Buku, Resensi

Tagore di Zaman Ramai

Oleh Bandung Mawardi

Rabindranath Tagore (1861-1941), pujangga besar asal India, dikagumi bangsawan dan intelektual Jawa. Kagum atas puisi-puisi dan tata cara mengadakan pendidikan-pengajaran. Bentuk kagum diwujudkan dalam penerjemahan puisi dan ulasan pelbagai gagasan pendidikan dalam bahasa Belanda dan Jawa. Dua orang penting di pemuliaan Tagore adalah Noto Soeroto dan Soerjo Soeparto (Mangkunegara VII). Dua intelektual itu menekuni tulisan-tulisan Tagore saat menempuh studi di Belanda.

Soerjo Soeparto dianggap penerjemah awal puisi-puisi Tagore ke bahasa Jawa. Ia mungkin merasa ada ikatan batin imajinasi Tagore dengan batin kejawaan. Sejak ribuan tahun, Jawa turut dibentuk dengan kucuran imajinasi asal India. Pada abad XX, kemunculan Tagore sebagai peraih Nobel Sastra 1913 mengundang minat intelektual Jawa untuk memasuki jagat sastra memiliki tautan India-Jawa. Noto Soeroto tampil sebagai penerjemah Tagore ke bahasa Belanda. Bangsawan pernah berkancah di politik tapi “tersingkirkan” oleh kaum nasionalis itu malah rajin pula menggubah puisi dan artikel terpengaruh Tagore. Buku-buku bereferensi Tagore diterbitkan di Belanda, sempat beredar di Hindia-Belanda (Harry A Poeze, Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950, 2008).

Pikat ke sastra Tagore terjadi pula di Hindia-Belanda. Muhammad Yamin dan Amir Hamzah ada di muka dalam penerjemahan dan pengenalan Tagore ke umat sastra di Indonesia masa 1920-an dan 1930-an. Sekian terjemahan terbaca dan menebar pengaruh dalam sastra, pendidikan, dan religiositas. Tagore tak terasa asing. Pada masa 1920-an pula, Tagore berkunjung ke Jawa: Mangkunegaran dan Perguruan Nasional Taman Siswa. Pesona sastra Tagore semakin membesar dengan edisi-edisi terjemahan oleh Amal Hamzah, Anas Ma’ruf, dan Hartojo Andangdjaja. Tagore seperti bertanah-air di Indonesia, ada di arus perkembangan sastra modern bercap estetika Timur.

Dua buku terjemahan sering diulas di Indonesia adalah Gintanjali dan Tukang Kebun. Pada masa lalu, Gitanjali diterjemahkan oleh Amal Hamzah. Edisi itu menjadi klasik tapi agak sulit terbaca bagi orang-orang sudah berbahasa Indonesia dengan EYD (1972). Pada 1976, Hartojo Andangdjaja melalui edisi bahasa Inggris memberi terjemahan Tukang Kebun. Pada akhir 2018, buku itu terbit lagi. Kita membaca (lagi) saat Indonesia terlalu ramai oleh politik dan agama. Di lembaran-lembaran sastra gubahan Tagore kita diajak menepi: menjalani renungan dan menempuhi bahasa estetis menampik politis.

“Apakah arti Tagore pada kita?” Kalimat itu ditulis Hartojo Andangdjaja berlatar abad XX. Kini, kita bias mengimbuhi dengan situasi abad XXI: “Apa suara Tagore terdengar jauh?” Pikat sastra Timur perlahan pudar, setelah umat pembaca di Indonesia cenderung terkesima ke pelbagai terjemahan sastra asal Amerika Serikat, Amerika Latin, Prancis, dan Jerman. Panggilan ke Timur masih terasa dengan sekian terjemahan sastra asal Jepang dan Tiongkok. Buku-buku asal India masih diterjemahkan tapi seperti meninggalkan Tagore di masa lalu. Di mata Hartojo Andangdjaja, persembahan sastra Tagore itu terlalu berarti, memerlukan puluhan paragraf.

Jawaban berbeda diberikan Goenawan Mohamad: “Memang di atas segalanya, Tagore adalah seniman. Kebebasan, kreativitas, kehidupan rohani: semua itu hal yang tak bias ditawar dari dirinya. Dari sinilah hidup dihayati sebagai keindahan dan kegembiraan yang tak kunjung putus, yang dikaruniakan Pencipta pada kita.” Pujian dituliskan pada 1968, masih di gelagat kesusastraan religius di abad XX. Pada masa berbeda, kesan atas Tagore itu menggenapi pengakuan mutu terjemahan Hartojo Andangdjaja. Kita beruntung mendapat Tukang Kebun, melintasi tahun-tahun untuk renungan di zaman terlalu ramai kata dan pemiskinan imajinasi religius.

Tagore bercerita: “Jika seorang pengembara, meninggalkan rumahnya, datang ke sini untuk berjaga semalam-malaman dan dengan kepala tunduk mendengar-dengarkan hingar kegelapan itu, siapakah akan membisikkan rahasia hidup ke telinganya, jika aku, menutup pintu, mencoba hendak membebaskan diriku dari ikatan fana?” Pengembara, tokoh di pencarian-penemuan hakikat. Ia bergerak tanpa lelah meski jeda dan istirahat pun diperlukan, bukan peristiwa nihil tapi tetap bergelimang makna di keinsafan. Hasrat ke menguak rahasia belum tamat, menanti di kepasrahan.

Kita membaca paragraf itu di keriuhan nasihat-nasihat beredar di media sosia. Beredar tanpa mengajak “pengembaraan” bersuasana “purba”. Tagore masih kita perlukan meski mata-membaca dan mata-renungan telah berganti ke mata-potret di putaran detik terlalu cepat. Rahasia terus disingkap secara serampangan dan kolosal. Kegelapan dimusuhi terang sepanjang hari. Gelap itu musuh di abad XXI, terlarang bagi nafsu kegirangan tak pernah usai. Kini, Tagore mungkin suara dari jauh. Kita mendengar lirih, susah mencari sumber atau mendekati dengan gemetar dan serius.

Pada cerita lain, Tagore mengisahkan: “Dia duduk di debu di bawah pohon. Bentangkan di sana alas duduk dengan bunga-bunga dan daunan, kawan. Matanya duka dan menimbulkan kedukaan dalam hatiku. Dia tidak mengatakan apa yang tersimpan dalam hatinya; dia hanya datang dan pergi.” Bahasa itu memang berasal dari masa lalu, sulit digunakan lagi bagi manusia-manusia biasa mengumbar rahasia ke ribuan orang setiap detik. Rahasia-rahasia puncak tak lagi diinginkan atau dianggap masih penting bagi manusia dan dunia. Diksi debu, pohon, bunga, dan daun milik penekun rahasia cenderung memilih diam ketimbang cerewet sembrono. Pada paragraf itu kita semakin tak mengerti peristiwa dan makna datang-pergi, setelah kecepatan menjadi dalil terpokok abad XXI. Datang-pergi itu rutin tanpa pendasaran ingin dan capaian berpijak religius.

Pada hari-hari peremehan rahasia, adegan membaca Tukang Kebun berisiko keterpencilan pembaca. Tagore milik orang terpencil? “Dan itulah Tagore. Ia telah membukakan kaki langit itu bagi kita,” tulis Hartojo Andangdjaja. Kaki langit dimaksudkan kita bergerak ke arah sumber rahasia. Bergerak dengan lirik-lirik mistis buatan Tagore. Manusia hari ini mungkin tak memerlukan mistis, memihak ke segala hal berselera politis dan bisnis agar merasa sah berada di kaum keramaian sepanjang hari. Mistis cuma milik orang memuja masa silam, masih berjalan di bahasa tak tergesa, dan belum dilanda keberlimpahan rupa-warna.

Tagore mengingatkan kita di akhir persembahan Tukang Kebun, percakapan dekat-jauh: “Siapakah engkau, pembaca, membaca sajakku seabad lama? Tak dapat aku mengirimkan padamu setangkai bunga pun dari kemewahan musim semi ini, segaris kencana dari awan-awan di jauh sana. Bukalah pintumu dan pandanglah ke luar!” Larik awal tak pernah diralat. Kini, kita membaca melebihi seabad laku, berbeda penghitungan waktu dari saat penggubahan sastra oleh Tagore. Semula, kita diperkenalkan dengan Rabindranath Tagore, dekat dan jauh. Di akhir, kita harus menjawab pada Tagore saat masih menempatkan diri sebagai pembaca di zaman ramai mulai kehilangan puisi di bumi-langit. Begitu.   

Bandung Mawardi.
Kuncen Bilik Literasi
Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com

Film, Resensi

Film KTP: Suara dari Kaum Klasik

Oleh: Bima Widiatiaga

Raut muka Darno, petugas dari kantor kecamatan, tampak bingung saat Mbah Karsono menjawab agamanya Kejawen. Di blangko formulir data KTP yang dibawa Darno, tak ada kolom agama Kejawen. Dia pun menawari Mbah Karsono memilih opsi agama yang ada di dalam kolom formulir, yaitu Islam, Kristen, Katolik, atau Konghucu. Mbah Karsono tetap teguh tak mau. Bahkan, hingga dibujuk oleh tetangga, Nunung, Mbah Karsono tetap enggan sambil menunjuk jarinya ke atas dan berucap ‘manunggaling kawula gusti’.

Bukan tanpa maksud Darno rela datang ke gubuk Mbah Karsono dengan menempuh jalan desa yang masih berbentuk rabat beton. Ia ditugaskan untuk mendata Mbah Karsono untuk pembuatan KTP. Adanya KTP sangat penting agar Mbah Karsono mendapatkan Kartu Sehat.

Darno dan Nunung pun bingung, berbeda dengan raut muka Mbah Karsono yang tetap kalem. Nunung pun akhirnya meminta pendapat Pak RT, Pak Karso (Ketua Badan Musyawarah Warga), hingga Mbak Sumirah, Mbokde Narti, Joni, Susi Parabola, dan Mbak Sri Krebo.

Warga pun akhirnya bersepakat bahwa urusan Kartu Sehat, Mbah Karsono tak harus dapat. Alasannya, warga Desa Rojoalas menghormati kepercayaan Kejawen Mbah Karsono. Warga dan Mbah Karsono tak mau karena hanya sekadar benda berbentuk kartu, kepercayaan pun tergadaikan. Sebagai konsekuensinya, warga rela menanggung biaya kesehatan Mbah Karsono bila-bila Mbah Karsono jatuh sakit nantinya.

Itulah ringkasan singkat film pendek berjudul KTP. Film ini disutradarai oleh Bobby Prasetyo dan diproduksi oleh ASA Film. Kisah menarik dan jenaka berselimut kritik tersebut, berbuah Juara I Kategori Umum Festival Video Edukasi (FVE) 2016 yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Ya, film pendek tersebut bila disaksikan dapat mengocok perut penonton. Namun, di balik kisah jenakanya, terbalut sebuah suara kritik. Ada dua kritik di film tersebut, pertama, tentang birokrasi masih belum sepenuhnya memecahkan masalah. Hal ini bisa kita lihat di kenyataan dalam survei birokrasi pelayanan publik dari Lembaga Klimatologi Politik (LKP) di bulan November 2015, satu tahun dari jangka waktu film pendek ini ikut kompetisi. Masih ada sekitar 10,5% responden survei yang beranggapan buruk mengenai birokrasi pelayanan publik. Memang, jumlah tersebut turun dari waktu ke waktu, namun hal ini harus tetap dibenahi oleh pemerintah.

Namun, kritik sebenarnya yang disuarakan oleh film pendek KTP, menurut hemat saya adalah kritik soal kolom agama di KTP. Mbah Karsono gagal dapat KTP karena di kolom agama, tidak dapat opsi agama Kejawen. Opsi agama yang ada hanya enam agama yang katanya merupakan agama yang diakui oleh negara? Benarkah secara hukum formal, negara hanya mengakui enam agama?

Menurut Anick HT, Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), melalui bbc.com/indonesia/, tak satupun undang-undang yang secara tegas menyebut agama-agama yang dianggap resmi dan diakui negara. Menurutnya, satu-satunya peraturan yang menyebutkan nama-nama agama yang dianut rakyat Indonesia hanyalah Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.

Teka-teki tersebut terjawab di penjelasan Pasal 1 Penpres tersebut. Enam agama yang lazim kita dengar sebagai agama yang diakui oleh Pemerintah, menurut penjelasan Pasal 1 menyebutkan “agama-agama yang dipeluk hampir seluruh penduduk Indonesia”, tidak ada penyebutan “agama yang diakui oleh pemerintah”. Dalam penjelasan Pasal 1 tersebut juga dijelaskan bahwa penduduk yang memeluk agama selain enam agama mayoritas di Indonesia, mendapat jaminan penuh seperti yang diberikan oleh Pasal 29 ayat 2 UUD 1945. Artinya, untuk Mbah Karsono dan penduduk lain yang bernasib sama seperti Mbah Karsono juga mendapat jaminan, termasuk jaminan administrasi, yaitu pengisian agama yang dianutnya di kolom agama KTP di luar enam agama mayoritas.

Suara Mbah Karsono di dalam film pendek KTP dan penduduk lain, khususnya penganut penghayat kepercayaan dan agama selain enam agama mayoritas, akhirnya didengar oleh badan yudikatif, yaitu Mahkamah Konstitusi (MK). Tanggal 11 November 2017, menjadi hari bersejarah bagi kaum yamg memperjuangkan hak kesetaraan, khususnya di bidang administrasi penduduk. MK mengabulkan suara mereka, meski di kolom agama di KTP, hanya ditulis “penghayat kepercayaan”, namun itu sudah cukup membuat lega para penganutnya.

Sebelumnya, hanya Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemdikbud), yang mengakui bahkan turut membina kelompok penghayat kepercayaan yang jumlahnya mencapai 187 di seluruh Indonesia. Pun di beberapa tahun terakhir, Kemdikbud memfasilitasi anak-anak penghayat kepercayaan yang bersekolah untuk mendapat fasilitas pengajaran mata pelajaran kepercayaan yang dianut. Sebelumnya, mereka ikut pelajaran agama menurut enam agama mayoritas di Indonesia.

Di akhir resensi atau entah berbentuk opini ini, bagi kita yang menganut enam agama mayoritas hendaknya berkaca lagi. Kita mungkin banyak menuntut hak beribadah, seperti menutup jalan raya atau meminta sekompi pengamanan dari aparat keamanan. Namun, bila kita melihat perjuangan para ‘kaum klasik’ yang hanya meminta hak administrasi saja yang mungkin sepele bagi kita, mereka berjuang sampai ke tingkat meja hijau berlarut-larut. Mereka tak minta lebih, cukup diakui dan dijamin segala hal yang membuat mereka tenang menjalani kehidupan sehari-hari dan beribadah. Setelah pemerintah, kita sebagai kawula alit bisa berkontribusi untuk mereka dengan merangkul mereka sebagai bagian dari rumah besar bernama Indonesia. Dan, lewat film pendek KTP, merupakan contoh cara menyuarakan suara mereka serta mengakui dan mengayomi mereka.


Bima Widiatiaga Alumnus Ilmu Sejarah FIB UNS. Penggiat sejarah musik dan kebudayaan Indonesia. Anggota komunitas sejarah Solo Societeit.

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Buku, Resensi

Menikmati “Sihir” Dea Anugrah

Oleh: Erwin Setia

Dea Anugrah barangkali satu dari sedikit penulis Indonesia yang mampu menulis puisi, cerita pendek, dan esai sama baiknya. Sebelum buku kumpulan esai ini terbit, saya membaca puisi-puisinya dalam Misa Arwah (2015) dan terpikat, saya juga membaca cerpen-cerpennya dalam Bakat Menggonggong (2016) dan terpikat. Kemudian saya membaca esai-esainya dalam Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya (2019) dan terpikat. Seolah-olah penulis muda alumnus Filsafat Universitas Gadjah Mada ini menyisipkan semacam sihir di setiap tulisannya.

Namun kini bukan lagi zaman Firaun dan tulisan-tulisan Dea bukanlah sihir juga bukan tongkat Musa. Sedikit mirip—mengagumkan dan membuat takjub—tapi bukan.

Sekelumit esai dan reportase yang tercantum dalam buku tipis bersampul foto penampakan seperti gudang yang berantakan dengan latar hitam ini, terlihat betul dibuat secara sungguh-sungguh. Himpunan data yang meyakinkan, gaya penulisan subtil dan cakap, pemilihan kata yang selektif, dan bagaimana penulis menyisipkan gagasan-gagasannya soal hidup tanpa tampak menggurui.

Dalam esai “Bersantai di Komering, Kabar Burung dari Pasundan” dan “Billiton Maatschappij dalam Pusaran Sejarah” misalnya. Pada esai pertama yang berisi tentang asal mula pelbagai kata, istilah, dan isu seputar Bahasa Indonesia, penulis tampak serius dan ulet dalam mencari dan mengumpulkan data. Bukan hanya dari buku; kamus, majalah lama, jurnal, puisi, sampai status Facebook pun dijadikan acuan untuk mendukung dan memperkuat tulisan. Sedangkan pada esai kedua yang menyerupai catatan sejarah sangat-ringkas mengenai Belitung, penulis menyuguhkan banyak sekali hasil penelitian, tanggal-tanggal penting, penjelasan-penjelasan bahasa Pinyin, dan sebagainya.

Sementara dalam beberapa esai lain semisal “Terbenam dalam Waktu yang Hilang”, “Para Pembunuh Anak-Anak”, dan “Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya” Dea seperti seorang sufi yang sedang menyamar sebagai peranakan Tionghoa dan menjadikan kata-kata sebagai medium mengajak umat manusia untuk merenung.

Pada tulisan pertama yang berbentuk serupa cerita pendek, penulis mengisahkan perjalanannya ke Pulau Biawak dengan manis. Alih-alih mengeksplor suatu tempat seperti sales menawarkan barang jualannya, penulis menjadikan laut, perahu, dan mercusuar yang terdapat di tempatnya berkunjung sebagai sarana merenungi dan mengenang banyak hal. “Para Pembunuh Anak-Anak” juga menggemakan gagasan yang nyaris serupa namun dalam bentuk berbeda. Pada esai ini penulis memaparkan betul betapa buruk akibat peperangan, terutama bagi kanak-kanak. “Bukan Tuhan yang membunuh anak-anak. Bukan pula nasib atau takdir yang mencincang dan menjadikan mereka makanan anjing. Kitalah yang melakukannya. Hanya kita.” (hlm. 144).

Sedang dalam “Hidup Begitu Indah…” yang sekaligus menjadi judul buku, kegelisahan tampak menjadi ide pokok. Setidaknya itu terlihat dari cara penulis menceritakan tentang kawan lamanya yang berubah menjadi seorang penganut ajaran ekstrem dan menuduhnya “kafir, vulgar, liberal” : “Saya sedih karena merasa dia terlampau mudah membuang apa-apa yang berharga di antara kami. Saya menyesal karena sayalah yang mendorongnya buat melakukan itu.” (hlm. 174) Selain itu, dalam esai yang sama, kegelisahan dan ‘penyesalan’ tampak tergambar sewaktu penulis menarasikan tentang ibu yang tega mengajak anaknya mengebom diri bersama-sama. “Kalau tak putus asa, dia bisa mengingat-ingat perasaan-perasaannya ketika mendengar kata pertama yang diucapkan putrinya; ketika tahu bahwa dirinya mengandung; ketika jatuh cinta buat pertama kali; dan ketika dia, dengan muka berlumuran bedak, bermain lompat tali dengan kawan-kawannya di teras rumah, sementara ibunya berseru-seru dari dalam: ‘Hati-hati, Nak, hati-hati, jangan sampai jatuh!’ dan bersandar pada semua itu, menyadari bahwa hidup begitu indah dan hanya itu yang dia punya.” (hlm.179)

Selain esai-esai bertabur data dan “renungan” yang ditampilkan secara pas dan tidak menjenuhkan, ada pula sejumlah esai yang mengangkat hal-hal sederhana dan tak banyak orang bahas sebagai ide utama. Misalkan saja “Kebebasan dan Keberanian” yang menceritakan tentang satu barbershop di bilangan Jakarta yang mencukur rambut pelanggan sesuai bentuk muka dan kepala, “Ada Apa dengan Pisang” perihal bagaimana perusahaan pisang berkelas dunia bisa mengganggu dan mengacaukan keseimbangan alam, dan “Mengutuk dan Merayakan Masturbasi” yang secara asik menjabarkan soal aktivitas merancap dan serba-serbinya.

Buku ini sebagaimana buku-buku serupa yang ditulis oleh tangan terampil, masih lebih banyak menyimpan sesuatu yang tak sempat saya tulis dan mungkin sadari. Di dalamnya ada lelucon-lelucon, narasi-narasi sedih, dan hal-hal lain yang membuat saya tergelitik untuk menutup tulisan ini dengan kata-kata yang menjadi tajuk buku: Hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya. (*)

Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Litera.co.id, dan Cendana News. Bisa  di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Film, Resensi

A Taxi Driver: Mencari Kim Sa-Bok

Oleh: Agung Setya

Di dunia nyata, Kim Sa-Bok bukan nama yang lazim di Korea Selatan. Sepanjang sisa hidupnya, seorang Jurnalis berkebangsaan Jerman, Jürgen Hinzpeter, mencari sosok pemilik nama itu dan terpaksa mengakhiri hidupnya pada 25 Januari 2016 tanpa pernah menemukannya.

Itulah jurus pamungkas yang disuntikan kepada film A Taxi Driver (2017) yang disutradarai oleh Jang Hoon. Bahwa film memusatkan pada sosok nyata pahlawan tanpa tanda jasa—yang berperan sebagai sopir taksi untuk jurnalis asing seperti disebutkan di atas—tentu bukan tanpa sebab.

Salah satu alasan yang dikemukakan oleh Koresponden New York Times, Choe Sang-Hun, adalah karena selama ini yang selalu dielu-elukan oleh publik adalah Hinzpeter, dan tidak dimungkiri ia memang berjasa bagi perjuangan demokrasi Korsel dengan mengabarkan kondisi Korsel kepada dunia. Namun, seperti selalu ditulis oleh Hinzpeter di beberapa catatannya, ia tidak mungkin berhasil meliput peristiwa berdarah di Gwangju (Kwangju), Korsel, pada Mei 1980 tanpa bantuan seorang sopir taksi. Dan inilah saatnya pahlawan sebenarnya mendapat tempat di hati rakyat Korsel.

Menguji Prioritas

Dalam cerita film, Kim Sa-Bok (Song Kang-Ho) adalah pribadi yang pantang menyerah, teguh pendirian, dan lugu. Berkat pengalamannya menjadi sopir truk di Arab Saudi beberapa tahun sebelumnya, ia punya kemampuan berbahasa inggris yang cukup baik. Dengan begitu tanpa kesulitan ia bisa berkomunikasi dengan Peter—nama yang merujuk kepada Hinzpeter—yang diperankan oleh aktor Jerman Thomas Kretschmann, selama perjalanannya dari Seoul ke Gwangju.

Jika pada kenyataannya—seperti ditulis oleh Choe Sang-Hun—Kim diminta oleh kenalan Hinzpeter di Seoul untuk mengantarnya ke Gwangju, sementara dalam plot film, Kim berjuang untuk mendapatkan upah sebesar 100.000 Won dari tugas mengantar jurnalis asing tersebut. Meski begitu, ia melakukannya karena tuntutan ekonomi dan untuk anak perempuan semata wayangnya Eun Jeong (Yoo Eun-Mi) yang berusia 11 tahun.

Bagian konflik film memuncak saat ia harus memutuskan apakah harus selalu menemani penumpangnya selama bertugas meliput kerusuhan di Gwangju atau harus pulang menemui anaknya yang tinggal sendirian. Prioritas dan kecintaannya pada keluarga diuji.

Gwangju 1980 dan Jakarta 1998

Ada konteks kemiripan antara peristiwa Gwangju Mei 1980 dan Demonstrasi Mei 1998 di Jakarta, yaitu sama-sama melibatkan mahasiswa untuk menurunkan diktator-militeristik. Meski demikian, jika harus membandingkan antar film, penulis secara subjektif akan membandingkannya dengan salah satu film bertema Mei 1998 di Indonesia, yakni Di Balik 98 (2015).

Meski banyak pro dan kontra terkait film Di Balik 98, pembandingan ini untuk melihat visualisasi dan plot film yang mengangkat perjuangan mahasiswa untuk mendelegitimasi rezim yang saat itu berkuasa.

Di Balik 98, mahasiswa merupakan tokoh dan arus utama yang membawa plot film. Sedangkan pada A Taxi Driver, mahasiwa adalah hal di luar Kim Sa-Bok yang wajib ia masuki dan ia bela agar film bisa berjalan sesuai alurnya. Jika Di Balik 98 memunculkan banyak konflik yang nantinya berpilin jadi akhir yang manis, tapi di A Taxi Driver cukup dengan perjuangan Kim Sa-Bok, maka seluruh perjuangan mahasiswa itu akan bisa tuntas.

Dalam A Taxi Driver, Kim Sa-Bok adalah kaum marjinal di negaranya. Sementara Di Balik 98 juga memunculkan narasi kaum marjinal pada ayah dan anak berpakaian lusuh yang sehari-hari berkeliling Jakarta membawa gerobak. Bedanya, kehidupan Kim Sa-Bok dinarasikan getir namun ia bisa membuat kehidupannya riang gembira. Itu persis ciri khas humor dari film-film Korea. Sedangkan sosok ayah dan anak di film Di Balik 98, seakan dipaksa muncul dengan ironi-ironi yang ada. Namun, tanpa kesan kuat humanisme dan hanya mengeskpos kemelaratan.

Jika menonton Di Balik 98, penonton diguncang perasaan sedih dan marah atas perjuangan Diana (Chelsea Islan) dan Daniel (Boy William), sementara dalam A Taxi Driver, kita diajak untuk asyik mengikuti petualangan Kim Sa-Bok dalam misinya untuk setia mengantarkan penumpang. Tak hanya itu, ada rasa optimisme bahwa perjuangan kelompok mahasiswa tidak hanya mengesankan luapan kemarahan, tapi juga keyakinan bahwa itulah jalan yang benar sedari awal.

Adegan-adegan aparat militer menembaki mahasiswa ditampilkan secara jelas di film A Taxi Driver. Ratusan mahasiswa tanpa ampun menjadi korban peluru tajam. Dan Kim Sa-Bok akhirnya mengambil peran juga untuk membantu mahasiswa meskipun tampak aneh dan agak lucu. Barangkali di kejadian sebenarnya penembakan mahasiswa tentu amat menyeramkan, dan tindakan yang dilakukan oleh Kim Sa-Bok dalam cerita film digambarkan menjadi berani tanpa memedulikan keselamatan dirinya seakan-akan adegan epos di film-film superhero. Penggambaran yang sama juga terjadi di aksi balap-balapan di penghujung film. Meski begitu, tanpa adegan tersebut, Kim Sa-Bok justru akan menjadi figuran, kalah bersaing dengan Peter.

Hal berbeda ada pada film Di Balik 98 yang tidak terlalu menonjolkan adegan kekerasan fisik. Ia hanya membidik psikologi para tokoh dalam keruwetan masalah masing-masing. Di satu sisi itu jadi nilai tambah, tapi di sisi lain ada momen yang tidak bisa didapat seperti di film A Taxi Driver. Bisa jadi ada pertimbangan lain, tapi sangat disayangkan.

Kim Sa-Bok menghilang

Kembali kepada judul di atas, mencari sosok nyata Kim Sa-Bok bukan hal mudah. Desas-desus bermunculan pasca tragedi Gwangju 1980 dan informasi kasat mata yang diberitakan ke seluruh penjuru dunia. Ada yang mengatakan bahwa ia meninggal empat tahun setelah peristiwa itu karena sakit, ada pula yang menyatakan ia sengaja menyembunyikan diri. Terbukti dengan namanya yang aneh dan tampaknya hanya nama palsu.

Bagaimanapun, sosok Kim Sa-Bok jelas ada, dan ialah pahlawan yang sesungguhnya. Dengan tindakannya yang ada dalam versi fiksi di film A Taxi Driver, masyarakat Korea Selatan mengaku mulai mengaguminya. Bukan saja karena ia ada di balik terpukulnya rezim diktator Chun Doo-Hwan, tapi juga nilai-nilai kepribadian seperti diwartakan Hinzpeter bahwa ia jujur, setia, cerdik, pantang menyerah, dan pemberani.

Karakter positif yang tercermin dalam diri Kim Sa-Bok bisa dicontoh oleh banyak pengemudi taksi. Di kala beberapa pengemudi taksi—termasuk pengemudi kendaraan umum lainnya—banyak disorot atas kinerjanya terhadap pelayanan penumpang, Kim Sa-Bok mengajarkan bagaimana menjadi sopir taksi. Tentu bukan keberanian menerobos penjagaan aparat militer, tapi bagaimana kejujuran, kesetiaan, ramah, dan yang terpenting mengantarkan penumpang sampai kepada tujuannya.

Itulah mengapa kita pun bisa ikut mencari “Kim Sa-Bok”.

Agung Setya lahir di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah pada tahun 1992. Ia aktif menulis puisi dan cerpen. Buku puisinya Membaca Mata (2016) dan kumpulan cerpennya Menjelang Dingin (2018).


Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Buku, Resensi

Kisah Cinta yang Melulu Indah Itu Kata Siapa?

Oleh: Mutia Senja

 “Bu, maafkan Nur. Kumohon, maafkan Nur. Hari ini Nur umur dua puluh delapan, tapi Nur nggak bisa menikah sekarang,” ujar Nursri dengan bibir bergetar sambil memeluk ibunya (hal. 90). Nursri; tokoh utama dalam cerpen Amanatia yang dijadikan judul buku ini; Waktu untuk Tidak Menikah—menjadi menarik di mata para pembaca. Khususnya di kalangan kaum muda yang dilema dengan pertanyaan: kapan nikah?

Berharap mendapatkan semacam solusi dari kebimbangan “untuk tidak menikah” mendadak terbesit ketika: mendapati pengalaman orang-orang yang justru kesulitan menghadapi rumah tangga, penghasilan yang belum dikatakan cukup untuk membangun sebuah keluarga, status jomlo yang memunculkan kebingungan akan menikah dengan siapa, atau persoalan hati karena gagal move on dengan mantan—sedangkan mantan lebih dulu berumah tangga dengan orang lain dan tidak mungkin membujuk untuk diajak balikan. Semoga Tuhan memberkati kalian!

Seluk beluk percintaan yang “rumit” dikumpulkan Amanatia dalam empat belas judul cerpennya yang dirangkum dalam blurb buku ini: di belahan bumi lain, ada yang tersungkur patah hati ditinggal kekasih. Ada yang kehilangan banyak hal dalam waktu yang berdekatan. Ada yang memilih hidup sendirian bersama dua kucing liar. Ada yang tiba-tiba ingin menghubungi mantan kekasihnya. Ada yang mencintai diam-diam dan berakhir ditolak mentah-mentah. Ada yang tak siap berpisah, sekali pun sudah menabung kesiapan itu jauh-jauh hari. Ada yang selalu mencintai tapi tak pernah bisa menerima, hingga persoalan ada yang menikah, lalu ingin berpisah.

Pada Jarak yang Memisahkan Kami—pun, saling mencintai benar-benar tidak sederhana, kau percaya? (hal. 100). Justru permasalahan hubungan jarak jauh (long distance relationship), rentang usia terlampaui jauh, juga gelar dan status sosial tidak mungkin sesederhana saling mencintai lalu ingin menghidupi. Itu sebabnya, penulis kelahiran Malang ini menuliskan: kadang-kadang, memang selalu ada waktu untuk tidak berkasih. Untuk tidak bercinta, untuk tidak menikah. Lagi pula, kisah cinta yang melulu indah itu kata siapa?

Pernyataan tersebut membuat Amanatia menciptakan tokoh seorang mahasiswi dengan pembicara seminar super sibuk di bagian 8: tak ada dari kami berdua yang menyangka bahwa pada akhirnya kami saling jatuh cinta dan memiliki hubungan yang sulit didefinisikan. Di usiaku yang berjarak sembilan tahun lebih muda darinya, aku benar-benar tak habis pikir mengapa ia bisa jatuh cinta padaku (hal. 96). Pada akhirnya, tokoh si perempuan dalam cerita ini mengungkapkan kegelisahannya: belum 24 jam ditinggalkan, sudah menangis lagi. Aku hanya menatap layar dan tak menyentuhnya. Berharap ia membalas dan mengabarkan bahwa ia baik-baik saja di sana, tapi ia tak membalas. Mungkin sibuk. Mungkin pula enggan (hal.102).

Lebih menyesakkan lagi, ketika disuguhkan ceritanya bertajuk Baru Menjadi Ibu—sebagai pemilik rahim, perempuanlah yang pada akhirnya menanggung kepuasaan birahi (entah dari salah satu atau kedua belah pihak). Maka tak heran jika W. Sanavero menuliskan kegelisahannya dalam Perempuan yang Memesan Takdir. Prosa yang menyingkap sisi lain perempuan perihal mamaknai cinta, kenangan, keluarga, budaya, pernikahan, bahkan hubungan manusia dengan Tuhan—meskipun cara pandang perempuan tetaplah berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Berbeda kisah dengan pemikiran laki-laki. Saya teringat Kisah Sedih Kontemporer (IX) dalam Kumcer Bakat Menggonggong, Dea Anugrah menyiratkan kesedihan perihal cinta yang “lucu” sehingga patut ditertawakan dengan “gonggongan” atau umpatan kecil saat Shalani Nafasha setelah dua tahun mengirimkan pesan tersirat bahwa ia telah memiliki momongan kepada Fredrik—pria yang mengaguminya. Berbeda konteks dengan Kurniawan Gunadi perihal cinta diam-diam kepada seseorang yang ia cintai hingga dituliskannya dalam sekumpulan cerita Lautan Langit. Baginya, menikahi dan mengarungi lautan kehidupan bersama adalah solusi tepat untuk mengimplementasikan rasa cinta.

Lalu apa yang terlintas ketika membaca judul buku ini? Apakah dengan meghindari kerumitan tersebut kita hanya mampu memilih untuk tidak menikah? Lalu dengan memilih untuk tidak menikah kita akan terlepas dari belenggu masalah? Lalu bagaimana menjalani kehidupan sebagaimana Nursri, menjelang hari pernikahannya yang tinggal beberapa jam harus dihadapkan dengan persoalan yang membuat pikirannya kacau. Perempuan itu, akhirnya memilih hidup dengan anak semata wayangnya di Timalayah tanpa harus menikah. Kini baginya, tidak ada yang lebih penting dari mengurus anak satu-satunya—tanpa perlu lagi menghadirkan sosok lelaki dalam kehidupannya.

Membaca buku Amanatia Junda, saya mengimani bahwa yang terjadi di masyarakat perihal cinta, rumah tangga, atau hubungan sosial tidak semudah menikmati cerita di negeri dongeng. Di Lantai Tiga Beringharjo, misalnya. Kita akan mendapati penulis dengan cerdik menceritakan beragam karakter yang barangkali kita temui di kehidupan para pedagang. Menceritakan seorang janda yang memilih tinggal sendiri setelah ditinggal pergi suaminya ke luar negeri. Kisah perempuan yang sarat dengan kesedihan—seumpama baginya, hidup dengan hewan peliharaan lebih menyenangkan dibandingkan menjalani hidup yang baru bersama pasangan baru, pun dengan persoalan yang baru pula.

Tidak hanya itu, penulis mengikhtiarkan pemahamannya bahwa laki-laki harus paham seluk-beluk perempuan. Maka dengan tegas pun lugas, pengarang menciptakan sebuah cerita Perkara di Kedai Serba-Serbi. Tidak tanggung-tanggung, Amanatia menuliskan secara gamblang lewat sosok Dina; perempuan yang terpaksa menceritakan kesialan di hadapan kekasihnya. Bagi saya, ini merupakan bagian rumit bagi perempuan untuk menunjukkan apa yang seharusnya disembunyikan. Tapi seketika saya sepakat bahwa tidak ada yang salah dengan ilmu pengetahuan. Maka, sah-sah saja.

Terlepas dari latar belakang pengarang, saya yakin bahwa Amanatia merupakan sosok yang kuat. Terbukti dari hampir keseluruhan cerpennya, selalu dimunculkan konflik yang membuat perempuan selalu menanggung “getah” dari kesialan lelaki. Namun dimunculkan solusi tentang bagaimana tokoh tersebut mengambil peran untuk tetap selow menghadapi kehidupan. Baginya, ia hanya perlu membaca ulang peristiwa-peristiwa lama yang membuat dirinya berspekulasi: aku masih lebih beruntung daripada dirinya. Atau semacam rasa syukur dan kebijaksanaan untuk tidak memperlihatkan kelemahan. Sehingga ia memilih berjalan terus sesuai kehendak hatinya sendiri.

Merasa dicurangi dengan judul buku ini sebab berbeda situasi dengan Nursri, saya tetap mendapatkan bekal untuk sekadar merenungkan kembali mengapa menikah menjadi bagian penting bagi hidup manusia. Terlepas dari cinta, terlepas dari tuntutan keluarga, dan terlepas dari persoalan apapun, waktu untuk tidak menikah bagi saya hanyalah persoalan “waktu”. Itu sebabnya mengapa banyak sekali perkara terjadi, baik yang melibatkan masa lalu, masa sekarang, bahkan masa depan. Maka sampailah kita kepada pertanyaan perihal: kapan waktu untuk tidak menikah—dan setiap orang berhak atas jawabannya masing-masing.

Ini seperti prinsip cinta yang diceritakan Cak Nun pada sebuah kesempatan perihal Umbu Landu Paranggi—beliau mengimani bahwa cinta sejati adalah cinta yang tak boleh dibatalkan dengan sebuah pertemuan, apalagi sampai melakukan kontak fisik dengan pernikahan. Salah satu prinsip Umbu sehingga ia tetap mencintai seorang wanita tanpa pernah memilikinya sama sekali, namun ia tetap mencintainya. Bagaimana bisa? Bukankah cinta dan pernikahan saling beriringan? Bertanyalah sambil menyelami setiap lembar buku ini dan temukan jawabannya.

Bagi siapa saja, buku ini sengaja lahir untuk ditimang khalayak luas. Bukan hanya dikhususkan kaum jomlo yang terlanjur malas untuk menikah atau kaum patah hati yang mengutuk dirinya sendiri dengan beragam alasan. Sebab cerita demi cerita yang dihidangkan Amanatia sangatlah realistis dengan kehidupan nyata. Maka bagi siapa saja yang masih memiliki cinta, nikahilah buku ini sebelum waktu memaksa kita menikahi sepi.

Mutia Senja, lahir di Sragen, Jawa Tengah. Bergiat  di Sekolah Menulis  Sragen  dan  Komunitas  Sangkar  Literasi. Hobinya menulis sesuka hati. Buku  puisi tunggal Manahan Selepas Hujan, terbit Mei 2018. Blogger di aksaramutiasenja.blogspot.com, Instagram: @mutia_senja, e-mail: [email protected], nomor HP 085713027400,

Buku, Resensi

Selamat Tinggal Berantakan!

Oleh: Al-Mahfud

Pernahkah kita berpikir jika kebiasaan kita dalam meletakkan, merapikan, atau membereskan barang-barang di rumah turut berdampak atau memengaruhi kehidupan kita secara umum? Pekerjaan meletakkan, menyimpan, dan membuang barang ternyata bukan perkara remeh yang bisa diabaikan. Aktivitas sehari-hari yang jarang mendapat perhatian serius tersebut ternyata membawa dampak luar biasa jika kita bisa memahami fungsi dan seninya dengan baik.

Melalui buku ini, Marie Kondo, seorang konsultan kerapian yang mengelola bisnis kerapihan terkemuka di Tokyo akan mengajak kita memahami lebih dalam terkait aktivitas berbenah atau beres-beres barang. Pencetus metode berbenah ala KonMari ini mengungkapkan betapa banyak orang terjebak dalam kebiasaan keliru dalam beres-beres. Sehingga di samping membuat ruangan menjadi tak nyaman dipandang, juga berpengaruh terhadap suasana, emosi, bahkan pandangan dan pemikiran penghuninya.

Ruangan, entah di rumah atau kantor yang rapi dan bersih tentu lebih menciptakan suasana nyaman ketimbang ruangan yang berantakan. Inilah pentingnya berbenah. Namun, kegiatan beres-beres tak sesederhana kelihatannya. Banyak orang mungkin berhasil membuat ruangannya nampak bersih dan rapi, namun kerap kali hal tersebut tidak bertahan lama. Beberapa hari kemudian, orang menjumpai ruangannya kembali berantakan dan semrawut. Di sini pentingnya membiasakan prinsip-prinsip penting dalam berbenah. “Orang cenderung berantakan karena memegang prinsip-prinsip yang keliru seputar kegiatan berbenah,” tulis Marie.

Bertolak dari realitas tersebut, Marie menjabarkan berbagai prinsip penting seputar seni beres-beres. Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama bertahun-tahun mendalami dan menggeluti bidang ini membuat penjelasannya begitu mengalir, kaya, dan menarik. Pengalaman berinteraksi dan melihat berbagai permasahalan dari para klien dalam menata dan mengatur barang di rumah membuat pemaparan Marie menjadi berisi dan penuh dengan kasus-kasus konkret, lengkap dengan berbagai solusi dan tips untuk mengatasinya.

Penyebab utama sebuah ruangan menjadi berantakan adalah perilaku menyimpan yang berlebihan atau tidak efisien. Marie melihat kecenderungan manusia modern, terutama di Jepang, dan Amerika, yang gampang membeli dan menimbun barang yang sering jauh melampaui kebutuhannya. Ia mengelompokkan orang-orang yang susah menjaga kerapihan menjadi tiga jenis. Yakni tipe “tidak tega membuang”, tipe “lalai mengembalikan”, dan tipe “kombinasi”. Berdasarkan pengalaman mengamati para klien, Marie menyimpulkan 90% nya masuk dalam kategori ketiga, yaitu tipe kombinasi alias lalai menyimpan sekaligus tidak tega membuang. 10% sisanya adalah tipe “lalai menyimpan”.

Marie menjelaskan, berbenah yang efektif hanya terdiri dari dua aktivitas esensial, yakni membuang dan menentukan di mana harus menyimpan barang. Dan di antara keduanya, membuang harus didahulukan. Akan tetapi, jika barang-barang tersebut masih layak dan bisa digunakan, kita bisa menyumbangkannya pada orang yang lebih membutuhkan.

            Pada kenyataannya, banyak orang lebih memilih menyimpan barang ketimbang membuang. Marie mengingatkan agar kita berhati-hati dengan istilah “menyimpan” barang karena dalih “masih bisa dipakai nanti”, atau “mungkin suatu saat ada gunanya”, atau “mungkin buku ini nanti saya baca jika ada waktu luang” dan sebagainya. Sebab, kerap kali hal-hal yang menjadi alasan tersebut tidak pernah terjadi dan barang-barang tersebut akhirnya memang tidak pernah lagi digunakan.

Marie memberi pilihan menyimpan atau membuang barang. Dalam menyimpan, di buku ini ia memberi tips memilah dan menyimpan barang yang sebaiknya berdasarkan kategori bukan lokasi, bagaimana menyortir barang, tips menyimpan dan melipat pakaian, merapikan buku-buku, pernak-pernik, hingga uang receh dan barang lain yang kerap memenuhi ruangan.

Keajaiban

Hal yang menarik dari kegiatan berbenah adalah dampak yang diakibatkannya. Marie menjelaskan, banyak keajaiban dirasakan para klien setelah menerapkan prinsip berbenah yang ia ajarkan. Selain ruangan lebih rapi dan bersih, berbenah ternyata juga menyimpan manfaat bagi pemikiran dan cara pandang seseorang. “Salah satu keajaiban berbenah adalah membuat kita percaya diri akan kemampuan kita dalam mengambil keputusan,” tulisnya (hlm 171).

Aktivitas beres-beres pada gilirannya memang mengasah pemikiran dan pandangan seseorang, baik secara etis, estetis, hingga efisiensi dan efektivitas dalam menjalani kehidupan. Ketika kita menyortir, memilih dan memilah barang mana saja yang perlu disingkirkan dari suatu tempat serta yang mana yang harus disimpan, di situ ada proses berpikir dan mengasah kecakapan mengambil keputusan.

Sedangkan, ketika kita berupaya menata dan menyimpan barang secara efisien dan lebih rapi, di sana kreativitas dan rasa estetis kita diasah. Ketika barang-barang tertata rapi di tempatnya dan ruangan menjadi bersih dan terasa nyaman, mood kita menjadi lebih baik. Perasaan positif ini merupakan modal berharga untuk menunjang aktivitas sehari-hari agar lebih bergairah dan produktif.

Prinsip dan tips yang dituangkan Marie memberi banyak pengetahuan menarik, terutama seputar seni berbenah. Memang, sekilas ada tips-tips yang kelewat “ketat” dan kurang relevan jika melihat keadaan ruangan di rumah-rumah di Indonesia yang relatif lebih longgar dibandingkan kondisi di Jepang. Namun, buku ini tetap menyimpan banyak pengetahuan berharga tentang bagaimana hidup yang lebih rapi, disiplin, dan efektif. Lewat buku ini, kita juga menyadari bertapa besar manfaat dari aktivitas berbenah. Saatnya berbenah dan mengucapkan selamat tinggal pada berantakan!

Al-Mahfud, penikmat buku, dari Pati.  
Menulis artikel, esai, dan ulasan buku di berbagai media massa.  

Film, Resensi

Setan Jawa: Merekam Pesugihan

Oleh: Bima Widiatiaga

Usaha untuk mendokumentasikan pesugihan lewat tulisan ilmiah, sudah dilakukan oleh beberapa penulis. Tim Lembaga Riset Kebudayaan Areng-Areng, meneliti tentang ritual pesugihan di Gunung Kawi. Luzman Abdau, meneliti tentang ritual pesugihan di Gunung Kemukus. Terakhir, adalah Onesius Otenieli Daeli, yang menulis pesugihan dalam perspektif antropologis.

Meski tak banyak, setidaknya pesugihan terekam dalam kajian ilmiah, tak hanya berada dalam pusaran folklore. Pada tahun 2016, usaha untuk merekam pesugihan, tercipta dalam bentuk visual. Adalah Garin Nugroho, sineas termahsyur yang telah malang melintang di dunia sinema Indonesia, yang membuat film bertema pesugihan, berjudul Setan Jawa.

Film ini dibuat eksklusif, dibuat untuk merayakan 35 tahun Garin Nugroho dalam pusaran perfilman Indonesia. Film ini juga diputar secara eksklusif, tidak diputar di dalam bioskop-bioskop. Dan yang terpenting, film ini bukan film komersil yang diharuskan mencari penonton sebanyak jutaan orang.

Film Setan Jawa, pernah diputar di Teater Jakarta, Teater Besar ISI Surakarta, Auditorium Universitas Sanata Dharma, Erasmus Huis Jakarta dan diputar pula dalam gelaran International Gamelan Festival (IGF) 2018. Selain itu, Setan Jawa juga melanglang buana di luar negeri, diputar di Australia, Singapura, Inggris, Kanada, dan Jerman.

Kembali ke kata eksklusif. Ya, film ini tidak ada di situs unduhan film ilegal. Misal ada, dijamin tak sampai lima menit, anda langsung memberhentikan film ini setelah anda unduh. Setan Jawa merupakan film bisu hitam putih, untuk merasakan atmosfer mistisme film ini, anda harus mendengarkan pula dengan iringan gamelan dan suara merdu pesinden. Cara untuk melihat film ini adalah dengan menyaksikannya langsung. Beruntung saya sudah menyaksikan pertunjukan film ini pada 15 Juli 2017 di Teater Besar ISI Surakarta.

Film Setan Jawa merupakan produk kolaborasi seni antara seni film, tari, musik, dan teater. Ditambah pula unsur sejarah dan mistisme Jawa sebagai story-telling film ini. Garin Nugroho bekerja sama dengan para seniman terkemuka untuk menggarap Setan Jawa. Rahayu Supanggah, komposer gamelan terkemuka seantero negeri, menggarap latar musik yang menjadi kunci film Setan Jawa. Rahayu Supanggah memimpin puluhan pengrawit dan pesinden seperti Peni Candra Rini. Sementara untuk penata tari, digarap oleh Luluk Ari Prasetyo dan  Heru Purwanto. Lalu, Asmara Abigail didapuk sebagai tokoh utama film Setan Jawa.

Unsur cerita pesugihan menjadi hal yang tak kalah penting dalam film Setan Jawa. Garin Nugroho pun melakukan riset mendalam dan mengorek pengalaman masa kecilnya tentang pesugihan. Pesugihan Kandang Bubrah menjadi tema pesugihan yang diambil. Pesugihan tersebut merupakan pesugihan yang dipilih oleh seseorang untuk mencari kekayaan secara singkat. Tumbalnya adalah orang itu sendiri yaitu bagian tubuh orang tersebut akan dijadikan soko guru rumah yang ditinggali bila perjanjian pesugihan dilanggar atau ahli waris tidak kuat. Hal ini dilukiskan oleh Cipto Waluyo dalam lukisan Pesugihan Kandang Bubrah, medio 1940-an.

Film Setan Jawa menampilkan sosok seorang Asih (Asmara Abigail) sebagai sosok putri keturunan ningrat di medio awal abad ke-20. Asih jatuh hati terhadap seorang lelaki yang kelak akan menjadi suaminya. Namun, sang suami hanyalah seorang kawula alit dengan ekonomi pas-pasan. Pekerjaannya adalah pembuat dan penjual sapu di pasar. Awal perjumpaan mereka adalah saat Asih sedang berbelanja di pasar. Sang lelaki melihat keanggunan dan kecantikan Asih saat perempuan itu turun dari delman. Asih dan sang lelaki saling bertatapan muka, jatuh cinta pada pandangan pertama.

Sang lelaki pun mencoba untuk melamar Asih kepada sang Ibu. Namun, sang Ibu menolak karena calon suami Asih adalah seorang rakyat biasa yang miskin. Sang lelaki tidak patah arang, dia mencoba untuk menggaet Asih dengan menaikan derajatnya. Ya, tidak punya unsur darah biru, ia pun menaikan derajatnya dengan menjadi orang kaya. Ia pun melakukan ritual Pesugihan Kandang Bubrah. Tak lama, ia melamar lagi sang kekasihnya. Ibunya pun merestui Asih dengan calon suami karena status kekayaannya.

Namun, prahara menimpa kedua pasangan suami istri itu di tengah perjalanan perkawinan mereka. Si suami jatuh sakit, rumah mereka sering diganggu setan, dan bagian-bagian dari rumah mereka banyak yang hancur tanpa sebab. Asih merasakan penderitaan akibat sang suami yang meraih kekayaan dengan cara pesugihan. Akhirnya, sang suami meninggal, tidak kuat menghadapi terkaan akibat efek samping pesugihan. Jiwa sang suami akhirnya dijadikan tumbal pengisi soko guru rumahnya.

Dalam film Setan Jawa ditampilkan pula simbol-simbol pesugihan seperti bulus dan yuyu. Tembok rumah yang semakin lama semakin terkelupas juga menjadi simbol bahwa perjanjian Pesugihan Kandang Bubrah dilanggar. Terakhir, Asmara Abigail didatangi oleh setan-setan yang mengganggu dan hendak mengambil nyawa suami Asmara Abigail yang dulunya melakukan ritual Pesugihan Kandang Bubrah. Juga yang tak kalah penting, unsur-unsur budaya Jawa seperti lampah dhodhok, sikap sembah, dan penggambaran perbedaan status sosial masyarakat Jawa, ditampilkan dalam Setan Jawa. Hal ini membutkikan bahwa Setan Jawa merupakan film yang berupaya menampilkan budaya Jawa klasik yang sekarang jarang dijumpai.

Kolaborasi unsur seni dan folklore pesugihan menjadikan film ini dirasa istimewa untuk disaksikan. Meskipun Setan Jawa merupakan film bisu tanpa dialog, penonton bisa mengerti alur cerita dari gerak tari di dalam film tersebut ditambah dengan alunan gamelan dan suara sinden yang mencekam. Dan yang terpenting, dari film Setan Jawa, terdapat usaha dari berbagai pihak untuk merawat dan merekam kebudayaan Jawa. Film Setan Jawa menjadi historiografi dalam bentuk visual dan layak untuk diapresiasi.

Bima Widiatiaga, Lahir di Pontianak, 10 Februari 1994. Merupakan lulusan S1 Ilmu Sejarah UNS. Aktif di kegiatan keilmuan sejarah, seperti pernah aktif di Forum Mahasiswa Sejarah UNS (2015-2016) dan komunitas sejarah Solo Societeit. Bima juga menjadi bagian dalam penulisan buku “Lokananta: Sejarah dan Eksistensinya”

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.

Kirim karyamu sekarang juga di SINI