
Ibu-ibu termangu bersama buku-buku. Teater perbukuan tersaji Senin, 21 Oktober 2024, saat siang makin garang. Aku di situ pukul 1 siang. Berjalan dengan tubuh berkeringat dan kecut. Tatapan mata yang lekas menimbulkan prihatin.
Aku tak ingin sendu tapi buku-buku itu membisu, tak berucap nasib atau memberi marah-marah mumpung Indonesia memiliki presiden baru. Para ibu di puluhan kios pun mustahil berharap pembentukan “menteri perbukuan” di Indonesia. Mereka yang sebentar lagi menyerang, yang akan meninggalkan kios dan bercerai dari buku-buku tak pernah terjanjikan menemukan pembaca.
Jika bisa berbahasa Inggris, siang itu aku ingin berjalan dan menyapa mereka diselingi lagu Sting yang berjudul The Book of My Life. Lagu yang mengandung masalah biografi, bukan perdagangan buku atau orang yang meratap setelah dikutuk buku selama belasan tahun. Telingaku kadang menikmati lagu Bernadya, yang mengungkapkan diri, asmara, dan buku.

Aku yang masih bernapas dengan ribuan buku sadar bakal sekarat dan sia-sia. Aku tidak pernah mampu berkisah seperti Sting atau mengandaikan nasib tokoh dalam lagu Bernadya. Nasibku mungkin buruk ketimbang para pedagang buku di kios-kios belakang Stadion Sriwedari, Solo. Siang yang memiliki 12 matahari tidak memberi kabar baik untuk para pedagang buku, yang berada di seberang semringah tokoh-tokoh diangkat menjadi menteri, yang mengumbar mimpi di Jakarta.
Hari itu aku sekadar ingin memberi sapaan, sebelum berita duka dan kecewa beralamat di Sriwedari. Beberapa tahun lagi, nostalgia dan doa terucap merujuk Sriwedari. Pada suatu hari, aku mungkin enggan menjadi pendoa. Biografi ada di situ. Aku pernah menjadi pendoa sepanjang jalan saat meninggalkan rumah menuju Sriwedari. Yang teringat: aku mendapat Jejak Langkah, Bacaan Mulia, Max Havelaar, dan lain-lain di Sriwedari. Dulu, aku datang sebagai remaja berusia 17 tahun. Kini, usiaku 43 tahun yang terengah-engah untuk bernapas dengan buku-buku dan biasa bermimpi buruk setelah khatam buku-buku.

Di kios memamerkan buku-buku sedikit dan berdebu, aku menemukan buku merah. Yang terbaca di sampul: Tentang Bermain Drama. Buku disusun Rendra, yang diterbitkan Pustaka Jaya. Seingatku, aku membaca buku itu saat masih murid SMA. Lelaki bercelana abu-abu mulai suka menonton pementasan teater di TBJT (Solo) dan beberapa kampus. Buku persembahan Rendra itu sempat membuatnya ingin sibuk dalam teater. Maka, ia memang telanjur dalam teater sebagai aktor, penulis naskah, dan sutradara. Pada saat ngambek dan capek, ia memilih membuat resensi atau tulisan mengenai teater. Buku merah, buku yang membentuk si remaja perlahan mengerti teater atau seni.
Di kios berbeda, aku menyapa bapak yang pendiam. Wajah kalem dan cara duduk yang membuatku kagum. Pastilah ia tabah sebagai penunggu buku-buku yang sulit laku. Keringat mengalir di wajahku. Tanganku memegang buku kuning. Tampak gambar lelaki memegang dua wayang. Yang ingin terbeli adalah buku garapan Harun Hadiwijono berjudul Konsepsi tentang Manusia dalam Kebatinan Jawa. Buku yang aku santap saat masih remaja. Pada awalnya, aku membaca buku-buku Niels Mulder yang membahas (kebatinan) Jawa dan Paul Stange. Dua buku Harun Hadiwijono aku baca agak serius meski aku tak menempuhi jalan kebatinan. Buku yang satu lagi mengaitkan Injil dan kebatinan (Jawa).

Pada saat mau membayar buku yang murah, mataku melihat punggung buku yang lusuh. Aku mudah membacanya dari jarak dua meter: Kumpulan Dongeng Binatang 1. Aku sudah memilikinya sejak lama, bersama buku-buku besar bergambar terbitan Gramedia masa lalu. Buku yang apik dan memikat. Aku meminta diambilkan gara-gara buku itu berada di tumpukan. Dua buku mendapat harga mufakat. Aku mengeluarkan selembar uang. Pada saat pedagang mencari uang kecil untuk kembalian, aku masih menggerakkan tangan membongkar tumpukan buku. Pembayaran selesai.
Berjalan mau pergi, aku iseng menanyakan buku merah berjudul Aporisma Kahlil Gibran. Buku kecil, yang bisa masuk saku dan enak di pegangan tangan. Sebenarnya, aku sudah mengoleksinya, sejak remaja. Masa silam yang membuatku menjadi pembaca buku-buku Kahlil Gibran edisi terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan Bentang, Fajar Pustaka, Pustaka Pelajar, Pustaka Jaya, dan lain-lain. Indonesia masa 1990-an dan 2000-an dimanja Kahlil Gibran. Aku yang cukup lama terbuai Kahlil Gibran. Siang itu buku merah yang kecil boleh aku bawa setelah memberi uang lima ribu rupiah. Panasnya sinar matahari ingin aku redakan dengan iseng-iseng membuka halaman-halaman memuat kalimat-kalimat puitis buatan Kahlil Gibran. Aku agak malu membaca tapi masa lalu itu memanggil.
Di ujung barat, aku berhenti di kios yang sesak buku. Aku mengetahui buku-buku itu sulit laku, menunggu pembeli yang beriman atau pembeli yang sesat. Ratusan novel ditata, yang sudah aku lihat sejak beberapa bulan yang lalu. Dugaanku: Indonesia masih memiliki warga yang gemar membaca novel. Namun, dagangan novel di kios itu tabah. Yang aku ambil berjudul Norwegian Wood gubahan Haruki Murakami terbitan KPG. Aku sulit mengaku sebagai penggemar novel-novel Haruki Murakami. Aku membacanya, tidak memiliki kesan-kesan yang kuat atau berpengaruh besar dalam hidup. Pada hari-hari agak “istimewa”, aku kadang mengenakan kaos yang bertuliskan Haruki Murakami. Namun, percayalah bahwa aku bukan pemuja Haruki Murakami meski terkenal di dunia. Sekali lagi, buku itu murah. Pedagangnya tersenyum mengalahkan senyum matahari yang berada di atas kios dan pohon-pohon.
Duit di saku celana berkurang, buku-buku dalam kresek bertambah: jumlah dan berat. Aku ingin segera meninggalkan kios-kios di Sriwedari, berpindah tempat ke sekolah untuk menunggu anak-anak pulang. Menunggu bersama adegan membuka halaman-halaman buku. Berjalan lungkrah menuju parkiran sepeda motor, aku malah melihat buku digantung di depan kios. Buku yang aku sangat ingat sampulnya. Buku itu berjudul Pustaka Nada, buku memuat ratusan lagu yang digubah AT Mahmud. Selama bertahun-tahun, aku biasa bercerita dan menjelaskan kepada orang-orang mengenai lagu untuk anak yang digubah Ibu Sud, Pak Kasur, AT Mahmud, dan lain-lain. Di rumah, aku mengoleksi ratusan buku memuat lagu anak-anak di Indonesia, dari masa ke masa. Pustaka Nada, buku tebal terbitan Grasindo, yang dianggap memuat lengkap lagu-lagu AT Mahmud.

Apa aku bakal bersenandung di jalan? Usaha mengingat dan menghormati AT Mahmud. Pamit dari Sriwedari, tujuh buku berhasil dibeli dengan harga terjangkau. Para pedagang cukup senang mengetahui buku-buku laku. Uang di tangan atau masuk dompet. Mereka bisa jajan es teh atau membeli makanan untuk menumpas lapar saat siang masih memberi 12 matahari.
Aku berada di jalan menikmati panas, tak ada keinginan membeli es teh atau mampir di “es kapal”. Alamat paling jelas: sekolah. Aku ingin segera duduk di dekat tempat orang-orang biasa berwudhu. Tempat yang biasa aku gunakan untuk membaca buku-buku atau melamun sambil menunggu anak-anak pulang sekolah. Di situ, aku kadang ikut berwudhu, sebelum masuk ke masjid mau berumur seratus tahun. Pengalaman membuatku iseng berkata di hadapan teman-teman: “Berwudhu sebelum membaca buku.” I Kabut
