Ragam

SASTRA (BERAPI) DI GUNUNG DAN JAHANAM

Siang, Jumat, 18 Oktober 2024, bertakdir panas tanpa harus membandingkan dengan kopi yang tersaji di meja saat pagi masih malu-malu. Tak usah minum kopi saat siang, mengelak dari pesta es teh sepanjang jalan. Matahari tidak untuk dikutuk.

Bila ingat gambar matahari di sela dua gunung, Bandung Mawardi menunduk dengan lesu. Ia belum pernah melihat matahari terbit di (puncak) gunung. Lelaki yang ringkih untuk membawa kaki-kakinya menuju puncak gunung. Ia mudah menyerah dan kalah, memilih menjadi penghuni rumah sampai kiamat tiba. Lelaki yang memalukan!

Ia berhasil melewati siang di jalan tanpa makian. Diri yang merasa terlalu dimanjakan matahari, yang sinarnya melebihi api, yang memberi sumuk tidak keruan. Bandung Mawardi ingin insaf, berani menanggungkan hukuman-hukuman di bawah terik matahari. Ia memang harus terbakar sinar matahari agar mengerti siksa.

Panas itu masih terasakan saat sore. Ia mau minggat dari rumah menuju Gunung Lawu. Teman sudah berada di pekarangan, membawa sepeda motor yang bakal membawa tubuhnya berjarak jauh dari rumah. Sebelum bergerak mengukur jalan, dua gelas teh dinikmati dua lelaki keparat yang berlagak mengumbar omongan sastra dan intelektual.

Sore yang ditunggangi mendung. Dua lelaki sempat mandi air hujan di jalanan, setelah malu dan tak berdaya mengurusi sepeda motor yang macet. Cilaka! Ilmu menggenjot dan mengatur gas saja tidak mengerti. Dua lelaki yang mendapat kebaikan lelaki tua di bengkel. Ia yang menggenjot, mengembalikan nyawa sepeda motor agar mampu bergerak ke arah Gunung Lawu.

Di jalan penuh kemesraan pepohonan, mereka memberi mata kepada senja. Hidung yang mendapat udara berbeda, yang memicu mulut menebar kata-kata agak berteriak. Kata-kata yang berceceran di jalan naik-turun dan berbelok-belok. Omongan yang mudah sesat.

Sejam berlalu dan menit-menit yang harus dimiliki bersama roda berputar, tibalah dua lelaki di rumah yang dingin. Di situ, orang-orang berjanji mau merayakan sastra. Mereka memberi nama mentereng: “Sastra di Gunung”. Bandung Mawardi hanya mengikuti ajakan tanpa ingin menyodorkan tandingan ajakan: “Sastra di Langit”, “Sastra di Neraka”, atau “Sastra di Matahari”.

Yang tersiksa adalah bokong. Bertahun-tahun, Bandung Mawardi dikutuk ambeien. Maghrib, ia berhasil turun dari sepeda motor dengan kesengsaraan bokong. Terlalu lama, bokong itu menanggung beban raga yang aib.

Lega, dua lelaki merasakan suasana gunung, tak harus sampai ke puncak Gunung Lawu. Dingin yang tidak usah dipesan lewat lokapasar atau dihasilkan dengan listrik. Bandung Mawardi merinding dan kelelahan. Dingin yang mungkin menyelamatkan ketimbang panas saat siang masih berada di Solo dan rumah. Mustahil mengelak dari dingin. Ia berharap bertemu kopi. Kasihan. Rumah itu tidak dihuni kopi, hanya ada orang-orang yang omong-omong dan merokok. Sabar. Kopi belum punah dari dunia. Kopi belum perlu dipesan di neraka. Kopi, kopi, kopi. Tidak ada pesulap atau pemberi keajaiban. Kopi di pikiran saja. Malam pun bimbang sebelum jahanam.

Duduk bersama teman-teman, mengucap apa saja yang bisa dimengerti atau sekadar membuat tertawa. Konon, cara itu mengurangi dingin. Yang terlihat, tikar-tikar yang  dimaksudkan menjadi saksi perjumpaan dan perayaan kata.

Yuditeha tampak memelas. Sosok yang menua tapi keranjingan bersastra. Malam itu tubuhnya lemah dan sakit. Kasihan. Lelaki yang agak sulit diajak tertawa. Sakit itu perlu agar hidup tidak sembarangan. Bos besar Kamar Kata yang mengadakan “Sastra di Gunung” itu tetap tangguh, membawa sakit ke gunung, meninggalkan perlindungan rumah.

Puluhan orang makan malam. Di atas tikar, sajian itu menggoda: nasi, oseng-oseng, tahu, telur, dan bakwan. Bandung Mawardi lekas makan, tak mengambil sambal. Ia takut perut bermasalah. Di televisi tertempel di dinding, Egha bersenandung sedih: “Sumpah dan Cinta Matiku”. Dulunya, lagu itu milik Nidji. Malam yang lara. Bandung Mawardi dihajar sentimental sambil menyembunyikan tangisan: “Selama nafasku berhembus, hanya kamu di doaku.” Ia masih ingin memberi diri untuk yang tercinta saat dunia membencinya. Ia mau bersumpah untuk sisa-sisa napas yang mungkin dapat menembus segala kehancuran selama di dunia. Lagu asmara picisan. Bandung Mawardi sedang makan nasib setelah mengetahui piring sudah kosong. Kopi tetap absen. Derita yang bertambah panjang. Ia enggan bersumpah kopi. 

Tuhan, kopi sedang dolan atau minggat ke Planet Yupiter? Teman-teman sengaja membiarkan dingin tanpa lawan (kopi). Terkutuklah mereka yang menjanjikan kopi tapi malam itu tiada meski lagu-lagu Egha sudah rampung. Teman-teman bergantian membaca puisi dengan mikrofon. Namun, semua itu tidak bisa menggantikan kopi. Lumrah, Bandung Mawardi merana. Kopi masih kemustahilan.

Pengganti kopi yang panas adalah pidato Yuditeha. Seumur hidup, Bandung Mawardi telat menyadari “kemarahan” Yuditeha. Lembaran-lembaran kertas ramai kata itu dibacakan sambil berdiri. Tubuh yang sakit terlupakan oleh getaran omongannya dan wajah yang garang. Ia memberi kutukan-kutukan dalam sastra. Akibatnya, Bandung Mawardi sejenak lupa kopi dan membuka mata sulit berkedip. Malam itu malam jahanam.

Yuditeha memberi tuduhan-tuduhan dan sangkalan-sangkalan. Ia sengaja marah dan menuntut jawaban. Mulut yang memasalahkan desentralisasi sastra. Mikrofon di depan mulutnya bisa pecah jika ia membiarkan kata-kata terus membara. Di hadapanku, lelaki itu tidak sakit. Ia ingin mengusir dingin dari gunung. Tangguh! Bandung Mawardi lekas ikut berpusing tapi memaksa tabah mengetahui sastra di Indonesia. Sebenarnya, ia sudah takut dan malu di hadapan sastra Indonesia. Ia telah terpencil dan ingin meratap di sungai mengering saja.

Di hadapannya, Yuditeha justru membawa api-api sastra. Di Indonesia, sastra masih memudahkan sengketa dan omelan-omelan sejuta kata. Malam tanpa kopi tapi kata-kata diucapkan di muka mikrofon sedikit memberi pemanas Jumat malam.

Tibalah lelaki membawa termos dan gelas plastik. Pengganti yang harus dinikmati. Teh. Lelaki itu mempersembahkan teh panas. Bandung Mawardi lekas mengambil, memandangi, dan minum teh. Yang membuatnya masih mampu memberi kata-kata mengenai fiksi di Indonesia, dari masa ke masa. Ia memberi cuilan-cuilan, sejak awal abad XX sampai sekarang. Novel-novel yang dibacanya dijadikan bekal membicarakan pengarang, tema, masa, penerbit, birokrasi, dan lain-lain. Ia tidak cukup fasih, kalah pamor dari pidato Yuditeha. Bandung Mawardi terbukti lembek dan membodohkan diri dalam sastra.

Menit-menit berlalu, di hadapannya tetap tidak ada suguhan kopi. Teh mau habis.  Ia masih meladeni ocehan Panji S dan Andri S. Omongan malah kebablasan ke sastra (dan) anak. Berlanjut lagi ke politik-penerbitan dan (industri) sastra dibayangi keraguan. Malam yang malah kembali dingin tapi berbeda dengan senandung Egha: “Dinginya angin malam ini… “ Bandung Mawardi jadi insaf bahwa tak mungkin “mengubah buih menjadi sastra”. Yang terjadi adalah sastra yang kedinginan. Lelaki yang mustahil menggapai bintang-bintang di langit sastra atau menyapa di puncak gunung sastra.

Malam itu Bandung Mawardi merasa bakal ambruk. Ia tidak bisa memberikan tubuhnya kepada gunung yang dingin. Pulang. Ia ingin pulang setelah menyadari jebakan masuk angin.

Ia meninggalkan gunung. Ia pamit dari sastra. Sampai di rumah, hari telah berganti. Tidur di kasur, ia merasa masuk (dalam) angin, bukan masuk (dalam) sastra. Lelaki yang terkapar: menyerah dan kalah. Malam itu tanpa kopi. Malam yang jahanam. Malam yang memberinya mimpi buruk agar segera terjaga sebelum terdengar azan subuh. I Kabut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *