Cerpen

Alisa

Cerpen Depri Ajopan

Kampung terpencil dengan dua jembatan gantung yang tampak menyeramkan. Awal Alisa tinggal di situ, selalu ketakutan saat melewati dua jembatan yang bergoyang-goyang itu. Untung ada Sakib yang menemani jika suaminya berhalangan.

Selama ini Sakib tidak tergolong laki-laki kurangajar di kampung itu. Tidak pernah sekali pun ia membuat keributan, apalagi gara-gara perempuan. Ia tidak genit, seperti kebanyakan pemuda di situ. Ia tidak pernah buat onar. Itulah yang membuatnya terpilih jadi ketua pemuda. Mengenai ia yang jarang bicara kecuali yang penting-penting, justru rmenaikkan derajatnya di mata masyarakat, menjadikan ia dipandang sebagai pemuda berwibawa. Ia jarang masuk warung duduk bersama orang-orang pencerita yang suka membual.

Tapi setelah kedatangan Alisa, perempuan dari Bekasi, Sakib tersihir pada kecantikan perempuan itu. Ia jadi bahan omongan di kampungnya karena ketahuan telah bermain api dengan Alisa.

Selama ini ia tak pernah terseok-seok perihal cinta. Bahkan mungkin ia tak begitu pahan apa itu cinta. Ia berubah seketika setelah kenal Alisa, perempuan bermata lentik, kulit bersih dan putih. Badannya tidak terlalu tinggi. Alis matanya seksi, bibirnya tipis bergaris, rambutnya lurus dan panjang. Sakib yang terpesona tidak bisa membendung perasaannya. Hal itu adalah pertama kalinya ia mencintai perempuan. hanya saja perempuan itu sudah bersuami. Anehnya ia terus mengikuti jalan salah itu, jatuh cinta pada istri orang. Apakah ia harus siap-siap kehilangan cintanya sebelum mendapatkan cinta itu?

Ia sudah pernah berterus terang tentang hasrat hatinya. Hal itu terjadi ketika ia dan Alisa bersama putranya yang masih berumur tiga tahun jalan-jalan ke pasar malam. Suami Alisa tidak pernah menaruh  curiga sedikit pun. Ia sering ke luar kota karena ada keperluan.

Namun, saat itu Alisa tak pernah menggubris. Dan kali ini Sakib kembali berusaha mengutarakannya, dan ia ingin mendengarkan jawaban jujur dari perempuan itu. “Aku serius mencintaimu Alisa,” ucapnya sambil memegang tangan Alisa dalam keramaian. Cepat-cepat Alisa melepasnya.

“Cinta?” sahut Alisa lantas tertawa sembari menutup mulut dengan tangan kanannya. Sementara tangan yang satu lagi, tetap memegang anaknya.

“Kenapa kau tertawa?”

Sakib merasa dipermainkan. Ia tak menerima perlakuan perempuan itu, karena selama ini mereka sering jalan berdua, dan pulang larut malam saat suaminya tidak di rumah. Sakib juga pernah memeluk perempuan itu jika ada kesempatan. Bahkan ia pernah mencium bibirnya. Alisa sendiri pun sering membalasnya dengan melumat bibir Sakib.

Sakib memang tidak pernah melakukan lebih dari itu, walaupun ia yakin jika ia minta Alisa pasti akan menurutinya. Ia merasa cocok mengobrol apa saja dengan perempuan itu, dan obrolan mereka selalu nyambung. Ia merasa semakin hari hidupnya semakin berwarna. Karenanya ia menyimpulkan bahwa mereka saling cinta. Mengenai perempuan bermata lentik yang sudah bersuami, ia tak peduli. Sakib yakin cintanya yang kuat tidak akan bisa terjadi pada perempuan lain, sampai akhir hayatnya. Dan sudah tergambar dalam imajinasinya, bagaimana ia nanti akan terus mencintai perempuan itu.

Namun, tawa perempuan itu, sungguh-sungguh melukai hatinya. “Kau ini aneh Alisa. Apa kau menganggapku bercanda?”

 “Yang aneh itu kamu, Mas. Bukan aku,” jawab Alisa masih dalam keadaan tertawa. Tapi kali ini ia tidak lagi menutup mulutnya seperti tadi. Tawanya lepas begitu saja.

“Kenapa kau bilang begitu?”

“Yalah Mas. Aku kan sudah bersuami, sudah punya anak juga. Jadi tak pantas jika Mas bilang begitu padaku.”

Sakib menggaruk-garuk kepalannya. Ia membayangkan apa yang telah mereka lakukan selama ini. Ia ingin mempertanyakan itu pada Alisa.

“Terus,” kata Alisa.

“Terus apa?” Sakib ingin mengatakan sesuatu, tapi ia tahan karena tak berani.

“Mungkin Mas mau bilang, terus kenapa kamu mau aku peluk, cium kening, bahkan lebih dari itu?” lanjut Alisa sembari menggoyang-goyang tubuhnya.

“Iya,” jawab Sakib.

“Jawabannya tidak sekarang, yang penting kita jalani saja.”

“Sampai kapan?”

“Sampai bosan.”        

Sakib mendesah, tapi tetap ia belum mau membawa pulang perempuan dengan anaknya itu. Ia belum percaya keputusan Alisa, ia anggap Alisa tidak serius.                                               

* * *

Suami Alisa baru saja pulang dari luar kota. Ia mendapat kabar dari orang-orang tentang istrinya telah bermain serong dengan laki-laki bernama Sakib di kampung itu. Ia bilang tak kenal dengan Sakib, dan ia tidak ada niat untuk menuntutnya. Cerita miring itu tidak mengganggu pikirannya. Dan ketika ia berduaan di meja makan dengan Alisa, ia cerita tentang apa yang disampaikan orang-orang. Alisa terkejut dan ketakutan. Ia berpikir tidak ada harapan lagi bisa bertemu Sakib pemuda yang sebenarnya ia cintai selain suaminya. Bahkan ia berpikir, suaminya akan menceraikannya saat itu juga. Ia semakin deg-degan, menunggu keputusan apa yang akan diambil suaminya setelah mendengar cerita itu. Ia pura-pura tak merasakan apa-apa, seolah ia tak bersalah. Padahal hatinya bergetar.

“Aku percaya denganmu Alisa. Aku tidak mau direpotkan, apalagi bikin pusing gara-gara cerita-cerita sampah yang tidak ada pembuktiannya. Aku juga tidak ada niat untuk menelusurinya, benar atau tidaknya cerita itu. Aku percaya padamu sepenuh hatiku, kau pasti menjaga cinta kita seperti janjimu dulu.”

Alisa yang semula merasa napasnya seperti terhenti, akhirnya bisa bernapas dengan lega sembari menuju dapur. Tak lama kemudian ia membawa secangkir kopi, meletaknya di meja. Suaminya yang duduk santai di kursi mengaduk secangkir kopi yang asapnya masih mengepul terbang diseret angin. Ia tak berkata apa-apa lagi. Ia juga tak membahas tentang yang lain, tentang perkembangan bisnisnya yang sebenarnya hampir hancur. Setelah menghidupkan TV, suami Alisa menghidupkan rokoknya, mengisapnya dalam, dan sesekali mencicipi cemilan yang dihidangkan Alisa.

“Kenapa semudah itu percaya padaku, Mas?” tanya istrinya berhati-hati..

“Sudah kubilang, aku tidak mau pusing gara-gara mendengar cerita menjijikkan seperti itu.” Alisa mengangguk-angguk.

“Bagaimana kalau cerita itu benar?”

Pertanyaan itu membuat suaminya terperanjat. Ia terbayang pada seorang perempuan bernama Finka, perempuan selingkuhannya, mantan kekasihnya dulu. Setiap kali ia pergi ke luar kota, Finka selalu hadir di sana. Mereka menginap berdua di homestay.

Dan kini ketika ia mendengar berita tentang istrinya, ia diam saja. Bahkan jika berita itu benar, ia memang sudah rencana tak akan marah pada istrinya. Karena ia merasa dirinya juga telah mengkhianatinya. Bahkan ia lebih dulu melakukan perselingkuhan sebelum istrinya melakukannya. Ia menyadari akan risiko yang harus ia hadapi. Ia berpikir, Alisa mungkin sudah mengerti kenapa ia tidak cemburu ketika ia mendengar kabar tentang apa yang dilakukan Alisa.

______________________

Depri Ajopan. Lulusan Pesantren Musthafawiyah Purba-Baru, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Menyelesaikan S-1 Program Studi Sastra Indonesia di Universitas Negeri Padang. Menulis fiksi dan diterbitkan di sejumlah media. Novel terbarunya Pengakuan Seorang Novelis. Ia bergiat di Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau, sebagai guru Bahasa Indonesia.

Cerpen

Helena

Cerpen Yulputra Noprizal

Sudah mulai gelap di seantero kota. Sinar lampu-lampu merkuri menyiram jalan dan trotoar. Lampu di teras-teras toko dan di dalamnya pun mulai menyala seluruhnya. Suara orang yang berjalan kaki di trotoar terdengar sedang bercanda. Angin malam semilir meniup lembut pori-pori. Selepas makan di sebuah rumah makan di pinggiran Kota JT tadi, mereka memutuskan kembali ke kedai itu.

“Aku tak mau menyesal seumur hidup karena mengabaikan Helen dulu,” kata Syaf sembari berjalan ke kulkas dan mengeluarkan dua botol soft drink dari dalamnya. Ia membuka kedua tutup botol soft drink di depan kulkas. Lantas, ia letakkannya di meja dan mengeluarkan sebungkus rokok serta korek gas.

“Kan memang tradisi kampus kita. Sehabis ospek, dijodoh-jodohkan. Ini berjodoh dengan ini, itu berjodoh dengan itu. Ini gebet ini, itu gebet itu,” kata Ramli. Ia mengambil bungkus rokok, mengeluarkannya sebatang dengan tangan yang mengunting, lantas memantik korek gas, menyalakannya.

“Helen sudah mengajakmu kenalan. Sudah tahu banyak latar-belakangmu. Sudah tebar pesona di depanmu. Mengajakmu jalan bareng. Kau malah tak acuh,” lanjut Ramli.

“Aku merasa rendah diri di hadapan Helen. Aku orang dusun, orang jauh. Dari Sumatera. Merantau ke Jawa, kuliah di universitas besar pula. Belum paham tradisi kampus kita. Bisa kuliah saja sudah kemewahan bagiku. Helena kan anak Bandung. Mustahil dia tidak punya mantan. Aku pikir waktu itu, aku akan dijadikannya pelarian saja dari cintanya yang mungkin kandas sewaktu SMA,” kata Syaf. Ia mencabut sebatang rokok dari bungkusnya, menyalakan korek gas, dan menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Tapi kau kan suka pada Helen,” kata Ramli.

“Waktu itu belum. Belum cinta pada pandangan pertama. Tapi seiring waktu aku menyukainya, setelah ia jadian dengan Yogi.

“Kau menghindar dari Helena. Membiarkan Helena jadian dengan Yogi adalah kesalahanmu. Lantas, kau jauh dari kami, teman-teman kelasmu. Menjalani hari-hari dengan berandal kampus yang tak jelas juntrungannya. Menurutku mereka berasal dari keluarga yang bermasalah,” kata Ramli.

Kendaraan berlalu-lalang dan klakson sesekali berbunyi. Seorang mahasiswa dengan tas di punggung nampak berjalan di trotoar. Mungkin sehabis mengerjakan tugas dari rumah kawannya. Angin bertiup tambah semilir, dan udara mulai terasa agak dingin.

“Aku berkawan dengan Sadi. Aku tidak tahu ia baru ditolak cintanya oleh Rini. Katanya hampir seharian mereka di atas mobil Sadi. Entah tujuan ke mana. Ketika Rini menanyakan mau ke mana, Sadi mengecup bibir Rini. Rini mengelak. Membentak, minta mobil berhenti. Berpisahlah mereka dengan cara yang tak baik. Ah, Sadi. Belum juga jadian, sudah main cium saja. Terlalu pede orangnya, menurutku,” kata Syaf.

“Dengan Sadi itulah lantas kau dekat. Juga dengan Supri dan Riko. Mereka berandal semua. Orang-orang ‘gila’,” kata Ramli, lantas menyesap soft drink-nya.

“Aku tidak tahu Sadi orangnya begitu,” kata Syaf. “Sehabis cintanya ditolak Rini, ia jadi beringas. Setiap malam aku, Supri, dan Riko diajak keliling Kota B. Mencari perempuan-perempuan kesepian. Kadang bersama pelacur-pelacur menghabiskan malam dengan vodka. Aku tahu belakangan, sehabis dari kota B, sementara aku pulang ke kosan. Mereka juga mengisap ganja di kosan Supri. Tapi sumpah, aku tak pernah bersetubuh dengan perempuan kesepian, apalagi pelacur,” kata Syaf sambil mengangkat dua jari tangan kanannya. “Pernah suatu malam Sadi mengajak kami ke Kota G untuk mengunjungi sebuah tempat wisata. Bertemu dengan beberapa perempuan malam di sana. Menyewa kamar. Aku tidak ikut masuk dan menginap malam itu. Aku kembali ke Kota JT, naik bus. Melihat mereka–Sadi, Supri, dan Riko–dengan tiga orang perempuan malam aku jadi tahu mereka sudah terbiasa dengan hal itu. Ketika suatu ketika aku datang ke kosan Sadi, di kamarnya, banyak koleksi fotonya sedang berciuman dan berpelukan tanpa baju dan celana dengan perempuan yang berbeda-beda. Semua ia pajang di dinding.”

“Itu kan,” kata Ramli. Ia layangkan pandang ke sebuah lampu merkuri di pinggir jalan. Di bukit-bukit nampak lampu-lampu berwarna orange. Kendaraan yang lewat tambah ramai, silih berganti. “Kau cuti kuliah. Kami dengar kau hanya di kosan, membaca novel-novel sastra demi mengisi waktu. Saat kau kembali ke kampus, kau jadi penyair dan terkenal,” lanjut Ramli. “Pada Semester VI biasanya kau ngobrol dengan kami di bawah kanopi sehabis kelas, dan bareng mengerjakan tugas. Tapi tidak lagi karena terlalu asyik dan pacaran dengan Sonia.”

“Ah,” Syaf menghembuskan napas. Ia mengeluarkan sebatang rokok lagi dan menyedot soft drink-nya. “Aku salah pilih. Tak seharusnya kuterima cintanya. Dia begitu gigih, setiap pagi menungguku di kampus. Menatapku terus, mengajak mata bertemu mata. Sering ia melenggak-lenggok di depanku ketika aku sedang duduk sendiri. Setiap puisi yang kutulis dan dimuat di majalah kampus dan blog, ia peragakan lewat pakaian dan gerak tubuhnya seperti pemain teater. Kata pepatah, dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Akhirnya kami jadian. Dalam pacaran sebenarnya aku banyak pasif, dia terus yang mengajakku makan bareng dan jalan. Sampai akhirnya aku membentaknya dan besoknya tersiar kabar di kampus kalau ia patah hati. Tersiar juga aku telah memerkosa hatinya, padahal sebenarnya hanya ingin menguras uangnya. Semua orang tahu, aku mahasiswa kere. Datanglah tatapan-tatapan kebencian dari kawan-kawan Sonia kepadaku.”

“Bersamaan dengan itu Helena kan juga putus dengan Yogi.” kata Ramli. “Mengapa kau tak langsung jadian dengannya?

“Helena membuka hatinya padaku. Kami lama saling pandang. Tapi ketika kulihat ia sudah berantakan. Orang-orang mengatakan, Helen sudah kayak pecun,” kata Syaf.

“Ya, aku dengar juga bisik-bisik begitu. Apakah Syaf meniduri Sonia? Di mana Syaf membuang spermanya? Pakai pengamankah? Atau Syaf lari ke tempat pelacuran? Nyatanya Sonia tidak hamil. Lantas, Sonia sendiri yang akhirnya memutarbalikkan fakta, mengatakan ke orang-orang kau yang tergila-gila dengannya. Sudah sejak semula, sebelum jadian, kaulah yang terus mengejarnya. Nama baikmu dia buat hancur sehancur-hancurnya,” kata Ramli.

“Aku menenggelamkan diriku ke sastra. Sibuk membaca buku sastra dan menulis puisi hingga akhirnya lupa akan kuliahku.”

“Kau kemudian hilang selera. Ketika Dedi menawarkanmu beberapa cewek di kampus kita, kau tak juga memilih. Mengapa pula kau tak juga jadian dengan Helen waktu itu?” tanya Ramli.

Betapa iba Syaf dulu melihat keadaan Helen setelah putus dari Yogi. Terenyuh. Helen seperti orang yang jatuh miskin. Ketika orang-orang mengatakan, Helena sudah kayak pecun, hati Syaf begitu pilu mendengarkannya–tulang-belulangnya jadi gigil.

                                   *

“Tapi semua sudah berlalu kan Syaf. Sudah lima tahun lalu. Kau meninggalkan kuliahmu. Dan Helena, kau harus tahu, ia berhasil bangkit. Karirnya bagus di perusahaan sekarang.”

“Aku tidak ingin tahu sebenarnya. Tapi aku takut jadi laki-laki yang menyesal seumur hidup karena sudah dua kali Helen membuka hatinya untukku. Aku tidak juga merimanya. Dulu aku berbohong kepada hatiku sendiri,” kata Syaf.

Sesaat mereka sama-sama terdiam.

“Sudahkah dia menikah?” tanya Syaf tiba-tiba, sembari menatatap wajah Ramli. Hatinya berharap dan sungguh penasaran. Bibir Syaf sedikit bergetar mengucapkan pertanyaan itu. Ada rasa terdalam yang tak terungkapkan.

“Sudah. Helen tinggal di Jakarta. Suaminya pns.”

                                    *

Mereka bertemu di medsos. Sehabis menghilang dari kampus, tidak ada lagi kontak kawan-kawan seangkatan dengan Syaf. Syaf tak bisa lagi dihubungi. Baru bertahun-tahun kemudian, Ramli bertemu akun medsos Syaf. Mereka pun berteman dan bertukar no. WA. Ramli sudah jadi wartawan–sesuai jurusannya sewaktu kuliah–bekerja di sebuah media online di Kota Bandung. Ramli mengira selama ini Syaf pulang kampung. Tak kan kembali lagi ke Jawa selamanya. Ternyata Syaf di Jakarta, bekerja di usaha konveksi Mamak-nya (Paman).

Lewat sebuah pesan WA mereka janjian bertemu di Kota JT, di kedai tempat dulu mereka sering duduk sore sehabis kuliah, bercerita, dan kadang curhat juga.

Syaf memandang sebuah mesin ATM dekat minimarket. Di hatinya, ada rasa tersendiri dengan kota ini. Rasa yang memanggil-manggil untuk berlama-lama tinggal. Juga kampus, yang tak jauh dari kedai, terbayang atap-atapnya oleh Syaf dari tempatnya duduk.

“Lantas, apa rencanamu Syaf,” kata Ramli.

“Aku sudah mengumpulkan puisi-puisiku yang pernah termuat di media. Ada penerbit yang tertarik. Kalau jadi terbit, itulah buku pertamaku.”

_______________________

Yulputra Noprizal. Lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Tinggal di Air Haji, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat.

Cerpen

Yang Belum Sempat Terucap

Cerpen Nadise Putri Raina Anya Ariella Nasywa

Ada banyak cara orang membentuk seorang anak. Ada yang memilih kelembutan, ada yang memakai kesabaran, dan ada yang mempercayai bahwa disiplin hanya mungkin tumbuh dari suara tinggi, cubitan, atau pukulan ringan yang “tidak apa-apa, nanti juga lupa”.

Dan entah kenapa, dari tiga anak perempuan di rumah ini, akulah yang mendapat bagian paling keras dari cara didik itu. Bukan berarti aku tidak disayang.

Justru karena disayang, katanya.

Kalimat itu dulu sering kudengar—kalimat pembenar yang seolah-olah membuat semua bentakan terasa lebih masuk akal.

***

Namaku… ah, tidak penting.

Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kami semua perempuan—tiga kepala berbeda yang tumbuh dalam rumah yang sama, tapi rasanya seperti mendapat versi yang berbeda-beda dari ayah dan mama.

Aku tidak bisa bilang kakak dan adikku penurut, karena mereka juga punya keras kepala masing-masing. Tapi mereka selalu terlihat “lebih mudah dipahami”. Lebih bisa duduk manis, lebih cepat berhenti ketika dimarahi, lebih jarang membuat orang tua geleng-geleng kepala.

Sementara aku…

Aku ini kata orang-orang, “anak yang susah diam”.

Mulutku bergerak lebih cepat dari pada otak. Emosiku melonjak lebih tinggi daripada batas yang dianggap wajar. Aku membantah, aku bertanya, aku tidak langsung mengikuti apa yang dianggap benar. Dan dalam rumah yang menganut pola asuh keras, sikap seperti itu dianggap nakal.

Aku ingat sekali: cubitan di lengan kiri, pukulan ringan di paha, ditarik masuk kamar, atau diminta berdiri diam di depan pintu sambil menggigit bibir karena menahan tangis. Yang menyakitkan bukan rasa perihnya, tapi cara semua itu membuatku merasa salah tanpa tahu salahku di mana.

Kalau aku mencoba menjelaskan, aku dianggap membela diri. Kalau aku diam, aku dianggap mengabaikan. Kalau aku menangis, aku dianggap drama. Tidak ada posisi yang aman.

Sampai akhirnya aku belajar bahwa lebih mudah menelan semuanya. Lebih aman menyimpan kata dalam dada. Lebih tidak melelahkan untuk tidak berkata apa-apa. Dan tanpa kusadari, itu menjadi pola yang bertahan sampai sekarang.

***

Tuhan tidak pernah memberi ujian tanpa memberi pereda. Dalam rumah ini, penyeimbangku adalah dua orang: nenek dan tante bungsu—adik mamaku.

Kalau aku sedang dimarahi, merekalah yang paling dulu masuk kamar. Nenek duduk di sampingku sambil mengelus punggungku. Tante bungsu—wajahnya masih belia waktu itu—selalu membelaku dengan keberanian yang tak kumiliki.

“Udah, jangan pukul dia terus. Dia capek,” begitu kata tantenku sekali waktu, suaranya gemetar tapi tegas.

“Uni, nanti dia bukannya belajar malah makin takut,” katanya lagi di kesempatan lain.

Mereka tidak banyak bicara, tapi keberadaan mereka mengajarkanku bahwa ada dunia lain yang lebih lembut daripada tempat aku biasa berdiri. Mungkin itu sebabnya aku bisa tumbuh dan tetap percaya bahwa kasih sayang itu ada, walau bentuknya tidak selalu ramah.

***

Walaupun begitu, luka kecil masa kecil itu tetap tinggal bersama. Bahkan setelah kami bertiga tumbuh menjadi perempuan yang bisa mengurus diri sendiri, dampak dari didikan yang keras itu masih menempel pada diriku—lebih kuat daripada pada kedua saudaraku.

Kakakku tumbuh dengan cara bicara yang tegas, tapi ia tidak pernah takut menjelaskan diri. Adikku sering marah, tapi ia selalu bisa mengungkapkan apa yang ia rasa tanpa menunggu semuanya membludak.

Hanya aku yang selalu menahan. Hanya aku yang memilih diam. Hanya aku yang takut salah bicara meski sudah dewasa. Aku cerewet dengan teman, tapi paling pendiam di rumah. Aku bisa tertawa sekeras-kerasnya di luar, tapi di rumah suaraku nyaris setipis kertas.

Kadang aku ingin cerita tentang lelahku, tentang sakitku, tentang sesuatu yang mengganjal… tapi setiap kali membuka bibir, ada bayangan masa kecil yang menarikku mundur.

“Apa pun yang kamu bilang, kamu bakal salah lagi.” Suara itu masih ada.

Masih hidup di kepalaku. Masih memengaruhi caraku bernafas.

***

Puncaknya terjadi pada suatu sore yang tampak biasa-biasa saja. Aku baru pulang dalam keadaan capek, mumet, dan ingin istirahat sebentar. Mama memanggilku, menanyakan sesuatu yang sebenarnya tidak besar. Tapi nada suaranya naik sedikit, mungkin karena ia juga lelah.

Aku menjawab dengan nada yang kupikir masih normal—tapi ternyata terdengar keras di telinganya.

“Kamu itu kalau dibilangin jangan ngegas!” katanya.

Aku langsung terdiam. Rasanya seperti ditarik kembali ke masa kecil. Semua cubitan, bentakan, dan teguran lama itu tiba-tiba muncul di belakang mata. Aku mencoba menjelaskan bahwa aku tidak marah. Bahwa aku hanya capek. Bahwa suaraku memang begini ketika lelah. Tapi kata-kata itu hanya sampai di tenggorokan.

Yang keluar hanya, “Iya, Ma.”

Dan itu membuat semuanya semakin salah. Mama menghela napas panjang. Suasana jadi dingin, kakakku menoleh dan adikku berhenti mengetik di ponsel. Aku merasa menjadi sorotan tanpa ingin disorot. Aku merasa kembali menjadi anak kecil yang selalu terlihat paling salah. Akhirnya aku masuk kamar tanpa berkata apa pun. Tidak menutup pintu keras-keras, tidak menangis keras-keras. Hanya duduk di lantai, memeluk diriku sendiri.

“Aku sayang kalian… tapi kenapa rasanya selalu susah jadi diriku sendiri di rumah?”

Aku bertanya dalam hati. Tidak ada jawaban, tentu saja. Aku menunduk dan entah kapan tertidur—mungkin karena kelelahan emosi.

***

Sore itu, semuanya tiba-tiba berubah. Rumah terasa lebih hangat, lebih pelan, lebih lembut. Seolah-olah waktu berdiri diam untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Mama datang menghampiri. Ayah duduk di sebelahku dengan wajah yang tidak menghakimi. Kakak dan adikku berdiri di belakang mereka, menatapku dengan mata yang benar-benar ingin mengerti. Bahkan nenek dan tante bungsu—dua orang yang selalu menenangkanku juga berada di sana.

Entah bagaimana, aku merasa aman. Aman dengan cara yang tidak pernah bisa kujelaskan. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun… aku bicara.

Aku ceritakan semuanya—tentang masa kecil yang keras, tentang bentak-bentak yang membentuk ketakutan, tentang cubitan yang membuatku belajar menyembunyikan suara. Tentang bagaimana aku selalu merasa salah sebelum sempat membuka mulut.

Aku bilang bahwa aku tidak marah pada siapa pun. Aku hanya takut. Takut membuat kecewa. Takut salah bicara. Takut dianggap melawan, meski aku hanya ingin menjelaskan.

Mama memelukku sambil menangis. Papa menepuk punggungku lama-lama. Kakakku menahan air mata, menggenggam tanganku. Adikku menyandarkan kepala di bahuku. Nenek mengusap rambutku. Tante bungsu tersenyum lembut seperti dulu.

Tidak ada bentakan. Tidak ada salah paham. Tidak ada jarak. Untuk pertama kalinya, rumah itu terasa seperti tempat yang bisa kutinggali tanpa harus mengecilkan diriku. Aku merasa lega, ringan, dan bebas—seolah beban bertahun-tahun itu akhirnya jatuh juga dari dadaku. Semuanya terasa begitu nyata. Begitu mungkin. Begitu… tepat.

Hingga aku membuka mata.

***

Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Suara mama dari dapur. Ayah bersiap. Kakak mengikat rambut. Adikku tetap sibuk dengan ponselnya. Ruang yang semalam terasa penuh, pagi itu kembali biasa saja.

Tidak ada pelukan. Tidak ada percakapan hati ke-hati. Tidak ada mata yang berkaca-kaca. Hanya aku, duduk di kasur dengan jantung yang masih membawa hangat dari sesuatu yang… ternyata tidak pernah terjadi.

Semua yang semalam itu—pelukan, pemahaman, keberanian yang berhasil kutemukan—tidak lebih dari sebuah mimpi.

Mimpi yang terasa terlalu nyata. Terlalu diinginkan. Terlalu mirip dengan apa yang sejak kecil ingin sekali kubicarakan. Dan anehnya, meski itu hanya mimpi…aku bangun tanpa kesedihan. Ada sesuatu yang terbuka sedikit dalam diriku. Ada ruang kecil yang tiba-tiba menemukan cahaya.

Mungkin karena mimpi itu, aku akhirnya tahu bahwa suatu hari nanti—entah kapan—aku bisa benar-benar berkata. Bukan karena dipaksa, bukan karena meledak, tapi karena aku ingin dimengerti.

Mungkin tidak sekarang. Mungkin tidak besok.

Tapi aku tahu, aku tidak akan selamanya diam. Dan ketika hari itu datang, saat aku benar-benar berani bicara, mimpi itu tidak akan lagi hanya mimpi.

__________________________

Nadise Putri Raina Anya Ariella Nasywa. Penyuka Cerpen

Cerpen

Stoples Kejujuran

Cerpen Pelajar Aliya

Sebuah lemari tua berdiri kokoh di hadapanku. Tanganku mengambil salah satu buku dari deretan buku yang memenuhi lemari itu. Buku itu terlihat baru dan tidak berdebu. Sampulnya tebal berwarna merah terang.

Kubawa buku itu ke sofa yang ada di pojok ruangan. Lembar demi lembar kubuka, gambar anak-anak seperti di sebuah negeri dongeng menghiasi tiap halaman, anehnya tak ada tulisan satu pun dalam tiap halamannya. Tetapi gambar itu sangat menarik perhatianku.

Sejurus kemudian, pundakku ditepuk seseorang. Seorang anak perempuan seusiaku sekitar 10 tahun, berwajah manis dengan rambut dikepang dua. Ia tersenyum menatapku dan memperkenalkan dirinya. Namanya Shelly.

Tak lama kami berkenalan, Shelly mengajakku ke luar perpustakaan tua ini. Seketika sekelilingku tampak berbeda. Sebuah tempar yang begitu mirip dengan yang kulihat di sebuah buku cerita tadi.

Matahari terasa hangat menerpa wajahku, udara begitu segar, bunga beraneka warna bermekaran, dan pohon-pohon dipenuhi buah buahan segar dan ranum.

Di halaman penuh anak-anak tertawa riang berkejaran, bermain lompat tali, ayunan, trampolin, dan seluncuran. Ada juga yang sedang melukis, bernyanyi dan menari. Beberapa anak bermain sepatu roda sambil berpegangan tangan satu dengan lainnya, bermain bola, skate board, sepeda, dan banyak lagi. Tak satu pun orang dewasa terlihat. Tempat tersebut seperti hanya diperuntukkan bagi anak-anak.

“Kayla-Kayla.” Shelly mengguncang pelan tubuhku yang masih terpaku penuh ketakjuban.

“Di sini anak-anak boleh bermain dan makan dengan bebas, namun kita tetap belajar dan sekolah.”

“Wow, enak sekali,” pekikku riang. “Tapi apakah kita sekolah dengan tugas PR yang banyak?” tanyaku dengan wajah sedikit khawatir. Sebuah pertanyaan yang muncul dalam benakku ketika mendengar kata belajar.

Shelly tertawa, “Yang pasti di sini tidak ada tugas dan PR yang membuatmu tidak bisa menikmati dunia anak-anak. Bahkan kamu bebas mengekspresikan hobi dan bakatmu, tanpa ada yang menilaimu jelek. Setiap usaha yang baik diapresiasi oleh kawan-kawanmu di sini. Mereka juga akan saling membantu.”

“Nah di sana, di ujung jalan ada anak-anak yang antri mengambil es krim. Dan ada beberapa tempat lainnya, mereka bisa mengambil makanan, minuman, atau kebutuhan anak-anak. Namun semuanya itu ada aturan,” lanjut Shelly.

“Oh, hanya itu saja?”

“Tentu tidak, anak-anak harus berkata dan bersikap jujur!” jawab Shelly dengan nada tegas.

“Kalau kita berbohong, apa yang akan terjadi?”

“Semua anak akan dipulangkan ke rumahnya,” jawabnya sambil membelalakkan mata dan berkata pelan namun cukup terdengar tegas di telingaku. Aku hanya tersenyum tipis dan kecut. Terdengar seperti sebuah ancaman serius.

Setelah itu aku menebar pandangan, seketika mataku tertuju pada sebuah stoples penuh permen yang terletak di meja-meja taman. Permen-permen itu nampak indah bermacam-macam dengan warna dan bentuk menarik. Aku melangkah mendekati stoples permen di meja itu. Tiba-tiba Shelly menarik tanganku.

“Jangan kamu memakan permen itu, Kayla!” sentak Shelly.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kalau ada yang memakan satu permen saja dari stoples itu, maka dunia ini akan lenyap dan semua anak yang berada di sini akan dipulangkan ke rumah mereka,” Shelly melanjutkan.

“Kamu harus cobain es krim di sini saja, beda banget sama di dunia kita,” ujar Shelly mencairkan suasana.

Tetapi aku masih memikirkan permen dan juga ancamannya yang cukup serius itu.

***

Kujilat es krim rasa stroberi yang ada di tanganku. Rasanya sangat berbeda. Lezat sekali, belum pernah kurasakan sebelumnya.

Shelly berkata, “Es krim ini dari buah stroberi asli. Di sini anak-anak tidak ada yang sakit, jadi kamu bebas makan apa saja. Oh iya, aku main dulu ya di taman. Mau ikut?”

Kepalaku menggeleng. Aku sedang tidak ingin bermain.

“Oke tidak apa-apa. Dadah,” kata Shelly sambil melambaikan tangannya.

Mataku kembali tertuju pada stoples permen. Aku tergoda oleh kilauan permen-permen yang di dalam stoples itu. Ah, kalau kumakan satu permen saja mungkin tak ada satu pun yang menyadarinya. Akan tetapi semua anak akan dikembalikan ke rumahnya. Padahal dunia ini adalah dunia impianku dan anak-anak lainnya.

Sekeras mungkin kutepiskan keinginan untuk memakan permen itu. Tetapi pikiranku belum beralih dari stoples permen itu. Ingin aku mencicipinya. Perlahan-lahan kudekati stoples itu. Aku melihat sekeliling rasanya tidak ada yang melihatku. Tanganku menggapainya. Segera kubuka tutupnya dan cepat-cepat kuambil satu, kumasukan ke mulut. Ternyata rasanya lezat. Seperti belum merasa puas, aku ingin mengambil permen lain yang ukurannya lebih besar. Namun suara seseorang menghentikanku.

“Hei, siapa kamu? Beraninya memakan permen itu!” teriak seorang anak.

Karena panik, stoples itu terjatuh dari tanganku. Seketika langit gelap. Wajahku berubah pucat, tubuhku gemetar, aku lari menjauhi meja taman itu, bersembunyi di balik pohon. Kulihat sekarang, semua anak menatap langit gelap dengan muka cemas.

Sejurus kemudian Shelly menghampiriku.

“Kamu yang mengambil permen itu?” tanya Shelly lembut.

“Aku tidak mengambil permen itu,” kataku dengan nada parau. 

Burung gagak berterbangan di atas kepalaku. Suaranya beradu dengan kegalauan di dadaku.

“Kamu tidak jujur, dunia ini sebentar lagi akan lenyap dan semua kembali ke dunia asal!” Shelly berteriak.


“Maafkan atas kebodohanku, aku berjanji akan selalu jujur dan dapat mengendalikan diri.” kataku dalam rasa sesal.

“Semua sudah terlambat,” kata salah satu anak dengan nada sedih.

Seketika muncul lubang putih. Lubang itu adalah jalan menuju dunia asal kami. Semua anak langsung melompat ke lubang putih itu. Aku pun menyusul. Lubang itu seperti spiral berputar dengan cahaya yang menyilaukan mata.

“Hei Nak, bangunlah” kata seorang ibu penjaga perpustakaan sambil tersenyum ramah.

“Perpustakaan ini mau tutup, nampaknya kamu tidur lelap sekali,” lanjutnya.

Kepalaku sedikit pusing dan mataku terasa berat sambil mencoba memperhatikan sekelilingku. Kucubit tanganku, terasa sakit. Mungkin tadi hanya mimpi. Nyatanya aku masih duduk di sofa di dalam perpustakaan tua ini.

Pikiranku mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Tetapi rasa menyesal terus menghantuiku. Aku telah menghancurkan dunia impian anak-anak. Andai tadi aku bisa menahan diri tidak mencuri permen itu. Aku ingin kembali ke dunia impian anak-anak yang penuh kegembiraan dan kasih sayang dimana kejujuran dijunjung tinggi. Perlahan kututup buku tanpa tulisan ini. Namun setelah beberapa langkah aku hendak keluar dari perpustakaan ini, terdengar suara dari ibu penjaga perpustakaan.

“Hei, Nak. Ini untukmu!”

Aku mendekati ibu penjaga yang menyodorkan stoples permen untukku. Mataku terbelalak. Stoples permen yang sama dalam mimpiku barusan.

“Te .. te … rimakasih, Bu,” jawabku gemetar sambil menerima stoples itu.

Ibu itu tesrsenyum lalu menggeleng. “Jangan panggil aku Ibu, panggil saja Shelly.”

Kali ini aku tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutanku. Mulutku terkunci rapat.

“Berbuat jujur itu sulit, tetapi akan ada hadiah besar di dalamnya,” ucap Shelly setelah sesaat kemudian pergi meninggalkan aku yang masih berdiri tegak dan membeku. []

____________________

Aliya. Siswa kelas 5 SD Jakarta Islamic School, berusia 10 tahun. Suka menulis, membaca, dan membuat prakarya.

Cerpen

Sebuah Kota, Dua Kiblat

Cerpen Khairul A. El Maliky

ANGIN pagi turun dari langit seperti ayat yang jatuh perlahan ke halaman keraton. Ia berdesir melewati tiang-tiang kuno, menyusup ke sela pintu Regol Brojonolo, dan akhirnya berbaring di atas batu-batu lantai yang dingin. Batu-batu itu, yang telah memikul langkah ratusan tahun manusia, menggumamkan sesuatu yang lirih—gumam yang hanya bisa didengar oleh hati-hati yang tak terhijab oleh ambisi.

Di bawah cahaya yang lembut itu berdirilah Raden Mas Jagaswara, seorang abdi dalem muda dengan wajah tenang yang penuh kesunyian—kesunyian yang tak disadarinya sebagai hadiah dari langit. Setiap langkahnya selalu terasa seperti zikir pendek yang tidak pernah selesai. Ia bekerja, ia merapikan tombak, ia menunduk hormat pada yang lebih tua, dan semuanya selalu dilakukan dengan hati yang seperti sumur jernih: tidak ramai, tapi dalam.

Di sisi lain keraton, di barat yang lebih ramai, terdapat Raden Mas Suryengpati—pemuda dengan mata yang menyala dan dada penuh bara. Ia lebih mudah gelisah, lebih mudah bicara, dan lebih mudah marah. Ia mencari kebenaran seperti orang mencari pintu yang terus berubah tempat. Kadang ia menemukannya, kadang ia tersesat di lorong-lorong pikirannya sendiri.

Mereka berdua seperti dua ayat yang ditulis dalam satu lembar kitab kehidupan, namun dibacakan oleh dua suara yang berbeda. Jagaswara seperti ayat yang dibaca dalam bisikan malam, sedang Suryengpati seperti ayat yang dilantunkan lantang dalam majelis yang penuh semangat. Keduanya menuju Tuhan, tetapi lewat jalan yang tak sama.

***

Pagi itu, ketika kabar penobatan tiba-tiba menyeruak seperti gelegar petir di atas langit cerah, kedua pemuda itu seperti dilempar ke dalam pusaran yang bukan pilihan mereka. Keraton mendadak ribut. Pintu-pintu bergetar, langkah-langkah manusia berubah menjadi dentang, dan udara menjadi berat oleh kata-kata yang dibisikkan dengan nada seperti angin panas dari bukit batu.

Jagaswara menunduk mendengar kabar itu. Ia merasakan ada getaran aneh, seperti tanah yang bernafas terlalu cepat. Ia tidak tahu apakah yang terasa di dadanya itu kecemasan atau tanda dari Yang Maha Halus. Sementara Suryengpati, yang mendengar kabar serupa di bangsal barat, mengepalkan tangan seperti ingin menangkap angin yang lari dari genggamannya.

“Ini bukan jalan yang benar,” gumamnya, separuh kepada dirinya sendiri, separuh kepada keraton yang seakan mendengarkan dari balik dinding.

Keraton, tempat segala kisah putih dan hitam lahir, tiba-tiba tampak seperti tubuh tua yang dipaksa berdiri oleh dua tangan yang saling menarik. Jagaswara merasakan kesakitan keraton itu seperti kesakitan dirinya sendiri. Suryengpati merasakan luka itu seperti luka yang ditato di dadanya. Tetapi keduanya tidak tahu bagaimana mengobatinya.

Ketika pintu Sasana Handrawina didobrak oleh kelompok penolak penobatan sepihak, dunia keraton seperti pecah menjadi dua: suara keras dan doa lirih, teriakan dan zikir yang saling mendesak, pisau kata-kata dan kelembutan yang tersingkir. Jagaswara berdiri di tengah ruangan, dan dalam kekacauan itu ia melihat wajah Suryengpati dari celah kerumunan. Keduanya saling menatap—tatapan yang dulu ramah berisi tawa dan harapan—kini menjadi tatapan dua manusia yang sedang mencari jalan pulang dalam badai.

Dalam tatapan itu ada tanda yang tidak sempat mereka baca: bahwa yang sedang mereka hadapi bukan hanya perebutan takhta, melainkan perebutan makna, perebutan cahaya, perebutan siapa di antara manusia yang lebih dulu mampu mendengar suara sunyi Tuhan.

Ketika keraton kembali tenang pada malamnya, Jagaswara duduk sendirian di bawah pohon sawo kecik. Pohon itu telah tumbuh lebih lama dari usia siapa pun di keraton. Daunnya jatuh satu demi satu, seperti kalimat yang ditulis oleh tangan ghaib.

“Dalam setiap perebutan, siapa yang sebenarnya ingin menang?” tanya Jagaswara dalam hati.

Angin menjawab tanpa suara.

Kadang jawabannya adalah: ego.

Kadang: takut.

Kadang: ingin dihormati.

Kadang: semua itu bercampur menjadi satu kabut yang menutupi wajah jati diri.

Di tempat lain, Suryengpati menulis doa yang ia sebut sebagai surat. Ia menuliskannya bukan untuk manusia, melainkan untuk Tuhan yang dalam pikirannya selalu hadir seperti cahaya samar di balik tabir tipis.

“Ya Allah,” tulisnya,

“beri aku mata yang bisa melihat benar tanpa membenci, beri aku telinga yang bisa mendengar tanpa mencurigai, dan beri aku hati yang bisa mencintai meski dunia di sekelilingku berubah menjadi medan perang.”

Surat itu tidak pernah dikirimkan kepada siapa pun. Tapi ketika ia meletakkannya di bawah bantal, ia merasa seolah cahaya kecil menyelinap ke dadanya. Cahaya yang sangat lembut, hampir tidak terasa, namun cukup untuk membuatnya tidak merasa sendirian.

***

Hari-hari berikutnya keraton terbelah seperti tubuh yang dipotong dua. Dua panji berbeda berkibar di dua halaman. Dua nama pangeran disebut dalam dua ritual berbeda. Dua doa dipanjatkan menuju langit yang sama, namun dari hati yang tak lagi sejalan.

Jagaswara melangkah dalam tugasnya, tetapi langkah-langkah itu terasa seperti menapaki duri. Suryengpati mengatur berkas-berkas pusaka, tetapi setiap kali menyentuh sebilah keris, ia merasa seperti menyentuh sejarah panjang manusia yang pernah saling menyakiti.

Ketika keduanya bertemu diam-diam di taman Sumber Bening, taman itu seperti berubah menjadi ruang semadi yang diciptakan untuk dua jiwa yang sedang mencari Tuhan dalam gelapnya konflik.

“Aku ingin damai, Jagaswara,” kata Suryengpati lirih, suaranya seperti air yang jatuh ke tanah kering.

“Aku juga,” jawab Jagaswara. “Tapi kita hidup di zaman ketika damai adalah barang yang disimpan terlalu tinggi untuk dijangkau.”

Suryengpati menatap air kolam. Permukaannya memantulkan langit yang kusut.

“Kita ini siapa, Jagaswara? Apa kita bagian dari kebisingan atau bagian dari doa?”

Jagaswara memejam.

“Kita hanya dua hamba yang sedang belajar mengenali bayangan di dalam diri.”

Bayangan—itulah kata yang paling tepat. Karena pada akhirnya, perang apa pun yang terjadi di dunia ini selalu bermula dari perang yang lebih kecil: perang dalam dada manusia.

Perang antara cahaya dan gelap.

Antara kerendahan hati dan keangkuhan.

Antara ingin benar dan merasa benar.

Pada suatu pagi yang berbeda, dua kubu bertemu di Regol Tengah. Ketegangan seperti ombak besar yang hendak pecah di pantai. Jagaswara dan Suryengpati berada di dua sisi yang berseberangan. Keduanya saling memanggil nama, bukan sebagai lawan, tetapi sebagai sesama manusia yang takut melihat keraton berubah menjadi ladang luka.

“Kembalilah, Suryengpati,” kata Jagaswara. Suaranya seperti doa yang tercecer.

“Kau yang kembali,” balas Suryengpati. “Keraton ini bukan milik satu suara.”

“Karena itu aku berdiri di sini,” jawab Jagaswara dengan mata berkaca.

“Agar keraton tidak jatuh ke tangan siapa pun yang memaksakan kehendak.”

Namun kata-kata manusia sering tidak cukup kuat melawan arus yang diciptakan oleh orang-orang yang lebih berkuasa dari mereka.

Ketika suara lonceng keraton menggetarkan udara, semua orang terhenti seperti patung. Kabar datang bahwa suksesi harus dihentikan sementara. Seperti tangan Tuhan turun dari langit, meredakan gelombang yang hampir membelah bumi.

Keributan mereda.

Keraton menarik napas panjang.

Orang-orang pulang dengan hati yang belum utuh, tapi sedikit lebih tenang.

***

Pada malam itu, Jagaswara dan Suryengpati duduk berdua di bangsal tua. Di hadapan mereka, pohon sawo kecik berdiri seperti guru sufi yang tak pernah mengucapkan sepatah kata pun, namun mengajarkan ribuan makna.

Jagaswara berkata pelan,

“Kita hampir kehilangan sesuatu yang lebih besar dari takhta.”

“Apa itu?” tanya Suryengpati.

“Kemampuan untuk melihat wajah Allah dalam wajah saudara kita sendiri.”

Suryengpati menunduk, dan air mata jatuh tanpa suara.

“Aku takut, Jagaswara,” bisiknya. “Aku takut menjadi manusia yang kehilangan Tuhan karena terlalu sibuk membela apa yang menurutku benar.”

Jagaswara menepuk pundaknya.

“Selama kau takut kehilangan Tuhan, kau tidak akan kehilangan-Nya.”

Dalam keheningan malam yang panjang itu, mereka akhirnya mengerti:

bahwa keraton bukan pusat segala kemuliaan.

Yang mulia adalah hati manusia yang mampu menunduk meski sedang diseret oleh badai.

Mereka pulang ke rumah masing-masing sebagai dua pemuda yang membawa cahaya kecil di dada. Cahaya yang tidak berasal dari kemenangan politik, bukan dari siapa naik takhta, tapi dari kesadaran bahwa manusia tidak diciptakan untuk menang—manusia diciptakan untuk pulang.

Dan ketika angin kembali bertiup melewati Regol Brojonolo, ia membawa pesan yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang hatinya jernih:

Bahwa setiap perang di dunia ini hanyalah cermin dari perang yang lebih tua—perang antara ego dan ketundukan.

Dan siapa yang menang bukanlah yang menguasai takhta, tetapi yang berhasil menundukkan dirinya kepada Tuhan.[]

Probolinggo, November 2025

____________________

Khairul A. El Maliky. Penulis novel. Lahir dan besar di Probolinggo, 5 Oktober 1986. Bukunya yang telah terbit antara lain: Akad, Pintu Tauhid, Kalam Kalam Cinta, Sweet Girl, Beda Tapi Cinta, Gus Dur dan Tuhan pun Tertawa, Dagelan Para Koruptor, Munajat Sesayat Rindu, Risalah Cinta, dan Metamorfosa (MNC Publishing, Malang). Selain novel, penulis juga menulis cerpen. 

Cerpen

Mengakali Agama

Cerpen Yulita Putri

Begitu perdah itu kusibak, cahaya matahari masuk ke kamar. Aku berdiri di depan cermin, merapikan kemeja putih yang kupilih dengan cermat, berharap bisa terlihat pantas dan meyakinkan. Kuhela napas panjang sambil meraba saku celana. Di sana tersimpan sebuah kotak kecil yang akan menentukan bagaimana nasibku esok. Tak henti-henti kuucap sebuah ayat yang meneguhkanku pada keputusan hari ini

Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau; jangan bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau. Yesaya 41:10

Ya, aku sudah mendengar banyak penolakan yang dialami laki-laki sepertiku. Tetapi biarlah, aku percaya selalu ada pengecualian dari segala hal. Yesus pun sebelum diterima sebagai penyelamat, pernah mengalami penolakan meski yang dibawa pesan cinta kasih.

“Iya,” kujawab ketukan pintu. Ibu mendekat, disusul Ayah. Matanya memandangku seperti saat pertama kali melepasku sekolah. Dahi Ibu berkerut, memperjelas tumpukan garis di wajah. Ia tampak tidak marah, tapi seperti menyimpan beban yang menekan pikirannya.

“Biarkan kami ikut bersamamu, ya,” ujarnya memegang tanganku. Ayah berjalan lebih dekat menyentuh pundakku sembari melempar senyum, seolah mengerti yang aku pikirkan. Matanya meyakinkanku untuk mengiyakan permintaan Ibu. Sebenarnya tidak masalah jika mereka ikut menemani, tapi aku khawatir keadaan tidak seperti yang diharapkan.

“Jika di sana nanti Ayah dan Ibu dibuat kesal, berjanjilah untuk tidak menanggapinya,” jawabku, menatap ke arah mereka.  

Kami berangkat ke tempat tujuan. Meski hanya menempuh waktu satu jam, aku merasa mengendarai mobil selama seminggu. Tak bisa kusembunyikan rasa gugup yang menyelimutiku. Untunglah, semua sirna ketika Fatimah tampak duduk di depan rumahnya. Kami disambut dengan senyum, lalu dipersilahkan untuk masuk.

Lampu hias tergantung kokoh di tengah ruangan. Ada potret kaligrafi cukup besar ditemani tiga lukisan wajah laki-laki berpenutup kepala. Ayah Fatimah membuka keheningan dengan beberapa pertanyaan. Ayah menjawabnya dengan santun. Untuk sementara semua terasa baik-baik saja, sebelum akhirnya berubah menjadi ketegangan.

“Sebelum Mas Don dan sekeluarga datang, Fatimah baru mengatakan kalau ini menyangkut perbedaan keyakinan,” ucap ayah Fatimah mencondongkan tubuhnya. Aku bisa menangkap dadanya naik turun dengan cepat, menunjukkan ia sedang berusaha menahan amarah yang hampir meledak.

“Saya pikir, ini bisa kita bicarakan, Pak Ibrahim. Mungkin Tuhan memang menitipkan cinta pada anak kita, jadi tidak ada yang salah dan benar.”

“Pak, saya tidak bisa main-main soal agama. Ini menyangkut hidup dan mati. Fatimah tidak bisa menikah dengan laki-laki yang tidak seiman.”

Setelah sejak tadi hanya diam melihat apa yang terjadi di hadapannya, Fatimah bersuara.  Wajahnya menyimpan ketenangan . Matanya masih setegas dulu, seperti kali pertama demo di depan kampus. “Kami saling mencintai, Pak. Don laki-laki yang bertanggung jawab.”

“Fatimah, ridho Allah ada di tangan orang tua.” Ibu Fatimah menatapku. “Eling Fatimah, kamu tidak takut dilaknat Allah. Masuk neraka nanti kamu, Ya Allah!”

Apa kamu pikir Tuhan sebrengsek itu. Mengkotak-kotakan manusia lalu bermain-main membuat neraka dan surga! Aku memaki dalam hati.

Kupandangi wajah ayah ibuku yang mulai geram menahan amarah. Aku tahu mereka ingin membalas kalimat itu, tapi urung dilakukan karena janji yang telah kami buat sebelum pergi.

“Saya mencintai putri Bapak. Ini soal hati, Pak, bukan keyakinan,” kataku. “Dan, saya tidak akan membuat Fatimah keluar dari agamanya.”

Dua jam telah berlalu, percakapan tidak menemukan jalan keluar. Hanya kalimat tajam yang makin melukai hati masing-masing. Akhirnya aku putuskan untuk pamit. Mataku dan Fatimah saling beradu. Aku tahu, ia mengirimkan sebuah kata maaf dan semangat untukku. Meski tak terucap, perasaan itu terasa jelas bisa kuterima.

“Apa kamu benar-benar mencintai Fatimah? Tak bisa diganti dengan perempuan lain?” tanya ibu, memandangku dengan penuh kesungguhan. Kutangkap sorot matanya dari kaca spion di atas kepalaku.

“Hanya Fatimah atau tidak sama sekali.”

“Dalam hal apa pun, jika persoalan agama sudah dijadikan alasan, temboknya akan tebal” ujar Ayah.

Aku mengerti yang Ayah maksudkan. Ini sama seperti yang pernah terjadi pada banyak orang yang diusir dari tempat tinggalnya karena berbeda agama atau dilarang beribadah dengan cara persekusi. Agama memang menjauhkan manusia berbuat jahat, tapi juga banyak kejahatan yang dilakukan atas nama agama. Sekilas, muncul kegelisahan dalam pikiranku, mengapa aku dilahirkan berbeda dengan Fatimah. Siapa yang membuat perbedaan dan untuk apa.

“Ayah tak pernah menyangka jalan hidup kita akan sama.”

“Maksud Ayah?”

“Kamu bukan anak bodoh. Pasti kamu sempat punya pertanyaan yang tidak pernah kamu tanyakan pada kami.” Ayah berpaling ke wajah ibu, “Bu, kamu saja yang cerita ke Don,” lanjutnya.

Dari kaca spion aku lihat ibu menengok ke jendela kaca di sampingnya. Senyum kecil tersungging di sudut bibirnya- bukan senyum bahagia, tapi semacam tawa yang tertahan, seperti seseorang yang baru saja mengingat betapa konyol dirinya dulu. Ia melirik ke ayah sebelum akhirnya berucap, “Ayahmu sangat nekat dan gila.”

“Tidak semua orang mau ikhlas melakukannya. Waktu itu, Ayah dan Ibu seperti tak ada rasa takut.” Ayah kembali menimpali.

**

“Apa ini akan berhasil?”

Don tak lekas menjawab pertanyaan Fatimah. Pikirannnya malah terbang mengingat kembali percakapan bersama ayah dan ibunya ketika di mobil malam itu. Orangtuanya tak memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, hatinya tiba-tiba merasa yakin, mereka juga melakukan ini. Ia ingat, ibunya pernah bercerita menikah pada pertengahan tahun 1998. Sementara kini, ia menginjak usia dua puluh tujuh tahun. Don semakin yakin dengan dugaannya. Tak mungkin ada hal lain.

“Kupikir, iya… Sudah ada yang pernah mencobanya,” ucap Don, menarik selimut ke arah tubuhnya. Sejenak timbul keheningan. Hanya suara dari televisi yang dibiarkan berceloteh memenuhi ruangan dengan cahaya redup.

“Sayang, kamu ingin anak laki-laki atau perempuan?” ujar Fatimah mendekat lebih erat ke tubuh Don yang terlentang di sampingnya.

___________________

Yulita Putri. Kontributor di Arina.id. Bergiat di  Savara_org, Pusat Kajian Perempuan Solo dan Gusdurian Solo. Aktif di Surai Sastra Surakarta. Menulis buku bertajuk Menafsir Sastra Anak (2024), beberapa esai dan cerpen tersebar di media online. Instagram: @yulitaaaputri Facebook: Yulita Putri

Cerpen

Lelaki Penggenggam Petir

Cerpen Khairul A. El Maliky

Langit sore itu seperti luka yang belum sembuh. Urat-urat cahaya berkilat di antara awan gelap, seolah petir sedang menulis ayat-ayat rahasia di kanvas langit. Di bawahnya, seorang lelaki muda berjalan perlahan, memeluk tas lusuh di punggungnya — bukan hanya memanggul buku-buku kuliah, tapi juga beban hidup yang terlalu berat untuk bahu semuda itu. Namanya Ahmad.

Ayahnya baru saja meninggal dua minggu lalu. Di rumah petak pinggir sungai yang kini berbau lembap dan anyir, hanya ada ibunya yang renta, dan dua adik kecil yang masih mengenal dunia sebatas buku pelajaran dan mimpi tentang sepatu baru. Ahmad kini menjadi kepala keluarga — bukan karena ia siap, tapi karena nasib telah menunjuknya seperti seseorang yang ditarik paksa ke panggung drama yang tak ingin ia mainkan.

Setiap pagi, Ahmad berangkat kuliah dengan pakaian seadanya. Celananya mulai pudar warnanya, kemejanya menipis seperti harapan yang terlalu sering dicuci dengan kesabaran. Ia menempuh perjalanan panjang ke kampus negeri dengan sepeda tua peninggalan ayahnya — roda depan sedikit oleng, tapi masih bisa berputar seperti jantungnya yang tetap berdetak walau digerus kelelahan.

Di kelas, dosen berbicara tentang ekonomi pembangunan dan teori tenaga kerja. Ironis, pikir Ahmad. Teori yang muluk-muluk itu tak pernah menyentuh tanah tempat kaki rakyat berdiri. Sementara ia, di luar ruang kuliah, sedang mencari pekerjaan serabutan demi menambal kehidupan yang bocor. Kadang ia mengantar paket makanan, kadang menjadi penjaga malam di toko bangunan. Tidur hanya dua atau tiga jam, lalu berangkat kuliah lagi. Di wajahnya, waktu mulai meninggalkan jejak: bukan keriput, tapi bayangan keras kehidupan.

Namun malam itu, petir pertama menyentuhnya.

Hujan turun deras saat Ahmad sedang duduk di halte kampus. Seorang perempuan turun dari mobil sedan hitam, tergesa-gesa, mencari tempat berteduh. Ia mengenakan mantel panjang berwarna krem, dengan aroma parfum lembut yang membuat Ahmad menunduk gugup.

“Mas, boleh duduk di sini?” katanya lembut.

Ahmad mengangguk. Ia tak tahu bahwa pertemuan sederhana di bawah atap bocor itu akan mengubah seluruh lintasan hidupnya.

Perempuan itu bernama Arini. Seorang istri pengusaha besar yang tinggal di kawasan elit kota. Arini bukan hanya cantik, tapi juga menyimpan luka yang tak terlihat. Ia bercerita dengan nada jenuh tentang hidupnya yang gemerlap tapi hampa — tentang suaminya yang sibuk dengan bisnis dan perempuan lain, tentang malam-malam panjang di rumah besar yang sunyi, tentang rindu yang tak punya alamat.

Ahmad mendengarkan dengan sopan, menatap hujan yang menetes dari ujung atap, seperti air mata langit yang malu-malu jatuh.

“Mas kuliah, ya?” tanya Arini.

“Iya, Bu. Jurusan Ekonomi. Tapi… ya, sambil kerja juga.”

“Kerja apa?”

“Apa saja yang halal.”

Arini tersenyum samar. Ada sesuatu di matanya — antara iba dan kekosongan. Ia menatap Ahmad seolah melihat bayangan masa lalunya sendiri, saat ia masih muda dan percaya bahwa hidup bisa diatur oleh cinta.

***

Beberapa hari kemudian, Arini memanggil Ahmad ke rumahnya. Ia menawarkan pekerjaan — menjadi sopir pribadinya.

Sejak hari itu, Ahmad menyetir mobil mewah Arini, mengantarnya ke butik, ke acara sosial, ke tempat spa, bahkan ke gereja tempat Arini sering duduk diam tanpa bicara. Ahmad duduk di depan kemudi, sementara di kaca belakang, wajah Arini terpantul samar — seperti dua dunia yang berjalan beriring tapi tak pernah bersentuhan.

Namun waktu, seperti biasa, selalu punya cara menguji batas manusia. Arini mulai sering berbicara lembut di perjalanan. Kadang menanyakan kehidupan Ahmad, kadang menatapnya terlalu lama lewat cermin depan.

“Mas Ahmad,” katanya suatu sore, “pernah jatuh cinta?”

Ahmad terdiam. “Pernah. Tapi cinta yang miskin cepat habis sebelum sampai ke pelaminan.”

Arini tersenyum getir. “Cinta yang kaya pun kadang mati sebelum sempat dirayakan.”

Kata-kata itu menggantung di udara seperti petir yang menunggu waktu menyambar. Beberapa kali Arini sengaja menyentuh tangan Ahmad saat ia menyerahkan kunci, atau memanggil namanya dengan nada manja. Ahmad selalu menunduk, menahan diri dengan segala tenaga iman yang tersisa. Dalam dirinya ada badai — bukan karena nafsu, tapi karena kesedihan yang berubah menjadi ketegangan moral. Ia tahu, dalam setiap godaan yang datang, ada jurang yang siap menelannya. Namun tak semua lelaki sekuat petir. Ada saat di mana langit pun harus pecah.

Malam itu, hujan turun deras lagi. Arini baru pulang dari pesta ulang tahun temannya. Ahmad membuka payung, tapi Arini menolak. Ia malah memeluk tubuhnya sendiri, menggigil. “Masuk dulu, Ahmad. Basah nanti,” katanya.

Ahmad menolak, tapi Arini menatapnya dalam-dalam, mata yang seperti jurang. “Saya cuma butuh ditemani sebentar,” katanya.

Ahmad ragu. Tapi akhirnya melangkah masuk. Di ruang tamu yang harum dan hangat, Arini duduk di sofa, membuka mantel. Bahunya gemetar. Ia menangis. “Aku capek, Mas… semua orang lihat aku bahagia, tapi aku kosong…”

Ahmad menunduk. “Saya cuma sopir, Bu.”

“Tapi kamu manusia, Ahmad…” Arini mendekat, suaranya bergetar. “Aku cuma butuh seseorang yang mau mendengarkan, bukan membeli tubuhku.”

Hening. Hujan di luar seperti tepuk tangan dari langit. Ahmad berdiri. “Saya pamit, Bu.”

Namun sebelum ia sempat melangkah, Arini memegang tangannya. “Kamu takut aku, ya?”

Ahmad menatapnya dalam. “Saya takut Tuhan.”

***

Keesokan harinya, hidup Ahmad berputar seperti badai. Suami Arini datang ke rumah kontrakannya bersama polisi. Tuduhan: penodaan terhadap istri orang. Arini menangis di depan penyidik, bersumpah Ahmad telah memperkosanya. Ahmad membeku, mencoba berbicara, tapi suaranya lenyap di tengah gemuruh dunia. Semua terasa seperti mimpi buruk yang disusun oleh iblis yang mahir menulis naskah tragedi. Ia dijebloskan ke sel tahanan, di antara dinding dingin dan bau lembap ketidakadilan.

Namun di tempat itulah, ia mulai menulis. Dengan pena pinjaman dari seorang narapidana lain, ia menulis kisahnya sendiri. Di kertas yang kusam, ia menulis dengan darah hati, bukan tinta. Ia menulis tentang cinta yang salah tafsir, tentang godaan yang menipu, tentang manusia yang terjepit antara iman dan keputusasaan. Ia menulis sampai jarinya gemetar. Kadang ia menatap ke langit-langit sel, membayangkan petir yang menyambar di luar. Baginya, petir bukan lagi ancaman, tapi cahaya. Karena di balik setiap kilat, selalu ada kejujuran alam: terang yang datang setelah gelap.

Suatu pagi, seorang polisi muda bernama Dimas datang memeriksa berkas. Ia membaca tulisan Ahmad secara tak sengaja. “Apa ini tulisan kamu?”

Ahmad mengangguk.

“Kamu tahu… ini bukan sekadar kisah. Ini kesaksian jiwa.”

Dimas membaca terus, lembar demi lembar, hingga matanya berkaca. Dalam tulisan itu, ia menemukan sesuatu yang jarang ia temui di kantor polisi: kebenaran yang jujur tanpa perisai. Dimas pun mulai menyelidiki kembali kasus itu. Perlahan, ia menemukan kejanggalan: tidak ada bukti medis, tidak ada saksi, hanya pernyataan tunggal dari Arini yang penuh kontradiksi.

Dan pada suatu malam yang sunyi, Arini datang ke kantor polisi — menangis. “Dia tidak bersalah,” katanya lirih. “Aku… aku hanya ingin suamiku cemburu. Aku bodoh…”

Ahmad dibebaskan. Tapi ia tidak tersenyum. Ia keluar dari penjara dengan langkah berat, seperti seseorang yang telah kehilangan bentuk lamanya. Ia bukan lagi mahasiswa miskin yang lugu. Ia kini adalah lelaki yang menggenggam petir — luka dan cahaya sekaligus.

***

Beberapa bulan kemudian, novel Ahmad diterbitkan oleh penerbit kecil. Judulnya “Lelaki Penggenggam Petir.” Buku itu bukan sekadar kisah, tapi doa panjang dari seorang manusia yang berjuang melawan badai hidupnya sendiri. Orang-orang membacanya dan menangis. Mereka melihat diri mereka di dalamnya — setiap perjuangan, setiap ketakutan, setiap petir yang menyambar hidup mereka sendiri.

Ahmad tak lagi menjadi sopir atau tahanan. Ia menjadi penulis yang berjalan di antara dua dunia: dunia penderitaan dan dunia pengharapan. Di rumah kecilnya, ibunya duduk membaca dengan mata berkaca. “Bapakmu pasti bangga,” katanya pelan.

Ahmad tersenyum. “Bapak tidak mati, Bu. Ia cuma berubah menjadi cahaya yang menuntunku lewat setiap petir.”

Dan malam itu, saat langit mengguntur, Ahmad keluar rumah, menatap ke atas. Petir menyambar di kejauhan — putih, terang, indah. Ia merentangkan tangannya, seolah hendak meraih kilat itu, seolah hendak menulis sekali lagi di langit kehidupan.

“Terima kasih, Tuhan,” bisiknya. “Telah membuatku kalah, agar aku tahu bagaimana rasanya menang.”

Langit bergetar, hujan turun, dan Ahmad tersenyum di bawah cahaya yang berkedip.

Karena kini ia tahu, dalam setiap petir yang menyambar, ada doa yang menyala.[]

____________________

Khairul A. El Maliky. Penulis novel. Lahir dan besar di Probolinggo, 5 Oktober 1986. Bukunya yang telah terbit antara lain: Akad, Pintu Tauhid, Kalam Kalam Cinta, Sweet Girl, Beda Tapi Cinta, Gus Dur dan Tuhan pun Tertawa, Dagelan Para Koruptor, Munajat Sesayat Rindu, Risalah Cinta, dan Metamorfosa (MNC Publishing, Malang). Selain novel, penulis juga menulis cerpen. 

Cerpen

Sebelum Surga Jadi Gundul

Cerpen Indah Fai

Tidak ada yang mengajarinya—seperti saat dulu, orang-orang mengatakan padanya agar menggosok daki di lipatan selangkangan dengan batu kali yang permukaannya berpori, dan kemudian orang-orang itu juga mengajarinya agar cebok menggunakan tangan kiri, dan menyuap makanan dengan tangan kanan, dan mencucup remah-remah nasi di pucuk jemari hingga resik, sebab, kata mereka, itu merupakan sunnah nabi. Tidak seorang pun dari mereka memberitahunya, bagaimana ia sepatutnnya mengelak, ketika—sekarang—ibunya mengirim foto permohonan santunan perbaikan langgar disertai pesan:  Le, tahun ini kamu akan jadi donatur kehormatan lagi, kan? 

Ia mematikan ponsel itu. 

Orang-orang itu, dahulu, dengan suara lantang dan mimik penuh kesungguhan mengatakan, maka apabila ibumu memerintahkan padamu suatu hal lalu kamu berkata uf, berdosalah kamu, tertutuplah seluruh kebaikan dari timur dan barat untukmu hingga ibumu rela. 

Usianya tiga puluh sembilan dan belum sekalipun ia mengatakan uf, af, if, atau humph. Untuk ibunya ia mengatakan ya yang paling santun dalam tata krama berbahasa Jawa, njih, Bu, setiap saat, sejak ia kanak-kanak dan hingga kini, ketika uban semakin gemar bermain cilukba di kepalanya dan garis kerutan di sudut matanya bertambah tiga yang semula cuma ada dua. 

Ia menyalakan kembali ponselnya. Ada dua belas pesan dari sang ibu dan lima belas panggilan tak terjawab. Sebentar kemudian, ibunya kembali menelepon. 

Ia ragu-ragu. Namun, ia seakan melihat raut kecewa ibunya dari layar kecil yang menyala itu. 

Setelah dering ponselnya berhenti. Ia memutuskan untuk membuka aplikasi M-banking, menekan huruf, simbol, angka-angka, dan sandi. Lalu ia mendengar dering pemberitahuan singkat dan nyaring seperti suara seonggok sendok yang jatuh ke lantai. Suara itu membuat senyumnya tampak ringkih dan sedih. Uangnya baru saja berpindah ke rekening ibunya di desa. Tiga juta lima ratus ditambah enam ribu lima ratus rupiah sebagai tambahan biaya admin. 

Kenapa tidak memberitahunya kau di-PHK? 

Istrinya tak kalah murung, berkacak pinggang di hadapannya, merengut kepada jendela. 

Ponselnya berdering lagi. Itu nada pesan. Ibunya memfoto selembar kertas bertuliskan nama-nama donatur perbaikan langgar di desanya. Namanya berada di baris nomor dua, di bawah nama juragan jagal sapi. Juragan itu bersedekah lima juta lima ratus rupiah. Le, peringkatmu disalip Pak Sumitro. Tulis sang ibu di bawah gambar. Eman, Le. Padahal kurang sedikit. 

Aku akan memberitahu ibu. Tetapi bukan sekarang

Lelaki itu memberi istrinya penghiburan. Ia mengelus perut buncitnya dengan lembut. Ia tahu istrinya sedang kesal dan itu bukan sandiwara panggung, tetapi di seberang sana, ibunya juga sedang dongkol setengah mati pada juragan jagal sapi. Ia yakin ibunya belum siap mendengar kabar tak mengenakkan. 

Orang-orang itu, dahulu, mengatakan—jangan kau menyakiti hati ibumu sebab di telapak kakinya terbentang surga yang sejuk dan hijau. Ia tidak mau surga di kaki ibunya menjadi gersang dan tandus. Maka lelaki itu, demi memberi penghiburan kecil untuk sang ibu, mengetik pesan di ponsel, kelak ia akan menambah jumlah santunannya, setelah gajinya dibayarkan kantor. 

Maturnuwun, Le. Mugi-mugi rejekimu diparingi lancar. 

Ibunya menelepon lagi. Dua pekan kemudian.

Njih, Bu? 

Nanik–bulan depan kehamilannya sudah masuk tujuh bulan. Kapan dipitoni, Le? Tanggal satu bulan depan hari baik kata si Mbah. Kemarin Ibu ikut pitungan. 

Njih, Bu. 

Pulang, ya. Mitoninya di rumah. 

Njih, Bu. 

Le? 

Njih, Bu. 

Ini Ibu pulang kondangan dari piton-pitonnya menantunya Pak Ismail. Meriah. Ngundang kyai besar. Ada panggungnya, Le. 

Njih, Bu. 

Istrinya menggerutu. Upacara empat bulanan waktu itu, katanya, masih menyisakan utang di koperasi simpan pinjam. 

Biar kupikirkan, sahut suaminya, saat ia menyarankan agar acara tujuh bulanan nanti cukup dengan bersedekah nasi kotak ke tetangga dekat. 

Jawaban itu. Bukan seperti itu seharusnya lelaki itu menjawab. Istrinya menatap sangsi. 

Sisa tabungan ada berapa? Kata lelaki itu tanpa menoleh si perempuan. Ia enggan melihat mata yang bersedih dan marah itu. Ia tahu, tidak ada yang bisa ia lakukan, sebab surga itu ada pada kaki ibunya—bukan pada wajah istrinya yang tidak ramah. 

Dua puluh lima juta dua ratus lima puluh ribu—jumlah keseluruhan uangnya ketika ia menumpang bus malam yang akan mengantarkannya ke kampung halaman. Ia menuju rumah bersama sang istri yang mendengkur halus di sisinya. Kepala perempuan itu bersandar di bahu kirinya sepanjang perjalanan. Tangannya kebas. Tulang punggungnya meronta menuntut rasa nyaman. Namun ia merasa malu membangunkan perempuan itu perkara bahu. 

Ia sedang membongkar isi koper ketika ibunya tiba-tiba menyibak gorden, menerobos ke dalam kamarnya, membuat sang istri yang semula bersila, segera menurunkan kakinya. Ia mengambil sikap duduk yang manis. Dua tangannya menumpang anggun pada paha. 

Ibunya membuka halaman buku yang sedari tadi ia apit di ketiak kanan. Kertasnya agak lecek, beberapa pojoknya menguning, menua. Matanya menelusuri deretan nama dengan pelan, membaca masa lalu.

Ini Bu Yatini, yang nyumbang satu kwintal beras waktu kamu sunat. Ini Pakdhe Lan, yang nyumbang kelapa dan pisang waktu empat bulanan jabang bayimu kemarin. Waktu kalian menikah dulu, beliau yang bayar uang rokok perewang. 

Ia berhenti sebentar, menarik napas panjang.

Mereka semua bakal datang kalau diundang. Tapi ya gitu… kalau enggak diundang, orang desa itu ingatnya seumur hidup.

Anak lelakinya diam. Sementara sang menantu menunduk, pura-pura sibuk melipat baju. 

Undang mereka, ya, Le. Selama Ibu masih bisa masak dan ngurusin dapur, Ibu pingin nunjukin kita ini orang yang nggak lupa utang budi.

Ia menepuk bahu anaknya. Kali ini tidak keras. Tangannya agak gemetar. Anak lelakinya menoleh pelan, lalu melihat: di balik nada tegas dan tubuh yang selalu kelihatan sigap itu, ada wajah yang mulai keriput dan mata yang seperti menyimpan cemas.

Kadang Ibu mikir, kalau nanti sudah nggak bisa ngapa-ngapain, orang-orang ini masih inget Ibu, tho?

Sang ibu  meremas bahu anaknya. Lelaki itu mengaduh. Tetapi suara itu, cuma ia sendiri yang dengar. 

Waktu mapati kemarin, balik kan modalmu, Le? 

Lelaki itu diam. 

Saat acara empat bulanannya rampung, dulu, sisa sembako setelah dibagikan kepada para perewang, perempuan itu tawarkan ke warung kelontong milik seorang cina peranakan,Tacik, begitu orang-orang di desa memanggilnya. 

Ibunya memberitahu, sebagian uangnya habis untuk menambal keperluan upacara jabang bayi lelaki itu. Saat itu bertepatan dengan waktu keberangkatannya dan sang istri ke kota rantau. 

Uang hasil jualan gula dan beras ini boleh buat bekal Ibu, Le? 

Begitu sang ibu mengakhiri keluh kesahnya. 

Di sisinya, sang istri mendelik. Perempuan itu berpesan agar memberitahu ibunya: mereka juga membutuhkan uang itu untuk menambal utang. Sungguh, ia ingin menyampaikan pesan itu kepada ibunya, tetapi, njih, bu—adalah tutur kata yang keluar dari mulutnya. Sekali lagi. 

Ia mendapatkan pisuhan sepanjang perjalanan dari istrinya setelah adegan itu. Perempuan itu mogok bicara nyaris empat puluh lima hari, dan ketika ia telah mau bicara pendek-pendek dan ketus, sang ibu kembali menelepon, mengatakan tagihan listrik di kampung menunggak, menunggu dibayar. 

Njih, Bu. Kata suaminya. Sekali lagi. Maka perempuan itu tirakat, mencegah diri bicara selama berbulan-bulan. 

Maka—mengapa tak kau katakan saja kau di-PHK adalah suara pertamanya waktu itu, ketika sang mertua menyinggung nama Sumitro dan langgar di telepon. Saat mereka masih di kota rantau. Namun, suara itu keluar bagai ledakan dibuntuti pula denting kasar benda pecah belah yang menimpa lantai. 

Bilang pada ibumu, mengundang tiga puluh orang saja sudah cukup. Bisik istrinya, malam saat mereka duduk beralas tikar pandan di ruang tengah, membahas kesiapan upacara tujuh bulanan yang akan datang pekan depan. 

Lelaki itu merasakan cubitan menyakitkan di lengannya sebab tak kunjung menyahut. Ia menoleh sang istri yang matanya telah akan keluar dari wadahnya. Wajah itu, seperti rona malam yang mistis dan intens. 

Namun, apa ada yang lebih sakral selain air mata ibu yang menitik dari pelupuk, lalu jatuh sebagai pemantik yang membakar surga dan segala sesuatu? 

Maka, njih, bu, sekali lagi, adalah sahutan bakti yang keluar dari mulutnya ketika perempuan tua itu menyodorkan dua ratus nama tamu padanya. 

Pekan itu tiba. Ibunya menyambut para perewang dengan senyum sumringah dan berbangga. 

Dan lelaki itu, yang saban waktu disapa para perewang dengan kebanggaan yang mencolok, sedang berupaya setengah mati menghindari berpapasan dengan sang istri. Maka ia terjebak di bantaran kali, menjadi satu-satunya penonton dewasa bagi para perewang yang sedang membersihkan potongan daging dan ayam. 

Perempuan-perempuan itu mencerabut bulu dengan tangkas dengan tertawa-tawa, dan ayam-ayam yang terkulai itu tampak gundul dalam waktu singkat. Ia menyaksikan semua itu dengan kengerian yang tak terperi, seakan bulu-bulu itu adalah sisa tabungannya yang dicerabuti sang ibu. 

Ia—bak rasul yang diilhami wahyu—kemudian merasa perlu melakukan sesuatu agar tak bernasib persis seperti ayam-ayam mati itu. 

Kemudian tibalah hari itu. 

Seorang kyai kondang didatangkan untuk memberi ceramah dan berkat.Tamu-tamu undangan duduk santun dan sedikit gelisah di bawah naungan terob berwarna oranye sebab nyala kipas yang tidak bersungguh-sungguh. Penjaja makanan dan mainan berimpitan menggelar lapak di tepi jalan. Saat itu matahari cerah dan langit berwarna biru tanpa setitik pun noda putih. Pawang hujan kenamaan desa tetangga menyapu bersih awan di atasnya. Namun lelaki itu tidak di sana, memasang diri, menyambut para tamu. 

Sang istri menanyakan keberadaannya melalui obrolan ponsel. Semua juga tahu, betapa nada bicara perempuan itu menyiratkan kefrustasian yang nyata. Lelaki itu mengatakan terdesak sebuah urusan. Ia menjanjikan akan datang sesaat sebelum prosesi siraman dan pemecahan kelapa gading bergambar wayang Kamajaya dan Dewi Ratih, untuk menebak kelamin bakal bayinya. 

Ia tidak memberitahu siapa pun bahwa ia sedang memanen peluang, mendatangi sebuah masjid dan langgar-langgar di desa itu yang sedang lengang, mencungkil kotak-kotak amalnya, lalu memasukkan isinya ke dalam tas jinjing hitam. 

Semula ia malu. Setiap saat tanpa sengaja melihat kaligrafi bertuliskan lafaz Tuhan di dinding, ia akan menarik kembali tangannya. Ia merasa berdosa. Namun ia diburu waktu. Dan ia sudah berdiri di situ. Maka ia memantapkan niatnya, mendapatkan kembali haknya. 

Lalu ia melakukannya sambil memejamkan mata. 

Kepada Tuhan ia meminta ampun sebab niat menggandakan tabungannya di akhirat luruh begitu saja. Ia hanya sedang mengambil kembali apa yang menjadi haknya. Dengan begitu ia tidak perlu menjadi seperti ayam-ayam mati yang dikerubungi perewang pada saat itu, sementara di sisi lain, di bawah kaki sang ibu, surga itu tetap akan berwarna hijau dan menawan. Dan istrinya yang selalu mengkhawatirkan biaya persalinan akan merasa sedikit lega. 

Ia mengendap keluar dari pintu belakang setelah menguras isi kotak amal di langgar kelima, dekat rumahnya. Namun, mendadak tas jinjing yang katanya menampung haknya itu terjatuh, merosot dari gendongan, ketika ia melihat sosok perempuan dalam balutan kebaya ungu berdiri mematung di tengah gerbang, di bawah naungan rumpun bambu. Di sisinya, seorang penjaga langgar menganga, terpana oleh perbuatannya. 

Perut perempuan itu buncit. Riasan di wajahnya luntur oleh air mata. Di belakang mereka arak-arakan warga bergerak mendekat. Ia menoleh ke sekeliling. Ia mencari sosok itu. Ibu. Namun ia tak menemukannya. Di manakah surganya yang sejuk dan hijau itu berada? 

__________________

Indah Fai, Penulis kelahiran Banyuwangi, tinggal  bersama keluarga kecilnya di Buleleng, Bali Utara. Cerpennya disiarkan beberapa media daring dan cetak.  Mengikuti projek kebudayaan penulisan cerpen Singaraja Berkisah bersama penulis pemuda Bali lainnya pada 2023. Perempuan di Kaki Langit adalah kumpulan cerita pendeknya yang pertama di penghujung tahun ini. Seorang guru memberitahunya, belajar adalah proses yang berlangsung seumur hidup dan ia setuju. Kini ia berupaya terus-menerus meskipun banyak gagalnya.

Cerpen

Kembang Api di Atas Kota Kosong Menyedihkan

Cerpen Titi Setiyoningsih

Perempuan itu menelepon tepat satu minggu setelah foto pertunanganku terunggah di Instagram. Setelah lima tahun kami menjaga jarak dengan cara yang sopan, kini dia ingin bertemu denganku.  Aku sebetulnya enggan tapi penasaran setengah mati. Pasti hal luar biasa telah terjadi. Layaknya setiap pertemuan yang dipaksakan terjadi, kami canggung berbasa-basi. Dia menanyakan bisnis toko buku yang kukelola, mengucapkan selamat atas buku terbaruku yang sebetulnya sudah setengah tahun lalu release.

“Tiga hari yang lalu aku datang kemari,” katanya kikuk. “Tapi kulihat kamu sangat sibuk dengan para pelangganmu.”

Aku berusaha terlihat kaget. “Oh ya? Seharusnya kamu menyapaku saja.” Ini baru permulaan dan aku mulai kelelahan. Jelas-jelas dia sering mampir ke toko ini. Para karyawan yang mengatakannya. Perempuan ini selalu datang dengan raut gelisah, kebingungan, dan tak pernah membeli apa pun. Seolah dia tersesat, terkejut mendapati dirinya di toko buku dan bukan di butik baju.

Dia berusaha membuka obrolan lagi, kali ini tentang kekagumannya pada tulisanku. Aku sudah tak tahan. “Ada apa? Kamu baik-baik saja kan?”

Wajahnya yang ramah kini berubah tegang dan putus asa. “Tidak, aku sangat kacau. Seharusnya aku tidak kemari,” dia hendak berdiri dan spontan ku tarik tangannya. Aku mengajaknya ke atap lantai tiga.

“Cuma ada kita berdua,” kataku mencoba menenangkan. Dia memunggungiku menatap lalu lintas di bawah sana. Kunyalakan sebatang rokok dan mulai mengisapnya perlahan. “Masih merokok?” tanyaku menawarkan sebatang padanya.

“Kent masih mencintaimu,” ujarnya spontan.

Kuisap lagi rokokku dalam-dalam. “Tidak, dia tidak pernah mencintaiku.”

“Dia masih membicarakanmu di belakangku,” perempuan itu berbalik dan menerima tawaran rokokku. Kami menyemburkan asap rokok bergantian. Di trotoar sana seekor kucing rupanya berhasil menggondol ikan dari dapur restoran.

“Kupikir kucing itu sudah mati,” gumamku.  Angin di atap gedung mulai mengibarkan rambut kami berdua. “Ngomong-ngomong aku bukan kucing itu. Aku tidak akan mengambil sesuatu yang bukan milikku.”

“Aku tahu. Aku ke sini bukan untuk menuduhmu,” katanya dengan nada yang lebih tenang daripada tadi.

“Kent tidak pernah mencintaiku. Dia hanya berasumsi dia mencintaku,” kataku sungguh-sungguh. Perempuan itu masih diam menunggu penjelasan. “Dia seolah-olah mencintaku, tapi tidak. Dia menciptakan konsep tentang diriku dan dia mencintai konsep itu. Bukan aku. Jadi ketika kami bersama, itu pun kau tahu tidak lama, banyak kekecewaan dalam hubungan kami. Dia belum menerima realita tentang diriku seutuhnya dan aku cukup frustrasi karena merasa diperlakukan tidak layak,” jelasku.

“Aku tidak paham, dia selalu memujimu,” ujarnya terdengar malu.

“Nah itu maksudku. Dia berpikir aku seperti ini dan itu. Dia mendekatiku karena berpikir aku begini dan begitu. Lalu saat kutunjukkan lapisan terdalamku, dia mundur. Dia tidak ingin menerimanya, dia hanya ingin aku yang ada dalam imajinasinya. Yah begitulah, kamu tahu sendiri kelanjutannya,” jelasku lagi.

Jika aku boleh jujur. Hubunganku dengan Kent adalah hubungan paling melelahkan yang pernah kujalani. Rasanya seperti tercekik berbulan-bulan. Dia selalu punya cara untuk melambungkanku ke angkasa sebelum akhirnya menjatuhkanku kembali ke bumi. Berkali-kali. Menarik dan mengulurku serupa karet gelang yang sengaja dimainkan. Terlalu sering dia melukiskanku langit biru, lalu mendadak mengubahnya menjadi hujan. Aku hidup dalam permainan caturnya yang dia ganti aturannya setiap hari. Aku terlalu optimis kala itu untuk membuat hubungan kami berhasil.

“Menurutmu aku harus bagaimana?” tanyanya lagi.

Ingin kujawab, kabur dan larilah sekencang-kencangnya! Tapi percuma jika perempuan ini masih dibutakan oleh kilau kembang api Kent. Ya, Kent seperti kembang api yang bersinar di atas kota kosong menyedihkan setiap perempuan yang kesepian. Kent hanya ingin perhatian, bukan cinta. Dia tidak pernah menginginkan cinta. Aku beruntung berhasil melarikan diri sebelum laki-laki itu lebih menyakitiku.

“Kau tahu jawabannya,” ujarku enggan. Aku selalu benci pada perempuan yang dibutakan perasannya, segala petuah akan terlihat seperti comberan saat kau sedang jatuh cinta.

“Dia menangis saat melihat foto pertunanganmu,” katanya akhirnya.

“Seperti itulah Kent. Suatu hari dia juga akan menangis melihat fotomu bersama laki-laki yang bukan dirinya. Dia selalu menangisi yang bukan miliknya.”

“Begitu ya?” Perempuan itu tersenyum kecil menatapku. Dari wajahnya aku tahu Kent telah memaksanya meminum air dari lautan, yang justru membuatnya makin kehausan, hingga berakhir meminta Kent memberinya lagi dan lagi. “Selamat ya atas pertunanganmu!” katanya.

“Hadirlah ke pernikahanku,” kataku meyakinkannya.

Perempuan itu menggeleng, “Kau pasti tahu jawabanku.”

Dalam diam kami berdua telah bersepakat, setelah malam ini kami akan kembali menjaga jarak seperti sebelumnya. Aku juga berharap dia mulai berhenti memikirkan cara untuk menyingkirkanku. Sudah lama aku memutuskan keluar dari arena permainan Kent, bahkan jauh sebelum mereka berdua saling mencumbu.

____________________

Titi Setiyoningsih. Dosen di prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Cerpen

Legawa Berpikir untuk Bunuh Diri

Cerpen Danang Febriansyah

Akhirnya setelah minta transfer uang dari ibunya, Legawa pulang naik bis. Ia kecewa sebab koordinator unjuk rasa membiarkannya kelaparan. Pun uang lelah tak juga dibayarkan. Keringat yang bercucuran di siang yang panas dan berteriak menolak penutupan rumah ibadah besar di ibukota seakan menjadi antiklimaks karena makan siang tak ada, bayaran juga sirna. Bahkan koordinator unjuk rasa tak nampak setelah polisi membubarkan pengunjuk rasa dan sempat terjadi kerusuhan. Legawa bahkan sempat tersulut emosi mudanya karena terkena gebuk dari polisi. Ia sempat membalas dan memukul salah satu petugas keamanan.

Sebenarnya Legawa adalah seorang pemuda penakut. Tapi karena jiwa mudanya sudah dibakar sedemikian rupa, dibakar bahwa menolak penutupan rumah ibadah adalah bentuk ajaran agamanya dan akan mendapat pahala, emosinya meledak. Pemerintah yang akan menutup bahkan menghancurkan tempat ibadah di ibukota adalah pemerintah yang ateis. Maka sepenakut apapun Legawa, jika banyak pemuda lain yang telah mendapatkan semangat serupa dirinya, Legawa akan nekat.

Pada akhirnya unjuk rasa bubar. Dan ia telah ditandai oleh petugas keamanan. Dalam perjalanan pulang, ia memikirkan ibu yang sakit sesak napas. Ketika ingin diajak ke rumah sakit beberapa waktu lalu, ibu menolak. Sebab takut sakitnya yang menahun itu didiagnosa terkena pandemi.

Sampai di rumah, ia melihat ibunya masih tertidur ditemani dua adiknya. Ia masuk kamarnya dan merebahkan badan di lantai. Legawa mengambil beberapa buku dan digunakan untuk bantal.

Matanya menerawang, ia sangat kecewa dengan unjuk rasa yang diikutinya. Apa yang diharapkan tak sesuai kenyataan. Sehari kemudian kabar unjuk rasa itu sudah beredar di koran dan televisi. Dan yang paling mengecewakan adalah bara yang dibawa koordinator unjuk rasa bahwa pemerintah akan menutup rumah ibadah itu ternyata hanya berita bohong. Hanya untuk membakar semangat mudanya yang menggelegak, agar segera bergerak melawan apa yang dianggap sebagai ketidakadilan oleh orang yang tak bertanggungjawab.

Adiknya masuk kamar dan memintanya untuk membelikan obat untuk ibu. Ia bangkit, ia akan mengambil sisa uang yang ditransfer tadi untuk obat ibunya. Di teras rumah, ia sekilas melihat gerobak bapaknya dulu untuk jualan sayur. Dengan motor tua milik almarhum bapaknya, ia berangkat ke apotek.

Legawa berpikiran untuk melamar kerja beberapa hari kemudian. Ibu butuh banyak obat demi kesembuhan. Tapi ternyata banyak perusahaan menolak lamarannya meski ijazahnya sarjana dari univeritas yang baik. Tapi karena ia terlibat unjuk rasa, Legawa tidak mendapatkan surat keterangan berkelakuan baik. Ia merasa kuliahnya menjadi sia-sia gara-gara berteriak di siang yang terik dalam unjuk rasa.

Ia embuskan asap rokok saat duduk di teras rumahnya sambil memandangi gerobak milik bapaknya. Terbersit harap memanfaatkan kembali gerobak yang mulai rapuh itu seteleh ditinggal bapaknya meninggal dunia setahun yang lalu.

Legawa membersihkan kembali gerobak itu serta memperbaiki dan mengganti bagian-bagian yang rapuh. Besok ia berencana menjual sayur. Meneruskan usaha bapak.

Jam tiga pagi dia bangun tidur. Dengan mengendarai sepeda motor tua, ia mengikat gerobak sayur di belakang motor. Legawa menuju pasar untuk kulak berbagai macam sayur. Menggunakan gerobak yang di atasnya telah ditata berbagai macam sayur, Legawa mencari tempat yang sesuai di dalam pasar. Namun setiap tempat dan los di dalam pasar tak ada lagi ruang untuknya. Ia berusaha meminta sedikit tempat pada pedagang yang telah menempati los pasar, namun tak ada satupun yang mengizinkan. Akhirnya ia menggelar dagangan di tengah persimpangan di dalam pasar. Satu dua pembeli menjadi pembelinya. Tapi kemudian petugas pasar datang dan memintanya pergi, sebab ia mengganggu pejalan dan pengunjung pasar jika ia berdagang di tengah jalan.

Legawa pun pergi, keluar dari pasar. Ia menarik gerobaknya dengan motor tua. Sayurannya tak terlihat berkurang. Ia coba masuk kampung untuk menjual dagangannya. Tapi ternyata setiap kampung yang ia masuki telah ada penjual sayur yang lain yang memintanya tak masuk kampung tempat mereka berjualan.

Ia pulang dengan sedikit hasil. Sayuran dagangannya masih menumpuk. Ibu menyarankan untuk dibagikan pada tetangga.

“Setiap doa dari orang yang kau beri adalah pupuk hidupmu.” Begitu kata ibu.

Setelah semua dagangan ia bagikan ke tetangga, ia kembali duduk di teras dan menyalakan rokok. Ia bosan di teras, lalu masuk ke dalam rumah, sebentar melihat ibunya di kamar, kemudian masuk kamarnya sendiri. Mengambil beberapa buku untuk bantal dari tumpukan buku di samping tempat tidurnya.

Legawa berpikir untuk menjual buku-bukunya saja. Sebab jika tak terjual hari ini, maka buku tak layu seperti sayuran.

Pagi berikutnya ia menarik gerobak menggunakan motor seperti kemarin, tapi isi gerobak bukan sayur, tapi buku-buku. Ia juga tak lagi masuk ke dalam pasar, sebab ia pasti akan terusir karena berjualan di tengah jalan. Legawa memilih menjual buku-bukunya di luar pasar. Ia menata buku-buku di gerobak.

Satu dua orang datang membaca buku lalu berlalu. Belum ada yang datang untuk membeli. Beberapa waktu kemudian datang petugas keamanan. Yang menginterogasinya.

“Sejak kapan jualan buku?” tanya petugas.

“Baru hari ini,” jawab Legawa agak gemetar.

“Kenapa kau jual buku-buku kiri?” tanya petugas lagi sambil mengambil buku Aksi Massa Tan Malaka.

“Maksudnya apa?”

“Ini kamu juga jual buku-buku teroris?” Petugas mengambil buku-buku agama.

“Tolong lah, Pak. Baca dulu. Jangan mudah menuduh.” Legawa mulai kesal.

“Apa! Kamu melawan petugas!”

Seketika dua petugas itu menghajar Legawa hingga terjungkal. Orang-orang di pasar memusatkan perhatian pada kejadian itu.

“Kamu itu nggak bisa lari dari kami. Kamu itu dalam pantauan kami! Mau main-main, hah!” Sebuah tendangan telak mengenai perutnya. Seketika napasnya menjadi sesak.

Ia ingat ibunya yang menderita sesak napas di rumah. Legawa di area pasar ini juga sesak napas karena tendangan petugas.

Seorang petugas mengobrak-abrik dagangannya, hingga gerobaknya terguling. Kemudian buku-buku yang mereka anggap terlarang diambilnya. Gerobak diangkut ke dalam truk dan membiarkan buku-buku lain berserakan. Legawa merasa kalah. Apalagi setelah unjuk rasa beberapa waktu lalu, hari-harinya terasa ada yang terus mengawasi kesehariannya. Ia takut. Sifat penakutnya telah kembali dalam kesendirian. Ia hanya berani jika bersama dengan orang yang bersikap sama dengannya. Ia mengusap darah yang menetes di ujung bibirnya.

Beberapa orang mencoba menolongnya untuk bangkit dan menghibur dirinya. Ia benci pada petugas keamanan. Ia ingin kembali berunjuk rasa seperti dulu. Tapi ia telah kecewa karena janji koordinator unjuk rasa dan si pembakar semangat. Upah unjuk rasa tidak diberikan. Makan siang pun tak ada. Ia membenci itu.

Karenanya, ia ingin berunjuk rasa sendirian. Tanpa koordinator. Ia hanya ingin memperjuangkan nasibnya saja. Maka masih disertai rasa takutnya, Legawa berangkat ke kantor petugas keamanan.

“Aku ingin mengambil gerobakku, Pak,” ucap Legawa gemetar di bagian depan kantor petugas keamanan.

Di sudut lain, ia melihat gerobaknya. Gerobak peninggalan bapak.

“Kamu yang jual buku-buku terlarang?” tanya petugas.

“Itu hanya buku-buku sejarah dan agama, Pak. Demi ibuku aku jual buku.” Legawa mencoba menerangkan.

“Alasan saja. Kamu itu yang ikut unjuk rasa. Jadi alasan apapun, kamu pasti punya niat menggulingkan pemerintah!” tegas petugas.

“Tidak, Pak. Aku hanya ….”

“Sudah! Pergi sana! Sebelum kami tangkap karena menyerang petugas!”

Legawa surut. Ia kembali. Pulang. Sekilas ia melihat gerobaknya. Ingin saja ia ambil. Langkahnya berbelok ke arah gerobak. Tapi petugas meneriakinya. Legawa kembali menuju jalan keluar. Dadanya bergemuruh.

Sampai rumah, adik-adiknya diminta untuk tidak memberitahu ibunya kalau ia pulang tanpa gerobak. Setelah mencium tangan ibunya, ia masuk kamar, menyalakan rokok dan merebahkan badannya.

Ia ingat kejadian di sebuah negara, seorang pemuda miskin yang mampu mengobarkan semangat revolusi meski dia harus mengorbankan dirinya sendiri. Kejadian yang nyaris seperti yang dialaminya. Ia ingin negara ini tidak semena-mena pada rakyat miskin seperti dirinya. Ia merasa tidak salah, tapi petugas keamanan selalu memata-matai dirinya.

Unjuk rasa waktu itu terjadi karena ia terprovokasi seseorang. Ia hanya ikut-ikutan. Karena hal itu, ia tak bisa melamar pekerjaan. Ia coba meneruskan usaha bapak yang telah lama ditinggalkan, tapi semua keadaan sudah berubah. Ia mencoba menjual buku-buku koleksinya, petugas keamanan malah menganggapnya memberontak. Dunia menjadi sempit. Jika sudah begini, melakukan hal yang sama dengan pemuda di negara lain itu, mungkin juga akan membakar seluruh negeri ini untuk menuntut keadilan.

Ia yakin dengan hal itu.

Malam hari ia melihat ibunya tertidur dengan napas yang tampak berat. Dua adiknya menemani ibu. Ia mengambil botol air mineral bekas, lalu mengutak atik selang aliran bahan bakar motornya, sehingga bahan bakar motornya keluar dan ditampung di botol air mineral yang dibawanya.

Setelah selesai, ia mengeluarkan motornya dan pergi mewujudkan tujuannya. Masih terlalu dini, ia sampai di kantor petugas keamanan. Di bagian depan, ia melihat petugas yang kemarin mengusirnya. Matanya tampak menahan kantuk. Ia mendekatinya.

“Pak, aku mau ambil gerobakku. Itu gerobak peninggalan bapak. Aku mau jualan dengan gerobak itu,” kata Legawa pelan. Ia terlalu takut untuk bicara keras.

            “Kamu yang kemarin? Pemberontak itu?” tanya petugas merasa terganggu.

“Pak, aku hanya ingin gerobakku kembali. Aku bukan pemberontak.”

“Pergi sana! Sikapmu pada pemerintah sudah buruk. Itulah akibatnya jika melawan petugas!”

“Tapi, Pak ….”

Dan sebuah pukulan dengan tongkat mengenai lengan Legawa. Ia gemetar, takut. Tak berani jika ia sendirian. Ia hanya berani jika banyak teman seperti dalam unjuk rasa waktu itu. Karenanya, Legawa berencana melakukan rencana keduanya. Ia mengambil sebotol bahan bakar di tasnya. Ia ingin seluruh rakyat melakukan revolusi menuntut keadilan bagi rakyat kecil seperti di negara lain. Ia akan membakar tubuhnya yang akan memicu aksi besar-besaran seluruh negeri karena membaca latar belakang aksi bakar dirinya.

Di sebelah gerbang kantor keamanan, ia mengguyurkan bahan bakar dari kepalanya. Ia ambil korek api dari sakunya. Ia ingat sebuah novel yang pernah dibacanya, ‘Dalam Kobaran Api’, seorang pemuda di sebuah negeri menjadi obor api sekejap setelah korek api menyala. Lalu tubuhnya gosong dan beberapa waktu kemudian tewas.

Membayangkan itu, rasa takut Legawa membesar. Ia begidik ngeri membayangkan rasa panas dan perih di sekujur badan. Sekejap kemudian, Legawa ingat, setelah pemuda mati, aksi besar-besaran terjadi di seluruh negeri. Betapa pemuda itu menjadi pahlawan. Sungguh heroik. Ia ingin seperti itu.

Namun, rasa takut makin memeluknya. Korek api dilihatnya. Dan kenekatannya padam.

___________________

Danang Febriansyah. Mengenal lebih banyak karya sastra dan belajar menulis dari Komunitas Sastra Alit, Solo. Beberapa karyanya telah dimuat di media dan dibukukan. Novel “Arundaya: di Masjid Kuserahkan Cintaku” terbit 2019 dan diterbitkan dalam Bahasa Jawa tahun 2021 oleh Penerbit Diomedia. Kumpulan Cerpen “Ia yang Menjelma Bunga Matahari”, terbit 2025 di lini Penerbit Andi Jogja. Kini tinggal di Bulukerto, Wonogiri sambal mengelola Taman Baca Fatiha