Cerpen

Sumbangan Awal Tahun

Cerpen Puput Sekar

“Baik, jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, berarti Bapak dan Ibu di sini menyepakati keputusan barusan, ya. Uang sebesar lima ratus ribu rupiah untuk sumbangan awal tahun ini,” pungkas Murtado, Kepala Sekolah SD Negeri Kabutsari yang menjadi pimpinan rapat awal tahun di sekolah itu.

Murtado mesam-mesem semringah. Rapat kali itu tidak terkendala apa pun. Seperti biasa uang sumbangan akan mengalir lagi untuk pembangunan sekolah itu yang rencananya akan dipakai untuk pengadaan CCTV, perbaikan pagar, pembangunan aula, perbaikan lapangan basket. Dalam waktu tiga tahun menjabat di sekolah itu, ia telah banyak melakukan pembangunan yang berhasil dilaksanakan. Tentu saja ini akan menjadi hal baik bagi sekolah, juga bagi kelangsungan kariernya.

Sejak dulu kemampuannya dalam bernegosiasi dengan wali murid selalu berdampak positif. Jarang ada sanggahan atau keberatan mengenai program sekolah yang telah ia tetapkan. Semua berjalan lancar.

Sementara di bangku wali, Ali mendengar kasak-kusuk wali murid lainnya yang membuatnya ingin bergerak.

“Aku aja belum bayar LKS, uang kas kelas, eh ini udah diminta uang sumbangan,” bisik perempuan yang duduk di depannya kepada teman duduknya.

“Iya. Sekarang apa-apa mahal. Ditambah uang sumbangan. Katanya sumbangan, tapi kok dipatok nominal dan ada tenggat waktu maksimal pembayaran,” bisik yang lainnya.

“Gaji suamiku hanya dua juta rupiah. Dibagi-bagi buat macam-macam. Kalau awal tahun begini, ruwet urusan.”

Dan bisikan-bisikan itu semakin lama semakin berdengung seperti sekumpulan tawon. Bukan hanya mengganggu gendang telinga Ali, tetapi juga mengusik hati nuraninya. Sayangnya suara-suara dengung itu terdengar berbeda di depan kelas. Terlebih bagi pendengaran Murtado. Ia sama sekali tidak mempedulikan dengungan. Ia hanya mempedulikan fakta yang sampai pada penglihatannya bahwa sampai ia selesai memberikan penjelasan tidak ada satu pun dari mereka yang berdengung tidak setuju dengan keputusannya.

Dengung keberatan itu tidak pernah sampai ke telinga Pak Murtado. Justru sikap taat dan patuh pada keputusan pria paruh baya itu. Sejurus kemudian Ali tunjuk tangan. Ia merasa perlu menjadi jembatan kasak-kusuk yang ia dengar.

Wajah semringah Murtado seketika berubah mengernyit ketika seorang lelaki yang duduk di bangku belakang tunjuk tangan. Lelaki itu lalu berdiri. Tubuhnya kurus dan ringkih. Murtado menyambutnya dengan tersenyum, meski kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan.

“Nama saya Ali, wali murid dari Adiba.” Dengan suara serak lelaki itu memperkenalkan diri.

Ternyata bukan saja tubuh ringkihnya yang kurang sedap dipandang mata, suaranya juga mengganggu pendengaran. Di tenggorokannya seperti penuh dengan dahak yang mengumpul, dan itu terdengar menjijikan bagi peserta rapat lainnya.

Murtado mulai mengerti situasi. Ya, setiap tahun pasti ada saja wali murid yang keberatan dengan uang sumbangan yang menurutnya sangat kecil, dan memang kecil jika dibandingkan sekolah sekolah negeri lainnya. Murtado merasa telah berhitung dengan cermat mengenai rencana anggaran biaya yang telah ia keluarkan. Ia mengerti dengan kondisi perekonomian mereka yang empot-empotan. Maka ia menetapkan nominal yang kecil. Barangkali jika ada orang tua seperti Ali yang mengajukan keberatan, ia cukup maklum. “Silakan, Pak Ali,” ujar Murtado ramah.

“Saya keberatan. Terus terang saya menyekolahkan anak saya di sekolah negeri karena yang saya tahu tidak ada pungutan apa pun. Sebab memang sekolah negeri dibuat minim biaya agar orang tidak mampu seperti kami tetap bisa merasakan pendidikan. Bukan begitu, Pak?”

“Benar, Pak Ali.”

“Nah jika begitu, mengapa Bapak menetapkan patokan biaya kepada kami siswa kelas satu? Bahkan Bapak mengatakan mematok hal serupa kepada setiap kelas setiap tahunnya. Berarti sama saja dengan daftar ulang. Maaf, ini sumbangan atau iuran wajib, Pak?”

“Sumbangan, Pak. Sumbangan biaya pembangunan.”

“Kok jadi rancu kedengarannya, ya, Pak. Sumbangan tetapi diwajibkan. Kenapa Bapak tidak menetapkan saja sebagai iuran wajib? Jika iuran wajib seperti itu kan enak, Pak. Saya bisa melaporkan kepada dinas terkait bahwa ada pungutan liar di sekolah ini.”

Wajah Pak Murtado memerah. Ia tidak menyangka kalimat menusuk itu keluar dari lelaki kerempeng seperti Ali. Tetapi ia harus tetap tersenyum. Senyum itu sudah puluhan tahun ia latih, terutama pada situasi genting dan memuakkan seperti ini.

“Saya bisa jelaskan, Pak Ali?”

Ali mengangguk, meski wajahnya mengeras. Sebenarnya sudah sedari tadi ia tahan pernyataan keberatannya. Sebenarnya jika dikatakan keberatan, tidak juga. Ia masih mampu membayar besaran uang lima ratus ribu rupiah itu.

“Begini, Pak,” lanjut Murtado, “Uang limaratus ribu rupiah itu barangkali berat bagi bapak, tetapi itu bukan buat saya. Itu untuk kepentingan sekolah, sebab pemerintah saat itu sudah tidak lagi menurunkan uang untuk pengembangan sekolah. Maka kami berinisiatiaf untuk melakukan swadaya antara pihak sekolah dan wali murid. Hal ini dibolehkan, Pak, selama ada kesepakatan dengan wali murid.”

“Kalau saya tidak sepakat, Pak?”

Murtado masih menjaga senyumnya, juga berusaha mengelola emosinya dengan baik, meski ia akui bahwa perasaannya teracak-acak oleh Ali.

“Silakan, Pak. Jika tidak sepakat, Bapak bisa ke ruangan saya. Kita bicarakan secara personal. Semua bisa dikomunikasikan. Nanti saya akan berikan keringanan untuk Bapak.”

“Tapi saya tidak mau ke ruangan, Bapak. Ini bukan masalah keringanan. Saya tidak mau mengemis untuk itu. Saya ingin hak saya sebagai wali murid.”

‘Asyem!’ Murtado mengumpat dalam hati. Ia mulai jengkel. “Maaf, hak yang seperti apa maksud, Pak Ali?”

“Tadi Bapak bilang pemerintah membolehkan menarik pungutan, asal berdasarkan kesepakatan dengan wali murid. Nah, saya kan bagian dari wali murid, Pak. Saya tidak sepakat!”

“Sekali lagi, Pak, Anda bisa mengajukan keringanan di ruangan saya.”

“Tapi saya tegaskan lagi, saya tidak mau mengemis seperti itu.”

Murtado menarik napas. Seketika ruangan mulai riuh. Dengungan itu terdengar lagi seperti tawon. Wali murid yang lain diberikan suguhan tontonan drama yang tidak kalah menariknya dari drama politik pemilihan kepala daerah belakangan ini.

“Pak Ali, sekali lagi saya jelaskan; uang itu bukan untuk saya, tetapi untuk pengembangan sekolah. Bapak bisa cek di beberapa sekolah negeri di dekat sini. Semua telah menjadi hal lumrah, Pak. Apa Bapak tidak ingin sekolah anak kita ini menjadi sekolah yang maju. Saya hanya berperan sebagai fasilitator.”

“Berarti ini sama saja dengan pungutan liar kan, Pak?”

“Lho kok pungutan liar? Kalau pungutan liar, Bapak dan Ibu wali murid tidak saya kumpulkan di sini. Kita berkumpul di sini untuk musyawarah.”

“Musyawarah atau mendengarkan keputusan Bapak? Musyawarah atau terpaksa menuruti keinginan pihak sekolah?”

Darah Murtado sudah sampai di ubun-ubun. Tetapi ia berusaha sekuat tenaga menjaga sikapnya. Ia sadar, zaman ini adalah zaman viral. Ponsel di mana-mana, mana tahu ada yang diam-diam merekam perselisihannya dengan wali murid.

“Sekarang begini saja, Pak. Saya kembalikan kepada Bapak Ibu wali murid di sini.” Murtado lalu beralih kepada wali murid yang lain. Wali murid yang tengah terkesima dengan peristiwa menakjubkan barusan.

“Bapak dan Ibu, mohon maaf, sekarang yang mengajukan keberatan seperti Pak Ali, silakan tunjuk tangan,” ucap Murtado dengan suara penuh penekanan.

Murtado memandangi wali murid satu per satu. Mereka semua diam. Tidak ada yang menunjuk tangan kecuali Ali. Hal itu telah cukup bagi Murtado untuk memberikan jawaban pamungkas kepada Ali.

“Pak Ali, mohon maaf. Sudah lihat, kan? Semuanya diam. Artinya Bapak dan Ibu semua setuju, ya?”

“Setuju!” jawab mereka serempak. Seperti sebuah alunan koor yang bersatu padu. Menciptakan nada harmonis pada pendengaran Murtado. Sebaliknya, bagi Ali, suara itu terdengar seperti suara para pasukan pengkhianat. Rahang Ali mengeras. Ia tahu, ia sedang dilucuti oleh orang yang sedang ia bela.

“Nah, Pak Ali. Jelas, ya. Semuanya sudah setuju. Jadi kalau Bapak tidak setuju, silakan ke ruangan saya. Kita bisa bicarakan baik-baik. Saya tidak pernah ada maksud memberikan pungutan liar. Pungutan ini murni atas kesepakatan wali murid lainnya,” terang Murtado dengan tenang. Senyumnya mengembang, senyum kemenangan.

‘Jancuk!’umpat Ali dalam hati. Matanya memandang seluruh ruangan kelas.

Lagi-lagi terdengar suara berdengung tertuju kepada Ali. Dengan gusar Ali meninggalkan ruangan. Meninggalkan sorot mata menyala kepada Murtado dan semua wali murid di ruangan itu.

Murtado masih berusaha tersenyum, meski keringat sudah membasahi punggungnya. Ia lalu menutup rapat kali itu dengan mengucapkan syukur.

“Tenang, Pak, saya punya video lengkapnya. Kalau sampai orang itu nekat membuat keributan di luar, kita bisa counter  dengan video ini. Apalagi tadi Bapak tetap tenang menghadapinya,” bisik Pak Bandri-wakilnya.

Murtado mengangguk-angguk lega. Lalu melempar senyum kepada semua peserta rapat.

Sementara dari bangku siswa, suara-suara itu terdengar lagi. Suara dari orang yang didengar Ali. Orang-orang yang itu-itu lagi.

“Hidup lagi susah, malah cari masalah. Padahal solusinya jelas, kalau keberatan tinggal minta keringanan di ruang kepala sekolah. Gitu aja kok repot!”

“Udah miskin, sok enggak mau ngemis!”

“Yah, namanya juga menuntut ilmu. Pungutan uang untuk fasilitas itu wajar. Kalau sekolah bagus, yang untung kan anak dia juga. Kok malah marah-marah enggak jelas.”

“Setiap liburan bisa jalan-jalan, kulineran, ngajak anak berenang. Giliran disuruh sumbangan alot! Pakai muter-muter omongannya!”


Puput Sekar, lulusan Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Jakarta. Menulis novel Elang dan Bidadari, Republika 2012, Beo Zelga, Prudencia 2020, Splash Love in Seoul, Prudencia, 2021, Joko Klobot dan Nyi Kemretek, NAD Publishing, 2023. Kegiatan saat ini adalah aktif menulis di komunitas Nulis Aja Dulu, Terus Saja Tulis, dan Opinia. Penulis bisa dihubungi di Facebook: Puput Sekar, IG: @puputsekar_putse, dan email: [email protected]

Puisi

Puisi M.Z. Billal

BELAJAR MEMASAK

 

ia melihatmu tersenyum lagi. usai perdebatan panjang dan kau

menangis. malam itu. rasanya seperti matahari terbit dari dadanya

sendiri dan ia ingin sedikit memperlambat gerak waktu. agar malam

tidak lekas datang seperti mata dan bisik orang-orang yang tidak

berhenti mengintai dan mencecar, bagaimana perasaanmu dan ia bekerja

ketika memutuskan untuk saling memasuki tubuh dan kehidupan,

sementara kau tahu betul bahwa kau, baru saja diminta untuk mencintai

orang lain yang bukan ia; kedua orang tuamu berkata demikian.

kau lantas mengatakan lagi padanya meski ia sudah tahu.

aku ikan yang lupa cara naik ke permukaan dan kau sulur cahaya

yang jatuh lurus di palung gelap dada

 

dan ia menemukanmu sedang sibuk belajar memasak pagi-pagi sekali.

meneliti bahan-bahan di buku resep berulang kali seolah

kau ingin menerjemahkan sendiri Yale Cullinary Tablets dari Mesopotamia.

jamuan lezat untuk orang terkasih, katamu. semur sepasang merpati

ditemani dua gelas anggur putih barangkali hidangan yang indah untuk mengisahkan

bagaimana sebenarnya cinta bisa saling melahap satu sama lain. setidaknya

menyantap kesedihan dan kekecewaan yang kerap ia dan kau terima belakangan ini.

 

ini menakjubkan! aku seperti dicumbu tapi tidak oleh bibir dan dengus napasmu.

ia tidak tahan untuk tidak memujimu. barangkali ia pun ingin segera memainkan

lakon; pengunjung rumah makan yang jatuh hati pada juru masak Babilonia kuno.

kemungkinan besar ia akan bercinta denganmu di dapur rahasia itu.

pasti kau akan sangat bahagia bukankah? tentu saja. bahagia yang tidak terucap oleh suara

dan tak mampu tertulis dalam kata. sebab kau tahu bahwa selepas makan malam ini

kisah kalian berdua akan menjadi cerita yang paling banyak

diperbincangkan dan ditulis berulang kali. terutama kedua

orang tuamu, yang terus memaksa kapan kau melamar orang pilihannya

tapi bukan ia. bukan orang yang kau ajak untuk mati bersama usai menyantap

hidangan penutup mata dari panduan

memasak menu khusus untuk memisahkan raga sepasang pecinta; tapi tidak jiwanya.

 

terakhir ia membisikimu;

aku baru tahu rasa rosary pea dicampur benzodiazepine seperti ini.

 

dan kalian tiada. atas nama cinta.

 

2023


RANTAI MAKANAN

#1

adalah rantai makanan di hutan hujan tropis. Cinta itu.

diburu dan memburu. sebagian berlari kencang, yang lain bersembunyi.

Hidup karena cinta. Mati pun karenanya pula. antara rela dan terpaksa mengikhlaskan.

seperti rusa sambar kehilangan tanah kelahiran. berkali-kali takut, berseru-seru.

bahkan menyamar jadi kerbau peliharaan lelaki tua patah hati. bertahun-tahun

lamanya tidak makan. selepas kekasihnya memilih lelaki lain yang wajahnya lebih tampan.

hanya karena tampan. bukan karena perangai rupawan.

 

#2

dan ia ular jantan yang memangsamu sebab cinta adalah garis takdir.

demikian alasannya. datang kepadamu pada hari rabu kelabu. mengasihimu

sebagai anak babi jantan tersesat; ia coba meredakan

ketakutanmu dari perburuan beruang cokelat. selepas hujan

dan memberimu apel merah hutan. kau bilang, ibu tak akan pernah datang,

sudah tertulis di lauhul jenggala. lalu kau mati. menyerahkan diri atas nama cinta

yang mati rasa. dan ketika ular jantan itu baru saja melahap bagian terakhir tubuhmu.

ia juga mati. ditembak. peluru panas pemburu yang tergila-gila pada daging

ular sawah jantan.

 

#3

di meja makan malam. pukul tujuh lebih sepuluh. di hadapan sup kentang

dan mujair goreng. sebagai manusia yang ingin bebas. kau mengakui

kepada ayah-ibumu yang penuh cinta. bahwa kau sangat menyukai menu

makan malam kali ini. tapi kau juga menyukai lelaki berambut ikal

yang pekan lalu kau ajak singgah di beranda. kau mencintai ia.

demikian katamu. ibumu nyaris menjatuhkan gelas yang sedang dipegang.

sementara ayahmu bersikap tenang. ia berkaca-kaca. barangkali dadanya yang lebur.

bagaimana mungkin putra kesayangannya mencintai pria lain? juga. sebab ia

sudah berusaha melepas masa lalu. ketika memutuskan perempuan di hadapanmu

menjadi ibu. menjadi pendamping hidupnya.

 

2023


SUSU

 

ia meletakkan segelas susu hangat di meja dan meraih gagang telepon untuk berbicara kepadamu. pemuda itu ingin bebas tanpa harus ketakutan memeluk dirinya sendiri. namun ia tidak pula ingin membenci susu hangat lezat buatan ibunya. kadang ia ingin menjelma jadi botol-botol wiski yang keparat tapi bebas di malam tahun baru.

 

kau menelepon dari mana? ia menjawab dengan suara rapuh. Minnesota, aku membacamu di koran dan kurasa aku ingin bunuh diri.

 

kau membakar penindasan itu. dari Eureka Valley. suaramu bergemuruh tapi syahdu. menyusup dengan berani hingga ke gang-gang sempit di luar San Francisco. aku tahu kalian marah, aku juga marah. dan kita tak akan lagi duduk bersembunyi di kloset.

 

dan Hillsborough dari Mission Disctrict yang ditikam lima belas kali itu adalah bukti seruan licik dan brutal penuh kebencian, kefanatikan, ketidaktahuan, intimidasi, dan prasangka yang sialan. jangan pernah dilupakan! demikian katamu berorasi.

 

lagi dan lagi dan lagi, kau melemparkan kembang api harapan ke udara. memasuki kantor pemerintahan sebagai pemenang dan berseru-seru tanpa lelah. menekankan kebenaran akan keberadaan dan persamaan hak yang sejak lama ditindas. orang berhak punya cinta, orang tak bisa dipaksa memilih, orang tak bisa terus bersembunyi!

 

tapi pada akhirnya inilah bagian yang paling ia tak suka. ia menghubungimu lagi dengan perasaan lebih baik. pemuda rapuh dari Minnesota itu. ia masih suka susu. dan mengagumimu seperti segelas susu. namun ia sangat berduka, betul-betul berduka. bahkan jelas bukan hanya ia yang berduka. tatkala mendapati kabar orang-orang akan mengantar tidurmu yang malang dalam keheningan nyala lilin di sepanjang jalan Castro menuju City Hall. orang-orang yang sebetulnya menggulung badai kemarahan di dada mereka yang berdarah. seperti tubuh dan rasa sakitmu.

 

“if a bullet should enter my brain, let that bullet destroy every closet door”

namaku Harvey Milk. aku di sini untuk merekrutmu!


RUMPUT YANG BERNYANYI

 

O beloved moon, fear not the dawn that separates us.

For we will meet again, when the world goes to sleep

_Ramchandra Siras_

 

 

puisi yang pedih adalah cinta yang dihakimi

seperti rumput yang memang layak mati ketika pikiranmu dipenuhi sugesti: itu harus mati.

 

dan rumput-rumput di Aligarh selalu bernyanyi:

cinta tak pernah keji. cinta adalah puisi yang jernih. cinta adalah aku;

kata-kata yang merangkul kaki Ramchandra ketika

Paya Khalci Hirawal*) menjejak seolah cinta benar-benar memiliki sepasang kaki.

berlari ke lembah, menyaksikan bunga-bunga mekar dan bersyukur pada hari-hari perayaan.

 

ia tak pernah mati, meski ia sudah tiada.

tapi pernahkah kau merasakan lubang kesepian ini semakin menganga?

mengisap seperti mesin penyedot debu yang besar sekali

bahkan juga bisa membunuhmu, memadamkan seluruh siaran kebencian

televisi dan koran lokal, dan meruntuhkan gedung-gedung pemerintahan Uttar Pradesh.

 

In the light of day, I am unseen.

It is in your light, my hearts awakens

 

cinta melahap kesedihannya. cinta menyembuhkan luka

batinnya. cinta merobek lembar 377**) . cinta menjelma angin

yang memasuki jendela kamarnya. cinta menidurkannya

meski kematiannya tak pernah seadil cinta itu sendiri.

dan cinta membiarkan rumput-rumput di Aligarh terus bernyanyi:

Ramchandra sudah pergi, tapi aku masih tumbuh di sini. puisi-puisi selalu bersemi.

jangan pernah takut terpisahkan, karena kita akan bertemu lagi.

2023


HIDUP SEBAGAI PUISI

 

ketika kau memutuskan untuk jadi pesyair. maksudku, orang-orang terpilih yang

menghabiskan waktunya untuk bertikai dengan ragam dan kelas kata. kau sepenuhnya

 

akan hidup sebagai puisi. metafora adalah pakaianmu. dan kau akan benar-benar

ahli dalam berbohong tapi juga jujur untuk mengatakan kebohongan. bahkan hingga

 

berjilid-jilid manuskripmu, kau akan seperti cacing tanah, yang mengurai potongan-

potongan cerita di dalam tanah. hanya untuk menyuburkan pohon kenangan milik

 

orang lain. ya, menjadi pesyair juga umpama kau adalah pejabat pemerintah yang suka

sekali mengurai kata-kata indah agar orang-orang terbuai dan kembali masuk jerat

 

hasratmu sementara kau terus hidup sebagai puisi. puisi-puisi yang memabukkan.

puisi-puisi yang bertabur cinta. sebab menjadi pesyair sendiri juga merupakan

 

jebakan. kau akan terperangkap oleh perasaanmu sendiri. kesepianmu, kesedihanmu,

amarahmu, bahkan rasa rindumu adalah jenis-jenis makanan yang hanya bisa membuatmu

 

kuat untuk bertahan sebagai pesyair. maksudku, orang-orang terpilih yang merelakan

sendiri dirinya untuk terluka, melukai, mencintai, dicintai, membunuh, atau terbunuh.

 

2022


NE M’OUBLIE MIE

 

ia mulai gelisah dari tempat yang sembunyi lagi sangat rendah, tapi Dia tahu ia berada di sana. meskipun tak terlihat. semua sedang gembira, ia belum. mereka saling berkenalan dan memuji, ia masih menanti. kebun yang semula sunyi dan kelam kini sudah indah. berbagai warna memancar sampai ke langit. sementara ia masih setia menunggu-Nya memanggil. apakah Dia lupa? tentu tidak. tolong jangan lupakan aku, tolong jangan lupakan aku. ia berseru-seru di antara bising kebahagiaan yang lain.

tidak. tidak mungkin Aku melupakanmu. Aku mengatur dan mengingat segalanya. nama itu untukmu. “Jangan Lupakan Aku”. Dia tersenyum kepadanya. agar semua ingat kepadanya. meskipun Dia tahu ia berbeda, Dia juga tahu ia beriman.

 

2023


SELAMAT PAGI AKU

 

selamat pagi aku

bagaimana kabarmu hari ini?

 

di gerbang yang ke sekian ribu

pagi. kulihat diriku yang lalu

di mana-mana. menjadi ruh apa saja.

menjadi cinta yang ditunggu-tunggu

seolah aku selalu hidup sebagai

bulan kasih sayang. juga menjadi

akar pohon rasa lelah

yang membelit liar seluruh

dada yang dewasa

meski kerindanganku selalu tampak

baik-baik saja. aku menyaksikan

segala yang terpotret dan tersimpan

di kepala. sementara sisa yang lain

menjadi abu tanda

tanya sebelum aku

menggapai daun jendela

 

dan hari ini aku masih terlahir

lagi sebagai orang baru dengan tubuh

dan luka dan harapan yang sama.

aku melangkah memasuki hari ini.

waktu yang pendek untuk rasa ingin

yang panjang. sementara di tanganku

memegang jaring nelayan. entah apa

yang harus kulakukan

dengan ini. ikan tidak berenang

di permukiman warga, di ruang kerja

atau di jalan yang sibuk,

bukankah? ya. aku terus saja melangkah.

berusaha dan bertanya-tanya.

 

halo aku. ternyata sudah sore saja

bagaimana kabarmu hari ini?

pulanglah. kembali lagi esok.

akan kutulis lagi sepucuk

surat pendek seperti biasanya.

bacalah sebelum mengunjungi

gerbang ke sekian ribu pagi itu.

2023


KEPADA SESUATU DI SURAKARTA

 

kehampaan ini membentang sepanjang jalan setapak

dari indragiri ke surakarta.

 

aku menghabiskan waktu

di balik layar komputer, menikam

huruf-huruf dan angka-angka seperti

perburuan bintang jatuh di langit selatan.

sementara kau masih menjadi kopi

dan dinding hijau alpukat yang selalu

kuiimpikan sebagai portal

memasuki duniamu.

 

kau adalah ganymede yang membuat

zeus tak ingin jauh-jauh darimu.

hingga aku pun menjadi ia yang betul-betul

tak  mampu lagi menahan diri untuk

tidak memasuki  tubuhmu

menanam pohon  jambu mawar  dan anggur

di sepanjang jalan setapak

dari indragiri ke surakarta.

yang hampa dan tidak ada

siapa-siapa kecuali

cintaku dan aku.

 

2023


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Buku-bukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital, serta sejumlah antologi nasional.