Cerpen Yuliani Kumudaswari
Ketika tubuh-tubuh terurai hancur, dan roh-roh terpisah adalah para pejalan, menyusuri takdir hingga tiba masanya pulang pada keabadian, meniti jalan menuju moksa. Kembali ke dalam dekapan cahaya kekal. Kematian bukan kemutlakan akhir, meski dunia para pejalan tertutup bagi mata telanjang manusia-manusia fana.
***
Seekor gagak berteriak parau, terbang di atasku, hinggap dari ranting flamboyan satu ke ranting lain. Ia mengikuti langkahku dari sejak kumasuki jalanan sunyi ini. Tak pernah kusukai hewan bersayap yang satu itu. Tidak mata hitam dan bulunya yang pekat, terlebih kicau paraunya yang tak bernada. Seperti suara terompet sumbang dari neraka. Makhluk yang senantiasa menyeret aura gelap dunia orang mati.
Jl. Puspo, tulisan setengah kabur, tercetak di sebuah pelat seng yang sedikit penyok sisinya, tertempel pada tiang besi tinggi. Tertancap di ujung jalan yang hendak kulalui. Kelabu, hanya nuansa monochrome dan bayang murung berat, menggantung di udara lembap sepanjang arah yang hendak kutuju. Jalanan berkabut tipis membentang lurus beberapa ratus meter ke arah utara. Deretan flamboyan angkuh berjejer di kiri dan kanan trotoar, menjulang diam menjalin ujung reranting di ketinggian menjadi kanopi rapat. Mirip payung-payung Marry Poppins yang siap meluncur ke langit. Angin menerbangkan rontokan bunga serupa confetti. Sia-sia perempuan bercaping itu menyapunya tiap pagi. Serakan bunga kelabu, di atas jalanan beraspal abu pucat. Bukankah seharusnya bunga-bunga flamboyanitu ceria, merah cerah serupa warna rok kesukaan gadisku?
Kunikmati setiap langkahku, menyusuri sisi barat jalan bertrotoar, yang terasa begitu ramah bagi pedestrian seperti aku. Rumah-rumah tua, berjendela seukuran pintu, bersisian tanpa pembatas tinggi. Hanya deretan perdu berbunga serupa mahkota mungil yang memisahkan batas pekarangan seseorang. Angin bertiup, bunga-bunga berguguran. Ah, flamboyan, serupalagu yang senantiasa didendangkan gadisku.
***
“Aku tidak pernah minta apa pun padamu. Cuma satu, jaga dan lindungi aku,” gadisku berkata ketus. Jejak air mata membuyarkan riasan pupur tipisnya.
“Aku selalu menyayangi dan menjagamu, Miriam,” bisikku lembut seraya berupaya meraih tubuhnya ke rengkuhanku. Ia menepiskan lenganku.
“Bagaimana bisa? Bahkan menjemputku saja engkau telat berjam-jam!” serunya telak.
“Engkau tahu alasanku, bukan? Aku terlambat mengunci pintu kantor karena para pegawai telat mengalkulasi transaksi. Akibatnya aku terjebak antrian lift, dan aku harus mengambil rute memutar. Aku harus menyusuri ring road karena kebijakan penutupan jalan, hingga bisa tiba di sini.”
Kuraih setangkai mawar merah setengah menguncup dari balik kantung jaket model army yang kukenakan, dan menyodorkan kepadanya.
“Maafkan aku, ya,” bujukku, dan seperti biasa gadisku mulai tersenyum, masuk ke dalam dekapanku. Setangkai mawar merah hancur terjepit di antara kami.
***
Mawar merah, semerah kembang flamboyan di pucuk-pucuk pohon di atasku, di sepanjang jalan yang sedang kususuri. Langkahku kembali berderap di kesunyian. Kulewati sebuah rumah bertingkat mewah berlangkan besi berukir. Selalu kukagumi keasrian tamannya yang tertata, walaupun pasti menghabiskan pengeluaran yang tak sedikit, pikirku. Seorang kakek berwajah murung, yang selalu saja duduk di sebuah kursi di balkon tengah, menatapku dan melambaikan tangan. Kubalas lambaiannya dengan sedikit menganggukkan kepala. Sungguh ia seorang pejalan dalam sunyi, tak melangkah ke mana-mana, batinku. Seorang perempuan sedang menata pot bunga di teras depan, memandang ke arahku berdiri, namun tak menyadari kehadiranku. Kuayunkan kembali langkahku.
Lelaki paruh baya tambun itu telah menungguku di depan pergola yang menghiasi jalan setapak rumah berdinding terracota. Kami saling menggangguk.
“Bastian,” sapanya dengan senyum tipis.
“Jim.” Aku menjawab sapaannya, dengan memanggil nama lelaki itu, serupa caranya menyapaku.
Kami mulai berjalan perlahan, bersisian menyusuri trotoar yang tetap lengang. Seperti biasa, tak ada percakapan hingga beberapa puluh langkah kemudian. Lelaki itu mulai menyalakan sebatang rokok, asap kelabu meliuk dan hilang bersama kabut. Gumpalan asap tanpa api.
Suara-suara lirih percakapan, sayup terdengar dari sebuah kedai kopi. Sebagian besar kursinya telah diduduki pengunjung. Langkah kami berhenti tepat di depan kedai, sejenak berdiri diam mengamati kesibukan itu. Seorang perempuan dengan rambut gaya ekor kuda, dengan nampan penuh gelas kosong di tangannya, tersenyum pada kami. Mulutnya berkomat-kamit tanpa suara, tapi kami berdua tahu persis apa yang diucapkannya.
“Pak Jim, Pak Bastian, mari singgah. Kursi anda berdua tetap kosong.” Sungguh kalimat berulang yang sama persis. Kami berdua mengangguk, Jim melambaikan tangannya. Besok, di waktu yang sama seperti sekarang, ketika kami berdua berdiri di sini, perempuan itu akan kembali menyapa kami dengan kalimat itu. Aku akan menganggguk, Jim akan melambaikan tangannya.
Dari tempat kami berdiri, bisa terlihat jelas para penikmat kopi itu, hampir seluruhnya kami kenal. Kulihat Jack tetap di kursinya dekat jendela, kepalanya menunduk memperhatikan layar gadget-nya. Pak Moron dan kelompok bridge-nya sibuk membahas trik. Sepasang pemuda kembar, serius memindahkan bidak-bidak di papan catur di meja mereka. Tuan Gun sibuk bertelepon dengan suara keras. Sungguh suasana yang familier.
“Ah, Miriamku tak pernah lagi ke kafe ini sepertinya,” batinku, benakku dipenuhi bayangannya. Tubuh ringkih yang sedang memeluk dirinya sendiri. Menangis di kamar yang nyaris gelap. Kukecup dahinya yang berkerut, sebagai tanda perpisahan, sebab aku hanya bisa sekali itu menemuinya. Ia tak merasakan kehadiranku.
Aku dan Jim berlalu dari depan kedai, melanjutkan langkah kami. Gagak itu hinggap di ranting terendah, pohon flamboyan terbesar dan tertua di jalan ini. Berkoak-koak nyaring. Batang pohon cokelat kelabu pekat dipenuhi kulit kayu yang mengelupas. Di salah satu sisi, batang itu hancur, masih dipenuhi serpihan kayu. Kulihat Jim berdiri mematung, perhatiannya terpusat pada sisi pohon yang krowak seakan pernah terhantam sesuatu.
“Di sini mobil itu menabrakku, ujung bumper-nya membentur dan membenamkan tubuhku ke sisi pohon ini. Gadis itu mabuk dan tak melihatku yang sedang berdiri, berusaha menyalakan rokokku. Kudengar mereka membicarakan hal itu ketika mengangkat tubuhku.” Suaranya setenang angin yang berembus perlahan, menyibak rambut berubannya di pelipis. Aku mendengarkan cerita Jim dalam diam dan menggangguk menujukkan simpati. Gagak- gagak lain mulai berdatangan memenuhi ranting pohon. Teriakan parau bersahutan memecah udara.
Untuk beberapa saat, Jim dan aku hanya berdiri canggung. Kulihat Jim mendongakkan kepalanya dan membuang napasnya kuat-kuat. Dengan masih mendongak dan kedua mata terpejam, ia menggumamkan sesuatu yang selalu saja membuatku tercenung.
“Mengapa semua kenangan hidup itu terasa begitu indah di saat kita harus melepasnya?”
Aku mulai kembali melangkah, Jim mengikutiku dengan langkah lebih pelan. Di sisi kami adalah sebuah rumah tua yang nyaris hancur. Tembok-temboknya runtuh dan retak di banyak tempat. Daun pintu dan jendela hilang. Sejenis tanaman merambat berduri menutupi sebagian besar genting dan dinding yang masih berdiri. Pagar besi berkarat yang semula merupakan batas pekarangan dan sisi trotoar, nyaris rubuh ke rerumputan yang mengilalang.
Di sudut timur pekarangan rumah tua tak terurus ini, orang-orang menemukan tubuh itu. Meringkuk serupa bayi dengan dada penuh lubang tusukan. Konon, gagak-gagak yang hinggap di pagar setengah rubuh, dan terus riuh berkoak-koak itulah yang memberi petunjuk orang-orang.
“Tubuh itu terbaring di sana, sendiri berhari-hari. Perlahan hancur dimakan dingin dan panas, hanya disaksikan para gagak,” desahku. Kudengar Jim berdeham sebelum menjawab.
“Tubuhmu, bukan?” tanyanya yakin.
Aku terdiam cukup lama, lalu kuanggukan kepalaku lemah, “Ya, tubuhku, Jim.”
Sebelum tubuhku ditemukan, aku diberitakan hilang berhari-hari. Setahu mereka, orang-orang yang melihatku terakhir kali, aku pulang berjalan kaki dari kedai kopi dekat pintu selatan tadi. Membawa uang cash yang cukup banyak, sebab hari itu aku memenangkan bridge.
“Dan di sinilah kita, dua orang pejalan yang dipertemukan di jalan yang sama.” Jim tertawa lirih. Aku hanya mendengus, mencoba mengusir sesak yang menghimpit dadaku.
Kusadari, jalan ini dipenuhi beberapa pejalan. Aku, Jim, lelaki tua di balkon, gadis berkucir di kedai. Orang-orang yang hidupnya berakhir di sepanjang Jalan Puspo. Barangkali sebuah kebetulan belaka, atau takdir yang telah tertulis di buku hidup kami.
Aku teringat pikiranku malam itu, aku ingin membelikan Miriam sebuah laptop baru. Menggantikan miliknya yang lama, yang layarnya selalu tiba-tiba putih. Tetapi aku berakhir di sudut pekarangan tak terurus ini. Kali ini, aku yang menarik napas panjang, Jim hanya terdiam.
“Ah, tubuh yang malang,” desahku.
“Mengapa kau katakan itu, Sebastian?”
“Tidakkah kau lihat, Jim? Tubuh hancur itu, hilang lenyap. Sungguh kesia-siaan belaka hidup ini, bukan?” tanyaku menuntut persetujuan.
“Tak ada yang sia-sia, Sebastian kawan pejalanku. Tak ada yang diciptakan untuk sebuah kesia-siaan sekecil apapun. Semua yang pernah hidup memenuhi takdirnya dengan sempurna. Bentukan yang sesuai cetakan, serupa gerabah.” Jim menekankan tiap kata yang diucapkannya, seakan sebuah keyakinan mutlak. Aku memandangnya bingung, baru kali ini jawabannya berbeda. Di waktu-waktu lalu, ia akan menjawab pertanyaanku itu dengan: “Ah, sungguh benar perkataanmu itu, Sebastian kawan pejalanku.” Kali ini tak sama.
“Bagaimana tubuhku yang hancur bukan sebuah kesia-siaan, Jim?” Aku tergelitik mengajukan pertanyaan lain, di luar kebiasaanku. Seharusnya kami tak lagi bercakap, hanya melangkah berputar balik di titik ini, kembali ke arah kami datang. Kembali menyusuri jalan suram kelabu menuju Selatan, di bawah bayang-bayang flamboyan yang tumbuh rapat saling terjalin.
“Tubuh hancur itu sejatinya rumah tinggal ribuan anak-anak energi, yang akan purna memeluk debu, kembali pada kenadiran. Energi itu merabuki bumi, ya bumi, muasal sel-sel hidup yang baru.” Kali ini Jim tersenyum menatapku, wajahnya bersinar. Aku terkesiap, terpaku menatap perubahan itu.
“Kau telah sampai pada waktumu,” bisikku nyaris pada diriku sendiri.
“Sampai bertemu di Amardeep, cahaya terang kekal, Sebastian kawan pejalanku yang baik.” Sehabis berkata demikian, Jim mulai melangkahkan kakinya kembali menjauhiku. Berjalan dengan penuh kepastian ke arah pintu gerbang besar, tempat jalan ini berakhir. Keluar dari lindungan daun dan ranting flamboyan. Di saat yang sama gagak-gagak berkoak bersahutan, di antara sumbang dan nyaring.
Beberapa langkah ke depan, segalanya tampak berbeda. Ujung jalan ini terhenti di sebuah gerbang hitam tinggi yang tertutup rapat. Tak menampilkan apa pun di baliknya selain benderang cahaya yang berpendar. Biasnya membuat jalanan di depan gerbang tak nampak kelabu, tak muram. Tak ada pohon flamboyan di situ, hanya sepenggal jalan tak tertutupi jalinan ranting, berkilau memantulkan bias cahaya yang lolos dari celah-celah pintu gerbang. Aku tahu, sesekali gerbang itu akan terbuka, menunjukan cahaya yang berpendar menyilaukan itu. Pada saat itu, cahaya akan menarik para pejalan yang telah sampai batas waktu, pulang menuju moksa. Kali ini, giliran Jim, kawanku.
Perlahan gerbang itu terbuka, cahaya serupa lorong putih gemerlap. Kulihat sejenak Jim menghentikan langkahnya, namun tanpa menoleh sekalipun ke belakang, ia mulai melanjutkan langkahnya masuk ke dalam cahaya. Aku tak dapat melihatnya lagi, Jim telah menghilang. Pintu gerbang mulai kembali tertutup, gagak-gagak itu tak lagi terdengar jerit paraunya. Keheningan yang menggetarkan hatiku.
Untuk beberapa saat mataku serupa buta, tak mampu melihat apa pun. Setelah pandanganku kembali seperti semula, kulangkahkan kakiku kembali ke arah aku datang. Lalu kulihat gadis itu, berdiri diam dengan wajah mungilnya di bawah remang kelabu. Kedua tangannya mendekap sebuah boneka teddy bear cokelat lusuh. Ia menatapku dengan bibir gemetar, matanya bulat purnama memandangku penuh tanya, ketakutan. Seorang pejalan baru yang belia di Jalan Puspo, Roh baik yang akan menemaniku hingga waktu kami tiba. Kuulurkan tanganku kepadanya sambil tersenyum.***
Semarang, September 2020

Yuliani Kumudaswari,lahir di Bandung, 2 Juli 1971. Saat ini tinggal di Semarang bersama suami dan dua putri. Antologi puisi tunggal terakhir Kepada Paitua (Tonggak Pustaka, 2020) antologi puisi bersama terakhir Perempuan Bahari 2020 (KKK, 2020), antologi cerpen bersama Firdaus yang Hilang (Tonggak Pustaka, 2020).

