Gadis Pelesir
malamku tergantung lebam
meringsut dalam gelap
merangkul tiang-tiang menjulang kota
dilafal doa menolak bala
tentang gadis yang suka berkelana
mengalir deras pada lekuk sungai di kepala
“jauh mata memandang, terulur panjang jalan
dikau selalu melipat datang. ingin berlama dalam pangkuan”
aku terus memuja kemungkinan
menandai setiap kabar dari pelesir
mengabarkan utuh dalam puing sajak ini.
2018
Sedalam Mencintai
#
cinta yang tumbuh menjulang
berebut sinar matahari dari sela lubuk hati
pancaran sebesar bola langit
tertancap erat ke akar-akar
ke kerak tanah yang dalam
ke hulu sungai yang purba
sejauh pandang ke ujung seberang
#
pada sore hari
dikau menjadi jingga di ujung selat
menghubung ke pulau perantauan
antara menetap atau terus berlayar
derai ombak menjilat-jilat
hembusan napasmu gegas
sejurus ke hati yang hampir pupus
dalam liang tuju yang abstrak
#
dikau menjadi tuju dalam temu
mengelak rasian
ingin yang nyata
tiada pelipur lara
bermuara segala harap.
Puisi Bulan April
tak terbilang hadirnya gerimis
pinggang gunung berselimut kabut
wajahmu seketika mendekam jauh ke dasar angan
pucuk ranting membelai rambutmu yang tergerai tercium angin
aku luruh, gigil dipagut dingin
waktu ke masa lalu. alir dera ke hulu jantung
pada barisan dedaunan di pinggir jalan
aku padamu kelak akan berpulang
“cinta memang begitu. celakalah orang berhenti mencintai
hiasannya yang ranum; asing, resah, gila, terlupa, melupa dan terpenjara kata”
selebihnya pulangkanlah ke awal puisi ini!
2019
Pelepah Matamu
di pelepah matamu rindu luruh
setakat beku ke relung paling dalam
berkunjung pada gorong-gorong yang basah
menuju tualang yang panjang
sekian waktu kamu memenangkan segala pertarungan
mulai dari musim tangkapan ikan ramai
hingga tongkang patah kuduk
imbasnya jua: urung pedagang hilir-mudik di pantai lumpur.
2018
Direbut Waktu yang Enggan Berlalu
malam yang panjang
dalam denyut nadi
terpukul nyali dirangkul tangsi
memburu lecut resah
mengambang kata-kata
tak ada bisik kabar
atau sekadar berbalas surat
suara-suara sumbang menyapa telinga
menukik ke ujung tangis
tanpa cerita, atau hanya berkisah menegak dini hari
tak ada kopi, loncatan malam yang lambat berlari.
2018
Perihal Hati
perihal hati
aku telah sematkan erat
terpaut buhul mati
terikrar pada prasasti
di dinding kamar ia menggantung hingga berlumut
pada gorong-gorong ia seumpama lentera
pada tanah ia penyejuk dalam kerontang
pada gunung ia jadi lembah yang dialiri sungai biru
padamu bermuara segala tuju.
Mencintaimu dalam Segala Waktu
pada tualang hidup
ada yang sirna ditelan cinta
sekian yang tumbuh dan pergi, begitu juga yang datang
aku memilih tidak pada semua hal itu
yang datang pasti akan pergi
yang pergi pun akan ada pengganti
yang tumbuh menjulang, lalu tua dan rapuh
yang berlalu akan berujung temu
aku ingin jadi diriku sendiri
mencintaimu bersama segala usia
tanpa ampun. tak ada pamrih dan janji-janji.
Detektif Cinta
: sherlock holmes
semalam yang lebam aku berkhayal seumpama seorang detektif
aku jadi sherlock holmes saja
membuka tabir hatimu
menguak segala misteri perihal cinta
lengkap dengan rasa kecewa
jatuh yang disengaja dalam pangkuanmu
terluka yang paling manis, dan rindu yang candu
setelah menjadi detektif cinta, tugas semakin menggunung
bertubi-tubi aku jatuh cinta kepada wanita
ditemukan banyak hati yang rapuh
cinta yang omong kosong
hingga dusta yang merajalela
tak ada yang benar-benar baik perihal cinta
apalagi terpaut dua hati insan yang terjebak waktu yang fana
percayalah, usai puisi ini tutup usia aku ingin melupa
lupa atas permainan kata, memanis rasa
dan adonan janji dalam bungkuknya nafsu.
puisi ini tetap saja ingin ditulis
mengabarkan hasil riset cinta seorang sherlock holmes gadungan
di tengah kota, pada gang-gang sempit cinta diobral semena-mena
busung buah dada hingga ingin pecah kutang berenda
bibir gincu bata, lentik berarak alis mata
ialah yang akan dipilih lelaki pelumat nestapa
pada remang malam akan terasa nikmat
setakat akhirnya menjalar ke wisma-wisma
begitulah cinta, memenangkan pikir
meruntuhkan akal, dan terjebak nafsu muslihat.
Cintaku Tumbuh di Bibir Sampan Leper
kita berdua kala itu
mengitari ilalang dan kanal-kanal merah
penuh takzim menyaksikan pacu sampan leper
orang-orang bertalu sorak semarai untuk peserta lomba
“ayo-ayo! yang kompak! saat berputar arah harus cepat!”
lumpur memantulkan gema suara riuh
seusai surut mengikis pantai
di udara suara hatiku bergelombang
bersiul lirih cinta yang dalam
seolah-olah rasa itu tersangkut di pipihnya bibir sampan
berpacu bersama degup orang yang berkayuh kemenangan
nuh, kekasih
di seberang tersangkut segala harapan
mengarungi segala kemungkinan yang retak
“dekap aku erat-erat! dengar genderang jantungku”
jangan pisah dilempar ke dasar ratapan
aku luruh, kekasih
dalam candamu yang meramu malu-malu
ingin hidup sekali saja
tapi waktu denganmu selamanya.
2019
Sajak Lamaran
tahukah, Anelis
pada senyummu yang menguntai aku bergelantung
sudah habis pikir tak ada selain padamu jua muara tuju
segala temu, angin mendesir dalam ingin
rindu berpacu dalam alir air
pada hujan yang pecah di atap rumah
di tahun yang sudah ingin tutup usia
aku ingin meminangmu, Anelis
di hari ulang tahunmu
pada minggu ketiga november
jadilah kau tawananku
tawanan hidup hingga renta
dik, Anelis. aku akan datang ke rumahmu
bersila di hadapan orangtuamu
menghamba untuk diperestui
dipersatukan tentang kita
tentang segala congkak yang ada
percayalah, engkau tawananku yang paling lembut
ditanam segala pokok bunga di depan kamar kita kelak
tentu bunga itu akan menjadi sahabatmu
merawatnya adalah menyemai keabadian di antara kita
Anelis
musim bisa berubah-ubah
tapi cintaku tetaplah ada
pacuan mungkin saja berbalik haluan
tujuku padamu jua.
2019

Redovan Jamil, lahir Padang Benai salah satu kampung kecil di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Ia adalah salah satu penggiat literasi pedalaman dan pengelola di TBM Hamfara Library. Terpilih menjadi Penggiat Literasi 2019 dan diundang Residensi Penggiat Literasi di Yogyakarta. Ia juga tergabung di Komunitas Daun Ranting. Tergabung dibelasan antologi bersama, baik nasional maupun internasional. Abun-abun yang Abrak (2018), Purata Publishing adalah buku tunggal pertamanya. Karya dan tulisannya tersebar dibeberapa media seperti Riau Pos, Media Haluan, Magelang Ekspress, Radar Cirebon, Harian Singgalang, Rakyat Sumbar, Palembang Ekspres dan media online lainnya. Bisa dihubungi ke nomor 085265781291/ WA, email [email protected], IG @redovan_jamil dan Facebook atas nama Redovan Jamil.
