Puisi

Puisi Bintu Assyatthie

Semangkuk Pattola Menjelang Senja

Sepulang kerja

ayah menyuguhkanku pattola

hasil jerih payah

menanam tulang di tanah basah

Aku heran, bukan aroma pandan

yang menyeruak dari kuah kental campur santan

tapi bau anyir darah yang menetes dari dahan

siwalan di pinggir jalan 

Menjelang senja, pattola itu kukubur

bersama resah yang mendebur

kuingat petuah leluhur:

hidup dan mati takkan pernah akur

Totale, Agustus 2022


Lentera Pucuk Siwalan

Pohon siwalan tegak berdiri

menatap riuh luka yang perih

menjadi saksi sebelum rubuh

bersimpuh pasrah di pangkuan ibu

Bukan rembulan yang tampak sinarnya

di celah rimbun janur siwalan

tetapi lentera di pucuknya

memancarkan kemilau melebihi cahaya rembulan

Pohon siwalan yang tinggal sendiri

di jalan yang sering kita lewati

menelan pahit di antara deru mesin

menahan sakit saat janurnya mulai kering

Lentera itu serupa petaka

ada gulita yang tak mampu diraba

Ia bukan cuma cahaya

karena sinarnya tidak untuk siapa saja.

Totale, Agustus 2022


Bukan Sekadar Mimpi

Suatu hari, aku terjebak

dalam dunia asing yang sesak

tak ada jalan pulang, tersesat dalam pikiran

yang menuhankan keinginan

Dalam kegamangan, kusebut nama Tuhan

sayup-sayup kudengar sebuah bisikan

“Selama ini, siapa yang kau sembah siang malam?”

Aku tersentak, tidurku tak renyap

terjaga dari bayang-bayang suara yang lekap

Aku senantiasa menyembah mata

mendamba harta dan tahta

menghamba pada kata-kata

bersujud di haribaan rat yang sia-sia

Aku tersuruk dalam sesal yang nyata

mendebur keluh aurat semesta

aku ingin kembali ke rahim ibunda

ruang paling hampa, purna tanpa dosa

Totale, Agustus 2022


Petuah Seorang Pelaut

Laut memanggil

di sepertiga malam yang ganjil

raup mukamu dengan air

rapal doamu dalam dzikir

lalu melangkahlah tanpa getir

Satukan darahmu dengan laut

napasmu angin yang bergelayut

degup jantungmu, gejolak ombak

yang berkecamuk

Olle ollang…

pada laut nenek moyang

Olle ollang…

air laut bergelombang

Olle ollang…

jangan lupa untuk pulang

Totale, Agustus 2022


Karaeng Galesong

Selat Madura adalah saksi sejarah

di mana tonggak nyalimu terus menyala

api bagakmu tak henti membara

tanah air dijajah, darat laut digeledah

asap di udara tak jua reda

Saat Kerajaan Gowa patah

di kaki Sulawesi yang megah

tumpah di bawah meriam Belanda

kau pindah ke tanah Jawa

mencari tempat singgah

melanjutkan yang belum sudah

Dalam sukmamu, darah pitarah mengalir

restu Sultan Hasanuddin mencair

ayahandamu, ayam jantan yang mahir

Belanda pun merasa getir

Di bawah langit Madura yang temaram

bahtera juangmu tak pernah karam

kapanpun penjajah menyerang

lautmu mengekang, bidukmu melintang

Dengan Pangeran Trunojoyo kau berserikat

taklukkan Mataram dari jerat yang mengikat

kolonialis geram, tekadmu mengakar kuat

biarpun kau minggat demi selamat

girahmu masih perjaka dalam hikmat

Duh, Karaeng Galesong

Madura tak pernah kosong

menjunjung asmamu yang agung

dan tilasmu yang ulung

Totale, Agustus 2022


Bintu Assyatthie adalah perempuan pesisir yang belajar menulis dari hal-hal kecil. Aktif di media sosial: Instagram, facebook dan opinia dengan nama akun: Bintu Assyatthie.

Puisi

Puisi Adnan Jadi Al Islam

10 Maklumat Ngopi

/1

Di hadapan kopi yang tak berasa

Seorang peminum pernah tergesa-gesa

/2

Di hadapan kopi yang mengepulkan ilusi

Bayangan rumah tengah bermanifestasi

/3

Di hadapan kopi yang tak beresensi

Sekumpulan manusia lupa mengevaluasi diri

/4

Di hadapan kopi dini hari

Kemaksiatan acap menginvasi

/5

Di hadapan kopi yang tak lagi suci

Seorang wanita berulang mengkhianati

/6

Di hadapan kopi tanpa arti

Seorang laki-laki enggan membuka hati

/7

Di hadapan kopi tanpa bicara

Jemari lentik mengetik luka tanpa jeda

/8

Di hadapan kopi yang sakit hati

Ribuan rakyat tertikam sebilah janji

/9

Di hadapan kopi yang berpuisi

Selembar lautan tak henti menyanyi

/10

Dan, di hadapan kopi tanpa gula

Lidah cinta aktif menafsirkan rasa

/Februari, 2022


Nyanyian Laut

Sekeping fragmen sendu

menyilaukanku, sesaat,

portal terbuka: bibir pantai Sadeng

di sana, puisi-puisi pernah ruah

lewat pori-pori jilbab seorang wanita

pengenggam kamera

Seperti katamu dulu,

para nelayan hafal

siklus waktu kala laut

akan menyanyi

Sebelum hantu-hantu cemas dan bengal

menyebar ilusi di udara

dan dunia meleyot

oleh gema teriakan masa lalu

Kamera itu kelak akan terjun bebas

di dermaga ini

ketika arwah Edvard Munch turun

menggenggam tangan wanita itu

mengajaknya pulang

ke langit

Kini, aku masih termangu di sini

memindai album demi album dalam kamera sunyi

hingga sebuah foto menarikku kembali

ke sebuah dimensi, pada saat kau berhenti bernyanyi

pada saat aku, mesti melepasmu pergi

/Januari, 2022


Cahaya

: Tiara

Kenanganku tentangmu, kenangan tentang kesunyian rawa

selimut kambangan dan eceng gondok, pada pagi kelabu,

pada pancaran cinta dari lubuk mata para pemancing

dan kuar petrichor di antara uap nasi goreng

Kastil dalam diriku luruh, seseorang muncul

dengan langkah cahaya berjalan menghapus rimbun keraguan.

Ratu baru bertahta, menandaskan

mimpi-mimpi sepi yang masygul

Kau datang dengan kelembutan fajar

menyapaku lewat aroma Geranium rekah;

lengan angin menyapu ingus batu

yang getir sepanjang musim.

Ketika angka-angka berjatuhan dari langit

waktu: gigil

masa silam dan masa depan bersentuhan

menyebabkan letupan demi letupan pertanyaan

“Ilusi ataukah kenyataan?”

Kau makin kuasa dalam diriku.

Kehadiranmu adalah musikalisasi

semesta atas sajak senduku.

Maka kuhamparkan jalan

di mana kau akan suka

berotasi dan menyalakan

segala daya kemungkinan,

tentang kita.

/Februari, 2022


Bayang-bayang

Ketika kau menghilang,

waktu memanjang,

hari-hari sesak:

mejamu berteriak

berdebat dengan kursi di ruang guru

meredam bel tanda istirahat

membekap mulut mimpi kecil yang lapar

siapa singgah berikutnya?

mungkinkah sungguh berikutnya?

Senyum tanpa cahaya

sekejap layu mengantar bendera

yang tanggal bersama

lagu kebangsaan

Di dalam khidmat, tangis terkesiap

mengumpulkan mendung

di bawah matahari

aku mematung, sendiri,

coba melindungi

pendar jam dinding.

kutegur kegelapan

karena di setiap kedipnya

bayangmu selalu berkelebat

/Maret, 2022


Tempat yang Dicuri

: Dean Lewis

Tetapi aku tak sedang menunggu badai itu

pergi meninggalkan rumah kita

melambai dan membuat daun pintu menunggu selamanya

Yang kuinginkan hanyalah kekosongan;

mengakar di antara jemari ini sublim

terbawa angin dan memberi pelajaran

pada pohon-pohon arti kesendirian

Ataukah kegelapan lebih berarti

daripada kedustaan cahaya

yang acap membiaskan pelukmu?

Aku hanya ingin menghampar di atas pasir

mengasah telinga sembari memandang langit

apakah di atas sana

burung-burung tak pernah membenci badai?

Ah, berangkali luka adalah tafsiran waktu

atas masa depan kita: melampaui

memori yang menjatuhkan puing-puing keabadian

dan lenyap ditelan kenyataan

/Mei, 2022


Angin yang Berpulang pada Api

: Sapardi Djoko Damono (Alm.)

Aku seperti angin labil:

tidakkah sesekali ombak ingin tenang,

awan-awan butuh ketiadaan di samping kepastian,

dan akar pohonan terlalu purba menghadapi ujian

“Tetapi kewajiban kita hanyalah sakit

dan kita tak butuh hak untuk bertanya

bukankah kata-kata hanyalah riak,

sedang orang-orang menginginkan keabadian?”

Ah, aku ingin menjadi api yang tamak bekerja:

menebas tiap leher kegelapan yang bengal,

menandaskan malam dan udara dingin,

atau sekadar prototipe neraka sebelum surga

/Mei, 2022


Alibi

“Dia hanya baik, kenapa kamu baper?”

tanya gerbang kampus lima tahun silam,

setengah mewanti

“Hm, ya, biar jadi bahan bakarku nulis puisi.”

 jawabku—Tuhan tahu aku berbohong;

Atid lantas memainkan pena—

baru saja, saat kembali dari

acara pernikahannya

/Mei, 2022


Minggu Pagi di Bulan Juni

Sepi

yang menikah

dengan angin kemarin

mual-mual pagi ini

hujan bilang, ia tengah

mengandung bayanganmu

/Juni, 2022


Lelah

: Alan Walker

Dan aku telah kembali dari dalam dirimu

yang tak kutemukan lagi diriku, di sana

ke punggung bukit, memandangi danau dan bertanya

apakah kebebasan benar-benar ada?

Tapi tak seperti awan

kita hanya pura-pura tertambat

sekadar berjalan dan lenyap

atau—kalau beruntung—turut menggema ke angkasa bersama uap

Waktu: asing

burung dan dedaunan: beku

dingin—ingin

namun tak tersampaikan

/Juli, 2022


Adnan Jadi Al-Islam, lahir di Klaten, 21 Oktober. Lelaki galau, pengagum kata-kata, penikmat ojek penyet dan sambel welut. Sering insomnia lantaran kebanyakan kopi dan kenangan. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan daring. Masih mukim di Klaten.

Puisi

Puisi Sofyan RH. Zaid

RITUAL

sebelum tidur

aku selalu peluk

dan cium keningmu

suatu malam

kau bertanya

kenapa

aku jawab:

“tidur tak menjamin kita bangun

dan bertemu lagi.”

2022


SKALA

tiga orang perempuan bersiap

kepala miring

dan mulai tersenyum

sebagai juru kamera

melalui lensa yang diperbesar

sekian skala

aku melihat

:ada seorang

dari senyumnya itu

mengalir air mata

2022


AKU MAU JADI GAWAI BAGIMU

untuk apa pertemuan ini

jika aku seperti bicara

dengan diri sendiri

kau hanya khusyuk pada gawai

dan abai padaku

-yang lama berdandan-

apalagi peduli pada rinduku

yang mengabu

padahal

aku pun mau

jadi gawai bagimu

walau harus mengisi daya

dan kuota sendiri

2018-2022


JIKA KAU CARI AKU

jika aku tiada di prosa, cari aku di puisi

jika tiada di puisi, mungkin di esai

tapi jika aku tiada di esai

jangan cari aku di catatan kaki!

2017-2022


SANDI GAWAI

aku sudah lama ganti fotomu

di layar gawaiku

meski sandinya

masih saja namamu

2018


PENSIUN

ternyata

puisi yang kita tulis

prosa

kini saatnya

aku jadi judul

dan kau titimangsa

biarlah kata melupa

maknanya sendiri

2021-2022


EKSISTENSIAL

aku suka menyelam di laut sajak

atau di sungai tubuhmu

hingga kadang lupa untuk bernapas

beberapa orang mencariku

mungkin sebab rindu

atau waktu yang memburu

sementara aku masih terus menyelam

mencari diriku sendiri

di dasar

2022


KADANG

kadang

kita butuh jarak

untuk tahu

rindu itu sesak

kadang

kita butuh temu

agar rindu terpendam

tak jadi dendam

dan kita

akan selalu butuh kadang

2021


TAWURAN ANTARKOTA

akhirnya, dua kota

yang sama menabung rindu

bertemu di atas panggung

menyatukan suara dan gerak

dalam pembacaan sajak

mata mereka serupa kamera

saling memotret

malamnya, selepas pertunjukan

saat penonton pulang

mereka diam-diam memasuki kamar

dan terjadilah tawuran

2021


Sofyan RH. Zaid lahir di Sumenep. Alumnus Filsafat dan Agama, Universitas Paramadina, Jakarta. Buku puisi tunggal pertamanya Pagar Kenabian masukmasuk 15 nominasi Anugerah Hari Puisi Indonesia 2015. Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti Inggris, Arab, dan Italia yang dimuat dalam buku Oikos Poeti Per Il Futuro (Mimesis Classici Contro, Milano, Italia, 2020).

Puisi dan esainya juga terbit di sejumlah media. Kini tinggal di Bekasi sebagai editor, founder TSI Group, dan redaktur Sastramedia.com. Buku esainya yang akan segera terbit: Kaidah Puisi dan Akidah Kepenyairan.

Puisi

Puisi Bintu Assyatthie

Sepenggal Tanah Totale

I

Malam purba, hujan singgah

menjejaki sukma yang terjaga

basahi tanah tanpa nama

mengundang tanya tak sudah-sudah

Di atas Toalang,

jimat mantra bersimpuh lapang

lepas dari palung sunyi sang petapa

mendekap jiwa, melucuti raga 

Nabastala runtuh

ketika di dasar laut, sebongkah batu

jatuh ke pelupuk sesepuh

mendegup beku sekujur tubuh

pohonan kaku, daunan bisu

Seutas tali melilit erat

mengikat batu bersegi empat

serupa wangsit dalam tirakat

yang labuh dengan selamat

Dari rahimnya, lahirlah Totale:

bâto sé atalé*

dua kekuatan menyatu penuh misteri:

sudahkah penghuninya sekokoh batu

dan sekuat tali?

                   Totale, Juni 2022

*Bâto sé atalé (Bahasa Madura): Batu yang bertali/terikat tali.


Sepenggal Tanah Totale

II

Sumenep-Bali memahat sejarah

melukis pekat tumpah darah

Totale tabah menadah yang kalah

Bali berkoar, bendera berkibar

pasukan Sumenep terdampar

menyelinap pada semak belukar

batu yang dibabat tali dilempar

berlindung mengucap istigfar

Totale dikukuhkan

pasca ihwal mengharukan

sekeping tanah warisan

mengalir dari peluh zikir nenek moyang

Lihatlah sekarang

batu-batu telah dilindas

tali sengaja dilepas

ketajaman batin telah kandas

bahkan tandas sebelum semua tuntas

Totale, bukan tanpa nama

tetapi tinggal nama

seonggok batu tangguh ranap

seutas tali kukuh lenyap

                   Totale, Juni 2022


Si Buta yang Berkelana

Ia bisa lebih sunyi

senyap dari sengkarut duniawi

kekal menjelma abdi

khusyuk bergerak ke titik kembali

Ia bisa lebih liar dari ular

menjalar pada setiap sudut nalar

menyelinap ke relung belantara

menepikan logika yang lalai memaknai aksara

Ia bisa lebih dekat dari urat kepala

merajai setiap detak

mengalasi kaki yang berkerak,

mata yang jelalat serta mulut penelan pekat

Ia bisa lebih dari raja

meletakkan semesta di rongga dada

sebagai tangga, iapun memanjat tanpa mata

berpuasa dari kicauan kata-kata

Sejak itu, aku berguru padanya

mematahkan mataku dan ikut berkelana

                   Totale, Juni 2022


Si Bisu yang Berbicara

Bukan hening,

ketika mulutmu melumat abjad

pada lembar usang sehabis senja

ataupun saat fajar mengumbar merah.

Namun, telingamu tumbang

tak ada kata yang terdengar

selain dari liangmu yang sumbang

Ia tampak bungkam

sebagai kalam, ia tersuruk kelam

tenggelam dalam bayang-bayang hitam

tersudut pada rongga paling suram

Kau tahu,

dalam diam, ia lantang meneriakkan kebenaran

memuat puja paling mujarab

telaga di tengah bengis antero jagat

Karena itu, aku mengabdi padanya

mengangguk pada tiap suara

yang keluar dari kebisuannya

                   Totale, Juni 2022


Bertapa

Aku menunggu di sudut malam

di antara jajaran pohon siwalan

di tengah bebatuan yang berserakan

lafad demi lafad diagungkan

bergumul dengan cerita masa silam

Perihal siapa dan dari mana,

aku dihimpit tanya

Sukmaku berkelana

menapaki jejak penuturan

mencari pembenaran:

tanah tersirat di tengah lautan

Aku bimbang,

benarkah Bugis sebagai kota asal?

Sebab namamu masih sakral

tenggelam dalam sejarah yang nyaris dilupakan

Akupun menyangsikan,

ikatan sedarah dengan Raden Fatah, Siti Maryam

yang bersemayam di tanah Juruan

sebab, tilasmu tak terlihat

persis pusaramu yang niskala

Siapa dan dari mana,

masih diujung tanya

Duh, pengelana sejati

jejakmu semerbak bunga kasturi

pecahkan tabir misteri

datanglah kemari

meski hanya lewat mimpi

                   Totale, Juni 2022


Bintu Assyatthie, lahir dan besar di kampung kecil bernama Totale, tepian pesisir paling timur Pulasu Madura. Selain aktif mengajar, penulis juga aktif di organisasi kepenulisan, yaitu Rumah Literasi Sumenep, Komunitas Perempuan Membaca dan Komunitas Puan Menulis. Beberapa tulisannya bisa dibaca di blog pribadinya: cahayatotale.blogspot.com. Dapat disapa di Instagram dan Facebook Bintu Assyatthie. 

Puisi

Puisi Gandhang Kandhiridho

Wajah Mematung

kulihat seraut wajah mematung

dengan nasib terkatung-katung

pada bayangan lorong gelap

menyingkap tabir tak terungkap

“di sini tatapan sinis adalah lumrah,” ucapmu

“sebab kemurungan terlalu lama digelar

dan secuil senyuman kecut

telah menjadi kegilaan yang ramah.”

“lantas kenapa kau masih berdiri angkuh?” tanyaku, “sedang singgasana berduri tak kunjung kau rengkuh?”

“entahlah, aku sudah mencoba,” jawabmu

“dari mengibas tanganku sampai buntung

hingga melilitkan lidahku untuk dipasung

hanyalah kekosongan yang kudapat,

dan pada gelapnya lorong inilah

aku bisa merasakan kegetiran yang kudambakan

menikmati sepi yang meringkik dengan merayapinya

menikmati sunyi yang merangkak dengan merasukinya.”

(pelan-pelan ia melangkah pergi dan hilang ke dalam bayangan)

kini berbalik aku melihat wajahku sendiri

dalam wajah yang mematung itu.


Wajah

/1/

ribuan sembilu menyayat waktu

tangisan pilu bertalu-talu

lalu mengutuk

untuk memburu

wajah itu

/2/

pada sekeping cermin

yang disapu angin

kulihat wajah dingin

yang berwarna asin

wajahku, wajahmu atau wajah kita?


Hutan Beton

di kota ini bagiku

semua hal terasa asing

sedikit sekali yang tersisa

selain rimbun hutan beton

yang menjulang subur

di tengah kejomplangan

menghampar sepanjang pelupuk mata.


Hujan Kenangan

hujan ialah segala bait kenangan

yang tergeletak di tepian jalan

untuk dikunyah-kunyah

menjadi seperlima irisan jeruk

dalam sewadah es batu

yang dikupas di landasan kayu

lalu dituang ke mangkok kuah kari rasa keju

dengan beceknya bulir-bulir padi

dan diseruput tanpa puisi.


Ngopi Sederhana

aku ingin ngopi

dengan sederhana

tanpa gula

tanpa susu

tanpa kamu di sisiku.


Kecemasan

pada akhirnya semua memang kembali ke awal

ketika deru cemas di panas paling cadas

melahirkan percakapan yang menguap di udara

seperti sebuah pilihan yang kita pilih

meski tidak benar-benar kita pilih

bagaikan langkah maju dalam keanehan

yang mengaduk prasangka hari depan

seperti rumor bising dalam kegilaan

yang berembus dengan ketidakpastian

semua mengendap bersama pertanda buruk.


Histeria

seorang lelaki dengan raut sumringah tanpa keraguan

berjalan mantap menuju lapangan penjagalan

tempat dimana ia akan dipenggal bersama teman-teman seperjuangan

sesampai di sana ia bergumam lirih “betapa beruntungnya mereka yang tak ambil bagian.”

lalu tiba giliran, ia melangkah tegap naik ke panggung pemancungan seperti tanpa tekanan

saat algojo siap mengayunkan pedang, seluruh penonton pada kelabakan

melihat kejadian aneh di luar perkiraan, bukannya leher lelaki itu yang diserahkan

tetapi kelaminnya sendiri yang sudah tegang yang ia sodorkan

setegang penonton yang menyaksikan.

ia menyodorkan pada algojo yang siap menebas sembari berjabat tangan

penonton kelimpungan dan algojo sempat gelagapan

bahkan ada beberapa penonton yang jumpalitan

tetapi penonton dan algojo langsung sigap menguasai keadaan

apa yang sebenarnya ia bicarakan pada algojo ketika jabat tangan?

dan apa yang sedang mereka rencanakan?

sejurus kemudian terdengar desas-desus yang mengatakan;

ternyata mereka telah membuat perjanjian dengan suatu persyaratan

bahwa algojo akan menghentikan pembantaian

asalkan lelaki itu bersedia dan mampu menggantikan peran

dan tanpa babibu lagi ia setuju mengabulkan

lalu di luar dugaan penonton histeris ketakutan.


Matanya Meleleh

cahaya sore yang merambat

ke ruangan itu seakan enggan

menerpa parasnya yang memantulkan

ketenangan dan kerahasiaan

semesta

seiring matanya yang meleleh

bersama cemas

yang hinggap

dan mengendap

di sebutir peluh

ah… apapun itu

aku suka matamu.


Pada Sebuah Pagi

/1/

selamat bertandang ke rumah, hujan

makhluk di bumi sudah rindu

menyambutmu pulang.

/2/

senyummu dingin mengering

raib ditelan pagi menyingsing.

/3/

untuk apa susah payah menikam dadaku sendiri

bila mata itu telah lebih dulu membunuhku

mata itu adalah milikmu.


Hanyut

cakrawala terbakar hitam dalam

mendung itu

seakan mengiringi kepulanganku

yang kalah kuyup sepanjang jalan

di jalan aku menemui segala ketimpangan:

dari traffic light mati

lampu jalan yang redup

selokan mampet

lalu lintas macet

yang mengisyaratkan aku tuk berhenti

pada trotoar licin yang tergenang

berlumpur penuh lubang

sampai akhirnya kutemukan senyummu

yang mengambang

hanyut terbawa luapan

sungai hujan.


Gandhang Kandhiridho, lahir pada 4 April. Berdomisili di kota kelahiran, Surakarta, Jawa Tengah. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi. Buku antologi puisi pertamanya berjudul “Rahim Waktu” (Teras Budaya Jakarta, 2021) dengan menggunakan nama pena “Dan Hermit”. Dalam waktu dekat (2022) sedang menyiapkan buku antologi puisi keduanya. Bisa dihubungi surel: [email protected] dan Instagram @gandha_ng

Puisi

Puisi Febriana

Hide away

A feeling of this

Depression is torching me

I’d like to go, please

Solo, 22 Mei 2022


Dream of the Wind

The wind is coming

I feel my body’s freezing 

I’m only dreaming 

Solo, 22 Mei 2022


Gabriella’s Eyes

Gabriella’s eyes

Shine as diamond in the sky

They are eagle’s eyes

Solo, 22 Mei 2022


Juwita Tumpuan Asmara

Kabut, kalut nan bernaung ruang

Peduli apa pada siang?

Bak gerombolan awan

Samar nan menawan

Asmara kau sulut

Kau kira kasihku surut?

Oh, Kau juwita tumpuan kalbu

Detak jantung mengiring rapalan mantraku

Merindumu bak tertusuk duri tajam

Kau lepas panah menderu menghunjam

Perih menempa jiwa

Apa guna raga bersuka

Rinduku menderu seluruh raga

Harap kuucap dalam sukma

Detik berganti tahun 

Pikirku mengharu hingga ke ubun

Sejuk merajuk semilir bayu

Bening mengalir tenang air mataku

Karangpandan, 13 November 2021


Soemarah

Senja menggiring hingga peraduan

Siapakah engkau, wahai Toean?

Merapal doa mengembus asa

Kecupmu tulus pada pelupuk mata

Para penghuni semesta

Harapan adalah doa

Doa adalah mantra

Dirapal dalam jiwa merasuk sukma

Toean, mantramu tertuju para pendosa

Kau pusar tujuh arah mata semesta

Kepada semesta tersemaikan

Benih kasih dan kepasrahan

Teguh bersikukuh bersimpuh

Pusar arah mata angin yang tujuh

Soemarah..Soemarah..Soemarah

Berserah pada semesta 

Payung penaung para resi pun pendosa

Soemarah..Soemarah..Soemarah

Kala berlaju saksi deru langkah

Para pencari hakikat dan makna

Solo, 8 Agustus 2022


Nasi

Jangan kau memusuhi nasi

Ingat nasib bapak ibu tani

Meski ini kolonial yang merekonstruksi 

Nanti kau kan susah sendiri

Jangan kau memusuhi nasi

Habiskan jangan buat basi

Berteman baiklah jangan emosi

Sudahlah makan, jangan gengsi

Solo, 22 Mei 2022


Aku Ingin

Aku ingin bertemu, dikau 

Dalam ramai dan sunyi 

Kutahu kau tahu

Kugenggam kasihmu 

dalam mimpi tak berujung

Namamu merajai bawah sadarku

Memenuhi ruang pikir dan hati

Wahai hidup yang paling hidup

Kematian yang paling nyata

Kau, lebih dekat dari napasku

Kau adalah aku

Aku, ingin bertemu

Kutarikan duka

Kupeluk suka

Aku ingin bertemu

Kuhempas rintangan 

Merayakan luka 

Mengamini doa

Aku ingin

Menyelami wajahmu

Kasih yang tak menyurut 

Solo, 27 Mei 2022


Jangkar

Aku adalah jangkar 

Meneguhkan hatimu 

Dari ombak yang menerjangmu

Tak perlu ragu 

Jangkarmu pengamanmu

Aku adalah jangkar 

Di depanmu menghadapi badai

Kau hanya harus kuat 

berpegang erat 

Kau kan selamat 

Aku adalah jangkar 

Percayalah pada nuranimu 

Meski kau tak melihatku 

Kau bisa merasakanku 

dengan yakinmu 

Solo, 27 Mei 2022


Febriana, ibu rumah tangga dan guru paruh waktu.

Puisi

Puisi Jihan Suweleh

Di Bandung

Rindu menikam

cinta menggali makam

pisau tertanam.

masa lalu

menjadi darah

dalam kakus.


Menjadi Ada

Aku ingin mati di hidupku

dan tumbuh di dirimu

sebagai sesuatu yang baru

saat hatimu basah

karena seseorang

biarkan aku merapal doa

tanpa pernah kau aminkan

saat dadamu bernanah

sebab luka tak sembuh lama

kutiupkan nyala tuk hapus lara

segala bentuk duka

tenggelam dalamku

berubah bunga yang mekar

tanpa batas waktu

aku mungkin tak ada

ketika kau berkaca

sambil menyisir rambutmu

yang patah-patah

karena shampo sudah tak pas

di kepala

aku mungkin tak ada

ketika kau mengejar

mimpi dan mengeja

kebahagiaan semu

yang kau catat dalam buku

biru berwajah laut

aku mungkin tak ada

setiap kau melihat dirimu

sendiri di dalam sunyi

yang terang dan pahit

dalam rekam medis

tetapi aku ada padamu

menggerakkan waktu

dan hidup sehidupmu

mati sematimu.


Menonton Horor

Sore itu kau bercerita

tentang film-film yang kau suka dan tak.

bagimu, kisah yang tayang di layar besar itu

adalah hiburan. cukup sebagai hiburan.

kau tak ingin berkomentar apa pun

jika jelek biarkan begitu

jika bagus pun tak berpengaruh

bagimu.

aku sepakat. bahkan seumur hidup

tak sanggup kuhapal adegan-adegan

dalam film meski kutonton berkali-kali.

kupikir kepalaku sudah penuh

dengan film-film yang kubuat sendiri

dan kau juga begitu

dalam kepalamu ada banyak darah

seperti adegan di film aksi dan horor yang

sebetulnya tak kau suka.

kau tak pernah suka.

Lima jam kita duduk bersama

membicarakan film dokumenter

dalam kepala

tiba-tiba kau bertanya, mengapa

sutradara membuat kisah

tentang hantu-hantu

yang setiap wajah mengingatkanmu

pada ibu dan teman ibumu

juga temanmu yang sudah menjadi

seorang ibu.

kau bertanya, mengapa

sutradara membuat kisah

tentang hantu-hantu

yang kakinya mengingatkanmu

pada ayah yang hampir tak pernah

terlihat oleh kita.

Kau mengenal seorang

perempuan yang hidup

sebagai hantu

berbaju hitam dan

bibirnya tak pernah berhenti

mengeluarkan asap

dia berbicara

banyak sekali

seperti memuntahkan

segala bentuk kamus

yang diciptakannya

sendiri.

Ayahmu mengenal perempuan

bertubuh pahit itu

yang mencium keningmu

lalu mengusap kepalamu

dan memintamu memanggilnya

Mama dengan M besar.

Ibumu mengenal perempuan

bermata beling itu

yang memelukmu kencang

seolah kau adalah anak

kecil yang lahir dari mulutnya

dan tak pernah tumbuh

menjadi gadis dewasa.

Aku juga mengenalnya

perempuan berkulit arang

menghapus isi kepala

ayah dan menggantinya

dengan memori-memori baru

tanpa pernah

kembali lagi.

Malam sudah mampir

kau berhenti bercerita

angin terasa lebih dingin

dari masa kecil kita.

kau menyudahi pertemuan

senyummu meninggi

punggungmu memudar

segalanya terekam

dalam kepalaku.

tanpa pernah akan

kuhapus.


Blokir

Air mata menjadi sepatu

berjalan sendiri

menabrak batu

terjebak di ruang kosong

bersama cicak dan laba-laba

yang tak dilihat keberadaannya.


Tak Pernah Ada Nanti

: AA

Kau adalah mimpi

dalam melek dan pejamku

catatan-catatan pada buku

cerita yang hidup

dan berlatar sungai

pun batu-batu

kau adalah doa

yang menolak berhenti

terucap dalam hati

kau selalu menjadi kini

selamanya

bertumbuh bersamaku

tanpa ada nanti.


Jihan Suweleh, lahir di Gorontalo, 14 Desember.

Puisi

Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

Di Pagi Hari

di pagi hari, orang-orang sedang tidur tanpa mimpi.

tubuhku dingin tanpa baju, penyesalanku dingin dan sesap pada bisu.

kugenggam pasir mimpi. tidurku tergeletak pada jaga.

neraka bercerita pada dongengnya yang menyala, surga makin biru saja.

sekepak ingatan tiba-tiba sangkar. dipenjaranya alusi perempuan,

yang mengetuk meja lapuk dengan buku-buku jari yang penuh luka.

negerinya terbuat dari pembunuhan. yang ia takutkan bukan lagi Tuhan,

tapi tuan yang menghidupkan segala kebengisan akhir zaman.

aku duduk di tepi pagi, terjun ke dingin tanpa batas,

kekacauan di dadaku tangkup dan kebas.

oh embun-embun yang melarat dari butiran doa. haruskah aku sujud

bersama keladi yang angkuh, subuhku adalah kening busuk yang jatuh.

Kubang Raya, 20 November 2020


Bimbilimbica dan Buku Harian Zlata

  • Alusi Peperangan Bosnia 1992-1995

ingin kugandakan hati biar sepi mampu kubagi seperti roti dan kelaparan

pengungsi dini hari, di bawah sebungkus senyuman disinari samar bulan,

sembari membayangkan betapa belatung di kuburan sangat mencintai kesunyian

yang masih segar, bergumul tubuh pucat dan segenap anggapan rasa sakit,

di masa-masa penantian siksa bagi agama yang menyakininya.

ketika keputusasaan menghantui gelap hari-hariku, kubayangkan kau gigil

di negeri jauh, Bimbilimbica. Zlata Filipovic tak menyentuhmu, sebab airmata

terlalu memusingkan kepalanya: tentang rasa lapar yang menggejala,

tentang kesepian bagai kolera

bila serigala muncul sebagai pertanda kabul segala pestaporia kehilangan,

kawanan burung-burung bangkai menukik bagai puncak kasmaran, harus bagaimana

kau datang meniadakan lara, Bimbilimbica?

lidah Cecep Syamsul Hari yang khatam mengumpul puisi, tumpul dalam otakku,

Zlata Filipovic kembali menangis di tipis nuraniku, aku hendak berbincang,

mungkin mengaku memeluk Tuhan atau sekadar bertempur dengan setan yang sesat

di badan.

Bimbilimbica, katakan pada lampu merkuri lumutan dan setia berdiri nun jauh di sana, adakah cahaya bakal menyapa esok hari bagi kedukaan maha di jantungku; degup-degupku, harap-harapku.

alusi peperangan itu mengepungku, suara jerit menggedor-gedor kewarasanku, Asfaltina, Pidzameta, Zefika, Hikmeta, Sevala, segala hanya menggantungkan keragu-raguanku

tentang bahaya hidup yang tak mungkin kucungkup sejak sepanjang malam berharap

aku mati di puncak menara.

Bimbimbica, seluas apakah neraka itu? masih jauhkan ia dariku? Bimbilimbica

sanggupkah kau memeluk saat tubuhmu terbakar dan sebentar lagi abu?

Pekanbaru, 2015 – 2021


Kaleng; Yang Diam-Diam Membuat Rahasiamu Karatan

: Alda Muhsi

aku ibaratkan kau ada di hilir sungai,

hilir segala yang ditampung keluasan muara,

maka kuhanyutkan berkaleng-kaleng bekas susu,

sehari hanya satu.

di dalamnya kuselipkan kertas rahasia,

kertas yang hanya mampu kaubaca ketika kaubawa ke kertap cahaya,

sebab aku menulisnya dengan bantuan getah lemon.

mungkin hanya serbuk cinta karatan,

sebab serbuk cintaku tak lagi diminati kumbang,

atau decit perih harapan yang koros hati.

pernahkah kau memakai parfum termurah

ala anak sekolah dari ekonomi rendahan?

aku menyemprot parfum itu dengan beberapa percik,

saat kau membuka gulungannya akan terkuar siar wangi

sebab di dekat surat itu telah kudiangkan 5 putih segar melati.

aku tak mengharapkan apa-apa,

tak juga kebahagiaan yang meliputi jiwamu yang sukma,

hanya upaya mengirim sedikit cinta dan lebih banyak cita-cita,

yang barangkali lebih masif dari kegilaan Rimbaud-Varlaine.

jika sudah kauterima 5.000.000 kaleng susu bekas,

mohon balas kirimanku dengan cinta sungguhan,

kirimkan via pos kaleng yang paling kumal dari keseluruhan.

tapi itu takkan pernah terjadi, tak akan pernah.

sebab 5.000.000 hari bukanlah pilihan kita untuk tetap hidup.

untuk 5.000 kaleng susu bekas, atau untuk 5 kaleng susu bekas,

kirimkan saja semisal tipudaya cinta,

mungkin racun yang dapat membakar kaleng-kaleng berikutnya,

kaleng-kaleng yang tidak akan sampai kecuali kabar kematian pengirimnya

yang diam-diam membuat rahasiamu karatan.

Tiga Meong 2015 – 2022


Pantai Alam Indah

bangkai kenangan masih mengapung di laut otakku,

          saat kausasarkan selasar cumbu di pantai kelabu.

          saat itu gelap, menggeriap, tanganmu semakin mendekap,

                                                                     mulutmu membekap,

   kedinginan angin laut seperti mengerucut surut.

sekarang kau di mana? haruskan aku bertanya kepada seluruh karang

              dan biotanya? mengapa kau hamparkan gelombang lengang

                                                        sehampir ini?

tak adakah lagi kedalaman cinta? tak adakah lagi pasir-pasir di bibir?

      hingga aku harus berenang serupa ikan-ikan kesedihan

                                  yang mengapung nadir.

Kubang Raya, 2015 – 2022


600 Mil / 965 Km

: Shangguan Xi Mu

965 km,

inilah jarak kasih sayang terjauh

yang pernah tersentuh biak kembang airmataku,

cinta tak memusingkan rasa lelah karena asa belum akan leleh.

Xi Mu, keterasingan hanyalah kelaziman semu,

hatimu abadi mengendarai debu-debu

hingga mengepul ke jantung juntrung nenekmu.

ada 1.330 hari ambang plastik menuju pintu uang,

kau tepis usiamu yang sepuluh kikis oleh sedih.

mengembaralah riyawat piatu ketika ibu pergi

dan kau masih belum laik mengacukan sepatu,

pula lima kehilangan tanpa linangan ketika ayah meregang lengang.

setelahnya kau hanya rajin ke klenteng untuk sembahyang.

orang-orang membangun kemanusiaan, bermula dari keruntuhan batu

dan buta oleh kenyataan. saat seribu tangan memanjang,

menyambung tangan perawat di ruang operasi,

kelumpuhan nenekmu ternyata menyimpan komplikasi dekat hati.

berjalanlah, Tuhan akan memungut jejakmu dengan semangat

dan rasa iba yang ibu

Pekanbaru, 2015 – 2022


Filitinisme
: Oscar Wilde

(Hendry)
sebab dirimu adalah pertempuran batin yang tak dapat tumpas

oleh kanvas, seseorang memanggil da vinci tapi da vinci melukis

melankoli caci maki, seorang yang lain memanggil picasso tapi

picasso melukis abstrak kehancuran mimbar pidato, lalu apa pun

yang mampu dibayangkan pikiran, biarkan sesuatu yang tak

terjangkau menyeberang, mungkin ke tanjung arang

(Dorian)
lingkaran masa depan mencipta seorang di masa depan,

seorang itu  dikabarkan sendirian, berdua dengan kutukan,

bertiga dengan kuburan, kuburan itu adalah lambang rumah

ruhnya yang tak

bertaman dan berteman
————-

kupu kupu murahan, mengibas ekornya yang beracun,

mengenai ujung kelamin lelaki di masa depan: ah,

ternyata di masa depan baju bukan bagian kemaluan

Miral Dj 2014 – 2022


Kindergarten

Black

ia mencintai bulan, mengecup matahari, mengejar bintang,

ia terjatuh di malam hujan, terperangkap mata anak kecil tanpa teman.

Blue

warna bantal ibu, mimpi para perilaku-perilaku lugu,

menggambar tidur, mencoret mimpi,

cita-cita ibu di langit-langit lidah si anak bisu

White

dongeng menjadi surga kapas, lomba terbang ke langit-langit,

beberapa tersangkut kipas angin, gelantungan di sarang laba-laba,

keluar jendela dapur. tapi rengek anak-anak berwajah pupur,

siang malam tak bisa tidur, bikin amarah ibu jadi bubur

Yellow

sepasang mata sapi di atas piring, buku gambar di samping piring,

anak-anak yang menjadikan sepasang pensil jadi sumpit licin,

ayah yang menyuap hening, ibu berbedak kuning,

kakak yang belajar kencing, suara mooo dari dalam toilet

Red

apa golongan darah amuba, anak-anak yang mewarnai pantat kuda,

zebra bermata merah saga, plankton sewarna hemoglobin,

ular pucat berekor merah, kebun binatang dari mulut ibu,

kandang sapi di sepi ayah, tetangga yang pergi mendonor darah

aku pernah anak-anak, tanpa taman kanak-kanak,

tanpa pensil warna-warni, tanpa lolipop, berteman peri-peri,

dari kepala takdir yang migrain.

Kubang Raya, 13 Desember 2021


Tokoh Tokoh dalam Apselog

semula Phusta mendua, rambutnya dibagi tiga,

wajahnya dirias empat, senyumnya lipat lima,

tengah malam di jantung srigala,

ia mulai membenamkan rencana

Myhta berlari ke dalam kelam kurcaci,

dengan membuka langkah terkunci,

disematkannya mata kaki ke mati hati,

di luar masakan dapur.

Korkhena tetap buta dengan wajah merah bata,

lidahnya lima pilin suara

yang lincah bagai teluh, ular dari rahim bunga

yang memasang sayap kupu-kupu

Abusia, seseorang memanggang sembab celana

di celan senggang senggama, kepala berdarah

bercak kasta, seperti jarak cinta dan aritmatika.

Pekanbaru, 2015 – 2022


Muhammad Asqalani eNeSTe, kelahiran Paringgonan, 25 Mei. Adalah Pemenang II Duta Baca Riau 2018. Menulis dan membaca puisi sejak 2006. Puisi-puisinya dimuat di pelbagai media cetak dan online. Bukunya yang berjudul doksologi memenangkan lomba buku fiksi tahun 2019. Ia tengah menyusun buku kumpulan puisinya yang kesebelas dan keduabelas He Jia Ping An dan Ikan-ikan Pikiran Mati. Mengajar kelas puisi online di KPO WR Academy dan Asqa Imagination School (AIS). Aktif di Community Pena Terbang (COMPETER). Instagram:  @muhammadasqalanie. Youtube: Dunia Asqa.

Puisi

Haiku Beby Halki

I

melukis punggung

empat penjuru angin

tepi Mahakam

II

melingkar sinar

matahari berpendar

cantik memancar

III

kebaya putih

angin dalam kemarau

peluh bercucur

IV

daun berayun

berbisik angin malam

pulangkan cinta

V

tertutup embun

pagi menusuk tulang

dipeluk dingin

VI

tergerai rambut

menantang biru laut

anak gadisku

VII

terucap mantra

langit terdiam kelu

memuja Kresna

VIII

hujan menderu

malam mengejar waktu

tubuh membiru

IX

penyair gundah

tongkat menyeret langkah

angin mendesah

X

terkatup bibir

awan tersapu angin

hilanglah kata

XI

langit berpijar

suka duka menanti

tahun berganti

XII

api menyala

pinta semesta raya

damai doaku


Beby Halki, dokter yang menyukai musik keras.

Puisi

Puisi Fatah Anshori

Moynihan, 1912

Pemangkas daging itu bekerja di antara cemas nyawa yang terkupas, was-was. Ahli bedah menggunting ruang lain di Berlin dalam lekuk-lekuk bahasa di keningmu. Orang-orang di jalan menggambar jurang dalam dirinya masing-masing seperti kelamin-kelamin yang berceceran di dinding kota dan beranda media. Ketakutan menganyam ulang sarangnya di kepala dan diri yang resah. Ah… hati seekor singa harus menyaru dalam lelaku, tangan seorang wanita, yang kau pelihara dalam tiap-tiap diam: mekar dalam sepuluh sangkar yang mengurung rupa wajah kota. Potret murung suatu gedung: mall, bioskop, taman kota, stadiun bola terangkum dalam larik-larik kata di beranda harian seorang remaja. Sebuah keluarga mati dalam ruang isolasi, ruhnya menguap di antara pengap baju hazmat. Kau masih bekerja memangkas ulang daging-daging di kening ingatan yang tumbuh tak keruan, menutupi pandangan: hanya gambar-gambar buram kehilangan. Masa depan hanya dongengan yang tertinggal di buritan sebuah kapal yang telah karam.

Lamongan, 2021


Phenobarbital

Awalnya nyeri, yang kerap kau jumpai dalam hubungan gelap di setiap derap kaki-kaki yang basah akan gelisah. Ada suara tembakan yang coba diredam dalam pesan-pesan yang tenggelam di rahim zaman. Notif penting dan tak penting berlalu seperti kerlip traffic light. Di perempatan jalan mereka mengusung upacara perayaan masing-masing tubuh, budaya yang merangkak seperti kura-kura digital dalam jaring laba-laba. Lalu orang-orang menguap seperti mulut ikan koi yang melahap tai di empang-empang seberang mereka menanam kakus-kakus sederhana. Dan orang-orang mencicil nyeri tiap pagi. Tapi laki-laki itu masih berlari dalam angan-angannya sendiri, ketika pagi merobek lagi mimpi-mimpi mudanya menggantinya dengan kenyataan yang tak enak dipandang. Realitas menggunting-gunting ideologi di sepanjang kepala hingga lambung mahasiswa-mahasiswi jadi kolam-kolam ikan lele, kandang-kandang itik, sawah-sawah yang minta diolah. Menjadi rupiah dan barang-barang mewah. Tapi di matanya segalanya akan pecah belah seperti hidup Haji Dullah, rumahnya mewah, tanahnya, istrinya, hartanya, sapinya, melimpah, tapi akhirnya pecah belah. Lalu di tanggal merah segalanya jadi merah. Haji Dullah berlumuran darah dan segalanya berserakan di tanah. Tapi segala yang pecah belah tak ia bawa ke tanah. Dan segalanya hanya jadi kisah yang kerap diasah oleh lidah-lidah keluh kesah. Tapi hidupmu adalah rasa nyeri di hati yang gagal disiasati atau diobati. Dan kau juga tak mungkin bunuh diri di hadapan sunyi tangis bayi dan istri yang dilumat api.

Lamongan, 2021


Catgut 900 M

Pada seluruh luka kita akan mengeja, berapa pendek dan panjang kesakitan yang musti dihubungkan, dibungkam, disembuhkan. Sebelum siksa di tubuh manusia menganga, kita hanya pipa-pipa mukosa di perut domba, setiap hari kita pamah rerumput yang jatuh dari lubang hitam dinding-dinding kelam. Tak ada jerit sakit, pendek atau panjang hanya nyanyian gudang penampung sebelum kran terakhir mengintip muara akhir. Dunia luar tanpa mercusuar, atau kita yang terbiasa menyala dalam legam. Percakapan-percakapan bungkam. Bahasa terabaikan dalam gerak peristaltik, dinding-dinding merah muda, berlendir, mahir mengeja rasa dalam asam basa. Mengaduk keduanya di lapang nihil. Tak ada kebencian makhluk lain, hanya benih-benih rerumput yang kita ramut dan pilah sesuai desah. Bising usus terdengar halus di sela-sela kita yang rakus: dinding yang tak pernah aus atau haus. Dan kita tak juga terputus, bekerja dan bekerja, meski nyawa tuan hilang sementara, kita budak sepanjang masa, sebelum luka manusia membutuhkan kita.

Lamongan, 2021


Hikayat Oximetry

:jenazah-jenazah dari rumah

Garis putus-putus warna biru yang lugu

mengapit buku jarimu yang layu

keriput di wajahmu seperti memetakan

masa lalu bersama angka-angka yang

mencuat di layar kaca sebagai neraca

kadar nyawa di dalam tubuh yang

kian rapuh:

-99%: kau berlari dalam kilometer

           -kilometer mimpi yang enggan

           menepi [dunia ini abadi] dan

           kau enggan menepi

           pada pucuk-pucuk sepi, tak ada

           aroma kenanga dalam raga.

-95%: kau saksikan jerit orang-orang

           terhimpit, tercekik, dalam

           ribuan derap kesusahan, yang

           samar-samar serupa memar

           tamparan perempuan yang

           pernah kau tinggalkan sebab

           perigi tak lagi suci

-90%: mulai ada yang terbakar dan

           tenggelam di dada, angan-

           angan berumah tangga, sambil

           menanam bunga-bunga gugur

           dalam grafik-grafik yang

           jatuh menukik ke dalam ambang

           kelam kecemasan yang terbit

           dari wajah-wajah iba di depan

           kepala: orang-orang tercinta

           bisa apa? ruang-ruang isolasi

           telah terkunci dan terisi.

-85%: kemudian hanya bayang-bayang

           awan di pertigaan mengambang

           di antara perjumpaan dan

           perpisahan. lolongan panjang

           menggantung nyaring di

           orofaring seperti jerit anak kucing

           yang menelan kail pemancing.

           hidup ini kian nyaring kian kering

           dering telepon dalam igauan

           tenggelam dan terabaikan, tak ada

           pertolongan pertama, kedua,

           atau ketiga, hanya ada sesak

           yang kian merusak di rusuk.

-70%: entah apa yang kian menipis,

           seiring hari-hari yang terkupas di

           ambang pelipis seperti ada puas

           yang teriris. tentu saja bukan jeruk

           nipis yang kau peras dalam gelas

           untuk meredakan batuk atau kutuk

           yang mengeras. tapi yang nihil

           seperti meremas nyawamu

           agar tandas dan lunas. segalanya

           terkuras dalam deras cemas

           apa-apa yang amblas.

-65%: lalu yang kau kenakan dan

           banggakan menjelma bayang-bayang

           samar di retina. pluit kereta atau

           derap langkah ribuan kuda

           menggenangi bangsal isolasi.

           tapi kau tak mengerti paru-paru

           yang tenggelam bersama jalan

           pulang. suatu malam di pekuburan

           dengan nyanyian berlumur tangisan.

           lembab, hijau, sembab dan

           berkeringat melekat hingga belikat.

-50%: kau berhadap-hadapan dengan

           jalan lain penuh dirimu dan gigil

           yang membiru di balik baju. sianosis

           merangkak dari jari ke jari. dyspnea

           mengambang dalam batang-batang

           igauan yang mengental bersama

           darah. …

-35%: aroma peziarah merekah

           dalam desah …

-0%  : dan gelisah

           luruh jatuh

           ke tanah …

Lamongan, 2021


Diathermy

Pada gelombang yang tembus pandang

Kau karang peta nyeri dalam tiap-tiap

Diri melewati lekuk lembah

Bukit daging dan segala

Daki yang menyelip di hati

Asam urat yang kerap buat hidup

Terhambat, membuat kakimu seperti

Terikat hutang negara

Dan terjerat pasal-pasal

Yang dibuat asal tanpa akal

Cahaya mengental tertimbun lemak

Di lipatan perut yang jarang

Diurut, minyak tawon atau

Balsem Lang dengan

Koin seribuan

Di antara orang-orang yang hilang

Kau selipkan igauan malam-malam

Dengan suara tembakan

Tapi kau mengerti

Mereka tak pernah mati

Hanya tidak bisa berdiri dalam gelombang

Tembus pandang tak ada

Yang musti dimaklumi

Dalam diri-diri ini kecuali

Nyeri yang tak terobati

Lamongan, 2021


Ether

Senyawa kimia yang kau

Racik di nganga luka

Membuat kita terjaga

Dalam jeda

Nyeri yang tak teraba

Tak terbaca meski dengan

Neraca surga yang

Pernah menaksir dosa-

Dosa umat manusia.

Luka ke mana-mana

Menjalar sepanjang arteri

dan vena, tapi tak ada

Kata siksa menari-

Nari serupa

Biduan orkes kampungan,

Yang disawer seribuan.

Tapi di sejengkal daging

yang belum kering, mereka

Mencari amsal jerit

Ketika malam melumat

Seluruh tubuh yang pernah

Berlabuh pada riuh

Kota yang sementara,

Selebihnya duka

Tapi tak terasa

Apa-apa.

Lamongan, 2021


Chloroform

Sebelum segalanya diangkat

harus ada yang rehat

dalam aus atau apkir

hidup yang kian

ke pinggir mencicip

lagi wangi orang-orang mati.

Kenanga, angsoka,

pandan, dan mawar

-mawar yang gugur

di gundukan.

Ambang luar dan dalam

pada retina, melayang ke

hitungan tanggal-tanggal

merah di balik kerah baju hanya

ada kau yang malu-malu

dalam tidur panjang kerap ada

yang hilang dalam dada mimpi

sesunyi hari sebelum

pagi mengetuk amsal sesal,

lubang-lubang yang

bercabang

memakan

igauan.

Lembar-lembar asing

di kening karyawan, tagihan

harian, cicilan bulanan, pajak

tahunan, negara menjahit

luka di punggung warganya

dengan bara yang menyala

seperti lampu jalan

di tengah malam.

Sebelum segalanya diangkat

harus ada yang rehat

dalam kelam yang

benderang di ujung jalan

hanya persimpangan dan

potongan-potongan

tangan yang pernah hilang

di ambang lengang.

Lamongan, 2021


Cranioplasty

Penjahit daging terasing dalam sketsa tubuh

Tanpa jendela, pintu dan langit-langit yang

Menghadap tilas di balik batu,

Aroma kaldu manusia, belulang-

Belulang dari penggalian ulang

Makam-makam yang mengambang

Sejajar igauan biduan kondang

Yang ditiduri ratusan mata

Meruah di hadapan lusa.

Tiap hari kepala-kepala plastik berisik penuh

Kerlip sisik tembakan-tembakan di perbatasan

Palang pintu yang dipasang

Melintang di ambang mimpi.

Orang-orang meludahi sepi,

Dalam diri sendiri, tapi apa

Yang musti dicari ketika

Hari-hari hanya dentuman

Innalilahi, Yang kian kemari?

Lamongan, 2021


Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Bukunya yang telah terbit Hujan yang Hendak Menyalakan Api (2018), Melalui Mimpi, Ia Mencari Cinta yang Niscaya (Frase Pinggir, 2021). Cerpen dan puisinya telah dimuat beberapa media online, Majalah Suluk (DK Jatim),danpernahterpilih sebagai Penulis Cerpen Unggulan Litera.co (2018). Bergiat di Guneman Sastra, Songgolangit Creative Space dan KOSTELA.Dapat disapa di Instagram: @fatahanshori dan Facebook: Fatah Anshori.