Cerpen

Tiang Rumah

Cerpen Erna Surya

Ibu selalu berbicara hal-hal yang acak. Kadang ia menggumam seperti tukang ramal yang baru bangun tidur, kadang suaranya lirih seperti doa orang lapar, kadang ledakannya membuat kami semua menoleh dengan ngeri. Dari mulutnya, suatu kali keluar kalimat yang tak pernah bisa hilang dari telingaku:

“Suatu saat, tiang di rumah ini akan ambruk. Bukan karena kayunya rapuh. Tapi karena pertengkaran kalian.”

Kami semua terdiam waktu itu. Bapak mendengus, kakak perempuanku pura-pura sibuk mengaduk teh, adikku malah cekikikan seolah ibu sedang melucu. Aku sendiri hanya menatap tiang kayu jati di ruang tengah. Tinggi, kokoh, sudah berdiri lebih dari empat puluh tahun. Tiang itu dulu dibeli bapak dari hasil menabung setahun. Konon, kayu jatinya diambil dari hutan yang dikeramatkan. Kata tetua desa, kalau tiang itu roboh, bukan hanya rumah yang hancur, tapi juga keluarga.

Sejak ibu mengucapkan kalimat itu, aku selalu membayangkan tiang tersebut tumbang pelan-pelan, menghantam meja makan, menimpa tubuh salah satu dari kami. Siapa? Aku tidak tahu. Tapi aku percaya, ibu tidak sedang bercanda.

Di keluarga kami, ibu memang seperti radio rusak yang sesekali memutarkan lagu jernih. Kebanyakan kata-katanya membingungkan. Kadang ia mengoceh tentang kucing tetangga yang bisa bicara bahasa Belanda, kadang ia menyuruh kami menyiapkan piring tambahan di meja makan karena katanya “ada tamu tak kasat mata.” Tapi di antara semua keanehan itu, selalu ada satu-dua kalimat yang terasa seperti nubuat.

Contohnya, tiga tahun lalu ia berkata: “Jangan simpan uang di bawah kasur, nanti tikus datang.” Bapak menertawakan. Seminggu kemudian, benar saja, uang tabungan yang disembunyikan di bawah kasur digerogoti tikus sampai sobek tak karuan.

Atau ketika ibu berkata: “Hati-hati sama air sumur, ada yang menunggu di sana.” Besoknya, seorang tetangga ditemukan meninggal setelah tercebur ke sumur.

Kami mulai belajar, di antara ribuan kata acak yang ia keluarkan, selalu ada yang jadi kenyataan. Itu sebabnya kalimat tentang tiang rumah yang akan ambruk membuatku resah.

Keresahan itu makin jadi ketika bapak mulai sakit-sakitan. Jantungnya lemah, tensinya naik-turun. Di rumah, kami sudah mulai membicarakan warisan: sawah yang tinggal secuil, rumah dengan tiang jati itu, dan perhiasan emas ibu yang katanya dulu hadiah dari kakek.

Warisan memang seperti gula untuk semut-semut lapar. Baru disebut saja, semua sudah saling menatap penuh curiga.

Kakakku, Sari, dengan terang-terangan bilang rumah ini harus jadi miliknya karena ia anak sulung. Adikku, Jono, bilang sawah itu haknya karena dia yang mau bertani, sementara aku—yang kebetulan kerja sebagai guru di kota—dituduh sudah punya penghasilan sendiri sehingga tak boleh kebagian apa-apa.

Aku tersenyum getir. Bukankah rumah ini juga tempat aku lahir? Bukankah tiang jati itu juga saksi bagaimana aku belajar merangkak, jatuh, berdiri lagi?

Tapi aku tidak berkata apa-apa.

Ibu hanya duduk di kursi rotan, rambutnya berantakan, sambil bergumam: Tiang itu. tiang itu.”

Malam itu, aku bermimpi buruk. Aku melihat tiang rumah kami benar-benar roboh. Bukan karena rayap, bukan karena angin, tapi karena tangan-tangan kami sendiri yang mendorongnya sambil berteriak soal warisan.

Aku terbangun dengan keringat dingin. Dari ruang tengah, terdengar suara ibu masih bergumam. Suaranya pelan, tapi jelas:

Tiang itu akan memilih, siapa yang harus dikorbankan.”

Pagi berikutnya, bapak jatuh pingsan saat hendak berangkat ke mushola. Rumah jadi riuh. Kami berlari ke sana kemari mencari bantuan. Ambulans datang terlambat, seperti biasa. Di rumah sakit, dokter berkata kondisi bapak kritis. “Jantungnya sudah lemah. Siapkan mental,” katanya dingin.

Berita itu seperti bel berbunyi: saatnya warisan dibicarakan serius.

“Kalau bapak nggak ada, rumah ini jelas jadi hakku,” kata Sari dengan suara bergetar, tapi matanya penuh bara. “Enak saja! Rumah bisa dijual, uangnya dibagi tiga. Aku butuh modal buat buka toko pupuk,” bantah Jono. Aku hanya duduk di ruang tunggu, memijit pelipis. Di antara isak tangis dan doa, aroma rebutan harta tercium lebih pekat dari bau obat-obatan rumah sakit.

Ibu tiba-tiba berteriak. “Tiang itu akan roboh! Kalian dengar? Tiang itu!”

Orang-orang di ruang tunggu menoleh. Sari buru-buru memeluk ibu, seolah ingin menutup mulutnya. Tapi aku tahu, kata-kata itu menggema di kepala kami semua.

Bapak meninggal tiga hari kemudian. Jenazahnya disemayamkan di ruang tengah, tepat di bawah tiang jati itu. Aku memandang tiang itu lama sekali. Seperti ada sesuatu yang berdenyut dari dalam kayunya.

Di sela doa, aku mendengar bisik-bisik Sari dan Jono. Tentang sertifikat rumah, tentang surat tanah, tentang emas ibu.

Ibu duduk di samping jenazah bapak, sesekali tertawa kecil, lalu tiba-tiba menangis. “Tiang itu akan roboh. Satu demi satu akan tertimpa. Tidak ada yang selamat,” katanya lirih.

Orang-orang menyebut ibu sudah tidak waras karena ditinggal bapak. Tapi aku merasa justru ia sedang paling waras di antara kami semua.

Setelah tujuh hari bapak dikuburkan, pertengkaran pecah. Di ruang tengah, di bawah tiang itu, kami bertiga saling berteriak.

Sari menuntut rumah. Jono menuntut sawah. Aku menuntut keadilan. Suara kami saling tindih seperti ayam jantan adu tarung.

Ibu menatap dari kursi rotan. Wajahnya pucat, matanya kosong.

“Kalau kalian rebutan, biar aku saja yang robohkan tiang itu,” katanya tiba-tiba.

Kami menoleh bersamaan. Ibu bangkit, berjalan gontai, lalu memeluk tiang jati itu. Tangannya meraba permukaan kayu seperti meraba tubuh orang yang sangat ia cintai. “Tiang ini sudah mendengar semua rahasia kita. Ia lebih tahu siapa yang berhak atas rumah ini daripada kalian.”

Jono menertawakan. “Bu, tiang itu cuma kayu. Bukan hakim.”
Sari menggeleng. “Sudah, jangan layani omong kosongnya.”

Aku tetap diam. Tapi entah kenapa, kata-kata ibu membuat punggungku merinding.

Hari-hari berikutnya, pertengkaran makin panas. Sari diam-diam mengurus akta tanah. Jono mulai menjual padi hasil panen tanpa sepengetahuan kami. Aku hanya menatap mereka dengan getir, lalu pulang ke kota dengan kepala pening.

Suatu malam, telepon berdering. Sari histeris di seberang. “Ibu jatuh! Dari kursi rotan! Kepalanya berdarah!”

Aku buru-buru pulang. Rumah ramai oleh tetangga. Di ruang tengah, kulihat ibu terbaring di lantai, tepat di bawah tiang jati.

“Dia tadi bicara sendiri, lalu tiba-tiba roboh,” kata salah satu tetangga.

Aku melihat wajah ibu pucat, bibirnya bergerak-gerak. Aku mendekat. Dengan napas tersengal, ia berbisik: Tiang itu sudah memilih. Tinggal menunggu waktu.”

Ibu selamat. Luka di kepalanya dijahit. Tapi sejak itu ia hanya bisa berbaring di kamar. Suaranya makin acak, tapi selalu kembali ke satu hal: tiang yang akan roboh.

Sementara itu, pertengkaran warisan berubah jadi peperangan. Sari menggembok lemari yang berisi emas ibu. Jono mengancam akan melaporkan Sari ke polisi karena memalsukan tanda tangan bapak. Aku, yang tadinya berusaha netral, akhirnya terseret juga. Aku menuduh mereka serakah, mereka menuduhku munafik.

Rumah itu tidak lagi rumah. Ia seperti gelanggang sabung ayam.

Dan di tengah gelanggang itu, tiang jati berdiri tegak, seolah menunggu saatnya tumbang.

Puncaknya terjadi malam itu.

Aku baru saja tiba dari kota ketika kudengar teriakan. Di ruang tengah, Sari dan Jono berkelahi. Mereka saling tarik rambut, saling dorong. Di meja makan, emas ibu berserakan.

“Aku yang berhak!” teriak Sari. “Emas ini hasil sawah, sawah itu hakku!” balas Jono.

Aku mencoba melerai. Tapi tiba-tiba tubuhku ikut terseret. Kami bertiga bergulat, saling dorong, saling teriak.

Dan entah bagaimana, tubuh kami menghantam tiang jati itu.

Suara retak terdengar. Pelan. Seperti tulang yang patah.

Kami semua terdiam. Tiang itu bergoyang.

“Ibu benar,” bisikku.

Tiang itu benar-benar roboh.

Aku tak pernah bisa melupakan suara kayu jati berderak, lalu tumbang menghantam lantai. Debunya mengepul, lampu gantung berayun, dan suara jeritan bercampur jadi satu.

Sari terjepit. Jono terlempar. Aku sendiri tertatih dengan bahu memar.

Tetangga berdatangan. Mereka menolong, mengangkat tiang, menarik tubuh Sari yang pingsan. Jono berteriak histeris. Aku terduduk, menatap reruntuhan.

Dari kamar, suara ibu terdengar jelas untuk pertama kalinya tanpa acak:
Aku sudah bilang. Tiang itu bukan roboh karena rapuh. Tapi karena kalian.”

Sejak malam itu, rumah benar-benar hancur. Bukan hanya karena tiang roboh, tapi karena keluarga kami pecah. Sari menuntut Jono di pengadilan. Jono menuduh aku yang merobohkan tiang. Aku menuduh mereka berdua penyebab semua ini.

Ibu akhirnya meninggal dua bulan kemudian. Di pemakamannya, hanya ada sedikit pelayat. Orang-orang sudah muak dengan pertengkaran kami.

Dan aku, setiap kali menatap tanah kubur ibu, selalu mendengar bisikannya: Tiang itu sudah memilih.

Kini rumah itu tinggal puing. Sawah sudah dijual. Emas entah di mana. Kami bertiga tak pernah lagi bertemu.

Tapi aku masih sering memimpikan tiang jati itu. Berdiri tegak. Menatapku. Menunggu aku mengaku siapa sebenarnya yang paling serakah di antara kami.

Dan aku selalu terbangun dengan perasaan ngeri: mungkin tiang itu belum benar-benar roboh. Mungkin ia hanya pindah ke dalam tubuh kami masing-masing. Menunggu saatnya kembali ambruk, sekali lagi, untuk menelan habis sisa-sisa keluarga.

___________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.

Cerpen

Delapan

Cerpen Septi Rusdiyana

Sora membolak-balik dua lembar bacon dan dua sosis ayam berukuran besar. Satu telur mata sapi setengah matang sudah lebih dulu mengisi piring. Sora suka telur mata sapi. Sebenarnya ia selalu ingin membuat dua. Tapi dua telur mata sapi jika disejajarkan akan membentuk angka delapan. Sora benci angka delapan. Dari dulu. Sejak kecil. Sejak malam saat ia melihat jam dinding panti asuhan menunjuk angka delapan. Di kamar sempit berisi delapan anak lain, pada delapan belas Agustus dua belas tahun lalu, saat usia Sora hampir delapan tahun. Betapa mudah Tuhan mengatur semesta beserta isinya hingga saling berkaitan. Sebuah kebetulan yang menakjubkan, bukan?

Sayangnya, bagi Sora, delapan bukan sekadar angka, melainkan kode. Kode yang tak terpecahkan. Bukan, bukan. Bukan tak terpecahkan, tapi memang tak mau dipecahkan. Di satu sisi Sora ingin menyerah. Lalu di sisi hatinya yang lain, Sora merasa familier dengan keadaan itu. Seperti teman lama tiba-tiba hadir membawa cerita yang tak selesai. Sora lelah. Ia sempat ingin malaikat maut menjemputnya. Tapi saat Sora mimpi seseorang mencekiknya hingga ia hampir kehabisan napas, ia justru bersyukur saat delapan detik berikutnya ia berhasil terbangun. Sejak itu, Sora tidak mau mencampuri hak prerogatif Tuhan perihal hidupnya.

Kembali pada Sora yang sedang membuat sarapan. Di rumah kontrakan Sora tidak ada kalender. Tapi ia tahu hari ini Jumat, tanggal delapan belas. Sora beruntung perusahaan tempatnya kerja mau berkompromi dengannya—mendapat hak libur pada tanggal yang mengandung angka delapan. Tentu saja ada konsekuensi—jika tidak jatuh di tanggal merah, maka Sora wajib masuk kerja di hari Minggu. Hal itu bukan masalah bagi Sora. Setiap tanggal delapan, delapan belas dan dua puluh delapan, Sora hanya akan di rumah saja. Tidak menonton televisi, apalagi bermain gadget. Sora menggambar, atau melukis, atau sekadar membaca buku dengan halaman-halaman yang tidak lagi utuh. Entah apa yang bisa Sora nikmati dari cerita yang banyak memiliki bagian hilang itu.

Sarapannya telah siap. Sora mengambil segelas jus jeruk dari kulkas. Meja makannya menghadap jendela. Dari tempat Sora duduk, ia bisa melihat barisan driver ojek online di depan ruko yang masih tutup, juga anjing kampung liar warna cokelat yang sering banyak orang panggil Odol, entah atas dasar alasan apa. Sora menikmati semua pemandangan itu. Ia bisa sangat lama menghabiskan sarapannya.

Sora suka warna merah. Meski begitu, ia tidak pernah menghitung jumlah mobil atau sepeda motor warna merah yang melintas di depannya. Tentu saja karena Sora tak suka angka delapan. Menurutnya, hitungan haruslah urut. Tak boleh meleset, apalagi melompat tak berurutan. Karena itu pula, menghitung adalah tabu baginya.

Sora menyantap sarapan sembari  menatap kosong ke arah jalanan. Sesekali mungkin tersenyum. Seperti kali itu, ada seorang anak kecil tertawa tanpa henti saat dipanggul ayahnya. Di sebelahnya, seorang wanita gemuk kesulitan mengambil uang receh yang mungkin tidak sengaja terjatuh. Pemandangan itu membuat Sora ingat dengan ayah dan ibunya. Kalau saja waktu boleh diputar, ia ingin kembali ke masa itu. Masa di mana Sora memaksa kedua orang tuanya untuk mengantar latihan silat di hari yang hujan.

Tiba-tiba suara klakson panjang melengking sesaat sebelum terdengar benturan. Kecelakaan tak terhindarkan. Dua orang terkapar di jalan. Orang-orang mulai berkerumun. Jantung Sora berpacu kencang. Ia tidak bernafsu menghabiskan sarapannya. Sora lari ke kamar. Meraih guling dan memeluknya. Erat sekali. Sama eratnya saat dulu Sora juga berada di pinggir jalan, memeluk tubuh ayahnya yang sudah kaku berlumur darah. Ibunya terpental agak jauh. Tidak ada darah, tapi ibunya meringkuk tak bergerak.

Sora ingat, saat itu kakinya mati rasa. Seseorang meraih dan menggendongnya menuju rumah penduduk. Banyak perempuan-perempuan iba. Mereka bilang Sora bocah malang. Saat itu Sora tahu jika kedua orangtuanya tidak sedang baik-baik saja. Saat Sora turut masuk di ambulans menuju rumah sakit, ia menyaksikan saat petugas medis berusaha menangkap detak jantung yang mencolot dari tubuh ayah ibunya. Perempuan-perempuan di rumah penduduk yang mengerubungi Sora sebelumnya sepertinya salah memahami. Sora tidak menangis. Bahkan saat pemakaman kedua orangtuanya. Bahkan saat tantenya membawanya ke panti asuhan. Bahkan saat teman satu kamar di panti mengatai Sora gadis buruk rupa—bekas luka akibat kecelakaan meninggalkan luka parut di pipinya.

Di bagian itu Sora ingin menarik mundur waktu. Sora harap ia mati bersama ayah ibunya saja. Kematian bukan hal buruk, meski juga bukan menjadi sebuah pilihan. Kalau saja Sora mati saat kecelakaan itu, ia tak perlu menjadi yatim piatu yang dibawa tantenya ke panti asuhan, lalu menyebabkan kepala teman sekamarnya bocor akibat Sora pukul dengan tumbler miliknya. Ketua panti marah, dan menyeretnya ke gudang bawah tanah untuk menerima hukuman. Hukuman yang menurut Sora lebih biadab dari penjara. Di dalam ruangan sempit dan pengap, Sora dipaksa melayani hasrat menyimpang sang ketua panti. Sora mungkin ketakutan, tapi lagi-lagi, ia tak menangis.

Sora kini tertidur. Mungkin ingatan-ingatan itu membuatnya lelah. Dalam lelap, ia bermimpi. Seorang lelaki bermata biru menghampiri Sora saat ia sedang melukis. Ada sepotong keju di tangan kiri, lalu sebilah pisau di sebelah tangannya yang lain.

“Siapa yang akan menghabisi siapa itu tidak penting. Tapi kamu akan menyesal karena kematianmu datang bukan di masa depan,” kata lelaki bermata biru itu.

Sora terkejut. Dipandangnya punggung lelaki bermata biru yang berjalan menjauh. Dadanya sakit. Peluh mulai membasahi tengkuk. Sora terisak saat melihat air pantai di lukisannya mengeluarkan darah. Sora bangun dari tidur dengan terbatuk-batuk. Ponselnya berdering. Sora bangkit dari tempat tidurnya. Menuju kulkas dan meneguk air dingin. Hari sudah gelap. Sora mengambil ponsel di atas meja. Noe. Panggilan dari teman kantornya. Sora kembali pusing. Tubuhnya lemas. Sehari sebelumnya Sora mengetahui satu kenyataan—saat ia sedang mengambil dokumen pegawai di ruang HRD—tanpa sengaja Sora melihat data Noe, lelaki yang sedang mendekatinya itu, rupanya lahir di tanggal dua puluh delapan.

Sora menatap layar ponsel yang terus saja berdering. Ia ingat lelaki bermata biru di mimpinya. Sora kini mengerti apa maksud kalimat yang diucapkan lelaki itu. Sora melihat jam di ponselnya. Pukul delapan lewat delapan belas malam. Mendadak matanya penuh siluet angka delapan. Merembet di kepalanya. Di pikirannya. Bahkan, kini hampir semua ruang di rumah kontrakannya penuh dengan angka delapan. Angka-angka itu tertawa. Mereka juga menangis. Sora sesekali tertawa, lalu menangis. Begitu seterusnya. Berulang-ulang, hingga dini hari.

Sora mengingat dalam tawa, lalu melupa dalam tangis. Ia benci angka delapan. Tapi mendadak ia ingin sekali menghitung domba yang lewat di atas kepalanya. Sora benar-benar menghitung. Tepat di angka tujuh, Sora tertidur. Dan  paginya, Sora kembali berangkat kerja tanpa menyisakan luka. Mungkin karena lupa, atau sebenarnya hanya pura-pura lupa.***

___________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.

Cerpen

Bunga Kertas di Atas Rel

Cerpen Erna Surya

Jangan buka peta Delanggu hari ini. Bukalah peta Delanggu tahun 1925, ketika udara masih diselimuti bau tanah basah, dan sinar matahari menimpa rel-rel kereta seperti bilah pisau mengiris air. Waktu itu Delanggu belum seramai kini. Di ujung jalan tanah yang berdebu, berdirilah sebuah stasiun kecil beratap seng, dua jalur besi menghubungkan Solo dan Yogyakarta. Suara peluit kereta bukan sekadar tanda keberangkatan, melainkan doa pagi dan ratapan sore. Di sebelah barat, berdiri pabrik karung goni: bangunan besar dengan cerobong hitam yang memuntahkan asap ke langit, seperti perpanjangan dada orang-orang yang tak sempat menangis.

Para perempuan pribumi datang setiap pagi dengan kain kebaya basah peluh, membawa tubuh yang belum sempat menua tapi sudah letih. Dari fajar hingga senja, tangan mereka menenun serat-serat goni menjadi karung yang akan membawa biji kopi dan gula ke kapal-kapal di Batavia. Mereka jarang bicara. Di pabrik itu, suara mesin lebih keras daripada suara manusia.

Selasa, 4 Agustus 1925.

Kereta dari Batavia berhenti di Stasiun Delanggu pukul tiga sore. Dari gerbong kelas satu turun seorang lelaki Belanda bertopi jerami, membawa koper kulit hitam dan selembar surat tugas dari pemerintah Hindia Belanda. Namanya Johan van Dijk, insinyur muda lulusan Delft, dikirim untuk mengawasi pembangunan gudang baru di pabrik karung goni Delanggu.

Usianya tiga puluh dua, rambutnya pirang pucat, kulitnya seputih abu cerutu yang tertiup angin sore. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam seperti penggaris baja — mata yang terbiasa menghitung jarak dan ketepatan. Ia percaya hidup bisa diatur seperti skema mesin: rapi, pasti, tanpa gangguan perasaan. Namun satu hal yang tak bisa ia ukur adalah mata seorang perempuan yang menatapnya sore itu.

Perempuan itu berdiri di peron, kebaya hijau tua membungkus tubuhnya yang mungil. Di tangannya ada bakul berisi pisang rebus, di bibirnya ada senyum yang tidak dipelajari dari siapa pun. Sarinah, namanya. Ia bukan gadis yang mencolok. Kulitnya sawo matang, rambutnya disanggul seadanya. Tapi ada sesuatu pada caranya berdiri, cara ia menunduk setengah malu, seolah tahu bahwa dunia sedang menatapnya tapi ia tak tahu harus ke mana menghindar. Johan menatapnya sebentar, cukup lama untuk menanam duri kecil di hatinya.

Goedemiddag,” sapanya. Sarinah tak menjawab. Ia hanya menunduk, tersenyum sekilas, lalu berlalu dengan langkah yang nyaris tanpa suara.

***

Sejak sore itu, Johan selalu berhenti di stasiun setiap sepulang dari pabrik. Ia berpura-pura menunggu kereta yang tidak pernah ia tumpangi. Ia berdiri di bawah atap seng yang panas, menyalakan rokok, dan menunggu gadis dengan bakul pisang itu lewat. Kadang Sarinah menatapnya sekilas, kadang tidak. Tapi setiap pertemuan meninggalkan sesuatu di udara — seperti aroma kayu manis yang tertinggal lama setelah bara padam.

Di pabrik, Johan menjadi pengawas baru yang berbeda dari insinyur-insinyur Belanda sebelumnya. Ia tidak berteriak. Ia menatap pekerja pribumi seperti manusia yang berpikir. Para buruh heran; lelaki asing itu jarang marah, bahkan sesekali ikut membantu menarik gulungan serat yang macet.

Een vreemde meneer,” bisik salah satu mandor, “orang Belanda aneh yang tak suka memerintah.”

Suatu sore, Johan melihat Sarinah di halaman belakang pabrik. Ia sedang mencuci tangan di ember air berwarna cokelat muda. Johan mendekat, dengan bahasa Melayu patah-patah.

“Kau kerja di pabrik ini?”

“Iya, Tuan,” jawab Sarinah, menunduk.

“Bagian apa?”

“Penggilingan.”

“Kau tahu…” — Johan menatap air cucian yang beriak — “matamu seperti air sumur. Dalam dan tak bisa kuukur.”

Sarinah tak mengerti seluruh kata, tapi nada suaranya membuat dada bergetar. Ia tersenyum. Johan ikut tersenyum, kikuk, seperti bocah yang baru belajar arti kebingungan. Hari-hari berikutnya mereka mulai berbicara. Sedikit-sedikit. Johan belajar kata-kata Jawa sederhana.

“Mangan, ngantuk, tresna.”

Sarinah terkekeh setiap kali Johan salah ucap. “Bukan tresno, tapi tresna, Tuan,” katanya pelan.

“Ah, ja… tresna,” ulang Johan dengan logat Belanda yang berat.
Suara mereka tenggelam di antara dengung mesin dan bau serat goni yang dibasahi air garam.

***

Cinta, di negeri jajahan, selalu punya aroma yang rumit. Ada getar yang lembut, tapi juga rasa bersalah yang samar. Johan tahu: menyukai perempuan pribumi bisa menjadi aib bagi sesama kulit putih. Tapi setiap kali ia melihat Sarinah tertawa, dunia seolah mengecil menjadi halaman pabrik itu saja. Segala yang ia pelajari di Delft — tentang logika, efisiensi, ras — hilang dalam cara Sarinah menatapnya.

Suatu sore, Johan memberanikan diri duduk di peron bersama Sarinah. “Je naam is mooi. Sarinah. Klinkt zacht,” katanya.

Sarinah mengerjap. “Apa artinya, Tuan?”

“Namamu indah. Lembut.” Sarinah tertawa kecil. “Nama saya biasa saja. Wong cilik, Tuan.” Johan memandangi rel yang memanjang ke arah timur. “Rel ini seperti hidup, ya? Lurus, tapi selalu membawa kita ke tempat yang tak kita pilih.”

Sarinah menatap wajahnya. “Tuan seperti kereta,” katanya lirih. “Datang dan pergi. Tapi saya tetap di sini.”

Kata-kata itu menancap dalam. Johan tak menjawab. Ia hanya memegang topinya erat-erat, menahan sesuatu yang tidak berani ia beri nama.

***

Minggu-minggu berikutnya, Delanggu menjadi kecil di mata Johan. Ia mengenal pasar dengan bau tembakau dan jagung bakar. Ia belajar menyapa anak-anak yang berlarian di sawah: “Sugeng enjing!” dan mereka tertawa, menirukan lidahnya yang kaku. Malam-malamnya ia habiskan di rumah sewaan dekat pabrik, menulis catatan tentang proyek gudang yang tak pernah selesai. Tapi di antara angka-angka itu, ada nama yang selalu ia tulis tanpa sadar: Sarinah.

Di rumahnya yang berdinding papan, Sarinah juga sering memikirkan lelaki asing itu. Ia tahu Johan berbeda — cara bicaranya, cara matanya tak merendahkan. Tapi ia juga tahu, perbedaan mereka lebih besar daripada samudra. Ibunya pernah berkata, “Nduk, ojo melu wong Londo. Wong Londo kuwi ora duwe rasa kasihan.” Namun Sarinah melihat sesuatu yang lain. Johan tidak seperti tuan-tuan Belanda yang suka berteriak. Johan menunduk ketika berbicara dengannya. Dan malam-malam, di kamarnya yang sempit, Sarinah menatap langit-langit dan berbisik pada dirinya sendiri: opo tresna kuwi salah yen mung kaya swara sepur sing liwat, ora tau mandeg?

***

Tapi cinta di bawah bayang kolonialisme tak pernah punya masa depan yang jernih.
Pabrik karung goni mulai merugi. Mesin-mesin tua berkarat, buruh-buruh sering sakit. De Vreede — pemilik pabrik yang kasar dan congkak — menuduh pekerja pribumi malas.
Suatu malam, terjadi kebakaran kecil di gudang serat. Asap mengepul ke langit, membungkus bulan seperti kain kabung. De Vreede berteriak, menuduh pekerja pribumi sengaja membakar pabrik. Johan menolak.

Het komt van de oude machine, niet van opstand!” seru Johan.
De Vreede mendengus. “Van Dijk, je bent te zacht! Orang pribumi itu tak tahu berterima kasih. Mereka seperti karung goni — kuat tapi bodoh.”

Johan menggenggam surat tugasnya. “Ze zijn niet dom. Ze zijn moe,” katanya pelan — mereka bukan bodoh, mereka hanya lelah.
De Vreede menatapnya tajam. “Hati-hati, Van Dijk. Siapa berpihak pada mereka, akan kehilangan tempat di negeri ini.”

Malam itu Johan tidak tidur. Di meja kecilnya, ia menulis surat pengunduran diri. Tinta hitam menetes seperti darah yang enggan berhenti. Ia tahu, besok ia akan kembali ke Batavia.

***

Sebelum pergi, ia berjalan ke rumah Sarinah di pinggir sawah. Bulan separuh menggantung di langit. Suara jangkrik terdengar seperti napas panjang bumi. Sarinah membuka pintu dengan wajah yang sudah tahu kabar buruk.

“Tuan akan pergi?”

“Ya,” suara Johan nyaris bisikan. “Mereka tak suka aku di sini.” Sarinah menunduk.

“Ini untukmu.” Johan menyerahkan selembar kain sutra biru. “Beli di Solo. Aku tak tahu mengapa kupilih warna ini. Mungkin karena mirip matamu.”
Sarinah memegangnya lama. “Tuan,” katanya, “sepur bakal lunga, ning rel tetep ana.”
Johan terdiam. Ia ingin memeluk, tapi dunia tidak memberi izin.

***

Keesokan sore mereka bertemu di peron. Kereta belum datang, tapi peluitnya sudah terdengar dari arah timur. Angin sore berbau debu dan besi panas. Sarinah menggenggam tangan Johan. Tangannya kecil, dingin, tapi kuat.

“Kalau Tuan kembali, lihatlah ke arah rel,” katanya. “Kalau ada bunga kertas di atasnya, itu tandanya saya masih di sini.”

Johan menatap wajahnya lama. “Ik zal kijken,” katanya pelan. “Aku akan melihat.”
Kereta datang, membawa suara berat yang memotong udara. Johan naik tanpa menoleh lagi. Sarinah berdiri diam, seperti patung dari air yang tak sempat membeku. Ketika kereta menghilang di tikungan, ia menunduk, menatap tanah. Di tangannya, kain sutra biru itu terasa dingin seperti janji yang tak akan ditepati.

***

Delanggu kembali sunyi. Pabrik goni berjalan dengan mesin-mesin setengah rusak. Upah buruh semakin kecil. Sarinah tetap bekerja — tubuhnya makin kurus, tapi matanya tetap memegang sesuatu yang Johan tinggalkan: keberanian untuk menatap hidup, walau dunia tak berpihak. Ia tak tahu apakah Johan benar sampai ke Batavia. Ia hanya tahu, setiap kali peluit kereta terdengar, dadanya bergetar, seperti mengenali suara yang pernah ia cintai.

Tahun berganti. 1928. Orang-orang mulai bicara tentang “pergerakan.” Tentang bangsa, tentang kemerdekaan, tentang harga diri. Tapi di sudut-sudut seperti Delanggu, yang berubah hanyalah warna debu. Sarinah tetap menjual pisang rebus di peron, menunggu kereta datang dan pergi. Di suatu sore, ia menaruh setangkai bunga kertas merah muda di atas rel. Bukan untuk siapa-siapa. Hanya untuk mengingat dirinya sendiri.

***

Tiga tahun setelah kepergian Johan, seorang laki-laki berjas lusuh turun dari kereta di Delanggu. Rambutnya sudah beruban di sisi, matanya redup tapi tajam. Johan van Dijk kembali ke Jawa sebagai konsultan teknik jalur kereta. Ia bilang pada rekannya di Surabaya, kunjungannya hanya inspeksi rutin. Tapi sebenarnya, ia datang karena mimpi yang berulang: mimpi tentang seorang gadis berkebaya hijau berdiri di peron, menatapnya tanpa suara.

Stasiun Delanggu tampak sama, hanya cat dindingnya lebih pudar. Di kejauhan, bekas pabrik goni masih berdiri dengan jendela-jendela bolong. Angin membawa bau lembap dan serat tua. Johan berjalan pelan ke arah peron. Di bawah atap seng itu, waktu seakan berhenti. Ia berdiri di tempat Sarinah dulu menjajakan pisang. Tak ada siapa-siapa.
Hanya rel yang berkarat dan setangkai bunga kertas yang tumbuh liar di sela besi.

Ia menatapnya lama.

Ben je hier, Sarinah?” bisiknya.

Angin lewat. Tidak menjawab. Ia duduk di bangku kayu tua, membuka topi, dan memandangi langit yang separuh mendung. Dalam hati ia tahu: beberapa cinta memang tidak perlu akhir. Cukup menjadi jalan yang selalu membawa seseorang kembali, meski tak ada siapa pun yang menunggu di ujungnya.

Kereta dari Solo terdengar mendekat. Johan berdiri, menatap rel yang membujur lurus, seperti garis waktu yang tak bisa ia ubah. Di tanah dekat kakinya, ada serpihan kain berwarna biru — entah dari mana datangnya. Ia tersenyum kecil. Lalu melangkah masuk ke gerbong, tanpa menoleh lagi.

Kereta melaju, meninggalkan Delanggu dengan debu, bunga kertas, dan satu nama yang terus bergema di hatinya: Sarinah.

Dan bila ada yang datang ke Delanggu hari ini, mungkin mereka hanya akan melihat stasiun kecil yang sepi, rel berkarat, dan gerimis yang turun seperti rahasia. Tak ada nyanyian, tak ada arwah. Hanya waktu yang berjalan pelan, menyimpan jejak dua manusia yang pernah berpapasan di tengah sejarah — lalu diam, selamanya.

___________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Cerpen

Pengelanaan Terakhir

Cerpen Septi Rusdiyana

“Sudah kubilang aku bukan malaikat penyelamat,” kata lelaki itu, sesaat sebelum aku benar-benar mendorongnya dari tebing.

***

Aku berdiri mematung di dekat mobil hitam yang nyaris masuk jurang. Menyaksikan tubuh kaku di balik kemudi tanpa bisa melakukan apa-apa. Seingatku, tadi aku hanya banting setir saat berusaha menghindari macan, atau singa, atau rusa, atau sebenarnya sekadar kabut. Aku tidak tahu pasti. Aku tidak benar-benar ingat apa yang ada di pikiranku kala itu. Satu hal yang membuatku heran, kesalahan yang menyebabkan kecelakaan kecil itu rupanya bisa berakhir mengenaskan.

“Kamu sangat sial. Bencana menimpamu di tempat sunyi. Jangankan pengendara lain, nyamuk saja enggan lewat sini,” kata seseorang yang mendadak muncul di sebelahku. Entah dia datang dari mana. Hanya saja, aroma tubuhnya terasa familier. Paduan antara daun bidara dengan kemiri sangrai. Aku ingat aroma itu.

Aku memperhatikan dirinya seperti sedang meneliti lembu yang hendak kujadikan binatang tunggangan. Sayang, jubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya itu—menyisakan wajah dan kedua telapak tangan—membuatku harus sedikit bekerja keras menelisik.

“Aku malaikat penjagamu,” jelas lelaki itu, seolah tahu apa yang selama beberapa detik menggangguku. “Kita sudah bersama sepanjang hidupmu,” lanjutnya lagi.

“Sial. Apa aku sudah mati?” gumamku.

Lelaki itu tertawa. “Kalau sudah mati, tentu aku tidak perlu lagi menjagamu. Dasar bodoh!”

Aku mulai kesal dengan lelaki itu. Kupikir dialah yang sebenarnya bodoh. Kalau benar seorang malaikat penjaga, seharusnya dia menolongku. Bukan malah ikut-ikutan berdiri di sini tanpa berbuat apa-apa.

“Suara hatimu selalu berisik. Dari dulu. Itu menjengkelkan. Sayangnya aku harus terus patuh pada tugasku,” sahut lelaki itu.

Hening. Seolah angin berhenti berembus. Dan aku masih saja menunggu. Berharap lelaki itu meneruskan penjelasannya. Aku kembali menatap pada sosok perempuan di balik kemudi yang darah di kepalanya terus saja membasahi rambut.

“Kamu belum benar-benar mati. Mungkin pingsan. Atau sekarat. Sudah kubilang aku cuma malaikat penjaga. Tugasku hanya menemani jiwamu,” lanjutnya panjang.

Sepertinya aku mulai mengerti. Jika begitu, aku hanyalah roh yang kini bergentayangan menunggu waktu sebelum mati. Sekelebat aku teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu, sebelum akhirnya aku terdampar di tempat ini.

Aku berada di vila tepi pantai bersama sahabat-sahabatku. Bian sengaja menyewanya untuk melewati hari ulang tahunku. Tidak ada kue ulang tahun. Tidak juga ritual tiup lilin dan make a wish. Kami hanya duduk, makan, bercerita, tertawa, lalu waktu tanpa kami sadari berganti hari begitu saja. Sesederhana itu. Dan aku sangat menikmati.

“Sebaiknya kamu menemuinya,” ucap lelaki itu dengan nada yang begitu halus. Saking halusnya justru membuatku heran. Ada sesuatu mengalir deras di ulu hatiku. Perasaan yang menggangguku sejak Gaga, abangku, mengirim pesan jika mama masuk rumah sakit karena serangan jantung.

Sejak itu aku gelisah. Entah. Padahal sebelumnya aku tidak pernah peduli pada mama. Bahkan aku ingat, dulu, di depan teman-temanku, sambil menangis, aku pernah bilang bahwa, “Mama itu monster. Kalaupun mama mati, aku tidak akan pernah menangis.”

“Kamu ini, di saat-saat begini masih saja terlalu lama berpikir.” Lelaki itu menggenggam tanganku. Aku merasa bak tersengat listrik. Dalam sekejap, aku seperti berada di pusaran angin. Bergerak tak beraturan. Kadang melayang. Sesekali berputar. Lalu kembali tegak seolah tubuh dan angin sudah berdamai usai berkelahi. Di saat itulah, aku seolah sedang melakukan sebuah perjalanan.

Di hadapanku, tampak hamparan awan putih yang bisa berubah-ubah bentuk. Aku melihat awan membentuk sosok perempuan menggendong seorang bayi. Tak lama terdengar langgam Jawa yang membuatku turut merasakan kantuk luar biasa. Ketika aku hampir terlelap, lelaki itu menarik tanganku. Aku pun kembali terjaga.

Awan berubah pekat. Gumpalan awan kini memperlihatkan seorang pria dewasa bermain layangan bersama bocah lelaki. Sedang bocah perempuan tampak berlarian mengitari keduanya. Suara riang berubah menjadi jerit tangis usai bocah perempuan itu terjatuh. Pria dewasa meraihnya dalam pelukan, lalu ketiganya mulai menghilang.

Aku merasa tak asing dengan pemandangan itu. Rasanya kembali pada kenangan. Saat aku masih menikmatinya, mendadak tubuhku terguncang hebat. Aku seperti meluncur bebas dari ketinggian. Aku ingin berteriak, tapi suaraku tercekat. Dan saat tubuhku mulai terkendali, aku sudah berada di sebuah ruang di rumah sakit tempat mama dirawat.

Gaga sedang tidur pulas di sofa, tak jauh dari ranjang mama. Ada beberapa selang dan alat medis terpasang di tubuh mama. Sunyi. Hanya suara mesin seirama detak jantung mama yang mengisi ruangan. Aku mendekat ke ranjang. Aku ingin melihat mama lebih dekat.

“Akhirnya kamu datang, Nak,” ucap mama. Siluet bayangan mama perlahan terlihat. Ia duduk di ranjangnya. Dan aku juga bisa melihat tubuh mama yang tak berdaya tetap terlelap.

“Tadi sore mama sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Gaga mama suruh menghubungimu. Tapi…,” kalimat mama terjeda. Siluet wajah mama tampak sendu.

Tanpa mama teruskan bicara, sebenarnya aku sudah tahu. Sekuat apa pun usaha mama membuatku tetap tinggal di hari ulang tahunku, aku tidak pernah mau. Sudah lama aku membenci hari itu, tepatnya sejak kelas 5 SD.

Aku ingat. Saat itu aku pulang dengan seragam, sepatu, tas dan rambut yang penuh dengan air comberan, telur, juga tepung. Meski tubuhku lengket dan bau, perasaanku begitu senang luar biasa. Hingga bentakan mama membuatku terkejut sekaligus terluka. Mama justru mengomel. Mengataiku dan teman-temanku jorok. Bisanya hanya merepotkan orang tua. Mama juga bilang kalau hari ulang tahun bukan hal wajib untuk selalu dirayakan. Mama mungkin benar, tapi aku lebih percaya ulang tahunkulah yang tidak penting. Karena kenyataannya, dua bulan setelah itu, ulang tahun Gaga dirayakan besar-besaran. Sejak saat itu, aku sangat membenci 1 hari dalam setahun: tanggal ulang tahunku. Hanya Bian, sahabatku, yang bisa memahami perasaanku dengan baik.

“Mama minta maaf, Sayang,” kalimat mama yang terdengar seperti guntur di siang tanpa hujan itu membuatku terkejut. Dadaku sesak. Seperti ada gemuruh yang sebentar lagi akan meledak. Bertahun-tahun aku menanti kalimat itu. Kalimat yang rupanya sebegitu dahsyatnya hingga mampu membuat kebencianku pada mama lenyap.

Siluet mama berdiri dan mendekat ke arahku. Tangannya terbuka. Saat tangisku hampir pecah menanti pelukan itu sampai, tiba-tiba tanganku sudah ditarik. Dan kini, aku telah kembali berada di tepi jurang.

“Kenapa kamu membawaku ke sini? Aku bahkan belum sempat bilang pada mama bahwa aku sudah memaafkannya. Aku mencintainya. Aku merindukan pelukannya,” ucapku dengan rasa kesal yang menggebu.

 Lelaki itu tidak menanggapi pernyataanku. Kejengkelanku tiba-tiba memuncak, terlebih ketika lelaki itu mengatakan bahwa dirinya bukan malaikat penyelamat.***

___________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.

Cerpen

Surogentho

Cerpen Era Ari Astanto

Angin malam menyusup lewat celah-celah jendela jati yang kecokelatan. Pelita kecil di sudut ruangan meliuk seperti gadis kampung yang mabuk asmara. Demang Surogentho terbaring di atas amben. Tangannya gemetar seperti mencuri sisa kekuatan dari batang tubuh yang beberapa purnama tidak bisa berdiri. Tubuh dan wajahnya bengkak-bengkak. Perutnya membuncit ganjil, seperti menyimpan rahasianya yang siapa pun tak boleh mengetahui kecuali keluarganya.

Di sebelahnya, istrinya duduk memegangi piring tembikar. Ada segenggam nasi dingin dan dua potong tempe goreng di dalamnya. Ia tidak segera menyodorkan makanan itu. Hanya menatapnya, lantas mendesah pelan. “Aku mimpi aneh tadi sore,” ia berkata nyaris seperti gumaman. “Ada ular menyusup ke ranjang ini. Kepalanya dua. Yang satu menangis. Yang satu tertawa.”

Surogentho tidak menjawab. Alisnya bertaut, seperti teringat sesuatu. Ia menoleh perlahan ke arah istrinya, lalu muntah darah ke mangkuk tembikar bekas bubur yang ia makan tadi.

“Kalau aku mati sekarang, Genthi bisa kululusi jadi dalang,” katanya dengan suara parau, seolah sedang menyampaikan amanat di mimbar yang sepi.

“Lho, kenapa dalang?” istrinya mengernyit.

“Karena hidupnya sudah kubentuk seperti wayang. Sekarang saatnya ia menjadi dalang. Aku tinggal rebah. Dan ia tinggal menggerakkan tangannya.”

Hening. Angin berembus. Pelita bergoyang liar.

Istrinya menoleh ke arah pintu. “Rasanya, suara ayam jantan barusan itu… mirip suara Kenthus yang mati seminggu lalu.”

Surogentho berdehem, tak hendak mengomentari tentang Kenthus, ayamnya yang telah mati, “Kalau ayam bisa reinkarnasi aku harap aku jadi tikus. Tikus got yang punya kerajaan sendiri di balik lubang comberan. Bisa mengerat apa pun yang ingin aku kerat. Tentu, seperti tikus, yang paling kusuka adalah pergi ke wilayah orang-orang miskin. Mereka sangat menguntungkan dan empuk.”

Istrinya terkekeh kecil, lalu berhenti. Ketawanya seperti tertahan di kerongkongan, seolah malu keluar karena sudah terlalu sering mendengar kebodohan manusia.

“Jangan bercanda, Kang,” ia diam sebentar, menimbang, “Tapi maaf, Kang, badanmu seperti ada bau bangkai.”

Surogentho justru tersenyum lebar. “Itu tanda-tanda alami. Sudah mirip kematian, kan?” Ia menatap langit-langit rumah yang di beberapa bagian terdapat sarang laba-laba. “Tapi kenapa belum mati juga, ya? Apa mati juga harus menunggu tanda tangan Wedana?”

***

Demang Surogentho melihat dirinya hanya memiliki dua pilihan: menang di pengadilan Kawedanan atau mati secara alami. Ia mengulang kalimat itu dalam hati. Menggumamkannya bagai mantra yang justru menggelisahkannya. Pilihan pertama lebih enak didengar, lebih mulia diucapkan, dan tentu lebih menjanjikan untuk keluarganya. Tapi, itu mengandung satu syarat kecil yang rasanya setara dengan menjaring angin: membuktikan bahwa ia telah menyetorkan pajak sesuai ketentuan.

Bukti. Sebuah kata yang terdengar gagah dalam sesorah para pamong praja. Sayangnya, tak satu pun bukti yang ia miliki berbentuk hitam di atas putih. Kawedanan, selama sepuluh tahun, hanya menerima sebagian dari setoran pajak. Ia tahu sebabnya, karena ia sendiri yang mengatur cara-caranya agar tampak wajar: warga kademangan sedang gagal panen, musim kering, longsor, tikus, serangan wereng, dan alasan musiman lainnya. Semua disusun rapi, bahkan dilampiri tanda tangan pamong desa yang siap pasang badan asal diberi sedikit beras atau amplop tipis.

Tapi suatu hari, langit berubah arah. Kawedanan datang tanpa aba-aba. Dipimpin langsung sang Wedana. Mereka memeriksa. Mereka bertanya langsung ke warga. Dan warga yang polos, atau mungkin telah muak dengan demang mereka, menjawab jujur: mereka selalu bayar pajak sesuai ketentuan. Tanpa potongan. Tanpa pengurangan. Bahkan, kadang mereka menambah dari kantong sendiri sebagai bentuk maaf dan terima kasih.

Dari situ, bola menggelinding. Kawedanan mengendus perkara lain: bantuan irigasi yang tak jadi aliran, perbaikan jalan yang cuma sepanjang 100 depa dan berhenti di depan rumah kepala jagabaya, bantuan benih yang dibagi hanya pada keluarga pamong. Warga diam. Dulu. Sekarang tidak.

Kuping dan mata Kawedanan memerah. Surat tuntutan resmi dikirim. Demang Surogentho harus membayar semua pajak yang tidak disetorkan selama sepuluh tahun. Ditambah denda sebesar sepuluh tahun pajak pula. Totalnya tak terbayangkan. Bila dibayar, rumahnya akan ludes, sawahnya pindah tangan, dan anak-anaknya akan diundang sebagai contoh dalam ceramah korupsi di balai desa.

Ia duduk diam di serambi malam itu, merenung sambil mengaduk teh tanpa gula. Jika hanya mati, urusan selesai. Tapi mati bunuh diri justru membuka pintu tuntutan bagi ahli warisnya. Kawedanan cukup pintar membuat peraturan: hanya kematian alami yang menghapus segala tuntutan.

“Tapi, mati secara alami, bagaimana caranya?” gumamnya. Tak ada jawaban.

Ia pernah membicarakan ini dengan istrinya. Perempuan itu hanya menatapnya seperti menatap benih yang gabug. Lalu berkata pelan, “Kalau harus memilih, Kang, aku ingin kau tetap hidup dan anak-anak tetap sejahtera.”

Ia mengangguk, meski tubuhnya menolak harapan itu. Kata-kata istrinya bukan keputusan, hanya pengingat tentang dunia yang memang ia inginkan selama ini.

Sang istri bercerita, suara pelan seolah menguji bisik angin, “Kau ingat Demang Blengsek, Kang? Ia sakit saat menghadapi tuntutan serupa. Tapi ia tetap hadir di sidang. Ia terjatuh, pingsan, lalu mati tiga hari kemudian. Kasus pun ditutup. Anak-anaknya hidup baik sampai sekarang.”

Demang Surogentho menatap istrinya. Ia tak bertanya, tak menyanggah. Hanya sunyi.

***

Warung wedangan Randa Sainem selalu ramai. Wedang jahe gepuknya memang bikin kangen, ditambah lagi karena rasa gosip di warung itu lebih gurih daripada sate keong.

Beberapa warga duduk di tikar pandan. Sambil menyesap jahe gepuk, mereka menyesap kabar burung dan kabar angin. Lalu mengulumnya seperti gulali.

“Aku dengar dari adikku tadi sore yang berkunjung ke rumahku, Demang Surogentho pergi ke Mbah Lugut Rawe di lereng Merapi. Adikku tidak tahu untuk apa demang ke sana.” kata salah seorang dari mereka dengan suara rendah yang justru menarik perhatian.

“Mbah Lugut Rawe, dukun santet itu?”

“Iya. Tapi tidak tahu untuk apa.”

“Mungkinkah untuk menyantet Wedana?”

“Atau menyantet kita semua karena tidak membelanya?”

“Menyantet siapa pun, tetap saja konyol. Tak bisa menghapus fakta.”

“Fakta bahwa kita membayar pajak penuh, tapi tak tahu uang itu ke mana?”

“Bagaimana kita bisa mengaku tidak membayar pajak penuh selama sepuluh tahun, itu sama saja membelanya. Percuma kita selama ini rajin membayar pajak penuh.”

“Benar. jika kita mengaku, maka pajak kita akan dinaikkan dua kali lipat selama sepuluh tahun ke depan. kau mau?”

“Tentu saja tidak. pajak yang ini saja tidak jelas untuk apa kok. Tapi, untuk apa dia ke Mbah Lugut?”

“Tentu tidak. Pajak yang sekarang saja seperti menyuap nasib. Tapi… kenapa dia ke Mbah Lugut?”

Tak ada jawaban. Tapi semua sepakat: Demang harus bertanggung jawab. Mati tak cukup. Lari lebih buruk.

***

Kabar perihal tubuh Demang Surogentho yang mulai berubah bentuk seperti gabus direndam air dengan cepat menyebar. Dan benar, semua yang datang menyaksikan tubuh demang mereka bengkak. Kulit di beberapa bagian tubuhnya mengelupas. Sesekali muntah darah.

Berbagai tangapan bermunculan. Ada warga menanggapi itu sebagai karma. Ada yang menduga itu hanya rekayasa agar bebas dari tuntutan kasusnya. Ada yang merasa kasihan tapi menyayangkan, “Demi anak tidak kehilangan harta yang telah ia tilep, ia rela membuat dirinya sakit dan perlahan mati agar tampak secara alami.”

Namun, ada juga yang berdoa. “Semoga ia sembuh.”

“Sembuh? Kau mulia atau gila? Jangan-jangan kau ikut mencicipi harta itu?”

“Pikirkan baik-baik. Jika dia mati saat sakit begitu, kekurangan pajak kita selama sepuluh tahun terakhir menjadi tanggungan kita. Bahkan, kita harus menanggung pajak dua kali lipat besarnya selama sepuluh tahun ke depan.”

Yang lain manggut-manggut. “Kau benar. Jika dia sehat dan membayar Kawedanan, kita aman.”

Senyum aneh menggantung di bibir mereka.

***

Setahun lewat. Sakitnya tak bertambah, tak juga sembuh. Seperti wayang rusak yang dibiarkan tergantung di sudut pendapa. Tak dibuang, tapi tak dipakai.

Kawedanan tak bisa bergerak. Hukum menganga, menunggu kematian atau kesembuhan.

Di dalam rumah, keheningan terasa seperti jaring laba-laba. Lengket dan mengurung.

Surogenthi, anak sulungnya, memasuki rumah dengan wajah lesu seperti tanah merah yang kerontang.

“Bagaimana, Genthi? Apa kata Mbah Lugut Rawe?” tanya ibunya.

Surogenthi menarik napas panjang, seperti menyimpan dua kabar sekaligus.

“Mbah Lugut sudah meninggal. Dua pekan lalu.”

Ibunya terdiam. Lama.

Dari atas amben, suara serak lirih meluncur.

“Artinya apa?

Genthi menatap lantai. Lalu menjawab pelan, “Kita harus mengobatkan Bapak.”

“Tidak,” sahut Demang, dengan napas yang seperti dicuri, tersengal, “Itu artinya keluar banyak biaya. Aku ingin segera mati… tapi yang seperti alami. Hanya dengan begitu harta kalian akan aman.”

Surogenthi dan ibunya saling pandang, terseret ke dalam hening yang mencekat.

____________________

Era Ari Astanto. Penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di MYF Randhu Jembagar Boyolali.

Cerpen

Derita dan Sikap

Cerpen M. Ghaniey Al Rasyid

Masih di ruang yang sama, jeruji besi sempit, pengap, dan lembab. Kecoak, tikus, serta serangga merambat di tembok dan lantai, kadang melintas begitu dekat hingga menyentuh kulit Acing yang pucat. Ia duduk bersandar di bangku semen, tatapannya kosong, tangan menggaruk tengkuk. Sebotol air mineral yang bungkusnya koyak ia renggut, lalu diteguk dengan sisa tenaga.

“Kalau saja aku tak melakukannya…” desahnya lirih, memegangi kepala gundul. Tumitnya yang memar terasa berdenyut, seakan menertawakan penyesalannya. Penyesalan yang tidak bisa membatalkan apa pun, hanya menggumpal jadi sesal yang kental dan pahit.

Derap sepatu terdengar dari lorong. Gemertak logam dan kunci beradu, mengingatkan Acing pada kuda yang dipacu lambat-lambat. Namun yang datang bukan kuda, melainkan seorang penjaga. Agus namanya. Tubuhnya jangkung, dada bidang, wajahnya lebih tua dari usia. Kaos loreng melekat di tubuh, belati tergantung di pinggang. Bibirnya hitam, berlapis nikotin dan kopi basi.

“Rokok? Koran?” suaranya berat, seperti orang yang malas bicara.

Acing menatapnya dengan mata sayu. Agus mengeluarkan koran hari itu, lembaran kusut dengan aroma tinta murahan. Foto seorang pejuang yang meregang nyawa menghiasi halaman depan. Tubuh sang pejuang berlumur darah, wajahnya setengah hancur.

“Kau mau bernasib begitu?” cibir Agus, terkekeh tipis.

Acing tidak menjawab. Dalam benaknya ia membayangkan: bila kunci di tangan Agus jatuh, bila ia sempat merampasnya… barangkali jeruji akan terbuka, dan tubuh Agus-lah yang terkapar berganti posisi di lantai lembab itu.

Agus menyodorkan rokok buatan Tiongkok. Aromanya manis, menipu. “Besok, pukul lima sore, para perusuh ditembak mati.”

“Kau bilang… perusuh?” suara Acing parau.

“Kalian semua,” jawab Agus singkat, seperti menjatuhkan vonis.

Acing menerima koran itu. Ia membacanya pelan, halaman demi halaman. Ada berita tentang perempuan yang diperkosa, anak kecil mati kelaparan, pesta pejabat di atas darah rakyat. Semua ia baca dengan tatapan kosong namun penuh bara.

“Pemberontakan memang melahirkan darah,” gumamnya.

“Kau harus melangkahi mayat kami dulu,” balas Agus, dingin.

Acing mendengus. “Orang mencari makan saja sulit, pejabat berpesta, anak-anak jadi bangkai… apa yang harus dipertahankan dari kebiadaban ini?”

Agus terdiam. Sepatu hitamnya menendang jeruji. “Kau bodoh. Tanpa kami, hidupmu lebih celaka.”

“Aku bicara dengan babi,” sahut Acing datar. Ia menurunkan celana, kencing di lubang tahanan. Puntung rokok ia lemparkan ke sepatu Agus yang berkilat.

Wajah Agus memerah. “Sekali lagi kau buka mulut, kutembak kepalamu!”

Acing tersenyum sinis. Rasa takut sudah lama ia kubur.

Tak lama, tiga pria berbadan besar masuk. Napas mereka menderu seperti banteng. Pintu jeruji dibuka, dan hujan pukulan menghantam Acing. Tubuh kurusnya rontok dibantai sepatu dan kepalan. Kepalanya dibentur tembok, perutnya dihantam berulang. Ia meringkuk, berusaha melawan, sia-sia.

Ketika darah menetes dari pelipisnya, teriakan dari luar mendadak membelah udara. Ribuan suara, gaduh, mengguncang bangunan itu. Para pemukul buru-buru keluar. Suara tembakan bersahutan, kaca pecah, jerit memekik.

Seseorang berwajah tertutup kain hitam menggoyang jeruji. “Ambil kunci! Cepat!” Beberapa tahanan berhasil kabur, berlari seperti bayangan. Darah membanjiri lantai, bercampur bau besi dan amis.

Agus tergeletak di lorong, mata melotot kosong. Seorang pria yang mencoba membuka jeruji roboh diterjang peluru.

Acing masih di dalam, tubuhnya lebam. Sebuah peluru tumpul menembus tulang keringnya. Ia jatuh, menggeliat, giginya bergetar menahan linu.

“Orang ini coba kabur. Itu balasannya,” dengus seorang penjaga, lalu berlari pergi.

Acing terkapar, darahnya merembes. Ia menutup luka dengan kain lusuh, tapi otot-ototnya kaku, tubuhnya seperti disayat gunting tajam.

Keesokan harinya, ia digiring ke lapangan bersama puluhan tahanan lain. Rumput basah menempel di wajah dan kepala mereka yang dipaksa menunduk. Mereka dipaksa bersumpah, menelan kata-kata yang tak mereka percayai.

Acing berdiri goyah, tubuhnya berlumur darah kering. Pandangannya berkunang, tapi suaranya tetap tegas. “Kita tak pernah tahu, kenapa bisa sekacau ini.”

Seseorang di sampingnya berbisik, “Semua butuh strategi. Tapi kadang… darah memang satu-satunya bahasa.”

Di hadapan mereka, tali gantungan bergoyang tertiup angin. Seperti cemeti, sekaligus janji. Para sipir berdiri berjajar, wajah mereka datar seperti batu.

Nama-nama dipanggil. Satu per satu maju, leher mereka dipasangi jerat. Tubuh bergelantung, mata terbuka kosong, kaki meronta sebentar lalu diam. Udara penuh dengan aroma kencing dan ketakutan.

Ketika nama Acing dipanggil, langkahnya tertatih. Luka di kakinya membuat setiap gerakan seperti ditusuk pisau. Namun wajahnya tetap tenang. Ia menatap tali yang menunggu, seolah menatap sahabat lama.

“Kesalahanmu adalah melawan,” kata seorang sipir muda di podium.

Acing tersenyum tipis. “Kesalahanku hanya satu: percaya pada hidup yang adil.”

Jeratan dililitkan di lehernya. Dunia terasa menyempit, suara gemuruh massa lenyap jadi desisan tipis. Ia sempat menatap langit, biru kusam dengan awan berarak. Sesaat, ia merasa bebas.

Lalu papan diinjak, tubuhnya terayun. Lehernya patah dengan bunyi lirih.

Mata Acing terbuka, menatap kosong ke langit. Senyuman masih membekas samar di bibirnya. Tubuhnya berayun pelan, bagai bandul waktu yang berhenti di titik terakhir.

Di lapangan itu, derita akhirnya menemukan ujung. Dan sikapnya, betapa pun kecil, meninggalkan bayangan panjang yang tak bisa dipenjara.

___________________

M. Ghaniey Al Rasyid. Penulis Lepas. Pengkliping dan penikmat sastra yang tinggal di Kota Surakarta.

Cerpen

Apa yang Kalian Tahu Tentang Nona Goodhouse?

Cerpen Aprilia Nurmala Dewi

“Hidup tidak akan pernah sempurna, dan adil.” Seorang pria yang mengenakan jas rapi dan kacamata gelap menggumam. Dia membaca catatan yang ditulis tangan di secarik kertas. Catatan itu ditemukan tak jauh dari mayat perempuan yang mati terjatuh dari balkon apartemennya tadi pagi.

“Kalian ingin menahanku?” Pria yang katanya mantan kekasih korban sudah berada di ruang interogasi. Tubuhnya maju mundur gelisah.

“Anda satu-satunya orang yang ada di sana saat kami tiba. Tidak lupa, Anda juga mengirim makian kepada korban. Menyebutnya ‘perempuan gila’ beberapa jam sebelum ditemukan tak bernyawa.”

“Makian.” Pria itu mendengkus. Salah satu ujung bibirnya terangkat. “Memangnya, apa yang kalian tahu tentang Noella Goodhouse?”

*

“Baiklah, sekali lagi saya ulang, apa yang kalian ketahui tentang Nona Goodhouse?” tanya seorang pria bersetelan gelap kepada sekelompok wanita anggota klub berkuda elit.

Wanita-wanita yang bahkan masih wangi setelah menunggangi kuda itu melepas helm dan sarung tangan mereka sambil saling melempar tatapan.

“Maaf, Tuan, siapa Anda dan apa hubungan Anda dengan Noella Goodhouse?” tanya salah satu wanita dengan mata menyipit tidak bisa menyembunyikan kecurigaan. Wanita yang lain mulai memandangi pria itu. Ada mata-mata penuh selidik, ada pula yang sedikit tertarik.

Setelah merasa cukup dengan penyelidikan mata, para wanita itu saling bertatapan lagi kemudian mengangguk-angguk. Seolah-olah ada kesepakatan ‘Dia tampan, tetapi mencurigakan’ yang tidak terucap di antara mereka.

Pria itu kemudian berdeham. “Marquez. Detektif Phillip Marquez.”

Para nyonya yang senang berkuda tampak terkejut.

“Detektif? Anda terlihat seperti aktor-aktor di drama televisi Hallmark.”

Mendengar itu, sebagian tertawa geli lalu salah satunya bertanya dengan serius. “Apa yang telah Nona Goodhouse lakukan sampai seorang penyelidik seperti Anda harus datang ke sini?”

Kali ini, Detektif Marquez jauh lebih terkejut. “Kalian belum mendengar kabar dari Nona Goodhouse?” Kening pria itu berkerut.

Well, sebenarnya dia tidak begitu sering datang akhir-akhir ini. Dia bersemangat saat pertama bergabung, setelah itu … entahlah.” Seorang wanita mengangkat bahu, tidak meneruskan keterangannya.

“Baiklah, apa kalian mengenal kekasihnya? Atau mantan kekasih? Atau siapa saja yang mungkin dekat dengannya?”

Pertanyaan itu kemudian mendapat tanggapan yang berisik. Mereka saling tanya jawab tanpa peduli keberadaan Detektif Marquez.

“Apa dia pernah datang bersama seseorang? Aku tidak memperhatikan.”

“Apa kau ingat kapan dia terakhir kali ada di sini?”

“Mungkin saja dia bosan, dia masih muda untuk menghabiskan banyak waktu dengan kuda.”

“Muda? Akhir tiga puluh?”

“Entahlah, aku bahkan tidak menyimpan nomor teleponnya.”

Detektif Marquez harus berdeham tiga kali agar keriuhan para nyonya berhenti.

“Nyonya-nyonya, menurut tetangga terdekat Nona Goodhouse, kalian adalah teman-teman yang paling sering dia bahas dalam pertemuan sesekali dengan para tetangga. Foto kalian ada di ruang tamunya. Dan, kemarin, kami menemukan dia tewas di apartemennya.”

Wanita-wanita itu terbelalak. Hening seketika.

“Oh, Tuan Detektif, maaf tapi Anda bisa saja salah. Kami tidak sedekat itu dengannya. Kalau boleh memberi saran, Anda bisa mencoba mengunjungi sebuah klub tango di Durant Ave. Mereka membuka kelas dan Nona Goodhouse pernah mengatakan akan bergabung di sana,” ujar salah satu wanita tiba-tiba.

“Kapan Nona Goodhouse mengatakan itu kepada Anda?” Detektif Marquez menatap wanita pemberi informasi sambil menyiapkan catatannya.

Wanita yang ditatap terlihat grogi. “Ah, tidak, bukan mendengar langsung. Aku melihatnya di snapchat eh entahlah, aku rasa di instagram.”

Begitulah perasaan yang ditimbulkan oleh pertanyaan petugas kepolisian. Mereka mampu membuat seseorang merasa ragu bahkan pada diri sendiri. Lalu, seseorang itu akan tiba-tiba merasa takut meski tidak melakukan apa-apa.

Wanita itu bergegas bangkit dan mengenakan kembali helm dan sarung tangannya.

Detektif Marquez menghela napas, menutup buku catatannya. “Anda buru-buru, Nyonya?”

“Kami akan memulai kegiatan jika Anda tidak keberatan. Lagipula tidak banyak informasi yang bisa Anda dapatkan di sini, Detektif.” Wanita itu melangkah pergi disusul wanita lain satu per satu.

Detektif Marquez bangkit dengan sedikit payah. Dia merasa bobot tubuhnya bertambah padahal dia hanya minum kopi seharian. “Klub Tango, Durant Ave,” gumamnya sebelum meninggalkan para nyonya klub berkuda.

*

Detektif Marquez mendorong pintu kayu sebuah gedung tiga tingkat yang tidak begitu lebar. Tidak ada penanda apakah mereka sudah buka atau belum. Hanya ada sebuah papan nama dengan warna biru dan kuning menyala di tepi jalan, DIVINO DIA! Ini adalah kali ketiga Detektif Marquez mendatangi klub tango itu setelah gagal menemui siapa pun sebelumnya karena klub sedang tutup, bahkan di akhir pekan.

“Ada yang bisa kami bantu, Tuan?” Seorang pria botak mengenakan kaos oblong bertuliskan nama klub menyapa Detektif Marquez.

“Ah, tentu.” Detektif Marquez melepas kacamata hitamnya kemudian mengulurkan tangan.”Philip Marquez.”

“Esteban Orreiro.” Pria botak membalas dengan ramah kemudian mengajak Detektif Marquez menuju sofa di sudut ruangan. Klub itu punya banyak jendela dengan tirai-tirai abu-abu keperakan yang mewah tetapi tidak banyak kursi untuk duduk berbincang.

“Ah, Argentina?” Detektif Marquez mencoba berbasa-basi.

“Tidak, tidak. Banyak yang berpikir seperti itu tapi sebenarnya orang-orang Uruguay juga menarikan tango sejak lama. Aku berasal dari Montevideo. ”

“Aku sudah tiga kali ke sini, tapi sepertinya kalian sedang tutup.” Detektif Marquez tidak melanjutkan basa-basi pengetahuan umumnya yang gagal.

“Maaf, Tuan Marquez, kami hanya buka pada hari Rabu untuk kelas tango,” terang pria botak yang duduk merapatkan kaki.

Detektif Marquez mengelus dagunya. “Hanya sekali seminggu?” Dia mulai ragu. Detektif itu sudah mengunjungi klub berkuda dengan wanita-wanita yang senang bergosip dan berkumpul tiga kali seminggu tetapi hasilnya nihil. Dia menatap pria botak sambil berpikir.

“Apakah Anda berminat?” tanya pria botak membuyarkan lamunan Detektif Marquez.

Detektif Marquez tersenyum. “Apakah aku terlihat seperti seseorang yang ingin menari?”

Pria botak mengernyitkan dahi. “Maaf, tetapi aku melihat banyak pria gagah sepertimu di klub kami, Tuan. Mereka membawa pasangan untuk berlatih ballroom tango. Tentu banyak yang sedang mengikuti tren ini sekarang.”

Detektif Marquez lupa kapan dia benar-benar mengikuti tren selain menikmati bola basket wanita alih-alih menonton sepakbola.

“Maaf, Tuan, sebaiknya aku langsung ke pokok persoalan.” Wajah serius Detektif Marquez membuat pria botak di hadapannya cukup waspada.

“Persoalan?”

“Ya, apa yang Anda ketahui tentang Nona Goodhouse? Noella Goodhouse.”

Pria botak berkaos DIVINO DIA tampak melongo beberapa saat sebelum berdiri menuju sebuah ruangan kecil tak jauh dari tempat mereka duduk.

“Maaf, Tuan, apa pun persoalannya aku tidak tahu apa-apa dan aku perlu mengecek buku keanggotaan.” Tangannya yang gemulai tampak membuka lembar demi lembar sebuah buku agenda selebar surat kabar.

Detektif Marquez mengamati dengan saksama hingga kemudian mereka berdua menemukan nama dan foto Noella Goodhouse di lembaran hampir terakhir.

“Ah, Nona Cantik yang senang membawa buku. Dia baru belajar di sini beberapa pekan saja.”

Detektif Marquez memutar buku itu hingga tepat searah pandangannya sebelum mengeluarkan buku catatan.

“Buku? Buku seperti apa?”

“Beberapa buku yang yang cukup tebal, aku tidak begitu memperhatikan. Hanya saja menurutku sedikit membingungkan melihatnya membawa buku ke kelas tango. Tentu kau tidak punya banyak waktu untuk membaca di sini.” Pria botak itu terkekeh. “Seharusnya dia membawa pasangan, bukan buku. Tapi, ya tentu saja mungkin begitulah nona cerdas dari universitas.”

“Jadi, Anda tidak pernah melihat dia datang dengan seorang pria?”

“Seingatku hanya sekali dan mereka bertengkar hebat. Pria itu tidak lentur dan jelas tidak berminat sama sekali dengan kelas kami.”

Detektif Marquez mengangguk-angguk lalu menulis dengan cepat. Semua yang diucapkan pria botak dipindahkannya ke dalam catatan.

Tiba-tiba pria botak berdeham. “Tapi, Tuan, apakah Anda seorang kawan? Kekasih yang baru?”

Detektif Marquez menggeleng sambil memasukkan kembali bukunya ke dalam saku.

“Siapa pun Anda, tolong jangan beritahu Nona Goodhouse tentang apa yang kukatakan. Itu hanya pemikiranku saja setelah mengamati. Tapi aku tetap senang dia datang ke mari. Dia beberapa kali meminta kami berfoto dan dia mengunggahnya ke Instagram. Aku menghargai semangatnya.”

Detektif Marquez bangkit dan undur diri.

Pria botak mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Sekali lagi kumohon tidak perlu membahas semuanya dengan Nona Goodhouse. Seharusnya penting bagiku menjaga kerahasiaan anggota. Maafkan aku sedikit cerewet hari ini.”

“Tuan Orreiro, terima kasih atas semuanya. Aku menjamin tidak akan mengatakan apa pun kepada Nona Goodhouse karena dia tewas di apartemennya minggu lalu.”

*

“Jadi, sudah seberapa banyak yang kalian tahu tentang Noella Goodhouse?”

Detektif Marquez melipat tangan di depan dada, menatap lurus mantan kekasih Nona Goodhouse. “Akan lebih banyak jika kau bermurah hati menceritakannya pada kami.”

Tidak ada yang lucu, tetapi pria itu tertawa.

Kening Detektif Marquez berkerut tetapi dia memilih menunggu mantan kekasih korban itu berbicara.

“Noella benar-benar gila. Atau … kau punya istilah lain untuk perempuan yang hanya hidup dalam halusinasi.”

“Langsung pada poinnya saja, Tuan.”

”Tuan Detektif, orang-orang hanya tahu apa yang Noella ingin orang tahu. Tak ada yang benar-benar tahu selain dirinya sendiri, dan tentu Tuhan kalau kau percaya itu,” katanya sambil mengacungkan jari telunjuk ke langit-langit ruang interogasi.

Detektif Marquez mulai kesal. Rahangnya mengeras mengirim pertanda bahwa dia tidak sedang main-main.

“Baiklah, Detektif. Aku minta maaf tidak bisa membantumu. Mungkin kau bisa membuka snapchat atau Instagram saja.”

Ucapan mantan kekasih korban itu membuat Detektif Marquez makin kesal. Sayangnya, dia tak menemukan sedikit pun tanda kebohongan.

“Kalau begitu, perlihatkan padaku. Sesuatu yang kau maksud tadi.” Detektif Marquez menyandarkan punggungnya di kursi, mencoba menunjukkan sikap rileks.

“Ah maaf aku tidak tahu, aku juga tidak melakukan instagram dan semacamnya. Itulah mengapa dia tidak tahan denganku.”

“Siapa? Nona Noella Goodhouse? Tapi kau mencintainya, ‘kan?”

Pria itu tertawa kecil. “Tapi aku tidak suka media sosial.”

Detektif Marquez menghela napas panjang, mematikan alat perekam suara di hadapannya, dan menutup buku catatan. Untuk pertama kali dalam kariernya, dia berpikir mungkin perlu memasang media sosial di ponsel.

“Oh, ya, Detektif Marquez, tentang catatan yang kau bacakan. Selamanya, hidup tidak akan pernah sempurna bagi Noella. Tidak cukup dengan terlihat sebagai anggota klub berkuda elit, menjadi anggota klub tango VIP di tengah kota, atau bagian dari klub baca akhir pekan bersama orang-orang cerdas universitas. Apa saja yang terdengar hebat itu tidak pernah cukup.”

Detektif Marquez bergeming. Pikirannya berputar-putar di terowongan sempit penyelidikan itu. Dan pada akhirnya dia hanya punya sebuah catatan terakhir dan mantan kekasih yang meracau tentang instagram.

“Sesungguhnya kau akan sulit mendapat informasi dari mereka yang kau pikir teman Noella. Dia tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu dengan siapa pun selain dunia yang diciptakannya, Detektif.” Pria itu melanjutkan ocehannya yang mungkin sudah terpendam lama. “Jika akhirnya dia lelah mengejar kesemuan itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

Detektif Marquez masih terdiam. Dia mulai merasakan nyeri di perutnya. Mungkin karena kopi, mungkin juga karena kasus yang sudah membuang waktunya.

Dalam ruang interogasi yang makin hening, mantan kekasih Noella Goodhouse memandang lurus Marquez dan berkata dengan suara serak, “Kau terus bertanya tentang dia, Detektif, tapi kau sendiri, apa yang sebenarnya kau tahu tentangnya?”  Lantas, mantan kekasih Noella itu meletakkan kedua tangannya di meja interogasi, perlahan memajukan tubuhnya. “Aku penasaran. Apakah sekarang masih ada yang ingin kau tahu tentang Nona Goodhouse?” Pertanyaan itu yang menggantung di udara, lebih menusuk daripada jawaban apa pun.

Sinjai, 19 September 2025

____________________________________________

Aprilia Nurmala Dewi, tinggal di Sinjai, Sulawesi Selatan. Abdi negara yang senang menulis. Dapat ditemui di Facebook: Aprilia Nurmala Dewi dan Instagram: aprilianurmaladewi

Cerpen

Keadilan yang Dikunyah Gerimis

Cerpen Diana Rustam

Kucing liar yang selalu hinggap di bingkai jendela kamar Gerimis itu, mati hari ini. Menurut Pak Harum—pemilik kontrakan tempat Gerimis dan Ilalang menyewa kamar—kucing itu tertabrak sepeda motor Pak Januari, laki-laki paruh baya yang rumahnya berjarak 100 meter dari kontrakan milik Pak Harum.

Kucing hitam itu, tidak sengaja Gerimis temukan di bawah jendela kamarnya dalam keadaan sudah kaku dan dikerubungi semut.

Pak harum bercerita dengan semangat, sehingga Gerimis bisa membayangkan kejadian tertabraknya kucing hitam itu seperti halnya menonton sebuah film.

“Kucing itu melintas di jalan depan kontrakan, sepertinya ingin bermain dengan seekor kucing lain yang ada di seberang. Sewaktu kucing itu tepat berada di tengah jalan, motor Pak Januari lewat dengan kecepatan tinggi. Kelihatan kalau Pak Januari sedang buru-buru.”

“Lalu?”

“Lalu, brak! Ujung ban depan motor Pak Januari menabrak perut kucing hitam. Kucing hitam menggelepar sebentar. Saya langsung melompat dari duduk saya waktu itu. Padahal, saya sedang ingin duduk, karena saya baru saja selesai membersihkan sumur karena kamu dan Ilalang menjatuhkan bungkus sabun cuci  ke dalam sumur. ”

“Hm… Lanjut, Pak, ceritanya. Bungkus deterjen  jangan diungkit dulu,” kata Gerimis protes.

“Anggap saja itu jeda iklan. Baik, saya lanjut, ya. Tadi sampai mana?”

“Pak Harum melompat dari duduk yang… padahal… Ah sudah, pokoknya begitu.”

“Nah, saya dekati kucing itu, tapi kucing itu mendadak berdiri dan lari ke arah belakang rumah.”

“Lalu?”

“Saya ikuti, tapi…lari saya kurang kencang, kamu tahu, kan, kalau saya waktu itu sedang capek karena baru saja membersihkan sumur karena—“

Ucapan Pak Harum dipotong Gerimis, “Karena bungkus detergen yang masuk ke sumur, itu kerjaan saya sama Ilalang!”

“Nah itu! Oh iya, barusan kamu kubur di mana kucing itu?”

“Di tanah kosong sebelah rumah Pak Januari. Di bawah pohon pisang.”

“Baguslah…soalnya pekarangan kita ini sempit.”

Gerimis menarik napas panjang. Meskipun ia punya rambut gondrong yang selama ini terkesan seperti anak muda yang cuek, tapi sebenarnya Gerimis termasuk orang yang gampang terharu.

Singkat cerita, Gerimis menangis.

“Gondrong, Kok, nangis. Nangisin kucing pula, gak cocok,” sindir Pak Harum.

“Panjang pendeknya rambut tidak menentukan kadar ketahanan mental, Pak.”

“Bahasamu, kok, canggih? Gak seperti biasanya? Eh, sory, saya lupa kalau kamu itu mahasiswa hehehehehe.“

Gerimis tidak menanggapi. “Kucing itu saya kasih nama Keadilan, Pak.”

Pak Harum mengangkat kedua alis matanya yang tebal.

“Keadilan itu sudah jadi belahan hati saya. Tiap malam dia saya ajak ngobrol. Keadilan tidak protes kalau saya selalu mengeluh. Semua masalah saya, saya ceritakan padanya. Dia duduk seperti roti di jendela, sambil mendengarkan saya bicara. Sekali-kali Keadilan saya kasih makan mie instan, Keadilan tidak menolak, malahan dia makan dengan lahap.”

“Lalu?” Pak Harum menagih cerita dilanjutkan.

“Mula-mula keadilan itu takut-takut mendekat. Eh, lama kelamaan setelah saya pancing dengan ikan asin dia mulai berani. Pertama-tama di bingkai jendela, lama-kelamaan dia tidur di tempat tidur saya, Pak. Tapi saya tidak keberatan, toh Keadilan juga menyenangkan, tidak pernah merusak barang-barang dalam kamar saya. Jangankan kasur, kalau dia butuh baju, akan saya pakaikan di badannya.”

“Eh, apa kamu juga membicarakan saya pada kucingmu?”

“Tenang saja, Pak. Kucing tidak suka bergosip.”

“Iya, ya. Tapi kenapa namanya Keadilan? Bukan si Hitam, Si Manis, atau si Belang?”

“Tidak mungkin si Belang, soalnya bulunya melulu hitam.”

“Oh iya, kamu betul. Terus?”

“Ya, begitulah, Pak. Saya merasa sangat kehilangan. Saya sedih.”

“Tapi kenapa harus Keadilan?” Pak Harum masih penasaran.

“Entahlah… Keadilan langsung saja muncul di kepala saya waktu itu. Tapi si Keadilan ini memang punya sikap yang adil. Contohnya, sewaktu saya kasih makan, dia tidak mencoba mengambil ikan bagian saya, padahal bagian saya ada di depannya. Kucing lain mungkin akan menggasak milik tuannya kalau makanannya sudah habis. Saya pernah lihat kucing yang rakus, seolah-olah kucing itu tidak pernah kenyang. Kucing itu memakan semua ikan di atas meja tanpa sisa, tulang pun ikut dikunyah sampai habis.”

Keluh kesah Gerimis selesai ketika Ilalang sebahatnya pulang dari kerja. Pak Harum menepuk-nepuk pundak Gerimis. Ilalang ikut menenangkan Gerimis setelah mendengar cerita yang panjang itu dituturkan kembali oleh Pak Harum. “Sabar, ya. Keadilan tidak mati, dia hanya pindah ke tempat lain,” kata Ilalang.

***

Suatu malam, ada ketukan di pintu kamar Gerimis. Segera Gerimis menyudahi menonton televisi dan beranjak membuka pintu. Di depannya, Pak Januari sudah tersenyum kemudian memberi salam.

“Begini, Dik Gerimis…kejadian bulan lalu itu, saya minta maaf,” Kata Pak Januari setelah duduk dan sedikit berbasa-basi. “Saya baru tiba dari kampung kemarin, dan langsung mendengar sedikit cerita dari Pak Harum soal kucing hitam yang saya tabrak itu. Saya betul-betul tidak tahu kalau kucing itu kucing Dik Gerimis. Waktu itu saya terburu-buru, soalnya dapat kabar dari kampung kalau Bapak saya habis jual sawah dan saya mendapat bagian.”

Gerimis merenggut. “Lalu?”

“Ya, saya mau minta maaf. Sudah terlambat sebenarnya. Tapi, kan, tidak ada kata terlambat untuk minta maaf dan menyesali kesalahan, bukan begitu?”

Gerimis menghela napas. “Jadi kalau kucing itu bukan punya saya, Pak Januari gak akan minta maaf?”

“Bukan begitu hehehehe. Anu, kok, masalahnya jadi ribet, ya. Intinya, saya itu paham kesedihan, Dik Gerimis. Tapi itu, kan, hanya seekor kucing, lagi pula—“

Ucapan Pak Januari mendadak dipangkas Gerimis. “Cuma? Anda ini benar-benar tidak menghargai kehidupan. Anda tidak adil pada makhluk hidup.”

“Anu, bukan begitu, Dik Gerimis. Kejadian itu, kan, di luar kesengajaan saya.”

“Hm…sudahlah. Keadilan sudah tidak ada, saya marah-marah pun, dia tidak akan bangkit dari kuburnya.”

“Wah, Dik Gerimis ini memang bijak sekali. Oh iya, ini saya bawakan goreng pisang buatan istri saya. Dia titip salam untuk Dik Gerimis. Goreng Pisang ini dilapisi cokelat dan parutan keju. Rasanya enak sekali. Dik Gerimis pasti suka.”

Setelah meletakkan sekotak pisang goreng yang dibawanya, Pak Januari pamit pulang.

Gerimis mengintip kotak kertas yang dibawa Pak Januari, aromanya memang menerbitkan air liur. Gerimis berpikir, kalau Keadilan masih ada, pasti dia tidak akan menolak disuguhi makan malam dengan pisang goreng. Gerimis kemudian mengajak Ilalang menyantap pisang goreng cokelat keju itu ditemani secerek kopi sebagai kawan menonton pertandingan sepakbola sampai larut.

Esok harinya, Pak Januari datang lagi membawa dua sisir pisang kepok yang sudah matang sempurna. “Dik Gerimis, pisang di rumah saya banyak, ini saya bagi lagi. Soalnya perut saya sudah tidak sanggup menampung semua pisang ini. Saya hampir muntah disuguhi pisang setiap hari. Bayangkan, pagi-pagi saya dikasih pisang rebus, siang dikasih kolak pisang, sore dikasih pisang bakar, malam dikasih pisang goreng, apa tidak mabok pisang lambung saya?

“Bawaan dari kampung, ya, Pak?” tanya Gerimis.

“Oh, bukan. Ngapain saya repot-repot bawa pisang dari kampung. Toh di sini juga banyak yang jual di pasar. Pisang ini hasil panen dari pohon pisang yang saya tanam di tanah kosong samping rumah saya hehehehehe.”

Gerimis terbelalak. “Astaga!”

“Apanya yang astaga?”

“Saya sudah memakan Keadilan, saya sudah mengunyahnya dengan perasaan senang sampai kenyang. Kejam sekali!”

Pak Januari bingung. “Pisang dan keadilan, apa hubungannya? Sejak kapan keadilan bisa dikunyah? Kalau keadilan diinjak-injak, saya biasa dengar di televisi. Begitu kata pembawa berita.”

Gerimis menatap Pak Januari. Mulutnya masih menggumamkan nama Keadilan.

Makassar, September 2025.

______________________________________________

Diana Rustam, menulis cerpen dan puisi, tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Facebook: SuaraTonggeret. Ig: @dianarustam_

Cerpen

Penambang Bermahkota Sorban

Cerpen Heri Haliling

Samar bayang pelan memperjelas gambar. Pada sebuah cermin, rupa terungkap. Tak lagi ada rangkuman 5 jari menutup muka. Oleh tahta ilmu yang terbilas harga.

Nyatanya keberlakuan inilah yang bersemayam dalam diri Komisaris Daif. Mata tuanya nyalang memandang ke arah gerung ekskavator yang menguliti Pulau Sanuri. Komisaris Daif terkekeh. Semua sesuai mimpinya tentang umat. Sang Daif pencipta kesejahteraan itu. Meskipun sekecil lalat pun tahu bahwa pria bersorban itu tak ubahnya parasit pemakan inang.

Kabut debu menari di udara, membawa aroma logam, oli, dan ispa. Komisaris Daif menutup hidung dengan sejadah yang ia lingkarkan di leher. Di singgasana yang ia duduki sekarang, jemarinya mengetuki meja di depan. Meja yang berlapis kaca itu dulunya berisikan peta Sanuri. Di sana ada sungai, hutan hujan tropis, tanah gambut, dan garis-garis kontur pegunungan berusia ribuan tahun. Komisaris Daif mengangguk mantap, semua kini berganti oleh angka, titik bor, dan jalur hauling.

“Hutan bukan untuk dilukai, suamiku. Sungguh sikapmu kini terlampau berani,” tukas Luria Hanifa, istri Daif.

Sang suami memutar kursi mewahnya. Secerah cahaya yang dulu gemilang mulai redup meski sorban yang mengintari kepalanya itu pernah merengkuh Luria dalam suci asmara.

Komisaris Daif berdiri menjejak lantai kayu jati yang sesekali bergetar oleh blasthing tambang. Tangannya masuk ke saku jubah hijaunya. Dari dalam ia keluarkan tasbih kecil. Sekejab biji-biji tasbih itu mulai berputar beriring dengan kedut dua bibirnya.

“Jika kita tidak masuk dalam dimensi kapital ini, kaum yang percaya padaku hanya akan jadi jongos di negaranya sendiri. Melalui PT Umat, kita akan mulai restorasi baru. Mungkin tak adil, istriku. Tapi telah dari dulu bahwa tak akan ada tanaman bunga di ladang api.”

“Ladang api itu dari kita, Abi,” potong Suni, pemuda tegas dengan roman pucat terutama pada lingkar mata.

“Selesaikan kuliahmu dulu. Sampai masa di mana kau paham arti kebangkitan barulah pendapatmu kudengar,” urai Daif kepada putranya yang berusia bujang itu.

Suni yang kuliah jurusan kehutanan semester 6 maju menghadap sang ayah.

“Izin Suni jelaskan arti kebangkitan yang Abi elu-elukan,” katanya sambil mengeluarkan peta. Suni bentangkan peta yang ia pelajari dan yakini. Peta itu bertema vegetasi lahan dari hasil citra satelit dan data kemungkinan longsor. Luria mendekat menunggu penjelasan. Tidak dengan suaminya yang kokoh pada prinsipnya.

“Struktur geologi yang rapuh, seperti lapisan tanah lepas, retakan batuan, dan kemiringan lereng yang curam, membuat Pulau Sanuri rentan terhadap longsor,” urai Suni mengetuki peta dengan jari. Dia melanjutkan, “Kemiringan lereng tebing sangat terjal lebih dari 45 derajat, lokasi gerakan tanah berada di area tambang terbuka dengan metode penambangan teknik under cutting, ditambah kondisi tanah pelapukan litologi batuan yang labil. Ini belum semuanya,” tatap Suni ke ayahnya yang beku enggan peduli. “Potensi metana di Pulau Sanuri telah terdeteksi dengan kadar yang belum diketahui.” Suni menahan napas, “Cukup, kembalilah Abi seperti dulu. Hal ini tidak mungkin diteruskan. Ini genosida ekologis, Abi. “

Komisaris Daif melipat tangan. Dia lalu berjalan pelan menuju koridor samping. Sebuah gelas berisi kopi yang tinggal setengah ia dekati. Dingin kopi ia cecap, tapi ambisi itu tetaplah panas.

“Kita ini khalifah, bukan penjaga taman. Bumi diciptakan untuk dieksplorasi, bukan untuk disembah. Reboisasi adalah romantisme kaum urban. Kita bicara kebutuhan umat, listrik, baja, dan kemajuan. Semuanya telah diperhitungkan oleh sarjana geologi di perusahaan ini. Analisamu itu hanya sekelumit risiko.”

Luria mendekat, “Suamiku, kau bilang Islam itu fleksibel. Tapi bukan elastis sampai bisa membungkus mesin bor dan alat berat. Masa bencana itu datang, semua tafsirmu pun akan runtuh.  Bisakah nanti kau jelaskan ayat tentang longsor yang menelan desa? Apakah ada dalam khotbahmu tentang hadis yang mampu menenangkan ibu-ibu yang kehilangan anak?”

“Diam kalian!” bentak Daif. Dan ekspresi itu tak pernah Luria lihat seumur rumah tangganya sekarang.

Ruangan itu pun menebar rasa kaku dan panas meski mesin pendingin terus berupaya embuskan napasnya.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu menarik perhatian Komisaris Daif. Dia segera berjalan untuk membukanya.

“Ohh Anda, Tuan Cheng? Mari masuk,” pinta Daif semringah oleh tamunya.

Tiga pria berjas rapi masuk ke kantor. Luria dan Suni yang melihat itu kemudian memutuskan pergi.

“Jadi bagaimana perkembangannya Tuan Cheng, apakah nikel kiriman saya cukup?”

Tuan Cheng yang bertubuh tambun dengan mata sipit itu menyulam jari jemarinya.

“Tuan Daif, saya ke sini atas saran atasan Anda juga. Tuan Abidah, selaku menteri SDA dan Energi memandati Tuan untuk tingkatkan ekspor nikel.”

Komisaris Daif memundurkan punggungnya agar lebih mudah bersandar di kursi. Sedikit gelisah mencuat di antara air mukanya.

“Pak Abid belum menghubungi saya terkait ini?”

Satu ajudan Tuan Cheng maju untuk mengantarkan map. Tanpa dipersilakan, Komisaris Daif segera membuka map itu. Isinya surat kontrak persetujuan dari Tuan Abid. Bahkan ada tanda tangan sosok negarawan yang Komisaris Daif tak bisa tolak.

Membaca itu tubuh Komisaris Daif mendadak penuh menguap. Seperti hendak meledak memikirkan tentang kemungkinan yang bakal terjadi.

“Hanya itu saja yang saya mau kabarkan ke Anda, Tuan Daif,” kata Tuan Cheng berdiri. Keduanya bersalaman meski raut wajah Komisaris Daif tak secerah dan seramah di awal. Kebalikannya, roman puas dan perasaan menang membuncah dalam sinar wajah Tuan Cheng.

Setelah langkah ketiganya menghilang di balik pintu, Komisaris Daif lalu menarik laci. Dia ambil sebuah buku catatan dan membukanya. Target rencana kerja, kalkulasi perhitungan, dan keuntungan komersil keluarga tertulis detail di buku itu. Komisaris Daif melepas sorban di kepalanya dan menaruh di meja. Uban di kepala itu bukanlah dusta dari sebuah usia dan mungkin pemikiran. Dia sadar semua tak akan berjalan sesuai targetnya. Alunan pikiran itu juga mengarah tentang sumpah serapah yang akan ia sandang dengan lebih gencar. Betapa tidak, semua ekspor nikel tersebut meningkatkan titik pengeboran. Berpotensi besar warga Sanuri semakin murka. Ironis lainnya, bahkan Pak Abid sendiri baru setengah melakukan pembayaran.

Blarrrr!

Mendadak bunyi dentuman seperti guntur menggelegar dari balik bukit Pulau Sanuri. Semua bergetar hebat dalam penuh keterkejutan. Komisaris Daif yang hampir terjatuh dari singgasananya menyaksikan bagian selatan seperti diatapi awan hitam yang mengepul disusul jilatan api setan raksasa. Lekas ia pasang sorban itu dan berdiri. Dia sadar betul ini bukan guncangan dari bom blasthing.

Brakk! Pintu terdobrak dari luar. Luria dan Suni berlari mendekati sang ayah.

“Abi! Longsor di jalur tambang selatan!” teriak Suni.

Alarm di pusat kantor meraung. Bagai semut semua pekerja dari karyawan lapangan, driver, sampai OB berhambur keluar. Telepon berdering.

Tanpa salam pembuka, Komisaris Daif yang mengangkatnya segera diberitahukan si penelepon tentang insiden dan potensi.

“Keluar dari pulau segera, Pak. Lakukan evakuasi! Kemiringan lereng dalam lubang tambang mengakibatkan longsor dahsyat! Parahnya longsoran itu juga mengoyak lapisan tanah yang mengandung metana! Ini bencana!”

Maka makin terperanjatlah Komisaris Daif. Dan rasa kengerian bercampur ketakutan itu sangat jelas terbaca oleh istri dan anaknya.

*

Seminggu berlalu. Dalam ruang persidangan, hakim menyetujui permohonan jaksa penuntut umum yang membacakan surat tuntutan mengenai bencana tambang di Pulau Sanuri. Tuntutan itu merupakan gabungan dari beberapa elemen bidang meliputi WALHI, tokoh adat, Dinas Kehutanan, bahkan dari pihak perusahaan. Bencana longsor dan meledaknya gas metana menjadikan sebagian Pulau Sanuri hancur berkalang tanah dan batu. Korban jiwa dan kerugian materi dipaparkan dengan rinci. Jaksa pembela seperti hilang taring manakala data telak mendebatnya.

Komisaris Daif duduk di kursi pesakitan. Mendengarkan setiap dakwaan tentang keteledoran sehingga menghilangkan berpuluh-puluh nyawa nyatanya adalah luka yang tersiram garam. Terlebih pihak tingkat tinggi juga ikut mendakwa dengan alasan perjanjian kontrak telah dibuat tapi mangkrak di tengah jalan. Perusahaan mengalami kerugian besar ditambah harus ikut terlibat dengan semua anarki masyarakat yang terdampak.

Luria dan Suni tak mampu berbuat banyak kecuali hanya tangisan sebagai simbol pengantar lara. Mereka berdua yang mendengar dakwaan bercampur hujatan tak sanggup lagi ingin berucap atau bertindak apa.

Bagaimana ini? Pikir Komisaris Daif. Dakwaan 20 tahun penjara telah tersemat. Semua aset dibekukan. Hutang membelit keluarga yang ditinggalkan. Belum lagi ancaman-ancaman untuk keluarganya. Sebagai pria yang dikenal tegas dan mengerti agama, ia tak hendak menangis. Namun kejadian ini sungguh menjungkalkan asanya. Sejatinya ia sadar mengenai bagaimana sebuah profesi mesti terikat pada satu tempat. Mungkin jika bukan pujian dari para penjujungnya atas kemampuan dan prestasi Komisaris Daif. Dia tak akan terima posisi tinggi ini. Pujian yang menjatuhkan. Atau mungkin memang ini hanya jebakan agar ada yang dikambinghitamkan. Akh! Ngiangan tentang dirinya yang mengajari santri mengaji di pondok mendadak muncul kembali. Mengajari ilmu yang seharusnya berlaku tegak lurus. Apa pun, baginya semua hanya nestapa. Komisaris Daif memutar kepalanya. Dia lihat istri dan anaknya yang rapuh itu. Dalam ringkih jiwa, mulut keringnya melontarkan suara lirih.

“Maafkan Abi, keluargaku. Harusnya Abi tak mencampurbaurkan antara ilmu agama dan ambisi dunia.”

________________________________

Heri Haliling, nama pena dari Heri Surahman  Pria kelahiran Kapuas, 17 Agustus 1990 itu adalah seorang guru di SMAN 2 Jorong di Kalimantan Selatan. Selain mengajar, Heri Haliling juga aktif sebagai penulis. Beberapa karyanya antara lain Novel Perempuan Penjemput Subuh (Aksara Pustaka Media, 2024), Novelet Rumah Remah Remang (J-Maestro, 2024), dan buku kumpulan cerpen Perempuan Penggenggam Pasir (Guepedia, 2025).  Adapun untuk cerita pendek, karya-karyanya telah dimuat di beberapa majalah sastra dan koran digital atau cetak. Untuk berdiskusi dengan Heri Haliling pembaca dapat berkunjung ke akun Ig heri_haliling

Cerpen

Mo dan Kuci

Cerpen Septi Rusdiyana

Untuk Pak Rio

Mo masuk kamar dengan tergesa. Jam menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh lima menit. Ia pulang sejam lebih lambat dari biasa karena petugas keamanan kantor menahannya.

“Babi-babi gendut itu lama-lama mulai menyusahkan,” gerutu Mo.

Mo meletakkan tas dan goodybag di ranjang. Berjalan menuju akuarium khusus berisi enam ekor kecoa. Empat dewasa dan dua sisanya masih kecil. Mo memanggil semua dengan sebutan Kuci. Ia raih botol berisi air di dekatnya, lalu menyemprot ke arah serangga-serangga bertubuh mengilap itu dari atap akuarium yang penuh lubang kecil. Mereka berlarian tak tentu arah. Beberapa ada yang terbang meski pada akhirnya menabrak dinding-dinding kaca. Tak ada celah yang bisa membuat mereka kabur.

“Kuci-kuci, makanlah, Sayang.” Mo memasukkan tangan kanannya di lubang samping akuarium untuk meletakkan sepotong keju. Ia juga mengisi wadah kosong di dalamnya dengan susu cair. Malam itu Mo tak sempat makan malam di luar bersama teman-temannya. Kini, ia kelaparan. Binatang-binatang cokelat itu bisa cukup menghiburnya. Setidaknya, untuk sesaat.

Mo sangat memperhatikan peliharaannya. Setiap dua hari sekali ia selalu membersihkan akuarium dengan cairan disinfektan. Mo juga selektif pada kualitas makanan dan minuman yang diberikan. Ia ingin membuktikan bahwa semua binatang itu sama. Tidak ada istilah binatang hina karena jorok. Mo yakin, asal lingkungan dan makanannya selalu dijaga, maka binatang itu akan tumbuh sesuai dengan kebiasaan hidupnya.

Ponsel Mo berdering. Ada panggilan masuk dari Kara, teman Mo. “Cepat datang atau aku akan mati kelaparan,” ancam Mo. Panggilan pun terputus usai suara di seberang menjelaskan bahwa dirinya tak lama lagi akan sampai.

Mo duduk di ranjang. Menyaksikan para Kuci berkerumun di sekitar keju dan susu. Sejenak Mo seperti sedang berpikir. Ia teringat dengan gosip yang akhir-akhir ini berembus di kantor tempatnya kerja. Memang tidak spesifik menyebut namanya, tapi Mo sangat yakin jika perempuan langu yang mereka maksud adalah dirinya.

Tadi sore, saat Mo menyusuri koridor menuju dapur, sekelompok staf dari divisi perencanaan tertawa ngakak, seperti tak tahan menahan geli. Namun, saat Mo masuk, seketika tawa itu terhenti. Tapi bukannya menjadi hening, justru lanjut dengan saling berbisik dengan volume yang bahkan bisa terdengar dari ruang sebelah. Sialnya, setelah Mo keluar dari dapur usai mengambil tumbler miliknya, mendadak tawa ngakak kembali bergema. Fenomena itu membuat Mo akhirnya yakin, dialah sumber lelucon itu.

“Sori sori, aku harus dua kali pindah tempat karena warungnya jorok.” Kara nyelonong masuk ke kamar. Ia menyerahkan bungkusan berisi salad buah jumbo pada Mo. Tanpa ba bi bu, gegas Mo membuka dan menikmatinya.

“Kamarmu sudah lama nggak dibersihin, ya?” tuduh Kara. Raut wajahnya mulai berubah. Ia bahkan menutup hidungnya.

“Sembarangan kamu!”

“Soalnya bau.”

“Bau salad dan susu maksudmu?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Bau kecoa,” jawab Kara singkat. “Menjijikkan,” lanjut Kara.

Mendengar kalimat itu, sejenak Mo menghentikan aktivitas makannya. Mo merasa tidak pernah mencium bau kecoa di kamarnya. Ia bahkan tak pernah lupa membersihkan kamarnya setiap hari. Ia juga yakin telah memberi makanan dan treatment terbaik bagi binatang kesayangannya itu. Jadi rasanya tidak mungkin Kuci-kucinya bau.

“Seperti sedang di rumah hantu saja,” komentar Kara. Tangan Kara menyambar parfum di atas meja rias Mo dan mulai menyemprot ke seluruh ruangan. Saat sampai di sudut kamar, Kara mematung. Ia melirik ke arah Mo dengan tatapan menyelidik. “Kamu gila ya? Bisa-bisanya kamu memelihara kecoa. Di kamar. Bahkan kamu bisa sembari makan?”

Mo melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Ia juga tidak berminat menjawab pertanyaan Kara. Kara masih terus saja mengomel seperti ibu tiri yang kesal saat anak kandungnya kehilangan kesempatan untuk didekati pria kaya gara-gara ulah anak tirinya. Sesaat sebelum akhirnya Kara memilih keluar kamar meninggalkan Mo, ia sempat mengatakan satu kalimat yang membuat Mo tertegun: Hanya kamar-kamar alien yang punya aroma begini.

Mo mulai kehilangan nafsu makan. Bukan karena bau kecoa seperti yang Kara bilang, melainkan kalimat terakhir Kara membuat Mo kembali teringat pada gosip-gosip yang ia anggap murahan itu. Mo kesal. Apa salahnya jika ia berteman dengan alat pel lantai? Mereka jauh lebih bisa mendengarkan keluh kesahnya dengan tanpa menghakimi. Mo sering duduk di atas tumpukan kardus bekas dan bicara dengan sarang laba-laba di gudang belakang. Tak ada prasangka. Tak ada nasihat-nasihat klise seperti di buku-buku motivasi yang kalimatnya justru membuat kepala Mo sering berdenyut.

Sekarang, Kara, satu-satunya sahabat yang Mo pikir bisa mengerti dirinya, memilih kabur hanya karena Mo memiliki kandang kecoa di kamarnya. Mo berpikir. Apakah usahanya sia-sia? Bukankah ia telah memberi perawatan dan makanan terbaik untuk binatang peliharaannya itu? Tapi kenapa Kara bilang masih bau?

Mo mulai menciumi aroma tubuhnya sendiri. “Mungkin Kara dan orang-orang di kantor benar. Bau itu bisa jadi berasal dari tubuhku,” gumam Mo. Mo tertawa. Semakin lama tawanya semakin keras. Ia tak lagi peduli dengan Kara. Tak juga peduli pada rekan-rekan kerjanya. Ia hanya ingin bekerja seperti biasa. Menyelesaikan tepat waktu, dan memilih makan bersama kucing kampung yang sering mendatanginya di halaman belakang kantor saat Mo istirahat. Atau sesekali Mo akan naik ke gudang barang bekas di loteng kantor untuk sekadar bernyanyi sambil berdiri dekat jendela, menikmati pemandangan makam dan aroma kemboja yang menurut Mo semua penghuninya suka pada suara Mo. Mo kangen teman-teman di kantornya itu. Rasanya ingin segera esok dan kembali menjalani rutinitas seperti biasa.

Mo lapar lagi. Sejenak ia lupa pada embusan-embusan kabar terkait dirinya di tempat kerja. Mo melanjutkan suapan demi suapan yang sebelumnya sempat terhenti. Mo tidak peduli lagi dengan apa pun. Mo hanya memikirkan satu hal: sore tadi, sebelum bos Mo kembali pulang, bos Mo sempat meminta bertemu di ruang kerja. Di sana, untuk pertama kalinya sejak ia bekerja di perusahaan, Mo benar-benar merasa menjadi manusia.

“Aku tidak masalah dengan hobi dan kebiasaan anehmu itu. Aku sudah minta petugas kebersihan dan keamanan untuk tetap meletakkan perabot yang sudah kau anggap kawan itu di tempat seharusnya. Bahkan, di satu tempat agar kau senang,” kata bos Mo dengan senyum terbaik yang pernah dilihatnya.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya lebih kamu sukai: mengerjakan pekerjaanmu, atau bekerja di tempat ini. Yang pasti, kebiasaan-kebiasaanmu di luar jam kerja tidak pernah menggangguku.”

Sejak mendengar kalimat-kalimat itu, Mo merasa terlahir kembali. Suci. Bersih. Meski tak wangi, setidaknya tidak bau. Itulah yang Mo rasakan.

Setelah menuntaskan makan salad buahnya, Mo beranjak dari ranjang menuju kandang di sudut kamar. Ia mengeluarkan binatang cokelat mengilap itu, lalu mengajak Kuci-kucinya untuk mandi bersamanya. Ya, Mo hanya perlu memilih aroma sabun yang bisa memberi efek menenangkan. Bukan sekadar untuknya sendiri, tapi juga untuk binatang kesayangannya.***

______________________________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.