Ragam

PERUT DAN OTAK

Oleh Ramdhan

Aristoteles memang kurang ajar. Namanya hampir tidak pernah absen dari segala bidang keilmuan, dari dulu sampai sekarang. Ilmu bumi-langit, jiwa-raga, tumbuhan-hewan, selalu memunculkan namanya.

Ada lelucon yang sama sekali tidak lucu. Bagaimana Aristoteles hidup? Katanya: ia lahir, berpikir, kemudian mati. Di kalangan yang lebih tergila-gila olehnya, lelucon itu bertambah hebat pula: “Setelah Aristoteles, semua filsafat hanyalah catatan kaki.” Kalau benar begitu, berarti ribuan tahun filsuf hanya jadi tukang catat rapi-rapi di pinggiran kertas. Padahal, tidak demikian. Kita menonton perdebatan filsafat malah semakin ramai bak sinetron yang tak kenal episode akhir.

Nusantara merindukan sosok demikian, manusia dengan isi kepala paket lengkap. Tak terbayang, bagaimana kesehariannya. Apakah dia tidur dengan tumpukan buku? Dia mungkin berjalan sambil berkomat-kamit menghafal semua pelajaran. Alih-alih mengira-ngira dia dengan mantra atau ramuan apa yang dikonsumsi untuk mengencerkan peredaran darah naik ke otak. Lebih mudah kita menebak derajat isi perutnya. Sebab, mustahil perut keroncongan bermain logika. Biasanya, lambung yang berbunyi menghasilkan pikiran yang serampangan.

Kita masih beruntung bisa mengenal nama yang hidup ribuan tahun silam lengkap dengan keadaan situasi saat itu. Mungkin tidak terlalu akurat. Setidaknya, ada bukti tertulis: tahun dan lokasi jelas. Kita tidak merasa itu sebagai dongeng yang dimulai dengan kata: “Dahulu kala…”

Aristoteles, lahir di Macedonia, sangat jauh dari Nusantara. Tanahnya ditumbuhi pohon zaitun, langitnya sesak oleh cerita dan para dewa. Ia benar-benar manusia dan pernah hidup, tidak dilahirkan oleh dewi kepintaran atau terlahir langsung bisa membaca. Ayahnya adalah pegawai istana, seorang tabib kerajaan. Jika kita coba iseng mencocokkan jabatatannya, kira-kira sepangkat dokter kepresidenan saat ini. Kita juga berasumsi ia tidak termasuk anak yang tumbuh dengan menyandang status malnutrisi. Bayangkan saja: anak seorang dokter, bertugas di dalam istana kerajaan.

Ia tidak berdiri sendirian. Tentu saja, setiap orang kesohor selalu ada sosok yang menakjubkan sebagai pijakannya. Selain seorang ayah yang menjamin perutnya tidak berbunyi kodok, di belakangnya, ada bayang-bayang besar Plato, “sang guru”. Sebuah perpaduan yang serasi antara nafsu perut dan akal budi.

Kita, yang biasa terserang kantuk setelah makan merasa sedikit kebingungan menyambungkan dua frasa di atas. Mungkin rahasianya yang masuk ke mulut bukan sembarang makanan asal kenyang tapi yang berprotein tinggi dan mengandung bermacam-macan vitamin. Perut yang kenyang hanya sebuah perahu dayung, kita perlu mengayuh untuk berlabuh.  Cukup banyak anak yang perutnya terisi penuh tapi nalarnya kosong. Peran Plato memang bukan main-main!

Ia bukan sekadar guru yang memindahkan ilmu, tapi perangsang untuk berpikir lebih. Aristoteles tidak diajar untuk patuh, tetapi untuk meragukan, mempertanyakan kembali, membantah, bahkan mengkritik gurunya sendiri.

Indonesia sedang bermimpi mencetak anak-anak menjadi generasi emas pada 2045. Meski kita belum paham sepenuhnya emas semacam apa yang diinginkan. Pelbagai program dimunculkan., dari yang membingungkan sampai menggelikan. Pada halaman awal pemerintahan Prabowo-Gibran, cita-cita itu naik tangga dengan Makan Bergizi Gratis (MBG). Di sekolah, anak-anak mendapat jatah makan. Entah, mengapa dari sekian banyak pilihan menuju emas, urusan perut jadi agenda pertama yang dipilih. Kita belum tahu apakah Prabowo dan Gibran pernah membaca Aristoteles. Jika pernah, kita tinggal menunggu gebrakan selanjutnya, yakni urusan isi kepala.

Di tengah ceria anak-anak sambil menyantap daun salada yang jauh lebih banyak dari ayam gorengnya, sebagian orang merasa khawatir.  Khawatir akan mimpi generasi emas kerap terjebak dalam rumus proyek. Di balik nampan yang berjudul gratis, tampak pula sebuah siklus administratif yang berputar pada laporan, dokumentasi, dan serapan anggaran. Proyek ini sangat gampang untuk diakui sebagai sebuah pencapaian rezim. Orang-orang di barisan Istana sibuk menghitung dan berbangga akan kalori dan protein dalam nampan. Kita berharap mereka tidak lupa menimbang masa pikiran yang seharusnya tumbuh setelah perut terisi. Apakah emas yang kita ukur nanti itu adalah kualitas nalar, atau sekadar angka anak yang tidak lagi kelaparan?

Di berita-berita, riuh soal keracunan MBG, di meja diskusi ramai kerisauan-kerisauan.  Saat guru berkata tentang minimnya fasilitas, jawabannya MBG. Ketika orang tua berkeluh tentang biaya, dijawab dengan MBG. Yang dirisaukan: MBG berisiko menjadi tembok besar yang menutupi lubang-lubang masalah lain yang sulit diperbaiki.

Di manakah “Plato-Plato-nya” Indonesia bersembunyi? Apakah mereka masih sibuk memilih foto mana yang akan diunggah atau terjebak dalam birokrasi pendidikan yang kaku? Lebih mendahulukan nilai ujian daripada pikiran yang mendalam? Generasi emas tidak bisa dibangun hanya dengan menyuapi perut dan menyodori soal pilihan ganda. Mereka membutuhkan guru yang tidak takut dikritik, yang mengajak muridnya berjalan-jalan di taman pikiran, merangkai kata menjadi pertanyaan, dan membongkar pasang status qou.  Aristoteles, jika tanpa guru yang hebat, mungkin hanya Arjuna berkepala Dursasana. Bertubuh sehat dan angkuh. Lebih menyeramkan: jika yang tercapai hanyalah generasi jamur, tumbuh subur semalam lalu sirna seketika.

Setelah makanan itu dibagikan, pertanyaan sesungguhnya baru dimulai: sudah siapkah kita menyambut kelaparan yang berikutnya, yakni kelaparan akan ilmu dan pengetahuan.

Namun, dilema lain selalu menyertai. Anggaran kita tidak cukup untuk belanja hamburger sekaligus mencetak “Plato-Plato” di Indonesia, mana yang lebih didahulukan? Keduanya sama indah sama menawan.

Di belakang halaman 365 hari kepeminpinan Prabowo-Gibran, riak suara tak pernah surut. Ada yang diam-diam kenyang oleh proyek sambil tetap berkeluh kesah, ada pula yang mendadak menjadi ahli gizi. Yang mengkritik banyak, tentu itu tanda cinta. Yang bersikap acuh pun sama banyak. Mereka apatis, yang tidak berharap pada sekotak nasi.

Bagi mereka yang percaya akan kebaikan negara boleh-boleh saja, asal tidak menggadaikan urusan perut dan otak seutuhnya. Sebab, negara tidak pernah berhenti mengidap dilema-dilema.

______________________

Ramdhan. Pembaca buku dan tukang roti di Jakarta

Cerpen

Lelaki Penggenggam Petir

Cerpen Khairul A. El Maliky

Langit sore itu seperti luka yang belum sembuh. Urat-urat cahaya berkilat di antara awan gelap, seolah petir sedang menulis ayat-ayat rahasia di kanvas langit. Di bawahnya, seorang lelaki muda berjalan perlahan, memeluk tas lusuh di punggungnya — bukan hanya memanggul buku-buku kuliah, tapi juga beban hidup yang terlalu berat untuk bahu semuda itu. Namanya Ahmad.

Ayahnya baru saja meninggal dua minggu lalu. Di rumah petak pinggir sungai yang kini berbau lembap dan anyir, hanya ada ibunya yang renta, dan dua adik kecil yang masih mengenal dunia sebatas buku pelajaran dan mimpi tentang sepatu baru. Ahmad kini menjadi kepala keluarga — bukan karena ia siap, tapi karena nasib telah menunjuknya seperti seseorang yang ditarik paksa ke panggung drama yang tak ingin ia mainkan.

Setiap pagi, Ahmad berangkat kuliah dengan pakaian seadanya. Celananya mulai pudar warnanya, kemejanya menipis seperti harapan yang terlalu sering dicuci dengan kesabaran. Ia menempuh perjalanan panjang ke kampus negeri dengan sepeda tua peninggalan ayahnya — roda depan sedikit oleng, tapi masih bisa berputar seperti jantungnya yang tetap berdetak walau digerus kelelahan.

Di kelas, dosen berbicara tentang ekonomi pembangunan dan teori tenaga kerja. Ironis, pikir Ahmad. Teori yang muluk-muluk itu tak pernah menyentuh tanah tempat kaki rakyat berdiri. Sementara ia, di luar ruang kuliah, sedang mencari pekerjaan serabutan demi menambal kehidupan yang bocor. Kadang ia mengantar paket makanan, kadang menjadi penjaga malam di toko bangunan. Tidur hanya dua atau tiga jam, lalu berangkat kuliah lagi. Di wajahnya, waktu mulai meninggalkan jejak: bukan keriput, tapi bayangan keras kehidupan.

Namun malam itu, petir pertama menyentuhnya.

Hujan turun deras saat Ahmad sedang duduk di halte kampus. Seorang perempuan turun dari mobil sedan hitam, tergesa-gesa, mencari tempat berteduh. Ia mengenakan mantel panjang berwarna krem, dengan aroma parfum lembut yang membuat Ahmad menunduk gugup.

“Mas, boleh duduk di sini?” katanya lembut.

Ahmad mengangguk. Ia tak tahu bahwa pertemuan sederhana di bawah atap bocor itu akan mengubah seluruh lintasan hidupnya.

Perempuan itu bernama Arini. Seorang istri pengusaha besar yang tinggal di kawasan elit kota. Arini bukan hanya cantik, tapi juga menyimpan luka yang tak terlihat. Ia bercerita dengan nada jenuh tentang hidupnya yang gemerlap tapi hampa — tentang suaminya yang sibuk dengan bisnis dan perempuan lain, tentang malam-malam panjang di rumah besar yang sunyi, tentang rindu yang tak punya alamat.

Ahmad mendengarkan dengan sopan, menatap hujan yang menetes dari ujung atap, seperti air mata langit yang malu-malu jatuh.

“Mas kuliah, ya?” tanya Arini.

“Iya, Bu. Jurusan Ekonomi. Tapi… ya, sambil kerja juga.”

“Kerja apa?”

“Apa saja yang halal.”

Arini tersenyum samar. Ada sesuatu di matanya — antara iba dan kekosongan. Ia menatap Ahmad seolah melihat bayangan masa lalunya sendiri, saat ia masih muda dan percaya bahwa hidup bisa diatur oleh cinta.

***

Beberapa hari kemudian, Arini memanggil Ahmad ke rumahnya. Ia menawarkan pekerjaan — menjadi sopir pribadinya.

Sejak hari itu, Ahmad menyetir mobil mewah Arini, mengantarnya ke butik, ke acara sosial, ke tempat spa, bahkan ke gereja tempat Arini sering duduk diam tanpa bicara. Ahmad duduk di depan kemudi, sementara di kaca belakang, wajah Arini terpantul samar — seperti dua dunia yang berjalan beriring tapi tak pernah bersentuhan.

Namun waktu, seperti biasa, selalu punya cara menguji batas manusia. Arini mulai sering berbicara lembut di perjalanan. Kadang menanyakan kehidupan Ahmad, kadang menatapnya terlalu lama lewat cermin depan.

“Mas Ahmad,” katanya suatu sore, “pernah jatuh cinta?”

Ahmad terdiam. “Pernah. Tapi cinta yang miskin cepat habis sebelum sampai ke pelaminan.”

Arini tersenyum getir. “Cinta yang kaya pun kadang mati sebelum sempat dirayakan.”

Kata-kata itu menggantung di udara seperti petir yang menunggu waktu menyambar. Beberapa kali Arini sengaja menyentuh tangan Ahmad saat ia menyerahkan kunci, atau memanggil namanya dengan nada manja. Ahmad selalu menunduk, menahan diri dengan segala tenaga iman yang tersisa. Dalam dirinya ada badai — bukan karena nafsu, tapi karena kesedihan yang berubah menjadi ketegangan moral. Ia tahu, dalam setiap godaan yang datang, ada jurang yang siap menelannya. Namun tak semua lelaki sekuat petir. Ada saat di mana langit pun harus pecah.

Malam itu, hujan turun deras lagi. Arini baru pulang dari pesta ulang tahun temannya. Ahmad membuka payung, tapi Arini menolak. Ia malah memeluk tubuhnya sendiri, menggigil. “Masuk dulu, Ahmad. Basah nanti,” katanya.

Ahmad menolak, tapi Arini menatapnya dalam-dalam, mata yang seperti jurang. “Saya cuma butuh ditemani sebentar,” katanya.

Ahmad ragu. Tapi akhirnya melangkah masuk. Di ruang tamu yang harum dan hangat, Arini duduk di sofa, membuka mantel. Bahunya gemetar. Ia menangis. “Aku capek, Mas… semua orang lihat aku bahagia, tapi aku kosong…”

Ahmad menunduk. “Saya cuma sopir, Bu.”

“Tapi kamu manusia, Ahmad…” Arini mendekat, suaranya bergetar. “Aku cuma butuh seseorang yang mau mendengarkan, bukan membeli tubuhku.”

Hening. Hujan di luar seperti tepuk tangan dari langit. Ahmad berdiri. “Saya pamit, Bu.”

Namun sebelum ia sempat melangkah, Arini memegang tangannya. “Kamu takut aku, ya?”

Ahmad menatapnya dalam. “Saya takut Tuhan.”

***

Keesokan harinya, hidup Ahmad berputar seperti badai. Suami Arini datang ke rumah kontrakannya bersama polisi. Tuduhan: penodaan terhadap istri orang. Arini menangis di depan penyidik, bersumpah Ahmad telah memperkosanya. Ahmad membeku, mencoba berbicara, tapi suaranya lenyap di tengah gemuruh dunia. Semua terasa seperti mimpi buruk yang disusun oleh iblis yang mahir menulis naskah tragedi. Ia dijebloskan ke sel tahanan, di antara dinding dingin dan bau lembap ketidakadilan.

Namun di tempat itulah, ia mulai menulis. Dengan pena pinjaman dari seorang narapidana lain, ia menulis kisahnya sendiri. Di kertas yang kusam, ia menulis dengan darah hati, bukan tinta. Ia menulis tentang cinta yang salah tafsir, tentang godaan yang menipu, tentang manusia yang terjepit antara iman dan keputusasaan. Ia menulis sampai jarinya gemetar. Kadang ia menatap ke langit-langit sel, membayangkan petir yang menyambar di luar. Baginya, petir bukan lagi ancaman, tapi cahaya. Karena di balik setiap kilat, selalu ada kejujuran alam: terang yang datang setelah gelap.

Suatu pagi, seorang polisi muda bernama Dimas datang memeriksa berkas. Ia membaca tulisan Ahmad secara tak sengaja. “Apa ini tulisan kamu?”

Ahmad mengangguk.

“Kamu tahu… ini bukan sekadar kisah. Ini kesaksian jiwa.”

Dimas membaca terus, lembar demi lembar, hingga matanya berkaca. Dalam tulisan itu, ia menemukan sesuatu yang jarang ia temui di kantor polisi: kebenaran yang jujur tanpa perisai. Dimas pun mulai menyelidiki kembali kasus itu. Perlahan, ia menemukan kejanggalan: tidak ada bukti medis, tidak ada saksi, hanya pernyataan tunggal dari Arini yang penuh kontradiksi.

Dan pada suatu malam yang sunyi, Arini datang ke kantor polisi — menangis. “Dia tidak bersalah,” katanya lirih. “Aku… aku hanya ingin suamiku cemburu. Aku bodoh…”

Ahmad dibebaskan. Tapi ia tidak tersenyum. Ia keluar dari penjara dengan langkah berat, seperti seseorang yang telah kehilangan bentuk lamanya. Ia bukan lagi mahasiswa miskin yang lugu. Ia kini adalah lelaki yang menggenggam petir — luka dan cahaya sekaligus.

***

Beberapa bulan kemudian, novel Ahmad diterbitkan oleh penerbit kecil. Judulnya “Lelaki Penggenggam Petir.” Buku itu bukan sekadar kisah, tapi doa panjang dari seorang manusia yang berjuang melawan badai hidupnya sendiri. Orang-orang membacanya dan menangis. Mereka melihat diri mereka di dalamnya — setiap perjuangan, setiap ketakutan, setiap petir yang menyambar hidup mereka sendiri.

Ahmad tak lagi menjadi sopir atau tahanan. Ia menjadi penulis yang berjalan di antara dua dunia: dunia penderitaan dan dunia pengharapan. Di rumah kecilnya, ibunya duduk membaca dengan mata berkaca. “Bapakmu pasti bangga,” katanya pelan.

Ahmad tersenyum. “Bapak tidak mati, Bu. Ia cuma berubah menjadi cahaya yang menuntunku lewat setiap petir.”

Dan malam itu, saat langit mengguntur, Ahmad keluar rumah, menatap ke atas. Petir menyambar di kejauhan — putih, terang, indah. Ia merentangkan tangannya, seolah hendak meraih kilat itu, seolah hendak menulis sekali lagi di langit kehidupan.

“Terima kasih, Tuhan,” bisiknya. “Telah membuatku kalah, agar aku tahu bagaimana rasanya menang.”

Langit bergetar, hujan turun, dan Ahmad tersenyum di bawah cahaya yang berkedip.

Karena kini ia tahu, dalam setiap petir yang menyambar, ada doa yang menyala.[]

____________________

Khairul A. El Maliky. Penulis novel. Lahir dan besar di Probolinggo, 5 Oktober 1986. Bukunya yang telah terbit antara lain: Akad, Pintu Tauhid, Kalam Kalam Cinta, Sweet Girl, Beda Tapi Cinta, Gus Dur dan Tuhan pun Tertawa, Dagelan Para Koruptor, Munajat Sesayat Rindu, Risalah Cinta, dan Metamorfosa (MNC Publishing, Malang). Selain novel, penulis juga menulis cerpen. 

Puisi

Puisi Hikmalsst

Di Pelataran Hati

Pada malam yang penuh kerinduan,

aku berbaring di pelataran hati,

memandang kelopak mawar kesedihan,

yang layu karena derai air mata.

Lama tak tergoyahkan oleh senyum,

pemiliknya kini rambutnya rontok,

dan badannya layu karena badai kemo.

Tidak ada lagi kecupan di pipi,

tak ingin memicu air mata yang tak ingin jatuh.

Apa arti hidup yang tersisa begitu?

Pulanglah, tinggalkan aku di pelataran ini,

engkau butuh istirahat, malam ini dan selamanya.

Mustahil tak cemas, tapi aku tak bisa janji,

hanya berharap kau bisa tidur tenang malam ini.

(8 November 2023, Pelataran Hati)

____________________

Kota Kecil Sengsara

Terkenang masa kecilku di kota kecil sengsara,

Nembang pangkur di pagi buta bersama buyung di gendongan,

Mengantar bapak pergi bekerja dengan hati gembira.

Ombak melompat di dermaga, camar bermain di tiang sampan,

Namun, panji-panji nelayan kini rapuh seiring tarian pandan,

Samudera yang tenang tak lagi memandang segala yang berharga.

Lalu lalang perahu di laut, dulu dihantam gelombang waktu,

Si buyung kini dewasa, beristri dan beranak,

Bapak tak kembali, ibu sudah lama berpulang.

Ombak kecil tak lagi menggelitik pantai berpasir,

Laut digutik pengungkit dan peti kemas,

Tawa anak-anak yang dulu padam satu per satu.

Aku tahu tak mungkin lagi pulang ke kota yang dulu riang.

(24 Oktober 2023, Kota Kecil Sengsara)

_____________________

Dari Balik Jendela Kehidupan

Dari balik jendela kehidupan di lantai dua puluh,

Kulihat peti-peti kemas dan besi ungkit di dermaga,

Bunyi mesin, peluit, dan siren menghapus ombak dan gelombang.

Tak ada pasir, tak ada pantai, dan tarian palem sirna,

Di aspal pembatas laut hijau dan biru, kapal feri menanti berlayar.

Ingin kuciptakan puisi tentangnya,

“Gaunnya selembut awan, wajahnya semolek kembang,”

Seperti masa di mana kota belum dijajah oleh tangan-tangan pembangunan.

Namun, keindahan hanya milik laut yang tabah dalam meditasi purba,

Tak ada yang indah dari pemandangan yang tak bersahabat ini.

(24 Oktober 2023, Jendela Kehidupan)

___________________

Langit Sore Menyapamu

Hai, apa kabar?

Sudah lima belas tahun, kita tak bersua.

Bagaimana di sana?

Semoga baik-baik saja, tanpa kurang sedikit pun.

Aku ragu kau masih mengingatku, tapi kenangan tetap di hati.

Banyak yang berubah di kota ini,

Lahan kosong yang kita lewati setelah sekolah,

Kini menjadi toko serba ada, dan rumah kita hanyalah lahan parkir.

Tapi kenangan itu tak tersentuh waktu, seperti kita.

Saat ini, melihat fotomu terjatuh di buku,

Ketika aku hendak pindah rumah, kurasakan seperti menemukan kembali

Kenangan yang pernah hilang, yang belum pernah kuingat.

Saat langit senja berubah merah, aku ingin duduk di bawah pohon mangga,

Tempat kita biasa habiskan senja bersama, tapi aku pulang.

Usia membuatku ragu, dan angin sayup saja cukup untuk mengalahkanku.

Sepasang kupu terbang di antara dahan menyambut malam yang mendekat,

Langkahku terasa berat, seperti menginjak kenangan.

(4 November 2016, Langit Sore)

___________________

Kunang-kunang Setia

Saat padam suluh bambuku,

Kau temani langkah kecilku melintasi pematang yang gelap,

Tak lagi menakutkanku, karena ada engkau.

Burung hantu di rimba kelam, pusara di ujung jalan,

Aku tak mampu mengusir cemas yang mengganggu.

Namun, kilaumu, yang tenteramkan hati, mampu menghilangkan gemetar dalam langkahku.

Saat kilaumu, kunang-kunang, terkenang lagi di relung kalbuku,

Jalanku yang hampa menjadi bermakna, berarti karena cahayamu.

Suara sungai di kejauhan terasa sejuk, seperti masa kecilku.

Pulang lagi aku padamu, di kegelapan, di pendar sunyi,

Melambai-lambai dengan sabar dalam doa menuju kepastian.

Aku rindu saat dahulu, sebelum beranjak dewasa,

Saat kunang berkilau terang, cicada bernyanyi riang.

Kini, kilaumu tetap setia, memandu langkahku yang tak pasti.

(19 September 2022, Kunang-kunang Setia)

___________________

Hikmalsst (Hikmal Yazid). Pengajar dari lembaga madrasah dari berbagai tingkat, hikmalsst nama penanya selalu mengisi cela waktu untuk menyempatkan merekam kehidupan dengan aksara. 

Ragam

Berselera Sekardus Buku

Oleh Ferdi

Perpustakaan sekolah biasa buka hari Sabtu. Sejak pagi sampai sore, pemuda-pemudi disebut murid datang silih berganti. Mereka tetap murid meski kita boleh menyebutnya pemustaka.

Sabtu lalu, perpustakaan tidak buka. Aku memang keluar rumah sambil mengendarai motor. Hanya saja, tujuanku bukan sekolah, tetapi pantai kecil dekat pemukiman penduduk di Simboro, Mamuju.

Pagi-pagi ke pantai mencari kesegaran. Kesegaran yang utama pasti mandi. Mandi yang bukan pakai air mengalir dari pipa dan keluar di mulut keran. Di pantai, air melimpah ruah. Mengalir dari sungai atau tumpah dari langit.

Sejauh mata memandang, yang ada hanya air berwarna biru. Di ujung sana, garis tipis antara laut dan langit tetap kentara meski keduanya sama-sama biru.

Sabtu ini, tepatnya besok, 8 November 2025, perpustakaan sekolah tutup lagi. Aku akan tetap ke perpustakaan, tetapi bukan milik sekolah. Perpustakaan yang akan aku kunjungi adalah Perpustakaan Kab. Mamuju. Perpustakaan yang sakti, buka setiap hari.

Kedatanganku besok untuk menukar buku-buku sekardus. Jumlahnya hampir empat puluh judul. Maksudnya, aku akan mengembalikan (hampir) empat puluh buku, lalu akan meminjam lagi sebanyak (semoga bisa) lima puluh. Kami menyebutnya silang layang.

Buku sebanyak itu bukan untuk dibawa pulang ke rumah. Buku-buku akan masuk dalam kardus, berdesak-desakan di sana, untuk kemudian mengisi lemari buku di perpustakaan sekolah. Buku-buku dalam kardus berpindah tempat, dari perpus (kabupaten) ke perpus (sekolah).

Rencananya, aku akan mengajak murid-murid kelas IX.1. Aku sudah janji bertemu mereka di Perpustakaan Mamuju. Merekalah yang nantinya memilih buku apa saja yang sebaiknya menghuni perpustakaan sekolah. Dengan begitu, besar peluang buku-buku itu terbaca.

Kenapa bisa begitu? Ini kesimpulanku: selera. Selera yang menentukan apakah sebuah buku akan terbaca atau terabaikan.

Begini permulaannya. Ketika pertama kali meminjam puluhan buku dari Perpustakaan Mamuju, akulah yang mencomot buku-bukunya. Hasilnya, banyak sekali buku yang menganggur lebih sebulan dalam lemari.

Saat itulah aku menyadari kesalahanku yang tidak mempertimbangkan selera pembaca: remaja-remaji cap sekolah. Maka, ketika silang layang berikutnya, aku mengajak sebelas orang dari kelas IX.2 untuk membantuku menentukan buku-buku yang akan masuk kardus, kemudian diangkut ke perpustakaan sekolah.

Sejak saat itulah aku makin sibuk melayani murid-murid yang meminjam dan mengembalikan buku-buku di perpustakaan. Ibarat dagangan, buku-bukunya laris manis. Aku sampai sering terlambat masuk kelas karena masih melayani 3-4 orang yang mengembalikan lalu meminjam buku lagi.

Dan, tidak jarang pula aku agak sengaja mengulur-ulur waktu, yakni mengadakan pembicaraan kecil dengan para pemustaka. Paling tidak, aku akan mengajukan pertanyaan, “Bukunya khatam?” Kalau dapat jawaban “iya”, obrolan berlanjut sedikit lebih banyak. Dan, kalau jawabannya “tidak”, aku akan tetap menambahi dengan mengatakan: “Mungkin memang bukan seleramu.”[]

___________________

Ferdi. Penjaga perpus, tinggal di Mamuju

Belakang

YANG MEMBACA (JAWA)

Yang membahagiakan bapak dan ibu adalah mengetahui anaknya yang masih di TK atau kelas 1 SD sudah bisa membaca. Kebahagiaan yang biasanya diwujudkan dengan ucapan: “Oh, anak yang pintar!” Anak itu mendapat pujian-pujian. Bapak dan ibu pun menantangnya untuk membaca tulisan di buku, koran, poster, bungkus makanan, dan lain-lain.

Anak yang sudah bisa membaca diharapkan kelak pintar. Bapak dan ibu pun mengumumkannya kepada keluarga besar, tetangga, dan teman-teman. Nasib yang berbeda dialami anak-anak yang sudah kelas 3, 4, 5, atau 6 SD tapi belum bisa atau belum lancAr membaca. Anak akan mudah mendapat ejekan dan kutukan. Yang tidak bisa membaca seperti mendapat cicilan siksa neraka.

Di Indonesia, masalah anak bisa membaca pernah menyulut polemik. Sumbernya adalah kementerian yang mengurus pendidikan. Konon, beberapa tahun yang lalu, anak-anak di TK dan kelas-kelas awal SD belum ada kewajiban bisa membaca. Guru tidak harus memaksa untuk mengajar membaca kepada anak-anak yang masih suka bermain dan bernyanyi. Namun, masa lalu pun menjelaskan bahwa kemampuan anak-anak untuk membaca di kelas 1, 2, 3 SD sangat menentukan mutu pendidikan di Indonesia.

Yang sedang kita masalahkan adalah anak-anak yang membaca dalam bahasa Indonesia. Mereka yang belajar di sekolah memang dianjurkan untuk lekas mengerti bahasa Indonesia. Yang belajar bahasa Indonesia, yang cinta tanah air dan memiliki patriotisme. Mereka belajar membaca dalam Bahasa Indonesia tapi kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa daerah.

Pada masa kolonial, anak-anak yang berhasil belajar di sekolah sangat diharapkan dapat membaca dalam bahasa Belanda dan Melayu. Dua bahasa yang akan membuatnya pintar dan mengubah nasib. Orang yang bisa membaca mudah mendapat pekerjaan. Pada awal abad XX, kemampuan dan kekuatan membaca ikut menentukan status sosial dan gaya hidup. Jumlahnya sedikit tapi menandakan bumiputra mendapat berkah modernitas.

Maka, para penggerak Indonesia yang berpengaruh adalah kaum yang membaca sekaligus menulis. Mereka mula-mula belajar membaca dalam kepentingan pendidikan. Ada yang kebablasan menggunakan kekuatan membaca dan menulis untuk melawan kolonialisme, berdakwah agama, atau merayakan imajinasi dengan novel. Dulu, ada sejenis konklusi: yang membaca, yang membentuk Indonesia. Padahal, ada kaum-kaum lain yang turut menentukan Indonesia meski tidak melek aksara.

Yang dipelajari pada masa lalu tidak hanya bahasa Belanda dan Melayu. Di Jawa, murid-murid diajar agar bisa membaca dan menulis dalam bahasa Jawa. Artinya, mereka diajar dengan dua aksara: Latin dan Jawa. Jadi, yang berusaha bisa membaca dalam bahasa Jawa mengharuskan keseriusan dan kekuatan ganda. Pada awal abad XX, bahasa Jawa itu penting bagi pemerintah kolonial dan dakwah.

Di Solo, pertengahan abad XIX, berdiri lembaga yang melakukan studi Jawa. Misi besar yang dilakukan adalah menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Jawa. Kerja besar yang menguat sampai awal abad XX. Di kalangan sastra, bahasa Jawa menunjukkan estetika dan pesona Jawa. Para pujanga menghasilkan kitab-kitab yang dijadikan sumber ajaran hidup. Pokoknya, bahasa Jawa itu penting dan berkhasiat, disokong pula oleh penerbitan surat kabar yang berbahasa Jawa.

Pada masa revolusi, bahasa Jawa tetap penting, sebelum mengalami pengabaian dan kebangkrutan akibat politik-bahasa nasional dan perubahan zaman. Bahasa Jawa terbukti menggerakkan dan membesarkan revolusi. Namun, perannya makin mengecil saat bahasa Indonesia adalah keutamaan dalam memajukan Indonesia.

Kita ingin mengenang anak-anak masa lalu belajar bahasa Jawa. Yang kita buka adalah buku berjudul Gelis Pinter Matja jiid II, yang disusun A Van Diijck dan R Wignjadisastra. Buku diterbitkan oleh JB Wolters, Groningen-Batavia, 1948. Yang paling menarik adalah gambar di sampul. Lihatlah, tiga bocah dalam penampilan yang berbeda! Ada yang mengenakan pakaian khas Jawa. Ada yang memilih pakaian dan peci mengesankan Islam. Ada pula anak yang mengenakan pakaian sederhana tanpa tutup kepala. Kita membayangkan tiga anak itu mewakili kaum-kaum yang berbeda tapi memiliki gairah dapat membaca dalam bahasa Jawa.

Yang dipelajari mereka adalah bahasa Jawa dalam aksara Latin. Buku untuk kelas-kelas awal di sekolah dasar. Belajar membaca tidak hanya dengan kata-kata. Penyusun buku memerlukan gambar-gambar yang menggenapi kata. Maksudnya, anak-anak agar senang dan terbantu oleh gambar, yang berpengaruh dalam kelancaran membaca kata.

Di halaman 19, ada gambar tiga anak yang bermain. Kata-kata yang dicetak untuk dieja oleh murid-murid: soer-ti ma-oe pa-sar-an/ do-dol-an-e o-ra te-me-nan/ do-dol-a-ne war-na war-na. Bermain pasaran biasa dilakukan anak-anak perempuan. Maka, yang belajar membaca bakal mudah jika sudah punya kebiasaan bermain pasaran bareng teman-teman.

Pelajaran membaca itu menyegarkan saat sampai halaman 23. Gambar orang yang berjualan es pakai pikulan. Kata-kata yang dicetak untuk dibaca: soe-ra ma-oe i-der re-ne/ do-dol-a-ne es/ a-koe ma-oe toe-koe sa-ge-las/ i-se-ne ta-pe ke-tan/ ra-sa-ne wis ta se-ger toer le-gi. Yang membaca itu membayangkan jam istirahat atau pulang untuk segera jajan es. Di situ, kita tidak menemukan kata-kata yang menyatakan minum es mengakibatkan anak akan batuk dan pilek.

Yang terakhir, kita menyimak bacaan di halaman 38. Gambar seorang bocah yang menggendong boneka. Ia sedang bermain dengan peran menjadi ibu. Kata-kata yang dibaca oleh murid: soer-ti di-toe-kok-a-ke go-lek-an/ go-lek-an-e a-pik/ ma-oe go-lek-an-e di-em-ban/ go-lek-an-e di-oe-rak-oe-rak-a-ke/ la-goe-ne a-na i-ni. Bermain yang menyenangkan: menggendong boneka sambil bersenandung.

Buku kita tutup meski masa lalu masih teringat. Kita justru susah berpikir mengenai nasib bahasa Jawa abad XXI. Kita tidak boleh mudah menyalahkan anak-anak yang tidak mahir membaca dalam bahasa Jawa saat dunia makin dikuasai bahasa Inggris. Anak-anak tampaknya dianjurkan rajin belajar bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab ketimbang bahasa Jawa dengan pertimbangan identitas, iman, nasib, dan lain-lain.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Terjemahan

Si Pencuri Kuda (Bagian 2)

Anton Chekhov

Ketika lagu berhenti, Lyubka terhuyung dan jatuh ke dada Merik. Lelaki itu memeluknya erat, menatap matanya, dan berkata lembut—dengan nada main-main tapi mengandung sesuatu yang gelap: “Nanti aku akan tahu di mana ibumu menyembunyikan uang. Aku akan bunuh dia, bunuh kau, lalu kubakar penginapan ini. Orang-orang akan bilang kalian terbakar. Dengan uang itu aku akan ke Kuban, punya kuda dan domba, hidup bebas.”

Lyubka hanya memandangnya, setengah takut, setengah rindu.

“Apakah di Kuban indah, Merik?” katanya pelan.

Merik diam. Ia duduk di peti, menatap kosong, seolah sedang melihat padang rumput di jauh sana.

Kalashnikov berdiri, mengenakan mantel. “Aku harus pergi. Filya menunggu. Selamat malam, Lyuba.”

Yergunov ikut keluar untuk memastikan kudanya tak dibawa. Salju masih turun, tapi lebih lembut. Angin meniup reranting, membuatnya berderit seperti doa patah. Di balik pagar, dunia tampak penuh bayangan putih menari, seperti roh-roh yang kehilangan tubuh.

Kuda Kalashnikov lenyap di tengah kabut, dan Yergunov kembali ke dalam. Lyubka sedang merunduk di lantai, memunguti manik-manik yang berserakan. Merik sudah tak ada.

Yergunov berbaring di bangku, menatap tubuh Lyubka yang bergerak pelan di lantai.

“Andai Merik tak ada…” pikirnya. “Malam ini pasti berbeda.”

Lyubka berdiri, membawa manik-manik itu ke kamarnya. Lilin padam. Hanya lampu ikon yang masih berkelip, seperti mata malaikat yang menonton dosa manusia.

Yergunov memejamkan mata, tapi pikirannya tak tidur. Ia melihat Lyubka menari lagi—kali ini di dalam kepalanya sendiri.

“Oh, kalau setan mau menjemput Merik malam ini,” gumamnya, “aku akan berterima kasih.”

Malam menua perlahan, seperti arak yang kehilangan hangatnya. Yergunov tak tahu berapa lama ia tertidur di bangku. Kadang ia merasa masih mendengar derak api di tungku; kadang ia merasa dirinya sudah mati dan tubuhnya membeku di bawah salju.
Tiba-tiba pintu berderit. Seseorang masuk. Suara langkah berat. Asap tembakau memenuhi ruangan.

Dalam kegelapan, percikan kecil menyalakan pipanya—dan sejenak wajah Merik muncul: separuh terang, separuh hitam, noda gelap di pipinya seperti tanda kutuk.

Bau tembakau membuat tenggorokan Yergunov gatal.

“Tembakau busuk apa itu?” gumamnya, setengah marah. “Kau mau membuatku mati mual?”

“Campur bunga gandum,” jawab Merik tenang. “Baik untuk dada.”

Ia mengisap, meludah, lalu pergi lagi. Sunyi. Beberapa saat kemudian, cahaya lilin kembali menari di lorong. Merik muncul dengan mantel dan topi. Di belakangnya, Lyubka membawa lilin, wajahnya separuh tertelan gelap.

“Tinggallah malam ini, Merik,” katanya, suaranya lirih, seperti permintaan anak kecil yang tahu akan ditolak.

“Tidak, Lyuba. Aku ingin sedikit hiburan.”

“Kau tak punya kuda. Bagaimana kau akan pergi?”

Merik membungkuk, membisikkan sesuatu di telinganya. Lyubka tertawa di antara air mata.

“Dia sedang tidur, si bajingan sombong itu,” katanya pelan. “Pergilah cepat.”

Mereka berpelukan, mencium dengan tergesa—seolah tahu ciuman itu yang terakhir. Lalu Merik menghilang di pintu.

Yergunov mendadak sadar. Ia mendengar sesuatu di luar, derap langkah di salju. Jantungnya memukul rusuknya sendiri. Ia meraih pistol, bangkit, dan berlari ke lorong.

Lyubka berdiri di sana, membelakangi pintu, tubuhnya seperti bayangan api.
“Menjauh!” teriak Yergunov. “Aku mau melihat kudaku!”

Lyubka menatapnya dengan mata setengah redup, separuh nakal.
“Untuk apa melihat kuda, Tuan?” bisiknya. “Lihatlah aku saja.”

Ia menyentuh rantai di dada Yergunov, jemarinya dingin tapi gemetar seperti burung. “Kuncinya bagus,” katanya. “Beri aku.”

“Berikan jalan!” teriak Yergunov. “Dia akan pergi dengan kudaku, kau dengar?!”

Ia mendorongnya. Tapi Lyubka tetap di tempat, tangannya menahan palang pintu seperti besi hidup.

“Tidak akan,” katanya, napasnya berembus di wajahnya. “Merik tak akan mencurinya.”

“Lepas! Kau perempuan gila!”

Ia mendorong lebih keras. Bahunya menghantam bahu Lyubka. Tubuh mereka beradu, napas bertemu. Dan tiba-tiba, dari amarah tumbuh sesuatu lain: keinginan yang lebih panas daripada vodka.

Ia memeluknya. “Cukup, biarkan aku pergi,” katanya lagi, tapi suaranya sendiri terdengar seperti rayuan.

Lyubka tak menolak. Matanya berubah. Suaranya menurun menjadi desah.
“Tadi kau dengar aku bilang aku cinta Merik,” bisiknya. “Tapi hatiku tahu siapa yang benar-benar kucintai.”

Ia menyentuh kunci di rantai leher Yergunov sekali lagi. “Berikan ini padaku,” katanya pelan.

Yergunov menuruti tanpa sadar. Saat itu, wajah Lyubka tiba-tiba berubah: tatapannya jadi dingin, mata penuh perhitungan. Ia menegakkan tubuh, menajamkan telinga—seolah mendengar sesuatu di luar.

Dan sebelum Yergunov sempat berpikir, ia sudah mendorong perempuan itu ke samping, menyingkap pintu, dan berlari keluar.

Udara menggigit seperti pisau. Ia menyalakan korek, menyorot kandang. Tak ada kuda. Hanya seekor babi yang meringkuk di pojok, mendengus malas. Seekor sapi memukul kandang dengan tanduk. Dan anjing-anjing yang tadi menggonggong kini berlari mengelilinginya, menggigit udara, mengolok-oloknya.

Ia menembakkan pistol ke arah mereka. Sekali. Dua kali. Pelurunya meleset semua.
Lalu berlari ke pagar, menatap kegelapan. Tak ada apa pun selain salju yang berputar, membentuk wajah-wajah aneh—kadang wajah Lyubka, kadang Merik, kadang mayat kuda yang berlari tanpa kepala.

Ia menjerit, tapi suaranya tenggelam dalam angin.

Ketika kembali ke rumah, ia mendengar langkah tergesa dari dalam—seseorang menutup pintu kamar. Ia menendang. Terkunci. Ia menyalakan korek, menyusuri ruangan, dari dapur ke kamar kecil, hingga akhirnya menemukan Lyubka.

Perempuan itu berbaring di atas peti, tubuhnya diselimuti kain tambal warna-warni, seolah sedang tidur. Yergunov menatapnya dengan marah.

“Di mana kudaku?” katanya pelan, tapi suaranya menggigil.

Lyubka tak menjawab.

“Jangan berpura-pura tidur, pelacur kecil,” katanya. “Di mana kudaku?”

Ia menarik selimut itu. Lyubka bangun, menegakkan tubuh, memegangi pakaian yang robek di leher. Matanya menyala marah dan takut bersamaan.

“Pergi, binatang kotor!” bentaknya.

Yergunov menyeretnya dengan kasar. Kain di pundaknya robek. Ia ingin menakut-nakuti, tapi darahnya sudah terlalu panas untuk berhenti. Ia memeluknya—keras, buta. Tapi Lyubka, dengan tenaga yang lahir dari jijik dan amarah, menghantam kepalanya dengan kepalan tangan. Sekali. Lalu sekali lagi.

Dunia berputar. Kepalanya berdenging. Ia tersandar ke dinding, meraba darah di pelipisnya. Tak bisa berpikir, ia tersandung ke ruang depan, mengambil korek, menyalakan api satu per satu tanpa tujuan—seolah setiap nyala kecil bisa menenangkan malu dan rasa kalah.

Korek terakhir padam. Langit di luar mulai biru. Ayam berkokok. Yergunov mengenakan mantel, tapi pelana dan barang belanjaannya sudah tak ada. Tasnya kosong. Semua lenyap—mungkin bersama Merik.

Ia mengambil batang besi dari dapur untuk menakut-nakuti anjing, lalu keluar.
Salju sudah berhenti. Dunia tampak mati—putih dan sunyi, seperti surat kabar yang kehilangan berita. Di kejauhan, deretan hutan muda tampak biru.

Yergunov berjalan tanpa arah. Ia berpikir tentang apa yang akan dikatakan dokter kepadanya nanti: kehilangan kuda pinjaman, barang, dan harga diri sekaligus. Tapi semakin ia mencoba memikirkan alasan, semakin buyar semua. Yang tertinggal hanya wajah Lyubka, gerak rambutnya, bau kubis di kamarnya, dan suara tinjunya di pelipisnya.

Ia berhenti di bawah pohon birch, menancapkan batang besi ke salju, dan bersandar.

“Kenapa manusia harus seperti ini?” gumamnya. “Kenapa harus ada dokter, bawahan, pegawai, dan rakyat? Kenapa tidak cukup jadi manusia saja, seperti burung atau kuda? Mengapa kebebasan harus tampak seperti dosa?”

Ia menatap langit yang dingin dan tak menjawab.

“Kalau hidup cuma untuk bangun, makan, bekerja, tidur, lalu mati,” katanya pelan, “maka Merik benar. Yang berdosa justru mereka yang tak pernah hidup.”

Ia tertawa. Suaranya tenggelam di salju, dan tak ada yang tahu apakah itu tawa manusia, atau suara setan yang akhirnya merasa kasihan.

Musim-musim berputar seperti kuda tua di kandang sirkus: berjalan, berhenti, berjalan lagi. Setahun lebih telah lewat sejak malam itu. Yergunov tak lagi bekerja di rumah sakit. Ia dipecat—bukan karena kuda yang hilang, tapi karena nasib yang sudah bosan menunggu. Kini ia hidup di pinggiran, menggantungkan diri pada keajaiban yang tak datang-datang: menjadi buruh musiman, penagih obat keliling, peminum tetap di kedai Ryepino.

Malam itu, selepas Paskah, ia keluar dari kedai dengan langkah goyah. Angin musim semi meniup bau tanah basah dan bunga liar. Bintang-bintang menetes di langit seperti mata yang belum sempat menangis. Udara hangat—hangat yang menusuk, karena mengingatkannya pada malam dingin itu, pada Lyubka, pada kuda yang lenyap di salju.

Ia berjalan tanpa arah. Di hadapannya terbentang padang luas, terbuka seperti dada dunia. Angin berdesir, menyentuh rumput, dan entah kenapa Yergunov merasa seolah bumi baru saja disucikan.

Ia menatap langit, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, langit terasa tak berujung.

“Betapa besar dunia ini,” katanya dalam hati. “Tapi mengapa manusia mengisinya dengan aturan kecil?”

Ia teringat pada semua pembeda yang diciptakan manusia: antara yang mabuk dan yang sadar, yang berpangkat dan yang dipecat, yang kenyang dan yang lapar. Mengapa mereka yang berperut penuh tidur nyenyak di rumah, sementara yang kelaparan harus berjalan tanpa arah di malam begini? Ia menatap seekor burung melintas di langit.

 “Lihat,” katanya pada dirinya sendiri, “burung itu tak punya pekerjaan, tak punya gaji, tapi hidupnya penuh.”

Ia terus berjalan. Jauh di ufuk timur, ada cahaya merah bergetar, membentang seperti luka besar di langit. Api. Yergunov berhenti, mengernyit, lalu tertawa kecil—tawa yang dingin, seperti logam digesek batu.

Dua kereta melintas di jalan. Dalam salah satunya, seorang perempuan tertidur. Di kereta satunya, lelaki tua tanpa topi duduk, menatap api dari jauh.

“Pak tua,” sapa Yergunov, “api apa itu?”

“Penginapan Andrey Tchirikov,” jawab si tua. “Terbakar habis.”

Yergunov membeku. Nama itu mengguncangnya seperti gong di dada.
Ia menatap cahaya merah di langit. Di baliknya, ia bisa membayangkan rumah beratap jerami, dindingnya yang dulu hangat oleh lilin dan dosa, kini ambruk dalam kobaran api.
Ia membayangkan suara Lyubka—tawa kecilnya, tangannya yang dingin menyentuh rantai di dadanya.

Mungkin perempuan itu kini terbakar bersama ibunya. Mungkin Merik menepati janjinya: membunuh mereka, mencuri uang, lalu pergi ke Kuban, menunggang kuda bebas di padang rumput, tertawa seperti orang gila yang akhirnya dimenangkan takdir.

Yergunov menatap api itu lama sekali. Tak ada rasa sedih di wajahnya, hanya semacam iri yang aneh—iri kepada keberanian yang tak pernah ia miliki.
Ia berbalik, berjalan kembali ke arah kedai, tapi pikirannya tetap di langit timur, di warna merah yang menodai malam.

Di sepanjang jalan, rumah-rumah orang kaya berdiri sepi: pedagang besar, pandai besi, pemilik ternak. Setiap rumah punya pintu besi dan jendela tebal, seolah seluruh dunia harus dijaga dari keinginan. Dan di setiap langkah, Yergunov merasakan sesuatu tumbuh di dadanya—rasa yang belum pernah ia kenal: dorongan untuk mengambil, untuk mencuri, untuk merebut sedikit kebebasan yang selama ini hanya ditonton.

“Bagaimana rasanya,” pikirnya, “masuk ke rumah orang kaya itu, membungkam malam dengan napas sendiri, dan pergi membawa sesuatu—apa pun—yang bukan milikku?”

Ia menatap langit. Api di ufuk perlahan padam, tapi nyalanya berpindah ke dadanya sendiri.

Yergunov tahu ia bukan pahlawan, bukan penjahat. Ia hanya manusia yang terlambat mengerti bahwa kebebasan bukan soal hukum, tapi keberanian untuk melawan nasib.
Di dunia di mana para dokter menulis resep, para pelayan tunduk, dan para pencuri berkuda ke langit, siapa yang bisa mengklaim dirinya benar?

Ia berhenti di pinggir jalan, menatap gelap, lalu tersenyum samar.

“Mungkin,” katanya pada dirinya sendiri, “yang berdosa bukan mereka yang mencuri. Tapi mereka yang menolak kesempatan untuk hidup.”

Malam hening. Seekor burung melintas di atas kepala, sayapnya bergetar seperti helaian kertas terbakar.  Dan entah dari mana, suara tawa Lyubka terdengar di telinganya—pelan, menggoda, seperti dari dunia lain.

____________________

Penulis: Anton Pavlovich Chekhov (1860–1904) adalah penulis dan dramawan besar asal Rusia yang dianggap sebagai pelopor cerpen modern. Ia menulis dengan ketenangan seorang dokter dan kepekaan seorang penyair—menelusuri luka-luka kecil kehidupan sehari-hari, menyingkap kesepian, keinginan, dan absurditas manusia tanpa menghakimi. Dalam karyanya, termasuk The Horse-Stealers, Chekhov menghadirkan dunia yang tampak sederhana namun berdenyut oleh konflik batin yang sunyi: tempat di mana kebaikan dan dosa, cinta dan kebodohan, hidup berdampingan dalam cahaya yang sama redupnya.

____________________

Penerjemah: Erna Surya. Lahir dan bedomisili di Klaten. Beberapa cerpen dan terjemahannya dimuat di sejumlah media daring dan cetak. Ia gemar menulis kisah realis dan surealis dengan tema-tema kemanusiaan. Selain itu, ia juga senang membaca sastra klasik, dan sedang menerjemahkan beberapa novel dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Berprofesi sebagai seorang guru Bahasa Inggris di salah satu SMK di Klaten, dan pernah mengambil studi  Linguistik Penerjemahan di  UNS.

Cerpen

Sebelum Surga Jadi Gundul

Cerpen Indah Fai

Tidak ada yang mengajarinya—seperti saat dulu, orang-orang mengatakan padanya agar menggosok daki di lipatan selangkangan dengan batu kali yang permukaannya berpori, dan kemudian orang-orang itu juga mengajarinya agar cebok menggunakan tangan kiri, dan menyuap makanan dengan tangan kanan, dan mencucup remah-remah nasi di pucuk jemari hingga resik, sebab, kata mereka, itu merupakan sunnah nabi. Tidak seorang pun dari mereka memberitahunya, bagaimana ia sepatutnnya mengelak, ketika—sekarang—ibunya mengirim foto permohonan santunan perbaikan langgar disertai pesan:  Le, tahun ini kamu akan jadi donatur kehormatan lagi, kan? 

Ia mematikan ponsel itu. 

Orang-orang itu, dahulu, dengan suara lantang dan mimik penuh kesungguhan mengatakan, maka apabila ibumu memerintahkan padamu suatu hal lalu kamu berkata uf, berdosalah kamu, tertutuplah seluruh kebaikan dari timur dan barat untukmu hingga ibumu rela. 

Usianya tiga puluh sembilan dan belum sekalipun ia mengatakan uf, af, if, atau humph. Untuk ibunya ia mengatakan ya yang paling santun dalam tata krama berbahasa Jawa, njih, Bu, setiap saat, sejak ia kanak-kanak dan hingga kini, ketika uban semakin gemar bermain cilukba di kepalanya dan garis kerutan di sudut matanya bertambah tiga yang semula cuma ada dua. 

Ia menyalakan kembali ponselnya. Ada dua belas pesan dari sang ibu dan lima belas panggilan tak terjawab. Sebentar kemudian, ibunya kembali menelepon. 

Ia ragu-ragu. Namun, ia seakan melihat raut kecewa ibunya dari layar kecil yang menyala itu. 

Setelah dering ponselnya berhenti. Ia memutuskan untuk membuka aplikasi M-banking, menekan huruf, simbol, angka-angka, dan sandi. Lalu ia mendengar dering pemberitahuan singkat dan nyaring seperti suara seonggok sendok yang jatuh ke lantai. Suara itu membuat senyumnya tampak ringkih dan sedih. Uangnya baru saja berpindah ke rekening ibunya di desa. Tiga juta lima ratus ditambah enam ribu lima ratus rupiah sebagai tambahan biaya admin. 

Kenapa tidak memberitahunya kau di-PHK? 

Istrinya tak kalah murung, berkacak pinggang di hadapannya, merengut kepada jendela. 

Ponselnya berdering lagi. Itu nada pesan. Ibunya memfoto selembar kertas bertuliskan nama-nama donatur perbaikan langgar di desanya. Namanya berada di baris nomor dua, di bawah nama juragan jagal sapi. Juragan itu bersedekah lima juta lima ratus rupiah. Le, peringkatmu disalip Pak Sumitro. Tulis sang ibu di bawah gambar. Eman, Le. Padahal kurang sedikit. 

Aku akan memberitahu ibu. Tetapi bukan sekarang

Lelaki itu memberi istrinya penghiburan. Ia mengelus perut buncitnya dengan lembut. Ia tahu istrinya sedang kesal dan itu bukan sandiwara panggung, tetapi di seberang sana, ibunya juga sedang dongkol setengah mati pada juragan jagal sapi. Ia yakin ibunya belum siap mendengar kabar tak mengenakkan. 

Orang-orang itu, dahulu, mengatakan—jangan kau menyakiti hati ibumu sebab di telapak kakinya terbentang surga yang sejuk dan hijau. Ia tidak mau surga di kaki ibunya menjadi gersang dan tandus. Maka lelaki itu, demi memberi penghiburan kecil untuk sang ibu, mengetik pesan di ponsel, kelak ia akan menambah jumlah santunannya, setelah gajinya dibayarkan kantor. 

Maturnuwun, Le. Mugi-mugi rejekimu diparingi lancar. 

Ibunya menelepon lagi. Dua pekan kemudian.

Njih, Bu? 

Nanik–bulan depan kehamilannya sudah masuk tujuh bulan. Kapan dipitoni, Le? Tanggal satu bulan depan hari baik kata si Mbah. Kemarin Ibu ikut pitungan. 

Njih, Bu. 

Pulang, ya. Mitoninya di rumah. 

Njih, Bu. 

Le? 

Njih, Bu. 

Ini Ibu pulang kondangan dari piton-pitonnya menantunya Pak Ismail. Meriah. Ngundang kyai besar. Ada panggungnya, Le. 

Njih, Bu. 

Istrinya menggerutu. Upacara empat bulanan waktu itu, katanya, masih menyisakan utang di koperasi simpan pinjam. 

Biar kupikirkan, sahut suaminya, saat ia menyarankan agar acara tujuh bulanan nanti cukup dengan bersedekah nasi kotak ke tetangga dekat. 

Jawaban itu. Bukan seperti itu seharusnya lelaki itu menjawab. Istrinya menatap sangsi. 

Sisa tabungan ada berapa? Kata lelaki itu tanpa menoleh si perempuan. Ia enggan melihat mata yang bersedih dan marah itu. Ia tahu, tidak ada yang bisa ia lakukan, sebab surga itu ada pada kaki ibunya—bukan pada wajah istrinya yang tidak ramah. 

Dua puluh lima juta dua ratus lima puluh ribu—jumlah keseluruhan uangnya ketika ia menumpang bus malam yang akan mengantarkannya ke kampung halaman. Ia menuju rumah bersama sang istri yang mendengkur halus di sisinya. Kepala perempuan itu bersandar di bahu kirinya sepanjang perjalanan. Tangannya kebas. Tulang punggungnya meronta menuntut rasa nyaman. Namun ia merasa malu membangunkan perempuan itu perkara bahu. 

Ia sedang membongkar isi koper ketika ibunya tiba-tiba menyibak gorden, menerobos ke dalam kamarnya, membuat sang istri yang semula bersila, segera menurunkan kakinya. Ia mengambil sikap duduk yang manis. Dua tangannya menumpang anggun pada paha. 

Ibunya membuka halaman buku yang sedari tadi ia apit di ketiak kanan. Kertasnya agak lecek, beberapa pojoknya menguning, menua. Matanya menelusuri deretan nama dengan pelan, membaca masa lalu.

Ini Bu Yatini, yang nyumbang satu kwintal beras waktu kamu sunat. Ini Pakdhe Lan, yang nyumbang kelapa dan pisang waktu empat bulanan jabang bayimu kemarin. Waktu kalian menikah dulu, beliau yang bayar uang rokok perewang. 

Ia berhenti sebentar, menarik napas panjang.

Mereka semua bakal datang kalau diundang. Tapi ya gitu… kalau enggak diundang, orang desa itu ingatnya seumur hidup.

Anak lelakinya diam. Sementara sang menantu menunduk, pura-pura sibuk melipat baju. 

Undang mereka, ya, Le. Selama Ibu masih bisa masak dan ngurusin dapur, Ibu pingin nunjukin kita ini orang yang nggak lupa utang budi.

Ia menepuk bahu anaknya. Kali ini tidak keras. Tangannya agak gemetar. Anak lelakinya menoleh pelan, lalu melihat: di balik nada tegas dan tubuh yang selalu kelihatan sigap itu, ada wajah yang mulai keriput dan mata yang seperti menyimpan cemas.

Kadang Ibu mikir, kalau nanti sudah nggak bisa ngapa-ngapain, orang-orang ini masih inget Ibu, tho?

Sang ibu  meremas bahu anaknya. Lelaki itu mengaduh. Tetapi suara itu, cuma ia sendiri yang dengar. 

Waktu mapati kemarin, balik kan modalmu, Le? 

Lelaki itu diam. 

Saat acara empat bulanannya rampung, dulu, sisa sembako setelah dibagikan kepada para perewang, perempuan itu tawarkan ke warung kelontong milik seorang cina peranakan,Tacik, begitu orang-orang di desa memanggilnya. 

Ibunya memberitahu, sebagian uangnya habis untuk menambal keperluan upacara jabang bayi lelaki itu. Saat itu bertepatan dengan waktu keberangkatannya dan sang istri ke kota rantau. 

Uang hasil jualan gula dan beras ini boleh buat bekal Ibu, Le? 

Begitu sang ibu mengakhiri keluh kesahnya. 

Di sisinya, sang istri mendelik. Perempuan itu berpesan agar memberitahu ibunya: mereka juga membutuhkan uang itu untuk menambal utang. Sungguh, ia ingin menyampaikan pesan itu kepada ibunya, tetapi, njih, bu—adalah tutur kata yang keluar dari mulutnya. Sekali lagi. 

Ia mendapatkan pisuhan sepanjang perjalanan dari istrinya setelah adegan itu. Perempuan itu mogok bicara nyaris empat puluh lima hari, dan ketika ia telah mau bicara pendek-pendek dan ketus, sang ibu kembali menelepon, mengatakan tagihan listrik di kampung menunggak, menunggu dibayar. 

Njih, Bu. Kata suaminya. Sekali lagi. Maka perempuan itu tirakat, mencegah diri bicara selama berbulan-bulan. 

Maka—mengapa tak kau katakan saja kau di-PHK adalah suara pertamanya waktu itu, ketika sang mertua menyinggung nama Sumitro dan langgar di telepon. Saat mereka masih di kota rantau. Namun, suara itu keluar bagai ledakan dibuntuti pula denting kasar benda pecah belah yang menimpa lantai. 

Bilang pada ibumu, mengundang tiga puluh orang saja sudah cukup. Bisik istrinya, malam saat mereka duduk beralas tikar pandan di ruang tengah, membahas kesiapan upacara tujuh bulanan yang akan datang pekan depan. 

Lelaki itu merasakan cubitan menyakitkan di lengannya sebab tak kunjung menyahut. Ia menoleh sang istri yang matanya telah akan keluar dari wadahnya. Wajah itu, seperti rona malam yang mistis dan intens. 

Namun, apa ada yang lebih sakral selain air mata ibu yang menitik dari pelupuk, lalu jatuh sebagai pemantik yang membakar surga dan segala sesuatu? 

Maka, njih, bu, sekali lagi, adalah sahutan bakti yang keluar dari mulutnya ketika perempuan tua itu menyodorkan dua ratus nama tamu padanya. 

Pekan itu tiba. Ibunya menyambut para perewang dengan senyum sumringah dan berbangga. 

Dan lelaki itu, yang saban waktu disapa para perewang dengan kebanggaan yang mencolok, sedang berupaya setengah mati menghindari berpapasan dengan sang istri. Maka ia terjebak di bantaran kali, menjadi satu-satunya penonton dewasa bagi para perewang yang sedang membersihkan potongan daging dan ayam. 

Perempuan-perempuan itu mencerabut bulu dengan tangkas dengan tertawa-tawa, dan ayam-ayam yang terkulai itu tampak gundul dalam waktu singkat. Ia menyaksikan semua itu dengan kengerian yang tak terperi, seakan bulu-bulu itu adalah sisa tabungannya yang dicerabuti sang ibu. 

Ia—bak rasul yang diilhami wahyu—kemudian merasa perlu melakukan sesuatu agar tak bernasib persis seperti ayam-ayam mati itu. 

Kemudian tibalah hari itu. 

Seorang kyai kondang didatangkan untuk memberi ceramah dan berkat.Tamu-tamu undangan duduk santun dan sedikit gelisah di bawah naungan terob berwarna oranye sebab nyala kipas yang tidak bersungguh-sungguh. Penjaja makanan dan mainan berimpitan menggelar lapak di tepi jalan. Saat itu matahari cerah dan langit berwarna biru tanpa setitik pun noda putih. Pawang hujan kenamaan desa tetangga menyapu bersih awan di atasnya. Namun lelaki itu tidak di sana, memasang diri, menyambut para tamu. 

Sang istri menanyakan keberadaannya melalui obrolan ponsel. Semua juga tahu, betapa nada bicara perempuan itu menyiratkan kefrustasian yang nyata. Lelaki itu mengatakan terdesak sebuah urusan. Ia menjanjikan akan datang sesaat sebelum prosesi siraman dan pemecahan kelapa gading bergambar wayang Kamajaya dan Dewi Ratih, untuk menebak kelamin bakal bayinya. 

Ia tidak memberitahu siapa pun bahwa ia sedang memanen peluang, mendatangi sebuah masjid dan langgar-langgar di desa itu yang sedang lengang, mencungkil kotak-kotak amalnya, lalu memasukkan isinya ke dalam tas jinjing hitam. 

Semula ia malu. Setiap saat tanpa sengaja melihat kaligrafi bertuliskan lafaz Tuhan di dinding, ia akan menarik kembali tangannya. Ia merasa berdosa. Namun ia diburu waktu. Dan ia sudah berdiri di situ. Maka ia memantapkan niatnya, mendapatkan kembali haknya. 

Lalu ia melakukannya sambil memejamkan mata. 

Kepada Tuhan ia meminta ampun sebab niat menggandakan tabungannya di akhirat luruh begitu saja. Ia hanya sedang mengambil kembali apa yang menjadi haknya. Dengan begitu ia tidak perlu menjadi seperti ayam-ayam mati yang dikerubungi perewang pada saat itu, sementara di sisi lain, di bawah kaki sang ibu, surga itu tetap akan berwarna hijau dan menawan. Dan istrinya yang selalu mengkhawatirkan biaya persalinan akan merasa sedikit lega. 

Ia mengendap keluar dari pintu belakang setelah menguras isi kotak amal di langgar kelima, dekat rumahnya. Namun, mendadak tas jinjing yang katanya menampung haknya itu terjatuh, merosot dari gendongan, ketika ia melihat sosok perempuan dalam balutan kebaya ungu berdiri mematung di tengah gerbang, di bawah naungan rumpun bambu. Di sisinya, seorang penjaga langgar menganga, terpana oleh perbuatannya. 

Perut perempuan itu buncit. Riasan di wajahnya luntur oleh air mata. Di belakang mereka arak-arakan warga bergerak mendekat. Ia menoleh ke sekeliling. Ia mencari sosok itu. Ibu. Namun ia tak menemukannya. Di manakah surganya yang sejuk dan hijau itu berada? 

__________________

Indah Fai, Penulis kelahiran Banyuwangi, tinggal  bersama keluarga kecilnya di Buleleng, Bali Utara. Cerpennya disiarkan beberapa media daring dan cetak.  Mengikuti projek kebudayaan penulisan cerpen Singaraja Berkisah bersama penulis pemuda Bali lainnya pada 2023. Perempuan di Kaki Langit adalah kumpulan cerita pendeknya yang pertama di penghujung tahun ini. Seorang guru memberitahunya, belajar adalah proses yang berlangsung seumur hidup dan ia setuju. Kini ia berupaya terus-menerus meskipun banyak gagalnya.

Ragam

PINJAM BUKU LAGI

Oleh Ferdi

“Kak, mau pinjam buku lagi.” Itu Syanun yang berbicara. Bersamanya, perempuan lain yang ingin meminjam buku Bandit-Bandit Berkelas yang ditulis oleh Tere Liye.

Mereka berdua masih kelas IX. Atau, mungkin sebaiknya kukatakan sudah kelas IX. Mengingat tak lama lagi mereka lulus dan sekolah lagi ke jenjang yang lebih tinggi.

Aku selalu berpikir bahwa mereka lebih beruntung dariku. Dalam hal ini, mereka bisa membaca buku sampai halaman terakhir sejak SMP. Bagiku, kali pertama saat itu adalah tahun pertama berseragam putih-abu-abu.

Buku pertamaku pun bukan pinjaman dari perpustakaan sekolah, tetapi dari teman kelas. Seingatku, tak ada buku bacaan di perpustakaan sekolah. Memang, meski dibaca juga, aku yakin buku pelajaran yang digunakan guru sebagai bahan ajar di kelas tidak dikategorikan sebagai buku bacaan.

Coba bayangkan, siapakah gerangan yang mau baca buku Pendidikan Pancasila kelas IX ketika sedang duduk santai di warkop, ditemani es kopi susu, ketika langit sedang merona merah-jingga di atas sana? Aku jelas tak mau!

Meski begitu, aku memang mengenal seseorang yang keranjingan buku pelajaran cap Orde Baru, Orde Lama, hingga yang lebih awal dari itu. Ia terus mencari dan memungut buku-buku seperti itu di toko-toko buku bekas di Gladag, Solo.

Temanku itu pun tak henti-hentinya menjadikan buku-buku pelajaran berusia paruh baya itu tulisan-tulisan. Tak lama lagi, kukira, akan genap satu juta resensi dan esai yang ia tuliskan tentang dan dari buku-buku pelajaran tua.

Kutegaskan: orang itu adalah pengecualian. Tentu saja. Dia bukan orang normal yang menganggap buku pelajaran hanya berarti sepanjang pemiliknya belajar di sekolah. Yang kalau sudah lulus bisa dihibahkan ke orang lain atau ditimbang demi uang.

Dengan begitu, sebagai orang normal, Syanun datang ke perpustakaan sekolah pada hari ini, Senin, 27 Oktober 2025, bukan untuk meminjam buku Pendidikan Al Islam kelas IX. Namun, ia ingin meminjam lagi buku Re: dan Perempuan garapan Maman Suherman. Katanya, ia belum khatam. Maka, dengan senang hati, buku itu kupinjamkan lagi padanya.

___________________

Ferdi. Penjaga perpus, tinggal di Mamuju

Terjemahan

Si Pencuri Kuda (Bagian 1)

Anton Chekhov

Salju turun seperti kutukan yang lupa berhenti. Langit mengembuskan napas panjang, dan dunia pun membeku di bawahnya. Seorang lelaki—Yergunov, asisten rumah sakit, pemabuk dan pembual yang disegani hanya oleh kesepiannya sendiri—berusaha menembus badai. Dokter meminjamkan padanya kuda terbaik, kuda yang katanya bisa menembus malam tanpa tersesat. Tapi kuda, sebaik apa pun, tetaplah makhluk yang butuh arah. Dan malam itu, jalan lenyap ditelan putih.

Mula-mula hari tenang. Lalu sekitar pukul delapan, angin datang seperti roh jahat yang menyalak dari segala arah. Salju memutar, menggigit kulit. Yergunov tak tahu ke mana harus pergi—tak tahu cara mengemudi, tak tahu jalan pulang. Ia hanya berharap kuda tahu arah sendiri, seperti manusia berharap hidup bisa berjalan tanpa keputusan. Dua jam berlalu. Kuda kelelahan. Napasnya mengembun seperti jiwa yang putus asa. Sementara Yergunov, beku dari kepala hingga lutut, mulai merasa bahwa ia tak sedang menuju rumah, melainkan kembali ke masa lalunya sendiri.

Tiba-tiba, di sela jeritan badai, terdengar suara anjing. Samar, jauh, seolah datang dari dunia yang lain. Lalu tampak cahaya merah di tengah kabut—sebuah noda hangat di dada malam. Sedikit demi sedikit, bayangan pagar tinggi tampak, di atasnya deretan paku runcing berkilau seperti gigi iblis. Di balik pagar, tampak sumur tua dengan kerekan yang miring. Dan di balik itu, muncul rumah beratap jerami, kecil, miring, dengan tiga jendela. Satu jendela memantulkan cahaya merah dari dalam, seperti mata yang tak mau tidur.

“Tempat macam apa ini?” gumam Yergunov, menggigil.

Ia mengingat: di sisi kanan jalan, kira-kira empat mil dari rumah sakit, ada kedai milik Andrey Tchirikov—lelaki yang mati dibunuh para kusir mabuk. Setelah kematiannya, kedai itu dijaga oleh janda tua dan anak gadisnya, Lyubka. Dulu, dua tahun lalu, gadis itu pernah jadi pasien di rumah sakitnya. Orang-orang bilang kedai itu sarang pencuri dan pembunuh, tapi malam dan salju tidak memberi pilihan lain.

Yergunov mencari pistolnya di tas, menegakkan tubuh, dan mengetuk jendela dengan gagang cambuk. “Hey! Siapa di dalam? Hei, nenek! Bukalah! Aku ingin menghangatkan tubuhku!”

Tiba-tiba, dari bawah kaki kuda, muncul seekor anjing hitam, lalu putih, lalu hitam lagi—belasan ekor, menggonggong gila seperti makhluk neraka yang lapar. Yergunov menebaskan cambuk, memukul satu, dua kali. Seekor anak anjing kurus melolong, nyaring, seperti suara manusia yang diseret ke alam lain.

Ia terus mengetuk jendela. Lama. Lalu akhirnya, salju di dahan pohon di dekat rumah berpendar merah. Dari dalam, muncullah sosok perempuan membawa lentera.

“Biarkan aku masuk, nenek,” kata Yergunov. “Aku tersesat. Tuhan saksi betapa jahat cuaca malam ini. Aku orang baik, jangan takut.”

Suara perempuan itu kaku, dingin: “Semua orang baik sedang di rumah. Tak ada yang memanggil orang asing di sini. Dan pintu pagar itu tak dikunci.”

Yergunov masuk ke halaman. Kuda berhenti di dekat tangga. “Suruh buruhmu urus kudaku, nenek,” katanya.

“Aku bukan nenek,” jawab suara itu, dan lentera menyorot wajah muda: alis hitam, kulit pucat, bibir keras—Lyubka.

“Para buruh mabuk atau sedang ke Ryepino,” katanya sambil berjalan mendahului. “Hari ini libur.”

Yergunov menuntun kudanya ke gudang. Dalam kegelapan, ia mendengar ringkikan kuda lain. Ia meraba pelana: pelana Cossack. Ada orang lain di rumah ini. Ia pun membawa masuk belanjaan dan pelananya sendiri—jaga-jaga.

Ruangan pertama hangat seperti rahim. Lantainya basah—baru dipel. Bau arak dan asap menempel di udara. Di bawah ikon suci, duduk seorang lelaki berwajah keras, berjanggut pirang, mengenakan kemeja biru tua. Ia memandang gambar dalam buku usang dengan mata tajam dan tak percaya. Di dekat tungku, seorang lain terbaring berselimut kulit domba, hanya sepasang sepatu barunya yang tampak, basah oleh salju.

Yergunov mengenali lelaki itu: Kalashnikov, pencuri kuda terkenal dari Bogalyovka, lelaki yang hidup dari dosa seperti petani lain hidup dari tanah. “Heh, cuaca,” sapa Yergunov, menggosok lututnya. “Salju sudah sampai leher. Aku nyaris mati beku, sumpah. Bahkan pistolku ikut membeku.”

Ia mengeluarkan revolver, memeriksanya, lalu mengembalikannya ke tas. Kalashnikov tidak peduli, tetap membaca.

“Kalau bukan karena anjing di sini,” lanjut Yergunov, “mungkin aku sudah jadi mayat es di jalan.”

“Perempuan tua ke Ryepino,” jawab Kalashnikov datar. “Anaknya sedang menyiapkan makan malam.”

Keheningan menebal. Angin menyalak di cerobong. Bau kayu terbakar. Dari luar, lolongan anjing makin panjang, seperti doa yang tak pernah didengar Tuhan.

Yergunov menggigil, pura-pura sibuk meniup tangannya. Ia bertanya pelan, “Kau dari Bogalyovka, kan?”

“Ya.”

Maka dalam diam itu, pikirannya melayang ke desa itu—Bogalyovka yang terletak di lembah gelap, di mana bulan tampak tergantung di ujung dunia. Desa pencuri kuda dan pemetik ceri, tempat perempuan duduk di depan rumah sepanjang siang, mencari kutu di kepala satu sama lain, tertawa tanpa alasan, sementara lelaki mereka berkeliaran seperti bayangan.

Dan kemudian, langkah lembut terdengar. Lyubka masuk dengan kaki telanjang, mengenakan gaun merah. Ia berjalan pelan-pelan, seperti air yang tahu kemana harus jatuh. Kakinya menyentuh lantai dingin yang basah; ia sengaja menanggalkan sepatu, karena suka mendengar bunyi kulitnya sendiri.

Kalashnikov tertawa kecil, memanggilnya dengan jari. Ia menunjukkan gambar Nabi Elia terbang ke langit dengan tiga ekor kuda. Lyubka menunduk di sampingnya, rambutnya—panjang dan cokelat—jatuh ke lantai. Mereka berdua tertawa, seolah dunia di luar tidak sedang tertelan badai.

“Gambar yang indah,” kata Kalashnikov. “Indah,” bisik Lyubka, matanya memantulkan cahaya lilin.

Angin meraung di tungku. Kayu berderak. Dari celah dinding, terdengar suara seperti hewan dicekik.

“Roh jahat berkeliaran,” kata Lyubka sambil menyilangkan tangan di dada.

“Itu cuma angin,” balas Kalashnikov. Lalu menatap Yergunov.

“Kau orang berilmu, Osip Vassilyitch. Menurutmu, ada setan di dunia ini?”

Yergunov mengangkat bahu. “Kalau pakai ilmu, tidak ada. Tapi kalau pakai hidup, tentu ada. Aku pernah melihatnya.”

Mata Kalashnikov menyipit. “Di mana?”

“Di dekat jurang Zmeinoy, tahun lalu,” kata Yergunov. “Ia menghentikan kudaku, menatap mataku, lalu berkata: ‘Vaksinasi aku.’ Aku lakukan. Setelah itu, pisaunya berkarat.”

Dari dekat tungku, lelaki yang tadi berbaring bangkit. Rambutnya hitam, wajahnya gelap seperti jelaga, dan di pipi kanannya ada noda bulat seperti luka lama. Ia tersenyum dingin.

“Ya, aku memang memegang tali kiri kudamu,” katanya. “Tapi soal cacar, kau bohong, tuan.”

Yergunov menatapnya, tercekat. Dunia tiba-tiba mengecil menjadi satu napas dingin.

Nama lelaki berwajah hitam itu Merik. Dan ketika ia duduk di samping Kalashnikov, aroma asap dan logam terasa berubah—seolah udara kehilangan keperawanannya.

Lyubka menata meja: bacon asin, acar mentimun, daging rebus yang sudah dingin, dan wajan berisi kubis tumis bercampur sosis. Dari botol kristal, vodka mengalir ke gelas-gelas kecil, dan seisi ruangan langsung berbau kulit jeruk dan dosa.

Yergunov ingin bicara, ingin disambut sebagai kawan seperjamuan, tapi dua lelaki itu bicara tanpa menoleh padanya. Ia seperti hantu yang tak diundang. Ia ingin bercakap, tapi hanya kesunyian yang menatap balik.

Lyubka mondar-mandir, menaruh piring, menunduk, tersenyum sekilas. Setiap kali lewat dekat Yergunov, bahunya yang telanjang menyentuh pundaknya. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat darah di kepalanya berdegup seperti genderang perang.

Ia minum segelas. Lalu segelas lagi. Tubuhnya menghangat, lidahnya mulai ingin bersuara.

“Kalian orang Bogalyovka memang hebat,” katanya, berusaha ramah. “Ahli kuda, ahli  mencuri.”

Kalashnikov mengangkat alis. “Hebat? Tak ada yang hebat di sana. Cuma maling dan pemabuk.”

Merik menatap api. “Mereka sudah punah,” katanya. “Sekarang cuma ada Filya si buta. Itu pun tinggal satu mata.”

Kalashnikov mengangguk. “Ya. Dulu, polisi kalau lihat dia selalu berteriak, ‘Hei, Shamil!’ Semua orang tahu dia. Tapi sekarang, cuma ‘Filya Si Satu Mata’. Dulu ia pernah mencuri sembilan kuda dari barak tentara dalam satu malam. Kini tak bisa melihat kudanya sendiri. Dunia berubah jadi lelucon yang pahit.”

Lyubka tersenyum, menggigit bibir. “Tapi Merik tak kalah dari mereka,” katanya, nakal.

“Merik bukan orang kami,” ujar Kalashnikov. “Dia dari Mizhiritch, dekat Harkov. Tapi ya, dia lelaki berani. Setidaknya belum takut mati.”

Lyubka memandang Merik lama, matanya seperti bara yang tahu ke mana akan jatuh.
“Tidak sia-sia mereka dulu mencelupmu ke air es, Merik,” katanya menggoda.

Yergunov menatap, ingin tahu. “Air es?”

Merik tertawa pendek. “Begini ceritanya,” katanya, menyulut pipa. “Filya mencuri tiga kuda dari penyewa tanah di Samoylenka. Tapi mereka pikir aku pelakunya. Tiga puluh orang Molokan menjerat tanganku di pasar. Mereka bilang, ‘Kami tunjukkan padamu kuda baru kami.’ Aku dibawa ke sungai. Di sana mereka potong dua lubang di es, tujuh langkah jaraknya. Mereka masukkan tongkat panjang di bawah es, dengan tali di ujungnya. Mereka ikat tali itu di bawah ketiakku. Lalu—dor!—aku dicemplungkan di lubang pertama, diseret di bawah es, dan diseret keluar di lubang kedua.”

Lyubka menutup mulutnya, ngeri. “Beku, rasanya seperti surga yang membalas,” lanjut Merik. “Tubuhku kaku. Tapi mereka belum puas. Mereka memukuli lutut dan sikuku dengan tongkat sampai aku tak bisa berdiri. Lalu pergi, meninggalkanku di salju. Untung ada perempuan lewat, menjemputku. Kalau tidak, mungkin aku tak sempat menyesal.”

Yergunov menelan ludah. Vodka terasa getir. Ia ingin mengatakan sesuatu yang membuat mereka kagum, agar tak lagi dianggap beku di pojok ruangan. Maka ia mulai bercerita, dengan mulut yang mulai berat karena alkohol.

“Kalau kalian tahu apa yang pernah kualami di Penza—” katanya. Tapi suaranya tenggelam. Kalashnikov dan Merik tak mendengar, atau pura-pura tak peduli.

Mereka bicara lagi, tapi kali ini tak hati-hati. Mereka bicara tentang pencurian, tentang pelarian, tentang malam yang menelan kuda dan manusia seperti lumpur. Yergunov mengerti: ia sedang makan malam bersama dua pencuri, mungkin pembunuh. Tapi anehnya, ia tak takut. Ia hanya merasa iri.

Lalu Lyubka datang lagi, membawa dua botol anggur manis, sepinggan kacang dan biji labu. Ia duduk, menyalakan lilin baru. Cahaya lilin bergetar di pipinya. Kalashnikov mengangkat gelas, bersulang.

“Untuk Andrey Grigoritch, ayah Lyuba,” katanya. “Semoga arwahnya tenang. Dulu, kalau dia masih hidup, kita berkumpul di sini, dengan Filya, Martin, Fyodor. Malam-malam kita penuh tawa. Sekarang, hanya bayangannya yang tersisa.”

Lyubka keluar sebentar. Ketika kembali, ia mengenakan kerudung hijau dan kalung manik-manik berkilau. “Lihat, Merik,” katanya sambil menatap cermin kecil di dinding, “ini pemberian Kalashnikov hari ini.”

Ia menggeleng-gelengkan kepala agar manik-maniknya berderak, lalu membuka peti, mengeluarkan gaun bermotif bunga, syal biru tua berkilau benang emas. Setiap benda ia tunjukkan seperti anak kecil memamerkan mainan.

Kalashnikov memetik balalaika. Senarnya mengaduk udara dengan nada yang tak jelas: setengah gembira, setengah duka. Lalu Merik berdiri. Ia mulai menari. Tumitnya mengetuk lantai, cepat dan keras. Ia melompat, memutar, menekuk lututnya hingga tampak seperti setan kecil yang siap terbang.

Lyubka berseru kecil, ikut menari. Gaunnya yang merah berputar, seperti api yang lupa padam. Rambutnya terurai, memantulkan cahaya lilin. Mereka menari seperti dua nyala lilin yang saling menjilat.

Yergunov, yang setengah mabuk, menatap dari pojok ruangan. “Perempuan itu seperti api,” pikirnya. “Untuknya, seluruh dunia pun bisa terbakar.”

Ia ingin ikut berdiri, ingin ikut menari, tapi tubuhnya tak berani. Ia hanya duduk di atas peti, menatap Lyubka yang menari seperti roh dari legenda lama—seolah tubuhnya bukan daging, melainkan nyanyian. BERSAMBUNG

____________________

Penulis: Anton Pavlovich Chekhov (1860–1904) adalah penulis dan dramawan besar asal Rusia yang dianggap sebagai pelopor cerpen modern. Ia menulis dengan ketenangan seorang dokter dan kepekaan seorang penyair—menelusuri luka-luka kecil kehidupan sehari-hari, menyingkap kesepian, keinginan, dan absurditas manusia tanpa menghakimi. Dalam karyanya, termasuk The Horse-Stealers, Chekhov menghadirkan dunia yang tampak sederhana namun berdenyut oleh konflik batin yang sunyi: tempat di mana kebaikan dan dosa, cinta dan kebodohan, hidup berdampingan dalam cahaya yang sama redupnya.

____________________

Penerjemah: Erna Surya. Lahir dan bedomisili di Klaten. Beberapa cerpen dan terjemahannya dimuat di sejumlah media daring dan cetak. Ia gemar menulis kisah realis dan surealis dengan tema-tema kemanusiaan. Selain itu, ia juga senang membaca sastra klasik, dan sedang menerjemahkan beberapa novel dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Berprofesi sebagai seorang guru Bahasa Inggris di salah satu SMK di Klaten, dan pernah mengambil studi  Linguistik Penerjemahan di  UNS.

Cerpen

Kembang Api di Atas Kota Kosong Menyedihkan

Cerpen Titi Setiyoningsih

Perempuan itu menelepon tepat satu minggu setelah foto pertunanganku terunggah di Instagram. Setelah lima tahun kami menjaga jarak dengan cara yang sopan, kini dia ingin bertemu denganku.  Aku sebetulnya enggan tapi penasaran setengah mati. Pasti hal luar biasa telah terjadi. Layaknya setiap pertemuan yang dipaksakan terjadi, kami canggung berbasa-basi. Dia menanyakan bisnis toko buku yang kukelola, mengucapkan selamat atas buku terbaruku yang sebetulnya sudah setengah tahun lalu release.

“Tiga hari yang lalu aku datang kemari,” katanya kikuk. “Tapi kulihat kamu sangat sibuk dengan para pelangganmu.”

Aku berusaha terlihat kaget. “Oh ya? Seharusnya kamu menyapaku saja.” Ini baru permulaan dan aku mulai kelelahan. Jelas-jelas dia sering mampir ke toko ini. Para karyawan yang mengatakannya. Perempuan ini selalu datang dengan raut gelisah, kebingungan, dan tak pernah membeli apa pun. Seolah dia tersesat, terkejut mendapati dirinya di toko buku dan bukan di butik baju.

Dia berusaha membuka obrolan lagi, kali ini tentang kekagumannya pada tulisanku. Aku sudah tak tahan. “Ada apa? Kamu baik-baik saja kan?”

Wajahnya yang ramah kini berubah tegang dan putus asa. “Tidak, aku sangat kacau. Seharusnya aku tidak kemari,” dia hendak berdiri dan spontan ku tarik tangannya. Aku mengajaknya ke atap lantai tiga.

“Cuma ada kita berdua,” kataku mencoba menenangkan. Dia memunggungiku menatap lalu lintas di bawah sana. Kunyalakan sebatang rokok dan mulai mengisapnya perlahan. “Masih merokok?” tanyaku menawarkan sebatang padanya.

“Kent masih mencintaimu,” ujarnya spontan.

Kuisap lagi rokokku dalam-dalam. “Tidak, dia tidak pernah mencintaiku.”

“Dia masih membicarakanmu di belakangku,” perempuan itu berbalik dan menerima tawaran rokokku. Kami menyemburkan asap rokok bergantian. Di trotoar sana seekor kucing rupanya berhasil menggondol ikan dari dapur restoran.

“Kupikir kucing itu sudah mati,” gumamku.  Angin di atap gedung mulai mengibarkan rambut kami berdua. “Ngomong-ngomong aku bukan kucing itu. Aku tidak akan mengambil sesuatu yang bukan milikku.”

“Aku tahu. Aku ke sini bukan untuk menuduhmu,” katanya dengan nada yang lebih tenang daripada tadi.

“Kent tidak pernah mencintaiku. Dia hanya berasumsi dia mencintaku,” kataku sungguh-sungguh. Perempuan itu masih diam menunggu penjelasan. “Dia seolah-olah mencintaku, tapi tidak. Dia menciptakan konsep tentang diriku dan dia mencintai konsep itu. Bukan aku. Jadi ketika kami bersama, itu pun kau tahu tidak lama, banyak kekecewaan dalam hubungan kami. Dia belum menerima realita tentang diriku seutuhnya dan aku cukup frustrasi karena merasa diperlakukan tidak layak,” jelasku.

“Aku tidak paham, dia selalu memujimu,” ujarnya terdengar malu.

“Nah itu maksudku. Dia berpikir aku seperti ini dan itu. Dia mendekatiku karena berpikir aku begini dan begitu. Lalu saat kutunjukkan lapisan terdalamku, dia mundur. Dia tidak ingin menerimanya, dia hanya ingin aku yang ada dalam imajinasinya. Yah begitulah, kamu tahu sendiri kelanjutannya,” jelasku lagi.

Jika aku boleh jujur. Hubunganku dengan Kent adalah hubungan paling melelahkan yang pernah kujalani. Rasanya seperti tercekik berbulan-bulan. Dia selalu punya cara untuk melambungkanku ke angkasa sebelum akhirnya menjatuhkanku kembali ke bumi. Berkali-kali. Menarik dan mengulurku serupa karet gelang yang sengaja dimainkan. Terlalu sering dia melukiskanku langit biru, lalu mendadak mengubahnya menjadi hujan. Aku hidup dalam permainan caturnya yang dia ganti aturannya setiap hari. Aku terlalu optimis kala itu untuk membuat hubungan kami berhasil.

“Menurutmu aku harus bagaimana?” tanyanya lagi.

Ingin kujawab, kabur dan larilah sekencang-kencangnya! Tapi percuma jika perempuan ini masih dibutakan oleh kilau kembang api Kent. Ya, Kent seperti kembang api yang bersinar di atas kota kosong menyedihkan setiap perempuan yang kesepian. Kent hanya ingin perhatian, bukan cinta. Dia tidak pernah menginginkan cinta. Aku beruntung berhasil melarikan diri sebelum laki-laki itu lebih menyakitiku.

“Kau tahu jawabannya,” ujarku enggan. Aku selalu benci pada perempuan yang dibutakan perasannya, segala petuah akan terlihat seperti comberan saat kau sedang jatuh cinta.

“Dia menangis saat melihat foto pertunanganmu,” katanya akhirnya.

“Seperti itulah Kent. Suatu hari dia juga akan menangis melihat fotomu bersama laki-laki yang bukan dirinya. Dia selalu menangisi yang bukan miliknya.”

“Begitu ya?” Perempuan itu tersenyum kecil menatapku. Dari wajahnya aku tahu Kent telah memaksanya meminum air dari lautan, yang justru membuatnya makin kehausan, hingga berakhir meminta Kent memberinya lagi dan lagi. “Selamat ya atas pertunanganmu!” katanya.

“Hadirlah ke pernikahanku,” kataku meyakinkannya.

Perempuan itu menggeleng, “Kau pasti tahu jawabanku.”

Dalam diam kami berdua telah bersepakat, setelah malam ini kami akan kembali menjaga jarak seperti sebelumnya. Aku juga berharap dia mulai berhenti memikirkan cara untuk menyingkirkanku. Sudah lama aku memutuskan keluar dari arena permainan Kent, bahkan jauh sebelum mereka berdua saling mencumbu.

____________________

Titi Setiyoningsih. Dosen di prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.