Katalog

Cerpen

Malam

Cerpen Rudi Agus Hartanto

Aku masih memikirkan pernyataan orang-orang tentang malam. Perihal saat yang tepat memikirkan runyamnya hidup atau waktu terbaik memohon sesuatu kepada Tuhan. Alih-alih mendapatkan ketenangan, justru pikiranku hampir tak pernah bermuara ke persoalan itu. Terus terang saja, setiap kali mencoba, aku seolah-olah gagal mengejawantahkan pernyataan mereka.

Termasuk malam ini. Aku menikmati kopi dan menyulut rokok, sendiri, di teras rumah sembari memikirkan dunia. Sangar bukan? Memikirkan dunia! Kataku.  Tapi itu yang sering dibilang teman-temanku di tongkrongan. Sementara, di duniaku, yang selalu terbayang hanyalah Sheila Dara Aisha, pemeran Aurora dalam film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Aku tidak membual, Sheila memang menguasai pikiranku dan aku ingin sekali menemaninya melukis. Andai saja terjadi, aku ingin menemaninya menangkap momen daun jatuh seperti yang terlihat di halaman: dari melayang hingga tersungkur menabrak pagar.

Pikiranmu penuh dunia fiksi, bodoh! teriak pikiranku di sisi lain.

Tentu saja kehadiran teriakan itu tidak datang begitu saja. Itu terjadi setelah aku berulang kali cerita kepada teman-teman perihal kecintaanku menonton film. Kata mereka seharusnya aku menyadari bahwa hidup adalah kenyataan, dan apa untungnya membayangkan hidup seperti dunia fiksi? Dasar aneh! masih di sisi yang sama, pikiranku semakin terbakar mendukung mereka.

Tapi, apa yang mereka tahu soal kenyataan selama masih menghabiskan duit buat judi slot? Hanya karena alasan itu, lantas berani-beraninya menganggapku tidak menyadari hidup, memang ada-ada saja perangainya. Sebenarnya aku ingin membalas dengan sok-sokan filosofis, sayang aku terlanjur mati kutu ketika mereka lebih dulu mengatakan: Kenyataan hidup adalah berjudi, maka kita perlu praktik kecilnya.

Mungkin, mereka hanya sekadar melihat bukan menyelami isi setiap film. Ndakik sekali kau! lagi-lagi pikiranku mendesak untuk berperang dengan diriku sendiri. Kubuang rokok yang masih separuh, aku tak mau pusing. Aku ingin menikmati malam, sendiri, sembari menggeser foto Sheila di Instagram. Inilah dunia seharusnya. Begitu, bukan?

Aku memang salah, kuakui itu. Namun apa artinya malam dengan menggantungkan diri pada yang tak terlihat. Dan, bukan berarti aku tidak sepakat dengan pernyataan mereka. Aku hanya ingin malam seperti yang aku bayangkan saja. Aku bosan dengan pengharapan yang membohongi jiwa. Kebablasan kau, Nak, meski terdengar berbisik, pikiranku di sisi lain ini benar-benar menyebalkan.

Aku butuh bantuan untuk mengenal malam lebih jauh. Tidak sendiri maupun dalam kondisi seperti ini. Rasanya sangat tak mengenakan. Kecuali setelah bertemu Ayu besok, malamku bisa saja seperti bayanganku. Sebab temanku yang enggan aku samakan dengan Sheila itu kadang juga sepemikiran denganku. Malam hanyalah waktu yang biasa-biasa saja. Lebih dari itu? nanti dulu. Aku mau tidur.

***

“Kenapa? Padahal kau cerdas, lukisanmu laku mahal, bahkan mengantarmu mendapatkan beasiswa magister di Royal College of Art,” tanyaku kepada Ayu saat kupersamakan dengan aktris kesayanganku itu.

“Hanya itu di pikiranmu? Aku bosan mendengarnya.” Ayu membuka tudung hoodie-nya. “Kau tak ubahnya sama dengan mereka,” desak Ayu sembari mengarahkan telunjuknya kepadaku.

“Malam?”

“Pikiranmu selama ini soal malam, bukan? Mungkin benar yang kaummu katakan, tapi sesampainya mereka di atas kasur, pikirannya tak lebih dari membayangkan tubuh perempuan.”

Obrolan kami terjeda saat pelayan kafe mengantarkan pesanan. Pada saat itu, aku mengedarkan pandang ke sekeliling. Di sini keadaan tak terlalu riuh, tidak banyak tempat duduk yang diisi lebih dari dua orang. Mereka bercakap pelan sembari sesekali memerhatikan keadaan di luar jendela. Mungkin saja, mereka juga terganggu seperti kami ketika kendaraan berknalpot brong melintas. Sama seperti pernyataan Ayu yang menghardikku, terasa mengejutkan.

Aku menuntut Ayu lebih jauh menjelaskan maksudnya. Kurasa ia orang yang tepat dalam menjawab pertanyaanku. Kubiarkan ia panjang lebar berbicara soal malam. Tentang kesehariannya membuat paper di tengah kesibukan melukis. Ia juga menyinggung betapa beratnya proses mendapat beasiswa untuk belajar ke Inggris. Seiring itu, aku hanya terangguk mengiyakan apa yang keluar dari bibirnya. Aku tak ingin menyela penjelasannya.

Belakangan Ayu lebih banyak menyiapkan keperluannya sebelum terbang seminggu lagi. Ia sangat antusias menceritakan hal yang akan dihadapinya. Terlebih, dalam proses tersebut ia berhasil melewati ribuan pesaingnya. Aku menatap Ayu semakin dalam—mungkin terperangah, ketika ia menceritakan bahwa beberapa kali dipanggil negara menjadi pengisi seminar bagi para pencari beasiswa.

“Aku tak pernah membayangkan, sekarang duniaku sejauh itu,” lanjut Ayu sembari kembali mengangkat tudung hoodie-nya.

Entah mengapa, apa yang baru saja dikatakan Ayu membuatku tersentil. Namun hal itu segera hilang ketika sepasang orang yang duduk di belakang Ayu menjatuhkan gelas. Beberapa saat kami saling bertatapan satu sama lain. Ayu lekas menoleh, ia memandangi mereka dan saat kembali ke posisi sebelumnya mukanya berubah masam.

Kubiarkan Ayu tetap seperti itu. Aku tak mengajaknya berbicara. Tak lama kemudian ia mengambil gawai yang tersembunyi di balik kantong hoodie-nya. Aku tak tahu apa yang ada di balik gawai itu, yang pasti Ayu memunculkan senyum kecil. Mungkin saja ia dihubungi orang terkasih. Sebab ia seperti ragu-ragu ketika akan membalas pesan, hal itu terlihat dari gerak-gerik jarinya yang menggambarkan kirim-tidak-kirim-tidak di atas simbol kirim.

“Kau bisa menikmati malam-malammu, Ayu,” gangguku di tengah keasyikannya dengan gawai.

“Aku tahu isi pikiranmu. Kau menduga aku punya pacar, bukan?”

Entah jin apa yang merasuki perempuan di depanku ini. Ia mampu membaca pikiranku dan aku harus mengelak. Jika tidak kurasa pertemananku akan bermasalah, sebab ia mesti berpikiran bahwa aku sedang cemburu. “Aku ingin membalasmu, sebelum ada gelas pecah tadi,” ucapku sekenanya.

“Mengelak saja terus. Lalu segala curhatmu soal malam kepadaku apa tujuannya?”

Aku tak mengerti harus menjawab apa. Ayu berhasil menyudutkanku, bahkan sejak awal obrolan kami dimulai. Ia sangat sensi dengan apa yang muncul dariku malam ini. Tapi di sisi lain aku sangat membutuhkan dirinya. Akhirnya aku terangguk karena aku tak tahu letak salahku.

“Kurasa yang kau butuhkan di setiap malam bukan lagi bersembunyi, tapi menentukan pilihan: kerja atau cari beasiswa.”

Sontak pikiranku segera melayang. Dua tahun sudah sejak lulus, aku hanya menggantungkan hidup dari orangtua. Ijazahku selama ini hanya tersimpan di lemari. Dan persoalan malam? Rasanya perlu aku tanggalkan. Kini aku merasakan dalam perihal waktu yang sering dikatakan orang-orang mengapa terasa dingin.

Kami tak bercakap lagi. Suasana telah berubah. Agar bisa mengendalikan diri kuseruput vietnam drip pesananku yang terlanjur mendingin. Sebatang rokok juga kusulut kemudian. Asap tembakau terbang ke luar jendela. Ini bukan seperti bayanganku semalam. Ayu baru saja membuatku seperti seorang pesakitan.

“Ayo, pulang,” Ayu menarik tanganku.

Sial kau, batinku di tengah anggukanku menjawab ajakannya. Apakah ia tak melihat bahwa pesananku baru sekali membasahi tenggorokanku. Pula dengan matcha pesanannya, belum tersentuh lagi usai diserahkan pelayan kafe.

Inilah hidup, tiba-tiba pikiranku di sisi lain kembali keluar. “Diam kau!” balasku ketus.

Ayu melepaskan genggamannya dan menoleh kepadaku. Ia berjalan semakin cepat, aku tertinggal beberapa depa di belakangnya. Beberapa pelanggan kafe seperti memerhatikan kami berdua. Kutambah kecepatan langkahku mengejar Ayu.

Kau ini kenapa? Aku tak peduli lagi dengan pikiranku ini. Aku menyuruh diam. Telapak tanganku mendarat di ujung dahiku.***


Rudi Agus Hartanto, putra daerah Mojogedang. Merupakan mahasiswa Program Magister Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret.  Bergiat di komunitas Kamar Kata Karanganyar dan Sanggar Bima Suci.

Cerpen

Panmunjom

Cerpen Aprilia Nurmala Dewi

Lee Won Shik melipat suratnya yang ke-1059. Surat-surat penuh cinta yang tak pernah sampai ke tujuannya. Surat itu mustahil menemukan jalannya, lembaran-lembaran kertas itu hanya pelipur lara sang penulis. Lee menggoreskan harapan dan kerinduannya dengan hati-hati. Setiap hari selama ditahan di Utara. Tak apa jika surat untuk istrinya tak sampai, setidaknya surat-surat itu membantunya menghitung hari.

Hari itu seorang serdadu Utara menemukan Lee menulis surat beralaskan lantai semen dalam selnya.

“Hei, Bodoh. Berhentilah menulis catatan harian. Kau seperti perempuan cengeng.” Serdadu Utara itu mengintip di balik jeruji besi. Wajah brengseknya dinodai dua gigi yang tanggal di bagian atas. Mungkin seorang kawan merontokkannya karena mulutnya terlalu besar dan menyebalkan.

Lee memunggunginya. Dia menoleh sedikit tapi tak ingin meladeni. Tujuh teman lain dalam sel itu tertidur walau tak begitu nyenyak. Seseorang tampak menggaruk-garuk kakinya yang digigit kutu. Seorang lagi membuka baju karena panas. Seorang lagi mulai mengigau, mengumpat yang hanya berani dilakukan saat bermimpi. Sementara tiga lainnya mulai gelisah, berusaha memutar posisi tidur, tetapi selalu saling bertabrakan. Mereka kelelahan bekerja pagi hingga malam di pabrik kayu. Sel yang mereka tempati hanya 3×3 meter, memang harus ada pembagian giliran, siapa yang tidur dengan posisi normal, dan siapa yang akan tidur duduk.

“Tidak usah tidur terlalu larut, kalian harus bugar. Besok kalian akan mengucapkan selamat tinggal dan perjalanan akan sangat panjang,” ujar tentara itu sambil berlalu.

Mendengar hal itu, Lee menggosok-gosok surat yang belum selesai dia tulis. Tak bisa dihapus, dia putuskan menulis di bagian belakang kertas. Dia akan menuliskan kembali ucapan serdadu tadi. Selamat tinggal, katanya. Lee yakin bahwa di Panmunjom, Selatan dan Utara pasti telah duduk bersama menyetujui gencatan senjata. Dia kemudian melipat surat itu dan memasukkannya ke sebuah kantung kain yang dibuatnya dari sobekan celana. Surat ke-1059 itu kini bersama-sama surat lainnya. Mungkin surat yang terakhir. Akan diberikannya sekantung surat itu pada Kim Hye Jin, istrinya, saat tiba di Selatan. Kelak, Lee tak perlu mengulang cerita perih seribu hari itu kepada Hye Jin, cukuplah istrinya itu membaca surat-suratnya bagai sekumpulan cerita.

Malam itu Lee Won Shik pikir dia akan bebas. Tak ada lagi pekerjaan di pabrik, tidur dikerumuni lalat, dan makanan yang penuh kutu. Bersama para tawanan perang lainnya, dengan mata tertutup dan kedua tangan diikat, dia diseret naik ke sebuah truk. Mereka berjongkok dengan tubuh saling berimpitan, lutut-lutut kurus kering saling bertabrakan, berdesak-desakan tanpa saling melihat. Para tentara utara itu bahkan tak memberi Lee dan kawan-kawannya air untuk diminum selama perjalanan.

Tiga tahun yang lalu, Lee dan beberapa warga sipil Selatan direkrut untuk ikut berperang. Dengan kemampuan dan senjata seadanya, mereka akhirnya ditangkap pasukan Utara. Sore itu sebelum dimasukkan ke mobil truk, mereka diminta berkumpul di barak utama, sebuah tenda yang paling besar di antara seluruh tenda yang dibangun sementara. Lee, saat itu berpikir bahwa mereka akan dipulangkan. Dia ingat seseorang pernah mengatakan akan memulangkan sebagian dari para tawanan usai gencatan senjata. Tapi mereka tidak punya televisi, radio, atau surat kabar. Mereka tidak tahu kapan kedua wilayah akan melakukan gencatan senjata. Mereka hanya bertahan hidup dengan harapan janji itu akan datang tak lama lagi.

Perjalanan malam itu cukup panjang. Lee mulai kesulitan bernapas, kepalanya berat. Namun, semangat itu membuncah di dadanya. Dia mulai membayangkan truk itu berhenti di perbatasan. Terbayang samar-samar wajah istrinya yang telah lama menunggu. Istrinya bukan lagi gadis belasan tahun. Apakah dia sehat? Apakah dia makan dengan layak? Apakah dia masih setia? Pertanyaan-pertanyaan itu bermain di benak Lee Won Shik, melompat-lompat seperti bola-bola kecemasan dan kebahagiaan yang berkejar-kejaran.

Kenangan akan Selatan, istrinya, dan lagu-lagu Song Min Do, penyanyi wanita yang lagunya sering dia senandungkan, mendadak lenyap ditelan pemandangan yang menghancurkan perasaan. Dia didorong dan ditendang hingga terpental keluar dari truk yang cukup tinggi itu. Kain penutup mata para tawanan dibuka satu per satu. Sebagian tertegun, sebagian terisak. Lee Won Shik, menjadi bagian dari kelompok kedua.

Sebuah terowongan tak berujung tampak di hadapan mereka. Terowongan itu adalah proyek penambangan Utara yang dalam, gelap, dan panas. Para tawanan diminta berbaris memasuki terowongan itu.

“Kau, yang kurus!” teriak seorang tentara Utara berseragam sambil mengacungkan senjata ke arah Lee.

“Kau, iya kau Lee Won Shik, kemari ikut aku.” Seorang tentara lain kemudian menarik lengan Lee dengan paksa, menyeretnya hingga sampai ke salah satu lubang kecil di dinding terowongan. ”Kau masuk pertama”.

Lubang itu kecil sekali, bagaimana mungkin manusia bisa masuk ke sana? Lee mulai merasa khawatir.

“Hei, tak usah banyak berpikir, masuklah!” bentak tentara yang menariknya.

“Dorong saja dia jangan lama-lama,” teriak tentara yang tadi mengacungkan senjata.

Tentara kedua langsung memukul kepala Lee dengan senapannya. “Masukkan kepalamu dulu, merangkak masuk,” perintahnya untuk ke sekian kali.

Aroma gas menyerang masuk ke lubang hidung Lee. Dia merangkak semakin jauh, hampir tidak ada tenaga tersisa. Dia lalu mengintip sedikit ke balik bahunya yang ringkih, tersisa sedikit sinar dari luar. Sinar itu datang dari senter si tentara kedua yang perlahan-lahan redup. Dari kejauhan dia mendengar beberapa kawannya yang memberontak. Mereka melawan tidak ingin masuk ke lubang-lubang bergas itu. Kekacauan terjadi di luar. Rupanya mereka hanya berpindah lokasi pekerjaan. Pabrik kayu ditutup, tetapi mereka harus menjadi budak penambangan Utara.

Lee cemas. Bagaimana mungkin dia bisa tiba di Selatan? Dia bahkan tak lagi bisa melihat lubang kecil yang tadi dilewatinya. Semakin jauh, semakin dia merasa gas itu meracuni paru-parunya. Lubang kecil itu tak tampak lagi, sekelilingnya gelap dan lembap. Tak ada lagi suara, hanya teriakan tentara Utara yang menyuruhnya untuk terus merangkak bergantian dengan suara batuknya yang menyesakkan. Tubuhnya lemas, dia tak lagi bisa merasakan kakinya bergerak. Dia menahan diri untuk tidak makan sejak pagi. Daripada menyantap nasi lembek berkutu, Lee memilih menunggu tiba di rumah menikmati masakan istrinya. Kini dia benar-benar tak berdaya. Keracunan, lapar, dan mati rasa. Lee Won Shik menyerah pada lubang gelap itu, pada nasibnya. Aku, tulang-tulangku, mimpiku, harapanku, biarlah terkubur di sini. Mata Lee Won Shik kemudian perlahan terpejam.

*

Surat Ke-1059.

“Untuk istriku Hye Jin. Aku pernah mendengar seorang serdadu mengatakan hari gencatan senjata di Panmunjom akan segera tiba. Itu artinya kita akan kembali bersua. Aku pikir inilah harinya. Serdadu itu mengatakan esok kami akan mengucapkan selamat tinggal. Dia juga bilang perjalanan kami akan panjang. Tunggu aku di rumah. Bila sampai di perbatasan, aku akan berlari sekuat tenaga menemuimu. Jangan hidangkan tahu atau susu kedelai. Aku bukan penjahat yang dipenjarakan. Aku adalah pejuang. Namun, rasanya semua sudah cukup. Aku rindu padamu, perjuangan ini tak sepadan dengan dirimu. Aku akan kembali. Siapkan saja sup dan soju. Nyanyikan lagu ‘Malam Terang Bulan Silla’ untukku nanti. Aku akan pulang. Aku pikir inilah harinya.”***

Catatan:

  • Panmunjom adalah tempat terjadinya perjanjian gencatan senjata antara Korea Utara dan Korea Selatan yang terletak di tengah Zona Demiliterisasi (DMZ).
  • Di Korea Selatan, orang yang keluar dari penjara akan disuguhi tahu putih sebagai simbol pembersihan jiwa dan awal yang baru.


Aprilia Nurmala Dewi, penulis berdomisili di Sinjai Utara.

Cerpen

Musim yang Rumit

Cerpen Ranang Aji SP

Memasuki musim hujan tahun ini, bagi Armando, adalah waktu di mana ia harus mempersiapkan dirinya lebih kuat untuk menghadapi kenangan yang tak ubahnya badai yang mengancam. Musim yang memberinya ingatan buruk atas hilangnya rasa ceria pada kehidupan yang seharusnya ia miliki. Bertahun-tahun lampau dan bertahun-tahun kemudian, kenangan itu datang bagaikan teror bersama turunnya air hujan sepanjang hari dan juga banjir yang menggenang kecokelatan di kotanya.

Setelah mengunci pintu rumahnya, Armando berjalan menuju toko, tempat di mana semua barang seperti mantel dan payung dijual. Ia menyapa pemilik toko, seorang pria bernama Lee. Bercakap-cakap sebentar, sebelum kemudian memilih-milih payung yang berwarna-warni dan  berjajar di atas tatakan besar. Ia ingin payung yang besar dan berwarna kuning dan ia mendapatkannya. Setelah membayarnya, ia berkata pada Lee bahwa waktu berlari seperti buroq. Waktu yang seolah tak memberinya kesempatan untuk beristirahat dari kenangan yang menikam.

“Ah, lupakanlah,” kata Lee pendek. Matanya yang kecil bersinar perihatin.

Armando menatap sejenak wajah Lee dan tersenyum lemah. Ia mengatakan akan ke tempat Clara.

***

Sepuluh tahun lalu, ia mengenal Lee di toko ini. Mereka selalu bercakap-cakap di antara waktu senggang Lee. Pemilik toko itu kemudian memperkenalkannya pada seorang perempuan bernama Clara, sepupu Lee. Armando juga kemudian berkenalan dengan seorang pria bernama Bruno dan Johan. Keduanya adalah teman Clara. Dalam beberapa waktu, mereka menjadi teman bicara di toko Lee. Ketika tak ada pelanggan Lee ikut bersama untuk mengobrol di teras toko bersama rokok dan bir. Mereka bicara apa saja tentang semua kejadian di kota mereka. Juga tentang cinta yang misterius.

Ketika Armando disangka jatuh cinta pada seorang gadis bernama Sofia, teman-temannya mulai membicarakannya. Mereka mempertanyakan siapa Sofia. Clara bahkan memintanya untuk memperkenalkan gadis itu pada mereka. Kata Clara, lebih baik mengajaknya berkumpul agar menjadi bagian dari mereka. Dengan demikian, Armando bisa tetap berkumpul bersama mereka di teras toko Lee. Semua setuju dengan pendapat itu. Armando pun setuju, dan begitulah akhirnya, Sofia berkenalan dan menjadi bagian kelompok itu.

Pada setiap minggu Sofia datang untuk ikut berkumpul, bahkan tak perlu lagi Armando menjemput. Sofia gadis yang supel dan mudah sekali akrab dengan teman-teman barunya. Terutama dengan Bruno. Setiap kali Bruno tak muncul, Sofia tampak terlihat resah dan murung. Sementara Armando melihat semua itu dan berpikir bahwa Sofia menyukai Bruno. Tapi ia hanya mengamati dan menunggu. Clara sendiri mengamati sikap Armando yang tenang seperti permukaan air yang dalam. Dan bagi Lee, semua itu tak terlihat sebagai apapun. Lee lebih menikmati perbincangan yang membuatnya melupakan waktu yang membosankan.

Suatu waktu, Clara bertanya pada Armando ketika berada di rumahnya –tentang desas-desusnya.

“Benarkah kau menyukai Sofia?”

Armando tak kaget dengan pertanyaan itu. Ia sudah tahu semua orang menyangkanya menyukai Sofia. Dengan suara pasti, Armando mengatakan tidak. Jawaban itu justru membuat Clara terkejut. Lebih kaget lagi ketika Armando mengatakan bahwa dirinya menyukai Clara. Clara tampak suka dengan jawaban itu, tapi ia hanya diam. Ruangan itu menjadi sunyi. Malam itu, tiba-tiba, Armando dengan keberanian seekor singa jantan mendekati Clara yang duduk terdiam di sofa. Merengkuh perempuan itu, dan tiba-tiba mereka bercinta begitu saja, sebagaimana waktu yang datang tanpa disadari. Armando mengira Clara dalam kekuasaan cintanya. Tetapi ia salah. Clara menggeleng setelah semua usai. Clara mengatakan melakukan itu hanya karena ia menginginkan, bukan karena perasaan.

“Jangan salah sangka,” kata Clara lirih.

Armando kecewa dengan jawaban itu. Tapi ia berusaha tak peduli. Matanya yang hitam menatap wajah Clara yang halus. Mencoba mencari apa yang tersembunyi di antara jasad dan hatinya. Tapi ia tak mampu menemukan apapun kecuali kecantikannya. Setelah peristiwa itu, Armando merasakan dirinya seperti tertahan dalam sebuah perasaan yang tak dimengerti oleh dirinya sendiri. Setiap waktu seolah-olah dirinya terpenjara dalam kurungan sempit yang menahannya. Hingga akhirnya Armando sadar, bahwa Clara telah begitu berkuasa atas dirinya.

Ketika Clara datang, seluruh hidupya luruh sepenuhnya pada keinginan perempuan itu. Ia merasakan betapa damai bersamanya. Jiwa Armando menjadi seperti belalang sembah jantan yang rela mati untuk pasangannya dengan membiarkan otaknya dimakan sang betina ketika bercinta. Seluruh hidupnya seolah akan dipersembahkan hanya untuk Clara. Namun, sepupu Lee itu tak mudah percaya. Dia mengatakan bahwa jika benar Armando mencintainya, maka semua harus dibuktikan dengan ketundukan tanpa menuntut apapun kepadanya. Armando menerimanya.

Sekian waktu, Armando mengikuti apa yang diinginkan Clara, meski hubungan mereka tak pernah seperti yang ia inginkan, yaitu menjadi pasangan yang berkomitmen dan diketahui semua orang. Hingga pada akhirnya, ia merasa tak kuat dan mencoba memohon pada Clara sekali lagi, agar hubungan mereka diresmikan hingga taraf pengakuan. Tapi Clara menolak dengan alasan tak siap dengan sebuah hubungan yang mengikat. Kecewa dengan penolakan itu, Armando mengerahkan dirinya untuk mencoba menerima kenyataan dan memilih merayu perempuan lain. Maka ia mencoba mendekati Sofia, tapi, hanya demi membuat Clara cemburu.

Ketika Armando mendekati Sofia, persoalan menjadi semakin rumit. Sofia tiba-tiba membencinya dan selalu bersikap kasar, seolah Armando adalah mimpi buruk baginya. Sikap itu membuat Armando bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa salahnya hingga Sofia begitu membencinya. Karena tak menemukan jawaban, Armando akhirnya bertanya pada Clara dengan harapan mendapatkan jawaban. Namun, ketika ia mencoba menanyakan itu, perempuan itu justru marah dan memakinya sebagai laki-laki tak punya rasa setia. Armando bingung. Otaknya tak mampu mencerna apa keinginan Clara sesungguhnya.

Suatu malam, ketika hujan mengguyur kota, Armando menuju toko Lee. Ia datang ketika Johan dan Bruno tengah berbincang, sementara Lee melayani pelanggannya. Ia tak melihat Clara dan Sofia di sana. Ia hanya menemukan mata Bruno yang berbinar saat Armando bergabung. Tangan Bruno menarik lengan Armando agar duduk di sebelahnya. Sebelum kemudian berbincang tentang hujan dan sebagian kota yang terancam banjir. Beberapa saat kemudian, Sofia datang bersama Clara. Namun, begitu melihat Armando duduk bersebelahan dengan Bruno, Sofia tiba-tiba berteriak histeris dan melempar sepatu ke wajah Armando.

“Kalian bajingan haram jadah!: Suara Sofia terdengar seperti geledek hingga membuat orang-orang di sekitar toko memperhatikan.

Armando yang tak mengira menjadi sasaran kemarahan kaget setengah mati. Ada apa ini? Tanyanya dengan suara gagap. Semetara Lee yang tengah melayani pelanggan, segera mendatangi dan mencegah Sofia yang telah menjadi gila menyerang Armando yang berdiri panik dan kebingungan. Melihat kejadian yang tak disangka itu, Clara dengan wajah setengah panik meminta Armando menjauh dan mengikutinya.

Akhinya, dengan diiringi suara caci maki Sofia, mereka berdua pergi. Setelah mengambil payung berwarna kuning, Clara mengajak Armando menuju parkiran dan meminta Armando menyetir mobil. Sementara itu dengan perasaan bingung atas yang menimpanya, Armando menuruti kemauan Clara. Sepanjang jalan yang basah oleh hujan itu, tak ada satu pun yang bicara. Armando masih merasa bingung dan tegang. Sementara Clara hanya termenung. Ketika mereka sampai di jalanan sunyi di antara pohon-pohon yang basah, tiba-tiba dengan suara getar, Clara mengatakan kata maafnya yang tak dipahami Armando untuk apa. Hingga kemudian perempuan mengakui bahwa semua itu terjadi karena salahnya. Sofia, lanjutnya, cemburu karena mendapatkan informasi darinya bahwa Bruno adalah pacar Armando.

“Maafkan aku,” katanya, “aku tak ingin kau dekat dengan Sofia.“

Pengakuan itu membuat Armando marah. Ia tak tahu apa maksud Clara berbuat seperti itu. Apa yang ia tahu, selama ini Clara menolaknya. Ia tak menyangka jika Clara melakukan itu. Emosinya menekan dadanya. Rasa sesak dan panas di dadanya membuat kakinya menginjak pedal gas tanpa kendali. Mobil melaju kencang. Clara panik. Ia meminta Armando berhenti. Permintaan itu ditanggapi Armando dengan menginjak pedal rem secara kuat. Mobil berhenti mendadak dengan suara berderit, hingga membuat tubuh mereka teranyun keras ke depan. Kepala Armando tiba-tiba terserang rasa sakit akibat benturan, dan matanya berkunang-kunang. Namun, ketika ia ingin menumpahkan rasa kesalnya pada Clara, Armando melihat perempuan yang selama ini ia puja tak bergerak dengan dahi berdarah.

“Lupakanlah,” ulang Lee. “Itu bukan salahmu.” Armando menatap mata cokelat Lee. Mata itu mengingatkannya pada Clara.****


Ranang Aji SP menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karyanya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Dalang Publishing LLC USA menerjemahkan dua cerpennya ke dalam bahasa Inggris. Menjadi nominator dalam Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Buku Kumcernya “Mitoni Terakhir” diterbitkan penerbit Nyala (2021).

Puisi

Puisi Dzikron Rachmadi

Tragika Bala Trunajaya

: Sendang Drajat, Canggu

— di petirtaan keputren itulah, Tuan, muasal Tuan

bersikejar dengan prajurit Majapahit yang berang

akan perangai Tuan, akan perangai

yang tak diajarkan oleh Kebenaran

kepada Tuan sekalian!

/bata putih/

bata-bata itu mungkin tak ingin mengimajinasikan dirinya

sebagai gumpalan-gumpalan salju, tatkala Tuan Irapati

hantamkan kepada prajurit Majapahit yang terus menyerbu

tapi Tuan hanya bermaksud mendinginkan murka prajurit,

“tak ada salju, bata pun jadi!” batin Tuan, barangkali

sedang di genggaman tangan Tuan, bongkahan bata

masihlah bersikeras mengeraskan dirinya;

ia tak mengerti mencairkan tubuh sendiri,

mencairkan hati prajurit apa lagi

tapi Tuan hanya bermaksud mencairkan murka prajurit,

“tak ada salju, bata pun jadi!” batin Tuan, berulangkali

hantam! hantam! hantam!

“toh, bata, kau juga berwarna putih, bukan?”

gumam Tuan tatkala kian digigilkan gamang

tatkala Tuan kian tersudut di ujung pengejaran

/kepung/

sungguh kami tak ‘kan pernah mampu

membayangkan, Tuan, tak ‘kan mampu,

gerangan apa kaki Tuan melaju ke situ:

ke tempat dialamatkannya mautmu itu!

sebab barang tentu, Tuan, barang tentu

tiada lagi haribaan paling lindung

setelah panas lelava cemas kadung menggunung

dalam dada Tuan yang kadung linglung

o Tuan yang linglung, Tuan Iramenggala yang teramat linglung

: adakah tulah paling pahit dari gerombol prajurit Majapahit

malainkan Tuan telah terkepung

melainkan Tuan telah terkepung?

/bloran/

maka barangkali tidak ada seekor vertebrata paling setia

melainkan hanya Belo Anak Jaran yang sudi memberikan

punggungnya; untuk kemudian Tuan Gantarpati kendara

“tapi aku yakin,” batin Tuan, “Anak Jaran yang pintar

ialah yang tak membawa Tuannya ke mana pun, kecuali

menyerahkan kepada prajurit yang tengah mengejar!”

Anak Jaran yang pintar rupanya lebih memikirkan peradaban;

ia mengenyahkan Tuannya demi menyediakan dirinya

untuk sebuah dukuh dengan menjelma sebuah nama

dengan begitu ia akan selalu hidup & akan tetap hidup

sepanjang zaman & sepanjang peradaban

selamanya hidup sebagai Belo Anak Jaran

selamanya hidup sebagai nama Dukuh Bloran

/surawana/

di rahim belantara hutan Surabawana, Tuan,

sintru yang wingit menolak satru yang sengit

(pamali Tuan Irabuwana & prajurit Majapahit)

“maka tiada lagi persatruan musti diabadikan!”

di rahim belantara hutan Surabawana, Tuan,

Tuan membangun kerajaan dari kesunyian,

o meski tak semegah dalam benak sejarah—

sebagai sebuah markah Tuan pernah singgah

sedang Trunajaya memilih untuk menghilang:

melesat entah ke telatah liyan

melesat entah ke telatah liyan

Pare, 01-03-2023


Memorabilia Candi Surawana

: kerinduan pada Raja Hayam Wuruk

1.

pada Saka Tiga Badan &

Bulan (1283) Waisaka:

Raja Hayam Wuruk—

yang padanya rakyat

patuh & tunduk—tengah

melawati & melewati

sepanjang jangkauan kelana,

lalu mengantukkan

ujung jangkahnya di

telatah Surabawana,

demi membaringkan

kantuk, bermalam di

Candi Wishnubhawanapura,

sebelum kemudian

sinar fajar mengantar

Ia kembali ke istana

2.

(tibalah kemudian Raja

Hayam Wuruk di istana)

maka setelah itu, tiada lagi

malam semanis rembulan

madu, selain malam bersama

Raja Hayam Wuruk kala itu,

lantaran, malam-malam

setelahnya—bagi candi batu itu

—hanyalah malam-malam

bersama angin tajam

yang cuma paham

memahatkan

dingin kerinduan

paling candu; pada

dinding tubuh batunya

yang kian mengerang

& mengeras itu

sementara

kesepian malam,

kesepian malam masihlah

satu-satunya selimut

paling rawan; akan

tajam angin malam

yang memahatkan

dingin kerinduan,

sepanjang zaman

sepanjang peradaban—

hingga kini zaman kita datang!

“o adakah kini Hayam Wuruk

juga berkenan kembali datang?”

3.

kini, setelah abad-abad

lelah merengkuh waktu:

rindu yang begitu candu

telah membatu pada

tubuh candi batu itu,

hingga seluruh

tubuh candi batu itu

adalah rindu,

adalah rindu!

Pare, 07-03-2023


Candi Tegawangi Mengharumi Ingatan Kami

: Bhre Matahun

& orang-orang menamai Tegawangi, dahulu,

dahulu sekali, setelah tiga orang anak lahir dari rahim waktu

menimang hidupnya di telatah itu, lalu mengubah

segala yang beraroma sunyi menjadi wangi—

menjadi bakal singgasana bersemayamnya sebuah candi

maka pada Sraddha 12 Warsa Pendharmaan

Sri Ratu Matahun di Kusumapura:

alkisah, Tuhan sendirilah yang

memetik setangkai bunga dari Surgaloka

lalu dijatuhkannya ke dalam jagat

atman para pendiri candi sewangi tiga,

sewangi bunga, sewangi dupa,

sewangi api kremasi yang memandikan

daksha Sri Ratu dari segala dosha

sebelum kemudian ia bertakhta

di dalam tenteram kesuwungan moksha

& kini, masih ada yang dapat kami rasakan

serupa sesuatu yang tak letih mengulurkan tangan

ke dalam liang-liang kepala kami; serupa kisah

masa silam -yang tulus menaburkan

kelopak bunga mewangi—

adalah taburan kisah sejarah Candi Tegawangi, yang masih

setia mengharumi ingatan kami

setia mengharumi ingatan kami

masih

Pare, 05-03-2023


Binatang-binatang yang Masih Terkenang

di Pertigaan Patung Kuda Macan

: Tawang

/piton kembang & kera/

dukuh kami punya pesulap kondang, ia berumah

tepat di sudut tenggara pertigaan

pada suatu Pagelaran Agustusan, pernah ia

menyetrika sendiri punggung anak gadisnya yang masih belia

di atas panggung di depan sekalian pemirsa, namun

ia menganggap hal itu bukanlah suatu siksa, lantaran tiadanya

torehan luka bahkan rasa

& ia dapat mengeluarkan dari kotak pandora kosong miliknya

beberapa uang kertas serta logam

& berbagai macam jajan pasar: apem, lemper, bikang, pisang,

pakaian dalam, pembalut wanita,

& kemudian ia lempar-lempar ia bagikan ke sekalian pemirsa

di kotak pandora yang lain, ia memiliki seekor piton kembang,

terkadang ia kandangkan di depan rumah, & seringkali

membikin orang terhenyak ketakutan saat melintasi pertigaan,

di samping kandang itu, ia memelihara pula seekor kera jantan

yang ia ikatkan di pohon rambutan: kemudian

ia jadikan mereka berdua sepasang saudara saling menyayangi

& pesulap itu sangat menyayangi mereka, menyayangi

/sapi/

dulu, tetangga kami berduka, setelah seekor sapi

miliknya lolos dari kandang & berlarian melintasi pertigaan

lalu melanggar pengendara sepeda motor sehabis

mengambil air mujarab dari suatu sumur

di dukuh nun jauh

orang itu mencari sembuh, ia malah terjatuh,

sementara si sapi rubuh & orang-orang menuntunnya

ke bawah pohon mangga yang teduh di

sekitar pertigaan lantaran kakinya yang pincang

tiba malam mengguyur sekujur dukuh

sapi itu hanya merebah tubuh, kakinya yang pincang

tiada lagi bisa digunakan untuk berdiri

bahkan berjalan bahkan berlarian

malam meradang & membakar pertigaan,

orang-orang dukuh kami ramai-ramai berjuang menggotong

tubuh gempal sapi itu ke atas bak pick-up,

pemilik sapi menjualnya kepada penjagal

dengan separuh harga semula

& ia masih berduka

/burung & kucing/

pohon mangga sekitar pertigaan telah ditebang,

pemilik tanah itu mendirikan bangunan, lalu menyewakan,

lalu jadilah sebuah toko burung & kucing beserta pakannya

dari cerita Luis Sepúlveda yang kita baca, kita dapat mengetahui bahwa:

kucing yang baik hati mengajari anak burung untuk dapat terbang sebab

induk burung tidak lagi dapat mengajarinya setelah terbang & jatuh akibat

tumpahan minyak kapal tanker di laut melengketkan bulu-bulu sayapnya

di situ, di toko itu, kucing-kucing begitu pemalu & tidak ada

pula burung terbang & jatuh akibat tumpahan minyak kapal

tanker di laut melengketkan bulu-bulu sayapnya

di situ, di toko itu, tidak ada burung-burung

yang boleh terbang bebas, tidak ada

semua pakan sudah tersedia

/kuda & macan/

beberapa tahun silam, di pertigaan itu,

seorang pematung menaruh sepasang

karyanya dalam wujud binatang:

sisi utara untuk kuda

sisi selatan untuk macan

tak lama si pematung pergi dari dukuh kami,

kami menduga, barangkali:

kedua patung itu adalah reinkarnasi dari

binatang-binatang pada gunungan wayang

di situ, di pertigaan itu, ia menaruhnya

sebagai penjaga dukuh kami yang purwa

Pare, 14-02-2023


Lampu-lampu Menggelantung & Bercahaya

di Sepanjang Jalan Dahlia

kita mulai dari selatan, memasuki mulut gang kecil yang

terbuka lebar, kita menyebut ini Jalan Dahlia ketika kita

membiarkan ini jalan terus menelan kita ke utara

sembari menyaksikan lampu-lampu yang

menggelantung & bercahaya

terkadang, aku suka membayangkan, lampu-lampu itu

seperti buah-buah yang menggelantung

di dada langit sana; bintang-bintang ranum yang mampu

menggelegakkan gairah para penujum kuna,

lalu penujum itu, penujum itu adalah kita,

adalah kita yang begitu mendamba nasib bahagia

senantiasa baka, o senantiasa baka

namun terkadang, aku juga suka membayangkan,

Jalan Dahlia tak ubahnya Taman Sorga

di tengah kota kecil kita, lalu lampu-lampu itu &

kabel-kabel itu: adalah sepasang Apel & Ular,

sedang tiang-tiangnya Pohon Kehidupan,

namun di sini, di sini tidak ada sepasang Hawa & Adam,

tidak ada, hanyalah ada berpasang-pasang mata

pedestrian juga pengayuh sepeda; mata yang

senantiasa memakan pijaran lampu-lampu bercahaya

o betapa lampu-lampu itu bercahaya kuning

begitu tulus mengecupkan cahayanya sampai ke kening

pada setiap pedestrian juga pengayuh sepeda,

sampai mereka tiada ingin berpaling

dari gang kecil di tengah kota Panglerenan kita—

dari gang kecil bernama Dahlia,

                                                            o bernama Dahlia

Pare, 10-02-2023


Dzikron Rachmadi, lahir dan berdomisili di Pare, Kabupaten Kediri. Pernah belajar di PAI FTIK Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri. IG: @_dzikroch.

Cerpen

Mereka yang Dijemput, lalu Bertemu Malaikat Maut

Cerpen Annisa Nur Utami

Bapak mati tanpa diadili. Kepalanya bolong diterjang peluru. Sepotong tali plastik melilit lehernya. Mayatnya dibuang di pinggir jalan tanpa busana, tanpa kain apa pun yang menutupinya. Tangannya diikat ke belakang. Jejak tebasan kelewang di bagian tubuhnya yang dirajah dengan tato naga dan kobra menganga, mengundang lalat untuk beranak. Bisikan orang-orang yang menonton mayatnya bisa kudengar dengan jelas, “Gali pantas mati.”

Usiaku 20 tahun saat Bapak mati. Aku paham dengan peristiwa jahanam yang menimpanya. Pemerintah durjana ingin negara aman dengan menghabisi bromocorah. Mereka memburu dan mencabut nyawa anggota gali, preman bertato yang mencari uang dengan memeras, menjambret, merampok atau mengutip uang keamanan dari toko, salah satunya Bapak.

Sebelum tubuh kakunya ditemukan, Bapak dijemput sekelompok orang bertubuh tegap dan berpakaian preman. Orang-orang itu memakai penutup kepala sehingga Ibu tidak mengenali mereka. Bapak diseret dan dipaksa naik ke jip Toyota Hardtop berwarna hitam. Ibu mendengar suara mengaduh ketika kepala Bapak dihantam gagang pistol. Tapi, Ibu hanya bergeming karena terlalu takut untuk melawan. Terlebih, Ibu diancam dengan todongan pistol saat hendak berteriak. Ibu menceritakan peristiwa itu kepadaku esoknya, tepat setelah aku bebas dari lapas gara-gara kasus perampasan. Pada hari yang sama, mayat Bapak ditemukan tergolek di kawasan terminal dan pertokoan tempat dia biasa meminta jatah keamanan.

“Asu!” Makian Panjul menyadarkanku dari lamunan. Dia melempar koran yang memuat foto dan berita kematian Bapak ke depanku. Lantas, dia menghempaskan punggungnya yang dirajah dengan tato bergambar kunci ke dinding dangau yang hanya setinggi bahu. Kemurkaan tergambar jelas di wajahnya.

Sahir hanya melirik sesaat. Tangannya sibuk melingkarkan perban di kaki. Untuk mengelabui petrus sekaligus agar tidak dianggap gali, dia nekat menghilangkan tato di kakinya dengan soda api. Akibat kebodohannya itu, lukanya infeksi dan bernanah. Bau busuk akan tercium sangat menyengat dan mengundang lalat jika lukanya tidak dibebat. Sementara aku memilih mengenakan celana dan kemeja panjang demi menutupi tato.

Aku tak berselera untuk menanggapi ucapan Panjul. Pikiranku dipenuhi cara agar bisa tetap hidup dan tidak berakhir seperti Bapak.

Pada petang di hari yang sama dengan penemuan mayat Bapak, Sahir memberi daftar gali di wilayah Kulonprogo. Namanya, namaku, dan Panjul ada dalam daftar gali di wilayah itu. Jika sudah masuk dalam daftar buronan Garnisun Kodim, hanya tinggal menghitung hari untuk bertatap muka dengan kematian.

“Bagaimana kalau kita menyerahkan diri saja?” Pertanyaan konyol dan bernada putus asa itu meluncur dengan mulus dari mulut Sahir. Dia sudah selesai membalut lukanya. “Tosari, kamu setuju dengan ideku?”

Aku hendak menjawab pertanyaan Sahir, tapi Panjul lebih dulu memotong.

“Goblok! Kita sembunyi agar tidak mati! Di mana otakmu?” Panjul meninju alas dangau. Ada kilatan amarah pada tatapannya. Mata pria berusia setengah abad itu seakan-akan hendak menerkam dan mengoyak daging Sahir. “Jika kamu mau mati, mati saja sendiri. Tidak usah mengajakku, Bocah Asu.”

Sahir mengabaikan kemarahan Panjul. Dia mengambil koran yang tadi dilempar Panjul, lalu melebarkan lipatannya dan menunjukkan berita tentang Brindil, laki-laki yang menyangkal tuduhan bahwa dirinya anggota gali. “Kita bisa mencoba cara ini agar bisa selamat dan dihapus dari daftar target Garnisun.”

“Bagaimana jika gagal? Laki-laki itu memang terbukti bukan gali. Lah, kita? Pergi ke kodim sama saja dengan menyerahkan nyawa.” Aku mengeluarkan kalimat pesimis, “Lagi pula, Garnisun pasti punya banyak mata-mata. Kita bisa mati, bahkan sebelum mencapai tempat itu. Kalaupun sampai dengan selamat, kita tidak akan diampuni begitu saja. Banyak sopir bis dan pemilik toko yang sudah menjadi korban kita. Bukan tidak mungkin, mereka akan melaporkan kita.”

Sahir mengangguk. “Kamu benar. Itu sama saja dengan bunuh diri.” Dia terdiam sesaat, seperti sedang memikirkan sesuatu. “Aku punya teman di daerah Banyumas. Bagaimana jika kita tinggal di sana untuk sementara waktu sampai keadaan di sini aman?” Sahir menawarkan ide sambil menatap aku dan Panjul bergantian. Tanpa menunggu reaksi kami, dia bersuara lagi, “Ambil bekal secukupnya. Kita berkumpul lagi di sini sebelum fajar.”

***

Jam 3 pagi, aku dan Panjul menunggu kedatangan Sahir di dangau. Tempat itu dikelilingi sawah dengan rumpun batang padi yang mengering. Sepi sekali. Bahkan, tak kudengar denging nyamuk. Kemarau panjang tak memberi tempat basah bagi nyamuk-nyamuk untuk bertelur.

“Jika sudah sampai Banyumas, kita kerja apa?” Panjul mengembuskan asap rokok ke udara. Matanya menerawang jauh. “Masa, mau jadi garong lagi?”

Aku ingin tertawa, tapi kematian Bapak masih membayangiku. Pertanyaan itu sungguh menggelitik. Pendidikanku hanya sampai sekolah dasar. Itu pun tidak sampai lulus. Keahlian khusus pun tidak ada yang kukuasai, selain menjabret dan memeras pedagang. Jadi, jawaban untuk pertanyaan itu hampir membuatku terpingkal. “Ndak tahu, Mas. Mungkin jadi tukang parkir aja.”

Kelengangan terusik. Aku menoleh dan bangkit ketika mendengar sesuatu patah akibat terinjak. Naluriku langsung berkata ada bahaya saat melihat ke sekeliling dangau. Di bawah sorot remang cahaya bulan, aku melihat beberapa orang bergerak dengan mengendap-endap ke arahku. Cara bergerak yang mencurigakan itu membuatku yakin bahwa salah satu dari mereka bukan Sahir.

Setelah memastikan orang-orang itu berjalan ke arah aku dan Panjul, kami segera mengambil langkah seribu. Sahir menyuruh kami untuk tidak membawa senjata apa pun agar tidak dicurigai. Sialnya, kami menurut. Jadi, aku dan Panjul memilih lari karena kami tak punya alat apa pun yang bisa digunakan untuk melawan mereka. Tas lusuh kami yang hanya berisi pakaian kami tinggalkan di dangau.

Sedetik kemudian, aku mendengar suara pistol meletus berkali-kali. Tak lama setelah itu, aku merasa hawa panas menerjang belikat dan lututku. Seketika aku tersungkur di tanah berpasir. Aku berusaha meraup udara dengan rakus, tapi sulit. Seperti ada beban berat yang menekan tubuhku kuat-kuat. Mataku berkunang-kunang dengan kepala yang terasa pening.

Dalam kesadaran yang masih tersisa, aku melihat seorang pria menghampiri Panjul yang juga tersungkur di tanah. Pria itu menendang Panjul, seperti memastikan Panjul sudah mati. Pria lain menghampiri Panjul. Dia menarik rambut Panjul dan  membidik kepala Panjul tepat di tengah dahi. Bunyi pistol kembali menyalak.

Penembak Panjul menatapku. Kengerian pada sorot matanya membuatku yakin bahwa ajalku telah tiba. Aku berusaha memohon ampun, tapi yang keluar dari mulutku hanya suara lemah serupa rintihan. Darah segar mengucur dari hidungku. Rasa asin memenuhi indera perasaku. Lama-lama semuanya terasa ringan dan melayang. Kemudian, aku merasa larut dan lenyap.

***

Guyuran air di muka memaksa kesadaranku untuk kembali. Sosok pertama yang kulihat adalah bayangan samar orang-orang yang tidak kukenal. Rasa sakit pada belikat dan tangan yang terikat ke belakang membuatku tak leluasa untuk bergerak. Terlebih, lututku sulit untuk diluruskan. Aku hanya bisa meringkuk di lantai.

“Di mana Karto Kancil?” Pria dengan postur tubuh tegap menarik paksa rambutku. Dia menyebut nama salah satu pengurus gali di daerah Kulonprogo.

“Tidak tahu,” jawabku jujur. Sebelum ditahan di lapas, aku memang anak buah Karto Kancil. Tapi, setelah bebas, aku tak pernah mendengar kabarnya lagi.

Tanpa melepas jambakan dari rambutku, pria itu menghantamkan bogem mentah ke wajahku, menghantarkan denyut rasa sakit yang menyengat. “Jawab!” Dia berteriak tepat di depan telingaku.

“Aku benar-benar tidak tahu!”

“Bapak dan anak sama saja!” Pria itu akhirnya melepaskan cengkeramnya setelah meludahi wajahku. Namun, sebelum menjauh, dia menendangku tepat di ulu hati. Aku kembali merintih. Pada detik itu, aku berharap untuk mati saja.

Dalam keremangan suara-suara yang tidak kukenal, aku menangkap bunyi yang tidak asing.

“Seandainya kamu mau kuajak untuk menyerahkan diri, nasibmu tidak akan seperti ini dan mungkin kita akan menjadi partner.”

Aku membuka mata. Seorang pria dengan langkah tertatih-tatih berjalan mendekat sembari menenteng sepucuk karabin. Wajah pria itu, yang semula samar, semakin jelas. Bau busuk menguar dari tubuhnya, seolah-olah mengaduk perutku untuk menyemburkan muntahan. “Sahir?”

Dia menyeringai serupa iblis.

Takdirku sudah digariskan. Aku mati tanpa diadili. Kepalaku bolong diterjang peluru. Sepotong tali plastik melilit leherku. Mayatku dibuang di pinggir jalan tanpa busana, tanpa kain apa pun yang menutupi tubuhku. Tanganku diikat ke belakang. Jejak tebasan kelewang di bagian tubuhku yang dirajah dengan tato naga dan kobra menganga, mengundang lalat untuk beranak. Bisikan orang-orang yang menonton mayatku bisa kudengar dengan jelas, “Gali pantas mati.”***

Samarinda, 10 Mei 2023


Kelengangan terusik. Aku menoleh dan bangkit ketika mendengar sesuatu patah akibat terinjak. Naluriku langsung berkata ada bahaya saat melihat ke sekeliling dangau. Di bawah sorot remang cahaya bulan, aku melihat beberapa orang bergerak dengan mengendap-endap ke arahku. Cara bergerak yang mencurigakan itu membuatku yakin bahwa salah satu dari mereka bukan Sahir.

Annisa Nur Utami, pengarang kelahiran Bandung ini sudah melahirkan novel berjudul Ibu untuk Airin. Beberapa tulisannya dimuat di media massa online dan media massa cetak.

Puisi

Puisi Ilham Wahyudi

Nangka

Masih kau sebut durikah beskap hijau tua tak bergigi itu—seraya terus bersembunyi dari mata licik orang iseng tengah malam—sedang harummu, amboi, laksana kawinnya setandan pisang matang dengan nenas madu, apel merah dan mangga harum manis; yang memanggil-manggil janin mungil di perut ibu muda yang mulai kepayahan berjalan. Terberkatilah kuning dagingmu yang mencolok itu, meski sumpah akibat putih getah darahmu acap pula membuat kami waswas semata.  Tetapi benarkah moyangmu lahir dari hujan yang rajin menuruni hutan raya India? Atau sebenarnya kau hanya biji belaka yang tekun menjalar kemana suka? Lihat, betapa kaya kau pada segala guna; sampai keringat batang jisimmu, jubah pendeta Buddha tampak kian berwarna. Kini, pantaskah wajah kau muram percuma bila legit tubuhmu kami lahap gembira?

Akasia 11CT


Belenggu

Bagai ikan dalam lemari pendingin; serupa kapuk yang ditekan-tekan ke dalam kasur maupun bantal muda pengantin. Bersusun-susun kami; tak pantas sekadar menyepadan jenjang kaki barang sejenak. Pun telah kami minta sedikit luas padang gurun atau secuil lebat rimba raya. Akan tetapi lancip daun pendengar senyata tak kuasa menerima maklumat dukacita. Lihat, tinja siapa itu? Mana ada tinja di sini! Itu busuk kaki kami yang menempel di lantai. Amboi, betah nian kita mengejami; bukan main lalai mereka mendiami, arca itu mungkin adalah kami yang pemalu lagi buta-tuli. Sememangnya engkaukah yang terkurung atau kaulah semestinya Gitamara nan bengis lagi erat menggigit?

Akasia 11CT


Lepas

Jikalau kau patuh menyeluruh

Alamat luput berita buruk

Luruslah jalan ke semenanjung

Lapanglah tanjak ke gunung

Apabila madah kau jaga

Isyarat rantai sungkan memasung

Mestilah lengang kabar burung

Pastilah lancar niat meluncur

Ke selokan sukma muara Sang Raja.

Akasia 11CT


Puisi

Bilamana engkau enggan bertamu. Atau kedua kaki terlampau lejar tamasya ke rimbun anggur yang menggantung. Cukup ceritakan saja bagaimana budi pekerti mampu lolos dari sergapan tentara waham.

Sungguh, betapa benci kami pada kisah siluman serigala. Itu sebab datuk moyang kami senang belaka menuturkannya kali berulang. Dan kuping kami teramat tekun menakzimkannya; seraya terus bibir berdoa semoga jauh pergi marabahaya.

Mungkin bisa jadi kami risih. Dimasuki keruwetan yang sebetulnya bukan semata keinginan kami. Namun kenapa engkau rajin pula turut-menurut, sehingga putih daging dan hitam darah kami mudah percuma tersamarkan.

Barangkali kita musti tutup mulut sekejap: menunggu paus biru dilahirkan sekali lagi atau reinkarnasi si jalang hadir memilah-memilih; menyambung-memotong apa-apa yang patut dan elok tangan tuliskan serta lidah bunyikan.

Setakat ini, masihkah kau jantan menghakimi—suntingan ini benar puisi atau sekadar curahan hati?

Akasia 11CT


Belajar Ikhlas dari Buku Buku

Berjilid-jilid buku lolos mencatat cara adiluhung memasukinya; menyelaminya. Supaya yang rusak parah segera embus pergi tak perlu kembali. Akan tetapi alangkah benua tubuhnya, mungkin juga luas semesta; sehingga tak pernah genap kita menaklukinya. Maka muncul dan terus muncul kitab-kitab segar membahas-mengulitinya. Sampai kita luput mendedahkan ibu bapak kitab dari segala kitab yang sesungguhnya ialah obat bagi ragam penyebab. 

Akasia 11CT 


Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Puisi-puisinya ada yang ditolak redaksi ada yang dimuat redaksi. Buku kumpulan puisinya “Pertanyaan yang Menyelinap” akan segera terbit. Akun Facebook: Ilham Wahyudi dan Instagram: @ilhamwahyudi_ilham

Cerpen

Seujung Kuku, Sehitam Aspal

Cerpen Ruly R

Hamparan warna-warni kue menggoda mata, tersusun rapi aneka jajanan berbungkus daun pisang, harum menyeruak. Radio mengalunkan pengajian, sesekali ditingkahi iklan obat herbal. Subuh belum matang di kawasan Senen, Anwar Saleh bersiap menunggu pembeli, sambil memegang gagang kayu pipih berujung rumbai plastik guna mengusir lalat. Pemandangan pasar subuh seperti biasa, hanya satu yang tampak berbeda, bukan pada jenis dan susunan kue, meja alas, toples uang, atau plastik bungkus kue, melainkan penampilan Roheti.

Eti, biasa penjual lain memanggil perempuan yang kali ini mengenakan kaos putih bertuliskan no comment dengan celana kulot abu-abu batako. Lipen warna merah bata memoles bibir, jedai warna biru muda langit puncak menghimpun rambut hitamnya, dan wangi Harum Sari sachetan menguar bersaing dengan wangi kue talam pandan. Lapak kue Eti bukan hanya mengundang lalat-lalat hijau tentara, namun juga pandangan mata para lelaki, tak terkecuali Anwar Saleh.

“Bang,” sapa Eti pada Anwar Saleh sambil mengangguk pelan di lapak seberang.

Anwar Saleh mengangguk kecil. Lanjut menebah lalat yang mampir di antara rainbow cake dan black forest penuh krem putih.

“Buset. Ntu mah bidadari turun ke bumi, War. Resep dah kalo gua kawin ama Eti kali, ya?” celetuk Haji Zaenal. Anwar Saleh hanya meringis kuda, separuh menaruh hormat pada juragannya dan selebihnya tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan itu.

Haji Zaenal gloyor menuju lapak kue Eti sambil tangannya membenahi peci hitam lusuh. Anwar Saleh rasakan ada yang berkecamuk di dadanya melihat kelakuan genit Haji Zaenal pada Eti, tapi dia tidak tahu persis akan apa yang dirasanya. Lamunan Anwar Saleh buyar ketika seorang langganan mengatakan ingin membeli kue basah.

Anwar Saleh mencuri pandang pada lapak kue Eti di tengah cekat tangannya melayani pelanggan.

“Demen ama yang sono, ya?” tanya pelanggan sembari mengarahkan ujung matanya ke lapak kue seberang.

Anwar Saleh tidak hirau. Hanya diam dan tangannya memasukan pesanan kue basah ke plastik besar warna seragam Juventus.

“Kagak ada bonus nih, War.”

“Iya dah ditambah atu nih.”

“Yaelah langganan cuma ditambah atu doang. Gua laporin juragan lu baru nyaho.”

Senyum tersimpul dari bibir Anwar Saleh.

Satu pelanggan berlalu, datang beberapa pelanggan lain. Silih berganti pembeli, sebagian wajah-wajah yang sudah dikenal Anwar Saleh, selebihnya wajah baru.

Haji Zaenal datang ketika semua pembeli sudah pergi. Air mukanya tampak girang-girang bangga. Lelaki yang sudah kawin sama persis jumlahnya dengan keberangkatannya ke Makkah—dua kali, berpanjang lebar menceritakan tentang Eti.

“Eti titip salam juga buat lu, War. Dia bakal mampir ke sini habis jualan nanti. Kagak sabar gua. Gimana? Gua ajib, kan? Panteslah ama Eti, ya?” tanya Haji Zaenal sambil merapikan baju kokonya yang tidak kusut atau tertempel kotoran sama sekali.

Anwar Saleh mengacungkan jempol saja menanggapi semua.

“Oya, lu sering ketemu Eti juga katanya. Bener?”

Anwar Saleh mengiyakan. Ingatannya terlempar pada hari-hari yang telah gugur di makan angka-angka. Itu adalah pertemuannya dengan Eti yang kerap terjadi kala siang hari, waktu di mana Anwar Saleh menjaga bengkel ban berdinding triplek miliknya lengkap dengan radio penghibur, sementara Eti numpang istirahat karena lelah ngobyek duteng—dangdut tenteng. Anwar Saleh tak tahu menahu alasan Eti memilih istirahat di bengkelnya dan juga tak mau hirau akan alasan itu. Dia tidak memasalahkan pilihan Eti. Kerap Anwar Saleh mengambilkan teh botol untuk Eti ketika penyanyi keliling itu istirahat dan yang diberi hanya membalas dengan ucapan terima kasih dan senyum.

Beriring hari dengan kerapnya Eti mampir di bengkel ban, keakraban semakin terjalin. Anwar Saleh dan Eti mulai kerap banyak mengobrol. Mulanya tentang pekerjaan masing-masing, lantas merambat pada hal-hal pribadi, semisal cita-cita Eti menjadi penyanyi dangdut beken yang tampil di panggung nasional. Anwar Saleh mendukung penuh dan mendoakan baik akan niat Eti, wajahnya saksama menyimak cerita Eti, sementara yang disimak hanya tersenyum tipis malu-malu dan mengatakan senang dengan dukungan Anwar Saleh, karena hanya lelaki itu yang mendukung dan mendoakan naik perkara cita-cita Eti.

Di bengkel ban, Eti juga sering bercerita tentang asmara. Ketika sudah menginjak pada masalah itu, Anwar Saleh lebih banyak menanggapi dengan candaan saja, sementara Eti tampak serius. Sekali waktu Eti bertanya perkara kriteria perempuan pada Anwar Saleh dan yang ditanya tidak tahu harus menjawab persisnya bagaimana.

“Masa kagak ada, Bang?”

Anwar Saleh diam sejenak, lantas menjawab dalam gurauan kalau dia suka perempuan yang seperti Eti. Di antara bising mikrolet dan asap hitam knalpot Kopaja, radio mengalunkan lagu Kuingin milik Rita Sugiarto.

Kalau kau memang sayang kepadaku

Kuingin hanya kau yang kau sayang

Kalau kau memang cinta kepadaku

Kuingin hanya aku yang kau cinta

Eti mendendang. Dia khatam di luar kepala lagu itu dan air mukanya tampak lebih ceria dari sebelum-sebelumnya. Keesokannya, Eti lebih lama untuk istirahat di bengkel ban. Dia tersenyum memandangi Anwar Saleh yang bekerja. Kerap sampai sore Eti di sana hingga akhirnya dia tak nge-duteng lagi pasca istirahat.

Pertanyaan-pertanyaan dari Eti lebih sering terlontar dibanding milik Anwar Saleh ketika mereka berdua saja. Suatu waktu Eti pernah bertanya tentang arti cinta bagi Anwar Saleh, namun lelaki itu hanya diam.

“Kok abang kagak jawab?”

“Bingung, Ti. Apa, ya?”

Suara-suara hanya milik mereka yang di jalan, bukan di bengkel ban.

“Gini kali ya, cinta ibarat kuku,” ucap Anwar Saleh. Eti diam, memandang Anwar Saleh dengan raut bingung.

Anwar Saleh melanjutkan ucapannya, kuku meski sudah dipotong, akan selalu tumbuh, dan begitulah cinta.

“Gitulah, Ti. Kan kalo kuku panjang juga kagak enak, kalo ada tahi kukunya ya kudu dibersihin.”

Sejak itu sikap Eti berubah, lebih sering memoles dan mematutkan diri dibanding sebelum-sebelumnya, entah saat di lapak kue pasar subuh atau di bengkel ban. Dia juga tampak lebih perhatian pada Anwar Saleh, yang tidak sepenuhnya menggubris semua itu. Bagi Anwar Saleh, Eti tetaplah Eti yang dia kenal seperti sebelum-sebelumnya.

Radio di lapak kue mengumandangkan azan, buyar lamunan Anwar Saleh. Haji Zaenal duduk di kursi plastik warna cokelat bermotif anyaman masih mengusir lalat-lalat jail yang mampir di kue dagangannya.

“Kagak kayak biasanya, nih,” seloroh Anwar Saleh.

“Bukan masalah, War. Asal gua bisa lihat romannya Eti ya udah senang.”

Anwar Saleh geleng-geleng. Sekali-dua pembeli datang lantas lapak sepi lagi. Radio mengudara dengan lagu-lagu dangdut pagi yang mengalun sesekali ditingkahi iklan obat dan laporan lalu lintas Jakarta kota kala pagi.

Pertama ku berjumpa denganmu

Seakan berdebarlah hatiku

Pandangan pertama yang kuterima

Terasa sejuk dalam dada

Pancaran dari rasa cinta

Setelah pertemuan pertama..[1]

Jalanan mulai dipadati mikrolet dan kopaja. Orang-orang ramai berlalu lalang di antara kerja dan olahraga pagi. Dari seberang jalan, Eti datang menghampiri lapak kue Anwar Saleh. Haji Zaenal menyambut uluran tangan Eti meski itu ditujukan untuk Anwar Saleh.

“Gua kira tadi cuma basa-basi, Ti,” celetuk Haji Zaenal yang menganggap ucapan Eti mampir ke lapak kuenya hanya gurauan, namun penuh harap dia menunggunya.

“Kagak pak haji.”

“Panggil bang haji aja, jangan pak, kesannya udah bangkot bener gua.”

Eti hanya mengangguk.

Anwar Saleh hanya berdiri mematung, melihat Haji Zaenal dan Eti di dekatnya. Sesekali ada pembeli datang, Anwar Saleh meladeni dengan cepat.

“Gimana, Ti? Kapan hari ntar main ke tempat gua, ya?” ucap Haji Zaenal.

“Iya. Asal sama bang Anwar juga.”

“Kendiri aja kagak apa-apa. Anwar kan sibuk. Ya kan, War?”

“Bener, Ji,” ucap Anwar Saleh.

“Eti kagak berani kalo sendiri.” Eti menunduk usai mengatakan itu.

“Kagak apa-apa, Ti. Eti yang udah abang anggap kayak adik sendiri kagak boleh takut,” ucap Anwar Saleh.

“Abang nganggap Eti cuma kayak adek abang?”

Anwar Saleh mengangguk penuh yakin. Seketika juga Eti pamit, hanya tampak belakang dalam pandangan Anwar Saleh dan Haji Zaenal. Dua lelaki itu tidak tahu ada air mata yang menetes di hitamnya aspal jalanan Senen pagi itu.


Ruly R, bagian dari Kamar Kata dan Rusamenjana. Suka lele bakar atau goreng dan Dji Sam Soe.


[1] Nukilan lirik lagu Setelah Jumpa Pertama dinyanyikan Mus Muliadi dan Ida Laila.

Cerpen

Kegelapan adalah Sebaik-baik Pemandangan

Cerpen Erwin Setia

Seusai mimpi buruk pada malam itu, Bono ingin sekali agar matanya buta seperti nenek dan yang dilihatnya hanya kegelapan. Ia lebih menyukai kegelapan. Ini aneh. Bono adalah penyuka hal-hal cerah dan terang. Semua orang terdekatnya tahu betul mengenai itu. Ia akan memilih baju warna matahari ketimbang dongker dan buku bersampul ramai ketimbang temaram. Ia menyukai yang terang-benderang dan ketika kemudian ia malah mengharapkan dan menyukai kegelapan, tentu ganjil sekali.

Untuk memahami Bono pada hari ini, perlu kiranya menyusuri jalan hidup Bono pada hari-hari lalunya. Manusia, bagaimanapun, dibesarkan oleh hari-hari silam.

Bono ketika kecil adalah anak lelaki kurus yang senang melukis dengan media apa pun. Sebelum ayah-ibu Bono sadar akan kebiasaan anaknya, Bono biasa melukis dengan cat air yang bertumpuk di gudang, ia melukisi tembok, pakaian ayahnya, lantai, dan apa pun selain kanvas. Kemudian, setelah kekagetan dan kegeraman sesaat, melihat kelakuan anaknya itu, ibu Bono membelikannya seperangkat alat lukis.

Meskipun sudah memiliki seperangkat alat lukis, terkadang Bono tetap mencoret-moreti objek-objek yang seharusnya tak boleh dilukisi. Bono, bagaimanapun, hanyalah seorang kanak-kanak. Tetapi, ayah Bono, sebagai pegawai perusahaan multinasional sibuk, yang sangat tidak menghendaki hal-hal mengecewakan sesampainya di rumah selepas pulang dari kantor, tak mau peduli, biarpun anak kecil Bono mesti tetap diberi pelajaran.

Maka itulah salah satu hari yang terus Bono ingat, ketika ayahnya menampar wajahnya sampai ia terempas dan menangis keras, akibat Bono melukis wajah seorang lelaki yang mirip ayahnya di jas ayahnya yang tersampir di kamar. Ibunya datang. Mengangkat Bono. Menatap tajam ayahnya. Ayahnya membalas tatapan itu lebih tajam. Ayahnya masuk ke kamar dan membanting pintu. Ibu Bono mengelus dan memeluk Bono.

Beranjak besar, Bono dititipi untuk tinggal bersama neneknya yang sudah tak mampu melihat di kota seberang. Ayahnya dipindahtugaskan ke kota yang jauh. Bono ingin ikut. Tapi ibu, yang menemani ayah, melarang. “Kota itu sangat jauh, Bono.” Bono merajuk dan jawaban ibunya tetap sama. “Nanti ibu dan ayah akan rajin mengunjungi rumah nenek, kok. Membelikanmu apa saja yang kamu mau. Oke, sayang?”

Bono tidak mengangguk dan tidak pula menggeleng. Ia hanya menghambur ke dekapan ibunya, dekapan panjang, yang mungkin akan berlangsung lebih panjang jika saja ayah Bono tak memotong, “Ayo, Bu, pesawat kita akan segera berangkat.”

Setelah hari itu, Bono tidak lagi berjumpa ibu dan ayahnya, kecuali satu tahun sekali. Biasanya ibu dan ayah mengunjungi rumah nenek dan menemuinya pada pengujung tahun, ketika ayahnya libur panjang. Kadang mereka juga mengunjungi rumah nenek pada libur lebaran, tapi yang demikian itu jarang sekali.

Satu hal yang Bono perhatikan, tiap ibu dan ayahnya datang ke rumah nenek dari tahun ke tahun, adalah paras ibunya. Paras ibunya selalu tampak lebih gelap dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya. Bono tak tahu mengapa dan ia juga tak berani menanyakan perihal itu kepada ibunya apalagi kepada ayahnya. Kendati gelap, sesungguhnyalah ibu Bono selalu menguarkan senyuman. Namun, senyuman itu, lebih terlihat menyedihkan daripada memancarkan aura kegembiraan.

Ibu dan ayahnya datang dan pulang, dan perubahan paras ibunya tetap serupa kotak kaca hitam yang belum terpecahkan di kepala Bono.

Semenjak paras gelap ibunya menggelayuti pikiran Bono, ia menjadi pemburu hal-hal terang dan cerah. Mulai dari pakaian, sampul buku, tema film, sepatu, benda pecah belah, koleksi lukisan, dan lain sebagainya. Bono berharap usahanya itu bisa berdampak pada ibunya. Barangkali, pada perjumpaan berikutnya, wajah ibunya akan kembali cerah atau setidaknya tak bertambah gelap.

Usaha Bono sia-sia belaka.

Ia memang semakin banyak membeli hal-hal bertema cerah dan terang-benderang hingga teman-temannya mengidentikkan sesuatu yang semacam itu kepada Bono. Misalkan mereka menjumpai sampul buku yang heboh bukan main dengan gradasi warna-warna cerah di toko buku atau menemui poster film dengan corak terang di area bioskop, mereka akan berseru, “Wah, ini Bono banget!” Namun ketika hari kedatangan ibu dan ayahnya tiba, kadar gelap di paras ibunya semakin tinggi. Seolah-olah waktu berputar hanya untuk mempergelap paras ibu.

Satu hal lagi yang baru Bono sadari adalah paras ayahnya. Sementara wajah ibunya kian menyerupai awan-awan musim hujan, wajah ayahnya justru sebaliknya, tampak berbinar seakan-akan seluruh cahaya wajah ibu direnggut wajah ayah.

Menyadari itu, rasa iba Bono kepada ibunya semakin menjadi-jadi. Pada saat yang sama, rasa bencinya kepada ayah kembali tumbuh dan menyubur. Rasa benci yang sebetulnya sudah coba ia kubur. Rasa benci yang bermula dari hari ketika ayahnya menamparnya semena-mena. Bono akan terus membenci ayahnya sejak hari itu andai saja ibu tak menasihatinya. “Bono, tolong kamu maafkan ayahmu, ya. Jangan sampai kamu membenci ayahmu sendiri. Biar bagaimanapun ayah tetaplah ayah yang harus dicintai dan dihormati, bukan dibenci. Oke, sayang?”

Satu tahun sebelum malam yang membuat Bono beralih mencintai kegelapan, ibu dan ayahnya datang dengan wajah bertolak belakang. Wajah ibu makin layu. Wajah ayah makin mekar. Namun, ada hal lain yang benar-benar membuat Bono tak lagi bisa memendam rasa penasarannya perihal perubahan ibu. Hari itu wajah ibu bukan hanya sendu, melainkan juga luka memar tampak di sekitar pelipis dan bagian bawah rahangnya.

“Ibu tidak apa-apa, Bono,” jawab ibu saat Bono bertanya soal luka memar di area wajahnya. Mendapati jawaban begitu, Bono memandangi ayahnya yang tampak biasa-biasa saja, seolah tak ambil peduli dengan kondisi istrinya.

“Ada apa kau lihat-lihat ayah seperti itu, Bono?” Ayahnya bertanya dengan nada membentak dan Bono menimpalinya dengan pandangan menyilet.

Bono baru saja akan mengatakan sesuatu pada ayah, ketika ibunya berujar lirih, “Sudah, Bono. Ibu memang tidak kenapa-kenapa. Tak usah mengkhawatirkan ibu.”

Pada kunjungan kali itu, yang sekaligus kunjungan terakhir ibu dan ayahnya, mereka tidak menginap di rumah nenek berminggu-minggu seperti biasanya. Mereka menginap hanya beberapa hari. Ketika nenek menanyakan kenapa ayah dan ibu buru-buru sekali, ibu bilang kerjaan ayah sedang melimpah sehingga mereka tidak bisa berlama-lama. Ayah membenarkan ucapan ibu dan mereka pun pulang.

Sebelum pulang, ibu mengelus kepala Bono dan mengecup kening anak tunggalnya itu. Bono sudah beranjak dewasa. Ia tampak rikuh diperlakukan begitu, tapi pada kemudian hari ia berharap kala itu ibu mengelus kepala dan mengecup keningnya lebih lama.

Hal terakhir yang Bono lihat dari ibu menjelang kepulangannya adalah punggung ibu saat hendak menaiki taksi. Dan Bono kembali baru menyadari satu hal: punggung ibu terlihat bungkuk, padahal usia ibu belum begitu tua.

Sore sebelum malam kelam itu, seharusnya jadwal ibu dan ayah mengunjungi rumah nenek. Tetapi, mereka tak datang. Yang datang hanyalah sebuah telepon dari kota yang sangat jauh, kota tempat ibu dan ayah tinggal. Suara di telepon itu pun bukan suara ibu dan ayah, melainkan suara semi bariton seorang lelaki asing. Nenek dengan tergopoh-gopoh mengangkat telepon itu. Tak lama kemudian nenek pingsan. Telepon rumah itu terjatuh dan kabelnya menjuntai-juntai. Tapi masih menyala. Setelah membaringkan tubuh nenek di atas sofa, Bono mengangkat telepon itu. Rupanya telepon dari kepolisian tempat tinggal ibu dan ayah. Ketika suara di seberang telepon mencapai inti persoalan, Bono nyaris pingsan dan membuat telepon terjatuh sebagaimana nenek barusan, namun ia menahannya. Bono mengucapkan terima kasih kepada polisi tersebut, menutup telepon, dan duduk melamun di sofa bersampingan dengan neneknya yang belum siuman.

Bono melamun terus-menerus hingga ia jatuh tertidur. Dalam tidurnya Bono bermimpi persis seperti isi cerita polisi di telepon tadi. Mimpi itu begitu nyata, terang-benderang, dan tak terhalangi suatu apa pun. Dalam mimpi itu, Bono melihat darah begitu merah, cahaya mentari begitu menyilaukan, dan desing pisau begitu tajam. Dalam mimpi itu, Bono melihat dua orang yang begitu dikenalnya, dua orang yang menjadi perantara Bono lahir ke muka bumi dan merasakan hidup. Dalam mimpi itu, Bono merasakan hawa begitu dingin dan aroma anyir darah begitu pekat. Dalam mimpi itu, Bono duduk di sebuah kursi dan menyaksikan dua kematian. Seorang lelaki berjas rapi yang tak lain adalah ayahnya, ternganga seolah menjerit dalam kebisuan dengan dada berlubang di atas tempat tidur. Seorang perempuan dengan pakaian koyak moyak dan rambut berantakan yang tak lain adalah ibunya, tersenyum pilu dengan nadi terputus di atas lantai.

Sebangun dari tidur, bayangan mengerikan mimpi itu masih terus menghantui Bono dengan amat jelas. Bono melihat ke arah neneknya dan ia ingin seperti nenek agar yang dilihatnya hanya kegelapan. Sebab, bagi Bono, kegelapan adalah sebaik-baik pemandangan.***


Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Aktif menulis karya fiksi dan esai. Tinggal di Bekasi. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Puisi

Puisi Khanafi

menjaga hal-hal utuh tetap kekal

di taman ini

aku adalah ketakhadiran

cuma taman

ya, taman ini

yang ada

selalu terjadi

demikian

di manapun

aku adalah apa-apa yang hilang

adalah hantu

gentayangan

saat aku berjalan

membelah udara

& selalu hampa

bergerak masuk

tuk mengisi ruang

tubuhku berada

sedang aku tiada

kita semua pasti

punya alasan

tuk pergi & kembali

aku pun begitu

demi menjaga

hal-hal utuh tetap kekal

abadi seperti puisi


tak ada yang benar-benar pergi

berapa lama aku bertahan

dari kutuk perpisahan?

aku tak yakin, aku tak tahu

waktu habis

tuk mengingat segala

yang hilang

segala yang kekal

dari kenangan

apa yang berlalu, berlalu

aku telah mencoba yang terbaik

tuk percaya padamu

bahwa tak ada yang benar-benar pergi

(iya, aku imani) meninggalkanku sama sekali


menunggu

seseorang selalu menunggu

dengan sayap patah di punggung

di udara terbayang

dari kegelapan ke kegelapan jauh

dengan pohon & hutan

hujan & air terjun

yang perlahan digusur

peradaban modern

seseorang menunggu

seperti bumi menunggu


dilupakan

segala tempat melemparku jauh

aku tak lagi milik suaraku

atau tangan untuk sentuh

perasaan kelu tanpamu


ke puncak kesepian

dan tiap pergerakan

depan mataku

seolah semua yang berlalu

malam selepas malam

mengupas seluruh warna bintang

berlalu ke laut

mencari pulau

angin mengiring

ke mana aku pulang

kembali ke puncak kesepian


hanya angin yang menyapa

kucoba panggil kembali

alur & sosok dalam mimpi

hidup seperti sebelum pagi

kembali sibuk & sibuk

tak ada jalan untuk mimpi

menjadi kenyataan

segalanya cuma kata-kata

yang tidur di ranjang usia

menggambar daun gugur

di luar jendela terbuka

segalanya terasa akrab

seperti hari-hari yang pernah lewat

dengan kegelapan yang tak lama

bakal menyergap dindingnya

di mana kau gantung puisi-puisi

seperti lanskap cinta yang hancur

tanpa seseorang, hanya pintu

& jendela sesekali terbuka, tak ada

hanya angin yang berhembus

hanya angin yang menyapa


membuang waktu di ranjang

begitu banyak waktu terbuang

seperti guguran kenangan

& malam adalah alegori

untuk nasibmu yang kesepian

mimpi tetap berbaring di sisi lain

tidur yang merindukan seseorang

tapi bukankah kegelapan adalah seseorang

yang berembus di dinding kenyataan

begitu kosong begitu bohong

& kau menjadi tak yakin

jika dalam hidup yang singkat ini

tiap malam adalah sama

hanya memutar film bosan

& yang kau temukan

cuma tubuhmu

yang tidur monoton

yang melamunkan

seseorang yang hilang

yang selalu merasa

begitu terasingkan


mencari ketenangan

hujan jatuh, masuk ke ceruk mimpi

tiap malam kau dengar angin

berhembus seperti pikiran yang lari

di kamar ini, di ruang ini

dinding seperti batu nisan

suasana gerah musim penghabisan

dinding terkunci

& kau pun tak ada

selain seluruh malam

yang berpikir;

di mana tempat untuk tenang

ke mana kau pulang


Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya tersiar di media daring maupun cetak. Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas, penerjemah, perancang sampul buku, dan penjual buku-buku lawas dan baru. Sekarang tinggal bersama keluarga di Yogyakarta, tengah menyelesaikan novelet pertamanya dan sedang mengulik satu buku terjemahan. Ia sesekali melukis untuk kebutuhan pameran pada suatu hari mendatang. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Akar Hening di Kota Kering (2021) mengalami revisi total, buku kumpulan puisi keduanya segera terbit. Penulis bisa dihubungi melalui email: [email protected].