
Sabtu, bukan hari yang istimewa bagi orang yang tidak bekerja. Aku tidak bakal menerima gaji. Aku tak mengalami “liburan” setelah setiap hari libur. Hari-hari yang bernama tapi sering biasa-biasa saja. Sabtu, 26 Oktober 2024, aku masih di rumah: membuka buku-buku lawas dan mengetik tulisan yang ditakdirkan tidak bermutu, yang hanya dijanjikan mendapat sebelas pembaca sepanjang masa. Namun, aku belum ingkar janji untuk menulis hal-hal yang tidak bermutu, yang tidak dikehendaki langit dan bumi.
Mengetik itu membutuhkan kekuatan tapi tidak seperti penanam padi, pemasang bata, atau penyapu jalanan. Aku pun berkeringat, yang dijawab dengan minum air putih beberapa gelas. Pernah terpikirkan: makanan dan minuman menentukan mutu tulisan yang sedang diketik. Pagi, aku sarapan berisi nasi, sayur sop, dan tempe. Makanan yang cukup memberi kekuatan. Aku tidak ingin menyia-nyiakannya. Maka, aku mengetik dan mengutip kalimat-kalimat dari buku lama, buku-buku yang makin kehilangan pembaca.
Pagi, jadilah satu tulisan yang berjudul “Irama (Sejarah) 1928”. Hari agak siang, aku tidak ingin menghabiskan kekuatan sarapan cuma dengan mengetik. Di atas Supra, aku menyerahkan diri kepada matahari. Di jalan, aku menyerap asap. Perjalanan, dari rumah menuju Gladag (Solo), memberi sedikit hiburan. Peruntungan tidak bisa ditebak bagi orang yang masih mau mendatangi buku-buku atau majalah-majalah lama. Perjalanan ke bacaan.

Pedagang-pedagang yang masih menata buku dan majalah. Ada yang sudah rampung, mengelap keringat. Ada yang duduk merasakan lelah, yang datangnya terlalu cepat saat hari belum siang sempurna. Aku berbincang dengan pedagang, yang baru saja terbangun dari tidur. Wajah yang lelah. Namun, ia mudah bergairah membagikan cerita-ceritanya pada masa lalu. Yang disampaikan padaku: peristiwanya mendapat sekarung dagangan yang menggemparkan. Ia mendapat buku-buku Pramoedya Ananta Toer dan majalah-majalah masa pendudukan Jepang. Dagangan yang dibeli dengan harga murah. Yang dijual dengan harga berjuta-juta. Ia terlalu beruntung. Aku mendengarnya sambil melihat matanya yang berduit. Pembayangan saja gara-gara masa sekarang sulit mendapatkan dagangan yang “sakti” atau “bergizi”. Menjual buku atau majalah pun susah. Gladag yang makin sepi. Tempat itu murung seperti diriku yang sering murung.
Semula, aku berjanji hanya ingin melihat pemandangan buku dan majalah. Ikhtiar agar tidak mengikuti nafsu: insaf kondisi duit di kantong celana. Tiga kios berhasil didatangi dan ditinggalkan, tidak membeli apa-apa. Mataku sudah senang memandang. Tanganku telah bergirang dengan sentuhan-sentuhan.
Di kios berikutnya, aku menyerah. Nafsu itu membara ketimbang sinar matahari yang menerobos kios-kios. Pedagang yang terlalu bersemangat menawarkan dagangan. Ia mengabarkan ada majalah-majalah Concept. Aku mengetahui itu majalah unik. Perayaan desain! Gagal membeli empat majalah Concept. Yang tiba-tiba terjadi adalah tumpukan tiga bundel majalah. Bundel masih menyisakan tanah-tanah mengering.
Aku membukanya sejenak. Mata lekas sadar. Wah, majalah berselera! Maksudku, yang ada di hadapanku adalah beberapa edisi majalah Selera masa 1980-an. Aku harus memilikinya. Aku ingin membawanya pulang. Beberapa hari sebelumnya, aku sudah menumpuk puluhan buku lawas bertema pangan (makanan). Niatku membuat ratusan tulisan bertema pangan mengikuti arus kekuasaan Prabowo-Gibran. Penguasa yang memerintahkan pemberian makanan bergizi gratis untuk jutaan orang di Indonesia, yang bakal membuat pengeluaran besar: triliunan.

Selera, majalah yang wajib dibaca dan digunakan dalam menghasilkan tulisan-tulisan. Dulu, majalah itu diterbitkan di naungan Gramedia. Aku sudah memiliki puluhan edisi, sejak beberapa tahun lalu. Majalah yang apik pada masanya, yang tidak dapat berumur panjang. Yang diulas dalam majalah adalah upaboga. Aku senang dengan pengisahan para tokoh dan makanan. Ada rubrik kebahasaan. Yang tidak boleh dilewatkan kehadiran cerita pendek bertema pangan, yang sering tampil adalah gubahan SNG. Sosok yang menjadi pemimpin redaksi Selera, yang rajin menulis cerita.
Aku pun memiliki buku-buku SNG, yang mendokumentasi resep-resep makanan warisan keluarga besar RA Kartini. Ada juga buku besar mengenai upaboga, yang bersifat ensiklopedia. Buku kumpulan cerita pendek juga sudah aku khatamkan. SNG, sosok yang membuatku penasaran: ingin mengetahui biografinya. Yang ingin aku tulis tentu predikatnya sebagai pengarang “kuliner” yang tekun dan istikomah di Indonesia. Nama yang belum sering diulas atau digosipkan dalam sastra Indonesia.
Aku membatin perkiraan harga tiga bundel majalah Selera. Suami-istri yang menunggu kios itu malah ribut. Mereka rapat dulu dalam penentuan harga. Wajahku menunduk merasa takut harga bakal mahal. Rapat itu berbahaya! Sekian detik berlalu. Harga sudah ditentukan dengan mufakat tak boleh ada bantahan atau interupsi. Rapat yang sederhana dibandingkan rapat di gedung parlemen atau istana kepresidenan. Yang diucapkan: 20 ribu tiap bundel. Tuhan, telingaku tak salah dengar. Aku bersumpah tidak menawar.
Selembar merah diberikan dengan tangan yang agak gemetaran. Pedagang yang wajahnya semringah. Menanti uang pengembalian. Pedagang itu menawarkan untuk membersihkan tanah-tanah yang menempel di bundel majalah. Aku bilang tidak usah. Namun, ia tetap membersihkan: tanda syukur mendapatkan rezeki. Aku malah kalah dalam bersyukur. Seharusnya, aku yang lebih bersykur. Ia berkata: tiga bundel itu diperoleh pagi. Hari agak siang sudah terbeli olehku. Pedagang yang merasa senang, tidak perlu menunggu waktu seribu hari untuk mendapatkan untung. Pasti harganya murah saat ia membeli di penampungan rongsok atau bakul bronjongan. Namun, aku yang sesumbar bahwa harga yang diberikan itu (terlalu) murah untuk aku bisa membaca dan memenuhi janji membuat ratusan tulisan.

Siang itu aku berkeringat dan kecut. Hariku berselera! Aku tak bakal malu dengan kemproh dan kecut. Di kresek besar, tiga bundel Selera menjanjikan hari-hariku berpikiran mengikuti lakon besar makanan bergizi gratis di Indonesia. Aku tidak lekas pulang, mampir dulu bertemu dan belajar bareng murid-murid SMP. Di situ, aku sedikit berkelakar tentang makanan, yang memberi hukuman-hukuman besar dalam kehidupan. Makanan yang dianggap menghidupkan justru mematikan. Kelakar yang keji tapi para remaja itu segera paham tentang dampak-dampak industri makanan mutakhir.
Di rumah, aku bergairah membaca pengalaman makan Sutan Takdir Alisjahbana, JS Badudu, dan Umar Kayam. Aku membaca lomba mengenai padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk kata-kata asing dalam pangan atau gastronomi. Di situ, ada juri yang dikenal sebagai pakar bahasa Indonesia: Anton M Moeliono.
Yang membuatku sedih: pengalaman makan terbatas. Aku jarang mengetahui warung atau restoran. Sejak lama, aku takut jajan atau ngiras. Padahal, halaman-halaman Selera mengajak pengembaraan upaboga di pelbagai pulau di Nusantara. Godaan mengetahui upaboga di dunia.
Majalah yang wajib dipelajari dan dikoleksi. Aku yakin banyak orang yang akan tercengang atau geleng-geleng kepala membaca pengetahuan upaboga-gastronomi-kuliner-pangan yang termuat dalam Selera. Bacaan yang benar-benar berselera, berbeda dengan jengkelku mengetahui acara-acara kuliner di televisi dan persaingan orang makan di media sosial. Berjumpa dan membaca Selera membuat murung mungkin berkurang tiga derajat.I Kabut
