Ragam

AKHIRNYA, BUKU TIDAK SIA-SIA

Oleh Ferdi

Jarum jam belum setengah jalan menuju angka 9 ketika dia datang. Pemuda itu adalah pemustaka pertama pagi ini, Selasa, 21 Oktober 2025. Setelah memberi salam, ia mengutarakan maksud kedatangannya: ingin mengembalikan buku, lalu meminjam buku lainnya.

“Apa maksudnya ‘darah lebih kental daripada air?’,” ia bertanya setelah meletakkan buku berjudul The Orange Girl garapan Jostein Gaarder di mejaku.

Dalam kenyataannya, darah memang lebih kental daripada air. Juga kelihatan perbedaannya kalau kita menonton film-film yang ada darah-darahnya. Begitu tanggapanku. Spontan saja.

Setelah diam sejenak dan memberi paraf di buku daftar peminjaman, aku balik bertanya. “Kalau ditilik secara harfiah memang begitu. Namun, mungkin saja penulis memakai kalimat itu sebagai kiasan. Apa konteksnya?” Siapa tahu, dengan mengetahui sedikit penggalan cerita, bicaraku bisa lebih banyak.

Ia lalu bercerita tentang seorang tokoh lelaki berumur tua. Sosok yang baik hati. Seseorang dalam cerita berujar bahwa “darah lebih kental daripada air”, merujuk pada si lelaki tua.

Entah, apa maksudnya, kataku menyerah. Payah.

Buku yang diterbitkan Mizan itu memang belum kubaca meski sudah termiliki sejak pengujung Desember 2018. Buku yang telah lama tidur nyenyak berselimut debu.

Buku yang sempat kuabaikan. Pernah mendekam di sebuah kamar asrama di Solo. Lalu di sebuah rumah dekat alun-alun Sukoharjo selama 3 bulan. Berlayar lewati ikan-ikan dan batu karang ke pelabuhan di Makassar. Berlanjut menghuni rumah tak jauh dari kantor Bupati Mamuju, hingga mendekam di salah satu rumah dengan cicilan 20 tahun di atas gunung. Perjalanan panjang sebelum bertemu pembacanya, seorang murid di sekolah tempatku mengajar.

Seandainya buku itu tidak menghuni lemari (bukan rak) buku di perpustakaan sekolah, maka ia akan tersia-siakan.

Tapi, tidak. Syukurlah.

Setelah percakapan singkat itu, dia lekas mencari buku lain. Tak lama, seperti dugaanku, dia datang dengan menenteng buku karangan Jostein Gaarder yang lain. Judulnya The Puppeteer. “Buku yang bagus,” kataku dengan yakin. Selain buku itu, belum ada karangan lain dari penulis bestseller Dunia Sophie  itu yang pernah kubaca.

Aku semakin tidak yakin manakah yang lebih benar: pembaca yang menemukan buku atau buku yang menemukan pembacanya. Yang aku tahu, si pemuda dan si gadis jeruk akhirnya bertemu di perpustakaan sekolah.

___________________

Ferdi. Pemuja buku, tinggal di Mamuju

Curhat

Seorang Penerjemah Gabut dan Wallpaper yang Menatap Balik

Curhat Erna Surya

Hari itu seharusnya jadi hari yang damai. Tidak ada pekerjaan, tidak ada tenggat, tidak ada drama hidup yang bikin kepala berat. Hanya saya, kasur, kipas angin, dan kesunyian yang terasa manis di lima menit pertama, lalu berubah jadi sepi yang menyebalkan di menit ke enam. Saya sudah memandangi langit-langit kamar cukup lama. Saya sudah menatap ponsel sampai mata rasanya seperti diperban notifikasi. Saya membuka semua aplikasi yang bisa dibuka, dari TikTok sampai Kalkulator, hanya untuk memastikan tidak ada keajaiban digital yang tiba-tiba menyelamatkan hari saya. Tapi tidak ada apa-apa. Dunia tetap datar, hidup tetap gabut, dan saya masih di posisi yang sama: berbaring di kasur sambil memikirkan kenapa manusia diciptakan dengan rasa bosan.

Akhirnya, di tengah kekosongan itu, muncul ide yang terdengar sangat mulia di kepala saya: “Aha! Menerjemahkan cerpen berbahasa Inggris!” Rasanya seperti pencerahan. Mungkin ini cara saya untuk sedikit produktif, menajamkan otak, dan menipu diri sendiri bahwa saya masih berguna untuk peradaban. Jadi, saya buka laptop, mengetik di Google: “short story in Gutenberg.” Lalu muncullah sederet judul, sebagian terlihat keren. Dan ada satu judul yang langsung menarik perhatian saya: The Yellow Wallpaper karya Charlotte Perkins Gilman.

Saya tidak tahu siapa Charlotte itu, tapi judulnya terdengar tidak mengancam. Wallpaper kuning, pikir saya, mungkin ini kisah lucu tentang interior rumah atau cat tembok yang gagal matching dengan sofa. Jadi, dengan penuh semangat palsu khas orang gabut, saya klik tautannya, membuka teks, dan mulai menerjemahkan kalimat pertama. Awalnya biasa saja. Ceritanya tentang seorang perempuan yang katanya sedang sakit dan disuruh istirahat oleh suaminya, yang kebetulan seorang dokter. Saya membaca sambil santai. Si tokoh utama ini tinggal di rumah besar, istirahat di kamar atas, dilarang melakukan apa pun karena “demi kesehatannya.”

Beberapa paragraf pertama terasa ringan. Saya bahkan sempat berpikir ini mungkin kisah romansa atau sedikit drama domestik. Tapi semakin saya baca, semakin muncul rasa aneh. Tokoh perempuan itu mulai bercerita soal dinding kamarnya yang dilapisi wallpaper warna kuning. Katanya, motifnya aneh. Tidak enak dilihat. Seperti ada sesuatu yang bergerak di dalamnya. Saya berhenti sebentar, menatap dinding kamar saya sendiri. Warnanya biru muda. Aman. Tidak ada yang bergerak, kecuali nyamuk yang sedang uji nyali. Saya lanjut membaca.

Paragraf demi paragraf berjalan. Si tokoh makin sering menyebut wallpaper itu. Katanya, “pola itu bergerak.” Saya mengetik hasil terjemahan: “The pattern moves, sometimes” menjadi “Pola itu kadang bergerak.” Lalu saya berhenti lagi. Pola yang bergerak? Dalam hati saya berkata, “Mbak, kamu ngantuk ya?” Tapi rasa penasaran membuat saya terus lanjut. Makin ke tengah cerita, suasananya berubah. Ada kalimat-kalimat yang terasa seperti bisikan dari ruang gelap kepala seseorang. Si tokoh yakin ada sosok perempuan di balik wallpaper itu. Perempuan yang bersembunyi, merangkak, berusaha keluar.

Saya yang awalnya santai, mulai tidak tenang. Otak saya membayangkan wallpaper kuning yang berdenyut pelan, seperti kulit makhluk hidup yang bernapas. Saya menatap dinding kamar saya lagi. Biru muda itu entah kenapa terasa agak kekuningan malam itu. Saya menarik napas dalam-dalam. “Tenang,” saya menenangkan diri. “Ini cuma cerpen, bukan film horor.” Tapi tentu saja imajinasi tidak bisa diajak logika. Di kepala saya, mulai muncul adegan absurd: perempuan dengan wajah pucat keluar dari dinding sambil berkata, “Tolong, wallpaper aku kusut.”

Saya lanjut membaca sambil menahan tawa karena mulai takut dengan diri sendiri. Tapi semakin dalam saya membaca, semakin saya merasa aneh. Saya mulai bertanya-tanya: apakah tokoh ini benar-benar gila? Atau jangan-jangan orang-orang di sekitarnya yang gila karena tidak mau memahami dia? Suaminya, yang dokter itu, melarang dia menulis, melarang dia bekerja, bahkan melarang dia merasa. Semua dengan alasan “ini demi kesehatanmu.” Saya tiba-tiba merasa relate. Bukan karena saya punya suami, tapi karena saya tahu rasanya ketika orang bilang, “Udah, jangan dipikirin, nanti juga hilang,” padahal justru itu yang bikin kepala makin sesak.

Saya berhenti menerjemahkan. Kopi saya sudah dingin, tapi saya masih terpaku pada kalimat si tokoh. Ada kalimat yang bilang dia ingin menulis tapi tidak boleh. Saya terdiam lama. Mungkin kegilaan memang sering lahir bukan dari pikiran yang rusak, tapi dari dunia yang tidak memberi ruang untuk kita bernapas. Dari situ saya mulai simpati. Saya ingin masuk ke dalam ceritanya, mengetuk pintu kamar si tokoh, dan bilang, “Mbak, aku bawa laptop, mau nulis bareng?” Tapi tentu saja saya cuma bisa duduk di depan layar, melanjutkan terjemahan, sambil merasa sedikit tidak stabil secara emosional.

Lalu tibalah saya di bagian akhir. Bagian yang bikin jantung saya berhenti sepersekian detik. Si tokoh benar-benar percaya ada perempuan di balik wallpaper itu. Ia mulai mengintip, mengamati, menunggu momen yang tepat. Dan akhirnya, ia merobek wallpaper itu. Ia ingin membebaskan perempuan yang terjebak di dalamnya. Saya menahan napas waktu membaca paragraf terakhir. Dan di sana tertulis bahwa perempuan yang ia lihat di balik dinding itu… ternyata dirinya sendiri.

Saya membeku. Saya menatap layar laptop seperti baru menemukan rahasia hidup yang tidak saya minta. Jadi selama ini, tokoh itu merasa dirinya sendiri terjebak di balik wallpaper itu? Saya merinding. Bukan karena seram, tapi karena rasanya saya juga pernah di posisi itu — terjebak di antara hal-hal yang saya tidak tahu bagaimana harus keluar. Bedanya, saya tidak punya wallpaper kuning, hanya tembok yang sudah kusam, tapi maknanya sama: kadang kita semua merasa terkurung di ruang kita sendiri.

Malam itu, setelah selesai menerjemahkan, saya tidak bisa tidur. Saya menatap tembok kamar. Semakin lama saya menatap, semakin saya merasa warna biru itu berubah jadi kuning pucat. Saya tahu ini efek sugesti, tapi tetap saja bulu kuduk saya berdiri. Saya akhirnya menyalakan lampu, membuka YouTube, mencari video kucing lucu untuk menetralkan suasana. Tapi tetap tidak bisa. Otak saya masih penuh bayangan perempuan merangkak di balik wallpaper.

Saya mulai sadar bahwa setiap orang sebenarnya punya “wallpaper kuning” masing-masing. Lapisan tipis yang menutupi hal-hal yang tidak ingin kita perlihatkan. Ada yang menutupinya dengan keceriaan palsu di media sosial. Ada yang menutupinya dengan kerja tanpa henti. Ada yang menutupinya dengan candaan setiap kali ditanya “kamu kenapa.” Dan saya mungkin menutupinya dengan terjemahan cerpen ini, seolah saya sibuk, padahal saya sedang lari dari rasa bosan dan cemas saya sendiri.

Saya menatap hasil terjemahan saya keesokan paginya. Tidak terlalu bagus, beberapa kalimat bahkan terasa kaku, tapi saya tersenyum. Karena di balik terjemahan itu, saya tahu ada sesuatu yang lebih dalam. Saya tidak cuma menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, tapi juga menerjemahkan kegilaan tokoh itu ke dalam kewarasan saya sendiri. Saya seperti ikut merobek wallpaper di kepala saya—lapisan tipis yang memisahkan antara “aku yang diam” dan “aku yang ingin bicara.”

Dan lucunya, dari semua hal yang saya pelajari hari itu, kesimpulan paling jujur justru sederhana: jangan membaca karya sastra psikologis waktu kamu lagi gabut sendirian. Apalagi kalau kamu punya imajinasi yang aktif tapi stok keberanian terbatas. Jangan juga menatap dinding terlalu lama. Kadang yang menatap balik bukan setan, tapi pikiranmu sendiri. Dan kalau kamu ingin merasa produktif, mungkin lebih aman mencuci piring daripada menerjemahkan cerpen abad ke-19 tentang kegilaan.

Tapi tetap, saya bersyukur sudah melakukannya. Karena dari kegabutan hari itu, saya menemukan sesuatu yang tidak saya duga: bahwa cerita bisa jadi cermin. Kadang yang kita kira cuma kisah orang lain, ternyata sedang memantulkan wajah kita sendiri. Saya menutup laptop, mematikan lampu, dan sebelum tidur saya sempat berkata pelan ke dinding kamar, “Terima kasih ya, sudah diam saja malam ini.”

Dan oh ya, sebagai puncak semangat (dan sedikit keberanian), saya akhirnya mengirimkan hasil terjemahan itu ke sebuah media yang katanya menerima karya terjemahan sastra. Sampai sekarang saya masih menunggu kabar, entah dimuat atau tidak. Kalau dimuat, mungkin saya akan pamer dengan tenang dan menulis status penuh kebijaksanaan di Instagram. Kalau tidak, ya… mungkin saya akan menyalahkan wallpaper kuning itu lagi. Jadi, doakan saja ya—semoga dimuat. Kalau tidak, minimal doakan supaya saya tidak menerjemahkan hal-hal berpotensi mengganggu lagi waktu gabut berikutnya.
___________________

Erna Surya. Penulis dan penerjemah sastra.

Belakang

SEBELUM 1945: PISANG, BAMBU, KELAPA

1942: nasib Indonesia sangat berubah. Kita percaya saja omongan dan bacaan sejarah, yang menyatakan 1942 adalah tahun getir. Indonesia tak lagi dalam cengkeraman pemerintah kolonial Belanda. Kejutan terjadi dalam hitungan hari. Indonesia berada di arus yang berbeda setelah kedatangan balatentara Nippon. Di buku pelajaran, kita mengetahui masa pendudukan Jepang, dimulai 1942 dan berakhir 1945.

Apa yang kita warisi dari masa kekuasaan Jepang yang pendek? Kita jawab saja: buku. Para pengamat sejarah biasanya menyebut Soeharto itu masuk dalam daftar warisan masa pendudukan Jepang. Ada lagi yang mencatat: upacara, rukun tetangga, berbaris, dan lain-lain. Kita menjawab warisan penting dari masa lalu itu buku. Jawaban yang sombong! Masa kekuasaan yang pendek memang menghasilkan buku-buku, yang tersisa sedikit untuk kita pegang dan pelajari.

Di kalangan peneliti sejarah dan kolektor, buku-buku terbitan masa pendudukan Jepang biasa berharga mahal. Anggapan langka digunakan gara-gara jumlah buku yang masih ada cuma sedikit. Mengapa terjadi penerbitan buku-buku? Konon, Jepang mengharuskan propaganda, yang bisa bergerak dan bertumbuh di kalangan sekolahan.

Buku yang masih bisa berada di tangan kita berjudul Ilmoe Toemboeh-Toemboehan. Buku yang diadakan oleh Kantor Pengadjaran, 1943. Buku digunakan oleh murid-murid di sekolah menengah pertama. Yang belajar di sekolah perlu mengetahui ilmu tumbuh-tumbunan, yang bagi Jepang bisa mendukung pemenuhan kebutuhan pangan atau membuat ilusi kemakmuran di Indonesia.

Siapa yang menyusun buku? Kita tidak menemukan nama-nama yang tercantum di lembaran-lembaran buku. Yang pokok adalah murid-murid masih berkutat dalam sains. Ilmu yang dipelajarinya sangat berguna dalam kepentingan akademik dan kejadian sehari-hari. Buku pelajaran yang tidak asal terbit tapi mendapat pemeriksaan dulu oleh pihak Jepang. Kita menduga buku pelajaran kadang berbahaya, yang menimbulkan perlawanan atau pemberontakan.

Kita membayangkan muri-murid yang belajar ilmu tumbuh-tumbuhan sering kelaparan. Pada masa pendudukan Jepang, pangan itu langka dan sulit. Beras disetorkan kepada tentara Jepang. Rakyat bingung mencari makanan. Imajinasi tentang Indonesia yang subur mendapatkan kebalikan-kebalikan. Murid-murid yang belajar pun menyadari penderitaan yang ditanggung banyak orang akibat perintah-perintah Jepang.

Buku dari masa kelam kita baca berbarengan Indonesia sedang berlagak sadar pangan. Kebijakan pemerintahan mengenai tumbuhan diberlakukan dengan janji-janji besar meski kita mengetahui kegagalan dan kelemahan. Tumbuhan itu tema besar abad XXI, yang menjadikan Indonesia wajib bermartabat bila mengingat warisan dan nasihat nenek moyang.

Kita berusaha menjadi murid masa 1940-an agar merasa takjub melihat isi buku pelajaran. Yang mula-mula dipelajari adalah pisang. Di buku, tercantum keterangan: “Pisang, toemboehan negeri panas ini, masoek bilangan sesoeatoe keloearga jang ketjil tapi penting. Djenisnja banjak dan sifat-sifatnjapoen sangat berlain-lainan. Pisang itoe ditanam orang baik ditanah rendah, ditanah pegoenoengan dan hampir terdapat disegenap pekarangan.”

Pisang memang mudah ditemukan di seantero Indonesia. Pisang mengisahkan rakyat yang membuat beragam olahan. Kita suka makan pisang goreng. Ada yang menggunakan untuk kolak. Orang lawas yang sakit, menggunakan pisang untuk bisa menelan obat. Segala tentang pisang menjadi sumber kebijaksanaan, bukan sekadar pangan.

Pisang mengiringi kebutuhan pangan jutaan orang di Indonesia. Pisang bukan makanan pokok tapi kita biasa menemukan adanya pisang di warung. Di hajatan pernikahan atau ritual, pisang pun dihadirkan. Pisang tidak bisa sirna dalam arus sejarah Indonesia. Namun, kita belum menemukan buku membahas sejarah (politik dan pangan) di Indonesia, yang mengandung bab-bab pisang. Yang mengalami masa Orde Baru mungkin ingat pernah diadakan lomba nasional: memasak beragam makanan berbahan pisang, yang memperebutkan Piala Tien Soeharto.

Kita melanjutkan pelajaran tentang bambu. Yang hidup di desa terkenang pelbagai benda yang dibuat dari bambu. Keluarga yang hidup miskin atau sederhana menghuni rumah yang dibuat dari bambu. Para penikmat suara seruling lekas mengingat bambu. Di babak sejarah, kita dibuat kagum adanya pasukan yang berbambu runcing. Pokoknya, bambu bergelimang cerita di Indonesia.

Di buku yang diterbitkan Kantor Pengadjaran, kita membaca keterangan: “Bamboe itoe amat bergoena kepada anak negeri, didjadikan pagar desa. Lain daripada itoe dipergoenakan oentoek pemboeat roemah, tetapi dapat poela diperboeat djadi pelbagai matjam perhiasan roemah, pakaian, perkakas, sendjata, bahkan perkakas boenji-boenjian. Daripada bamboe jang dibelah-belah diperboeat tikar, topi, kotak, kipas…” Indonesia itu negeri subur untuk pelbagai jenis bambu. Namun, julukan untuk Indonesia bukan “negeri bambu”.

Yang terkenal dari masa lalu adalah “negeri njioer melambai”. Kita biasa menemukannya dalam bacaan lawas atau lagu-lagu “tempo doeloe”. Orang-orang sekarang mungkin tidak mengetahui “njioer”. Padahal, ia biasa melihat atau mengonsumsi “njioer”. Kita membuka halaman-halaman lain dalam buku Ilmoe Toemboeh-Toemboehan.

Di halaman 97, kita membaca penjelasan: “Pohon njioer itoe sebaik-baiknja toemboeh dekat tepi pantai. Di Indonesia kelapa itoe adalah 20 matjam. Ada jang hidjau, ada jang koening atau jang kemerah-merahan boeahnja.” Nama lain dari “njioer” adalah kelapa. Kita sudah belajar banyak mengenai kelapa, yang disampaikan keluarga, guru, pengarang, dan ulama. Indonesia memang pantas belajar ribuan hikmah bersumber kelapa.

Yang kita ketahui, kelapa tidak selesai hanya berurusan kuliner. Hiasan dalam pesta pernikahan di Jawa mengingatkan pohon kelapa (janur). Alat-alat di dapur itu dibuat dari pohon kelapa. Gerakan kepanduan pun memilih simbol kelapa. Yang rajin menyapu pekarangan rumah pasti mengerti faedah pohon kelapa: sapu lidi.

Buku yang mengandung ilmu. Buku yang diipelajari saat Indonesia dijanjikan merdeka. Murid-murid belajar tapi kesusahan mendapatkan makanan. Buku yang mengumpulkan banyak keterangan tumbuhan-tumbuhan di seantero Indonesia. Yang belajar mendapatkan gambar dan foto, menguatkan keinginan paham tumbuhan, bukan kekuasaan.

Warisan dari masa pendudukan Jepang adalah buku. Pada 2025, kita membaca buku yang umurnya lebih tua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita boleh membayangkan murid-murid yang belajar Ilmoe Toemboeh-Toemboehan menjadi pelaku dan saksi sejarah di titik terpenting: 1945. Indonesia yang merdeka membutuhkan pangan.

Buku yang dipelajari di sekolah itu akhirnya berguna untuk Indonesia yang menghijau. Indonesia adalah album tumbuhan. Anehnya, buku yang apik itu tidak mendapat susulan atau bandingan pada masa sekarang. Murid-murid di SD, SMP, dan SMA makin enggan belajar ilmu tumbuhan. Mereka pun jarang menemukan tumbuh-tumbuhan di sekitar rumah atau sekolah.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Ragam

MALAM DAN BUKU

Hai, lelaki yang terkurung di kamar kusam. Lelaki yang terlarang gendut setelah bertahun-tahun hidup bersama udara kotor di Kleco. Tubuhmu sedang dihancurkan oleh asap dan debu. Kamar yang bergetar.

Hidupmu mustahil sunyi saat jalan besar mengarah ke Solo dan Kartasura itu hancur atau dihapus dari peta. Oh, dirimu memilih terus bertahan dengan segala khawatir dan kecewa.

Yang datang kepadaku adalah Gha, bukan dirimu. Di GOR Badminton (Blulukan), Jumat, 17 Oktober 2025, Gha datang membawa bukumu. Saat itu aku sedang mengetik di bawah lampun kuning. Aku biarkan Gha menikmati malam yang ramai oleh teriakan jamaah bulutangkis. Tulisan belum selesai tapi aku bolak-balik membuat beragam minuman untuk jamaah di lapangan.

Puluhan menit berlalu, aku berhasil membuka buku yang dibungkus plastik dan diplester. Buku yang dimanja plastik, yang ikut berdosa bila menghancurkan Bumi. Malam itu aku sengaja mendengarkan album jazz (Persia). Tubuhku yang lelah ingin pergi jauh oleh pendengaran. Maka, pilihanku adalah jazz rasa Persia. Beberapa hari sebelumnya, aku sengaja menikmati jazz (Spanyol), jazz (Italia), dan jazz (Arab).

Hai, Joko yang bukan Widodo, buku kecilmu berada di tanganku meski yang menyerahkan bukan tanganmu. Aku membayangkan tanganmu malu padaku. Malam itu tanganmu mungkin sedang mengetik esai atau memegang buku-buku yang bikin sesak kamar di Kleco. Dirimu memang intelektual yang tangguh, yang tidak membiarkan tangan hanya untuk rokok atau ponsel. Buktinya, ada buku kecil berjudul Alam Semesta dan Kebudayaan Berpengetahuan yang diterbitkan Press Mesin, 2025.

Buku enteng, bobotnya tidak sampai 1 kg. Aku mula-mula hanya memegang dan melihat beberapa halaman. Aku taruh bukumu di meja agar ikut mendengarkan jazz (Persia). Tanganku harus segera menyapu dan mengepel lapangan agar jamaah yang baru datang bergembira main bulutangkis. Tanganku yang kotor akhirnya berhasil membaca bukumu. Mataku memerlukan sorotan senter ponsel untuk memastikan kata-kata yang terbaca tidak salah.

Wah, buku yang menghibur! Namun, aku agak bingung: buku itu datang bareng seplastik beras. Dirimu takut aku kelaparan? Jadi, beras membuatku percaya besok bisa makan. Malam itu aku makan buku, belum makan nasi yang berasal dari pemberianmu. Nah, makan bukumu sedikit membuatku tertawa.

Joko Priyno, nama yang biasa tercetak di majalah Tempo dan Kompas, membuat buku yang bertema berat tapi daftar pustakanya ecek-ecek.

Seharusnya, buku itu dirimu hadiahkan kepada Prabowo Subianto yang bertambah umur. Jumat itu milik Presiden RI yang membuat seribu perintah untuk Indonesia yang linglung. Usulan lain adalah mengirimkan buku kepada Fadli Zon, yang sembrono membuat peringatan Hari Kebudayaan. Jadi, aku membaca bukumu bertepatan ulang tahun Prabowo Subianto dan perwujudan kebijakan Fadli Zon. Hari yang parah agar aku mengakui bukumu bermutu ketimbang buku-buku bertema sains terbitan KPG.

Halaman-halaman awal berisi kutipan dari buku cerita anak. Kurang ajar! Dirimu yang mengamati sains mulai percaya bahwa sastra anak adalah referensi penting, bukan cuma buku-buku berbahasa Inggris yang terbit di Amerika Serikat atau Eropa. Masalah planet, makhluk, dan Bumi yang ada dalam cerita gubahan Zubir Mukti dirimu tafsirkan dengan luwes agar pembaca memasalahkan manusia. Makhluk yang kadang berkuasa. Pada situasi lain, manusia itu bodoh dan bedebah. Aku senang dirimu mau berpihak cerita anak saat membabar sains dan kebudayaan. Buku itu dirimu beli 5 ribu rupiah di Gladag, Solo? Buku murahan tapi derajatnya tinggi gara-gara pemikiranmu.

Duh, Jok, aku terkecing-kencing membaca kalimatmu: “Kita terjerembab pada formalitas tanpa substansi dalam memaknai demokrasi.” Kalimat yang konyol. Istilah-istilah yang menyiksa pikiran. Aku menutup bukumu, berlari ke toilet. Aku ingin mengencingi kalimatmu!

Seharian, aku berada di GOR Badminton (Blulukan), kebanyakan minum. Konon, hawa di Indonesia sedang ganas-ganasnya. Aku minum banyak berakibat sering dolan ke toilet. Eh, kalimatmu menambahi masalah sehingga aku terpaksa ke toilet.

Bagaimana kalimat itu bisa dibuat di Kleco? Apakah saat mengetik ada truk bobrok yang lewat jalan yang lebih tinggi dari kamarmu? Dirimu memang sudah saatnya paham dan mahir menggunakan istilah-istilah menyeramkan dalam esai. Aku saja yang terlambat mengetahui dan ikhlas menerimanya.

Wahai, Joko Priyono yang pinter dan berkumis, aku suka dengan usahamu mengingatkan pembaca tentang peran Joko Widodo, yang seolah-olah berpihak sains. Dugaanku dirimu membuat kalimat setelah berhasil menghabiskan 6 batang rokok: “Ia beberapa kali menghadirkan diri pada masyarakat, tak terkecuali ke kalangan anak-anak dengan stimulus hadiah sepeda bagi yang mampu menyebutkan sepuluh nama ikan.” Bagimu itu tema yang penting banget dipikirkan demi kemuliaan Indonesia, bukan kesaktian Joko Widodo.

Yang sakti adalah dirimu! Di kamarmu, ada buku yang berjudul Memelihara Ikan (1984) garapan Meta Candra Satia, yang dirimu gunakan membahasa ikan, manusia, sains, kekuasaan, dan alam semesta. Dirimu tidak salah pilih buku atau salah baca buku. Jutaan orang Indonesia memang harus disadarkan agar paham ilmu ikan, bukan cuma makan pelbagai ikan di warung atau restoran. Oh, bukumu itu tidak bisa digoreng untuk dimakan bareng nasi!

Bukumu sementara ditutup lagi. Aku harus menunaikan kerja yang membuat keringat membasahi tubuh dan kaos. Bau tubuhku sudah kecut dan menyengat. Seharian tidak mandi! Malam itu aku masih meladeni jamaah-jamaah badminton yang berdatangan.

Sialnya, di lapangan sisi utara, aku melihat kaum muda yang berlagak intelektual sedang bermain bulutangkis selama dua jam sambil teriak-teriak dan ketawa-ketiwi. Di pinggir lapangan, aku melihat lelaki yang membaca bukumu. Aku berharap ia mencret setelah khatam bukumu. Ia akan tersiksa gaya bahasamu dan rentetan pemikiranmu yang mirip gerakan kodok. Beruntunglah, ia membaca sejenak saja. Di tangannya, tersisa rokok.

Ada lagi lelaki yang duduk di pinggiran membaca novel Isabel Allende. Lelaki bersepatu dan berkacamata yang ingin bisa menulis kritik sastra. Malam itu ia bersemangat memegang raket. Selingannya memegang buku dan gorengan. Dua lelaki yang salah tempat untuk membaca buku. Mereka itu temanmu yang belum sakti tapi aku percaya seratus tahun lagi mereka bakal menjadi intelektual tangguh di Indonesia bila masih ada.

Malam bertambah malam. Aku mengantuk tapi kerja belum selesai. Duduk di luar sambil memejamkan mata, aku mendengarkan lagu-lagu asmara. Telingaku kedatangan lagu-lagu: Satu-Satunya Cinta (Mahadewi), Simfoni Hitam (Sherina), Jadi Aku Sebentar Saja (Judika), Janji di Atas Ingkar (Audy), Penipu Hati (Tata Janeta), Aku Lelakimu (Virzha), Mendua (Astrid), dan lain-lain.

Deretan lagu bukan seleramu, Jok. Bila mau dengarkan saja lagu-lagunya Koil, Pas, atau Burgerkil. Eh, dirimu semestinta mendengar lagu yang berjudul “Jengah”. Bukumu yang aku baca apik tapi kurang ada lagu-lagunya. Pastinya telingamu tidak sedang kopok, yang abai lagu-lagu.

  Jok, aku masih mengantuk meski dihajar beberapa lagu. Akhirnya, aku membuka bukumu kembali. Aku bisa sedikit tertawa mengetahui dirimu menggunakan buku berjudul Buah-Buahan yang Lezat dan Menyegarkan (1976). Kecewa! Dirimu tidak mengaitkannya dengan menu untuk makan bergizi gratis yang diselenggarakan rezim Prabowo-Gibran. Dirimu hanya membahas kota, desa, pangan, dan sains. Oh, tulisanmu memang sudah agak lama tapi terbit setelah gegeran makan bergizi gratis.

Malam yang capek. Jok, yang membuat capek bukan bukumu. Aku justru gembira mengetahui keberanianmu membuat tulisan panjang yang disahkan sebagai buku. Aku merasa tidak sia-sia membaca bukumu yang sampulnya bergambar ikan berkepala manusia. Lucu! Bukumu bakal bercampur ribuan buku di rumahku yang makin berantakan.

Duh, aku berdoa kelak bukumu tidak mendapat tetesan hujan atau dihancurkan tikus. Bukumu harus aku bungkus dengan selusin plastik agar selamat dari debu atau rayap. [] Kabut

Cerpen

Delapan

Cerpen Septi Rusdiyana

Sora membolak-balik dua lembar bacon dan dua sosis ayam berukuran besar. Satu telur mata sapi setengah matang sudah lebih dulu mengisi piring. Sora suka telur mata sapi. Sebenarnya ia selalu ingin membuat dua. Tapi dua telur mata sapi jika disejajarkan akan membentuk angka delapan. Sora benci angka delapan. Dari dulu. Sejak kecil. Sejak malam saat ia melihat jam dinding panti asuhan menunjuk angka delapan. Di kamar sempit berisi delapan anak lain, pada delapan belas Agustus dua belas tahun lalu, saat usia Sora hampir delapan tahun. Betapa mudah Tuhan mengatur semesta beserta isinya hingga saling berkaitan. Sebuah kebetulan yang menakjubkan, bukan?

Sayangnya, bagi Sora, delapan bukan sekadar angka, melainkan kode. Kode yang tak terpecahkan. Bukan, bukan. Bukan tak terpecahkan, tapi memang tak mau dipecahkan. Di satu sisi Sora ingin menyerah. Lalu di sisi hatinya yang lain, Sora merasa familier dengan keadaan itu. Seperti teman lama tiba-tiba hadir membawa cerita yang tak selesai. Sora lelah. Ia sempat ingin malaikat maut menjemputnya. Tapi saat Sora mimpi seseorang mencekiknya hingga ia hampir kehabisan napas, ia justru bersyukur saat delapan detik berikutnya ia berhasil terbangun. Sejak itu, Sora tidak mau mencampuri hak prerogatif Tuhan perihal hidupnya.

Kembali pada Sora yang sedang membuat sarapan. Di rumah kontrakan Sora tidak ada kalender. Tapi ia tahu hari ini Jumat, tanggal delapan belas. Sora beruntung perusahaan tempatnya kerja mau berkompromi dengannya—mendapat hak libur pada tanggal yang mengandung angka delapan. Tentu saja ada konsekuensi—jika tidak jatuh di tanggal merah, maka Sora wajib masuk kerja di hari Minggu. Hal itu bukan masalah bagi Sora. Setiap tanggal delapan, delapan belas dan dua puluh delapan, Sora hanya akan di rumah saja. Tidak menonton televisi, apalagi bermain gadget. Sora menggambar, atau melukis, atau sekadar membaca buku dengan halaman-halaman yang tidak lagi utuh. Entah apa yang bisa Sora nikmati dari cerita yang banyak memiliki bagian hilang itu.

Sarapannya telah siap. Sora mengambil segelas jus jeruk dari kulkas. Meja makannya menghadap jendela. Dari tempat Sora duduk, ia bisa melihat barisan driver ojek online di depan ruko yang masih tutup, juga anjing kampung liar warna cokelat yang sering banyak orang panggil Odol, entah atas dasar alasan apa. Sora menikmati semua pemandangan itu. Ia bisa sangat lama menghabiskan sarapannya.

Sora suka warna merah. Meski begitu, ia tidak pernah menghitung jumlah mobil atau sepeda motor warna merah yang melintas di depannya. Tentu saja karena Sora tak suka angka delapan. Menurutnya, hitungan haruslah urut. Tak boleh meleset, apalagi melompat tak berurutan. Karena itu pula, menghitung adalah tabu baginya.

Sora menyantap sarapan sembari  menatap kosong ke arah jalanan. Sesekali mungkin tersenyum. Seperti kali itu, ada seorang anak kecil tertawa tanpa henti saat dipanggul ayahnya. Di sebelahnya, seorang wanita gemuk kesulitan mengambil uang receh yang mungkin tidak sengaja terjatuh. Pemandangan itu membuat Sora ingat dengan ayah dan ibunya. Kalau saja waktu boleh diputar, ia ingin kembali ke masa itu. Masa di mana Sora memaksa kedua orang tuanya untuk mengantar latihan silat di hari yang hujan.

Tiba-tiba suara klakson panjang melengking sesaat sebelum terdengar benturan. Kecelakaan tak terhindarkan. Dua orang terkapar di jalan. Orang-orang mulai berkerumun. Jantung Sora berpacu kencang. Ia tidak bernafsu menghabiskan sarapannya. Sora lari ke kamar. Meraih guling dan memeluknya. Erat sekali. Sama eratnya saat dulu Sora juga berada di pinggir jalan, memeluk tubuh ayahnya yang sudah kaku berlumur darah. Ibunya terpental agak jauh. Tidak ada darah, tapi ibunya meringkuk tak bergerak.

Sora ingat, saat itu kakinya mati rasa. Seseorang meraih dan menggendongnya menuju rumah penduduk. Banyak perempuan-perempuan iba. Mereka bilang Sora bocah malang. Saat itu Sora tahu jika kedua orangtuanya tidak sedang baik-baik saja. Saat Sora turut masuk di ambulans menuju rumah sakit, ia menyaksikan saat petugas medis berusaha menangkap detak jantung yang mencolot dari tubuh ayah ibunya. Perempuan-perempuan di rumah penduduk yang mengerubungi Sora sebelumnya sepertinya salah memahami. Sora tidak menangis. Bahkan saat pemakaman kedua orangtuanya. Bahkan saat tantenya membawanya ke panti asuhan. Bahkan saat teman satu kamar di panti mengatai Sora gadis buruk rupa—bekas luka akibat kecelakaan meninggalkan luka parut di pipinya.

Di bagian itu Sora ingin menarik mundur waktu. Sora harap ia mati bersama ayah ibunya saja. Kematian bukan hal buruk, meski juga bukan menjadi sebuah pilihan. Kalau saja Sora mati saat kecelakaan itu, ia tak perlu menjadi yatim piatu yang dibawa tantenya ke panti asuhan, lalu menyebabkan kepala teman sekamarnya bocor akibat Sora pukul dengan tumbler miliknya. Ketua panti marah, dan menyeretnya ke gudang bawah tanah untuk menerima hukuman. Hukuman yang menurut Sora lebih biadab dari penjara. Di dalam ruangan sempit dan pengap, Sora dipaksa melayani hasrat menyimpang sang ketua panti. Sora mungkin ketakutan, tapi lagi-lagi, ia tak menangis.

Sora kini tertidur. Mungkin ingatan-ingatan itu membuatnya lelah. Dalam lelap, ia bermimpi. Seorang lelaki bermata biru menghampiri Sora saat ia sedang melukis. Ada sepotong keju di tangan kiri, lalu sebilah pisau di sebelah tangannya yang lain.

“Siapa yang akan menghabisi siapa itu tidak penting. Tapi kamu akan menyesal karena kematianmu datang bukan di masa depan,” kata lelaki bermata biru itu.

Sora terkejut. Dipandangnya punggung lelaki bermata biru yang berjalan menjauh. Dadanya sakit. Peluh mulai membasahi tengkuk. Sora terisak saat melihat air pantai di lukisannya mengeluarkan darah. Sora bangun dari tidur dengan terbatuk-batuk. Ponselnya berdering. Sora bangkit dari tempat tidurnya. Menuju kulkas dan meneguk air dingin. Hari sudah gelap. Sora mengambil ponsel di atas meja. Noe. Panggilan dari teman kantornya. Sora kembali pusing. Tubuhnya lemas. Sehari sebelumnya Sora mengetahui satu kenyataan—saat ia sedang mengambil dokumen pegawai di ruang HRD—tanpa sengaja Sora melihat data Noe, lelaki yang sedang mendekatinya itu, rupanya lahir di tanggal dua puluh delapan.

Sora menatap layar ponsel yang terus saja berdering. Ia ingat lelaki bermata biru di mimpinya. Sora kini mengerti apa maksud kalimat yang diucapkan lelaki itu. Sora melihat jam di ponselnya. Pukul delapan lewat delapan belas malam. Mendadak matanya penuh siluet angka delapan. Merembet di kepalanya. Di pikirannya. Bahkan, kini hampir semua ruang di rumah kontrakannya penuh dengan angka delapan. Angka-angka itu tertawa. Mereka juga menangis. Sora sesekali tertawa, lalu menangis. Begitu seterusnya. Berulang-ulang, hingga dini hari.

Sora mengingat dalam tawa, lalu melupa dalam tangis. Ia benci angka delapan. Tapi mendadak ia ingin sekali menghitung domba yang lewat di atas kepalanya. Sora benar-benar menghitung. Tepat di angka tujuh, Sora tertidur. Dan  paginya, Sora kembali berangkat kerja tanpa menyisakan luka. Mungkin karena lupa, atau sebenarnya hanya pura-pura lupa.***

___________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.

Buku, Resensi

Belajar Hidup dari Malaikat Maut

Oleh Erna Surya

Kadang, kematian bukanlah tentang berakhirnya hidup, melainkan tentang bagaimana seseorang akhirnya benar-benar hidup. Seo Eun-chae menulis novel Seminggu Sebelum Aku Mati (Haru, 2024) dengan kesadaran itu—bahwa manusia sering kali baru memahami arti hidup justru ketika kematian datang mengetuk.

Novel ini dibuka dengan premis sederhana: seorang perempuan bernama Jeong Hee-wan diberi waktu tujuh hari sebelum ia mati. Namun yang membuatnya tak biasa adalah sosok yang datang menjemputnya: Kim Ram-woo, cinta pertamanya yang telah lama meninggal. Ram-woo kini menjelma sebagai malaikat maut.

Malaikat maut di sini bukan sosok mengerikan bersayap hitam, melainkan kehadiran yang tenang—seolah cinta yang belum selesai. Ia datang bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menemani Hee-wan menutup hidupnya dengan damai. Ia datang bukan dengan sabit, melainkan dengan kenangan.

Hee-wan diberi waktu tujuh hari untuk “menyelesaikan urusannya di dunia”. Dalam rentang waktu itu, ia membuat daftar keinginan kecil: menonton film yang belum sempat selesai, mengunjungi tempat yang pernah ia datangi bersama Ram-woo, menulis surat kepada diri sendiri.

Namun, daftar itu perlahan berubah menjadi perjalanan batin. Setiap hari membawanya ke lapisan baru dari rasa kehilangan—dan penemuan. Ia belajar memaafkan dirinya sendiri, menerima luka masa lalu, dan memahami bahwa cinta sejati tidak selalu berarti bersama selamanya.

Seo Eun-chae menulis dengan nada lirih. Tidak ada letupan besar, tidak ada air mata yang berlebihan. Justru dari kesunyian itu muncul kekuatan emosional yang dalam. Ia membuat pembaca memahami bahwa kesedihan yang paling tajam bukanlah tangisan, melainkan keheningan yang panjang.

Banyak karya sastra Korea modern berbicara tentang kehilangan dan waktu. Namun Seminggu Sebelum Aku Mati membawa nuansa berbeda. Ia memadukan realisme psikologis dengan sentuhan spiritual yang lembut.

Ram-woo bukan hanya figur cinta lama, tetapi juga simbol tentang waktu yang tak kembali. Dalam dirinya, Hee-wan melihat apa yang ia relakan dan sekaligus apa yang tak pernah bisa ia lepaskan. Maka perjalanan tujuh hari itu menjadi semacam ritus perpisahan yang suci: sepasang jiwa yang pernah saling mencintai, kini berjalan berdampingan menuju akhir.

Novel ini menolak pandangan biner antara hidup dan mati. Seo Eun-chae tampak ingin berkata bahwa keduanya hanyalah dua sisi dari keberadaan yang sama. Hidup, seperti halnya kematian, adalah proses pulang.

Di satu bagian, Hee-wan berkata pelan, “Aku tidak takut mati. Aku hanya takut hidup tanpa alasan.”

Kalimat itu sederhana, tapi menembus jantung tema novel ini: ketakutan manusia bukan pada kematian itu sendiri, melainkan pada kemungkinan hidup yang sia-sia.

Seo Eun-chae punya gaya penulisan yang khas—lirih, sinematik, dan penuh udara. Ia tidak terburu-buru. Setiap bab seolah dibuat untuk dibaca pelan-pelan, memberi ruang bagi pembaca untuk ikut bernapas bersama tokohnya.

Dalam terjemahan Dwita Rizki, bahasa novel ini tetap terjaga kepekaannya. Diksi sederhana tapi tajam. Tidak ada kalimat yang ingin terdengar indah secara berlebihan; justru dalam kesederhanaan itu, maknanya menjadi dalam.

Struktur cerita yang dibagi dalam tujuh hari membuat novel ini terasa seperti perjalanan spiritual yang runtut. Setiap hari adalah fase kesedihan: penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Seo Eun-chae tidak menuliskannya secara eksplisit, tapi emosi itu terasa jelas di bawah lapisan narasi.

Ia seperti menyusun peta jiwa dalam bentuk kisah cinta.

Ada banyak simbol bertebaran di dalamnya: laut, langit senja, rel kereta, dan jembatan. Semua itu melambangkan perlintasan—antara hidup dan mati, masa lalu dan masa kini, keberadaan dan ketiadaan.

Laut, misalnya, selalu muncul di saat-saat penting: tempat di mana Hee-wan merasa hidup sekaligus mati; tempat di mana Ram-woo mengajarinya arti melepaskan. Laut bukan sekadar pemandangan, tapi lambang tentang kedalaman diri yang harus ia selami sebelum benar-benar pulang.

Simbol-simbol itu tidak disusun dengan pretensi intelektual. Semuanya mengalir alami, seperti ingatan yang muncul di kepala seseorang yang sedang menunggu ajalnya dengan tenang.

Novel ini juga berbicara lembut tentang isu kesehatan mental. Hee-wan digambarkan sebagai sosok yang “hidup tapi tidak sungguh-sungguh hidup.” Ia berjalan di antara rutinitas kosong, kehilangan arah, dan merasa bahwa dunia tidak lagi menawarinya apa pun.

Kehadiran Ram-woo—meski dalam bentuk kematian—justru menjadi pengingat untuk hidup. Inilah ironi yang indah dari novel ini: kematian menjadi penawar bagi keputusasaan. Seo Eun-chae tidak memotret depresi secara klinis, tapi secara eksistensial: rasa kehilangan makna, rasa bersalah, dan ketidakmampuan mencintai diri sendiri.

Maka ketika Hee-wan akhirnya mampu menatap langit tanpa air mata di hari ketujuh, itu bukan kemenangan besar, tapi penerimaan kecil yang menenangkan.

Kelemahan novel ini mungkin terletak pada ritme yang sangat lambat. Bagi pembaca yang terbiasa dengan konflik cepat, kisah ini bisa terasa datar. Namun justru di sanalah kekuatannya. Ia tidak memaksa kita untuk larut dalam drama, tapi mengajak kita untuk duduk diam dan mendengarkan kesunyian.

Setiap kalimat seperti undangan untuk berhenti sejenak—menyadari bahwa hidup kita sendiri pun sebenarnya sedang berjalan menuju ujung, dan mungkin yang kita butuhkan hanya keberanian untuk menerima itu dengan damai.

Seminggu Sebelum Aku Mati bukan kisah romantis dalam arti konvensional. Ia lebih tepat disebut meditasi tentang cinta, kehilangan, dan keberanian untuk hidup. Seo Eun-chae menulis seolah ingin membisikkan pesan: bahwa mati tidak selalu berarti berakhir, kadang ia justru awal dari kehidupan yang lain.

Dalam setiap halusnya percakapan antara Hee-wan dan Ram-woo, kita diajak menyadari bahwa yang membuat hidup berharga bukanlah panjangnya waktu, melainkan kesadaran penuh di dalamnya. Tujuh hari dalam novel ini terasa seperti seumur hidup. Dan mungkin memang begitulah hidup: sebentar, tapi bisa sangat penuh.

Ketika novel berakhir, yang tersisa bukan kesedihan, melainkan kelegaan.
Hee-wan telah berdamai dengan kematiannya, dan pembaca—anehnya—ikut merasa tenang.

“Kadang, kematian hanyalah cara cinta untuk pulang,” tulis Seo Eun-chae.

Dan kita pun tahu, setelah menutup buku ini, bahwa mungkin hidup memang seharusnya dijalani seperti itu: dengan kesadaran bahwa setiap hari bisa menjadi yang terakhir, dan justru karena itu, setiap detiknya berharga.

___________________

Erna Surya. Penulis dan pembaca sastra, berprofesi sebagai seorang guru.

Belakang

LAGU (TIDAK) ROMANTIS

Pada masa 1990-an, kaum remaja merasa dilanda kasmaran yang merdu. Mereka ikut gemremeng ssaat mendengar radio, yang membuat daftar tangga lagu mingguan. Di situ, ada lagu “Kangen” dari Dewa 19. Mereka larut dalam perasaan-perasaan yang tidak biasa. Bayangkan mereka kangen tapi diharuskan menulis dan membaca surat.

Di keseharian, mereka memegang bolpoin dan menghadapi buku tulis. Pada situasi berbeda, mereka memilih kertas yang istimewa. Tangan itu menulis kalimat-kalimat yang penuh perasaan, bukan catatan pelajaran atau jawaban untuk tugas-tugas yang diberikan guru.

Yang menulis surat adalah yang kasmaran. Kangen ditanggapi dengan menulis di kertas. Ditulis penuh penghayatan. Yang menulis kadang meneteskan air mata bersampur gemas. Penulis surat bisa terbawa lamunan yang panjang setelah berhasil membuat satu kalimat. Di kertas, penulis surat yang sangat kangen tidak mau ada coretan. Yang tampak di kertas seharusnya menguak perasaan-perasaan, bukan asal membuat tulisan seperti saat berada di kelas.

Dulu, kangen itu menulis dan membaca surat. Orang harus sabar. Kangen malah disuruh menulis surat, yang bisa belasan halaman. Kangen yang mendebarkan adalah membaca kalimat-kalimat yang samar dari kekasih. Tangan gemetar saat terjadi mufakat sama-sama kangen yang ada di sini dan yang ada di sana. Surat itu keramat! Surat disimpan di bawah bantal, terbawa dalam tidur menjadi mimpi yang indah.

Bagaimana kangen menghasilkan ratusan dan ribuan kalimat? Yang kangen berarti sadar kata selain menitip foto dalam surat atau menaruh cap bibir di kertas? Kangen yang bermutu. Kaum remaja masa 1990-an yang tidak mau membiarkan kangen berlalu oleh angin, kentut, atau terjangan tikus. Kangen yang sebenar-benarnya adalah kertas berisi kalimat-kalimat. Kangen itu pilihan warna amplop dan gambar di perangko. Semua gara-gara lagu dari Dewa 19.

Namun, para remaja pun mendengar lagu Slank, Kahitna, Java Jive, dan lain-lain. Mereka memiliki pilihan lagu yang romantis. Ada yang tersedot lagu-lagu tragis. Ada yang berputus asa setelah kecanduan lagu-lagu sadis. Pokoknya, masa remaja adalah masa-masa mengoleksi banyak lagu, yang dianggapnya sesuai perasaaan. Maka, yang ;punya koleksi lagu pilihan masa remaja bakal dibawanya sampai tua. Pada suatu hari kelak, mereka mendengarkan lagi sebagai lagu kenangan atau nostalgia.

Masa 1990-an itu menghasilkan keuntungan besar saat penyelenggaraan konser-konser atas nama nostalgia. Yang panen duit miliran rupiah biasanya Dewa 19. Kita menuju masa 1950-an saja. Masa yang masih diramaikan lagu-lagu nasional atau kebangsaan agar revolusi tidak redup. Apakah masa itu sudah ada lagu asmara yang (paling) romantis?

Pada masa kekuasaan Soekarno, lagu atau musik bisa menjadi masalah bila tidak berpikiran sesuai revolusi atau menunjang kemuliaan Indonesia. Lagu-lagu yang memuja asmara rendahan dan ecek-ecek mungkin masuk daftar perusak kepribadian nasional. Yang diperlukan Indonesia adalah semangat bukan kangen, cinta buta, atau sumpah sehidup-semati berdua. Semua itu rendahan!

Kita mendapatkan petunjuk kecil untuk mengingat suasana berlagu masa lalu. Yang kita buka adalah buku berjudul Puspa Irama jilid II, yang disusun oleh Kasim St M Sjah, 1953. Yang menerbitkan adalah Pustaka Rakjat, yang didirikan dan dikelola oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Penerbit yang memberi perhatian pada sastra dan bahasa tapi tidak melupakan lagu.

Apakah di buku ada leluhur lagu asmara yang nantinya bercucu “Kangen” yang dibawakan Dewa 19? Sejak halaman awal sampai akhir, kita mustahil menemukan lagu bertema asmara. Buku digunakan di sekolah-sekolah (menengah), yang diajarkan bukan untuk menjadi makhluk ketagihan asmara dan merayakan cinta sampai langit ketujuh.

“Moga-moga buku ini djuga akan djadi pendorong untuk mentjapai pengetahuan musik umum sekedarnja,” pesan penyusun buku. Ia tidak mengajak murid-murid mengerti musik yang nantinya digunakan untuk merayu dan menjadikan kekasih terjerat dalam kangen seribu tahun.

Lagu yang dipelajari berjudul “Ilmu Pengetahuan”. Judul yang jauh dari perasaan-perasaan terdalam seperti remaja yang mendengar lagu Naif, Nidji, ST 12, Armada, atau Wali. Judul yang sudah menyiksa murid agar makin rajin belajar dan meraih pengetahuan sebanyak satu ton.

Beruntungnya kita tidak menjadi murid masa 1950-an. Lirik lagu yang melawan romantis: Ilmu pengetahuan itulah pakaian jang tidak pernah luntur/ Walaupun disesah dibentur/ Ilmu pengetahuan itulah harta jang guna jang tidak kundjung habis. Mengapa kata-kata itu dibuat untuk dinyanyikan oleh para remaja yang mudah kasmaran. Revolusi tidak boleh mengharamkan asmara. Di sekolah, para remaja malah terlalu diminta serius dengan ilmu pengetahuan. Perasaan-perasaan dilupakan dulu dalam siksa puluhan mata pelajaran.

Kita lanjutkan ke halaman-halaman yang memuat lagu berjudul “Kampung Tertjinta”. Judul yang salah lagi. Kenapa bukan berjudul “Kekasih Tertjinta” atau diksi-diksi yang mendekati asmara? Pada masa 1950-an, pengajaran musik di sekolah dianggap penting. Misinya bukan menjadikan murid-murid adalah perayu tapi mengerti situasi revolusi dan keindahan di dunia yang fana.

Lirik yang dibuat: “Petiklah gitar dan gesek biola pukul gendang.” Bermain musik dilakukan bersama untuk mengingat kampung halaman. Sekian alat musik yang bakal menimbulkan ingatan-ingatan saat bermain di sawah, berlarian di kebun, bermain layangan, menelusuri sungai, menangkap ayam, dan lain-lain. Pokoknya, segala cerita mengenai kampung halaman diharapkan tercakup dalam lagu.

Di situ, ada pengisahan kampung halaman yang kecil dan terpencil. Dulu, orang-orang yang ingin berpendidikan dan berhasil dalam pekerjaan memang harus meninggalkan kampung halaman. Mereka terpisah dari keluarga. Mereka tidak lagi bermain bareng teman-teman di kampung, yang belum beruntung untuk mendapat pendidikan tinggi. Di desa, mereka memilih menjadi petani, pedagang, peternak, atau buruh.

Namun, adakah yang ditinggal adalah kekasih? Artinya, kekasih yang dicintai saat masih kecil atau remaja. Pergi meninggalkan kampung halaman pasti berat tapi harus terjadi. Mereka akhirnya surat-suratan, yang memerlukan waktu lama untuk berhasil sampai di tangan dan dibaca.

Kita memilih dua lagu saja. Ingatlah bahwa kaum remaja masa lalu belajar lagu-lagu yang bermutu, bukan penikmat yang kebablasan untuk lagu-lagu asmara picisan. Masa 1950-an tidak melulu masalah demokrasi atau revolusi. Masa itu lagu-lagu yang banyak pelajaran, bukan perasaan.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Puisi

Puisi Maria Utami

Hujan Asap di Langit Kami

Kami datang, kumpulan helaan napas resah

dari dapur-dapur sempit juga gang-gang basah.

Suara kami hanyalah bisikan sunyi yang ingin didengar,

tapi langitmu menjawab aneh;

kau kirimkan hujan buatan yang pedih dan perih.

Bukan air bening, tapi kabut asap menyesakkan

memaksa kami menangis untuk alasan yang salah.

Beberapa dari kami jadi daun gugur sebelum waktunya,

jatuh ke aspal kelabu sebelum sempat mekar.

Nama mereka kini hanya gema lirih,

sajak duka yang tak akan pernah selesai ditulis.

Dan di balik jendela-jendelamu yang tinggi dan dingin,

jeritan kami hanya seperti rintik hujan di kaca,

terlihat basah, tapi tak pernah terasa di dalam sana.

Negeri ini perahu kertas yang kita layarkan bersama.

Tapi kini ia akan berlayar ke arah mana?

Langit membisu, tak ada bintang petunjuk,

dan kami di dalamnya hanya bisa menunggu fajar

dengan ritme yang tersisa.

Yogyakarta, September 2025

____________________

Duka, Murka, Linimasa

Dulu, kubuka kau seperti jendela pagi,

mencari sapa hangat atau secangkir kopi.

Linimasa ibaratkan beranda yang teduh.

Tapi saat ini, berandaku penuh kabar duka;

foto anak-anak negeri yang tak lagi bernyawa,

wajahnya jadi sajak paling pilu yang pernah kubaca.

Lalu wajah-wajah lain datang dari balik dasi,

mengucap kalimat hampa tak punya hati,

seperti dongeng yang dibacakan di atas bara api.

Dadaku sempit, asam lambungku naik.

Amarah dan mual bercampur di dalam benak.

Ponsel di tanganku yang dingin terasa panas juga berisik.

Jendela ini tak lagi memantulkan langit biru,

ia kini cermin retak yang menampakkan luka negeriku.

Ingin sekali kututup tirainya, tapi bagaimana aku bisa?

Jika di luar sana, di jalanan itu,

ada yang sedang bertaruh nyawa.

Yogyakarta, September 2025

____________________

Payung Hitam

Payung hitam ini

bukan untuk menanti hujan.

Ia adalah atap bagi sebuah kesunyian,

langit kecil bagi doa-doa yang merana.

Di bawah naungannya, kami menjaga sebuah nama,

menjadi perisai bagi martabat yang tersisa

dari tatapan acuh juga janji-janji dusta.

Warna hitamnya adalah tinta paling pekat

untuk menuliskan dua kata yang tak akan berkarat:

“Tolak Lupa”.

Setiap kami berdiri di sini dalam diam,

kami sedang menanam benih harapan

di atas aspal yang kejam.

Jadi biarlah payung ini terus terbuka,

meski panas atau gerimis datang menyapa.

Ia akan tetap di sini, menjadi saksi yang tabah,

sampai langit di negeri ini benar-benar kembali cerah.

Yogyakarta, September 2025

___________________

Doa Kekasih dari Seberang Layar

Di dalam kamar kosku yang aman,

perjuanganmu kupantau lewat layar ponsel.

Aku menghitung setiap wajah di lautan kerumunan,

berharap tak menemukan wajahmu di antara yang rubuh.

Asap tebal yang membubung di layar itu

terasa sesak hingga ke dalam dadaku.

Hatiku kini dua musim yang bertarung sengit:

musim semi yang mendukung keberanianmu,

dan musim gugur yang gemetar takut kehilanganmu.

Kupejamkan mata, kutitipkan namamu pada angin,

sebuah doa amat sederhana untukmu yang kucinta,

“Tuhan, jaga dia, kembalikan dia padaku utuh.”

Menanti kabar perubahan negeri

sama sabarnya menanti satu pesan singkat darimu nanti.

Sebuah pesan yang barangkali hanya berisi satu kata:

“Pulang.”

Dan kata itu akan jadi penyejuk hati paling berarti.

Yogyakarta, September 2025

___________________

Hanya Mata yang Berlayar

Kulihat sepasang suami-istri cemas di lorong rumah sakit,

anaknya terbaring sebab racun dari makanan gratis.

Kulihat seorang bapak menatap surat pajak

yang angkanya terasa lebih tinggi dari atap rumahnya.

Kulihat seorang ibu merapikan ijazah anaknya,

selembar kertas yang belum bisa membeli apa-apa,

doanya bagaikan gerimis yang turun setiap senja.

Kulihat seorang guru dengan kemejanya yang usang

mengajar aksara dengan semangat paling benderang.

Kulihat anak-anak muda yang berani punya suara

diikuti bayangan-bayangan gelap tanpa nama.

Mereka nyalakan api kecil di tengah malam buta

meski angin ancaman terus coba membuatnya sirna.

Aku tak di sana, tak di sini.

Aku hanya sepasang mata yang terus berlayar

di atas lautan duka negeri ini.

Yogyakarta, September 2025

____________________

Maria Utami, seorang ibu rumah tangga asal Kota Yogyakarta yang aktif menulis puisi. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk terus berkarya. Beberapa karyanya ada yang terpilih dan dimuat dalam buku antologi puisi. Sebagian naskah puisi lainnya juga sudah terbit di sejumlah media literasi digital. Dapat didukung atau disapa melalui akun Instagram: @maria.oetami.

Curhat

Ayam Tidak Membaca Buku

Curhat Durjana

Setahun lebih, ratusan buku aku taruh dekat kandang ayam. Tindakan yang biadab dan konyol. Aku tidak bermaksud agar ayam-ayam itu membaca buku saat memiliki waktu senggang. Aku malah ikhlas bila ayam+ayam sangat lapar sehingga memakan huruf-huruf atau kertas -kertas. Konon, buku itu memuat ilmu. Aku pikir ayam yang terpaksa makan buku bakal menjadi ayam yang suka seminar ketimbang bikin ribut tiap pagi dan menciptakan onar gara-gara bertelur. Bayangkan ayam itu mengeluarkan telek berwujud huruf-huruf yang berserakan dengan bau menyengat. Aku yakin bahwa ayam tidak membaca buku. Manusia saja tidak membaca buku, memilih makan ayam goreng, telur dadar, atau menyantap brutu. Manusia yang hanya ketagihan makan daging dan telur ayam tapi tidak pernah membaca buku boleh kita lempari dengan telek ayam. Tindakan yang makin biadab.

Sebenarnya, yang biadab itu aku. Selama belasan tahun tidak mampu menata dan merapikan ribuan buku. Yang dilakukan hanya membaca dan bikin berantakan rumah. Usahanya sebagai pedagang buku cuma menghasilkan tumpukan buku yang sulit laku. Pada tahun-tahun yang sulit dan pelit, orang-orang bersalah jika menyerahkan uang untuk membeli buku: baru atau bekas. Aku paham bahwa buku tidak memberi janji agar orang selalu girang setiap hari. Sebaliknya, uang terjadi adalah tubuh yang gering setelah mati-matian memikirkan isi buku. Orang pun murung bila yang dibaca adalah buku-buku bermazhab picisan, cengeng, dan brengsek. Buku sangat sulit menyelamatkan hidup. Pengecualian adalah orang-orang yang mendapat mukjizat sebagai pembaca buku yang mulia, berpahala, dan berhikmah.

Aku adalah pembaca buku yang garang, tidak punya rem dan bergerak tanpa peta. Buku-buku yang sudah dibaca menjadi tumpukan yang memberatkan hidup. Jangan bertanya tentang pembaca yang diberkati. Aku adalah pembaca yang menjadi gembala dusta dan khianat atas pengetahuan dan imajinasi.

Maka, yang aku lakukan: mengantar ratusan buku kepada ayam-ayam. Pada akhirnya, buku bukan bacaan. Buku menjadi tempat bertelur dan bercengkrama ayam-ayam yang sedang kasmaran. Aku merasa tidak terlalu bersalah saat memikirkan nasib ayam dan buku. Keputusanku memang tidak menggunakan argumentasi yang bermutu. Artinya, pikiranku tentang buku lebih buruk dan rendah dibanding telek ayam.

Bulan-bulan berlalu, ada beberapa buku yang rusak, berjatuhan, dan berserakan. Pelakunya tidak ayam-ayam saja. Pada malam hari, jamaah tikus senang bermain dan istirahat di kerumunan buku. Yang menyedihkan, beberapa buku menjadi sasaran kebrutalan tikus.

Pada situasi berbeda, aku kadang melihat burung-burung menclok di tumpukan buku saat pagi atau jelang siang. Kandang ayam memang dekat dengan kebun-kebun tetangga yang memiliki banyak pohon besar. Apakah burung-burung itu membaca buku. Namun, aku mendapatkan keindahan atau secuil puisi saat melihat burung-burung di atas buku-buku.

Yang membuatku makin biadab adalah membiarkan ratusan buku dihajar sinar matahari yang panas. Risikonya sampul buku-buku tampak lusuh dan warnanya memudar. Kertas-kertas juga tersiksa panas matahari. Kertas-kertas itu terpaksa berubah wajah dan bentuk.

Aku tidak tahu bila buku-buku itu melihat bulan purnama atau sabit. Malam, kandang ayam dan buku-buku dalam gelap. Mereka mungkin mencicipi bahagia saat bulan memberi senyum atau bisikan yang romantis.

Senin, 13 Oktober 2025,  beberapa buku aku bersihkan untuk dibawa ke gedung yang memiliki tiga lapangan biasa digunakan jamaah badminton. Pikirku, menaruh buku di situ agak mengurangi kebiadaban. Aku tidak berharap buku-buku itu bakal dilihat, disentuh, atau dibaca. Pada suatu hari, aku menanti ada orang yang terpikat buku-buku di pojokan. Ia bakal bercakap denganku di sela menyapu dan mengepel lapangan. Kupingku ingin mendengar ia menyukai buku. Janjiku: buku yang ia pegang atau dilihat dengan melotot akan aku berikan sebagai hadiah. Inginku buku itu mendapat tempat terhormat di kamar atau rumahnya. Aku menunggu buku-buku itu habis saat bertemu para pembaca yang sanggup memberi kasih dan berdoa mendapat pengetahuan. Buku tetap berguna. Aku saja yang sia-sia.

Cerpen

Bunga Kertas di Atas Rel

Cerpen Erna Surya

Jangan buka peta Delanggu hari ini. Bukalah peta Delanggu tahun 1925, ketika udara masih diselimuti bau tanah basah, dan sinar matahari menimpa rel-rel kereta seperti bilah pisau mengiris air. Waktu itu Delanggu belum seramai kini. Di ujung jalan tanah yang berdebu, berdirilah sebuah stasiun kecil beratap seng, dua jalur besi menghubungkan Solo dan Yogyakarta. Suara peluit kereta bukan sekadar tanda keberangkatan, melainkan doa pagi dan ratapan sore. Di sebelah barat, berdiri pabrik karung goni: bangunan besar dengan cerobong hitam yang memuntahkan asap ke langit, seperti perpanjangan dada orang-orang yang tak sempat menangis.

Para perempuan pribumi datang setiap pagi dengan kain kebaya basah peluh, membawa tubuh yang belum sempat menua tapi sudah letih. Dari fajar hingga senja, tangan mereka menenun serat-serat goni menjadi karung yang akan membawa biji kopi dan gula ke kapal-kapal di Batavia. Mereka jarang bicara. Di pabrik itu, suara mesin lebih keras daripada suara manusia.

Selasa, 4 Agustus 1925.

Kereta dari Batavia berhenti di Stasiun Delanggu pukul tiga sore. Dari gerbong kelas satu turun seorang lelaki Belanda bertopi jerami, membawa koper kulit hitam dan selembar surat tugas dari pemerintah Hindia Belanda. Namanya Johan van Dijk, insinyur muda lulusan Delft, dikirim untuk mengawasi pembangunan gudang baru di pabrik karung goni Delanggu.

Usianya tiga puluh dua, rambutnya pirang pucat, kulitnya seputih abu cerutu yang tertiup angin sore. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam seperti penggaris baja — mata yang terbiasa menghitung jarak dan ketepatan. Ia percaya hidup bisa diatur seperti skema mesin: rapi, pasti, tanpa gangguan perasaan. Namun satu hal yang tak bisa ia ukur adalah mata seorang perempuan yang menatapnya sore itu.

Perempuan itu berdiri di peron, kebaya hijau tua membungkus tubuhnya yang mungil. Di tangannya ada bakul berisi pisang rebus, di bibirnya ada senyum yang tidak dipelajari dari siapa pun. Sarinah, namanya. Ia bukan gadis yang mencolok. Kulitnya sawo matang, rambutnya disanggul seadanya. Tapi ada sesuatu pada caranya berdiri, cara ia menunduk setengah malu, seolah tahu bahwa dunia sedang menatapnya tapi ia tak tahu harus ke mana menghindar. Johan menatapnya sebentar, cukup lama untuk menanam duri kecil di hatinya.

Goedemiddag,” sapanya. Sarinah tak menjawab. Ia hanya menunduk, tersenyum sekilas, lalu berlalu dengan langkah yang nyaris tanpa suara.

***

Sejak sore itu, Johan selalu berhenti di stasiun setiap sepulang dari pabrik. Ia berpura-pura menunggu kereta yang tidak pernah ia tumpangi. Ia berdiri di bawah atap seng yang panas, menyalakan rokok, dan menunggu gadis dengan bakul pisang itu lewat. Kadang Sarinah menatapnya sekilas, kadang tidak. Tapi setiap pertemuan meninggalkan sesuatu di udara — seperti aroma kayu manis yang tertinggal lama setelah bara padam.

Di pabrik, Johan menjadi pengawas baru yang berbeda dari insinyur-insinyur Belanda sebelumnya. Ia tidak berteriak. Ia menatap pekerja pribumi seperti manusia yang berpikir. Para buruh heran; lelaki asing itu jarang marah, bahkan sesekali ikut membantu menarik gulungan serat yang macet.

Een vreemde meneer,” bisik salah satu mandor, “orang Belanda aneh yang tak suka memerintah.”

Suatu sore, Johan melihat Sarinah di halaman belakang pabrik. Ia sedang mencuci tangan di ember air berwarna cokelat muda. Johan mendekat, dengan bahasa Melayu patah-patah.

“Kau kerja di pabrik ini?”

“Iya, Tuan,” jawab Sarinah, menunduk.

“Bagian apa?”

“Penggilingan.”

“Kau tahu…” — Johan menatap air cucian yang beriak — “matamu seperti air sumur. Dalam dan tak bisa kuukur.”

Sarinah tak mengerti seluruh kata, tapi nada suaranya membuat dada bergetar. Ia tersenyum. Johan ikut tersenyum, kikuk, seperti bocah yang baru belajar arti kebingungan. Hari-hari berikutnya mereka mulai berbicara. Sedikit-sedikit. Johan belajar kata-kata Jawa sederhana.

“Mangan, ngantuk, tresna.”

Sarinah terkekeh setiap kali Johan salah ucap. “Bukan tresno, tapi tresna, Tuan,” katanya pelan.

“Ah, ja… tresna,” ulang Johan dengan logat Belanda yang berat.
Suara mereka tenggelam di antara dengung mesin dan bau serat goni yang dibasahi air garam.

***

Cinta, di negeri jajahan, selalu punya aroma yang rumit. Ada getar yang lembut, tapi juga rasa bersalah yang samar. Johan tahu: menyukai perempuan pribumi bisa menjadi aib bagi sesama kulit putih. Tapi setiap kali ia melihat Sarinah tertawa, dunia seolah mengecil menjadi halaman pabrik itu saja. Segala yang ia pelajari di Delft — tentang logika, efisiensi, ras — hilang dalam cara Sarinah menatapnya.

Suatu sore, Johan memberanikan diri duduk di peron bersama Sarinah. “Je naam is mooi. Sarinah. Klinkt zacht,” katanya.

Sarinah mengerjap. “Apa artinya, Tuan?”

“Namamu indah. Lembut.” Sarinah tertawa kecil. “Nama saya biasa saja. Wong cilik, Tuan.” Johan memandangi rel yang memanjang ke arah timur. “Rel ini seperti hidup, ya? Lurus, tapi selalu membawa kita ke tempat yang tak kita pilih.”

Sarinah menatap wajahnya. “Tuan seperti kereta,” katanya lirih. “Datang dan pergi. Tapi saya tetap di sini.”

Kata-kata itu menancap dalam. Johan tak menjawab. Ia hanya memegang topinya erat-erat, menahan sesuatu yang tidak berani ia beri nama.

***

Minggu-minggu berikutnya, Delanggu menjadi kecil di mata Johan. Ia mengenal pasar dengan bau tembakau dan jagung bakar. Ia belajar menyapa anak-anak yang berlarian di sawah: “Sugeng enjing!” dan mereka tertawa, menirukan lidahnya yang kaku. Malam-malamnya ia habiskan di rumah sewaan dekat pabrik, menulis catatan tentang proyek gudang yang tak pernah selesai. Tapi di antara angka-angka itu, ada nama yang selalu ia tulis tanpa sadar: Sarinah.

Di rumahnya yang berdinding papan, Sarinah juga sering memikirkan lelaki asing itu. Ia tahu Johan berbeda — cara bicaranya, cara matanya tak merendahkan. Tapi ia juga tahu, perbedaan mereka lebih besar daripada samudra. Ibunya pernah berkata, “Nduk, ojo melu wong Londo. Wong Londo kuwi ora duwe rasa kasihan.” Namun Sarinah melihat sesuatu yang lain. Johan tidak seperti tuan-tuan Belanda yang suka berteriak. Johan menunduk ketika berbicara dengannya. Dan malam-malam, di kamarnya yang sempit, Sarinah menatap langit-langit dan berbisik pada dirinya sendiri: opo tresna kuwi salah yen mung kaya swara sepur sing liwat, ora tau mandeg?

***

Tapi cinta di bawah bayang kolonialisme tak pernah punya masa depan yang jernih.
Pabrik karung goni mulai merugi. Mesin-mesin tua berkarat, buruh-buruh sering sakit. De Vreede — pemilik pabrik yang kasar dan congkak — menuduh pekerja pribumi malas.
Suatu malam, terjadi kebakaran kecil di gudang serat. Asap mengepul ke langit, membungkus bulan seperti kain kabung. De Vreede berteriak, menuduh pekerja pribumi sengaja membakar pabrik. Johan menolak.

Het komt van de oude machine, niet van opstand!” seru Johan.
De Vreede mendengus. “Van Dijk, je bent te zacht! Orang pribumi itu tak tahu berterima kasih. Mereka seperti karung goni — kuat tapi bodoh.”

Johan menggenggam surat tugasnya. “Ze zijn niet dom. Ze zijn moe,” katanya pelan — mereka bukan bodoh, mereka hanya lelah.
De Vreede menatapnya tajam. “Hati-hati, Van Dijk. Siapa berpihak pada mereka, akan kehilangan tempat di negeri ini.”

Malam itu Johan tidak tidur. Di meja kecilnya, ia menulis surat pengunduran diri. Tinta hitam menetes seperti darah yang enggan berhenti. Ia tahu, besok ia akan kembali ke Batavia.

***

Sebelum pergi, ia berjalan ke rumah Sarinah di pinggir sawah. Bulan separuh menggantung di langit. Suara jangkrik terdengar seperti napas panjang bumi. Sarinah membuka pintu dengan wajah yang sudah tahu kabar buruk.

“Tuan akan pergi?”

“Ya,” suara Johan nyaris bisikan. “Mereka tak suka aku di sini.” Sarinah menunduk.

“Ini untukmu.” Johan menyerahkan selembar kain sutra biru. “Beli di Solo. Aku tak tahu mengapa kupilih warna ini. Mungkin karena mirip matamu.”
Sarinah memegangnya lama. “Tuan,” katanya, “sepur bakal lunga, ning rel tetep ana.”
Johan terdiam. Ia ingin memeluk, tapi dunia tidak memberi izin.

***

Keesokan sore mereka bertemu di peron. Kereta belum datang, tapi peluitnya sudah terdengar dari arah timur. Angin sore berbau debu dan besi panas. Sarinah menggenggam tangan Johan. Tangannya kecil, dingin, tapi kuat.

“Kalau Tuan kembali, lihatlah ke arah rel,” katanya. “Kalau ada bunga kertas di atasnya, itu tandanya saya masih di sini.”

Johan menatap wajahnya lama. “Ik zal kijken,” katanya pelan. “Aku akan melihat.”
Kereta datang, membawa suara berat yang memotong udara. Johan naik tanpa menoleh lagi. Sarinah berdiri diam, seperti patung dari air yang tak sempat membeku. Ketika kereta menghilang di tikungan, ia menunduk, menatap tanah. Di tangannya, kain sutra biru itu terasa dingin seperti janji yang tak akan ditepati.

***

Delanggu kembali sunyi. Pabrik goni berjalan dengan mesin-mesin setengah rusak. Upah buruh semakin kecil. Sarinah tetap bekerja — tubuhnya makin kurus, tapi matanya tetap memegang sesuatu yang Johan tinggalkan: keberanian untuk menatap hidup, walau dunia tak berpihak. Ia tak tahu apakah Johan benar sampai ke Batavia. Ia hanya tahu, setiap kali peluit kereta terdengar, dadanya bergetar, seperti mengenali suara yang pernah ia cintai.

Tahun berganti. 1928. Orang-orang mulai bicara tentang “pergerakan.” Tentang bangsa, tentang kemerdekaan, tentang harga diri. Tapi di sudut-sudut seperti Delanggu, yang berubah hanyalah warna debu. Sarinah tetap menjual pisang rebus di peron, menunggu kereta datang dan pergi. Di suatu sore, ia menaruh setangkai bunga kertas merah muda di atas rel. Bukan untuk siapa-siapa. Hanya untuk mengingat dirinya sendiri.

***

Tiga tahun setelah kepergian Johan, seorang laki-laki berjas lusuh turun dari kereta di Delanggu. Rambutnya sudah beruban di sisi, matanya redup tapi tajam. Johan van Dijk kembali ke Jawa sebagai konsultan teknik jalur kereta. Ia bilang pada rekannya di Surabaya, kunjungannya hanya inspeksi rutin. Tapi sebenarnya, ia datang karena mimpi yang berulang: mimpi tentang seorang gadis berkebaya hijau berdiri di peron, menatapnya tanpa suara.

Stasiun Delanggu tampak sama, hanya cat dindingnya lebih pudar. Di kejauhan, bekas pabrik goni masih berdiri dengan jendela-jendela bolong. Angin membawa bau lembap dan serat tua. Johan berjalan pelan ke arah peron. Di bawah atap seng itu, waktu seakan berhenti. Ia berdiri di tempat Sarinah dulu menjajakan pisang. Tak ada siapa-siapa.
Hanya rel yang berkarat dan setangkai bunga kertas yang tumbuh liar di sela besi.

Ia menatapnya lama.

Ben je hier, Sarinah?” bisiknya.

Angin lewat. Tidak menjawab. Ia duduk di bangku kayu tua, membuka topi, dan memandangi langit yang separuh mendung. Dalam hati ia tahu: beberapa cinta memang tidak perlu akhir. Cukup menjadi jalan yang selalu membawa seseorang kembali, meski tak ada siapa pun yang menunggu di ujungnya.

Kereta dari Solo terdengar mendekat. Johan berdiri, menatap rel yang membujur lurus, seperti garis waktu yang tak bisa ia ubah. Di tanah dekat kakinya, ada serpihan kain berwarna biru — entah dari mana datangnya. Ia tersenyum kecil. Lalu melangkah masuk ke gerbong, tanpa menoleh lagi.

Kereta melaju, meninggalkan Delanggu dengan debu, bunga kertas, dan satu nama yang terus bergema di hatinya: Sarinah.

Dan bila ada yang datang ke Delanggu hari ini, mungkin mereka hanya akan melihat stasiun kecil yang sepi, rel berkarat, dan gerimis yang turun seperti rahasia. Tak ada nyanyian, tak ada arwah. Hanya waktu yang berjalan pelan, menyimpan jejak dua manusia yang pernah berpapasan di tengah sejarah — lalu diam, selamanya.

___________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.