Buku, Resensi

Dekat & Nyaring: Upaya Mengutuk Penulis yang Keasyikan Bercerita dan Dakwah yang Salah Tempat

Oleh Doni Ahmadi

Sastra Indonesia dalam beberapa waktu ke belakang mulai ramai dengan karya-karya berbentuk novelete atau novela, sedikit contoh, Omong-kosong yang Menyenangkan karya Robby Julianda, Arapaima karya Ruhaeni Intan, Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa karya Faisal Oddang, hingga yang terbaru, Dekat & Nyaring karya Sabda Armandio (selanjutnya akan saya tulis Dio). Dan saya akan mengulas yang disebutkan terakhir.

Secara sadar atau tidak, penulis cenderung keasyikan bermain-main, ngoceh ngalor ngidul, maupun pamer keterbacaan, pengetahuan serta pengalaman yang tidak perlu-perlu amat diceritakan dalam bentuk novel. Hal itu tentu tak bisa dilakukan dalam bentuk novela, tentu saja. Novela—dengan keterbatasan—hanya menyisakan sedikit ruang bagi penulis untuk melakukan itu. Namun jika penulis telah memutuskan untuk novela dan tetap melakukan itu, konsekuensinya hanya dua: menjadi novela yang mubazir atau cerita pendek yang kebetulan dipanjang-panjangkan.

Dekat & Nyaring tidak termasuk dua hal di atas, Dio tidak asyik-masyuk membiarkan tokoh-tokohnya lompat terlalu jauh dan menceritakan hal lain selain apa yang ia ingin kisahkan: Gang Patos, sejarah singkatnya (dalam bentuk alegori maupun secara langsung), hingga kisah-kisah ajaib para penghuninya.

Dekat & Nyaring cukup padat menggambarkan kehidupan orang-orang yang bermukim di Gang Patos: Edi, Nisbi, Anak Baik, Wak Eli, Aziz, Idris, Kina. Bekas penghuni gang Patos: Sam. Serta satu orang lain dari tempat antah berantah yang turut bersinggungan dengan penghuni Gang Patos: Dea Anugrah. Setiap tokoh, hidup dengan karakter yang utuh, tidak lari atau mengalami transformasi seperti banyak tokoh-tokoh di novel—terlebih pewaktuan dalam novela ini juga tidak terlalu jauh, hanya sehari dan sesekali putar balik mengisahkan masa lalu dangan porsi yang tidak terlalu banyak.

Dalam novela ini, misalnya tokoh Edi. Tokoh ini konsisten dengan paham ‘selalu ada jalan lain’ di sepanjang cerita: mencari jalan lain meski seringkali tidak sesuai.

“Kenyataan itu tak membuat Edi putus asa, ia meyakini kalimat kesukannya setiap kali menghadapi masalah ’selalu ada jalan lain.’ Seperti misalnya, mencincang sanca dan menjualnya sebagai kobra.” (hlm. 8)

“Edi menganggukkan kepala. ‘itu masalah mudah. Kita curi saja listrik dari lampu jalan di depan. Kau tak perlu lagi memusingkan tagihan listrik […].” (hlm. 46)

Tak hanya tokoh Edi, tokoh Nisbi juga berperan konsisten. Sebagai janda satu anak, ia ditampilkan begitu cerdik menutupi dosa masa lalunya dengan terus memproduksi dongeng bagi anaknya—tokoh Anak Baik. Tokoh Aziz, seorang anak yang dengan kecerdasan mental yang tertinggal sepuluh tahun, juga digambarkan apa adanya sepanjang cerita: begitu lugu dan polos, hingga didera kemalangan di akhir kisah karena sifatnya. Lalu tokoh Anak Baik, yang tampil sebagaimana anak-anak dengan pengetahuan terbatas yang membuatnya mengeluarkan banyak pertanyaan konyol karena rasa ingin tahu yang tak terbendung. Tokoh Kina, yang konsisten mencacat segala hal di gang Patos untuk keperluan karya fiksi yang menurutnya otentik. Dan banyak lagi.

Selain tokoh-tokoh tersebut, yang menarik lagi adalah bagaimana cara Dio menghidupkan sosok Pak Koksi tanpa pernah memunculkan batang hidungnya sepanjang cerita. Tokoh ini hidup dan cukup menarik perhatian lewat dongeng-dongeng hasil ciptaan Nisbi. Ketidakmunculannya tokoh Pak Koksi ini juga usaha Dio memberi teror kepada seluruh penghuni gang Patos, sekaligus kepada pembacanya. Seperti yang disebutkan dalam wawancaranya[1]—yang mengatakan bahwa dalam novela terbarunya ini ia ingin menghadirkan sense of horror tanpa hantu—Dio pun membuka kisah horor melalui cerita pak Koksi ini.

“[…] Orang Patos membangun desa yang amat bagus—tentu tanpa tulang naga, dan di seberangnya Orang Koksi mulai membangun desa yang sama sekali berbeda.[…] Pak Koksi mendatangi Samwau. Ia datang menawarkan ide lamanya, yaitu menyatukan dua desa agar memiliki tanah yang lebih luas dan sumber daya alam yang saling melengkapi. […] Suatu sore, seorang tak dikenal masuk wilayah Orang Patos, orang itu bersin-bersin sampai pingsan. Orang Patos menolong, sebagai gantinya beberapa hari kemudian Orang Patos ikut bersin-bersin. […] Pak Koksi juga membuka peluang emas bagi Orang Patos. Ia akan memberi satu rumah dan mantel bagi Orang Patos yang bersedia tinggal di wilayah yang sudah disediakan Orang Koksi. […] beberapa orang Patos yangbersin-bersin mengambil kesempatan itu.”

“[…]Orang-orang Patos hilang satu per satu,” jawab Wak Eli, “Saat mengetahui kabar itu, Samwau segera berdiskusi dengan Pak Koksi. Pak koksi meminta dukun-dukunnya untuk mencari tahu penyebab hilangnya orang-orang itu.” (hlm. 40-42)

Dalam kisah yang diketahui seluruh penghuni gang Patos ini, Dio berusaha menceritakan sejarah singkat gang Patos dengan cara lain yang lebih cerdik. Alih-alih mengisahkannya dengan gamblang, Dio membuat alegori untuk Orang Koksi sebagai penghuni kompleks Permata Permai Residence yangdibangun berseberangan dengan Orang Patos atau gang Patos. Sejarah singkat ini pun juga muncul dalam porsi yang pas dan diceritakan bergantian oleh tokoh-tokohnya (Nisbi, Edi, Wak Eli, Kina) kepada tokoh Anak Baik—yang bukan tanpa kebetulan[2]—untuk memahami sejarah singkat penghuni gang Patos sebelum ditinggal oleh penghuninya.

Tidak cukup dengan alegori tersebut, produksi ketakutan dalam Dekat & Nyaring pun dimunculkan lagi lewat interaksi antar tokohnya. Teror ini ditegaskan lewat sosok Sam—yang merupakan bekas penghuni gang Patos dan kebetulan berprofesi sebagai Polisi. Berikut.

“Aku mengerti perasaanmu. Aku tumbuh dan besar di sini, tapi sadarlah. Masa kejayaan itu sudah lewat, Nis. Lagi pula mereka tidak meminta kalian pergi secara cuma-cuma,” kata Sam, “Kau bisa pakai uangnya untuk buka warung atau apalah buat anakmu.”

“Kuingatkan,” kata Sam, mendekatkan wajahnya ke Nisbi, “Dua puluh tahun lalu dua ratus kepala keluarga tinggal di gang sempit ini. Dua ratus. Ramai dan damai. Seperti kehidupan yang layak, kan? Aku pikir juga begitu, tapi dulu aku masih terlalu muda dan naif. Mereka yang punya otak lekas pindah saat ditawari kesempatanyang lebih baik. Dan sekarang cuma kalian yang bertahan.” (hlm. 28)

Will Wright dalam Undestanding Genres: The Horror Films menyebut “adegan kekerasan fisik sering menjadi warna utama, misalnya pembunuhan, teror, mutilasi, dan darah.” sebagai salah satu ciri-ciri genre horor. Dalam kisah ini pun, Dio memperlihatkan peristiwa pembunuhan dan darah yang akan pembaca jumpai di babak-babak akhir. Dan dari 8 ciri lain[3] dalam penjabaran Wright, ciri ini sajalah yang dimanfaatkan Dio untuk memasukan sensasi horor dalam kisahnya. Selain itu, Dio juga mengamini pendapat Edgar Allan Poe, J.L Borgel, dan Peter Penzolt dalam ciri-ciri cerita horor dengan menghadirkan salah satu tokoh stereotip yang kerap hadir dalam kisah horor (dukun, tokoh agama, polisi), yang dalam kisah ini, muncul sosok Sam yang merupakan seorang Polisi.

Selain itu, Dio juga membuat judul buku ini terkesan misterius bagi pembaca[4]. Sepanjang pembacaan, pembaca akan beberapa kali melihat frasa dekat dan nyaring—tujuh kali tepatnya—sebagai penanda kisah semakin dekat menuju puncaknya.

Melihat ini, kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa Dekat & Nyaring adalah novela yang bercerita tentang kaum yang bertahan dan yang terempas dengan balutan teror sebagai bumbu penyedap. Namun itu adalah kesimpulan yang terlalu terburu-buru, novela ini tidak hanya bercerita soal itu saja. Dio juga sedikit memberi pandangannya terhadap sastra (khususnya untuk para penulis) lewat tokoh Kina—sosok seorang penulis misterius yang merelakan dirinya menikahi Idris dan bermukim di gang Patos karena ingin menuliskan karya sastra yang otentik—dan Dea Anugrah—satu-satunya karakter yang hanya berhubungan dengan Kina dan bukan gang Patos.

Lewat tokoh Kina dan Dea Anugrah, Dio sedikit menyinggung masalah susastra yang selalu menjadi mitos: menggugah masyarakat dengan menyuarakan yang tidak tersuarakan. Dio sadar betul, bahwa dengan menciptakan karya fiksi, ia tidak dapat mengubah apapun, dan itulah yang ingin ia katakan dari sekian banyak gagasan dalam novela tipis berjudul Dekat & Nyaring ini. Hal itu bisa kita lihat dalam dialog antara Kina dan Dea, berikut.

“Kenapa sih, kau merasa perlu mewakili mereka? Itu sama saja dengan kau meremehkan kemampuan mereka. Mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa perlu kau wakili.”

“Orang perlu melihat masalah sebenarnya,” kata Kina.

“Kalau begitu tulis saja jurnal antropologi, esai, atau liputan mendalam. Jangan menulis novel, nggak akan mengubah apa pun. Kenapa kau nggak fokus memperbaiki tulisanmu sendiri, atau melakukan hal lain yang lebih bermanfaat seperti beternak lele, misalnya, ketimbang meromantisir kemiskinan orang lain?” (hlm. 93-94)

Dio memilliki keyakinan bahwa karya sastra tidaklah bisa mengubah apapun, dan ketimbang penulis sibuk berdakwah dalam karyanya—yang kemungkinan pesannya tidak sampai atau hanya menjadi kutipan motivasi di media sosial—maka hal yang lebih baik dilakukan adalah memperbaiki tulisannya. Dio sadar betul, seberat apapun gagasan yang ditawarkan dalam prosa fiksi, akan sia-sia saja jika dikisahkan dengan cara yang amburadul.

Melalui novela Dekat & Nyaring, Dio seolah memberi pukulan yang lumayan telak bagi penulis yang keasikan berdakwah dalam tulisannya dan tidak memerhatikan bentuk maupun gaya bercerita.Hal ini bukan berarti cerita yang memuat gagasan berat selalu buruk, bukan itu. Masalahnya adalah apakah tujuan penulis menulis cerita? Jika ia ingin menyuarakan yang tidak tersuarakan, maka pilihan yang bijak adalah menulis esai, opini, ataupun kajian yang bersifat non-fiksi.

Dalam hal ini, Dio sependapat dengan Edgar Allan Poe—dalam esainya berjudul “The Poetic Principle”[5]—yang menolak gagasan bahwa karya sastra sebaiknya memberikan penerangan moral dan karenanya Poe mengusung ide bahwa karya seni harus ditulis demi karya sastra itu sendiri.

Melalui Dekat & Nyaring, Dio seperti menjewer penulis yang keasyikan menceritakan hal tidak perlu dan para pendakwah yang salah tempat dengan frasa dekat dan nyaring, Dio juga berhasil memberi alternatif untuk para pencerita setelahnya memberi batas dan penanda agar cerita tak lari terlalu jauh. Melalui tokoh-tokohnya, ia juga berhasil menghadirkan ketakutan tanpa hantu dan bagaimana manusia dengan segudang imajinasinya bisa bertahan di situasi yang tidak memungkinan.

Dan jika ada satu hal yang buruk dalam novela Dekat & Nyaring, maka yang patut disalahkan adalah kembali laginya sosok Dea Anugrah di akhir kisah. Hal yang membuat para pembacanya bertanya, “Di luar gang Patos, apa hanya ada Dea Anugrah saja?”—selain tentu saja beberapa kesalahan penyebutan nama tokoh, yang cukup krusial, di tengah-tengah cerita.

Jakarta, Mei 2019.


[1] Dalam laman https://jurnalruang.com/read/1538062132-sabda-armandio-gak-perlu-bertele-tele#

[2]Untuk mengisahkan dongeng Pak Koksi, Dio pun menciptakan tokoh Anak Baik yang polos dengan segudang rasa ingin tahu dan sedikit keras kepala.Kisah tidak datang tiba-tiba tanpa motif (sebagaimana banyak prosa buruk yang sekonyong-konyong berkisah tanpa memerhatikan kausalitas).

[3] (1) Tokoh utama biasanya adalah korban yang mengalami teror atau tokoh pembawa bencana. (2) Tokoh Antagonis atau tokoh pembawa kejahatan biasanya terasing atau tersingkir secara sosial atau bukan bagian dari dunia nyata. (3) Dekor ruang relatif monoton. Misalnya sebuah rumah, kota terpencil, rumah sakit. Dekor waktu didominasi malam hari atau suasana gelap. (4) Tokoh agama sering dilibatkan untuk menyelesaikan masalah. (5) Hal-hal supranatural atau tahayul dipakai untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa yang tidak dapat dijelaskan secara rasional. (6) Tokoh anak biasanya memiliki kekuatan berkat kemurnian jiwa mereka. (7)Adegan kekerasan fisiksering menjadi warna utamanya, misalnya pembunuhan, teror, mutilasi, dan darah. (8) Teknologi sering menjadi salah satu pemicu masalah. Kearifan lokal dan kedekatan manusia dengan alam justru yang menjadi pemenangnya.

[4]Dalam pembacaan lebih lanjut, motif dari penggunaan frasa berulang ini bisa menjadi siasat yang sekaligus berperan sebagai benang merah, yang menjaga agar cerita tak lari terlalu jauh, dan penanda babak-babak penting dan krusial dalam cerita.

[5] Dalam A History of Literary Criticism: from Plato to Present. M.A.R Habib (Blackwell Publishing: Oxford, 2005) hlm. 464.


Doni Ahmadi , lahir dan tinggal di Jakarta. Menulis cerpen dan esai. Tulisannya tersebar di media cetak dan daring. Bukunya, Pengarang Dodit (Basabasi. 2019)

Buku, Resensi

Raden Saleh: Membaca dan Memandang

Oleh Bandung Mawardi

Kurnia Effendi pergi di negeri mantan penjajah. Kepergian tak lama, tak seperti Raden Saleh di masa lalu. Di hitungan puluhan hari, Kurnia Effendi mencari dan mengimajinasikan Raden Saleh di pelbagai tempat. Ia tak cuma mencari di Belanda. Kepergian ke Jerman, Prancis, dan Belgia tetap meniatkan ingin mencari tinggalan dan cerita bertokoh Raden Saleh.

Kedatangan ke Belanda pada abad XXI mustahil masuk di buku berjudul Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 (2008) susunan Harry A Poeze. Kurnia Effendi tak lagi mengalami masa kolonial tapi menginginkan ada panggilan sejarah dan imajinasi kembali ke abad XIX. Di sela mencari Raden Saleh, ia merasakan kehadiran atau melihat imajinatif lakon masa lalu bertokoh: Mohammad Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir. Pembaca tak usah memaksa mencari dan menemukan nama-nama: Ki Hadjar Dewantara, Noto Soeroto, Abdul Rivai, Ahmad Soebarjo, Marco Kartodikromo, Roestam Effendi, dan Soerjo Soeparto. Di kota-kota teringat memiliki universitas, museum, dan perpustakaan mentereng, Kurnia Effendi melewati hari-hari dengan mata-membaca dan mata-memotret.

Kepulangan dari Belanda, terbitlah buku puisi berjudul Mencari Raden Saleh. Judul agak mengecoh. Di buku, puisi mengenai Raden Saleh cuma sedikit tapi mengesahkan kepergian bermisi keaksaraan. “Puisi, mungkin serupa sketsa bagi pelukis, saat ditulis awal,” pengakuan Kurnia Effendi. Puisi demi puisi digubah di hari-hari terus berganti. Ia berlimpahan puisi gampang terkena tuduhan “serampangan” atau pencatatan kesan saja. Sejak mula, Kurnia Effendi menginginkan: “Untuk tak jatuh pada puisi turisme, maka perlu dilengkapi dengan pengetahuan.” Puisi-puisi dikerjakan serius meski di ketergesaan, cepak, dan kesemrawutan.  

Sasaran terpenting selama di Leiden (Belanda) adalah mengunjungi perpustakaan. Sejak ratusan tahun lalu, kepustakaan asal dan bertema Nusantara ada di situ. Di puisi berjudul “Boekenzolder”, Kurnia Effendi mengisahkan: Mengenai buku, tak ada jalan buntu/ Ia selalu memiliki pintu, tempat/ kita masuk dan keluar penuh tatu// Selalu ingin kembali, menambah luka baru// Dan suatu hari kita ciptakan tragedi/ untuk angan-angan yang tak pernah mati. Ia takjub pada buku-buku. Suasana untuk pembaca terasa menegangkan di pemenuhan pamrih melintasi halaman-halaman buku sejarah dan biografi para tokoh masa lalu. Pembaca ingin “tatu”, memiliki bekas luka.  

Ia menemui buku-buku sebagai perindu dan pengagum. Buku demi buku adalah alamat kangen ke masa lalu. Ia keranjingan membaca buku-buku, tak ingin detik berlalu tanpa “tatu” gara-gara buku. Pada 7 Juli 2017, ia menuliskan kesan selama berada di perpustakaan. Ia sedang mencari Raden Saleh dengan peta-buku. Pembaca di kepasrahan dan puncak hasrat: Karam yang paling indah adalah ke dasar palung/ perpustakaan: sunyi dalam timbunan gizi/ Menyibak hutan aksara, mengais remah sejarah. Bait di puisi berjudul “Universiteitsbibliotheek Leiden” mengabarkan keterpanaan tak usai dan pencarian belum sampai. Pada buku-buku, ia terlalu berharap untuk digenapi kunjungan ke museum-museum, melintasi jalan-jalan, dan memandang sekian bangunan.

Kita agak termangu. Ikhtiar mengenali Raden Saleh dan mengerti Indonesia mesti berada di negeri jauh. Panggilan ke buku-buku tua memang bersumber dari sana. Keinginan jadi pembaca harus melintasi daratan dan lautan. Koko Hendri Lubis memberi kesaksian bahwa Kurnia Effendi memilih rakus melahap buku-buku mumpung berada di Leiden (Belanda). Kurnia Effendi emoh sia-sia. Ia terang mengaku dalam puisi berjudul “Mencari Indonesia”. Puisi mirip kalimat-kalimat dalam surat mengandung kangen: Aku menjadi pengembara dengan uang negara/ Aku menuntut ilmu dari tumpukan buku-buku/ Aku tetirah memungut remah-remah sejarah/ Aku tertawan di ruang-ruang perpustakaan// Aku ke Leiden mencari Indonesia!

Ia memang pergi ke Belanda dengan dana Kemendikbud RI dan fasilitas teknis dari Komite Buku Nasional. Pergi jangan merugi. Pulang pun membawa oleh-oleh puisi. Selama di perpustakaan, ia berhasil menemu: Di lubuk arsip lebih satu abad, kuraba kertas/ buatan Eropa, tempat Raden Saleh menggurat aksara. Lega. Ia perlahan menemukan jalan keaksaraan sampai ke Raden Saleh. Pencarian mendapat sorot terang ke masa lalu, membuka rahasia demi rahasia.

Kurnia Effendi belum lelah. Perjalanan berlanjut ke kota-kota sebelah. Ia menuju Coburg, berharap semakin menemukan Raden Saleh. Permainan ingatan dan peka memandang-merasakan itu bekal sampai ke penemuan-penemuan tak utuh. Ragu ingin menghilang. Di puisi berjudul “Menuju Coburg”, Kurnia Effendi mencatat: Jika benar Raden Saleh pernah/ hadir di sana, ingin kudengar/ langkah kakinya. Ia pergi ke Belanda pada 2017. Pencarian belum sempat membekali diri dengan buku berjudul Raden Saleh: Kehidupan dan Karyanya (2018) susunan Werner Kraus. Selama di Coburg, Raden Saleh mengalami hari-hari indah dan membahagiakan. Ia bergaul dengan kaum aristokrat Eropa. Di sana, Raden Saleh memiliki studio kecil untuk melukis potret Ernst II, Alexandrine, dan Putri Leiningen. Werner Kraus mencatat waktu mukim Raden Saleh di Coburg: 26 Maret-6 Desember 1844. Pada masa berbeda, Raden Saleh bergirang mengunjungi dan tinggal di Coburg. Pada 2017,  Kurnia Effendi di Coburg menuntaskan penasaran meski sejenak.

Misi mencari tak henti-henti. Di Istanbul, 31 Agustus 2017, Kurnia Effendi masih terlalu mengingat peristiwa menelusuri jalan mengingatkan pada Raden Saleh. Puisi berjudul “Hoogstraat” kentara memusat ke Raden Saleh. Ada pencantuman keterangan di judul” “Napak Tilas Raden Saleh”. Puisi ditulis di kota jauh dari Indonesia dan Belanda tapi mengesankan ingatan dan pengimajinasian menguat. Kurnia Effendi menulis: Tak dapat kulacak di mana rumahmu/ Namun terasa di tiap jengkal jalan yang kutempuh/ terlekat percikan cat lukismu. Dinding-dinding toko/ itu berebut rapi menghapus aroma tubuhmu/ Tapi kafe demi kafe gagal menyembunyikan panggilanmu/ kepada pelayan, meminta tambahan minuman.

Di hadapan buku puisi, kita tergoda membaca (lagi) buku-buku mengenai Raden Saleh. Pada 1951, terbit buku berjudul Dua Raden Saleh: Dua Nasionalis dalam Abad ke-19 susunan Soekanto. Buku awal bagi pembaca di masa revolusi ingin mengenali Raden Saleh, lelaki tenar tapi memicu polemik di kancah seni dan politik. Pada 2009, kita semakin mengenali dengan penerbitan buku berjudul Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie, dan Nasionalisme berisi esai-esai garapan Harsja W Bachtiar, Peter BR Carey, dan Onghokham. Kini, buku berjudul Mencari Raden Saleh terbaca dengan keentengan tanpa pamrih memberi penjelasan-penjelasan argumentatif mengarah ke biografi, estetika, identitas, dan politik. Buku itu berisi puisi-puisi tanpa janji mengumbar referensi. Begitu.    


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com

Buku, Resensi

Menemukan Kembali ‘Homo Ludens’

Oleh Joko Pinurbo

Kumpulan sajak ini mengingatkan kita akan pentingnya jati diri manusia sebagai homo ludens, makhluk yang suka bermain. Ia terbit di momen yang tepat, yaitu ketika kehidupan sosial kita kian didominasi oleh perangai homo faber, makhluk yang suka bekerja, dan homo politicus, makhluk yang suka berurusan dengan politik dan kekuasaan.

Kesuntukan manusia sebagai homo faber membuat manusia terperangkap dalam belenggu deadline demi mengejar kepentingan ekonomi dan materi. Dalam kecenderungannya yang ekstrem, homo faber berkembangmenjadi manusia yang gila kerja atau manusia yang mabuk kerja. Kesuntukan dan kegilaan bekerja yang berlebihan menjadikan manusia hidup dalam tekanan mental yang besar karena setiap saat ia ditanya dan ditagih oleh angka. Hidup adalah memburu, bukan menikmati. Hidup diliputi oleh ketergesaan.

Di sisi lain, nafsu dan perilaku manusia sebagai homo politicus telah menjerumuskan manusia ke dalam kancah pertarungan dan persaingan sengit yang kadang sangat barbar dengan hoaks, kebencian, dan politik identitas sebagai peralatannya. Dalam wataknya yang negatif, bagi homo politicus, hidup adalah berebut, bukan berbagi; memangsa, bukan memberi; memukul, bukan merangkul; memangsa, bukan mencinta. Hasilnya ialah lunturnya cinta kasih sosial, melemahnya semangat persahabatan dan persaudaraan.

Memudarnya jati diri manusia sebagai homo ludens di satu sisi dan kian dominannya nafsu manusa sebagai homo faber dan homo politicus di sisi lain, ditandai dengan menghilangnya mutiara-mutiara jiwa yang berharga: kesabaran, sikap rileks, selera humor, dan kegembiraan.Manusia-manusia yang dijajah oleh kekuasaan rezim homo faber dan homo politicus adalah manusia-manusia yang mengalami gangguan kesehatan mental: tegang, gampang sedih, dan murah marah. Menjadi homo ludens, dengan demikian, merupakan penyeimbang bagi dominasi homo faber dan homo politicus, dan itulah yang secara metaforis mau diwartakan oleh sajak-sajak Yuditeha.

Melalui kumpulan sajak ini kita dapat berjumpa kembali dengan aneka dolanan atau permainan tradisional yang pernah mengiringi pertumbuhan sekian banyak anak sebagai homo ludens. Yuditeha bukan hanya mendata dan mendeskripsikan kembali berbagai bentuk dolanan; ia juga menempatkan makna aneka dolanan tersebut sebagai bagian dari pendidikan karakter. Dengan demikian, sajak-sajaknya mau menunjukkan dan nilai-nilai falsafi—di samping niilai-nilai estetis—dalam dolanan.

Permainan atau dolanan memang bukan simulasi dan duplikasi dari kehidupan nyata. Ia merupakan dunia yang direka atau diciptakan dengan kekuatan dan keliaran imajinasi. Ia tidak dikendalikan oleh nilai-nilai pragmatis. Namun, justru karena sifatnya sebagai dunia rekaan, ia memiliki nilai penting sebagai sarana pembebasan. Pembebasan dari kehidupan rutin yang diwarnai oleh perhitungan untung-rugi. Dolanan merupakan bentuk rekreasi dan relaksasi yang mengingatkan kita bahwa keindahan, kebahagiaan, kelucuan dan kekonyolan bisa dinikmati dan dirayakan bersama. Dolanan merupakan sarana untuk menjaga keseimbangan mental.

Meskipun merupakan dunia rekaan, dolanan—secara langsung atau tidak langsung—mengandung nilai-nilai ideal, nilai-nilai falsafi, atau nilai-nilai edukatif yang relevan bagi pengembangan karakter manusia. Menyelami sajak-sajak Yuditeha, kita bisa menemukan setidak-tidaknya lima butir keutamaan dolanan: (1) kegembiraan, (2) kebersamaan; hubungan antarpribadi, (3) kesabaran, ketenangan (4) empati, (5) kearifan: jujur, adil, ksatria (bisa menerima kekalahan dan kemenangan secara wajar).

Sajak berikut ini kiranya merupakan contoh bagus tentang bagaimana sebuah dolanan bisa merefleksikan nilai-nilai ideal dalam kehidupan manusia.

BAN-BANAN

Menggelindinglah di atas papan kayu

yang dijaga dengan ketenangan,

dan hanya jiwa yang jauh dari dengki

yang mampu melakukan perhitungan.

Tak bisa kau hidup sendiri

di tengah belantara masalah.

Hanya kompromi yang bisa menyelamatkan

manusia dari dunia rapuh,

hingga kelak akan diakui sebagai prajurit

yang pantas untuk melakukan

tugas sebagai ketua pandu yang terampil

dan paling disegani.

Sesungguhnya puisi pun merupakan dolanandolanan bahasa—yang menyuburkan dan menyegarkan kembali imajinasi; yang membebaskan kata-kata dari penjara kerutinan yang memiskinkan dan mematikan; yang ingin menghidupkan kembali kewarasan. Puisi adalah sebentuk rekreasi dan relaksasi bahasa yang anehnya sering dilakukan dengan cara yang tidak “waras”. Puisi adalah makhluk kesayangan homo ludens.

Selamat menunaikan ibadah puisi.

Yogyakarta, 20 Mei 2019


Joko Pinurbo, penulis puisi

Buku, Resensi

Suara Lain untuk Mengingat 1998

Resensi oleh Setyaningsih

Bagi Intan Andaru, 1998 adalah pengingatan pada Tragedi Banyuwangi. Penulis yang pernah terlibat Residensi Penulis ASEAN-Jepang dan ASEAN Literary Festival 2017 ini seperti ingin menegasi pengingatan publik atas Tragedi Mei 1998 atau peristiwa akbar-nasional Reformasi. Tragedi lokal yang pernah mengguncang publik nasional, disuarakan untuk mengingatkan pada pengalaman dan trauma kolektif sebagai seorang Banyuwangi lewat novel Perempuan Bersampur Merah (2019). Tragedi Banyuwangi 1998 pernah membantai dukun-dukun pengobatan yang dituduh menyebar penyakit kiriman atau santet. Ketakutan tentang teror ninja yang bergerak cepat, membunuh, dan bisa menghilang beredar. Entah lebih dipicu intrik sosial, kecemburuan personal, huru-hara politik, sampai puritanisme agama yang menghendaki perdukunan ditiadakan, tragedi lagi-lagi meminta pengorbanan dari orang-orang tidak bersalah yang mungkin telah dilupakan untuk mendapat suatu keadilan.

Intan memilih cerita dinaratori aku yang bocah dan perempuan bernama Sari. Dibandingkan dinaratori seorang dewasa, narator bocah lebih memungkinkan penciptaan-penciptaan suasana dan ujaran yang naif, lugu, dan rasa pasrah tapi ingin melawan. Saat bapak Sari dibantai, dia hanyalah bocah tanpa daya yang jelas secara terselubung menampakkan ketidakmengertian atas tragedi. Lewat pernyataan-pernyataan kecil yang berkelebat dalam benak bocah, gugatan-gugatan atas ketimpangan status sosial masyarakat, penghukuman sosial, kemiskinan berusaha dibangun oleh penulis.

Kita cerap, “…aku sungguh masih dapat merasakan kejadian malam itu: Ingatanku tentang segerombolan orang yang mengepung rumah. Suara berisik yang mendebarkan. Kegaduhan yang membuat kami gemetaran. Juga mereka yang melukai Bapak: orang-orang yang tak kukenal dan sebagian tetangga yang mengikuti mereka dari belakang. Dalam gelap itu, aku mampu memandang dan merekam siapa saja orang yang menatap iba hingga membantu keluarga kami, juga siapa saja yang menatap penuh benci pada Bapak” (hal. 70). Seorang bocah mudah mengingat. Sejak sekolah dasar, Sari menggunakan pengingatan untuk mencari nama-nama orang yang konon mati karena disantet. Jika masyarakat tidak bisa dibuat memercayai, Sari yang akan terus percaya bahwa bapak bukan orang jahat seperti yang dituduhkan.

Ikon Pembangun

Selayaknya novel yang ingin terlibat mengabarkan tragedi dan intrik manusia, percintaan adalah suatu kewajiban meski klise. Semakin dewasa, peran Sari tidak lagi sebagai bocah yang mencari peradilan atas nama bapak. Peran itu sepenuhnya beralih dan dipercayakan Intan Andaru kepada Rama, lelaki terkasih Sari. Sejak kecil, Rama muncul dalam strata pendidikan lebih tinggi bertaut dengan imajinasi kemakmuran dan pekerjaan di masa depan. Rama ditokohkan untuk meninggalkan kampung yang miskin, tidak berpendidikan, dan masih berkisar di klenik.

Lulus SMA, Rama menjadi mahasiswa, elite terpelajar yang digadang menjadi ikon pembangun (nasional) terutama sejak masa 70-an dan menguat sejak Reformasi bergulir. Kita tentu bisa menduga, Rama bukan hanya kuliah untuk kuliah. Dia menjadi aktivis, tekun di organisasi, ikut demontrasi, dan berurusan dengan polisi. Bahkan kepada Sari yang jelas miskin dan tidak memiliki modal ekonomi atau sosial, Rama berkata, “Gimana ya. Kan cuma empat tahun. Ini demi masa depanmu. Jadi sarjana itu penting ndak hanya untuk cari kerja, tapi juga untuk mendidik anak nanti” (hal. 161). Rama menghendaki kesetaraan pendidikan bagi perempuan, tapi tetap dengan cara yang partriarkis. Sebagai penulis perempuan, Intan Andaru tidak bisa melepaskan diri dari isu-isu sosial berkait dengan perempuan.

Tentu dari segala urusan akademis dan aktivis dilakukan oleh Rama, Intan Andaru menggunakan jalinan asmara untuk mendekatkan tragedi Banyuwangi yang komunal sebagai urusan personal antara Sari dan Rama. Sari mendengar kenyataan bahwa, “Rama bergabung sama aktivis HAM dan sering demo di jalan-jalan. Dia menemui banyak orang untuk neliti kasus pembantaian dukun-termasuk kasus bapakmu yang ndak pernah bisa kita pecahkan itu. Dia juga yang sudah sibuk-sibuk mengusulkan agar kasus bapakmu itu dibuka lagi sampai ada pertemuan-pertemuan yang kamu datangi kemarin. Dia bahkan rela skripsinya terbengkalai” (hal. 194). Intan Andaru terlampau heroik memahasiswakan Rama sebagai bentuk perlawanan Rama pada superioritas dan status sosial bapaknya, tapi sekaligus pihak penghasut agar warga menghukum bapak Sari yang jelata dan tertuduh nyantet.

Intan Andaru memang tidak secara tersurat membawa kembali kasus lokal ke publik nasional. Terlepas dari bahasa yang kurang luwes dan enak, barangkali karena pengalihan data riset atas tragedi Banyuwangi 1998 ke narasi novel, Intan Andaru berkeras memberi suara pada lokalitas. Tragedi harus dibawa kembali ke ranah nasional agar selesai atau setidaknya mengurangi trauma kolektif pada masa lalu. 1998 tidak selalu memusat di Jakarta pada suatu Mei yang kelam, tapi juga di Banyuwangi yang mencekam.

Setyaningsih, Esais. Pembaca Buku. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : [email protected]

Film, Resensi

Ida dan Kesunyian Sejarah

Resensi Film oleh Kiki Sulistyo

Okupasi Nazi Jerman (bersama Uni Soviet) ke Polandia yang dimulai pada 1 September 1939 tidak hanya mengawali Perang Dunia II di Eropa, tetapi lebih dari itu juga menyisakan luka yang susah disembuhkan, terutama di bagan sosial terkecil; di tingkat domestik keluarga. Lubang-lubang gelap sejarah berupa kejadian selama perang coba diberi cahaya penerang oleh generasi setelahnya, agar dapat terlihat apa yang sesungguhnya terjadi. Upaya itu bukan tanpa risiko, sebab bayangan kengerian masa lalu, bisa saja menggagalkan niat rekonsiliasi dan menjadikan situasi yang sudah berubah jadi lebih baik malah berlumur dendam. Nazi Jerman menggunakan mesin genosida untuk menjalankan proyek invasi dan okupasinya, menyebabkan jutaan nyawa musnah, dan menjadikan tahun-tahun itu sebagai salah satu era paling gelap dalam sejarah modern.

Film Ida garapan sutradara Pawel Pawlikowski mengambil latar belakang sejarah itu untuk setting cerita tahun 1962, hampir dua dekade setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Anna (dimainkan Agata Trzebuchowska), gadis muda calon biarawati, baru mengetahui bahwa ia sebenarnya adalah seorang Yahudi setelah bertemu dengan bibinya Wanda Gruz (Agata Kulesza). Menjelang kaulnya untuk menjadi biarawati, kepala biara wanita meminta Anna untuk menemui satu-satunya kerabatnya yang masih hidup. Setelah bertemu Wanda, Anna baru tahu kalau nama sebenarnya adalah Ida Lebenstein.

Fakta baru itu membuat Ida mendadak berniat mengunjungi makam orangtuanya yang dibunuh semasa perang. Namun seperti banyak orang Yahudi yang tewas di masa itu, makam orangtua Ida pun tidak jelas tempatnya, bahkan mungkin tidak ada. Tetapi Wanda Gruz, yang pernah menjadi seorang jaksa, punya petunjuk. Maka dimulailah perjalanan mencari makam orangtua Ida, sekaligus juga anak laki-laki Wanda yang semasa perang dititip di keluarga Lebenstein.

Sutradara Pawel Pawlikowski menjadikan perjalanan membongkar masa lalu itu sebagai narasi utama film berdasarkan naskah yang ia tulis bersama Rebecca Lenkiewicz. Dalam perjalanan, mereka dipertemukan dengan Lis (Dawid Ogronik) seorang pemain alto-sax berparas tampan, yang berada ‘di luar sejarah’ mereka dan nantinya menjadi simpang dalam kehidupan Ida. Sementara, kunci bagi pintu untuk mengetahui peristiwa masa lalu ada di tangan keluarga Skiba, keluarga yang saat itu mengambil alih kepemilikan rumah keluarga Lebenstein. Lewat Feliks Skiba (Adam Szyszkowski) mereka akhirnya mengetahui fakta yang sebelumnya hanya menjadi rahasia.

Ida dan Wanda, sebagai dua karakter utama, punya watak yang bertolak-belakang. Kontras antara keduanya seperti memberi “warna” bagi layar film yang hitam-putih. Sebagai gadis remaja yang dibesarkan di biara, Ida menyiratkan pikiran, perasaan, maupun hasratnya dalam ekspresi-eksresi kecil, nyaris datar dan dingin. Meski dalam satu-dua kesempatan, seperti kata Wanda, “ia bisa juga bersikap kasar”. Sedangkan Wanda sendiri, meski punya posisi terhormat dan kekebalan hukum, tampak kacau hidupnya. Ia intimidatif, sinis, perokok berat, suka minum-minum, dan melakukan seks bebas dengan sembarang lelaki.    

Kita bisa menduga perbuatan-perbuatan itu ialah upaya Wanda untuk melarikan diri dari hantu masa lalu, bayangan gelap yang tak bisa lenyap. Tetapi ketika kenyataan terbuka di depan mata, ada sesuatu yang tak tertanggungkan lagi, dan proses rekonsiliasi mengalami resistensi dari diri yang telanjur tenggelam dalam upaya pelarian tersebut. Puncaknya, Wanda memilih satu tindakan ekstrem bagi dirinya sendiri. Tindakan ini hadir dalam satu adegan yang bisa membuat penonton ingin berkali-kali melihat kembali adegan tersebut karena tak percaya.

Berbeda dengan Wanda, Ida Lebenstein yang secara teknis “tak mengalami” peristiwa di masa lalu, sebab dia masih terlalu kecil ketika peristiwa pembunuhan orangtuanya terjadi, menyikapi proses rekonsiliasi dengan cara lain. Tampak jelas segala sesuatu asing baginya, seolah-olah ia baru saja diturunkan ke dunia dengan kenyataan yang melingkupinya. Ida tumbuh di biara wanita, agama adalah tulang punggungnya. Meskipun begitu, bias psikologi khas remaja terpancar di ekspresinya ketika Wanda menyarankan ia, sebelum menjadi biarawati, agar mencoba dulu nikmat dunia, sesuatu yang dianggap “dosa” dalam perspektif ketat agama. Apalagi ketika ia mulai dekat dengan Lis, pemuda tampan murah senyum, si pemain alto-sax yang menumpang di mobil Wanda dalam perjalanan ke kota yang sama dengan tujuan Wanda dan Ida untuk sebuah acara konser musik.

Maka ketika-pasca tindakan ekstrem Wanda-pada akhirnya Ida mencoba minum minuman keras dan tidur bareng Lis, kita tidak melihat ada penyesalan di wajahnya, juga tidak melihat bahwa ia sungguh-sungguh menikmatinya. Ida Lebenstein seperti ingin memanifestasikan rekonsiliasi yang gagal dilakukan Wanda dengan, untuk sesaat saja, menjadi seperti Wanda, melakukan apa yang sering dilakukan Wanda. Sebelum akhirnya dengan mantap, tanpa mengusik apapun, melangkah menuju pilihan hidupnya.

Film ini minim dialog. Dialog yang hadir pun cenderung pendek-pendek. Kesunyian yang dominan seakan memendam sekam dalam gambar-gambar yang dihadirkan. Selain pada cerita dan karakter, kekuatan film ini memang bertumpu pada sinematografi. Lukasz Zal dan Ryszard Lenczewski menggarap setiap gambar dengan brilian, seperti arsitektur puitika dengan ekonomi cahaya yang natural. Dalam banyak sekuen, karakter tak diletakkan di sentral, melainkan di tepi atau di bawah bidang layar, atau terselip di antara struktur benda-benda. Gambar-gambar tersebut seakan hendak menghadirkan kenyataan betapa sejarah orang-orang biasa selalu menjadi subordinat dari sejarah arus utama hasil konstruksi otoritas, baik yang pernah maupun yang sedang berkuasa, apalagi jika sejarah itu menjadi sejarah dunia, yang pada waktunya menjadi pemicu berbagai perubahan. Padahal orang-orang biasa adalah korban sesungguhnya, martir bagi tatanan dunia yang lebih baik.

Dan sebagai orang biasa, Ida Lebenstein telah menjalankan rekonsiliasi sejarahnya dan mengalami sejarah rekonsiliasinya dalam kesunyian pribadi. Sejarah yang tak dilihat orang banyak, dan takkan dicatat dalam buku besar sejarah formal.***

  • Data Film:
  • Judul: Ida
  • Sutradara: Pawel Pawlikowski
  • Skenario: Rebecca Lenkiewicz dan Pawel Pawlikowski
  • Sinematografi : Lukasz Zal dan Ryszard Lenczewski
  • Genre: Drama
  • Durasi: 82 Menit
  • Pemain: Agata Trzebuchowska, Agata Kulesza, Dawid Ogrodnik
  • Tahun Rilis: 2014

Tentang PenulisKiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni TEMPO 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018).

Buku, Resensi

Pengarang Dodit: Alusi dan Obsesi, Biografis dan Spekulatif

Resensi oleh: Galeh Pramudianto

Ketika berbicara pelancong waktu dalam tatanan fiksi, ketika itu pula perulangan telah kali dilakukan. Begitu pula ketika kita berbicara kumpulan cerita pendek. Banyak pola dan konsep yang jatuh pada perulangan. Beberapa di antaranya mengambil karya-karya yang telah terbit duluan di media cetak, kemudian dianggit kembali dalam suatu buku. Tentu tidak ada yang salah dengan itu. Setidaknya bagi saya sendiri ketika membaca sebuah karya, ada hal yang kiranya bisa didapat, misal: (1) gagasan apa yang dituangkan atau tidak ada gagasan sama sekali untuk dituangkan (keduanya sama baiknya), (2) warna atau premis apa yang diangkat atau setiap cerita tidak memiliki warna yang sama (yang pertama memudahkan pembaca untuk mengklasifikasikan tema tertentu), (3) bagaimana teknik dan gaya dimainkan (narasi besar atau tema remeh temeh sekalipun akan menarik bila memperhitungkan ini).

Ketika seseorang secara sadar memutuskan untuk menulis, maka ia telah tahu masalah dan bobot kehadiran apa yang akan diangkat. Pengarang Dodit, kumpulan cerpen perdana milik Doni Ahmadi berjalan pada lintasan yang tepat. Ia tahu buku ini berjalan di lintasan mana, masalahnya apa dan bobot kehadiran yang bagaimana. Membaca Pengarang Dodit memaksa saya mengingat perjalanan setiap orang untuk menjadi kerani atau juru tulis atau penulis.

Perjalanan seorang yang biasa bercerita dengan lisannya akan jauh berbeda dengan perjalanan seorang yang biasa bercerita dengan ragam bahasa tulis. Seorang penulis kiranya bisa mengalami berbagai hal: kesepian, gangguan internal maupun eksternal, dan kompleksitas pikiran. Menulis selalu tidak mudah, bagi yang percaya menulis itu gampang maka daya jelajah dan tujuan menulisnya tidak seluas obsesinya. Berbicara obsesi maka berbicara hakikat hidup itu sendiri. Tentang perasaan-perasaan yang merasuki pikiran dan pertanyaan yang berkelindan. Hal itulah yang diamini Doni Ahmadi pada halaman awal buku ini. Ia menganggit pernyataan Budi Darma soal obsesi pengarang.

Berbicara obsesi, saya coba menerka obsesi Doni lewat teks-teks di Pengarang Dodit ini.

Cerita-cerita di dalam Pengarang Dodit tidak semuanya berlandaskan struktur dramatik Aristotelian: pembukaan, pengenalan, klimaks, antiklimaks, leraian, dan penutup yang menjadi template penulisan cerpen umumnya. Doni hendak menyuarakan bahwa cerita tidak semata tentang isi atau apa hal yang disampaikan, tetapi juga tentang bagaimana cara menyampaikannya.

Saya kira di rimba kesusastraan Indonesia yang tidak terlalu luas ini, setiap penulis hendak menyuarakan keresahan-kepentingannya. Ada yang menulis tentang kampung halamannya dengan semangat pariwisata, ada yang menulis tentang adat istiadat yang lekat dengan kehidupannya, ada yang menulis tentang negeri-negeri yang jauh dengan semangat turisme warga dunia ketiga, ada yang menulis tentang dirinya sendiri dengan semangat megalomania, ada yang menulis tentang nabi-nabi baru di setiap komunitas kebudayaan, ada yang menulis cinta dengan lika-liku perbudakannya, ada yang menulis angkasa luar dengan semangat pseudosains, ada yang menulis tentang isu-isu politik yang seksi, dan ada yang menulis tentang penulis itu sendiri dengan segala riwayatnya.

Fiksi Biografis dan Spekulatif

Doni saya pikir berada di pilihan terakhir dengan ragam upayanya. Ia secara terbuka memainkan makna tekstual dengan makna referensial. Ada keterkaitan antara semesta fiksi di dalamnya dengan realitas kesusastraan Indonesia itu sendiri. Saya membacanya sebagai gelagat untuk mempertanyakan, atau mengolok-olok (parodi) para gerombolan penulis dan hubungannya dengan sejarah serta kritik sastra. Doni dengan terbuka menjahit pengaruh yang ada pada karya-karya penulis Indonesia maupun dunia. Coba simak cerita yang panjang Dari Obituari Pengarang Dodit sampai Malam Celaka. Cerita itu adalahsebentuk alusi dengan obsesi yang imajinatif. Bahwa orang yang dekat dan bermanfaat dengan penulis bukanlah yang hanya memiliki nama besar, namun lebih kepada biografi-kisah di sebuah antara. Cerita berawal dari seorang penulis (Mustofa Sentot) yang mendapatkan banyak ilmu dan inspirasi dari penulis lainnya (Dodit).

Mustofa merasa kehilangan dan amat terpukul ketika penulis yang menginspirasinya dalam menulis, meninggal dunia. Konflik terjadi ketika seorang penulis lain (T.B. Simatupang) meninggal di hari yang sama. Cerita bergulir dengan ragam teknik dan gaya: pewaktuan retrospeksi dan cerita berbingkai. Kalau kita tidak membaca secara cermat dan hati-hati maka kita akan mudah tergelincir. Karena selain teknik dan gaya yang dimainkan, Doni juga memainkan tokoh-tokoh cerita di dalamnya dengan alusi. Dengan peristiwa-peristiwa yang lekat dengan rimba kesusastraan kita.

Ia adalah sastrawan avant-garde yang masyhur dan selalu menjadi pusat pembicaraan khalayak sastra. Hal itu ia dapatkan berkat sumbangsih beberapa karya besar yang beliau kerjakan, di antaranya adalah Merahnya Biru (2000) yang menyabet penghargaan nasional Bujur Sangkar Award. Lalu Jia-Ilah (2005) yang meraih penghargaan karya sastra terbaik Asia Tenggara. King Kooong (2011) yang menyabet dua penghargaan sekaligus (karya terbaik versi majalah Tempe dan pemenang Teen Booker Prize). Lalu Kerang (2017) yang meraih penghargaan sastra dari Pusat Bahasa serta masuk dalam 5 besar Teen Booker Prize. Lalu ada lagi kumpulan cerita pendek Tegak Ngaceng Dengan Langit (2015) dan Kumpulan puisi Malam Jubaidah (2013) yang masing-masing meraih sukses dengan terjualnya kedua buku tersebut sampai lima puluh ribu eksemplar. (hlm. 77)

Bagaimana? Saya kira itu familier bila kita mempertimbangkan dan mengais ingatan kita saat membacanya: Iwan Simatupang. Atau merasa hal yang imajiner sepenuhnya lahir dari gelas osong? Saya kira tidak. Coba intip siapa itu Johan Kartawijaya dan permainan alusinya. Ia berkorelasi dengan lagu Surabaya Johnny karangan Bertolt Brecht dan bagian dari drama musikal berjudul Happy End. Merasa terganggu ketika diberi tahu? Saya kira cerita yang baik bila diberi beberan (spoiler), tetap akan sesuai jalurnya dan kenikmatan akan membaca tidak akan berkurang. Kemudian ia menempelkan hal-hal yang ia suka untuk dielaborasi menjadi parodi yang bisa mengganggu atau justru memikat (tergantung horizon pembacaan).

M. Sentot Wijayanto (1987) merupakan penulis novel dan cerita pendek. Karya-karyanya yang telah terbit, novel: Sembilan Kunangkunang di Perempatan (2009), Catatan Panjang Pembunuh Arturo Belaño (2010), Raden Janggut di Rumah Jaga Lima (2011) dan Petualangan Olenka dan Alit di Trafalmadore (2018). Cerpen: Upaya Jonru Menjadi Anjing yang Masuk Surga (2012), Tujuh Tahun dalam Kendali Partai Setan (2014) dan Cerita Buruk yang Membuatmu Ingin Bunuh Diri (2015). Serta satu kumpulan esai: Mendengar Novel dan Membaca Audiobook (2017). (hlm. 105)

Kisah semacam fiksi biografis-parodi ini bukanlah hal yang baru di kolong langit dan di atas tanah. Bila sekadar menyebut: kisah-kisah seribu satu malam telah banyak diambil bentuknya untuk kepentingan cerita lainnya.  Borges dengan A Universal History of Infamy, Bolano dengan penulis sayap kanan di Amerika Latin lewat Nazi Literature in the Americas, dan Bartleby & Co. milik Vila-Matas. Genealogi semacam ini menunjukan betapa pentingnya horizon pembacaan akan sejarah sastra maupun otokritik itu sendiri.

Bentuk fiksi biografis lainnya terdapat di Cerita Dodit dan Rahasia Penulis Joni, Sebastian Bejo yang Fenomenal dan Soal Nasib. Di Cerita Dodit, Doni memilih jalur yang saya katakan sebelumnya: menulis tentang kepengrajinan (craftmanship) penulis itu sendiri. Bahwa penulis pada dasarnya memiliki peluang untuk menuangkan gagasannya dalam kesempatan apa pun. Mitos writer’s block saya pikir tidak ada. Ia hanya bentuk kemalasan homo sapiens yang identik dengan bentuk lainnya: homo ludens dan fabulans. Pada dasarnya setiap manusia bisa bercerita dan memanfaatkan setiap peluang yang ada setelahnya:

Oh iya, hal gila yang saya maksud itu adalah mengambil karya-karya dari pemenang Nobel Sastra masa depan untuk saya plagiasi. Tapi akhirnya saya memutuskan hanya mengambil tiga novel saja dari seorang pengarang bernama Billy Pilgrim, tepatnya pemenang Nobel sastra di tahun 2089. Untungnya format buku digital ini dapat saya ubah ke format lama agar dapat dibuka lewat komputer saya, memang teknologi masa depan itu betulan canggih! (hlm. 20)

Membuat tokoh fiktif dalam semesta fiktif bukanlah hal baru dan membuatnya hidup serta berguna dalam kerangka cerita itulah tugas penulis. Doni dalam hal ini tidak melanggar Chekhov’s Gun: apa yang ada di cerita semuanya berfungsi. Seperti di cerita Sebastian Bejo yang Fenomenal. Membaca kisah ini seperti hendak menonton Memento karya Nolan bersaudara. Bahwa ingatan yang buruk adalah titik pijak sebuah cerita bisa banyak berkelok. Dalam hal itu kita bisa memahami bahwa sebaik apapun dalam menulis, kalau akhirnya bermasalah dengan ingatan, maka nasibnya tak baik-baik amat. Seperti cerita Soal Nasib itu sendiri: ia mengisahkan pesepakbola, kalau boleh saya menebak maka itu adalah alusi dari David Beckham.

Setelah bermain di ranah fiksi biografis, Doni pun kembali bermain dengan persoalan waktu dan hal-hal spekulatif lainnya. Pada kisah Tentang Ucup Karbol yang Kelak Diperdebatkan, misal.Cerpen dibuka dengan maklumat kematian tokoh utama, yang dituturkan oleh sobat karibnya. Setelahnya kisah bergerak lewat dimensi pewaktuan retrospeksi. Secara kronologis cerita berjalan lewat pengakuan tokoh aku bersama Ucup Karbol menjalani hari-hari yang biasa saja atau sama sekali tidak biasa-biasa saja. Atau elaborasi keduanya. 23 Mei 2020, menjadi mula dari konflik. Cerita bergerak setelah Ibunda Ucup Karbol mengalami peristiwa yang kurang mengenakan. Setelahnya bisa diterka sendiri. 

Hal terpenting dari kisah fiksi ilmiah sebenarnya adalah tentang perabotan atau piranti apa yang digunakan. Karena medium cerita adalah meyakinkan banyak pihak dan persepsinya harus sama dengan batok kepala lainnya. Di kisah ini, bagaimana menemukannya dan fungsinya untuk apa? Lewat medium surat, akhirnya itu terjawab. Jelas tidak dipaparkan secara detil. Karena ruang untuk itu barangkali bisa dieksplorasi di novel atau lakon dan bentuk lainnya yang lewah dan memungkinkan.

Sebentuk alusi lainnya termaktub pada penamaan tempat yang familier: Rumah sakit Kepala Gadung, Kecamatan Bodong Gede dan Bodong Kecil. Elemen itu terbangun dengan terjaga dan tidak mubazir.  Entah kenapa saya membayangkan suatu saat nanti Ucup Karbol bisa berkolaborasi dengan Marty McFly, untuk menciptakan mesin waktu yang lebih spesifik dan berbentuk, misalnya, DeLorean DMC-12 di trilogi Back to The Future.

Persoalan waktu, gempa waktu, dan dejavu selalu bermain di pewaktuan yang tidak linear. Alih-alih manut pada biografi tubuh yang menghamba pada waktu, Doni menentangnya dan bermain-main di wilayah itu. Anto Lakban dan Beberapa Peristiwa di Sekitar Teh Hangatadalah manifestasi dari Hukum Murphy: ketika Anda merasa sial, maka kesialan itu keniscayaan. Bagi saya setiap orang punya mesin waktu versi mereka sendiri: ada yang bermimpi, ada yang mendengarkan lagu lama, ada yang membaca ulang lembar tertentu dalam jurnal, dan ada yang merasakan ketika membaca spektakel dan adegan-adegan di dalam cerita ini. Konsep manusia soal waktu dan masa depan memang menarik untuk diikuti.

Doni dalam kumpulan ini seperti memiliki agenda tertentu, misal dalam kisah distopia Sebelum Adam dan Eva Memulai Peradaban. Teori penciptaan ia kemas dengan subtil lewat rangkaian peristiwa. Peristiwa-peristiwa di dalamnya tak hendak mengatakan “akulah yang paling benar dan jawaban atas segala keresahan di muka Bumi.” Apa yang kita anggap baik, belum tentu dengan lainnya. Kebenaran tunggal tidak berlaku di zaman tsunami data seperti ini. Meski begitu, cerita-cerita di kumpulan ini tidak hanya bermain di wilayah alusi dan spekulatif. Ia bisa berupa realisme magis di Tentang Ki Mantep, Dodit dan Telur Bebek, bernuansa detektif-thriller di Misteri Jim dan Pembunuhannya, dan bernada liris-sentimentil di Bagaimana Lelaki Pemalu menjadi Filsuf dan Mati dan Trilogi Luca.

Selain cerpen-cerpen di atas, ada juga bentuk cerita mini (flash fiction), seperti Tanda Pagar, Seorang dari Masa Lalu di Sebuah Bus Kota, Takdir Buruk, dan Wawancara. Untuk bagian ini seperti ada kesan “dimasukan agar menambah bobot kehadiran”, terlepas dari itu, Pengarang Dodit mampu mengejawantahkan cerita yang tak melulu pada pakem Aristotelian. Saya pikir sepertinya itu perlu.

Bintaro, April 2019

Galeh Pramudianto, lahir di Tangerang Selatan, Banten, 20 Juni 1993. Bekerja sebagai tenaga pendidik dan salah satu pendiri media Penakota.id. Buku puisi keduanya berjudul Asteroid dari Namamu (basabasi, 2019).

Film, Resensi

Unicorn Store: Menjadi Dewasa adalah Ujian

Resensi Film oleh Nanda Insadani

Berapa banyak orang dewasa yang ingin kembali ke masa kanak-kanak mereka lantaran sebuah anggapan bahwa masa kanak-kanak adalah yang terbaik dibanding masa apa pun dalam hidup? Soal berapa, tidak ada yang tahu, tapi kalau soal banyak, ya tentu banyak.

Poster Film Unicorn Store

Sebabnya, tentu saja adalah ihwal pikiran; cara berpikir orang dewasa jauh tidak mengasyikkan ketimbang cara berpikir anak-anak. Anak-anak tidak pernah berpikir bahwa di dunia ini ada yang tidak mungkin, sedangkan orang dewasa sebaliknya. Berpikir bahwa segalanya mungkin, semuanya masuk akal adalah menyenangkan. Itu membuat masa kanak-kanak kita dipenuhi dengan mimpi-mimpi yang penuh warna.

Sejak kecil, kita banyak melihat hal-hal asing yang begitu menghibur dan membahagiakan hati dari tayangan televisi atau buku-buku bergambar yang pernah kita miliki. Ambil saja sebagai contoh, seekor kuda bertanduk dengan surai keemasan yang bisa terbang—yang kita sebut Unicorn. Kemudian, lantaran bisa menunggangi kuda terbang terlihat mengasyikkan, kita pun sempat beranda-andai ingin memilikinya. Tentu saja orang dewasa akan menertawakan impian itu. Mereka berpikir kuda bertanduk yang bisa terbang adalah fiktif, sehingga mereka akan melarang anak-anak mereka untuk tidak mengimpikannya. Lantas, siapa yang salah? Apakah anak-anak yang mengimpikan itu atau orang dewasa yang menciptakan karakter tersebut?

Brie Larson yang merupakan sosok manusia dewasa (ia lahir pada tahun 1989) mencoba menggali masa lalunya; berupaya melihat jauh ke hati masa kecilnya: apa yang ia impikan saat itu? Yang kemudian lahirlah film Unicorn Store sebagai jawaban atas pertanyaan “Bagaimana cara kita menyikapi pendewasaan diri alih-alih melupakan impian masa kecil kita?”

Debut Penyutradaraan yang “Cerah”

Sewaktu berperan sebagai Molly di 21 Jump Street (2012), barangkali Brie Larson tak akan menyangka bahwa tiga tahun ke depan ia akan diganjar gelar Aktris Terbaik oleh Academy Award—sebuah pencapaian gemilangnya dalam dunia seni peran setelah bermain penuh emosi di film Room (2015). Menggenggam Piala Oscar tidak membuat Brie lega. Ia mencoba peruntungan dengan menjadi sutradara sekaligus pemeran utama di film Unicorn Store.

Unicorn Store sebenarnya sudah dirilis pada September 2017 dan ditayangkan di Festival Film Internasional Toronto, tapi Netflix mengambil alih pendistribusian film ini pada awal April kemarin. Maka, kita dapat menyimpulkan bahwa Brie Larson menyutradarai film ini sebelum peran dahsyatnya di salah satu film Marvel Cinematic Universe, yakni Captain Marvel yang dirilis awa Maret lalu.

Sebuah aksi “multifungsi”—yakni menjadi sutradara sekaligus aktor utama pada satu film, bukanlah hal yang baru. Sebut saja yang paling tersohor: Charlie Chaplin, Clint Eastwood, dan di Indonesia kita mempunyai Ernest Prakasa dan Raditya Dika. Dan Brie Larson berharap, ia juga dapat menjadi sutradara yang diperhitungkan hasil kerjanya.

Benar saja, dengan Brie duduk di bangku pengarah, Unicorn Store tampil begitu cerah dan berusaha mencerahkan pula. Identik dengan warna-warni, Brie Larson tampak berupaya semaksimal mungkin menggarap naskah buatan Samantha McIntyre tersebut. Ia juga tak luput terhadap detail-detail yang sangat sepele, seperti pernak-pernik dan segala benda yang berkaitan dengan Unicorn, si kuda bertanduk.

Banyak yang Tidak Menyukai Film Ini

Di IMDB, Unicorn Store hanya mendapatkan nilai 5,5 dan Rotten Tomatoes juga tak bisa memberi lebih selain angka 60 persen. Penulis sempat beranggapan bahwa semua penilaian buruk itu terjadi akibat “Judge a book by the cover”. Kita semua pernah mendengar masalah Brie Larson soal argumennya yang terkesan rasis dan feminis. Ternyata penulis salah, bukan itu yang membuat nilai jelek pada film, tetapi film itu sendiri.

Meski pengarahan dari Brie Larson lumayan baik, tapi pada akhirnya naskah ceritalah yang menentukan. Di beberapa bagian, Unicorn Store terasa menjemukan dan tidak jelas: entah itu soal ambisi si tokoh utama atau batasan antara dunia surealis dengan dunia nyata.

Masih dalam lingkup ketidakjelasan, Unicorn Store seperti tak tahu harus meraih penonton yang mana: anak-anak atau dewasa? Untuk tontonan anak-anak, Unicorn Store begitu sukar dimengerti. Banyak metafora di sana, dialog-dialognya yang penuh lawakan absurd juga bukan konsumsi anak-anak. Untuk tontonan dewasa, Unicorn Store tidak menjadi lebih pantas setelah kita lihat banyak serbuk perak dan gambar kuda poni bertebaran.

Perihal peran dan hubungan antar tokoh, Unicorn Store juga tidak bisa diandalkan. Brie Larson, yang berperan sebagai perempuan gagal sarjana dan egois, seolah bermain tunggal. Film seakan-akan adalah panggung milik Brie semata. Adanya Samuel L. Jackson—yang merupakan rekan Brie di dua film lainnya, Kong: Skull Island (2017) dan Captain Marvel (2018), tidak berhasil tampil menonjol dan justru malah terkesan kikuk dan aneh.

Mamoudou Athie, yang menjadi love interest-nya Brie Larson di film ini juga terasa kurang “menggigit”. Ia tampak malu-maludalam berakting sepanjang film.

Pesan untuk Dunia

Terlepas dari segala kelemahannya, Unicorn Store sebenarnya memiliki banyak pesan, hanya saja tidak disampaikan secara eksplisit. Terkait tumbuh dewasa, Unicorn Store hendak menyampaikan bahwa menjadi dewasa tidaklah mudah; menjadi dewasa adalah ujian. Di situ kita akan diuji, apakah kita akan merelakan impian imajinatif kita sewaktu kanak-kanak atau tetap hidup dengan hal itu sampai masa tua.

Pada pembukaan film saja—sewaktu Kit melukis abstrak di dinding sebagai potret dirinya, kita sudah disuguhkan sebuah nilai kehidupan yang mendalam: tak semua orang dapat menerima diri kita seutuhnya. Kit juga memberi pelajaran pada kita bahwa apabila kita berlaku egois; memaksa dunia untuk mengerti kita, maka yang terjadi adalah pengucilan dan kesulitan dalam beradaptasi. Alih-alih membesarkan kepala terhadap dunia, membesarkan hati adalah pilihan yang tepat, sehingga satu hal yang perlu kita sadari di dunia ini: hal paling dewasa yang bisa kita lakukan adalah gagal terhadap sesuatu yang paling kita pedulikan.

Nanda Insadani, yang bukan siapa-siapa ini lahir di Medan, pada awal orde Reformasi. Gemar membaca dan berpikir. Kumpulan cerpennya, Ketakutan Seorang Penulis Miskin (2019). Dapat dijumpai di Facebook dengan nama asli.

Buku, Resensi

Penderma Cerita, Pembawa Rasa

Oleh Setyaningsih

Derma cerita para murid SD Ta’mirul Islam Solo di kelas menulis terus berlanjut di bawah ampuan guru sekaligus prosais Karisma Fahmi. Biografi kanak tidak hanya terdokumentasi dalam nilai rapor, foto, piala, piagam, atau prestasi akademik lain. Kemenangan Terindah, Kumpulan Cerita Pilihan (2016) garapan para murid kelas 4-5 lebih duluan menyapa. Berselang setahun, buku dengan visualitas lebih manis bertema berbagi terbit dalam judul Pohon Coricta dan Ellasia (2018). Buku diterbitkan sebagai serial Islam santun bersama Program Pendampingan Masyarakat Dosen dan Fakultas Bisnis Islam (FEBI) IAIN Surakarta dan Bilik Literasi.

Buku ketiga pun tidak ingin ketinggalan manis dijuduli Beri Cerita (2019) memuat 16 cerita pendek. Di cerita pertama berjudul Kapan Bapak Pulang? Ibnaty membawa pengalaman hidup yang cukup sadistik. Kanak tidak selalu mendapat jatah kebahagiaan di dunia. Sering, hidup harus sangat susah dan keras berkaitan dengan masalah ekonomi. Kemiskinan adalah hal yang menakutkan. Seorang anak sering harus merasakan hal ini tidak hanya sebagai masalah teknis, tapi juga psikologis. Diceritakan seorang anak perempuan bernama Gendis. Bapak Gendis adalah nelayan dan ibunya mengurusi rumah tangga. Karena pendapatan bapak menurun, Gendis pun harus menanggung derita “tidak sekolah dulu”.

Bapak Gendis pun mendapat pekerjaan di kapal sebagai nahkoda. “Gendis melonjak kegirangan mendengar bapaknya mendapatkan pekerjaan. Pasti, nanti Gendhis bisa sekolah lagi! pikir Gendis. Gendis memeluk erat bapaknya. Terharu. Peristiwa yang tampak sebagai pemecahan masalah ekonomi ini justru menjadi awal petaka. Ibnaty tidak ingin ceritanya berjalan lempeng saja. Dia harus membuat alur dramatis mewarisi kekhasan cerita anak Indonesia yang para tokohnya harus mengalami penderitaan hebat atau peristiwa berair mata. “Bapakmu meninggal karena ada badai topan di pertengahan antara Laut Indonesia dan Laut Australia. Korban meninggal ada 13 orang. Salah satunya adalah bapakmu.” Ibnaty membuat judul ceritanya bernas justru di penutupan cerita saat Gendis sering bergumam sebagai bentuk ketidakterimaan, “Kapan bapak pulang?” Tidak ada pesan moral untuk menjadi sok tabah. Manusia juga boleh sedih.

Kejutan atau berujuk sebagai pembuat kejutan masih menjadi pokok cerita. Hal ini kita rasakan di beberapa cerita, seperti Kado Misterius garapan Fairuz Yumna Navira, Paket untuk Arya garapan Elnora Radea Putri, Hadiah Terakhir garapan Inayah Maunah, Sahabat Selamanya milik Rahma Khairunnisa, atau Special for Mom milik Zulfasya Redita Larasati.

Kado Misterius agak terpengaruh dari selera horor yang beberapa waktu ini cukup mendominasi tema perbukuan. Kita cukup bisa menebak bahwa kejutan sering ada dalam peristiwa ulang tahun. Kita cerap, “Kali ini kado tersebut diletakkan di dalam laciku. Kali ini kado tersebut dibungkus dengan kertas koran secara asal-asalan. Kado berisi foto dengan pigura berwarna coklat. Di dalamnya terdapat fotoku, tetapi anehnya aku tidak sendirian. Ada seorang anak kecil yang berdiri di belakangku dan melihat ke arah kamera. Anak itu terlihat seperti hantu dalam film horor. Padahal, foto itu aku simpan di laptopku.” Hiy!

Kita mungkin agak terkejut dengan cerita Misteri Pohon Beringin Tua yang digarap oleh Hanifa Nayla Ilma. Sejak judul, kita sudah bisa merasakan unsur gaib-seram. Ilma membawa pengalaman kolektif, terutama di Jawa, yang menganggap pohon beringin (selalu) memiliki penunggu. Setiap kali ada yang mendekati pohon beringin dan melongok ke rimbunan daun, orang pasti meninggal. Layla, si tokoh anak utama, menjadi pemecah mistis dengan menggunakan logika sains. Layla dan teman-teman berlagak menjadi detektif logis disokong oleh pengetahuan mutakhir, “Di bawah pohon itu banyak sekali oksigen. Paman Rion memiliki riwayat sakit asma yang akut. Ia kedinginan dan oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya terlalu banyak dan mendesak ke arah jantung.”

Zulfasya dalam cerita Special for My Mom membingkai kejutan dalam emosionalitas beribu. Diceritakan, “Rina memakai sandal jepitnya dan memandangi satu-satunya sepatu ibu yang diberikan oleh Bu Hajah Achmad sudah kumal dan usang. Jadi tak jarang ibu pergi kondangan dengan memakai kaos kaki dan sandal jepit.” Sepatu bekas dan sandal jepit adalah citra kesederhanaan yang lebih dekat pada kemiskinan. Rina pun memiliki impian kecil: membelikan sepatu buat ibu. Berprestasi, bekerja keras dengan cara membantu ibu jualan kue, dan menabung, tiga hal ini menjadi ikhtiar kecil Rina “mengejutkan” ibu.

Namun, Rina lebih dikejutkan oleh ketidakberuntungan. Sepatu cantik yang tempo hari dilihat di toko yang begitu ingin dibelikan untuk ibu, ternyata sudah dibeli orang. Sebagai penutupan, kita mendapat suatu hal yang khas. Ibu tidak menginginkan apa-apa selain harapan bagi Rina agar tumbuh dengan salehah dan berprestasi.  Kita mengingat satu hal bahwa suatu pemberian sederhana itu tampak monumental dan berkesan karena diberikan kepada orang terkasih lewat usaha penuh kesungguhan hati. Kesungguhan yang datang dari seorang anak, selalu bisa berdampak mesra bagi batin pembaca.  

Dari kesadaran anak-anak yang menulis, anak-anak memang tidak menampik bencana dalam cerita-cerita mereka. Kehilangan, kesedihan, ketidakberuntungan, kemiskinan, dan bahkan kematian adalah hal biasa. Kita memang sempat menemukan kecenderungan tiba-tiba tokoh meninggal, kecelakaan menimpa tokoh, atau sakit parah mendera. Hal-hal ini sepertinya masih dianggap sebagai peristiwa kehilangan yang hebat.

Nyaris tanpa beban konflik dan bersahaja, hadir di cerita Hari Makanan Indonesia garapan Abad Doa Abjad. Cerita ini tidak membawa unsur keseraman atau kesedihan, tapi kegembiraan yang cukup. Begini, “Pasar anak pun dimulai. Anak-anak berlari keluar kelas. Mereka telah dibagi kelompok di kelas. Mereka boleh membeli bermacam-macam makanan dari Indonesia. Lalu mencatatnya di kertas yang sudah disediakan. Aku dan kelompokku pergi berkeliling mencari makanan yang kelompokku inginkan.” Tidak ada dramatisasi atau keinginan meluapkan narasi. Cerita ini lebih berkesan diramu dari pengalaman dan pengamatan.

Kita berbahagia atas derma anak-anak atas buku ini. Aneka rasa dan peristiwa terdengar pas diracik dalam judul Beri Cerita. Anak-anak menulis bukan sebagai pengkhotbah moral yang serius. Pesan terselubung pasti ada, tapi kita cenderung tidak diajak repot mencari-cari atau bergegas meneladan.

Setyaningsih, Esais. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : [email protected]

Buku, Resensi

Suara Pengungsi dalam Puisi

Oleh Al-Mahfud

Selain menjadi media ungkap yang ampuh menyentuh ceruk-ceruk terdalam palung hati seseorang, puisi juga sering menjadi media untuk menggambarkan keadaan orang-orang yang kesusahan. Melalui puisi, orang bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain yang sedang dilanda musibah, bencana, dan peperangan. Dari puisi, orang bisa terlempar ke suatu keadaan dan perasaaan, merenungi gejolak rasa di dalamnya, sehingga berempati dan bersimpati karenanya.

Hal tersebutlah yang dilakukan Khaled Hosseini dalam buku Sea Prayer. Di buku terbarunya ini, penulis kelahiran Kabul, Afghanistan tersebut menyuarakan nasib, kesedihan, juga harapan para pengungsi. Dihiasi ilustrasi yang begitu “hidup” dari Dan Williams, puisi-puisi Khaled mengajak kita menyaksikan, meresapi, dan merenungi nasib orang-orang yang hidup di tengah konflik, peperangan, kemudian pergi mencari suaka ke negeri orang.

Kita sering menyaksikan di media kabar tentang perang yang selalu berisi penderitaan, kerusakan, korban. Tak berhenti pada kerusakan fisik, kerugian material, dan hilangnya rasa aman. Lebih jauh, perang dan konflik dalam waktu yang lama kerap kali memaksa orang-orang pergi mengungsi, mencari tempat hidup yang lebih aman untuk sekadar ditinggali.

Namun, perjalanan mencari suaka tak pernah mudah. Kerap kali mereka dihadang banyak hal, baik orang-orang yang tak cukup ramah menerima kehadiran mereka, juga karena medan yang berbahaya. Berbagai kesusahan tersebut tergambar dalam puisi-puisi Khaled Hosseini. Ia mengaku, buku Sea Prayer mula-mula terinspirasi kisah seorang anak kecil yang menjadi bagian dari pengungsi Suriah. Anak tersebut meninggal karena tenggelam di Laut Mediterania.

Anak tersebut ialah Alan Kurdi, anak lelaki berusia tiga tahun yang menjadi bagian dari pengungsi yang mencari suaka di Eropa pada September 2015. Pada tahun tersebut, selain Alan Kurdi, ada sekitar 4.176 pengungsi lainnya yang juga tewas dan hilang di laut dalam perjalanan mencari suaka. Bertolak dari nasib yang dialami anak tersebut, Khalid seperti merasuk dalam perasaan orang-orang yang terpukul dan menanggung kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai.

Lebih spesifiknya, puisi-puisi Khaled seperti menyuarakan perasaan seorang ayah yang bercerita, mengenang, berdoa, dan berharap. Seorang ayah yang mengajak bicara anaknya yang bernama Marwan, yang begitu disayanginya, namun telah tiada. Mula-mula, kenangan masa kecil sang ayah di Suriah dimunculkan untuk menggambarkan keadaan desa yang semula damai, aman, dan tentram. Setiap pagi kami bangun dan mendengar/gemerisik pepohonan zaitun diterpa angin sepoi-sepoi/embik kambing-kambing nenekmu/ Udara yang sejuk dan matahari/tampak pucat layaknya buah kesemek/ di sebelah timur.

Akan tetapi, kedamaian tersebut mulai berubah sejak sering muncul demonstrasi, penyerangan, dan korban-korban yang berjatuhan. Awalnya, muncul demonstrasi/lalu pengepungan/langit memuntahkan bom-bom/ kelaparan/pemakaman. Di bagian ini, Dan Williams melalui goresan kanvasnya menghiasi puisi Khaled dengan ilustrasi-ilustrasi yang menggambarkan keadaan kota yang porak-poranda, bangunan-bangunan yang roboh, dengan kepulan asap hitam membumbung tinggi membuat lanskap muram di langit.

Khaled menulis keadaan di mana orang-orang harus bertahan hidup, bahkan terbiasa di tengah keadaan tersebut. Kau tahu kawah bom bisa dibuat menjadi kolam renang/kau belajar bahwa ibu, saudari perempuan, dan teman sekolah bisa ditemukan bersembunyi di celah-celah sempit antara beton.

Puisi-puisi di buku ini mencerminkan perasaan seorang ayah, yang bercerita kepada anaknya tentang masa kecil di daerah yang damai, juga Kota Homs yang jalan-jalannya ramai, terdapat di dalamnya masjid, gereja, serta pasar tempat orang-orang membeli makanan segar. Sebelum kemudian kota tersebut berubah menjadi daerah mencekam karena konflik dan perang. Keadaan kota yang aman dan damai di awal yang digambarkan membuat kita semakin bisa merasakan betapa sedihnya orang-orang di dalamnya, ketika kemudian semua itu sirna dan berubah menjadi tempat yang mencekam dan hampa.

Puisi-puisi beranjak menggambarkan saat-saat ketika orang-orang di kota tersebut harus pergi mengungsi. Menuju tepi laut, berkumpul, untuk kemudian memulai perjalanan jauh berlayar membelah lautan penuh bahaya. Menggambarkan kegelisahan, kecemasan, dan ketakutan saat para pengungsi sampai di tepi lautan, Khaled masih mengungkapkan dan menyuarakan perasaan seorang ayah yang memikirkan bagaimana nasib anaknya, Marwan, saat bersama ibunya, saat mereka ada di antara pengungsi lainnya.

Ada keinginan untuk bisa menenangkan, namun tetap dalam kekhawatiran. Bahwa anaknya sedang berada di tengah lautan. Lautan yang dalam, bergelombang, bahkan berbahaya. Kukatakan kepadamu/Genggam erat tanganku/Tidak akan ada hal buruk yang terjadi/ Tapi itu semua hanyalah kata-kata/Tipu daya seorang ayah/Tapi tipu daya itu membunuhku/membunuh kepercayaanmu kepadaku/Karena yang dapat kupikirkan malam ini/hanyalah begitu dalamnya lautan/dan betapa luas/serta tanpa ampun/Betapa aku tidak berdaya melindungimu dari lautan itu.

Ilustrasi menyuguhkan potret kerumunan pengungsi yang berjalan berbondong-bondong. Dan Williams menggoreskan kanvas, garis demi garis memberi kita penampakan sebuah kapal dengan muatan penuh pengungsi. Sebuah kapal tak begitu besar yang terombang-ambing di lautan bergelombang. Ketika kapal sudah meninggalkan tepi pantai dan mengarungi lautan, yang bisa dilakukan hanyalah pasrah dalam harap dan doa. Karena kau, kau adalah muatan berharga, Marwan/muatan paling berharga dari semua muatan yang pernah ada/Aku berdoa agar lautan mengetahui ini/Insya Allah. 

Buku puisi Sea Prayer menjadi cara Khaled memberi penghormatan dan kepedulian terhadap nasib para pengungsi. Penulis yang karya-karyanya terjual puluhan juta eksemplar di seluruh dunia tersebut juga seorang Duta Persahabatan bagi UNHCR, serta pendiri Yayasan Khaled Hosseini. Sedangkan Dan Williams merupakan seorang seniman dari London yang ilustrasi-ilustrasinya telah banyak menghiasi berbagai media ternama di dunia. Buku ini menjadi dedikasi mereka berdua untuk para pengungsi. Sebagian royalti hasil penjualan buku ini disumbangkan ke UNHCR dan yayasan Khaled untuk membantu meringankan beban para pengungsi di seluruh dunia.

Paduan puisi Khaled dan ilustrasi Dan Williams memberi gambaran nasib pengungsi dalam benak siapa pun yang membacanya. Rasa sedih, cemas, khawatir, gelisah, dan penuh harap, menjadi bentuk-bentuk emosi yang dihantarkan lewat puisi dan dirasakan siapa pun dari belahan dunia mana pun. Buku puisi ini mengabarkan nasib pengungsi ke segala penjuru bumi. Menggugah emosi, menumbuhkan simpati.

*Al-Mahfud, penikmat buku, dari Pati. Menulis ulasan buku di berbagai media massa, lokal maupun nasional.

Buku, Resensi

Kembali ke Akar Kata

Oleh: Alexander Robert Nainggolan

Puisi acapkali bersinggungan dengan kondisi keseharian penyairnya. Setidaknya ia menghimpun sejarah panjang yang melingkupi dari peristiwa itu. Maka apa yang dituliskan Kiki Sulistyo dalam kumpulan puisinya, dengan kembali ke dalam khazanah lokal (keseharian) dari lingkungan kehidupan menjadi sebuah cara unik untuk tetap menggali akar tradisi yang ada.

Jarang penyair yang mengangkat kultur kehidupan lokal yang ada. Dalam pembukanya Kiki mengisahkan perjalanan puisi-puisi yang terhimpun dalam buku ini, ia bercerita tentang sebuah dusun, kehidupan berpindahnya yang turut merekam segala peristiwa. Komunikasi yang kerap “mengganggunya”, namun menjadi bahan dasar dalam puisi-puisinya. Adalah bahasa Sasak sebagai komunikasi verbal yang juga turut imbas dalam gubahan puisinya. Maka insulin itu pulalah yang menjadi pemacu, saat ia merasa ada gangguan, namun lewat percakapan itu, Kiki justru menemukan sebuah instrumen yang baru. Istrumen yang kembali ia endapkan ulang, sebagai suatu nada yang bersahutan. Temali dengan imajinasinya.

Keunikan tradisi yang turut pula memengaruhi puisi-puisinya. Terasa memang bagaimana Kiki menghimpun diksi-diksi, dengan merangkum pelbagai alat, benda, tanda,  nama panggilan, tempat, ataupun aura bunyi yang terasa mistis. Ini yang menjadikan puisi-puisi dalam buku ini begitu unik.

Dan Kiki menulis: kusebut tenggara saat kau sebut pertengkaran, -antara mereka,/kelasi dan pencuri di kapal yang berlayar menuju Ampenan//…duyung itu bibi, datang pada suatu hari dengan rambut/berkepang//matanya lengkung limau muda, kulitnya lempung pulau sokotra//…hanya kelasi yang mengerti mengapa kini kota ini sekisut kuping/bayi//sebab ia tua oleh suara ombak menolak usia, ia celaka oleh upaya menjadi baka//(“Rawi Tanah Bakarti”, Hal. 12-13)

Ihwal Pasar Malam turut dicatat Kiki dalam puisi. Sebuah pasar malam, menjadi sebuah penanda permainan yang ada di dalamnya: kuda sirkus, bayi, orang kerdil, dan pembaca kartu. Ia menulis:

Perempuan itu datang membawa kartu/ di belakangnya seekor anjing buta/ menyeret sembilan tempurung, suaranya berdengung/setiap ia melulung, di angkasa ruh-ruh berwarna biru/ bergerak baghai wabah/perempuan itu menyalakan pelita, api berkedip/seperti mata siluman dalam botol limun/yang berkilau-kilau/kartu-kartu di tangan perempuan itu terbuka satu per satu/gambar-gambar di dalamnya jatuh ke tanah/hidup dan tumbuh:/cacing air yang terus-menerus mengisap cahaya/wayag yang meniup bayangannya sendiri/seorang menak tanpa kepala, tangan kiri yang merayap seperti kepiting./perempuan itu menunjuk ke ladang, bintang-bintang/padam di rambut setiap orang// (“Pembaca Kartu”, hal. 26). Terasa bagaimana Kiki menjaga keutuhan diksi puisinya. Rimanya terjaga dan tertib. Ia seperti tidak menyisakan celah lain, kata-kata menjadi lebih hidup dan menggambar maknanya sendiri.

Buku ini terbagi jadi empat bagian: Rawi Tanah Bakarti, Kitab Batu, Rumah Juru Tenun, Bakar Padi di Bakarti. Di setiap bagian, puisi-puisi saling bersinggungan, sehingga menciptakan peristiwa-peristiwa yang baru. Terasa bagaimana Kiki konsisten menjaga setiap bagian-bagian puisinya agar senantiasa berhubungan antara satu dengan lainnya.

Beberapa puisi menghadirkan pengulangan kata. Kata yang diulang tersebut menciptakan landai panjang saat membacanya, namun tetap menciptakan kelindan lain. Saat kata bertemu dengan kata yang lainnya. Pengulangan kata-kata itu menciptakan harmonisasi, yang lebih mirip nada pada sebuah lagu.

Bakarti

Sebagian besar buku ini, mengambil tema tentang Bakarti. Kiki merincikan dalam pelbagai pilahan, yang sekaligus meminta hasrat untuk tetap terjaga membacanya. Membentuk untaian, meramunya dengan pelbagai mitos dan dongeng yang kerap terjadi. Ia, meskipun tidak melakukan penelitian secara khusus, namun terasa bagaimana keseriusan yang dikerjakannya. Kiki seakan terjaga untuk tetap mengamati, setiap hal—ihwal yang terjadi di Bakarti. Dengan rinci, Kiki menjabarkan setiap peristiwa, lalu memberikan sentuhan metafora yang kadang tak terduga.

Tidak hanya Bakarti, Kiki juga memotret dengan lugas tentang penantian seorang Ibu akan kepulangan anaknya. Namun ternyata ada luka kehilangan yang kemudian ditemui:

Ibu tidur di beranda. Siaran radio meresap kulitnya./Sebelum tidur ia dengar suara pesawat melintas lambat./ Ia bayangkan putranya di dalam sana, hendak pulang./ Ia bayangkan hutan-hutan sawit melengkungkan punggung/remaja/yang potret masa kecilnya buram di dinding kamar.//Tunas tomat merekah tanah, sedikit di sebelah kanan rumah./Tapi tak ada pekerjaan, cara menghabiskan usia/di bawah langit yang sama semenjak sepasang pendosa/dibuang dari surga. Juga untuk menerima/bahwa para pembuat pepatan telah berdusta. Tak ada surga./Tak ada tongkat. Dan batu-batu tak diangkat derajatnya.// Ibu tidur di beranda. Dalam tidurnya, ia saksikan perahu kayu/mengangkut penumpang gelap. Hanyut ke rawa-rawa berasap./Sirine, sorot lampu, teriakan-teriakan dalam bahasa Melayu./Ia bayangkan putranya diturunkan dari pesawat. Terbaring pucat/ dalam peti yang engsel-engselnya mulai berkarat,// (“Ibu Tidur di Beranda”, hal. 95)

Kiki telah menciptakan langkah yang baru bagi perkembangan puisi. Pelbagai kosakata baru mengerubungi puisi-puisinya. Yang ternyata menciptakan makna baru pula, ia seperti mengorek ke akar kata. Membiarkan puisi-puisinya dihuni dengan kata-kata yang jauh dari kelaziman.

Melalui buku ini, Kiki telah memberikan corak yang baru dalam dunia perpuisian kita. Ia telah menghadirkan bentuk puisi yang baru, kembali ke tradisi lokal, hal yang mulai terlupakan selama ini. Ia kembali jauh di kedalaman akar kata, bagi puisi-puisinya.

Alex R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Saat ini bekerja di Jakarta. Tulisannya berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di pelbagai media cetak mauapun online. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016). Bisa dihubungi : [email protected]