
Homesick
apa yang paling dirindukan
seorang tua
di perantauan
perjalanan senja dan temaram
mungkin kampung halaman
hijau pohonan, sawah membentang
ahai, panen padi
memetiknya dengan ani-ani
dengan hati-hati
serupa menyunting seorang gadis
seikat-seikat tumpukan
menggunung di halaman rumah-rumah
sekampung
di sela-sela malamnya
anak-anak dan remaja bermain
petak umpet
“kamu kena!” teriaknya
dan gadis itu tersunting
tapi ani-ani
tak lagi hati-hati
traktor telah membolak-balik
dendam seorang tua di perantauan
jadi pelupa
dimabukkan zat kimia
dan pranatamangsa
hanya kisah suatu masa
ahai, ada yang makin lupa
sawah tergadai telah lama
“kamu kena!” teriaknya
sejak bunga bank itu mengikat gadis
yang dulu tersunting itu
mesin combine harvester pun tiba
memangsa semua
lalu apa yang paling dirindukan
seorang tua
di perantauan
hanya perjalanan senja lalu temaram
2026
___________________
Cemas
masa depan adalah angka-angka
entah penjumlahan atau kelipatan
deret panjang itu tanpa nyata
tiba-tiba jadi pengurangan
lalu terbagi-bagi, juga tanpa nyata
aku pun limbung, terhuyung
angka yang entah
dan masa depan adalah warna-warna
terbayang pelangi indah
mungkin pula jadi putih semata
matahari telah memainkannya
yang terbentang kelam, pekat
mataku pun kabur
warna yang entah
tetapi masa depan adalah rupa-rupa
loyang tampak emas
kucing tampak macan
raksasa tampak bidadari
bagaimana kelak anak-anakku
aku yang kini mampu
memilah tanpa entah
2026
____________________
Megalomania
kini, seorang tua itu,
tapi tak mau disebut tua
kesukaannya sederhana saja
sangat sederhana
erat-erat pegang pelantang
bicara lantang
burung-burung dari atas langit
kupu-kupu dan capung dari taman bunga
cacing dan orong-orong dari dalam buni
seketika meriung, tepuk tangan
memekik, tertawa, berjoget
di pelantangnya, jaringan kabel-kabel
bersumbu urat syaraf otaknya
diri yang penting, kuat, hebat
sebab hanya dia
mampu selesaikan apapun masalah
di mimbarnya, papan bercampur logam
terlindungi apapun yang terjadi
kekar, menolak rapuh, menolak kritik
seisi kebun binatang terlontar
siap-siap kambing hitam
di panggungnya, beratap sanjungan
terpusat perhatian
hias-rias pujian
tepuk tangan lagi
joget-joget lagi
lalu, seorang tua itu,
tapi tak mau disebut tua
kesukaannya sederhana saja
sangat sederhana
erat-erat pegang pelantang
kata-kata berujung cemas
rangkaian frasa, kalimat, dan wacana
singgasana, pengaruh, dan kuasa
seperti tersudut
rasa takut
2026
____________________
Resistensi
maka kusembunyikan ke balik langit
gelap dan muram
bulan yang perawan
tak akan lagi kaumainkan
dan angin yang selalu menyalami semesta
lalu kaususupi cerita dusta
kini kukandangkan
dengan tenang
apalagi kaulakukan pada matahari
energi untuk kelompok sendiri?
tak bisa lagi kautunggangi
kini matahari
bangun tidur akan lebih pagi
tak bisa lagi hasratmu
memetik bintang satu-satu
semua berpendar melawan
jika kaupagari juga pesisir dan laut
tanpa rasa takut
akan terhempas segalanya oleh laut
juga pikiran kotormu
tapi, ketika mulutmu masih sampah
otakmu masih berjejal
sampah
air akan menenggelamkanmu
atau bumi akan menguburmu
atau api akan membakarmu
2026
____________________
Narsistik
baik, baiklah,
apapun dan bagaimanapun
sambil menghadap matahari
bunga-bunga merekah
bukankah cahaya
warna-warni
iringi langkahku kemana
puji-puji
kagum dan takjub
hanya milikku bercahaya
tak ada, tak ada siapa
bungaku selalu merekah
meski engkau meludah
aku melangkah
2026
____________________

Supali Kasim. Tinggal di Indramayu Jawa Barat. Beberapa puisinya pernah di muat di media massa cetak, daring, maupun antologi bersama. Buku puisi tunggalnya, Bergegas ke Titik Nol (2008), Pergi ke Masa Silam Pulang ke Masa Depan (2023). Bisa disapa lewat Fb. Supali Kasim, email [email protected]
