

Saya menegakkan punggung. Memijat-mijat kedua kelopak mata. Mencoba mengusir bayangan yang tiba-tiba hadir itu, tapi gagal. Erna anak guru SD. Ketika cinta Kerek dan Erna sedang tumbuh dan semekar bunga mawar, hubungan mereka diketahui orang tua Erna.  Si bapak guru itu mengancam akan mengusir Erna jika tetap menjalin hubungan dengan Kerek. Namun, Erna bergeming.

Erna tetap mengirim surat seminggu sekali. Kerek kadang membalasnya walaupun seringnya tidak. Suatu hari surat berisikan kata-kata cinta yang akan dikirimkan Erna itu kena sita. Bapaknya sangat marah lalu memaksa Erna menjalani perkawinan ala Siti Nurbaya. Erna pun minggat. Tujuannya Jakarta. Tempat Kerek sedang berada. Namun, Kerek justru mengusirnya.

“Pulanglah! Patuhi orang tuamu!” ucapnya.

Erna menunjukkan sifat keras kepalanya. Bersikukuh menentang kehendak orang tuanya. Sampai akhirnya Kerek mengatakan sudah tidak mencintai Erna lagi. Sudah punya pacar baru, katanya. Bahkan, foto perempuan entah siapa itu dia tunjukkan. Erna menangis; tak percaya. Saat itu juga Erna meninggalkan kamar kontrakan Kerek. Itu setelah memeluk, lalu mencium pipi Kerek. Masih menangis dan masih tak percaya.

Dua bulan berikutnya Erna dinikahi laki-laki pilihan orang tuanya dan meninggal dunia setahun kemudian—juga bayinya—setelah mengalami pendarahan sangat hebat saat melahirkan. Kerek menangis mendengar kabar kematian itu. Menangisi kisah cinta mereka yang pupus. Menyesali pengorbanannya yang sia-sia. Walaupun percintaan mereka telah direnggut paksa, kebahagiaan Erna-lah yang paling utama. Menurut pengalamannya, anak yang menentang orang tuanya, nasibnya akan celaka. Kerek tak ingin hal itu menimpa Erna.

Harapan Kerek, nantinya perjalanan hidup Erna serupa kumpulan kalimat, paragraf, dan bab yang membentuk sebuah buku. Dengan akhir yang indah pastinya. Sementara itu, seperti halnya kata depan, dirinya tidaklah sangat penting. Bisa dihilangkan semau-maunya tanpa mengubah makna kalimat. Bahkan isi sebuah teks.

Namun, siapa yang menyangka kehidupan Erna ternyata langsung tamat begitu memasuki bab kedua.  Kematian sang kekasih hati itulah yang telah mengubah cara Kerek memandang kehidupan. Hidup dan kehidupan ini ternyata bukan perhitungan matematika yang serba pasti dan tak terbantahkan.

Mobil melewati perbatasan Kota Solo. Sebentar lagi rumah kelahiran itu kelihatan. Rumah saya.  Jaket saya kancingkan. Topi yang sedikit  miring itu saya luruskan. Tak lupa, membenahi letak masker yang terus-terusan melorot.  Mobil berhenti. Saya turun. Melewati Agung tanpa menyapa. Saya masih menahan kegeraman ini. Terutama perihal si Erna yang katanya dipelet Kerek. Itu jelas-jelas fitnah yang sungguh keji dan mungkar. Coba saja saya tidak sangat lelah dan ngantuk. Sibanyak bacot itu pasti sudah saya injak-injak perutnya. Pukuli wajahnya. Tendangi mulutnya. Lagi.***

Kajen, 21 Februari 2022


Dewanto Amin Sadono, guru dan penulis. Beberapa karyanya memenangkan lomba dan dimuat di media masa cetak dan online. Novel Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit, menjadi Juara I, Perpusnas Writingthon Festivaal. Oktober 2022.

Puisi

Puisi Daruz Armedian

Mungkin Ada

& Mungkin Tak Ada

mungkin ada,

seseorang

duduk di bawah

pohon purba.

matanya menatap kota

yang jauh—

dan meski jauh,

tetap terasa panas,

bau, pengap, sesak

& membosankan.

matanya menatap

kerumunan manusia

            yang jauh—

            dan meski jauh,

            tetap terasa berisik,

            jahat, licik, ambisius,

            penuh dendam

            & sangat menyedihkan.

tapi mungkin juga

tak ada

siapa pun

di sana.

tak ada kota,

tak ada manusia.

angin ketiadaan

berembus dengan percuma.

2022


Perbincangan Tengah Malam

dengan caranya

yang aneh,

sunyi meledak.

serpihnya berserak,

& semesta dimulai.

kekosongan berserakan,

di serpih yang satu,

juga di serpih

yang lain.

apa tak ada

sedikit pun angin?

tanyamu

mencari celah

pada yang mungkin.

dari arah yang jauh,

s  a  n  g  a  t   j  a  u  h ,

bertahun kemudian,

angin bergemuruh.

menyentuh serpihan itu,

menjadikannya basah,

&

kehidupan

dimulai.

cuma di bumi maksudmu?

kau tak memberi waktu.

       tak memberi jeda,

untuk persoalan

selanjutnya.

apa tak ada kehidupan

di planet lain?

di bintang-bintang,

& sejumlah tempat

dari kesunyian?

mungkin ada. mungkin tak ada.

hidup selalu soal menduga-duga.

lalu makhluk hidup yang naif,

dengan keterbatasan

pikirannya,

memberi nama-nama;

ini pohon,        ini gunung,

ini danau,        ini bunga.

itu sungai,        itu laut,

itu teluk,          itu muara.

kau membuka jendela.

biar angin masuk, katamu.

tapi di luar tak ada apa-apa.

udara akhir-akhir ini,

jarang sejuk

meski dini hari.

lalu makhluk hidup yang naif,

dengan keterbatasan

pikirannya,

memberi ruang tumbuh

untuk kehancuran,       kebisingan,

kegaduhan,                  kesemrawutan,

kerusuhan,                   polusi udara

dan lain sebagainya.

kau mengambil sebatang

rokok, dan membakarnya.

mari kita akhiri perbincangan ini.

istirahat.

lalu terjaga.

lalu bekerja.

orang miskin

seperti kita

tak punya banyak waktu

untuk membicarakan semesta.

2022


Cara Terbaik Membuka Mata

Setelah Kehilanganmu

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah waktu pelan-pelan jadi gerbong kereta,

membawamu ke arah yang tak ada aku di sana.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah bertahun-tahun sebelumnya, aku terjaga

dalam keadaan jatuh cinta.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah aku paham kau melambaikan tangan,

yang bukan untuk sapaan.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu.

cara yang sama sekali belum pernah kupelajari,

sebelum kau memilih pergi.

2021


Aku Bermimpi

aku bermimpi

menjadi bayi

yang menangis

karena paham

tangannya tidak

menggenggam

apa pun

kecuali

ketiadaan.


Desember Pada Sebuah Elegi Dini Hari

desember mengubah malam

            menjadi bahasa yang

            tak mudah dikatakan.

orang-orang tampak lebih

            murung dan segalanya

            yang mereka genggam

            hanyalah kekosongan.

orang-orang merencanakan

            sesuatu untuk hari depan

yang mereka sudah tahu

            itu adalah kegagalan,

            atau sekumpulan kemustahilan.

malam jadi tambah kosong,

            langit padam & hujan

            jatuh sebagai gesekan biola

            pada lagu-lagu melankolia.

Mata didera insomnia & Pikiran lelah

bertarung dengan angan-angan

tentang hari dan nasib baik

di tahun yang akan datang.

desember mengubah malam

            menjadi luka yang

            tak mudah disembuhkan,

            menjadi tubuh yang rentan

            jatuh dan dikecewakan.

Jogja, 2021


Menepi

selalu ada hari

di mana seharusnya

kau menepi

dan menyembuhkan

            luka-lukamu sendiri.

orang-orang mungkin

bisa memberikan pelukan,

tapi tidak untuk ketenangan

            jangka panjang.


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan cerpen se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya tersiar di pelbagai media cetak dan daring.

Puisi

Puisi Galuh Ayara

Buku Dongeng

sehabis membacakan buku dongeng

ibu pergi menutup pintu kamar

kepalaku jatuh ke lantai

lalu aku tidak mengenali apa pun

tokoh-tokoh dalam dongeng

mengubur tubuhku di negeri yang jauh

2023


Dalam Spons Cake Mocca Rich

ketika aku diserang demam

dan kepalaku ditusuk-tusuk memori buruk

aku tidak ingin menutup mata

sebab kulihat ia terbang

lalu hinggap di dahan awan

aku senang bukan kepalang

ia turun kemudian

memberiku potongan spons cake mocca rich yang besar

yang punya mulut dan gigi

maka tubuhku masuk ke dalam spons cake mocca rich

seolah aku dimakan

lalu dari kepalaku

tumpah adegan-adegan mengerikan

seperti iblis yang meleleh jadi saus cokelat

tumpah ke mana-mana

di mana-mana

ia kuingat kemudian

dan perlahan

tak pernah datang

tak pernah pulang

ke dalam pelukan

atau pun kutukan

lenyap seperti disihir

evanesco

abrakadabra

hilang

di dalam spons cake mocca rich

tubuhku 40°

sendirian

2022


Ketika Aku Cemas

kierkegaard duduk di kamarku dan melemparkanku seribu lembar kain sutera

tidurlah aku sembari masuk ke matanya yang seperti lorong putih kosong

maka aku berada di antara ketiadaan yang amat luas

ke mana aku dilemparkan?

pada ketiadaan atau kekosongan?

malaikat berwarna putih memegang tanganku

ia tidak memiliki sayap

tapi memiliki ekor yang panjang seperti naga

ketika kuinjak ekornya

matanya terbakar

dan seluruh tubuhnya menjadi semerah neraka

aku di mimpi atau di neraka?

aku ingat pada setiap pertemuan dan perjamuan

yang datang dan yang hilang

lalu penderitaan meminjam wajah kehidupan

aku di mimpi atau di neraka?

begitu hidup masih saja kuterka

2023


Mimpi

seorang perempuan wangi susu

berdiri di ujung jariku ketika aku tidur

dari matanya yang sayu

aku menyaksikan;

seorang ibu yang beranak

dari perutnya keluar api

lalu mengental menjadi daging

lalu tuhan menyuruh menangis

lalu terbelalak;

iblis berjalan semakin dekat

semakin cepat

dan perlahan kelopak mataku jadi beku

2023


Di Meja Makan

fla yang warna merah

yang meleleh dari dalam roti itu

bukan rasa stroberi

darahku mendidih

muncrat ke atas meja

2023


Galuh Ayara, suka menulis cerpen dan puisi. Beberapa karyanya dimuat di beberapa media. Sudah menerbitkan Buku kumcer ‘Nyanyian Origami’ (2020) yang berisi kumpulan cerita pendek, dan ‘Pohon Insomnia’ (2022) yang berisi kumpulan puisi.

Katalog

Hikayat Setangkai Mawar

Hikayat Setangkai Mawar merupakan kisah perjalanan bunga jiwa dari sang Pencipta, cinta yang murni apa adanya dapat berubah sesuai dengan rasa dan karsa yang kadangkala mengikuti kelamnya senja. Seseduh cinta menjadi kata penuh makna, merekah berbunga, mati rasa, gelap mata bahkan membabi-buta. Setangkai mawar melambangkan mazmur mawar yang tak akan pudar.

Penulis: Wiwoho

Cetakan: Pertama, Tahun 2023

Penerbit Nomina Ide Karya

110 halaman; 14 x 21 cm

ISBN: 978-623-99817-9-2

Harga: Pp 50.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Cerpen

Selepas Ibu Pergi

Cerpen Haniah Nurlaili

Sore ini kau disambut gerimis lembut saat baru saja tiba di rumah masa kecilmu. Kemarin kakak tertuamu menelepon, mengabarkan rumah itu akan diambrukkan, sesuai kesepakatan dengan dua kakakmu yang lain. Kau setuju-setuju saja, karena tak ada satupun dari kalian yang mau menempatinya setelah bapak dan ibu tiada.

Kau mengibaskan bajumu yang sedikit basah, sebelum masuk ke dalam rumah. Kakakmu bilang, kau bebas mengambil apa saja yang ada di dalamnya sebelum esok pak tukang datang. Barang pecah belah, kasur, selimut, dipan atau bahkan lemari, bisa kau bawa pulang. Sebenarnya, tak banyak barang yang tertinggal di sana. Semua barang-barang itu hanya barang lawas yang tak begitu berharga.

Luas rumah itu sekitar seratus meter persegi, tak begitu luas jika dibandingkan rumah nenek moyangmu zaman dulu. Rumah yang dulu kau tempati itu hanya berdinding kayu, berlantai pasir dicampur semen yang seperti dituangkan begitu saja. Yang penting saat musim hujan tidak becek dan saat musim kemarau debu-debu tidak beterbangan.   

Orangtuamu memang bukan orang berada. Bapakmu hanya seorang petani yang sesekali ikut menemani Pak Lurah berburu kayu jati alas di hutan yang jauh dari kota provinsi. Nanti ia akan mendapatkan uang lelah dari Pak Lurah yang lumayan cukup untuk makan seminggu ke depan. Sedangkan ibumu seorang penjahit alusan yang cukup tenar di kampung. Kemampuan menjahitnya diturunkan dari nenekmu. Namun sayang, kemahiran menjahit yang turun-temurun itu hanya berhenti sampai ibumu saja karena dari kalian—empat bersaudara, tak ada yang mau mengikuti jejaknya. Apa yang diharapkan dari pekerjaan menjahit dengan upah yang tak seberapa? Begitu pikir kalian.

Saat kau memandangi rumah kayu itu, entah mengapa hanya kenangan buruk yang membekas di memorimu. Kenangan tentang hidup yang serba kekurangan. Tak ada canda tawa di meja makan, karena kau selalu berkeluh dalam hati kalau semua makanan itu tidak enak, tidak seperti di rumah temanmu atau tidak seperti makanan-makanan di iklan televisi. Tak ada daging maupun ikan. Hanya sayuran dan lauk dari kedelai yang tiap hari tersaji. Hubunganmu juga tidak terlalu erat dengan orangtuamu, bahkan dengan ketiga kakakmu juga setali tiga uang. Kalian selalu tenggelam dalam dunia masing-masing, hingga waktu berjalan begitu cepat dan memaksa kalian segera mencari uang demi masa depan yang layak.

Kau memutuskan masuk rumah ketika hujan mulai turun deras. Udara di sana cukup pengap, karena pintu dan jendela yang sudah lama tidak dibuka. Saat baru saja melangkah, kau disambut suara mesin jahit tua yang sudah mulai berkarat di ruang tamu milik ibumu.

“Jangan ambil aku!” katanya lantang. Langkahmu terhenti di depannya.

“Sejak kapan benda di rumah ini bisa bicara?” gumammu terkesiap heran.

“Kau tak tahu, aku yang selalu setia menemani ibumu setelah bapakmu wafat. Aku tak akan membiarkanmu mengambilku, karena aku masih ingin di sini!” Senyap untuk sementara waktu. Kau masih berusaha mencerna kata-kata si mesin jahit tua.

“Kenapa kau masih ingin di sini?” dengan suara lirih, kau beranikan diri bertanya.

“Karena ibumu masih sering mengunjungiku, di malam-malam larut yang tak pernah kau tahu. Sudah, kau ambil saja barang lainnya. Aku tak mau mempunyai tuan sepertimu!”

Kau melangkah lagi ke dalam, meninggalkan tanya di akhir kalimat yang diucapkannya. Pelan langkahmu menuju ruangan selanjutnya, padahal di pikiranmu, kenangan-kenangan semasa kecil sedang sibuk berlarian. Saat ibumu selalu menjahitkan baju terbaik untuk anak-anaknya. Bahkan di malam takbiran, saat semua orang bersuka cita, ibumu masih saja sibuk dengan mesin jahitnya. Memastikan anak-anaknya memakai baju baru di hari raya, walaupun baju itu terbuat dari kain-kain sisa pelanggan. Mungkin itulah yang membuat si mesin jahit tetap setia pada tuannya.

Saat langkahmu yang terasa panjang akhirnya tiba di dapur, kau disambut deretan barang pecah belah yang sudah memalingkan muka.

“Aku membutuhkan kalian, untuk menjamu tamu-tamuku.” Kali ini, kau beranikan diri mengajak mereka bicara. Memang sedari awal kau hanya ingin mengambil mereka saja, karena akhir-akhir ini usaha jasa pijat keseleo milik suamimu lumayan ramai. Kau tak punya lebihan gelas atau piring di dalam lemari, sehingga agak kewalahan saat menghidangkan kudapan untuk para pelanggan.

“Bagaimana kalau kami tak mau?” jawab si gelas.

“Kami adalah saksi betapa ibumu selalu baik pada tetangga. Tak terhitung betapa banyak makanan dan minuman yang sudah diberikan ibumu pada mereka, melalui kami. Kami tak mau kalau kau ambil, kami hanya akan berdiam saja di lemari!” Belum sempat kau menjawab, si piring sudah menimpali.

“Bukankah semenjak ibu pergi, kalian juga hanya berdiam di lemari?”

“Kau mungkin tak tahu, di sebuah malam yang larut, ibumu masih sering datang menyapa kami,” jawab sang mangkuk, tenang.

Kembali, kenanganmu terlempar pada masa lalu. Saat itu, kau merengek pada ibumu, minta dibelikan lemari pendingin. Kau tak mau tahu, kau lebih iri pada anak-anak tetangga seusiamu. Saat mereka lelah bermain lompat tali atau kasti kemudian mereka pulang mengambil minuman dingin. Entah itu es teh, es lilin atau sekadar air putih dingin, rasanya minuman itu sangat nikmat mengalir di tenggorokan. Namun kau tak berani meminta pada mereka walau hanya seteguk saja. Alhasil, tiap malam rengekanmu terbawa dalam mimpi dan igauanmu.

Kau hanya tak habis pikir, kenapa ibumu tetap bersikukuh tidak mau membelinya. Ibumu beralasan, lemari pendingin hanya akan membuat kalian menjadi orang yang pelit dan tidak mau berbagi. Alasan yang belum pernah kau dengar dimanapun. Mengapa ia tak jujur saja jika tak punya uang? Ya, begitulah watak ibumu. Dan pada kenyataannya, memang tak pernah ada makanan sisa. Para tetanggamu selalu berbahagia menerima makanan yang diberikan ibumu.

Langkahmu semakin berat, ketika kau sampai di kamar ibumu. Kali ini, kasur, dipan, meja dan lemari baju hanya diam. Tak seperti barang-barang lain yang berbicara. Namun rasanya hatimu malah perih tak terkira. Kebisuan mereka seolah-olah menyampaikan segala kesedihan ibumu. Kesepian di setiap malam, hanya berteman bantal dan guling dari kapuk yang sudah tak lagi empuk. Anak-anak yang jarang menelepon apalagi berkunjung. Mereka semua bilang sedang sibuk.

Kau teringat hari-hari ketika ibumu di rumah sakit. Kau dan kakak-kakakmu malah sibuk berdebat, siapa yang malam nanti giliran menjaga ibu. Kau berdalih, kondisi ekonomi yang kurang baik menjadikanmu harus terus sibuk mencari uang, bahkan hingga larut malam. Mana mungkin ada waktu untuk menjaga ibu. Dan kau yakin, kakak-kakakmu juga mempunyai alasan yang sama. Itulah sebabnya perdebatan kalian tak ada habisnya, bahkan hingga akhirnya ibumu tutup usia.

“Ambil saja salah satu dari kami.” Saat kau akan beranjak pergi, terdengar suara kasur memanggil. Tampaknya, ia berbeda dengan mesin jahit tua dan barang pecah belah.

“Walau aku sudah tidak empuk lagi, namun aku yakin, ibumu akan datang memelukmu di malam-malam larut saat kau berbaring di atasku.” Suara hujan di luar yang semakin deras menjadikan samar suara kasur hingga tak begitu terdengar.

Kau duduk di tepinya. Mengusapnya. Bukan mengusap kasur, namun mengusap bayangan ibumu yang pernah berbaring di atasnya. Matahari telah jatuh, dan malam kini menyergap. Kau pandangi seisi rumah. Selepas ibu pergi, semua barang di rumah ini—yang kau anggap tidak begitu berharga, telah menyadarkanmu tentang suatu hal.

Kau mengingat-ingat lagi, ibumu tidak pernah mengeluh walau uang yang diberikan bapakmu kerap tidak cukup. Beliau selalu menyediakan makanan, bahkan menanak nasi dan memasak sayur tiga kali sehari karena bapakmu kurang suka makanan yang sudah dingin. Kadang ibumu mencari daun pepaya atau daun singkong di kebun agar dapur kalian tetap mengepul. Tak lupa, ibumu tetap berbagi pada tetangga, walau keadaannya sendiri sedang kekurangan. Pun ibumu tetap menjahitkan baju terbaik untuk anak-anaknya, karena sadar uangnya tak cukup untuk membeli baju baru di pasar. Namun kau malah tidak bersyukur, karena menurutmu baju dari kain sisa tak akan pernah terlihat bagus di hari raya.

Kau hanya ingat kemiskinan kalian, namun lupa akan nilai-nilai luhur yang selalu ibumu contohkan. Benda mati di rumah ini baru saja memberi tahu bagaimana baiknya sikap ibumu. Mesin jahit memang tidak mau kau ambil, karena ia tahu hanya akan berakhir di tukang loak. Barang pecah belah yang tetap bersikukuh ingin di tempatnya, padahal kau sudah meminta. Itu karena mereka menganggap ibumu masih ada. Dan mereka tahu, kau tak akan sepandai ibumu dalam merawat mereka.

Akhirnya, malam itu kau tidak pulang dan memutuskan untuk tidak mengambil apapun dari rumah masa kecilmu. Kau biarkan dirimu terbaring di atas kasur kapuk yang tak lagi empuk. Kau ingin membuktikan ucapan mesin jahit, piring, gelas, mangkuk dan kasur, bahwa di malam-malam larut, ibumu akan datang berkunjung.**


Haniah Nurlaili, lahir di Sragen, 27 Mei. Bertempat tinggal di Gemolong, Sragen. Homedecorlovers dan suka menulis. Beberapa karya pernah dimuat. Dapat dihubungi melalui Instagram dan Facebook: @hanie_rahmadilla

Cerpen

Pohon Hayat dan Pelacur Suci

Cerpen Panji Sukma

Malam ketika Pohon Hayat tumbang, sekujur desa diempas badai laut yang menyasak genting rumah-rumah, menerbangkan tumpukan kayu bakar, membikin gidik orang-orang di bawah selimut, dan semua itu baru berakhir saat semburat matahari merangkak di langit timur. Pagi terasa tak biasa sebab wajah bulan masih tampak tegas meski terang telah sempurna. Suhu stabil di bawah rata-rata dan menguarkan aroma lembap seperti wajarnya dasar lembah.

Warga berkumpul di tengah desa, beberapa di antaranya masih dengan sarung lusuh di bahu, juga anak-anak di gendongan. Dugaan saling mereka lempar satu sama lain, tapi tatapan serempak mengarah ke bukit di mana Pohon Hayat kemarin sore masih berdiri kokoh. Jelas ketakutan ada di setiap mata mereka, menerka-nerka petaka apa yang bakal terjadi usai tumbangnya pohon keramat itu. Mereka percaya Pohon Hayat adalah tempat singgah dewa saat turun ke bumi, sehingga mustahil ada petaka terjadi di tempat dewa berada. Dan terbukti, semenjak desa itu berdiri dan dihuni kakek buyut mereka, tak pernah sekali pun ada wabah, pagebluk, bahkan kekeringan walau musim kemarau di titik puncak.

Menurut salah seorang warga yang semalam sempat ke lereng bukit—sesaat sebelum badai datang—untuk memasang jebakan babi, Pohon Hayat tumbang karena badai. “Sumpah, badai di bukit jauh lebih ganas ketimbang di desa!” Dia menggambarkan dengan saksama dan meyakinkan. “Iya, begitu!” tutupnya.

Umar Lewu, sesepuh desa sekaligus orang yang dianggap paling bijak itu, meragukannya. Pohon Hayat terlalu kokoh untuk roboh jika hanya diempas badai. Sebab jika pun dapat roboh oleh badai, pastilah Pohon Hayat sudah roboh sejak lama karena pohon itu telah berumur ratusan tahun. Dan nyatanya, hingga tadi malam, Pohon Hayat baik-baik saja, bahkan akarnya semakin kekar dan terus menjulur—memayungi puncak bukit—pertanda pohon itu masih tumbuh dan ingin terus hidup.

“Pasti semua ini berhubungan dengan kematian Puan Labiri,” celetuk yang keluar dari kerumunan.

“Celaka, ini sungguh celaka,” ucap Umar Lewu. Mimiknya tak bisa menyembunyikan resah. Jenggot peraknya bergerak-gerak disapu angin jinak. Ia menoleh ke arah Lajang Prema.

“Tidak ada hubungannya dengan perempuan itu. Pohon Hayat roboh karena badai. Akarnya tidak lagi kuat. Tadi pagi aku sudah memeriksanya,” tukas Lajang Prema. Tidak ada yang berani membantah maupun menimpali perkataan kepala desa muda dan tampan itu, sebab selain ia bilang telah memeriksanya, warga desalah yang merajam dan mengubur hidup-hidup Puan Labiri di puncak bukit.

Tak satu pun orang yang tahu asal-usul Puan Labiri. “Aku turun dari langit,” jawabnya setiap ada orang bertanya. Ia memang seperti itu, misterius sekaligus tak bisa dipahami. Ia datang pada suatu purnama, menuruni bukit sambil menggembol emas dalam karung, lalu mendirikan gubuk di sisi tenggara desa, menerima tamu lelaki hidung belang dari desa-desa tetangga, dan selalu bilang masih perawan. Pernah suatu kali Lajang Prema yang risi dengan desas-desus di antara warga, mendatanginya. Namun, Puan Labiri tak mengakui bahwa dirinya pelacur.

“Seorang pelacur pasti tidak perawan. Sedangkan aku masih perawan.” Puan Labirin melempar senyum manja. Senyum ajakan yang pasti bisa dipahami semua lelaki normal. Ia juga sedikit menggigit bibir bawah tapi tak sampai mengoyak gincu merahnya.

“Aku tak mengerti maksudmu.”

Puan Labiri tertawa lirih sembari tangan kirinya memilin rambut yang menjuntai di depan telinga. Tawa yang tampak tak kalah manja dari senyumnya.

“Selalu ada cara untuk memuaskan lelaki tanpa harus melakukan apa yang kamu kira. Ya, mereka lemah, sangat lemah dan mudah ditangani. Bukankah begitu, Tampan?”

Lajang Prema tak benar-benar mengerti dengan maksud Puan Labiri, tapi jawaban yang ia terima itu terasa menyinggungnya. Ia berdiri, dan sebelum melenggang pergi berpesan agar Puan Labiri tak lagi menerima tamu hidung belang. Jika Puan Labiri abai, Lajang Prema tak bertanggungjawab kalau-kalau warga yang geram melakukan hal-hal nekat.

Sejak hari itu, Puan Labiri mengunci diri, membiarkan para hidung belang keleleran di depan gubuk tanpa kepastian. Beberapa di antaranya memuntahkan isi peler ke pintu gubuk saking jengkelnya, lalu pergi dengan umpatan tak keruan. Terus seperti itu adanya sampai beberapa pekan, hingga akhirnya tak ada lagi hidung belang yang datang. Seperti ada yang hilang dari diri mereka, semacam kehilangan setengah semangat hidup.

Tak ada lagi kasak-kusuk di desa. Semua kembali seperti sediakala—para suami menggarap sawah dan istri mengurus anak dengan tenang. Desa tak lagi jadi tempat wara-wiri orang asing. Sampai akhirnya pada suatu sore, saat Lajang Prema khusyuk memuntir beberapa butir kelapa muda di atas pohon, salah seorang warga datang dan sembari tergopoh mengatakan bahwa Puan Labiri mengamuk di desa. Gegas Lajang Prema turun, melorot dari batang kelapa seperti tak hirau kalau-kalau tangan dan kaki dapat lecet karenanya.

Puan Labiri yang tanpa sehelai pun kain, dikepung warga, tubuh mulusnya menjadi tontonan yang menjanjikan bagi para lelaki, tapi tak begitu bagi istri mereka. Dalam teriakan histeris dan tangis yang pecah, Puan Labiri mengatakan ada yang merampas kesuciannya dan itu dilakukan oleh salah seorang lelaki di desa ini. Namun belum sempat ia mengucapkan nama si pelaku, sebuah batu dari arah kerumunan menyasar kepalanya. Seperti yang sudah-sudah, ketika sesuatu dimulai maka selalu ada yang meneruskan. Batu-batu seperti latah beterbangan, menghantam sekujur tubuh Puan Labiri hingga membuatnya tersungkur. Para bini tampak bersemangat sebab dalam benak mereka, apabila yang dikatakan Puan Labiri bukan fitnah, berarti bisa saja laki mereka pelakunya, dan itu akan membikin aib. Maka salah satu dari mereka berteriak kencang, “Kubur hidup-hidup perempuan itu di bukit! Biar dewa menghukumnya!”

Saat Lajang Prema sampai di tengah desa, tak didapatinya satu pun orang. Ia mengedar pandang. Di sekian jarak, ia melihat arak-arakan warga menuju puncak bukit. Ia memicingkan mata, menghalau sinar matahari yang semakin datar untuk menajamkan pandang, memastikan dugaan. Seorang perempuan telanjang diikat pada pergelangan tangan dan kaki, ditandu dengan sebatang kayu. Tanpa pikir panjang, Lajang Prema berlari menyusul mereka sebab mengerti hal buruk bakal terjadi.

Terlambat. Lajang Prema harus melintasi pematang lima petak sawah dan menyeberangi tiga anak sungai, sehingga tak sempat ia menyusul. Sesampainya di puncak bukit, ia mendapati gundukan tanah yang masih basah, sekitar dua puluh depa dari Pohon Hayat. Ia tertunduk, mundur beberapa langkah hingga tersandar pada sebuah batu. Pikirannya terlempar pada kemarin malam, ketika pulang dari desa tetangga dan hujan turun lebat, hingga ia harus berteduh di depan gubuk Puan Labiri. Ia mendengar suara lenguhan lelaki. Pikirnya, pastilah Puan Labiri tengah melayani hidung belang dan itu berarti ia tak mengindahkan peringatan Lajang Prema. Maka dengan sedikit ragu, Lajang Prema mengintip dari celah dinding kayu. Suasana di dalam gubuk cukup remang karena hanya diterangi api teplok. Betapa terkejutnya ia saat melihat Umar Lewu yang setengah telanjang tengah merangkak di atas Puan Labiri, membikin suara decit ranjang. Tatapan dingin dari Puan Labiri kepada Umar Lewu amat sulit diartikan Lajang Prema.

“Jangan kamu lakukan itu. Aku harus terus perawan,” ucap Puan Labiri dengan intonasi datar sembari membuang muka ke samping.

“Kenapa begitu? Bagaimana jika aku meminta lebih?” timpal Umar Lewu.

“Akan terjadi petaka di desa ini.”

“Tidak. Tidak akan ada petaka terjadi di tempat ini selama masih ada Pohon Hayat.”

Umar Lewu menindih, menancap, seperti katak hijau yang menempel di batang pohon, menikmati setiap jengkal tubuh Puan Labiri. Lajang Prema mengikuti pemandangan yang berlangsung tak cukup lama itu. Detik terasa berjalan amat lama, dan dadanya berdesir hebat, hujan pun turun menderas.

Selesai dengan hajatnya, Umar Lewu segera melompat dari ranjang, lalu membuka pintu gubuk. Ia terkejut saat mendapati Lajang Prema berdiri dalam sikap sempurna. Keduanya tak saling berucap, diam, hanya saling tatap dan seolah dapat saling mengerti, seperti dua maling yang bertemu di rumah korban yang sama. Tak lama kemudian, Umar Lewu berlari menuju hujan, lantas perlahan hilang di antara pekatnya malam. Sedangkan dari pintu yang terbuka, Lajang Prema melihat Puan Labiri tengah terbaring di atas ranjang dengan mata tertutup, tapi jelas air mata terus mengalir di pipinya. Lajang Prema melangkah masuk, menutup pintu gubuk dengan sangat perlahan, lalu meniup api di teplok hingga padam.***


Panji Sukma, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Menulis beberapa buku dan lagu. Buku terbarunya berjudul Kuda diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Katalog

Antologi Puisi Goresan Pena

Antologi puisi ini ditulis oleh mereka yang masih kelas 5 sebagai bukti kecintaannya akan puisi, juga kehidupan. Puisi sebagai jalan di mana belajar adalah bermula dari rasa lkhlas yang selalu dirawat. Celotehan dalam bentuk puisi yang lucu, lugu, original, inspiratif, dan riil.

Penulis: Adaby Sakha Winnatama, dkk (Murid kelas 5 MI Muhammadiyah Karanganyar)

Cetakan: Pertama, Tahun 2023

Penerbit Nomina Ide Karya

115 halaman; 13 x 19 cm

QRCBN: 62-1724-4583-255

Harga: Pp 55.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Cerpen

Pengakuan Dosa

Cerpen Aliurridha

Aku mengenalnya sebagai sosok pendiam yang menyimpan kelam dalam luka peristiwa. Tak banyak yang aku tahu tentangnya, meski sedari kecil aku tinggal bersamanya dalam sebuah rumah dingin yang tak pernah dihangatkan percakapan keluarga. Tiada satu pun yang kuketahui tentang masa lalunya, selain dia adalah seorang prajurit, seorang pria gagah berseragam yang membuat setiap mata yang memandangnya silau oleh pukau. Dia adalah alasanku memilih jalan hidup sebagai prajurit dan mengabdikan diriku untuk negara karena aku ingin menjadi seperti dirinya. Namun, begitu aku memutuskan masuk militer, dia adalah orang yang paling keras menentangnya.

“Untuk apa kamu masuk militer? Kita tidak sedang berperang. Carilah kerja lain seperti kakak-kakakmu,” kata ayah.

Aku tidak membantah. Tapi, tetap saja, aku tidak punya keinginan menjadi seperti kedua kakakku. Aku tidak ingin menjadi pengusaha seperti kakak laki-lakiku dan tidak ingin menjadi guru seperti kakak perempuanku. Keputusanku sudah bulat, aku ingin menjadi tentara. Sejak saat itu, hubunganku dengan ayah yang tak pernah akrab itu, menjadi semakin renggang, hingga akhirnya aku memutuskan meninggalkan rumah. Aku berani melakukannya setelah seorang sahabat ayah berjanji akan membantu mencarikanku jalan, membantuku agar bisa masuk militer.

Ayahku memang aneh, dia tidak seperti kebanyakan orang tua dengan latar belakang militer, yang selalu menginginkan anaknya mengikuti jejak mereka; ayahku tak pernah sedikit pun mengarahkan aku maupun kedua kakakku untuk mengikuti jejaknya. Ketiga anaknya dibebaskan memilih mau menjadi apa pun—asal tidak masuk militer. Aku bahkan merasa ada upaya darinya untuk membuat kami, anak-anaknya ini, menjauh dari dunia militer. Setiap temannya dari angkatan darat berkunjung ke rumah, ayah tak memperbolehkanku dan kakak-kakakku berada di dekatnya. Kadang, dia  sampai perlu menyuruh ibu membawa kami pergi ke rumah kakek ketika teman-temannya berkunjung ke rumah.

Ketika masih kecil, aku tak benar-benar menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah agar aku jauh dari teman-temannya, agar aku tidak mengikuti jejaknya. Namun, aku yang sejak kecil telah mendengarkan cerita-cerita kepahlawanan ayah ketika di Timor Leste dulu, selalu memendam cita-cita untuk bisa seperti dirinya. Kemudian ketika aku memberanikan diri untuk menceritakan cita-citaku kepadanya, ayah malah menunjukkan ketidaksukaannya atas ide itu. Dan yang lebih menyakitkan dari semua itu adalah, dia sama sekali tidak pernah mengungkapkan alasannya. Baru ketika nyawa telah berada di pangkal lidah, dia mengungkapkan alasannya kepadaku bersama sebuah pengakuan dosa atas apa yang dilakukannya di masa lalu…

Lima tahun telah berlalu sejak aku meninggalkan rumah. Ibu menghubungiku—mengabarkan bahwa ayah sakit keras dan ingin sekali bertemu denganku. Dia mulai sering mengigau, memanggil-manggil namaku. Aku sebenarnya tak ingin bertemu dengannya, rasa kesal di hatiku belum hilang sejak dia menentang keinginanku dulu. Namun, aku tak mampu menolak permintaan Ibu. Jika ada satu orang saja yang tidak ingin kusakiti di dunia, mungkin hanya ibu orangnya.

Setelah bertahun-tahun meninggalkan rumah, aku tidak melihat adanya perubahan berarti pada rumah itu. Rumah itu masih seperti dulu, dingin sedingin angin musim kemarau, dan orang yang bertanggung jawab membuatnya seperti itu, kini terbaring lemah tak berdaya dalam sebuah kasur dengan tubuh separuh lumpuh oleh stroke. Kini, dia hanya seonggok daging tak berdaya yang tenggelam dalam rutinitas menunggu ajal.

“Kaukah itu Anton?” suaranya serak seperti ada pecahan kaca tersangkut di pita suaranya. Ibu menyentuh punggungku ketika aku terpaku menatap kondisi ayah. Ibu memintaku mendekat, dia menjelaskan kedua mata ayah hampir buta oleh katarak dan nyaris tidak bisa melihat.

“Kenapa tidak dioperasi Bu? Memangnya kita semiskin itu?”

Ibu menjelaskan ayah tidak ingin dioperasi. “Buat apa memperbaiki sesuatu yang hampir mati,” kata ayah kepada ibu. Tidak bisa kupungkiri ada getir dalam hatiku melihat sosok yang dulu terlihat begitu tangguh, terbaring lemah tak berdaya dimakan usia.

Aku berjalan mendekat ke arah ranjang tempatnya berbaring. “Ini aku Ayah. Anton. Anakmu,” kataku pelan. Semburat senyum memancar dari wajahnya yang terlihat lemah tak berdaya. Tangannya yang renta berusaha menggapaiku, meraba-raba wajahku, berhenti pada kumis tipis di atas bibirku. “Kau benar-benar sudah dewasa,” katanya. Aku menggenggam tangannya yang tiada henti bergetar. Kuperhatikan kulitnya yang kaku itu dipenuhi urat-urat kecil menonjol.

“Ada yang perlu ayah ceritakan kepadamu,” katanya lirih. Begitu ayah mengatakan kalimat itu, ibu keluar kemudian menutup pintu. Tampaknya ayah benar-benar tidak ingin ada orang lain yang mendengarkan ceritanya; ia sepertinya telah merencanakan ini.

“Ayah mau menceritakan kepadamu mengapa selama ini ayah tak pernah setuju kamu masuk militer.” Kata-kata ayah terdengar sangat lancar. Dia tidak lagi seperti pria yang tadi kulihat terbaring lemah di kasur. Kemudian dia menceritakannya sesuatu yang telah berpuluh-puluh tahun menjadi beban hidupnya.

Ayah bercerita kepadaku pengalamannya lebih dua puluh tahun lalu ketika direkrut dalam suatu badan intelijen yang dibentuk untuk memadamkan gerakkan yang berupaya menggulingkan pemerintahan. Ketika itu adalah masa-masa paling kacau sejak rezim berkuasa. Sesuatu yang bergerak di akar rumput sedang membangun basis-basis kekuatannya. Ayahku ditugaskan untuk mencari tahu, memantau, dan menangkap mereka yang dianggap mengganggu ketenteraman negeri.

Satu per satu orang yang dianggap berbahaya berhasil ditangkap berkat kerja kerasnya. Beberapa di antara mereka tidak memberi informasi apa pun, terpaksa dihilangkan karena dianggap menyimpan ancaman, beberapa lainnya menemui ajal di ruang introgasi karena tak mampu menahan siksa, beberapa lainnya beruntung hanya menjadi tahanan politik untuk waktu yang tidak ditentukan.

Aku tentu saja pernah berkali-kali mendengar berbagai cerita ini sebagai cerita liar yang beredar untuk menyudutkan pihak militer. Tapi aku tak menyangka akan mendengar cerita ini langsung dari mulut pelaku—ayahku sendiri. Aku bergidik ngeri mendengar detail cerita ayah, bagaimana dia melakukan upaya paksa, mengorek informasi dari mereka yang tertangkap.

“Jika kamu berpikir penderitaan hanya dirasakan oleh pihak yang duduk di kursi menahan siksa dan tidak di pihak yang memberi siksa, mungkin kamu benar-benar telah kehilangan kemanusiaan. Awalnya aku ikut merasa sakit ketika pertama kali aku melakukannya pada mereka. Namun, semakin lama, semakin sering aku melakukannya, aku nyaris tidak merasakan apa-apa lagi. Hal itu membuatku ngeri pada diriku sendiri. Dan yang paling mengerikan dari semua itu, aku melihat begitu banyak rekan-rekanku yang mulai menikmati apa yang mereka lakukan kepada orang-orang malang itu.”

“Aku tidak mau kamu menjadi seperti mereka,” kata ayah menatapku dengan mata keruhnya. Seketika itu leherku terasa kaku dan tenggorokanku kering. Padahal aku hanya mendengarkannya bercerita, namun entah mengapa aku yang merasa lelah dan kehilangan kata-kata.

“Sekarang situasi tidak lagi seperti dulu, Ayah. Rezim telah berganti dan kita telah mengalami reformasi. Hal-hal seperti itu tak terjadi lagi.” Aku menyentuh bahunya ketika mengatakan itu.

“Tidak ada yang berubah, Nak. Rezim boleh berganti, penguasa di mana pun sama saja. Satu-satunya tujuan mereka adalah mempertahankan kekuasaan, dan mereka akan melakukannya, bagaimanapun caranya,” kata ayah tegas.

Setelah itu dia diam sejenak, mengambil napas panjang dan bertanya, “Kamu sekarang bekerja di intelijen bukan? Memangnya apa pekerjaanmu jika tidak menyerang mereka yang mencoba menggoyangkan kaki penguasa?”

“Tapi kami tidak melakukannya dengan menangkapi mereka.”

Ayah bangkit dari pembaringannya dengan susah payah dan aku membantunya duduk. “Lalu dengan apa? Berita palsu?” tanyanya sedikit membentak. “Aku mendengar berita enam orang terbunuh dalam sebuah upaya penangkapan, memangnya itu berbeda? Ya, mungkin berbeda karena sekarang mereka bahkan tidak perlu sembunyi-sembunyi menghilangkan nyawa manusia.”

“Itu berbeda. Mereka membahayakan negara, mereka melawan aparat, mereka tidak bisa dibiarkan begitu saja.”

“Semua selalu dimulai seperti itu, Nak. Segalanya bermula sebagai upaya mempertahankan dan menjaga stabilitas negara.” Suara Ayah melembut. “Tapi, cepat atau lambat kegentingan akan datang dan kamu akan dipaksa bertindak, kamu akan dipaksa melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan dan akan kamu sesali seumur hidup. Dan yang terburuk dari itu, kamu tidak diperbolehkan menceritakannya kepada siapa pun.”

Ketika aku pikir dia sudah selesai bicara, ayah menambahkan. “Kamu tahu, seandainya aku bisa meminta maaf kepada korban-korbanku, kepada keluarga-keluarga mereka, aku akan melakukannya. Tapi itu tidak mungkin.”

Sampai di sini apakah kamu mempercayai cerita ayahku? Mungkin kamu berpikir cerita seperti ini tidak akan terjadi di dunia nyata. Bahkan, kamu mungkin telah menyadari bahwa ada lubang pada cerita ini. Kamu mungkin akan berkata bahwa tentara tidak mungkin seperti itu, dan aku bukanlah tentara, dan cerita ini hanyalah karangan belaka. Kamu benar dan aku tidak akan menghindar. Aku mengakui bahwa aku bukanlah tentara, dan ayahku pun bukan seorang tentara, jadi dia tidak perlu melakukan pengakuan dosa. Aku hanyalah seorang anak yang kehilangan sosok ayah dua puluh tiga tahun silam, ketika tangan dingin razim dengan tak berperasaan membuang tubuh tak bernyawanya entah di mana. Jika kamu berpikir bahwa cerita ini hanyalah imajinasiku semata, kamu sekali lagi benar; tentu saja ini hanyalah imajinasiku semata.  Lagi pula, mana mungkin orang yang tidak merasa salah, melakukan pengakuan dosa, apalagi sampai meminta maaf.****

*Untuk Wiji Thukul dan para aktivis lainnya yang sampai saat ini belum diketahui kabarnya

Gang Metro, 5 Oktober 2022  


Aliurridha, penerjemah dan pengajar penerjemahan di suatu perguruan tinggi. Ia menulis esai, opini, puisi dan cerpen. Karyanya tersebar di berbagai media. Cerpennya berjudul Metamorfosa Rosa masuk dalam antologi Cerpen Pilihan Kompas 2021. Ia tinggal di Lombok dan bergiat di komunitas Akarpohon.