Puisi

Puisi Ethex

Jarak Cinta

jauh dekat menciptakan suasana
yang menimbulkan sebuah rasa

bila dekat—apalagi tak berjarak
apa yang terjadi dan menyeruak

bila jauh—apalagi terpisah ruang dan waktu
apa yang terjadi dan terasa

jarak cinta
jauh dekatnya
menimbulkan rasa

bila jauh—rindu mendera

bila dekat—ahahah bergelora

desember 2019


Tak Sekali Saja

entah ke berapa, -tak sekali saja
kau menebarkan angin
daun-daun terkesima

aku tak pernah menduga
kau pandai bersilat lidah
di mana-mana

dan tak sedikit juga
anginmu jadi luka

kemarin kau berkata -ah
hari ini -ih
esok

tak sekali saja
kau mengelabui diri sendiri
bersembunyi di balik kata

dari kenyataan yang ada

desember 2019


Liburan

Ke mana memanjakan diri dan pikiran
bebas dari rutinitas keseharian
mumpung liburan

Kalau aku tak ke mana pergi
aku tak kenal liburan
rutinitas terus silih berganti
tak ada kata, liburan

Ke mana pun pergi
:walaupun liburan
tetap memulung diksi
di mana kaki berjalan

Liburan, bagi pegawai
saat yang paling dinanti
menghabiskan gajian
pergi ke wisata hibur diri

Sedangkan, liburan
:bagiku sebuah tantangan
bagaimana gaji bulanan
tak hanya dibuat dolan

2019


Sajak Sejak Ada Aplikasi

Sejak ada aplikasi
segala data di aplikasi
disingkronisasi

Sementara kemampuan diri
pada umumnya masih tradisi
belum paham apa itu aplikasi

Apalagi yang online segala
yang menuntut koneksi kuota
fitur yang di-klik pun beraneka
saling terkait dan langsung tersambung
siapa yang tak kerja langsung bisa
diketahui kinerjanya

Perubahan yang ada—tentu saja
ada suka dan duka
yang menimpa
bagi yang paham -enak saja
bagi yang tak paham -apa rasanya

2019


Puisi dari Statusmu

Kata-katamu memang indah
tersusun rapi tak tumpah ruah
penuh makna berisi segala
aku terlena

Sebuah umpama, kau umpamakan
hidup tanpa kesusahan

Membaca statusmu
aku terbawa
antara percaya
tak percaya

Semua orang bisa berkata
semua orang bisa menulis juga
tapi tak semua orang bisa
sesuai apa yang dikata

2019


Apa Tidak Salah Kita

Detak detik malam pergantian tahun

-apa tidak salah kita
Bersuka ria, gembira bersama
saling ke tempat ramai segala
tanpa sadar sebenarnya
waktu kita terkurangi

Apa tidak salah kita
setiap pergantian tahun tiba
pada saling hura-hura
serasa lupa sebenarnya
usia tidak bertambah muda
sisa waktu yang ada
semakin berkurang juga

Apa tidak salah kita
menyambut tahun baru
lupa bila pergantian tahun itu
mengurangi waktu kita

Desember 2019


Akar Cinta

akar cintaku -akar tunjang
yang menancap kuat ke dalam bumi
biarpun angin puting beliung menerpa
cintaku tak akan tercerabut begitu saja

akar cintaku -bukan akar serabut
yang mudah tercerabut

akar cintaku -mengakar

setiap hari -setiap waktu
setiap ruang dan waktu
dan setiap gerak langkahku
akarku cinta -tanpa membedakan

siapa yang aku cinta

1 Januari 2020


Catatan Tahun Terakhir

ada yang terserak
tak tampak
tak tersimak
luput dari jejak

ada yang terserak
begitu tampak
jadi sebuah jejak
yang jamak

sementara angin gelombang
selalu mengajak berdentang
sebisanya aku buat catatan
biar setiap angin dan gelombang
tak hanya lewat tanpa catatan

baik buruknya catatan
dalam tahun berjalan
orang lain yang menentukan

baik buruknya catatan

akhir 2019


Suatu Malam Lewat Kotamu

lampu-lampu mengusir gelap
tak semua gelap benderang
di pinggir jalan remang-remang
beberapa kaki mengendap-endap

malam lewat kotamu
kau terlelap bercumbu
lewat jendela bus melaju
aku menangkap bayanganmu
mengeluh menahan sesuatu

bus melaju menembus malam
menempuh ruang dan waktu
tatkala lewat kotamu
ada sesuatu sapa ingatanku

lampu-lampu mengusir gelap
tak semua gelap lenyap
bahkan jadi remang-remang
tempat binatang nakal

malam lewat kotamu
ada sesuatu yang menegurku
yang membuat aku

tak bisa melupakanmu

malam tahun baru 2020


Tersandung Cinta

ups, asem
mataku menubruk
langkahku terkantuk
pada sebuah wajah dan senyum

di taman sebuah kota
hari senja, kaki langit barat merah jingga
ingin hati menikmati suasana
kota kali pertama kusapa

di bangku beton duduk sendirian
di antara tanaman kembang
senyumnya mengembang
langkahku tertahan

ups, asem -gumamku
ada rasa debar sesuatu
:kayaknya kita pernah ketemu
tanpa babibu -aku duduk di sampingnya
dan meluncurlah kata-kata
yang membuka dialog senja hari

di taman kota

2020


Ethex, lahir dan dibesarkan di telatah Mojopahit (Mojokerto), karyanya berupa puisi, cerpen dan esai sudah dimuat di beberapa media massa, antara lain di Suara Karya, Republika, Sastra Sumbar, Media Indonesia dan lain-lain. Puisi-puisinya terkumpul dalam beberapa antologi puisi, antara lain di Temu Sastrawan di Medan, Temu Sastrawan di Kediri. Temu Sastrawan di Malaysia, Dari Sragen Memnadang Indonesia (2012), Malsasa (2013), Poetry2 Flows Into The Sink Into The Getter (2013), Puisi Menolak Korupsi (Jilid, I, II, IV, V), Memo Presiden (2015), Temanten Langgit (2015), Tifa Nusantara (2014 dan 2015), Solo Dalam Puisi (2014), Lumbung Puisi (2015), Cimanuk (2016), Negeri Awan (2017), Festival Bangkalan (2017), Ruang Tak Lagi Ruang (2017),  Kesaksian Tiang Listrik (2018), Negeri Bahari (Negeri Poci 2018), Jejak Sajak Batu Runcing (2018), Sabda Alam (2019), Zamrud Khatulistiwa (2019), Membaca Hijan di Bulan Purnama (Tembi, 2019)  dan lain-lain. Juga dalam Antologi “Bersetubuh Dengan Waktu” (2014), “Dari Cinta Ke Negara” (2015), “Rasa Ku Rasa” (2016) dan Kumpulan Cerpen “Sepeda Pancal” (2016), “Gapura Menapak Jejak Mojopahit” (2018), “Pemulung Diksi” (2019). Bekerja di UPT Dinas Pendidikan Kec. Mojosari Kab. Mojokerto, dan  Dosen di Institut Agama Islam Uluwiyah. Aktif di Dewan Kesenian Kab. Mojokerto, sebagai Wakil Ketua, dan Penggiat Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK).Alamat: Jln. S. Parman 18 Modopuro-Mojosari-Mojokerto 61382 Jawa Timur

Puisi

Puisi LY. Misnoto

Silsilah Cinta

ketika hati lama mati,

suara rasa terkirim pada kegelapan

setelah kenyataan tak senyata senyummu

ketika pertemuan terlapangkan,

sepi dari tangis dan rasa rindu

semisal lilin yang menyala dalam ruangan

ketika fajar menemuimu di halaman,

rumput-rumput ramai

menyuarakan sisa-sisa bahagia

ketika cinta bertemu tuannya,

harapan sunyi dari derai ilalang

tumbuh di taman kenangan yang gersang

ketika rumah tak beratap,

sisa-sisa namamu tak lagi dinaungi

apalagi hati yang dulu bahagia

selaksa hikayat anak-anak di masa kecil

mendengarkan dendangan hati kita

masih kuwiridkan senyummu

ketika purnama menemukan istri,

sejuk terlewatkan di antara jalan sunyi

pada kesetiaan yang menanti rindu

ketika aku diperjumpakan denganmu,

dalam kesanggupan untuk berikrar

kembali merangkai riwayat cinta

Malang, 2019


Silsilah Perasaan

Siti,

perjalanan ini tak lebih dari rindu

sementara hati mengharap bahagia

setelah zaman melahirkan luka

dari rahim yang disetubuhi waktu

antara bingkai jarak di wajahmu

Siti,

tubuh terengah-engah hampir pasrah

sementara otak masih ditumbuhi senyuman

ketika parasmu menjadi benih cinta

acap kali digarap dengan rasa sayang

pelaksanaannya tersesat di antara hati kita

Siti,

tentang ketulusan dalam setia

telah tertakar bersama perasaan

sekalipun tak akan ada kenangan

setelah semuanya terangkum ikatan

akan utuh di hati sebelum mati

Malang, 2019


Akulah

akulah rindu,

dalam seduhan secangkir kopi

saat segalanya menjadi asap kematian

selepas tertinggal pada jarak

dan kesanggupan kumenghirup

akulah rasa,

dalam makanan yang terhidang

saat segalanya menjadi irisan kehidupan

selepas berlabuh dalam luka

akulah puisi,

dalam setiap buku harian

saat rindu dan rasa memilih tiada

selepas ramalan luka perawan

menghancurkan hati di sepanjang air mata

yang terlanjur melupakan sabda cinta

Malang, 2019


Pertanyaan Berakhir di Ingatan

kenapa harus cemas malam ini?

mungkinkah pekerjaan tadi siang

atau barangkali bingung untuk memulai?

perbedaan adalah variasi

sebelum membahagiakan diri sendiri

tanpa harus memikirkan kami

yang tak sudi mencari jawaban

mengapa kau melakukan berkali-kali,

masih belum puas dengan kuasa di kening?

semakin merajam kecemasan

pada tubuh mereka yang membatu

di punggungnya tersimpan pertanyaan

tentang kebangkitan dan kematian

mungkinkah esok hari

mereka menyelesaikan pertanyaan?

kenapa seakan mereka tak kuasa

ketika kau berlari mengejar arah

di tubuh mereka yang tidak tahu?

masih tetap sama di jarak waktu

jawaban hanyalah harapan

selepas mereka mati tanpa kerangka

meski berkali-kali datang

pertanyaan-pertanyaan resah

yang setia redup dalam ingatan

Malang, 2019


Aku tak Tidur Malam Ini

aku tak tidur malam ini

masih menulis air mata luka

menjadi puisi dan mantra

yang gemar dibacakan untuk kekasih

atau dihantarkan melalui angin roh jiwa

seperti persemadian waktu

yang membutuhkan tumbal hati

yang memerlukan meditasi rindu

dalam cinta tertata

lalu tidurlah aku di wajahmu

aku tak tidur malam ini

membaca segala yang dilihat

dalam segenap rindu

bersama sebuah perjalanan waktu

yang terkadang selalu diburu

mencari wajahmu setelah membuka pintu

aku tak tidur malam ini

masih bersama wajahmu

yang terkadang menjadi halimun

aku tak tidur malam ini

teman-temanku memberikan secangkir kopi

menjauhkan rasa dalam diri

seakan wajahmu terlelap di hangatnya

ketika purnama memulaskan diri

Malang, 2019


Tak Ada Hari Libur

Siti,

hari ini tak ada hari libur

ia telah keluar dari kalender

menyusul kepergian Bapa

Siti,

hari ini tak ada hari libur

ia telah menjauh dari cetakan merah

menutup segala kesenangan anak sekolah

dari segenap pelipur perjalanan

yang kerap dicekoki tanggal hitam

Siti,

hari ini tak ada hari libur

biar tak selalu bergegas para pekerja

merapikan segala arah bertampak kertas

yang lusuh menjadi kenangan

yang rapi dilampui warna mahkota

disimpan dalam pecahan sunyi

Siti,

hari libur tak akan ada

ia telah abadi

di suatu tempat nan sunyi

di perkampungan tak berpenghuni

dan tak akan ada caci maki

Malang, 2019


Berhentilah

berhentilah menangis, Siti, berhentilah

kau sudah sampai pada puncak sunyi

bertamulah pada bulan

ada suguhan cahaya di sana

mintalah untuk kaubawa pulang

dan berikan pada masa lalu

berhentilah menyesal, Siti, berhentilah

akan ada puisi untuk kaubaca

menjadikannya obat sakit kepala

hilanglah mantra-mantra masa lalu

berhentilah tidur, Siti, berhentilah

malam ini akan datang purnama

jemputlah ia sebelum pagi

suguhkan rindu di meja tamu

Malang, 2019


Doa di Suatu Pagi

sebelum mata mulai berkerja

matahari belum melampui dedaunan

bising belum berdendang

biasanya selalu menyangkut di telinga

di kening masih terpancar kerut cahaya

melampaui sederet sajadah

dalam segala renung yang ditinggalkan

dan terkadang disimpan di dada

maka biarkan dedaunan mengembus angin

di kerut kening yang diwarnai luka

agar nanti, sebait doa yang kita eja

terbang menemui tuannya

lalu kita menerka yang akan terjadi

sebelum matahari menghisap gelap

biarkan tafsir langkah mengikuti arah angin

dan biarkanlah mata bekerja

di keriput kening bersama doa

Malang, 2019


Sebuah Kisah

matahari sebelum melewati waktu

masih mencondongkan tubuhnya

di kepala yang masih basah dari sisa semalam

sampai di sekujur doa-doa

semestinya kita berkisah di tangisan langit

bersama burung-burung yang pulang pergi

sedari subuh telah ia ikrarkan

demi sebuah kisah dalam harapan

langit masih tak berkawan mendung

meski kita selalu menjemput gerimis

dengan doa-doa di samping rumah

ketika perut-perut sudah kosong

bumi kita sedang sekarat, kawan

seluruh cuaca tak bisa diajak kompromi

meski beribu dupa kau jejalkan

pada ranting-ranting yang kemarau

dan akar yang tak bermusim

seharusnya tak seperti itu

setiap kisah semestinya beriringan doa

namun, doa telah membuatnya bosan

tak perlu lagi berjalan jauh

demi memohon kepada cuaca

sekadar menikmati romantisme gerimis

dan bertawa ria di dalamnya

sudah tiba untuk tak berkisah

tangis hanya sekadar catatan rindu

Malang, 2019


Pada Cuaca Pagi Ini

pada cuaca pagi ini

sepenuhnya kita menghirup aroma rindu

meski hujan sedang bergerai di luar

mengguyur seluruh doa

yang kita titipkan air mata

pada cuaca pagi ini

sepenuhnya kita menikmati kegelisahan

yang terbawa dalam tubuh sebelum lahir

dan kita tertimpa panas berkepanjangan

di dada kita, cuaca membaca kenangan

pada cuaca pagi ini

sepenuhnya kita merasa haru

pada orang-orang yang memilih bersandiwara

ketika diam-diam tubuhnya merangkai rindu

melupakan kebersamaan

tak lagi melipurkan kedinginan

dan menutup panas yang membakar

Malang, 2019


LY. Misnoto, lahir di Pulau Giliraja, Kab. Sumenep, Madura. Menulis puisi semenjak berada di Pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka, Bluto. Puisi-puisinya dimuat di Radar Madura, Radar Malang, Radar Cirebon, Kabar Madura, Harian Ekspres Malaysia, Majalah Kuntum, dll. buku antologi tunggal barunya berjudul “Mayang”.

Puisi

Puisi Anugrah Gio Pratama

Serupa Bahasa dan Kata

Serupa bahasa dan kata,

malam adalah puisi dalam sunyiku.

2019


Malam di Suatu Pasar

Malam yang singkat

dan keramaian

adalah guguran bunga.

Kusaksikan

banyak hal di tempat ini:

barang-barang ditata dengan rapi,

kata-kata dilontarkan dengan santun,

tapi tidak ada puisi. Tidak ada puisi.

Hanya ada senyum yang lahir

dari wajah-wajah yang asing.

Hanya malam yang kian bising.

2019


Gelap Menepuk Pundak Hari

Malam bangkit, waktusemisal

karpet-karpet hitam yang panjang,

yang menghamparkan kesunyian

dan membentangkan ketenangan.

Lalu gelap menepuk pundak hari

agar tuntas cahaya mentari.

Lalu mimpi memungut

seluruh lelah di punggung

para pekerja.

2019


Berada di Jalan

Kau terlahir untuk berada di jalan

biarpunkau bukan petualang yang tangguh.

Karena kauadalah gugusan cahaya

saat gelap membanjiri kota-kota.

Kau terlahir untuk selalu berada di jalan,

menghitung jejak-jejak yang

tak pernah bisa dibaca sebagai

buku-buku sejarah dunia.

2019 


Mata Mimpi

Apakah pintu kamar itu

mesti dibuka, sedang ketok jam

bagai sebongkah batu

yang diam?

Aku rasa tak perlu,

sebab dengkur cuacayang amat panjang

telah menghadapkan wajahku

menuju mata mimpi.

2019


Di Ranjang Ini

Di ranjang ini,

tubuh adalah kata-kata

yang jatuh di jantung puisi.

Di ranjang ini,

umur pergi satu per satu

bersama tik-tok jam yang kian laju.

Di ranjang ini,

mimpi terlahir dan berayun

di antara pohon-pohon musim

yang tumbuh di rahim bulan.

2019


Tabuhlah

:Febryan Nugraha P.

Tabuhlah perkusi itu!

Tabuhlah sebagaimana waktu

menabuh sepi yang tenang; sebagaimana sepi

menabuh mimpi yang dalam; sebagaimana mimpi

menabuh angan yang panjang.

Tabuhlah perkusi itu!

Tabuhlah!

2019


Fragmen Mimpi

Mimpimu yang terluka

mengucurkan seribu nasib baik

yang dikumpulkan seorang ibu

dari masa ke masa.

Sedang kenyataan yang indah

justru tak mengucurkan apa-apa,

tak bisa mengumpulkan apa-apa

kecuali kenangan. Kecuali kenangan!

2019 


Biarkan Saja Kepedihan itu

Biarkan saja kepedihan itu

membentangkan sebuah jalan yang kelam,

sebab cinta saja tak akan sempat mengasuh kita

menjadi makhluk yang dewasa.

2019


Usia

Kemarin adalah usia yang

jatuh berserakan; suara-suara

yang telah hilang gemanya.

Esok adalah usia yang tak pasti.

Sedang hari ini adalah usia

yang dikupas kefanaan dunia.

2019


Anugrah Gio Pratama lahir di Lamongan pada tanggal 22 Juni 1999. Sekarang ia sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia mengambil program studi Pendidikan Bahasa Indonesia di sana. Puisi-puisinya termuat di beberapa antologi bersama. Karyanya yang terbit pada tahun 2019 ini berjudul Puisi yang Remuk Berkeping-keping (Interlude).

Puisi

Puisi Irvan Syahril

Sepasang Sepatu

Setiap Minggu ibu duduk dekat pintu

matanya merapi tali ke lubang sepatu

dan tangannya yang berurat waktu

masih sigap mengikat tali sepatu.

Ibu begitu tekun kepada waktu

sambil memangku sepasang sepatu

semoga tak lepas talinya di ujung tunggu

semoga lekas mengantar ke depan pintu

sebelum sebuah ajal memangku.

Semacam ada ruang waktu yang jauh

dari titik matanya yang kian abu-abu

di sepasang sepatu ada air mata ibu

yang menebalkan alas dan ujungnya

yang tak tuntas mengarah kepada rindu.

Serpihmimpi, 2019.


Puisi

Sudah berkali aku menjumpai putus asa

dalam waktu yang kauberikan kepadaku.

Hening selalu lebih dahulu dari apa pun

seperti debu tak tuntas seribu sapu.

Kau dengan gampangnya menyuruhku

membetulkan hatiku sendiri.

“Ini sepaket waktu, gantungkan di hatimu.”

Aku dengan puisi bertubi menggambarmu

dengan kata dan dengan apa pun yang tak

mengandung rasa sakit. segala tetap naif.

Kau tak pernah tandang ke pintu puisiku

walau terpasang rambu gelisah pada matamu.

Sudah berkali aku menjumpai putus asa

dan berkali juga kusampul diriku dengan waktu.

Serpihmimpi, 2019


Musim Panas

Detakmu adalah ancaman bagi mangu dedaunan

dan kami yang tergeletak. Hujan masih tenggelam

dalam pusar putaranmu amat rumit ditebak.

Debu semakin lancip seperti peluru dilesatkan angin

dan mata kami penuh berair. Ada yang berteduh dari

perjalanan juga ada yang mengaduh dari kejauhan.

Ketika langit kemerah-merahan matahari sekecil

kelereng. Bayangan seakan ingin melepaskan diri

meninggalkan tubuh yang kerontang musim panas.

Detakmu adalah ancaman bagi burung-burung

kehilangan tempat bernaung. Hujan masih lama

terkurung menangis merindukan rumput dan daun.

Serpihmimpi, 2019.


Menjadi Daun

Aku tak pernah menyalahkanmu,

apalagi angin dan musim atau hujan.

Seandainya kau mendengar aku berkeluh

bukan berarti membenci angin yang menarik

lepas dari ranting tanganmu, musim mewarnai

selembar tubuhku, atau deras hujan

yang mengabur pandangan ke dasar dadamu.

Aku percaya kau bukan pemarah,

karena itu kepada langit aku mengharap waktu.

Mata sulit terbuka menangkap cahaya

dan sejak itu seluruhnya menjadi samar:

kukira itu kepak burung yang biasa bertengger

ternyata maut, menebas habis lajur nadiku;

kukira hujan ternyata tangis yang mengiringku.

Segalanya amat cepat, tanpa kata-kata

tubuh dan bayanganku menyatu di tanahmu.

Kini aku berada dekat dengan akar keabadian

aku ingin menjadi satu-satunya daun di rantingmu

daun besar yang kokoh menghadap hujan;

tak pernah kalah dengan musim, apalagi lemah

oleh angin, daun yang senantiasa meneduh jantungmu.

Sepihmimpi, 2019.


Ketika Akan Tertidur

Jam sudah memberi isyarat hati terlelap

kususun wajahmu dengan sisa sungguh

jarum beranjak seperti menguntit jejak

dan persembunyian terbuka di matamu

Adalah langkah yang patah

kertak dari angka ke angka

dan aku bertahan

di jalan yang tak pernah selesai

Kurengkuh degup yang masih menyebutmu

lalu dinding ini memantul-mantulkannya

siapa di antara kita  yang terpenjara

cintaku atau bayang-bayangmu di kepalaku

Aku sedang dalam jantung waktu

kata-kata seraya melejang

setelah merasa ada tatap dari jauh

entah dari lubuk hati siapa ke arahku.

Serpihmimpi, 2019.


Menunggu

Akhirnya aku mengerti hidup

hanya berlomba menunggu

kita bergilir menjadi sepi

Kau ataupun aku harus tertib

sebuah suara memanggil

sesuai pesanan dan waktu

Seketika kita saling tinggal

terpenggal kata-kata di sini

segala lesap tak terucap

Tanda itu segera muncul

membacakan nama kita

seperti serangkai pengumuman.

Serpihmimpi, 2019.


Pergi

Maka sebuah cinta pun yang rutin kita pelihara

tak mampu menolak adanya sepi, sekeras kita

meramaikan meja dengan peristiwa-peristiwa.

Aku dan mungkin engkau, sudah yakin begini:

bahwa yang tersisa antara kita hanya teng-teng

jam, yang menunjuk waktu tepat untuk sendiri,

atau seguyur hujan menarik-ulur cinta yang gugur.

Setiap saat kita seolah tahu kapan datang hari itu

sekecup dua kecup waktu pada bibir kering kita

seperti sebuah peringatan; cinta tak setia sebetulnya.

Serpihmimpi, 2019.


Irvan Syahril lahir pada 18 November 1997 di Subang, Jawa Barat. Seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Singaperbangsa Karawang. Menggawangi komunitas Gubuk Benih Pena (GBP) serta bergiat dalam ekstrakurikuler Bengkel Menulis Unsika (Bemsika) dan Komunitas Kelas Puisi Bekasi (KPB) dan mengelola blog puisikusyahril.blogspot.com & kailfajar.wordpress.com. Beberapa puisi permah terbit di media cetak dan online. Serta beberapa puisinya termaktub dalam buku antologi puisi bersama Karawang Abadi Dalam Puisi (2018), Kunanti di Kampar Kiri (2018), Kepada Toean Dekker (2018), Bintalak (2018), a Skyful of Rain (2018), Risalah Api (2019), Bisa disapa melalui surel [email protected] dan akun instagram @serpihmimpi.

Puisi

Puisi Setia Naka Andrian

Akulah Namamu

Akulah namamu

Dalam secangkir kopi

Saat segalanya telah luruh

Selepas segalanya

tak sanggup lagi kuseduh

Akulah namamu

Dalam secangkir kopi

Saat segalanya tiada kuasa bersimpuh

Selepas segalanya tak sempat berlabuh

Akulah namamu

Dalam secangkir kopi

Saat semua memilih tiada

Selepas ramalan berlalu-lalang

Menghancurkan segala rupa wajah

Yang sudah terlanjur belang-belang

Kendal, April 2018


Kerja Sebuah Pertanyaan

Dua malam sudah. Kami cemas.

Pertanyaan kembali bekerja

Hadir dan memulai dengan caranya

yang beda-beda

Mereka lebih senang berbahagia sendiri

Tanpa memikirkan kami,

Yang lelah mencari jawaban bersembunyi

Bergulirlah pertanyaan itu berkali-kali

Bekerja di atas kening mereka sendiri

Kami semakin cemas. Mereka menenteng

bermacam batu-batu

Disimpan rapat-rapat, di balik punggungnya

Yang lebam dan hampir berlubang

Esok hari, kami telah bergulir

Menghampiri pertanyaan kembali

Mereka terus berjalan, seakan kami tak kuasa

mengejar. Semua berlari, menuju segala arah

yang tak pasti kami tahu

Bersamamu segala sesaat, bersama segala waktu

Setelah jawaban urung datang

Selepas segalanya bekerja

dan datang berkali-kali

Dengan pertanyaan-pertanyaan

Yang tak pernah kami ketahui

Kendal, April 2018


Andai Saja Aku Tidur Siang

Andai saja aku tidur siang

Apakah kau masih mau menemaniku

Menjadi peluru, atau menjadi apa saja

Yang lebih gemar melesat melampaui

kecematan cahayamu

Seperti segala waktu,

yang tak butuh perantara

Yang tak sempat berkelit lidah

untuk saling menolak

dan menjejaki segala tidur yang ragu

Andai saja aku tidur siang

Maka kau akan segera melihat

Segenap kegagalan yang melanjutkan tidurku

Menukar sebuah perjalanan yang lelap

Pada petualangan kecil, yang seolah terburu-buru

Mencari segalanya selepas membuka pintu

Andai saja aku tidur siang

Pasti jika kau juga masih begitu saja,

Menjadi segala waktu yang

kau sudah menjadi ngeri

Teman-temanmu yang akan mengangkatmu

tinggi-tinggi

Mereka seakan menemukan kemenanganmu

Saat semua yang terjadi saat itu adalah batu-batu

Kendal, April 2018


Hari Libur di Kalendermu

Di kalendermu

Hari libur telah pulang

Ia memilih keluar lebih awal

Dari kepergianmu yang panjang

Di kalendermu

Hari libur telah hilang

Ia memilih pergi jauh

Meninggalkan banyak kegagalan

Dari segenap ketiadaan

yang kerap tanggal sendirian

Di kalendermu

Hari libur telah memilih dimakamkan

Segalanya seakan bergegas

Memilih tinggal di segala arah

yang lusuh

Melampaui foto-foto yang patah warna

di dinding kamarmu yang pecah-pecah

Di kalendermu

Hari libur telah memilih dimakamkan

Ia memilih abadi

Di kampung yang jauh di sana

Di sebuah hutan

Yang tak pernah lagi dihuni siapa-siapa

Kendal, April 2018


Bulan Tidur Siang

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Kami sudah pesan satu meter ranjang kayu

Yang dikirim langsung dari taman yang gagal

diciptakan

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Di atas kasur empuk yang dibeli

dengan sepenuh tunggakan cicilan

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Matamu sudah memerah

Semalaman matamu bilang lelah

Menonton rupa-rupa adegan

Yang gagal disetir sutradara pilihan

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Dadamu sudah lelah

Ia tak lagi sanggup membaca arah

Dunia telah lelap

Ia memilih tidur sendirian

Sepanjang waktu

Selepas segalanya urung mengguyur tubuhmu

yang kian dangkal

Kendal, April 2018


Biarkan Mata dan Kening Bekerja

Bekerjalah mata, bekerjalah

Berbuatlah melampaui mulutmu

Meninggalkan segala bising

yang nyangkut di kupingmu

Bekerjalah kening, bekerjalah

Berbuatlah melampaui hidungmu

Meninggalkan segala kebusukan

yang nyangkut di dadamu

Biarkanlah mata bekerja, biarkanlah

Biarkanlah kening mengerutkan lukanya

Agar nanti, segala kecukupan

Mereka berdua yang mengeja

Membaca dan menerka segalanya

Sebelum semua merasa gelap

Mengikuti jejak dan tafsirmu yang berkelok

Biarkanlah mata bekerja, biarkanlah

Biarkanlah kening bekerja, biarkanlah

Kendal, April 2018


Kisahkan Kepada Kami

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Yang menembus batas kesadaran

Yang menerka batas pemahaman

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Tentang jalanan yang lengang

Tentang segala wujud

yang dibiarkan rumpang

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Menuju perkampunganmu itu

Di balik segala keabadian

yang kian membocorkan banyak kekalahan

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Agar kami lekas dan bergegas

Bergerak lurus di jalan yang tak lagi lapang itu

Ruas yang tak lagi diterangi banyak pilihan lampu

Yang tiada lagi menemukan

ke mana arah sesungguhnya pulang

dan ke mana arah melarikan diri

dari tubuh yang gagal

Kendal, April 2018


Dalam Gelap, Kita Lelap

Dalam gelap,

kita tak bisa sepenuhnya lelap

Meski di luar, hujan tak lagi bergegas

Mengguyur kening kita

Yang kian hari kian retak

Dalam gelap,

kita tak bisa sepenuhnya lelap

Kita tak siap membawa diri lahir

Kepada segenap panas

Yang menggenangi dada kita

Dalam gelap,

kita tak bisa sepenuhnya lelap

Orang-orang memilih penasaran

Kenapa mereka memilih diam-diam

dan tidak datang bersamaan

Untuk saling mendinginkan

Untuk saling membakar

Kendal, April 2018


Mematunglah Kami

Maka mematunglah kami

Kepada hari-hari yang lewat

Kepada segenap gegap

Yang tak lagi beri kami gempita

Lihatlah, di sana mereka memilih diam

Menyaksikan ketiadaan kami

Yang pelan-pelan berjalan mundur

Menyusuri tepi punggung kami

Yang kian sepi dari kerja-kerja kepala

Maka mematunglah kami

Kepada malam-malam yang pekat

Kepala segala palung yang tak lagi merenung

Lihatlah, di sana mereka memilih senyap

Membuang dirinya dalam lelap

Mementalkan dirinya jauh-jauh

Ke atas bukit, ke atas segala ketinggian

yang tiada pernah dijejak

Maka mematunglah kami

Ke hadiratmu, kepada segala duka-duka

Kepada segenap lupa-lupa

Kendal, April 2018


Kepada Segala Tuan

Tuan, kenapa kau tak minat

menjadi seperti gurumu

Atau pegawai pemerintahan desa

yang setiap pagi menenteng batu-batu

Pulang membawa suara-suara

Yang dipasung waktu

Tuan, kenapa kau memilih diam

di dalam ransel bekas

Yang kerap ditenteng

mengelilingi banyak pintu

Apakah kau lebih tenang menjadi dirimu

Yang sempat berjaya pada masa 1970 itu

Saat dinding sekolah tak begitu digubris

Saat segalanya memilih menjadi punggung-punggung

Yang setiap pagi dijatuhkan di lahan-lahan sewaan

Tuan, kenapa kau tak minat

menjadi seperti gurumu

Atau kau memilih berkukuh

Seperti dirimu yang dulu

yang baru mulai mengenal beberapa huruf

yang belum begitu bernafsu

memilah teman untuk menemukan banyak ibu

di sudut-sudut bangku sekolah

Pada zaman dahulu itu,

Saat semua orang mengaku

Bahwa tetap teguh bersekolah

Menjadi segala cara menghancurkan segala salah

Kendal, April 2018


Setia Naka Andrian, Lahir dan tinggal di Kendal sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Saat ini sedang menjalani program Residensi Penulis Indonesia 2019 dari Komite Buku Nasional Kemendikbud di Leiden, Belanda.

Puisi

Puisi Ian Hasan

Merawat Cinta dalam Jangkauan

lampu mati,

mengirim gelap yang mendekatkan

senyata kenyataan yang menghimpit

angkasa lapang,

sepi dari lalu-lalang pujian

sekhusyuk lilin di tengah ruangan

fajar di halaman,

rumput-rumput berdesakan

sembunyikan genangan hujan semalam

kebun,

harapan yang segan tumbuh

derai gulma, ilalang dan tanah jenuh

rumah,

menaungi sisa-sisa kantor

kran bocor dan tumpukan piring kotor

anak-anak,

nyala yang tak pernah kau saksikan

di kepulanganmu yang masih keruh

istri,

kesejukan yang kau lewatkan

dalam sunyi dan kesetiaan menanti

cinta,

adalah bagaimana kesanggupanmu

menjangkau dan merawatnya


Ke Mana Pergi

dunia belakangan jadi sempit

bahkan tak lebih besar dari ibu jari

sementara zaman demi zaman

kerap melahirkan orang-orang besar

yang lebih banyak dari rahim mancanagari

ke mana pergi pewaris ibu pertiwi?

sehari terasa tak cukup

waktu terengah-engah hampir tak sanggup

sementara otak tak lagi berupa lahan subur

kerja otak tak bisa dihitung

acapkali tak keluar keringat justru bikin makmur

ke mana pergi pelaksana hati?

rasa dan ketulusan cukup dipajang

agar selalu ada kenangan

sekalipun bukan milik sendiri

hidup harus hemat jangan dibuka semua

secukupnya untuk diri kita sendiri saja

ke mana pergi diri yang belum mati?


Menunggu Kedatangan

awan berkelipat-gelung menelan senja yang tak gesa

angin menghimpun gelap mendorong malam tiba lebih cepat

orang-orang bergegas mengaliri lorong masing-masing

sementara butiran kehidupan mulai menitik singgahi segala muka

dan langit semakin menunduk, kian dekat dari sebelumnya

hitam di mata orang-orang mendekati batas kelopak pandangan

air muka kerut, simpul kening menjerat perlihatkan penat

hujan pun tiba dan malam melindungi penuh gelora

anak-anak memandangi jalanan basah dari balik kaca jendela

dan aku diam-diam melepas rindu bersama deras tak berkesudahan

sepertinya anak panah itu melesat,

angan itu bergelantungan,

rindu itu di kedalaman

sepertinya…, tak perlu kau tanyakan

kucing-kucing terdesak dingin di emperan hingga hujan berselang

gerah seharian dikuliti, hingga tinggal belulang

tergolek aku di kesendirian, menimbang utang yang belum lunas

selama purnama masih terhalang mendung di mata anak-anak negeri

dan sedikit pun tak kukenali lagi bara api di dada para terpelajar

sepertinya laju takdir tercerabut,

jalan maju kian terentang,

rindu ini belum terlawan

sepertinya…, akan segera datang


Mendekatlah

mendekatlah padaku,

dengarkan kabar tentang elang

yang melayang tenang terdorong angin

mengarungi cakrawala dengan mata waspada

menghitung berapa kali pusaran berputar

menyaksikan perubahan, merekam kenyataan

itulah kabar tentang batas hari ini dan esok

yang harus segera kita kerjakan

mendekatlah pada-nya,

dengarkan kabar tentang bintang

yang bertengger di dahan keabadian

menyandarkan kegalauan dan keragu-raguan

melabuhkan harapan penuh penghambaan

menyusun ingatan tentang pergulatan fana

itulah kabar tentang batas daya dan upaya akal

yang harus segera kita endapkan

mendekatlah pada diri,

dengarkan kabar tentang tanah negeri

yang kering kala hujan tak datang

menyediakan hamparan kejujuran

menorehkan jejak-jejak terdalam

menempuh kesadaran dan tanggungjawab

itulah kabar tentang batas selain kau dan engkau

yang harus segera kita kabarkan


Sejarah Kerinduan

adakalanya kerinduan menjelma wewangian

terpendar dari rona tersipu bebunga taman

merayapi segala penjuru lesu yang hiruk pikuk

hingga para penghuninya seketika bertengadah

dan serasa teraliri dengan darah-darah yang baru saja diperas

dari kemerahan mega saat matahari mulai menggeliat

dan menyingkap selimut yang semalaman

telah membungkus keseluruhannya dengan rapat

kantuk melarut, keletihan menguap,

selayak kabut yang kian menipis saat mentari mengintip

tapi siapa yang tahu dari mana datangnya wewangian bunga?

seperti kerinduan yang tiba-tiba saja mendekap erat,

tak lagi memberi ruang bagi siapa saja

yang menghuni lesu untuk bergelimpangan tak bertenaga

tanpa kita tahu dari mana awal keberangkatannya

dan di mana tempat yang menerima kepulangannya


Kalian dan Kita

I

teman

: entah kepada siapa sebutan ini kutujukan

ketika kusadari napas yang menandai hidup

bersama kalian hingga detik ini

tatapanku seakan menghindar

dari kecenderungan hasrat banyak orang

dan barangkali juga kalian

alam kita sama, zaman kita sama pula

akan tetapi ada ruang-ruang kesunyian

yang selalu menarikku ke sana

sesak kurasakan di keramaian

kosong kurasakan di perayaan-perayaan

jiwaku selalu mengembara

menelusuri celah-celah tak menarik

mendekati yang kalian singkirkan

II

teman

: entah kepada siapa tanda ini kusematkan

kaki angin tersangkut di sangkar kenangan

ketika kita berdua tertegun dan sangsi

mentari tak beranjak seolah memberi jalan

bagi kemungkinan-kemungkinan yang tak jarang kita ramal

kita pernah saling bertandang

saling berkirim jejak kaki di lantai yang asing

sebelum akhirnya kita sadari tak pernah ke mana-mana

saat di mana otak dan perut kita telah sama-sama terisi

angin masih saja tersangkut

sepertinya menunggu dentang rencana

yang barangkali tengah disiapkan untuk kita

sedangkan kita tak lagi tertegun dan sangsi

semoga sampai kapan pun, meski tak lagi di sini

III

pada suatu saat nanti

bersama-sama akan kita petik kembali

kemewahan yang pernah mengaliri nadi

seperti diamnya batu

seperti kehadiran yang tertunda sekian lama

dan wangi kemewahan itu tak bisa kita tolak

mencumbui ke mana saja angin pergi

bersama tetesan waktu

bersama kening kita yang batasnya kian menepi

dan cukup lewat berita yang tak perlu dimuat

sehingga pantas untuk datangnya senja

pada suatu saat nanti

ada kemilau berputar di batas nalar

kemewahan yang menjadi pundi-pundi


Tiga Anak Kucing

tiga kucing kecil memburu anak sungai

masing-masing berbinar purnama yang berbeda

jemariku yang hitung sepekan merasai kelembutan

entah genap atau baru sedalam sayatan pisau

bulu mataku seketika rontok tergoyang bayu sasmita

menolak semai benih-benih pengebirian

tiga anak kucing dengan ekor terombang-ambing

seburuk ranting yang patah ketika muda

saat kala melibas deras tak ambil pusing

lalu terbirit tanpa sekalipun berpaling muka

putik-putik surya di kepalaku menangkap bahasa kebisuan

membuka lipatan subuh yang terbungkam dingin

benih-benih, tandas begitu ditanam

membingkai jalan pencarian anak sungai

arah manakah mereka?

tiga anak kucing rebah lupa gelisah

tupai-tupai pingsan saksikan langkah memukau, kebingungan

alangkah pelik bekal yang harus dibawa

bukannya cukup karsa terhunus tak putus

alam telah sediakan jalan untuk haus dan lapar

dan tak hanya mentari yang sanggup memanggang kebekuan

tiga anak kucing mengerontang

kedatangan tua sejuk bersepoi-sepoi

dan anak sungai masih nampak di ujung mata


Pada Butir-Butir Padi

sebelum kita sama-sama tahu

bahwa jalan ini segera bersinggah

sadar kusongsong pelita di kedalaman sanubarimu

dan langkah kita terbawa oleh satu cerita

mengukir dialog- dialog yang terajut rapat

kita banyak belajar darinya, tentang sebuah perjalanan

pun ketika kita berjarak satu sama lain

masih mampu kita hadir bersama-sama

menjumpai orang-orang dan keseharian kita masing-masing

kau hadir sertaiku dan kusertai kehadiranmu

karena cinta bagi kita alam semesta

karena hidup bagi kita jalan cerita

tirai demi tirai terbuka

dan genggaman kita bersinar seperti matahari

kita selalu percaya binar itu tak mungkin padam

seperti halnya kita selalu yakin

kehidupan masih tersedia pada butir-butir padi

kita sama-sama terdiam suatu ketika

dan lewat pejam kita saling berpandangan

bersama kita sadari tak punya apa-apa

hanya cinta, kesetiaan, dan rasa percaya

hati kita pun berdekapan agar lebih kuat

menumbangkan tiupan angin sekeliling

             naskah demi naskah terbaca

             dan kegamangan kita menjelma patri kesungguhan

             kita selalu mencoba berbicara dengan kenyataan-kenyataan sulit

             seperti halnya kita bertanya ke hati

             saat asa masih tersimpan pada butir-butir padi


Perjalanan Malam

sore, kala kunang-kunang masih bersembunyi di balik bayang-bayang pepohonan

sukma-sukma yang baru saja terbangun berkerumun di ujung hari

mendekat satu sama lain, meraba kenangan sepanjang lelap sehari

subuh masih tercekat di belahan masa yang berbeda

perjalanan usia nampak tatkala cahaya mengurai bentuknya sendiri

sementara rembulan pucat menanti jelaga terhampar

jemari senja kian nampak sedang meraih bentang angkasa

usai kuundang kenangan yang tak lagi sekadar kerinduan

sedang raga terlanjur letih, ditemani sisa-sisa dosa yang menempel di benak hari

sementara jiwa menyapa beranda-beranda yang masing-masing menunggu dikunjungi

seteguk kerinduan basahi sekujur angin yang terdiam telanjang

membalut luka kenangan meski tak sembuh seketika

saat jelaga tumpah dan di antara kita rasa ini menjadi sahabat

menemani di setiap putaran, menyertai di setiap perjalanan

sepi pun menyediakan ruang pengembaraan yang begitu luas

di perbatasan kota, di mana kenangan membawa serta sekawanan harapan

berdua kita berdiri, sama-sama menjadi saksi kedatangannya

emas cahaya rembulan hinggap, memberi irama perjalanan

hingga saat kelambu malam terbakar di ujung timur

dan lagi-lagi kita sadari, satu langkah lagi akan menyusul esok hari


Hikayat Purnama

purnama mengantarkan kedatanganmu

di jendela yang sengaja kubuka malam ini

angin malam berduyun-duyun menyelimuti

dan langit tersapu pucat oleh awan-awan tipis

aku sedang menatap purnama itu

di rengkuhan langit yang kelelahan

kusaksikan drama yang begitu panjang

seperti saat kutebus kerinduan tadi pagi

tertera begitu tegas namamu

yang sanggup membuat purnama hadir dengan kerelaan

demi menghimpun keseluruhan cerita tentang kita

memenuhi rangkaian episode tak kenal akhir

di jendela yang membingkainya ke dalam petak-petak kenangan

bersama malam, bersama dingin

bersama sejarah yang tengah kita kerjakan


Ian Hasan, pegiat di Pasamuan Among Anak (Pamongan), sebuah model prakarsa pendidikan alternatif berupa sanggar berbasis komunitas sejak 2013 lalu. Dunia pendidikan anak menjadi perhatiannya hingga kini, di sela kesibukannya sebagai juru rancang bangunan di Solo. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata di Karanganyar.

Puisi

Puisi Kharisma Damayanti

Malam yang Panjang

Doa berembus dari bibirmu

dan kau tiupkan di sekujur malam

mimpi baik akan datang

menyelimuti lelap yang dingin

Pejamkan mata sekarang

apalagi yang sibuk berlalu-lalang

di dadamu itu?

Mengapa tak kau loloskan saja

agar ia bebas menyusuri malam

dan menemukan tempatnya bertenang-tenang?

Waktu semakin tajam

kau sampai di puncak sepi

mengetuk bulan untuk membukakan

pintu cahaya lalu masuk dan

menemukan dirimu jatuh di antara

lembaran-lembaran masa lalu

Kau sudah lelah, tampak dari

sajak-sajak yang kau bacakan

hanya bergaung di kepala

tak pernah didengar oleh siapa-siapa

Tidurlah,

maka malam akan terasa panjang

dan pagi masihlah jauh membangunkan

rindu di hati tabahmu itu

Magetan, Oktober 2019


Doa di Suatu Hari Menjelang Pagi  

Sunyi meninggi

malam kian menepi

embun terburu-buru tumbuh

dari dadamu yang rapuh

Jelang pagi

hening bersuara di kepalamu

meribut segala ingatan

isak tak bisa lagi kau tahan

Lalu yang pecah

adalah gelas-gelas matamu

berserak masa lalu di lantai

begitu buram semua itu

Puncak sunyi

langit masih gelap

azan pertama menyelinap

di jantungmu yang berkarat

Sedikit berdebar,

kau menunggu matahari jatuh

mengeringkan luka-luka yang ngembun

dari celah matamu

Magetan, Oktober 2019


Pukul Setengah Sepuluh

Matahari pukul setengah sepuluh

mencondongkan tubuhnya kepadamu

sampai peluh membasahi kepala

membanjur sampai sela-sela doa

Kau lihat langit pukul setengah sepuluh

jutaan burung melesat pergi dari tanganmu

yang sedari subuh kau penjarakan

demi meraup harapan demi harapan

Mendung belum lagi bangun,

tapi kau telah menginginkan gerimis

bertandang ke rumahmu selagi

anak-istri menekan kosong perut mereka

Cuaca sedang sekarat, katamu

terik tak bisa diajak kompromi

meski kau jejalkan dupa

ke kantong bolong musim

Tak bisa, langit pukul setengah sepuluh

memang selalu begitu

mengikat setiap lakumu

yang mulai linglung dan bosan

Tapi, tidakkah kau rela berjalan jauh

demi menemukan cuaca

anak-istrimu sudah lama menanti

bermandi gerimis tertawa-tawa

Pukul setengah sepuluh lebih

langit menangis tanpa air mata

Magetan, Oktober 2019


Cuaca yang Baik

Tenanglah,

bukankah cuaca sudah mengalah hari ini

ia tak membebankan tugasnya padamu

juga tak mengundang angin untuk membadai

di sore yang kelewat hening

Jangan salahkan ia,

puisi-puisimu tak ditulis musiman kan?

kau berkata-kata sepanjang hari

bahkan cuaca senantiasa mengabadikan

dengan mengalirkan napasnya ke denyut ingatanmu

Ia setia melakukan tugas

merawat baik kenanganmu

tak membiarkan waktu mencurinya atau meracuni dengan khayalan-khayalan

Maka tenanglah,

cukupkan hatimu yang sakit itu

biarkan perlahan pulih dengan merelakan yang tak kembali

dan kelak pun sembuh saat kau sudah berdamai dan memaafkan luka-luka di masa lalu

Magetan, Oktober 2019


Menanti Hujan Turun

Di beranda, sepasang mata berkaca-kaca membaca cuaca. Semesta di pikirannya sibuk melipat kemarau dan berusaha merentangkan penghujan.

Sementara itu, di luar angin beraroma tanah basah. Semilir membelai kenangan yang menjuntai-juntai dari ingatan. Denyar gerimis mulai terasa menitik satu-satu dari mata.

Hujan pun turun. Ricih-ricih waktu deras bersejatuh. Memanggil-manggil doa dari dada yang tergenang, sampaikan ke langit paling tenang.

Magetan, Oktober 2019


Seseduh Ingatan

Masih panas,

kepul asap kopi di meja

serupa kabut menggayut di jalan-jalan pikiran

kita sesap pahitnya perlahan-lahan

menanggalkan kesedihan dan membiarkan

segalanya hilang begitu saja

Bukankah itu lebih baik

daripada menjaga apa yang telah tiada

membuang detik percuma

sudah cukup kita rawat luka

perihnya yang lama membikin lupa

bagaimana cara berdoa

Magetan, 2019


Pada Suatu Senja

Pada suatu senja,

ia berjalan entah ke mana

membawa rahasia

Barangkali ke rumah ibu

di pusara lindap sepi

tempatnya menabur bunga-bunga

Atau ke rumah ayah

yang letaknya di sudut mata

begitu nanar dan jauh

Ia linglung, sudah jauh berjalan

melewati kelokan-kelokan,

tapi semakin menjauh dari ayah dan ibu

Ia seorang, berkelana tanpa arah

mengikuti jejak dari gugur daun-daun

diterpa angin yang badai di matanya

Pada suatu senja di hari lain

ia menemukan sebuah alamat di koran

dan ingin berkunjung ke sana, menemui Kau

Tapi, apa guna rahasia yang ia bawa

bila Kau sudah tahu segala-gala

akankah Kau berpura-pura menerimanya?

Magetan, 30 Juli 2017


Sebentar

Hari demi hari

angin menyisir padang-padang

menerbangkan debu-debu

sampai padaku

Berkumpullah debu itu

pada kaca jendela rumah

yang kian mengabu

termakan waktu

Lalu kugambar wajahmu

di kaca jendela itu

kepalaku bersandar di sana

kita bertemu mata

Cerita-cerita kita bagi

tawa-tangis silih berganti

dan angin datang lagi

menerbangkanmu, membawamu pergi

Apakah kau kembali

ke padang-padang itu lagi?

Magetan, Juli 2019


Mata Beningmu

ada awan, matahari, kadang juga

bulan, bintang-bintang berkelip di sana

di matamu, mata bening itu

aku gemar sekali merangkai tatapmu

yang seringkali berganti cuaca

menjadi sajak-sajak musim

di mata beningmu,

telah hidup semesta cintaku

membentang rindu tak terukur oleh penjuru

Magetan, September 2019


Kelahiran Puisi

Malam ini, telah kulahirkan puisi

disaksikan cahaya bulan dan ribuan gugus bintang

meriah cericit burung malam menyambut

angin riuh bergemuruh, berpestalah semesta!

Silakan timang puisiku, duhai Kekasih

aku adalah ibu yang akan mengenalkannya pada keras dunia

kelak, ia adalah kata-kata paling tajam

menusuki jantung-jantung orang ngawur

agar tak semena-mena mengatur

Kekasih, atas nama-Mu

izinkan puisiku menggapai puncak citanya

dibaca dunia sebagai tanda bahwa berkata-kata memiliki hak merdeka

Magetan, Oktober 2019


Kharisma Damayanti, lahir dan besar di kaki gunung Lawu. Beberapa karyanya baik puisi maupun cerpen telah dibukukan dalam antologi bersama.

Puisi

Puisi Sengat Ibrahim

Menjadi Penyair

di hari pertama

aku menjadi penyair

aku sibuk melakukan banyak hal

yang tidak menghasilkan apa-apa.

di hari kedua,

ketiga, keempat, kelima,

sampai pada hari yang tidak lagi kuhitung

sebagai penanda bagi hari terakhirku menjadi penyair.

aku makin konsisten

melakukan banyak hal

yang tidak menghasilkan apa-apa

memang semudah itulah menjadi penyair

di negara yang tidak pernah bosan memproduksi koruptor.

2019


Pernyataan Seorang Penyair

penyair tidak pernah

menciptakan kesedihan

hanya saja, kesedihan kerap

kali mencintai banyak penyair

dengan cara berlebihan.

maka wajar kalau

suatu waktu pembaca puisi

akan mendefinisikan penyair sebagai

orang yang benar-benar ahli

dalam hal menunaikan kesedihan.

2019


Bagi Seorang Penyair

bagi seorang penyair

tidak ada tempat yang

benar-benar menyenangkan

kecuali di hati banyak orang.

2019


Doa Penyair

aku mencintaimu

dengan iman yang tuhan kasih

semoga kau terima cintaku

dengan perasaan aman yang tuhan asuh.

2019


Pengakuan Penyair

tuhan maha tahu

aku maha ragu

kau maha rindu:

pusat penyatuan

tuhan denganku.

2019


Surat Dari Penyair

tidak ada yang

berbeda dari rinduku

ia hanya memperhatikan dunia

yang melulu berhubungan denganmu.

2019


Cara Penyair Bekerja

hampir seluruh waktunya

yang berisi sempat dan sehat

dalam suasana cerah ataupun gelap.

ia gunakan hanya untuk memaksa

pikiran, memikirkan segala sesuatu yang

di mata orang lain tidak layak dipikirkan.

kemudian bersama bahasa ia membuat

ketidakmungkin menjadi mungkin, seperti

mimpi yang berhasil keluar dari dalam tidur.

2019


Sengat Ibrahim, Lahir di Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek. Bertuhan pada Bahasa, (2018) merupakan manuskrip buku puisi pertamanya. Sekarang menetap di Jogjakarta sekaligus bekerja sebagai Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub.

Puisi

Puisi Risa Fauziah

Hujan Paling Deras

Kau lupa cangkir itu kosong

Untuk apa kembali meminta

Sedang kopi yang kusuguh hilang

Menjelma langkah detik yang paling hampa.

Kau ingat air itu sulit

Sesulit memintamu berbicara

Hujan kali ini pelit

Tapi air di mataku masih terus mengalir

Tanpa diminta.

Tasikmalaya 2019


Resah

Serupa nama tanpa makna

Serupa seruan tanpa nada

Kita hendak memilih bersama

Namun jeda terlampau lama

Kian hari, kian merontaMeminta arti tak mau pergi

Ingin tinggal tapi takut tak diinginkan

Tasikmalaya 2019


Mendung Singgah

Acap kali mendung singgah

Di langit kamarku, jengah

Membekap bibir tuk bicara

Awan meluap

Tergetar petir ingatan

Tak dapat terbendung

Gelap, mencekam.

Lebat. Meruah dari atap

Beralaskan hati yang rapuh

Tasikmalaya 2019


Paling Dalam

Sedikit katamu, cobalah

Perihal ruang paling dalam

Tidaklah mudah

Bukan satu atau dua kali

Sesering itu, sampai lupa

Sukarnya membuka kembali

Untuk ia yang inginkan menetap.

Tanpa niat singgah.

Tasikmalaya 2019


Tua

Langkahnya masih teguh

Jejaknya tinggalkan bekas mendalam

Dari pagi hingga larut malam

Tanamkan asa melimpah.

Keriputnya tak kenal menyerah

Bungkuknya tak kenal lelah

Jajakan buah seadanyamenawari orang berlalu-lalang.

Wajahnya ceria tak kenal cuaca

Senyummya menyisakan kesan mendalam

Bagi ia yang datang

Membeli atau sekadar tergetar hati.

Tasikmalaya 2019


Sekian

Kau menoleh, untuk apa?

Jika temu saja enggan

Kau berlalu, sudah biasa

Lantas, apa tadi katamu?

Hahaha, aku yang terbaik?

Aku yang terakhir?

Cukup, ucapan basi itu

Muak, janji palsu itu

Sekian.

Tasikmalaya 2019


Si Kecil

Dari Tubuhmu Aku Lahir

Dari pelukmu aku tumbuh

Dari tangguhmu aku kuat

Dari kerja kerasmu aku hebat.

Si kecil dulu kini telah mendewasa

Si kecil dulu kini merasa lelahmu kala itu

Si kecil dulu kini hampir menyerah

Si kecil dulu kini butuh nasihatmu

Dari hidup yang kian keras

Dari dunia yang kian ganas

Tanpa dukungan, tanpa do’a

Sebenarnya aku masih merupa kecilku.

Tasikmalaya 2019


Rumit

Sebanyak apapun aku berpuisi tentangmuSepenuh rasa kutuang kedalamnya

Sekali pun enggan kau baca.

Serumit itu pula aku berhenti

Berhenti dari merindukanmu

Berhenti dari mengenangmu

Berhenti berharap kita kembali

Bersama.

–Tasikmalaya 2019


Arah Takdir

Detakku mengarah padamu

Jauh sebelum wajah kita beradu

Di balik jalan punggungmu

Aku sembunyi dari kemelitanku.

Tanpa dinyana takdir menemu kita

Kembali tanpa banyak kata

Bilik pesan mempersingkat jarak

Sampai di titik paling bahagiaMeramu rasa yang sama.

Tasikmalaya 2019


Usaha Bahagia

Wajah bulat, berkaca mata

Berdampingan. Senyum yang sama

Cekrek …

Potret terakhir tapi tidak cintanya

Harus memang, kakiku melangkah

Bukan maksud menjauh

Lebih dari mengejar hidup

Lebih layak, lebih dapat dipercaya

Nanti, kau bisa kuhidupi

Dengan jerih payahku sendiri.

Melihat kau setiap hari

Tersenyum lega.

Tasikmalaya 2019


Risa Fauziah, lahir di Tasikmalaya 1995

Puisi

Puisi Ruhan Wahyudi

Tarian Mata

Lorong kenangan menyibak setumpuk aksara

Menuntaskan tarian mata di puncak sukma

Sebelum kau benar-benar tiada dalam penantian

Sebelum cerita itu senyap ditelan penyesalan

Kali ini mataku seperti terkoyak sebuah percakapan

Di taman kecil yang senantiasa menyulam cinta

Setiap ranting daun patah membuat kita resah

Membuat detak jantung tak bernafas seperti biasa

Kini mataku menari-nari di atas kenangan

Sebagaimana wayang menceritakan sebuah percintaan

Di antara raja dan ratu berselaksa dalam genggaman datuk

Bersemai menuntaskan catatan yang tak usai

Gapura, 2019


Tarian Kembang

Seperti anak ranting mengecup bibir kembang

Lalu menari di atas angin berkepak sayang

Menyemerbak membungkam gelisah di dada

Di saat segala rindu menggerutu dibalik riuh

Hanya sekawanan katak senantiasa menjadi musik

Pada tarian kembang yang tak pernah tumbang

Di hatimu yang selalu menjungkal senyum

Di antara resah-gelisah bersemayam di pundak jiwa

Dan kusuguhkan sejumlah tarian bervariasi

Kepadamu yang selalu menjadi tempat kebahagiaan

Tempat menyimpan masa depan yang hampir hilang

Lalu aku mencintaimu dengan tarian kembang berselendang

Gapura, 2019


Tarian Kunang-Kunang

Sebutir cahaya itu membungkam remang

Di antara pucuk-pucuk bunga

Melukis wajahmu menari di gentayangan

Mengelana di mataku hingga terpaku

Adalah kunang-kunang meringkuk segala resah

Di samping taman Adipura

Tempat menapaki jejak cinta usang

Mengubur kenangan menyatukan masa lalu

Di sini, aku baru saja menikmati kau menari

Sebagai kidung rindu yang menyinari diri

Dan kau tampak gemulai memainkan lentera

Menyulam segala sesak bermusim di dada

Gapura, 2019


Tarian kupu-kupu

Dua kepakan sayapnya menuai pelangi

Membuatku merambati madu di kelopak bunga

Bersijingkat di atas mimbar mataku

Adalah kupu-kupu yang setia menemani sepi

Di alun-alun taman kau tampak ceria

Melepaskan bahagia dikuncup sukma

Dengan aroma kembang yang di kecup bibirmu

Sesudah kau mencuci diri pada cermin sunyi

Lalu aku mengambil setetes madu di keningmu

Untuk menyirami luka yang kian empedu

Agar semua masa lalu tumbang dalam depakan

Hatimu yang tersusun rapi dalam jiwaku

Gapura, 2019


Tarian Sunyi

Dengan cara sunyi kita bisa menumbangkan resah

Membulat di dada yang menjadi detak jantung meruah

Tarian matamu suntuk melepaskan ranting yang patah

Menghapus luka-luka bermuasal di tubuh masa lalu

Sementara semerbak bunga menawarkan aroma rahasia

Memintal sunyi dalam memilah ayat-ayat kerinduan

Di puncak penantian berdebar membungkus satu kehidupan

Di antara aku dan dirimu membangun sebuah rumah, hati

Pada pekat malam bulan membabat cahaya senyum

Sedangkan aku menikmati sunyi dengan secangkir kopi

Menikmati hembusan angin yang ramah di pintu jendela

Hingga tanpa sadar sebuah kecupan kecil menempel di kening

Gapura, 2019


Tarian Angin

Sesudah subuh daun mimpi mengecup dingin

Membelah sisa-sisa peluh di ranjang waktu

Tempat merebah diri demi menuntaskan kantuk

Tubuh yang gelisah dalam dekapan asmara

Dan pada akhirnya setetes embun mulai renta

Melepas usia di tangan matahari yang ceria

Hanya angin yang selalu setia mengabarkan rindu

Dari puncak hatimu yang membeku di tubuhku

Lalu di mana kau memanen sebiji puisi itu ?

Sementara ladangmu sudah penuh ditumbuhi ilalang

Dan bebatuan yang kerap membelit tanah sunyi

Di antara sebungkus angin yang masih perawan

Gapura, 2019


Tarian Rindu

Tak ada yang lebih sunyi

Selain menyulam rindu

Di tubuh waktu

Sambil menunggu kepastian

Dari lisanmu yang perawan

Ke mana aku harus melepas rindu”

Atau mungkin ke dalam hatimu

Yang sering membuatku gelisah

Untuk memintal seluruh sunyi

Di sini, di teras rumahku

Sebuah pigura terpampang rapi

Lukisan wajahmu berkelindan di mataku

Menabur benih rindu

Di ladang tubuhku yang rapuh

Gapura, 2019


Tarian Hati

Setiap detak jantungku yang bisu

Mataku lembab menabur benih rindu

Sedangkan hatiku ombak

Memecah kidung pelayaran

Melempar sauh meruah

Ke matamu yang tajam

Sebab kutahu cara abadi

Adalah menari dalam diri

Gapura, 2019


Tarian Jantung

Detak jantung melepaskan deru

Perisai luka menuntaskan masa lalu

Bersemayam dalam tubuhku yang rapuh

Tak ada yang lebih kencang

Selain menyulam angin perawan

Dari hembusan napasmu yang riuh

Pada lorong masa lalu

Kununtaskan sejumlah kenangan dalam hati

Agar semuanya abadi dalam diri

Tanpa merakasan sakit kembali

Di pucuk penyesalan

Melintang di dua daun yang tumbang

Gapura, 2019


Tarian Lidah

Sering kulumat kata demi kata

Yang kau muntahkan ke palung hatiku

Aku sangat mencintaimu, Tuan.”bisiknya

Hatiku ombak melepas mutiara ke lidahmu rekah

Gapura, 2019


Ruhan Wahyudi. Lahir di Gapura Tengah Gapura Sumenep Madura pada 06 Mei Aktif di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP Merupakan alumnus MA. Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur Gapura Sumenep dan MTs. Al-Huda Gapura Timur, memulai berproses menulis Puisi di bangku MA Nasy’atul Muta’allimin, dan puisinya pernah mendapat juara 3 di tingkat nasional, juga sebagai 11 nominasi pemenang lomba cipta puisi 2019 Yayasan Hari Puisi Nasional Disparbud DKI Jakarta, Puisinya juga termaktub dalam antologi bersama, Banjarbaru Festival Literary(2019), Festival sastra internasional Gunung Bintan (Segara Sakti Rantau Bertuah) (2019), Sua Raya (Malam Puisi Ponorogo; 2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019) Menenun Rinai Hujan(Sebuku.Net)dan lainnya, Puisinya juga tersebar di berbagai media cetak dan online antara lain Radar Banyuwangi, Radar Cirebon, Radar Madura, ,Radar Pagi, Tembi id. Magelang Ekspres. Tribun Bali.