
Curhat Dhatu Jenar
Hari ini, setelah lebih dari 14 hari usai membaca satu tulisan di kolom Curhat media sastra Nomina, aku memutuskan menulis juga. Bagiku, iming-iming dari redaktur: apresiasi karya hanyalah “pemuatan”, sangat keren. Bagaimana tidak, aku bisa bercerita tentang apa pun: yang kulihat, kurasa, kupikir, bahkan kulakukan, tanpa harus terselip beban bahwa tulisanku haruslah “nyastra”. Jadi, meski karyaku belum tentu lolos kurasi, rasanya bukan hal berlebihan jika aku tetap ingin menyampaikan terima kasih kepada redaktur. Bilik khusus yang sengaja diciptakan ini, sangat berarti bagi orang berkebutuhan khusus sepertiku, perempuan pendiam yang tak mudah percaya orang lain, tapi ingin tetap waras.
Sebelum mulai, aku akan membuat sebuah pengakuan: nama yang kucantumkan hanyalah nama samaran. Jika hal itu tidak dianggap penting, tidak apa-apa. Menurutku, ini adalah cara menghargai diriku, juga menghargai siapa saja yang kelak membaca ceritaku. Kuharap, hal itu bisa dimaklumi. Aku akan mudah bercerita setelahnya, seperti merasa tidak berdosa karena itu.
Lima hari lagi, aku akan bertunangan. Lalu, sebulan setelahnya, aku akan menikah. Menurut teman-teman dan keluarga, aku termasuk perempuan beruntung. Di usiaku yang ke-25, aku sudah menyandang gelar magister dan langsung diminta bekerja sebagai dosen di kampusku dulu. Pria yang akan menikah denganku juga pacar yang telah membersamaiku sejak 5 tahun lalu. Bisa dibilang, kami berdua telah mapan dan dianggap siap untuk berumah tangga. Terlihat cukup menyenangkan, bukan? Sepertinya begitu, jika saja tadi sore aku tidak bertemu dengan R, lelaki yang dulu pernah sangat kusayangi, jauh sebelum aku mengenal pacarku.
Kata orang, sebelum menikah, orang-orang di masa lalu akan hadir kembali untuk menguji seberapa tangguh dirimu. Mungkin memang tidak bermaksud merusak sebuah hubungan, tapi bagi jiwa yang lemah sepertiku, hal itu bisa sangat mengganggu, bahkan berhasil membuatku sempat berpikir ulang. Apakah keputusanku untuk segera menikah sudah tepat? Ah, sepertinya aku memang sedang benar-benar diuji. Aku selemah itu. Sampai-sampai cinta pertamaku saat SMA, berhasil membuat perasaanku berantakan.
Sore tadi, sepulang mengajar, aku menyempatkan mampir ke kafe tidak jauh dari kampus. Sembari menunggu pesanan kopi dan croissant-ku diantar, aku menekuri ponsel di tangan. Seseorang mendekat dan memanggil namaku. Aku ingat suara itu, bahkan selama beberapa detik aku belum berani mengangkat wajah untuk memastikan siapa pemilik suara itu.
“Ya, aku tidak salah. Tentu saja itu kamu,” katanya lagi.
Meski jantungku barusaja berhenti, dan kini mulai memompa jauh lebih cepat dari sebelumnya, aku memantapkan hati menatap wajahnya. Benar, dia R, lelaki yang pernah meninggalkanku pergi begitu saja. Jarak. Sesuatu yang sejak diperkenalkan R padaku, sejak itu pula aku menjadi sangat membencinya.
“Apa kabar?” tanya R basa-basi. Atau memang bukan sekadar basa-basi. Kami sudah lama sekali tidak bertemu, tentu saja pertanyaan itu sangat wajar terlontar. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.
R bercerita panjang tentang kegiatannya saat ini. Ia memutuskan pulang dari luar negeri, dan menggunakan tabungannya untuk membangun perusahaan miliknya sendiri. Rupanya ia sudah hampir setahun di kota ini, tapi Tuhan baru mempertemukan kami sekarang. Betapa ajaibnya. Termasuk reaksi tubuhku terhadap R. Suaranya membuatku seolah kembali ke masa itu. Masa-masa di mana aku menghabiskan tiga tahun belajar di SMA dengan penuh warna.
Seorang waitress mendekat, meletakkan pesananku di atas meja. Membuyarkan lamunan yang sempat membawaku seperti jet, kembali dari masa lalu. Aku menawarkan R untuk memesan sesuatu, tapi ia tolak. R menjelaskan kalau barusaja ia selesai meeting bersama klien.
“Lama sekali ya kita nggak ketemu? Kamu masih tetap sama seperti dulu. Irit bicara.” R berkomentar sembari mengeluarkan tumbler hijau tua dari dalam tasnya.
Ya Tuhan, tumbler itu pemberianku. Apa yang ada di pikiran lelaki itu dengan masih menyimpannya, bahkan tetap menggunakannya. Aku merutuki diriku sendiri karena menganggapnya istimewa. Bisa saja tumbler itu hanya mirip. Lagipula barang itu bukan sesuatu yang eksklusif, hingga hanya aku saja yang pernah memilikinya untuk kuberikan pada R.
“Awet ya, ini tumbler pemberianmu,” kata R usai meneguk sedikit air dari tumbler.
“Kenapa kamu masih menyimpannya?” tanyaku yang sesaat kemudian kusesali. Seharusnya aku tidak perlu membahas sesuatu yang sangat sentimentil begini.
“Tidak hanya tumbler, hampir semua barang pemberian darimu masih kusimpan. Termasuk kenangan-kenangan bersamamu.”
Nah, kan. Mampuslah aku yang tidak bisa menutupi rasa canggung. Lelaki itu memang benar-benar membuatku tidak nyaman. Beruntung ponselnya tiba-tiba berdering, jadi aku bisa sedikit leluasa untuk menguasai perasaan dan diriku kembali. Setelah R mengakhiri telepon, buru-buru dia pamit karena harus segera kembali ke kantornya. Ia juga mengatakan kalau akan menghubungiku lagi nanti.
Sesampainya di rumah, grup WhatsApp alumni SMA yang sebelumnya kuarsipkan, kini kembali kubuka. Aku tidak berminat untuk menyimak ribuan percakapan yang selama ini terlewat kuikuti. Entah, aku hanya tiba-tiba ingin mencari nomor kontak R. Berhasil. Aku menemukannya. Cukup lama aku hanya memandangi jendela chat kosong tanpa percakapan itu. Hingga tiba-tiba terlihat keterangan “mengetik”, membuatku terkejut dan buru-buru keluar dari beranda chat kontaknya.
Hai, sudah sampai rumah?
Kuharap kita bisa bertemu lagi besok sore di kafe.
R
Aku tidak langsung membuka pesannya. Hanya membaca lewat notifikasi yang sempat terbaca. Ini benar-benar konyol. Aku salah tingkah. Perasaanku tidak keruan. Ada rasa senang, sekaligus bimbang. Merasa ada sesuatu di masa lalu yang belum benar-benar tuntas. Ada hal yang ingin kupastikan, dan rasa penasaran itu tidak bisa kukendalikan.
Foto pacarku muncul di layar. Setelah dering ke-3, aku menjawab panggilannya. Dia mengingatkanku untuk menemaninya ke rumah eyang sepulang kerja. Sejenak aku berpikir.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya pacarku.
“Ah iya, aku lupa. Apakah bisa lusa saja? Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku agar bisa tenang menjalani cuti,” jawabku berbohong. Ini adalah kali pertama aku membohonginya. Bodohnya, hanya karena terngiang pesan R yang sempat kubaca tadi. Aku cemas menunggu respons pacarku. Ketika dia tidak mempermasalahkan, aku menjadi sangat lega. Lalu dia pun mengakhiri telepon sesaat setelah mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku. Aku membalasnya dengan kalimat yang sama.
Setelah itu, aku kembali membuka pesan WhatsApp. Tanpa ragu aku membuka pesan R, lalu mengetik sebuah balasan, Oke. Sampai jumpa besok sore. Usai menekan tombol kirim, aku meletakkan ponsel di atas nakas. Apakah aku jahat? Apakah ini termasuk sebuah pengkhianatan? Jika benar begitu, bolehkah aku khilaf sekali saja? Aku benar-benar merasa perlu untuk menyelesaikan masa laluku. Hanya itu. Aku yakin hanya akan seperti itu. Tidak lebih.
Aku meraih kembali ponselku. Mencari kontak pacarku dan mengetik sebuah pesan untuknya, Sayang, izinkan aku selingkuh sekali saja, ya? Ada sesal di hatiku. Tapi aku berusaha mengabaikannya. Setelah membaca berulang kali pesan itu, aku memutuskan untuk menghapusnya. Meletakkan ponselku di atas nakas, lalu menuju kamar mandi. Berharap guyuran air dingin akan mengembalikan kesadaranku.***
Dhatu Jenar
Perempuan penyendiri yang suka buah duku.
