Buku, Resensi

Membaca Bising

Oleh Yuditeha

Membaca Bising

Oleh Yuditeha

Judul Buku: Lampu April – Musik dan Persimpangan

Penulis: Rudi Agus Hartanto

Penerbit: Leluasa Book

Cetakan: 1, Juni 2026

Halaman: xv+69 hlm, 15×20.5 cm

QRCBN: 62-9681-9330-980

Satu kesalahan yang sering muncul ketika membicarakan skena musik, terutama musik bawah tanah. Orang menganggap hanya urusan distorsi gitar, teriakan vokalis, jaket penuh emblem, atau keramaian mosh pit. Akibatnya, yang terlihat hanya permukaan. Padahal, di balik itu, ada kerja budaya panjang, membaca zaman, menyimpan arsip, membangun solidaritas, mengkritik kekuasaan, dan mempertahankan ruang hidup yang semakin sempit.

Melalui Lampu April, Musik dan Persimpangan, Rudi Agus Hartanto menunjukkan, musik bukan sekadar hiburan. Musik adalah cara berpikir, bahkan lebih jauh lagi, ia cara masyarakat kecil merawat ingatan ketika banyak orang sengaja lupa.

Empat belas esai dalam buku ini bukan tulisan akademis. Ia lahir dari pengalaman hadir di ruang-ruang kecil, menyaksikan pertunjukan, berbincang dengan pelaku skena, membaca zine, hingga mengamati komunitas yang bekerja jauh dari sorotan. Itulah kekuatan paling menonjol buku ini, penulis bicara dari dalam ekosistem, bukan pengamat yang datang sesaat lalu pulang.

Rudi tidak sedang membela musik metal, hardcore, punk, atau komunitas independen secara norak. Ia memperlihatkan, setiap karya lahir dari konteks sosial. Lagu tidak pernah benar-benar netral. Ia membawa pengalaman hidup penciptanya, keresahan zamannya, sekaligus harapan bagi pendengarnya.

Salah satu keberanian buku ini menolak dikotomi lama antara musik serius dan musik keras. Di publik Indonesia, musik dengan distorsi sering kali lebih dulu dicurigai daripada dipahami. Padahal, dari ruang-ruang itu lahir diskusi lingkungan, kesetaraan, kebebasan berekspresi, kekerasan negara, hingga diskriminasi. Penulis memperlihatkan bahwa volume keras tidak selalu berarti pikiran dangkal.

Buku ini terasa relevan dengan kondisi Indonesia hari ini. Kita hidup di zaman ketika segala sesuatu harus cepat dan mudah dikonsumsi. Kritik sering dipadatkan menjadi potongan video beberapa detik. Kemarahan hanya bertahan sepanjang linimasa. Buku ini mengingatkan bahwa perubahan tidak dibangun dari ledakan, melainkan kerja kolektif yang terus diulang, meski kecil.

Esai-esai tentang Down For Life, Rock in Solo, Keliling Kabupaten, The Suse, Malinoa, hingga komunitas-komunitas pinggiran sebenarnya sedang menyampaikan satu gagasan besar, kebudayaan tidak selalu lahir dari pusat. Kadang tumbuh di warung kopi, ruang kecil, gudang latihan, kios kaset, atau panggung sederhana yang bahkan tidak diliput media.

Pernyataan itu terasa penting ketika Indonesia masih sering terjebak pada logika pusat. Seolah sesuatu baru dianggap bermutu jika datang dari Jakarta atau kota-kota besar. Padahal, kreativitas tidak mengenal alamat. Buku ini berkali-kali menunjukkan daerah bukan tempat menunggu. Daerah adalah tempat melahirkan gagasan.

Esai tentang zine menjadi salah satu bagian menarik. Penulis tidak sekadar membahas zine sebagai media murah, tetapi bentuk keberanian mendokumentasikan zaman. Ketika banyak orang sibuk mengejar algoritma, zine memilih jalan pelan. Tidak mengejar trend. Tidak mencari pengakuan. Ia hanya memastikan agar gagasan tidak hilang begitu saja. Arsip adalah bentuk perlawanan.

Buku ini juga memberi penghargaan besar kepada orang-orang yang sering luput dari sejarah. Mereka bukan selebritas, bukan pemegang jabatan. Mereka hanya penyelenggara gigs, pembuat zine, penjaga komunitas, pengarsip kaset, atau anak-anak yang menghabiskan malam untuk menyusun acara. Mereka memang tidak masuk berita nasional, tetapi tanpa mereka ekosistem kebudayaan tidak akan pernah bertahan.

Yang menarik, Rudi tidak meromantisme skena. Ia memperlihatkan semua ruang punya persoalannya sendiri. Namun ia melihatnya sebagai proses belajar. Itu sebabnya kata bertahan terasa berulang dalam buku ini. Bertahan bukan diam. Bertahan berarti terus bergerak meski tidak ideal.

Kalimat pembuka buku, “Bertahanlah selagi mampu,” bukan sekadar ajakan. Ia tesis seluruh isi. Bertahan membuat musik tetap hidup. Bertahan membuat komunitas tetap lahir. Bertahan membuat pengetahuan terus berpindah. Bertahan membuat ingatan tidak mudah dihapus.

Keberanian yang patut diapresiasi, buku ini memperlakukan musik sebagai bahan bacaan, bukan sekadar bahan dengar. Sebuah lagu dibaca sebagaimana orang membaca puisi atau esai. Lirik diperlakukan sebagai teks kebudayaan. Konser dipahami sebagai ruang dialog. Bahkan panggung arena produksi pengetahuan. Cara pandang ini masih jarang ditemukan dalam penulisan musik di Indonesia yang sering berhenti pada ulasan teknis atau nostalgia.

Buku ini tidak ditujukan hanya bagi penikmat musik keras. Pembaca biasa, yang tidak mengenal hardcore, punk, atau metal tetap dapat menemukan sesuatu yang penting, tentang bagaimana komunitas membangun solidaritas tanpa menunggu pengakuan. Bagaimana ruang-ruang kecil tetap memilih hidup meski fasilitas terbatas. Bagaimana anak-anak muda menciptakan jalannya sendiri ketika pintu-pintu resmi terasa terlalu sempit.

Ada kesan yang tertinggal setelah halaman terakhir ditutup. Buku ini mengingatkan, sastra tidak tinggal di rak perpustakaan saja. Ia bisa hadir dalam lirik lagu, obrolan selepas konser, zine fotokopian, mural tembok, kaset rilisan mandiri, hingga percakapan sederhana di warung kopi. Bahasa boleh beda, tetapi kegelisahan yang dibawanya sama, bagaimana manusia tetap memiliki martabat di tengah dunia yang terus berubah.

Bila harus dirangkum dalam satu kalimat, Lampu April, Musik dan Persimpangan adalah buku tentang orang-orang yang memilih tetap bersuara. Dan mungkin, itulah definisi paling jujur tentang skena. Mereka tidak mengejar keren. Mereka menjaga agar suara tidak padam.

Di tengah zaman yang sibuk menghitung jumlah penonton, pengikut, dan angka penjualan, buku ini mengajak kita menghitung sesuatu yang sering dilupakan, berapa banyak ruang kecil yang masih bertahan karena ada orang-orang yang bekerja tanpa tepuk tangan.

Pesan yang terus berdengung dari keseluruhan isi buku, sederhana, seperti obrolan anak-anak skena setelah panggung selesai dibongkar: Kalau ruangmu belum ada, bikin sendiri. Kalau suaramu belum didengar, tetap bersuara. Kalau belum bisa mengubah dunia, setidaknya jangan ikut membuatnya semakin sunyi.

Oya, buku ini diterbitkan Leluasa Book, lini Leluasa (Media kolektif seni, budaya, dan musik independen), dengan tanpa ISBN. Saya membatin, syukurlah. Seandainya harus menunggu ISBN, boleh jadi buku ini baru sampai ke pembaca ketika persoalan-persoalan keburu dikubur penguasa.***

____________________

Yuditeha Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.