Buku, Resensi

Ekonomi Feminin

Oleh Royyan Julian

Melihat dunia yang kian rigid barangkali menjadi titik balik yang membuat orang menyoal ulang keyakinan tentang yang ideal. Dunia manusia dibangun di atas kebudayaan yang bercorak maskulin. Budaya adalah laki-laki, alam ialah perempuan. Budaya, dengan individualitasnya yang egois, telah menyisihkan alam ke sudut tersembunyi. Alam/perempuan punya peran penting sebagai bahan bakar kebudayaan/laki-laki, tetapi tak kasat. Seperti bensin di tangki motor.

Tanggal 21 April lalu, novelis cum feminis Indonesia, Ayu Utami membuat catatan reflektif di halaman Instagram-nya: “… Pekerjaan domestik ini tidak menabung apa-apa selain kehidupan anak atau orang lain. Karir selalu mengandung akumulasi (entah reputasi, uang, dll), tapi pekerjaan rumah tangga ini tidak. Padahal betapa pentingnya…. Di Hari Kartini ini ada baiknya kita melihat emansipasi dengan cara terbalik. Bukan cuma perempuan perlu emansipasi agar bisa masuk ke dunia publik (yang kini identik dengan karir, status, dll), tapi agar kita semua menghargai dunia domestik, dunia yang menumbuhkan dan memelihara hidup, yang umum dianggap sebagai dunia perempuan dan tidak dihargai….”

Persis seperti itulah yang ditulis Katrine Marçal dalam buku Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith? Kritik atas ilmu ekonomi liberal dibongkar dengan menghadirkan sosok ibu Adam Smith yang berperan krusial sepanjang hidupnya, tetapi paradoks dengan teori yang dibangunnya bahwa “bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan diri mereka sendiri.” Dengan perspektif feminisme, Marçal meneropong cacat dan ironi Homo economicus sebagai agen dalam ilmu ekonomi Adam Smith.

Mereplikasi teori fisika mekanistik Newtonian, ilmu ekonomi Adam Smith menggantungkan kesejahteraan masyarakat kepada kepentingan individu. Jika individu berpegang teguh pada prinsip kepentingan diri, kemakmuran komunal dapat dicapai. Adam Smith menggunakan metafora ‘tangan tak terlihat’ (invisible hand) yang bekerja secara tersembunyi—dalam tata ekonomi—dan bermanfaat secara sosial berkat tindakan individu.

Individu egois tersebut bernama ‘manusia ekonomi’. Manusia ekonomi diandaikan sebagai pribadi rasional, dingin, egois, terisolasi, independen, aktif, objektif, kompetitif. Karakter tersebut secara natural dianggap melekat pada sosok laki-laki yang beroposisi dengan sifat perempuan (emosional, hangat, altruis, komunal, dependen, pasif, subjektif, kooperatif). Dengan logika tersebut secara otomatis apa yang disebut sebagai manusia ekonomi adalah figur yang memiliki tabiat maskulin. Laki-laki adalah norma universal dan kemanusiaan bersinonim dengan maskulinitas. Di luar itu adalah liyan—adalah jenis kelamin kedua.

Maka, ketika meruyup ke dunia ekonomi, perempuan akan dipaksa bernapas dalam atmosfer yang berputar dengan mekanisme logika laki-laki. Walhasil, dengan keruwetan urusan domestik—yang sebagian besar masih dibopong perempuan karir—ditambah kompleksitas biologisnya, perempuan menjadi inferior di dunia yang sepenuhnya dipahat laki-laki. Upah rendah perempuan, misalnya, Marçal jelaskan secara dialektis dengan mengajukan argumen Mazhab Chicago yang membingungkan. Oleh karena itu, klaim bahwa manusia ekonomi tidak berjenis kelamin atau netral patah ketika dihadapkan pada kondisi diskriminatif yang dialami perempuan di dunia profesional.

Individualitas dalam imajinasi kolektif ilmu ekonomi secara alamiah dianggap memang watak manusia dari sononya. Potret janin karya Lennart Nilsson dicomot sebagai analogi manusia ekonomi; individu swasembada. Fetus dikesankan sebagai individu yang mengapung sendirian. Rahim direduksi hanya sebuah ruang. Tubuh dan peran ibu dimutilasi. Realitas zoom in foto-foto Nilsson jauh panggang dari api. Kenyataannya, selama mengambang dalam peranakan, jabang bayi terus-menerus melakukan kontak dan bergantung kepada raga ibu.

Homo economicus sebagai citra ideal yang dianggap natural menyangkal sifat manusia yang selalu bergantung kepada liyan. Bahkan, identitas manusia ekonomi yang individualistik harus kontradiktif dengan dirinya sendiri yang membutuhkan orang lain sebagai kompetitor. Yang nyaris tidak bisa ditampik, sejarah keberhasilan laki-laki sebagai manusia ekonomi membutuhkan perempuan yang menyiapkan makan malam, membersihkan tempat tidur, merawat, mencucikan pakaian; untuk lari dari kerasnya dunia, melabuhkan luka, menyeimbangkan jiwa.  

Sumber daya yang berasal dari moralitas primordial perempuan merupakan konsekuensi dari perbedaan dikotomis antara laki-laki dan perempuan. Dalam dunia ekonomi yang bertumpu pada akumulasi kapital, kerja perasaan dan altruisme bukan bagian dari mata pencaharian.  Ekonomi dan perawatan adalah dua hal yang terpisah. Hasil kerja domestik perempuan tidak dapat dicandra, tidak memengaruhi kemakmuran, sukar dikuantifikasi, sebab ia adalah siklus: “Debu yang disapu menumpuk lagi. Mulut yang sudah diberi makan kembali lapar. Anak-anak yang tidur kembali bangun. Selesai makan siang, waktunya mencuci piring. Setelah mencuci piring datanglah makan malam. Dan piring kotor kembali perlu dicuci.” Sirkulasi kerja yang tak kekal tersebut berakar dari ontologi perempuan yang karnal dan irasional, mata air cinta. “Para ekonom kadang bercanda,” catat Marçal, “jika seorang laki-laki menikahi pembantu rumah tangganya, PDB (produk domestik bruto) negaranya turun. Jika, sebaliknya, ia mengirimkan ibunya ke panti jompo, PDB negaranya naik lagi.”

Feminisme gelombang kedua menggiring perempuan memasuki dunia kerja. Bagi Marçal itu tidak benar. Yang tepat, perempuan bermigrasi dari pekerjaan tak berbayar ke profesi bergaji; dari ranah domestik gratisan ke aras publik berupah. Itu pun perempuan harus bergelut melawan ketidakadilan yang lahir dari regulasi seksis kebijakan ketenagakerjaan. Ketika kerja keperawatan menjadi profesional—di rumah sakit atau semacamnya—ia diupah murah. Sebab cinta tidak boleh diperdagangkan. Akhirnya kerja perempuan tetap menjadi perekonomian kedua—meminjam istilah Second Sex Simone Beauvoir.

Kapitalisme yang eksploitatif sebagai anak kandung ekonomi liberal perlu dipulihkan dengan melibatkan perempuan secara adil. Ilmu ekonomi seharusnya tidak mencerabut manusia dari kodratnya sebagai makhluk yang memiliki ikatan dengan yang lain. Teori ekonomi yang menyertakan perempuan dengan spirit kesetaraan akan menjadi penyeimbang individu egois yang digerakkan oleh kepentingan diri, setan loba, dan rasa takut. Namun, visi ilmu ekonomi belum beranjak sejauh itu. Harus ada yang memasak steik agar Adam Smith  bisa berkata bahwa menyiapkan makan malam itu tidak penting.


Royyan Julian adalah penulis yang tinggal di Pamekasan. Buku mutakhirnya berjudul Ludah Nabi di Lidah Sykeh Raba (2019). Ia bergiat di Sivitas Kotheka dan Universitas Madura.

Buku, Resensi

Mengurai Ketidaksadaran

Oleh Dwi Alfian Bahri

Jagat Digital, itulah kata yang dipilih Agus Sudibyo untuk judul buku terbarunya. Mungkin judul itu tidak terlalu menggugah selera pembaca, tetapi, ada hal yang menarik di sub judulnya, yakni Pembebasan dan Penguasaan.

Melalui dua kata tersebut Agus Sudibyo coba menjelaskan sekaligus menguraikan hal yang tersembunyi dari jagat digital. Mengeksploitasi permasalahan yang selama ini tidak disadari. Pembebasan dan Penguasaan dijadikan materi dasar atas buku yang berjumlah 466 halaman tersebut.

Ada kutipan yang menarik dalam buku tersebut, “muncul kesadaran di kalangan generasi muda dan terdidik di Barat untuk mulai berjarak dengan semua bentuk media baru. Ketika kesadaran ini makin menguat di Eropa dan Amerika, bangsa Indonesia masih pada fase mengagumi dan menggandrungi media baru dan kurang memperhatikan benar konsekuensi yang ditimbulkannya.” Bisa disimpulkan, secara garis besar penulis ingin menyampaikan hal yang sebenarnya gagal diketahui dan dipahami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Jagat digital, sebuah dunia baru yang melenakan sekaligus mematikan. Bangsa Indonesia belum sadar terhadap frasa tersebut. Melalui bukunya ini, penulis menguraikan hal terselubung yang terdapat dalam Google, Amazon, Facebook, dan platform lainnya. Hal terselubung itu ironisnya kita nikmati detik ini dengan nyaman.

Perlu diketahui, tidak ada yang benar-benar gratis: free service dengan free data. Perusahaan layanan media sosial memberikan banyak hal kepada penggunanya, tetapi juga mengambil banyak hal: privasi, kebebasan, dan kedaulatan diri. Itu yang dinyatakan Agus Sudibyo dalam bukunya.

Google, Amazon, Facebook, dan platform lainnya sebenarnya telah menghegemoni kesadaran kita. Privasi kita diambil secara mudah dan kita terus tertawa sambil berswafoto sekaligus berselancar di dalamnya.  Ada hal yang menghegemoni pikiran pengguna internet, sehingga secara tidak sadar sedang menjadi objek eksploitasi, alih-alih menganggapnya sebagai kewajaran.

Berpijak pada konsep panopticon (Foucault), Agus Sudibyo memberi gambaran yang jelas betapa sebenarnya kita sedang benar-benar diawasi setiap waktu tanpa jeda sedikitpun. Konsep ini menggambarkan suatu penjara yang di setiap sudutnya dipasangi perangkat CCTV (digital panopticon).

Sudah tidak ada lagi kebebasan, karena yang ada adalah pengawasan dan pengendalian. Karena, hampir semua gerak-gerik penghuni penjara dapat dipantau dan diarahkan. Tujuannya ialah menjadikan pengguna sebagai sumber atau bahan baku gratis untuk proses manufaktur dalam bentuk yang baru dan skala tertentu.

Kembali pada sub judul buku, Pembebasan dan Penguasaan. Kita memang diberi kebebasan yang benar-benar bebas. Dalam buku The New Digital Age: Transforming nations, Businesses, dan Our Lives dinyatakan, “Dunia digital adalah ruang tanpa hukum terbesar di dunia.” Maksudnya, pada ruang inilah kita bebas melakukan apa saja, semua hal tersaji. Sebab, perlahan dan pasti semua hal mulai terhubung satu sama lain melalui jaringan internet. Sayangnya, pembebasan semacam itu berjalan lurus dan beriringan dengan penguasaan yang terjadi.

Free service dengan Free data. Begitulah konsep yang coba diuraikan Agus Sudibyo dalam bukunya ini. Tidak berlebihan rasanya jika Sony Subrata berharap buku ini mampu merangsang studi, riset, dan penulisan karya ilmiah yang lain, karena bangsa Indonesia seyogyanya tidak menyadari betapa luar biasanya pertunjukan di balik layar jagat digital tersebut. Pertunjukan yang belum pernah mereka ketahui. Buku ini bisa dijadikan salah satu pijakan untuk memulai, memahami, dan menguaraikan isi jagat digital.

Selain hal di atas, pada bagian akhir buku ini, dipaparkan hal yang lebih menarik. Sifat jagat digital yang sejatinya semu, ternyata mendapat sebuah legalitas yang baik. Tentu saja sangat memprihatinkan bahwa negativitas media sosial justru diamplifikasi oleh media massa, khususnya media daring dan televisi.

Kekusutan info di media sosial dalam berbagai kasus justru dilanjutkan ke dalam ruang pemberitaan, diskusi publik, dan bincang-bincang televisi (talkshow). Ini semacam fenomena yang mengerikan. Ketika hal yang sejatinya rancu, banal, hiper, rapuh, berkelindan, tiba-tiba menjelma paradigma baru publik. Media massa menjadi follower media sosial, itulah yang ditulis Agus Sudibyo.

Jadi, media massa yang sebelumnya menjadi titik tolak pemberitaan karena kredibilitasnya yang terjamin, kini beralih fungsi menjadi pengikut kebanalan informasi.

Media sosial (jagat digital) sesungguhnya berhasil menciptakan perubahan revolusioner dalam hal mode komunikasi, interaksi sosial, dan partisipasi politik. Di samping itu, ada hal di balik layar yang juga harus dipahami dengan baik dan bijak. Sebagai panduan bersikap di dunia baru tersebut, Agus Sudibyo menawarkan hal yang argumentatif serta perspektif yang kritis dalam bukunya ini.

Eksploitasi masalah-masalah di atas menjadi bahan baku buku ini. Bagaimanapun, pengguna internet di Indonesia tembus 171 juta jiwa. Dengan jumlah sebanyak itu, Indonesia menempati peringkat kelima dunia. Kalau kita tidak mampu menyikapi fenomena digitalisasi pada era revolusi industri 4.0 ini, cepat atau lambat kita akan menjadi ladang penjajahan media owner.


Dwi Alfian Bahri, guru Bahasa Indonesia di SMP Kawung 1 Surabaya. Lahir di Kota Pahlawan 29 April 1993. Tinggal di kawasan Surabaya Utara. Pada waktu luang, menjalani pameran dan workshop modern kaligrafi (lettering), serta aktif dalam kegiatan literasi dan seni-sastra di Surabaya. Telah menerbitkan antologi cerpen Bau Badan yang Dilarang (2018). Bila  berminat menjalin komunikasi, bisa di instagram: @suaraalfian47.

Buku, Resensi

Negara Acap Kali Merecoki Hidup Kita

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Orang-orang Oetimu (Marjin Kiri, 2019), pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bertarikh 2018 terbit menjelang situasi negara yang karut-marut. Menggunakan latar tahun di mana Orde Baru berkuasa, Felix teruji ketelatenannya menjahit keping-keping cerita masyarakat Indonesia bagian timur. Novel yang dilabeli 19+ itu menghamparkan kepada kita kehidupan paling lekat dan sehari-hari. Kehidupan sebagai masyarakat sipil yang kerap dibikin runyam negara dan kemudian juga institusi agama. Tingkah onar negara, aparat, institusi agama baik dalam novel karangan Felix maupun dalam kehidupan kita yang sebenar-benarnya berhasil membuat kita terlalu sering sengsara.

Puluhan tahun Indonesia membungkam Papua. Mengabaikan suara personal mereka, membatasi akses bagi media dalam dan luar negeri yang hendak meliput ke tempat itu, tak menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM. Belakangan menyepelekan protes-protes yang berakibat rusuh dan terus memakan korban jiwa, juga melakukan kejahatan teknologis dengan membatasi akses internet bagi warganya. Atas dalih menjaga keutuhan NKRI, negara acap kali abai pada nilai yang paling dasar dan berarti dalam kehidupan kita—kemanusiaan. Menyalin teriakan histeris Maria saat Sang Perwira menyampaikan pidato di hadapan mendiang suami dan anaknya, dan menghubungkan kematian mereka dengan usaha mempertahankan kesatuan negara. “Kesatuan negara yang mana? Yang harga mati itu? Yang harga mati itu kemanusiaan! Yang harga mati itu keluarga saya…” (hlm. 158).

Dalam Orang-Orang Oetimu, Maria sudah lama tak percaya pada negara, aparat, dan institusi agama. Sebelum mendapati segala yang ia perjuangkan melawan negara sia-sia belaka, Maria ialah mahasiswa yang gemar berkoloni untuk membicarakan dan berdebat memperkarakan banyak hal. Perang di Timor Timur, pemerintahan Soeharto yang anti-kritik, agama, dan  segala anak turunannya. Maria ialah representasi gadis yang tak sungkan mengumpati segala hal yang dinilainya tak tepat takaran. Ia juga hampir selalu menyanggah dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan retoris pada lawan bicaranya.

Dalam perkara agama mari kita kutip sebagian kecil sikap Maria menghadapi khotbah agamawan. Saat Frater Yosef memberi keterangan menuding kadar iman dan syukur kita sebagai umat amat minim, sementara itu Tuhan akan menjaga dan memberikan hal-hal terbaik pada kita apabila kita rajin bersyukur. Maria melempar sambutan telak. “Wahai Frater, bagaimana kalau Tuhan Maha murah, tetapi setiap pemberiannya selalu diambil oleh orang-orang yang serakah?” (hlm. 128).

Kekuasaan yang Serakah

Keberadaan negara sejak masa kolonialisme menyengsarakan hampir setiap sendi kehidupan masyarakat kendati kadarnya berlainan-lainan. Perang antara militer Indonesia dan gerilyawan Fretilin merelakan banyak sekali nyawa dan harga diri para perempuan muda. Laura belum genap berusia dua puluh saat ayah dan ibunya ditembak aparat di pinggiran dermaga. Ia seharusnya jadi gadis periang, tetapi perang merebut segala yang ada padanya. Termasuk sel-sel telurnya(hlm. 48).

Sekarang, mari kita mampir ke Buenos Aires, menyimak pengisahan Jorge Luis Borges mengenai perang saudara yang melenyapkan nyawa kakeknya. Di awal tahun 1874, Francisco Borges— kakek Jorge Luis Borges, menjadi Komandan Tertinggi di perbatasan Utara dan Barat Buenos Aires. Ia bersama sepuluh atau belasan anak buahnya berderap menuju barisan musuh. Di sana ia dilumpuhkan oleh dua butir peluru Remington (Jorge Luis Borges, 2019: hlm. 6). Dalam kalimat lain, perang senantiasa membawa duka bagi tiap-tiap pihak yang terlibat.

Kekuasaan Oligarkis

Apa tujuan perang? Ialah ambisi berkuasa. Soesilo Toer melalui Pram dalam Bubu (Pataba Press, 2015) memberi penggambaran mudah terpahami soal itu. Ia mendefinisikan kekuasaan sebagai perwujudan dari ideologi yang dianut oleh kelompok sosial tertentu. Dengan demikian, tidak heran apabila kekerasan digunakan sebagai tameng untuk menumpas ideologi yang rawan dan akan mengganggu kelangsungan hidup kekuasaan yang sedang bercokol. Dalam konteks ke-Indonesiaan, ambisi berkuasa itu menjangkiti hampir setiap orang yang masuk dalam sistem kenegaraan, entah ia bagian dari eksekutif maupun legislatif, pun termasuk yang paling purba mengamini arti kekuasaan ialah para aparat yang apapun duduk perkaranya senantiasa latah main hajar.

Tokoh rekaan Felix hadir dengan cukup utuh untuk memberi gambaran aparat yang latah main hajar. Konon, Sersan Ipi ialah polisi yang mendapat mandat istimewa bertugas di Kampung Oetimu. Mandat itu ia peroleh lantaran Am Siki, kakek asuhnya dianggap sebagai pahlawan yang telah berjuang menumpas penjajah demi mempertahankan harkat dan martabat negara. Tiap kali Sersan Ipi muncul, selalu ada yang kena hajar, baik tukang ojek, sopir truk, bahkan anak-anak sekolah sekalipun. Tak ada yang berani melawannya, sebab ia aparat negara yang berseragam dan bertindak atas nama negara. Ia bertindak demi kebaikan seluruh warga negara. Dan barang siapa melawan aparat, ia berarti melawan negara. Melawan negara sama artinya dengan komunis. Komunis harus dibunuh dan ditanam di hutan jati (hlm. 59).

Praktik “kekuasaan” itu juga terjadi di gereja. Para romo mendayafungsikan statusnya sebagai pelayan Tuhan dan sebagai orang terhormat guna melakukan pelbagai pelecehan seksual kepada remaja-remaja perempuan binaannya. Para remaja perempuan itu jelas lebih banyak bungkam sebab pelaku pelecehan itu ialah orang yang selama ini sangat dihormati masyarakat. Masyarakat kiranya mudah saja menuduh para gadis hendak merendahkan harkat martabat para romo dengan membuat kabar miring sedemikian rupa.

Praktik “kekuasaan” yang lain lagi ialah sekolah berbasis keagamaan yang sebelumnya dikhususkan sebagai sekolah untuk warga kurang mampu, yang secara berangsur dipoles jadi sekolah elitis yang memberlakukan biaya sangat mahal dan susah dijangkau masyarakat kelas menengah ke bawah. Perlahan namun pasti, di sekolah itu anak-anak dari keluarga kurang mampu tak bersisa sama sekali. Demikianlah aturan main tuan-tuan yang mahakuasa. Mereka menghendaki masyarakat sipilnya jadi mahasengsara. Tsah!


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya.

Buku, Resensi

Selamat Mengalami Mimpi Buruk

Oleh Shofyan Kurniawan

Bayangkan ketika kita memiliki keinginan yang besar untuk melakukan kejahatan, sesuatu yang oleh alam sadar coba ditekan dan direpresi sedemikian rupa karena itu bertentangan dengan nilai-nilai yang telanjur dianut dalam realitas kita. Misalnya, kita ingin sekali menghajar kepala seseorang dengan sol sepatu sampai bocor tanpa tahu alasannya. Bisa juga, kita ingin sekali melakukan pembunuhan berantai berbekal sepucuk pistol, menembaki satu per satu korban. Namun keinginan-keinginan semacam itu harus ditekan habis kalau kita tidak ingin berurusan dengan hukum dan perangkat-perangkat penegaknya. Meski begitu, keinginan-keinginan itu mencoba mencari jalan keluar. Jika tidak bisa di kondisi sadar, hal semacam itu akan datang melalui mimpi. Ya, mimpi. Kondisi ketika kesadaran merenggangkan kekangnya.

Bisa dibilang itulah yang coba diceritakan Aris Rahman P. Putra dalam kumcernya berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive. Ia mencoba menceritakan tentang kejadian-kejadian yang berlangsung dalam kepala ketika sedang mengalami mimpi.

Mulholland Drive sendiri—yang dipakai Aris Rahman P. Putra sebagai pelengkap judul bukunya, mengacu kepada salah satu karya terbaik David Lynch, sutradara yang gemar membuat film-film surealis. Kita juga bisa melihat gambar sampul buku yang dipilih: Manusia kelinci berjas yang sedang membawa pistol, seolah mencoba mengingatkan kita kepada salah satu film David Lynch lainnya berjudul Inland Empire. Melalui judul dan sampul buku, kita seakan bisa langsung tahu apa yang hendak diceritakan Aris Rahman P. Putra di sini.

Membaca Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive, kita seolah diajak untuk mengalami mimpi. Ada beberapa bagian yang tidak masuk akal seakan mencederai logika cerita, tetapi ketika kita mengerti bahwa apa yang hendak disampaikan adalah dunia yang berlangsung dalam mimpi, kita akan langsung memberi pemakluman.

Misalnya saja, ketika kita membaca cerpen berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive yang juga menjadi judul buku ini. Di sana terdapat serangkaian pembunuhan yang terjadi hanya karena sepucuk pistol—pistol yang sama. Pembunuhan pertama dimulai di sebuah kafe dengan korban seorang pemuda yang semula hendak merampok, kemudian berlanjut ke seekor anjing, lalu pada sebuah keluarga, lantas berlanjut pada pasangan kekasih yang terlibat cekcok karena salah satunya kepergok selingkuh. Menariknya, setelah pembunuhan terakhir pistol itu malah jatuh ke tangan seseorang yang langsung saja memberi kita sebuah kesan dan tonjokan yang membuat kita bergumam: “Hmmm, sepertinya barusan aku melewati satu mimpi buruk deh.”

Cerpen lainnya yang berjudul Mimpi-mimpi yang Perlu Kaualami Sebelum Menjadi Nabi merupakan gambaran paling nyata dari kekacauan yang terjadi dalam sebuah kepala. Kita mungkin akan merasa kasihan dengan apa yang dialami kepala tersebut karena harus melompat dari satu mimpi yang ganjil ke mimpi ganjil lainnya.

Ada juga pemuda pengidap skizofrenia di Catatan-catatan Mengenai Pasien No. 35. Setiap si pemuda bangun tidur, ia mengalami semacam halusinasi yang selalu berbeda tetapi memiliki satu benang merah yang menghubungkan semuanya: si pemuda punya trauma berkaitan dengan seks.

Meski begitu, Aris Rahman P. Putra tak melulu bernarasi soal alam bawah sadar belaka. Di bagian lain, ia juga menghadirkan cerpen-cerpen bergaya realis, misalnya: Antipode dan Harga yang Pantas untuk Sebuah Kebodohan dan Rekaman-rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan. Walau bergaya realis, di sini Aris Rahman P. Putra tidak hanya mengambil peran sebagai pencatat atau sekadar perekam, melainkan juga menggiring kita menemukan sebuah pemahaman baru atas peristiwa-peristiwa yang coba ia angkat ke permukaan. Di lain sisi, dia juga ingin menghadirkan sebuah kesan, bahwa hidup hanyalah kemurungan-kemurungan yang coba kita bungkus dengan harapan dan optimisme. Sehingga tidak bisa dihindari kalau Aris Rahman P. Putra terkesan menolak narasi-narasi romantis, mirip seperti Holden Caulfield di novel Catcher In The Rye karya J.D. Salinger. Seperti yang bisa kita jumpai di cerpennya berjudul Kuesioner 1: Bagaimana Menemukan Pasangan yang Tidak Gampang Bunuh Diri yang digambarkan melalui potongan sajak yang berbunyi:

Bagaimana cara

menghentikan hujan di kepala?

Barangkali kita terlalu melankolis

dan menjadi dungu

Karena cinta

Sehingga lupa

Bahwa di dunia

ini, ada sesuatu bernama

payung dan jas hujan

yang membuat kita

tetap kering

Meski digempur

hujan tak reda-reda

Salah satu cerpen berjudul Rekaman-rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan  berkaitan dengan kerusuhan yang terjadi di tahun 1998, menjelang lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan. Di sini Aris Rahman P. Putra menggambarkan bagaimana bermacam-macam orang dengan latar belakang berbeda pada masa itu merespon peristiwa tersebut. Jika kita pernah membaca karya J.D. Salinger berjudul Orang Asing dan sampai di bagian ketika sang tokoh utama bernarasi kalau ia tidak percaya pada saat ia terlibat perang dan bergelut dengan hidup dan mati, di tempat yang lain ada orang yang dengan santainya mengajak anjingnya berjalan-jalan keliling kota; di cerpen Aris tersebut, kita bisa mendapatkan sensasi yang kurang-lebih mirip.

Cerpen-cerpen Aris memang cenderung bernuansa murung dan pesimis, seolah ia ingin mengatakan hidup hanya segunung tahi yang dibungkus kertas kado. Bahkan jika ada sesuatu yang lucu di sana, itu bukanlah murni kelucuan yang telanjur dipahami secara massal tapi sesuatu yang memang layak untuk ditertawakan, entah tawa ngakak ataupun sambil meringis. Jika kita terlalu memandang hidup ini dengan optimis, menganggap semuanya bakal indah pada waktunya, mungkin kita perlu mencoba membaca cerpen-cerpen di dalam buku ini supaya khayalan kita tidak kelewat utopis. Bagaimanapun, hidup yang baik adalah hidup yang dijalani, setaik apa pun itu.


Shofyan Kurniawan. Lahir dan besar di Surabaya.

Buku, Resensi

Pengenalan dan Penambahan

Oleh Bandung Mawardi

Pekerjaan serius dan besar dibuktikan Anton Kurnia berupa Ensiklopedia Sastra Dunia. Buku berukuran besar dan tebal pantas mendapat pujian. Ikhtiar semakin mengenalkan sastra dunia ke pembaca di Indonesia. Buku itu biru, memberi ajakan berkelana dengan penasaran dan ketakjuban mengenali para pengarang tenar dari pelbagai negara, dari masa ke masa. Ensiklopedia cenderung ke tokoh meski agak memberi uraian mengenai buku dan pemerolehan penghargaan. Keinginan mengenali pengarang tak lekas bermula di sampul buku. Di situ, pembaca tak usah berharap melihat foto para pengarang. Gambar di sampul anggaplah penghiburan, sebelum pembaca terjerat di renungan atau terpana tak berkesudahan.

Buku dipersembahkan ke pembaca di Indonesia yang bernafsu membaca ratusan buku sastra dari pelbagai negara dan memiliki daftar pengarang pujaan. Di Ensiklopedia Sastra Dunia, kita masih mendapat lega bahwa ada nama-nama pengarang asal Indonesia “diakui” termasuk pengarang bertaraf internasional: Pramoedya Ananta Toer dan Eka Kurniawan. Jumlah memang sedikit ketimbang para pengarang asal Jepang, Tiongkok, Amerika Latin, Rusia, Prancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Arab, India, Afrika, dan Amerika Serikat. Buku susunan Anton Kurnia itu memang pantas meresmikan dua pengarang Indonesia di tatapan sastra dunia, tak cuma lingkup nasional.

Sekian nama pengarang besar sudah dikenalkan melalui terjemahan-terjemahan, sejak awal abad XX. Dulu, para pengarang di masa 1920-an sudah getol menerjemahkan sastra dunia ke bahasa Indonesia. Pada masa 1950-an, kerja penerjemahan itu semakin menguat untuk menjadikan sastra dunia terbaca atau tebar pengaruh di Indonesia. Pesta sastra terjemahan terasa di masa 1970-an. Buku-buku persembahan para pengarang meraih Nobel Sastra dan Pulitzer Prize berlimpahan dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia. Sekian babak menentukan pengenalan pengarang dan buku sastra bertaraf internasional itu tercatat rapi dan dokumentatif dalam buku berjudul Dari Khasanah Sastra Dunia (1985) susunan Jakob Sumardjo. Buku sudah langka, tak ada di daftar pustaka dalam Ensiklopedia Sastra Dunia. Anton Kurnia mungkin pernah membaca tapi sengaja tak memilih jadi referensi.

Pada 1991, pembaca atau peminat sastra Prancis dimanjakan dengan penerbitan Kamus Karya Sastra Perancis susunan M Bouty. Kamus bermutu memuat ulasan buku-buku sastra Prancis dan cuilan-cuilan biografi. Kamus dibaca dengan pengenalan ke buku-buku tercatat penting di sejarah kesusastraan Prancis atau dunia. Buku itu pernah digunakan dalam pengajaran sastra di sekolah dan penuntun bagi penerjemah. Buku juga berwarna biru tapi tak dipilih Anton Kurnia sebagai referensi.  

Kita menemukan para pengarang Prancis mendapat perhatian besar di Ensiklopedia Sastra Dunia. Pembaca berkenalan dengan Albert Camus, Alexander Dumas, Anatole France, Andre Breton, Andre Gide, Andre Malraux, Antoine de Sain-Exupery, Arthur Rimbaud, Emile Zola, Francois Mauriac, Guillaume Apollinaire, Guy de Maupassant, Honore dan Balzac, dan lain-lain. Anton Kurnia memiliki cara kerja dan selera berbeda untuk mengenalkan para pengarang dunia ke pembaca di Indonesia. Ia menjelaskan: “Sebagai sebuah ensiklopedia sederhana dan pengantar menjelajah khazanah sastra dunia, buku ini memuat ikhtisar sejarah sastra dunia sejak ribuan tahun lampau, profil 335 sastrawan terkemuka dari pelbagai penjuru dunia dan zaman.” Bahan-bahan diperoleh dari buku, majalah, koran, situs internet, ensiklopedia digital, dan catatan pribadi.

Pembeli dan pembaca Ensiklopedia Sastra Dunia dijanjikan mendapat pengantar bermutu. Di halaman 38, kita melihat foto dan membaca profil Andre Gide (1869-1951), pengarang asal Prancis. Ia meraih Nobel Sastra 1947. Pembaca di Indonesia sudah bisa membaca gubahan Andre Gide melalui terjemahan Chairil Anwar berjudul Pulanglah Si Anak Hilang (1948). Dulu, sastra dunia lekas terbaca dan memikat para pengarang di Indonesia tak perlu menunggu lama di edisi terjemahan bahasa Indonesia. Novel pertama Andre Gide berjudul La Orte etroite (1909). Novel apik dan sudah difilmkan berjudul La symphonie pastorale (1919). Kita beruntung meski terlambat mendapat edisi terjemahan bahasa Indonesia oleh Apsanto Djokosujatno, dijuduli Simfoni Pastoral (1987) terbitan Djambatan.

Kita pun disuguhi profil peraih Nobel Sastra 2017 bernama Kazuo Ishiguro. Nama sudah dikenali para pembaca di Indonesia meski tak setenar Haruki Murakami. Novel-novel gubahan Kazuo Ishiguro sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia tapi tak selaris terjemahan novel-novel Haruki Murakami. Dua pengarang itu bersaing meraih Nobel Sastra, berbeda resepsi umat pembaca di Indonesia. Anton Kurnia menginformasikan ke pembaca: Kazuo Ishiguro dilahirkan di Nagasaki, 1954. Ia hijrah ke Inggris, tekun menulis cerpen dan novel. Sekian novel telah terbit dan mendapat penghargaan: A Pale View of Hills (1982), An Artist of the Floating World (1986), The Remains of the Day (1989), Unconcoled (1995), dan When We Were Orphans (2000).

Pengarang sudah meraih Booker Prize, Nobel Sastra, dan Pulitzer Pirze memang belum menjamin mendapat pembaca fanatik di Indonesia. Pada masa lalu, ada nama-nama besar meraih Nobel Sastra dan Pulitzer Prize tapi jarang diperbincangkan di kalangan sastra Indonesia. Buku mereka sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Nasib mereka belum untung. “Sial” berlanjut gara-gara tak dikenalkan Anton Kurnia meski cuma uraian singkat.   

Pada 1972, terbit buku berjudul Barabas gubahan Par Lagerkvist, peraih Nobel Sastra 1951. Novel mula-mula terbit di Swedia (1950) itu “dituturkan kembali dalam bahasa Indonesia” oleh B Simorangkir. Pembaca buku berpenampilan sederhana terbitan BPK Gunung Mulia beruntung mendapat secuil biografi pengarang. Par Lagerkvist lahir di Swedia, 1819. Selama hidup, ia pernah tinggal di Denmark, Prancis, dan Italia. Pada 1930, ia menetap di Stockholm, Swedia. Barabas telah diterbitkan di Indonesia tapi tak menjadi sumber perbincangan dan memicu kekaguman. Buku itu berlalu.

Para pembaca sastra dunia pernah pula disuguhi buku berjudul Desa Kita. Buku drama tiga babak gubahan Thorton Wilder itu diterjemahkan oleh Bakdi Soemanto, diterbitkan Sinar Harapan, 1992. Penerjemah memberi keterangan mengenai penulis dan buku. Desa Kita itu terjemahan dari Our Town (1938). Buku menjadi pemenang Hadiah Pulitzer. Pengarang asal Amerika Serikat itu semula menulis novel berjudul The Bridge of San Luis Rey (1928), mendapat pula Hadiah Pulitzer. Buku berjudul Desa Kita sulit laris dan belum menjadikan umat sastra dan teater di Indonesia untuk (semakin) mengenali Thorton Wilder.

Dua pengarang tak mendapat halaman pengenalan atau dimunculkan dengan foto di Ensiklopedia Sastra Dunia. Dua nama itu cuma ada di daftar peraih Nobel Sastra dan Pulitzer Prize. Kita tak usah menggugat Anton Kurnia atas pengabaian dua pengarang besar asal Swedia dan Amerika Serikat. Kita mendingan menuliskan profil mereka di kertas lalu menaruh di sela-sela halaman buku.

Sejak mula, Anton Kurnia sudah menginsafi: “Buku semacam ini tentu juga akan memicu kontroversi—mengapa penulis ini tidak dimasukkan…” Pengerjaan Ensiklpoedia Sastra Dunia memiliki patokan-patokan belum tentu dimufakati para pembaca. Anton Kurnia pun mengingatkan bahwa pemilihan pengarang ditentukan pencapaian dan pengaruh buku-buku dalam peta sastra dunia. Pekerjaan serius dan besar sudah dipersembahkan ke pembaca. Kita mengaku “untung” saja ketimbang sewot tapi malas mencari informasi-informasi tambahan. Begitu.  


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com

Buku, Resensi

Narasi Futuristik Kepala

Oleh Setyaningsih

Ada suatu anekdot ihwal kepala yang beredar di masa sekolah. Guru selalu mengatakan untuk melepaskan kepala di rumah atau tidak usah membawa kepala ke sekolah setiap kali murid terlihat lungkrah melenakan kepala di meja. Melepaskan kepala di sini benar-benar lebih dekat ke arti harfiah, bukan secara metaforis mewakili tindakan untuk tidak menggunakan isi kepala (otak) atau berpikir. Namun, begitu membaca novel eksperimental Cara Berbahagia Tanpa Kepala (2019) garapan Triskaidekaman, melepas kepala yang sungguh-sungguh memisahkan kepala dari badan memang menjadi peristiwa yang sangat realis.

Kepala adalah penanda eksistensial. Secara birokratis, kepala mengingatkan pada jabatan-jabatan penting, seperti kepala pusat, kepala negara, kepala sekolah, kepala desa, kepala keluarga, dan kepala-kepala lain yang berada di tempat tertinggi untuk membawahi setiap (anggota) badan. Kerja (berpikir) yang dilakukan kepala pun sering lebih dihargai daripada kerja (bertenaga) dari badan. Bisa dikatakan segala ritual komersial sampai spiritual, paling bisa dialami kepala. Triskaidekaman menulis, “Kepala adalah sumber segala mudarat dan ide keparat. Rumah segala kisah Ayah pengecut bertempat, segala uang di mata dan pukas Ibu, dan kitaran orang yang cuma berpura-pura sayang. Sedangkan badan cuma bisa menurut. Kepala paling rajin terpelihara—sebut saja sampo, calir muka, maskara, hingga celak, dan gincu merona. Badan belum tentu. Kepada beda di setiap orang—terima kasih Muka—hingga setiap baru berkenalan, selalu kepala yang dilihat duluan” (hal. 5).

Triskaidekaman tidak secara gamblang menyebutkan penahunan peristiwa meski cerita jelas terjadi di Jakarta sebagai kota percaturan sengit hidup para kepala. Dalam narasi futuristik ini, teknologi tidak lagi hadir untuk membantu, manusia sendiri sudah menjadi tubuh mekanis yang bekerja selayaknya komputer. Anggaplah pembayangan futuristik bukan hal mengagetkan, semacam layanan ketubuhan; pijat, perawatan wajah, sulam alis, atau perbaikan ukuran kelamin, tentu dengan upaya lebih canggih. Tokoh utama lelaki, Sempati, mengikuti program “Bebaskan Kepalamu” yang menjanjikan keringanan beban hidup khas urban. Sempati tidak perlu khawatir mati atau kehilangan kemampuan mengindra dan keraiban segala kenangan. Segala hal sudah dicadangkan sebuah kandar kilas alias flashdisk. Selain itu ada pencadangan fungsi otak di dengkul dan selangkangan, sepertinya inilah cara Triskaidekaman mendestruksi kehormatan kepala.

Tragisme Urban

Sejak awal, Sempati memang sudah merasakan ketidakkesinkronan kepala dan badan. Harapan hidup sejahtera juga pupus; kendaraan, karir, kemapanan finansial, kekasih, dan keutuhan keluarga yang paling mustahil dicapai. Sejak kepala dipisahkan, kepala lebih berotoritas menenggak kebebasan, “Kini, kepala itu bebas memuaskan segala keinginan yang tak pernah direstui badan sewaktu mereka bersama dulu. Kedai tenda. Makan seporsi sate dua belas tusuk. Minum teh manis yang cokelat pekat. Berkeliling taman kota. Menonton tingkah polah manusia. Mencerap pergerakan peradaban menjelang padamnya lampu jalan. Mampir dan mengintip ke dalam rumah binal, mencari sepotong adegan yang banal sampai yang seksual. Semakin menjadilah kebencian kepala Sempati kepada badannya. […] Setelah sekian lama, kini saatnya: kepala Sempati membentuk otonomi sendiri, merdeka dari badan yang memenjarakan” (hal. 55).

Tentu, Triskaidekaman membawa Sempati pada konflik paling gawat: kecurian kepala. Kepala Sempati benar-benar hilang dicuri, padahal kepala harus tetap dimiliki agar tidak mati. Sekali lagi, kepala tetaplah penanda eksistensial manusia, “Kaki dan tangan tak berwajah, takkan pernah menandingi kepala. Beberapa kaki dan beberapa tangan berajah-bertahilalat-bertanda lahir, tetapi begitu bercerai dari tuannya, yang diingat tetaplah wajah dan hanya wajah. Tuan adalah wajah dan wajah adalah tuan.” Dalam perjalanan badan dan kepala saling mencari, terungkap masa lalu traumatis Sempati sebagai anak. Dia harus menghadapi kenyataan dilahirkan dalam keluarga yang berantakan, dihantam masa lalu asmara ibunya yang rumit, pertengkaran orangtua, pengkhianatan, kecacatan dan balas dendam, keterabaian. Kepala yang terlepas justru mengungkap segala yang tidak membahagiakan khas urban.

Di sini hadir Semanggi, bapak tapi bukan bapak biologis yang karena tidak memiliki kedigdayaan ekonomi membesarkan anak, memilih menjadi jam tangan. “Saya akan menjadi sebuah jam tangan. Penunjuk waktu yang mengingatkannya untuk hidup teratur. Pengingat bahwa waktunya terbatas. Pengingat bahwa dia akan tumbuh besar, akan menyakitkan banyak hal” (hal. 194). Waktu adalah hal yang bernas sekaligus menakutkan bagi manusia. Terutama dalam persepsi modern, waktu menentukan capaian hidup sebagai manusia sukses, menantang tapi tidak tertaklukkan.

Narasi futuristik kepala Triskaidekaman tentu harus mengadopsi diksi-diksi teknologi perkomputeran. Sekalipun diksi perkomputeran lumrah hadir dalam bahasa Inggris, Triskaidekaman tetap mengupayakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik untuk mengganti sebagian diksi-diksi teknologi ataupun narasi tutur novel. Pembaca akan sering menemukan diksi-diksi yang barangkali masing sangat asing, tapi sebenarnya telah terdaftar di kamus resmi bahasa Indonesia.

Pemilihan tema yang eksperimental-futuristik dengan pengemasan tragisme lewat strategi bahasa dan pilihan diksi memang menonjol sebagai cara bertutur Triskaidekaman. Cara ini sekaligus mengakali kisah tragisme manusia urban yang bisa kita rasa sangat lumrah berkisar di prosa mutakhir Indonesia. Strategi bertutur Cara Berbahagia Tanpa Kepala berkemungkinan mengemas yang lumrah, demi berhasil menegangkan dan menolak membosankan.


Setyaningsih, Esais. Pembaca Buku. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : [email protected]

Buku, Resensi

Pada Batas Kematian

oleh Rizki Amir

Perkembangan naskah lakon yang diterbitkan menjadi sebuah buku dalam satu tahun dapat dikatakan sangat lemah. Tak banyak penerbit, baik indie maupun mayor, yang mau bergerak di lingkaran yang sepi pembeli. Selain itu, seorang penulis lakon drama juga harus memutar otak bagaimana caranya agar naskah yang ada bisa enak dibaca. Sebab, di dalam teks lakon, tokoh-tokoh yang dihadirkan untuk sebuah pementasan harus mampu hidup dengan tanda yang dapat dihapus dan menggerakkan sebuah hubungan yang dalam antara premis dan lapis.

Tapi tidak. Tidak untuk premis dan lapis yang dibawa buku naskah lakon Di Seberang Sana karya Yusril Ihza. Ia justru hidup dari naskah yang sudah ada: Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang. Yang menjadikannya tampak berbeda adalah pergeseran peran sutradara: bukan lagi sebagai pemegang tunggal pementasan. Ia turut serta sebagai salah satu tokoh dan hadir sepenuhnya untuk menimbulkan kesan lain agar teks tak hanya bergerak ke satu arah.

Lakon di dalamnya berangkat dari celah latar panggung yang gelap: dalam salah satu adegan, tokoh Sang Sutradara berusaha menghentikan tokoh Sang Aktor untuk sekali lagi menggali keaktorannya dan kembali mempertanyakan bagaimana jika ternyata kematian seorang tokoh bukanlah puncak dari pertunjukan, di balik panggung beberapa belas menit menjelang pentas dimulai. Dan sialnya, hal itu justru berkembang menjadi argumen (atau racauan?) yang tidak mudah dipatahkan.

Sang Sutradara menganggap semua itu percuma adanya, sebab dalam naskah dikatakan, cinta harus memahami bahwa dirinya fana dan tunggal. Ada gerak lambat yang coba disampaikan. Ada rasionalitas yang ditunjukkan untuk melahirkan sesuatu. Tapi mungkin itu belum cukup kuat untuk mengaitkan iman dengan laku dan kehendak melalui proses “berpikir”. Salah satu kutipan:

…..

AKTOR

Bulan Bujur Sangkar mengancamku untuk mengimani sesuatu yang tidak aku yakini kebenarannya. Bulan Bujur Sangkar memaksaku untuk mengatakan “Aku membunuh, oleh sebab itu aku ada!”.

SUTRADARA

Apa perlunya kau benar-benar merasakan kematian atau ingin memotong pembuluh darahmu sendiri hanya untuk sebuah pertunjukan?

AKTOR

Orang Tua dan kematian, keduanya bergelayutan di tiang gantungan. Tentang nasib yang ditanggalkan atau sekadar permainan untuk menghibur kegalauan absurditas selama 60 tahun lamanya. Itulah aku, sebagai tokoh utama pada pertunjukan malam ini.

(hal. 8)

Tampaknya melalui dialog antara Aktor dan Sutradara itu mengatakan bahwa naskah Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang, yang akan diperankan, lahir dalam keadaan absurd. Sebab perlawanan di balik tirai normalnya hanya bisa dilakukan aktor secara terbatas: dengan diam atau membangunkan rasa takut. Tapi di dalam teks, Yusril tidak tertarik untuk memilih keduanya. Ia malah meletakkan lakon baru di batas antara yang riil dan yang subtil dari lakon yang sudah ada.

Lakon Di Seberang Sana tidak hanya menawarkan kerangka berpikir tertentu dalam melihat bagaimana jalin-kelindan antara manusia sebagai pelaku yang berkehendak dengan kenyataan kesehariannya, tetapi juga hubungan timbal balik itu bisa seiring dalam upaya mendialogkan antara gagasan teks dengan kenyataan dalam kehidupan.

Sebagai orang yang menghidupi teater, Yusril tidak hanya melakukan strategi “manipulatif” yang artistik, tetapi juga bagaimana pemikiran tentang pencarian makna dari kematian yang memiliki banyak tanda berujung pada kepasrahan diurai sedemikian rupa. Tentu saja, praktik keyakinan semacam itu perlu juga dibaca sebagai teknik permainan berdasarkan metode dan sistem pementasan.

Coba kita cermati batas antara teks itu kembali. Dengan memandang laku dengan keraguan, Sang Aktor sadar akan kehidupan di luar teater yang tragis; ia menganggap Sang Sutradara bukanlah seseorang yang paling tahu tentang peran yang diciptakannya. Bisa kita lihat, Sang Aktor—sang aktor yang bukan lagi dari naskah Iwan Simatupang—telah melihat dari dekat, bahwa panggung adalah kontradiksi. Sementara itu Sang Sutradara kita, dalam keyakinannya yang lurus, ia tak pernah berubah. Tak akan pernah berubah.

Bagian paling ganjil dan menggelikan dalam buku lakon itu adalah dengan menyuguhkan perbincangan kaku, misalnya, dengan mengutip harakiri untuk berserah pada kematian dan disambut dialog lempeng adanya—dan di beberapa titik, pembaca pun jadi terjebak pada keberulangan. Ikatan dialog antar tokoh lebih diperkuat di beberapa tik-tok sebelum naskah usai. Sebagai contoh kata Sang Sutradara: “Pada akhirnya, kau masih belum bisa memaknai kehidupan di atas panggung. Kalau begitu, aku akan mengakhiri pertunjukan ini tanpa tepuk tangan. Selamat malam.” (hal. 20)

Kenapa dialog antar tokoh yang ditulis seakan-akan bersifat problematis? Bisa jadi, melalui buku lakon drama ini, Yusril ingin menjadikan eksistensi sebagai subjek wacana dan secara bersamaan memberikan kesadaran baru tentang bentuk-bentuk kematian. Bagaimana pun juga ada sesuatu yang tidak akan selesai, yang menyebabkan lakonnya tidak utuh: motif yang ditawarkan naskah Bulan Bujur Sangkar sebagai pondasi penciptaan memiliki standar ganda. Meskipun, saya pikir, itu hanya salah satu sebabnya.

Namun, terlepas dari hal itu, para pengkhusyuk sastra-teater, khususnya wilayah Jawa Timur, kini setidaknya telah mengantongi satu nama baru dari kota Surabaya: Yusril Ihza, seorang pemuda yang menulis naskah drama, yang akan menambah variasi bacaan kita di babak baru percaturan dunia sastra-teater.


Rizki Amir lahir di Sidoarjo, 1995. Terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Rahasia Pasar (2017). Terpilih sebagai penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2017. Selain menulis, sebagian waktunya juga digunakan untuk berdagang.

Buku, Resensi

Dokumentasi Sejarah dan yang Direntankan

Oleh Rachman Habib

Kumpulan cerpen Faisal Oddang ini bisa dibaca sebagai dokumentasi sejarah—tapi kalau penyebutan ini berat dan bermasalah, lewati saja. Di dalamnya terentang sejarah Sulawesi Selatan. Terutama periode pasca revolusi kemerdekaan sampai 1965.

Di antara topik pentingnya adalah pemberontakan Negara Islam Indonesia, Permesta, dan pemberontakan komunis. Kehadiran karyanya mengisi ruang kosong khazanah sastra Indonesia yang kerap berpusat di Jawa jika menyangkut topik-topik tersebut.

Selain itu, topik tersebut jarang diangkat oleh penulis Sulawesi Selatan lainnya, di mana kebanyakan berfokus pada kearifan lokal. Bukannya Fai juga tidak menulis kearifan lokal. Dalam buku ini terdapat beberapa, misalnya Di Tubuh Tarra, Dalam Rahim Pohon (cerpen terbaik Kompas 2014), Sebelum Berangkat Ke Surga, dan Yang Terbaring Di Rumah Arung, Pagi Itu.

Rentang sejarah dalam karya ini menunjuk pada Indonesia saat dalam keadaan darurat. Kata Agamben, negara dalam kondisi darurat bisa menunda hukum. Agamben menyebut status negara tersebut sebagai “kondisi pengecualian” (state of exception). Negara selalu dapat menetapkan hukum dan bediri di luarnya atas nama kedaruratan, seperti demi stabilitas nasional. Dalam kondisi ini negara memiliki kekuasaan “luar biasa” untuk mengeluarkan warganya menjadi berstatus bukan warga, sehingga mereka bersifat—meminjam istilah Arendt—stateless person. Dengan begitu warga tersebut bisa dengan mudah dikucilkan, dibunuh, dan hak-hak dasarnya sebagai warga dirampas (Robet dan Tobi 2014: 168).

Warga yang dieksklusi ini disebut sebagai Homo Sacer. Subjek yang tidak diakui, boleh dibunuh dan yang membunuhnya tidak mendapat hukuman. Negara modern, tidak pernah absen dalam memproduksi Homo Sacer. Indonesia pun begitu. Dalam buku ini, Anda dapat menjumpai para Homo Sacer.

Pada cerpen Jangan Tanya Tentang Mereka yang Memotong Lidahku Anda akan menjumpai kisah para Bissu yang dibersihkan pada 1965 dalam operasi militer. Pendeta transgender dalam tradisi pra-Islam di Bugis ini dituduh mengkhianati Tuhan serta dianggap bagian dari kaum merah (sebutan untuk komunis). Para Bissu diburu dan dibunuhi dengan cara-cara keji. Satu di antaranya ada yang diikat dan ditenggelamkan di danau, juga ada yang dipotong lidahnya dan dijadikan tahanan politik.

Konon, sekarang jumlah Bissu tinggal sedikit. Berkurangnya Bissu disebabkan pembersihan pada 1965, juga pada pemberontakanNegara Islam Indonesia (DI/TII) tahun 1953.

Kasus yang sama terjadi pada penganut kepercayaan Tolotang dalam cerpen Orang-Orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu. Orang-orang Tolotang yang menyembah Dewata Sewwae ini oleh tentara dipaksa meninggalkan kepercayaan mereka untuk menganut agama resmi dan mencantumkannya di KTP. Seorang tentara mengancam pada pimpinan orang Tolotang : ”Uwak harus memilih, atau hak sebagai warga negara tidak kalian dapatkan, bisa saja diusir, bisa saja ada yang bertindak di luar kendali. Uwak sudah tahu sendiri, bukan, apa yang akan terjadi?” (Hal—25).

Mereka akhirnya memang menerima perubahan agama di KTP meski harus menerabas dilema menyakitkan. Andai mereka menolak, barangkali terjadilah apa yang diancamkan tentara itu kepada mereka: hak sebagai warga negara tidak didapatkan.

Perlakuan serupa, yang mengancam hak mendasar sebagai manusia sekaligus warga negara, juga menimpa mantan gerilyawan kemerdekaan atau komunitas muslim sipil lantaran dicurigai terlibat dalam pemberontakan DI/TII. Di bawah keadaan darurat operasi menundukkan pemberontakan, warga sipil kerap berada di posisi rawan. Karena sewaktu-waktu, dan memang begitu adanya, mereka juga menjadi sasaran hanya disebabkan kecurigaan tak berdasar.

Cerita tentang mereka yang rawan tersebut dapat Anda jumpai dalam cerpen Mengapa Mereka Berdoa Kepada Pohon?, Peluru Siapa Yang Kami Temukan Ini?, Di Sana, Lima Puluh Tahun Yang Lalu, dan Siapa Suruh Sekolah Di Hari Minggu?.

Tidak hanya menjadi objek kekerasan negara, tetapi juga objek kekerasan sesama warga ketika kekerasan terpolarisasi secara horizontal. Jadi bisalah dikatakan bahwa dalam kondisi kedaruratan negara memproduksi subjek-subjek rentan. Di mana tidak ada kepastian keamanan dan perlindungan terhadap hak-haknya terhindar dari kekerasan.

Dan selanjutnya, belajar dari sejarah, kita lihat bahwa tak satu pun dari pelaku pembunuhan atau pelanggaran hak asasi manusia memeroleh hukuman. Alih-alih, pelakunya justru melenggang bebas. Persis di titik begini Agamben menjelaskan bahwa “kondisi kedaruratan” (state of exception) menyediakan kondisi alamiah atas adanya kekebalan hukum terhadap pelaku kekerasan. Termasuk ketika pelakunya adalah negara sendiri (Robet dan Tobi 2014: 175).

Gaya Bercerita

Lain daripada itu ada sedikit catatan. Sebagai dokumentasi sejarah, buku ini memang terbilang berhasil. Sementara perihal gaya bercerita lain soal. Gaya bercerita keseluruhan cerpen di buku ini nyaris seragam. Barangkali sebab dua pokok. Pertama, Fai kerap mempekerjakan kisah cinta untuk membangun tangga dramatik atau untuk memberi kejutan. Pola yang diulang di beberapa cerpen membuatnya kehilangan daya gigit. Kedua, hampir di semua cerpen tidak muncul karakter yang hidup kecuali digerakkan oleh suara pencerita. Bila pun ada, karakter tersebut kalah ketimbang narasi liris kalimat-kalimat pengarang.

Namun, apa pun catatannya, buku ini menunjukkan bahwa Fai telah berupaya melihat dan menghadirkan narasi sejarah—mengutip esainya, “dengan cara berpikir sebaliknya. Dengan lugu, dengan kembali dan meminjam cara pikir kanak-kanak.”[]


Rachman Habib, mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, dan aktif di Teater ESKA Yogyakarta.

Buku, Resensi

Kuasa Seksualitas Kita

oleh Vera Safitri

Bagaimanapun, peradaban manusia diciptakan oleh seksualitas kita yang rumit. Seksualitas menciptakan bahasa, hubungan kekerabatan, penguasaan alat dan teknologi, norma, hukum, politik, struktur, hingga sistem ekonomi masyarakat kita.

Bisa jadi, kita akan berdiri dengan tegak kepala saat menghadapi argumen bahwa manusia terlahir dengan seperangkat kebebasan dan kesetaraan. Bahwa peran gender serta posisi perempuan dan laki-laki sekadar hasil konstruksi sosial saja. Sebuah hal yang diimani banyak masyarakat industrial modern, serta menjadi penguat banyak gagasan yang melindungi sekaligus mengacaukan gaya bermanusia kita lewat cetusan Hak Asasi Manusia.

Tapi bagaimana kalau sebaliknya? Bagaimana kalau kebebasan dan kesetaraan yang agung itulah hasil konstruksi besar-besaran kita? Dan peran gender serta posisi perempuan memang terjadi oleh rentetan persoalan seksualitas-reproduksi yang biologis dan masuk akal? Kita pasti lemas dan terbelalak, bahkan sampai marah.

Jared Diamond, sekali lagi merepotkan dirinya sendiri dengan berusaha menjawab pelbagai keganjilan kemanusiaan kita soal seksualitas dan reproduksi itu. Lewat bukunya, Why Sex is Fun: Evolution of Human Reproduction yang dalam edisi Bahasa Indonesia terbitan KPG dijuduli,  Evolusi Reproduksi Manusia (2019). Kita patut curiga, perubahan judul yang dilakukan KPG ini adalah demi menghalau imaji pembaca yang mengira buku ini sebagai buku panduan seks. Jared sendiri pun telah mewanti-wanti hal ini lewat kata pengantar yang ditulisnya.

“Buku ini tidak akan mengajari anda posisi-posisi baru untuk menikmati hubungan seks atau membantu anda mengurangi rasa tidak nyaman akibat kram ketika menstruasi atau menopause. Membaca buku ini juga tidak akan mengobati sakit hati akibat mengetahui pasangan anda berselingkuh. Tapi buku ini mungkin dapat membantu anda untuk mengerti, mengapa tubuh anda bertingkah laku sebagaimana sekarang” (hlm. xi).

Dengan begitu, tinggallah sisa judul serius, yang megah dan membosankan. Itu sama seriusnya dengan keteguhan Jared menggunakan pendekatan biologis-antropologis pada buku-bukunya, termasuk pada bukunya kali ini.  Melalui Evolusi Reproduksi Manusia,  Jared menjelentrehkan betapa sistem masyarakat manusia di bumi ini sangat berurusan dengan kesenjangan biologis dan penalaran fisiologis yang bukan hanya merobek-robek skripsiku seputar gender dan perempuan, tapi juga mengusik kedamaian dan heroisme feminis yang tegar sentosa berdiri di tengah-tengah kita sejak lama.

Di telinga kita yang modern, kita tentu tidak ingin mendengar tuduhan Jared bahwa, secara evolusioner, laki-laki dan perempuan tidak banyak berkembang mengenai pembagian kerja: “Laki-laki selalu lebih menghabiskan waktu memburu hewan-hewan besar, sementara perempuan mengumpulkan makanan berupa tumbuhan dan hewan kecil, serta mengurus anak. Pembagian kerja serupa bertahan dalam masyarakat industrial modern” (hlm 131). Karena kedua pernyataan Jared itu justru lebih terdengar seperti, kalau alasan biologis yang selama ini tidak kita percayai, nyata berkuasa dalam banyak segi sosial kita dan bahwa kromosom x dan y yang kita miliki diam-diam membangun maskulinitas-feminitasnya yang menyebalkan.

Jared Diamond bukanlah satu-satunya tersangka atas gonjang-ganjing ini, kita ingat ada Yuval Noal Harari (Sapiens, 2011) dan Ivan Illich (Matinya Gender, 1998) yang juga mengurusi hal serupa. Yuval Noah Harari malah sempat menyebut manusia memiliki gen patriarkis. Baginya dalam banyak hal, kesenjangan biologis antara laki-laki dan perempuan dengan sengaja telah membentuk sistem yang timpang. Tapi tentu masyarakat modern seperti kita ogah diusik dengan kenyataan seperti itu. Bertahun-tahun kita menyalahkan konstruksi sosial-budaya atas kenyataan pahit yang ditimbulkan patriarki. Beribu penelitian sudah dilakukan demi mengusir keraguan kita soal itu. Kita sekuat tenaga menyangkal bagian-bagian biologis ikut berperan dalam ketimpangan ini. Sehingga segala penjelasan Jared mengenai seksualitas dan reproduksi kita itu menggenapi pertanyaan besar yang sempat dilemparkan Yuval lewat buku Sapiens: “Jika sistem patriarkis didasari oleh mitos-mitos yang tak berdasar biologis, maka apa yang menyebabkan sistem itu menjadi sedemikian universal dan stabil?” (hlm. 190).[]


Vera Safitri Esais dan ilustrator anak, baru saja merampungkan skripsinya sebagai mahasiswi Sosiologi, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Buku, Resensi

Antologi Kenangan dalam Bangun Pagi (semoga) Bahagia

oleh Indah Darmastuti

“Tugas seorang pemimpin adalah:

 membuat rakyatnya bangun pagi bahagia”

Kalimat pembuka itu diletakkan di halaman awal, di bawah foto tiga laki-laki dalam buku lakon bersampul paduan hitam dan krem. Sepertinya Eswe, si Penulis lakon ingin meyakinkan pada siapa pun bahwa kebahagiaan itu penting dan hak setiap umat sehingga ia mencantumkannya sebagai salah satu tugas seorang pemimpin (ideal).

Tetapi dalam 9 naskah plus 1 prolog dengan tokoh tiga pemuda: Bas, Bob, dan Frank itu lebih banyak mengobrolkan tentang kesedihan juga kenangan-kenangan pahit, bahkan luka yang diproduksi dalam keluarga yang semestinya menjadi salah satu sumber utama kebahagiaan sebelum para tokoh itu masuk pada kancah masyarakat dan bagian dari sebuah bangsa yang bergolak pada 1997-1998 semasa mereka remaja. Mereka seumuran dan berkawan dekat.

Buruknya Hubungan Keluarga

Tiga tokoh itu punya akar kepahitan yang ditanam oleh orangtua yang buruk menurut ukuran pada umumnya. Tokoh Bas bermasalah dengan ibunya. Entah ada persoalan apa sehingga  ibu mengutuk anaknya sedemikian rupa. “Pergi dari rumah ini! jadilah gelandangan […]” dan “Matilah seperti bangkai tikus, tak ada yang akan menangisimu […]” (hal. 35 dan 36).

Pun pada tokoh Frank yang bertengkar dengan ayahnya. “Frank, kamu bukan anakku, kamu anak kelelawar malam yang tersesat menghamili ibumu.” Pada puncak pertengkaran itu, tiba-tiba ayah Frank bertanya “Apa cita-citamu, Nak?” / “Seniman teater,” dan seperti ayah yang buruk, ia langsung menghakimi anaknya dengan mengatakan bahwa masa depan Frank buram seperti kertas dan ayahnya bilang: “Lebih baik kamu mati sekarang, Frank.” (hal 38-39).

Bob tak jauh beda. Ia mendapat pesan dari neneknya sesaat sebelum meninggal: “Jadilah jahat sebelum orang lain mengajarimu kejahatan, sebab kejahatan yang orisinil datang dari hati nuranimu. Kejahatanmu akan lebih berkwalitas dari seorang kriminal atau koruptor. Sekalipun persoalan keluarga semacam itu ada, aku membayangkan betapa berat untuk meraih kebahagiaan itu, apalagi kalau itu menjadi salah satu tugas seorang yang memimpin.

Saya mencurigai, ada apa dengan Eswe sehingga memilih menghadirkan orang tua (ibu, ayah, nenek) yang buruk menurut pandangan umum. Saya katakan begitu, karena siapa tahu itu baik menurut beberapa kalangan karena satu dan lain hal.

Penyebutan tokoh-tokoh terkenal

Memang tak selalu naskah lakon ada kandungan alur cerita, plot, konflik dan tematik khusus yang mengarah pada sebuah titik seperti novel. Seperti dalam buku lakon ini, kita bisa menyimak obrolan tiga bersahabat tentang apa saja sebelum akhirnya mereka dibawa ke persoalan yang akan diangkat oleh Eswe: Reformasi. Tetapi perihal peristiwa 1998 itu hanya satu bagian saja, selebihnya tetap mengangkat obrolan-obrolan anak muda pada zamannya. 

Salah satu tema obrolan tiga tokoh itu selain tentang cita-cita, mereka mengungkap tokoh-tokoh yang mereka kagumi. Bas yang disumpahi ibunya itu mempunyai tokoh idola: Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Christina Marta Tiahahu, R.A. Kartini, Laksamana Malahayati, Bunda Theresa, Panglima Polim dan Nabi Muhammad SAW. Kecuali Kanjeng Nabi Muhamaad dan Panglima Polim, tokoh yang dikagumi Bas semuanya Pe..rem..pu..an. Benarkah tak ada konflik psikologi tokoh Bas pada makhluk perempuan dan sosok ibu? Di sini tak ada penjelasan tentang mengapa ia yang mempunyai hubungan buruk dengan ibu, sangat mengagumi tokoh-tokoh perempuan. Atau barangkali Bas merindukan sosok ibu yang baik dan penuh kasih sehingga ia mengambil tokoh idola perempuan?

Frank—si anak kelelawar itu mengagumi Sukarno, Hatta, Syahrir dan Helen Keller. Sekali lagi, selain Helen Keller, tokoh yang dikagumi Frank adalah la..ki..la..ki.. tak ada trauma atau gejolak psikologi pada tokoh Frank. Entah mengapa tokoh Frank itu mengagumi Helen Keller yang difabel netra-rungu-wicara. Barangkali karena Helen Keller juga pengamat politik. Tetapi di sini tetap tak ada penjelasan, mengapa tokoh Frank yang mempunyai hubungan buruk dengan ayahnya itu justru mengagumi sosok laki-laki atau Frank merindukan sosok ayah yang mendukung dan mengayominya sehingga ia mengidolakan tokoh laki-laki.    

Lalu, Bob yang mendapat pesan dari nenek ajar menjadi penjahat berkualitas itu mengagumi Suharto dan Tan malaka dengan alasan: Tan pemikir komunis, sedang Suharto berhasil mengkomuniskan banyak orang. Satir yang pas. Di sini tampak sekali salah satu kekuatan Eswe untuk melontarkan kritik pada sebuah peristiwa dengan cara berada di antara dua kutub yang berlawanan.

Lagu Daerah

Dituliskan dalam teks, peristiwa berkumpulnya tokoh Bas, Bob dan Frank adalah 1997-1998 ketika Penataran P4 menjadi agenda wajib diikuti oleh setiap remaja garapan “pabrik” orde baru untuk setiap warga negara yang mengaku nasionalis dan berpancasila. Yang salah satu mata pelajarannya adalah mengenal lagu-lagu daerah: O Ina Ni Keke, Gambang Suling, Soleram, Apuse.

Mereka tak menyanyikan lagu pop atau dangdut yang mungkin bisa dipakai untuk menandai lagu-lagu apa saja yang hit pada masa itu. Tetapi ada tambahan daftar lagi mereka di luar lagu daerah, yaitu: Darah Juang karya John Tobing, lagu tema perjuangan menumbangkan tiran kala itu

Peristiwa serius yang terjadi di negeri ini disampaikan dengan jenaka, dan tak lupa Eswe menyatir apa yang terjadi setelah reformasi: setelah berjuang menggulingkan tiran kakak-kakak mahasiswa yang kala itu melakukan protes akan menangguk keuntungan dengan mendapat bagian kursi-kursi senayan.

Cerita lain yang disentil oleh Eswe adalah tokoh Bob (pengagum Suharto garis keras) Frank dan Bas yang mendukung reformasi tetapi tetap mementingkan persahabatan. Belum ada Facebook memang, tetapi sangat mungkin mereka tidak saling blokir karena di sini mereka bertiga tetap bersatu jualan ikat kepala bertuliskan reformasi. Eswe menangkap ada peristiwa nyempil di sini, bukan menampilkan tokoh sok hero yang berorasi bak politisi karbitan.

Buku naskah panggung ini, mencoba hadir memenuhi takdirnya bahwa pementasan, betapa pun  serius dan berat tema yang diangkat, upaya untuk menghibur dan kelayakan ditonton tetap harus dipikirkan matang. 

Naskah ini ditutup dengan obrolan mereka bertiga tentang evaluasi hidup mereka. Mengevaluasi cita-cita yang selama ini sempat mereka genggam sebagai remaja produk orde baru plus keluarga hancur.

Bob yang semula bercita-cita mati muda, berubah ingin menjadi penjagal sapi. Frank yang semula ingin menjadi seniman teater, beralih keinginan menjadi peternak ikan dan membuka usaha odong-odong. Yang paling pilu adalah Bas, karena kuncinya ada di sini, ketika Frank bertanya “Apa cita-citamu, Bas?”

“Aku hanya ingin bangun tidur bahagia, Frank.” [hal 98]

Pada akhirnya kebahagiaan itu harus dicari sendiri, dikaisnya dari sisa-sisa umur dan paparan persahabatan atau apa pun yang akan terjadi dalam hidupnya. Siapa pun berhak bahagia, termasuk ia yang pernah dikutuk ibunya.  []


Indah Darmastuti, tinggal di Solo. Anggota komunitas Sastra Pawon-Solo. Pendiri Difalitera situs sastra suara untuk difabel netra. yang bisa diakses dan diunduh secara gratis di http://www.difalitera.org atau bisa diakses di spotify.