Puisi

Puisi Anugrah Gio Pratama

Serupa Bahasa dan Kata

Serupa bahasa dan kata,

malam adalah puisi dalam sunyiku.

2019


Malam di Suatu Pasar

Malam yang singkat

dan keramaian

adalah guguran bunga.

Kusaksikan

banyak hal di tempat ini:

barang-barang ditata dengan rapi,

kata-kata dilontarkan dengan santun,

tapi tidak ada puisi. Tidak ada puisi.

Hanya ada senyum yang lahir

dari wajah-wajah yang asing.

Hanya malam yang kian bising.

2019


Gelap Menepuk Pundak Hari

Malam bangkit, waktusemisal

karpet-karpet hitam yang panjang,

yang menghamparkan kesunyian

dan membentangkan ketenangan.

Lalu gelap menepuk pundak hari

agar tuntas cahaya mentari.

Lalu mimpi memungut

seluruh lelah di punggung

para pekerja.

2019


Berada di Jalan

Kau terlahir untuk berada di jalan

biarpunkau bukan petualang yang tangguh.

Karena kauadalah gugusan cahaya

saat gelap membanjiri kota-kota.

Kau terlahir untuk selalu berada di jalan,

menghitung jejak-jejak yang

tak pernah bisa dibaca sebagai

buku-buku sejarah dunia.

2019 


Mata Mimpi

Apakah pintu kamar itu

mesti dibuka, sedang ketok jam

bagai sebongkah batu

yang diam?

Aku rasa tak perlu,

sebab dengkur cuacayang amat panjang

telah menghadapkan wajahku

menuju mata mimpi.

2019


Di Ranjang Ini

Di ranjang ini,

tubuh adalah kata-kata

yang jatuh di jantung puisi.

Di ranjang ini,

umur pergi satu per satu

bersama tik-tok jam yang kian laju.

Di ranjang ini,

mimpi terlahir dan berayun

di antara pohon-pohon musim

yang tumbuh di rahim bulan.

2019


Tabuhlah

:Febryan Nugraha P.

Tabuhlah perkusi itu!

Tabuhlah sebagaimana waktu

menabuh sepi yang tenang; sebagaimana sepi

menabuh mimpi yang dalam; sebagaimana mimpi

menabuh angan yang panjang.

Tabuhlah perkusi itu!

Tabuhlah!

2019


Fragmen Mimpi

Mimpimu yang terluka

mengucurkan seribu nasib baik

yang dikumpulkan seorang ibu

dari masa ke masa.

Sedang kenyataan yang indah

justru tak mengucurkan apa-apa,

tak bisa mengumpulkan apa-apa

kecuali kenangan. Kecuali kenangan!

2019 


Biarkan Saja Kepedihan itu

Biarkan saja kepedihan itu

membentangkan sebuah jalan yang kelam,

sebab cinta saja tak akan sempat mengasuh kita

menjadi makhluk yang dewasa.

2019


Usia

Kemarin adalah usia yang

jatuh berserakan; suara-suara

yang telah hilang gemanya.

Esok adalah usia yang tak pasti.

Sedang hari ini adalah usia

yang dikupas kefanaan dunia.

2019


Anugrah Gio Pratama lahir di Lamongan pada tanggal 22 Juni 1999. Sekarang ia sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia mengambil program studi Pendidikan Bahasa Indonesia di sana. Puisi-puisinya termuat di beberapa antologi bersama. Karyanya yang terbit pada tahun 2019 ini berjudul Puisi yang Remuk Berkeping-keping (Interlude).

Puisi

Puisi Irvan Syahril

Sepasang Sepatu

Setiap Minggu ibu duduk dekat pintu

matanya merapi tali ke lubang sepatu

dan tangannya yang berurat waktu

masih sigap mengikat tali sepatu.

Ibu begitu tekun kepada waktu

sambil memangku sepasang sepatu

semoga tak lepas talinya di ujung tunggu

semoga lekas mengantar ke depan pintu

sebelum sebuah ajal memangku.

Semacam ada ruang waktu yang jauh

dari titik matanya yang kian abu-abu

di sepasang sepatu ada air mata ibu

yang menebalkan alas dan ujungnya

yang tak tuntas mengarah kepada rindu.

Serpihmimpi, 2019.


Puisi

Sudah berkali aku menjumpai putus asa

dalam waktu yang kauberikan kepadaku.

Hening selalu lebih dahulu dari apa pun

seperti debu tak tuntas seribu sapu.

Kau dengan gampangnya menyuruhku

membetulkan hatiku sendiri.

“Ini sepaket waktu, gantungkan di hatimu.”

Aku dengan puisi bertubi menggambarmu

dengan kata dan dengan apa pun yang tak

mengandung rasa sakit. segala tetap naif.

Kau tak pernah tandang ke pintu puisiku

walau terpasang rambu gelisah pada matamu.

Sudah berkali aku menjumpai putus asa

dan berkali juga kusampul diriku dengan waktu.

Serpihmimpi, 2019


Musim Panas

Detakmu adalah ancaman bagi mangu dedaunan

dan kami yang tergeletak. Hujan masih tenggelam

dalam pusar putaranmu amat rumit ditebak.

Debu semakin lancip seperti peluru dilesatkan angin

dan mata kami penuh berair. Ada yang berteduh dari

perjalanan juga ada yang mengaduh dari kejauhan.

Ketika langit kemerah-merahan matahari sekecil

kelereng. Bayangan seakan ingin melepaskan diri

meninggalkan tubuh yang kerontang musim panas.

Detakmu adalah ancaman bagi burung-burung

kehilangan tempat bernaung. Hujan masih lama

terkurung menangis merindukan rumput dan daun.

Serpihmimpi, 2019.


Menjadi Daun

Aku tak pernah menyalahkanmu,

apalagi angin dan musim atau hujan.

Seandainya kau mendengar aku berkeluh

bukan berarti membenci angin yang menarik

lepas dari ranting tanganmu, musim mewarnai

selembar tubuhku, atau deras hujan

yang mengabur pandangan ke dasar dadamu.

Aku percaya kau bukan pemarah,

karena itu kepada langit aku mengharap waktu.

Mata sulit terbuka menangkap cahaya

dan sejak itu seluruhnya menjadi samar:

kukira itu kepak burung yang biasa bertengger

ternyata maut, menebas habis lajur nadiku;

kukira hujan ternyata tangis yang mengiringku.

Segalanya amat cepat, tanpa kata-kata

tubuh dan bayanganku menyatu di tanahmu.

Kini aku berada dekat dengan akar keabadian

aku ingin menjadi satu-satunya daun di rantingmu

daun besar yang kokoh menghadap hujan;

tak pernah kalah dengan musim, apalagi lemah

oleh angin, daun yang senantiasa meneduh jantungmu.

Sepihmimpi, 2019.


Ketika Akan Tertidur

Jam sudah memberi isyarat hati terlelap

kususun wajahmu dengan sisa sungguh

jarum beranjak seperti menguntit jejak

dan persembunyian terbuka di matamu

Adalah langkah yang patah

kertak dari angka ke angka

dan aku bertahan

di jalan yang tak pernah selesai

Kurengkuh degup yang masih menyebutmu

lalu dinding ini memantul-mantulkannya

siapa di antara kita  yang terpenjara

cintaku atau bayang-bayangmu di kepalaku

Aku sedang dalam jantung waktu

kata-kata seraya melejang

setelah merasa ada tatap dari jauh

entah dari lubuk hati siapa ke arahku.

Serpihmimpi, 2019.


Menunggu

Akhirnya aku mengerti hidup

hanya berlomba menunggu

kita bergilir menjadi sepi

Kau ataupun aku harus tertib

sebuah suara memanggil

sesuai pesanan dan waktu

Seketika kita saling tinggal

terpenggal kata-kata di sini

segala lesap tak terucap

Tanda itu segera muncul

membacakan nama kita

seperti serangkai pengumuman.

Serpihmimpi, 2019.


Pergi

Maka sebuah cinta pun yang rutin kita pelihara

tak mampu menolak adanya sepi, sekeras kita

meramaikan meja dengan peristiwa-peristiwa.

Aku dan mungkin engkau, sudah yakin begini:

bahwa yang tersisa antara kita hanya teng-teng

jam, yang menunjuk waktu tepat untuk sendiri,

atau seguyur hujan menarik-ulur cinta yang gugur.

Setiap saat kita seolah tahu kapan datang hari itu

sekecup dua kecup waktu pada bibir kering kita

seperti sebuah peringatan; cinta tak setia sebetulnya.

Serpihmimpi, 2019.


Irvan Syahril lahir pada 18 November 1997 di Subang, Jawa Barat. Seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Singaperbangsa Karawang. Menggawangi komunitas Gubuk Benih Pena (GBP) serta bergiat dalam ekstrakurikuler Bengkel Menulis Unsika (Bemsika) dan Komunitas Kelas Puisi Bekasi (KPB) dan mengelola blog puisikusyahril.blogspot.com & kailfajar.wordpress.com. Beberapa puisi permah terbit di media cetak dan online. Serta beberapa puisinya termaktub dalam buku antologi puisi bersama Karawang Abadi Dalam Puisi (2018), Kunanti di Kampar Kiri (2018), Kepada Toean Dekker (2018), Bintalak (2018), a Skyful of Rain (2018), Risalah Api (2019), Bisa disapa melalui surel [email protected] dan akun instagram @serpihmimpi.

Puisi

Puisi Setia Naka Andrian

Akulah Namamu

Akulah namamu

Dalam secangkir kopi

Saat segalanya telah luruh

Selepas segalanya

tak sanggup lagi kuseduh

Akulah namamu

Dalam secangkir kopi

Saat segalanya tiada kuasa bersimpuh

Selepas segalanya tak sempat berlabuh

Akulah namamu

Dalam secangkir kopi

Saat semua memilih tiada

Selepas ramalan berlalu-lalang

Menghancurkan segala rupa wajah

Yang sudah terlanjur belang-belang

Kendal, April 2018


Kerja Sebuah Pertanyaan

Dua malam sudah. Kami cemas.

Pertanyaan kembali bekerja

Hadir dan memulai dengan caranya

yang beda-beda

Mereka lebih senang berbahagia sendiri

Tanpa memikirkan kami,

Yang lelah mencari jawaban bersembunyi

Bergulirlah pertanyaan itu berkali-kali

Bekerja di atas kening mereka sendiri

Kami semakin cemas. Mereka menenteng

bermacam batu-batu

Disimpan rapat-rapat, di balik punggungnya

Yang lebam dan hampir berlubang

Esok hari, kami telah bergulir

Menghampiri pertanyaan kembali

Mereka terus berjalan, seakan kami tak kuasa

mengejar. Semua berlari, menuju segala arah

yang tak pasti kami tahu

Bersamamu segala sesaat, bersama segala waktu

Setelah jawaban urung datang

Selepas segalanya bekerja

dan datang berkali-kali

Dengan pertanyaan-pertanyaan

Yang tak pernah kami ketahui

Kendal, April 2018


Andai Saja Aku Tidur Siang

Andai saja aku tidur siang

Apakah kau masih mau menemaniku

Menjadi peluru, atau menjadi apa saja

Yang lebih gemar melesat melampaui

kecematan cahayamu

Seperti segala waktu,

yang tak butuh perantara

Yang tak sempat berkelit lidah

untuk saling menolak

dan menjejaki segala tidur yang ragu

Andai saja aku tidur siang

Maka kau akan segera melihat

Segenap kegagalan yang melanjutkan tidurku

Menukar sebuah perjalanan yang lelap

Pada petualangan kecil, yang seolah terburu-buru

Mencari segalanya selepas membuka pintu

Andai saja aku tidur siang

Pasti jika kau juga masih begitu saja,

Menjadi segala waktu yang

kau sudah menjadi ngeri

Teman-temanmu yang akan mengangkatmu

tinggi-tinggi

Mereka seakan menemukan kemenanganmu

Saat semua yang terjadi saat itu adalah batu-batu

Kendal, April 2018


Hari Libur di Kalendermu

Di kalendermu

Hari libur telah pulang

Ia memilih keluar lebih awal

Dari kepergianmu yang panjang

Di kalendermu

Hari libur telah hilang

Ia memilih pergi jauh

Meninggalkan banyak kegagalan

Dari segenap ketiadaan

yang kerap tanggal sendirian

Di kalendermu

Hari libur telah memilih dimakamkan

Segalanya seakan bergegas

Memilih tinggal di segala arah

yang lusuh

Melampaui foto-foto yang patah warna

di dinding kamarmu yang pecah-pecah

Di kalendermu

Hari libur telah memilih dimakamkan

Ia memilih abadi

Di kampung yang jauh di sana

Di sebuah hutan

Yang tak pernah lagi dihuni siapa-siapa

Kendal, April 2018


Bulan Tidur Siang

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Kami sudah pesan satu meter ranjang kayu

Yang dikirim langsung dari taman yang gagal

diciptakan

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Di atas kasur empuk yang dibeli

dengan sepenuh tunggakan cicilan

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Matamu sudah memerah

Semalaman matamu bilang lelah

Menonton rupa-rupa adegan

Yang gagal disetir sutradara pilihan

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Dadamu sudah lelah

Ia tak lagi sanggup membaca arah

Dunia telah lelap

Ia memilih tidur sendirian

Sepanjang waktu

Selepas segalanya urung mengguyur tubuhmu

yang kian dangkal

Kendal, April 2018


Biarkan Mata dan Kening Bekerja

Bekerjalah mata, bekerjalah

Berbuatlah melampaui mulutmu

Meninggalkan segala bising

yang nyangkut di kupingmu

Bekerjalah kening, bekerjalah

Berbuatlah melampaui hidungmu

Meninggalkan segala kebusukan

yang nyangkut di dadamu

Biarkanlah mata bekerja, biarkanlah

Biarkanlah kening mengerutkan lukanya

Agar nanti, segala kecukupan

Mereka berdua yang mengeja

Membaca dan menerka segalanya

Sebelum semua merasa gelap

Mengikuti jejak dan tafsirmu yang berkelok

Biarkanlah mata bekerja, biarkanlah

Biarkanlah kening bekerja, biarkanlah

Kendal, April 2018


Kisahkan Kepada Kami

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Yang menembus batas kesadaran

Yang menerka batas pemahaman

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Tentang jalanan yang lengang

Tentang segala wujud

yang dibiarkan rumpang

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Menuju perkampunganmu itu

Di balik segala keabadian

yang kian membocorkan banyak kekalahan

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Agar kami lekas dan bergegas

Bergerak lurus di jalan yang tak lagi lapang itu

Ruas yang tak lagi diterangi banyak pilihan lampu

Yang tiada lagi menemukan

ke mana arah sesungguhnya pulang

dan ke mana arah melarikan diri

dari tubuh yang gagal

Kendal, April 2018


Dalam Gelap, Kita Lelap

Dalam gelap,

kita tak bisa sepenuhnya lelap

Meski di luar, hujan tak lagi bergegas

Mengguyur kening kita

Yang kian hari kian retak

Dalam gelap,

kita tak bisa sepenuhnya lelap

Kita tak siap membawa diri lahir

Kepada segenap panas

Yang menggenangi dada kita

Dalam gelap,

kita tak bisa sepenuhnya lelap

Orang-orang memilih penasaran

Kenapa mereka memilih diam-diam

dan tidak datang bersamaan

Untuk saling mendinginkan

Untuk saling membakar

Kendal, April 2018


Mematunglah Kami

Maka mematunglah kami

Kepada hari-hari yang lewat

Kepada segenap gegap

Yang tak lagi beri kami gempita

Lihatlah, di sana mereka memilih diam

Menyaksikan ketiadaan kami

Yang pelan-pelan berjalan mundur

Menyusuri tepi punggung kami

Yang kian sepi dari kerja-kerja kepala

Maka mematunglah kami

Kepada malam-malam yang pekat

Kepala segala palung yang tak lagi merenung

Lihatlah, di sana mereka memilih senyap

Membuang dirinya dalam lelap

Mementalkan dirinya jauh-jauh

Ke atas bukit, ke atas segala ketinggian

yang tiada pernah dijejak

Maka mematunglah kami

Ke hadiratmu, kepada segala duka-duka

Kepada segenap lupa-lupa

Kendal, April 2018


Kepada Segala Tuan

Tuan, kenapa kau tak minat

menjadi seperti gurumu

Atau pegawai pemerintahan desa

yang setiap pagi menenteng batu-batu

Pulang membawa suara-suara

Yang dipasung waktu

Tuan, kenapa kau memilih diam

di dalam ransel bekas

Yang kerap ditenteng

mengelilingi banyak pintu

Apakah kau lebih tenang menjadi dirimu

Yang sempat berjaya pada masa 1970 itu

Saat dinding sekolah tak begitu digubris

Saat segalanya memilih menjadi punggung-punggung

Yang setiap pagi dijatuhkan di lahan-lahan sewaan

Tuan, kenapa kau tak minat

menjadi seperti gurumu

Atau kau memilih berkukuh

Seperti dirimu yang dulu

yang baru mulai mengenal beberapa huruf

yang belum begitu bernafsu

memilah teman untuk menemukan banyak ibu

di sudut-sudut bangku sekolah

Pada zaman dahulu itu,

Saat semua orang mengaku

Bahwa tetap teguh bersekolah

Menjadi segala cara menghancurkan segala salah

Kendal, April 2018


Setia Naka Andrian, Lahir dan tinggal di Kendal sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Saat ini sedang menjalani program Residensi Penulis Indonesia 2019 dari Komite Buku Nasional Kemendikbud di Leiden, Belanda.

Puisi

Puisi Ian Hasan

Merawat Cinta dalam Jangkauan

lampu mati,

mengirim gelap yang mendekatkan

senyata kenyataan yang menghimpit

angkasa lapang,

sepi dari lalu-lalang pujian

sekhusyuk lilin di tengah ruangan

fajar di halaman,

rumput-rumput berdesakan

sembunyikan genangan hujan semalam

kebun,

harapan yang segan tumbuh

derai gulma, ilalang dan tanah jenuh

rumah,

menaungi sisa-sisa kantor

kran bocor dan tumpukan piring kotor

anak-anak,

nyala yang tak pernah kau saksikan

di kepulanganmu yang masih keruh

istri,

kesejukan yang kau lewatkan

dalam sunyi dan kesetiaan menanti

cinta,

adalah bagaimana kesanggupanmu

menjangkau dan merawatnya


Ke Mana Pergi

dunia belakangan jadi sempit

bahkan tak lebih besar dari ibu jari

sementara zaman demi zaman

kerap melahirkan orang-orang besar

yang lebih banyak dari rahim mancanagari

ke mana pergi pewaris ibu pertiwi?

sehari terasa tak cukup

waktu terengah-engah hampir tak sanggup

sementara otak tak lagi berupa lahan subur

kerja otak tak bisa dihitung

acapkali tak keluar keringat justru bikin makmur

ke mana pergi pelaksana hati?

rasa dan ketulusan cukup dipajang

agar selalu ada kenangan

sekalipun bukan milik sendiri

hidup harus hemat jangan dibuka semua

secukupnya untuk diri kita sendiri saja

ke mana pergi diri yang belum mati?


Menunggu Kedatangan

awan berkelipat-gelung menelan senja yang tak gesa

angin menghimpun gelap mendorong malam tiba lebih cepat

orang-orang bergegas mengaliri lorong masing-masing

sementara butiran kehidupan mulai menitik singgahi segala muka

dan langit semakin menunduk, kian dekat dari sebelumnya

hitam di mata orang-orang mendekati batas kelopak pandangan

air muka kerut, simpul kening menjerat perlihatkan penat

hujan pun tiba dan malam melindungi penuh gelora

anak-anak memandangi jalanan basah dari balik kaca jendela

dan aku diam-diam melepas rindu bersama deras tak berkesudahan

sepertinya anak panah itu melesat,

angan itu bergelantungan,

rindu itu di kedalaman

sepertinya…, tak perlu kau tanyakan

kucing-kucing terdesak dingin di emperan hingga hujan berselang

gerah seharian dikuliti, hingga tinggal belulang

tergolek aku di kesendirian, menimbang utang yang belum lunas

selama purnama masih terhalang mendung di mata anak-anak negeri

dan sedikit pun tak kukenali lagi bara api di dada para terpelajar

sepertinya laju takdir tercerabut,

jalan maju kian terentang,

rindu ini belum terlawan

sepertinya…, akan segera datang


Mendekatlah

mendekatlah padaku,

dengarkan kabar tentang elang

yang melayang tenang terdorong angin

mengarungi cakrawala dengan mata waspada

menghitung berapa kali pusaran berputar

menyaksikan perubahan, merekam kenyataan

itulah kabar tentang batas hari ini dan esok

yang harus segera kita kerjakan

mendekatlah pada-nya,

dengarkan kabar tentang bintang

yang bertengger di dahan keabadian

menyandarkan kegalauan dan keragu-raguan

melabuhkan harapan penuh penghambaan

menyusun ingatan tentang pergulatan fana

itulah kabar tentang batas daya dan upaya akal

yang harus segera kita endapkan

mendekatlah pada diri,

dengarkan kabar tentang tanah negeri

yang kering kala hujan tak datang

menyediakan hamparan kejujuran

menorehkan jejak-jejak terdalam

menempuh kesadaran dan tanggungjawab

itulah kabar tentang batas selain kau dan engkau

yang harus segera kita kabarkan


Sejarah Kerinduan

adakalanya kerinduan menjelma wewangian

terpendar dari rona tersipu bebunga taman

merayapi segala penjuru lesu yang hiruk pikuk

hingga para penghuninya seketika bertengadah

dan serasa teraliri dengan darah-darah yang baru saja diperas

dari kemerahan mega saat matahari mulai menggeliat

dan menyingkap selimut yang semalaman

telah membungkus keseluruhannya dengan rapat

kantuk melarut, keletihan menguap,

selayak kabut yang kian menipis saat mentari mengintip

tapi siapa yang tahu dari mana datangnya wewangian bunga?

seperti kerinduan yang tiba-tiba saja mendekap erat,

tak lagi memberi ruang bagi siapa saja

yang menghuni lesu untuk bergelimpangan tak bertenaga

tanpa kita tahu dari mana awal keberangkatannya

dan di mana tempat yang menerima kepulangannya


Kalian dan Kita

I

teman

: entah kepada siapa sebutan ini kutujukan

ketika kusadari napas yang menandai hidup

bersama kalian hingga detik ini

tatapanku seakan menghindar

dari kecenderungan hasrat banyak orang

dan barangkali juga kalian

alam kita sama, zaman kita sama pula

akan tetapi ada ruang-ruang kesunyian

yang selalu menarikku ke sana

sesak kurasakan di keramaian

kosong kurasakan di perayaan-perayaan

jiwaku selalu mengembara

menelusuri celah-celah tak menarik

mendekati yang kalian singkirkan

II

teman

: entah kepada siapa tanda ini kusematkan

kaki angin tersangkut di sangkar kenangan

ketika kita berdua tertegun dan sangsi

mentari tak beranjak seolah memberi jalan

bagi kemungkinan-kemungkinan yang tak jarang kita ramal

kita pernah saling bertandang

saling berkirim jejak kaki di lantai yang asing

sebelum akhirnya kita sadari tak pernah ke mana-mana

saat di mana otak dan perut kita telah sama-sama terisi

angin masih saja tersangkut

sepertinya menunggu dentang rencana

yang barangkali tengah disiapkan untuk kita

sedangkan kita tak lagi tertegun dan sangsi

semoga sampai kapan pun, meski tak lagi di sini

III

pada suatu saat nanti

bersama-sama akan kita petik kembali

kemewahan yang pernah mengaliri nadi

seperti diamnya batu

seperti kehadiran yang tertunda sekian lama

dan wangi kemewahan itu tak bisa kita tolak

mencumbui ke mana saja angin pergi

bersama tetesan waktu

bersama kening kita yang batasnya kian menepi

dan cukup lewat berita yang tak perlu dimuat

sehingga pantas untuk datangnya senja

pada suatu saat nanti

ada kemilau berputar di batas nalar

kemewahan yang menjadi pundi-pundi


Tiga Anak Kucing

tiga kucing kecil memburu anak sungai

masing-masing berbinar purnama yang berbeda

jemariku yang hitung sepekan merasai kelembutan

entah genap atau baru sedalam sayatan pisau

bulu mataku seketika rontok tergoyang bayu sasmita

menolak semai benih-benih pengebirian

tiga anak kucing dengan ekor terombang-ambing

seburuk ranting yang patah ketika muda

saat kala melibas deras tak ambil pusing

lalu terbirit tanpa sekalipun berpaling muka

putik-putik surya di kepalaku menangkap bahasa kebisuan

membuka lipatan subuh yang terbungkam dingin

benih-benih, tandas begitu ditanam

membingkai jalan pencarian anak sungai

arah manakah mereka?

tiga anak kucing rebah lupa gelisah

tupai-tupai pingsan saksikan langkah memukau, kebingungan

alangkah pelik bekal yang harus dibawa

bukannya cukup karsa terhunus tak putus

alam telah sediakan jalan untuk haus dan lapar

dan tak hanya mentari yang sanggup memanggang kebekuan

tiga anak kucing mengerontang

kedatangan tua sejuk bersepoi-sepoi

dan anak sungai masih nampak di ujung mata


Pada Butir-Butir Padi

sebelum kita sama-sama tahu

bahwa jalan ini segera bersinggah

sadar kusongsong pelita di kedalaman sanubarimu

dan langkah kita terbawa oleh satu cerita

mengukir dialog- dialog yang terajut rapat

kita banyak belajar darinya, tentang sebuah perjalanan

pun ketika kita berjarak satu sama lain

masih mampu kita hadir bersama-sama

menjumpai orang-orang dan keseharian kita masing-masing

kau hadir sertaiku dan kusertai kehadiranmu

karena cinta bagi kita alam semesta

karena hidup bagi kita jalan cerita

tirai demi tirai terbuka

dan genggaman kita bersinar seperti matahari

kita selalu percaya binar itu tak mungkin padam

seperti halnya kita selalu yakin

kehidupan masih tersedia pada butir-butir padi

kita sama-sama terdiam suatu ketika

dan lewat pejam kita saling berpandangan

bersama kita sadari tak punya apa-apa

hanya cinta, kesetiaan, dan rasa percaya

hati kita pun berdekapan agar lebih kuat

menumbangkan tiupan angin sekeliling

             naskah demi naskah terbaca

             dan kegamangan kita menjelma patri kesungguhan

             kita selalu mencoba berbicara dengan kenyataan-kenyataan sulit

             seperti halnya kita bertanya ke hati

             saat asa masih tersimpan pada butir-butir padi


Perjalanan Malam

sore, kala kunang-kunang masih bersembunyi di balik bayang-bayang pepohonan

sukma-sukma yang baru saja terbangun berkerumun di ujung hari

mendekat satu sama lain, meraba kenangan sepanjang lelap sehari

subuh masih tercekat di belahan masa yang berbeda

perjalanan usia nampak tatkala cahaya mengurai bentuknya sendiri

sementara rembulan pucat menanti jelaga terhampar

jemari senja kian nampak sedang meraih bentang angkasa

usai kuundang kenangan yang tak lagi sekadar kerinduan

sedang raga terlanjur letih, ditemani sisa-sisa dosa yang menempel di benak hari

sementara jiwa menyapa beranda-beranda yang masing-masing menunggu dikunjungi

seteguk kerinduan basahi sekujur angin yang terdiam telanjang

membalut luka kenangan meski tak sembuh seketika

saat jelaga tumpah dan di antara kita rasa ini menjadi sahabat

menemani di setiap putaran, menyertai di setiap perjalanan

sepi pun menyediakan ruang pengembaraan yang begitu luas

di perbatasan kota, di mana kenangan membawa serta sekawanan harapan

berdua kita berdiri, sama-sama menjadi saksi kedatangannya

emas cahaya rembulan hinggap, memberi irama perjalanan

hingga saat kelambu malam terbakar di ujung timur

dan lagi-lagi kita sadari, satu langkah lagi akan menyusul esok hari


Hikayat Purnama

purnama mengantarkan kedatanganmu

di jendela yang sengaja kubuka malam ini

angin malam berduyun-duyun menyelimuti

dan langit tersapu pucat oleh awan-awan tipis

aku sedang menatap purnama itu

di rengkuhan langit yang kelelahan

kusaksikan drama yang begitu panjang

seperti saat kutebus kerinduan tadi pagi

tertera begitu tegas namamu

yang sanggup membuat purnama hadir dengan kerelaan

demi menghimpun keseluruhan cerita tentang kita

memenuhi rangkaian episode tak kenal akhir

di jendela yang membingkainya ke dalam petak-petak kenangan

bersama malam, bersama dingin

bersama sejarah yang tengah kita kerjakan


Ian Hasan, pegiat di Pasamuan Among Anak (Pamongan), sebuah model prakarsa pendidikan alternatif berupa sanggar berbasis komunitas sejak 2013 lalu. Dunia pendidikan anak menjadi perhatiannya hingga kini, di sela kesibukannya sebagai juru rancang bangunan di Solo. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata di Karanganyar.

Puisi

Puisi Kharisma Damayanti

Malam yang Panjang

Doa berembus dari bibirmu

dan kau tiupkan di sekujur malam

mimpi baik akan datang

menyelimuti lelap yang dingin

Pejamkan mata sekarang

apalagi yang sibuk berlalu-lalang

di dadamu itu?

Mengapa tak kau loloskan saja

agar ia bebas menyusuri malam

dan menemukan tempatnya bertenang-tenang?

Waktu semakin tajam

kau sampai di puncak sepi

mengetuk bulan untuk membukakan

pintu cahaya lalu masuk dan

menemukan dirimu jatuh di antara

lembaran-lembaran masa lalu

Kau sudah lelah, tampak dari

sajak-sajak yang kau bacakan

hanya bergaung di kepala

tak pernah didengar oleh siapa-siapa

Tidurlah,

maka malam akan terasa panjang

dan pagi masihlah jauh membangunkan

rindu di hati tabahmu itu

Magetan, Oktober 2019


Doa di Suatu Hari Menjelang Pagi  

Sunyi meninggi

malam kian menepi

embun terburu-buru tumbuh

dari dadamu yang rapuh

Jelang pagi

hening bersuara di kepalamu

meribut segala ingatan

isak tak bisa lagi kau tahan

Lalu yang pecah

adalah gelas-gelas matamu

berserak masa lalu di lantai

begitu buram semua itu

Puncak sunyi

langit masih gelap

azan pertama menyelinap

di jantungmu yang berkarat

Sedikit berdebar,

kau menunggu matahari jatuh

mengeringkan luka-luka yang ngembun

dari celah matamu

Magetan, Oktober 2019


Pukul Setengah Sepuluh

Matahari pukul setengah sepuluh

mencondongkan tubuhnya kepadamu

sampai peluh membasahi kepala

membanjur sampai sela-sela doa

Kau lihat langit pukul setengah sepuluh

jutaan burung melesat pergi dari tanganmu

yang sedari subuh kau penjarakan

demi meraup harapan demi harapan

Mendung belum lagi bangun,

tapi kau telah menginginkan gerimis

bertandang ke rumahmu selagi

anak-istri menekan kosong perut mereka

Cuaca sedang sekarat, katamu

terik tak bisa diajak kompromi

meski kau jejalkan dupa

ke kantong bolong musim

Tak bisa, langit pukul setengah sepuluh

memang selalu begitu

mengikat setiap lakumu

yang mulai linglung dan bosan

Tapi, tidakkah kau rela berjalan jauh

demi menemukan cuaca

anak-istrimu sudah lama menanti

bermandi gerimis tertawa-tawa

Pukul setengah sepuluh lebih

langit menangis tanpa air mata

Magetan, Oktober 2019


Cuaca yang Baik

Tenanglah,

bukankah cuaca sudah mengalah hari ini

ia tak membebankan tugasnya padamu

juga tak mengundang angin untuk membadai

di sore yang kelewat hening

Jangan salahkan ia,

puisi-puisimu tak ditulis musiman kan?

kau berkata-kata sepanjang hari

bahkan cuaca senantiasa mengabadikan

dengan mengalirkan napasnya ke denyut ingatanmu

Ia setia melakukan tugas

merawat baik kenanganmu

tak membiarkan waktu mencurinya atau meracuni dengan khayalan-khayalan

Maka tenanglah,

cukupkan hatimu yang sakit itu

biarkan perlahan pulih dengan merelakan yang tak kembali

dan kelak pun sembuh saat kau sudah berdamai dan memaafkan luka-luka di masa lalu

Magetan, Oktober 2019


Menanti Hujan Turun

Di beranda, sepasang mata berkaca-kaca membaca cuaca. Semesta di pikirannya sibuk melipat kemarau dan berusaha merentangkan penghujan.

Sementara itu, di luar angin beraroma tanah basah. Semilir membelai kenangan yang menjuntai-juntai dari ingatan. Denyar gerimis mulai terasa menitik satu-satu dari mata.

Hujan pun turun. Ricih-ricih waktu deras bersejatuh. Memanggil-manggil doa dari dada yang tergenang, sampaikan ke langit paling tenang.

Magetan, Oktober 2019


Seseduh Ingatan

Masih panas,

kepul asap kopi di meja

serupa kabut menggayut di jalan-jalan pikiran

kita sesap pahitnya perlahan-lahan

menanggalkan kesedihan dan membiarkan

segalanya hilang begitu saja

Bukankah itu lebih baik

daripada menjaga apa yang telah tiada

membuang detik percuma

sudah cukup kita rawat luka

perihnya yang lama membikin lupa

bagaimana cara berdoa

Magetan, 2019


Pada Suatu Senja

Pada suatu senja,

ia berjalan entah ke mana

membawa rahasia

Barangkali ke rumah ibu

di pusara lindap sepi

tempatnya menabur bunga-bunga

Atau ke rumah ayah

yang letaknya di sudut mata

begitu nanar dan jauh

Ia linglung, sudah jauh berjalan

melewati kelokan-kelokan,

tapi semakin menjauh dari ayah dan ibu

Ia seorang, berkelana tanpa arah

mengikuti jejak dari gugur daun-daun

diterpa angin yang badai di matanya

Pada suatu senja di hari lain

ia menemukan sebuah alamat di koran

dan ingin berkunjung ke sana, menemui Kau

Tapi, apa guna rahasia yang ia bawa

bila Kau sudah tahu segala-gala

akankah Kau berpura-pura menerimanya?

Magetan, 30 Juli 2017


Sebentar

Hari demi hari

angin menyisir padang-padang

menerbangkan debu-debu

sampai padaku

Berkumpullah debu itu

pada kaca jendela rumah

yang kian mengabu

termakan waktu

Lalu kugambar wajahmu

di kaca jendela itu

kepalaku bersandar di sana

kita bertemu mata

Cerita-cerita kita bagi

tawa-tangis silih berganti

dan angin datang lagi

menerbangkanmu, membawamu pergi

Apakah kau kembali

ke padang-padang itu lagi?

Magetan, Juli 2019


Mata Beningmu

ada awan, matahari, kadang juga

bulan, bintang-bintang berkelip di sana

di matamu, mata bening itu

aku gemar sekali merangkai tatapmu

yang seringkali berganti cuaca

menjadi sajak-sajak musim

di mata beningmu,

telah hidup semesta cintaku

membentang rindu tak terukur oleh penjuru

Magetan, September 2019


Kelahiran Puisi

Malam ini, telah kulahirkan puisi

disaksikan cahaya bulan dan ribuan gugus bintang

meriah cericit burung malam menyambut

angin riuh bergemuruh, berpestalah semesta!

Silakan timang puisiku, duhai Kekasih

aku adalah ibu yang akan mengenalkannya pada keras dunia

kelak, ia adalah kata-kata paling tajam

menusuki jantung-jantung orang ngawur

agar tak semena-mena mengatur

Kekasih, atas nama-Mu

izinkan puisiku menggapai puncak citanya

dibaca dunia sebagai tanda bahwa berkata-kata memiliki hak merdeka

Magetan, Oktober 2019


Kharisma Damayanti, lahir dan besar di kaki gunung Lawu. Beberapa karyanya baik puisi maupun cerpen telah dibukukan dalam antologi bersama.

Puisi

Puisi Sengat Ibrahim

Menjadi Penyair

di hari pertama

aku menjadi penyair

aku sibuk melakukan banyak hal

yang tidak menghasilkan apa-apa.

di hari kedua,

ketiga, keempat, kelima,

sampai pada hari yang tidak lagi kuhitung

sebagai penanda bagi hari terakhirku menjadi penyair.

aku makin konsisten

melakukan banyak hal

yang tidak menghasilkan apa-apa

memang semudah itulah menjadi penyair

di negara yang tidak pernah bosan memproduksi koruptor.

2019


Pernyataan Seorang Penyair

penyair tidak pernah

menciptakan kesedihan

hanya saja, kesedihan kerap

kali mencintai banyak penyair

dengan cara berlebihan.

maka wajar kalau

suatu waktu pembaca puisi

akan mendefinisikan penyair sebagai

orang yang benar-benar ahli

dalam hal menunaikan kesedihan.

2019


Bagi Seorang Penyair

bagi seorang penyair

tidak ada tempat yang

benar-benar menyenangkan

kecuali di hati banyak orang.

2019


Doa Penyair

aku mencintaimu

dengan iman yang tuhan kasih

semoga kau terima cintaku

dengan perasaan aman yang tuhan asuh.

2019


Pengakuan Penyair

tuhan maha tahu

aku maha ragu

kau maha rindu:

pusat penyatuan

tuhan denganku.

2019


Surat Dari Penyair

tidak ada yang

berbeda dari rinduku

ia hanya memperhatikan dunia

yang melulu berhubungan denganmu.

2019


Cara Penyair Bekerja

hampir seluruh waktunya

yang berisi sempat dan sehat

dalam suasana cerah ataupun gelap.

ia gunakan hanya untuk memaksa

pikiran, memikirkan segala sesuatu yang

di mata orang lain tidak layak dipikirkan.

kemudian bersama bahasa ia membuat

ketidakmungkin menjadi mungkin, seperti

mimpi yang berhasil keluar dari dalam tidur.

2019


Sengat Ibrahim, Lahir di Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek. Bertuhan pada Bahasa, (2018) merupakan manuskrip buku puisi pertamanya. Sekarang menetap di Jogjakarta sekaligus bekerja sebagai Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub.

Puisi

Puisi Risa Fauziah

Hujan Paling Deras

Kau lupa cangkir itu kosong

Untuk apa kembali meminta

Sedang kopi yang kusuguh hilang

Menjelma langkah detik yang paling hampa.

Kau ingat air itu sulit

Sesulit memintamu berbicara

Hujan kali ini pelit

Tapi air di mataku masih terus mengalir

Tanpa diminta.

Tasikmalaya 2019


Resah

Serupa nama tanpa makna

Serupa seruan tanpa nada

Kita hendak memilih bersama

Namun jeda terlampau lama

Kian hari, kian merontaMeminta arti tak mau pergi

Ingin tinggal tapi takut tak diinginkan

Tasikmalaya 2019


Mendung Singgah

Acap kali mendung singgah

Di langit kamarku, jengah

Membekap bibir tuk bicara

Awan meluap

Tergetar petir ingatan

Tak dapat terbendung

Gelap, mencekam.

Lebat. Meruah dari atap

Beralaskan hati yang rapuh

Tasikmalaya 2019


Paling Dalam

Sedikit katamu, cobalah

Perihal ruang paling dalam

Tidaklah mudah

Bukan satu atau dua kali

Sesering itu, sampai lupa

Sukarnya membuka kembali

Untuk ia yang inginkan menetap.

Tanpa niat singgah.

Tasikmalaya 2019


Tua

Langkahnya masih teguh

Jejaknya tinggalkan bekas mendalam

Dari pagi hingga larut malam

Tanamkan asa melimpah.

Keriputnya tak kenal menyerah

Bungkuknya tak kenal lelah

Jajakan buah seadanyamenawari orang berlalu-lalang.

Wajahnya ceria tak kenal cuaca

Senyummya menyisakan kesan mendalam

Bagi ia yang datang

Membeli atau sekadar tergetar hati.

Tasikmalaya 2019


Sekian

Kau menoleh, untuk apa?

Jika temu saja enggan

Kau berlalu, sudah biasa

Lantas, apa tadi katamu?

Hahaha, aku yang terbaik?

Aku yang terakhir?

Cukup, ucapan basi itu

Muak, janji palsu itu

Sekian.

Tasikmalaya 2019


Si Kecil

Dari Tubuhmu Aku Lahir

Dari pelukmu aku tumbuh

Dari tangguhmu aku kuat

Dari kerja kerasmu aku hebat.

Si kecil dulu kini telah mendewasa

Si kecil dulu kini merasa lelahmu kala itu

Si kecil dulu kini hampir menyerah

Si kecil dulu kini butuh nasihatmu

Dari hidup yang kian keras

Dari dunia yang kian ganas

Tanpa dukungan, tanpa do’a

Sebenarnya aku masih merupa kecilku.

Tasikmalaya 2019


Rumit

Sebanyak apapun aku berpuisi tentangmuSepenuh rasa kutuang kedalamnya

Sekali pun enggan kau baca.

Serumit itu pula aku berhenti

Berhenti dari merindukanmu

Berhenti dari mengenangmu

Berhenti berharap kita kembali

Bersama.

–Tasikmalaya 2019


Arah Takdir

Detakku mengarah padamu

Jauh sebelum wajah kita beradu

Di balik jalan punggungmu

Aku sembunyi dari kemelitanku.

Tanpa dinyana takdir menemu kita

Kembali tanpa banyak kata

Bilik pesan mempersingkat jarak

Sampai di titik paling bahagiaMeramu rasa yang sama.

Tasikmalaya 2019


Usaha Bahagia

Wajah bulat, berkaca mata

Berdampingan. Senyum yang sama

Cekrek …

Potret terakhir tapi tidak cintanya

Harus memang, kakiku melangkah

Bukan maksud menjauh

Lebih dari mengejar hidup

Lebih layak, lebih dapat dipercaya

Nanti, kau bisa kuhidupi

Dengan jerih payahku sendiri.

Melihat kau setiap hari

Tersenyum lega.

Tasikmalaya 2019


Risa Fauziah, lahir di Tasikmalaya 1995

Puisi

Puisi Yulia Rahmatika

Persembahan Puisi

: Kepada Tama

Puisi Pertama

Mestinya aku tidak mempersembahkan puisi ini untukmu

Sedangkan sepasang mata yang lain akan cemburu

Jika mengetahuinya

Puisi-puisi adalah kekasihku

Menjelang petang aku selalu merapalnya

Sebab malam bakal menumpahkan segala keramahannya

Puisi-puisi ini doa yang khusyuk

Dengan segala keterasingan bait-bait yang tak mau kau kenal

Bagiku, disetiap kata yang ada, ia ingin memeluk dirimu yang membeku

Ia bisa terbang, kulepaskan ia seperti balon-balon sabun yang dimainkan adikku

Barangkali langit-langit akan setia memayunginya

Selama ia ingin dan mau menujumu


Puisi Kedua

Aku menetap jauh kedalam dirimu tanpa kau tahu

Aku menjadi tamu diam-diam yang paling riuh

dari gemuruh pesta di jantungmu

aku telah memasuki gerbang ketidakpedulian

mata angin mengantarkanku, kepada matamu

wajahmu puncak gunung

tertutup tirai kabut

dan jalan terjal harus kulewati tanpa mengeluh

diantara rimbun semak belukar

dalam jurang kekecewaan

diri ini akan berjuang

mengecup keningmu tanpa spasi seperti puisi-puisi ini


Puisi Ketiga

jangan berlari, dan jangan bersembunyi

aku gemas

akan aku ajak kau menikung jalan di angkasa

kita berhenti pada bulan merindu

merakit mimpi bersama jalan di rasi bintang

kita meminang segala macam kebahagiaan

tak ada raut wajah orang yang menyedihkan,

pura-pura menyedihkan, atau malah menutupi kesedihan

seperti yang ada di sekeliling kita sekarang

tak ada gubuk derita, takada yang menderita

dingin tunduk kepada kita sebelum diri ini sama-sama tertidur pulas


Puisi Keempat

Di sini kita masih menebak jejak

Mana yang lebih jauh dan tak terjangkau

Kaki ini atau kakimu.

Rasa penasaran mengetuk berkali-kali

Pada gerbang nurani

Seusai aku merangkai salam secara hati-hati


Puisi Kelima

Mengapa kau tak putus-putusnya membayangiku?

Saban hari, kau menyelinap, mengendap seperti mata-mata

Wangimu masuk, menyusup, menyentuh, menciumiku

Matamu mengganggu. Ia memendar ribuan cahaya

Yang menghancurkan kegelapan, kesunyian ; kepada diriku

“Mengapa kau tak bosan-bosannya di sini?”

Padahal tidak ada apa-apa yang baik dalam diri ini

Tidak ada nama-nama indah. Tidak ada masa depan

Aku sendiri, tidak tahu, siapa diriku

“Benarkah katamu, kau benar-benar mencintaiku?”

Wajahmu selalu terjebak dalam penjara-penjara pikirku

Kau terbang bebas sesukamu, seperti burung-burung

Tapi entah, kenapa ruang itu buntu. Kau tak mau keluar dari situ

Mungkinkah cintamu akan pulang kearah jalannya?

Adakah jalan itu diriku?

Ataukah jalan yang lain yang merestuimu?

Aku tidak tahu. Begitupun aku yakin, dirimu juga tidak tahu

Diri ini hanya melempar doa-doa. Tak peduli bibir dan wajah ini pucat

Asal ia bisa menukarnya. Dengan rekah-rekah senyum harap

Di pelupuk mimpi-mimpiku

“Tapi, adakah mimpimu sama persis dengan mimpiku?”

Aku tidak tahu.

 “Tapi, kalau bukan kau, siapa lagi?”

Siapa lagi?yang kutitipi

yang kuserahi puisi-puisi

dari aku ini yang sungguh tak tahu diri.


Puisi Keenam

Lekuk bibirmu, kekasihku

Adalah keramahan

Suatu hari kelak aku tidak tahu. Bagaimana diri ini berhenti mengagumimu

Entah sejak kegelapan menyerang. Atau sampai aku tenggelam dalam harapan?

Adakah sampai senyummu yang cerah.Benar-benar tak kelihatan?

Pertanyaan itu dengan sendirinya menolak jawaban

Aku berhenti melangkah. Mencengkeram lututku sendiri. Aku telah menyusuri tebing-tebing

Tapi tak jauh lebih curam dan mematikan. Selain sudut senyummu itu sendiri; kekasihku

Aku gadis yang malu-malu. Dua puluh angka mau kudapati. Tapi aku masih berandai kalau aku ini angin. Tapi aku masih berandai jikalau saja aku ini air

Kekasihku;

Aku belajar bagaimana berhenti sejenak. Membunuh dan menggulung apapun

Yang buat kau berjalan-jalan bersama kecewa. Yang buat kau menjamah sakitnya rasa.

Setiap kali kau begitujangan kau murungkan bibirmu kekasihku.

Sebab disana

Aku telah belajar

Tak ada yang lebih indah dari sebuah ketulusan

Lahir di pucuk bibirmu saat bertemu dengan bibirku;

Yang nantinya, kekasihku

Rekah bibirmu, itu sungguh ;

Ia untukku


Puisi Ketujuh

Aku yakin jika kau akan kembali

Tak peduli seberapa lama kau pergi.
Seberapa jauh atau seberapa inginmu menjauh.

Sebab besar pikirku
Aku ini adalah jalanmu menuju rumah
Aku ini kota yang ingin kau jamah sesaat kau bosan ;
dari manusia-manusia yang tak kenal ramah.

Aku yakin kau pergi bukan untuk kucari
Bukan memintaku untuk berhenti mencintai

Melainkan kau melepas diri, aku yakin
Sebenarnya kau ingin mengajari
Bagaimana seharusnya mencintai diri sendiri

Meyakini hal-hal semacam itu
Adalah  menyenangkan, sayang
Sama seperti sewaktu kau datang kemarin
Dengan wajahmu yang mekar

Aku mencintaimu sebelum sempat kau memutus hilang

Namaku, perempuan, Sayang
Diri ini sebelumnya penuh luka
Didapat dari orang-orang
Yang tak kenal diri ini dengan semestinya


Puisi Kedelapan


Sayang,
Kau yang tinggal di mesin ketikku.
Kau huruf-huruf yang mencintai jariku.
Besok kita akan bersama-sama lagi.
Bahkan setiap hari

Bukankah kita sepakat akan bersama-sama melumat spasi
Lalu menerbangkan tanda-tanda
Terus membiasakan diri untuk serakah
Tidak mengingat angka-angka
Dan tidak mengingat anak panah yang berarah-arah

Kita menyatu, bersama-sama
Tidak dikendalikan apapun
Barangkali mengalir bersama bunyi tik-tik
Sampai pukul tiga pagi
Sampai siang datang kembali

Aku datang kembali, untuk mencintaimu lagi.
Tik tik. Titik.


Puisi Kesembilan

Saya tidak mempunyai cukup kata untuk mengatakan saya benar-benar mencintaimu

Saya tidak mempunyai cukup suara untuk mengatakan saya sungguh mencintaimu

Saya diam, tetapi diam yang saya milikipun, sungguh tidak cukup  menjelaskan kepadamu bahwa saya sungguh-sungguh mencintaimu.

Jadi saya memutuskan untuk takut.

Saya takut untuk mencintaimu.

Saya takut,

Jika ada orang bilang kepada saya bahwa sungguh tidak pentingnya jika saya mencintaimu.

Saya takut, atas balasan kata yang tak cukup ini.

Kau mengatakan “saya tidak ingin mencintaimu”

Kemudian saya takut memikirkanmu

Saya takut masih menyimpan kata yang tak cukup ini untukmu

Saya takut,

Saya tidak memiliki apapun,

Selain cinta saya untukmu, saya takut kamu tidak akan mencintaiku


Puisi Kesepuluh

Kenanglah aku
Juga sewaktu kau mulai beruban dan kau sudah tua
Keriput dimana-mana

Bukalah matamu, ingatlah berapa banyak yang mencintaimu dulu; juga termasuk diriku

Kasih, sajakku untukmu begitu deras
Ia membungkuk meminta dibaca atau sekadar disimpan saja

Sudah berulangkali,
Sekeping kenang barangkali meminta dicengkeram

Jangan tanya aku dimana,
Waktu itu aku sedang menghitung sesal

Kenang saja, kenanglah aku sampai kau juga kecewa


Yulia Rahmatika, lahir di Bojonegoro,16 Juli 1999. Mahasiswa aktif Pendidikan IPA Universitas Trunojoyo Madura. Menyukai puisi sejak jatuh hati.

Puisi

Puisi Julaiha S.

Beduk Rindu

kaki-kaki menelan tanah sawah

sepanjang usia ibu

hijau-kuning menakar tubuh keriput

di antara senyum itu

ada denyut yang mengeja waktu

tak ada yang nyata menggulung ingin

yang tercermin dari rupa rumah

pohon-pohon ikhlas

mengayun air malam yang kedinginan

menelusuri sisa-sisa letih

yang dijaga ibu sebagai ribuan doa

untuk kaki kuat di tanah kota

Medan, 2019


Kabut-Kabut Kelabu

langit kini nyanyian kabut-kabut kelabu
mengantar kesedihan di balik kapuk

tak ada yang ingin pulang

seperti burung-burung menjelang magrib

yang bersorak-sorak memanggil anaknya

aku tertib mengeja almanak

tata kera kemeja

urutan kancing baju

menghitung detak masa lalu

air selokan begitu tenang 
menjaga kakimu tetap berjalan

aku cinta yang mengalir dari

luka-luka sekujur tubuhmu

aku kandas dalam kemarau

berjiwa kota

di dalam angin

aku merindukan doa-doa

yang terbang tak tahu arah

Medan, 2019


Mata Seberang

tubuhku mencari-cari pandang

yang melipat kata jadi udara

yang tersimpan dari lubuk kenangan

ialah mata-mata seberang

menuntun langkah jauh

mekar di jari-jari kaki perempuan

tubuh angin memelukmu

semilirnya, menggetar kendi

di kepala kakak perempuan

yang di dalamnya bunga beragam rupa

di balik mata seberang

candumu mengemas hilang

yang menetes dari dahan-dahan kering

Medan, 2019


Tugas-Tugas Jarak

jarak ini tumbuh daun-daun kering

menepi menuju masjid

suara sapu lidi menyeret tanah

mengeja langkah kepergian lalu

larut malam kini menyerang rimbun

kaki menaiki kendara

kepala bocah panas waktu

dengan tugas-tugas tak berujung

barulah ia mendaki inginnya

kelebat duka suara ibu

sungguh tak ia ingkari kehadirannya


Medan, 2019


Burung-Burung Tak Menangkap Kabar

cakarmu tak melubangi tanah

detak-detaknya tertanam di sana

yang semakin senja

dan terbenam

Medan, 2019


Yang Diulang-Ulang

berulang-ulang

tasbih berulang-ulang

bulirnya menghantarkan gelisah

berulang-ulang

lantunan kuulang

bawa aku pulang

memelukmu

Medan, 2019


Tampungan Air

kau hanya duduk

mencium tubuh air

simpan aku dalam sedih

dan gulana

mahir ia menerjemahkan

tubuhmu tapi tidak pada tubuhku

di sana rindu tak mencuat

hanya menggelembung seperti

napas yang tanam

Medan, 2019


Menatap Langit

Ada hujan berjatuhan di matamu

kedap bintang mengairi cahaya musim

dari bumi, langit mengasah gulita

yang matang sebagai bakal mimpi

Ia tetap kukuh

mengakarkan rimbun harapan

memoar; menukik janji

sampai pulang ke jangkar hari

dan pagi-pagi penuh recehan ilusi

Medan, 2019


Makna Pagi

Anak-anak mencari subuh

menabung amal, dan menaikkan restu

dari tuhan sudah berkali-kali mengingatkan.

mereka telah tunai menanggalkan kantuk

suara panggilan dari ufuk,  mengaburkan mimpi

roh kembali pada jasad setiap malam.

Anak-anak mencari riwayat pagi

sementara kau masih berkabut sepi

membiarkan rohmu keluar tanpa tuhan

mengumpulkan kegaduhan dan setan di tubuhmu

sebagaimana kita mengadu pada laut.

Pada tangisan tangisan langit, perihal problema

yang mengurangi napas jantung.

tak berkukuh terang pada jalanan yang ditempuh.

kau telah menghabiskan kesabaran

pada sepi di sebuah lampu kota dan

taman-taman yang tak ada rupa bunga

Medan, 2019


Sebuah Pelita

rahasia tumbuh dari tubuhmu

waktu menata kata menjadi pertanyaan

renta hari, langit menangkap sunyi

masa silam disirami janji

angin telah mewartakan pagi

sebagai awal dari rantai mimpi

kau masih saja memanggul petang

dan riwayat yang kusebut usai

aku telah berkelana

melihat dunia padat di pipimu

setelah usia semakin tumpul,

kau tetap pelita

Medan, 2019


Julaiha S. (Julaiha Sembiring), perempuan kelahiran Medan, 11 Juni 1993. Bergiat di Kompensasi, Labsas dan KPPI-Medan. Sejumlah tulisan telah dimuat di media cetak dan online yakni;Koran Tempo, Media Indonesia, Basabasi.co, Solopos, Suara NTB,dan lainnya. Saat ini, ia tercatat sebagai alumni Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Medan. Ia telah melahirkan buku puisi tunggalnya berjudul Mula-Mula Kita Pergi Selanjutnya Tersesat. (Obelia Publisher, 2016).

Puisi

Puisi Rizka Nur Laily Muallifa

Kekasihku Tak Turun Ke Jalan

Apa yang lebih penting dari turun ke jalan

Ialah menakar berahi politik praksis

Diri sendiri

(Sala, 2019)


Mata Laut Kekasihku

Panas menyoroti tubuhmu

Lepas basuhan pertama

di bidak yang semalam kita bayar murah

Derma lelaki paruh baya

Yang sabar menunggu kebosanan

kebosanan diturunkan

dari punggung kota

Manik matamu sembunyi dalam warna laut

Yang semilirnya

Mengasihi

dan menjadi kita

Sampai saatnya angin memberitahu

Siang sudah terang

Di sanggah pulasmu yang penuh seluruh

Aku melamun panjang

Bermuara padamu

Ibu kandung puisi-puisiku

(Sala, 2019)


Luka di Pelipismu Luka di Jari Kananku

Sebelumnya aku tidak tahu

Kalau lalat juga hidup di tepian

Sungai Biru

Tempat di mana kita meredam

amarah

Melakoni hari tunggal

Membuat kita tak punya pilihan

Untuk marah satu

kepada lainnya

Kendati waktu kecil sebelum itu

Kecemasan hadir bersisipan

dengan ketakutan

Kau akan main-main

Bahkan kepada janji yang paling

Lantas pejam kita guguran daun mangga

Tertepis angan

Tapi aku tak tidur

Sebab ada saatnya tidur bukan keputusan menarik

Kupilih ikhtiar membaca laut matamu yang terkubur haru

Di pelipis kananmu

Apatah luka itu

atau kenang-kenangan dari rahim ibu

Kupilih premis kedua

untuk mengantar pulasmu jadi sempurna

(Sala, 2019)


Harga Buah

Jalan menanjak

ke Gunung Kidul

Adalah jalan buah-buahan

Apakah anggur merah tumbuh

di kebun samping rumah?

Di sini pohon salak berbuah

rimbun

(Sala, 2019)


Dua Buah Apel

Kau menguliti apel

Laiknya mengikir cita-cita

Tenang dan penuh pertimbangan

Lepas kulit apel

Kau mengirisnya lebih hati-hati

Pertimbanganmu makin setiti

Ada banyak cita-cita yang mengantar

Pada doa

Sebuah apel yang lain

Ada dalam jangkauanku

Kubiarkan kulitnya tetap lekat

Dan kupotong ia dengan ukuran

Tak rinci

Sebab aku terlalu grogi

Kalau-kalau tak kau sertakan

Dalam heningmu yang khidmat

(Sala, 2019)


Daftar Laki-laki Membosankan

Ada terlalu banyak laki-laki

Yang tidak menarik

Sama sekali

Mereka terlalu banyak bicara uang

Dan igauan-igauan berjangka

Gurauan purba untuk tampak oke

Di hadapan setiap perempuan

Diobralnya omong kosong

Soal apa-apa yang lekat

Pada tubuh perempuan

Sambil melibas enteng pikiran

Dan segenap pendirian

serta ketokohan dirinya

Laki-laki yang begitu biasanya sedikit membaca

Hal itu membuat otaknya mampet

Dan jadi tak berharga sama sekali

(Sala, 2019)


Laki-Laki yang Ingin Menikahi Buku

Kencan kita cuma selingan

Cameo yang kebagian jatah

jarang syuting

Terjadi sesempat waktu

Saat kamu bosan baca buku

dan ingin bercakap-cakap tak perlu

(Sala, 2019)


Dari Solo ke Blora

            : Soesilo Toer

Kita melabur hutan

hijau nun hitam

Panjang, tak habis-habis

dengan puluhan ribu cerita

Membentang semenjak Rusia

Di Tanah Abang, gegas kita menjelang kerumunan

Menyimak Sang Komponis Kecil

Memainkan lagu yang itu lagi itu lagi

Di matanya, ada wajah sang ayah

sebelum gugur di pertempuran

dan dikenang warga kampung

sebagai veteran

Di dekat Lapangan Banteng,

Cerita istirah

di rumah tahanan politik

(Sala, 2019)


Bucin

Aku

Adalah cinta yang menggebu-gebu

(Sala, 2019)


Pohon Api

       :pal

rindu pongah terjatuh di

tanah yang basah oleh gelisah

membiarkan resah berkisah pada tangkai-

tangkai api yang barangkali

ingin abadi

biji-biji api itu lantas berkilatan

mula-mula hangat lantas

tanpa kau tahu bunga di dadamu terbakar

waktu itu aku sedang memagut melati di tamanmu

(Sala, 2017)


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, ideide.id, langgar.co, dan beberapa lainnya.