Cerpen

Secangkir Kopi Ibu

Cerpen Rizka Hidayatul Umami

Ada ritual yang tidak pernah ditinggalkan ibu selepas 40 hari kematian bapak. Setelah ingatan soal petir yang menyambar tubuh bapak di tengah sawah, di siang yang gelap itu samar-samar mulai dilupakan orang. Ritual menyeduh dua cangkir berisi penuh kopi hitam jenis robusta, dipesan dari lereng Merapi. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat ibu menangis. Air matanya seperti ikut kabur bersama layu kembang dan aroma wewangian yang sengaja ditinggal di atas pekuburan bapak. Mungkin angin sengaja menerbangkannya dan membuat mata ibu jadi kering buat selama-lamanya.

Aku mengira, telah lenyap rindu  dan cinta ibu pada bapak. Secepat itu? Tapi lagi-lagi aku tak pernah berani, bahkan sekadar mengulik cerita-cerita soal bapak dan hari yang nahas itu. Hari ketika padi mulai menguning dan beberapa orang telah mendapat jatah buat memanen padi di sawah milik perangkat desa.

Tiga hari sebelum bapak mangkat, para buruh tani memang sedang bahagia-bahagianya mendapat jatah mburuh. Bapak dan ibu–yang tidak punya sawah–turut ambil bagian. Seperti musim panen sebelumnya, kebiasaan ibu dan bapak sebelum berangkat ke sawah cukup sederhana, menyeruput kopi dari cangkir masing-masing di teras belakang rumah. Sambil ngobrol ngalor-ngidul dan menghitung-hitung kasar, berapa nanti uang yang bisa mereka kumpulkan. Bagi keluarga kecil, mendapat jatah mburuh di musim panen adalah hal yang menggembirakan. Sebab tandanya orang-orang kampung telah banyak berubah, lebih memilih berbaik sangka dan menanam rasa percaya ketimbang terus menerus mengungkit luka lama, bapak yang banal dan ibu yang dianggap lacur.

Tapi pagi, tidak seperti biasanya, bapak terlihat buru-buru pergi ke sawah. Ia tak sempat menikmati secangkir kopi buatan ibu karena tak cukup waktu, katanya. Sarapan ditinggal begitu saja, sebab gerimis mulai berduyun-duyun datang dan langit menghitam dengan cepat. Bapak harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum gerimis berubah menjadi hujan deras. Kepergian bapak yang begitu tergesa dan kopi dingin menjadi pertanda yang membuat ibu murung beberapa jam. Sampai suara yang memekakkan telinga itu membuat semua orang di sawah terduduk lesu, kaki-kaki mereka gemetar dan beberapa hilang kesadaran. Bapak yang ada di tengah sawah tak sempat menepi. Seorang yang masih sadar melihat petir terakhir, dengan lengking yang lebih mengerikan, menyambar tubuh bapak yang masih memegang cangkul. Bapak, dengan dada gosong dan tubuh pucat membiru dibopong ke depan rumah diiringi rimbun gerimis dan tangis ibu.

“Ini akan jadi lebaran pertama tanpa bapak, Bu. Widuri rindu sekali dengan bapak. Andai bapak tidak ke sawah.”

“Habiskan saja makananmu.”

“Ibu ini, apa sudah benar-benar melupakan bapak?”

Bapak adalah pesta pora yang meriah di awal bulan, sebelum memasuki tanggal lima sebelum dikurangi cicilan dan biaya listrik. Ibu tidak lebih dari doa paling hening di malam-malam peringatan kematian buyut-buyut, yang hanya diperingati setahun sekali menjelang ramadan, dan sesekali dibacakan ayat-ayat suci yang lebih panjang. Sedangkan, aku tidak lain catatan yang gagal dari keduanya. Serupa ayam jago yang kokoknya di tengah malam menjadi bahan gunjingan tetangga, kadang benar-benar seperti tempat melempar segala kira-kira dan tuduhan-tuduhan.

“Siapa lagi yang bunting di luar nikah?”

“Pasti anaknya bandar itu? Si Suwandi kan anaknya juga tidak beres.”

“Bukannya anak itu jadi guru ngaji?”

 “Memang guru ngaji tidak bisa bunting duluan?”

Dalam hati, aku muak. Tapi aku belum berhasil menemukan cara jitu mencuci otak mereka, membersihkan kepala orang-orang yang tidak pernah bosan menjadikan aku dan masa lalu bapak ibu, menjadi bumbu penyedap obrolan mereka. Bapak –cerita orang yang otaknya tak pernah berhasil kucuci– dulu adalah anak laki-laki yang perangainya menjadi idaman orang-orang tua di kampung. Ia menjadi Yusuf yang dicita-citakan seperti satu dari sekian manusia pilihan Tuhan. Sehingga Suwandi kecil lebih sering dipanggil Yusuf daripada nama yang sejak awal bercokol di akta kelahirannya. Tapi siapa bisa menyangka takdir-takdir yang ditetapkan Tuhan pada anak manusia? Paman-paman bapak jauh lebih bengal, berhasil berkontribusi lebih banyak pada tumbuh kembang bapak daripada bapaknya sendiri.

Sedang ibu, seperti yang dibisikkan orang-orang di balik kamar masing-masing adalah mata yang berbahaya dipandang. Ia adalah laut bebas dan dalam. Sumur tua yang menyimpan banyak sejarah lebih pekat, petarung, pengembara, dan manusia yang punya banyak nyawa. Ia adalah malaikat dan kegelapan, sebelum sedia memberi bantuan pada bapak dengan janji seumur hidupnya. Ibu yang mengantar bapak pada pertaubatan pertama. Di hadapan dua bola mata yang nanar itu bapak bersimpuh, setengah sadar. Lima timba dini hari, berhasil membuat tubuh bapak menggigil, beku. Dan di saat yang sama ibu memulai pertaubatannya.

“Aku menyeretnya keluar rumah waktu bapakmu hendak mengulangi kegilaannya.”

“Ibu membenci bapak?”

“Sudah berapa kali Ibu bilang, demi apapun yang terjadi, percayalah Ibu masih mencintai bapakmu.”

“Tapi kenapa barang sekali saja, ibu tidak pernah berusaha mengingat bapak?”

“Nduk, Bapakmu selalu memegang cangkirnya. Lagipula, kita mesti terus melanjutkan hidup, dengan atau tanpa laki-laki yang kita cintai.”

Ibu menjelma perempuan yang begitu polos. Diukur karena tidak pernah menikmati kopi dengan cara seduh yang rumit. Kecintaannya hanya robusta yang disiram air panas dan sedikit tambahan gula. Ibu tak mengenal nama-nama kopi, apalagi menakar agar sajiannya ideal. Perjalanan cintanya cukup memperkenalkan ibu dengan robusta dari Merapi. Selang  35 tahun, hanya itu yang ia dapat selama hidup bersama bapak.

Ia hanya tahu pahit tidak akan terlalu pahit ketika dicecap, ia hanya akan menambahkan gula sesuai takaran, sesuai dengan apa yang ia rasakan. Sebab ibu tahu, meski robusta dengan banyak gula tidak akan nyaman diminum bersama bapak. Dan sampai saat ini, ibu tak bisa sedetik pun terpisah dengannya. Setidaknya harus ada setengah sendok teh penuh menemani cangkir-cangkirnya. Bahkan setelah bapak menyudahi jamuan minum kopinya, dua cangkir itu masih dihidangkan ibu. Hanya saja, tak pernah ada percakapan dan rona yang terus terang.

“Kita harus membersihkan kutukan orang-orang atasmu dan atas diri ibu.”

“Bagaimana caranya, Bu? Mencuci otak mereka? Mustahil.”

“Dengan melanjutkan hidup kita hari ini dan setiap hari. Jangan menoleh ke belakang dan jangan lagi meratapinya. Ayo, kita nikmati saja kopi ini.”

Secangkir kopi milik ibu adalah ingatan yang sepenuhnya tentang bapak. Secangkir yang lain adalah masa di mana ibu harus menghidupiku dan menghilangkan kutukan orang-orang yang menganggapku perempuan bengal. Betapa mengerikan menjadi janda seorang mantan bandar, tak bisa memilih nasib baik untuk diri sendiri dan anak semata wayangnya.***


Rizka Hidayatul Umami, Mahasiswa S-2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menyukai sastra dan isu-isu perempuan. Email: [email protected]

Cerpen

Tiga Episode Ingatan

Cerpen Pangerang P. Muda

Telah banyak ingatannya yang lindap. Sebagian yang bertahan mengendap, malah ia anggap hanya serupa imajinasi. Sekian tahun lampau, ia ingat pernah mengantar pulang seorang perempuan, dan di depan gerbang apartemen tempat perempuan itu tinggal, ia melamarnya. Melamar perempuan di depan gerbang apartemen, ketika itu, ia anggap amat romantis. Ia samakan dengan adegan di dalam sebuah film.

/1/

Sebelum pindah kemari, setiap pulang Lis selalu disambut anggora manis yang merengek minta dibelai. Karena aturan di apartemen ini tidak membolehkan memiliki hewan piaraan, kucing itu dia berikan ke temannya dan sekarang tidak ada lagi yang menyambutnya.

Menggeser pintu yang menuju balkon, dadanya meraup sebanyak udara yang datang meruap. Tiga puluh meter dari permukaan tanah, dia meluruskan jenjang kakinya, berselonjor di atas sofa rotan. Tatapnya mengapung nun ke air laut yang berwarna merah kesumba. Dia memejam, melayangkan otak dan otot setelah diberati aktivitas pekerjaaan sepanjang hari, sampai tertidur. Laki-laki itu muncul dan langsung pula mencecar, “Sungguh, Alissa, aku mencintaimu. Dengan kalimat apa lagi aku harus mengatakannya?”

Gelak Lis lepas. Ya Tuhan, kenapa anak ini yang datang menyatakan cinta? Tawanya dia peram, karena laki-laki itu mendadak merengkuh, mendekapnya lalu melompat bersama keluar dari pagar balkon. Saling-pilin keduanya meluncur tersedot gravitasi. Hambatan angin yang begitu deras, serasa akan meremukkan tulangnya.

Tergeragap bangun, Lis menggigil. Embus angin cukup deras menyerbu dari arah laut. Tidak cuma di alam nyata, di alam mimpi pun anak itu mengganggunya. Lis mengejap. Di depannya, senja telah habis.

Merasai tubuhnya yang penat mulai merindukan hangat air di dalam bath-tub, Lis meninggalkan balkon. Ingatannya berputar; ah, tidak, dia tidak ingin mengingat nama laki-laki itu, senyampang dia tak ingin pula mengingat entah terselip di mana kartu namanya. Dia hanya merasa perlu mengingat nama perusahaan konstruksi dan pengembang yang diwakilinya, karena itu klien lama perusahaan periklanan tempat Lis bekerja. Setelah mengepalai divisi, Lis menunjuk seorang staf untuk berhubungan dengannya, tapi anak itu ngotot dan tetap ingin berhubungan langsung dengannya, seperti sebelum-sebelumnya.

Lis tak cakap pula mengelak; perusahaan periklanan tempatnya bekerja sedang tumbuh dan gencar-gencarnya berburu sekaligus mempertahankan klien lama. Lebih tak cakap lagi dia mengalkulasi efek hubungannya: anak itu jatuh cinta padanya. Persuaan yang acap, yang kian kerap bermuara di kursi-kursi kafe sekitar perkantoran tempat kerjanya, ternyata memurupkan pula cinta anak itu.

Mengingatnya, senyum Lis jadi ringis. Laki-laki itu sebelas tahun lebih belia dari usianya yang jelang empat puluh, sampai Lis menganggapnya ‘masih anak-anak’. Dua kali terang-terangan menyatakan cinta membuat Lis terkaget-kaget, dan nyaris syok ketika anak itu ngotot mengiringinya sampai ke gerbang apartemen, sebelum berdeklamasi; bagi Lis, itu serupa ratap, “Hari ini, aku melamarmu. Alissa, bersedialah menjadi istriku.”

Lis keluar dari bath-tub. Walau semampai tubuhnya terbalut jubah mandi, saat berada di ruang tengah dia menggigil. Pintu ke balkon rupanya masih menganga, meloloskan deras angin. Setiap menutup pintu itu, dua belas lantai di atas permukaan tanah, sontak dia mendapati dirinya disergap sepi.

***

Pada kelindan memorinya, ia ingat pernah pula mengantar pulang seorang perempuan, dan di depan gerbang pagar rumah perempuan itu, ia berkata, “Maukah kamu menjadi istriku?” Ia lupa pada film apa pernah melihat adegan seorang lelaki melamar kekasihnya di depan pagar, dengan salju yang terus melayang di sekitar mereka, dan ia bermaksud menirunya. Ia anggap adegan itu amat romantis.

Meski kemudian sulit ia percaya, di suatu masa di dalam hidupnya, ia bisa nekat meminta seorang perempuan lain menjadi istrinya justru ketika ia sudah punya istri. Ia pikir itu ingatan yang absurd,sama absurdnya dengan kenyataan telah menikah dengan perempuan yang tidak ia cintai.

/2/

Sebagai istri siri, Nin memang mesti tahu diri: dia harus ikhlas disimpan di tempat yang tersembunyi. Makanya dia menduga suaminya akan membawanya ke sebuah rumah yang menyempil di pojok kampung ketika berkata, “Kita akan mengunjungi puri cinta kita. Itu kado pernikahan untuk kamu.”

Dia sempat mengelak, separuh berseloroh, “Puri? Tidak, ah. Aku takut banyak hantu bergentayangan di dalamnya.”

“Memang banyak,” balas suaminya. “Tapi hantu-hantu asmara.”

Rumah itu duduk anggun pada ketinggian sisi perbukitan. Untuk mencapainya dari jalan raya, harus melalui dua kelokan hampir setengah lingkaran. Sejak sebelum kelok pertama, kontur jalan sudah mendaki. Begitu lepas dari kelok kedua, rumah itu mulai terlihat: agak mungil, dikitari halaman yang lapang. Nin berdecak, merengek, “Aku suka, Pa….”

Setiap di bawah sana ada yang menuju puri cintanya, sejak di kelokan kedua sudah terlihat. Sembari menatapi embun menguap, Nin duduk di beranda, menerka-nerka siapa yang akan datang pagi ini. Biasanya yang paling awal tukang sayur, lalu penjual ikan, menyusul penjual jamu, dan sesekali datang pula peternak lebah madu. Seusai menawarkan jualan, pedagang keliling itu akan mengitari jalan setapak di samping pagar halaman sebelum menghilang ke kampung yang ada di belakang.

Biasanya tengah hari baru suaminya yang datang. Begitu muncul di belokan, Honda City merahnya yang sedang merayap terlihat menyala, seakan membawa bara cinta, dan dia siap-siap menyambut. Entah berapa kali dia mencandai suaminya, “Puri kita ini, memang sarangnya hantu-hantu asmara.”

Pertama kali Nin mengenal laki-laki itu di suatu sore yang kuyup diguyur hujan. Sepupunya yang juga karyawan sekaligus teman SMA laki-laki itu, mengajak menumpang di mobilnya. Nin ke kantor sepupunya itu karena ada urusan pekerjaan, dan pulangnya jadi bingung karena hujan demikian deras meruah. Laki-laki itu menawarkan tumpangan, sekaligus menawarkan sikap dan wajah simpatik, untuk Nin kagumi; laki-laki itu direktur di perusahaan tempat sepupunya bekerja, tapi tidak menampakkan sikap seorang atasan kepada bawahan pada sepupunya.

Kemudian tidak bisa lagi Nin sesali bila persuaan itu ternyata terus berepetisi, berulang-ulang dengan pesona laki-laki itu seakan sedot pompa yang tak kuat Nin tampik. Dan di suatu senja, saat Nin turun dari mobil dan sebelum mencapai pintu pagar, gerimis datang. Laki-laki itu ternyata ikut turun, mendekat dan mengagetkannya, “Maukah kamu menjadi istriku?”

Nin merasakan laki-laki itu memang memberinya kasih sayang, tapi dia tetap dihadapkan pada kenyataan: laki-laki itu juga suami dari perempuan lain. Berbagi cinta membuatnya sadar dan mesti tahu diri tak bisa merecoki suaminya dengan kunjungan yang kerap. Dan, seiring rangkak waktu, kedatangan suaminya memang mulai jarang, dan makin jarang saja setelah usia pernikahan mereka melewati tahun ketiga. Kian kerap pula Nin hanya bisa menggigit bibir, kian merasai getir.

Dengan hanya ditemani seorang pembantu, dan belum juga ada tanda-tanda rahimnya menyimpan janin, tinggal di purinya di atas bukit, Nin mulai merasa suatu saat sepi akan membunuhnya.

***

Andai bisa, ia ingin melupakan saja ingatan saat dipaksa orang tuanya, dengan ultimatum, agar ia menikahi putri pamannya. Ia tahu orang tuanya khawatir melihatnya tak henti-henti mengenang perempuan yang pernah menolak lamarannya, khawatir membuatnya memilih membujang sampai lapuk. Semacam imbalan, ia lalu diberi kepercayaan memimpin perusahaan keluarga, senyampang usia bapaknya mulai sepuh. Tak ingin dianggap aji mumpung belaka, ia bekerja sungguh-sungguh, sampai bisa membuktikan kepercayaan itu tidak sia-sia dipikulkan ke pundaknya.

Namun, takdir yang dilakoninya terus saja berkelok-kelok. Akibat sakit, istrinya meninggal; bisa jadi setelah tahu ia telah menikah siri dengan perempuan lain, ikut pula memperparah sakitnya. Belakangan ia juga tidak mampu mempertahankan istri sirinya; cekcok mulai kerap mengusik dan keluarganya terus pula bergolak mempermasalahkan.

Ketika ia melamar lagi seorang perempuan, walau pertemuannya bak cerita di dalam film, tapi ia tidak meniru-niru lagi adegan romantis dalam film. Ia merasa sudah terlalu tua meniru begitu, malah ia tidak ingat lagi tepatnya kalimat apa yang ia ucapkan ketika menyatakan suka. Perempuan itu ia lihat pertama kali di salah satu kantor cabang perusahaannya. Saat melihatnya, ia terkesima, yakin perempuan itu merupakan kelahiran kembali dari perempuan masa lalunya yang amat ia cintai tapi menolak menikah dengannya, karena begitu mirip. Seperti itu ingatannya menyimpan kejadian itu. Di depan bapaknya yang sudah sepuh, entah bisa mendengar ketika ia berseloroh, “Saya tidak mau jadi duda lapuk.”

/3/

Berada di depan rumah besar itu, Mun sontak membayangkan sedang berhadapan dengan sesosok raksasa. Pilar-pilar tinggi bergaya Eropa yang menyambut di beranda membuatnya merasa serupa liliput. Saat pintu depan berdaun ganda terpentang, sadarlah dia tubuhnya sedang tersedot masuk ke perut sang raksasa.

Di suatu pagi yang bening, seusai menghabiskan tiga malam bulan madu mereka di hotel, suaminya membawanya ke rumah itu. “Saya sudah rindu pada anak-anak,” kata suaminya, sesaat sebelum meninggalkan hotel. Ketika mobil yang mengantar berbelok masuk ke gerbang, suaminya berkata, ”Itu rumah kita.”              

Di situ tinggal pula bapak, delapan cucu, serta tiga adik suaminya dengan istri dan suami masing-masing yang telah menurunkan delapan cucu tadi. Istri dan ibu suaminya telah meninggal. Ada sembilan kamar tidur di rumah itu. Kamar terbesar bernuansa suite ditempati Mun dan suaminya. Di ruang depan, yang diisi dengan kursi-kursi besar yang mewah, Mun menghitung-hitung bisa menerima tamu sampai tiga puluh atau malah empat puluhan orang. Sedang ruang tengah, andai semua perabot disingkirkan, bisa saja dijadikan dua lapangan futsal. Serba-maha-luas pada rumah itu, membuat Mun merasa mengecil.

Hendak lepas dari telan ‘sang raksasa’, di suatu senja yang mendung, Mun memaksakan keberanian mengusul pada suaminya, “Pa, bagaimana kalau kita pindah ke rumah yang lebih kecil?”

Sedikit terperanjat, suaminya menatap heran dan berkata, “Rumah sebesar ini saja sudah penuh begini, malah mau pindah ke rumah lebih kecil?”

Sekuat tekad mempertahankan keberanian, Mun berujar lagi, “Di rumah kecil kita itu, kita tinggal berdua….”

Suaminya cepat menyela, “Jadi, kamu mau memisahkan saya dengan anak-anak? Juga dengan adik-adik?”

Belah mulut Mun seketika terkunci. Menghindari perdebatan, dia memilih mati kata.

Usia Mun dengan suaminya terpaut empat belas tahun. Saat melamarnya, usia laki-laki itu lima puluh satu sedang Mun tiga puluh tujuh tahun. Dia pimpinan dan Mun karyawan di salah satu cabang perusahaannya. Mun dilihatnya ketika berkunjung, dan jauh setelah menikah, dia membuat pengakuan bahwa begitu melihat Mun langsung terkesima dan jatuh cinta. Mun tertawa geli; perkara jatuh cinta, faktor usia muda atau tua ternyata tidak menjadi pembeda. Usia yang terpaut jauh sempat membuat Mun mengelak, tapi rupanya laki-laki yang dihadapi tipikal pantang menyerah. Sebagai karyawan, Mun tahu sedikit sejarah perusahaan tempatnya bekerja: sejak dipercaya keluarganya memimpin perusahaan, dengan kegigihannya laki-laki itu berhasil membuat perusahaan berkembang dan melahirkan cabang usaha, dan rupanya demikian pula kegigihannya meyakinkan Mun untuk menerima lamarannya.

Setelah menikah, Mun berhenti bekerja dan fokus ke rumah tangganya. Saat pamitan, dibalasnya ledekan teman-teman kerjanya, “Cinta memang tidak mengenal logika, kok.”

“Pindah dari rumah kita ini, sama saja memisahkan saya dengan anak-anak,” suaminya menyentakkan Mun dari ingatan. “Kamu kan tahu, saya sangat cinta anak-anak. Pulang ke rumah, yang membuat saya amat senang, bila sudah dikerubuti anak-anak. Mereka memang bukan darah-daging saya, hanya ponakan-ponakan saya, tapi perasaan saya mereka adalah anak-anak saya. Mereka adalah anak-anak kita, Ma….”

Anak-anak! batin Mun meratap. Anugrah yang satu itu belum juga diberikan Tuhan padanya, walau usia pernikahannya sudah jelang tahun keempat. Rumah besar ini memang selalu riuh dengan suara anak-anak, tapi Mun ingin mendengar suara anak-anaknya sendiri.

Setiap suaminya berangkat bekerja, Mun merasa penghuni rumah yang lain tidak ada lagi yang mengenalnya. Di keluasan kamar yang seakan salah satu ‘kantong udara’ di dalam perut sang raksasa, tempat Mun menyendiri, di situ dia merasa terus mengecil.

Semakin tidak tahan berada di perut sang raksasa, akhirnya Mun memutuskan akan ngotot meminta suaminya mengeluarkannya dari rumah besar itu, dari perut sang raksasa, sebelum dia habis dilumat.

***

Ingatan pada perjalanan hidupnya memang banyak yang telah lindap. Sebagian yang bertahan mengendap, malah ia anggap serupa imajinasi saja. Kerap ia termangu, berpikir jangan-jangan perjalanan hidupnya itu memang hanya sebuah cerita, atau rangkaian adegan di dalam sebuah film belaka?  ***


Pangerang P. Muda, menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Kumpulan cerpennya yang terbaru Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi/2019). Berdomisili di Parepare.

Cerpen

Laci Meja Bu Putri

Cerpen Dian Ariani Supangkat

Kipas angin berputar enggan di atap ruang guru yang lenggang karena bel istirahat belum berbunyi. Bu Putri bergegas ke kamar mandi. Pemandangan ini disaksikan Bu Putri saat hendak ke kamar mandi. Bibir Pak Nur, guru matematika yang berkumis lebat, menempel lekat pada bibir Bu Yanti, pegawai tata usaha. Badan mereka rapat. Sontak tubuh mereka merenggang saat melihat Bu Putri yang tak diharapkan. Diarahkan pandangan Bu Putri ke pintu kamar mandi. Pintu berwarna kuning dengan ganggang senada. Semakin gegas langkah Bu Putri. Meski hanya lima langkah jarak ke pintu kamar mandi tak henti Bu Putri mengutuki diri sendiri. Mengapa tak dia tahan ke kamar mandi sampai jam istirahat tiba. Saat semua guru kembali ke meja masing-masing. Kemungkinan kecil Pak Nur dan Bu Yanti menempel satu sama lain.

“Mengajar kelas berapa Bu?” Suara Bu Yanti saat pintu kamar mandi terbuka.

“Kelas X, Bu Yanti.” Pintu kamar mandi ditutupnya segera.

Bu Putri menyalakan kran air memenuhi bak kamar mandi yang sudah penuh. Sial. Rutuk Bu Putri tak henti.

Peristiwa tadi membuatnya lupa bahwa ada hajat mendesak untuk ditunaikan di kamar mandi. Bu Putri mematikan kran. Sekilas tak terdengar apa pun di balik pintu. Bu Putri mengatur napas sebelum keluar kamar mandi sambil merapal doa semoga mereka sudah lenyap dan ia tak harus bertukar cakap. Lorong keluar kamar mandi kosong. Ia berusaha berjalan biasa saja. Ruang guru masih sepi. Bu Putri bergegas kembali ke kelas. Tenggorokannnya kering. Dia berjalan menghampiri siswa namun pikirannya terpaku pada adegan Pak Nur dan Bu Yanti di lorong menuju kamar mandi.

“Mengapa harus di lorong kamar mandi sekolah?”

Pertanyaan itu berdengung di kepala Bu Putri berhari-hari setelahnya. Sekeras mungkin tak berpapasan dengan Pak Nur dan Bu Yanti di sekolah. Sayangnya sekolah tempat ia mengajar adalah sekolah negeri di jalan utama yang bangunannya pas-pasan. Berbatas jalan provinsi dan diapit rumah-rumah bangunan kolonial yang telah beralih fungsi.

****

Ruang guru sepi. Bu Putri tetap di ruang guru saat bel pulang telah jauh berdentang. Cerita-cerita yang harus dibaca karena pasti tak tersentuh jika dibawa ke rumah. Bagi Bu Putri urusan di sekolah dan urusan di rumah sebaiknya diberi sekat pembeda. Sebagian jendela dan pintu telah ditutup. Sore itu Bu Putri pulang jauh setelah bel jam terakhir karena membacai tugas-tugas siswa.

Hari telah jatuh hampir senja. Di ruang guru hanya ada tiga orang. Bu Putri, pak guru geografi, dan ibu bendahara sekolah. Pak guru geografi dan ibu bendahara sekolah hampir setiap hari pulang paling akhir. Jam terakhir di sekolah pukul tiga belas tiga puluh. Sekolah tempat Bu Putri mengajar belum full day. Senin sampai Sabtu wajib belajar di sekolah. Apa yang mereka lakukan setiap hari sepulang sekolah? Pak guru geografi telah beristri dan Ibu bendahara sekolah pun sudah bersuami. Kabarnya mereka berselingkuh karena pasangan masing-masing berselingkuh duluan. Bu Putri tidak terlalu peduli omongan guru-guru lain soal guru geografi dan bendahara sekolah itu. Namun, beberapa hari harus pulang sampai jauh sore, Bu Putri melihat desas-desus itu bukan sekadar kabar angin. Si guru geografi dan bendahara sekolah berpegangan tangan diam-diam. Tertawa cekikikan. Mereka saling meyuapi. Bu Putri menyaksikan adegan pasangan yang mendekati pensiun itu dari balik tumpukan tugas koreksi.

Mengapa harus di sekolah? Tanya Bu Putri pada diri sendiri berkali-kali.

Semua rekan guru tahu. Istri si guru geografi tahu, suami si bendahara pun tahu. Dinas pendidikan pun tahu.

***

Pagi itu Bu Putri dipanggil kepala sekolah. Saat ia baru meletakkan tas. Di ruang kepala sekolah sudah ada guru BK. Duduklah mereka bertiga dalam diam. Sekolah masih sunyi. Guru-guru lain belum berdatangan.

“Salah satu anak KIR kemarin tertangkap melakukan tindakan asusila, Bu.”’

“Tindakan asusila apa, Pak?”

“Mereka melakukan yang tidak sepantasnya.” Guru BK mulai bersuara

“Apa yang tidak sepantasnya itu, Bu?” desak Bu Putri

“Ini kelalaian kita semua terutama Ibu Putri sebagai pembina KIR. Anak itu sepulang pembinaan tidak langsung pulang malah berduaan dengan kakak kelasnya.”

“Yang terpenting sekarang bagaimana kita menangani kasus ini. Bapak si siswi adalah dokter. Bu BK yang akan mengatur bagaimana caranya supaya ini tidak sampai bocor ke luar. Ke LSM apalagi sampai cetak di koran. Bisa habis kita. Pokoknya biar diatur mereka berdua akan mengundurkan diri dari sekolah ini.’’ Tanpa jeda kepala sekolah menatap Bu Putri.

“Si siswi peraih nilai tertinggi, Pak,” sela guru BK

“Makanya sayang sekali. Namun jika berkaitan dengan akhlak saya harus tegas.”

“Biar guru BK yang menangani semuanya.”

Tak ada ruang bagi Bu Putri memberi pendapatnya. Itu hanya pemberitahuan baginya. Dia tak mampu membina ekstrakulikuler dan siswa-siswa itu akan dikeluarkan.

Bu Putri menatapnya sepanjang mengajar di kelas, si siswi menundukkan kepalanya. Begitu dalam.

“Angkat wajahmu, Nak. Ibu ingin bicara.”

Bu Putri hanya melihatnya seminggu setelah kejadian. Bu Putri tak sempat bilang pada padanya, “Kamu cantik, kamu berhak sepenuhnya atas tubuhmu.”

Bu Putri bahkan tak mampu membelanya saat guru BK dan wali kelasnya menghajar si siswi dengan ujaran-ujaran soal moral, akhlak, dan aurat. Ada kejijikan dalam nada bicara dan tatapan mereka. Si siswi bahkan sudah menanggung beban sedemikian rupa. Mereka harus merelakan kelanjutannya bersekolah di SMA terbaik di kota. Si siswa masuk SMA swasta yang hanya peduli akan jumlah siswa. Perkara mereka pengguna narkoba, pelaku tawuran akut, atau tukang bolos tak menjadi masalah. Belakangan, Bu Putri diam-diam bahagia ada sekolah-sekolah model begini yang menerima semua siswa yang dibuang sekolah-sekolah negeri begitu saja. Si siswi dimasukkan ke pondok pesantren di luar kota.

“Jika tak dikeluarkan, lebih merana lagi mereka. Bagaimana menanggung malu di depan teman dan para guru?”

“Tugas kita membuat mereka menjadi lebih baik. Mengajarkan menghargai tubuh mereka dan tidak memperlakukan mereka sebagai kriminal.”

“Tapi mereka amoral karena telah berbuat asusila.”

“Mereka remaja yang di tengah jalan mencoba bermacam hal.”

“Karena masih remaja sudah begitu bagaimana nantinya? Makanya harus segera dikeluarkan. Biar tidak dicontoh teman-temannya.”

“Atau sebaliknya bisa jadi teman-temannya bisa belajar dari kejadian ini.”

“Belajar mesum? Di sekolah ini akan dikeluarkan jika mesum.”

“Sama seperti si Bapak dan Ibu guru yang mesum, kan? Yang bahkan sudah beristri bersuami.”

“Bu Putri hati-hati jika berbicara.”

“Jika mesum artinya amoral dan asusila, mengapa para guru itu tetap tinggal dan siswa-siswa itu yang pergi? Mengapa kita yang harus risih dan para guru mesum itu tetap tak berubah? Saya lebih percaya murid-murid itu masih bisa berubah lebih menghargai tubuhnya dan berhubungan dengan orang lain.”

Sore itu saat sekolah mulai remang, mereka berada di ruang yang hampir seperti gudang. Sisa peralatan lomba dan acara-acara sekolah yang ditumpuk sembarangan. Ada matras usang. Si siswi telah telanjang dan si siswa siap mengambil video. Mereka telah bertukar gambar diri mereka beberapa kali lewat ponsel. Hari itu mereka bergantian akan mengambil gambar badan masing-masing. Nahas, guru olahraga yang belum pulang memergoki mereka. Si guru melihat si siswi memakai kembali satu per satu seragamnya dengan gelisah. Air matanya tumpah. Si guru belum juga memalingkan muka. Sampai akhirnya ia menyeret mereka ke luar ruangan.

Begitulah cerita yang berembus ke seantero sekolah soal kejadian yang membuat Bu Putri sebagai Pembina KIR bersitegang dengan kepala sekolah dan guru BK.

***

Bu putri melepas kacamatanya yang tebal, meletakkannya di atas meja. Seorang siswa menghampirinya saat pelajaran berakhir.

“Mama titip salam untuk Ibu. Mama dulu murid Bu Putri.”

“Siapa nama mamamu?”

“Nina, Bu.”

“Salam Ibu untuk mamamu.” Bu Putri lantas keluar kelas. Pandangannya tertuju pada kolam ikan di lantai bawah. Betapa mulut-mulut ikan itu menganga. Mereka bergerombol di air mancur yang dibangun dengan payah di tengah kolam. Samar, Bu Putri melihat wajahnya karena air yang jernih tanda air kolam baru diganti. Bu Putri mengingat dengan baik siapa Nina. Siswi yang dihamili pacarnya yang mahasiswa. Si mahasiswa hilang jejaknya ketika diminta kesanggupannya bertanggung jawab. Nina yang dibelanya bahkan sampai ke dinas pendidikan kota. Nina yang kurus dan manis. Nina yang dalam dua bulan akan ujian nasional namun ketahuan hamil. Nina yang tak dapat menahan mualnya saat praktik olahraga. Nina yang meski berurai air mata dengan lugas memohon untuk tetap bersekolah. Memohon untuk bisa ikut ujian tak peduli cemoohan yang akan diterimanya. Kepala sekolah, wali kelas, dan guru BK lebih peduli pada citra sekolah. Nina yang dibela Bu Putri sekuat kemampuannya. Bu Putri mendengar permohonan Nina yang menyayat. Bu Putri mendatangi kepala sekolah demi Nina bertahan sekolah sampai ujian selesai.

“Mengapa kita melepaskan tangan kita saat anak kita tersesat, Pak?”

“Ada hubungan apa Bu Putri dengan Nina ini? Saudara?”

“Nina sama seperti murid saya yang lain, Pak. Nina ingin belajar sampai ujian nasional. Nina tidak ingin menyerah, Pak.”

“Nina tetap akan dikeluarkan, Bu. Kebijakan saya tetap. Masih ada waktu buat Nina mencari sekolah atau mendaftar kejar paket C.”

“Tapi Pak, nama-nama peserta ujian harus didaftarkan jauh-jauh hari. Mustahil bagi Nina untuk ikut ujian tahun ini.”

“Itu bukan persoalan kita, Bu Putri.”

***

Bu Putri tetap mengajar bertahun-tahun setelahnya. Guru yang di meja kerjanya bersih dari segala macam foto. Tak satu pun foto, baik itu foto suami, anak, rekan guru atau foto-foto diri atau siswanya yang berprestasi terpajang. Bu Putri hanya menyimpan sebuah album di laci mejanya. Album berisi foto-foto tiga kali empat siswi-siswi yang terpaksa putus sekolah. Siswi yang dihamili pacarnya, siswi yang diperkosa pamannya, siswi-siswi dengan beragam kisah pilu yang berakhir serupa; dikeluarkan dari sekolah. Foto-foto siswi itu menjadi pengingatnya guru seperti apa ia.


Dian Ariani Supangkat, bisa disapa di twitter @arianidian dan Instagram @diari_diari. Surel: [email protected]

Cerpen

Cerita tentang Danto

Cerpen Elmina G.

Ketika Danto ditinggalkan secara keji oleh Erina, ia teringat masa kecilnya yang serba terbatas. Ibunya punya segudang larangan dan ayahnya jarang ia lihat. Kedua orang tuanya sangat sibuk. Ibunya, wanita pemarah yang mempunyai sekian batasan dan aturan untuk Danto patuhi. Danto kecil tidak boleh berada di luar rumah melebihi jam lima sore. Ia tidak boleh memanjat pohon seperti teman-teman sebayanya. Ia tidak boleh berenang di sungai karena ibunya khawatir anak itu tenggelam dan dimakan buaya. Dan saat anak-anak seusianya berlari-larian dengan riang gembira, ibunya juga mewanti-wantinya untuk tidak melakukan itu. Seorang anak kecil tak boleh bergerak sembarangan, ia harus berhati-hati, karena banyak hal bisa mencelakakannya sewaktu-waktu. Demikian ibunya berpetuah. Danto tidak punya pilihan lain. Ia harus mematuhinya, meskipun hatinya meledak-ledak hendak memprotes semua kekangan ibunya.

Saat Danto berusia tujuh belas tahun, ibunya meninggal dalam suatu kecelakaan sepulang dari menjenguk nenek yang mengalami stroke. Nenek sudah sakit selama bertahun-tahun dan wanita tua itu masih hidup sampai sekarang. Sedangkan ibunya yang kelihatan seperti wanita paling sehat yang pernah ada justru mati lebih cepat daripada dugaan siapa pun. Prosesi pemakaman ibunya begitu khidmat dan mengharukan. Banyak orang menangis di sekeliling makamnya. Orang-orang menabur bunga dan berdoa dengan muka sembab. Namun, tidak ada kesedihan yang abadi. Kesedihan mereka pelan-pelan menyurut. Danto adalah orang yang paling cepat hilang kesedihannya.

Ayahnya semakin sibuk dan jarang di rumah. Ia mengurusi soal bisnis, kunjungan ke berbagai kota, dan tetek bengek lain yang Danto tak mengerti dan tak mau mengerti. Ia tak merasa perlu untuk mengetahui persoalan ayahnya sebagaimana ayahnya tampak juga tak menghiraukan soal dirinya. Ayahnya hanya mementingkan urusannya sendiri. Ia tidak pernah menganggap Danto sebagai anaknya, sebagai sosok individu yang membutuhkan seorang ayah bukan hanya eksistensi dan uangnya, tapi juga perhatian dan waktunya. Tapi Danto tak lagi menganggap itu hal penting. Ibu sudah tak ada dan ia bisa melakukan apa pun yang ia mau sebebas-bebasnya. Berbeda dengan ibu, ayahnya cenderung tak hirau terhadap apa yang ia lakukan.

“Aku mencintaimu. Apakah kau mencintaiku?”

“Tentu, Danto.”

Percakapan itu adalah pintu bagi Danto memasuki labirin kisah percintaan. Sejak itu ia tahu bahwa tak semua wanita semenyebalkan ibunya. Perempuan pertama yang dikencaninya adalah Saliza. Mereka berjumpa di kafe berbeda setiap pekannya. Mereka saling mengungkapkan kata-kata cinta dan janji-janji manis. Pada waktu itu, segala hal seakan berlangsung selamanya. Mereka berciuman, berpelukan, dan tidur dalam seranjang. Semua itu mereka lakukan dalam kurun waktu tak lebih dari dua bulan. Di bawah kuasa syahwat, segala hal bisa berlangsung cepat. Pikiran dan perasaan tak dipersilakan menunggu lama-lama di suatu ruang kalau syahwat sudah berdiri tegak di sana.

Nyatanya tidak ada yang abadi. Sebahagia apa pun sebuah kisah, ia pasti memiliki akhir. Danto dan Saliza menjalin kisah cinta selama satu tahun kurang sebelas hari, cukup lama untuk ukuran sepasang remaja belasan tahun. Pada malam itu, Sabtu malam yang berawan dan mendung, Danto menampar Saliza. Ia pernah melihat ayahnya menampar ibunya sewaktu ia kecil lantas ia menirunya bertahun-tahun berselang. Itu tamparan pertamanya untuk perempuan. Dan tentu bukan yang terakhir.

Tiga hari sebelum tamparan itu sekaligus sebelum Saliza meninggalkannya tanpa sepotong pun permintaan maaf, Danto melihat gadis itu berduaan dengan lelaki asing. Ia tidak tahu siapa lelaki itu. Yang ia tahu lelaki itu mencium pipi Saliza seakan-akan orang itu adalah dirinya. Ia merasa peristiwa itu, kepasrahan Saliza terhadap lelaki asing berengsek itu, menjelaskan semuanya. Itu patah hati pertamanya. Dan jelas bukan yang terakhir.

Beberapa minggu setelahnya Danto berpacaran dengan Lianti.

“Aku mencintaimu. Apakah kau mencintaiku?”

“Tentu, Danto.”

Isi percakapan yang sama. Sebuah permulaan kisah cinta yang klise. Sialnya, isi kisah cinta Danto bersama Lianti pun tak jauh berbeda dengan kisahnya saat berhubungan dengan Saliza. Bedanya, kali ini bukan Lianti yang berkhianat dan menghancurleburkan semua ungkapan cinta dan janji manis yang pernah ada di antara mereka, tetapi Danto. Danto mengencani perempuan lain saat Lianti tak di hadapannya. Bukan hanya satu perempuan selingkuhan yang ia kencani, tapi lebih dari itu. Ia mengencani Rani, Sania, Delima, dan banyak perempuan lain.

Danto menjelma menjadi seorang petualang. Petualang cinta yang menyedihkan. Di sela-sela itu, ia menebus keterbatasan masa kecilnya dengan melakukan hal-hal yang dulu ibunya larang. Ia memanjat pohon-pohon tinggi, berenang sepuas-puasnya, berada di luar rumah sampai larut malam. Ia tak pernah mendoakan ibunya. Lebih dari itu, ia tak mau mengingat lagi ibunya. Semua ingatan tentang ibunya hanya membuat pikirannya kembali terkenang pada suatu masa ketika hidupnya seperti berada dalam penjara.

Sementara itu, ayahnya tak pernah lagi dilihatnya. Kabar berembus bahwa ayahnya menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan Danto dan ia tinggal di kota lain bersama wanita itu. Mendengar kabar itu, Danto kesal. Ia merasa dicampakkan. Tapi, itu hanya perasaan sesaat. Bukan pertama kalinya ia merasakan hal semacam itu. Kenapa pula ia harus memikirkannya.

Sejak pernikahan ayahnya, Danto tinggal sendirian di rumahnya yang besar, megah, tapi lengang. Tidak betul-betul sendirian. Beberapa pembantu dan penjaga kebun juga tinggal bersamanya di rumah itu. Ia jarang di rumah. Kebesaran dan kemegahan rumah tak membuatnya betah menghuninya. Ia lebih banyak berkeliaran di luar rumah seperti burung-burung malam. Ia mengunjungi bar demi bar, kasino demi kasino, kesedihan demi kesedihan.

Ia sudah lama ditinggalkan Lianti. Tapi apa pedulinya. Ia memiliki banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan yang bisa diajaknya untuk melakukan apa saja, kecuali membangun kisah cinta yang serius. Selama bertahun-tahun, ia senang melakukan hubungan-hubungan singkat bersama bermacam perempuan. Itu membuatnya tak harus terbebani janji setia, impian masa depan, pedihnya ditinggalkan, dan omong kosong lainnya yang lazimnya ada dalam sebuah kisah cinta.

Namun, tidak ada hal yang abadi dan manusia adalah makhluk yang gampang bosan. Suatu malam, saat ia tinggal seorang diri di dalam bar, ia memandangi langit melalui jendela. Ia melihat sepotong rembulan bersinar begitu terang dan puluhan bintang yang terpencar di sekelilingnya. Ia melihat pemandangan itu berjam-jam sampai malam berganti pagi dan rembulan serta gemintang itu lenyap dari pandangannya. Danto lalu pulang dan memutuskan untuk menghentikan petualangannya bersama perempuan-perempuan yang ia dekati tanpa ia cintai.

Ia mengurung diri di kamar berhari-hari. Waktu itu usianya menjelang dua puluh empat. Usia yang ia sadari cukup matang untuk memikirkan apa pun yang ada di dunia secara lebih serius. Namun, di dalam kamar itu ia tidak memikirkan tentang apa pun yang ada di dunia. Ia hanya memikirkan tentang dirinya. Semata dirinya. Tidak ada pikiran soal ibu, ayah, ataupun teman-temannya. Pada hari terakhir permenungannya, ia membuka jendela kamar dan kembali melihat pemandangan serupa yang dilihatnya berhari-hari silam di bar. Sepotong rembulan bersinar begitu terang dan puluhan bintang yang terpencar di sekelilingnya.

Pagi harinya, Danto keluar dari rumah sebagai lelaki yang teratur. Ia berpakaian rapi, tersenyum ramah kepada orang-orang, dan menghargai perempuan. Ia bekerja mengurus salah satu lini bisnis ayahnya. Ia tidak menyukai ayahnya, tapi ia menyukai pekerjaan itu. Semuanya berlangsung biasa belaka sampai suatu hari seorang pegawai datang ke ruangannya untuk menyerahkan sebuah dokumen. Pegawai itu adalah seorang perempuan berambut panjang yang cantik. Tidak memerlukan penjelasan panjang-lebar untuk menggambarkan kecantikan yang murni. Pegawai itu bernama Erina dan Danto jatuh cinta kepadanya.

Bertahun-tahun ia menjalani kisah cinta yang manis bersama Erina. Mereka rutin makan malam bersama, melakukan perjalanan yang menyenangkan ke kota-kota eksotis, membeli barang-barang apa pun yang mereka kehendaki, dan bercinta sepuas hati di hotel-hotel berbintang.

Segalanya baik-baik saja sampai Danto mengulangi sebuah pernyataan—yang sekilas terlihat manis—yang membuat apa yang baik-baik saja menjadi luluh lantak.

“Aku mencintaimu. Apakah kau mencintaiku?”

Danto dan Erina resmi berpacaran beberapa tahun lalu tanpa perlu mengatakan hal semacam itu. Danto mengatakan itu semata-mata karena ia tidak bisa menahannya.

“Tentu, Danto.”

Erina menjawabnya semata-mata karena ia merasa sebuah pertanyaan harus dijawab.

Seminggu kemudian Erina pergi meninggalkannya. Erina keluar dari tempat kerjanya dan menikah dengan seorang lelaki asing dan tinggal di kota yang jauh dari rumah Danto.

“Kenapa kau meninggalkanku?”

Erina memutuskan telepon. Setelah menutup telepon, Danto teringat masa kecilnya yang serba terbatas dan ia teringat kepada ibunya dan ia berdoa ibunya bisa hidup kembali agar ia bisa kembali masuk ke dalam rahim ibunya. (*)

TS, 5 Desember 2019


Elmina G. Lahir tahun 1999 di Berastagi, Sumatera Utara. Suka menulis cerpen. Kini bermukim di Bandung. Kesibukannya saat ini adalah berkuliah dan menonton drama Korea. Bisa dihubungi melalui email: [email protected]

Cerpen

Dunia Kami

Cerpen Danya Banase

/1/

Laki-laki itu selalu sendiri. Tidak pernah menegur tapi selalu ingin ditegur. Beberapa teman yang selalu berada di sekelilingnya bahkan mengatakan ia pribadi yang berbeda. Ia dianggap sombong dan tidak mau bergaul dengan orang lain. Berbeda denganku. Walaupun orang-orang sering berkata bahwa terkadang aku tenggelam dalam duniaku sendiri, proses interaksiku dengan dunia luar baik-baik saja. Setidaknya menurutku. Tapi ia memang berbeda.  

Kami bertemu di perpustakaan dekat SMP tempatku bersekolah dulu. Aku datang 15 menit sebelum pintu perpustakaan terbuka. Orang-orang berkata aku terlalu rajin dan menyuruhku untuk melamar menjadi penjaga perpustakaan saja. Aku tak menggubris perkataan mereka. Mereka terlalu bodoh saat menilai tindakan seseorang sebagai bahan lelucon garing dan membosankan. Tidak semua orang menerima lelucon sebagai cara untuk diterima orang lain. Tidak semudah itu. Aku memilih duduk dekat rak buku-buku terjemahan di lantai dua. Bukan sebab ingin belajar bahasa Prancis ataupun karena diberikan tugas kuliah untuk menelaah Social and Political Philosophy karya John Christman, buku membosankan yang dibahas dosen senior yang sepanjang pelajaran hanya duduk dengan gaya malas dan berbicara seperti berbisik itu. Memilih lorong kedua, diapit susunan buku terjemahan bahasa Jerman dan Rusia, ternyata lebih nyaman. Mungkin karena berada di dekat sudut ruangan pula. Tidak terlalu sempit dan pengap. Penjaga ruangan itu, seorang bapak berusia 50-an dengan gigi seri bagian kanan atas yang ompong senantiasa menerimaku dengan ramah.

Laki-laki itu datang saat pegawai perpustakaan pergi makan siang. Ketika ia melintas, kami hanya berduaan di ruangan itu. Perawakannya tinggi, sekitar 170 cm. Keningnya yang lebar ditutupi potongan rambut berponi yang acak-acakan sehingga tampak tebal di bagian depan dan nyaris menutupi mata kanannya. Menurutku, gaya itu pernah menjadi model favorit sekitar tahun 2016 dan kemungkinan tidak kekinian lagi. Ia mengenakan kaus bergaris biru laut bercampur hitam, celana kusam setengah lutut yang robek-robek di lipatan bagian bawah, dan sepatu kets bertali tanpa kaus kaki.

Gaya berpakaian laki-laki itu cukup familiar di kalangan anak muda kota yang gemar travelling. Kami sempat bertatap muka, walau menurut perhitunganku hanya 7 detik atau kurang. Ia tersenyum, lalu melangkah menuju lorong buku bagian kamus-kamus bahasa asing. Ia kembali lagi. Seperti orang yang malu-malu dan ingin bertanya tentang sesuatu tetapi diurungkan, ia bolak-balik tidak jelas. Setelah empat kali melakukan hal konyol itu, ia mendekatiku dan menanyakan hal yang menurutku amat ganjil, sangat jarang terjadi apalagi kepada seseorang yang tak dikenal sebelumnya.

“Bagaimana pandanganmu ketika orang-orang menuduh dirimu terlalu egois dengan duniamu sendiri? Mereka bilang aku sombong. Harus kuakui beberapa orang di sekelilingku terkadang tidak memahami apa yang sedang terjadi dalam kehidupanku. Usaha mereka pun sia-sia, justru karena mereka terlalu mencampuri urusan orang lain.”

Ia gila. Kumaklumi saja karena memang ada beberapa orang memiliki kepercayaan diri begitu tinggi sampai taraf yang menjengkelkan. Lihat saja, ketika ia bertanya, ia pun berani sekali menatap mataku dengan tajam.

Well, itu pertanyaan mudah. Aku datang ke tempat ini dan sibuk bergeliat dengan pemikiranku sendiri.”

“Seperti saat ini?”

“Tepat. Seperti saat ini.”

Jawaban pendekku diresponsnya dengan melangkah cepat ke lorong sebelumnya dan kembali lagi sembari menenteng buku Orientalism karya Edward Said. Ia memilih duduk di depanku. Tersenyum simpul, gerak bibirnya tampak sekali dipaksakan.

“Seperti buku ini? Kalau kau sudah membacanya.”

Aku memilih diam.

Bisakah ia diam barang sejenak dan menutup mulutnya? Aku sedang berusaha menumpahkan isi otakku untuk menyelesaikan cerpen yang telah kugumuli sejak seminggu lalu. Bahkan ketika ia datang, pikiranku mulai buyar.

“Orang tuaku menyuruhku menelan obat-obatan yang diberikan dokter langganan kami. Aku bahkan diminta untuk menemui seorang psikiater dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti anak bodoh yang tidak tahu apa-apa. Keadaanku baik. Aku takut. Sebenarnya demikian. Teman-teman seangkatanku mengatai aku tuli dan bisu. Kau adalah saksi. Buktinya aku bisa mendengar ucapanmu sekarang. Aku hanya tidak ingin merespons mereka. Membicarakan hal-hal yang tak kumengerti.” Telinga kanannya spontan bergerak ketika ia selesai bicara. Kulihat itu sebagai hal yang wajar pada awal ia bertanya, tapi pandanganku berbalik seratus delapan puluh derajat setelah tiga kalimat berikut yang ia lontarkan. Kupikir hanya 22% orang di planet ini yang masuk kategori istimewa dapat melakukannya.

Hikikomori. Berapa lama kau melakukannya?” Tanpa bertanya lebih jauh aku langsung tahu orang seperti apa laki-laki itu.

“Enam bulan. Teman dunia mayaku yang paling mengerti. Perbincangan kami sangat menyenangkan. Ia terbuka dan sepertinya mirip denganku. Kami berbicara tentang game, buku-buku penulis klasik, hingga warna kesukaan.”

“Aku pernah. Dulu. Menjadi diam bukan berarti abnormal.” Aku suka anak ini. Ia sepertinya bisa mengenali sifat seseorang, makanya ia menjadi orang pertama yang melontarkan pertanyaan.

“Sejak kapan dan mengapa?” tanyanya penasaran.

Aku membolak-balik buku yang tengah kupegang dan mencium aroma buku itu. Kebiasaan. Matanya lurus menatap mataku. Seperti sebelumnya. Sempat kulihat rasa ragu, alih-alih penasaran, karena keningnya berkerut dua lipatan. Gerak telinganya sarat makna, saat bergerak naik tiga kali artinya ia sedang penasaran dengan lawan bicaranya.

Book sniffer,” katanya. “Kau sangat mirip denganku.”

“Yup, bibliognost,” aku tersenyum membalasnya.

“Aku hampir dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Padahal aku normal. Aku mandi tiga kali, kadang lima kali sehari. Makan tepat waktu. Bahkan memiliki seorang teman. Ia mengkhianatiku. Membicarakan kejelekanku di belakang dan menikamku pelan-pelan dengan mulut buasnya. Aku memang autis. Tapi aku normal. Mereka bilang keaktifanku melebihi batas kewajaran manusia. Mengurung diri dengan membaca buku dan terkadang berbicara sendirian. Hingga tanggal 23 November 2017. Aku ingat sekali tanggal bersejarah  itu. Pisau dapur yang sering digunakan Mama untuk memotong sayur kugunakan untuk mengukir tangan kananku. Menurutku itu keren. Agar berbekas dan tidak mudah hilang. Tato. Bukan hanya itu saja. Kulakukan hal yang sama pula pada bagian bawah leherku. Mengukir mockingjay bird,” aku menjelaskan, diakhiri dengan tawa terpaksa. Kulihat barisan giginya seperti pertama kali dilepaskan dari ruang mulutnya yang terkunci setelah sekian lama. Ia tersenyum lebar sekali.

“Kau menarik. Merci pour l’ecoute,” ucapnya mengakhiri percakapan kami.

/2/

Seminggu kemudian, pada waktu yang sama aku kembali lagi ke tempat kami pernah berbincang. Aku menunggunya. Namun, sampai jam perpusatakaan tutup, ia tak kunjung datang. Keesokan harinya aku mencari kamus bahasa Prancis untuk menambah kosakata berbahasaku karena tuntutan bacaan yang tengah kuselami belakangan ini. Aku membaca dan terus membaca sampai penjaga ruang perpustakaan yang menurutku sudah bosan melihat wajahku ini menghampiriku dan mengatakan bahwa ia sangat senang karena melihatku menjadi pengunjung setia ruangannya. Ia kesepian karena banyak pembaca lebih tertarik dengan ruangan lain yang terisi bahan bacaan yang lebih populer pada masa kini, atau karena ruangan ber-AC yang sejuk itu lebih cocok untuk dijadikan tempat bergosip. Si bapak tua bahkan ingin sekali memberikan hadiah buku untukku dan laki-laki itu—ia sengaja tidak menyebutkan nama—yang telah setia menemaninya hari demi hari.

Aku bertanya seberapa sering laki-laki itu datang ke tempat ini. Ternyata ia adalah pengunjung setia sebelum diriku. Tanpa kusadari, tanpa sepengetahuanku, kami bisa saja berada di dalam ruangan yang sama seharian penuh tanpa pernah saling mengenal atau bertegur sapa. Baru hari itu aku tahu, ia bahkan sempat bertanya pada penjaga perpustakaan itu mengapa aku suka sekali membuka kamus bahasa Prancis.

/3/

Kami bertemu lagi di toko buku tunggal di kota kami. Kebanyakan anak muda lebih senang berada di mal-mal besar atau hangout di kafe atau restoran yang mempunyai desain interior dan eksterior yang bagus dijadikan instastory sehingga toko buku itu tampaknya sedang menuju kebangkrutan. Aku membeli buku mengenai dasar-dasar komunikasi politik karena tugas kampus. Aku melihat laki-laki itu. Aku mengenalinya. Telinga kanannya bergerak. Sempat kuhaturkan senyum paling tulus untuk orang yang baru dua kali kutemui itu. Ia memalingkan mukanya seolah kami tidak saling kenal.

“Hai, bibliognost.”

“Halo,” sahutnya singkat.

“Kau mengingatku? Perpustakaan?”

“Ah, aku rasa aku pernah mengenalmu sebelumnya setelah kau menegurku dengan istilah itu.”

Kami bertemu lagi dan tidak saling mengenal. Atau dunia kami memang bergerak saling menjauh—untuk alasan yang tak sepenuhnya kami sadari?***


Danya Banase, suka baca cerpen dan pencinta travelling. Berdomisili di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

Cerpen

Kupu-Kupu di Atas Ranjang

Cerpen Priyo Handoko

Kamu membangunkan aku dengan sentuhan sayapmu saat pagi mulai terasa hangat-hangat kuku. Tak jelas bagaimana kamu bisa masuk ke rumahku. Tubuhku sampai membeku. Aku sama sekali tidak mengenalmu. Kamu memintaku dengan sedikit memaksa agar mau menjahit sayap sebelah kananmu yang robek dan mulai melayu.

Sayap yang sungguh aneh. Sudah sering aku membaca cerita atau melihat gambar peri-peri mungil bersayap yang tinggal di hutan. Cuma seingatku tak ada yang bentuk sayapnya seperti sayapmu. Bentuknya bulat sempurna dengan bulu-bulu biru serupa mahkota bunga di kedua ujungnya. Satu lagi, kamu tidak mungil. Telingamu pun tidak runcing memanjang ke atas. Penampilan fisik kita tak terlalu jauh berbeda. Hanya, aku laki-laki dan kamu perempuan.

Kulihat ada cairan kental yang merembes keluar dari robekan sayapmu. Mungkin itu darah. Warnanya putih. Aku jadi teringat cerita tentang Yudistira. Seorang ksatria Pandawa yang tingkat keikhlasannya tiada tara.[1] Dewa pun menganugerahinya darah berwarna putih. Darah yang tak membawa perih ketika kulit tubuh terluka. Sungguh ingin kubertanya, apa kamu seperti Yudistira? Tapi, aku tak berani menanyakan itu kepadamu.

Kepalamu mulai bergerak sesaat setelah aku selesai menjahit robekan sayapmu dengan benang berwarna hitam. Bibirmu bergetar. Pasti menahan perih yang teramat sangat. “Maaf, aku tak punya obat bius untuk meredam rasa sakitmu. Untungnya, katamu, benang apapun bisa kupakai untuk menjahit lukamu. Kalau saja kamu mau ke rumah sakit.”

Tiba-tiba aku melihat kembali getaran itu. Getaran tubuh yang menyiratkan rasa sakit. Tanpa sadar mataku ikut bergetar. Benar-benar menahan perih yang teramat sangat. Sudah tiga puluh delapan jam, aku sama sekali tidak sempat tidur. Dan, tadi belum genap satu jam aku menikmati ketidaksadaran yang sangat menyenangkan itu.

Suaramu terdengar lirih ketika mengucapkan terima kasih. Suaramu bertambah lembut ketika meminta maaf setelah tahu kehadiranmu mengganggu tidurku. “Tak apa, jawabku, “Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu. Aku sebenarnya sangat ingin mendengar semuanya, tapi ceritanya nanti saja. Kamu aman di sini. Aku mau tidur lagi.”

“Jangan tidur dulu. Temani aku,” katamu, sambil memandangku dengan mata berkaca-kaca. Dongkol karena kepala yang kian menebal dan pusing, spontan aku menjawab dengan nada suara tinggi. “Pokoknya aku mau tidur di kamar sebelah. Aku sudah tidak tahan.”

“Tolong jangan tidur dulu,” kembali bisikmu. Kamu mulai menangis. Emosiku tambah tak keruan. Sebelum aku beranjak, dengan cepat kamu meraih tanganku dan menggenggamnya.

“Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendirian di kamar ini. Silakan rebah di sebelahku atau di mana pun yang kamu mau. Tapi, tolong jangan tidur. Aku mohon, jadilah teman bicaraku. Jaga aku agar tidak terlelap selama darah masih merembes dari celah luka ini. Sebab, itu akan membunuhku.”

Kali ini aku tak kuasa menolak permintaanmu, walau kedua mataku sebenarnya juga sudah tak kuasa untuk terus dipaksa terjaga. Aku bingung, tapi kuhampiri juga kamu. Kemudian duduk di ranjang tepat di sebelahmu. Sesaat aku merenungi nasibmu kini, mungkin juga nasibku beberapa puluh jam yang lalu.

Aku meringis. Ternyata ada persamaannya. Kita sama-sama sempat menjadi takut dengan tidur. Kamu tak boleh tidur selama sayap itu belum sembuh. Entah apa sebabnya. Karena jika tertidur, itu berarti kematianmu. Sementara aku, selama tiga puluh delapan jam yang lalu juga tak boleh tertidur. Ada setumpuk laporan yang harus aku selesaikan, karena sudah masuk deadline. Jika sampai tak selesai, aku akan dipecat dari kantor dan karier yang telah aku rintis selama sepuluh tahun akan hancur. Bagiku itu juga kematian.

Kamu tersenyum mendengar ceritaku. Aku juga sudah mulai merasa agak nyaman dengan kehadiranmu. Entah dari mana mulanya, namun seperti terhipnotis, lapis demi lapis sinopsis kehidupanku mengalir membanjiri udara kamar ini. Sementara kamu, hanya diam mendengarkan dengan penuh perhatian.

Tak lama, aku sampai kepada cerita tentang istriku yang kini sedang menempuh S2 di Belanda. Terakhir dia pulang ke rumah ini sekitar enam bulan lalu, sekalian mengumpulkan data-data penelitian untuk keperluan tesis yang sedang dia kerjakan. Tak lupa aku juga bercerita tentang Soka dan Modya yang sejak kemarin sore bersama neneknya pergi ke Batam untuk mengisi waktu liburan mereka.

Modya berusia sepuluh tahun, sedangkan adiknya Soka enam tahun. Benang yang kupakai menjahit luka itu milik si sulung yang biasa dia pakai untuk bermain layang-layang. Praktis di rumah ini, kini aku sendirian. Mbok Rah, pembantuku, kebetulan sedang pulang kampung. “Lantas luka di sayapmu itu karena kecelakaan?” tanyaku sambil kembali memeriksanya.

“Bukan kecelakaan, tapi serangan.”

“Astaga! Diserang siapa? Pelakunya sudah ditangkap? Mereka tidak mengikuti jejakmu ke rumah ini kan?” tanyaku penuh khawatir. Aku tidak mau sampai terlibat dalam masalah yang tidak aku pahami.

“Justru mereka sama sekali tidak merasa sebagai penjahat. Bagi mereka, apa yang dilakukan adalah perjuangan yang direstui Tuhan.”

“Aku tidak mengerti.”

“Ini memang teramat sulit untuk dimengerti.”

Ceritamu berlanjut. Pagi tadi, kamu sedang menikmati cappuccino di kafe hotel terbesar di utara kota ini. Tak ada firasat buruk sebelumnya. Tiba-tiba terdengar ledakan keras beserta guncangan dahsyat. Asap menumpuk melahirkan cendawan besar. Semua orang jatuh rebah ke tanah. Kaca-kaca gedung pecah. Segalanya menjadi berantakan lalu hening. Dua detik, tiga detik, dan pada detik selanjutnya mulai terdengar riuh jerit dan tangis kesakitan.

“Sekelilingku banyak korban, termasuk aku. Tentu saja, aku harus langsung pergi. Tidak boleh ada orang yang menyadari kehadiranku. Termasuk, kamera fotografer atau televisi. Tapi, karena sayapku robek, aku tidak bisa pergi jauh.”

Aku hanya diam mendengar ceritamu. Mencoba untuk memahaminya. Aku menatapmu. Kamu ternyata sudah menatapku terlebih dahulu. Aku menunduk. Tak kuasa melihat matamu yang mendadak menjelma gerhana matahari. Sesaat kurasa gelap. Mataku tak bisa menangkap cahaya.

Akhirnya, kubiarkan jemari tanganmu menggapai jemari tanganku. Membimbingnya pelan ke pipimu setelah sempat melewati belahan dada dan celah bibirmu yang berembun. Jemariku dan sekujur tubuhku bergetar. Pelan-pelan, kucium keningmu yang putih bersih dan dingin bagai bengkoang.

“Aku ngantuk. Sangat mengantuk,” kataku.

“Aku juga. Cepat cium aku. Buat aku terus terjaga,” sahutmu dengan panik.

Puluhan menit pun meluncur dengan cepat dan tahu-tahu hening. Hanya desah napas kacau yang terdengar sesekali. Di luar langit sudah sangat terang. Aku merasa telah melakukan pengkhianatan besar.

Nada panggil ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku agak kaget dan merasa bersalah setelah tahu itu panggilan dari istriku. Aku ambil ponselku yang kuletakkan di atas meja dan kembali duduk di bibir ranjang.

“Halo, Sayang. Ada apa?”

“Syukurlah, kamu ternyata masih di rumah. Aku benar-benar khawatir.”

Kudengar suara tangisan pelan. Dingin segera merambat cepat ke sekujur tubuhku. Hatiku serasa diiris-iris. Aku cemas sesuatu telah terjadi padanya di sana.

“Memangnya kenapa?”

“Kamu belum lihat berita TV?”

Aku terbatuk beberapa kali sebelum menjawab. Tenggorokanku mendadak serasa diserang kemarau. “Belum, seharian ini aku di rumah. Tidur. Sebenarnya siang ini aku berencana pergi ke kantor untuk menyerahkan laporan yang sudah selesai kukerjakan. Tapi, aku masih terlalu lelah.”

“Kamu harus bersyukur sayang. Ibu dan anak-anak barusan menelepon dari Batam. Kata mereka, ada bom berkekuatan besar barusan meledak di halaman depan gedung kantormu. Mereka lihat di TV. Semuanya berantakan dan banyak jatuh korban. Ini adalah bom kedua yang meledak di kota kita sejak tadi pagi. Yang pertama, di kafe hotel tempat kita menginap menyambut pergantian tahun. Untung kamu tidak ada di sana.”

Aku tertegun mendengar apa yang disampaikan istriku. Dalam sehari ada dua bom yang meledak. Salah satunya, di halaman gedung perkantoranku, tower berlantai 50. Jika tadi aku sudah berangkat ke kantor, mungkin saja aku ikut terdata di daftar nama korban. Tengkukku merinding. Berarti, peri bersayap yang sekarang bersamaku adalah korban dari ledakan bom yang pertama. Aku melirik ke kasur. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin dia sedang ke kamar mandi.

“Ibu dan anak-anak sangat khawatir dan sudah mencoba menghubungimu. Mungkin karena sedang tidur, kamu tidak dapat mendengar nada panggil di ponselmu. Kamu harus segera menelpon mereka setelah ini.”

“Iya, mereka pasti akan segera aku telepon.”

“Aku kangen kamu. Tadi aku bermimpi. Kita berhubungan. Begitu agresif, polos, dan meledak. Rasanya seperti malam pertama kita dulu. Anehnya kita melakukan itu di atas tubuh seekor kupu-kupu raksasa yang terbaring menutupi ranjang.”

Isi dadaku kembali berdetak tak karuan. Benar kata orang, kalau naluri perempuan memang sangat sensitif. Mereka tidak bisa dibohongi. Mereka selalu tahu, tetapi sering berlagak tidak tahu untuk menjaga perasaan kita, para laki-laki. “Kamu jangan aneh-aneh. Bersabarlah. Minggu depan kamu harus pulang ke tanah air. Kamu tidak lupa dengan hari ulang tahun Soka, kan?”

“Aku pasti pulang untuk Soka, Modya, ibu, dan tentunya kamu. Aku sudah kangen dengan harum tubuhmu. Tesisku juga sudah selesai dan sekarang sedang dipelajari lagi oleh dosenku. Tapi, aku tak mau di ranjang kita ada kupu-kupu raksasa.”

Istriku tertawa. Aku juga ikut tertawa. Aku tahu dia cuma bercanda. Aku maklum dia bermimpi. Tapi, aku sama sekali tidak sedang bermimpi. Benarkah? Untungnya, pembicaraan berakhir. Ponsel kututup. Aku segera menoleh ke belakang, tapi kamu tetap tidak ada. Yang kutemukan hanya beberapa helai bulu lembut berwarna biru yang menempel di bantal, guling, selimut, dan sprei lusuh. Pelan kuberbisik, terima kasih atas segalanya buat kamu yang namanya pun tak sempat aku tanyakan. Mudah-mudahan kamu cepat sembuh. Sekarang semuanya harus segera aku bersihkan, karena istriku akan pulang. ***


Priyo Handoko, mantan jurnalis (2006-2018), kini menjadi komisioner KPU Provinsi Kepulauan Riau, kampung halamannya. Karyanya tersebar di pelbagai media.


[1] Dikutip dari buku Jiwo J#ncuk karya Sujiwo Tejo.

Cerpen

Ia Tak Ingin Dicintai

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Ia tidak ingin dicintai, katanya. Bukan sekadar tidak ingin, tapi lebih daripada itu, ia tidak segan-segan membunuh setiap lelaki yang nekat mengutarakan cinta kepadanya. Itulah sebabnya mengapa dirinya tidak pernah tinggal berlama-lama di suatu kota. Bahkan lebih gilanya lagi, pernah dalam satu tahun ia pindah tiga kali. Ti-ga ka-li. Bisa kaubayangkan? Berapa laki-laki yang mati konyol karena mencintainya pada setahun itu? Kau pasti terkejut apabila mendengarnya. Empat orang. Ya, bukan tiga, tetapi empat. Karena sebelum kepindahannya kali ketiga, ada dua pemuda yang berlomba-lomba mengungkapkan perasaan cinta kepadanya.

Alona, nama perempuan tersebut, berusia hampir tiga puluh. Namun, bila dilihat dari wajah dan penampilannya, maka siapa pun akan setuju dengan apa yang saya katakan, bahwa perempuan itu tampak lebih muda tujuh tahun dari usia yang sebenarnya. Kecantikannya memang tidak terlalu mencolok, tetapi, lelaki mana saja yang melihatnya pastilah merasa betah. Belum lagi jika lelaki itu sudah berinteraksi dan tahu bagaimana Alona bersikap, tentu laki-laki itu tidak akan pernah merasa bosan. Dan itu yang saya rasakan. Enggan beranjak darinya. “Sebaiknya engkau pulang sekarang, sebelum kau mulai mencintai saya, dan saya akan membunuhmu kemudian,” ujarnya mengingatkan–apabila saya sudah terlalu larut di apartemen mungilnya.

“Apa masalahnya bila dicintai?” tanya saya kesal.

“Masalahnya,” ia menggiring saya ke pintu keluar, “saya benci dicintai.” Alona sedikit mendorong–memastikan pintu itu tidak mengenai saya ketika ditutup.

“Kau terlalu takut, Alona!”

Usai meneriaki dan menudingnya sebagai makhluk aneh yang jelas-jelas menolak dicintai oleh siapa pun, seperti biasanya, saya melangkah dengan pikiran yang lumayan membingungkan. Begitu pula ketika berkendara menuju Danau Hefner, sepanjang perjalanan, saya memikirkannya–tentu dengan pikiran yang sedikit kacau. Baru kali ini, ada orang yang justru mengancam akan membunuh orang yang sampai nekat mengutarakan cinta kepadanya. “Sakit!” hardik saya–sembari melemparkan sebuah kerikil sekencang-kencangnya ke tengah-tengah danau.

Di sebuah bar yang cukup populer, di kawasan barat laut Oklahoma City, di sanalah saya pertama kali melihatnya–yang kemudian, beberapa hari berikutnya, saya berkenalan dengannya. Ia pelayan baru di bar tersebut. Saya tahu karena saya rutin berkunjung ke sana, hampir setiap petang. Jadi, saya hafal betul wajah-wajah mereka. Dan, yang menarik perhatian saya adalah senyuman Alona. Ia memiliki senyum yang sederhana, tapi tulus dan dalam–entahlah, agak sulit menjelaskannya, tetapi saya yakin, tidak banyak yang mempunyai senyum seperti itu, setidaknya di kota ini. Juga caranya melayani pelanggan; seperlunya, namun tetap ramah.

“Apa pekerjaanmu?”

“Saya penjual lukisan.”

“Penjual? Bukan pelukis?”

“Saya punya banyak kawan yang pintar melukis,” jawab saya sambil menyusuri jalan mengantarkannya pulang, “semoga itu cukup menjelaskan.”

Ia kembali tersenyum–bahkan tertawa kecil.

“Engkau sama sekali tidak bisa melukis?”

“Sebaiknya saya mengatakan tidak,” saya menoleh kepadanya, “daripada kritikus-kritikus itu membenci profesinya gara-gara melihat lukisan saya,” kali ini kami sama-sama tertawa.

“Jadi, dari negara bagian mana kau berasal? Utara? Selatan?”

“Bisa dari mana saja.”

“Biasanya tidak sesulit ini bagi saya untuk menebak seseorang,” saya menoleh lagi, “sepertinya kau telah menghilangkan aksenmu.”

“Mungkin karena sudah terlalu sering berpindah tempat,” ia menghentikan langkahnya sejenak, “sejak saya masih berusia delapan belas,” kemudian kembali meneruskan.

“Tenggara, benar?”

“Kau hampir saja benar,” jawabnya tanpa menoleh.

Lantas kami lanjut berjalan disertai obrolan-obrolan ringan–memperbincangkan hal-hal umum yang biasa diperbincangkan oleh orang-orang yang baru saja saling kenal. Hingga kami berada persis di depan apartemen mungilnya–ia menyewa sebuah kamar yang tidak jauh dari pintu darurat.

“Sepertinya saya akan sering menemanimu pulang,” seru saya sebelum ia masuk ke apartemennya.

“Asalkan kita berjalan kaki,” sahutnya singkat lalu tersenyum.

Kemudian saya bergegas kembali ke bar guna mengambil kendaraan yang tadi saya parkirkan di sana. Alona menolak menggunakan mobil. Ia lebih suka berjalan. Lagi pula, hanya memerlukan waktu dua puluh menit, tidak terlalu jauh, katanya.

Semenjak itu, saya mengubah jadwal berkunjung saya ke tempat tersebut. Tidak lagi petang hari, melainkan pada malam hari menjelang Alona bersiap-siap pulang. Dan, terkadang, saya datang ke apartemennya kala ia sedang tidak bekerja. “Saya berharap kau hanya bertujuan ingin berteman dengan saya,” ucapnya ketika tengah menyiapkan makan malam di dapur mininya.

“Apakah akan ada masalah jika saya menginginkan hal lain?”

Alona mengangguk, lalu tersenyum dan memandangi saya untuk beberapa saat sebelum melanjutkan meletakkan hidangan ke meja makan. “Masalah yang seperti apa?” tanya saya penasaran.

“Apa sebenarnya kau telah bersuami?”

Ia menyodorkan piring yang telah tersaji hot dog dan irisan kentang goreng di pinggirnya.

“Sebaiknya kita makan dulu.”

Saya mengambil makanan yang ia suguhkan. Dan, selama kami menikmati makan malam, saya semakin bertanya-tanya dalam hati–sementara Alona seolah-olah tidak memedulikan rasa penasaran yang kian menyelimuti saya.

“Jadi, ada apa sebenarnya? Masalah apa? Kenapa? Apakah ada sesuatu yang sangat serius yang saya lewatkan?” saya memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan begitu kami menyelesaikan makan malam.

“Jangan pernah mengatakan bahwa kau mencintai saya.”

“Kenapa?”

“Karena saya akan membunuhmu.”

“Kenapa?”

“Karena mencintai hanya akan memberikan penderitaan bagi orang-orang yang ada di sekitar seseorang yang dicintainya.”

Saya diam cukup lama. Melihat saya yang kebingungan, Alona kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya pernah terjadi. Ia menceritakan tentang masa lalunya. Tentang bagaimana ia dan kakaknya diabaikan oleh ibu mereka setelah dicintai seseorang. Pria itu sudah sejak lama menaruh perhatian kepada ibunya; semenjak ayah mereka meninggal dunia. Ia adalah pria yang sangat baik pada awalnya–sebelum akhirnya menjadi lelaki yang amat serakah. Lelaki itu lalu menguasai ibu mereka sepenuhnya. Mengajak ibu mereka pergi meninggalkan mereka setelah menikahinya. Padahal, Alona baru berusia sebelas tahun, dan kakaknya berusia tujuh belas.

“Meninggalkan kalian? Pergi begitu saja?”

“Ya, begitu saja. Dia dan laki-laki itu pergi ke Eropa.”

Hanya secarik kertas yang tergeletak di meja ruang tamu. Hanya itu–dengan satu kalimat yang teramat singkat: jaga diri kalian baik-baik, aku dan Mike akan tinggal di Eropa. “Dia pergi sebulan setelah pernikahan. Dan tak pernah kembali,” jelas Alona.

“Kau pernah mencari mereka?”

“Untuk apa? Mereka bisa berada di mana saja, Eropa terlalu luas. Dan, saya tidak punya waktu untuk itu,” jawabnya dingin.

Kemudian saya menatap ke arah lain. Kesedihan yang terpancar dari wajahnya terlampau dalam. Saya dapat merasakannya. Sebenarnya, saya pun mengalami hal serupa, kendati tidak setragis yang dialami Alona. Dulu, ketika seorang perempuan yang mencintai ayah saya berhasil masuk ke dalam kehidupan kami, saya juga merasakannya. Diabaikan. Ayah saya jadi lebih sering memerhatikan kekasihnya. Lebih peduli terhadap perempuan itu ketimbang saya. Dan, hal itu berlangsung cukup lama, hingga saya beranjak dewasa dan menjadi terbiasa dengan keadaan tersebut, sampai pada akhirnya sayalah yang meninggalkan mereka.

“Lima tahun kemudian, giliran kakak saya melakukan hal itu,” air mata Alona menetes, “dia dan suaminya pergi meninggalkan saya.”

“Meninggalkanmu sendirian?”

Alona tersenyum–getir.

“Hanya saja kota yang mereka tinggali masih bersebelahan.”

Lalu, ia mengusap air matanya dan berusaha tenang. Kemudian menyuruh saya untuk pulang. Sebelum pulang saya katakan kepadanya bahwa saya turut merasa prihatin. “Tidak perlu. Saya baik-baik saja. Saya hanya ingin memastikan kau tidak akan mencintai saya, terlebih mengutarakannya,” tegasnya. Saya mengiyakan–mengingat ketika itu ia mengatakannya dengan serius.

Malam-malam berikutnya Alona menjadi lebih terbuka kepada saya. Ia banyak bercerita ihwal para lelaki yang coba mendekatinya. Mencoba membuatnya jatuh cinta, namun percuma. “Sebab, pada akhirnya, kau membunuh mereka semua, iya, kan?” timpal saya.

Ia tertawa–seakan-akan hal itu menyenangkan.

“Sudah saya peringatkan sebelumnya,” ia teguk anggurnya, “jangan salahkan saya,” lalu meletakkan cawan tersebut dan meraih kotak rokok yang ada di sampingnya.

“Lantas, bagaimana caramu membunuh mereka semua?”

“Engkau sungguh ingin tahu?”

Saya mengangguk penuh semangat. “Bagaimana?”

“Setiap kali usai mengutarakan cintanya,” Alona berhenti sejenak, “saya akan membisiki mereka sesuatu.”

“Apa yang kaubisikkan?”

“Ma-ti-lah.”

“Lalu mereka mati?”

“Ya, tentu saja, mereka akan mati.”

Sulit rasanya memercayai apa yang ia katakan, tetapi Alona mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak berbohong. Kemarin malam, ia melontarkan kata itu kepada saya. “Matilah!” Ia tidak berbisik; justru meneriaki saya–yang saya heran, mengapa ia melontarkan kata itu kepada saya sementara saya belum mengutarakan apa-apa kepadanya.

Dan, sore tadi, saya tidak melihat Alona di bar. Ia tidak masuk kerja. Saya mendatangi apartemennya, namun ia telah pergi. Menghilang begitu saja. Lantas saya kembali ke bar dan menghabiskan banyak minuman. Sekarang ini, yang ingin saya lakukan hanyalah menceburkan diri ke dasar danau ini–dan, seharusnya kau tak berada di sekitar sini, harusnya kau di sana, di dekat mercusuar sialan itu. ***


Abdullah Salim Dalimunthe, tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.

Cerpen

Kisah Cinta Abalawa dan Pohon-Pohon

Cerpen Sulung Pamanggih

“Sebenarnya ini sebuah rahasia dan cukup sensitif, tapi aku perlu menceritakannya padamu,” bisik Jafar dari balik punggungku, saat kami berboncengan naik sepeda menuju sekolah. “Jadi, aku lihat sendiri bagaimana Abalawa menggumuli pohon mangga di depan rumahnya.”

Saat itu, yang kuingat, Jafar suka mengoceh untuk sekadar mengisi kekosongan sebelum kami sama-sama tiba di sekolah. Sudah lebih dari dua tahun setiap pagi kami berangkat dengan cara seperti ini, tepatnya semenjak kami memasuki sekolah menengah pertama. Namun baru kali itu, apa yang dia katakan bikin aku nanap.

Tentu aku mengenal siapa Abalawa, bahkan sering menghabiskan waktu di rumahnya. Sekalipun aku berusaha tak memercayai ocehan kawanku, darah remajaku waktu itu teramat penasaran, bagaimana mungkin seseorang bercinta dengan sebatang pohon?

Abalawa memang menyukai tanaman, dan kupikir itu bukan sesuatu yang aneh apalagi patut dicurigai. Setiap hari, dengan postur tubuhnya yang kekar, ia berjalan mengelilingi tanaman sambil membawa ember, kadang bila hari sedang terik, ia menyemprotnya pakai selang air untuk sekaligus mengangkat debu-debu. Ia juga tak segan menceraikan akar benalu yang merambati tanamannya, dan tak pernah terlambat memberi mereka pupuk. Begitulah hari-hari Abalawa lalui. Meski sudah 55 tahun, ia kelihatan lebih muda dan selalu tampak ceria saat mengerjakan semua itu. 

“Kau jangan mengada-ada,” aku menegur kawanku sambil tetap memandang jalan dan terus memancal pedal sepedaku. “Ia memang mencintai tanaman, sama seperti orang pelihara sapi, mereka bakal habiskan banyak waktu dengan binatang itu.”

“Dengar ya, saat itu awalnya aku berniat tidur di rumah kakek, tapi larut malam tiba-tiba aku kepingin sekali pulang,” Jafar terus menjejalkan ceritanya. “Malam berangin dan dingin, tapi aku tak peduli dan terus berjalan kaki sambil menutupi kepalaku dengan sweater. Sampai di pelataran rumah Abalawa, tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dari balik pohon, aku sempat mengira monyet, tapi mataku belum pikun untuk memastikan bahwa sosok tersebut ternyata Abalawa. Kau tahu apa yang dilakukannya? Dia memeluk sebatang pohon sambil menggoyang-goyangkan pantatnya seolah sedang mendekap tubuh wanita. Hei, kau masih mendengar aku?” Jafar menepuk pundakku.

“Siapa tahu dia sedang pipis.”

“Kau pikir aku tak bisa bedakan antara kencing dan kentu?” sembur Jafar di dekat telingaku, membuat sepedaku sempat oleng. 

Kuakui, saat kedua orangtua Jafar sedang pergi haji, kami pernah menonton film porno bersama-sama dari kaset vcd koleksi ayahnya. Banyak sekali kaset porno milik ayahnya, rata-rata terbitan Amerika, dan itu pertama kalinya jantungku berdebar tak keruan sampai-sampai susah bernapas. Dari pengalaman itu, kukira ia punya banyak bekal melihat adegan persetubuhan.

Sambil membonceng, kadang Jafar pura-pura membantu aku mengayuh sepeda dengan menempelkan kakinya di pedal bersebelahan dengan kakiku. Sekilas kami seperti kompak mengayunkan sepeda bersama-sama, tapi aku tahu dia tidak mengeluarkan tenaga, kakinya cuma menempel saja. Sialnya aku tak mungkin memintanya bergantian duduk di depan, sebab ia tak becus mengendalikan sepeda.

“Kau tetap tidak percaya?” Ia terus meraba-raba pikiranku. Aku diam saja, memandangi jalan yang membentang di hadapanku.

*

Kalau saja yang Jafar ceritakan adalah penjaga sekolah, atau petinju bernama Burhan yang membuka toko matrial di perempatan jalan, mungkin aku tidak akan begitu peduli. Tapi dia tahu, aku kerap bermain di rumah Abalawa karena kebetulan rumah kami bersebelahan. Saat suntuk, aku biasa memboyong buku-buku dan tiduran di bawah pohon mangganya untuk mencari udara segar sambil menggarap soal matematika.

Abalawa tinggal di rumah induk keluarganya seorang diri, sebab ia tak pernah punya istri apalagi anak. Sementara tujuh saudaranya yang lain sudah membangun keluarga dan hidup terpisah-pisah. Rumahnya tidak begitu besar, hanya saja memiliki halaman yang luas dan dikerumuni banyak pohon.

Dulu pelataran rumahnya pernah dijadikan lapangan bulu tangkis, dibangun dengan bambu sebagai garisnya. Satu-satunya lapangan yang pertama kali dimiliki kampung kami, begitu Abawala sering membanggakan masa lalunya. Sampai kemudian muncul lapangan lain yang lebih menawan, dilengkapi lampu penerangan dan bangunan gedung yang mampu menepis angin. Sejak itu orang jarang bermain bulu tangkis di sana, dan Abalawa kian menumbuhkan minatnya berkebun dengan menanam banyak pohon.

Ia akan menyetorkan mangga, jambu air, delima, sirsak, kelengkeng atau apa pun yang tengah berbuah kepada juragan yang setiap musim panen sering kujumpai berkeliling kampung sambil membawa keranjang besar. Sebagai ganti mereka memberinya uang yang akan Abalawa pakai untuk menopang keperluannya. Jadi wajarlah bila ia teramat mencintai tanamannya, dan tak rela tangan-tangan jahil mengusiknya.

Pernah sepulang sekolah Jafar diam-diam memanjat pohon mangganya. Lalu Abalawa yang mengendus tingkahnya dari dalam rumah langsung keluar sambil meraup kerikil dan menyambarnya. Bunyi kerikil yang menghantam daun mirip hujan deras. Itu membuat kawanku tersungkur dan langsung terbirit-birit.

Seorang pengamen yang tak tahu apa-apa juga pernah kena sial. Ia sedang berteduh di bawah pohon jambu sambil menghitung uang. Mendapati banyak jambu air bergelayutan siap santap, dia tergoda memetiknya. Tak lama setelah itu, lonjoran kayu balok mendarat persis di mukanya. Ia melejit sekencang-kencangnya sampai-sampai melupakan beberapa uang receh yang sedang disortirnya. Beruntung, satu-satunya gitar yang ia miliki masih menempel di pundak.

Meski begitu, aku tahu Abalawa menyayangiku. Saat berusaha menggapai buah di dahan yang tinggi, ia kerap membantu mengambilkan galah. Sering pula ia menyisakan panen mangganya untuk sengaja diberikan kepadaku, bahkan mau mengupas kulitnya untuk aku. Mungkin karena hampir setiap hari aku berada di sana untuk menemaninya. Aku tak pernah menolak saat ia memintaku membelikan rokok, atau memijat badannya saat ia mengeluh pegal-pegal dengan cara menginjak-injak punggungnya. 

“Kau sering makan buah, tapi berat badanmu tak bertambah juga,” ia sering berkata begitu. 

Ketika aku pulang, ia tidak jarang membawakan aku sekantong jambu, atau pepaya yang hari itu kebetulan sedang berbuah. Karena kebaikannya, kadang ibuku memintaku membawakan lauk untuk Abalawa. Kami pun menjadi seperti keluarga. Aku curiga jangan-jangan Jafar cuma iri kepadaku, dan mulai mengarang cerita yang bukan-bukan. Aku tahu, banyak kawanku mendambakan mangga Abalawa yang terkenal manis dan tak pernah cukup bila hanya melahapnya satu butir.

Tapi ucapan Jafar benar-benar sudah mengotori kepalaku. Membayangkan bagaimana Abalawa menempelkan kemaluannya pada pohon mangga membuat aku tiba-tiba merinding. Itukah yang membuat rasa mangganya teramat enak? Brengsek betul Si Jafar. Tak lama aku pun menghentikan sepeda, menoleh ke belakang, dan berkata, “Kalau kau menyebar cerita yang bukan-bukan, silakan turun sajalah.”

Namun si mulut jahanam kawanku itu tetap membatu, tak beringsut sejengkal pun dari sepedaku.

“Lebih baik kita buktikan sendiri nanti malam,” katanya, tak bosan meyakinkan aku. “Buruan, nanti kita terlambat.”

*

Aku tidak pernah memungkiri, apapun yang ditanam Abalawa selalu subur, berbuah lebat, dan rasanya juga lebih memikat bila dibandingkan dengan buah yang tumbuh di tempat lain. Misalnya saja dengan pohon mangga yang berdiri di belakang kelas kami, meski satu jenis rasanya tak ada apa-apanya. Demi tujuan itukah Abalawa akhirnya tidak menikahi manusia?

Suatu hari ibuku pernah bercerita, Abalawa sempat berpacaran dengan anak seorang pegawai pabrik gula. Namun satu hari setelah ia melamarnya, perempuan itu ketahuan main serong dengan pria lain. Sejak itu Abalawa memutuskan menjadi kader sebuah partai politik, dan aktif mengikuti berbagai kegiatan. Namun begitu pemilu tiba, partainya selalu kurang peminat dan ia tak pernah dapat jatah duduk di kursi dewan. Untuk menjaring banyak suara, kata ibuku, dia sempat membangun lapangan badminton di halaman rumahnya. 

Bisa jadi karena patah hati, Abalawa akhirnya lebih memilih menggumuli pohon. Pohon-pohon memang tak pernah berbohong. Tapi memikirkan itu membuat perutku mual, kepalaku mendadak pusing. Gara-gara Jafar, rasanya aku ingin memuntahkan seluruh isi perutku. Mestinya aku tidak usah peduli dengan ucapannya. Tapi apa yang ia katakan sungguh-sungguh meyakinkan. Bahkan ia berani bersumpah tertabrak mobil bila berbohong. 

Saat itu, akhirnya aku memboyong rasa penasaranku kepada Pak Yosi, guru yang kerap berdiri di depan kelas untuk mendongengi kami betapa bahayanya seks bebas. Ketika bel istirahat menggiring anak-anak ke kantin, aku buru-buru mencegat Pak Yosi yang tengah berjalan di depan ruang kelas, dan memberanikan diri bertanya.

“Mungkinkah manusia menikahi pohon?”

Mendengar pertanyaanku, dia malah meringis. “Kau kesurupan apa tiba-tiba ngelantur begitu?” 

“Tetanggaku begituan dengan pohon,” aku menjelaskan. 

“Begituan, maksudmu berhubungan badan dengan pohon?”

“Semua orang bilang begitu.”

“Omongan orang kau percayai,” ia melangkah menuju ruang guru sambil menenteng bukunya, tapi aku terus membarenginya.

“Mereka bersumpah sudah melihatnya, jadi sebenarnya aku cuma ingin tahu, apa mungkin manusia menjalin asmara dengan pohon selayaknya hubungan suami istri?”

Entah bagaimana dia kemudian berhenti dan menatapku selama beberapa saat. Aku balas memandangi matanya dengan tatapan berharap. Sambil memegang pundakku, dia mengajak duduk di kursi panjang di depan ruang guru. Setelah itu ia memberiku penjelasan, yang menurutnya untuk sekadar pengetahuan. 

“Begini, kau juga mesti tahu, ada juga seseorang yang hasrat seksnya bisa langsung melonjak saat melihat sebuah mobil tabrakan.”

“Mana mungkin?”

“Itulah yang dinamakan kehidupan. Ia begitu luas.”

“Jadi, seseorang juga bisa berhasrat dengan pohon?” aku mendesak.

 “Istilahnya Dendrophilia,” katanya. “Tapi kasusnya cukup jarang, sebagian besar dari mereka hanya suka memeluk pohon untuk kesenangan, tidak sampai dorongan ke arah hubungan badan, meski tetap saja hal seperti itu benar-benar ada.”

Tak lama setelah itu, aku cepat ke toilet, mengunci pintu, dan muntah.

*

Terus terang itu rahasia besar kehidupan yang pernah kudapatkan di usia remajaku. Memang sulit kucerna, tapi paling tidak aku sedikit memahaminya. Aku tak mengira akan mengenang semua itu setelah dua puluh tahun kemudian, saat aku berada di dalam kereta untuk menghadiri pemakaman Jafar. Aku mendapat kabar dari grup WA alumni sekolah, bahwa kawanku meninggal akibat tersedak saat makan salak. 

Ada banyak peristiwa yang sudah kulewati, namun semuanya tak benar-benar bisa hilang. Sekalipun aku bersikeras melupakannya, saat-saat tertentu kenangan itu terangkat lagi, lalu menyalak-nyalak seperti anjing kelaparan. Meski tak sampai menggigit, ia membuat gaduh. Aku sudah berusaha menguburnya dalam-dalam dengan meninggalkan kota itu, tapi kenangan ternyata memang tidak pernah kemana-mana. 

Malam itu, ketika Jafar mengajakku mengintip Abalawa untuk membuktikan perkataannya, aku menolak dan bahkan mengusirnya dengan beralasan sedang tak enak badan. Tapi aku terus diserang gelisah dan rasa penasaran sampai sulit memejamkan mata. Pukul 02.00, akhirnya aku nekat sendirian keluar kamar dengan hati-hati agar tidak sampai menimbulkan suara, lalu mengendap menuju rumah Abalawa. 

Aku terkejut mendapati Abalawa sudah berdiri di sisi pohon. Dari balik semak, sambil menahan gigitan nyamuk di kakiku, aku terus menyembunyikan diri. Dalam keremangan, tiba-tiba aku seperti melihat sosok perempuan yang kukenal, ia mirip ibuku, menyembul dari balik pohon. Dengan kaki bergetar, aku memaksa diri untuk terus diam dan menahan napas. 

Di hadapanku kini terbaring kuburan Jafar. Aku terlambat mengikuti prosesi pemakamannya, lalu menyusul ke kuburan. Gundukan tanah masih terlihat basah. Sampai sekarang, aku tak pernah menjelaskan pada kawanku apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Pemalang, 2020


Sulung Pamanggih, tinggal di Pemalang, Jawa Tengah. Menyelesaikan kuliah di Universitas PGRI Semarang 2014, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kini Wartawan di Radar Tegal. Cerita pendeknya pernah dimuat Basabasi.co, Harian Kompas, Suara Merdeka, serta terhimpun di beberapa antologi cerpen.

Cerpen

Seorang Remaja Ditemukan Tewas di TPA Lingkar Selatan

Cerpen Tjak S. Parlan

Ketika hendak menghunjamkan pisau untuk ketiga kalinya, ujaran Ahmad Saleh terngiang kembali di telinga Fahmi Idris: ‘Jangan bodoh! Kalau ada maling atau rampok, diam saja. Orang-orang toh akan keluar rumah setelah semuanya beres. Kecuali kamu mau mampus!’

Fahmi Idris telanjur mengangkat tangannya—dan pisau ituteracung gemetar, menunggu bersama kilatan cahaya kembang api yang terbakar di langit. Dalam amarah yang nyaris tidak tertanggungkan, dia masih sempat mengingat apa yang pernah disampaikan oleh kawan lamanya itu.

Namun ada ingatan lain—dan ini jenis ingatan yang begitu kuat— yang membuatnya berubah pikiran. Pada sebuah dini hari, dia pernah dipaksa bertekuk lutut di rumah kontrakannya. Seorang laki-laki berotot yang hanya mengenakan cawat dan menutupi wajahnya dengan topeng, menodongkan linggis tepat di ujung lehernya. Sementara, dua orang lainnya—yang juga bertopeng, hanya mengenakan cawat, dan masing-masing bersenjatakan parang—menguras habis barang-barang miliknya. Tidak banyak yang dia miliki: sebuah TV LED, DVD player, dan dua buah gawai. Darahnya terasa mendidih mengingat foto-foto anaknya yang baru berusia satu tahun tersimpan dalam memory card yang melekat pada kedua gawai itu. Dia menyesal karena belum mengikuti saran istrinya untuk mencetak sejumlah foto keluarga. Dia berusaha melawan dan hampir tidak terkendali. Namun dia harus memilih ketika laki-laki berotot yang keringatnya menguarkan bau amis itu mengancamnya agar tetap diam jika tidak ingin terjadi apa-apa dengan istrinya. Istrinya berada di kamar dengan tubuh gemetar, berusaha menyusui anaknya yang menangis. Selepas para garong itu pergi, dia berharap bisa membeli senjata api dan bersumpah akan menembak siapa saja yang menyatroni tempat tinggalnya. Namun, rupanya itu mimpi sial belaka. Sudah dua tahun sejak kejadian itu—dan dia harus pindah ke rumah petak yang semrawut dan sempit— dia bahkan belum bisa membeli sebuah televisi.

Pisau itu menghunjam sekali lagi, tapi kali ini tidak tepat sasaran. Fahmi Idris bisa merasakan ujung pisaunya hanya membentur tulang lengan yang keras. Sebuah erangan pendek terdengar dari sosok lawan. Tanpa dinyana sedikit pun, tiba-tiba sosok lawan itu bersujud di bawah lututnya dan meminta belas kasih.

“Tolong lepaskan! Ini saya. Maafkan saya. Tolong, saya hanya ikut-ikutan!” suara itu terdengar lirih dan tertahan.

Fahmi Idris segera menjambak kepala sosok yang sedang berlutut di depannya. Setelah menjambret masker yang menutupi sebagian wajahnya, Fahmi Idris terhenyak. Dalam remang cahaya lampu dia menemukan wajah yang dikenalinya.

“Bangsat kamu, Jen! Anjing sialan kamu! Bangsat sekali kamu!” Fahmi Idris memaki-maki.  

Jen alias Zaenal Arifin kembali menekuk tubuhnya, bersujud seraya memegangi kaki Fahmi Idris. Fahmi Idris menjadi tidak enak hati. Sekelebatan bayangan wajah Ahmad Saleh mampir dalam benaknya. Bagaimana mungkin sosok yang nyaris ingin dihabisinya itu adalah anak dari kawannya sendiri. Dia memang jarang bertemu dengan Jen. Tapi dia mengenalnya cukup baik. Bagaimanapun untuk urusan-urusan tertentu Fahmi Idris kerap berkunjung ke rumah Ahmad Saleh yang hanya dipisahkan sejumlah gang di permukiman yang padat itu. Dalam sejumlah kunjungannya, Fahmi Idris bertemu juga dengan Jen yang pendiam.

“Kamu butuh uang?” Fahmi Idris geram, berusaha menahan amarah. “Kamu baru nenggak apa, sampai-sampai mau mengambil barang seperti ini? Di tempat saya lagi. Kamu taruh di mana otakmu?”

Jen membisu. Sesekali saja, gerak tubuhnya seperti sedang menahan kesakitan. Tidak ingin amarahnya meledak, Fahmi Idris menghardik remaja belasan tahun itu agar cepat pergi dari hadapannya. Tanpa menunggu lebih lama, Jen pun bangkit. Sesekali langkahnya tersuruk, lalu menghilang di ujung gang.  

Selepas Jen pergi, Fahmi Idris menyalakan sebatang rokok. Dia tidak habis pikir dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Hari itu, gerimis turun sejak sore dan dia terjebak di rumah seorang kawan. Dia tenang-tenang saja. Tidak sedang diburu waktu, tidak sedang ada yang menunggu. Istri dan anaknya pulang ke kampung halaman. Mereka telah sepakat, sementara Fahmi Idris berusaha mencari tempat tinggal baru yang lebih layak, anak-istrinya pulang ke rumah orang tuanya dulu. Secepatnya—mungkin awal tahun seperti janjinya—Fahmi Idris akan menjemput anak dan istrinya. Rencana sepertinya berjalan lancar. Fahmi Idris mendapatkan sebuah rumah kontrakan di sebuah kompleks perumahan di pinggiran kota. Bisa dicicil tiga kali dalam setahun. Setidaknya itu menurut informasi Ahmad Saleh. Untuk hal-hal semacam itu, reputasi Ahmad Saleh tidak perlu diragukan. Dia adalah jenis makelar yang bisa mencarikan apa saja bagi orang-orang yang membutuhkan, mulai dari rumah kontrakan hingga sepeda anak bekas. Seminggu yang lalu Fahmi Idris mendapatkan upah yang layak untuk pekerjaannya. Dia menyisihkan sejumlah uangnya untuk membeli sebuah sepeda anak beroda tiga. Bekas, tapi masih mulus. Masih layak untuk membuat anaknya bergembira ketika kembali ke tempat yang baru nanti. Dia mendapatkan harga khusus dari Ahmad Saleh. Meskipun begitu, sebagai seorang yang ahli membongkar-pasang segala sesuatu, Fahmi Idris tidak tinggal diam. Menjelang sore, sebelum pergi ke rumah seorang kawan, dia memeriksa kembali sepeda itu. Mencucinya dengan bersih, mengencangkan sejumlah baut yang kendor, memastikan semua baik-baik saja. Dia dihinggapi kehahagiaan yang meluap-luap hingga lupa memasukkan kembali sepeda itu ke dalam kamar kontrakan. Menjelang pukul dua belas malam dia tiba kembali di mulut gang menuju kamar kontrakannya. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya pun terjadi.

Dia begitu tenang berjalan memasuki gang buntu yang lengang itu. Gerimis sudah reda. Bau anyir-busuk dari got di sisi gang, membuat semua orang ingin bergegas ketika melewati gang itu. Tapi aroma uap anggur merahyang menguar dari mulutnya sedikit mengurangi efek bau tidak sedap. Orang-orang yang tinggal di ujung gang buntu itu lebih suka kongkow-kongkow di tempat lain. Kecuali mereka, satu-dua bandar kere yang bertransaksi sepoket dua poket ganja dengan para pemakai pemula. Dua hari sebelum malam tahun baru, tempat itu dibersihkan oleh aparat. Ada tiga bandar terciduk: ganja dua orang, sabu satu orang. Barangkali karena itulah, malam tahun baru tidak memberikan kemeriahan apapun, selain kilatan cahaya kembang api dan bunyi ledakannya yang sesekali dikirim dari tempat lain ke langit di atas gang buntu itu.

Menjelang ujung gang, dia berpapasan dengan dua orang. Ada yang terasa ganjil ketika dua orang itu menunduk berlagak sopan—hal yang tidak biasa terjadi di tempat itu. Apalagi setelah disadarinya bahwa salah satu di antaranya sedang memanggul sebuah sepeda anak beroda tiga. Spontan saja Fahmi Idris melayangkan tendangan sekeras-kerasnya. Sosok yang memanggul sepeda pun terjerambab, sementara yang satunya lari terbirit-birit. Fahmi Idris segera melolos sebilah pisau dari balik jaket jeans lusuhnya. Sejak peristiwa naas yang menimpanya dua tahun silam, kemana-mana dia selalu membawa pisau itu. Pisau dapur belaka, tidak begitu tajam, tapi cukup bisa diandalkan untuk melukai siapapun yang mengancam harga dirinya.

“Anak ingusan sialan!” dengus Fahmi Idris seraya menjinjing sepeda kecil itu dan membawanya kembali ke kamar kontrakannya.

***

Ketika Fahmi Idris akan memulai pekerjaannya, tuan rumah yang ramah itu—melalui seorang asisten rumah tangga—menyuguhkan segelas kopi. Tuan rumah itu seorang laki-laki tua berkacamata tebal. Dia duduk di sebuah kursi kayu di teras rumah dan menceritakan sejumlah gangguan yang terjadi pada AC di rumahnya. Pagi itu dia telah menelepon Fahmi Idris untuk menggantikan tukang AC langganannya yang sedang libur. Dia berbicara seraya membuka halaman demi halaman sebuah surat kabar. Sesekali dia juga mengomentari berita yang sedang dibacanya.

“Kota ini sudah tidak nyaman lagi untuk tempat tinggal,” ujarnya. “Asli orang sini?”

“Saya datang dari pulau seberang,” jawab Fahmi Idris.

“Oh,” tanggap tuan rumah. “Bayangkan, sepagi ini sudah ada tiga berita mengenaskan.”

Fahmi Idris mendengarkan dengan saksama komentar-komentar tuan rumah. Dia mulai menebak, mungkin yang dimaksud adalah berita seputar kecelakaan. Biasanya memang seperti itu. Malam pergantian tahun selalu menyumbangkan angka kematian di jalanan.

“Seorang remaja ditemukan tewas di TPA Lingkar Selatan,” lanjut tuan rumah. “Luka tusuk di perut dan …”

Kalimat itu tidak bersambung. Tuan rumah berdiri seraya mengangkat gawainya yang bergetar di atas meja. Dia melangkah melewati pintu samping rumah, berbicara sebentar, lalu kembali untuk memberikan sejumlah instruksi kepada Fahmi Idris. “Oke, dimulai saja. Saya ada urusan sebentar,” ujarnya kemudian.

Fahmi Idris menyesap kopinya sekali lagi. Dia berpikir untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Ketika memindahkan gelas kopinya ke atas meja, matanya tertuju pada sebuah halaman surat kabar yang terbuka. Dia membaca dalam hati sebuah judul berita: Seorang Remaja Ditemukan Tewas di TPA Lingkar Selatan. Berita itu menempati seperempat bagian halaman surat kabar. Sebuah foto hitam putih memperlihatkan dua orang petugas sedang mengusung kantong mayat di dekat sebuah mobil ambulance. Di sebelah kanan atas foto itu disisipkan sebuah inset fotoyang menampilkan wajah korban semasa hidup. Fahmi Idris gemetar menatap foto itu. Dia membaca keterangan foto dan menemukan sebuah nama yang sangat dikenalnya. Tidak percaya, Fahmi Idris mencoba menekuni foto itu sekali lagi. Dia bisa mengingat dengan jelas, wajah remaja itu pernah dilihatnya terpampang di dinding rumah Ahmad Saleh. Fahmi Idris menelusuri berita itu, kata demi kata hingga tuntas. Dia mengulang-ulang bagian yang menjelaskan luka di tubuh korban: Luka tusuk di perut bawah sebelah kiri.

“Mari, Pak. AC-nya di sebelah sini.”

Fahmi Idris bangkit dari kursi, mengekor asisten rumah tangga itu. Bulu kuduknya terasa merinding. Dia teringat kembali setiap rincian kejadian malam itu.

***

Ahmad Saleh kembali menuangkan anggur ke dalam gelas. Fahmi Idris berusaha mengimbangi, seraya mencari-cari waktu yang tepat untuk berpamitan. Sudah hampir Subuh, hawa kantuk pelan-pelan mengalahkan pengaruh anggur bikinan cap orang tua itu. Namun selepas menenggak bagiannya, Fahmi Idris tidak yakin dirinya benar-benar ingin pulang dan bisa memejamkan mata dengan tenang di kamarnya. Itu sudah lepas hari ketujuh sejak kematian Jen. Sejak itu pula Fahmi Idris jarang bisa tidur. Tubuhnya bisa saja rebah di kasur, tapi pikirannya keluyuran ke mana-mana.

“Saya tidak akan pernah membiarkan pembunuh anak saya hidup tenang,” ujar Ahmad Saleh selepas menenggak anggur berwarna kemerahan. “Coba bayangkan, ada dua luka tusuk di perutnya. Bagaimana rasanya sewaktu ujung pisau itu masuk ke sana? Bangsat benar!”

Fahmi Idris mengempaskan napasnya. Dia tidak tahu mesti bicara apa. Itu malam ke sekian Ahmad Saleh mengutuki sekaligus menyesali kematian anaknya. Fahmi Idris selalu menemaninya. Dia tidak bisa menghindar meski kehadirannya di dekat Ahmad Saleh selalu dirasakannya sebagai teror bagi dirinya sendiri. Namun malam itu tidak separah biasanya. Ahmad Saleh tidak lagi berteriak-teriak dan membuat geger seisi kampung. Dia tampak mulai bisa mengendalikan dirinya.

“Bukan hanya dua. Kalau kamu mau percaya, ada luka tusuk lainnya di bahu dan di dekat leher. Bangsat benar!” Ahmad Saleh terus mengoceh.

Fahmi Idris merasa tidak berdaya. Dia mengangkat botol yang masih terisi seperempat itu dan menuangkan penuh ke dalam gelasnya. Lalu tanpa berpikir panjang ia meneguknya seperti seseorang yang sedang minum air putih.

“Saya paham kamu pasti sangat kehilangan,” tanggap Fahmi Idris. “Tidak ada cara lain, pembunuhnya harus diadili.” 

“Sudah delapan hari,” sergah Ahmad Saleh, “dan polisi belum bisa menemukan apa-apa. Padahal, seorang kawan dekat anak itu pernah memberi keterangan kepada polisi, juga kepada saya, bahwa pada malam tahun baru, anak itu sempat terlihat keluar dari gang di sekitar tempat tinggalmu sana.”

Fakta bahwa Ahmad Saleh mengatakan hal semacam itu, membuat tubuh Fahmi Idris terasa meriang. Dia sudah sering teringat peristiwa pada malam tahun baru itu. Dia mencoba mengingat perinciannya sekali lagi, adegan demi adegan: dia menendang anak muda itu—anak muda itu terjerembab—dia merogoh pisau lalu menikamnya—sekali tikam, dua kali tikam—dia sempat ragu lalu menikamkan pisaunya sekali lagi—anak muda itu menangkisnya—anak muda itu menyerah, meminta dilepaskan—dia pun melepaskan Jen. Fahmi Idris tidak sempat memeriksa apakah ada bercak darah atau bau amis di ujung pisaunya. Seingatnya, Jen berjalan sedikit sempoyongan setelah itu. Apakah dua luka tusuk itu karena saya—Fahmi Idris membatin.

“Tidak mungkin,” gumamnya tiba-tiba.

“Apanya yang tidak mungkin? Apa maksudmu yang tidak mungkin itu? Anak saya ditemukan di tempat penampungan sampah!

Fahmi Idris terkaget, menyesali mulutnya yang tidak terkontrol. Nada bicara Ahmad Saleh meninggi. Fahmi Idris gelagapan menanggapinya.

“Tidak mungkin pembunuh Jen tidak tertangkap. Itu maksud saya.”

Ahmad Saleh kembali tenang. Fahmi Idris berusaha tenang. Dia menuangkan kembali anggur ke dalam gelasnya. Sebelum menenggaknya, dia memberikan isyarat kepada Ahmad Saleh. Ahmad Saleh mengangkat gelasnya, lalu dua kawan dekat itu menenggak bagian masing-masing dalam waktu yang bersamaan.

“Apa yang akan kamu lakukan kalau bajingan itu menyerahkan diri kepada polisi?”

Ahmad Saleh menyeringai. Lalu dengan gerakan yang tidak terduga oleh siapapun, dia menyambar botol anggur itu dan meghantamkannya keras-keras ke lantai ubin.

“Sebelum dipenjara, saya akan menghancurkan kepalanya seperti ini!”

Botol anggur itu pecah berkeping-keping. Sebagian yang terpenggal masih dalam genggaman Ahmad Saleh. Fahmi Idris tidak berkedip menatap ujung penggalan botol yang runcing itu. Dalam sekejap, jantungnya terasa seperti akan berhenti berdetak.***

Ampenan, 5 Januari 2020


Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi. Menulis cerpen, puisi, feature perjalanan, novel. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang (Basa-basi, 2017), feature perjalanan Berlabuh di Bumi Sikerei (Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, 2019). Mukim di Ampenan, Nusa Tenggara Barat.

Cerpen

Rindu yang Membuatku Mati

Cerpen Ni’matus Sholihah

Dua tahun sudah aku sengaja mengisap batang rindu yang kamu tinggalkan. Aku berharap racun rindunya bersarang di tubuhku, dan aku ingin segera mati karenanya. Iya, aku ingin racun rindu itu segera membunuhku. Aku sudah tidak sabar pergi ke dunia keabadian. Menjumpaimu dan bersatu denganmu di sana.

Kini aku merasakan tubuhku melemas dan dingin. Semacam isyarat racun rindu yang bersarang di tubuhku telah menjadi kanker ganas yang siap melenyapkan nyawaku. Kini saatnya aku menyusulmu. Baiklah, akan kupejamkan mataku untuk menyambut kematianku ini. Aku ingin saat mataku terbuka nanti, aku telah berada di tempat yang sama denganmu.

***

Dugaanku, pada saat aku membuka mata akan berada di tempat yang indah bersamamu. Paling tidak di sebuah taman yang penuh bunga-bunga harum, dan mungkin ada juga kupu-kupu bersayap perak dan emas. Di sana aku mengenakan baju berwarna putih dengan rambut tergerai hitam mengkilat, dan pastinya kamu juga mengenakan baju serba putih, dengan wajah bersinar. Lalu, kita akan menjelma raja dan ratu di istana keabadian.

Rupanya apa yang aku bayangkan tidak terjadi, karena pada saat terbangun, aku tidak berada di tempat yang indah. Aku justru berada di tempat yang menyeramkan. Tak ada penerangan sedikitpun. Seluruhnya hanya gelap, bahkan sepertinya aku hanya seorang diri. Aku tak tahu ini tempat apa, semuanya hitam.

Aku berteriak, tapi tak ada suara. Entah, telah hilang ke mana suaraku. Apakah karena racun rindu atau apa, aku tak tahu, dan juga tak peduli. Aku terus berteriak dan berharap kamu mendengar, lantas menolongku keluar dari tempat terkutuk ini.

“Sudah kubilang jangan pernah memaksa agar dapat bertemu denganku sebelum Tuhan menghendaki. Tapi dasar kau keras kepala. Kau ingin mendahului takdir dengan mengisap racun rindu yang kutinggalkan. Dan sekarang kau telah mati, tapi ketahuilah, keinginanmu tidak akan pernah kesampaian.”

Aku tersentak. Itu suaramu. Iya, itu suaramu yang aku rindukan selama ini. Tapi, di mana kamu? Gelap ini membuatku tak bisa melihatmu. Aku ingin bersamamu. Meski tak ada suara, aku tetap ingin bicara. Aku yakin kamu mendengar. Aku yakin ikatan batin kita masih ada. “Aku tidak kuat menjalani hidup tanpamu. Kuputuskan menyusulmu ke tempat ini agar kita dapat bersatu lagi. Sungguh aku tidak kuat lagi menahan rindu.”

“Bodoh! Kau benar-benar bodoh! Seharusnya kau bisa hidup tanpaku. Jika kau merasa tidak kuat, kau bisa minta tolong Tuhan untuk membantu. Tapi, justru apa yang kau lakukan seolah tidak butuh Tuhan.”

Aku kembali tersentak, terlebih setelah kamu bentak. Aku sungguh tak mengerti denganmu saat ini. Mengapa kamu membodoh-bodohkan aku? Seharusnya kamu bangga memiliki kekasih yang rela mati untukmu.

“Tindakanmu justru membuat jarak kita tak bisa lagi ditebas. Kita tak mungkin bisa bersatu lagi. Meski, tempat kita ini abadi.”

“Maksudmu?”

“Kita beda. Aku mati karena memang sudah saatnya mati. Tapi kau mati karena memaksa diri ingin mati. Karena itu tempat kita berbeda, dan tak mungkin bisa kembali menyulam cinta.”

Dadaku seketika terasa sesak. Dan tiba-tiba sebuah godam menghantam tubuhku hingga terpental jauh lalu menabrak dinding tak kasat mata. Sangat keras.***


Ni’matus Sholihah, lahir di Madiun pada 1 Maret 2001. Hobi membaca dan menulis sejak MI (Madrasah Ibtidaiyah). Alumnus Man I Madiun (Man Kembangsawit) tahun 2019. Pengagum  senja, yang menyukai aroma buku dan hujan. Ide tulisannya suka muncul di saat-saat tertentu, semisal saat mencuci, atau bersih-bersih.