Cerpen Heri Haliling

Samar bayang pelan memperjelas gambar. Pada sebuah cermin, rupa terungkap. Tak lagi ada rangkuman 5 jari menutup muka. Oleh tahta ilmu yang terbilas harga.
Nyatanya keberlakuan inilah yang bersemayam dalam diri Komisaris Daif. Mata tuanya nyalang memandang ke arah gerung ekskavator yang menguliti Pulau Sanuri. Komisaris Daif terkekeh. Semua sesuai mimpinya tentang umat. Sang Daif pencipta kesejahteraan itu. Meskipun sekecil lalat pun tahu bahwa pria bersorban itu tak ubahnya parasit pemakan inang.
Kabut debu menari di udara, membawa aroma logam, oli, dan ispa. Komisaris Daif menutup hidung dengan sejadah yang ia lingkarkan di leher. Di singgasana yang ia duduki sekarang, jemarinya mengetuki meja di depan. Meja yang berlapis kaca itu dulunya berisikan peta Sanuri. Di sana ada sungai, hutan hujan tropis, tanah gambut, dan garis-garis kontur pegunungan berusia ribuan tahun. Komisaris Daif mengangguk mantap, semua kini berganti oleh angka, titik bor, dan jalur hauling.
“Hutan bukan untuk dilukai, suamiku. Sungguh sikapmu kini terlampau berani,” tukas Luria Hanifa, istri Daif.
Sang suami memutar kursi mewahnya. Secerah cahaya yang dulu gemilang mulai redup meski sorban yang mengintari kepalanya itu pernah merengkuh Luria dalam suci asmara.
Komisaris Daif berdiri menjejak lantai kayu jati yang sesekali bergetar oleh blasthing tambang. Tangannya masuk ke saku jubah hijaunya. Dari dalam ia keluarkan tasbih kecil. Sekejab biji-biji tasbih itu mulai berputar beriring dengan kedut dua bibirnya.
“Jika kita tidak masuk dalam dimensi kapital ini, kaum yang percaya padaku hanya akan jadi jongos di negaranya sendiri. Melalui PT Umat, kita akan mulai restorasi baru. Mungkin tak adil, istriku. Tapi telah dari dulu bahwa tak akan ada tanaman bunga di ladang api.”
“Ladang api itu dari kita, Abi,” potong Suni, pemuda tegas dengan roman pucat terutama pada lingkar mata.
“Selesaikan kuliahmu dulu. Sampai masa di mana kau paham arti kebangkitan barulah pendapatmu kudengar,” urai Daif kepada putranya yang berusia bujang itu.
Suni yang kuliah jurusan kehutanan semester 6 maju menghadap sang ayah.
“Izin Suni jelaskan arti kebangkitan yang Abi elu-elukan,” katanya sambil mengeluarkan peta. Suni bentangkan peta yang ia pelajari dan yakini. Peta itu bertema vegetasi lahan dari hasil citra satelit dan data kemungkinan longsor. Luria mendekat menunggu penjelasan. Tidak dengan suaminya yang kokoh pada prinsipnya.
“Struktur geologi yang rapuh, seperti lapisan tanah lepas, retakan batuan, dan kemiringan lereng yang curam, membuat Pulau Sanuri rentan terhadap longsor,” urai Suni mengetuki peta dengan jari. Dia melanjutkan, “Kemiringan lereng tebing sangat terjal lebih dari 45 derajat, lokasi gerakan tanah berada di area tambang terbuka dengan metode penambangan teknik under cutting, ditambah kondisi tanah pelapukan litologi batuan yang labil. Ini belum semuanya,” tatap Suni ke ayahnya yang beku enggan peduli. “Potensi metana di Pulau Sanuri telah terdeteksi dengan kadar yang belum diketahui.” Suni menahan napas, “Cukup, kembalilah Abi seperti dulu. Hal ini tidak mungkin diteruskan. Ini genosida ekologis, Abi. “
Komisaris Daif melipat tangan. Dia lalu berjalan pelan menuju koridor samping. Sebuah gelas berisi kopi yang tinggal setengah ia dekati. Dingin kopi ia cecap, tapi ambisi itu tetaplah panas.
“Kita ini khalifah, bukan penjaga taman. Bumi diciptakan untuk dieksplorasi, bukan untuk disembah. Reboisasi adalah romantisme kaum urban. Kita bicara kebutuhan umat, listrik, baja, dan kemajuan. Semuanya telah diperhitungkan oleh sarjana geologi di perusahaan ini. Analisamu itu hanya sekelumit risiko.”
Luria mendekat, “Suamiku, kau bilang Islam itu fleksibel. Tapi bukan elastis sampai bisa membungkus mesin bor dan alat berat. Masa bencana itu datang, semua tafsirmu pun akan runtuh. Bisakah nanti kau jelaskan ayat tentang longsor yang menelan desa? Apakah ada dalam khotbahmu tentang hadis yang mampu menenangkan ibu-ibu yang kehilangan anak?”
“Diam kalian!” bentak Daif. Dan ekspresi itu tak pernah Luria lihat seumur rumah tangganya sekarang.
Ruangan itu pun menebar rasa kaku dan panas meski mesin pendingin terus berupaya embuskan napasnya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu menarik perhatian Komisaris Daif. Dia segera berjalan untuk membukanya.
“Ohh Anda, Tuan Cheng? Mari masuk,” pinta Daif semringah oleh tamunya.
Tiga pria berjas rapi masuk ke kantor. Luria dan Suni yang melihat itu kemudian memutuskan pergi.
“Jadi bagaimana perkembangannya Tuan Cheng, apakah nikel kiriman saya cukup?”
Tuan Cheng yang bertubuh tambun dengan mata sipit itu menyulam jari jemarinya.
“Tuan Daif, saya ke sini atas saran atasan Anda juga. Tuan Abidah, selaku menteri SDA dan Energi memandati Tuan untuk tingkatkan ekspor nikel.”
Komisaris Daif memundurkan punggungnya agar lebih mudah bersandar di kursi. Sedikit gelisah mencuat di antara air mukanya.
“Pak Abid belum menghubungi saya terkait ini?”
Satu ajudan Tuan Cheng maju untuk mengantarkan map. Tanpa dipersilakan, Komisaris Daif segera membuka map itu. Isinya surat kontrak persetujuan dari Tuan Abid. Bahkan ada tanda tangan sosok negarawan yang Komisaris Daif tak bisa tolak.
Membaca itu tubuh Komisaris Daif mendadak penuh menguap. Seperti hendak meledak memikirkan tentang kemungkinan yang bakal terjadi.
“Hanya itu saja yang saya mau kabarkan ke Anda, Tuan Daif,” kata Tuan Cheng berdiri. Keduanya bersalaman meski raut wajah Komisaris Daif tak secerah dan seramah di awal. Kebalikannya, roman puas dan perasaan menang membuncah dalam sinar wajah Tuan Cheng.
Setelah langkah ketiganya menghilang di balik pintu, Komisaris Daif lalu menarik laci. Dia ambil sebuah buku catatan dan membukanya. Target rencana kerja, kalkulasi perhitungan, dan keuntungan komersil keluarga tertulis detail di buku itu. Komisaris Daif melepas sorban di kepalanya dan menaruh di meja. Uban di kepala itu bukanlah dusta dari sebuah usia dan mungkin pemikiran. Dia sadar semua tak akan berjalan sesuai targetnya. Alunan pikiran itu juga mengarah tentang sumpah serapah yang akan ia sandang dengan lebih gencar. Betapa tidak, semua ekspor nikel tersebut meningkatkan titik pengeboran. Berpotensi besar warga Sanuri semakin murka. Ironis lainnya, bahkan Pak Abid sendiri baru setengah melakukan pembayaran.
Blarrrr!
Mendadak bunyi dentuman seperti guntur menggelegar dari balik bukit Pulau Sanuri. Semua bergetar hebat dalam penuh keterkejutan. Komisaris Daif yang hampir terjatuh dari singgasananya menyaksikan bagian selatan seperti diatapi awan hitam yang mengepul disusul jilatan api setan raksasa. Lekas ia pasang sorban itu dan berdiri. Dia sadar betul ini bukan guncangan dari bom blasthing.
Brakk! Pintu terdobrak dari luar. Luria dan Suni berlari mendekati sang ayah.
“Abi! Longsor di jalur tambang selatan!” teriak Suni.
Alarm di pusat kantor meraung. Bagai semut semua pekerja dari karyawan lapangan, driver, sampai OB berhambur keluar. Telepon berdering.
Tanpa salam pembuka, Komisaris Daif yang mengangkatnya segera diberitahukan si penelepon tentang insiden dan potensi.
“Keluar dari pulau segera, Pak. Lakukan evakuasi! Kemiringan lereng dalam lubang tambang mengakibatkan longsor dahsyat! Parahnya longsoran itu juga mengoyak lapisan tanah yang mengandung metana! Ini bencana!”
Maka makin terperanjatlah Komisaris Daif. Dan rasa kengerian bercampur ketakutan itu sangat jelas terbaca oleh istri dan anaknya.
*
Seminggu berlalu. Dalam ruang persidangan, hakim menyetujui permohonan jaksa penuntut umum yang membacakan surat tuntutan mengenai bencana tambang di Pulau Sanuri. Tuntutan itu merupakan gabungan dari beberapa elemen bidang meliputi WALHI, tokoh adat, Dinas Kehutanan, bahkan dari pihak perusahaan. Bencana longsor dan meledaknya gas metana menjadikan sebagian Pulau Sanuri hancur berkalang tanah dan batu. Korban jiwa dan kerugian materi dipaparkan dengan rinci. Jaksa pembela seperti hilang taring manakala data telak mendebatnya.
Komisaris Daif duduk di kursi pesakitan. Mendengarkan setiap dakwaan tentang keteledoran sehingga menghilangkan berpuluh-puluh nyawa nyatanya adalah luka yang tersiram garam. Terlebih pihak tingkat tinggi juga ikut mendakwa dengan alasan perjanjian kontrak telah dibuat tapi mangkrak di tengah jalan. Perusahaan mengalami kerugian besar ditambah harus ikut terlibat dengan semua anarki masyarakat yang terdampak.
Luria dan Suni tak mampu berbuat banyak kecuali hanya tangisan sebagai simbol pengantar lara. Mereka berdua yang mendengar dakwaan bercampur hujatan tak sanggup lagi ingin berucap atau bertindak apa.
Bagaimana ini? Pikir Komisaris Daif. Dakwaan 20 tahun penjara telah tersemat. Semua aset dibekukan. Hutang membelit keluarga yang ditinggalkan. Belum lagi ancaman-ancaman untuk keluarganya. Sebagai pria yang dikenal tegas dan mengerti agama, ia tak hendak menangis. Namun kejadian ini sungguh menjungkalkan asanya. Sejatinya ia sadar mengenai bagaimana sebuah profesi mesti terikat pada satu tempat. Mungkin jika bukan pujian dari para penjujungnya atas kemampuan dan prestasi Komisaris Daif. Dia tak akan terima posisi tinggi ini. Pujian yang menjatuhkan. Atau mungkin memang ini hanya jebakan agar ada yang dikambinghitamkan. Akh! Ngiangan tentang dirinya yang mengajari santri mengaji di pondok mendadak muncul kembali. Mengajari ilmu yang seharusnya berlaku tegak lurus. Apa pun, baginya semua hanya nestapa. Komisaris Daif memutar kepalanya. Dia lihat istri dan anaknya yang rapuh itu. Dalam ringkih jiwa, mulut keringnya melontarkan suara lirih.
“Maafkan Abi, keluargaku. Harusnya Abi tak mencampurbaurkan antara ilmu agama dan ambisi dunia.”
________________________________
Heri Haliling, nama pena dari Heri Surahman Pria kelahiran Kapuas, 17 Agustus 1990 itu adalah seorang guru di SMAN 2 Jorong di Kalimantan Selatan. Selain mengajar, Heri Haliling juga aktif sebagai penulis. Beberapa karyanya antara lain Novel Perempuan Penjemput Subuh (Aksara Pustaka Media, 2024), Novelet Rumah Remah Remang (J-Maestro, 2024), dan buku kumpulan cerpen Perempuan Penggenggam Pasir (Guepedia, 2025). Adapun untuk cerita pendek, karya-karyanya telah dimuat di beberapa majalah sastra dan koran digital atau cetak. Untuk berdiskusi dengan Heri Haliling pembaca dapat berkunjung ke akun Ig heri_haliling
