Cerpen Diana Rustam

Kucing liar yang selalu hinggap di bingkai jendela kamar Gerimis itu, mati hari ini. Menurut Pak Harum—pemilik kontrakan tempat Gerimis dan Ilalang menyewa kamar—kucing itu tertabrak sepeda motor Pak Januari, laki-laki paruh baya yang rumahnya berjarak 100 meter dari kontrakan milik Pak Harum.
Kucing hitam itu, tidak sengaja Gerimis temukan di bawah jendela kamarnya dalam keadaan sudah kaku dan dikerubungi semut.
Pak harum bercerita dengan semangat, sehingga Gerimis bisa membayangkan kejadian tertabraknya kucing hitam itu seperti halnya menonton sebuah film.
“Kucing itu melintas di jalan depan kontrakan, sepertinya ingin bermain dengan seekor kucing lain yang ada di seberang. Sewaktu kucing itu tepat berada di tengah jalan, motor Pak Januari lewat dengan kecepatan tinggi. Kelihatan kalau Pak Januari sedang buru-buru.”
“Lalu?”
“Lalu, brak! Ujung ban depan motor Pak Januari menabrak perut kucing hitam. Kucing hitam menggelepar sebentar. Saya langsung melompat dari duduk saya waktu itu. Padahal, saya sedang ingin duduk, karena saya baru saja selesai membersihkan sumur karena kamu dan Ilalang menjatuhkan bungkus sabun cuci ke dalam sumur. ”
“Hm… Lanjut, Pak, ceritanya. Bungkus deterjen jangan diungkit dulu,” kata Gerimis protes.
“Anggap saja itu jeda iklan. Baik, saya lanjut, ya. Tadi sampai mana?”
“Pak Harum melompat dari duduk yang… padahal… Ah sudah, pokoknya begitu.”
“Nah, saya dekati kucing itu, tapi kucing itu mendadak berdiri dan lari ke arah belakang rumah.”
“Lalu?”
“Saya ikuti, tapi…lari saya kurang kencang, kamu tahu, kan, kalau saya waktu itu sedang capek karena baru saja membersihkan sumur karena—“
Ucapan Pak Harum dipotong Gerimis, “Karena bungkus detergen yang masuk ke sumur, itu kerjaan saya sama Ilalang!”
“Nah itu! Oh iya, barusan kamu kubur di mana kucing itu?”
“Di tanah kosong sebelah rumah Pak Januari. Di bawah pohon pisang.”
“Baguslah…soalnya pekarangan kita ini sempit.”
Gerimis menarik napas panjang. Meskipun ia punya rambut gondrong yang selama ini terkesan seperti anak muda yang cuek, tapi sebenarnya Gerimis termasuk orang yang gampang terharu.
Singkat cerita, Gerimis menangis.
“Gondrong, Kok, nangis. Nangisin kucing pula, gak cocok,” sindir Pak Harum.
“Panjang pendeknya rambut tidak menentukan kadar ketahanan mental, Pak.”
“Bahasamu, kok, canggih? Gak seperti biasanya? Eh, sory, saya lupa kalau kamu itu mahasiswa hehehehehe.“
Gerimis tidak menanggapi. “Kucing itu saya kasih nama Keadilan, Pak.”
Pak Harum mengangkat kedua alis matanya yang tebal.
“Keadilan itu sudah jadi belahan hati saya. Tiap malam dia saya ajak ngobrol. Keadilan tidak protes kalau saya selalu mengeluh. Semua masalah saya, saya ceritakan padanya. Dia duduk seperti roti di jendela, sambil mendengarkan saya bicara. Sekali-kali Keadilan saya kasih makan mie instan, Keadilan tidak menolak, malahan dia makan dengan lahap.”
“Lalu?” Pak Harum menagih cerita dilanjutkan.
“Mula-mula keadilan itu takut-takut mendekat. Eh, lama kelamaan setelah saya pancing dengan ikan asin dia mulai berani. Pertama-tama di bingkai jendela, lama-kelamaan dia tidur di tempat tidur saya, Pak. Tapi saya tidak keberatan, toh Keadilan juga menyenangkan, tidak pernah merusak barang-barang dalam kamar saya. Jangankan kasur, kalau dia butuh baju, akan saya pakaikan di badannya.”
“Eh, apa kamu juga membicarakan saya pada kucingmu?”
“Tenang saja, Pak. Kucing tidak suka bergosip.”
“Iya, ya. Tapi kenapa namanya Keadilan? Bukan si Hitam, Si Manis, atau si Belang?”
“Tidak mungkin si Belang, soalnya bulunya melulu hitam.”
“Oh iya, kamu betul. Terus?”
“Ya, begitulah, Pak. Saya merasa sangat kehilangan. Saya sedih.”
“Tapi kenapa harus Keadilan?” Pak Harum masih penasaran.
“Entahlah… Keadilan langsung saja muncul di kepala saya waktu itu. Tapi si Keadilan ini memang punya sikap yang adil. Contohnya, sewaktu saya kasih makan, dia tidak mencoba mengambil ikan bagian saya, padahal bagian saya ada di depannya. Kucing lain mungkin akan menggasak milik tuannya kalau makanannya sudah habis. Saya pernah lihat kucing yang rakus, seolah-olah kucing itu tidak pernah kenyang. Kucing itu memakan semua ikan di atas meja tanpa sisa, tulang pun ikut dikunyah sampai habis.”
Keluh kesah Gerimis selesai ketika Ilalang sebahatnya pulang dari kerja. Pak Harum menepuk-nepuk pundak Gerimis. Ilalang ikut menenangkan Gerimis setelah mendengar cerita yang panjang itu dituturkan kembali oleh Pak Harum. “Sabar, ya. Keadilan tidak mati, dia hanya pindah ke tempat lain,” kata Ilalang.
***
Suatu malam, ada ketukan di pintu kamar Gerimis. Segera Gerimis menyudahi menonton televisi dan beranjak membuka pintu. Di depannya, Pak Januari sudah tersenyum kemudian memberi salam.
“Begini, Dik Gerimis…kejadian bulan lalu itu, saya minta maaf,” Kata Pak Januari setelah duduk dan sedikit berbasa-basi. “Saya baru tiba dari kampung kemarin, dan langsung mendengar sedikit cerita dari Pak Harum soal kucing hitam yang saya tabrak itu. Saya betul-betul tidak tahu kalau kucing itu kucing Dik Gerimis. Waktu itu saya terburu-buru, soalnya dapat kabar dari kampung kalau Bapak saya habis jual sawah dan saya mendapat bagian.”
Gerimis merenggut. “Lalu?”
“Ya, saya mau minta maaf. Sudah terlambat sebenarnya. Tapi, kan, tidak ada kata terlambat untuk minta maaf dan menyesali kesalahan, bukan begitu?”
Gerimis menghela napas. “Jadi kalau kucing itu bukan punya saya, Pak Januari gak akan minta maaf?”
“Bukan begitu hehehehe. Anu, kok, masalahnya jadi ribet, ya. Intinya, saya itu paham kesedihan, Dik Gerimis. Tapi itu, kan, hanya seekor kucing, lagi pula—“
Ucapan Pak Januari mendadak dipangkas Gerimis. “Cuma? Anda ini benar-benar tidak menghargai kehidupan. Anda tidak adil pada makhluk hidup.”
“Anu, bukan begitu, Dik Gerimis. Kejadian itu, kan, di luar kesengajaan saya.”
“Hm…sudahlah. Keadilan sudah tidak ada, saya marah-marah pun, dia tidak akan bangkit dari kuburnya.”
“Wah, Dik Gerimis ini memang bijak sekali. Oh iya, ini saya bawakan goreng pisang buatan istri saya. Dia titip salam untuk Dik Gerimis. Goreng Pisang ini dilapisi cokelat dan parutan keju. Rasanya enak sekali. Dik Gerimis pasti suka.”
Setelah meletakkan sekotak pisang goreng yang dibawanya, Pak Januari pamit pulang.
Gerimis mengintip kotak kertas yang dibawa Pak Januari, aromanya memang menerbitkan air liur. Gerimis berpikir, kalau Keadilan masih ada, pasti dia tidak akan menolak disuguhi makan malam dengan pisang goreng. Gerimis kemudian mengajak Ilalang menyantap pisang goreng cokelat keju itu ditemani secerek kopi sebagai kawan menonton pertandingan sepakbola sampai larut.
Esok harinya, Pak Januari datang lagi membawa dua sisir pisang kepok yang sudah matang sempurna. “Dik Gerimis, pisang di rumah saya banyak, ini saya bagi lagi. Soalnya perut saya sudah tidak sanggup menampung semua pisang ini. Saya hampir muntah disuguhi pisang setiap hari. Bayangkan, pagi-pagi saya dikasih pisang rebus, siang dikasih kolak pisang, sore dikasih pisang bakar, malam dikasih pisang goreng, apa tidak mabok pisang lambung saya?
“Bawaan dari kampung, ya, Pak?” tanya Gerimis.
“Oh, bukan. Ngapain saya repot-repot bawa pisang dari kampung. Toh di sini juga banyak yang jual di pasar. Pisang ini hasil panen dari pohon pisang yang saya tanam di tanah kosong samping rumah saya hehehehehe.”
Gerimis terbelalak. “Astaga!”
“Apanya yang astaga?”
“Saya sudah memakan Keadilan, saya sudah mengunyahnya dengan perasaan senang sampai kenyang. Kejam sekali!”
Pak Januari bingung. “Pisang dan keadilan, apa hubungannya? Sejak kapan keadilan bisa dikunyah? Kalau keadilan diinjak-injak, saya biasa dengar di televisi. Begitu kata pembawa berita.”
Gerimis menatap Pak Januari. Mulutnya masih menggumamkan nama Keadilan.
Makassar, September 2025.
______________________________________________

Diana Rustam, menulis cerpen dan puisi, tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Facebook: SuaraTonggeret. Ig: @dianarustam_
