Empat Surat Keluh di
Musim Peluh
1
Sawah-sawah berwarna kuning tua
dengan
kulit tanah bengkak dan berduka
kaum kaum tani gerah, tak lelah, tak keluh
memanggil-manggil
hujan tiba, agar segala
yang bernama kemarau di langit, basah
menjadi
pohon hujan di bumi.
2
“Langit sudah lama tak menangis ibu,
aku sudah hampir mati di tanah ini.”
Serunya
riscik anak-anak kencur, ketika tiap hari tubuhnya
terbakar,
terpenjara bara api tangan-tangan raja matahari
namun
kelebat angin hanya panas dan waktu resah
mencatat
keberingasan tuan kemarau menjajah.
Sedang
di dalamnya orang-orang berjalan ke sana ke sini
meneriakkan
perih keringat mereka ke jalan-jalan waktu.
.
3
“Tuhan, dari dalam tanah, rinduku
membeludak dalam ingatan
mencium
wangi kesegaran lumpur sawah atau mengecup bibir kali-kali
kecil
mengaliri persawahan.”
Dengungnya
doa katak-katak yang sedang mati suri dalam goa
pesembunyiannya
itu.
Atau
mungkin mereka telah paham: bahwa
hidupnya
tak bertahan jika tak bertuhan pada
musim
hujan.
2019
Monolog Asap
Cara
hidup yang sia-sia adalah menjadi diriku
di
sepuntung rokok yang menyala:
tubuhku putih terbang tanpa sayap
bisa
dipandang tak dapat kau pegang.
Namun
aku kerabatmu siang-malam
setelah
usai makan atau ketika kau
menulis puisi bersanding kopi malam.
Sementara
kenapa Tuhanku banyak di duniamu
padahal
Tuhanmu satu: namun bergelantungan pada
hati di mana-mana. Sedangkan saat
ini
kau Tuhanku semenit dalam sendiri
namun
tidak tahu esoknya lagi.
Makin
lama kauhisap tubuhku malam ini
makin
bingung aku pada diriku sendiri
di puntung rokokmu yang hampir habis.
Mengapa
hidupku hanya sekejap tiap kau hembusan
aku ke udara dengan nikmat.
Padahal
aku lebih nyata dari bayang-bayangmu
ingin
rasanya aku menjadi bagian dari kekekalanmu di sini:
walau pada akhirnya kau mati di bumi dan
aku wafat di udara.
Asap,
bagiku kau angin perpisahan:
datang
dan pergi hanya untuk
menitipkan
rasa sesak kehilangan
pada
jantung perempuan.
Kataku
pada asap penghabisan–sebelum kubenturkan kening
puntung rokok surya ini
pada dinding asbak tanah
liat.
2019
Sabda Batu Kapur
di Bukit Badur
Aku
hanya batu-batu kapur tak bernyawa
namun
tangan-tangan kuli bangunan
menyulapku bersenyawa dengan
air,
semen
dan
tanah
yang
menjadikannya rumah.
Walau
tubuhku tak sekekar karang di hati lautan
tubuhku
hanya sususan bayi-bayi
kapur yang dikeraskan suhu dan waktu
di Bukit Badur sana.
Namun
putih wujudku yang dikekalkan kebisuan ini
makin
akrab dengan tangan-tangan pembangunan
semenjak akal manusia mulai mempelajari
peta
— peta arsitektur ruang teduh di muka bumi.
Pada saat itulah tubuhku mulai dijual-belikan
oleh orang-orang lereng Bukit Badur. Sebab
aku bagi
mereka otot-otot bagi dinding-dinding
rumah
yang baru didirikan.
Namun
menjadi batu kapur tidak segampang mobil-mobil
boks
mengangkut potong-potongan tubuhku ke desa-desa atau ke
kota-kota
pembangunan.
Sebab
menjadi batu harus terbuang dari sekumpulannya
di
Bukit Badur. Di saat setiap hari kulit perut bukitku
di
garinda demi sebuah batu seperti diriku saat ini:
yang
menjadi pertapa tua di rahim dinding-dinding rumahmu
yang
kian lapuk dan purba.
2019
Nasib Jengki yang
Terlupakan
Orang-orang
lebih memilih cepat bermotor
daripada
lambat namun sehat bersepeda.
Seperti
keasinganku di gudang tua kini;
hanya menjadi barang
kuno
atau barang bekas yang
tak
mempunyai harga diri di jalan mulus.
Mungkin
aku hanya jengki lusuh:
bertulang
besi dengan tubuh kurus berkarat
berlari
sendiri menuju kelam
masa
silam–menjadi kenangan kini.
Kemudian
aku kembali lagi sebagai
tulang
besi langka di ruang-ruang mewah:
namun
bukan lagi menjadi barang
tunggangan
manusia.
Sebab aku terlalu kurus dan lemah bagi
jalan zaman yang sudah gemuk dengan
motor-motor kencang berkaki empat, tiga
dan dua menyesaki dada lorong-lorong itu.
Maka
jadilah aku hanya barang pajangan
di
musium-musium barang antik atau di
warung-warung
kopi klasik–dengan menjual
harga
diriku sebagai barang bersejarah.
2019
Sabda Rumah
Kontrakan
Rongga
perutku hanya sebagai persinggahan
–datang
dan pergi adalah nasibku yang digariskan
kaki manusia sebagai jiwa rumah sewaan.
Tak
ada yang bertahan menahun dalam tubuhku
seperti
anak, istri dan kawanmu itu:
masuk
lewat mulutku yang dibiarkan kekal terbuka
hanya
untuk merokok, ngobrol dan ngopi kemudian
pergi
dengan
meninggalkan sepuntung rokok kenangan
yang
dibiarkan terbakar rambutnya di pojok perutku:
menguapkan asap-asap kepedihan
mengajak jantung sesak dan aku batuk
batuk dalam kesunyian.
Mungkin mereka tak mengerti bagaimana
dukanya
menjadi bukan manusia. Namun kubiarkan
kini kusimpan
segala
dendam amarah sebagai ruang mata-mata:
mengawasimu
yang tak tahu cara merawat rumah
dengan
rasa cinta.
Di
saat warna kulit-kulitku telah kusam dan menghitam
tanpa
kau ganti dengan warna cemerlang tiap lebaran pun.
Dan
tahun demi tahun hanya menimbun kenangan berdebu
–di ruang-ruang perutku, tempat baju-baju
berkuman,
lemari-lemari dapur membuka diri, menguapkan
bau
tidak
sedap dari sisa-sisa makanan di masa lalu.
2019
Percakapan Kasur
dan Baju
Lampu
mataku menyenteri dada kasur sobek hatinya
lebar
dan tebal dagingnya tak lagi selembut dahulu
karena
kejahatan kuku-kuku kaki buta tak beradab itu
atau
tak kuat menanggung beban duka tubuh maha berat.
“Tuan,
siapakah kasur itu di cermin matamu?”
Tanya
baju sebelum kulipat jadi satu kerabat.
“Aku
kawanmu yang terbuat dari kapas dan benang:
kasur
namaku–sebidang kelembutan segi empat
yang mengabdi pada tubuh manusia sebagai
pelampiasan
air liur, air mani, mimpi dan tidur,”
ujarnya kasur di lantai.
Namun
pasti dukamu lebih ringan dari dukaku menangkis
kekerasan
gerak tubuh-tubuh yang tertidur.
“Kau tahu, di lain tangan sering
diriku disakiti ketika puntung
rokok jatuh dari tangan yang tak punya
mata, arang itu
melubangi
kulitku yang hanya setipis jarak hidup ke mati.
Namun aku hanya setebal diam
semenjak dalam kandungan
di
saat Tuhan lupa bahwa aku jua membutuhkan suara
sebagai
gumam perlawanan,” geramnya kasur.
“Ternyata
kau bagian dari tubuhku yang dipisah oleh daging.
jadi Tuhan kita sama
sama
satu sepenanggungan di tubuh manusia,”
kata
baju sebelum bersatu dalam kandang lemari.
(Cabean-2018)
Sabda Noda-Noda
Debu-debu
mati terkubur di sela-sela keramik,
sisa-sisa
tembakau tergeletak di bibir tanah,
tubuh-tubuh
kertas dan plastik pulas tertidur
di kasur-kasur tong sampah.
Baju-baju
busuk tak terpakai beraroma keringat kenangan,
celana-celana kehilangan resleting terbaring
di atas genting
saudara
sandal-sandal putus talinya sebagai anak buangan.
Kubangkitkan
kematian mereka sebagai diksi-diksi dalam puisi.
Karena
mereka butuh riwayat dari sisa hidupnya tak terawat.
Kini
kata-kataku sebagai mobil ambulan yang mengangkut air mata
benda-benda kuno di musium kenangan yang
jauh.
Sementara
suasana puisi tersusun dari cacahan tubuh kesedihan
sejarah dan nenek-moyang
yang di lupa
dan rahim
kalimat-kalimatku mengandung janin
sampah-sampah dunia tak
ternilai.
Maka atas hati yang prihatin, anak-anak
puisiku
ingin
mewakili makna kehidupan mereka yang terlupa.
2019
Surah Kotoran
Tai-tai
kucing di halaman meratapi kemalangan hidupnya
berak-berak ayam menggunung di lesteran
hanya menguapkan
ujaran
kebencian dari bibir kehidupan.
Mengapa
perasaan manusia tak memberi harga pada kotoran
padahal kata-kata ingin
menyelamatkanya ke dalam makna sebagai
kalimat
berharga pada hidup–setelah puisi mewangikannya.
Mungkin
hati manusia memang sia-sia sebagai tuhan perasa
jika
lupa bahwa asal-mula hidup ini dari sari-sari kotoran
yang
telah dikuduskan oleh anak-anak tanah sebagai padi-padi
jagung-jagung
dalam tubuh kita.
2019
Dongeng Noda Hitam
Tak
akan sadar walau angin menenggelamkan waktu ke dasar dingin
ketika
gema bibir ke bibir menyimpul cerita noda hitam
di
tubuh orang lain.
Mungkin,
sudah beribu kali kita tabung kebahagiaan
dalam
kenangan, dari sebuah perkacapan dosa
di
tubuh para tetangga.
Tetapi,
apakah yang kita dapat dari rasa bahagia
yang
terbuat dari rempah-rempah keburukan orang lain ?
2019
Pada Malam Kelam Kelabu
Kata-kata
menggulung kesepianku di sini
di
kampung yang tumbuh sunyi pada
malam kelam kelabu.
Sedang detik-detik gemetar –jatuh ke sumur waktu
yang kian dalam kian menyumberkan kenangan.
Padahal
mataku belum rabun untuk melihat sesuatu
yang
ternyata tak ada. Seperti bintang-bintang di langit itu:
susut
kemudian kelabu dalam pandang mataku.
Mungkin
keriangan hanya milik jalan perkotaan
ketika
senyap adalah kekekalan jiwa perkampungan.
2019
Norrahman Alif lahir di Jurang Ara,
Sumenep Madura. Belajar menulis di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ) dan
untuk saat ini sebagai relawan Pustaka Bergerak Desa (PUSDES). Beberapa
karyanya bisa dinikmati di: Media
Indonesia, Tempo, Republika, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka dll.