Cerpen

Gadis Kecil dan Dendam yang Menunggu

Cerpen Adam Yudhistira

Satu minggu yang lalu, tepat pukul 6 pagi, Maria menemukan jasad Paul tergeletak di depan pintu kamar mandi. Jerit histeris perawat muda itu sontak mengagetkan seluruh penghuni panti. Tidak ada yang tahu bagaimana kejadiannya. Satu-satunya petunjuk hanya sebatang pipa besi yang menurut keterangan polisi telah menjadi penyebab lelaki tua itu mati.

Sepengetahuanku, Paul bukanlah orang jahat. Aku masih ingat saat dia pertama kali datang ke tempat ini. Sebatang tongkat membantu mengurangi lengkung pada punggungnya yang menyerupai bulan sabit. Senyum ramahnya tak pernah pudar. Tutur katanya hangat dan bersahabat. Penampilannya pun rapi. Dia mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Rambutnya putih berkilau, seperti diguyur cairan perak. Rasanya sulit dipercaya jika ada orang menginginkan kematiannya.

Perihal kematian Paul telah memunculkan berbagai dugaan. Sebagian penghuni panti bersepakat, seseorang telah datang dari masa lalunya dan membawa dendam lama. Dugaan ini diambil bukannya tanpa alasan. Berdasarkan cerita yang sering disampaikan Paul kepada kami, lelaki tua itu mengaku jika dirinya adalah pensiunan polisi yang sempat bertugas di distrik Tujuana—sebuah kota kecil di Meksiko.

Selama menjadi polisi, Paul mengaku telah menghabisi banyak penjahat. Dari sekian banyak penjahat, ada satu orang yang sepertinya paling sulit dilupakan. Penjahat itu bernama Arturo Cruz, seorang bandit yang cukup ditakuti di Tujuana. Pada saat penangkapannya, lelaki itu menyerang Paul dengan pisau dapur yang sebelumnya digunakan untuk menusuk istrinya sendiri. Paul menembak dada Arturo dua kali. Satu di kepala. Satu di dada.

“Bukan kenangan menyenangkan,” ucap Paul sambil mengusap lengannya yang berkulit kisut. “Arturo memiliki seorang anak berusia tujuh tahun. Kematian Arturo dan istrinya telah membuat gadis kecil itu menjadi yatim piatu. Tapi, aku harus melakukannya. Persetan dengan mereka yang menjulukiku hewan berdarah dingin. Penjahat itu ingin membunuhku.”

Selain cerita tentang Arturo dan istrinya, Paul mengaku telah menjebloskan banyak penjahat; psikopat, pedofil, pemimpin gangster, dan pembunuh bayaran. Dia bahkan  pernah melakukan operasi penyamaran tiga bulan dalam sindikat perdagangan heroin besar dan berhasil meringkus bos kartel narkoba kelas berat. Saat bos kartel itu tertangkap, dia bersumpah akan memenggal kepala Paul jika berani bersaksi di pengadilan. Tetapi, alih-alih meminta perlindungan, Paul malah pergi ke pengadilan dan tertawa di depan wajah bos kartel itu.

Awalnya cerita-cerita itu membuat kami tak nyaman, karena terkesan mengada-ada. Kami menganggap cerita-cerita itu omong kosong belaka, hiburan para lansia. Petualangan menegangkan yang diceritakannya memang lebih mirip alur film-film Holywood ketimbang cerita nyata. Sergio bahkan pernah berseloroh, katanya lelaki tua itu adalah pembual paling ulung. Dia hanya aktor, namun faktor usia dan pelupa membuat dirinya tak lagi berguna. Jalan hidup yang buruk membuatnya terbuang dan berakhir di tempat ini.

Sergio menjadi satu-satunya penghuni panti yang tak menyukai Paul. Lelaki itu paling pendiam dan paling jarang bergabung bersama kami—terlebih saat kami tengah menyimak cerita-cerita Paul. Setiap bersitatap dengan Paul, Sergio selalu bermuka masam. Hingga saat jasad Paul ditemukan, Sergio-lah yang dicurigai pembunuhnya. Namun untuk menuduhnya, polisi tak punya bukti-bukti apa-apa.

Sebenarnya, satu hari sebelum peristiwa mengerikan itu, pada tengah malam, aku sempat mendengar teriakan dari kamar Paul. Entah dia marah pada siapa. Caci maki itu berlangsung beberapa menit, lalu hening. Keesokan paginya, Paul berkunjung ke kamarku dan menceritakan pengalamannya.

“Seseorang ingin membunuhku,” katanya gemetar. “Tadi malam dia masuk ke kamarku dan mencoba mencekik leherku. Aku tak mengenalnya sebab kamarku gelap.”

“Tenanglah.” Kutarik sebuah kursi untuknya. “Duduklah dulu.”

Lelaki tua itu membeku seperti patung. Wajahnya menyiratkan kebingungan yang akut. Kepalanya terus menoleh ke kiri dan kanan, seolah mengkhawatirkan sesuatu yang tak kasat mata sedang bersiap menyerangnya. Saat itu, ceritanya tak berhasil membuatku percaya. Bagaimanapun juga, aku setuju pendapat Sergio. Paul pandai membual.

Gedung panti ini dipenuhi lelaki dan wanita tua. Di taman dekat Ruang Kesehatan, sekelompok nenek-nenek asyik memintal benang rajut. Di bagian lain sekelompok kakek-kakek berbincang santai di pelataran bangsal. Sungguh tak ada alasan untuk mencemaskan orang-orang seperti itu.

“Orang itu tampaknya betul-betul ingin membunuhku,” ujarnya terus bersikeras.

Aku mengubah posisi duduk agar bisa menatap langsung ke matanya. Aku ingin melihat yang tersisa dari lelaki yang mengaku bekas polisi berpengalaman itu. Tak ada gerakan pupil halus penuh waspada. Tak ada ketenangan sikap yang biasa ditunjukkan polisi kawakan. Wajahnya cuma menunjukkan ketakutan yang sempurna.

“Apakah Sergio pelakunya?”

Paul menggeleng, “Dia memang membenciku, tapi tak sampai ingin membunuhku.”

Saat kami sedang berbincang, di ambang pintu, Sergio tiba-tiba muncul. Dia menenteng secarik surat kabar yang digulung. “Apa lagi bualanmu hari ini? Kudengar dari luar, kau menyebut-nyebut namaku,” tanyanya sambil memukul-mukulkan gulungan koran ke telapak tangan.

“Jangan salah sangka dulu,” kataku mencoba menengahi. “Paul mendatangiku karena dia butuh pertolongan.”

“Pertolongan?” Sergio menyeringai. Lelaki tua bertubuh jangkung itu menudingkan telunjuknya ke wajah Paul. “Aku tak akan heran jika ada seseorang yang ingin menghajarnya.”

“Setidaknya kau bisa menunjukkan rasa pedulimu.” Aku memandang bolak-balik antara Paul dan Sergio, sedikit cemas akan terjadi perkelahian.

Sergio memajukan badan, jemarinya meremas gulungan koran. “Sudah kubilang, dia cuma pembual. Ingatannya sudah hilang. Kau tahu? Hilang ingatan di usia tua adalah keniscayaan. Apa pun yang dikatakannya, jangan percaya. Itu cuma bualan.”

“Sudahlah,” ucap Paul seraya berdiri. Bunyi desah agak keras keluar lewat celah giginya yang renggang. “Mungkin aku cuma bermimpi.”

Lelaki tua itu melirik Sergio dan memberinya senyum persahabatan. Sergio tidak membalas senyuman itu. Dia mendengus dan tak lama Paul pun pergi. Itulah saat terakhir aku berjumpa dan berbicara dengannya.

***

Satu minggu usai pemakaman Paul, aku melihat Maria duduk seorang diri di taman panti. Dia duduk menghadap ke kolam kecil di bawah pohon mapel. Seharusnya perempuan muda itu menggiring kami senam seperti biasa, tetapi pagi itu dia tampak murung. Aku menduga kematian Paul meninggalkan jejak trauma di kepalanya.

Kemarin kami sempat berbicara. Aku berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Dia harus menguatkan diri. Namun perempuan itu hanya diam dan mengerut di kamarnya. Duduk di atas selimut perca dengan lampu rendah sambil menonton televisi, dikelilingi artikel koran yang menjadikan berita kematian Paul sebagai tajuk utama.

“Apakah aku mengganggu?”

Maria menggeleng. Matanya menerawang, melihat ke langit yang tampak mendung. Ranting mapel bergoyang dan dedaunannya berjatuhan ke permukaan kolam.

“Kejadian itu sama sekali bukan kesalahanmu,” ucapku menghiburnya.

Mata biru itu menatapku sejenak, lalu beralih ke para lansia yang duduk-duduk di sepanjang lajur bangsal. Maria mendekatkan kepala dan berbisik ke telingaku. Napasnya berbau agak asam bercampur basi—bau alkohol yang mungkin diminumnya sepanjang malam.

“Wali kota berniat menutup tempat ini,” ucapnya terdengar seperti penyesalan. Dia menunjukkan sikap bersalah; telapak tangan bertumpu di atas lutut. “Jika itu terjadi, aku harus meminta maaf kepada kalian.”

“Aku tak mengerti.”

“Begini, aku akan memberitahumu sesuatu.”

Maria memajukan badan sambil mempermainkan sebatang rokok di sela jari telunjuk dan jari tengahnya dengan terampil. Entah mengapa, keterampilan itu terasa asing di mataku. Aku memperhatikannya dari samping, heran dengan perubahan itu. Entah sejak kapan dia punya kebiasaan merokok.

“Akulah yang membunuh Paul.”

Kalimat itu membuatku terhenyak dan terpaku. Asap putih bergumpal-gumpal di sekitar wajahnya, persis seperti gumpalan pikiran yang menyesakkan kepalaku. Aku berusaha menyangkal apa yang baru saja kudengar, tapi kesungguhan di matanya membuatku bergidik.

Dia menoleh padaku dan berkata dengan tenang. “Kedatangannya adalah jawaban dari doaku.”

“Maksudmu?”

“Bajingan tua itu membunuh orangtuaku tiga puluh tahun yang lalu,” ucapnya gemetar. “Ayahku memergokinya tidur bersama ibuku. Sekarang aku membalasnya. Dua hantaman pipa besi ke kepala. Bukankah itu harga yang setara?”

“Siapa yang kau maksud?”

“Arturo Cruz.”

Aku mengempaskan tubuh ke belakang, bersandar pada bangku kayu, berusaha keras mengendalikan keterkejutan yang membuat kepalaku sedikit pusing.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanyaku lunglai. “Kau ingin aku merasa kasihan, atau bagaimana?”

“Sama sekali tidak,” ujarnya tersenyum. “Aku hanya ingin berusaha menunjukkan padamu orang macam apa dia sebenarnya. Dan aku juga ingin bilang, bahwa setiap orang pasti akan mendapat bayaran dari perbuatannya.”

Aku menarik napas dalam-dalam, tapi paru-paruku seakan mengerut sebesar aprikot kering. Air liur pahit mengumpul di belakang mulut, menciptakan dorongan untuk menyemburkannya ke wajah Maria. Dia layak mendapatkannya. Itu harga yang pantas untuk perbuatannya pada Paul. Tetapi pandangan mataku malah jatuh ke permukaan kolam. Di sana aku melihat bayangan gadis kecil yang menderita lantaran kematian orangtuanya dan entah mengapa, ludah pahit itu menjadi sangat menyakitkan ketika ditelan.****


Adam Yudhistira, saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain bersastra, ia juga berbahagia mengelola sebuah Taman Baca untuk ikan-ikan kecil di aquariumnya. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Cerpen

Klub Pemakan Daging

Cerpen Adam Yudhistira

Hellena menyandarkan bahu ke jendela, kedua tangannya bersidekap, kepalanya melongok ke taman yang ada di seberang apartemen. Di bawah rimbun pepohonan willow, seorang pria paruh baya berkacamata hitam sedang berdiri. Tangan kirinya memegang sebatang tongkat dan tampak sedang linglung. Melihat penampilannya, Hellena menyimpulkan bahwa pria itu pastilah tuna netra. Nalurinya berkata bahwa pria itu sedang membutuhkan bantuannya.

Pria itu berdiri di sebelah kiri patung malaikat granit setinggi 2 meter. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah sedang mengikuti suara-suara di sekitarnya; deru mesin-mesin kendaraan, langkah orang-orang yang hilir-mudik, gaduh peralatan logam kuli jalan yang membongkar jalur drainase, dan dua orang yang berbincang santai satu sama lain di atas bangku taman.

Hellena menyaksikan adegan itu dengan perasaan iba. Pria itu mungkin berusia sekitar 50 tahun. Rambutnya sebagian telah memutih. Berkemeja biru, dengan dua kancing terbuka di bagian dada. Pada saku kemejanya, menyembul kertas putih persegi empat yang menyerupai amplop.

Pria itu merogoh kantong kemejanya tepat saat sebuah sedan melintas. Angin yang ditinggalkan sedan tadi menerbangkan bongkahan-bongkahan kerikil serta menghujani orang-orang dengan debu, tak terkecuali pria yang sedang diperhatikan Hellena.

“Dasar pengemudi tolol!”

Gadis berambut pirang itu mengumpat. Sedan tadi terus melesat dan lekas menghilang. Orang-orang yang terkena sapuan kerikil dan debu tampak bersungut-sungut. Pria buta itu masih berdiri di tempatnya, terbatuk-batuk sambil mengibas-ngibas tangan di depan wajah.

Hellena menyambar blazer di atas ranjang, lalu bergegas keluar kamar. Ia berlari tergopoh-gopoh menuruni tangga, bahkan tak sempat mengunci pintu kamar apartemennya. Pintu menutup pelan dan meninggalkan derit engsel yang terdengar mirip cericit tikus kesakitan.

***

Hampir sepuluh menit Hellena mendengarkan pria itu bercerita. Ia mengatakan sedang menunggu bantuan seseorang untuk mengantar sepucuk surat ke alamat yang tertera di amplop putih yang tadi melayang dan nyaris terjatuh ke dalam got. Berkat Hellena, sekarang amplop itu telah kembali berada di tangannya.

Mendengar cerita itu, hati Hellena berderak retak, namun dengan cepat menyatu kembali. “Aku akan menolongmu,” katanya sambil memegang lengan pria buta itu. “Berikan surat itu padaku. Aku akan mengantarnya.”

“Terima kasih. Tapi saya tak ingin membuang waktumu.”

“Tak apa,” jawab Hellena tulus. “Aku senang bisa membantu.”

Hellena tiba-tiba merasa sangat sedih ketika membayangkan menjadi pria buta itu. Membayangkan matanya berubah menjadi sepasang bola tak berguna. Menyeberangi jalan raya yang penuh kendaraan seperti ini pasti sesulit melintasi Samudera Atlantik dengan perahu. Kalau nasib sial, ia mungkin akan tertabrak, lalu patah tulang belakang dan lumpuh. Membayangkan semua itu, Hellena bergidik ngeri.

Beberapa bulan terakhir, Hellena memiliki semacam hubungan timbal-balik yang reflektif dengan Tuhan. Ayahnya meninggal, ia dipecat dari pekerjaan, teman dan kekasihnya menjauh, dan entah bagaimana membuat ia berpikir bahwa masalah-masalah berat yang menimpanya itu lantaran ia tak cukup berbuat baik pada sesama.

Hellena ingin membangun reputasi baik di mata orang-orang. Ingatan tentang ayahnya dan masalah-masalah yang tak kunjung selesai itu telah berhasil mencambuknya. Ia memutuskan akan memulainya sedikit demi sedikit. Hal pertama adalah dengan menolong pria buta di hadapannya.

“Boleh aku melihat surat itu lagi?” tanya Hellena. “Aku ingin melihat alamat tujuannya.”

Pria buta itu menyodorkan amplop ke depan, tapi Hellena tegak di sampingnya, membuat arah sodorannya keliru. Tapi dengan cepat gadis itu mengambilnya, lalu membaca alamat yang tertera; Cadbury Resto, Second Avenue.

“Aku tahu tempat ini,” kata Hellena tersenyum lebar. “Serahkan saja padaku. Aku akan mengantarnya dan kujamin surat ini akan tiba di alamatnya.”

“Terima kasih, terima kasih.” Pria buta itu membungkuk hormat. “Akhirnya Tuhan mengirim malaikat untuk menolongku.”

Hellena menepuk-nepuk pundak pria itu. Setelah berbincang-bincang sesaat, ia pun meninggalkannya. Hellena keluar dari taman kota dengan perasaan gembira, karena merasa telah melakukan perbuatan yang berguna.

Separuh perjalanan, gadis itu tiba-tiba berhenti. Ia berpikir, pria buta tadi pasti kesulitan mencari jalan pulang. Seharusnya ia mengantarnya pulang lebih dulu, setelah itu baru mengantarkan surat. Sambil melangkah berbalik arah, Hellena menepuk keningnya, menyadari kebodohannya. Namun setelah kembali, pria yang dicarinya sudah tak ada.

“Cepat sekali,” gumam Hellena terheran-heran.

Hellena berjalan mengikuti trotoar yang mengarah ke pusat kota. Lima menit berselang, ia melihat pria itu berjalan membelah kerumunan, berjejalan dengan orang-orang di halte yang sedang menunggu bus jemputan. Hellena menerobos kerumunan itu dengan susah payah. Sebuah teriakan keras membuat pria buta itu menoleh dan Hellena terkesima.

Pria buta itu dengan tangkas berlari di tengah kerumunan. Tanpa kaca mata dan tanpa tongkat penuntunnya. Hellena hanya bisa mengawasi dari kejauhan, tepat sebelum ia merasa yakin, pria buta itu baru saja menipunya.

“Brengsek!” umpat Hellena kesal.

***

“Tidak seperti biasanya, ya, Jhon?” Seorang pria berkuncir penuh lagak dari Unit Laporan Kejahatan berdiri di samping polisi muda yang baru saja menerima laporan Hellena. “Biasanya kaugalak sekali jika pelapor tidak sedap dipandang.”

“Menyingkirlah, Bung!”

Hellena merasa jengah mendengar perbincangan kurang ajar itu, tapi ia menahan diri untuk tidak mengumpat. “Jadi, apakah kalian akan menindaklanjuti laporanku atau tidak?” tanyanya dengan perasaan muak.

“Tentu saja,” jawab polisi muda yang duduk di belakang monitor. Pria berkuncir tadi sudah menjauh sambil terkekeh-kekeh. “Tapi keterangan Anda belum lengkap.”

“Memangnya apa lagi? Anda telah mendapatkan semua keterangan dariku. Tidakkah itu cukup?”

“Maaf, Nona, bukan Anda yang menentukan cukup atau tidak.” Polisi itu berkata dengan nada tinggi. “Kami memiliki prosedur sebelum menindaklanjuti laporan. Jawab saja pertanyaannya. Hei, Nona? Bisakah Anda berkonsentrasi?”

Perhatian Hellena memang teralihkan beberapa saat. Di meja lain, seorang perempuan paruh baya sedang menangis. Seorang pria berdiri di belakang perempuan itu sambil memijat bahunya. Hellena menduga, pria itu adalah suaminya. Dari perkataan mereka, Hellena memahami penyebab perempuan itu menangis. Anak bungsunya hilang.

Dengan tersendat-sendat, perempuan itu menjelaskan akivitas-aktivitas dan ciri-ciri anaknya. Ia berkata bahwa anaknya berumur 13 tahun dan bersekolah di St. Christoper. Setengah meratap, perempuan itu memuji-muji bahwa anaknya adalah anak yang baik dan berhati lembut. Ia tidak pantas disakiti. Polisi yang memproses laporan itu mengangguk-angguk.

“Nona?”

“Ah, ya. Maaf… “ Hellena tersadar dan kembali menatap polisi yang sedang mengolah laporannya. “Apa yang harus kulakukan?”

“Kukira kau bisa memulai dari awal.” Polisi itu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi malas yang kentara. “Ceritalah dan aku akan memprosesnya.”

“Aku menduga pria itu berencana melakukan sesuatu yang jahat.”

“Apakah Anda yakin?”

“Tentu saja aku yakin. Ia baru saja menipuku,” sergah Hellena memasang wajah masam. Gadis itu merogoh sesuatu dari dalam kantung rok dan menaruhnya di atas meja. “Ia memberiku ini. Kupikir, Anda bisa memeriksanya atau mencari alamat yang tertera di sana untuk memastikan dugaanku.”

Polisi muda itu membuka amplop yang diberikan Hellena. Di dalamnya, ada secarik kertas. Keningnya mengernyit dan membuat Hellena penasaran. Polisi itu membaca dengan keras sebaris kalimat ganjil yang membuat kening Hellena mengerut.

***

Hellena menemukan restoran tua itu di Second Avenue. Tempat sederhana dengan papan nama bertuliskan Cadbury Resto dari jalinan neon merah di atas pintu masuk. Di ruangan dalam terdapat beberapa pasang meja dan kursi yang berwarna putih kusam. Toples permen mint berbaris rapi bersama gelas-gelas kopi dengan hiasan pilar-pilar gaya Yunani. Lantainya ditutupi karpet hijau mulus. Pada etalase kaca yang berada di dekat rak kayu tertera tulisan Iga Sapi Panggang Harga 8,95$.

Hellena masuk dengan jantung berdebar. Sebuah pisau steik berkilauan di atas meja. Hellena mengambilnya cepat-cepat saat bergegas menuju toilet. Bagaimana pun, gunting kuku tak akan cukup untuk melindungi diri jika sesuatu yang buruk terjadi.

Gadis itu datang sendiri, sebab polisi yang tadi menerima laporannya lebih tertarik melirik blazer berbelahan dada rendah yang dikenakannya, ketimbang menindaklanjuti laporannya.

Hellena mencuci tangan dua kali dengan sabun merah muda beraroma mawar, lalu keluar dan berusaha bersikap biasa saja. Restoran itu sepi. Hanya ada seorang pelayan pria berwajah seperti tirai merosot yang sedang berkonsentrasi mengisi botol saus yang isinya setengah kosong. Hellena melihat peluang itu dan mengendap-endap menuju ruang belakang.

Ketika Hellena membuka pintu ruangan itu, ia menemukan tiga orang sedang menetak potongan-potongan daging di atas meja beton bermarmer. Di antara tumpukan-tumpukan daging itu, yang paling mengerikan adalah onggokan kepala dan potongan kaki milik anak kecil.

Perut Hellena bersiap untuk meledak dan kepalanya terasa sakit luar biasa. Tiba-tiba gadis itu teringat tangisan perempuan paruh baya di kantor polisi yang sedang mencari anak bungsunya, lalu rasa takut hebat mencengkeram dadanya. Ia meraba saku untuk mencari pisau, tapi pisau itu entah di mana. Ia cuma menemukan amplop putih yang menjadi alasannya datang ke restoran itu.

Ini kiriman daging segar terakhirku minggu ini. Selamat menikmati. Tertanda, Sam, anggota Klub Pemakan Daging.’

Usai membaca tulisan di secarik kertas di dalam amplop itu, lidah Hellena tercekat. Ia tak sanggup bersuara, sesuatu seolah menggumpal di tenggorokannya. Hellena berpikir untuk keluar dari restoran itu dan melarikan diri. Tapi tepat saat pikiran itu muncul, sesuatu yang keras menghantam tengkuknya, membuat pandangannya gelap dan sekujur tubuhnya mati rasa.***


Adam Yudhistira, bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain menggeluti aktivitas bersastra, ia juga berbahagia mengelola Taman Baca untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Ia aktif di komunitas sastra Pondok Cerita.