Dunia Menulis

Semua Peserta adalah Pemula

Oleh Yuditeha

Setiap kali saya mengirim karya ke sebuah lomba, hampir selalu ada komentar datang beriringan. Nadanya mirip, kata-katanya di situ-situ saja: “Wah, harus bersaing sama senior.” “Senior turun gunung, bahaya.” “Alamat kalah nih.” Kalimat-kalimat itu terdengar ringan, bahkan bercanda. Namun, seperti hujan gerimis jatuh terus-menerus di satu titik, ia pelan-pelan melubangi.

Saya paham, komentar-komentar semacam itu sangat mungkin hanya pengganti sapaan, bentuk keakraban, atau cara ringan untuk membuka percakapan. Saya juga tidak pernah membacanya sebagai serangan, apalagi merendahkan. Tulisan ini pun tidak lahir dari rasa kesal, tersinggung, atau keinginan membalas apa pun. Sama sekali tidak.

Ia lebih merupakan kegelisahan kecil yang barangkali sering lewat di kepala banyak orang, tapi tak sempat diucapkan. Siapa tahu, suatu waktu, ketika situasi serupa kembali muncul, tulisan ini bisa bekerja sebagai ruang hening untuk menimbang, bukan untuk menghakimi. Lebih sebagai ajakan berbagi sudut pandang, bukan penegasan posisi.

Karena itu, saya tidak sedang menunjuk siapa pun. Tidak sedang menyasar kelompok tertentu. Tidak sedang membangun kubu. Saya hanya ingin meletakkan pengalaman kecil ini di meja, lalu mengamati bersama: barangkali di sana ada yang bisa kita pelajari, tanpa perlu menjadi polemik melelahkan.

Saya tidak tersinggung, apalagi marah. Barangkali hanya sempat merasa tidak nyaman. Sebab, di balik kelakar itu, ada asumsi diam-diam bekerja: bahwa lomba seharusnya hanya diisi oleh mereka yang dianggap sedang belajar. Sementara yang sudah keburu dicap senior, atau entah apa namanya, seolah harus minggir sukarela, demi menjaga kenyamanan batin kolektif.

Padahal, di dalam lomba, terutama lomba menulis, semua peserta berdiri di titik sama: nol. Dalam naskah lomba, nama penulis sering kali disamarkan. Yang tersisa hanya teks dan penilaian. Tidak ada suhu, tidak ada murid, tidak ada senior, tidak ada junior. Semua pemula yang mengetuk pintu juri dengan satu bekal: tulisan.

Namun, di luar sistem itu, dunia sosial sering kali berjalan dengan hukum yang berbeda. Kita gemar memberi label. Kita senang membuat hierarki. Kita hobi mengurutkan siapa di atas, siapa di bawah. Dan begitu label senior menempel, ia berubah menjadi semacam kutukan sosial. Menang dianggap wajar. Kalah dianggap memalukan. Ikut lomba dianggap menakuti. Tidak ikut dianggap bijaksana.

Seorang penulis yang masih terus mengirim karya ke lomba justru dianggap turun kelas. Padahal, bukankah berkarya itu soal proses, bukan soal status? Bukankah kreativitas tumbuh dari kegelisahan, bukan dari gelar-gelar tak resmi itu?

Di titik ini, saya sering bertanya: sebenarnya apa yang kita jaga? Keadilan atau kenyamanan psikologis? Sebab, jika kita telusuri lebih jauh, komentar semacam “wah, bersaing dengan senior” sering kali lahir bukan dari ketimpangan sistem, melainkan dari ketakutan. Kita ingin merasa punya peluang. Kita ingin merasa punya ruang. Kita ingin merasa diakui. Dan ketika ruang itu menyempit karena hadirnya seseorang yang dianggap lebih berpengalaman, yang muncul bukan semangat berlatih lebih keras, melainkan keinginan agar yang bersangkutan menyingkir dengan sopan.

Di sinilah ironi bekerja. Di satu sisi, kita memuja kompetisi. Kita mengagungkan lomba sebagai ajang pembuktian. Kita memuja kualitas. Tapi di sisi lain, kita ingin kompetisi yang ramah perasaan: di mana peluang menang dibagi rata berdasarkan usia kreatif, bukan kualitas. Jika logika ini diteruskan, akan muncul pertanyaann janggal: sampai kapan seseorang boleh disebut pemula? Dan sejak kapan seseorang wajib berhenti menjadi peserta?

Apakah setelah menang tiga kali, lima kali, sepuluh kali? Atau setelah namanya mulai dikenal di lingkaran tertentu? Atau setelah ia cukup sering muncul di linimasa? Lebih jauh lagi: setelah status senior resmi disematkan? Lalu apa yang harus ia lakukan? Menjadi juri seumur hidup? Menjadi pembicara tetap seminar? Menulis esai-esai reflektif tentang masa lalu sambil menatap senja?

Lantas, di mana lagi ruang kegelisahan kreatifnya? Kita sering lupa bahwa menulis bukan profesi yang menjamin hidup. Tidak seperti pegawai dengan slip gaji bulanan. Tidak seperti pedagang dengan perputaran modal harian. Bagi banyak penulis, lomba adalah salah satu cara untuk bertahan: bertahan secara ekonomi, secara mental, dan secara eksistensial.

Maka, ketika seseorang yang kita sebut senior masih ikut lomba, barangkali bukan karena ia rakus piala, melainkan karena ia masih ingin hidup. Masih ingin membeli beras tanpa meminjam. Masih ingin membayar listrik. Masih ingin kerja kreatifnya punya nilai tukar, betapa pun kecil.

Kita sering memuja karya, tapi lupa memikirkan perut pembuatnya. Di ruang-ruang diskusi sastra, kita gemar membicarakan idealisme, integritas, dan keberpihakan. Namun, begitu masuk ke soal keseharian, kita berharap para penulis senior hidup dari udara dan pujian. Seolah setelah mencapai satu titik simbolik itu, seseorang otomatis bebas dari kebutuhan material.

Inilah titik satire. Bayangkan, seorang penulis yang telah puluhan tahun bergulat dengan kata, jatuh bangun dengan penolakan, lalu akhirnya sedikit dikenal. Begitu ia mencoba tetap ikut lomba demi menjaga segala yang dulu diusahakan, ia justru dihadang dengan kata: “Wah, senior turun gunung.” Seolah gunung itu tempat suci yang tak boleh ditinggalkan, dan turun ke lembah adalah tindakan tidak pantas. Padahal, hidup memang terjadi di lembah: di pasar, di dapur, di kamar sempit, di meja tulis yang sering goyah.

Dalam dunia yang sehat, kehadiran penulis berpengalaman di arena lomba seharusnya sebagai berkah: sebagai pemicu standar, sebagai tantangan menyenangkan, sebagai kesempatan belajar. Bukan ancaman. Sebab, dari situlah kita bisa mengukur: seberapa jauh kita melangkah, seberapa dalam kita menggali, seberapa jujur kita menulis. Kompetisi yang sehat bukan tentang memastikan semua orang punya peluang menang, melainkan memastikan semua orang dinilai dengan ukuran sama. Dan ukuran itu, dalam lomba menulis, hanya satu: kualitas teks.

Maka, ketika saya mengatakan bahwa “dalam ranah kompetisi, kedudukan semua penulis adalah pemula,” itu bukan basa-basi. Itu keyakinan. Sebab, setiap karya baru adalah kelahiran baru. Setiap teks adalah pertaruhan. Tidak ada jaminan, pengalaman akan selalu berbuah kemenangan. Tidak ada kepastian, reputasi akan membawa piala. Bahkan, sering kali justru sebaliknya: yang merasa terlalu mapan justru terjebak pada formula, sementara yang gelisah melahirkan kejutan.

Sastra, seperti hidup, justru tumbuh dari gesekan. Dari pertemuan yang tak seimbang. Dari persaingan yang tak selalu ramah. Dari kegagalan berulang. Dari kemenangan yang tak pasti. Dan barangkali, yang paling kita butuhkan hari ini bukan kompetisi lunak, melainkan keberanian untuk kalah tanpa menyalahkan siapa pun.

Sebenarnya, tema ini sudah lama ingin saya tuliskan. Ia kerap muncul singkat di kepala, lalu menghilang, seolah tidak cukup penting untuk diberi ruang. Saya berkali-kali menunda, meyakinkan diri bahwa barangkali ini hanya kegelisahan remeh yang tak layak dijadikan bahan renungan. Namun, seperti suara kecil yang tak benar-benar pergi, ia selalu kembali, dengan wajah sama, dengan pertanyaan serupa.

Sekali lagi, saya tidak tersinggung, apalagi marah. Saya justru berterima kasih karena dengan kejadian ini saya akhirnya menulis ini. Peristiwa ini membuat saya berhenti menunda. Bukan karena menyakitkan, melainkan justru karena ia terasa terlalu biasa. Terlalu berulang. Dan mungkin, justru di situlah letak kepentingannya: bahwa sesuatu yang terus berulang, sekecil apa pun, patut diperhatikan sebagai gejala, bukan sekadar kebetulan. Maka tulisan ini lahir bukan sebagai luapan, melainkan upaya berdamai dengan gelisah yang sejak lama saya simpan.

Sebab, di ujung semua lomba, yang paling penting bukan siapa yang menang, melainkan siapa yang terus menulis. Siapa yang masih setia pada gelisahnya. Siapa yang tak berhenti percaya bahwa kata-kata, betapa pun rapuh, masih layak diperjuangkan. Di sana, semua orang kembali setara. Pemula.***

____________________

Yuditeha. Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Puisi

Puisi M. Z. Billal

STRUKTUR TUBUH KENANGAN

helai rambutnya                                  

adalah ratus ribuan peristiwa

rasa hari yang kemarin

wajahnya                                            

adalah peradaban dari tahun-tahun

yang sunyi; yang juga berbunyi

tulang dadanya                                  

adalah gerbang agung memasuki sebuah

portal rahasia bernama jiwa

sepasang lengannya                            

adalah serikat rindu yang menyibak

sejumlah keajaiban memeluk

kedua telinganya                                

adalah instrumen yang mengalunkan

lagu-lagu tenang yang menyembuhkan

otot perutnya                                      

adalah tempat persembunyian

luka-luka pedih yang gemar tertawa

selangkangannya                                

adalah kebun yang menumbuhkan buah dan bunga

yang tidak pernah tumbuh di dunia

tungkai-tungkainya                            

adalah jarak panjang yang harus ditempuh

dari dunia ke surga; ke hutan dan laut

jari-jemarinya

adalah nama dari berbagai jenis sentuhan

yang menguarkan aroma waktu

seperangkat netranya                         

adalah mesin penjelajah yang liar berburu

langit dan ciuman-ciuman

hidungnya                                          

adalah hamparan kota sibuk yang berjuang

mengendus bau para pembawa mimpi

dua katup bibirnya                             

adalah siaran radio yang mengudara memenuhi

musim hujan dan panjang kemarau

air matanya

adalah muara kepulangan tempat sejumlah perahu kecil

memanggil nama ibu mereka

2025

__________________________

INDIGO

aku tak pernah berhenti menulis.

menulis puisi-puisi ini. kutulis terus.

kutulis saja. kulepaskan semuanya.

kekacauan biar saja kacau; luluhlantak

seperti bencana masa lalu. dan keheningan

biar saja hening. suara-suara membuatku

terapung. terapung hingga menembus

langit lembayung. dan aku terurai.                                         

terurai

            b     e     r    d     e    r     a   i.

     l           e          r          a          i

            renyai seperti hujan

pekan pertama april.

dan semuanya akan sangat membekas

seperti rindu yang tak pernah lepas.

karena aku selalu berharap kau bukanlah

orang yang pergi itu. kau akan menetap

di sini, di pelukanku. takdir cuma bercanda

saat kulihat kau melepaskan lambaian terakhir.

sebab kau pasti tahu bahwa kesembuhanku

membutuhkan waktu yang tidak singkat.

bahkan kalender akan mati berguguran

melawan peperangan dalam puisi ini;

di mana setiap kota yang kukunjungi

hanya memberiku sentuhan kecil

yang mengingatkanku padamu.

            dan sialnya lagi, rindu terus berjalan.

            dalam kekacauan, dalam keheningan

            yang sulit kuhentikan.

2025

__________________________

BANGUN PAGI TAPI SUDAH TIDAK RINDU

aku pulih. hari-hari kelamku telah berlalu.

bekas luka tak pernah menghilang, ia adalah

pelajaran dari masa lalu. meski nanti nyerinya

bisa datang kapan saja. setidaknya aku tersenyum

saat mengelusnya. kuhela napas menyambut

pagi demi pagi yang hangat datang dari masa depan.

berjalan ke luar rumah, ke jalan-jalan yang sibuk

dengan perasaan yang baru; rindu telah lebur

dan terbang ke angkasa, ditiup angin menjauh.     

ia telah jadi burung-burung bangau. seribu bangau.

seperti doaku yang berhamburan ke langit:

semoga kebahagiaan menyertaimu, dan bangun pagiku

tak perlu lagi resah. karena rindu ini telah ikhlas melepasmu.

2025

__________________________      

MEMBASUH LUKA

aku menulis puisi

dan kulepaskan ia berlari

ke dalam hujan yang turun

pada pertengahan februari.

            ia tertawa keras sekali

            lalu melambaikan

salam perpisahan kepadaku;

aku akan merindukanmu

dengan cara lain jika nanti

masih ada waktu.

kemudian dia menghilang

selamanya. menyisakan sebuah tanda

yang tak pernah kutahu

apa namanya. tapi aku tahu itu apa.

2025

__________________________

HAL-HAL TIDAK RUTIN TAPI AKU SUKA KARENA ITU PENTING

#1

kupeluk tubuhku dan kucium berkali-kali

bocah lelaki yang bersemayam di pondok kayu

di bawah rimbun flamboyan kuning;

diriku yang lucu dan menggemaskan

pada masa silam. ia yang selalu

ingin pulang dan tidur lebih lama

di atas kasur kenangan yang mahir

menyerap luka.

dan pada beberapa pagi dalam sepekan

kutanyai ia akan mengerjakan apa

hari ini. lalu ia akan menjawab

dengan kata-kata yang sama:

menyembuhkanmu.

ya, menyembuhkanmu!

#2

aku membicarakan lagi tentang

sejumlah cinta yang hebat di dada ibu

pada petang-petang tertentu untuk episode

yang entah ke berapa aku tak pernah

menghitungnya. dan meminta ibu untuk

melepaskan kerisauannya.

sebab kesedihan ibu adalah yang paling

berbahaya di muka bumi. bila setitik saja air mata

jatuh ke pipinya, maka sebuah badai

akan datang dan menggulung semua

peradaban.

dan tiap ketika pembicaraan itu berakhir

ibu merangkai sejumlah kata sebagai penutup.

yang membuatku tersungkur

di kakinya berkali-kali saat aku

mendengarnya:

rindukanlah selalu cinta ibu nanti

rindukanlah. sebab rindu adalah

pelukan kasih sayang

berumur panjang.

#3

satu hal yang paling kusuka ketika

menutup percakapan di ruang obrolan malam

denganmu; manusia kesukaanku,

adalah saat kau mengirimiku emoji

sepasang beruang imut saling merengkuh

pelukan hangat ke dada masing-masing

lalu percikan berbentuk hati menyertainya.

kau tampaknya mahir

menghangatkan dingin malam

yang memasuki tubuhku.

dan saat kubilang aku menyukai

hal-hal lucu yang kaukatakan,

membuatku ingin terperangkap dalam

mimpi yang selalu ada kau

di dalamnya. kau justru mengirimiku

sepucuk puisi pendek

yang menggetarkan:

aku ingin memiliki sebuah pelukan

yang bernama dirimu. ya, namamu.

2024

__________________________

M.Z. Billal. Lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id,  Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.

Film, Resensi

Ketika Cinta Diberi Kesempatan Terakhir untuk Berbicara

Resensi Film T. H. Hari Sucahyo

Judul                           : Eternity
Tahun Rilis                  : 2025
Durasi                          : ± 100–110 menit
Sutradara                     : David Freyne
Penulis Skenario          : Pat Cunnane & David Freyne
Produser                      : Robbie Ryan, Jessamine Burgum
Pemeran Utama           : Elizabeth Olsen, Miles Teller, Callum Turner, Da’Vine Joy Randolph

Eternity (2025) datang dengan premis yang tampak sederhana sekaligus menggoda: bagaimana jika kehidupan setelah kematian bukanlah penghakiman yang dingin atau penantian sunyi, melainkan ruang refleksi tempat cinta, dalam seluruh kerumitannya, diberi kesempatan terakhir untuk berbicara. Film ini memilih jalur komedi romantis yang lembut, nyaris bersahaja, untuk membicarakan sesuatu yang sering terasa berat: pilihan-pilihan emosional yang membentuk hidup, dan gema pilihan itu ketika hidup telah usai. Dengan latar alam baka yang dirancang tidak menakutkan, bahkan hangat, Eternity mengundang penonton merenungkan cinta bukan sebagai kepemilikan, melainkan sebagai proses yang terus berubah.

Tokoh sentralnya adalah seorang perempuan yang, setelah kematian, dihadapkan pada dilema yang tidak pernah selesai semasa hidup: memilih antara pria yang telah menemaninya bertahun-tahun, baik dalam rutinitas, kompromi, dan kelelahan yang tenang, atau cinta pertamanya yang meninggal di usia muda, sosok yang membeku dalam ingatan sebagai janji yang tak sempat retak. Pertemuan kembali ini bukan sekadar fantasi romantik, melainkan eksperimen emosional tentang bagaimana ingatan bekerja. Film ini peka menunjukkan bahwa memori sering kali memoles masa lalu, menghapus sudut-sudut tajamnya, sementara hubungan yang bertahan lama justru menyimpan bekas luka yang nyata karena dijalani sepenuhnya.

Keputusan sutradara untuk membungkus dilema tersebut dalam komedi romantis terasa tepat. Humor dalam Eternity tidak hadir sebagai lelucon keras, melainkan observasi kecil tentang absurditas emosi manusia. Dialog-dialognya ringan, namun menyimpan kepedihan yang disampaikan tanpa melodrama. Tawa muncul bukan karena situasi dipaksakan lucu, melainkan karena penonton mengenali diri mereka sendiri dalam kebingungan tokoh-tokohnya: kecanggungan bertemu mantan, rasa bersalah mencintai lebih dari satu orang, dan ketidakmampuan memberi definisi tunggal pada kebahagiaan.

Alam baka dalam Eternity digambarkan sebagai ruang transisi yang ramah, bukan surga berkilau atau neraka yang mengancam, melainkan semacam kota kecil dengan aturan sederhana dan ritme yang melambat. Desain produksinya menekankan warna-warna lembut, cahaya yang tidak menyilaukan, serta ruang-ruang yang terasa akrab. Pilihan visual ini menyampaikan gagasan bahwa kematian bukan pemutusan, melainkan jeda untuk memahami. Di sini, waktu tidak mengejar, sehingga percakapan bisa berlarut tanpa kecemasan, dan perasaan yang dulu tertahan dapat mengalir dengan jujur.

Kekuatan utama film ini terletak pada karakterisasi. Perempuan yang menjadi pusat cerita ditulis dengan empati: ia tidak disederhanakan menjadi sosok ragu-ragu, melainkan manusia utuh dengan kontradiksi. Ada rasa syukur pada stabilitas, ada pula kerinduan pada kemungkinan. Pria yang menemaninya seumur hidup digambarkan sebagai figur yang penuh kebaikan dan kelelahan, seseorang yang mencintai dengan cara bertahan. Sementara cinta pertamanya hadir sebagai energi muda, spontan, dan tak selesai; sebuah “bagaimana jika” yang selalu menghantui. Film ini adil pada keduanya; tidak ada yang diposisikan sebagai pilihan salah. Yang ada hanyalah konsekuensi emosional dari masing-masing pilihan.

Penulisan naskahnya cerdas dalam menimbang nostalgia. Alih-alih memanjakan romantisasi masa muda secara berlebihan, Eternity secara perlahan mengupas ilusi yang sering kita bangun tentang cinta pertama. Melalui percakapan-percakapan yang jujur, film ini menunjukkan bahwa cinta yang tidak sempat diuji waktu sering tampak sempurna karena belum pernah berhadapan dengan kebosanan, tanggung jawab, atau perubahan. Namun, pada saat yang sama, film ini tidak merendahkan kekuatan kenangan. Ia mengakui bahwa kenangan memiliki nilai emosional yang sah, bahkan ketika ia tidak sepenuhnya akurat.

Aspek komedi romantisnya bekerja paling efektif ketika film menertawakan gagasan “pilihan final”. Di alam baka, pilihan itu tidak disajikan sebagai vonis, melainkan sebagai kesempatan memahami diri. Ada ironi halus ketika karakter-karakternya menyadari bahwa bahkan setelah mati, manusia masih membawa kebiasaan ragu dan takut melukai. Humor lahir dari pengakuan bahwa kematangan emosional bukan hadiah otomatis dari kematian; ia tetap membutuhkan keberanian untuk jujur.

Secara tematik, Eternity berbicara tentang waktu sebagai aktor tak terlihat dalam cinta. Hubungan jangka panjang digambarkan sebagai hasil dari keputusan-keputusan kecil yang diulang setiap hari, sementara cinta pertama dipresentasikan sebagai momen intens yang singkat. Film ini tidak menyatakan mana yang lebih “benar”, tetapi mengajak penonton bertanya: apakah kita mencintai seseorang karena siapa mereka sekarang, atau karena siapa mereka bagi versi diri kita di masa lalu? Pertanyaan ini beresonansi kuat, terutama bagi penonton dewasa yang telah melalui berbagai fase hidup.

Akting para pemerannya mendukung nuansa lembut film ini. Ekspresi ditahan, gestur kecil, dan jeda dialog digunakan untuk menyampaikan emosi yang lebih dalam daripada kata-kata. Chemistry antarpemeran terasa alami, tidak berlebihan, sehingga konflik emosional berkembang dengan halus. Bahkan dalam adegan-adegan paling romantis, film ini menahan diri dari sentimentalitas murahan, memilih kejujuran yang tenang.

Musik latarnya berperan sebagai pengikat suasana, hadir sebagai lapisan emosional yang tidak mendominasi. Melodi-melodi sederhana mengiringi momen reflektif, sementara keheningan dibiarkan berbicara pada saat-saat krusial. Keputusan ini memperkuat kesan bahwa Eternity percaya pada kekuatan cerita dan performa, bukan pada manipulasi emosional.

Meski demikian, film ini tidak sepenuhnya tanpa kelemahan. Bagi sebagian penonton, ritmenya yang tenang mungkin terasa terlalu santai, bahkan mendekati lamban. Konflik utamanya bersifat internal, sehingga mereka yang mengharapkan dinamika plot yang tajam bisa merasa kurang terpuaskan. Namun, kelembutan ini justru menjadi identitas film: Eternity tidak ingin terburu-buru mencapai resolusi, karena esensinya adalah proses memahami.

Eternity (2025) adalah film tentang keberanian menerima kompleksitas cinta. Ia menolak jawaban sederhana dan menghindari moral hitam-putih. Dalam dunia yang sering menuntut kepastian, film ini merayakan ambiguitas sebagai bagian dari kemanusiaan. Dengan memindahkan dilema cinta ke alam baka, Eternity menciptakan jarak yang memungkinkan kita melihat hidup dengan lebih jernih; bahwa cinta tidak selalu tentang memilih yang paling sempurna, melainkan tentang mengakui apa yang benar-benar berarti bagi diri kita.

Film ini meninggalkan penonton dengan perasaan hangat sekaligus reflektif. Bukan karena ia menawarkan fantasi cinta abadi yang mulus, melainkan karena ia jujur tentang ketidaksempurnaan. Eternity mengingatkan bahwa bahkan ketika waktu berakhir, pertanyaan tentang cinta tetap hidup dan mungkin, justru di situlah keindahannya.

__________________________

T. H. Hari Sucahyo. Penikmat film Layar Kaca dan Layar Lebar. Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

   

Puisi

Puisi Septi Rusdiyana

merawat luka

bapa, hari ini aku terberkati. surat yang kutulis merah, berubah biru. kau tahu jika sejak menemukanmu, bahagia itu sepele. tawaku bisa sekeras salak anjing. di saat yang sama, aku tersedu, persis saat air susuku tak juga keluar usai bersalin.

bapa, ganjil adalah apa yang terlanjur kuingini. sedang kau, terus saja berhasil menggenapkannya. mungkin kau kira aku akan lelah dan terkapar seperti hamster. rakus menyembunyikan remahan hingga pipi hampir meledak. tidak. tapi tidak, bapa. aku hanya butuh satu petunjuk, lalu akan tidur seperti babi.

bapa, malam ini hujan. entah kenapa hujan lebih sering jatuh saat malam. mereka bilang, agar tidur lebih lelap. bagiku, tempias membawa aroma ketiak yang lama hilang.  jika petir melantakkan sepi, aku justru beku. bukankah itu siksa?

bapa, kau hafal artimu bagiku. aku sudah belajar menjaga air suci: milikmu. kau ajarkan agar tetap hidup di kematian. mimpi adalah kehidupan. aku gagal menjadi jahat. masih tak cukup pantaskah meminta welasmu, bapa?

Desember 2025

__________________________

Kangen

Kabur dari rumah karena wifi lemot,

duduk memesan secangkir kopi di kafe

Desember 2025

__________________________

Reinkarnasi

“Jika aku hidup usai mati, maka kubunuh kau, lagi,” katamu

Angin berembus

Aku benar-benar akan mati

Desember 2025

__________________________

Septi Rusdiyana. Tinggal di Yogyakarta

Esai

Arok Villain yang Menang

Esai M. Ghaniey Al Rasyid

Pramoedya Ananta Toer telah menjadi mite. Namanya dikenang sebagai tokoh penting dalam epos republik ini. Mengenai Mite, Kata James Danandjaja mite ialah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh empu penceritanya, nyaris tanpa penyangkalan.

Agaknya pernyataan ini beraroma hiperbola, bila dikaitakan kepada Pram. Namun, narasi itu sering menyembul, saat mereka (pembaca Pramoedya) mengenang Pram, begitu pula dengan karya-karyanya, sebagai seorang pengkliping, penulis dan penyigi sejarah republik.

Pramoedya memberi sudut pandang lain menilik Arok dan Dedes. Syahdan, tafsir menyoal dua tokoh itu, mewarnai geliat pembacaan sejarah Nusantara yang lekat dengan keajaiban magis. Keris, tumpah darah, birahi dan kesucian. Novel Pramoedya menggebrak pembaca. Ia bukan hanya menilik Arok dan Dedes sebagai entitas yang mentereng sebagai anak turun Brahma, akan tetapi Pram membeberkannya dengan suguhan pertautan perebutan kuasa, haus darah.

Sehari sebelum Natal pada 1976, naskah Arok Dedes berhasil diselesaikan, setelah beberapa kertas-kertas yang di tulis di Pulau Buru berhasil Pram selundupkan. Tepat dua tahun kemudian di tahun 1979, Pram menghirup nikmatnya angin bebas setelah dituduh sebagai kriminal, menyaksikan kertas-kertas kumal yang bakal menjadi Novel Arok Dedes itu menggetarkan pembaca.

Membaca ‘Arok Dedes’ tidaklah mudah, maksudnya tak enteng mendapatkannya. Kini ‘Arok Dedes’, telah menjadi harta karun. Mafhum, para pembaca telah mendengar, kesaksian Pram. Pram menyebut novel-novelnya sebagai ‘anak’ buah pikirnya. Mereka lahir dan bertumbuh, ada pula yang harus mampus sebelum bertumbuh.

Begitu pula dengan ‘Arok Dedes’. Pram menuliskannya saat mendekam di Pulau Buru. Ia mengingat lamat-lamat Singasari dan Arok. Agaknya Pram punya pandangan berbeda dengan para penilik lainnya. Bernarnd H. M Vlekke ataupun Dhaniel Dhakidae. Mereka punya tafsir sendir menyoal Arok.

Di Majalah D&R 20-26 Desember 1999, disitu tersirat wawancara Pram. Genap dua puluh tiga tahun setelah Novel lahir, Pram berujar –Ken Arok itu Bajingan yang Jadi Juru Selamat.

Perkara tafsir semakin membikin Arok lekat dalam perdebatan. Pram berpendapat, Arok adalah Bandit. Ia sempat menjadi pemerkosa, pembunuh, penjudi dan menjadi pemenang saat mengkudeta kuasa Tunggul Ametung. Tak hanya itu, ia pun menggondol Dedes. Menang Telak!

Dari korok penuh kebusukan, nanar mata Arok menghipnotis siapapun. ‘Jagad Pramudita!’ begitulah yang tersirat dalam novel Arok Dedes, saat siapapun memandangi air muka Arok. Para peniliknya seakan terbuai oleh imaji magis, bahwa arok adalah titisan mahadewa. Mereka terpana, sampai-sampai Dedes pun terpaksa luluh meski terpaksa di mana, sebelumnya Dedes menyaksikan suaminya Tunggul Ametung yang tewas dari keris Mpu Gandring.

“Dia dianggap sebagai anak Brahma, Wisnu, Syiwa sekaligus. Arok itu menurut saya, bajingan yang menjadi juru selamat pada masanya,” ujar Pram.

Daniel Dhakidae turut menilik Arok dan Pram. Dalam buku Menerjang Badai Kekuasaan (Penerbit Kompas, 2015), Daniel meyitir Pram yang menafsir Arok Dedes. Usaha menafsir membutuhkan pertanggungjawaban, begitu pula dalam membaca Serat Pararaton Atawa Katuturing Ken Angrok.

Kata Daniel, untuk membaca serat yang menggunakan bahasa Jawa Kuno/Kawi perlu memiliki kepiawaian dengan dibuktikan pada nilai nan unggul.

Serat Pararathon dan Negarakertagama membeberkan sepak terjang Arok/Angrok saat berkecipak dalam perebutan kekuasaan di Tumapel. Di situ, Daniel mengapresiasi langkah Pram, saat mengisahkan Arok Dedes ke dalam bentuk roman. Meski demikian, ada yang sedikit terkikis saat Arok Dedes, menjadi roman. Adalah ambisi historis berdasarkan fakta-fakta yang pernah sesungguhnya terjadi yang rentan tak tersirat lengkap.

“Sejarah perlu ditempatkan dalam tanda petik (“Sejarah”), karena seluruh buku itu adalah roman dengan pikiran paling utama bahwa semuanya fiksi. Dalam arti karya fiksi, maka mistifikasi yang terjadi dalam pararaton tidak banyak berbeda dengan imajinasi yang dikatakan dalam suatu roman.”

Pram berhasil menempatkan kisah Arok Dedes di bumi manusia. Pram membumikan dan membahasakannya, agar dapat ditilik oleh pembaca Indonesia. Kisah itu tak hanya dapat ditilik kalangan tertentu saja, akan tetapi siapapun berharap Arok Dedes hinggap ke seluruh kalangan.

Arok Dedes sebagai pengingat tentang kekuasaan dan ketamakan. Kisahnya yang culas, bengis dan licik itu nampaknya dirasakan Pram saat mendekap di Pulau Buru. Ia tahu dan bergeming, bahwa kebiadaban tak selalu berakhir tragis. Ia bisa seperti Arok yang bisa saja dipuja atau dielu-elukan.

Arok Dedes yang Lahir

Jika Monte Kristo oleh Alexandor Dumas membicarakan seorang tahanan yang berusaha melarikan diri, Pram berusaha untuk meloloskan kertas-kertas yang nantinya dikenal sebagai Novel sejarah Arok Dedes.

Di Majalah D&R (20-26 Desember 1999) Pram berujar, “Saya selundupkan. Waktu itu ada teman yang menjadi motoris atau pengemudi kapal motor. Dialah yang membawa makanan, dari tempat saya di pedalaman ke Pelabuhan Namlea.”

Pram menulis dan terus menulis. Ia mengirimkan kertas-kertas itu sebanyak lima atau enam kali –nyicil. Kertas-kertas diselundupkan. Pram menampik kertas berakhir berserakan atau terbakar di tengah-tengah bayang-bayang kebengisan. Pram membisiki pengemudi kapal motor itu, untuk menitipkan ke seorang Pastur, bernama Pastor Roovink, yang tinggal di sebuah gereja Katolik dekat pelabuhan Namlea.

Pastur itu sempat membisiki Pram, saat menjenguknya, agar ide-ide Pram yang tertulis di atar kertas kumal itu menjadi sebuah buku, agar karyanya dapat mengetuk pembaca dari belahan dunia manpun, dan waktu kapanpun.

Kertas-kertas itu ada pula yang tak beruntung. Kertas yang nantinya dihimpun menjadi sebuah Novel, itu berjudul Mata Pusaran yang mengisahkan perang Paregreg. Kertas itu hangus, hilang entah kemana. Ia mati sebelum bertumbuh, lenyap menjadi abu.

Arok Dedes dan Arus Balik selamat. Ia lahir dan tumbuh. Para pembaca menilik dan membacanya, bahkan beberapa pembaca gusar lantaran buku itu harganya terus naik.

Dalam wawancara itu, Pram berterima kasih kepada Pastor Roovink. Saat ia resmi keluar dari Pulau Buru, Arok Dedes sudah menemui pembaca di Eropa, Amerika Serikat.

Culas, bengis, haus darah dan gila kuasa, kurang lebih demikian Pram berhasil menuliskan Arok Dedes yang didapatkan dari nukilan-nukilan Serat Pararaton dan Negarakertagama itu. Kenyataan itu bukanlah aib, akan tetapi sebuah perenungan tentang kuasa dan tahta. Itu akan tetap menyelip selama manusia hidup, hampir miri dalam Homo Homini Lupusnya Thomas Hobbess.

Alkisah, Arok Dedes mengajak kita untuk merenung sejenak tentang yang silam sekitar abad ke-13. Mereka nyatanya telah terbiasa dengan intrik, taktik dan persekongkolan licin untuk merebut yang namanya kuasa dan pamor. Jauh hari sebelum Machiaveli membikin Il Principe dari perenungan di pengasingan, Arok telah mempraktikannya, dengan segala tabiat hasrat berkuasanya. Sekian.

Sumber:

Majalah D&R No.19/XXXI/20-26 Desember 1999. Pramoedya; Ken Arok itu Bajingan yang Jadi Juru Selamat. Hlm 38-39.

Dhakidae, Daniel. Badai Kekuasaan. Jakarta: Penerbit Kompas. 2015

_________________________

M. Ghaniey Al Rasyid. Penulis Lepas. Pengkliping dan penikmat sastra yang tinggal di Kota Surakarta.

Belakang

“SEKEDAR” DAN MINGGU

Yang resah dengan sejarah malah melihat Fadli Zon sumringah. Pada 14 Desember 2024, Fadli Zon tidak libur dari tugasnya sebagai menteri. Minggu yang masih bersuasana duka bersumber bencana di Sumatra tak mengurangi gairah Fadli Zon dalam merayakan sejarah. Ia sedang menunaikan misi besar selaku menteri bertanggung jawab dalam urusan sejarah. Sosok dengan koleksi ribuan buku dan keris itu mengesahkan penerbitan serial buku sejarah resmi nasional.

Tanggal yang dipilih dalam pengesahan disesuaikan ingatan masa lalu. Yang resah dengan sejarah mengetahui 14 Desember 1957 adalah hari awal seminar sejarah yang diadakan di Jogjakarta. Seminar diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan. Seminar tidak sehari saja tapi beberapa hari: 14-18 Desember 1957. Pihak-pihak berkepentingan dalam acara seminar sejarah adalah Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia.

Fadli Zon sumringah itu lumrah. Ia sedang merayakan hari bersejarah sekaligus mengumumkan kepada rakyat Indonesia bahwa telah terbit buku resmi bagi yang ingin belajar sejarah Indonesia. Konon, penggarapan dan penerbitan buku itu diiringi protes dan perdebatan panas. Yang terjadi para sejarawan dalam instruksi pemerintah terus melanjutkan dan merampungkan.

Kita yang ikut resah gara-gara buku sejarah produksi pemerintah ingin mengelak sebelum berhasil membacanya. Bagaimana kita bisa mendapatkan bukunya? Apakah kita sanggup khatam, sebelum memberi kecaman atau pujian? Orang yang beruntung saja berhasil mendapatkan buku terbitan pemerintah. Yang kebelet bisa saja mencari jalan agar mendapat “file” atau edisi bajakan. Kita tentu bersalah bila menantikan peredaran edisi buku bajakan. Yang membajak dan mengedarkan bisa menyatakan bahwa buku produksi pemerintah dicetak terbatas. Peredarannya pun terbatas atau selektif.

Buku baru belum datang. Tangan kita belum membuka halaman-halamannya. Maka, peristiwa yang dapat dilakukan agar berkaitan dengan peristiwa sejarah dan pemaknaan 14 Desember 2025 adalah membaca buku (laporan) terbitan Universitas Gadjah Mada. Yang ada di hadapan kita adalah Laporan Seminar Sedjarah. Buku yang sederhana dan tipis.

Panitia acara menjelaskan: “Seminar jang baru diadakan pertama kali dalam sedjarah Indonesia ini memang dimaksudkan sekedar untuk mengumpulkan pelbagai pendapat dan saran-saran sebagai bahan-bahan jang berharga untuk menjusun dikemudian hari sedjarah nasional Indonesia jang setjara ilmiah dapat dipertanggungdjawabkan.” Kita tidak kaget bila penyelenggaraan acara tidak memiliki tujuan-tujuan akbar. Perhatikan yang tertulis di pengantar: “sekedar”. Indonesia masih berumur muda. Namun, sejarah sangat dibutuhkan demi kehormatan dan kedaulatan Indonesia.

Bagaimana suasana seminar yang “sekedar” di Jogjakarta? Kita mengutip isi laporan: “Pada waktu seminar berlangsung ternjata perhatian masjarakat besar sekali, ini terbukti dengan banjaknja pengundjung jang langsung datang dari seluruh pelosok Indonesia, misalnja dari Atjeh, Medan, Bukittinggi, Djambi, Palembang, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Makassar dan Nusa Tenggara. Dari Djawa, hampir tiap-tiap kota besar mengirimkan wakilnja.” Ingat, yang berdatangan punya kepentingan mulia.

Kita menyimak sambutan yang diberikan Menteri PP & K Prijono: “Marilah kita bersama-sama berdoa agar halaman hitam itu tidak akan kita djumpai lagi dalam kitab sedjarah modern kita.” Apa yang terjadi? Kita diajak mengingat peristiwa di Cikini, 30 November 1957. Soekarno mendapat serangan. Malapetaka yang mengagetkan. Beruntungnya, Soekarno selamat. Maka, menteri berharap peristiwa itu tidak terjadi lagi. Padahal, peristiwa itu tetap saja masuk dalam lembaran sejarah.

Selanjutnya, kita membaca peringatan yang disampaikan Sultan Hamengku Buwana IX: “Kita tahu bahwa sedjarah Indonesia jang disusun sampai sekarang pada umumnja masih mempergunakan buku-buku dan tulisan-tulisan jang berasal dari penulis-penulis pendjadjah Belanda. Padahal disamping kita harus mengakui bahwa diantara mereka ada jang berusaha menulisnja setjara objectief, tetapi pada umumnja pendjadjah Belanda itu mentjiptakan sedjarah Indonesia jang tidak lepas dari maksud politiknja, sehingga sedjarah Indonesia dibikin sedemikian rupa agar dapat menguntungkan tudjuan politik mereka.” Pembuatan buku sejarah nasional oleh para sejarawan Indonesia sangat diperlukan agar pengajaran di sekolah memberi keyakinan dapat terhindar dari dampak-dampak buruk dari kepustakaan sejarah yang disusun para sarjana Belanda.

Di Jogjakarta, acara yang diadakan tidak cuma seminar, yang mengundang para ahli. Debat-debat sempat terjadi demi munculnya saran-saran dalam penulisan buku sejarah nasional. Pameran sejarah pun diadakan. Yang melengkapi acara adalah tamasya. Para pembicara, tamu, dan panitian sejenak piknik agar tidak terlalu pusing memikirkan sejarah. Namun, piknik yang diadakan itu dicap sebagai “kunjungan ilmiah.” Mereka berdarmawisata ke Candi Prambanan.

Yang menyempurnakan adalah “malam kesenian”. Seminar yang melelahkan dihibur dengan lagu-lagu di panggung. Kita membayangkan malam itu memberi kesan “indah” setelah hari-hari memikirkan “kebenaran” dalam sejarah.

Peristiwa masa lalu itu mengajak kita menghormati para tokoh yang dihadirkan dalam usaha penulisan buku sejarah nasional meski kita sempat mengetahuinya sebagai “sekedar”. Nama-nama yang teringat dalam seminar sejarah di Jogjakarta: M Yamin, Soedjatmoko, Boejoeng Saleh, Soeri Soeroto, Poerbatjaroko, M Ali, Soegarda Perbatjaraka, Koentjaraningrat, Bahder Djohan, Soekanto, Sartono Kartodirdjo, Soedjatmoko, dan lain-lain.

Minggu telah berlalu. Minggu bukan hanya hari libur. Kita justru diminta mengingat Minggu itu peresmian buku sejarah resmi yang dibuat pemerintah, 10 jilid: 14 Desember 2025. Kita pun sudah membaca buku laporan lawas, yang memberi ingatan-ingatan atas peristiwa di Jogjakarta. Kita membaca yang telah terjadi sambil menunggu buku laporan dari tim penulisan buku sejarah nasional yang diurus Fadli Zon. Kita ingin tahu segala hal mengenai proses penulisan buku sejarah, yang kita anggap penting agar proyek itu bukan “sekedar”.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

GUNUNG, BAHASA, PADI

Sejak masa muda, Adinegoro sering melakukan perjalanan. Ia mengerti pelbagai negeri. Sosok yang sibuk dalam pers tidak membiarkan perjalanan tanpa catatan atau ingatan. Maka, ia sering membuat tulisan-tulisan yang mengajak pembacanya turut dalam perjalanan. Adinegoro mahir menggerakkan kalimat-kalimat, yang bersifat memberitakan dan menceritakan. Yang ditulisnya sering memikat pembaca.

Pada masa kolonial, ia seperti “membawakan” dunia kepada para pembaca di tanah jajahan. Ia kembalai dari keliling dunia tidak membawa “globe” atau “bola dunia”. Yang ia suguhkan adalah kata-kata. Jumlah potret pun terbatas. Namun, ia mampu membuat pembacanya bergerak jauh untuk mengetahui gunung, sungai, bukit, hutan, danau, sawah, dan lain-lain. Adinegoro percaya kata-kata, yang nantinya membuat pembaca membuat “gambar” agar mengenali tempat-tempat yang diberitakan atau diceritakan.

Buku yang digarapnya selalu terkenang sampai sekarang: Melawat ke Barat. Buku yang merekam banyak negeri, yang membuat pembaca memiliki “peta-kata”. Bagaimana caranya kata-kata membentuk dan menghidupkan peta dunia? Yang pernah membuktikannya adalah Adinegoro. Ia sebenarnya memiliki beragam maksud selama perjalanan. Penguasaan bahasa membuatnya tidak menyia-nyiakan pengalaman, selain ia harus belajar pelbagai referensi agar tulisan tak sekadar selesai sebagai “pandangan mata”. Artinya, Adinegoro yang melakukan perjalanan sebenarnya mengalami petualangan pengetahuan (pustaka).

Pada 1954, terbitlah buku berjudul Pokok-Pokok Pengetahuan Ilmu Bumi susunan Adinegoro. Ingat, Adinegoro bukan guru. Sejak masa kolonial, ia kondang sebagai pengarang dan wartawan. Namun, pengalaman dan pengetahuan yang terus bertambah membuatnya pantas menjadi guru atau yang mengajari guru-guru. Buku yang dibuatnya itu sasarannya adalah guru-guru agar dalam mengajarkan geografi memiliki bekal-bekal yang memadai. Kita menyebutnya geografi tapi Adinegoro dan orang-orang masa lalu menamainya ilmu bumi. Penamaan yang akrab dan khas ketimbang kita segera mengikuti penamaan dari Barat yang berbahasa asing: geografi.

Adinegoro sedang mengajar, yang dimulai dengan sajian peta Indonesia di sampul buku. Yang mau belajar ilmu bumi niscaya berurusan dengan peta. Ia menjelaskan: “Ilmu bumi berisi pengetahuan tentang penjelasan gedjala-gedjala alam, hajati (biologis), ekonomi dan sosial dimuka bumi, dan memperhatikan seluk beluk gedjala-gedjala itu dengan tanah tempat keadaan dan kedjadiannja. Tjara penjelidikan dan keterangannja haruslah menurut dasar chronologis (penjebaran) dan dasar kausal (sebab-akibat).” Pada masa revolusi, belajar ilmu bumi sangat penting demi mengetahui Indonesia di peta dunia. Ilmu bumi yang dipelajari di sekolah-sekolah memberi pengetahuan dan kesenangan. Murid-murid seolah melihat Indonesia dan dunia sebelum semuanya mudah oleh televisi dan internet.

Ilmu bumi kadang mengingatkan bencana. Yang diterangkan Adinegoro: “Di Indonesia sadja ada 125 gunung berapi dan ratusan jang telah mati apinja, jang telah lama tidak berasap… Di Indonesia dan di segala tempat jang banjak gunung berapi, sering timbul gempa bumi atau lindu, kadang-kadang hampir tak terasa, kadang-kadang sangat kuat sehingga meruntuhkan rumah-rumah. Di sepandjang retakan bumi, sering terdjadi tanah runtuh dalam bumi, maka timbul pulalah gempa, jang tidak disebabkan oleh gunung meletus.” Ia menulis kalimat-kalimat supaya pembaca paham. Pengajaran lama itu pasti menyulitkan untuk murid-murid masa sekarang. Mereka butuh gambar (bergerak) agar pengetahuan itu mudah dipahami dan memberi kesan yang kuat. Pembaca boleh pula membandingkan penggunaan istilah. Dulu, Adinegoro menulis “tanah runtuh”. Pada masa berbeda, kita mengetahuinya “tanah longsor”.

 

Selanjutnya, kita mengutip masalah bahasa dalam ilmu bumi. Mengapa bahasa ikut dibahas dalam ilmu bumi atau geografi? Kita mendingan meminta penjelasan kepada para ahli. Adinegoro sedikit ikut menerangkan: “Bahasa adalah sjarat jang penting untuk membagi penduduk dunia ini mendjadi beberapa golongan, sjarat jang terpenting untuk perhubungan sosial antara manusia. Kata peribahasa: hilang bangsa karena bahasa. Rumpun bahasa-bahasa Indonesia termasuk pada golongan Austronesia. Nama ini adalah nama kumpulan bahasa-bahasa dari Asia Selatan dan Austronesia. Jang masuk golongan-golongan bahasa Asia Selatan ialah bahasa Munda di India-Depan, Khasi dan Mon-Khmer di Siam dan bahasa-bahasa di pula Nikobar. Jang termasuk golongan Austronesia ialah rumpun bahasa Indonesia bersama dengan rumpun bahasa Melanesia dan Polynesia. Jang chusus rumpun bahasa Indonesia ialah segala bahasa di Indonesia ketjuali sedjenis bahasa-bahasa di Halmahera Utara, Alor, dan Irian.”

Pada masa 1950-an, studi bahasa di Indonesia masih diurusi banyak orang asing. Indonesia memang memiliki lembaga bahasa nasional atau komunitas kebahasaan tapi kerja-kerja belum menunjukkan hasil besar. Kehadiran para ilmuwan asing justru memberi asupan besar saat Indonesia direpotkan revolusi. Urusan bahasa mungkin “ketinggalan” meski sudah diingatkan berperan penting dalam penjelasan negara-bangsa, setelah keberakhiran Perang Dunia II. Pada masa Orde Baru, masalah bahasa-bahasa di seantero Indonesia tetap belum mendapat perhatian besar. Maka, kepunahan bahasa-bahasa adalah kewajaran.

Ilmu bumi memuat pula perkara pangan. Perbedaan iklim dan tanah menentukan mata pencaharian. Di pelbagai negeri, kondisi-kondisi yang berbeda mengakibatkan perbedaan dalam menghasilkan pangan. Pola makan terbedakan lewat jenis makanan pokok. Adinegoro membuat beberapa kalimat mengenai nasi, yang masuk dalam pembahasan peta-pangan.

Adinegoro mengungkapkan: “Sekurang-kurangnja 700 djuta manusia didunia memakan nasi setiap hari, istimewa penghuni ‘daerah-musim’. Padi memerlukan banjak air dan suhu jang agak tinggi…” Indonesia termasuk negara yang “ketagihan” nasi. Artinya, nasi sebagai makanan pokok kadang membuat Indonesia kewalahan dalam pertanian. Yang terjadi adalah impor. Konon, Soeharto berani mengumumkan Indonesia berhasil swasembada pangan (padi) pada masa 1980-an.

Informasi penting bermasa lalu: “Tahun 1952 di Indonesia harga beras sekitar 3 rupiah, jaitu dihitung menurut angka sadja telah 60 kali lipat harganja dari sebelum perang. Harga beras diluar negeri dalam tahun 1952 mendjadi 10 kali lipat dari harga sebelum perang, hingga mendjadi salah satu barang timbunan jang paling mahal didunia, sedang produksi di Indonesia kenjataan lebih rendah dari tahun 1940.”

Pada masa 1950-an, buku buatan Adinegoro mungkin diminati para guru yang mengajar ilmu bumi dan murid-mirid yang ingin “banyak tahu”. Dulu, referensi yang dimiliki masih terbatas. Akibatnya, pengajaran ilmu di sekolah-sekolah membutuhkan buku-buku yang mudah dipelajari meski belum lengkap. Adinegoro memberi sokongan melalui buku yang diterbitkan oleh Gunung Agung. Buku yang bermutu pada masanya tetapi memerlukan banyak ralat setelah kehadiran kepustakaan yang berdatangan dari pelbagai negara.

Di Indonesia, yang berminat dengan geografi pun makin bertambah, yang memungkinkan adanya jurusan geografi di universitas. Apakah yang terus belajar geografi pada abad XXI masih mengingat Adinegoro dan buku lama yang menampilkan peta Indonesia? Buku itu boleh terbiarkan tanpa pembaca lagi saat dunia makin mudah dilihat dan dipelajari.

_____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Puisi

Puisi Cahaya Daffa Fuadzen

Kuyang Membeli Labubu

Di swalayan penghancur iman

aku melongo menyaksikan Kuyang

terbang dengan jeroan yang melayang

menjemput Labubu sedang mendekam

dalam blind box seperti ia saban hari

ingin melahap janin dalam kandungan.

Lalu Sang Kuyang menghampiriku

dengan kepala miang berkeluh kesah

sebab dirinya usai dirundung gelisah.

“Maharnya sungguh mahal.

Aku terpaksa menggadai

tubuhku hingga menyisakan

kepalaku demi bisa membeli

Labubu untuk anakku

tersandung FOMO, agar ia lekas

berhenti menggerutu sebab

kawan-kawannya lebih dulu

membeli Labubu limited edition.”

(2025)

_______________________

Liturgi Nasi Kuning

Dari dapur kecil tercium

molekul wangi kunyit yang

mengepul seperti aroma

bumbu habang melumat

mulut Acil Kintul.

Ia pun menguning berkat

sumpah yang dikukus oleh

rempah leluhur dengan

bau tungku memukat jelang pagi.

Bersama taburan serundeng,

disajikan di atas mini altar bagi

perjamuan kecil dari ragam ibadah.

Tak akan menanyakan silsilah,

ia hanya penasaran apakah

tanganmu ikut menyuap bersama

doa-doa yang tak seamin denganmu.

Ia adalah pesan singkat yang

ingin disampaikan bersama

kepala haruan dan dibagikan

secara nikmat yang setara.

Barangkali, itulah cara ia

bersua dengan kita yang

dibungkus daun pisang sebagai

wasiat mun tanah kita segera

menua juga langit ikut memudar.

(2025)

______________________

Dongeng Belom Bahadat

Pada sebuah lantunan sempuri purba

aku simak sangat suara Kai Piduka.

 “Belom Bahadat, anakku,

ialah tubuh adat bagai rajah iban

melekat di atas kulit dadamu.”

Kai Piduka kian masyuk membalada

kisah Belom Bahadat serupa tetua

kayu bakar datang membawa kabar.

“Belom Bahadat, anakku,

ia membentang bersama Anoi

yang telah tumbang demi

bepekat besar tanpa sempat

bicara dengan angin begasa.”

“Dan, berkat Belom Bahadat

mereka tak saling melayangkan

mandau, bukan?” Ujarnya.

“Begitulah Belom Bahadat menetaskan

kepada mereka serupa acil menguntai

erat janur dengan simpul ikat mati,

serupa kain kebat merangkul punggung

hangat tambi adat.” Pungkasnya.

(2025)

_____________________

Cahaya Daffa Fuadzen. Aktif bergiat di Komune TerAksara Indonesia. Puisinya termaktub dalam antologi bersama Cermin Lain di Balik Pintu Lamin (Ruang Sastra Kaltim, 2023). Penulis terpilih di Singaraja Literary Festival 2025. Alumnus Majelis Sastra Asia Tenggara 2025 Kategori Puisi.

Cerpen

Stoples Kejujuran

Cerpen Pelajar Aliya

Sebuah lemari tua berdiri kokoh di hadapanku. Tanganku mengambil salah satu buku dari deretan buku yang memenuhi lemari itu. Buku itu terlihat baru dan tidak berdebu. Sampulnya tebal berwarna merah terang.

Kubawa buku itu ke sofa yang ada di pojok ruangan. Lembar demi lembar kubuka, gambar anak-anak seperti di sebuah negeri dongeng menghiasi tiap halaman, anehnya tak ada tulisan satu pun dalam tiap halamannya. Tetapi gambar itu sangat menarik perhatianku.

Sejurus kemudian, pundakku ditepuk seseorang. Seorang anak perempuan seusiaku sekitar 10 tahun, berwajah manis dengan rambut dikepang dua. Ia tersenyum menatapku dan memperkenalkan dirinya. Namanya Shelly.

Tak lama kami berkenalan, Shelly mengajakku ke luar perpustakaan tua ini. Seketika sekelilingku tampak berbeda. Sebuah tempar yang begitu mirip dengan yang kulihat di sebuah buku cerita tadi.

Matahari terasa hangat menerpa wajahku, udara begitu segar, bunga beraneka warna bermekaran, dan pohon-pohon dipenuhi buah buahan segar dan ranum.

Di halaman penuh anak-anak tertawa riang berkejaran, bermain lompat tali, ayunan, trampolin, dan seluncuran. Ada juga yang sedang melukis, bernyanyi dan menari. Beberapa anak bermain sepatu roda sambil berpegangan tangan satu dengan lainnya, bermain bola, skate board, sepeda, dan banyak lagi. Tak satu pun orang dewasa terlihat. Tempat tersebut seperti hanya diperuntukkan bagi anak-anak.

“Kayla-Kayla.” Shelly mengguncang pelan tubuhku yang masih terpaku penuh ketakjuban.

“Di sini anak-anak boleh bermain dan makan dengan bebas, namun kita tetap belajar dan sekolah.”

“Wow, enak sekali,” pekikku riang. “Tapi apakah kita sekolah dengan tugas PR yang banyak?” tanyaku dengan wajah sedikit khawatir. Sebuah pertanyaan yang muncul dalam benakku ketika mendengar kata belajar.

Shelly tertawa, “Yang pasti di sini tidak ada tugas dan PR yang membuatmu tidak bisa menikmati dunia anak-anak. Bahkan kamu bebas mengekspresikan hobi dan bakatmu, tanpa ada yang menilaimu jelek. Setiap usaha yang baik diapresiasi oleh kawan-kawanmu di sini. Mereka juga akan saling membantu.”

“Nah di sana, di ujung jalan ada anak-anak yang antri mengambil es krim. Dan ada beberapa tempat lainnya, mereka bisa mengambil makanan, minuman, atau kebutuhan anak-anak. Namun semuanya itu ada aturan,” lanjut Shelly.

“Oh, hanya itu saja?”

“Tentu tidak, anak-anak harus berkata dan bersikap jujur!” jawab Shelly dengan nada tegas.

“Kalau kita berbohong, apa yang akan terjadi?”

“Semua anak akan dipulangkan ke rumahnya,” jawabnya sambil membelalakkan mata dan berkata pelan namun cukup terdengar tegas di telingaku. Aku hanya tersenyum tipis dan kecut. Terdengar seperti sebuah ancaman serius.

Setelah itu aku menebar pandangan, seketika mataku tertuju pada sebuah stoples penuh permen yang terletak di meja-meja taman. Permen-permen itu nampak indah bermacam-macam dengan warna dan bentuk menarik. Aku melangkah mendekati stoples permen di meja itu. Tiba-tiba Shelly menarik tanganku.

“Jangan kamu memakan permen itu, Kayla!” sentak Shelly.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kalau ada yang memakan satu permen saja dari stoples itu, maka dunia ini akan lenyap dan semua anak yang berada di sini akan dipulangkan ke rumah mereka,” Shelly melanjutkan.

“Kamu harus cobain es krim di sini saja, beda banget sama di dunia kita,” ujar Shelly mencairkan suasana.

Tetapi aku masih memikirkan permen dan juga ancamannya yang cukup serius itu.

***

Kujilat es krim rasa stroberi yang ada di tanganku. Rasanya sangat berbeda. Lezat sekali, belum pernah kurasakan sebelumnya.

Shelly berkata, “Es krim ini dari buah stroberi asli. Di sini anak-anak tidak ada yang sakit, jadi kamu bebas makan apa saja. Oh iya, aku main dulu ya di taman. Mau ikut?”

Kepalaku menggeleng. Aku sedang tidak ingin bermain.

“Oke tidak apa-apa. Dadah,” kata Shelly sambil melambaikan tangannya.

Mataku kembali tertuju pada stoples permen. Aku tergoda oleh kilauan permen-permen yang di dalam stoples itu. Ah, kalau kumakan satu permen saja mungkin tak ada satu pun yang menyadarinya. Akan tetapi semua anak akan dikembalikan ke rumahnya. Padahal dunia ini adalah dunia impianku dan anak-anak lainnya.

Sekeras mungkin kutepiskan keinginan untuk memakan permen itu. Tetapi pikiranku belum beralih dari stoples permen itu. Ingin aku mencicipinya. Perlahan-lahan kudekati stoples itu. Aku melihat sekeliling rasanya tidak ada yang melihatku. Tanganku menggapainya. Segera kubuka tutupnya dan cepat-cepat kuambil satu, kumasukan ke mulut. Ternyata rasanya lezat. Seperti belum merasa puas, aku ingin mengambil permen lain yang ukurannya lebih besar. Namun suara seseorang menghentikanku.

“Hei, siapa kamu? Beraninya memakan permen itu!” teriak seorang anak.

Karena panik, stoples itu terjatuh dari tanganku. Seketika langit gelap. Wajahku berubah pucat, tubuhku gemetar, aku lari menjauhi meja taman itu, bersembunyi di balik pohon. Kulihat sekarang, semua anak menatap langit gelap dengan muka cemas.

Sejurus kemudian Shelly menghampiriku.

“Kamu yang mengambil permen itu?” tanya Shelly lembut.

“Aku tidak mengambil permen itu,” kataku dengan nada parau. 

Burung gagak berterbangan di atas kepalaku. Suaranya beradu dengan kegalauan di dadaku.

“Kamu tidak jujur, dunia ini sebentar lagi akan lenyap dan semua kembali ke dunia asal!” Shelly berteriak.


“Maafkan atas kebodohanku, aku berjanji akan selalu jujur dan dapat mengendalikan diri.” kataku dalam rasa sesal.

“Semua sudah terlambat,” kata salah satu anak dengan nada sedih.

Seketika muncul lubang putih. Lubang itu adalah jalan menuju dunia asal kami. Semua anak langsung melompat ke lubang putih itu. Aku pun menyusul. Lubang itu seperti spiral berputar dengan cahaya yang menyilaukan mata.

“Hei Nak, bangunlah” kata seorang ibu penjaga perpustakaan sambil tersenyum ramah.

“Perpustakaan ini mau tutup, nampaknya kamu tidur lelap sekali,” lanjutnya.

Kepalaku sedikit pusing dan mataku terasa berat sambil mencoba memperhatikan sekelilingku. Kucubit tanganku, terasa sakit. Mungkin tadi hanya mimpi. Nyatanya aku masih duduk di sofa di dalam perpustakaan tua ini.

Pikiranku mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Tetapi rasa menyesal terus menghantuiku. Aku telah menghancurkan dunia impian anak-anak. Andai tadi aku bisa menahan diri tidak mencuri permen itu. Aku ingin kembali ke dunia impian anak-anak yang penuh kegembiraan dan kasih sayang dimana kejujuran dijunjung tinggi. Perlahan kututup buku tanpa tulisan ini. Namun setelah beberapa langkah aku hendak keluar dari perpustakaan ini, terdengar suara dari ibu penjaga perpustakaan.

“Hei, Nak. Ini untukmu!”

Aku mendekati ibu penjaga yang menyodorkan stoples permen untukku. Mataku terbelalak. Stoples permen yang sama dalam mimpiku barusan.

“Te .. te … rimakasih, Bu,” jawabku gemetar sambil menerima stoples itu.

Ibu itu tesrsenyum lalu menggeleng. “Jangan panggil aku Ibu, panggil saja Shelly.”

Kali ini aku tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutanku. Mulutku terkunci rapat.

“Berbuat jujur itu sulit, tetapi akan ada hadiah besar di dalamnya,” ucap Shelly setelah sesaat kemudian pergi meninggalkan aku yang masih berdiri tegak dan membeku. []

____________________

Aliya. Siswa kelas 5 SD Jakarta Islamic School, berusia 10 tahun. Suka menulis, membaca, dan membuat prakarya.

Belakang

MELAWAT DI BUKU HAMPIR SEABAD

Pada mulanya, ia getol menghasilkan cerita dan berita. Di kancah sastra, ia tercatat memberi novel pada masa 1920-an. Namanya tak setenar Abdoel Moeis, Noer Soetan Iskandar, atau Soetan Takdir Alisjahbana. Ia memang bergairah dalam sastra, mewujudkan cerita-cerita. Pada situasi politik dan sosial-kultural masa 1920-an, tokoh yang bernama Adinegoro makin meyakini pesona dan kekuatan kata. Maka, ia berada di jalan kata, melampaui pikat sastra dan pers.

Silam masih bisa teringat melalui tulisan-tulisan, yang dihasilkan pengarang-pengarang turut membentuk dan memajukan bahasa Indonesia, sejak awal abad XX. Di situ, ada Adinegoro yang memerlukan nama samaran untuk turut menggerakkan tulisan pada masa kolonial. Ia percaya nama itu memberi “pengenalan” dan “keberuntungan:, yang nantinya tercatat dalam lembaran sejarah Indonesia.

Siapa masih membaca tulisan-tulisan Adinegoro, setelah abad XX berlalu tergantikan abad yang “memalaskan” orang berhadapan dengan tulisan-tulisan tercetak? Ia bukan pengarang pujaan jutaan orang. Namun, buku-buku yang ditulisnya menjadi bukti keberanian orang Indonesia melakukan perlawatan jauh dan panjang ke pelbagai negeri.

Yang pernah di hadapan rak-rak memiliki buku-buku lama, Adinegoro adalah penulis yang menghasilkan novel, ensiklopedia, kisah perjalanan, kamus, dan lain-lain. Ia tidak kesulitan menulis tentang politik, geografi, atau kebudayaan. Pada masa kolonial sampai masa revolusi, ia membuktikan ketekunan yang elok.

Tulisan mengesankan yang dihasilkannya adalah Melawat ke Barat. Buku itu memikat para pembaca sejak masa kolonial. Yang membaca ikut merasakan perjalanan yang mendebarkan, menyenangkan, membingungkan, dan mengharukan. Ia naik kapal, turun ke pelbagai negeri. Sosok yang merasakan perjalanan darat di kota-kota yang sering memukau. Adinegoro menceritakannya kepada para pembaca yang ada di Indonesia.

Buku terbitan Balai Pustaka masa 1930-an, beberapa kali cetak ulang. Pada suatu hari, buku itu berada di pasar buku Gladag (Solo). Buku berada di tumpukan yang tak keruan. Di bagian bawah, buku ditemukan saat tangan makin kotor oleh debu-debu yang menempel. Buku yang hampir berusia seratus tahun. Melawat ke Barat menjadi bacaan memikat sejak 1930.

Penemuan yang menggirangkan. Kondisi buku masih bungkus. Halaman-halaman awal hilang. Artinya, data buku tidak diperoleh. Buku berhasil dibeli dengan harga murah, sangat jauh dari harga dipasang di pasar.

Setelah sampul, tangan yang membukanya langsung menemukan halaman 4, yang dijuduli “Sampai di Nederland”. Adinegoro yang naik kapal sudah sampai ke Belanda. Perjalanan dilakukan pada masa 1920-an. Kita membayangkan orang Indonesia yang berkelana di Eropa sambil mengikuti perkembangan-perkembangan politik di Tanah Air. Ia menjadi saksi sejarah tapi berada jauh dari Indonesia.

Yang dirasakan Adinegoro selama mengunjungi kota-kota di Belanda: “Barang siapa jang datang ke Eropah dan tinggal disini beberapa lamanja, tjepat ia terlepas dari ketimurannja. Adat istiadat dan kebiasaan jang lazim kita pakai tiada lagi akan terbajang keluar, sesudah beberapa bulan disini. Perasaan lain datanglah kepada kita. Perasaan itu disebabkan oleh karena peraturan kita disini berlainan sekali dari dinegeri kita sendiri. Terutama sekali perasaan serba rendah dan serba pitjik sudah hilang semendjak dari Marseile, jaitu semendjak kita mendjedjak tanah benua ini. Pendek kata, pengertian kita tentang keduniaan lahir dan batin sudah bertambah luas dan pribadi bertambah kuat.”

Penjelasan itu mengingatkan kita dengan tokoh Hidjo saat belajar dan tinggal di Belanda. Pemuda asal Jawa itu mengalami beragam pengalaman saat berada di negeri penjajah. Di novel berjudul Student Hidjo gubahan Marco Kartodikromo, kita mengetahui kaum muda Jawa di Eropa mendapat guncangan dan dilema. Pengalaman seru mungkin milik Sosrokartono dan Soewardi Soerjaningrat.

Di Belanda dan pelbagai negeri, Adinegoro tak boleh lama-lama. Ia seperti dalam tergesa. Yang dinantikan di tanah jajahan adalah tulisan-tulisannya. Melawat mengandung arti pemenuhan tugas sebagai pemberi berita dan pencerita.

Pengamatan sejenak oleh Adinegoro selama di Utrecht: “Didjalan tiada pula banjak kelihatan nona-nona jang berpakaian bagus-bagus sebagai tampak di Parijs atau Den Haag. Jang lalu lintas didepan kita hanja perempuan-perempuan biasa sadja, jang pergi ketoko-toko akan membeli-beli. Jang banjak kelihatan disini ialah studenten karena dalam kota Utrecht ini adalah lebih kurang tiga ribu peladjar jang menuntut ilmu diuniversiteit. Mereka itu memodekan (mengadakan mode atau tjara) memakai topi jang lemah tepinja serta petjak diatasnja. Dasinja seboleh-bolehnja jang berwarna merah tua atau kuning langsat karena dalam masa ini warna jang seperti warna kulit anak Indonesia digemari sekali. Dan achirnja dimodekan mereka pula memakai tongkat dari rotan, besarnja sebesar ampu kaki.” Yang dilihat itu masa 1920-an, yang mungkin lekas berubah pada masa 1930-an dan 1940-an. Kita kaget mengetahui Indonesia dijadikan “sumber” bagi orang-orang sedang memodekan di Utrecht. Di situ, ada imajinasi dan politisasi warna.

Keterangan penting bertema pers pun diberikan oleh Adinegoro. Ia mendapatkan data-data yang mencengangkan. “Pers itu boleh didjadikan mata air uang,” ungkap Adinegoro. Kalimat yang cocok untuk industri pers di Eropa dan Amerika Serikat. Yang disampaikan Adinegoro: “Banjaknja surat kabar harian jang terbit dinegeri Belanda dalam bahasa Belanda adalah kira-kira serratus. Boleh dikatakan bahwa tiap-tiap koran itu rata-rata ada langganannja sepuluh ribu. Di Amsterdam sadja jang berpenduduk lebih kurang tiga perempat miliun, terbit dua belas surat kabar harian.” Kita menduga selama di sana Adinegoro sekalian belajar tentang (industri) pers, yang bisa dicontoh bila kembali ke Indonesia.

Adinegoro melanjutkan lawatannya ke Jerman. Ingat, ia tidak sekadar melakukan perjalanan. Yang sebenarnya terjadi adalah perjalanan kata-kata. Adinegoro selalu menuliskan babak-babak selama di Eropa. Yang disampaikan mirip nasihat: “Barang siapa jang pergi ke Djerman dengan maksud hendak mempeladjari kultuurnja, haruslah pandai berbahasa Djerman, sebagai kalau kita hendak pergi ke negeri Belanda. Kalau hanja mengetahui sapatah dua sadja, takkan berhasillah apa jang dimaksud, berusaha menjelami kebudajaan Djerman jang sedalam-dalamnja.” Adinegoro ke Jerman, sebelum ada lakon terbesar oleh Hitler mengguncang dunia.

Ia sampai di Berlin. Kota besar yang membawa sejarah dan mengalami petaka-petaka pada abad XX. Bagaimana orang Indonesia menilai Berlin? Adinegoro menulis: “Tetapi di Berlin boleh dikatakan tak ada anak Indonesia; djika ada anak Indonesia jang datang kesana, mereka disangka anak Korea atau Japan. Didalam kota ini ada sekolah untuk beladjar politik dan djournalistiek, tjukup dengan profesor-profesornja. Memang djournalistiek dan politik itu mesti sedjalan, supaja djangan si penulis itu djadi kuli tinta sadja, melainkan supaja dapat pula ia memandang keadaan pergaulan hidup dan pemerintah, serta segala golongan penghidupan dinegerinja dan diluar negerinja dengan pemandangan jang lebar.” Jerman memili kekuatan dalam sastra. Selama di sana, Adinegoro pun membuktikan kekuatan Jerman dalam pers.

Buku berjudul Melawat ke Barat sekadar bacaan meski memuat beberapa foto. Kini, kita yang membaca dan membayangkan akan kelelahan saat dunia bisa mudah dilihat melalui gawai. Perlawatan tak lagi harus membawa raga ke tempat-tempat jauh. Konon, perlawatan masa sekarang bisa menemukan banyak hal dengan ongkos yang murah.

Dulu, yang dilakukan Adinegoro adalah melawat yang bergelimang kata ketimbang foto. Yang ditulis adalah pengalaman dan kesaksian ikut memberi pengetahuan kepada ribuan pembaca di Indonesia, dari masa ke masa. Namun, buku itu perlahan susah terbaca oleh kaum yang bergawai. Mereka tidak lagi memerlukan halaman-halaman kertas yang sesak ribuan kalimat. Mereka tinggal menghidupkan gawai untuk melawat ke pelbagai negara.

_____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.